SISTEM ORGANISASI PADA MASYARAKAT PESISIRAN
MAKALAH
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Pesisiran Jurusan S1 Sastra Indonesia semester lima yang diampu oleh Drs. H. M. Nur Fawzan Ahmad, M. A.
Disusun oleh,
1. Aris Septyani 13010111130075 2. Faila Sufa Marhamah 13010111130014 3. Choerul Anam 13010111140087
4. Faizal Muzaqi 13010111140097
JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG 2013
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada ALLAH SWT. karena dengan karunia dan pertolongan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tentang sistem organisasi pada masyarakat pesisir. Pada makalah ini membahas tentang kelembagaan tentang pesisir. Kedua kalinya sholawat dan salam kita panjatkan pada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. Dan semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaatnya di hari akhir amin.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada:
1. Drs. H. M. Nur Fawzan Ahmad, M. A. selaku dosen mata kuliah pesisiran.
2. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara material atau spiritual
3. Teman-teman semua yang telah berpartisipasi membantu dalam pembuatan makalah tentang sistem organisasi dalam masyarakat pesisiran.
Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kesalahannya dan kekurangannya, Maka penulis berharap para pembaca bisa memberikan kritik dan sarannya yang membangun. Kami juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca.
Semarang, 02 Oktober 2013 Penulis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
sebuah masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari para saintis yang bergelut dalam dunia maritim, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau ± 17.507 buah pulau.
Selain perairan yang subur dan mengandung sumberdaya biotik yang melimpah hingga dapat dieksploitasi 6,7 juta ton per tahun tanpa membahayakan kondisi keberlangsungan sumberdayanya, kekayaan negeri ini juga tergambar dari berbagai potensi sosial budaya yang menjadi bagian terpenting dari kehidupan masyarakat. Perbendaharaan kultur masyarakat bahari secara sederhana sering diistilahkan sebagai sebuah wujud kearifan lokal (Lampe, 2008: 5).
Secara umum, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat (Ridwan, 2007: 3).
Kearifan lokal yang dalam perspektif sosiologis dikenal dengan istilah modal sosial (social capital), menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, modal sosial ini dapat disebut sebagai jiwa dari kekayaan nilai dan peradaban local.
B. Rumusan Masalah
Tulisan ini berupaya menguraikan bagaimana perwujudan nilai sebuah khazanah kebudayaab masyarakat yang tergambar dalam acara Je’ne’-Je’ne’ Sappara bagi masyarakat yang bermukim dan menjadi keturunan dari leluhur mereka yang berdomisili di Desa Baltar, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
Agar penulisan ini lebih terarah dan sistematis, maka fokus perhatian peneliti akan dibatasi pada beberapa masalah pokok sebagai berikut :
1. Bagaimana struktur sosial acara Je’ne’-Je’ne’ Sappara desa Baltar Kec. Tarowang, Kab. Jeneponto?
C. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari fokus masalah dalam penelitian yang akan dilaksanakan, maka dapat dirumuskan bahwa tujuan penelitian ini adalah :
1. Memberiikan gambaran bagaimana struktur sosial acara Je’ne’-Je’ne’ Sappara pada masyarakat bahari di Desa Baltar, Kec. Tarowang Kab. Jeneponto.
Sekilas Tentang Je’ne’-Je’ne Sappara
Je’ne’-Je’ne Sappara adalah istilah yang berasal dari bahasa setempat (bahasa Jeneponto) untuk menyebutkan suatu pelaksanaan upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Balangloe Tarowang, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto. Dari segi bahasa, Je’ne’-Je’ne Sappara itu sendiri berarti mandi-mandi di bulan safar. Berdasarkan pengetian tersbut, kita dapat menangkap makna tersirat dari upacara tersebut bahwa Je’ne’-Je’ne Sappara hadir sebagai ungkapan syukur masyarakat atas pencapaian yang telah diperolehn selama kehidupannya yang tentunya tidak bisa lepas dari perjalanan historis upacara tersebut.
Kegiatan Je’ne’-Je’ne Sappara diselenggarakan setiap tahun tepatnya pada bulan Safar dipenanggalan tahun Hijriah. Setiap tahunnya, kegiatan tersebut terlaksana dengan kurun waktu selama satu pekan dan puncak acaranya bertepatan pada tanggal 14 Safar. Sebagai upacara adat, tentunya kegiatan tersebut dipenuhi berbagai ritual yang menjadi tradisi turun-temurun warga penganutnya dan tentunya memiliki nilai yang sangat penting dan makna tersendiri bagi masyarakat.
Hal yang akan ditekankan disini adalah upacara ataupun ritual adat yang dianut oleh sebuah komunitas terkhusus mereka yang menjadi bagian dari komunitas bahari tak serta merta dapat dihilangkan begitu saja seiring perkembangan zaman, hal itu dikarenakan adanya fungsi/dampak dan nilai yang diperoleh dari ritual semacam itu sebagai suatu khazanah budaya yang akan dijaga eksistensinya di tengah masyarakat dan akan diwariskan kepada anak cucu mereka kelak.
Gambaran uraian di atas dapat diuraikan dalam sebuah skema sebagai berikut,
Kondisi dan realitas wilayah Desa Balangloe Tarowang secara lebih rinci akan tergambar dalam peta berikut ini :
MASYARAKAT BAHARI ACARA JE’NE’-JE’NE’ SAPPPARA
Gambar 1 : Peta Kec. Tarowang
Jumlah penduduk di desa ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah penduduk pada tahun 2006 hingga 2010 yang dapat diuraikan secara detail dalam tabel berikut,
Tabel 1 : Jumlah Penduduk & Kepadatan Penduduk
Tahun 2006-2010
NO. TAHUN JUMLAH
PENDUDUK
KEPADATAN PENDUDUK
1. 2006 1902 761
2. 2007 1912 765
3. 2008 1921 768
4. 2009 1932 773
5. 2010 2237 895
Sumber : Tarowang in Figures 2010
Gambar 2: Grafik Jumlah Penduduk & Kepadatan Penduduk Desa Balangloe Tarowang Tahun 2007-2010
Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Jeneponto
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian awal bahwa je’ne’- je’ne sappara adalah upacara yang terdiri dari berbagai struktur acara. Struktur itu dapat dirinci dalam gambar berikut :
Struktur Acara
Je’ne’- Je’ne Sappara
Appasempa A’lili
Patoeng A’rurung Kalompoang
Degka PadaPakarena
Parabbana
Pagambusu
Pa pui’-pui’ Paolle Pabbatte
Akraga
A’je’ne- je’ne
BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
Dari data diatas yang telah dilaksanakan di Desa Balangloe Tarowang, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto tentang acara je’ne’-je’ne’ sappara, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan antara lain :
1) Sebagai sebuah sistem sosial, je’ne’-je’ne’ sappara merupakan suatu realitas yang memiliki struktur sosial tersendiri. Struktur ini tergambarkan dalam berbagai ritual yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat dan dilaksanakan sebagai tanda perayaan acara je’ne’-je’ne’ sappara. Ritual dan tradisi tersebut antara lain: pasempa, a’lili’, patoeng, a’rurung kalompoang, dengka pada, pakarena, parabbana, pagambusu, pa pui’-pui’, paolle, pakbatte jangang, akraga, a’ je’ne’-je’ne, dan ammanyukang kanrangang.
DAFTAR PUSTAKA
Adian, Donny Gahral. 2001. Matinya Metafisika Barat. Jakarta: Komunitas Bambu.
Arief, Adrie. 2009. Budaya Bahari Sebagai Budaya Lokal Masyarakat Nelayan Bugis Makassar. Makassar: Universitas Hasanuddin Press.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Jeneponto. 2011. Jeneponto Dalam Angka 2011 (Jeneponto In Figures). Jeneponto: BPS Kab. Jeneponto Kerjasama Bappeda.
Bajari, Atwar. 2011. Fenomenologi Sebagai Tradisi Penelitian Kualitatif. Jakarta: ITKom-Production.
Daryanto.2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Apollo.
Echols, Jhon M. dan Hassan Shadily. 2000. Kamus Indonesia Inggris Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia.
Endraswara, Suwardi. 2008. Fenomenologi, Metodologi Riset Budaya. Yogyakarta: UGM-Press.
Francois dan Robert Zacot. 2008. Orang Bajo Suku Pengembara Laut. Jakarta Selatan: Kepustakaan Populer Gramedia.
Lawang, Robert M.Z. 1986. Terori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT. Gramedia.
Lampe, Munsi. 2008. Wawasan Sosial Budaya Bahari. Makassar: MKU Universitas Hasanuddin Press.
Lauer, Robert. H. 1993. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: PT. Rhineka Cipta.
Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. 2007. Format laporan Profil Desa dan Kelurahan. Jakarta: Departemen Dalam Negeri Dirjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.
Mitra Koordinator Statistik Kecamatan Tarowang. 2010. Kecamatan Tarowang Dalam Angka (Tarowang In Figures). Jeneponto: BPS Kab. Jeneponto.
Muhtamar, Shaff. 2007. Masa Depan Warisan Luhur Kebudayaan Sulsel. Makassar: Pustaka Refleksi.
Narwoko, Dwi J. dan Bagong Suyanto.2006. Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan Edisi Kedua. Jakarta : Kencana.
Panitia Pesta Adat Je’ne’-je’ne’ Sappara. 2003. Proposal Kegiatan Pesta Adat Je’ne’-je’ne’ Sappara. Balangloe Tarowang: Panpel.
Panitia Pesta Adat Je’ne’-je’ne’ Sappara. 2006. Proposal Kegiatan Pesta Adat Je’ne’-je’ne’ Sappara. Balangloe Tarowang: Panpel.
Poloma, Margaret M. 2010. Sosiologi Kontemporer. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Lampiran I: Dokumentasi Kegiatan
Balla Adaka / Baruga Panggadakkang
Suasana Acara Je’ne’- Je’ne’ Sappara yang dihadiri para
Keramaian Acara Je’ne’- Je’ne’ Sappara di pesisir pantai Desa Baltar
Suasana saat MC membuka Acara Puncak Perayaan Pesta Adat Je’ne’- Je’ne’ Sappara di pesisir pantai Desa
Lampiran II: Struktur Organisasi Perangkat Desa
STRUKTUR ORGANISASI
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD)
Suasana Pertunjukkan Seni
Tari “Dengka Pada” yang dilakonkan oleh gadis-gadis desa.
Jalan menuju lokasi acara di pesisir pantai Desa Baltar
WAKIL KETUA
TAKSIR KR.GASSING
SEKRETARIS
AHMAD CALLENG KETUA
BASO DG. NYALLU ANGGOTA
1. BASO KR.EMBA 2. HAMSIR
3. HASANUDDIN SILA 4. MUH. AMIN
STRUKTUR ORGANISASI
LEMBAGA PEMBANGUNAN DESA (LPD)