KOMPOSISI CACING TANAH PADA AREAL PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI JORONG LUBUK HIJAU KECAMATAN RAO UTARA KABUPATEN PASAMAN E-JURNAL

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KOMPOSISI CACING TANAH PADA AREAL PERKEBUNAN KELAPA

SAWIT DI JORONG LUBUK HIJAU KECAMATAN RAO UTARA

KABUPATEN PASAMAN

E-JURNAL

NURSAKINAH

NIM. 11010077

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

(2)
(3)

KOMPOSISI CACING TANAH PADA AREAL PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI JORONG LUBUK HIJAU KECAMATAN RAO UTARA

KABUPATEN PASAMAN

Nursakinah, Ismed Wahidi, Abizar

Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

Earthworms play a role in increasing the productivity of agricultural land, including oil palm plantations. In the oil palm plant maintenance need for spraying with the use of herbicides and plant oil palm require much water and absorb water in significant amounts for its survival, resulting in the structure of the soil will dry and affect soil animals in it, including earthworms. This study aims to determine the composition of earthworms to the genus level in the area of oil palm plantations in the Green District of Jorong Lubuk Hijau Rao Utara Pasaman. This research was conducted in August 2015 by using descriptive survey method with direct collection of the earthworm in the study locations and sampling using the method of squares (1x1 m) and earthworms in the sorting by hand. From the results, 3 families 4 genera of earthworms, the family Megascolidae with Pheretima and Peryonix genus, family Glossoscolecidae with Pontoscolex genus and family Moniligastridae with Drawida genus. Genus Pontoscolex has the highest population density for both stations. For the density value (K) 8 individual / plot, relative density (KR) 63,49 %, the frequency (F) 1, relative frequency (FR) 32,25 %, Pontoscolex has the highest value. While the value of density is (K) 0,2 individuals / plot, relative density (KR) 1,58%, the frequency (F) of 0,2, relative frequency (FR) of 6,45 %, the lowest found in the genus Drawida for both stations. The similarity index value of 100 %, and the value of diversity index is station I 0,9632 station II 1,1043.

Key: earth-worm, plantation of coconut of sawit.

PENDAHULUAN

Kelapa sawit merupakan salah satu mata pencaharian bagi masyarakat Indonesia, semakin banyak lahan yang dibuka penduduk, maka biasanya masyarakat menanam kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan tanaman tropis yang memiliki nilai komoditas yang penting, perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara (Naibaho, 1988, dalam Morario).

Cacing tanah merupakan salah satu kelompok hewan invertebrata yang masuk dalam filum Annelida, kelas Chaetopoda, ordo Oligochaeta yang hidup dalam tanah, berukuran beberapa cm hingga panjangnya lebih kurang 2 m. Secara umum peranan cacing tanah sebagai penyubur tanah terutama kemampuannya dalam memperbaiki sifat-sifat tanah, seperti ketersediaan hara, dekomposisi bahan oraganik, pelapukan mineral dan lain-lain, sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanah (Hanafiah, dkk. 2005).

Berdasarkan pada peranannya dalam ekosistem, cacing tanah dapat dikelompokkan berdasarkan makrofauna tanah ke dalam 3 kelompok yaitu epigeik, anesik dan endogeik. Ketiga kelompok tersebut memiliki kontribusi yang bervariasi terhadap kesuburan tanah.

Epigeik merupakan kelompok cacing tanah yang hidup dan makan dipermukaan tanah, berperan dalam penghancuran serasah dan pelepasan unsur hara tetapi tidak aktif dalam penyebaran serasah kedalam profil tanah. Cacing tanah yang termasuk dalam kelompok ini berukuran kecil. Anesik yaitu spesies cacing tanah yang memindahkan seresah dari permukaan tanah dan aktif memakan serta bergerak ke dalam tanah untuk berlindung dari serangan predator maupun kondisi iklim yang kurang menguntungkan. Kelompok ini terdiri atas cacing tanah berukuran lebih besar. Endogeik yaitu cacing tanah yang hidup dalam tanah, pemakan bahan-bahan organik dan akar tanaman yang mati serta liat (gephagous). Cacing tanah yang tergolong

(4)

tipe ini berkembang dan berinteraksi dengan mikroorganisme tanah untuk melepaskan enzim yang berguna dalam dekomposisi bahan organic berkualitas rendah (Handayanto dan Hairiah, 2007).

Dari uraian tersebut jelas terlihat bahwa, cacing tanah berperan dalam meningkatkan produktifitas lahan pertanian, termasuk juga pada lahan perkebunan kelapa sawit. Dalam pemeliharaan tanaman kelapa sawit dilakukan penyemprotan dengan menggunakan bahan herbisida dan tanaman kelapa sawit banyak membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya, berkaitan dengan bertambahnya umur kelapa sawit, semakin tua umur kelapa sawit maka populasi cacing tanah cenderung rendah atau menurun, dan juga berpengaruh dengan faktor abiaotik tanah, sehingga mengakibatkan struktur tanah akan gersang dan akan mempengaruhi hewan tanah yang ada di dalamnya termasuk cacing tanah.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis telah melakukan penelitian

tentang “Komposisi Cacing Tanah Pada Areal Perkebunan Kelapa Sawit Di Jorong Lubuk Hijau Kecamatan Rao Utara KabupatenPasaman”.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 pada Areal Perkebunan Kelapa Sawit Di Jorong Lubuk Hijau Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman. Identifikasi dilakukan di laboratorium Zoologi Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumbar.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey deskriptif dengan koleksi langsung terhadap cacing tanah yang ada di lokasi penelitian.

Penentuan stasiun berdasarkan metode” purposive sampling” berdasarkan kondisi

lapangan. Pengambilan sampel cacing tanah dilakukan dengan pengkoleksian sampel dengan menggunakan Metode kuadrat (1x1m) dan disortir dengan menggunakan tangan.

Pengambilan sampel pada masing-masing stasiun yaitu, dengan penempatan plot sebanyak 10 plot. Penempatan masing-masing lokasi sebagai berikut: 2 plot yang pertama ditempatkan pada daerah tanah yang memiliki rumput dan serasah yang sedikit, 2 plot yang kedua ditempatkan pada daerah tanah yang memiliki rumput yang berukuran sedang, 2 plot yang ketiga di tempatkan pada daerah rumput yang berukuran tinggi, 2 plot yang keempat di tempatkan di bawah tumpukan tandan kelapa sawit yang berada di tanah, dan 2 plot kelima di tempatkan di bawah pelepah sawit yang berada di tanah.

Setiap plot dibuat kuadrat ukuran (1x1m) dengan kedalaman 20 cm dan diambil tanahnya dengan menggunakan cangkul/sekop, kemudian ditempatkan dalam lembaran plastik. Pengambilan sampel dilakukan pada pukul 07.00 WIB sampai selesai. Selanjutnya cacing tanah yang ada pada tanah tersebut disortir. Cacing tanah yang didapatkan, dikumpulkan dan dibersihkan dengan air serta dihitung jumlahnya, kemudian dimasukkan kedalam botol sampel berisi formalin 4%, yang sudah diberi label sesuai stasiun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang komposisi cacing tanah pada areal perkebunan kelapa sawit di Jorong Lubuk Hijau Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman didapatkan cacing tanah seperti yang terlihat pada Tabel 1. berikut ini.

(5)

Tabel 1. Komposisi cacing tanah pada areal perkebunan kelapa sawit di Jorong Lubuk Hijau Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman

N o

Genus Stasiun I Stasiun II

K idv/ plot KR% F FR% Pi lnPi K inv/ plot KR% F FR% Pi lnPi 1 Pheretima 2,2 17,46 0,9 29,03 -0,3047 2,8 29,47 0,7 26,92 -0,3600 2 Peryonik 2,2 17,46 1 32,25 -0,2883 1,8 18,94 0,6 24 -0,3481 3 Pontocolex 8 63,49 1 32,25 -0,3047 4,7 49,47 1 40 -0,3151 4 Drawida 0,2 1,58 0,2 6,45 -0,0655 0,2 2,11 0,2 8 -0,0811 Jumlah 12,6 99,99 3,1 99,98 -0,9632 9,5 99,99 2,5 98,92 -1,1043 0,9632 1,1043

Keterangan: K = Kepadatan, KR = Kepadatan Relatif, F = Frekuensi, FR = FrekuensiRelatif, H’ =

Indeks Diversitas.

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa genus Pontoscolex memiliki kepadatan populasi tertinggi untuk kedua stasiun. Pada stasiun I dan II kepadatan populasi (KP)

Pontoscolex yang tertinggi yaitu 8 individu/plot, dan Stasiun II 4,7 individu/plot. Begitu juga untuk nilai kepadatan relatif (KR), frekuensi kehadiran (FK), kemudian frekuensi relatife (FR), genus Pontoscolex memiliki nilai paling

tinggi. Sedangkan nilai kepadatan populasi (KP), kepadatan relatif (KR), frekuensi kehadiran (FK), kemudian frekuensi relatife (FR) terendah terdapat pada genus Drawida.

Pada Tabel 2 dapat dilihat hasil pengukuran faktor fisika-kimia pada kedua stasiun yang meliputi pH tanah, suhu tanah, kelembaban kadar air tanah dan kadar C

organik tanah

Tabel 2. Nilai faktor fisika-kimia tanah pada areal perkebunan kelapa sawit di Jorong Lubuk Hijau Kecamatan Rao Utara

No Parameter Yang Diukur Stasiun I Stasiun II

1 Suhu tanah 22−27℃ 22−28℃

2 pH tanah 6,9-7,0 6,1-6,8

3 Kelembaban tanah 5% 4%

4 Kadar air 80% 70%

5 Kadar C organic 1,35% 1,5%

Suhu tanah pada stasiun I berkisar (22−27 ℃), sedangkan suhu tanah pada stasiun II berkisar (22−28 ℃) lebih tinggi dibandingkan pada stasiun I. Selanjutnya pH tanah pada stasiun I berkisar 6,9−7,0, sedangkan pada stasiun II pH tanah berkisar 6,1−6,8. Kemudian pengukuran kelembaban tanah pada stasiun I berkisar 5%, sedangkan pada stasiun II kelembaban tanah berkisar 4%, dan selanjutnya pengukuran kadar air tanah pada stasiun I yaitu (80%) sedangkan pada stasiun II kadar air tanah yaitu (70%). Selanjutnya pada pengukuran kadar C organik tanah, pada stasiun I kadar C organik 1,35% dan pada satasiun II kadar C organik 1,5%.

Dari Tabel 1 terlihat bahwa genus

Pontoscolex merupakan jenis yang umum

dijumpai serta dominan didua lokasi penelitian. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya nilai kepadatan genus tersebut pada masing-masing lokasi dibandingkan genus lainnya. Menurut John (2007 ) dalam Luthfiyah (2014), populasi cacing tanah sangat erat hubungannya dengan keadaan lingkungan dimana cacing tanah itu berada. Selanjutnya dijelaskan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap populasi cacing tanah adalah: kelembaban, suhu, pH tanah, serta vegetasi yang terdapat di sana.

Dari hasil penelitian Tabel 1 terlihat bahwa genus yang memiliki kepadatan tertinggi pada kedua stasiun adalah genus

(6)

Pontoscolex dari famili Glossoscolecidae.

Pada stasiun I genus Pontoscolex memiliki nilai kepadatan yang tertinggi yaitu 8 individu/plot, Selanjutnya kepadatan tertinggi pada stasiun II yaitu genus

Pontoscolex 4,7 individu/plot. Genusini ditemukan hampir pada semua plot. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pontoscolex memiliki toleransi yang luas terhadap kondisi lingkungan di kedua lokasi penelitian. Menurut John (1998) dalam Harry menyatakan bahwa genus Pontoscolex dapat ditemukan pada areal pertanian, misalnya serasah, semak belukar dan rumput. Karena cacing tanah genus

Pontoscolex ini banyak di temukan pada kedalaman 0−10 cm dan 10−20 cm dari permukaan tanah. Dari hasil penelitian bahwasanya cacing tanah genus Pontoscolex ini banyak ditemukan pada plot pertama yang ditempatkan pada daerah yang memiliki rumput dan serasah. Menurut Anas (1990) cacing tanah sangat sensitif terhadap keasaman tanah, dengan demikian tidak heran bahwa pH merupakan faktor pembatas dalam penyebaran cacing tanah. Karena pH tanah pada satasiun berkisar 6,7−7,0. Hal ini sesuai menurut Hanafiah, dkk. (2005), pH tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktifitas cacing tanah sehingga menjadi faktor pembatas penyebarannya. Umumnya cacing tanah hidup dengan baik pada pH sekitar 7,0.

Kepadatan terendah pada stasiun I adalah genus Drawida 0,2 individu/plot, Selanjutnya kepadatan terendah pada stasiun II sama dengan genus yang ditemukan pada stasiun I yaitu genus Drawida 0,2 individu/plot dari famili Moniligastridae. Genus Drawida ini ditemukan pada plot yang memiliki rumput berukuran tinggi. Dalam pemeliharaan tanaman dilakukannya Penyiangan gulma, maka dilakukan pemupukan dan penyemprotan dengan menggunakan bahan herbisida dalam penyemprotan, hal ini akan mempengaruhi kelangsungan hidup cacing tanah dan bisa menurunkan populasi cacing tanah, dan juga kelembaban tanah. Menurut Harry (2012) genus Drawida ini bertipe epigeik yang menyukai habitat dengan masukan bahan organik yang beragam. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan kondisi tanah pada perkebunan kelapa sawit mengalami perubahan, baik fisik maupun kimia yang

disebababkan oleh aktivitas manusia. Pada stasiun I kelembaban tanah berkisar 5%. Pada stasiun II kelembaban tanahnya berkisar antara 4%. Haokip dan Singh (2012) dalam Harry menyatakan bahwa

genus Drawida hidup di habitat dengan vegetasi beragam sebagai sumber serasah untuk makanannya dan jarang dijumpai di kawasan vegetasi yang homogen.

Pada lahan perkebunan kelapa sawit di Jorong Lubuk Hijau Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman, dalam pemeliharaan tanaman dilakukannya penyiangan gulma dan pengendalian hama serta penyakit, dilakukan pemupukan dan penyemprotan dengan menggunakan bahan herbisida. Menurut Syakir (2010) penyemprotan dan pemupukan dilakukan 1 kali dalam 3 bulan tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur kondisi tanaman. Penyemprotan dan pemupukan pada tanah perlu dilakukan dengan frekuensi yang lebih banyak. Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun akan berpengaruh terhadap faktor fisika-kimia tanah, semakin tinggi dosis pemupukan dan penyemprotan akan berpengaruh terhadap kelembaban tanah.

Nilai Indeks Similaritas pada kedua stasiun, yaitu stasiun I (kelapa sawit umur 5 tahun) dan stasiun II (kelapa sawit umur 8 tahun) adalah 100%. Menurut Suin (2002), bahwa dua komuditas dikatakan berbeda atau tidak berbeda adalah berdasarkan aturan 50%. Dua komuditas dikatakan berbeda nyata bila indeks kesamaannya <50% atau sebaliknya indeks kesamaannya >50% dikatakan relatif sama. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dinyatakan Indeks Similaritas antara stasiun I dan stasiun II relatif sama.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa indeks keanekaragaman cacing tanah terdapat pada stasiun I dengan indeks keanekaragamannya 0,9632, sedangakan indeks keanekaragaman pada stasiun II 1,1043 terlihat bahwa jumlah masing-masing individu berbeda pada stasiun I dan II. Indeks keanekaragaman Shanoon-Wienner (H’), diketahui bahwa

nilai indeks keanekaragaman cacing tanah termasuk kedalam kategori tergolong kecil dan kestabilan komunitas rendah. Nilai Indeks Diversitas dapat dilihat pada lampiran 8. Menurut Endang, dkk. (2008)

(7)

kisaran total Indeks Keanekaragaman dapat

diklasifikasikan sebagai berikut: H’< 2,3026

: keanekaragaman kecil dan kestabilan

komunitas rendah, 2,3026 <H’> 6,9078 : keanekaragaman sedang dan kestabilan

komunitas sedang, H’ > 6,9078 :

keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas rendah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Genus Pontoscolex memiliki kepadatan populasi yang tertinggi untuk kedua stasiun. Begitu juga untuk nilai kepadatan relatif (KR), frekuensi (F), frekuensi relatif (FR),

Pontoscolex memiliki nilai yang paling

tinggi. Sedangkan nilai kepadatan populasi (KP), kepadatan relatif (KR), frekuensi (F), frekuensi relatif (FR) terendah terdapat pada genus Drawida untuk kedua stasiun. Nilai Indeks Similaritas 100%, dan nilai Indeks Diversitas stasiun I yaitu 0,9632 stasiun II 1,1043. Faktor fisika-kimia tanah di perkebunan kelapa sawit, suhu tanah berkisar 22 − 28° ∁ , kelembapan tanah 4-5%, pH tanah 6,1-7,0 kadar air tanah 70-80% dan kadar C organik tanah 1,35%.

DAFTAR PUSTAKA

Endang, P, S. Falmi, Y, K. Nancy, W. 2008.

Keanekaraagaman Plankton Di Kawasan Perairan Teluk Bakau.https://www.google.Flimnolog

i.lipi.go.id. Diakses 15 Juni 2015. Hanafiah, KA, A. Napoleon, N. Ghofar.

2005. Biologi Tanah: Ekologidan

Makrobiologi Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Handayanto, dan Hairiah. 2007. Biologi

tanah: Landasan Pengelolaan Lahan Sehat.Pustaka Adipura.Yogyakarta.

Harry, Q. Tri, H, S. Ari,H.Y. 2013.

Keanekaragaman Cacing Tanah (Oligochaeta) pada Tiga Tipe Habitat Di Kecamatan Pontianak Kota. Protobiont Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Tanjung pura.Vol 2 (2): 56–62. Luthfiyah. 2014. Keanekaragaman dan

Kepadatan Cacing Tanah di Perkebunan teh PTPN XII Bantaran Blitar. Jurusan Biologi Fakultas Sains

dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN). Malang. Jurnal

Morario. 2009. Komposisi Dan Distribusi

Cacing Tanah Di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Moeis Dan Di Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara. Skripsi Sarjana Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan llmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Medan.

Syakir, M. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Aska Media. Bogor.

Suin, 2002.

Metoda Ekologi. Bumi

Aksara. Jakarta.

Waluyo,D dan Simandjuntak. 1982. Cacing

Tanah Budidaya dan

pemanfaatannya. Penebar Swadaya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :