• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS IMPLIKASI DEFORMASI CO-SEISMIC TERHADAP BATAS DAERAH DAN NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V ANALISIS IMPLIKASI DEFORMASI CO-SEISMIC TERHADAP BATAS DAERAH DAN NEGARA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

ANALISIS IMPLIKASI DEFORMASI CO-SEISMIC TERHADAP BATAS DAERAH DAN NEGARA

1. Pergeseran titik-titik pada garis batas yang berada di sekitar Aceh akibat deformasi co-seimic memberikan dampak beragam, mulai dari 9.45 cm di titik batas prov1 di pantai barat batas Aceh-Sumut, sampai dengan yang tertinggi 260.3 cm, di titik batas kabupaten, antara Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Besar yang berada di pantai barat dekat dengan pusat gempa.

2. Deformasi co-seimic gempa Aceh ini memiliki arah α pergeseran dikisaran 2410 sampai dengan 2750. Arah ini menuju pusat faults, dan berbanding terbalik dengan dengan arah pada pergeseran saat fase interseismic. Arah ini sesuai karena arah deformasi fase co-seismic harus berlawanan arah dengan fase interseismic, selain itu arahnyapun sesuai karena menuju pusat faults.

3. Dari ke 37 titik pada garis batas, baik itu titik pangkal kepulauan Indonesia, landas kontinen, batas seabed, sampai pada garis batas kabupaten, memiliki pergeseran akibat deformasi co-seismic melebihi 15 cm, bahkan mencapai kisaran 2 meter. Kecuali 4 titik, yaitu 3 titik pada garis batas provinsi yaitu prov1, prov2, dan prov3 yang hanya bergeser secara berurut: 9.45 cm; 11.13 cm dan 13.56 cm, Titik-titik ini berada di daerah selatan pada garis batas provinsi Aceh dan Sumatra Utara. Selain 3 titik di atas ada 1 titik batas landas kontinen3 yang berada di selat Malaka yang juga hanya bergesr 12.97 cm Hal ini dikarenakan pengaruh deformasi Co-seismic memang mengecil seiring dengan semakin jauhnya jarak dengan pusat gempa.

4. Untuk batas di laut tidak dicantumkan secara tegas, namun dalam UNCLOS 1982, disebutkan bahwa garis pangkal harus ditunjukan pada peta, oleh karena itu titik pangkal yang membentuknya harus memiliki sistim koordinat yang sesuai serta tingkat ketelitian yang handal. Namun tingkat ketelitiannya tidak dicantumkan dalam UNCLOS 1982, sehingga ketelitianya adalah ketelitian maksimal yang memungkinkan dicapai. Karena penentuan titik pangkal

(2)

ditentukan berdasarkan, salah satunya dengan penentuan garis air rendah, sedangkan penentuan garis air rendah memerlukan pemeruman. Dan pemeruman yang efektif memakai skala 1:5000, oleh karena itu maka ketelitian planimetris dari titik batas, dalam hal ini titik pangkal harus sebesar:

Ketelitian planimetris : 3σ x bilangan skala (catatan kuliah pemetaan digital, Hakim, D.M. 2005)

Dengan σ diasumsikan adalah ketelitian alat tulis terkecil, yakni 0.1 mm. Oleh sebab itu maka ketelitian planimetris dari titik batas atau titik pangkal yang harus di penuhi adalah 1.5 m.

5. Untuk titik-titik yang berada di dekat pantai barat Aceh, seperti titik-titik pada garis batas Kabupaten, antara Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Besar, memiliki pergeseran akibat deformasi co-seismic rata-rata dikisaran 2 meter, mulai dari 178.32 cm sampai dengan 260.34 cm. Besarnya pergeseran titik batas pada garis batas Kabupaten antara Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Besar ini dikarenakan jaraknya yang dekat dengan pusat Gempa kurang lebih 160 km, seperti yang ditunjukan pada tabel V.1. Dengan besarnya pergeseran akibat deformasi co-seismic yang besarnya mencapai kisaran 2 meteran ini, mengakibatkan aspek geometri tidak dipenuhi. Sehingga dibutuhkan suatu rekonstruksi ulang batas untuk mendapatkan titik koordinat batas yang baru. Jika tidak dilakukan maka akan terjadi konflik dalam penentuan batas, jika pilar batasnya suatu saat sampai hilang, karena koordinat yang baru akan berbeda dengan dengan koordinat yang telah ditegaskan sebelumnya. Selain itu berpengaruh juga terhadap luas dari kabupaten terkait. Plot pergeserannya dapat dilihat pada gambar IV.10

No Nama Titik Koordinat Toposentrik vektor pergeseran east (m) north (m) u east (mm) u north (mm) resultan alpha (deg) 6 titik KAB3 631.311 565.206 -1643.9 -839.4 1845.806 242.951 7 titik KAB4 622.504 562.803 -1842.3 -958.3 2076.634 242.518 8 titik KAB5 611.727 557.296 -2192.9 -1166.1 2483.667 241.998 TABEL V.1 Besar dan sudut jurusan deformasi co-seismic pada titik batas

(3)

10 titik KAB7 626.586 579.916 -1587.6 -812.1 1783.25 242.909 11 titik KAB8 611.804 580.334 -1863.5 -978.1 2104.593 242.306 12 titik KAB9 604.443 582.511 -2007 -1064.3 2271.736 242.063 13 titik KAB10 597.853 582.507 -2184.1 -1169.4 2477.456 241.835 14 titik KAB11 598.072 575.719 -2293.2 -1232.5 2603.425 241.744

6. Pada garis batas kabupaten antara Kabupaten Aceh Besar dan Pidie, memiliki pergeseran akibat deformasi co-seismic dikisaran 123.73 cm sampai dengan 161.45 cm, seperti yang ditunjukan pada tabel V.2. Dengan besarnya pergeseran akibat deformasi co-seismic yang besarnya mencapai kisaran 1.5 meteran ini, mengakibatkan aspek teknis dan hukum tidak dipenuhi. Sehingga dibutuhkan suatu rekonstruksi ulang batas untuk mendapatkan titik koordinat batas yang baru. Untuk meminimalisir terjadinya konflik dalam penentuan batas, jika suatu saat pilar batasnya sampai hilang, karena koordinat yang baru akan berbeda dengan dengan koordinat yang telah ditegaskan sebelumnya. Dan pastinya berpengaruh juga terhadap luas dari kabupaten terkait. Plot pergeserannya dapat dilihat pada

gambar IV.11

No Nama Titik Koordinat Toposentrik vektor pergeseran

east (m) north (m) u east (mm) u north (mm) resultan alpha (deg) 4 titikKAB1 652.757 557.335 -1380.4 -673 1535.719 244.009 5 titikKAB2 644.279 564.329 -1446 -718.1 1614.492 243.590 15 titik KAB12 652.642 575.765 -1265.9 -614.2 1407.034 244.118 16 titik KAB13 648.656 587.157 -1244.8 -606.7 1384.779 244.016 17 titik KAB14 645.348 598.58 -1217.1 -594 1354.315 243.986 18 titik KAB15 648.632 606.048 -1148.5 -554.6 1275.395 244.225 19 titik KAB16 644.211 622.046 -1114.4 -537.6 1237.296 244.247

7. Pada titik-titik batas di garis batas Provinsi didapatkan besar pergeseran sebesar 9.45 cm sampai dengan 274.35 cm, seperti yang ditunjukan pada tabel V.3.

memang pergeseran akibat deformasi co-seismic yang terjadi di titik-titik batas pada garis batas antara Provinsi Aceh dan Sumut tidak sebesar pada titik-titik pada garis batas kabupaten, sehingga hanya di beberapa daerah saja yang TABEL V.2 Besar dan sudut jurusan deformasi co-seismic pada titik batas

(4)

membutuhkan suatu rekonstruksi ulang, seperti di daerah titik prov5, prov6, prov7 dan prov8. Plot pergeserannya dapat dilihat pada gambar IV.9

No Nama Titik Koordinat Toposentrik vektor pergeseran east (m) north (m) u east (mm) u north (mm) resultan alpha (deg) 30 titik prov1 911.241 245.619 -94 10.1 94.54105 276.133 31 titik prov2 908.532 269.379 -110.8 10.2 111.2685 275.260 32 titik prov3 905.258 299.531 -135.3 9.1 135.6057 273.848 33 titik prov4 883.649 329.96 -175.1 7 175.2399 272.289 34 titik prov5 885.497 368.355 -213 -1.8 213.0076 269.516 35 titik prov6 870.768 411.162 -273.7 -18.9 274.3518 266.050 36 titik prov7 894.604 443.04 -264.8 -27 266.173 264.178 37 titikprov8 924.651 469.523 -243 -28.7 244.689 263.264

8. Sedangkan besarnya pergeseran deformasi co-seismic yang terjadi pada titik-titik batas di laut, seperti titik batas kontinen, titik batas seabed dan titik-titik pangkal didapatkan besar pergeseran seperti yang ditunjukan oleh tabel V.4. pergeseran pada titik kontinen, titik seabed maupun trijunction tidak signifikan, dan juga efeknya tidak sebesar pada titik pangkal, karena efeknya hanya pergeseran beberapa cm di tengah laut. Plot pergeserannya dapat dilihat pada gambar IV.8 9. Pada titik pangkal pergeseran yang terjadi dapat berakibat pergeseran pada garis

pangkal bisa sampai beberapa km jika daerahnya landai sekali, hal ini dikarenakan titik pangkal adalah titik untuk menentukan letak garis pangkal dan pada akhirnya menentukan garis batas laut teritorial. Dengan bergesernya secara horizontal maka pergeseran yang terjadi pada garis batas laut teritorial dapat signifikan, khususnya untuk daerah-daerah yang memiliki topografi pantai yang landai, hal ini diperparah dengan adanya up lift akibat dari deformasi co-seismic ini. Sehingga dapat dibayangkan jika terjadi uplift sebesar 1m saja, dan tempat titik pangkal tersebut landai, maka garis pangkal dan tentunya garis batas laut teritorial dapat bergeser signifikan ke arah laut (bertambah luasnya daerah yang

TABEL V.3 Besar dan sudut jurusan deformasi co-seismic pada titik batas Provinsi Aceh dan Sumut

(5)

mengalami uplift dalam kasus ini Indonesia, karena uplift terjadi di Indonesia) Plot pergeserannya dapat dilihat pada gambar IV.12

No Nama Titik Koordinat Toposentrik vektor pergeseran east (m) north (m) u east (mm) u north (mm) resultan alpha (deg) 1 titik kontinen1 928.345 607.956 -270.6 -61.5 277.5006 257.196 2 titik kontinen2 972.926 550.505 -222.2 -36.9 225.2431 260.571 3 titik kontinen3 1088.07 447.854 -129.5 -7.4 129.7113 266.730 20 titik lemeule 600.768 656.505 -1361.6 -684 1523.749 243.327 21 titik parubuso 846.183 581.818 -382.1 -102.9 395.7131 254.928 22 titik peureula 886.792 546.262 -315.9 -66.9 322.9062 258.043 23 titik peusangan 766.864 588.005 -567.4 -198.8 601.2189 250.691 24 titik pidie 662.135 613.007 -1011.2 -473.2 1116.442 244.922 25 titik jamboaye 840.199 585.574 -392.4 -108.5 407.1241 254.544 26 titik kont_INA_IND 621.122 863.329 -688.6 -234 727.273 251.231 27 titik seabed_THAI_INA 624.612 863.332 -677.6 -230.8 715.8285 251.190 28 titikseabed_THAI_IND 624.058 866.83 -676.1 -228.8 713.7651 251.304

10.Untuk titik-titik yang memang fix berada di tengah laut (titik batas kontinen, titik batas seabed dan trijunction) dan bukan titik acuan titik lain(titik pangkal), besarnya pergeseran tersebut tidak berpengaruh besar dan sepertinya tidak butuh suatu perjanjian ulang, karena perubahan yang terjadi tidak signifikan. Apalagi pada titik-titik batas kontinen, titik batas seabed dan trijunction, ketidak jelasan datum menyamarkan pergeseran ini. Sedangkan pada titik-titik pangkal yang merupakan titik acuan penentuan garis batas laut teritorial (datum dan koordinatnya telah di tetapkan dengan jelas), pergeseran dan uplift (vetrical displacement) ini akan berakibat sangat besar seperti berubahnya luas teritorial dan bergesernya batas teritorial, sehingga dibutuhkan suatu revisi dari daftar koordinat titik-titik pangkal.

11.untuk titik-titik batas kabupaten dan Provinsi, yang sudah ditetapkan harus memiliki ketelitian 15 cm-25 cm maka jika besarnya pergeseran lebih besar dari ketelitian yang harus dipenuhi tersebut, jadi harus dilakukan suatu rekonstruksi TABEL V.4 Besar dan sudut jurusan deformasi co-seismic pada titik-titik

(6)

ulang koordinat titik-titik batas dilapangan. Apalagi untuk daerah-daerah nearfield yang memiliki besar pergeseran rata-rata 2 meter. Rekonstruksi koordinat ini dianggap perlu karena titik-titik koordinat tersebut sudah tidak memenuhi aspek geometri yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga menyalahi aturan tentang batas yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

12.pemodelan elastic half space ini dirasa dapat mengakomodasi untuk melihat besarnya pergeseran, sehingga dapat menentukan koordinat setelah terjadinya deformasi co-seismic. Sehingga dapat digunakan dalam penentuan ulang koordinat-koordinat titik batas daerah, untuk mengurangi beban anggaran yang terjadi dari pada dilakukan pengukuran ulang titik-titik batas dilapangan. Namun hal ini tidak dapat dilakukan jika acuan pedoman penetapan dan penegasan batas daerah tidak direvisi untuk mengakomodasi terjadinya deformasi co-seismic, yang bisa terjadi kapan saja, jika terjadi gempa.

Gambar

TABEL V.3 Besar dan sudut jurusan deformasi co-seismic pada titik batas   Provinsi Aceh dan Sumut

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan, variabel dengan pengaruh ketiga adalah variabel manfaat.Meskipun variabel persepsi manfaat memiliki pengaruh terkecil daripada variabel persepsi kenyaman

Var y: menempati 4-byte memori informasi yang terkait adalah data float (bilangan pecahan), operasi yang dapat dilakukan: kali, bagi, tambah, kurang.. Rentang nilai bilangan

Peningkatan rasa percaya diri responden kelompok perlakuan terlihat dari responden yang mengatakan bahwa mereka mengetahui dan mempunyai kelebihannya, merasa

Kelima jenis penilaian non-tes yang disebutkan di atas (unjuk kerja, penugasan, proyek, produk, dan portofolio) sesuai digunakan untuk menilai kompetensi siswa pada ranah

Dengan demikian maka penggunaan media web baik yang dibuat menggunakan aplikasi moodle maupun flash (Ronaldo, 2011) dapat dijadikan salah satu alternatif sebagai

Tujuan dari penelitian ini adalah mencari jarak tanam yang tepat yang memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi.Penelitian ini dilaksanakan di Desa

Berdasarkan survey yang telah dilakukan peneliti cukup mewakili dari delapan item model COPA juga merupakan faktor yang akan diteliti untuk mengetahui

Satu langkah dalam perencanaan yang membagi setiap hari dalam beberapa slot waktu yang dinilai cocok dan pas untuk diudarakan. Program ini sangat memperhatikan target audiensi pada