BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menerapkan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik di kelas VII

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

62 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian yang telah dilakukan ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik di kelas VII A. Penelitian ini terlaksana lima pertemuan untuk mempelajari materi segiempat dengan proses pembelajaran yang terlaksana berdasarkan RPP. Keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama sebesar 87,5%, pertemuan kedua sebesar 87,5%, pertemuan ketiga sebesar 83,3%, pertemuan keempat sebesar 87,5, dan pertemuan kelima sebesar 91,7%. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran untuk lima pertemuan sebesar 87,5%. Data penelitian yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan tahapan sebagai berikut.

1. Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian merupakan gambaran data yang diperoleh untuk mendukung pembahasan hasil penelitian. Data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu data sebelum diberikan perlakuan penerapan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik dan data sesudah diberikan perlakuan penerapan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik. Data sebelum diberikan perlakuan diperoleh dengan pretest dan angket kepercayaan diri awal, sedangkan data sesudah diberikan perlakuan diperoleh dengan posttest dan angket kepercayaan diri akhir.

(2)

63 a. Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar siswa diukur menggunakan instrumen berupa soal tes berbentuk pilihan ganda yang terdiri dari 20 nomor. Tes prestasi belajar diberikan kepada siswa sebanyak 2 kali, yaitu sebelum dan sesudah penerapan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik. Data hasil tes prestasi belajar siswa yang dideskripsikan terdiri atas data pretest dan data posttest. Pretest ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa di awal penelitian ini. Posttest merupakan tes yang diberikan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa di akhir penelitian ini. Kriteria ketuntasan dalam penelitian ini berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran Matematika yang ditentukan sekolah yaitu 75. Tabel 4.1 berikut ini menyajikan statistik data pretest dan posttest prestasi belajar siswa kelas VII A yang dihitung dari data penelitian pada Lampiran B.1 dan Lampiran B.2.

Tabel 4.1 Statistik Data Tes Prestasi Belajar Siswa

Pretest Posttest Jumlah Siswa 34 34 Rata-rata 55,74 81,18 Modus 70 85 Simpangan Baku 14,571 12,736 Jangkauan 60 50 Nilai Tertinggi 90 100 Nilai Terendah 30 50

Nilai minimal yang mungkin 0 0

Nilai maksimal yang mungkin 100 100

(3)

64 Dari Tabel 4.1 terlihat bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan. Nilai rata-rata posttest siswa lebih besar dari nilai rata-rata pretest. Persentase siswa yang mencapai KKM dengan nilai minimal 75 yaitu untuk pretest sebesar 11,76% dan untuk posttest sebesar 88,24%. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik memiliki pengaruh yang baik terhadap pembelajaran matematika ditinjau dari prestasi belajar siswa.

Berikut ini disajikan tabel ketuntasan yang dicapai oleh masing-masing siswa pada nilai pretest dan posttest.

Tabel 4.2 Ketuntasan Nilai Pretest dan Posttest No. Presensi Nilai Pretest Ketuntasan Nilai Posttest Ketuntasan

1 50 Tidak Tuntas 85 Tuntas

2 50 Tidak Tuntas 80 Tuntas

3 35 Tidak Tuntas 95 Tuntas

4 50 Tidak Tuntas 95 Tuntas

5 30 Tidak Tuntas 75 Tuntas

6 75 Tuntas 100 Tuntas

7 70 Tidak Tuntas 80 Tuntas

8 75 Tuntas 95 Tuntas

9 60 Tidak Tuntas 80 Tuntas

10 55 Tidak Tuntas 75 Tuntas

11 40 Tidak Tuntas 75 Tuntas

12 70 Tidak Tuntas 75 Tuntas

13 45 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas

14 45 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas

15 40 Tidak Tuntas 90 Tuntas

16 70 Tidak Tuntas 80 Tuntas

17 45 Tidak Tuntas 75 Tuntas

18 65 Tidak Tuntas 90 Tuntas

19 70 Tidak Tuntas 100 Tuntas

(4)

65 No. Presensi Nilai Pretest Ketuntasan Nilai Posttest Ketuntasan

21 55 Tidak Tuntas 85 Tuntas

22 65 Tidak Tuntas 80 Tuntas

23 70 Tidak Tuntas 90 Tuntas

24 45 Tidak Tuntas 95 Tuntas

25 40 Tidak Tuntas 75 Tuntas

26 80 Tuntas 85 Tuntas

27 70 Tidak Tuntas 85 Tuntas

28 55 Tidak Tuntas 85 Tuntas

29 45 Tidak Tuntas 80 Tuntas

30 50 Tidak Tuntas 85 Tuntas

31 50 Tidak Tuntas 60 Tidak Tuntas

32 60 Tidak Tuntas 85 Tuntas

33 90 Tuntas 95 Tuntas

34 40 Tidak Tuntas 75 Tuntas

Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa 30 siswa dari 34 siswa tidak tuntas pada pretest tes prestasi belajar dan 4 siswa dari 34 siswa tidak tuntas pada posttest tes prestasi belajar. Nilai terendah yang diperoleh siswa ketika pretest adalah 30 dan ketika posttest adalah 50. Dari hasil ketuntasan nilai posttest tersebut tampak bahwa sebagian besar siswa mencapai nilai lebih dari 75 setelah mengikuti pembelajaran matematika menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik. Berikut ini disajikan persentase ketuntasan yang diperoleh siswa dari hasil posttest.

Tabel 4.3 Persentase Ketuntasan Nilai Posttest

Kategori Persentase Nilai Posttest Jumlah Siswa Tidak Tuntas (𝒙 < πŸ•πŸ“) 11,76% 4

Tuntas (𝒙 β‰₯ πŸ•πŸ“) 88,24% 30

Dengan memperhatikan Tabel 4.3 di atas, tampak bahwa persentase nilai posttest yang mencapai nilai minimal 75 adalah 88,24%. Hal itu

(5)

66 berarti 30 siswa dari 34 siswa mencapai nilai minimal 75 pada posttest. Sedangkan persentase nilai posttest yang kurang dari 75 adalah 11,76%. Hal itu berarti 4 siswa dari 34 siswa tidak mencapai nilai minimal 75. Berikut ini disajikan tabel jumlah jawaban benar dan jumlah jawaban salah siswa pada setiap butir soal.

Tabel 4.4 Hasil Posttest Siswa pada Setiap Butir Soal No.

Soal Kisi-kisi Soal

Jumlah Jawaban Siswa Benar Salah

1. Sifat persegi panjang 31 3

2. Keliling persegi panjang 34 0

3. Luas persegi panjang 32 2

4. Luas persegi panjang dengan soal cerita

33 1

5. Luas persegi 31 4

6. Keliling persegi 27 7

7. Aplikasi luas persegi dalam

kehidupan sehari-hari 21 13 8. Sifat trapesium 31 3 9. Keliling trapesium 33 1 10. Luas trapesium 30 4 11. Sifat jajargenjang 21 13 12. Keliling jajargenjang 15 19 13. Luas jajargenjang 23 11

14. Aplikasi luas jajargenjang dalam

kehidupan sehari-hari 29 5

15. Sifat belah ketupat 19 15

16. Keliling belah ketupat 20 14

17. Luas belah ketupat 33 1

18. Sifat layang-layang 31 3

19. Keliling layang-layang 26 8

(6)

67 Berdasarkan Tabel 4.4, jika ditinjau per nomor, terdapat soal yang dijawab salah oleh lebih dari 50% siswa, yaitu pada soal nomor 12 tentang keliling jajargenjang. Sebagian siswa merasa kesulitan pada bagian soal ini dikarenakan mereka belum paham tentang cara penggunaan rumus Pythagoras. Rumus Pythagoras ini digunakan untuk mencari panjang sisi miring dari jajargenjang agar semua sisi pada jajargenjang diketahui.

Selain soal nomor 12, beberapa siswa juga masih salah mengerjakan soal nomor 15 dan 16 tentang sifat dan keliling belah ketupat. Untuk nomor soal yang lain, kesalahan siswa kurang dari 50%, bahkan ada butir soal yang dijawab benar oleh seluruh siswa, yaitu butir soal nomor 2.

b. Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri siswa diukur menggunakan skala likert dengan 5 alternatif jawaban tidak pernah (TP), jarang (JR), kadang-kadang (KD), sering (SR), selalu (SL). Angket terdiri dari 12 butir pernyataan positif dan 12 butir pernyataan negatif. Angket diberikan siswa sebanyak 2 kali, yaitu sebelum dan sesudah penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik. Rata-rata skor maksimum yang mungkin diperoleh 5, sedangkan rata-rata skor minimum yang mungkin diperoleh 1. Tabel 4.4 berikut ini menyajikan statistik untuk data kepercayaan diri angket awal dan angket akhir siswa kelas VII A yang dihitung dari data penelitian pada Lampiran B.3 dan Lampiran B.5.

(7)

68 Tabel 4.5 Data Statistik Kepercayaan Diri Siswa

Angket Awal Angket Akhir

Jumlah siswa 34 34

Rata-rata skor 3,67 3,88

Standar deviasi 0,43 0,44

Skor terkecil 2,88 3,08

Skor terbesar 4,46 4,54

Skor minimal yang mungkin 1 1

Skor maksimal yang mungkin 5 5

Terlihat bahwa rata-rata skor kepercayaan diri siswa mengalami peningkatan. Demikian halnya dengan skor terkecil dan skor terbesar juga mengalami peningkatan. Rata-rata skor angket awal sebesar 3,67 naik menjadi 3,88 dari skor minimal yang mungkin 1 dan skor maksimal yang mungkin 5. Kenaikan rata-rata skor angket tersebut sebesar 0,21.

Peningkatan percaya diri siswa terjadi pada setiap indikator kepercayaan diri. Adapun hasil angket percaya diri setiap indikator selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.4 dan Lampiran B.6. Berikut ini disajikan beberapa tabel yang dapat digunakan untuk mengkaji butir-butir pernyataan yang mengalami peningkatan dan penurunan ditinjau dari rata-rata skor yang diperoleh butir tersebut.

(8)

69 Tabel 4.6 Rata-rata Skor Kepercayaan Diri untuk Indikator

Optimis No. Pernyataan Rata-rata Skor Angket Awal Angket Akhir 1. Saya mampu mengerjakan tugas atau PR

yang diberikan oleh guru dengan baik, tanpa bantuan orang lain.

3,53 3,68 2. Saya berani mengungkapkan pendapat

walaupun pendapat saya berbeda dengan teman.

3,32 3,5 4. Saya merasa ragu dengan jawaban saya jika

jawaban tersebut berbeda dengan teman. 3,18 3,35 8. Saya menunggu jawaban dari teman ketika

tidak bisa mengerjakan soal matematika. 3,59 3,88 11. Saya mampu mengerjakan soal-soal ulangan

matematika tanpa mencontek. 3,94 4,06

15. Saya merasa semua soal matematika itu

sulit. 3,59 3,88

17. Saya takut salah ketika mengungkapkan

pendapat selama pembelajaran berlangsung. 3,26 3,59 19. Saya yakin dengan jawaban saya walaupun

berbeda dengan teman. 4,06 3,97

Rata-rata Total 3,56 3,74

Terlihat bahwa rata-rata total skor percaya diri siswa untuk indikator optimis mengalami peningkatan, yaitu sebesar 0,18. Butir 17 mengalami peningkatan tertinggi, yaitu sebesar 0,33, sedangkan peningkatan terendah pada butir 11, yaitu sebesar 0,12. Butir 19 mengalami penurunan rata-rata skor sebesar 0,09.

(9)

70 Tabel 4.7 Rata-rata Skor Kepercayaan Diri untuk Indikator

Objektif / Realistis dalam Mengatasi Masalah

No. Pernyataan Rata-rata Skor Angket Awal Angket Akhir 3. Saya tidak dapat bekerjasama dengan baik

dalam suatu kelompok diskusi. 3,88 4,21 5. Saya merasa bingung menentukan langkah

ketika diberikan soal matematika. 3,26 3,65 7. Saya dapat menggunakan matematika untuk

menyelesaikan permasalahan sehari-hari. 2,88 3,03 10. Jika ada yang mengalami kesulitan

mengerjakan matematika, saya hanya mau membantu teman tertentu saja.

4,35 4,56 12. Saya mampu menentukan langkah-langkah

yang benar untuk menyelesaikan soal matematika.

3,47 3,56 13. Saya bersedia membantu teman yang

kesulitan dalam mengerjakan soal matematika tanpa membeda-bedakan.

4,09 4,15 16.

Saya bingung menerapkan matematika

dalam kehidupan sehari-hari. 3,47 3,65 18. Saya mau mengakui kekurangan saya, jika

memang teman saya lebih baik dalam pembelajaran matematika.

3,71 3,82

Rata-rata Total 3,64 3,83

Terlihat bahwa rata-rata total skor percaya diri siswa untuk indikator objektif / realistis dalam mengatasi masalah mengalami peningkatan sebesar 0,19. Peningkatan tertinggi terdapat pada butir 5, yaitu sebesar 0,39, sedangkan peningkatan terendah pada butir 13, yaitu sebesar 0,06.

(10)

71 Tabel 4.8 Rata-rata Skor Kepercayaan Diri untuk Indikator

Bertanggung Jawab No. Pernyataan Rata-rata Skor Angket Awal Angket Akhir 6. Saya merasa malas ketika mengerjakan soal

matematika. 3,85 4,03

9. Saya menunda-nunda mengerjakan PR

matematika. 3,76 3,74

14. Saya tepat waktu mengumpulkan tugas

matematika yang diberikan guru. 3,82 4,12 20. Saya bersungguh-sungguh ketika

mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh guru.

4,32 4,35 21. Saya mencontek ketika mengerjakan kuis

yang diberikan oleh guru. 4,24 4,24

22. Saya menyelesaikan semua soal yang ada di

LKS. 2,85 3,88

23. Saya mengerjakan tugas yang diberikan oleh

guru dengan baik. 4,03 4,12

24. Saya malas merangkum materi yang telah

dipelajari. 3,65 4

Rata-rata Total 3,82 4,06

Terlihat bahwa rata-rata total skor percaya diri siswa untuk indikator bertanggung jawab mengalami peningkatan rata-rata skor sebesar 0,24. Peningkatan tertinggi terdapat pada butir 22, yaitu sebesar 1,03, sedangkan peningkatan terendah terdapat pada butir 20, yaitu sebesar 0,03. Terdapat butir yang mengalami penurunan rata-rata skor, yaitu pada butir 9 sebesar 0,02. Butir 21 tidak mengalami perubahan rata-rata skor.

(11)

72 Tabel 4.9 Klasifikasi Jumlah Skor Angket Awal dan Angket Akhir No. Presensi

Siswa

Angket Awal Angket Akhir

Rata-rata Skor Klasifikasi Rata-rata Skor Klasifikasi 1 3,58 Baik 3,42 Baik 2 4,00 Baik 4,17 Baik 3 4,04 Baik 4,29 Baik 4 3,63 Baik 3,96 Baik

5 4,17 Baik 4,54 Sangat Baik

6 4,33 Sangat Baik 4,42 Sangat Baik

7 3,21 Cukup 3,13 Cukup

8 3,25 Cukup 3,08 Cukup

9 3,38 Cukup 3,67 Baik

10 2,88 Cukup 3,08 Cukup

11 4,46 Sangat Baik 4,42 Sangat Baik

12 3,71 Baik 4,33 Sangat Baik

13 3,04 Cukup 3,46 Baik

14 3,50 Baik 3,67 Baik

15 3,13 Cukup 3,50 Baik

16 3,29 Cukup 3,46 Baik

17 3,88 Baik 3,88 Baik

18 3,92 Baik 4,33 Sangat Baik

19 3,88 Baik 3,92 Baik 20 3,92 Baik 4,04 Baik 21 3,88 Baik 4,17 Baik 22 3,21 Cukup 3,42 Baik 23 3,71 Baik 3,79 Baik 24 3,96 Baik 4,17 Baik 25 3,17 Cukup 3,50 Baik 26 3,96 Baik 3,88 Baik

27 3,67 Baik 4,21 Sangat Baik

28 4,21 Sangat Baik 4,38 Sangat Baik

29 3,83 Baik 4,00 Baik

30 3,13 Cukup 3,42 Baik

31 3,25 Cukup 3,46 Baik

32 4,46 Sangat Baik 4,46 Sangat Baik

33 4,00 Baik 4,46 Sangat Baik

34 3,25 Cukup 3,71 Baik

Rata-rata

(12)

73 Dari Tabel 4.8 di atas tampak bahwa rata-rata jumlah skor pada angket awal dan angket akhir termasuk dalam klasifikasi Baik. Namun demikian, rata-rata jumlah skor pada angket akhir lebih besar daripada rata-rata jumlah skor pada angket awal. Untuk mengetahui lebih lanjut, persentase siswa yang mencapai klasifikasi baik pada angket akhir ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 4.10 Persentase Klasifikasi Angket Akhir Kepercayaan Diri

Klasifikasi Persentase Rata-rata

Angket Akhir Jumlah Siswa

Sangat Baik (𝑋 > 4,2) 26,47% 9

Baik (3,4 < 𝑋 ≀ 4,2) 64,71% 22

Cukup (2,6 < 𝑋 ≀ 3,4) 8,82% 3

Dengan memperhatikan tabel persentase klasifikasi angket akhir tersebut, terlihat bahwa persentase siswa yang mencapai klasifikasi Baik dan Sangat Baik sebesar 91,18%. Hal itu berarti 31 dari 34 siswa mencapai klasifikasi minimal Baik pada angket akhir percaya diri. Sedangkan persentase siswa yang mencapai klasifikasi Cukup sebesar 8,82%. Hal itu berarti 3 siswa dari 34 siswa belum mencapai klasifikasi minimal Baik pada angket akhir percaya diri.

2. Hasil Pengujian Hipotesis a. Uji Normalitas

Pada penelitian ini dilakukan uji normalitas terhadap nilai pretest tes prestasi belajar, nilai posttest tes prestasi belajar, skor angket awal percaya

(13)

74 diri, dan skor angket akhir percaya diri. Sebaran keempat data disajikan pada Gambar 4.1, 4.2, 4.3, dan 4.4 berikut ini.

Gambar 4.1 Q-Q Plot Nilai Pretest Tes Prestasi Belajar

(14)

75 Gambar 4.3 Q-Q Plot Skor Angket Awal Kepercayaan Diri

Gambar 4.4 Q-Q Plot Skor Angket Akhir Kepercayaan Diri Dari gambar di atas terlihat bahwa nilai pretest tes prestasi belajar , nilai posttest tes prestasi belajar, skor angket awal kepercayaan diri, dan

(15)

76 skor angket akhir kepercayaan diri cenderung menyebar mendekati garis diagonal sehingga diduga bahwa data yang diuji berasal dari populasi berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji normalitas menggunakan SPSS Statistics yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.11 Hasil Uji Normalitas

Hal yang Diuji

Uji Normalitas (Kolmogorof-Smirnova)

Kesimpulan Nilai

signifikansi 𝛼 Interpretasi Nilai tes prestasi

belajar pretest 0,403 0,05 H0 diterima Normal Nilai tes prestasi

belajar posttest 0,146 0,05 H0 diterima Normal Skor angket awal

kepercayaan diri 0,568 0,05 H0 diterima Normal Skor angket akhir

kepercayaan diri 0,620 0,05 H0 diterima Normal Dari Tabel 4.10 terlihat bahwa nilai tes prestasi belajar pretest, nilai tes prestasi belajar posttest, skor angket awal kepercayaan diri, dan skor angket akhir kepercayaan memiliki nilai signifikansi > 𝛼, dengan 𝛼 = 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa keempat data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Adapun hasil uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran F.2. Berdasarkan Q-Q Plot serta hasil uji normalitas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai tes prestasi belajar pretest, nilai tes prestasi belajar posttest, skor angket awal kepercayaan diri, dan skor angket akhir kepercayaan diri berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

(16)

77 b. Uji Keefektifan Ditinjau dari Prestasi Belajar

Penelitian ini terdiri dari satu faktor dan dua respon, siswa kelas VII A sebagai sampel penelitian yang diambil secara acak dari 5 kelas VII SMP Negeri 4 Yogyakarta. Faktornya yaitu pembelajaran menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik , sedangkan responnya yaitu prestasi belajar dan kepercayaan diri siswa.

Uji hipotesis yang pertama dilakukan terhadap nilai prestasi belajar dengan kriteria efektif apabila: (a) nilai rata-rata posttest lebih dari nilai rata-rata pretest; dan (b) persentase nilai siswa yang mencapai minimal 75, lebih dari 75%. Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran F.3 dan Lampiran F.4. Dari uji hipotesis diperoleh bahwa:

(a) π‘‘β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” = 10,136 > 1,692, maka 𝐻0: πœ‡π‘π‘œβ‰€ πœ‡π‘π‘’ ditolak pada taraf nyata 0,05 yang artinya nilai rata-rata posttest lebih dari nilai rata-rata pretest;

(b) π‘§β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” = 1,782 > 1,645, maka 𝐻0: 𝑝 ≀ 𝑝0 ditolak pada taraf nyata 0,05 yang artinya banyak siswa yang mencapai nilai minimal 75 lebih dari 75%.

Berdasarkan hasil kedua uji hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Yogyakarta kelas VII.

(17)

78 c. Uji Keefektifan Ditinjau dari Kepercayaan Diri

Uji hipotesis yang kedua dilakukan terhadap skor percaya diri siswa dengan kriteria efektif apabila: (a) rata-rata skor angket akhir lebih dari rata-rata skor angket awal; dan (b) persentase skor siswa yang mencapai kategori minimal Baik, lebih dari 75%. Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran F.5 dan Lampiran F.6. Dari uji hipotesis diperoleh bahwa: (a) π‘‘β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” = 6,06 > 1,692, maka 𝐻0: πœ‡π‘Žπ‘˜β‰€ πœ‡π‘Žπ‘€ ditolak pada taraf nyata

0,05 yang artinya rata-rata skor angket akhir lebih dari rata-rata skor angket awal;

(b) π‘§β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” = 2,178 > 1,645, maka 𝐻0: 𝑝 ≀ 𝑝0 ditolak pada taraf nyata 0,05 yang artinya banyak siswa yang mencapai kategori minimal Baik, lebih dari 75%.

Berdasarkan hasil kedua uji hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik efektif ditinjau dari percaya diri siswa SMP Negeri 4 Yogyakarta kelas VII.

B. Pembahasan

Permasalahan pada penelitian ini adalah mengenai keefektifan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik apabila ditinjau dari prestasi belajar dan kepercayaan diri siswa.

(18)

79 Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik telah dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan sesuai dengan hasil observasi pada Lampiran E. Dengan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik, semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berikut ini aktivitas siswa selama kegiatan berlangsung.

Siswa yang memiliki rasa percaya diri yang baik akan sangat menyukai kegiatan diskusi dan presentasi. Seperti pada Gambar 4.5, siswa sedang mengutarakan pendapatnya yang berbeda dari pemikiran teman-temannya ketika menanggapi hasil presentasi.

Gambar 4.5 Siswa dengan Rasa Percaya Diri yang Baik

Berbeda dengan siswa yang memiliki rasa percaya diri yang kurang, siswa cenderung pasif ketika pembelajaran atau diskusi berlangsung. Siswa dengan rasa percaya diri yang kurang sangat sulit untuk mengemukakan pendapatnya, walaupun mereka mempunyai pendapat yang berbeda dari teman-temannya.

(19)

80 Ada dua hipotesis yang diuji pada penelitian ini, yaitu:

1. Apakah pembelajaran segiempat dengan metode pembelajaran inkuiri (inquiry learning) dalam pendekatan saintifik efektif jika ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP.

2. Apakah pembelajaran segiempat dengan metode pembelajaran inkuiri (inquiry learning) dalam pendekatan saintifik efektif jika ditinjau dari kepercayaan diri siswa SMP.

Berikut ini diberikan penjelasan dari hasil kedua uji hipotesis tersebut. 1. Prestasi Belajar

Berdasarkan uji hipotesis yang telah dibahas sebelumnya, diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran metematika pada materi segiempat dengan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP. Peningkatan prestasi belajar siswa diduga karena pengaruh beberapa langkah pembelajaran saintifik, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hosnan (2014: 36) bahwa salah satu tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dan memperoleh hasil belajar yang tinggi.

Pada penelitian ini, peneliti memadukan pendekatan saintifik dengan metode pembelajaran inkuiri atau penemuan. Dengan adanya pembelajaran dengan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik tersebut, dapat membantu siswa untuk meningkatkan prestasi belajar matematikanya. Penelitian ini sejalan dengan

(20)

81 hasil penelitian yang dilakukan oleh Anggria Septiani (2012) yang menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi Inquiry Based Learning dapat membuat hasil belajar lebih baik.

Berdasarkan hasil posttest siswa pada setiap butir soal di Tabel 4.4, terlihat bahwa soal yang paling dikuasai siswa adalah pada bahasan keliling persegi panjang, luas persegi panjang dengan soal cerita, keliling trapesium, dan luas belah ketupat. Sedangkan soal yang kurang dikuasai siswa pada bahasan keliling jajargenjang, dikarenakan siswa harus memahami rumus Pythagoras terlebih dahulu untuk mencari sisi miring dari jajargenjang tersebut.

Rumus Pythagoras bukan merupakan bagian dari materi Segiempat, akan tetapi sangat berguna untuk mencari panjang sisi dan keliling bangun datar segiempat yang memiliki sisi miring yang belum diketahui ukurannya. Oleh karena itu, pada pembelajaran jajargenjang ini sebaiknya perlu dibahas masalah penggunaan Rumus Pythagoras sebagai apersepsi.

Apersepsi memang sangat diperlukan untuk mengaitkan materi yang telah didapat oleh siswa dengan materi yang akan dipelajari oleh siswa. Menurut Nurhasnawati (2004: 14) apersepsi bertujuan untuk membentuk pemahaman. Jika guru akan mengajarkan meteri pelajaran yang baru perlu dihubungkan dengan hal-hal yang telah dikuasai siswa atau mengaitkannya dengan pengalaman siswa terdahulu serta sesuai dengan kebutuhan untuk mempermudah pemahaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Herbart (Ahmad Rohani, 2010: 32) yang mengemukakan bahwa

(21)

82 apersepsi adalah menerima tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada.

Tidak hanya bahasan keliling jajargenjang, pada bahasan keliling belah ketupat juga masih terdapat beberapa siswa salah menjawab, yaitu sebanyak 14 siswa dari 34 siswa. Berikut soal dengan bahasan keliling belah ketupat.

Gambar 4.6 Soal Keliling Belah Ketupat

Dari Gambar 4.6 di atas, terlihat bahwa pada butir soal diketahui panjang diagonal-diagonal belah ketupat. Hampir sebagian dari 14 siswa yang menjawab salah, memilih opsi jawaban β€œC”. Berdasarkan analisis soal posttest pada Lampiran A.6, siswa yang memilih opsi jawaban β€œC” dikarenakan siswa salah konsepsi tentang diagonal belah ketupat. Siswa menganggap ukuran panjang diagonal 24 cm dan 18 cm sebagai ukuran panjang sisi belah ketupat, sehingga siswa langsung menghitung keliling belah ketupat menggunakan rumus tanpa mencari ukuran panjang sisinya.

Meskipun rata-rata tes prestasi belajar siswa mengalami peningkatan, masih terdapat beberapa bahasan pada materi Segiempat yang kurang dikuasai oleh siswa. Secara umum, kesalahan siswa terjadi pada soal bangun datar yang memiliki sisi

(22)

83 miring yang belum diketahui ukuran panjangnya, sehingga siswa perlu menggunakan rumus Pythagoras terlebih dahulu untuk mencari ukuran panjangnya.

Pada butir soal dengan bahasan persegi, persegi panjang, serta aplikasinya dalam soal cerita, siswa tidak terlalu banyak mengalami kesalahan. Pada bahasan sifat-sifat bangun datar, siswa juga tidak mengalami banyak kesalahan, hal ini dikarenakan siswa diberikan latihan melalui LKS yang melatih siswa untuk praktik dan menemukan sendiri sifat-sifat bangun datar tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Bruce dan Well (Hosnan, 2014: 345) bahwa model inkuiri bertujuan untuk mengorganisasikan pengetahuan yang dimiliki siswa sebagai fondasi yang kuat berdasarkan konsep metode ilmiah. Model ini berusaha untuk mengajarkan berbagai keterampilan dan bahasa ilmiah.

Dari uraian di atas, pembelajaran dengan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik perlu dikembangkan. Hal ini dikarenakan melalui pendekatan saintifik, siswa dapat memaksimalkan kemampuan belajar dan prestasi belajarnya dalam mata pelajaran matematika.

2. Kepercayaan Diri

Hipotesis kedua yaitu apakah pembelajaran matematika pada materi segiempat dengan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik efektif jika ditinjau dari kepercayaan diri siswa SMP. Berdasarkan uji hipotesis yang telah dibahas sebelumnya, diperoleh kesimpulan bahwa metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik efektif jika ditinjau dari percaya diri siswa. Pada pendekatan saintifik terdapat kegiatan mengomunikasikan. Pada kegiatan ini, siswa

(23)

84 dilatih untuk mengembangkan kepercayaan dirinya ketika mengungkapkan pendapat di hadapan teman-temannya. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hosnan (2014: 76) bahwa dalam kegiatan mengomunikasikan, peserta didik diharapkan sudah dapat mempresentasikan hasil temuannya untuk kemudian ditampilkan di depan khalayak ramai sehingga rasa berani dan percaya dirinya lebih terasah.

Selain adanya pendekatan saintifik pada kegiatan pembelajaran, peneliti juga menerapkan metode pembelajaran inkuiri. Menurut Nunuk Suryani, dkk (2012: 119) ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, salah satunya adalah seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan percaya diri. Sejalan dengan pendapat Nunuk suryani, hasil penelitian Mahrita Julia Hapsari (2011) menyimpulkan bahwa salah satu tahap dalam inkuiri terbimbing adalah tahap mempresentasikan apa yang di dapat dari proses investigasi, pada tahap inilah self-confidence (percaya diri) siswa dapat ditumbuhkan.

Pada metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik terdapat beberapa langkah yang diduga dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa. Antara lain pada proses menanya, mengumpulkan informasi, dan mengomunikasikan. Untuk proses menanya, siswa dilatih untuk berani bertanya tentang sesuatu yang belum dipahaminya. Siswa difasilitasi untuk membuat pertanyaan terkait permasalahan yang diberikan dalam LKS. Ketika mengumpulkan informasi, siswa juga difasilitasi untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber belajar tanpa

(24)

85 ada rasa takut salah. Semua informasi yang didapat siswa ditampung untuk selanjutnya diberikan penjelasan terkait informasi mana yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Kourilsky (Oemar Hamalik, 2001: 220) bahwa pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok siswa inquiry ke dalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban terhadap isi struktural kelompok.

Langkah mengomunikasikan juga dapat memberikan tambahan peningkatan rata-rata skor percaya diri. Pada kegiatan ini, siswa mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Melalui kegiatan ini, siswa daat meningkatkan kepercayaan dirinya ketika mengungkapkan pendapat dihadapan teman-temannya.

Percaya diri merupakan salah satu ranah afektif yang harus dicapai melalui kegiatan pembelajaran. Metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik memberikan dampak positif pada perkembangan afektif. Berdasarkan Tabel 4.6, 4.7, dan 4.8 tentang rata-rata skor percaya diri yang disajikan untuk setiap indikator, terlihat bahwa semua rata-rata skor setiap indikator mengalami peningkatan.

Peningkatan tertinggi pada rata-rata skor percaya diri untuk indikator bertanggung jawab, yaitu meningkat sebesar 0,24. Salah satu contoh butir dengan indikator bertanggung jawab adalah β€œSaya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dengan baik”, butir ini mengalami peningkatan sebesar 0,09. Hal ini dikarenakan pada setiap pembelajaran, siswa selalu diberikan waktu tertentu untuk menyelesaikan tugasnya, kemudian siswa yang paling cepat menyelesaikannya akan diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya dan mendapat nilai

(25)

86 tambahan. Dari kegiatan ini, siswa dilatih untuk bertanggung jawab atas tugas yang telah diberikan. Siswa juga dilatih untuk mengumpulkan tugas tepat waktu, mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dengan baik, dan membuat rangkuman tentang apa yang telah mereka pelajari. Selain itu, faktor lain yang menjadikan peningkatan skor rata-rata ini adalah adanya nilai tambahan atau penghargaan untuk siswa. Hal ini dapat menjadikan motivasi bagi siswa. Ngalim Purwanto (1990: 71) mengatakan bahwa motivasi adalah pendorongan, yaitu suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

Skor percaya diri untuk indikator objektif/realistis dalam mengatasi masalah mengalami peningkatan sebesar 0,19. Hal ini dikarenakan pada saat pembelajaran diterapkan kegiatan diskusi agar siswa belajar untuk bersikap objektif, mau membantu teman yang kesulitan tanpa membeda-bedakan. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengatasi masalah, soal-soal latihan yang diberikan oleh guru juga sesuai dengan realita agar siswa mampu menerapkan materi pembelajaran yang telah didapatkan untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh butir pernyataan untuk indikator objektif/ realistis dalam mengatasi masalah adalah β€œSaya mampu menentukan langkah-langkah yang benar untuk menyelesaikan soal matematika”. Butir ini mengalami peningkatan sebesar 0,09. Hal ini diduga karena adanya langkah-langkah dalam metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik. Langkah-langkah ini tersusun secara sistematis. Siswa diarahkan untuk menemukan solusi melalui langkah-langkah yang telah

(26)

87 disediakan dalam LKS. Misalnya, terdapat langkah menemukan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan.

Berdasarkan Tabel 4.6, terlihat bahwa peningkatan skor percaya diri untuk indikator optimis sebesar 0,18. Pada indikator ini, siswa dilatih untuk yakin dengan pendapatnya walaupun berbeda dengan teman. Selain itu, siswa juga dilatih untuk mengungkapkan pendapatnya melalui diskusi kelompok dan presentasi. Siswa dibebaskan untuk berpendapat tanpa merasa takut salah dengan pendapatnya. Akan tetapi, pada akhir pembelajaran guru menegaskan kesimpulan yang tepat dari beberapa pendapat siswa agar siswa mengetahui kesimpulan akhir dari pembelajaran secara tepat. Pada indikator optimis, terdapat butir pernyataan yang mengalami penurunan sebesar 0,09, yaitu butir 19 β€œSaya yakin dengan jawaban saya walaupun berbeda dengan teman”. Hal ini dikarenakan kurangnya motivasi siswa. Kebanyakan siswa selalu merasa jawabannya salah jika berbeda dengan temannya. Siswa kurang yakin dengan kemampuannya sendiri. Akan tetapi, untuk butir 17 β€œSaya takut salah ketika mengungkapkan pendapat selama pembelajaran berlangsung” mengalami peningkatan tertinggi, yaitu sebesar 0,33.

Dampak positif dari pembelajaran dengan metode pembelajaran inkuiri dalam pendekatan saintifik ditinjau dari kepercayaan diri siswa tidak hanya dirasakan dari segi akademik saja tetapi juga dari segi sosial. Kedua hal tersebut berkaitan erat dalam kehidupan bermasyarakat.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :