BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (stakeholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen

32 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham

(stakeholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen

merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Jensen and Meckling (1976) dan Scott (1997)

menggabarkan adanya hubungan keagenan (agency relationship) sebagai

hubungan yang timbul karena adanya kontrak yang ditetapkan antara prinsipal yang menggunakan agen untuk melakukan jasa yang menjadi kepentingan prinsipal dalam hal terjadi pemisahan kepemilikan dan kontrol perusahaan. Antara pihak internal dan pihak eksternal terdapat berbagai perbedaan yang dapat mengakibatkan penyalahgunaan laporan keuangan (Jensen and Mackling, 1976). Pada model keagenan dirancang sebuah sistem yang melibatkan hubungan kedua belah pihak yaitu manajemen (agen) dan pemilik (principal).

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa ada dua macam agency problems yaitu:

1. Moral hazard, yaitu permasalahan muncul jika agen tidak melaksanakan

hal-hal yan disepakati bersama dalam kontrak kerja.

2. Adverse selection, yaitu suatu keadaan di mana principal tidak dapat mengetahui apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar

(2)

didasarkan atas informasi yang telah diperoleh, atau terjadi sebagai sebuah kelalaian dalam tugas.

Manajemen dan pengelolaan perusahaan semakin banyak dipisahkan dari kepemilikan perusahaan di perekonmian yang telah modern ini. Hal ini sejalan

dengan agency theory yang menekankan pentingnya pemilik perusahaan

(pemegang saham) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga-tenaga professional (agents) yang lebih mengerti dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Tujuan dari dipisahkannya pengelolaan dari kepemilikan perusahaan agar pemilik perusahaan mendapatkan keuntungan yang semaksimal mungkin dengan biaya seefisien mungkin dengan dikelolanya perusahaan oleh tenaga-tenaga profesional (Purbasari, 2014).

Teori keagenan merupakan konsekuensi dari pemisahan fungsi kontrol (manajemen) dengan fungsi kepemilikan (pemegang saham). Teori keagenan terfokus pada hubungan antara dua pelaku ekonomi yang saling bertentangan yaitu principal (pemegang saham) dan agent (manajer). Konflik kepentingan dalam perusahaan antara prinsipal dengan manajer yang disebut dengan agency conflict disebabkan adanya hubungan keagenan atau agency relationship (Sari, 2014).

Watts dan Zimmerman (1986) juga mengajukan tiga hipotesis dalam hubungan dengan masalah keagenan ini, yaitu bonus planhypothesis, debt/equity hypothesis, dan political cost hypothesis, yang secara implisit mengakui tiga bentuk hubungan keagenan, yaitu antara pemilik dengan manajemen, antara kreditur dengan manajemen, dan antara pemerintah dengan manajemen. Sehingga

(3)

secara luas, principal bukan hanya pemilik perusahaan tetapi juga bisa berupa pemegang saham, kreditur, maupun pemerintah.

Laporan keuangan merupakan sebuah informasi bagi para manajemen dan juga pemegang saham. Pihak manajemen mempunyai lebih banyak informasi internal perusahaan dibandingkan para pemegang saham, oleh karena itu pihak manajemen sudah seharusnya menggambarkan infomasi internal perusahaan tersebut kepada pihak pemegang saham agar dapat dijadikan sebagai alat untuk mengontrol dan mengawasi kinerja manajemen berdasarkan informasi dalam laporan keuangan yang telah dibuat oleh pihak manajemen.

Laporan keuangan sebaiknya disampaikan secara tepat waktu agar dapat mengurangi terjadinya kecurangan informasi pada laporan keuangan. Sehingga dapat meminimalisir konflik yang akan terjadi antara pihak manajemen perusahaan dengan pihak pemegang saham dan juga dapat memaksimalkan kontrol dan pengawasan terhadap pihak manajemen perusahaan melalui laporan keuangan tersebut. Jadi, dalam penilitian ini teori agensi digunakan untuk membantu para komite audit memahami konflik kepentingan yang sering muncul antara pihak manajemen dengan pihak pemegang saham. Dengan adanya komite audit yang independen diharapkan tidak terjadi lagi kecurangan dalam laporan keuangan yang disusun oleh manajemen yang dapat mengakibatkan ketetapan laporan keuangan yang melenceng dari waktu yang sudah ditentukan.

2.1.2 Ketepatan Waktu (Timeliness) Pelaporan Keuangan

Owusu dan ansah (2000) berpendapat bahwa ketepatan waktu merupakan kualitas ketersediaan informasi pada saat yang diperlukan atau kualitas informasi

(4)

yang baik dilihat dari segi waktu. Informasi harus disampaikan sesegera mungkin agar tidak menghilangkan keakuratan informasi tersebut sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Scott (2003) dalam Rachmawati (2008:384) mendefinisikan informasi sebagai bukti yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi keputusan individual. Namun demikian, informasi baru akan bermanfaat bagi pemakainya apabila informasi tersebut tepat waktu. Tepat waktu dapat diartikan bahwa informasi harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.

Informasi dapat dikatakan relevan jika informasi tersebut tepat waktu. Ketetapan waktu tidak menjamin relevansi, tetapi relevansi informasi tidak dimungkinkan tanpa ketetapan waktu informasi mengenai kondisi dan posisi perusahaan harus secara cepat dan tepat waktu sampai ke pemakai laporan keuangan. Informasi akan digunakan sebagai bukti yang berpotensi untuk mempengaruhi keputusan individual namun informasi tersebut baru akan bermanfaat bagi pemakainya apabila informasi tersebut tepat waktu.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.45 Tahun 1995 tentang penyelenggaraan kegiatan dibidang pasar modal, bab XII Sanksi administrative pasal 61, dinyatakan bahwa yang melakukan pelanggaran atas ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dikenakan sanksi administratif. Ketentuan yang lebih spesifik tentang pelaporan perusahaan publik diatur dalam Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.2 (Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: KEP-38/PM/2003 tentang Laporan Tahunan yang berlaku sejak tanggal

(5)

17 Januari 1996). Pada tanggal 7 Desember 2006, diberlakukanlah Peraturan Bapepam dan Lembaga Keuangan (LK) Nomor X.K.6 untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi kepada publik (Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: KEP-134/BL/2006 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten atau Perusahaan Publik).

Perusahaan yang sudah go public diwajibkan untuk mempublikasikan laporan keuangannya agar pengguna laporan keuangan dapat mengetahui posisi keuangan perusahaan. Kewajiban pelaporan keuangan oleh perusahaan yang sudah go public diatur dalam UU No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Keputusan Ketua Bapepam No.KEP-431/BL/2012. Adapun ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bapepam LK dalam peraturan no.X.K.6 adalah sebagai berikut:

1. Emiten atau perusahaan yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Bapepam dan LK paling lama 4 (empat) bulan setelah tahun buku berakhir.

2. Dalam hal emiten atau perusahaan public memperoleh pernyataan efektif untuk pertama kali setelah tahun buku berakhir sampai dengan batas waktu penyampaian laporan tahunan sebagaimana dimaksud diatas, maka emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Bapepam dan LK paling lama pada saat panggilan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan atau pada akhir bulan ke 6 (enam) setelah tahun buku berakhir, mana yang lebih dahulu.

(6)

3. Laporan tahunan disampaikan dalam bentuk dokumen fisik (hardcopy) paling kurang 2 (dua) eksemplar, satu diantaranya dalam bentuk asli, dan disertai dengan laporan dalam bentuk elektronik (softcopy).

4. Laporan tahunan wajib dimuat dalam laman (website) emiten atau perusahaan publik bersamaan dengan disampaikan laporan tahunan tersebut kepada Bapepam dan LK.

5. Laman (website) dapat diakses setiap saat.

6. Laporan tahunan wajib tersedia bagi para pemegang saham pada saat panggilan RUPS tahunan.

7. Dalam hal laporan tahunan telah tersedia bagi pemegang saham sebelum jangka waktu 4 (empat) bulan sejak tahun buku berakhir, maka laporan tahunan dimaksud wajib disampaikan kepada Bapepam dan LK pada saat yang bersamaan dengan tersedianya laporan tahunan bagi pemegang saham.

8. Dalam hal emiten atau perusahaan public menyampaikan laporan tahunan kepada Bapepam dan LK dalam periode penyampaian laporan keuangan tahunan, maka emiten atau perusahaan public dikecualikan dari kewajiban menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada Bapepam dan LK, sepanjang laporan tahunan dalam bentuk asli.

Sesuai dengan peraturan terbaru Bapepam LK X.K.6, maka perusahaan dikatakan tepat waktu apabila menyampaikan laporan keuangannya sebelum atau paling lambat pada akhir bulan keempat setelah tanggal tutup buku perusahaan.

(7)

2.1.3 Komite Audit

2.1.3.1 Definisi Komite Audit

Menurut peraturan Nomor IX.1.5 dalam laporan keputusan ketua Bapepam Nomor: KEP-29/PM/2004 dijelaskan bahwa Komite Audit merupakan komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka membantu melaksanaan tugas dan fungsinya. Jama’an (2008:15) mengemukakan bahwa komite audit merupakan badan yang dibentuk oleh dewan direksi untuk mengaudit operasi dan keandalan. Badan ini bertugas memilih dan menilai kinerja perusahaan kantor akuntan publik. Sedangkan pengertian komite audit menurut Tjager, dkk (2003) adalah salah satu komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dengan tugas dan tanggung jawab utama untuk memastikan prinsip-prinsip good corpotaregovernance terutama transparansi dan disclousure diterapkan secara konsisten dan memadai oleh para eksekutif.

Pengertian komite audit Menurut Arens, Beasley, dan Elder (2010:114) yang dimaksud dengan komite audit adalah sebagai berikut: “ An audit committee is a selected number of members of company’s board of director’s whose responsibilities include helping auditors remain independent of management. Most audit commitees are made up of three to five or sometimes as many as seven directors who are not part of company management. The Sarbanes-Oxley Act requires that all members of the audit committee be independent and companies must disclose whether or not the audit committee includes at least one member who is financial expert”.

(8)

Menurut Davies dan Parker (1995) yang dikutip oleh Tugiman (1995:8) menyatakan bahwa:

“Audit committee” means a committee comprising a majority of independent/ non-executive members of the governing body of an entity to which has been assigned, amongst other functions, the oversight of financial reporting and audit process: “Governing body” means the entity’s board of directors, trustess or governors, or other equivalent body or person”

Menurut Tugiman (1995 :8) komite Audit adalah:

“Sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus. Komite audit sangat berguna dalam suatu perusahaan untuk menangani masalah-masalah yang membutuhkan integrasi dan koordinasi jadi dimungkinkan masalah-masalah tersebut dapat segera teratasi.”

Susiana dan Arleen Herawaty (2007:3) mengungkapkan Komite audit berfungsi untuk memberikan pandangan mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan kebijakan keuangan, akuntansi, dan pengendalian intern. Tujuan pembentukan komite audit adalah:

1) Memastikan laporan keuangan yang dikeluarkan tidak menyesatkan dan sesuai dengan praktik akuntansi yang berlaku umum.

2) Memastikan bahwa internal kontrolnya memadai.

3) Menindak lanjuti terhadap dugaan adanya penyimpangan yang

material di bidang keuangan dan implikasi hukumnya. 4) Merekomendasikan seleksi auditor internal.

Menurut peraturan Bapepam Nomor: SE/03/2000, komite audit adalah komite yang dibetuk oleh dewan komisaris yang tugasnya membantu dewan komisaris dengan memberikan pendapat profesional yang independen untuk meningkatkan kualitas kerja serta mengurangi

(9)

penyimpangan, pengelolaan perusahaan, sedangkan berdasarkan Kep-315/BEI/06200, dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance), perusahaan tercatat wajib memiliki komite audit. Landasan lain keberadaan komite audit di Indonesia mengenai pembentukan komite audit yaitu Keputusan Ketua Bapepam Nomor 29/PM/2004 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit yang mengharuskan pembentukan komite audit bagi perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa efek dan rumusan tugas dan tanggung jawab komite audit dan keputusan direksi BEJ Nomor 339/BEJ/2001 tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di bursa yang mengharuskan pembentukan komite audit bagi perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa dan rumusan tugas, tanggung jawabnya berikut proses pelaporannya.

Di samping itu menurut Hiro Tugiman (1995, 11) manfaat dari pembentukan Komite Audit adalah:

“Komite audit akan banyak membantu dewan komisaris dan dewan direksi dalam pengelolaan perusaan. Komite audit juga memberikan manfaat bagi eksternal auditor yaitu diperlukan sebagai forum atau media komunikasi dengan perusahaan, sehingga diharapkan semua aktivitas dan kegiatan eksternal auditor dalam hal ini akan mengadakan pemeriksaan, serta secara langsung kepada objek pemeriksaan juga dibantu dengan mengadakan konsultasi dengan komite audit”.

Berbagai ketentuan dan peraturan mengenai komite audit telah dibuat diantaranya:

1) Pedoman Good Corporate Governance (Maret 2001) yang

(10)

2) Surat Edaran BAPEPAM No. SE-03/PM/2000 yang merekomendasikan perusahaan-perusahaan publik memiliki komite audit, sebagaimana diperbaharui dengan Keputusan Ketua BAPEPAM No Kep-41/PM/2003 tanggal 22 Desember 2003 tentang Peraturan Nomor IX.1.5: Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit.

3) Kep. 339/BEJ/07-2001, yang mengharuskan semua perusahaan yang listed di Bursa Efek Jakarta memiliki komite audit.

4) Keputusan menteri BUMN No. Kep-103/M-MBU/2002 yang

mengharukan semua BUMN mempunyai komite audit.

5) Keputusan menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 yang

mengharuskan semua BUMN mempunyai komite audit.

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian komite audit adalah sebuah komite yang dibentuk dan dibuat oleh para Dewan Komisaris yang bertujuan untuk membantu para Dewan Komisaris menjalankan tugas dan fungsinya. Komite audit harus bersifat independen dan juga harus bebas dari pengaruh manajemen perusahaan karena jika komite audit dan manajemen perusahaan memiliki kerja sama maka akan terjadi hal-hal yang dapat mencurigakan bahkan dapat merugikan perusahaan. Oleh karena itu, komite audit hanya bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris.

(11)

2.1.3.2 Wewenang, Peran dan Tanggung Jawab Komite Audit

Komite Audit mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, atau mengendalikan serta mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir, kecuali Komisaris Independen (Peraturan Bapepam nomor IX.I.5). Kewenangan Komite Audit dibatasi oleh fungsi mereka sebagai alat bantu Dewan Komisaris sehingga tidak memiliki otoritas eksekusi apapun (hanya sebatas rekomendasi kepada Dewan Komisaris) kecuali untuk hal spesifik yang telah memperoleh hak kuasa eksplisit dari Dewan Komisaris misalnya mengevaluasi dan menentukan komposisi auditor eksternal dan memimpin satu investigasi khusus. Komite Audit memiliki wewenang untuk mengakses secara penuh, bebas dan tak terbatas terhadap catatan, karyawan, dana, aset, serta sumber daya perusahaan dalam rangka tugasnya serta berwenang untuk bekerjasama dengan auditor internal (Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-41/PM/2003).

Peran dan tanggung jawab Komite Audit harus dengan jelas tercantum dalam ketentuan-ketentuan Audit Committee Charter. Audit

Comittee Charter atau piagam komite audit adalah sebuah dokumen

formal sebagai wujud komitmen komisaris dan dewan direksi dalam usaha menciptakan kondisi yang baik dalam perusahaan. Piagam komite audit yang telah disahkan akan menjadi acuan anggota komite audit dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang kemudian disosialisasikan kepada seluruh pihak terkait untuk mewujudkan visi, misi

(12)

dan tujuan perusahaan. Piagam Komite Audit akan membantu anggota baru dalam melaksanakan orientasi sebagai komite audit dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk menunjukan komitmen komisaris dan dewan direksi terhadap efektivitas corporate governance, pengendalian internal, risk assesment dan pengelolaan perusahaan secara keseluruhan (FCGI, 2002).

Peran dan tanggung jawab Komite Audit akan bertentangan dalam kondisi perusahaan tertentu, namun pada dasarnya akan mengarah pada pemberian bantuan kepada Dewan Komisaris dalam melaksanakan tugasnya tentang kontrol intern dan pelaporan keuangan dan manajemen. Komite audit mempunyai tugas membantu Dewan Komisaris/Dewan pengawas dalam hal menilai pelaksanaan kegiatan dan hasil audit yang dilakukan oleh auditor eksternal sehingga dapat dicegah kecurangan dalam pelaporan serta memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian manajemen perusahaan (Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep 103/MBU/2002).

Wewenang, peranan serta tanggung jawab komite audit yang telah dijelaskan di atas dapat membentuk suatu kesimpulan bahwa komite audit memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi atau dewan komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian komisaris, dan melaksanakan tugas– tugas lain yang berkaitan dengan tugas dewan komisaris.

(13)

2.1.4 Karakterisktik Komite Audit 2.1.4.1 Ukuran Komite Audit

Dalam rangka untuk membuat komite audit yang efektif dalam pengendalian dan pemantauan atas kegiatan pengelolaan perusahaan, komite harus memiliki anggota yang cukup untuk melaksanakan tanggung jawab. Peraturan yang mengatur masalah ukuran atau size komite audit di Indonesia adalah :

1) Peraturan Pencatatan Efek Nomor I-A: Tentang Ketentuan Umum

Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa.

2) Keanggotaan komite audit sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) orang anggota.

3) Keputusan Ketua Bapepam No: KEP-41/PM/2003 tanggal 22

Desember 2003.

4) Komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang komisaris independen dan sekurang-kurangnya dua orang lainnya yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik.

Peraturan BEI menyatakan bahwa kedudukan komite audit berada dibawah Dewan Komisaris dan salah seorang Komisaris Independen sekaligus menjadi Ketua Komite Audit. Komite Audit terdiri dari satu orang Komisaris Independen dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota lainnya berasal dari luar emiten. Jumlah anggota komite audit yang harus lebih dari satu orang ini dimaksudkan agar komite audit dapat mengadakan rapat pertemuan dan bertukar pendapat satu sama lain. Hal

(14)

ini dikarenakan masing-masing anggota komite audit memiliki pengalaman tata kelola perusahaan dan pengetahuan keuangan yang berbeda-beda.

Besarnya perusahaan dan kompleksitas sistem pengendalian merupakan variabel yang berpengaruh terhadap besarnya komite audit. Umumnya perusahaan di Indonesia memiliki komite audit dengan tiga sampai lima orang. Braiotta (1999:11) mengungkapkan berdasarkan survey yang dilakukan oleh American Intitute of Certified Public

Accountants (AICPA) mengenai ukuran atau jumlah komite audit dapat

disimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki komite audit sekitar 90% perusahaan memiliki tiga sampai lima anggota.

Berdasarkan pernyataan yang ada maka dapat disimpulkan bahwa terciptanya fungsi pengawasan komite audit yang efektif berhubungan dengan sumber daya yang dimiliki oleh komite audit. Efektifitas komite audit akan meningkat jika ukuran komite audit akan meningkat, karena komite audit memiliki sumber daya yang lebih untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan. Oleh karena itu, diharapkan keberadaan komite audit dapat mencegah kecurangan, meningkatkan kualitas serta ketepatan waktu pelaporan keuangan.

2.1.4.2 Komposisi Komisaris Independen

Komisaris independen merupakan pihak yang tidak terafiliasi pemegang saham pengendali, anggota direksi dan dewan komisaris lain, dan perusahaan itu sendiri baik dalam bentuk hubungan bisnis maupun

(15)

kekeluargaan. Salah satu fungsi utama dari komisaris independen adalah menjalankan fungsi monitoring yang bersifat independen terhadap kinerja manajemen perusahaan.

Komisaris independen bertujuan untuk menyeimbangkan dalam pengambilan keputusan khususnya dalam rangka perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dan pihak-pihak lain yang terkait. Jadi, keberadaan komisaris independen dalam suatu perusahaan dapat mempengaruhi ketepatan waktu (timeliness) pelaporan keuangan, jika perusahaan memiliki komisaris independen maka laporan keuangan yang disajikan manajemen cenderung berintegritas, karena di dalam perusahaan tersebut terdapat badan yang mengawasi dan melindungi hak pihak-pihak dari luar manajemen perusahaan.

2.1.4.3 Frekuensi Pertemuan Komite Audit

Dalam setiap audit committee charter yang dimiliki oleh masing-masing anggota, komite audit akan mengadakan pertemuan untuk rapat secara periodik dan dapat mengadakan rapat tambahan atau rapat-rapat khusus bila diperlukan. Pertemuan secara periodik ini sebagaimana ditetapkan oleh komite audit sendiri dilakukan sekurang-kurangnya sama dengan ketentuan rapat dewan komisaris yang ditentukan dalam anggaran dasar perusahaan. Komite audit biasanya perlu untuk mengadakan pertemuan tiga sampai empat kali dalam satu tahun untuk melaksanakan kewajiban dan tanggub jawabnya (FCGI, 2002).

(16)

Pertemuan komite audit berfungsi sebagai media komunikasi

formal anggota dalam mengawasi proses corporate governance,

memastikan bahwa manajemen senior membudayakan corporate

governance, memonitor bahwa perusahaan patuh pada code of conduct,

mengerti semua pokok persoalan yang mungkin dapat mempengaruhi kinerja keuangan, memonitor bahwa perusahaan patuh pada tiap undang-undang dan peraturan yang berlaku dan mengharuskan auditor internal melaporkan secara tertulis hasil pemeriksaan corporate governance dan temuan lainnya.

Berdasarkan Surat Edaran Bapepam Nomor: SE/03/PM/2000. Komite audit wajib mengadakan rapat sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan. Kemudian peraturan tersebut dirubah menjadi Peraturan Keputusan Ketua Bapepam No: KEP-41/PM/2003, komite audit melakukan rapat sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) bulan.

Oleh sebab itu, komite audit harus secara rutin melakukan pertemuan dengan dewan komisaris, dewan direksi atau pihak manajemen, internal auditor, dan eksternal auditor. Berdasarkan beberapa karakteristik komite audit di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik komite audit terdiri dari ukuran komite audit dan frekuensi pertemuan rutin komite audit.

2.1.4.4 Keahlian Keuangan Komite Audit

Dalam melaksanakan tugasnya, anggota komite audit yang berada di bawah dewan komisaris harus independen dan tidak berusaha mewakili

(17)

kepentingan salah satu pihak dalam perusahaan. Dalam hal persyaratan keanggotaan komite audit disyaratkan selain komite audit bersifat independen, komite audit juga harus memiliki keahlian yang memadai. Keahlian komite audit ini dibutuhkan dalam menjalankan beberapa fungsinya seperti melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas, melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara manajemen dan akuntan atas jasa yang diberikannya, memberikan rekomendasi kepada dewan komisaris mengenai penunjukan akuntan, melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan mengawasi pelaksanaan tindak lanjut, dan melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang dilakukan oleh direksi jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki fungsi pemantau risiko di bawah dewan komisaris (Peraturan Bapepam dan LK No. KEP-643/BL/2012).

Mengingat fungsi tersebut diatas sangat berkaitan dengan akuntansi dan keuangan, maka apabila komite audit memiliki keahlian yang memadai untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut, maka kualitas laporan keuangan perusahaan dapat menjadi lebih baik. Selain itu, komite audit merupakan komite yang ditugaskan untuk membantu dewan komisaris mengawasi kegiatan keuangan perusahaan, pengendalian internal yang dilakukan oleh perusahaan terkait operasional maupun

(18)

keuangan, serta terlibat langsung dalam proses pemilihan auditor eksternal yang akan digunakan perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Untuk bisa menilai pemilihan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh manajemen merupakan sebuah keharusan bagi anggota komite audit untuk memiliki kemampuan analisis yang baik di bidang terkait dengan laporan keuangan untuk bisa menghasilkan laporan keuangan yang benar-benar akuntabel dan transparan (Rezaee 2004).

2.1.4.5 Opini Audit

Auditor merupakan pihak yang independen didalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan, yang akan memberikan opini atas laporan keuangan yang diauditnya. Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) mengharuskan pembuatan laporan setiap kali kantor akuntan publik dikaitkan dengan laporan keuangan. Laporan audit hanya dibuat jika audit benar-benar dilakukan.

Laporan auditor dapat didefinisikan sebagai laporan yang menyatakan pendapat auditor yang independen mengenai kelayakan atau ketepatan pernyataan klien bahwa laporan keuangannya disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntan yang berlaku umum, yang diterapkan secara konsisten.

Menurut Mulyadi (2009), laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Dalam laporan tersebut, auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut

(19)

disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku. Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf, yaitu paragraf pengantar (introductory paragraph), paragraf lingkup (scope paragraph), dan paragraf pendapat (opinion paragraph).

Manajer ditempatkan pada posisi dimana mereka dapat menguntungkan perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan yang disusunnya dalam suatu peruode tertentu. Laporan keuangan yang disusun merupakan bentuk pertanggungjawaban dari hasil pekerjaannya selama satu periode. Para manajer tergoda untuk menyajikan laporan keuangan yang berat sebelah, dan mungkin menyembunyikan informasi-informasi tertentu kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut termasuk investor, kreditor dan juga regulator. Oleh karena itu masyarakat keuangan membutuhkan jasa profesional untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan oleh manajemen. Atas dasar informasi keuangan yang andal, masyarakat akan memiliki basis yang kuat untuk berinvestasi dan memiliki posisi keuangan yang sehat.

Terdapat beberapa jenis pendapat / opini auditor (Mulyadi, 2009) yaitu : 1. Pendapat Wajar tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)

Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor jika tidak terjadi pembatasan dalam lingkup audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran dan penerapan prinsip akuntansi berterima umum dalam penyusunan laporan keuangan, konsistensi penerapan prinsip

(20)

akuntansi berterima umum tersebut, serta pengungkapan memadai dalam laporan keuangan.

2. Pendapat Wajar tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelas (Unqualified Opinion with Explanatory Language)

Pendapat ini diberikan apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar auditing, penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, tetapi terdapat keadaan atau kondisi tertentu yang memerlukan bahasa penjelas. Kondisi atau keadaan yang memerlukan bahasa penjelasan tambahan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalam paragraf pengantar untuk menegaskan pemisahan tanggung jawab dalam pelaksanaan audit. b. Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh

profesi atau pihak yang berwenang. Penyimpangan tersebut adalah penyimpangan yang terpaksa dilakukan agar tidak menyesatkan pemakai laporan keuangan auditan. Auditor harus menjelaskan penyimpangan yang dilakukan berikut taksiran pengaruh maupun alasan penyimpangan dilakukan dalam satu paragraf khusus.

c. Laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastian yang material. d. Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan

(21)

e. Auditor menemukan adanya suatu perubahan material dalam penggunaan prinsip dan metode akuntansi.

3. Pendapat Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)

Pendapat wajar dengan pengecualian diberikan oleh auditor jika menemukan kondisi-kondisi berikut ini:

a. Ruang lingkup audit dibatasi oleh klien.

b. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien maupun auditor.

c. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinisip akuntansi berterima umum.

d. Prinsip akuntansi berterima umum yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.

4. Pendapat tidak Wajar (Adverse Opinion)

Pendapat tidak wajar diberikan oleh auditor jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas perusahaan klien. Auditor harus menjelaskan alasan pendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yang menyebabkan pendapat diberikan terhadap laporan keuangan. Penjelasan tersebut harus dinyatakan dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat.

(22)

5. Pernyataan tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion) Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan tidak memberikan pendapat adalah:

a. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit. b. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan klien.

2.2 Penelitian Terdahulu

Secara ringkas, penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh karakteristik komite audit yang mempengaruhi ketepatan waktu (timeliness) laporan keuangan perusahaan disajikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Purbasari (2014) Variabel Independen:

1. Ukuran Komite Audit 2. Komposisi Komisaris Independen 3. Frekuensi Pertemuan Komite Audit 4. Keahlian Keuangan Komite Audit 5. Profitabilitas Variabel Dependen: Timeliness Laporan Keuangan

Ukuran Komite Audit, Komposisi Komisaris Independen, Frekuensi Pertemuan Komite Audit, Keahlian

Keuangan Komite Audit dan Profitabilitas secara bersama-sama

berpengaruh secara signifikan terhadap timeliness laporan keuangan.

2. Islam (2015) Variabel Independen:

1. Solvabilitas 2. Ukuran Perusahaan 3. Kepemilikan Pihak Asing 4. Profitabilitas dapat memperkuat atau memperlemah

kepemilikan pihak asing

Solvabilitas terbukti tidak berpengaruh atau berpengaruh negatif terhadap timeliness laporan keuangan. Sedangkan Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Pihak Asing, Profitabilitas

(23)

5. Profitabilitas dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh solvabilitas 6. Profitabilitas dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh ukuran perusahaan Variabel Dependen: Ketetapan (Timeliness) Laporan Keuangan

dapat memperkuat atau memperlemah

kepemilikan pihak asing, Profitabilitas dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh solvabilitas, dan Profitabilitas dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh ukuran perusahaan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap timeliness laporan keuangan. 3. Anggraini (2011) Variabel Independen:

1. Ukuran atau jumlah anggota Komite Audit 2. Pertemuan rutin anggota Komite Audit 3. Komisaris Independen 4. Kepemilikan Institusional Variabel Dependen: Ketetapan (Timeliness) Laporan Keuangan

Ukuran atau jumlah anggota Komite Audit, Pertemuan rutin anggota Komite Audit, Komisaris Independen, dan Kepemilikan Institusional secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Ketetapan (Timeliness) Laporan Keuangan

4. Fitriani (2010) Variabel Independen: 1. Leverage

2. Profitabilitas 3. Likuiditas

4. Ukuran Perusahaan 5. Reputasi Kantor Akuntan Publik (KAP) 6. Opini Akuntan Publik 7. Umur Perusahaan 8. Kepemilikan Publik 9. Pos-pos Luar Biasa Variabel Dependen: Ketetapan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Leverage, Profitabilitas, Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Reputasi Kantor Akuntan Publik (KAP), Opini Akuntan Publik, Umur

Perusahaan,

Kepemilikan Publik dan Pos-pos Luar Biasa secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Ketetapan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan

(24)

5. Wijaya (2012) Variabel Independen: 1. Audit Committee Independence 2. Audit Committee Meeting 3. Audit Committee Expertise

4. Audit Committee Size Variabel Dependen: Audit Report Lag

Audit Committee Independence, Audit Committee Meeting, Audit Committee Expertise, dan Audit Committee Size berpengaruh negatif terhadap Audit Report Lag

6. Dinita (2011) Variabel Independen:

1. Opini Audit 2. Audit Report Lag 3. Reputasi KAP mampu memperkuat pengaruh opini audit

4. Reputasi KAP mampu memperkuat pengaruh audit report lag Variabel Dependen: Ketetapan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan

Opini audit, Reputasi KAP mampu

memperkuat pengaruh opini audit

Reputasi KAP mampu memperkuat pengaruh audit report lag

berpengaruh signifikan terhadap Ketetapan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan. Sedangkan Audit Report Lag berpengaruh negatif terhadap Ketetapan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan.

7. Sari (2014) Variabel Independen:

1. Ukuran Perusahaan 2. Solvabilitas 3. Profabilitas 4. Reputasi KAP 5. Keefektivitasan Komite Audit Variabel Dependen: Audit Report Lag

Solvabilitas berpengaruh signifikan terhadap Audit Report Lag. Sedangkan Ukuran Perusahaan, Profabilitas, Reputasi KAP, dan Keefektivitasan Komite Audit berpengaruh negatif terhadap Audit Report Lag.

2.3 Kerangka Pemikiran

Untuk mengetahui secara singkat mengenai hubungan antar variabel dependen dan independen, maka dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:

(25)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Hipotesis

2.4.1 Pengaruh Ukuran Komite Audit Terhadap Timeliness Laporan Keuangan

Di Indonesia, pedoman pembentukan komite audit yang efektif menjelaskan bahwa anggota komite audit yang dimiliki oleh perusahaan sedikitnya terdiri dari 3 (tiga) orang, diketuai oleh komisaris independen

Komposisi Komisaris Independen dalam Komite Audit

Frekuensi Pertemuan Anggota Komite Audit

Ukuran Komite Audit

Keahlian Keuangan komite Audit

Opini Audit Timeliness Laporan Keuangan H1 H2 H3 H5 H6 H4

(26)

perusahaan dengan dua orang eksternal yang independen terhadap perusahaan serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2002). Jumlah anggota komite audit yang harus lebih dari satu orang ini dimaksudkan agar komite audit dapat mengadakan pertemuan dan bertukar pendapat satu sama lain. Hal ini dikarenakan masing-masing anggota komite audit memiliki pengalaman tata kelola perusahaan dan pengetahuan keuangan yang berbeda-beda.

Jumlah anggota komite audit yang terlalu banyak dianggap dapat kehilangan fokus dan kurang berkontribusi dalam melaksanakan tugasnya, sedangkan jumlah anggota komite audit yang terlalu sedikit dianggap memiliki kekurangan dalam hal keterampilan dan pengetahuan. Komite audit dengan jumlah anggota yang tepat dapat membuat anggota komite audit menggunakan pengalaman dan keahlian yang dimiliki untuk melindungi kepentingan pemegang saham (Rahmat, dkk 2009).

Berdasarkan teori ketergantungan sumber daya, dengan semakin meningkatnya jumlah anggota membuat komite audit memiliki lebih banyak sumber daya khususnya untuk menghadapi masalah yang sedang dialami perusahaan. Oleh karena itu, kualitas komite audit akan meningkat ketika ukuran komite juga meningkat sehingga dapat memaksimalkan timeliness laporan keuangan. Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1: Ukuran komite audit berpengaruh terhadap Timeliness Laporan Keuangan

(27)

2.4.2 Pengaruh Komposisi Komisaris Independen Terhadap Timeliness Laporan Keuangan

Komisaris independen merupakan sebuah badan yang beranggotakan dewan komisaris yang independen yang berasal dari luar perusahaan dan berfungsi untuk menilai kinerja suatu perusahaan secara keseluruhan (Emirzon, 2007). Peraturan Bapepam-LK No.IX.1.5 tentang “Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit,” menyatakan bahwa komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang (1) berasal dari luar emiten, (2) tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung dengan emiten, (3) tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten, komisaris, direksi, atau pemegang saham utama, dan (4) tidak memiliki hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha emiten.

Peraturan BEI dan ketentuan pedoman corporate governance dalam pembentukan komite audit yang efektif menyatakan bahwa komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang komisaris independen yang merangkap sebagai ketua dan sekurang-kurangnya dua orang anggota lainnya berasal dari luar perusahaan. Komisaris independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan monitoring agar tercipta Good Corporate Governance dalam suatu perusahaan (Anggiani, 2011). Rahmat, dkk (2009) mengatakan bahwa semakin tinggi komposisi komisaris independen dalam komite audit maka semakin tinggi pula independensi dari komite audit tersebut. Jadi jika perusahaan mempunyai komposisi komisaris independen cukup dalam suatu komite audit maka laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan cenderung lebih berintegritas dan tepat

(28)

waktu dalam penyampaiannya karena di dalam perusahaan tersebut terdapat badan yang mengawasi dan melindungi pihak dari luar manajemen. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpilkan hipotesis sebagai berikut :

H2 : Komposisi Komisaris Independen dalam Komite Audit berpengaruh terhadap Timeliness Laporan Keuangan.

2.4.3 Pengaruh Frekuensi Pertemuan dari Anggota Komite Audit Terhadap Timeliness Laporan Keuangan

Pertemuan yang teratur dan terkendali dengan baik akan membantu komite audit dalam memeriksa akuntansi berkaitan dengan sistem pengendalian internal, dan menjaga informasi manajemen (McMullen dan Raghunandan, 1996) dalam Rahmat, dkk (2009). Pertemuan rutin menjadi salah satu bentuk keefektivitasan komite audit.

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mewajibkan komite audit untuk mengadakan pertemuan tiga sampai empat kali dalam satu tahun. Frekuensi pertemuan tersebut harus jelas terstruktur dan dikontrol dengan baik oleh ketua komite. Komite audit dapat mencegah dan mengurangi kemungkinan terjadinya keterlambatan pelaporan keuangan dan kesalahan dalam pembuatan keputusan oleh manajemen karena aktivitas pengendalian internal perusahaan dilakukan secara terus menerus dan terstruktur sehingga setiap permasalahan dapat cepat terdeteksi dan diselesaikan dengan baik oleh manajemen. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh terhadap Timeliness Laporan Keuangan

(29)

2.4.4 Pengaruh Keahlian Keuangan komite Audit Terhadap Timeliness Laporan Keuangan

Keahlian keuangan memberikan dasar yang baik bagi anggota komite audit untuk memeriksa dan menganalisis informasi keuangan. Latar belakang pendidikan menjadi ciri penting untuk memastikan keefektivitasan komite audit. Anggota komite audit yang menguasai keuangan akan lebih profesional dan cepat beradaptasi terhadap perubahan dan inovasi (Hambrick dan Mason, 1984 dalam Rahmat, dkk 2009). Penyimpangan pengawasan internal juga akan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan. Beberapa keberhasilan pelacakan fraud tertentu tergantung pada pengalaman dan kompetensi yang dimiliki oleh komite audit.

Komite audit dengan anggota yang memiliki keahlian dibidang akuntansi dan keuangan diharapkan akan menjadi lebih efektif. Hal itu dikarenakan dengan adanya keberadaan personal yang memenuhi syarat sebagai anggota komite audit diharapkan dapat mengadopsi standar akuntabilitas dan tingkat prestasi yang tinggi, dapat menyediakan bantuan dalam peran mengontrol dan pengawasan serta berusaha keras untuk citra dan kinerja perusahaan yang lebih baik sehingga komite audit dengan kompetensi yang baik dapat mengurangi jumlah perusahaan yang menunda pelaporan keuangannya. Berdasarkan penjelasan, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4: Keahlian keuangan anggota komite audit berpengaruh terhadap Timeliness Laporan Keuangan

(30)

2.4.5 Pengaruh Opini Audit Terhadap Timeliness Laporan Keuangan

Tujuan utama audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia (Mulyadi, 2002:73). Laporan audit adalah alat formal yang digunakan auditor dalam mengkomunikasikan kesimpulan tentang laporan keuangan yang diaudit kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Auditor adalah salah satu pihak yang memegang peranan penting untuk tercapainya laporan keuangan yang berkualitas di pasar modal. Auditor bertugas memberikan assurance terhadap kewajaran laporan keuangan yang disusun dan diterbitkan oleh manajemen perusahaan. Assurance terhadap laporan keuangan tersebut, diberikan auditor melalui opini auditor (Hilmi dan Ali, 2008).

Menurut PSA 29 SA Seksi 508 dalam Standar Profesional Akuntan Publik ada lima jenis pendapat auditor, yaitu:

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion);

2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan (unqualified opinion with explanatory language);

3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion); 4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion); dan

5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).

Penelitian Carslaw dan Kaplan (1991) dalam Hilmi dan Ali (2008) juga menyatakan bahwa keterlambatan penyampaian laporan keuangan berhubungan positif dengan opini audit yang diberikan oleh auditor dan perusahaan yang tidak

(31)

menerima unqualified opinion memiliki audit delay yang lebih lama. Berarti perusahaan yang mendapat unqualified opinion dari auditor untuk laporan keuangannya cenderung akan lebih tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya karena unqualified opinion merupakan berita baik (good news) dari auditor. Sebaliknya, perusahaan akan cenderung tidak tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya apabila menerima opini selain unqualified

opinion karena hal tersebut dianggap sebagai berita buruk (bad news).

Berdasarkn penjelasan tersebut, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H5: Opini audit berpengaruh terhadap Timeliness Laporan

Keuangan

2.5.6 Pengaruh Ukuran Komite Audit, Komposisi Komisaris Independen Dalam Komite Audit, Frekuensi Pertemuan Komite Audit, Keahlian Keuangan Komite Audit dan Opini Audit Terhadap Timeliness Laporan Keuangan.

Berdasarkan penjelasan mengenai masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen, selanjutnya peneliti akan menguji pengaruh ukuran komite audit, komposisi komisaris independen dalam komite audit, frekuensi pertemuan komite audit, keahlian keuangan komite audit dan opini audit secara simultan terhadap timeliness laporan keuangan.

H6: Ukuran Komite Audit, Komposisi Komisaris Independen Dalam Komite Audit, Frekuensi Pertemuan Komite Audit, Keahlian Keuangan Komite Audit dan Opini Audit Secara

(32)

Simultan Berpengaruh Terhadap Timeliness Laporan Keuangan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :