• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PEMBAHASAN. Calwright Packaging Asia yang merupakan suatu perusahaan joint venture Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PEMBAHASAN. Calwright Packaging Asia yang merupakan suatu perusahaan joint venture Indonesia"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

A. Sejarah PT. Corona Printing Asia

PT Corona Printing Asia di dirikan pada tanggal 8 Agustus 2000 dengan nama Calwright Packaging Asia yang merupakan suatu perusahaan joint venture Indonesia – Australia. Perusahaan ini tercetus melalui departemen General Trading dari PT. Argapura yang merupakan importer dari produk cetakan “Tea Tag” untuk men-supply seluruh pabrik teh yang memproduksi tea tag di Indonesia dan untuk menjawab tuntutan dari para pelanggan untuk melaksanakan cost efficiency dan pengiriman yang tepat waktu.

Pendiri perusahaan joint venture ini adalah Albertus Lukman Halim sebagai perwakilan dari PT. Argapura dan Leslie George Wright sebagai perwakilan dari Calwright Packaging Pty, Ltd. Pada tanggal 13 Desember 2000 nama perusahaan berubah menjadi PT. Calwright Printing Asia. Pada bulan Mei 2004 Calwright Packaging Ptw, LTd. menjual seluruh sahamnya kepada Bapak Albertus Lukman Halim, sehingga pada tanggal 25 November 2004 PT. Calwright Printing Asia berubah nama menjadi PT. Corona Printing Asia. Adapun Visi dan Misi dari PT Corona Printing Asia adalah:

(2)

VISI:

PT. Corona Printing Asia mempunyai visi untuk menjadi perusahaan Tea Tag , Tea Bag Envelope dan Flexible Paper Packaging berkualitas tinggi yang mengkhususkan diri untuk melayani kebutuhan industri di Indonesia dan negara-negara sekitarnya.

MISI:

 PT Corona Printing Asia bertekad untuk memberikan hasil cetakan Tea Tag , Tea Bag Envelope dan Flexible Paper Packaging dengan mutu melebihi harapan para pelanggan .

 PT. Corona Printing Asia mendorong pengembangan pekerja, kesempatan, dan kepuasan bekerja dalam suatu lingkungan kerja yang aman dan sehat.

 PT. Corona Printing Asia berusaha untuk menguasai pangsa pasar sesuai keahliannya, dengan memberikan nilai lebih kepada para pelanggan dan mempertahankan keuntungan yang layak demi perkembangan perusahaan.

Direktur bertanggung jawab untuk menetapkan Kebijakan Mutu, meninjau kembali setiap tahun, serta bertanggung jawab atas komunikasi dan pemahaman Kebijakan Mutu dan memastikan bahwa Kebijakan dipahami pada semua tingkatan di dalam perusahaan. Kebijakan mutu PT Corona Printing Asia adalah:

(3)

o “CANTIQ”

C Caring

Memliki budaya kerja peduli, yang diimplementasikan terhadap sesama rekan kerja dan di dalam lingkungan kerja yang akhirnya secara otomatis mempunyai dampak peduli terhadap keinginan dan kepuasan pelanggan

A Awareness

Mempunyai kesadaran untuk menjaga dan menjamin mutu produk, mempunyai kesadaran untuk ambil bagian dalam emnymbangkan ide-ide kreatifitas dan inovasi, yang pada akhirnya mempnyai kesadaran bahwa cara kerja dan cara berpikir dalam bekerja sangat menentukan hasil akhir dari suatu proses dan mutu produk

N Neat Senantiasa memiliki pringsip kerja yang rapi dan bersih di tempat kerja maupun lingkungannya.

T Teamwork

Memiliki prinsip kerja dan kesadaran bahwa keberhasilan suatu proses kerja dan produk yang dihasilkan bergantung kepada kerjasama tim/teamwork yang solid bukan lagi individu semata

(4)

I (continuous) Improvement

Mempunyai kesadaran bahwa pengingkatan mutu dari produk dan kepuasan pelanggan mutlak harus dijaga dengan cara melakukan perbaikan secara terus menerus

Q Quality (conscious)

Kualitas menjadi suatu dasar pemikiran dalam melakukan semua pekerjaan untuk menghasilkan produk yang mempunyai jaminan mutu yang melebihi harapan pelanggan.

Gambar 4.1. Struktur Perusahaan

Sumber : PT. Corona Printing Asia

(5)

Sumber : PT. Corona Printing Asia

Adapun kegiatan yang dilakukan pada divisi produksi PT. Corona Printing Asia adalah sebagai berikut :

1. Admin Produksi/PPIC : menyiapkan bahan baku dan bahan bantu printing seperti kertas, Tinta dan campuran pembersih tinta.

2. Pra Printing : Membuat Cilinder Printing dan proff print yang sudah di tanda tangan konsumen untuk diserahkan ke produksi.

3. Printing : Proses printing/cetak yang dilakukan setelah proff print di tanda tangan oleh konsumen.

4. Slitting : Proses slitting atau membelah hasil jadi printing dengan lebar dan sesuai dengan permintaan customer.

5. Maintenance : Melakukan corrective dan preventive mesin-mesin produksi yaitu mesin printing dan mesin slitting.

PROSES PRODUKSI PRINTING 1. PRAPRINTING

a. Persiapan Bahan Baku : Cilinder Printing, Bahan baku kertas, Tinta

(6)

c. Prof print yang sudah di tanda tangan customer untuk standar warna.

Gambar 4.2. Cylinder printing, kertas dan Tinta Sumber : PT.Corona Printing Asia

2. PRINTING

a. Persiapan bahan baku : Kertas sesuai spesifikasi, Tinta, Cilinder Printing

b. Persiapan bahan bantu : Pembersih Cilinder Printing, tools, Lakban, Double tape. c. Persiapan Mesin Printing : bahan baku untuk tarikan awal, memasang cilinder printing, memasukkan tinta printing kedalam bak mesin printing

(7)

e. membuat laporan

Gambar 4.3. Proses Printing Sumber : PT. Corona Printing Asia 3. Slitting

a. Persiapan bahan baku : Hasil jadi jadi dari mesin printing

b. Persiapan mesin Slitting : pengukuran pisau slitting sesuai lebar yang diminta customer.

(8)

Gambar 4.4. Proses Slitting Sumber : PT.Corona Printing Asia B. Pengendalian Kualitas Perusahaan

Pengendalian kualitas terhadap produk jadi dilakukan melalui kegiatan pemeriksaan/inspeksi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memeriksa hasil printing tea tag sariwangi yang baru keluar dari mesin apakah terjadi kerusakan/tidak sesuai dengan standar perusahaan atau tidak. Secara umum kriteria printing Tea Tag yang sesuai standar kualitas adalah :

1. Visual Printing harus bersih

Hasil printing Tea Tag tidak kotor dan tidak terdapat bercak tinta pada visual printing.

2. Penyerapan tinta yang merata (hasil printing tidak kabur)

Penyerapan tinta yang merata pada kertas tergantung dari tingkat kehalusan visual kertas dan pencampuran tinta yang merata. Pada bahan baku kertas dengan visual halus akan memungkinkan hasil printing akan terlihat rata, sebaliknya jika visual kertas tidak rata maka hasil printing akan terlihat tidak merata. Sedangkan jika untuk bahan tinta viscosity atau kekentalan tinta akan menentukan visual printing merata atau tidak merata.

(9)

Hasil jadi berupa gulungan roll tidak boleh kendor, hal ini akan mempengaruhi pada saat pengisian teh di pemakai (customer).

Gambar4.5. Pengecekan Quality Control Sumber : PT.Corona Printing Asia C. Analisa Data

Untuk menaganalisis pengendalian kualitas secara statistic adalah membuat tabel (check sheet) jumlah produksi dan produk rusak/tidak sesuai dengan standar kualitas. Pembuatan tabel (check sheet) ini berguna untuk mempermudah proses pengumpulan data secara analisis. Berikut Data observasi yang dilakukan selama bulan Juni 2015 :

(10)

Tabel 4.1

(11)

Sumber : PT.Corona Printing Asia Tanggal

Jumlah Jenis Cacat (Roll) Jumlah Produk Produksi Garis Tidak Terpotong Cacat

(Roll) Register (Roll)

1 650 20 12 8 40 2 655 10 28 - 38 3 666 20 12 18 50 4 675 20 10 9 39 5 660 20 15 10 45 6 675 20 15 10 45 7 650 30 12 - 42 8 650 18 15 7 40 9 656 20 10 15 45 10 677 30 10 10 50 11 650 20 10 15 45 12 680 20 15 9 44 13 689 23 15 5 43 14 666 25 10 11 46 15 650 30 11 6 47 16 677 29 21 - 50 17 658 30 12 3 45 18 680 28 6 4 41 19 688 20 15 16 51 20 650 30 7 6 43 21 660 24 21 - 45 22 660 15 20 5 40 23 665 30 10 2 42 24 664 20 13 9 42 25 679 25 10 6 41 Jumlah 16.630 577 335 184 1099 Rata- 665 23 13 9 43,96 Rata

(12)

D. Histogram

Setelah check sheet dibuat, maka langkah selanjutnya adalah membuat histogram. Histogram ini berguna untuk melihat jenis kerusakan yang paling banyak terjadi. Berikut ini Histogram yang dibuat berdasarkan Tabel C.

Gambar 4.6. Diagram Histogram Kerusakan Produk Juni 2015

Dari histogram diatas, dapat kita lihat jenis kerusakan yang paling sering terjadi adalah problem garis, dengan jumlah kerusakan 703 roll. Jumlah kerusakan tidak register sebanyak 396 roll.

(13)

E. Diagram Pareto

Adapun langkah-langkah sebelum membuat Diagram Pareto kita akan membuat tabel persentase secara keseluruhan dari permasalahan yang ada di PT.Corona Printing Asia. Berikut kita dapat melihat tabel pesentase permasalahan secara keseluruhannya.

Tabel 4.2. Persentase Keseluruhan Tingkat Kerusakan

Jenis cacat Jumlah % Kum %

Garis 577 52.65% 52.65%

Tidak Register 335 30.57% 83.22%

Terpotong 184 16.78% 100%

Jumlah 1096

Sumber : PT.Corona Printing Asia

Gambar 4.7. Diagram Pareto Tingkat Kerusakan Produk Bulan Juni 2015

(14)

Dari grafik diatas kita bisa lihat, bahwa problem terbesar adalah problem garis sebesar 577 pcs dengan persentase 52.65% dan posisi kedua dengan problem tidak register sebesar 335 pcs dengan persentase 30.57% dan problem terpotong 184 pcs dengan persentase 16.78%.

F. Peta Kendali P (P-chart)

Setelah membuat histogram, langkah selanjutnya adalah membuat peta kendali (p-chart) yang berfungsi untuk melihat apakah pengendalian kualitas pada perusahaan ini sudah terkendali atau belum. Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa langkah awal dalam membuat peta kendali adalah sebagai berikut :

1. Menghitung persentase kerusakan.

2. Menghitung garis pusat / Central Line (CL)

3. Menghitung batas kendali atas / Upper Control Limit (UCL) 4. Menghitung batas kendali bawah / Lower Control Limit (LCL)

1. Menghitung Persentase Kerusakan

Persentase kerusakan produk digunakan untuk melihat persentase keruskan produk pada setiap sub-grup. Rumus untuk menghitung persentase kerusakan adalah :

(15)

Keterangan :

np : Jumlah gagal dalam subrup

n : Jumlah yang diperiksa dalam sub grup subgroup : hari ke-

Berdasarkan Tabel 4.1, data tersebut diolah menggunakan Microsoft Excel 2007 untuk mencapai persentase kerusakan dari setiap subgroup ini. Berikut ini adalah tabel hasil pengolahan data.

Tabel 4.3.

Laporan Jumlah Produksi, Produksi Rusak dan Persentase Produk Rusak

Tanggal

Jumlah Jenis Cacat (Roll) Jumlah Produk Persentase Produksi Garis Tidak Terpotong Cacat Produk Cacat

(Roll) Register (Roll) (%)

1 650 20 12 8 40 6,15 2 655 10 28 - 38 5,80 3 666 20 12 18 50 7,51 4 675 20 10 9 39 5,78 5 660 20 15 10 45 6,82 6 675 20 15 10 45 6,67 7 650 30 12 - 42 6,46 8 650 18 15 7 40 6,15 9 656 20 10 15 45 6,86 10 677 30 10 10 50 7,39 11 650 20 10 15 45 6,92 12 680 20 15 9 44 6,47

(16)

13 689 23 15 5 43 6,24 14 666 25 10 11 46 6,91 15 650 30 11 6 47 7,23 16 677 29 21 - 50 7,39 17 658 30 12 3 45 6,84 18 680 28 6 4 41 6,03 19 688 20 15 16 51 7,41 20 650 30 7 6 43 6,62 21 660 24 21 - 45 6,82 22 660 15 20 5 40 6,06 23 665 30 10 2 42 6,32 24 664 20 13 9 42 6,33 25 679 25 10 6 41 6,04 Jumlah 16.630 577 335 184 1099 165,20 Rata- 665 23 13 9 43,96 6,61 Rata

Sumber : PT. Corona Printing Asia

2. Menghitung Garis Pusat / Central Line (CL)

Garis pusat / Central Line adalah garis tengah yang berada diantara batas kendali atas (UCL) dan batas kendali bawah (LCL). Garis pusat ini merupakan garis pusat yang mewakili rata-rata tingkat kerusakan dalam suatu proses produksi. Untuk menghitung garis pusat digunakan rumus :

(17)

Keterangan :

∑np = Jumlah total yang rusak ∑n = Jumlah total yang diperiksa

Berdasarkan rumus (2) maka didapatkan Central Line (CL) sebagai berikut : ∑np = 1099

∑n = 16630

3. Menghitung Batas Kendali Atas (UCL) dan Batas Kendali Bawah (LCL) Batas kendali atas dan batas kendali bawah merupakan indikator ukuran secara statistik sebuah proses bisa dikatakan menyimpang atau tidak. Batas kendali atas (UCL) dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan :

= rata-rata kerusakan produk n = total grup / sampe

(18)

dari rumus (3) maka dapat diperoleh Batas kendali atas sebesar : = 0.0661

n = 25

Sedangkan untuk menghitung batas kendali bawah (LCL) digunakan rumus :

Keterangan :

= rata-rata kerusakan produk n = jumlah produksi

catatan : jika LCL < 0 maka LCL dianggap 0

(19)

4. Menghitung Indeks Kemampuan proses (Cpk)

Menghitung indeks kemampuan proses adalah untuk untuk menganalisis sebesar apakah proses tersebut berjalan dengan baik atau tidak. Untuk menghitung nilai Cpk (Process Capability) dapat menggunakan rumus :

Cpk Minimum = Batas Spesifikasi Atas- X , X –Batas Spesifikasi Bawah

3σ 3σ

Dimana X = Rata-rata proses σ = Standar deviasi σ = R/d2

Dimana R = Nilai Range dari nilai terbesar – nilai terkecil

.d2 = Nilai konstan yang tergantung dari jumlah subgroup n,nilai didapatkan dari table, adapun nilai d2 jumlah n adalah 3.931.

(20)

Tabel 4.4. Pengukuran Nilai R dan X rata-rata

Dimana :

- Harapan perusahaan memenuhi standar 6 %, < 0 - Standar deviasi adalah 2.96 / 3.931 = 0.8

- CPK = MIN ((6% - 2.27%) / (3x 0.8)) or ((2.27% - 0) / (3 x 0.8)) = Min (3.73 / 2.4) or 2.27 / 2.4)

= Min 1.6 or 1

Dari perhitungan diatas dapat kita hitung bahwa CPK = 1 maka proses dikatakan baik.

(21)

5. Peta Kendali P (P-chart)

Setelah nilai dari persentase kerusakan dari setiap grup, nilai CL, nilai UCL dan nilai LCL didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah membuat peta kendali p (p-chart).

Gambar 4.8. Peta Kendali Tingkat Kerusakan Produk Tea Tag Sariwangi.

5. Diagram Sebab-akibat (Fishbone Diagram)

Diagram sebab-akibat / Fishbone Diagram digunakan untuk menganalisis faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab kerusakan produk. Adapun faktor-faktor-faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penyebab kerusakan produk secara umum dapat digolongkan sebagai berikut :

(22)

1. Pekerja (People), yaitu pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi. 2. Bahan Baku (Material), yaitu komponen-komponen dalam menghasilkan suatu produk menjadi barang jadi.

3. Mesin(Machine), yaitu mesin-mesin dan berbagai peralatan yang digunakan selama proses produksi.

4. Metode (Method), yaitu instruksi atau perintah kerja yang harus diikuti dalam proses produksi.

5. Lingkungan (Environment), yaitu keadaan sekitar tempat produksi baik secara langsung maupun secara tidak langsung mempengaruhi proses produksi.

Dapat kita lihat pada Gambar 4.6 yaitu histogram produk dimana ada tiga jenis kerusakan yang timbul dalam proses produksi yaitu, garis dan tidak register. Sebagai alat bantu untuk mencari penyebab terjadinya kerusakan tersebut, digunakan diagram sebab-akibat untuk menelusuri masing-masing jenis kerusakan. Berikut ini adalah penggunaan diagram sebab-akibat untuk problem garis dan tidak register.

(23)

1. Problem garis

Sumber : Hasil Observasi dan Wawancara Lapangan

Hasil printing yang tidak bersih seperti timbulnya garis pada visual biasanya selalu ada pada saat pemasangan doctor blade pada mesin kurang pas ataupun mengalami aus karena lamanya pemakaian. Hal ini disebabkan faktor mesin yaitu :

- Adanya serbuk kertas pada roll yang mengakibatkan kotoran tersebut masuk ke material.

- Cylinder printing yang sudah aus.

- Doctorblade yang sudah aus sehingga cacatnya tidak bisa menahan tinta pada saat transfer tinta ke paper.

(24)

2. Layout Printing (Tidak Register)

Sumber : Hasil observasi dan wawancara lapangan

Posisi layout printing agak menggeser atau tidak persis/fokus, ditandai dengan simbol garis plush sebagai simbol acuan yang terletak pada pinggir material printing yang tidak tepat sejajar aatau melebar melebihi 0,3 mm (batas toleransi yang ditetapkan perusahaan). Kejadian tersebut dianggap perusahaan sebagai rusak (reject) karena akan menyebabkan gambar pada visual printing terlihat kabur. Hal tersebut disebabkan oleh faktor mesin yaitu :

- Cylinder printing yang bergeser. - Sensor mesin rusak

(25)

3. Terpotong

.

Sumber : Hasil observasi dan wawancara lapangan

Tahap pembelahan (slitting) dari roll jumbo menjadi roll kecil-kecil yang disesuaikan lebar yang ditetapkan konsumen (customer). Apabila mesin membelah tidak sesuai dengan ukuran maka akan menhasilkan tulisan atau gambar yang terpotong tidak rapi. Hal ini disebabkan oleh faktor mesin yaitu :

- Tingkat ketajaman pisau

- Sensor mesin rusak yang menagkibatkan material yang akan dibelah tidak dapat dikendalikan.

- Tension mesin tidak seimbang yang mengakibat antara roll yang dilewati material terjadi pergeseran.

(26)

Dari ketiga problem diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa problem yang timbul diakibatkan oleh faktor mesin. Faktor mesin memang penyebab utama mengingat mesin operasional produksi tahun pembuatan 1970 – 1980. Dan juga dapat diperkuat dengan data-data pada saat proses produksi.

Tabel 4.5. Downtime Control Form

(27)

6. Usulan Tindakan Perbaikan

Dari diagram sebab-akibat diketahui problem yang timbul disebabkan oleh mesin. Setelah mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan/kerusakan pada produk Tea Tag Sariwangi, maka disusun usulan tindakan perbaikan secara umum dalam upaya menekan tingkat kerusakan produk yaitu :

1. Memasang sikat pada roll tempat lintasan material kertas. 2. Penggantian dan perbaikan doctorblade

3. Memperbaiki Cylinder yang sudah aus (rechrome)

4. Melakukan perawatan mesin secara rutin, tidak hanya dilakukan ketika mesin mengalami kerusakan (preventive maintenance)

5. Menyediakan suku cadang mesin yang penggantian komponennya cukup sering agar tidak menghambat proses produksi.

Gambar

Gambar 4.1. Struktur Perusahaan
Gambar 4.2. Cylinder printing, kertas dan Tinta
Gambar 4.3. Proses Printing
Gambar 4.4. Proses Slitting
+6

Referensi

Dokumen terkait

Mesin yang digunakan dalam proses produksi udang beku pada PT Satu Tiga Enam Delapan terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan jenis proses.. Rincian dari

Garis lurus yang diperoleh dari isoterm adsorpsi pada Gambar IV.16 tersebut menunjukkan bahwa adsorpsi ion-ion logam sesuai dengan model isoterm Langmuir dan harga dari

Bangunan terakhir yaitu terdapat sludge drying bed sebagai wadah dari lumpur efluen dari digester dimana sludge drying bed ini berfungsi untuk mengeringkan dan

Proses selanjutnya adalah bending, komponen-kompen yang dipotong tadi ditekuk sesuai dengan gambar produksi dengan urutan tekukan tertentu sesuai dengan program

Ketika alat pendukung kurang diperhatikan maka bisa terjadi kerusakan kapan saja bahkan ketika sekoci akan digunakan pada saat keadaan darurat, ketika ada masalah saat akan digunakan

Untuk itu dibutuhkan suatu metode yang dapat digunakan dalam perencanaan produksi, yang merupakan alat bantu bagi suatu perusahaan untuk mengambil suatu keputusan pengalokasian sumber

Tahapan-tahapan dapat dilihat melalui diagram hilir berikut ini : Pengumpulan Data Mulai -Gambar layout asli perusahaan -Gambar tiap komponen produk - Mesin Produksi yang digunakan

Jika digambarkan pada garis kontinum maka akan tampak seperti gambar berikut : Gambar 4.5 Penilaian Responden Tentang Penghitungan dan Pencatatan Jumlah dan Persentase Bahan yang