28
PANDANGAN WANITA MENURUT AL-KITAB
A. Asal-Usul Penciptaan Wanita menurut al-Kitab
Kitab Kej (Kejadian) menjelaskan bahwa Allah melakukan penciptaan terhadap alam selama enam hari kerja. Allah menciptakan bumi dan langit serta binatang darat dan tumbuh-tumbuhan serta isinya. Baru pada hari yang keenam puncaknya, yaitu penciptaan manusia. Manusia diciptakan berbeda dari binatang dan dari segala makhluk yang lain, karena dia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam Kejadian 1:26-28 dapat kita temukan tiga keterangan yang menjelaskan manusia mempunyai hubungan khusus dengan Allah, manusia mempunyai hubungan khusus dengan sesama manusia dan manusia mempunyai hubungan khusus dengan makhluk-makhluk lain.1
Dalam Kejadian 2:7 disebutkan sebagai berikut:
“Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia menjadi makhluk yang hidup”.2
Menurut ayat tersebut Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, sehingga manusia menjadi mahluk hidup. Manusia pertama yang diciptakan Allah ini kemudian diberi nama Adam. Setelah Allah menciptakan manusia, maka Ia mengaruniai manusia dengan kemungkinan untuk hidup dan Tuhan membuat taman Firdaus di Eden.3
Taman Firdaus telah melukiskan keadaan yang sempurna tentang adanya dua pohon, yakni pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Pohon-pohon itu mempunyai arti simbol arti perlambangan pohon kehidupan yang melambangkan hidup kekal yang akan dialami
1
F.L. Bakler, Sejarah Kerajaan Allah: Perjanjian Lama, Gunung Mulia, 1990, hal. 16-18
2
Lembaga al-Kitab Indonesia, Al-Kitab, Lembaga Al-Kitab Indonesia (LAI), Jakarta, 1993, hal.2
3
manusia apabila ia tetap hidup damai dengan Allah. Pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat di sini adalah lebih dari ilmu pengetahuan intelektual, lebih dari otak manusia, artinya penentuan apa apa yang baik atau yang jahat. Manusia harus melakukan dengan taat apa yang ditetapkan Allah. Sebagai tanda ketaatan itu manusia tidak boleh memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Jika ia tidak taat tentu ia akan mati.
Ketika Adam telah melaksanakan tugas memberi nama kepada semua binatang, dengan menentukan sifat binatang itu dan menguasainya. Kemudian Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia”. (Kejadian 2:18). Maka Tuhan mendatangkan kantuk bagi manusia, dan sementara dia tidur, Tuhan mengambil salah satu tulang iga yang telah diambil oleh Tuhan dari manusia itu untuk menciptakan seorang wanita.4
Sesuai dengan firman Tuhan yang berbunyi :
22. “Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu”.
23. “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki”.5
Ketika manusia bangun dari tidurnya dan menyambut wanita itu dari tangan Allah, dan Adam mengakui bahwa laki-laki dan perempuan merupakan satu kesatuan yang erat dan satu dengan yang merupakan kesatuan yang mutlak. Dalam Kejadian 3:20 yang berbunyi: “Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup”.
Manusia mendapat tugas mengusahakan dan memelihara taman Firdaus, tetapi setan dan iblis musuh manusia masih di taman itu. Pada suatu saat setan berubah menjadi sebuah ular dan kemudian mendatangi perempuan, kemudian ular merayu Hawa agar memakan buah yang ada di tengah-tengah taman yang terlarang. Lama-lama perempuan itu tergoda oleh setan, kemudian
4
Maurice Bucaille, Asal Usul Manusia: Menurut Bibel, al-Qur’an, Sains, Mizan, Bandung, 1992, hal. 170-171
5
ia memakan buah yang terlarang tersebut dan sebagian tersebut diberikan kepada suaminya dan laki-laki itu memakannya. Karena laki-laki dan perempuan itu telah melanggar larangan Tuhan, maka manusia dikeluarkan dari taman Firdaus dan dibuang ke bumi. Sehingga laki-laki tersebut kesusahan dalam mencari rizki di bumi. Sedangkan perempuan dihukum dengan “susah payah waktu mengandung, akan kubuat sangat banyak dengan kesakitan, engkau akan melahirkan anakmu, namun engkau akan birahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atas dirimu (Kejadian 3:1-7)6.
Dengan demikian penciptaan manusia selanjutnya baru melahirkan, seperti dalam firman Allah Kejadian 4:1 yang berbunyi:
“Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa istrinya, dan mengandunglah perempuan itu lalu melahirkan Kain, maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan”.7
Semenjak itu terjadinya manusia selanjutnya melalui proses tersebut
hingga sampai sekarang.
B. Status Wanita menurut al-Kitab
Dalam Kitab Kejadian 1 dan 2, dikisahkan tentang Tuhan Allah yang menciptakan langit dan bumi, laut serta segala isinya juga manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Dari sini bisa kita lihat pengertian dan pemahaman tentang keberadaan laki-laki dan perempuan di dalam dunia.
Berabad-abad lamanya, keberadaan perempuan dipahami hanya sebagai penyebab jatuhnya manusia ke dalam dosa. Ada juga yang memandang bahwa perempuan sebagai penolong laki-laki sebagai obyek seksualitas. Dari pemahaman-pemahaman tadi bisa membawa kepada diskriminasi seksual dan diskriminasi dalam segala aktivitas.
1. Status Wanita dalam Hukum
Berdasarkan Kejadian 1:27, dilihat dari penciptaan perempuan maupun laki-laki diberi kuasa atas alam. Kenyataannya yang sering
6
F.L. Bakler, op. cit., hal. 24-35
7
mendapat kekuasan adalah laki-laki, sedangkan perempuan tidak diberi kekuasaan. Hal ini bisa dilihat dari sejarah pada zaman kuno terkenal sebagai dunia kaum pria, dunia sistem patriarkhal. Pada zaman itu wanita menjadi ternama hanya karena penyimpangan perilaku mereka dalam dunia politik, masyarakat, atau akibat perbuatan seksual mereka atau karena tindakan mereka yang luar biasa. Dalam dunia patrialkhal nilai, norma masyarakat dan budaya ditentukan oleh pola tingkah laku pria, sehingga pria sangat berpengaruh dan wanita cenderung direndahkan.8 Status seorang wanita pada saat itu terkait pada status ayahnya, dan hanya diubah (naik atau turun) melalui perkawinan, sedangkan seorang wanita jarang mendapatkan kebebasan untuk memilih pendamping hidupnya dan yang mengatur adalah keluarganya. Pada waktu itu seorang wanita tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah mengikuti jalan hidupnya.
Pada pertengahan abad ke-17 mulai muncul teolog-teolog perempuan, yang kemudian terkenal dengan teolog Feminisme. Teolog feminisme adalah suatu gerakan emansipasi wanita dalam memperjuangkan kaum perempuan agar kaum perempuan dibebaskan dari budaya di mana laki-laki mendominasi segala aspek kehidupan yang mengakibatkan perbedaan kedudukan dan peran seorang perempuan. Teolog feminisme ini mula-mula berkembang di Amerika Serikat dan baru berkembang ke seluruh dunia. Seperti Margaret Fell (1667) dan Sarah Grioke (1837).9
Sehingga sejak waktu itu dari sedikit demi sedikit mulai berubah, karena bisa kita lihat dari perkembangan zaman bahwa wanita juga mempunyai peran dalam keluarga, masyarakat ataupun dalam gereja, seperti tokoh wanita Agatha Christie dan Ratu Victoria tokoh lain yang
8
Elisabeth Moltman Wendel, Pembebasan Kesetaraan Persaudarian: Emansipasi Wanita dalam Gereja dan Masyarakat, Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hal. 1-3
9
Kapahang Kaunang. K.A., Perempuan; Pemahaman Teologis Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa, Gunung Mulia, Jakarta, 1993, hal. XII-XIII
mampu memperjuangkan hak wanita. Dan setelah mereka tiada, dunia mulai berbeda.10
Seorang laki-laki sebenarnya juga mengakui bahwa wanita juga mempunyai kedudukan dalam kehidupan, seperti halnya seorang suami juga menghawatirkan kesehatan seorang istri, melindungi, mengasihi, dipuji dan melakukan sesuatu untuk sang istri. Begitu pula seorang wanita ia akan berusaha mendampingi seorang laki-laki dan akan ikut membantu seorang laki-laki dari hal yang kecil sampai yang besar.
Kejadian 2:18 menerangkan bahwa seorang wanita adalah penolong bagi laki-laki dan dia sepadan dengannya. Sehingga sangatlah jelas dari firman tersebut wanita dan laki-laki itu sejajar dan antara wanita dan laki-laki adalah seorang kemitraan dan tidak ada yang ditinggikan ataupun yang direndahkan.11
Dalam Gal 3:28 yang berbunyi:
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”. 12
Dari firman Tuhan tersebut menjelaskan bahwa di hadapan Tuhan manusia itu sama. Tuhan tidak membedakan hambanya baik dari suku, bangsa, ras, laki-laki ataupun perempuan, namun yang membedakan hanyalah Iman dan ketaatan menjalankan perintah Tuhan Allah, karena semua manusia adalah anak-anak Tuhan yang dibuat sesuai dengan GambarTuhan.13
Dalam Pekabaran Injil, wanita juga ikut terlibat secara penuh dalam kegiatan gereja, yakni dipercaya untuk tugas-tugas yang menentukan, seperti halnya saat Yesus melakukan perjalanan untuk menyebarkan Injil bersama 12 muridnya. Di dalam perjalanan tersebut
10
Ruth Tiffany Barhause, Identitas Wanita; Bagaimana Mengenal dan Membentuk Citra Diri, Kanisius, Jakarta, 1988, hal. 32-35
11
M. Masyhur Amin, op. cit., hal. 40
12
Lembaga al-Kitab Indonesia, op.cit., hal. 246
13
St. Darmawijaya Pr., Perempuan dalam Perjanjian Baru, Kanisius, Yogyakarta, 1991, hal. 13
juga terdapat beberapa wanita yang melayani keperluan Beliau dengan iman, ketaatan dan tenggang rasa, yang kemudian biasa membuat kemandirian seorang wanita. Dalam jemaat gereja adalah persekutuan laki-laki dan wanita bahkan wanita diberi kepercayaan menjalankan tugas dalam gereja.14
2. Status Wanita dari Segi Sosial
3. Status Wanita dari Segi Hukum
Status wanita dalam hukum dapat dilihat dari perannya sebagai saksi. Menurut kisah para Rasul, para Rasul dan semua orang Kristen harus menjadi saksi tentang Yesus dan wartanya (Kis 1:8, 21-22, 2:32, 5:32). Sebagaimana telah dimaklumi bahwa para wanita berada di antara para pengikut Yesus dan menjadi saksi tentang hidup dan ajaran-Nya . Di sini tampil lagi wanita Samaria, lantaran oleh kesaksiaannya orang-orang Samaria yang lain menjadi percaya kepada Yesus (Yoh 4:39).
Para wanita secara khusus penting sebagai saksi-saksi kebangkitan. Walaupun tidak ada seorang saksi pun untuk kejadian aktualnya, namun ada saksi-saksi untuk situasi-situasi seputar peristiwa kebangkitan itu. Artinya, ada saksi untuk wafat dan pemakaman Yesus, ada saksi untuk makam kosong dan untuk penampakan-penampakan Tuhan yang bangkit. Di antara para saksi ini adalah para wanita yang paling banyak.
Ada sebuah tradisi kuat yang menampilkan para wanita sebagai saksi-saksi utama, jika bukan satu-satunya, untuk wafat dan pemakaman Yesus. Lukas mengisahklan bahwa semua murid hadir para saat penyaliban dan Yohanes berbicara tentang murid yang dikasihi Yesus, tetapi Matius dan Markus hanya menunjuk pada para wanita. Matius, Markus dan Yohanes memberi nama tiga dari wanita ini, walaupun ketiga penginjil ini tidak sepakat dalam semua nama mereka (Mat 27:55-56, Mrk 15:40-41, Yoh 19:25). (Lukas sebelumnya sudah menanamkan tiga wanita
14
sebagai urid dalam 8:2-3). Akan tetapi, harus diperhatikan bahwa Maria Magdalena disebut oleh semua tersebut yang menjadi saksi-saksi penguburan Yesus (Mat 27:55-56, Mrk 15:40-41, Yoh 19:25). (Lukas )
C. Peranan Wanita menurut al-Kitab
Kata peran diambil dari istilah teater dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kelompok-kelompok masyarakat. Peran ialah bagian yang kita mainkan pada setiap keadaan, dan cara bertingkah laku untuk menyelaraskan diri terhadap keadaan. Ada beberapa peran yang kita miliki sejak lahir dan tidak pernah kita pikirkan karena peran tersebut merupakan bagian dari kehidupan. Seperti saat kita sebagai anak perempuan, kemenakan, kekasih, istri, ibu, saudara perempuan dan bibi. Sehingga perubahan dari kanak-kanak ke masa dewasa membawa serta peran-peran baru yang mengubah peran-peran sebelumnya.15
Iman orang Kristen adalah bahwa Kristus telah mengorbankan dirinya untuk manusia dan manusia harus meneladaninya, untuk melayani yang lain demi Dia. Jadi inti iman orang Kristen adalah kasih dan pelayanan.16
Zaman dahulu peran wanita hanya dalam keluarga saja yaitu sebagai istri dan sebagai ibu, yang mana wanita bertugas di rumah melayani suami dan memelihara anak saja. Karena perkembangan dan tuntutan zaman sehingga peran wanita juga mengalami perubahan, seorang wanita juga mempunyai peluang yang sama seperti laki-laki. Dalam pembahasan ini, peran dibedakan menjadi dua, yakni peran seksualitas dan peran gender.
1. Peranan Seksualitas Wanita
Keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat yang mana keluarga adalah lingkungan pertama yang dijumpai anak yang lahir ke dunia dan sebagai tempat pendidikan yang primer. Keluarga dapat
15
Brunettor Wolfman, Peran Kaum Wanita; Bagaimana Menjadikan Cakap dan Seimbang dalam Antar Peran, Kanisius, Yogyakarta, 1989, hal. 9-11
16
Anne Borroder, Tugas Rangkap Wanita; Mengubah orang Kristen, Gunung Mulia, Jakarta, 1993, hal. VII
berfungsi memenuhi berbagai kebutuhan manusiawi dari kebutuhan primer (sandang, pangan, papan). Kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, kebutuhan akan harga diri sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri.17
Kebanyakan wanita telah mengetahui bahwa masyarakat mengharapkan mereka menjadi istri dan ibu serta mengurus rumah tangga. Peran umum ini dipertahankan banyak orang yang berumur lebih tua dan berpegang teguh pada tradisi yang mempertahankan bahwa menjadi istri dan ibu yang baik membutuhkan seluruh tenaga seorang wanita.18
Seringkali peran ini hanya diberikan kepada wanita, padahal laki-laki juga sama mempunyai peran sebagai suami dan sebagai ayah, karena laki-laki sibuk bekerja dan peran tersebut dibebankan kepada sang istri. Bahkan dalam 1 Petrus 3:7 yang berbunyi:
“Demikian juga kamu, Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupanmu supaya do’amu jangan terhalang”.19
Tuhan sendiri memerintahkan agar berkeluarga dengan berpasangan suami istri mempunyai kewajiban yang sama yakni saling mengisi, saling menghormati, saling tolong menolong, dan seorang suami hendaklah melindungi seorang istri karena seorang istri dapat menolong seorang suami dan supaya kasih Allah tidak terhalang.
Peranan wanita dalam al-Kitab dapat dilihat sebagai berikut: 1. Perjanjian Lama
a. Perempuan diciptakan oleh Tuhan agar bersama-sama dengan laki-laki boleh melaksanakan amanat Tuhan di dunia ini. Dalam hal ini, penciptaan melalui Hawa. Sebagaimana dalam Kejadian 1:26 dan 2:25
17
Anne Hommes, Perubahan Peran Pria dan Wanita dalam Gereja dan Masyarakat, Kanisius, Yogyakarta, t.th, hal. 2
18
Brunetar. Wolfman, ibid., hal 22
19
b. Perempuan sebagai bidan, dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan nyawa anak-anak. Mereka itu adalah Sifra dan Pua, sebagaimana dalam Keluaran 1:15-21.
c. Perempuan sebagai nabi, seperti Miryam (Keluaran 15:20), Debora (Hakim-Hakim 4), Hulda (2 Raja-raja 22:14; 2 Tawarikh 4:22), Istri Yesaya, sebagaimana dalamYesaya 8:3.
d. Perempuan sebagai pemimpin dan hakim, seperti Miryam (Keluaran 15-21) dan Debora (Hakim-hakim 4-5).
e. Perempuan yang berani mengambil keputusan, seperti Rut (Rut 1:16).
f. Perempuan yang tabah dan gigih, seperti Hana (1 Samuel 1:1-2:10).
g. Perempuan yang menyelamatkan Israel dari kebinasaan, yaitu Ester (Ester 1-10).
2. Perjanjin Baru
a. Perempuan dipakai oleh Tuhan sebagai sarana kedatangan Juru selamat, yakni melalui Maria, ibu Tuhan Yesus (Matius 1:18-25; Lukas 2:1-7).
b. Perempuan bersama dengan laki-laki disebut sebagai yang benar dihadapan Allah, dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat, yakni Elisabet (Lukas 1:5-6).
c. Perempuan sebagai pelayan, sibuk melayani makanan dan minuman, seperti Martha, sebagaimana dalam Lukas 10:40.
d. Perempuan beroleh kesempatan untuk mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus sebagaimana layaknya murid Tuhan Yesus yang semuanya laki-laki. Tuhan Yesus menyebut tindakan Maria dari Baitani (Lukas 10:39,42) sebagai yang telah memilih bagian terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.
e. Perempuan yang melayani Tuhan Yesus, seperti Maria, Magdalena, yohana dan Susana (lukas 8:1-3).
f. Perempuan yang turut hadir di ruangan atas, setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga (Kisah Para Rasul 1:14)
g. Perempuan sebagai saksi pertama atas kebangkitan Tuhan Yesus, dan yang pertama meneruskan berita itu. Mereka itu adalah Maria Magdalena, Yohana dan Maria ibu Yakobus (Matius 28:1-8, Lukas 24:1-12, Yohanes 20:1-10).
h. Perempuan yang telah bekerja keras untuk pelayanan. Dialah Maria (Roma 16:6).
i. Perempuan yang melayani jemaat, sebagai pemimpin jemaat. Dialah Febe (Roma 16:1).
j. Perempuan sebagai pemimpin jemaat rumah, seperti Priskila (1 Korintus 16:19).
k. Perempuan yang beribadat kepada Allah, dan yang menyokong tugas-tugas pelayanan Paulus. Dialah Lidia (Kisah Para Rasul 16:14-25).
l. Perempuan yang bekerja keras di dalam Tuhan dengan beraksi, berdo’a, mengajar dan menolong. Mereka adalah Trifena dan Trifosa (Roma 16:12).
m. Perempuan sebagai nabi. Dialah Hana (Lukas 2:36-38).
n. Perempuan yang banyak berbuat baik dan memberi sedekah. Dialah Dorkas atau Tabita (Kisah Para Rasul 9:36).
o. Perempuan sebagai pengusaha, seperti Lidia (Kisah Para Rasul 16:14).
a. Peranan Wanita sebagi Istri
Apabila seorang wanita yang sudah dewasa dan sudah mapan, maka wajar bila ia akan menikah dan mempunyai sebuah keluarga dan membina sebuah rumah tangga. Maka secara otomatis seorang wanita tersebut berstatus istri.
Pada zaman modern ini, ada sebagian wanita bersuami yang memulai mempertanyakan kembali model hubungan mereka dengan suami mereka. Karena itu wanita dituntut untuk menuju model
hubungan yang egalitarian yang seharusnya ditempuh secara bijaksana.Wanita mendapat kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya dan berbagi rasa dengan suaminya tanpa merasa risuh dan takut. Model yang tradisional, pria hanya sebatas sebagai pencari nafkah, figur penguasa, pantang mengungkapkan perasaannya, dan menjadikan seks sebagai tolok ukur kejantanannya, dan wanita sebagai pengurus rumah tangga, perawat anak, figur seorang wanita yang penuh perasaan welas asih, dan seks sebagai kewajiban terhadap suami.20
b. Peranan Wanita sebagai Ibu
Fungsi sebagai ibu merupakan tahap biologis wanita yang ada batasnya, yang menjadikan beberapa perilaku tertentu seperti pemeliharaan dan sebagainya, menjadi sangat berarti. Namun perilaku itu bukanlah ciri-ciri khas seumur hidup pada hakekat wanita itu. Gereja dan masyarakat konservatif yang masih saja memberlakukan kultus keibuan seperti itu adalah penghambat bagi wanita dalam pertumbuhannya menuju kesempurnaan kepribadiaanya yang merupakan hakekat dari penciptaannya.21
2. Peranan Gender Wanita menurut al-Kitab
Secara biologis, manusia dilahirkan sebagai laki-laki (pria) atau sebagai perempuan (wanita). Kemudian ia dididik sebagai seorang anak laki-laki atau sebagai anak perempuan, supaya nanti dapat menjadi seorang laki-laki dewasa atau seorang perempuan dewasa sesuai dengan harapan masyarakat. Jadi secara sosiologis, ia dikonstruksi menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan dengan tugas dan peran tertentu. Akibat dari konstruksi sosial tersebut seorang manusia akhirnya mendapatkan identitas gender menurut jenis kelaminnya ia masuk ke
20
Marjorie Hansen Shaevitz, Wanita Super, Kanisius, Yogyakarta, 1989, hal. 57
21
Elisabeth Moltman dan Wendel, Pembebasan Kesetaraan Persaudaraan; Emansipasi Wanita dalam Gereja dan Masyarakat, terj. S.L. Tobing dan Kartohadiprojo, Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hal. 60
dalam suatu stereotip bentukan masyarakat, sehingga ia kehilangan identitas diri sebagaimana dikehendaki oleh sang pencipta.22
a. Peranan Wanita sebagai Individu
Banyak wanita yang tidak memikirkan kemampuan dan kecakapan mereka sendiri untuk menangani peran ganda dalam hubungannya dengan masa kanak-kanaknya. Penulis mencoba menilai lagi kekuatan kita sejak awal mula.
Di dalam gereja, ajaran Kant lebih banyak dikhotbahkan kepada wanita daripada ajaran Kristus. Dalam banyak kelompok Kristiani, hingga saat ini, hal meniadakan kepentingan diri masih dipandang sebagai suatu kewajiban, sedangkan mengembangkan diri dan mengasihi diri sendiri dipandang sebagai dosa. Jawaban “ya” terhadap “aku” kita harus berawal dengan kesadaran bahwa kasih Allah itulah yang membuat kita berharga, membuat kita dikasihi sekalipun kita sendiri menganggapnya demikian.23
Meniadakan kepentingan diri dengan sungguh-sungguh hanya mungkin jika hakekat “diri” memang benar-benar dikesampingkan apa yang disebut hakekat diri pada wanita dalam gereja dan masyarakat kita ialah suatu penyesuaian diri, yaitu hakekat diri yang menolong supaya bagian-bagian yang kosong terisi tanpa adanya ruang tersendiri untuk hakekat diri itu dan fungsi tersendiri atau kesadaran diri.
Apabila para wanita masa kini mau menemukan kembali hakekat dirinya yang hilang, mereka memerlukan diri sendiri tidak dapat dilakukan seorang diri dalam suasana atau lingkup kehidupan pribadi. Menemukan diri sendiri dalam kelompok-kelompok wanita yang beraneka ragam sifatnya, dalam hal itulah harus ada keterbukaan untuk mengakui ketergantungan ekonomis dan psikologis kita serta
22
Kartini Kartono, Psikologi Wanita, Alumni, Bandung, 1986, hal. 5
23
Hardjito Notopuro, Masalah Wanita; Kedudukan dan Peranannya, Binacipta, Bandung, 1977, hal.
mengadakan uji coba atas berbagai bentuk baru dalam pergaulan hidup.24
Wanita bukan saja sebagai pelengkap bagi pria, melainkan satu kepribadian yang utuh dan mandiri yang bukan merupakan bawahan pria (sebagaimana dikatakan oleh Luther dan Bonhoeffer), dan bukan pula merupakan bagiannya (Karl Barth). Perbedaan-perbedaan biologis jauh lebih kecil dari anggapan orang pada masa lampau, sementara perbedaan-perbedaan sosiologis jauh lebih besar maknanya untuk kedua jenis tersebut. Hakekat wanita yang sebenarnya, apa artinya dia sebagai mitra yang sungguh-sungguh bagi pria, baru akan menjadi nyata apabila segala pengharapan akan peranan kedua jenis itu dimundurkan selangkah.25
b. Peranan Wanita dalam Masyarakat
Wanita tidak mungkin secara total mengisolir diri dari identitasnya dan mengesampingkan untuk hidup di lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat adalah kawasan di mana, manusia dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Di samping itu, masyarakat akan membentuk karakter dan identitas wanita dalam sebuah sosok anggota pribadi dalam sebuah komunitas. Sehingga keseimbangan antara wanita sebagai pribadi dan bagian masyarakat harus dilakukan.
Oleh karena itu sebagaimana telah disebutkan wanita juga berhak memiliki peran yang sama sebagaimana laki-laki dalam masyarakat, misalnya, Perempuan sebagai pemimpin dan hakim, seperti Miryam (Keluaran 15-21) dan Debora (Hakim-hakim 4-5), Perempuan beroleh kesempatan untuk mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus sebagaimana layaknya murid Tuhan Yesus yang semuanya laki-laki. Tuhan Yesus menyebut tindakan Maria dari Baitani (Lukas 10:39,42) sebagai yang telah memilih bagian terbaik,
24
Ibid., hal. 59
25
yang tidak akan diambil daripadanya, Perempuan yang turut hadir di ruangan atas, setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga (Kisah Para Rasul 1:14), Perempuan yang telah bekerja keras untuk pelayanan. Dialah Maria (Roma 16:6), Perempuan yang melayani jemaat, sebagai pemimpin jemaat. Dialah Febe (Roma 16:1) dan sebagainya sehingga wanita juga dianggap sebagai warga yang berhak mendapat perlindungan dan berkreasi.
Dengan demikian al-Kitab juga menaruh perhatian yang cukup besar terhadap peran wanita dalam kehidupan sosial bermasyarakat.