CATATAN RAPAT PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Teks penuh

(1)

CATATAN RAPAT

PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Tahon Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat Dengan Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Temp at Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Rapat Hadir I. ANGGOTA TETAP: 1. Dr. A.A. Baramuli, S.H. 2. Damciwar, S.H. 1986 - 1987 I

Rapat Kerja Panitia Khusus ke-1 Menteri Kehakiman

Terbuka

Selasa, 30 September I.986 09.00 - 13.30 WIB

Ruang Rapat Panitia Khusus Dr. A. A. Baramuli, S.H. Drs. Noer Fata

Kata Pengantar Fraksi-fraksi

- Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara antara Pemerintah dan DPR-RI.

I. PANITIA KHUSUS :

30 dari 38 orang Anggota Tetap 16 dari 19 orang Anggota Pengganti. II. PEMERINTAH :

(2)

3. Sulaksono, S.H.

4. Oudy Singadilaga, S.H. MPA.

5. H.M. Munasir

6. Imam Sukarsono, S.H.

7. M. Said Wijayaatmadja, S.H.

8. Harry Suwondo, S.H.

9. Ors. F. Harefa, S.H.

10.

M.S~

Situmorang

11. A.S.S. Tambunan, S.H.

12. Taufik Hidayat, S.H.

13. Prof. Soehardjo Sastrosoehardjo, S.H.

14. Warsito Puspoyo, S.H.

15. Suhadi Hardjosutarno, S.H.

16. Ors. Moerdopo

17. Soeboeh Reksojoedo, S.H.

18. Ors. Rivai Siata

19. M. z.ainuddin Wasaraka

20. Muljadi Ojajanegara, S.H.

21. Ors. Aloysius Aloy

22. Sugiharsojono, S.H.

23. Ors. Sawidago Wounde

24. A. Madjid Ewa, S.H.

25. Soetomo, HR. S.H.

26. H. Adnan Kohar S.

27. TGK. H.M. Saleh

28. H. Ojamaluddin Tarigan

29. Ors. H. Mustafa Hafas

30. Ors. Ruhani Abdul Hakim.

II. ANGGOTA PENGGANTI

1. Soeharto

2. Amir Yudowinamo

3. Sutjipto, S.H.

4. Ors. H. Samad Thaha

5. Ny.

A.

Roebiono Kertopati, S.H.

6.

A.

Latief, S.H.

(3)

8. Ir. A. Moestahid Astari

9. Ny. Dra. H. Nasjarah M. Effendi 10. Abdul Rahim Mandji

11. A.A. Oka Mahendra, S.H. 12. Ibnu Saleh

13. Suparman Adiwidjaja, S.H. 14. Drs. H. Yahya Chumaidi Hasan 15. Ny. H. Asmah Sjahruni

16. Abdul Hay Jayamenggala

III. PEMERINTAH :

l. Ismail Saleh, S.H 2. Indroharto, S.H. 3. Djoko Soegianto, S.H. 4. Roeskamdi, S.R

5.

Anton Soedjadi, S.H. 6. M. Saleh Baharis, S.H.

7. Dr. Paulus Effendi Lotulung, S.H. 8. Zulfikar Jadis, S.H. - Menteri Kehakiman Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf. (Rapat dibuka pukul 09 .. 05 WIB)

KETUA RAPAT (DR. A. A. BARAMULI, S.H.):

Pertama-tama mengemukakan bahwa berdasarkan Pasal 99 Tata Tertib DPR-RI, maka para Anggota telah menandatangani daftar hadir dan semua unsur fraksi telah lengkap hadir, sehingga Ketua mohon perkenan untuk membuka Rapat Kerja dengan Pemerintah dan Rapat Kerja dinyatakan terbuka untuk umum dengan ucapan : Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam Sejahtera Merdeka!

Kemudian dijelaskan bahwa acara : l. Kata pengantar fraksi-fraksi .

2. Pembahasan DIM tentang Rancangan Undang-undang Pera:dilan Tata usaha Negara antara DPR-RI dan Pemerintah.

Berdasarkan Pasal 101 Tata Tertib DPR-RI, setelah rapat dibuka harus dibacaka surat-surat yang masuk. Tetapi untuk menyingkat waktu surat-surat dari beberapa kalangan antara lain dari Universitas Setiawacana (Jawa Tengah) yang mengharapkan untuk didengar dalam rangka pembahasan Rancangan Undang-undang ini. Dengan demikian surat tersebut dinyatakan diterima Pimpinan Panitia Khusus. Disampaikan bahwa mengenai acara, jadwal waktu yang telah disusun dan disetujui bersama tanggal 27 September 1986 tetap tidak perubahan, sehingga dapat dinyatakan kembali bahwa acara tetap berlaku.

(4)

(RAPAT SETUJU)

Dari Badan Musyawarah tanggal 24 September 1986, telah menyetujui seluruh acara Panitia Khusus tanggal 19 Desember 1986. Desember akan diadakan Pembicaraan Tingkat IV. Dengan demikian Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripuma untuk hal ini Pimpinan menyampaikan kepada rapat agar supaya diikuti dengan seksama acara yang telah disetujui oleh Badan Musyawarah yang dihadiri oleh semua fraksi pada tanggal 24 September 1986.

Ditekankan bahwa untuk permusyawaratan hari ini dipergunakan sepenuhnya Tata Tertib Pasal 106, 107, 108, 109, 110, J 11, 112 dan 113. Sedangkan risalah atau catatan rapat dan Laporan Singkat dibuat oleh Sekretaris Panitia Khusus Sekretariat Jenderal DPR-RI. Dikemukakan kembali bahwa mulai tanggal 26 September 1986 telah diadakan rapat Panitia Khusus dimana acara tanggal

27

telah disetujui. Juga oleh semua fraksi tepat pada waktunya tanggal 8 September DIM Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara telah dimajukan dan dimasukan kepada Sekretariat Panitia Khusus, sehingga dengan demikian DIM telah disusun oleh Sekretariat dan telah disampaikan kepada para Anggota Panitia Khusus tanggal 15 September 1986.

Demikian pula kepada Pemerintah (Menteri Kehakiman) telah menerimanya, Tanggal 15 September 1986 sampai dengan tanggal 29 September 1986 telah ditelaah dan dipelajari oleh semua fraksi tentang isi dari pada DIM tersebut. Mengenai isi dari pada DIM, Pimpinan mencatat sebagai berikut : Dari sekitar 141 pasal, ada 105 halaman untuk membahas 114 pasal dengan 6 bab.

Masalah-masalah yang dikemukakan oleh fraksi-fraksi di dalam DIM ini :

FABRI 68 masalah

FKP - 17 5 masalah FPP - 100 masalah

EPDI

98 masalah Jumlah

=

441 masalah

Mengenai catatan di da]am DIM Rancanagan Undang-undang, kiranya diperhatikan bahwa terdapat beberapa kesalahan, sehingga Pimpinan mengusulkan agar dipergunakan Rancangan Undang-undang yang diterima terdahulu yang dikirim oleh DPR-RI, karena di dalam DIM ini terdapat beberapa kesalahan. Sehubungan dengan itu Pimpinan mohon maaf untuk Sekretariat Jenderal PPR-RI.

Selanjutnya tentang mekanisme pembahasan masalah dalam DIM ini : J. Sifat dari pada Rapat PanitiaKhusus adalah terbuka.

2. Pimpinan Panitia Khusus secara berkala akan memberikan keterangan pers bila ada hal-hal yang perlu disampciikan kepada umum. Karena merupakan kewajiban untuk menyampaikannya secara jelas dan sedapat mungkin tertulis, sehingga bisa merupakan dokumentasi yang jelas.

(5)

3. Mengenai sifat Rapat Kerja Panitia Khusus dinyatakan tertutup sesuai Tata Tertib. Walaupun demikian setiap saat Pimpinan Panitia Khusus dan Pimpinan Rapat Kerja dapat melakukan keterangan pers agar supaya diketahui oleh masyarakat apa yang telah dibicarakan. Hal ini disampaikan bilamana sesuatu persoalan/masalah telah menjadi jelas. Sehingga dengan demikian tidak membawa perkiraan-perkiraan di kalangan masyarakat, sebab lebih baik menjelaskan yang benar daripada menjelaskan yang tidak benar dan belum selesai.

Dengan demikian jeJas bahwa Rapat Kerja keseluruhannya antara Pemerintah dan Panitia Khusus DPR-RI itu dapat diketahui oleh masyarakat mengenai hasil-hasilnya dan tidak ada yang tidak diberitakan secara umum. Hanya yang diberitakan adalah yang sudah jelas, yang sudah disetujui bersama dan tidak perlu lagi diadakan interpretasi/perkiraan oleh masyarakat. Sehingga demikian diberikan kepastian kepada masyarakat tentang apa yang telah dicapai antara Pemerintah dan DPR-RI.

4. Mengenai DIM yang sudah diterima telah disetujui bersama bahwa sistem membahasnya adalah tertutup. Artinya apa yang dibicarakan, apa yang sudah dimasukkan di dalam DIM ini sebagaimana disetujui bersama dengan satu catatan bahwa DIM yang telah disetujui bersama ini tentunya pokok-pokoknya dapat menyangkut hal-hal yang lain seperti yang pemah dikemukakan oleh FABRI.

Menyangkut ha1-ha1 Jain ini yang kaitannya sangat erat dengan pokok-pokok dalam DIM ini diperkenankan untuk dibicarakan seterusnya. Dengan catatan tentunya untuk berpegang kepada ketentuan di dalam Tata Tertib DPR-RI. Selanjutnya di dalam DIM ini bila ada dari fraksi yang tidak mengisi masalahnya itu tidak berarti bahwa fraksi tidak akan berbicara. Tetapi fraksi yang tidak mengisi harus sedapat mungkin menanggapi apa yang dikemukakan dalam kolom yang ada di sini. Hal ini perlu dijelaskan, karena mungkin nanti pengertiannya bisa berbeda. Jadi walaupun tidak ada tanggapan daripada fraksi di dalam kolom pendapat dari fraksi masing-masing, tetapi bilamana ada dari fraksi lain, maka fraksi yang lain pun diminta untuk menyampaikan pendapat. Sehingga dengan demikian bisa dicapai hal-hal yang diinginkan, yaitu musyawarah yang betul-betul secara demokratis. Selanjutnya pada sidang hari ini dapat dibentuk Panitia Kerja, Tim Perumus dan Tim Kecil.

Pimpinan memahami bahwa tentu anggota-anggotanya belum dapat diumumkan pada hari ini. Tetapi supaya dipersiapkan dari masing-masing fraksi siapa yang akan duduk di dalam Panitia Kerja, Tim Perumus, Tim Kecil. Tentunya Anggota-anggota ini harus diumumkan pada hari terakhir daripada Rapat Panitia Khusus. Pimpinan mengharapkan mulai sekarang supaya pimpinan fraksi masing-masing mengarahkan anggota-anggotanya yang memang telah direncanakan untuk duduk ke dalam Panitia Kerja, Tim

(6)

Perumus dan Tim Kecil. Agar dengan demikian catatan-catatannya akan merupakan catatan yang sempurna atau mendekati kesempurnaan.

5. Pembahasan dalam DIM ini akan mengikuti sistematika dari permulaan, yaitu :

- Konsideran

- Pasal demi pasal, seperti yang telah kita lakukan bersama.

Di samping itu diharapkan bahwa ahli bahasa untuk hadir dalam rapat-rapat ini. Kemudian dari masing-masing fraksi menunjuk jurubicaranya satu atau lebih; tergantung dari fraksi masing-masing dengan memperhatikan Tata Tertib yang berlaku.

Pada dasamya diusahakan supaya seluruh masalah diperoleh dan dipecahkan bersama-sama dengan kata mufakat dan diutamakan musyawarah berdasarkan Demokrasi Pancasila sebagaimana diharapkan.

Kemudian mengenai hal-hal lain yaitu tentang Pimpinan dan Anggota Panitia Khusus yang telah dikeluarkan keputusannya oleh Pimpinan DPR Nomor 17 / DPR-Rl/IV/1985-1986 tentang Pembentukan Panitia Khusus Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara, maka komposisinya adalah sebagai berikut

- 38 Anggota Tetap - 19 Anggo~ngganti. Jumlah 57

Dari F ABRI : 6 Anggota Tetap dan 3 Anggota Pengganti Dari FKP : 22 Anggota Tetap dan 11 Anggota Pengganti Dari FPDI : 2 Anggota Tetap dan 1 Anggota Pengganti. Dari FPP : 8 Anggota Tetap dan 4 Anggota Pengganti. Jumlah Anggota Tetap : 38

Jumlah Anggota Pengganti : 19

Mengenai Pimpinan susunannya seorang Ketua dan 4 Wakil Ketua.

Selanjutnya masa kerjanya, sesuai dengan yang dinyatakan dalam surat keputusan "sampai selesai". Dan sebagaimana telah diputuskan oleh Badan Musyawarah, akan ditetapkan Kata Akhir pada tanggal 19 Desember 1986.

(Selanjutnya Pimpinan memperkenalkan kepada Wakil Pemerintah para Anggota lainnya yang baru datang)

Akhimya Ketua mempersilakan Saudara Menteri Kehakiman sebagai Wakir Pemerintah untuk menyampaikan pendapat saran, dan lain-lain yang dianggap perlu oleh Pemerintah di dalam acara pada hari ini.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pemerintah secara tekun mendengarkan dan mengikuti pembukaan yang diuraikan oleh Pimpinan dan sepenuhnya dapat disetujui oleh Pemerintah termasuk

(7)

mekanisme kerja.

Sekedar tambahan saran.

Pertama, kiranya apabila memungkinkan tempat untuk menyelenggarakan rapat-rapat kerja Panitia Khusus mendapatkan tempat yang kiranya lebih akrab suasananya, lebih dekat susunan mejanya, lebih mudah mengenal satu sama lain. Sehingga dengan de~ikian akan membantu kelancaran selama penyelenggaraan Rapat-rapat Kerja ini.

Kedua, rapat-rapat Panitia Khusus ini menurut Pemerintah, diselenggarakan kurang lebih 17 hari, sedangkan rapat-rapat Panitia Kerja nantinya 22 hari. Jadi seluruhnya 39 hari; sudah dikurangi hari-hari Minggu. Berdasarkan alokasi itu Pemerintah sangat optimis bahwa sasaran dari pembahasan Rancangan Undang-undang ini benar-benar akan tercapai yaitu Insya' Allah pada tanggal 19 Desember 1986 yang akan datang.

Kiranya perlu disepakati bersama apakah rapat-rapat Panitia Khusus itu diselenggarakan terbatas pada pagi hari saja ataukah juga pada malam hari? Tentu hal ini dapat dijadikan sesuatu pegangan yang didalam pelaksanaannya mungkin bisa menyimpang. Tetapi pada prinsipnya mungkin disepakati mengingat juga kesibukan masing-masing ataupun juga usia masing-masing, kiranya rapat-rapat Panitia Khusus ini selama 17 hari dapat diselenggarakan pada pagi sampai siang hari sesuai dengan Tata Tertib DPR-RI ditutup pada jam yang telah ditentukan. Mudah-mudahan rapat-rapat Panitia Khusus dan Panitia Kerja ini berjalan lancar sebagaimana yang telah pemah dialami dalam pembahasan Rancangan Undang-undang yang lalu.

Demikian sekedar tambahan, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT :

Menyampaikan terima kasih kepada Saudara Menteri Kehakiman.

Berdasarkan Pasal 80 Peraturan Tata Tertib, maka rapat-rapat Panitia Khusus dapat diadakan tiap hari pukul 09.00 - 14.00 WIB, kecuali hari Jum'at pukul 08.30- 11.00 WIB dan hari Sabtu pukul 09.00- 13.00 WIB. Dibuka kemungkinan untuk rapat pada malam harinya, sesuai Pasal 80, yaitu dari pukul 19.30 - 22.30 WIB. Oleh karena itu bilamana sudah sampai waktunya, sesuai saran dari Pemerintah, Pimpinan akan menanyakan kepada para Anggota, meminta persetujuan apakah setelah rapat siang harinya perlu diadakan rapat pada malam harinya. Hal ini akan ditanyakan bilamana sudah tiba saatnya di dalam proses pembahasan DIM.

Penjelasan dari Saudara Menteri Kehakiman mengenai jumlah hari sesuai dengan catatan dari Pimpinan di sini 39 hari, sehingga hal ini tidak menjadi persoalan. Hanya ada satu hal yang dicatat yaitu buat besok harinya pada tanggal

(8)

1 Oktober 1986 itu adalah Hari Kesaktian Pancasila dan mengenai hal ini Pimpinan minta persetujuan daripada Pimpinan masing-masing fraksi apakah diadakan perubahan acara atau tidak.

Kalau menurut ketentuan sebenamya telah diterima tidak ada perubahan dan bilamana hal itu dapat dilaksanakan, maka Pimpinan berterima kasih, artinya secara resmi rapat dijalankan seperti biasa.

Ditanyakan hal ini apakah dapat diterima oleh rapat. (RAPAT SETUJU)

Selanjutnya tiba saatnya memasuki acara dan mempersilakan kepada masing-masing fraksi untuk menyampaikan kata pengantar.

FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Tetap Merdeka!

Menanggapi apa yang dikemukakan Saudara Ketua tadi tentang jurubicara sebelum nanti saya mempersilakan rekan Said membacakan kata pengantar. Maka seperti yang pernah dilakukan oleh FABRI nanti penyampaian masalah-masalah akan dibagi rata, akan ada beberapa juru bicara menyampaikan masalah-masalah dalam DIM.

Kemudian mempersilakan Rekan Said Wijayaatmadja, S.H. membacakan kata pengantar.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan Anggota Said Wijayaatmadja, S.H. dari FABRI. FADRI (M. SAID WUA Y AATMADJA, S.H.) :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Saudara Ketua Sidang,

Yang terhormat Saudara Menteri Kehakiman selaku wakil Pemerintah beserta Staf,

Para Anggota Panitia Khusus DPR-RI yang terhormat, Sidang yang kami muliakan.

Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wataala atas Rakhmat dan Ridho-Nya, sehingga kita sekalian pada hari ini dalam keadaan sehat lahir maupun batin dapat berkumpul di ruangan ini menghadiri sidang Panitia Khusus yang akan membahas Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang pada hari ini telah memasuki pembicaraan tingkat III.

Tiada lain harapan kami, semoga dalam rapat-rapat Panitia Khusus ini kita akan membawa semangat kebersamaan yang berorientasi kepada kepentingan

(9)

individu dan kepentingan masyarakat pencari keadilan.

Selanjutnya pada kesempatan ini F ABRI ingin menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah yang telah memberikan keterangan dalam mengantarkan Rancangan Undang-undang tersebut pada tanggal 29 April 1986, serta memberikan penjelasan pada pembicaraan tingkat II tanggal 28 Mei 1986. Dari keterangan dan penjelasan itu tergambar secara nyata, Iatar belakang, pertimbangan dan tujuan Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara tersebut, yang dulu pemah diajukan oleh Pemerintah kepada DPR-RI dengan amanat Bapak Presiden Nomor R.07/PUN/1982 tanggal 13 Mei 1982, 4 tahun yang lalu, tetapi pembahasannya belum dapat terselesaikan oleh Pemerintah bersama DPR-RI pada waktu itu. Semoga Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara yang akan dibahas sekarang ini dan yang telah diadakan penyempumaan dapat dibahas sampai tuntas dalam tahun ini juga dan kemudian dapat diundangkan sebagai undang-undang.

Sidang yang terhormat;

Sebagaimana kita ketahui, Negara Republik Indonesia adalah Negara berdasar atas hukum (Rechtstaat) tidak atas dasar kekuasaan belaka (Machtstaat). Ini dapat dilihat dalam penjelasan umum UUD 1945. Dengan demikian jelaslah tampak kepada kita kebulatan tekad Bangsa Indonesia untuk menghadirkan negaranya sebagai negara hukum di tengah-tengah pergaulan antar negara. Kebulatan tekad yang tampak makin jelas itu melalui Pasal 10 ayat (1) d Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehal,dman, dapat makin mantap meyakinkan setiap pengamat bahwa ciri-ciri utama negara hukum memang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan pokok pikiran tentang eksistensi Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum seperti yang kami paparkan ini FABRI bergembira bahwa pandangan dan pokok pikirannya didukung dan diperkuat oleh Pemerintah, sebagaimana tersirat dalam Keterangan Pemerintah mengenai Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara, bahwa Rancangan Undang-Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini merupakan tonggak pelengkap untuk mewujudkan makna Negara Hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta merupakan pelaksanaan GBHN dan Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970.

Hadirin yang kami hormati.

Rancangan Undang-undang ini seperti yang disinggung dalam . keterangan Pemerintah, mengandung arti satu langkah lebih maju lagi di dalam pembangunan hukum nasional. Sarana untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, menurut pandangan FABRI harus terkandung pula di dalam rancangan undang-undang ini. Beberapa hal yang patut digarisbawahi secara khusus di dalam hubungan dengan sarana untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila ialah bahwa undang-undang yang akan lahir ini nanti harus dapat menjamin pemberian lindungan yang lebih mantap bagi hak dasar manusia dan

(10)

hak-hak warga negara di dalam keseimbangan dengan hak masyarakat, serta harus dapat menjamin pemberian tampungan dan penyelesaian secara tuntas dan adil bagi tuntutan masyara.kat yang menderita kerugian sebagai akibat tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara di dalam pelaksanaan fungsinya. Rancangan Undang-undang Tata Usaha Negara yang akan diundangkan nanti sebagai undang-undang hams pula mampu memberikan pengaruh yang mantap di dalam usaha membina suatu aparat Pemerintah yang bersih dan berwibawa.

Di samping itu kiranya itu kiranya perlu dicatat bahwa pembangunan nasional kita laksanakan secara bertahap. Oleh karena itu dapatlah dipahami bahwa Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini belum memuat penampungan secara tuntas dan masih memerlukan tindak lanjut sesuai dengan perkembangan keadaan.

Sidang yang kami mulia.kan.

Pemerintah dalam keterangannya yang disampaikan kepada Dewan pada tanggal 29 April 1986 antara lain mengemukakan : "Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum bertujuan mewujudkan tata kehidupan bangsa yang sejahtera, aman tenteram dan tertib. Dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah berwenang mengeluarkan ketentuan atau peraturan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, dan oleh karenanya kemungkinan timbulnya sengketa antara Pemerintah dan warga negaranya dapat terjadi. Peradilan Tata Usaha Negara dicipta.kan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul sebagai akibat adanya tinda.kan Pemerintah yang dianggap melanggar hak warga negaranya".

Setelah menelaah uraian Keterangan Pen.i.efintah tersebut, FABRI ingin mengemuka.kan pandangannya bahwa sekalipul{ Peradilan Tata Usaha Negara dicipta.kan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul antara Pemerintah ( dalam hal ini Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara) dengan warga negaranya satu hal kiranya perlu ditonjolkan, yakni asas keru~nan yang harus senantiasa mewamai hubungan antara Pemerintah dengan warga negaranya. Asas ini mengandung arti bahwa pada piha.k yang satu, apabila terpa.ksa timbul sengketa antara Pemerintah (dalam hal ihi Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara) dan warga negaranya sebagai a.kibat tinda.kan Pemerintah yang dianggap melanggar hak-hak warga negara, ma.ka prinsip musyawarah hams tetap dipedomani, dan pada pihak yang lain Pemerintah di dalam penggarisan kebija.ksanaan-kebijaksanaan serta di dalam melakukan tinda.kan-tinda.kan hams mampu mengembangkan kearifan sedemikian rupa sehingga kebija.ksanaan atau tinda.kan itu tidak menimbulkan pelanggaran hak-hak warga negara.

Hadirin yang terhormat,

Setelah kami menguraikan pola pikir FABRI dalam membahas Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara secara singkat ini perkenankanlah kami memasuki materin}.'a meskipun dalam kesempatan ini FABRI hanya a.kan mengemuka.kan masalah-masalah yang pokok-pokok saja.

(11)

Bertitik tolak pada pemandangan umum FABRI yang telah disampaikan dalam rapat Paripurna DPR-RI pada tanggal 12 Mei 1986, FABRI ingin menggaris bawahi pendapat/pandangan yang telah dikemukakan yaitu tentang :

1.

Tempat Kedudukan Pengadilan Tata Usaha Negara

Rumusan dalam Pasal 6 ayat (1) Rancangan Undang-undang Tata Usaha Negara menyatakan :

a. Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di lbukota Propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah Propinsi tersebut.

b. Pengadilan Tingi Tata Usaha Negara berkedudukan di lbukota Propinsi tertentu dan daerah hukumnya meliputi wilayah beberapa Propinsi. FABRI kurang dapat menyetujui tempat kedudukan Pengadilan .seperti diuraikan dalam Pasal 6 ayat ( 1 ). Sebagai alasan dapat dikemukakan sebagai berikut : Berdasarkan sistem yang dianut di dalam Undang-undang tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pemerintahan di Daerah, Pemerintah Daerah Tingkat Il merupakan pemerintahan daerah terendah yang memiliki wewenang otonomi.

Pemilihan wewenang otonomi ini menuntut dilengkapinya Pemerintah Daerah Tingkat II dengan pelbagai badan, supaya setiap sektor kegiatan pelayanan masyarakat di daerahnya tidak lepas dari jangkauannya. Kegiatan pelayanan pada sektor peradilan memang telah dilengkapi dengan badan yang diserahi tugas pelayanan itu~ akan tetapi barn di lingkungan Peradilan Umum saja yang telah lama menempatkan badan pengadilannya yaitu Pengadilan Negeri di tiap-tiap daerah tingkat II, sehingga kurang memadai jangkauan kegiatan pelayanan pada sektor PeradiJan Tata Usaha Negara tersebut. Oleh karena itu F ABRI berpendapat bahwa pada dasamya tiap-tiap Pemerintah Daerah Tingkat Il hams dilengkapi pula dengan sebuah Pengadilan Tata Usaha Negara, sekalipun realisasinya bertahap. Pemerataan pemberian kesempatan untuk mencari keadilan merupakan pula salah satu faktor penting yang tumt menuntut adanya sebuah Pengadilan Tata Usaha Negara di tiap-tiap Daerah Tingkat II. Penyelenggaraan pemerintahan di daerah tingkat II pasti akan memperlihatkan suatu kepincangan, apabila warga negara/rakyat di daerah itu yang merasa hak-haknya dilanggar oleh Pemerintah (dalam hal ini Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara) tidak dapat segera mengajukan gugatan di daerahnya sendiri terhadap si pelanggar.

Oleh karena itu FABRI menyarankan agar Pasal 6 ayat (1) dan (2) diubah menjadi :

Ayat (1) : Pengadilan. Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota kabupaten atau di kotamadya dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten atau kotamadya

(12)

Ayat (2) : Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota propinsi, dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi.

2.

Wewenang Mengadili :

Pasal 49 menegaskan bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara tidak berwenang mengadili dan menyelesaikan Sengketa Tata Usaha Negara dalam hal keputUsan yang disengketakan itU dikeluarkan :

a. dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam, atau keadaan luar biasa yang membahayakan;

b. dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan perundang·undangan yang berlaku.

FABRI berpendapat bahwa perlu diadakan ketentuan yang lebih tegas tentang intensitas keadaan bahaya, keadilan bencana alam, keadaan Iuar biasa yang membahayakan dan keadaan mendesak untuk kepentingan umum. Sebab tanpa ketentuan yang lebih tegas itu dikhawatirkan rumusan di dalam Pasal 49 tersebut akan mudah digunakan sebagai alasan bagi pengambilan tindakan yang sebenarnya melampaui batas kewenangan/kekuasaan oleh suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Di dalam penjelasan atas Pasal 49 diuraikan bahwa yang dimaksud dengan kepentingan umum adalah kepentingan bangsa dan negara dan/atau kepentingan masyarakat bersama dan/atau kepentingan pembangunan.

FABRI berpendapat bahwa istilah dalam Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini yaitu :

a. Kepentingan umum;

b. Kepentingan pembangunan; c. Ketertiban umum;

d. Keselamatan negara; e. Keadaan yang mendesak; f. Bencana alam;

memerlukan penjelasan yang lebih terinci, sehingga tidak akan timbul pengertian yang berbeda-beda dan saling bertentangan yang didasarkan pada sikap/pengertian pejabat.

Pengertian yang "mengambang" dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk inenggunakan kekuasaan dan kewenangan secara sangat leluasa.

3.

Tentang Badan Hokum Privat

Yang berhak memajukan gugatan (penggugat) dalam Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini ditentukan selain orang seorang, juga "Badan Hukum Privat". Kenyataan menunjukkan bahwa banyak organisasi dan wadah dalam masyarakat yang ·tidak dapat digolongkan sebagai badan hukum privat, namun dapat dirugikan oleh keputusan Pejabat/Badan Tata Usaha Negara. Organisasi dan wadah-wadah itu merupakan penjelmaan

(13)

kemerdekaan berserikat/berorganisasi yang dijamin oleh UUD 1945 .... Dikaitkan dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang OrgMisasi Kemasyarakatan, dapat disimpulkan bahwa semua organisasi kemasyarakatan yang telah memenuhi semua persyaratan menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985, diakui eksistensinya oleh Pemerintah. Pengakuan itu bermakna bahwa organisasi ini sebagai pendukung hak dan kewajiban, meskipun tidak semuanya dapat diklasifikasikan sebagai badan hukum privat menurut hukum perdata. Oleh karena itu FABRI menyarankan agar istilah badan hukum privat yang terdapat di Pasal 1 butir 4 dan 5, Pasal 53 ayat (1) dilengkapi dengan penjelasan yang mantap.

4.

Persyaratan Sahnya Gugatan

Pasal 56 ayat (3) menentukan salah satu.persyaratan untuk sahnya gugatan ialah : harus adanya lampiran keputusan yang disengketakan. Mengingat adanya kemungkinan yang disengketakan itu penolakan pemberian keputusan (dengan lisan), yang menurut Pasal 3 Rancangan Undang-undang ini penolakan untuk mengeluarkan suatu keputusan yang dilakukan oleh suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara disamakan dengan suatu keputusan, sudah tentu tidak akan ada yang dapat jadi lampiran untuk sahnya gugatan menurut Pasal 56 ayat (3) tersebut. FABRI berpendapat perlu adanya pemecahan dalam pembahasan nanti.

5.

Berlakunya Undang-undang.

Menurut Pasal 141 Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara, saat mulai berlakunya undang-undang ini ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

F ABRI berpendapat bahwa lebih tepat bila dalam Rancangan Undang-undang ini ditentukan secara pasti bila (kapan) undang-undang ini nanti akan berlaku. Tentu saja penentuan secara pasti ini harus didasari pemikiran dan pertimbangan yang seksama tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kesiapan yang disyaratkan oleh saat mulai berlakunya undang-undang ini nanti seperti prasarana fisiknya, personalia peradilan, finansiilnya dan lain-lain.

Masyarakat akan lebih suka melihat dicantumkannya secara tegas saat mulai berlakunya undang-undang ini daripada membaca rumusan yang mengatakan bahwa saat mulai berlakunya undang-undang ini ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, sebab dengan membaca rumusan seperti ini, masyarakat pencari keadilan tidak tahu (tidak akan mendapat gambaran) kapan mereka akan dapat menikmati (mamanfaatkan) layanan yang akan disediakan oleh Peradilan Tata Usaha Negara, padahal kehadiran Peradilan Tata Usaha Negara sudah Ic:i.ma dinanti-nantikan. Di samping itu dengan ditentukan saat berlakunya undang-undang ini, secara tegas juga akan merupakan dorongan bagi Pemerintah untuk secepat mungkin mengusahakan dan sampai be.rhasilnya

(14)

menyediakan prasarana dan sarana untuk Peradilan Tata Usaha Negara itu, baik personil maupun materiil. Jika pada saat berlakunya undang-undang ini temyata persiapan belum selesai kenyataan ini tidak perlu dirisaukan dan tidak ragu-ragu menunda pelaksanaan undang-undang ini, sebagaimana telah terjadi dengan pengunduran berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai. Efek Psikologis pengunduran berlakunya undang-undang, tidak akan separah efek psikologis karena tidak dicantumkannya dengan tegas berlakunya undang-undang ini.

Saudara Ketua Sidang, Saudara Menteri Kehakiman dan sidang yangkami muliakan.

Demikianlah Kata Pengantar FABRI atas Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Semoga kata pengantar ini bermanfaat sebagai bahan pembahasan oleh Panitia Khusus dalam pembicaraan tingkat III sekarang ini. Hal-hal lain yang belum kami utarakan dalam kata pengantar ini, akan disampaikan pada kesempatan pembahasan materi Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini.

Menyadari pentingnya Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini dalam usaha kita untuk menciptakan kerangka landasan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, maka tegaknya hukum dan keadilan merupakan salah satu sasaran dan sekaligus syarat yang penting oleh karena itu F ABRI dengan kesungguhan hati mengajak fraksi-fraksi dalam Panitia Khusus ini menyelesaikannya dalam suasana kekeluargaan, sikap keterbukaan dan kesungguhan yang dijiwai semangat musyawarah untuk mufakat, dan dalam waktu yang telah kita sepakati bersama.

Sekian dan terima kasih atas perhatian Saudara-saudara sekalian, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menyelesaikan tugas Panitia Khusus ini dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan Negara dan Bangsa kita. Amin.

Wabillahi taufik wal hidayah.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. F ABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Mengemukakan bahwa demikianlah kata pengantar dari FABRI. Merdeka !

KETUA RAPAT :

Mengharapkan bahwa ruangan-ruangan terlalu besar dan mudah-mudahan dapat jelas, namun kalau kurangjelas copynya akan dibagikan. Untuk besok diusahakan supaya lebih didekatkan satu sama lain, sesuai dengan usul Saudara Menteri.

(15)

Dan sekarang kami persilakan kepada FKP. FKP (W ARSITO PUSPOYO, S.H.) :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saudara Ketua Panitia Khusus yang terhormat,

Saudara Menteri Kehakiman selaku Wakil Pemerintah, beserta Staf yang terhormat, Rekan-rekan anggota Panitia Khusus yang terhormat.

Hari ini adalah hari pertama Panitia Khusus mengadakan rapat kerja dengan Pemerintah untuk mulai membahas materi Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh Panitia Khusus ini bersama Pemerintah beberapa waktu yang lalu.

Dan. sesuai dengn cara kerja yang telah kita sepakati bersama, maka frnksi-fraksi telah memasukkan DIM nya masing-masing (Daftar Inventarisasi Masalah) yang akan kita pergunakan sebagai pegangan dalam kita membahas Rancangan Undang-undang ini.

Sebagai pengantar pembahasan tersebut FKP pada kesempatan ini ingin mengemukakan hal-hal pokok yang bersifat strategis, yang merupakan iatar belakang pemikiran FKP dalam mengajukan masalah-masalah yang terdapat dalam DIM yang telah disusun oleh FKP.

Hal-hal pokok tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sasaran yang ingin kita capai dengan penyusunan Undang-undang tentang Peraturan Tata Usaha Negara ini adalah : untuk memantapkan kewibawaan hukum, meningkatkan citra negara hukum dan meningkatkan kesadaran hukum, baik bagi pelaksana administrasi negara maupun bagi masyarakat, menciptakan aparatur Pemerintah yang bersih dan berwibawa dan memberikan perlindungan hul,rum yang lebih efektif kepada masyarakat, agar dengan demikian dapat mendorong partisipasi rakyat dalam pembangunan.

2. Fungsi yang akan kita berikan kepada Peradilan Tata Usaha Negara nanti adalah fungsi sebagai salah satu alat pengontrol terhadap Pemerintah, serta untuk memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada rakyat pencari keadilan.

3. Dalam rangka penentuan ruang lingkup materi yang akan dijadikan kompetensi daripada Peradilan Tata Usaha Negara ini, FKP melihat pada kenyataan bahwa Peradilan Tata Usaha Negara masih merupakan hal yang baru sama sekali di Negara kita, sehingga kita belum mempunyai pengalaman di bidang ini. Karena itu kita terpaksa hams mulai dari tahap yang paling awal. Dan dalam tahap awal ini kita belum dapat menentukan kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara seluas seperti yang kita inginkan, agar sasaran yang kami kemukakan di atas dapat tercapai secara penuh. Undang-undang yang akan

(16)

kita susun ini nanti menurut FKP, barn akan merupakan tahap awal daripada lahimya lingkungan peradilan yang ke 4 yang nanti mungkin secara periodik dan secara bertahap kita sempumakan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Berhubung dengan itu FKP pada dasarnya dapat menyetujui batasan-batasan seperti yang tercantum dalam Rancangan Undang-undang, dengan penyempumaan-penyempumaan yang dipandang perlu, antara lain dengan memperhatikan berjenis-jenis upaya administratif atau administratif beroep yang masih ada berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun sambil memperhatikan batasan-batasan yang kami maksudkan di atas, ada beberapa prinsip pokok yang menurut FKP per]u diberi penegasan dalam undang-undang ini nanti.

Prinsip-prinsip pokok tersebut adalah sebagai berikut :

1. Peranan Hakim Tata Usaha Negara adalah aktif, dalam usaha menemukan kebenaran materiil, Jewat alat pembuktian yang mengarah kepada "vrije bewijsleer".

2. Posisi yang seimbang antara penggugat dan tergugat. Ini perlu ditegaskan, karena pada umumnya penggugat adalah rakyat biasa, sedangkan tergugat adalah lembaga atau pejabat Pemerintah.

3. Prosedur yang cepat, sederhana dan murah, termasuk kemudahan-kemudahan yang perlu diberikan dalam menyusun dan mengajukan gugatan, serta penentuan tempat kedudukan Pengadilan sesuai dengan prinsip mendekatkan Pengadilan pada rakyat pencari keadilan.

4. Adanya jarninan bahwa Putusan Peradilan Tata Usaha Negara pasti akan dilaksanakan. Adanya jarninan ini perlu untuk memberikan wibawa kepada Pengadilan, yang pada gilirannya akan membantu tercapainya sasaran yang kami maksud di atas.

5. Mengenai komposisi hakim yang mengadili Sengketa Tata Usaha Negara, serta persyaratan yang diperlukan untuk dapat diangkat menjadi hakim perlu perhatian kita yang khusus, mengingat bahwa Peradilan Tata Usaha Negara ini merupakan Peradilan yang masih barn dan bersifat khusus pula, sehingga kita perlu memanfaatkan sebaik-baiknya tenaga-tenaga ahli yang kita memiliki di bidang ini.

6. Mengenai saat mulai berlakunya undang-undang, FKP berpendapat bahwa mengingat Peradilan Tata Usaha Negara ini masih merupakan lembaga yang barn sama sekali, maka perlu disediakan waktu yang cukup bagi Pemerintah untuk mengadakan persiapan-persiapan, baik yang berkenaan dengan perangkat lunak maupun perangkat kerasnya. Namun demi adanya kepastian waktu yang dapat dipergunakan sebagai pegangan, baik bagi Pemerintah dalam melakukan persiapan-persiapan tersebut maupun bagi rakyat pencari keadilan, maka saat

(17)

mulai berlakunya undang-undang nanti seyogyanya ditetapkan dengan tegas dalam undang-undang;

Sekianlah hal-hal pokok yang melatarbelakangi masalah-masalah yang telah dikemukakan dalam DIM FKP.

Sebagai penutup FKP mengharap agar DIM dari fraksi-fraksi, yang telah dikompulasikan sehingga menjadi DIM Panitia Khusus, dan telah dibagi-bagikan kepada kita itu, dapat memperlancar pembahasan Rancangan Undang-undang dalam Panitia Khusus, dengan pengertian bahwa DIM tersebut tidak akan ditambah dengan masalah-masalah barn. Namun tetap diberi kesempatan kepada fraksi-fraksi untuk mengajukan koreksi apabila terdapat kekeliruan, salah tik dan sebagainya. Khusus mengenai koreksi DIM ini, FKP akan mengajukan koreksi-koreksi nanti apabila kita mulai membahas pasal atau masalah yang bersangkutan.

Sekian, dan terima kasih.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. KETUA RAPAT :

Mengemukakan bahwa Saudara Warsito Puspoyo dahulu adalah Ketua dari Rancangan Undang-undang Tata Usaha Negara Tahun 1982. Untuk selanjutnya kami persilakan dari FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Saudara Pimpinan Panitia Khusus yang terhormat,

Saudara Menteri Kehakiman sebagai wakil Pemerintah beserta para staf ahli yang terhormat.

Saudara-saudara para anggota Panitia Khusus yang kami hormati. Assalamu 'alaikum .W arahmatullahi Wabarakatuh, Merdeka.

Pertama-tama kami panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa bahwa pagi ini tanggal 30 September 1986 kita bersama-sama memasuki rapat Pleno Panitia Khusus dalam rangka pembicaraan tingkat III Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara dengan pihak Pemerintah. Pembahasan Rancangan Undang-undang ini sangat penting artinya tidak saja bagi kami para wakil-wakil rakyat, yang memang telah lama menantikan kelahiran si anak keempat dari pengadilan dalam lingkungan Peradilan sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 10 ayat ( 1) sub d Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970, tetapi juga pen ting bagi Pemerintah sendiri dalam. rangka pelaksanaan Ketetapan MPR Nomor IV Tahun 1978 jo Ketetapan MPR Nomor III Tahun 1983 yang secara eksplisit disebutkan : Bidang Hukum sub d mengusahakan terwujudnya Peradilan Tata Usaha Negara.

Saudara Ketua dan hadirin yang terhormat.

Pembahasan Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara kali ini bagi Anggota DPR-RI punya arti tersendiri artinya saat pembahasan Tingkat

(18)

III-nya justru jatuh pada tahun terakhir masa bakti DPR-RI periode 1982-1987, sehingga bagi kami para legislator ini merupakan kebahagiaan tersendiri, manakala dapat menyelesaikan tugas ini .iecara tuntas dan dengan basil yang sebaik-baiknya. Hasil yang baik bagi FPDI ada lab undang-undang ini nantinya akan benar bermanfaat bagi rakyat artinya dapat memberikan perlindungan hukum bagi rakyat pencari keadilan.

Di samping itu adanya Peradilan Tata Usaha Negara di negara kita merupakan "conditio sine quanon" karena hal ini merupakan tiang penyanggah dalam menegakkan negara hukum yang telah kita sepakati bersama, bahkan dasarnya telah diletakan oleh "the founding fathers" Republik kita tercinta ini.

Saudara Ketua dan hadirin yang terhormat.

FPDI merasa optimis bahwa Rancangan Undang-undng yang kita hadapi ini pasti dapat diselesaikan pada waktunya. Hal ini disebabkan beberapa hal : 1. Sebagian besar Anggota Panitia Khusus ini adalah mereka yang telah

menyelesaikan 2 Rancangan Undang-undang baik Mahkamah Agung maupun Peradilan Umum yang sekarang telah menjadi Undang-undang.

2. Tim dari Pemerintah yang dipimpin Saudara Menteri Kehakiman juga hampir sama.

3. Pimpinan Panitia Khusus juga hampir serupa yang diketuai Saudara Dr. A.A. Baramuli, S.H.

4. Tolok ukur yang kita pakai sama yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila dan GBHN.

5.

Alokasi waktu yang longgar 39 kali rapat.

Hubungan yang telah kita jalin dalam rangka penanganan dua Rancangan Undang-undang yang lalu dapat kita jadikan modal dasar yang selanjutnya dapat kita teruskan. Dan kami yakin sekalipun materi Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini cukup berat namun kami masih ingat kata-kata ungkapan Saudara Menkeh yang menyebutkan bahwa tiada gunung yang tidak dapat didaki, tidak ada lurah yang tidak dapat dituruni dan tidak ada laut yang tidak dapat diseberangi dan seterusnya. Pokoknya menurut kami semua kesulitan dapat kita atasi bersama, asal kita semua ingin mengatasinya. Dan hal ini telah kita praktekkan dalam kita memusyawarahkan 2 Rancangan Undang-undang yang kami sebutkan di atas. Insya Allah semangat kebersamaan yang telah kita perlihatkan pada waktu yang lalu dapat kita tampilkan lagi pada saat kita membahas Rancangan Undang-undang Peradian Tata Usaha Negara ini.

Saudara Ketua dan hadirin yang terhormat.

FPDI sangat menghargai "political will" dan "politike daad" dari Pemerintah yang telah diwujudkan dengan pengajuan Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini sekaligus dengan hukum acaranya.

Ini merupakan suatu kebijaksanaan yang patut dipuji, sebab apa yang dilakukan ini yaitu mengajukan Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha

(19)

Negara tidak saja menopang secara sempuma adanya "rechtstaat" yang telah kita sepakati, di sini lain memberikan perlindungan kepada rakyat akibat tindakan aparatur Pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Di samping itu dalam era hukum sekarang ini, Pengadilan Tata Usaha Negara merupakan salah satu kerangka landasan di bidang hukum yang harus diselesaikan di dalam Pelita IV ini untuk kemudian dimanfaatkan dalam Pelita ke V nanti.

Saudara dan hadirin yang terhormat.

Peradilan Tata Usaha Negara harus dilihat dan ditempatkan dalam hubungannya dengan teori menjadi hakekat, dasar, tujuan, falsafah atau ideologi dan bentuk negara serta mengenai sistem kekuasaan negara. Dilihat dari dasar negara kita sebagai negara hukum dan menganut Sistem Demokrasi Pancasila maka tujuan Peradilan Tata Usaha Negara tidak lain ialah untuk memberikan perlindungan hukum atau "rechts berscherming" kepada rakyat terhadap tindakan-tindakan kekuasaan dalam menyelenggarakan pemerintahan oleh Badan Tata Usaha Negara sebagai Badan Hukum Publik dan oleh Pejabat Tata Usaha Negara, karena sesuai dengan konsep dasar negara hukum maka semuanya tanpa kecuali sudah barang tentu termasuk Pemerintah harus tunduk pada hukum, karena di dalam negara hukum yang berdaulat adalah hukum bukan kekuasaan. Dan di dalam rangka demokrasi Pancasila maka harus ada perlindungan hukum kepada rakyat terhadap kekuasaan Pemerintah yang dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan Pemerintah temyata ada yang merugikan kepentingan rakyat dan juga dapat merugikan hak-hak rakyat. Rakyat harus dapat menutut atau menggugat dan membela hak-haknya apabila dirugikan kepentingannya atau dilanggar hak-haknya oleh Badan atau Pejabat Pemerintahan di muka suatu Peradilan yang bukan Peradilan Umum yang mengadili atas dasar Hukum Perdata akan tetapi di muka Peradilan Khusus ialah Peradilan Tata Usaha Negara yang mengadili atas dasar Hukum Publik ialah Hukum Tata Usaha Negara atau Hukum Administrasi Negara.

Saudara Ketua dan hadirin yang terhormat,

FPDI mengharapkan perhatian bahwa kompetensi dari Peradilan Tata Usaha Negara ini menurut Rancangan Undang-undang adalah sangat sempit jelasnya hanya terbatas pada keputusan tertulis saja yang menimbulkan kerugian dan inipun masih dibatasi lagi oleh Pasal 2 Rancan·gan Undang-undang artinya beberapa jenis keputusan tertulis yang tidak dapat digugat. Namun demikian di lain pihak keputusan tertulis juga diperluas dalam arti bahwa setiap penolakan dari Pejabat Tata Usaha Negara untuk mengeluarkan suatu keputusan tertulis atau_membiarkan begitu saja permohonan tanpa adanya keputusan tertulis maka sikap seperti itu disamakan dengan suatu keputusan tertulis. Dalam rangka inilah kami mengharapkan semua pihak menempuh jalan kebijaksanaan setinggi-tingginya karena dasar kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara ini yang tertera pada Pasal 1, 2 dan 3 perlu dijabarkan dan dijelaskan secara gamblang.

(20)

Saudara Ketua dan hadirin yang terhormat.

Di dalam keterangan Pemerintah di muka Sidang Pleno DPR-RI ditegaskan bahwa Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara pada dasarnya sama dengan Hukum Acara Perdata di muka Peradilan Umum dengan beberapa kekhususan. Hukum Acara yang dimuat dalam Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini sangat terbatas dan kurang lengkap sehingga hal-hal yang tidak diatur dalam Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dalam undang-undang harus dianggap tunduk dan mengikuti hukum acara perdata di muka Peradilan Umum sesuai dengan keterangan Pemerintah tersebut sehingga dalam praktek nanti dapat · dihindari kekosongan di dalam menjalankan proses perkara di muka Peradilan Tata Usaha Negara yang akan menimbulkan permasalahan yang akan menghambat proses perkara dalam Peradilan Tata Usaha Negara. Untuk tegasnya harus ada pasal sendiri yang menyebutkan. Dalam hal-hal mengenai hukum acara yang tidak diatur dalam undang-undang ini akan berlaku hukum acara perdata di muka Peradilan Umum.

Pihak penggugat dalam usaha membuktikan gugatannya oleh karena kedudukan penggugat sebagai rakyat terhadap Pemerintah sebagai ~ergugat sangat lemah, sehingga dapat terjadi bahwa bukti-bukti yang diperlukan oleh penggugat itu sebagian besar ada di tangan atau di bawah kekuasaan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan atau yang menjadi tergugat sehingga penggugat tidak akan mampu mengajukan bukti-bukti tersebut, oleh karena tergugat tersebut dapat saja tidak mengaku tentang adanya bukti-bukti itu atau dapat juga menghapus atau menghilangkan atau menyembunyikan bukti-bukti tersebut.

Maksud sistem pembuktian bebas ('vrij bewijs') ini harus ditegaskan dalam Pasal 100 dan di dalam penjelasan umum.

Saudara Ketua,

Mengenai "perbuatan penguasa yang melanggar hukum" atau "onrechtmatige overheidsdaad" dalam keterangan Pemerintah telah ditegaskan bahwa masalah tersebut termasuk wewenang peradilan umum. Akan tetapi untuk menghilangkan segala keraguan sebaiknya hal tersebut dinyatakan dengan tegas di dalam suatu pasal Rancangan Undang-undang Tata Usaha Negara.

Apabila timbul suatu perbedaan pendapat mengenai persoalan apakah suatu gugatan harus diajukan kehadapan Peradilan Tata Usaha Negara ataukah kehadapan Peradilan Umum, maka Hal tersebut harus diajukan kepada Mahkamah Agung untuk diberikan keputusan, yang harus diatur dengan tegas di dalam suatu pasal khusus Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara.

Menurut keterangan Menteri Kehakiman di luar DPR-RI, maka semua perkara yang tidak termasuk kompentensi Peradilan Tata Usaha Negara dengan sendirinya termasuk wewenang Peradilan Umum. Dengan demikian maka sebaiknya prinsip tersebut ditegaskan di dalam suatu pasal Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara yang harus menyatakan dengan tegas bahwa : Semua perkara-perkara gugatan yang oleh Peradilan Tata Usaha Negara dinyatakan tidak termasuk

(21)

kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara harus dianggap dengan sendirinya termasuk kompetensi Peradilan Umum.

Dengan ketentuan yang tegas seperti itu akan terhindar timbulnya sengketa-sengketa mengenai kompetensi antara Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Umum.

Saudara Ketua,

Tujuan pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara adalah memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan dan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat, hal mana adalah sinkron dengan tujuan negara Republik Indonesia sebagai negara hukum yang bertujuan mewujudkan tata kehidupan bangsa yang sejahtera aman, tenteram dan tertib. Rasa aman dan tenteram ini akan dirasakan oleh masyarakat apabila memperoleh keadilan dan kebenaran dalam tata kehidupannya sehari-hari. Dalam kehidupan bermasyarakat kepentingan para individu tidak selamanya sejalan, untuk menjamin penyelesaian yang adil terhadap sengketa pelbagai kepentingan yang berbeda-beda, baik kepentingan individu dengan Pemerintah dalam tugasnya mengatur pelbagai segi kehidupan masyarakat maupun antar kepentingan individu satu sama lainnya, maka saluran hukum merupakan salah satu jalan yang terbaik dan sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam falsafah Pancasila dan juga identik dengan prinsip suatu negara hukum dimana setiap orang yang merasa hak-haknya pribadi dilanggar diberi kesempatan untuk mencari keadilan dengan mengajukan perkara itu pada badan peradilan, karena itu pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk menunjukkan adanya negara hukum di tanah air kita Indonesia. Dalam politik pembangunan hukum dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan terdiri dari tiga dimensi, yaitu :

1. Dimensi pemeliharaan 2. Dimensi pembaharuan 3. Dimensi penciptaan

Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk melahirkan ketentuan hukum yang lengkap yang semula belum ada. dal.am sistem hukum di Indonesia sehingga merupakan satu langkah maju yang konkrit dalain mengisi era hukum dalam konteks pembangunan nasional, karenanya Rancangan Undang-undang tersebut termasuk di dalam dimensi penciptaan. ·

Dalam Rancangan Undang-undang saat berlakunya undang-undang. ini ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah, karena Pemerintah merasakap perlu mengadakan persiapan di segala bidang, yang meliputi prasarana fisikny~. personalia peradilan, finansilnya dan lain-lain sebagainya yang belum bisa diprakirakan secara pasti.

Menurut sistem dan kebiasaan dalam pembuatan perundang-uildangan hingga sekarang tentang berlakunya suatu undang-undang itu selalu ditetapkan oleh undang-undang itu sendiri, oleh karena soal berlakunya undang-undang itu

(22)

merupakan masalah yang prinsipiil dan substansiil, oleh karena itu harus ditetapkan dalam dan oleh undang-undang itu sendiri. Berhubung dengan itu mengenai berlakunya Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini harus dinyatakan dengan tegas di dalam undang-undang ini sendiri dan tidak oleh Peraturan Pemerintah ..

Akhimya mengharap kerja sama yang baik, tenggang rasa guna lancamya penyelesaian Rancangan Undang-undang ini.

KETUA RAPAT:

Mengucapkan terima kasih kepada FPDI yang dijurubicarai Sutomo, S.H. yang terkenal gigih dalam soal "countempt of court" yang diangkat terns menerus sampai masuk dalam batang tubuh undang-undang dan se.karang gigih lagi minta supaya diselesaikan betul-betul pada waktunya yaitu tanggal 19 Desember 1986.

Selanjutnya mempersilakan kepada FPP

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara Ketua, dan para Wakil Ketua Panitia Khusus; Bapak Menteri Kehakiman dan para Pejabat Teras Departemen Kehakiman, Reican-rekan Anggota . Panitia Khusus serta hadirin dan hadirat yang terbormat.

Pertama-tama kami sampaikan u~an terima .lcasih kepada Pimpinan rapat

hari

ini, yang telah memberi kesempatan kepada kami selaku jurubicara FPP dalam Pansus

ini

untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai pengantar atas Pembicaraan Tingkat ill Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Marilah

kita bersyukur kebadirat Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana,

bari ini kita semua menikmati anugerahNya, sehingga bari

ini

kita memperoleh wakru dan kesempatan ini untuk membabas lebih jauh dan lebih mendalam Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sebagai penjabaran daripada rasa syukur tersebut maka dalam dan selama Pembahasan Tingkat ill Rancangan Undang-undang ini kita semuanya meletakkan tekad untuk bermusyawarah lebih tekun, terperinci, tenang dan santai. Kami menggaris bawahi ungkapan Bapak Menteri Kehakiman ketika menyampaikan jawaban Pemerintah di muka Sidang Paripuma DPR-RI tanggal 20 Mei 1986 yang lalu bahwa hal-hal yang belum memuaskan para Anggota Dewan masih dapat kita bahas dalam pembicaraan tingkat selanjutnya dalam suasana yang lebih tenang, serius tapi tetap santai.

Sebagaimana dikatakan oleh Bapak Menteri, bahwa, melalui pidato pemandangan umum para jurubicara keempat fraksi di DPR-RI telah diketahui adanya dukungan atas banyak prinsip dalam Rancangan Undang-undang ini dari keempat fraksi. Namun melalui pidato pemandangan umum itu pula dapat dicatat,

(23)

ada beberapa prinsip yang masih perlu dimusyawarahkan lebih lanjut. Pem,erintah telah menyampaikan jawabannya secara memadai atas pemandangan umum keempat fraksi namun demikian kita semua masih tetap ingin memusyawarahkan beberapa prinsip dalam Rancangan Undang-undang ini, sehingga Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang kita lahirkan dalam periode kita ini dapat dicatat oleh sejarah sebagai undang-undang yang dapat dipertanggung jawabkan, undang-undang yang berorientasi kepada kemaslahatan bersama, berjiwa melindungi rakyat, berorientasi pada pengabdian dan kesejahteraan, bersemangat menegakkan keadilan kebenaran dan kepastian hukum berdasarkan Pancasila. Dan dengan terbentuknya Peradilan Tata Usaha Negara, akan mempercepat tercapainya aparatur Pemerintah yang bersih dan berwibawa.

Rancangan Undang-undang yang kita garap ini, seperti kata Bapak Menteri, termasuk dalam "dimensi penciptaan", yakni sebuah undang-undang yang sebelumnya belum ada di negara kita. Kita sedang menciptakan, benar-benar undang-undang baru, yang justru materinya menjamah langsung atau berkaitan dengan kepentingan rakyat semuanya tanpa ada kecualinya. Sebab memang tidak mustahil suatu ketika seseorang merasa hak pribadinya terusik oleh keputusan Pemerintah.

Maka dalam tingkat pembicaraan sekarang ini, kita dituntut untuk lebih cermat menelaah. prinsip yang perlu diatur dalam undang-undang ini, prinsip yang perlu kita hindari karena tidak sesuai dengan jiwa Pancasila, prinsip-prinsip yang realisasinya perlu tahapan tertentu berdasarkan kondisi dan kemampuan negara kita, dan lain sebagainya. Lebih dari itu bahkan seperti biasanya kita pun diseyogyakan untuk mengamati dengan seksama masalah-masalah redaksionil, masalah koma, masalah titik dan spasi. Mengingat itu semua mustahil, dalam pembahasan nanti kami kemukakan hal-hal yang menurut pendapat kami adalah penting dan benar, yang mungkin menimbulkan kesan bertele-tele. Juga kami kemukakan hal-~al yang tampaknya sepele, sebab hanya berupa masalah _koma .dan titik saja. Namun percayalah, sebagaimana kami juga mempercayai ·semua rekan Anggota Panitia Khusus dan pihak Pemerintah, dalam forum ini kami akan bermusyawarah menuju mufakat sesuai dengan tradisi Demokrasi Pancasila kita. Salah satu keuntungan kita ialah Rancangan Undang-undang ini kita bahas sesudah DPR-RI kita menyelesaikan Undang-undang Mahkamah Agung dan Undang-undang Peradilan Umum. Beberapa ketentuan yang ada dalam kedua undang-undang itu kiranya ada yang dapat kita ambil alih ketika kita membahas Rancangan Undang-undang sekarang ini.

Diantara sekian banyak prinsip yang masih perlu kita musyawarahkan dalam pembahasan tingkat III ini ialah : masalah pertetapan tertulis dan yang tidak tertulis, masalah pengertian dan batasan "kepentingan umum", masalah tempat kedudukan Pengadilan Tata Usaha Negara, masalah keputusan yang mempunyai latar belakang politik, masalah mulai berlakunya Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang kita bahas ini, masalah prosedur berperkara, masalah

(24)

susunan pengadilan, masalah syarat-syarat hakim, masalah pengaturan tata kerja, pengertian keadaan luar biasa, hal-hal yang menyangkut hukum acara seperti : pengertian pendamping/pembela para fihak yang terdapat dalam Rancangan Undang-undang, dipandang masih kurang jelas maknanya, prosedur gugatan, uang gugatan dan lain sebagainya.

Dan dalam DIM kami juga terdapat sul-usul penghapusan beberapa anak kalimat atau ayat-ayat dalam beberapa pasal Rancangan Undang-undang. Pada bagian kesembilan tentang Ketentuan-ketentuan lain mulai Pasal 127 sampai dengan 136 kami usulkan untuk diubah menjadi Bab V : sehingga dengan demikian KETENTUAN PERALIHAN berada di baw1;1h Bab VI dan KETENTUAN PENUTUP berada di bawah Bab VII.

Kami juga mengusulkan beberapa perubahan dan penghapusan beberapa item dalam penjelasan pasal demi pasal, juga mengusulkan adanya penjelasan barn dalam penjelasan pasal demi pasal tersebut.

Secara singkat dapat kami beritahukan bahwa DIM kami mengandung kurang lebih 98 usulan untuk batang tubuh Rancangan Undang-undang dan 9 usulan dalam Penjelasan pasal demi pasalnya.

Ini semua sebagai salah satu andil kami dalam pembahasan Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara di atas kesadaran bahwa Rancangan Undang-undang ini apabila sudah diundangkan nanti akan menjamah langsung masyarakat luas di samping kewibawaan Pemerintah.

Undang-undang ini harus dapat menjamin dengan mantap hak-hak dasar manusia, hak warga negara di dalam keseimbangannya dengan hak masyarakat serta harus dapat menjamin penyelesaian secara cepat adil dan tuntas bagi tuntutan masyarakat yang menderita kerugian akibat tindakan Badan Tata Usaha Negara di cfulam pelaksanaan fungsinya.

Kami menggaris bawahi ungkapan Pimpinan Panitia Khusus beberapa waktu yang lalu bahwa Rancangan Undang-undang ini juga mempunyai dampak politis yang luas. Oleh karena itu wajarlah apabila kita membahas Rancangan Undang-undang ini dengan penuh tanggung jawab. Tentu adalah menjamin kemaslahatan kita bersama, yakni anggota masyarakat tanpa kecuali dan Pemerintah. Dalam hal ini tentu saja falsafah Pancasila menjadi landasan satu-satunya.

Demikianlah kata pengantar kami, akhirnya kami sampaikan terima · kasih sebesar-besarnya atas perhatian Pemerintah serta rekan-rekan Anggota Panitia Khusus.

Sekian, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT :

(25)

1. Terbukti semua fraksi telah mempelajari sungguh-sungguh, bahkan menghayati isi Rancangan Undang-undang ini secarajuridis, filosofis, bahkan politis dan didasarkan kepada historis dimana sistematika yang dikemukakan adalah komprehensif terpadu, baik konsiderannya maupun batang tubuh materi yang dikemukakan secara umum.

2. Undang-undang ini adalah baru untuk negara kita. Oleh karena itu kita sepakat untuk membuat sejarah, membangun tata hukum nasional berdasarkan Pancasila melalui undang-undang.

3. Semua fraksi setuju menyelesaikan Rancangan Undang-undang ini pada waktunya dengan motivikasi yang kuat. Satu-satunya motivikasinya adalah kepentingan rakyat seluruh Indonesia.

4. Mengenai materinya diharapkan supaya perimbangan yang wajar antara hak-hak rakyat dan kekuasaan Pemerintah. Dan semuanya didasarkan kepada falsafah negara Pancasila dan UUD 1945 dalam membangun hukum Pancasila. 5. Waktu berlakunya Undang-undang ini supaya tegas dinyatakan di dalam

batang tubuh.

Demikian secara umum Pimpinan merumuskan beberapa hal.

Kemudian mempersilakan Wakil Pemerintah untuk memberikan sambutan. PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Mengemukakan bahwa di dalam undangan yang diterima oleh Pemerintah dari DPR-RI yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal hanya tercantum dua acara, yaitu :

1. Kata Pengantar fraksi-fraksi 2. Pembahasan DIM.

Tetapi oleh karena Pimpinan meminta untuk memberikan sambutan atas kata pengantar yang disampaikan oleh fraksi-fraksi maka sambutan diterima dan mengemukakan sebagai berikut :

Pemerintah telah menyampaikan keterangannya yaitu Keterangan Pemerintah yang mengantar Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara ini Pemerintah juga telah mendengarkan pemandangan umum fraksi-fraksi, demikian juga Pemerintah telah menyampaikan jawabannya. Kemudian Pemerintah juga telah mempelajari Daftar Inventarisasi Masalah yang telah disampaikan.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini, maka ingin menyampaikan bahwa apa yang telah disampaikan dalam keterangan pemerintah dan jawaban Pemerintah sudah cukup jelas.

Namun dalam kesempatan ini, perkenankan akan memberikan beberapa penekanan ataupun sambutan serta tanggapan yang telah disampaikan oleh fraksi-fraksi.

(26)

Pemerintah sepenuhnya dan sependapat atas apa yang diungkapkan oleh FABRI tentang perlunya ada rasa kebersamaan tentang adanya asas kerukunan, oleh karena ini sesuai dengan falsafah Pancasila dan sikap integralistik yang dipancarkan. Dan sikap integralistik ini menjiwai pembahasan Rancangan Undang-undang yang sangat penting ini. Memang benar bahwa Rancangan Undang-Undang-undang ini merupakan suatu tonggak pelengkap. Namun demikian juga tidak hanya sebagai tonggak pelengkap, tetapi juga sebagai pilar atau tiang penyangga kekuasaan kehakiman yang keempat. Dan istilah yang dipergunakan oleh FPDI sebagai anak yang keempat sesuai dengan Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 di samping tiang peradilan umum, peradilan agama dan peradilan militer.

Keseluruhan materi yang diungkapkan kembali oleh FABRI, Pemerintah berpendapat bahwa hal ini dapat diakomodir di dalam nanti kita memasuki pembahasan pasal demi pasal sebagaimana dicanumkan di dalam DIM yang bersangkutan.

Pemerintah pun sependapat dengan pengantar dari FKP itu untuk lebih memantapkan kewibawaan hukum, memantapkan c;itra negara hukum, memantapkan kesadaran hukum rakyat.

Memang lahimya Peradilan Tata Usaha Negara ini nanti merupakan suatu hal yang sangat perlu dalam rangka pengawasan. Pengawasan telah berlangsung di lingkungan Pemerintah sendiri, yaitu apa yang disebut dengan "build in con-trol". Pengawasan dapat berlangsung secara intern maupun secara ekstem. Bahkan pengawasan ini dititik beratkan di dalam pemerintahan.

Di luar pemerintahan pengawasan dilakukan oleh BPK, DPR-RI. Dan sekarang dengan adanya Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini kita menginjak kepada yudisel kontrol, pengawasan yang dilakukan oleh aparat yudikatif terhadap tindakan hukum pemerintah, dan kesemuanya itu dapat dilt..'"Dgkapi oleh pengawsan yang dilakukan oleh rakyat sendiri atau apa yang disebut sosial kontrol, sehingga yudisel kontrol dan sosial kontrol ini lebih bisa mewarnai ciri daripada negara hukum.

Memang benar apa yang dikemukakan oleh FKP bahwa ini adalah merupakan tahap awal yang kiranya dapat disempumakan lebih lanjut disesuaikan dengan perkembangan keadaan. Ini adalah suatu sikap yang arif dan suatu sikap yang bijaksana, oleh karena selalu disesuaikan dengan perkembangan keadaan yang timbul. Dan sikap arief dan bijaksana ini kiranya dapat kita kembalikan pada UUD 1945 yang berbunyi bahwa kita harus hidup secara dinamis, harus melihat segala gerak-gerik kehidupan masyarakat dan negara Indonesia. Berhubung dengan itu janganlah tergesa-gesa memberi kristalisasi, memberi bentuk atau gestaltum kepada pikiran-pikiran yang masih mudah berubah. ltulah sikap yang arief dan bijaksana yang ditampilkan oleh FKP yang kiranya dapat dikembalikan pada UUD 1945.

(27)

Hal-hal yang bersifat strategis yang dikemukakan oleh FKP, Pemerintah berpendapat bahwa hal ini dapat diakomodir dalam pembahasan pasal-pasal yang bersangkutan.

Dari FPDI Pemerintah menghargai kata pengantar dari FPDI yang mengemukakan bahwa pembahasan Rancangan Undang-undang ini jatuh pada akhir masa bakti keanggotaan DPR-RI sungguh berbeda dengan sistem yang lalu, bahwa DPR-RI sekarang walaupun menghadapi masa bakti keanggotaan DPR-RI masih sanggup menyelesaikan Rancangan Undang-undang yang sangat penting pada tahun ini juga.

Ini merupakan suatu kemajuan di dalam kehidupan lembaga DPR-RI yang kita cintai bersama ini.

Memang benar apa yang dikemukakan oleh FPDI, bahwa Peradilan Tata Usaha Negara ini adalah apabila ini dikatakan berhasil, maka yang dikatakan baik dan berhasil itu adalah dalam arti memberikan manfaat bagi rakyat.

Pemerintah ingin menambahkan bahwa ini tidak hanya berarti bennanfaat bagi rakyat tetapi juga bermanfaat bagi Pemerintah sendiri. Karena adanya yudisel kontrol lebih membudayakan apa yang disebut dengan administrative beJivier membudayakan kebiasaan tertip administratif dan menimbulkan sikap hati-hati terhadap segala tindakan hukum yang akan dilakukan oleh Pemerintah.

Pemerintah sangat optimis bahwa pembahasan Rancangan Undang-undang ini berjalan lancar, dan apabila tadi FPDI melalui juru bicaranya mengemukakan tentang pepatah yang telah disampaikan waktu membahas Rancangan Undang-undang Peradilan Umum, maka pada kesempatan sekarang ini dapat ditambahkan bahwa dalam pembahasan Rancangan Undang-undang ini kita bisa bersikap berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Oleh karena tolok ukurnya memang sama, oleh karena itu Pemerintah yakin bahwa pembahasan Rancangan Undang-undang ini benar-benar dapat ~elesai pada waktunya.

FPDI berpendapat bahwa pengajuan Rancangan Undang-undang ini merupakan suatu "political will" dan "political daad". Tetapi Pemerintah juga berpendapat bahwa kesediaan DPR-RI itu sendiri untuk dapat menyelesaikan Rancangan Undang-undang pada akhir tahun ini juga walaupun mendekati akhir- · akhir masa bakti juga termasuk "political will" dan "political daad" dari DPR-RI sendiri, dan juga merupakan suatu political understanding antara DPR-RI dengan Pemerintah. Sungguh suatu kemajuan di dalam perjalanan kehidupan DPR-RI.

Materi yang dikemukakan oleh FPDI, Pemerintah berpendapat, bersedia untuk membahas dan dapat diakomodir di dalam pembahasan pasal-pasal yang bersangkutan.

Dari PPP Pemerintah sependapat bahwa apapun juga tolok ukurnya adalah kemaslahatan bersama.

Oleh karena itu materi-materi yang dikemukakan oleh PPP Pemerintah dapat mengakomodir dan nanti membahas bersama-sama dalam pasal-pasal yang

(28)

bersangkutan.

Akhirnya sekali lagi Pemerintah menyatakan bersedia untuk memusyawarahkan keseluruhan materi dari Rancangan Undang-undang Tata Usaha Negara ini.

Sekian dan terima kasih. KETUA RAPAT :

Mengucapkan terima kasih atas sambutan Pemerintah, dan dikemukakan bahwa sambutan ini sudah merupakan konvensi tata negara, karena memang dalam dua undang-undang terdahulu demikian juga sifatnya, sehingga dengan demikian kita memperkaya cara mengelola tata negara kita di dalam menyusun Rancangan Undang-undang dalam DPR-RI ini.

Demikian pula mengucapkail terima kasih karena diberikan pandangan yang jelas kepada masing-masing fraksi tentang pendapat yang dikemukakan.

Akhimya dari Pimpinan mengusulkan, bolehkah menunda Rapat Panitia

Khusus ini untuk 15 menit. ·

(RAPAT SETUJU)

Rapat dibuka kembali. Selanjutnya dikemukakan bahwa sekarang membahas Daftar Inventarisasi Masalah atas Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Mekanismenya sudah dijelaskan tadi dan fangsung memasuki batang tubuh daripada Daftar Inventarisasi.

Selanjutnya dikemukakan bahwa dalam kolom Rancangan Undang-undang perlu diperhatikan, Rancangan Undang-undang yang asli yang telah diberikan kepada para Anggota Panitia .Khusus, karena di dalam DIM ini ada beberapa kesalahan tik yang bisa menyulitkan, sehingga perlu dipergunakan dua-dua untuk apa yang masuk di dalam kolom pertama Rancangan Undang-undang.

Kemudian memasuki Batang Tubuh DIM, pertama:

Rancangan Undang-undangnya berbunyi : Rancangan Undang-undang Republik Indonesia Nomor ... Tahun ... tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Dari F ABRI tidak ada usul. PPP tidak ada usul.

FPDI tidak ada usul.

FKP ada usul perobahan antara Administrasi Negara dan Tata Usaha Negara. FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Mengusulkan istilah mengenai Peradilan Tata Usaha Negara ini diusulkan menjadi Peradilan Administrasi Negara. Alasannya karena hendak menampung adanya pendapat saran dari kalangan masyarakat maupun

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di