BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Model Pembelajaran a. Model Pembelajaran Quantum - ROSIANA NURUL KUSUMADESI BAB II

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Model Pembelajaran

a. Model Pembelajaran Quantum

Menurut Sagala (2012:62), model merupakan suatu

kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Model menjadi salah satu hal penting

sebelum seorang guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Hal yang dilakukan sebelum guru dan siswa melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas yaitu guru menyiapkan model

pembelajaran yang tepat yang akan digunakan terlebih dahulu. Model pembelajaran yang akan digunakan harus disesuaikan

dengan mata pelajaran dan materi ajar agar materi dapat tersampaikan dengan baik serta siswa pun turut aktif belajar dan merasa senang. Salah satu model pembelajaran akltif yang

memberikan suasana menyenangkan bagi siswa adalah model pembelajaran Quantum.

Model pembelajaran Quantum merupakan salah satu model pembelajaran yang berberpusat pada siswa. Menurut McCombs dan

(2)

guru lebih memfasilitasi daripada mengajar langsung. Menurut Jacobsen dkk (2009:228) pengajaran yang berpusat pada siswa

memiliki karakteristik-karakteristik yaitu siswa berada dalam pusat proses pembelajaran, guru membimbing pembelajaran siswa dan

guru menekankan pemahaman yang mendalam tentang konten dan proses yang terlibat di dalamnya.

Pembelajaran Quantum merupakan model pembelajaran

yang berpusat pada siswa. Hal ini dikarenakan dalam model pembelajaran Quantum, siswa dituntut aktif mengikuti kegiatan

belajar mengajar, aktif berinteraksi dengan teman dan guru, serta aktif melakukan pengalaman sendiri agar materi ajar dapat dipahami dalam jangka waktu lama.

Quantum menurut Bobby dePorter (2003:5) adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di

sekitar momen belajar. Kegiatan belajar mengajar yang diciptakan oleh Bobby dePorter menuntun agar guru menggunakan berbagai macam aspek yang dapat mempengaruhi belajar siswa, baik siswa

itu sendiri, guru, lingkungan kelas dan lain sebagainya.

Pembelajaran Quantum merupakan salah satu model

pembelajaran yang berbasis PAKEM, yaitu Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Menurut Saud (dalam

(3)

mendukung PAKEM, yaitu: (1) pembelajaran kuantum, (2) pembelajaran berbasis kompetensi, dan (3) pembelajaran

kontekstual. Pembelajaran partisipatif dan aktif merupakan pembelajaran yang melibatkan siswa ikut berpartisipasi aktif dalam

kegiatan belajar mengajar. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa tidak hanya duduk, diam, mendengarkan dan mencatat, melainkan bertanya, berdiskusi, mengamati, mencari

informasi/pengetahuan sendiri. Pembelajaran kreatif merupakan pembelajaran yang mampu merangsang motivasi dan

memunculkan kreativitas siswa dalam belajar dengan menggunakan metode dan strategi belajar tertentu.

Menurut Rusman (2011:325) pembelajaran dapat dikatakan

efektif apabila pembelajaran tersebut mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa untuk membentuk kompetensi

siswa sehingga siswa mampu mencapai tujuan belajar yang ia inginkan. Pembelajaran yang menyenangkan berarti pembelajaran yang mampu memberikan kesan baik kepada siswa saat kegiatan

belajar mengajar berlangsung yang terjadi karena pola hubungan yang baik anatar guru dengan siswa.

Pembelajaran Quantum merupakan bentuk upaya Bobby dePorter untuk merancang strategi pembelajaran yang

(4)

(2003:3) dengan menggunakan pembelajaran Quantum, kita dapat menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju

bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa. Berdasarkan penjelasan di atas, pembelajaran Quantum

merupakan pembelajaran yang yang berbasis PAKEM yang mampu membuat siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Suyadi (2013:112) mengemukakan keunggulan model

pembelajaran Quantum yaitu melibatkan teknologi pendidikan, memberikan kebebasan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi

pembelajaran sesuai modalitas belajar, memberi peluang kepada siswa untuk mencapai lompatan prestasi belajar, serta upaya belajar siswa dihargai dengan pemberian reward sehingga siswa semakin

termotivasi untuk mendapatkan reward sebaik-baiknya.

Sama halnya dengan model pembelajaran lain, selain

terdapat kelebihan, model pembelajaran Quantum juga memiliki kelemahan. Berikut adalah kelemahan model pembelajaran Quantum menurut Suyadi (2013:112), yaitu:

a. Lebih menekankan pada kompetisi individual dalam mencapai

prestasi belajar, sehingga aspek sosial dan kerja sama kurang

berkembang.

b. Lebih menekankan prestasi belajar dalam hal akademik

(5)

Harapan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, tentulah dapat menciptakan suasana belajar yang

kondusif, kegiatan belajar terlaksana dengan baik dan materi tersampaikan dengan baik. Hal tersebut dapat dilakukan apabila gur

memperhatikan prinsip-prinsip model pembelajaran Quantum. Adapun prinsip-prinsip model pembelajaran Quantum menurut Bobby dePorter (2003:7) yaitu: (1) segalanya berbicara, baik

lingkungan kelas, bahasa tubuh guru dan kertas yang dibagikan kepada siswa tersirat pesan untuk selalu belajar; (2) segalanya

bertujuan, semua yang dilakukan saat kegiatan belajar mengajar memiliki tujuan; (3) pengalaman sebelum pemberian nama, siswa diharapkan memiliki pengalaman dengan mengalami sendiri apa

yang dipelajari kemudian ia beri nama; (4) akui setiap usaha, dan (5) jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan, digunakan

untuk memberi umpan balik atas kemajuan dan peningkatan belajar siswa.

b. Strategi TANDUR

Pembelajaran Quantum dalam penerapannya memiliki

strategi pembelajaran sendiri, salah satunya adalah strategi TANDUR. Strategi TANDUR merupakan strategi pembelajaran

(6)

TANDUR merupakan kepanjangan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.

Tumbuhkan dapat diartikan sebagai tindakan awal guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk menarik perhatian dan

minat siswa terhadap mata pelajaran serta materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Hal yang dapat dilakukan guru adalah dengan memberikan pertanyaan, pantomim, lakon pendek dan lucu,

drama, video, maupun cerita.

Alami merupakan bentuk interaksi guru dengan siswa yang

mana guru dituntut untuk mampu memberikan pengalaman belajar dan menumbuhkan pikiran “kebutuhan untuk mengetahui” kepada

siswa. Guru dianjurkan untuk melibatkan siswa secara langsung.

Hal ini dilakukan dengan harapan selain siswa memiliki pengetahuan awal, siswa juga memiliki pengalaman langsung

sehingga siswa mampu memahami materi ajar dengan mengaitkan pengetahuan awalnya. Guru dapat menggunakan permainan dan simulasi dalam kegiatan belajar mengajar untuk menumbuhkan

pikiran tersebut kepada siswa.

Namai merupakan kegiatan pemberian identitas,

mengurutkan dan mendefinisikan suatu materi ajar yang sedang dipelajari oleh siswa. Kegiatan yang cocok dilakukan oleh guru

(7)

susunan gambar, warna, alat bantu, kertas tulis, dan poster di dinding saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Demonstrasikan dapat dilakukan dengan memberikan peluang kepada siswa untuk menerjemah dan menerapkan

informasi/pengetahuan yang telah didapat. Demonstrasi dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperagakan informasi/pengetahuannya. Hal yang dapat dilakukan dalam hal ini

antara lain sandiwara, video, permainan, lagu dan penjabaran dalam grafik.

Ulangi dilakukan untuk mengulang informasi/pengetahuan yang telah didapat oleh siswa. Sesuai yang dikemukakan oleh dePorter (2003:92) bahwa ulangi adalah pengulangan memperkuat

koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku tahu ini!”. Jadi, dalam kegiatan belajar mengajar diperlukan

pengulangan untuk siswa agar mereka mampu menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang telah mereka pelajari. Hal ini juga dilakukan agar guru mengetahui apakah siswa memahami materi

yang telah disampaikan dengan baik atau tidak. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah dengan mengadakan tutor sebaya,

menirukan orang seperti meniru guru, mempresentasikan informasi/pengetahuan beserta kesimpulan, maupun pengulangan

(8)

Rayakan adalah kegiatan akhir dalam strategi TANDUR. Rayakan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk

menunjukkan rasa senang atas kesuksesan dan keberhasilan suatu usaha. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam perayaan atas suatu

usaha antara lain pujian, bernyanyi bersama maupun pesta kelas.

2. Model Pembelajaran Langsung

Model pembelajaran menurut Joyce (dalam Trianto, 2012:22) adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman

dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. Model pembelajaran kini digunakan untuk merancang kegiatan belajar mengajar

agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pencapaian tujuan pembelajaran dilakukan dengan melihat ciri-ciri khusus model pembelajaran menurut

Nieveen (dalam Trianto, 2012:24), yaitu (1) shahih (valid); (2) praktis; dan (3) efektif. Model pembelajaran dikatakan shahih (valid) apabila model pembelajaran didasarkan pada rasional teoritis yang kuat dan

terdapat konsistensi internal. Model pembalajaran dikatakan praktis bila dapat dikembangkan dan dapat diterapkan. Pembelajaran dikatakan

efektif, bila model pembelajaran mampu memberikan hasil yang diharapkan.

(9)

menjadi subjek pembelajaran dan objek pembelajaran. Model pembelajaran langsung dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang

berpusat pada guru. Seperti halnya dikemukakan oleh Trianto (2012:41) bahwa pembelajaran langsung adalah suatu model pengelajaran yang

bersifat teacher center. Pembelajaran langsung cenderung menjadikan guru sebagai subjek pembelajaran, sedangkan siswa menjadi objek pembelajaran. Menurut Majid (2013:72), pembelajaran langsung

umumnya dirancang untuk mengembangkan aktivitas belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural (bagaimana melaksanakan

sesuatu) dan pengetahuan deklaratif (berupa fakta, konsep, prinsip atau generalisasi) dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Peran guru yang aktif dalam menyampaikan materi ajar terutama dalam

mengarahkan kegiatan belajar siswa sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat membantu siswa dalam memahami materi

ajar.

Model pembelajaran langsung cenderung lebih sering digunakan oleh guru-guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Joyce, Weil

dan Calhoun (dalam Aunurrahman, 2011: 169) mengemukakan tujuan umum model pembelajaran langsung yaitu untuk memaksimalkan

penggunaan waktu belajar siswa. Dampak pengajarannya menurut Aunurrahman (2011:169) yaitu tercapainya ketuntasan muatan akademik

(10)

digunakan oleh guru-guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Adapun ciri-ciri pengajaran langsung menurut Kardi dan Nur

(dalam Trianto, 2012:41) yaitu (1) adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar; (2)

sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajarannya yang terdiri dari tahapan; dan (3) strategi pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat

berlangsung dengan baik.

Kegiatan pembelajaran dapat dikatakan berlangsung dengan baik

apabila siswa mampu menerima materi ajar dengan baik dan mampu melakukan evaluasi pembelajaran dengan baik pula sesuai dengan langkah-langkah pengajaran langsung. Langkah-langkah dalam

pemgajaran langusng terdapat pada sintaks yang terdiri dari 5 fase yang masing-masing fase terdapat menjabaran bagaimana perna guru dalam

(11)

Tabel 2.1. Sintaks Model Pengajaran Langsung

Fase Peran Guru

Fase 1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan

Fase 3. Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

Fase 4. Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik

Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik dan memberi umpan balik.

Fase 5. Memberikan

Fase-fase pada pembelajaran langsung di atas merupakan tahapan-tahapan kegiatan guru yang dilakukan dalam proses belajar

mengajar. Pembelajaran ini dapat pula dikembangkan, seperti Daniel Muijs dan David Reynold (dalam Suprijono, 2013: 51-52) yaitu:

a. Directing, yaitu guru menjelaskan tujuan pembelajaran

b. Instructing, yaitu guru memberikan informasi dan

menginstruksikannya.

c. Demonstrating, yaitu guru menunjukkan, mendeskripsikan dan

(12)

d. Explaining dan illustrating, yaitu guru memberikan penjelasan dan

merujuk pada metode sebelumnya.

e. Questioning dan discussing, yaitu guru bertanya dan memastikan

setiap siswa ikut ambil bagian.

f. Consolidating, yaitu guru menguatkan dan mengembangkan

mengenai apa yang sudah diajarkan .

g. Evaluating pupil‟s responses, yaitu guru mengevaluasi presentasi

hasil kerja siswa.

h. Summarizing, yaitu guru merangkum apa yang telah siswa pelajari

menjelang akhir pembelajaran.

Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran langsung diperlukan banyak faktor, seperti lingkungan

yang baik, situasi ruang kelas yang tenang, adanya alat dan media yang cukup, motivasi siswa dalam belajar, serta cara menjelaskan yang

dilakukan oleh guru yang harus memperhatikan tempo berbicara dan suara yang lantang. Menurut Kardi (dalam Trianto, 2012:43), pengajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik,

dan kerja kelompok. Model pembelajaran langsung cenderung memfokuskan pembelajaran pada interaksi antara guru dengan siswa

dengan cara mempresentasikan dan menerangkan secara langsung konsep-konsep dan materi ajar. Dengan kegiatan belajar mengajar yang

(13)

cenderung mendengarkan penjelasan guru, membaca, mencatat dan mempraktikkan keterampilan yang telah ditetapkan guru. Model

pembelajaran seperti ini dapat dikatakan sebagai model pembelajaran tradisional. Sesuai pendapat Fathurrohman dan Sutikno (2010:8) yang

mengatakan bahwa model pembelajaran seperti ini kurang memberikan peran aktif pada siswa karena aktivitas guru sangat dominan dalam kegiatan belajar mengajar.

Model pembelajaran langsung memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan model pembelajaran langsung menurut

Majid (2013:74) yaitu:

a. Guru dapat mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa.

b. Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun

kelas yang kecil.

c. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan

keterampilan eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah.

d. Menekankan kegiatan mendengar melalui ceramah, yang mampu

membantu belajar siswa yang tidak senang membaca dan tidak memiliki keterampilan menyusun atau menafsirkan informasi. e. Dapat memberikan tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan

(14)

f. Siswa yang tidak dapat mengarahkan dirinya sendiri dalam belajar

dapat tetap berprestasi nila model pembelajaran langsung digunakan

secara efektif.

Model pembelajaran langusung sangat cocok untuk mengajarkan

konsep dan keterampilan eksplisit kepada siswa. Selain memiliki kelebihan, model ini memiliki kekurangan. Majid (2013:75) mengemukakan kekurangan-kekurangan pada model pembelajaran

langsung sebagai berikut:

a. Sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan,

pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.

b. Siswa sulit untuk mengembangkan keterampilan sosial dan

interpersonal mereka.

c. Kesuksesan pembelajaran siswa tergantung pada guru. Jika guru

tidak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias dan terstruktur, maka siswa dapat menjadi bosan, perhatian teralihkan dan pembelajaran mereka akan terhambat.

d. Sangat tergantung pada gaya komunikasi guru.

e. Jika model ini tidak banyak melibatkan siswa, maka siswa akan

kehilangan perhatiannya setelah 10-15 menit, dan hanya akan mengingat sedikit isi materi yang telah disampaikan.

(15)

pembelajaran langsung) dan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. menurut Arend (dalam Sagala, 2012:82), model pembelajaran

langsung difokuskan pada interaksi tatap muka anatara guru dengan siswa dengan cara mempresentasikan dan menerangkan, pengajaran

langsung dan pengajaran konsep. Pada model pembelajaran ini, guru cenderung terlibat aktif dalam penyampaian materi. Guru lebih banyak mempresentasikan dan menerangkan materi, sehingga siswa kurang

mampu mengembangkan kemampuannya dalam bertanya, berdiskusi dan mencari informasi. Adapun beberapa perbandingan antara model

pembelajaran berpusat pada guru dengan model pembelajaran berpusat pada siswa, sebagai berikut.

Tabel. 2.2. Perbandingan Antara Model Pembelajaran Berpusat pada Guru dengan Model Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Fitur Model Pembelajaran

Berpusat pada Guru

Model Pembelajaran Berpusat pada Siswa

(16)

3. Belajar

a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan kegiatan sehari-hari yang sering dialami oleh setiap individu. Banyak individu yang semakin lama dan

semakin banyak belajar, maka semakin kompleks pula ia mengalami kesulitan-kesulitan, namun hal ini sering dianggap biasa saja oleh setiap individu. Hal ini sesuai dengan pendapat Gredler

(20011:2) yang menyatakan bahwa belajar (learning) adalah proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh

individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas yang kompleks.

Menurut Anthony Robbins (dalam Trianto, 2012:15)

menyatakan bahwa belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu

(pengetahuan) yang baru. Menurut Slameto (2010:2), belajar adalah usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan kedua definisi di atas, belajar

merupakan penggabungan suatu konsep/pengetahuan/informasi awal dengan konsep/pengetahuan/informasi baru yang lebih

(17)

Belajar dilakukan secara terus menerus hingga seseorang mampu memahami apa yang ia pelajari. Seperti halnya

dikemukakan oleh Paul Suparno (dalam Sardiman, 2007:38) yang menyatakan bahwa ciri atau prinsip dalam belajar adalah sebagai

berikut:

1) Belajar berarti mencari makna. Makna diciptakan oleh siswa

dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. 2) Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus.

3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi

merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, tetapi perkembangan itu sendiri.

4) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar

dengan dunia fisik dan lingkungannya.

5) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah

diketahui, si subjek belajar, tujuan, motivasi, yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang

dipelajari.

Belajar dapat diidentikkan dengan pembangunan.

Pembangunan merupakan suatu perubahan yang terjadi pada seseorang dalam jangka waktu lama dan terjadi secara teratur. Hal

(18)

people in an orderly way and over a long period of time”. Belajar

merupakan upaya perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar

dapat dilakukan oleh setiap individu, dimana pun dan kapan pun. Belajar tidak hanya dilakukan oleh anak kecil dan remaja saja,

tetapi orang dewasa pun perlu belajar agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Pemerintah telah menganjurkan kepada setiap warga negara

untuk wajib belajar 9 tahun. Hal ini berarti bahwa setiap individu diwajibkan untuk menuntut ilmu pendidikan formal selama 9

tahun, yaitu SD 6 tahun dan SMP 3 tahun. Belajar dapat dilakukan ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Bloom (dalam Aunurrahman, 2011:49) membagi

perilaku belajar pada ranah kognitif menjadi enam tingkatan, yaitu: 1) Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan yang berkenaan

dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip satau metode.

2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap hal-hal yang

dipelajari.

3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode untuk

menghadapi masalah baru.

4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke

(19)

5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk pola baru.

6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang

beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.

Keenam tingkatan di atas merupakan tingkatan proses

belajar pada ranah kognitif dari tingakatan terendah hingga tingkatan tertinggi.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa

Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar. Hal ini

dibuktikan ketika seorang siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Seorang siswa sadar akan usaha belajarnya berarti siswa tersebut merasakan adanya perubahan yang terjadi

pada dirinya, dari yang tidak tahu menjadi tahu, pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah dan kemampuannya.

Bertambahnya pengetahuan, kecakapan dan kemampuan seseorang, maka ia mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ia hadapi, termasuk permasalahan belajar.

Hal yang diperlukan dalam pencapaian prestasi belajar yang baik salah satunya dengan adanya kesinambungan yang baik dari

berbagai faktor pendukung keberhasilan belajar. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa secara umum menurut

(20)

Faktor internal adalah faktor belajar yang berasal dari dalam diri siswa, seperti keadaan jasmani dan rohani siswa. Siswa yang sehat

dan tidak gampang sakit akan lebih mudah menerima materi ajar dibandingkan dengan siswa yang memiliki fisik yang lemah.

Penyakit mata seperti minus juga kadang menjadi kendala bagi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Mereka cenderung sering tidak dapat melihat dengan jelas tulisan yang ada

di papan tulis.

Faktor eksternal (Syah, 2011:145) adalah faktor belajar

yang berasal dari luar diri siswa, seperti keadaan/kondisi lingkungan sekitar siswa. Lingkungan sekolah yang mendukung antara lain ruang kelas, fasilitas/sarana prasarana dan sumber

belajar. Tersedianya ruang kelas yang cukup dan lengkap dengan fasilitas dapat membuat siswa nyaman mengikuti kegiatan belajar

mengajar. Fasilitas/sarana prasarana belajar siswa seperti meja, kursi, papan tulis/whiteboard, maupun kapur/spidol yang memadai dapat membuat siswa mudah menangkap materi ajar. Sumber

belajar seperti buku adalah faktor penting bagi siswa untuk belajar. Adapun pepatah lama yaitu “Buku Adalah Jendela Dunia” yang

dapat diartikan bahwa dengan siswa membaca buku, maka siswa memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Walaupun di

(21)

utama. Hal ini dikarenakan buku pelajaran telah disesuaikan dengan kurikulum pendidikan, Standar Kompetensi (SK) dan

Kompetensi Dasar (KD) yang telah dirancang oleh pemerintah dan disesuaikan dengan taraf perkembangan siswa.

Faktor pendekatan belajar Syah (2011:156) segala cara/strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Hal ini berarti,

strategi dan metode belajar dapat menjadi alat bantu siswa dalam menerima materi ajar. Strategi dan metode belajar menjadi

jembatan antara guru dengan siswa dalam rangka menransfer ilmu. Metode belajar merupakan cara yang digunakan oleh siswa dalam belajar. Metode belajar siswa berkaitan erat dengan metode

mengajar guru. Metode mengajar guru yang baik akan memberikan kebiasaan cara belajar yang baik pula kepada siswa.

c. Prestasi Belajar

Prestasi berasal dari Bahasa Belanda yaitu prestise, yang

kemudian dalam Bahasa Indonesia disebut dengan prestasi. Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia

(2007:895), prestasi adalah hasil yang telah dicapai/dilakukan/ dikerjakan. Prestasi dapat diraih oleh siapa saja termasuk siswa

(22)

bidang akademik dapat disebut dengan prestasi belajar. Berdasarkan pengertian prestasi di atas, dapat disimpulkan bahwa

prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai/ dilakukan/dikerjakan oleh siswa.

Prestasi belajar merupakan salah satu aspek yang harus dinilai dalam kegiatan belajar mengajar. Ranah yang dinilai dalam prestasi belajar adalah ranah kognitif siswa yang mencakup enam

tahapan yaitu pengetahuan, ingatan, pemahaman, analisis, sintesis dan evaluasi. Guru sebagai pendidik yang setiap hari bertemu

dengan siswa memiliki kewajiban untuk memantau prestasi belajar siswa dan mengatasi anak yang memiliki prestasi belajar kurang. Uno dan Umar (2009:92) mengemukakan ciri-ciri anak berbakat

yang berprestasi belajar kurang yaitu (1) memperlihatkan sikap ditolak oleh teman sebayanya, antagonisme, dan sikap permusuhan;

(2) gagal menyelesaikan tugas, menguasai keterampilan dasar, kinerja tes yang kurang, perhatian mudah teralihkan, phobia sekolah, memiliki motivasi rendah, kurang tekun, aspirasi rendah

dan memiliki standar prestasi yang tidak realistis; (3) cenderung menyalahkan orang lain dan berperilaku agresif; dan (4) merasa

rendah diri.

Prestasi belajar siswa dapat diukur dengan memberikan

(23)

kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai siswa; (2) sebagai lambang pemuasan rasa ingin tahu; (3) sebagai bahan informasi

dalam inovasi pendidikan, dapat dijadikan pendorong bagi siswa untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berperan

sebagai umpan balik (feedback) dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan; (4) sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan; dan (5) sebagai indikator daya serap

(kecerdasan) siswa. Prestasi belajar yang diraih oleh siswa mampu memberikan pandangan dan dapat menjadi acuan bagi guru dalam

melihat perkembangan kognitif siswa. Ranah kognitif menyangkut enam tingkatan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Pengetahuan merupakan tingkatan ranah kognitif yang menuntut siswa untuk mengetahui suatu konsep, prinsip dan fakta.

Pemahaman merupakan tingkatan ranah kognitif yang menuntut siswa untuk memahami materi yang dipelajari. Penerapan merupakan tingkatan ranah kognitif yang menuntut siswa untuk

menerapkan/menggunakan hal-hal yang telah dipelajari. Analisis merupakan tingkatan ranah kognitif yang menuntut siswa untuk

menganalisis/menguraikan sesuatu atau keadaan tertentu. Sintesis merupakan tingkatan ranah kognitif yang menuntut siswa

(24)

atau keadaan tertentu. Pengukuran prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif, maka perlu diadakan tes. Berikut gambaran

mengenai bentuk soal yang disesuaikan dengan tingkatan pada ranah kognitif dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.3. Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Matematika Materi Bangun Ruang dan Jaring-Jaring

No. Indikator Aspek Kognitif Soal

1. Menyebutkan

Pemahaman Sebutkan 3 benda yang menyerupai balok!

3. Menentukan sisi dan rusuk yang sejajar.

Penerapan Sebutkan 3 rusuk yang sama

(25)

4. Karakter Kerja Keras

a. Pendidikan Karakter

Pendidikan di Indonesia kini tidak hanya mempersiapkan para siswa unggul dalam prestasi saja, namun penanaman karakter

juga dituntut diberikan kepada siswa di sekolah-sekolah. Prestasi di bidang akademik tentu dapat diterapkan dengan mempelajari mata pelajaran dan materi di sekolah. Namun, pendidikan karakter tidak

hanya ditanamkan di sekolah, tetapi juga di lingkungan rumah. Pendidikan karakter tidak kalah penting ditanamkan pada

siswa sejak dini. Karakter menurut Muslich (2011:84) adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang

terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan

adat istiadat. Karakter menurut Badan Penelitian dan Pengembangan (2010:3) adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues)

yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Berdasarkan pengertian diatas

dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai yang membentuk watak, sikap, akhlak dan kepribadian seseorang yang

(26)

perbuatan sebagai landasan seseorang untuk berpikir, bersikap dan bertindak.

Karakter bila dikaitkan dengan pendidikan dapat menjadi nilai baik yang harus ditanamkan pada diri siswa untuk membentuk

manusia yang berakhlak mulia. Pendidikan karakter menurut Muslich (2011:29) adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek teori pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan

(action). Pendidikan karakter sangat baik ditanamkan kepada siswa

sehingga sekolah mampu menciptakan siswa yang berkualitas baik

dalam pengetahuan yang luas, sikap yang mulia dan tindakan yang santun. Pusat Kurikulum (dalam Samani dan Hariyanto, 2012:9) menyatakan bahwa fungsi pendidikan karakter yaitu (1)

mengembangkan potensi dasar agar berhati mulia, berpikir baik dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan mem-bangun perilaku bangsa

yang multikultural; (3) meningkatkan perbedaan bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Pendidikan karekter penting ditanamkan kepada siswa sejak

dini karena merupakan perpaduan tiga aspek yang dapat membentuk siswa menjadi pribadi yang memiliki karakter baik, mantap, dapat

melaksanakan tugas dengan baik, dapat memecahkan masalah dengan bijaksana dan kelak mampu bersaing di dunia global.

(27)

Aristoteles (dalam Muslich 2011:36) yang mengatakan bahwa karakter itu erat kaitannya dengan habit atau kebiasaan yang terus

menerus dilakukan.

Pendidikan karakter tidak hanya dilakukan di sekolah atas

bimbingan dan pantauan guru, tetapi orang tua pun perlu terlibat. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang berkaitan dengan kebiasaan,

maka karakter tidak hanya ditanamkan di sekolah saja tetapi juga di lingkungan rumah. Siswa yang terbiasa melakukan sesuatu, maka

siswa pun sering melakukan sesuatu tersebut dengan baik tanpa ada beban karena sudah terbiasa. Hal ini dapat membentuk siswa menjadi orang yang berkarakter baik. Menurut Muslich (2011:70),

orang yang berkarakter baik adalah orang yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari

keputusan yang ia buat.

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang menekankan pada nilai-nilai sikap dan moral yang positif. Menurut

Badan Penelitian dan Pengembangan (2010:9), nilai-nilai pendidikan yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ada delapan belas

yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,

(28)

Dalam pendidikan di sekolah, nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui berbagai mata pelajaran di setiap jenjang sekolah, terutama Sekolah

Dasar.

b. Kerja Keras

Kerja keras merupakan salah satu nilai yang dikembangkan

dalam pendidikan karakter. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan (2010:9), kerja keras adalah perilaku yang

menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan

sebaik-baiknya. Kesuma dkk (2012:17) berpendapat bahwa kerja keras adalah suatu upaya yang terus dilakukan (tidak pernah menyerah) dalam menyelesaikan pekerjaan/yang menjadi tugasnya

sampai tuntas. Kerja keras harus dimiliki oleh setiap orang dalam bekerja atau menyelesaikan suatu kegiatan/tugas dengan

sungguh-sungguh. Kerja keras perlu ditanamkan pada diri siswa sejak dini agar siswa terbiasa untuk menyelesaikan tugas sekolah dengan baik dan maksimal. Adapun karakteristik kerja keras menurut Kesuma

dkk (2012:19) yang dicirikan oleh perilaku seseorang seperti merasa risau jika pekerjaan belum terselesaikan sampai tuntas,

(29)

Karakter kerja keras perlu ditanamkan pada diri siswa SD agar mereka terbiasa melakukan sesuatu dengan gigih, serius dan

pantang menyerah. Hal ini sesuai dengan pendapat Naim (2012: 148) yang mengatakan bahwa kerja keras melambangkan kegigihan dan

keseriusan mewujudkan cita-cita. Berawal dari kegigihan dan keseriusan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, maka dapat membawa dampak positif bagi siswa saat meraih cita-cita di

masa mendatang. Sikap kerja keras yang ditanamkan pada diri siswa lebih mudah terlihat pada saat siswa sedang melaksanakan tugas di

kelas. Guru yang selalu bertemu dengan siswa dan memahami siswanya satu per satu mampu memantau dan melihat perkembangan sikap siswa, seperti kerja keras siswa di dalam kelas pada mata

pelajaran matematika. Siswa yang memiliki kemauan keras dalam berusaha mengerjakan tugas menandakan memiliki sikap kerja keras

yang tinggi.

Kerja keras merupakan salah satu nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter yang dirasa cocok untuk mata pelajaran

matematika terutama pada Sekolah Dasar. Hal ini tercantum dalam tabel pemetaan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa

(30)

Tabel 2.4. Peta Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Berdasarkan Mata Pelajaran

Mata Pelajaran Jenjang Kelas 4 - 6

Matematika  Teliti Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan (2010:43)

Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kerja keras dapat ditanamkan pada siswa kelas IV pada mata

pelajaran matematika. Dalam pembelajaran di kelas, siswa harus dilatih bekerja keras dimulai dari jenjang Sekolah Dasar agar

tercipta kepribadian yang baik yang berguna dalam kehidupannya mendatang, sebagai contoh siswa mampu menyelesaikan masalah dengan baik, tidak mudah mengeluh dan berputus asa. Berikut

adalah keterkaitan nilai karakter dan indikator untuk tingkat Sekolah Dasar.

Tabel 2.5. Keterkaitan Nilai dan Indikator untuk Sekolah Dasar

Nilai Indikator

Kerja Keras Mengerjakan tugas dengan teliti dan rapi. Mencari informasi dari sumber-sumber di luar sekolah.

Mengerjakan tugas-tugas dari guru pada waktunya.

Fokus pada tugas-tugas yang diberikan guru di kelas.

Mencatat dengan sungguh-sungguh sesuatu yang dibaca, diamati dan didengar untuk kegiatan kelas.

(31)

Penumbuhan dan penanaman karakter kerja keras dapat dilakukan di lingkungan sekolah maupun di dalam kelas. Penanaman

karakter kerja keras dilakukan agar siswa dapat melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh. Sebagai warga

sekolah, siswa pun memiliki berbagai tugas baik tugas dari sekolah maupun tugas di dalam kelas. Tugas-tugas tersebut diberikan agar siswa mau dan mampu mengerjakan/ menyelesaikan tugasnya

dengan baik dan benar. Tugas-tugas tersebut dapat menjadi sarana guru untuk menanamkan karakter pada siswa di sekolah dan di kelas,

seperti kerja keras. Indikator keberhasilan sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan karakter kerja keras sebagai berikut.

Tabel 2.6. Indikator Keberhasilan Sekolah dan Kelas dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Kerja Keras

Nilai Indikator Sekolah Indikator Kelas

Kerja Keras  Menciptakan suasana kompetisi

(32)

Indikator-indikator di atas merupakan acuan dalam menilai kerja keras siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan

berbagai indikator di atas, maka dapat disimpulkan bahwa indikator pencapaian pada karakter kerja keras terhadap kegiatan siswa adalah

sebagai berikut.

Tabel 2.7. Indikator Pencapaian Kerja Keras Siswa pada Materi Bangun Ruang dan Jaring-Jaring

No. Indikator Aspek Afektif Kegiatan

(33)

6. Pantang menyerah dan daya tahan belajar kuat.

Siswa tetap menger jakan tugas yang sulit dan semangat belajar.

5. Matematika

a. Pengertian Matematika

Matematika adalah salah satu ilmu terapan yang diajarkan di sekolah-sekolah termasuk di Sekolah Dasar. Matematika merupakan ilmu yang selalu berkaitan dengan angka, seperti

menghitung luas suatu bidang, menghitung volume suatu tempat, menghitung panjang dan berat suatu benda, dan lain sebagainya.

Menurut Johnson dan Rising (dalam Ismunamto dkk, 2011:2), matematika adalah ilmu tentang pola, keteraturan pola, atau ide. Matematika sering menjadi mata pelajaran yang menakutkan bagi

siswa SD. Banyak siswa yang merasa Matematika itu sulit. Kenyataannya, Matematika merupakan mata pelajaran yang mudah

dipahami bila siswa benar-benar memperhatikan dan memahami dengan betul proses pengerjaannya serta rajin berlatih. Siswa

hendaknya rajin berlatih melakukan operasi hitung matematika agar mahir dalam berhitung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Albert E. N. Gray (dalam Anang, 2010:32) yang menyatakan

(34)

Menurut Russendi (dalam Suwangsih dan Tiurlina, 2006:4), matematika adalah ilmu yang terorganisasikan dari unsur-unsur

yang tidak terdefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil yang telah dibuktikan kebenarannya berlaku secara

umum. James dan James (dalam Suwangsih dan Tiurlina, 2006:4) mengemukakan bahwa matematika merupakan ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang

berhubungan satu dengan lainnya. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu yang

berkaitan dengan logika yang membahas tentang bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang tidak terdefinisikan namun mampu dibuktikan kebenarannya dan diberlakukan secara umum.

Menurut Hudoyono (dalam Aisyah, dkk, 2008:1-1) mengatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide

(gagasan-gagasan), aturan-aturan, hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Uno dan Umar (2009:109) mengemukakan bahwa

matematika adalah suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis,

yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan indinvidualitas, dan mempunyai cabang-cabang

(35)

matematika terutama di SD, perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Siswa SD masih belum mampu berpikir

secara abstrak sehingga perlu adanya benda-benda konkret dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini bertujuan agar siswa SD mudah

memahami konsep-konsep yang dipelajari dengan mudah sehingga siswa memiliki gambaran yang jelas mengenai materi yang sedang ia pelajari. Suwangsih dan Tiurlina (2006:7) mengemukakan bahwa

konsep-konsep dalam matematika disusun secara hierarkis, terstruktur, logis dan sistematis mulai dari konsep yang paling

sederhana hingga konsep yang paling kompleks. Adapun konsep pembelajaran matematika menurut Heruman (2010:2) yaitu (1) penanaman konsep dasar; (2) pemahaman konsep; dan (3)

pembinaan keterampilan.

Penanaman konsep dasar pada matematika dilakukan ketika

siswa belum pernah mempelajari materi tersebut. Hal ini merupakan tahap awal bagi guru sebelum memulai pemberian materi inti. Guru hendaknya menggunakan benda-benda nyata agar

tercipta suasana belajar mengajar yang interaktif. Hal ini didukung dengan pendapat Adams dan Hamm (2010:36) yang menyatakan

bahwa “Math, science, and technology lessons may begin with real materials, invite interactive learning, and allow children to explore

the various dimensions of thoughtfulness, subject matter, and

(36)

matematika, ilmu pengetahuan dan teknologi dimulai dengan benda-benda nyata, mengundang pembelajaran interaktif, dan

membiarkan siswa untuk mengeksplorasi berbagai dimensi perhatian, subjek, dan aplikasi dunia nyata.

Pemahaman konsep dilakukan ketika siswa telah memiliki pengetahuan awal mengenai suatu konsep. Tahap ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa agar siswa tidak

semata-mata mengetahui dan menghafal tetapi juga benar-benar mengerti apa yang diajarkan guru.

Pembinaan keterampilan merupakan kegiatan memberikan kesempatan bagi siswa untuk meningkatkan kemampuannya, seperti kemampuan berhitung. Setelah guru siswa benar-benar

memahami materi ajar, siswa perlu diajak untuk berlatih keterampilan, contohnya dengan memberikan soal latihan dan soal

evaluasi. Pemberian soal latihan dan soal evaluasi dapat melatih keterampilan berhitung siswa dalam menyelesaikan masalah dengan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya.

Proses pembelajaran matematika tidak sama dengan proses pembelajaran mata pelajaran lain. Matematika memiliki

tahapan-tahapan pembelajaran yang mampu membuat siswa paham tentang materi. Tahapan-tahapan tersebut sesuai dengan teori Bruner

(37)

(mengotak-atik) objek. Dengan mengotak-atik benda, melihat benda dan memegang benda secara langsung dapat membuat siswa

belajar secara aktif dan mengembangkan pengetahuannya sendiri tanpa bantuan dari kata-kata yang dilontarkan oleh guru.

Tahap ikonik merupakan tahap lanjutan setelah tahap enaktif. Tahap ini merupakan tahap pembelajaran matematika setingkat lebih tinggi dari tahap enaktif. Pada tahap ini, siswa telah

mampu menangkap pengetahuan dalam bentuk gambar, diagram maupun grafik yang menggambarkan situasi benda konkret pada

tahap enaktif.

Tahap terakhir yaitu tahap simbolik. Pada tahap ini, siswa telah mampu mengubah pengetahuan awalnya menjadi

simbol-simbol atau lambang-lambang tertentu tanpa menggunakan benda-benda konkret lagi. Pada tahap ini siswa sudah mulai mampu

berpikir abstrak dengan menggunakan simbol-simbol tertentu maupun lambang-lambang matematika.

Setelah mengetahui tahapan-tahapan pembelajaran

matematika, prinsip-prinsip mempelajari matematika pun harus diperhatikan. Berikut prinsip-prinsip mempelajari matematika

menurut Aisyah, dkk (2008:8-3), yaitu:

1) Materi matematika disusun menurut urutan tertentu atau topik

(38)

2) Seorang siswa dapat memahami topik matematika jika ia

memahami sub topik pendukung atau prasyaratnya.

3) Perbedaan kemampuan antarsiswa dalam mempelajari atau

memahami suatu masalah ditentukan oleh perbedaan

penguasaan sub topik prasayaratnya.

4) Penguasaan topik baru oleh seoran siswa tergantung pada topik

sebelumnya.

Menurut Ismunamto, dkk (2011:8) matematika sering disebut ratu ilmu. Hal ini dikarenakan matematika merupakan ilmu

pengetahuan yang tidak tergantung pada bidang studi lain, yang menggunakan simbol dan istilah yang telah disepakati bersama sehingga mudah untuk dipahami. Matematika adalah ilmu

pengetahuan yang berkaitan dengan angka dan rumus-rumus yang telah ditetapkan yang berdasarkan dari penelitian yang mampu

dibuktikan kebenarannya. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu yang penting yang harus dikuasai oleh siswa, karena matematika merupakan ilmu

pokok dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Suwangsih dan Tiurlina (2006:9) tentang

(39)

b. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Matematika merupakan mata pelajaran yang wajib

dipelajari siswa sejak Sekolah Dasar. Menurut teori Bruner (dalam Aisyah, dkk, 2008:1-6), dalam melaksanakan proses belajar,

sebaiknya siswa diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Hal ini perlu

dilakukan karena dengan mengotak atik benda-benda, siswa menjadi paham mengenai bentuk, pola, maupun struktur materi

matematika yang ia pelajari. Bila siswa hanya diminta untuk membayangkan saja tanpa ada benda konkret yang dapat siswa lihat, siswa akan merasa kebingungan dan kesulitan dalam

menerima materi ajar selanjutnya.

Matematika merupakan mata pelajaran inti dan sangat

penting diajarkan di sekolah dasar. Adapun tujuan matematika khusus di Sekolah dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) menurut Aisyah, dkk, (2008:1-4) sebagai berikut:

1) Siswa mampu memahami konsep matematika, menjelaskan

keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep secara

luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah; 2) Siswa mampu menggunakan penalaran pada pola dan sifat

(40)

3) Siswa mampu memecahkan masalah;

4) Siswa mampu mengomunikasikan gagasan dengan simbol,

tabel, diagram, atau media lain; dan

5) Siswa memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam

kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah.

Matematika di SD merupakan matematika dasar yang perlu dikuasai setiap orang. Cockroft (dalam Uno dan Umar, 2009:108)

mengemukakan bahwa matematika penting untuk diajarkan karena berguna bagi kehidupan sehari-hari, bagi sains, perdagangan dan industri, dan karena matematika menyediakan suatu daya, alat

komunikasi yang singkat dan tidak ambigius serta berfungsi sebagai alat untuk mendeskripsikan dan memprediksi sesuatu.

Matematika dasar yang diajarkan di SD lebih cenderung pada pengenalan angka, penjumlah, pengurangan, perkalian dan pembagian, serta sedikit aplikasi di bidang tertentu. Adapun

ciri-ciri pembelajaran matematika di SD menurut Suwangsih dan Tiurlina (2006: 25), yaitu:

1) Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral,

mengkaitkan atau menghubungkan dengan topik sebelumnya. 2) Pembelajaran matematika bertahap, bertahap dari konsep yang

(41)

3) Pembelajaran menggunakan metode induktif.

4) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi. 5) Pembelajaran matematika hendaknya bermakna, dengan

mengutamakan pengertian daripada hafalan.

Dalam melaksanakan pembelajaran matematika di SD perlu memperhatikan berbagai hal agar dapat tercipta proses belajar yang aktif. Siswa yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran akan ingat

pula siswa terhadap apa yang mereka pelajari. Hal yang dilakukan sebelum melaksanakan pembelajaran matematika adalah guru perlu

memahami sifat-sifat proses belajar matematika di SD. Berikut sifat-sifat proses belajar matematika di SD menurut Suwangsih dan Tiurlina (2006:18):

1) Belajar matematika merupakan suatu interaksi antara siswa

dengan lingkungan.

2) Belajar berarti berbuat. Belajar matematika dapat dengan

melakukan suatu kegiatan, bermain, berbuat, bekerja dengan alat-alat.

3) Belajar matematika berarti mengalami, dengan berulang-ulang

melakukan perbuatan saat belajar matematika. 4) Belajar matematika memerlukan motivasi.

(42)

7) Belajar matematika melalui latihan (drill). Drill digunakan agar

siswa memperoleh keterampilan yang dapat dilakukan dengan

pemberian latihan berulang-ulang.

c. Materi Pelajaran Matematika

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi

Bangun Ruang dan Jaring-Jaring. Materi ini merupakan materi yang diajarkan pada Kelas IV Semester II. Pada materi ini, peneliti

mengambil 1 Standar Kompetensi (SK) dan 2 Kompetensi Dasar (KD). Adapun uraian Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi

Dasar (KD) sebagai berikut.

Tabel 2.8. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Matematika Kelas IV Semester II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

8. Memahami sifat

Sumber: Panduan SK dan KD Sekolah Dasar

Berdasarkan tabel di atas, materi dapat dijabarkan menjadi uraian materi yang memuat fakta, konsep, prinsip dan operasi

(pengerjaan). Menurut Aisyah, dkk (2008:8-12), fakta merupakan sembarang semufakatan dalam matematika. Konsep merupakan

(43)

menggolongkan suatu objek. Prinsip adalah rangkaian konsep beserta hubungannya. Operasi dalam matematika berarti

pengerjaan atau prosedur yang harus dikuasai siswa dengan kecepatan dan ketepatan tinggi.

Pada materi Bangun Ruang dan Jaring-Jaring, fakta yang muncul adalah ruang kelas dan tempat pensil merupakan bangun ruang. Konsep dari materi tersebut adalah bangun ruang memiliki

ruang. Prinsip dari materi tersebut adalah bangun ruang memiliki ciri-ciri tertentu seperti kubus memiliki 6 buah sisi yang sama

besar. Operasi dari materi tersebut adalah sisi-sisi dari bangun kubus dituliskan dalam bentuk huruf/abjad yang membentuk suatu sisi, seperti sisi ABCD.

Materi Bangun Ruang dan Jaring-Jaring membahas tentang bangun ruang kubus dan balok, serta jaring-jaringnya. Pada materi

ini siswa dituntut untuk mempelajari ciri-ciri serta jaring-jaring dari bangun kubus dan balok. Ciri-ciri bangun ruang yang dipelajari siswa meliputi sisi, rusuk dan titik sudut. Ketiga ciri bangun ruang

tersebut menjadi awal pengetahuan siswa mengenai bangun ruang sebelum siswa mengenal jaring-jaring. Siswa harus mengenal

bangun ruang kubus dan balok terlebih dahulu, sehingga untuk mempelajari jaring-jaring siswa telah memiliki gambaran bahwa

(44)

dapat membentuk bangun ruang. Berikut contoh gambar kubus dan balok serta jaring-jaringnya.

Gambar 2.1. Kubus Gambar 2.3. Jaring-jaring kubus

Gambar 2.2. Balok Gambar 2.4. Jaring-jaring balok

Peneliti menggunakan bangun kubus dan balok buatan untuk memberikan pengertian dan pemahaman siswa tentang

materi bangun kubus dan balok. Peneliti menggunakan bangun kubus dan balok buatan yang dapat digunting dalam mempelajari

(45)

d. Sumber Belajar, Bahan Ajar dan Media/Alat Peraga Materi

Bangun Ruang dan Jaring-Jaring

Pada pembelajaran matematika materi Bangun Ruang dan Jaring-Jaring, peneliti menggunakan berbagai sumber belajar yang

dipadukan menjadi satu. Sumber belajar menurut Prastowo (2012:21) merupakan segala sesuatu (baik berupa benda, data, fakta, ide, orang, dan lain sebagainya) yang bisa menimbulkan

proses belajar. Dalam menyusun sumber belajar, perlu disesuaikan dengan prinsip-prinsip dalam menyusun sumber belajar menurut

Aisyah, dkk (2008: 8-14), yaitu (1) kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, bila pembelajaran mengarah pada ranah kognitif harus memilih sumber buku referensi; (2) kesesuaian dengan

materi pembelajaran, untuk meudahkan siswa dalam menangkap materi ajar diperlukan benda-benda nyata yang sesuai dengan

materi; dan (3) kesesuaian dengan karakteristik siswa.

Sumber-sumber belajar yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan ajar dan media/alat peraga. Menurut National

Centre for Competency Based Training (dalam Prastowo,

2012:16), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan

untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Menurut Pannen (dalam Prastowo,

(46)

didik dalam proses pembelajaran. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan segala

sesuatu yang disusun secara sistematis yang digunakan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Adapun fungsi bahan ajar bagi guru menurut Prastowo (2012:24) antara lain (1) menghemat waktu guru dalam mengajar; (2) mengubah peran guru dari seorang pengajar menjadi seorang

fasilitator; (3) meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif; (4) sebagai pedoaman bagi guru yang akan

mengarahkan semua aktivitasnya; dan (5) sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

Bahan ajar tidak hanya berfungsi bagi seorang pendidik

saja, tetapi juga bagi siswa. Berikut adalah fungsi bahan ajar bagi siswa menurut Prastowo (2012:25) yaitu (1) siswa dapat belajar

tanpa harus ada guru atau teman lain; (2) siswa dapat belajar kapan saja dan dimana saja; (3) siswa dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing, (4) siswa dapat belajar menurut urutan yang

dipilihnya sendiri; (5) membantu potensi siswa untuk menjadi siswa yang mandiri; dan (6) sebagai pedoman siswa yang akan

mengarahkan aktivitasnya dalam pembelajaran.

Bahan ajar merupakan hal yang tidak kalah penting yang

(47)

penalaran tinggi. Berikut adalah tujuan pembuatan bahan ajar menurut Prastowo (2012: 26) sebagai berikut (1) membantu siswa

dalam mempelajari sesuatu; (2) menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar sehingga mencegah timbulnya rasa bosan pada siswa;

(3) memudahkan siswa dalam melaksanakan pembelajaran; dan (4) agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.

Sumber belajar yang peneliti gunakan dalam penelitian ini

adalah buku dan model. Buku menurut Prastowo (2012:37) adalah lembar kertas yang berjilid, baik beisi tulisan maupun kosong.

Buku yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku bahan ajar cetak mata pelajaran matematika Kelas IV SD Semester II yang merupakan buku pedoaman guru dalam mengajar. Adapun

keuntungan menggunakan buku teks pelajaran menurut Nasution (dalam Prastowo, 2012:171) yaitu (1) membantu guru dalam

melaksanakan kurikulum; (2) menjadi pegangan guru dalam menentukan metode pengajaran; (3) memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengulangi pelajaran atau mempelajari pelajaran baru;

(4) dapat digunakan untuk tahun-tahun berikutnya; (5) memberi kesamaan mengenai bahan dan standard pengajaran; (6) memberi

kontinuitas pelajaran di kelas yang berurutan; dan (7) memberi pengetahuan dan metode mengajar yang lebih mantap.

(48)

Prastowo (2012:38) adalah barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) persis seperti yang ditiru. Menurut Sudjana dan Rivai

(dalam Prastowo, 2012: 228), model adalah tiruan tiga dimensi dari beberapa benda nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil,

terlalu mahal, terlalu jarang, atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dan dipelajari siswa dalam wujud aslinya. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model

merupakan benda tiruan tiga dimensi yang dibuat sama seperti aslinya yang digunakan untuk mempermudah dalam melaksanakan

kegiatan belajar mengajar.

Banyak sekali macam sumber belajar. Setiap sumber belajar memiliki tujuan dan fungsinya masing-masing yang dapat dilihat

dari cara penggunaan. Adapun tujuan dan fungsi model menurut Prastowo (2012:238), yaitu (1) menyederhanakan objek atau benda

yang telalu sulit, terlalu besar, terlalu jarang, terlalu jauh, terlalu kecil, atau terlalu mahal jika dihadirkan di kelas dalam bentuk aslinya; (2) memberikan pengalaman nyata kepada siswa terhadap

suatu objek atau benda; dan (3) memudahkan penjelasan tentang suatu objek dengan menunjukkan tiruannya.

Berdasarkan jenisnya, model dapat digolongkan menjadi enam menurut Prastowo (2012:228), yaitu model padat (solid

model), model penampang (cutaway model), model susun (built-up

(49)

penelitian ini, peneliti membuat model padat (solid model). Model padat (solid model) menurut Prastowo (2012:229) adalah jenis

model yang memperlihatkan bagian permukaan luar dari objek (benda). Model padat merupakan salah satu macam model yang

dapat menarik perhatian siswa. Model ini dapat berukuran lebih kecil atau lebih besar dari ukuran aslinya. Adapun kegunaan dari model padat (solid model), yaitu (1) dapat mengembangkan konsep

realisme siswa; (2) menjadikan tantangan bagi siswa untuk memecahkan masalah dalam berbagai bidang studi; dan (3) hasil

belajar akan lebih mendalam dan lebih mantap. Model yang peneliti gunakan adalah model berbentuk geometris yang menyerupai bangun kubus dan balok. Berikut adalah gambar

model kubus dan model balok.

Gambar 2.5. Kubus buatan dan jaring-jaring

Gambar 2.6. Balok buatan

(50)
(51)

rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Adapun dampak positif dari media menurut Kemp dan Dayton (dalam Arsyad, 2007:21) yaitu penyampaian materi menjadi lebih

baku, pembelajaran bisa lebih menarik, pembelajaran menjadi lebih interaktif, lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat, kualitas hasil belajar dapat meningkat, pembelajaran

dapat diberikan kapan dan dimana diperlukan, sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar

dapat ditingkatkan, serta beban guru untuk menjelaskan secara berulang dapat dihilangkan.

Alat peraga di atas akan digunakan oleh peneliti dalam

melaksanakan penelitian. Peneliti membuat kubus dan balok 3 buah untuk disebarkan kepada tiga kelompok belajar. Peneliti membuat

kubus dan balok sengaja dengan warna putih agar terlihat jelas oleh siswa. Kertas berwarna digunakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai sisi bangun ruang.

Gunting digunakan untuk memotong bangun kubus dan balok buatan. Kubus dan balok yang telah digunting siswa,

nantinya akan membentuk suatu jaring-jaring. Hal ini diharapkan agar siswa mengetahui jaring-jaring kubus dan balok dengan

(52)

hasil guntingan setiap kelompok, maka siswa akan mengetahui bahwa dari 1 kubus yang ukurannya sama dapat menghasilkan tiga

buah jaring-jaring yang berbeda. Pembelajaran ini diharapkan mampu memberi pemahaman yang mendalam kepada siswa

mengenai kubus dan balok.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian ini memiliki relevansi dengan penelitian yang sebelumnya,

yakni penelitian yang dilakukan oleh Bayu Aji Prastyo (mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif FT UNY) dan Amir Fatah, S.Pd., M.Pd.

(dosen Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif FT UNY) yang berjudul “Implementasi Strategi Pembelajaran Quantum Teaching untuk

Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Dasar Otomotif

pada Siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK MA‟ARIF AL-MUNAWWIR”.

Penelitian ini menggunakan penelitian true experimental dengan desain pretest-posttest control group design. Hasil penelitiannya adalah pembelajaran Quantum dalam pembelajaran dasar Otomotif di kelas X Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Ma‟arif Al-Munawwir

(53)

C. Kerangka Berpikir

Berdasarkan deskripsi teoritis yang telah dikemukakan di atas,

selanjutnya diajukan kerangka berpikir dan model pembelajaran yang akan digunakan sebagai variabel-variabel dalam penelitian. Dari variabel tersebut,

peneliti berharap agar terdapat pengaruh prestasi belajar Matematika siswa kelas IV SD Negeri Sokaraja Lor yang diajar dengan model pembelajaran

Quantum dengan melihat nilai pre-test dan posttest, serta terdapat perbedaan prestasi belajar Matematika antara siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Quantum dengan siswa yang diajar dengan model

pembelajaran langsung dengan melihat nilai posttest dari kedua kelas. Penelitian ini melibatkan dua kelas dalam satu sekolah, yaitu Kelas IV A dan Kelas IV B. Salah satu dari kedua kelas tersebut akan dijadikan kelas kontrol

dan kelas eksperimen.

Adanya pembagian kelas kontrol dan kelas eksperimen ditandai

dengan kegiatan pembelajaran yang dibedakan dengan penggunaan model pembelajaran. Kelas yang dijadikan kelas kontrol maka dalam pembelajarannya tetap menggunakan model pembelajaran yang biasa

digunakan di dalam kelas. Model pembelajaran yang digunakan pada kelas eksperimen adalah model pembelajaran Quantum. Penelitian eksperimen ini

dilakukan untuk melihat perbedaan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan model pembelajaran Quantum dengan prestasi belajar siswa yang

(54)

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berfikir di atas, maka dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Ada pengaruh penerapan model pembelajaran Quantum terhadap sikap

kerja keras siswa pada materi Bangun Ruang dan Jaring-Jaring di kelas IV SD Negeri Sokaraja Lor.

2. Ada pengaruh penerapan model pembelajaran Quantum terhadap prestasi

Figur

Tabel 2.1. Sintaks Model Pengajaran Langsung

Tabel 2.1.

Sintaks Model Pengajaran Langsung p.11
Tabel. 2.2.  Perbandingan Antara Model Pembelajaran Berpusat pada
Tabel. 2.2. Perbandingan Antara Model Pembelajaran Berpusat pada p.15
Tabel 2.3.  Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Matematika Materi

Tabel 2.3.

Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Matematika Materi p.24
tabel pemetaan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa

tabel pemetaan

nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa p.29
Tabel 2.4.   Peta Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Tabel 2.4.

Peta Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa p.30
Tabel 2.5. Keterkaitan Nilai dan Indikator untuk Sekolah Dasar

Tabel 2.5.

Keterkaitan Nilai dan Indikator untuk Sekolah Dasar p.30
Tabel 2.6.  Indikator Keberhasilan Sekolah dan Kelas dalam

Tabel 2.6.

Indikator Keberhasilan Sekolah dan Kelas dalam p.31
Tabel 2.7.   Indikator Pencapaian Kerja Keras Siswa pada Materi

Tabel 2.7.

Indikator Pencapaian Kerja Keras Siswa pada Materi p.32
Tabel 2.8.  Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

Tabel 2.8.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) p.42
Gambar 2.1.  Kubus

Gambar 2.1.

Kubus p.44
Gambar 2.6. Balok buatan

Gambar 2.6.

Balok buatan p.49

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :