BAB I PENDAHULUAN. masing-masing dari perusahaan tersebut memiliki karakteristik yang

26  35  Download (0)

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini dapat ditemukan berbagai bentuk perusahaan, dimana masing-masing dari perusahaan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Salah satu dari jenis perusahaan tersebut adalah Perseroan Terbatas. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (yang selanjutnya disingkat UUPT) :

“Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.

Proses pendirian Perseroan Terbatas ini haruslah dilakukan minimal oleh 2 (dua) orang pendiri, sehingga pemegang saham dari Perseroan

Terbatas inipun minimal haruslah berjumlah 2 (dua) orang.1 Begitu juga

dalam suatu perusahaan Perseroan Terbatas di bidang perbankan, haruslah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang.

Perubahan signifikan dalam lingkungan bisnis seperti globalisasi, deregulasi serta kemajuan teknologi telah menciptakan persaingan yang

sangat ketat (fierce competition). Respon perusahaan-perusahaan terhadap

meningkatnya persaingan sangat beragam. Salah satu strategi untuk menjadi perusahaan yang besar dan mampu bersaing adalah melalui perluasan baik

1Munir Fuady, 2008, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakthi, Bandung,

(2)

dalam bentuk perluasan internal maupun perluasan eksternal. Perluasan internal terjadi pada divisi-divisi yang ada dalam perusahaan tumbuh secara

normal melalui kegiatan penganggaran modal (capital budgeting)

sedangkan perluasan eksternal dapat dilakukan dalam bentuk penggabungan

usaha (business combination). Penggabungan usaha adalah suatu kondisi

dua atau lebih perusahaan bekerja sama melalui kepemilikan bersama atas suatu badan usaha. Perusahaan yang memiliki mayoritas voting stok perusahaan lain akan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan proses pembuatan keputusan, serta menguasai aktiva dan kewajiban perusahaan lain.2

Beberapa perusahaan memilih untuk memfokuskan sumber daya ekonomi yang dimiliki pada segmen tertentu yang lebih kecil, ada juga yang tetap bertahan dengan strategi usaha yang dilakukan sebelumnya dan sebagian menggabungkan diri dengan perusahaan lainnya agar menjadi perusahaan yang lebih besar di dalam pasar. Strategi yang dipilih terakhir ini merupakan bagian upaya restrukturisasi untuk menciptakan sinergi. Restrukturisasi usaha seperti akuisisi, merupakan pilihan strategi restrukturisasi kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh suatu Perseroan

Terbatas.3

Beberapa tahun belakangan ini, terutama semenjak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 banyak perusahaan-perusahaan

2

Dr. Abdul R. Saliman, 2011, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, h. 56.

3Munir Fuady, 2001, Hukum Tentang Akuisisi, Take Over dan LBO (selanjutnya disingkat

(3)

(Perseroan Terbatas) yang mengalami pengambilalihan oleh suatu perusahaan (akuisisi). Pengambilalihan atau akuisisi dari sudut pandang ekonomis sangat efisien dan efektif diterapkan pada suatu perusahaan guna menekan pembengkakan biaya. Pada dasarnya, satu perusahaan atau lebih dapat menggabungkan diri menjadi satu dengan perusahaan lain yang telah ada, dengan memenuhi ketentuan dan batasan-batasan yang diberikan oleh

undang-undang dan peraturan hukum perusahaan.4

Akuisisi saham atau “shares acquisition” yang berarti

“mengambilalih” adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambilalih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut. Akuisisi perusahaan dimaksudkan untuk mengambilalih kepentingan-kepentingan pengontrol terhadap suatu perusahaan yang dilakukan biasanya dengan mengambilalih mayoritas saham atau mengambilalih sebagian besar

aset-aset perusahaan.5 Berbeda dengan merger dan konsolidasi di mana

hasilnya akan ada perusahaan yang lenyap sebagai akibatnya, maka dari tindakan akuisisi ini tidak ada perusahaan yang lenyap setelah akuisisi. Baik itu perusahaan pengambilalih (pengakuisisi) maupun perusahaan yang diambilalih (perusahaan target) tetap eksis setelah tindakan akuisisi terjadi. Hanya saja kekuasaan pengontrol terhadap perusahaan target saja yang

berubah sebagai akibat dari akuisisi tersebut.6

4

Budi Kagramanto, 2008, Mengenal Hukum Persaingan Bisnis (Berdasarkan UU No.5 Tahun 1999), Laros, Jakarta, h. 218.

5Munir Fuady I, Op.Cit, h. 92. 6

(4)

Perseroan Terbatas didirikan dan dijalankan berdasarkan atas Anggaran Dasar yang dibuat di antara para pemegang saham, sehingga segala hak dan kewajibannya pun harus dituangkan sejelas mungkin di dalam Anggaran Dasar tersebut, yang dapat digunakan sebagai perjanjian di antara mereka, karena dianggap sebagai perjanjian, maka Anggaran Dasar harus tunduk pada UUPT serta undang-undang dan peraturan lain yang

berkaitan dengan hak dan kewajiban pemegang saham. 7

Salah satu efek dari struktur kepemilikan melalui saham adalah terciptanya pemegang saham mayoritas dan minoritas, di mana dengan mekanisme pemilikan saham seperti itu, pemegang saham mayoritas menjadi pihak yang diuntungkan dengan sendirinya, karena semakin banyak saham yang dimiliki, maka semakin berkuasalah pemilik saham tersebut di dalam menentukan keputusan mengenai keberadaan dan jalannya suatu Perseroan Terbatas. Sebaliknya, pemegang saham minoritas akan berhadapan dengan resiko dirugikan oleh kekuasaan pemegang saham mayoritas karena kalah suara saat membuat keputusan mengenai jalannya suatu Perseroan Terbatas dalam RUPS.

Menanggapi keadaan ini, dalam Pasal 61, Pasal 62 dan Pasal 126 UUPT tercermin telah memberikan perlindungan hukum kepada pemegang saham, khususnya pemegang saham minoritas. Namun dengan melihat keadaan di lapangan yaitu pada akuisisi yang dilakukan PT. Bank Mandiri Tbk terhadap PT. Bank Sinar Harapan Bali, perlu dilakukan penelitian

(5)

karena tidak menutup kemungkinan pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui tindakan akuisisi tersebut belum memperoleh perlindungan hukum sebagaimana yang telah diatur dalam UUPT, bagaimanapun juga pemegang saham minoritas ini memiliki nilai saham dalam perusahaan yang diakuisisi tersebut.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk

mengangkat tulisan dalam bentuk skripsi yang diberi judul “Perlindungan

Hukum Terhadap Pemegang Saham Minoritas Pada Perseroan Terbatas yang Melakukan Akuisisi (Studi Kasus Pada PT.Bank Sinar Harapan Bali dan PT.Bank Mandiri Tbk)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan dua masalah sehubungan dengan judul skripsi ini, yaitu :

1. Bagaimana penerapan hak menjual saham (appraisal right)

terhadap pemegang saham minoritas dalam akuisisi Perseroan Terbatas?

2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap pemegang saham

minoritas pada akuisisi PT. Bank Sinar Harapan Bali oleh PT. Bank Mandiri Tbk?

(6)

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Agar pembahasan tidak terlalu luas dan menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka akan ditentukan mengenai batasan-batasan masalah yang akan diuraikan.

Pertama, akan meninjau secara umum mengenai akuisisi, yang menguraikan pengertian akuisisi, jenis-jenis akuisisi, subyek dalam akuisisi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan akuisisi pada umumnya. Selain itu,

akan dibahas pula mengenai penerapan hak menjual saham (appraisal right)

dalam fungsinya memberikan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas sehubungan dengan dilakukannya akuisisi Perseroan Terbatas.

Kedua, akan membahas tentang perlindungan hukum yang diberikan terhadap pemegang saham minoritas pada akuisisi PT. Bank Sinar Harapan Bali oleh PT. Bank Mandiri Tbk.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Dari hasil penelusuran yang dilakukan terhadap tulisan atau hasil

penelitian tentang “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Saham

Minoritas Pada Perseroan Terbatas Yang melakukan Akuisisi (Studi Kasus Pada PT. Bank Sinar Harapan Bali dan PT. Bank Mandiri

(7)

tetapi pernah ada yang meneliti tentang yang terkait dengan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas, yaitu :

No Judul Penulis Rumusan

Masalah 1. Skripsi: Tinjauan Terhadap Perlindungan Saham Minoritas Pada Perusahaan Go Public” Tulus Monang (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara) 1. Bagaimana perlindungan hukum atas

saham-saham minoritas dalam perusahaan yang Go public ? 2. Bagaimana penyelesaian yang ditempuh bilamana terjadinya pertentangan kepentingan antara pemegang saham mayoritas dan minoritas dalam pengambilalihan ? 2. Skripsi: Perlindungan Pemegang Saham

Minoritas dan Peranan Notaris PadaTransaksi Mengandung Benturan Kepentingan Setelah Revisi Peraturan Bapepam No.IX.E.1 Yuyun Harunisa (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta) 1. Bagaimana Perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dalam perusahaan

publik setelah revisi terhadap Peraturan Bapepam

(8)

2. Bagaimanakah peranan notaris dalam transaksi yang mengandung benturan kepentingan ? 3. Skripsi: Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Saham Minoritas Perseroan Terbatas Terbuka Dalam Rangka MenciptakanKepastian Hukum Sebagai Sarana Peningkatan Iklim Investasi Di Indonesia Arifin (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta)

1. Apa saja asas-asas

yang harus dipenuhi peraturan perundang undangan untuk melindungi pemegang saham minoritas Perseroan Terbatas Terbuka? 2. Bagaimana bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan terhadap pemegang saham minoritas perseroan terbatas Terbuka dalam melakukan penanaman modal di Indonesia ?

(9)

1.5 Tujuan Penelitian

1.5.1 Tujuan Umum

1. Untuk mengetahui secara umum prosedur pelaksanaan akuisisi

pada Perseroan Terbatas.

2. Untuk mengetahui akibat hukum dari pelaksanaan akuisisi pada

Perseroan Terbatas.

1.5.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui penerapan hak menjual saham (appraisal

right) terhadap pemegang saham minoritas dalam hal memberikan perlindungan hukum pada akuisisi Perseroan Terbatas.

2. Untuk mengetahui perlindungan hukum yang diperoleh oleh

pemegang saham minoritas pada Perseroan Terbatas yang melakukan akuisisi.

1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Manfaat Teoritis

1. Sebagai sumbangan pemikiran yang berkaitan dengan

pengaturan terhadap perlindungan hukum pemegang saham minoritasserta dapat dijadikan sebagai landasan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

(10)

2. Sebagai sumbangan pemikiran yang berkaitan dengan pemahaman dan gambaran mengenai proses pelaksanaan akuisisi pada Perseroan Terbatas.

1.6.2 Manfaat Praktis

1. Sebagai sumbangan pemikiran dalam menyelesaikan

permasalahan yang berhubungan dengan akuisisi Perseroan Terbatas.

2. Sebagai sumbangan pemikiran bagi masyarakat mengenai

kepastian hukum yang diberikan terhadap pemegang saham minoritas pada akuisisi Perseroan Terbatas

1.7 Landasan Teoritis

Dalam bahasa Indonesia istilah akuisisi perusahaan disebut dengan pengambilalihan perusahaan, yang dimaksud pengambilalihan adalah mengambilalih kepentingan pengontrol terhadap suatu perusahaan, yang dilakukan biasanya dengan mengambilalih mayoritas saham atau

mengambilalih sebagian besar aset-aset perusahaan.8 Dalam terminologi

bisnis, akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau aset suatu perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam peristiwa ini baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah.

8Munir Fuady I, Op.Cit, h. 92.

(11)

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas mendefinisikan akuisisi sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambilalih baik seluruh atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut. Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka akuisisi dapat disimpulkan sebagai pengambilalihan kepemilikan suatu perusahaan oleh perusahaan lain yang dilakukan dengan cara membeli sebagian atau seluruh saham perusahaan, dimana perusahaan yang diambilalih tetap memiliki hukum sendiri dan dengan maksud untuk pertumbuhan usaha.

Dalam skripsi ini, teori yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada yaitu dengan menggunakan teori kepastian hukum dan teori perlindungan hukum. Dalam Teori Kepastian Hukum, suatu perusahaan harus berdiri berdasarkan teori kepastian hukum dimana perusahaan tersebut harus berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk norma hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak dapat dijadikan sebagai pedoman perilaku bagi semua orang.

Kepastian hukum memiliki dua segi, yaitu dapat ditentukannya hukum dalam hal yang konkrit dan keamanan hukum. Hal ini berarti pihak yang mencari keadilan ingin mengetahui apa yang menjadi hukum dalam suatu hal tertentu sebelum ia memulai perkara dan perlindungan bagi para pihak

(12)

dalam kesewenangan hakim. Aspek substantif dari kepastian hukum pada esensinya membutuhkan penerapan konkrit dalam pelaksanaannya, yaitu penyelesaian dalam membuat putusan hukum harus benar substansinya dan harus dapat diterima. Teori kepastian hukum ini berkaitan dengan rumusan

masalah pertama yaitu mengenai penerapan hak menjual saham (appraisal

right) terhadap pemegang saham minoritas dalam akuisisi perseroan terbatas.

Terkait dengan kepastian hukum dalam pelaksanaan akuisisi, terdapat suatu hak khusus yang diberikan kepada pihak yang tidak setuju dilakukannya akuisisi, yaitu pemegang saham minoritas yang kalah suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (selanjutnya disebut RUPS). Terhadap pemegang saham minoritas ini, diberikan hak khusus yang dikenal

dengan hak menjual saham (appraisal right), yaitu hak yang dimiliki oleh

pemegang saham minoritas pada Perseroan Terbatas untuk menerima kompensasi dalam bentuk uang tunai dengan harga yang pantas terhadap saham yang dimilikinya pada Perseroan Terbatas yang bersangkutan, dalam hal menjual sahamnya sehubungan dengan ketidaksetujuan pemegang

saham minoritas terhadap dilakukannya akuisisi.9

Pasal 62 UUPT telah mengatur secara tegas, bahwa:

“ (1) Setiap pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yang merugikan pemegang saham atau Perseroan, berupa:

9Sri Redjeki Hartono, 2000, Kapita Selekta Hukum Perusahaan, Mandar Maju, Bandung,

(13)

a. Perubahan Anggaran Dasar;

b. Pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang

mempunyai nilai lebih dari 50% (lima puluh persen) kekayaan bersih Perseroan; atau

c. Penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan.

(2) Dalam hal saham yang diminta untuk dibeli sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) melebihi batas ketentuan pembelian kembali saham oleh Perseroan sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 ayat (1) huruf b, Perseroan dapat mengusahakan agar sisa saham dibeli oleh pihak ketiga”

Dalam hal ini, akuisisi yang dilakukan oleh Perseroan Terbatas membawa kerugian kepada pemegang saham minoritas, karena bagian kepemilikan saham mereka pada Perseroan Terbatas yang diakuisisi dapat dipastikan akan menjadi lebih kecil lagi dibandingkan dengan sebelumnya.

Berdasarkan Pasal 126 UUPT, dalam melakukan akuisisi, ditentukan beberapa syarat, yaitu:

“(1) Perbuatan hukum Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau

Pemisahan wajib memperhatikan kepentingan:

a. Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan Perseroan; b. kreditor dan mitra usaha lainnya dari Perseroan; dan

c. masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha.

(2) Pemegang saham yang tidak setuju terhadap keputusan RUPS

mengenai Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya boleh menggunakan haknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.

(3) Pelaksanaan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak

menghentikan proses pelaksanaan Penggabungan, Peleburan,

Pengambilalihan, atau Pemisahan.”

Berdasarkan ketentuan ayat (1) poin a diatas, yang mengatur secara tegas bahwa “Perbuatan hukum penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan wajib memperhatikan kepentingan Perseroan, pemegang saham minoritas dan karyawan Perseroan”. Ini dimaksudkan bahwa apabila

(14)

ada pemegang saham yang tidak setuju (dalam hal ini adalah pemegang saham minoritas) dengan adanya akuisisi Perseroan, padahal RUPS dengan suara mayoritas telah memutuskan untuk melakukan akuisisi. Untuk melindungi kepentingan pemegang saham yang tidak setuju terhadap keputusan akuisisi, maka pemegang saham minoritas tersebut oleh hukum diberikan suatu hak khusus yang disebut dengan dengan hak menjual saham (apprasial right.)

Teori yang menjadi landasan berikutnya adalah Teori Perlindungan Hukum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III menyebutkan

bahwa perlindungan adalah tempat berlindung atau melindungi.10

Pemberian perlindungan hukum tidak terlepas dari negara hukum. Negara Indonesia adalah negara hukum yang berlandaskan pada pancasila. Menurut Moh. Kusnadi dan Harmaily Ibrahim yang dimaksud negara hukum adalah negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga

negaranya.11 Philipus M. Hadjon menyatakan bahwa dengan adanya negara

hukum Pancasila, maka terwujudlah perlindungan hak asasi manusia bagi setiap warga negara, yang mana pengakuan yang berkaitan dengan perlindungan dalam hukum sebagai suatu pelaksanaan hak asasi manusia

yang dapat dipertanggung jawabkan dan tidak diskriminatif.12

Hubungan hukum yang terjadi antara pemerintah dengan warga negara tergantung dari sifat dan kedudukan pemerintah dalam melakukan

10Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Depdiknas, 2001, Balai Pustaka, Jakarta, h. 410. 11

Moh Kusnadi dan Harmaily Ibrahim, 1993, Hukum Tata Negara Indonesia, CV. Sinar Bakti, Jakarta, h. 155.

12

Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia, PT. Bina Ilmu, Surabaya, h. 11.

(15)

suatu tindakan hukum tersebut. Pemerintah mempunyai dua kedudukan yaitu pemerintah sebagai wakil dari badan hukum publik dan pemerintah sebagai pejabat dari jabatan pemerintah. Ketika pemerintah melakukan tindakan hukum dalam kapasitasnya sebagai badan hukum, tindakan itu diatur dan tunduk pada administrasi negara, baik tindakan hukum keperdataan maupun tindakan hukum publik dapat menjadi peluang munculnya suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan dapat melanggar hak-hak dari subyek hukum warga negara.

Pengertian perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan terhadap subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun

tidak tertulis.13 Dengan kata lain perlindungan hukum sebagai suatu

gambaran dari fungsi hukum, yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan kedamaian.

Perlindungan hukum merupakan konsep yang universal dari negara hukum. Perlindungan hukum diberikan apabila terjadi pelanggaran maupun tindakan yang bertentangan dengan hukum yang dilakukan pemerintah. Perlindungan hukum terdiri dari dua bentuk yaitu perlindungan hukum

preventif dan perlindungan hukum represif.14

13Ibid, h. 27.

(16)

1. Perlindungan hukum preventif

Preventif artinya rakyat diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitive. Dalam hal ini artinya perlindungan hukum yang preventif ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa. Perlindungan hukum yang preventif sangat besar artinya bagi tindak pemerintah yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan. Menurut Philipus M. Hadjon preventif merupakan keputusan-keputusan dari aparat pemerintah yang lebih rendah yang dilakukan sebelumnya. Tindakan

preventif adalah tindakan pencegahan15.

2. Perlindungan Hukum Represif

Perlindungan hukum represif berfungsi untuk menyelesaikan sengketa yang muncul apabila terjadi suatu pelanggaran. Dewasa ini di Indonesia terdapat berbagai badan yang secara partial menangani perlindungan hukum bagi rakyat. Menurut Rochmat Soemitro dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu :

a. Peradilan dalam lingkungan peradilan umum;

b. Instansi Pemerintah yang merupakan lembaga banding

administrasi;

15Hadjon dkk, 2002, Pengantar Administrasi Negara, Gajah Mada University, Yogyakarta, h.

(17)

c. Badan-badan khusus.

Dalam menentukan keputusan mengenai akuisisi, baik pemegang saham mayoritas maupun pemegang saham minoritas mempunyai hak yang

sama, terutama dalam hal hak suara yaitu satu saham adalah satu suara (one

share one vote). Dengan mekanisme kepemilikan yang demikian, pemegang saham mayoritas menjadi pihak yang diuntungkan dengan sendirinya. Semakin banyak saham yang dimilikinya, maka semakin berkuasalah pemegang saham tersebut di dalam menentukan keputusan mengenai keberadaan dan jalannya suatu Perseroan Terbatas. Sebaliknya, pemegang saham minoritas akan berhadapan dengan resiko dirugikan oleh kekuasaan pemegang saham mayoritas.

Adanya situasi yang demikian mengakibatkan timbulnya kerugian yang akan ditanggung oleh pemegang saham minoritas akibat tindakan Perseroan Terbatas yang tidak disetujui namun tetap dilaksanakan demi kepentingan dan kelanjutan dari Perseroan Terbatas tersebut. Menanggapi keadaan ini maka diperlukan suatu perlindungan hukum, khususnya untuk pemegang saham minoritas.

Berdasarkan atas pengertian perlindungan hukum yang telah dijabarkan diatas, maka yang dimaksud dengan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas ialah suatu upaya memberikan perlindungan secara hukum agar pemegang saham minoritas di dalam suatu Perseroan Terbatas dapat melaksanakan pemenuhan hak dan kewajibannya.

(18)

Sehubungan dengan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas, pasal-pasal dalam UUPT yang ditujukan untuk melindungi kepentingan pemegang saham minoritas, di antaranya :

a. setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap

perseroan ke Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan perseroan apabila dirugikan karena tindakan perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi dan/atau Dewan Komisaris (Pasal 61 ayat (1) dan (2) UUPT).

b. Pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan Terbatas

agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar bila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan perseroan yang merugikan pemegang saham atau perseroan, berupa: perubahan anggaran dasar; pengalihan atau penjaminan kekayaan perseroan terbatas yang mempunyai nilai lebih dari 50% kekayaan bersih perseroan atau penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan (Pasal 62 ayat (1) UUPT).

c. Pemegang saham dapat melakukan pemeriksaan terhadap

Perseroan Terbatas dengan tujuan untuk mendapatkan data atau keterangan dalam hal ada dugaan bahwa Perseroan Terbatas atau anggota direksi atau dewan komisaris melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang saham atau pihak ketiga (Pasal 138 ayat (1) UUPT)

(19)

d. Pemegang saham dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negari yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan Terbatas (Pasal 146 ayat (1) UUPT) Selain itu di dalam UUPT telah diatur tentang kepentingan pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas yang mencerminkan adanya perlindungan hukum. Di antara pasal-pasal tersebut terdapat ketentuan yang mengatur tentang tindakan derivatif, yakni ketentuan yang mengatur bahwa pemegang saham dapat mengambil alih untuk mewakili urusan perseroan demi kepentingan perseroan, karena menganggap direksi dan/atau komisaris telah lalai melaksanakan kewajibannya kepada perseroan.

Tindakan derivatif tersebut diantaranya :

a. Pemegang saham dapat melakukan tindakan-tindakan atau

bertindak selaku wakil perseroan terbatas dalam memperjuangkan

kepentingan perseroan terbatas terhadap tindakan yang

menimbulkan kerugian pada perseroan terbatas, sebagai akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh anggota dewan direksi dan/atau anggota dewan komisaris (Pasal 97 ayat (6) jo. Pasal 114 ayat (6) UUPT).

b. Melalui ijin Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya

meliputi tempat kedudukan Perseroan Terbatas, pemegang saham dapat melakukan sendiri pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham dalam hal direksi atau dewan komisaris tidak melakukan pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham dalam jangka waktu

(20)

paling lambat lima belas (15) hari terhitung sejak tanggal permintaan penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham diterima (Pasal 80 ayat (1) UUPT).

Berdasarkan pemahaman diatas, penting adanya suatu perlindungan hukum yang diberikan kepada pemegang saham minoritas karena kalah suara dalam RUPS saat pengambilan keputusan untuk melaksanakan akuisisi tersebut, sebab bagaimana pun juga pemegang saham minoritas ini memiliki nilai saham didalam perusahaan yang akan diakuisisi tersebut.

1.8 Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1.8.1 Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris yang artinya penelitian hukum mengenai pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum normatif pada setiap

peristiwa hukum tertentu yang terjadi di dalam masyarakat.16 Dalam

penulisan skripsi ini, dilakukan penelitian dengan mengkaji permasalahan yang tidak terlepas dari penerapan Undang-Undang Perseroan Terbatas dalam masyarakat, sebagai dasar hukum terhadap pelaksanaan akuisisi perseroan terbatas.

16

(21)

1.8.2 Jenis Pendekatan

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat hukum empiris dengan menggunakan pendekatan :

a. Pendekatan Fakta (The Fact Approach)

Pendekatan ini dilakukan dengan mengkaji kenyataan yang ada di lapangan tentang kendala-kendala yang dapat menghambat penerapan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas dalam akuisisi perseroan terbatas.

b. Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach)

Pendekatan ini dilakukan dengan mengkaji berdasarkan peraturan perundang-undangan, terkait dengan masalah yang telah dirumuskan untuk dapat menjelaskan bagaimana perlindungan hukum yang diberikan terhadap pemegang saham minoritas dalam akuisisi perseroan terbatas.

c. Pendekatan Analisis Konsep Hukum (Analitical & Conseptual

Approach)

Pendekatan ini digunakan untuk meneliti pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum

khususnya mengenai doktrin peranan appraisal right dalam

memberikan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas.

(22)

1.8.3 Sifat Penelitian

Berdasarkan keterangan diatas, maka sifat penelitian hukum empiris yang digunakan adalah penelitian yang sifatnya deskriptif, yang berupaya untuk menggambarkan secara lengkap mengenai hal-hal yang berkaitan

dengan masalah yang diteliti. Penelitian deskriptif, bertujuan

menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.

1.8.4 Sumber Data

Oleh karena metode penelitian yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini menggunakan pendekatan hukum empiris, maka data yang

dibutuhkan adalah sebagai berikut:17

1. Sumber data primer (field research) yaitu data yang bersumber

dari penelitian lapangan yaitu suatu data yang diperoleh langsung dari sumber utama di lapangan yaitu baik dari responden maupun informan. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dan diperoleh melalui penelitian di PT. Bank Sinar Harapan Bali dan PT. Bank Mandiri Tbk dengan cara mengadakan wawancara dan melakukan penelitian langsung pada pihak yang terkait dengan permasalahan.

17

Roony Hanitijo Soemitro, 1983, Metodologi Penelitian Hukum, Cetakan I, Ghalia Indonesia, Jakarta, h.24.

(23)

2. Sumber data sekunder (library research) merupakan suatu data yang bersumber dari penelitian kepustakaan yaitu data yang diperoleh tidak secara langsung dari sumber pertamanya, melainkan bersumber dari data-data yang sudah terdokumenkan dalam bentuk bahan-bahan hukum. Bahan hukum yang dipergunakan untuk menunjang pembahasan permasalahan diatas adalah bahan hukum yang diperoleh dengan penelitian kepustakaan. Bahan hukum ini dibagi 3 (tiga) macam, yaitu :

1) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat secara umum (perundang-undangan) atau mempunyai kekuatan mengikat bagi pihak yang berkepentingan (kontrak, konvensi, dokumen hukum dan yurisprudensi).

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yaitu buku-buku dan literatur yang ada kaitannya dengan masalah yang menunjang bahan hukum primer.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder (rancangan undang-undang, kamus hukum dan ensiklopedia).

(24)

1.8.5 Teknik Pengumpulan Data Hukum

Dalam suatu penelitian, terdapat beberapa teknik pengumpulan data, yaitu melalui studi dokumen, wawancara, observasi dan penyebaran kuisioner/angket. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1) Teknik Studi Dokumen

Teknik studi dokumen merupakan teknik awal yang digunakan dalam setiap penelitian ilmu hukum, baik dalam penelitian hukum normatif maupun dalam penelitian hukum empiris. Dalam penelitian ini dilakukan teknik studi dokemen terhadap sumber kepustakaan yang relevan dengan permasalahan penelitian dengan cara membaca, mencari, mempelajari dan mencatat kembali data yang kemudian di kelompokkan secara sistematis yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian skripsi ini.

2) Teknik Wawancara

Teknik wawancara yaitu suatu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data guna mencari informasi dengan cara mengadakan tanya jawab secara lisan dan tulisan yang diarahkan pada masalah tertentu dengan informan yang dalam hal ini terdiri dari Bapak/Ibu Karyawan pada PT. Bank Sinar Harapan Bali dan PT.Bank Mandiri Tbk.

(25)

1.8.6 Teknik Penentuan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah pemegang saham minoritas.

Cara pengambilan sampel ini ditentukan dengan teknik non probability

sampling. Adapun bentuk dari teknik non probability sampling yang

digunakan adalah Purposive Sampling dengan kriteria bahwa perusahaan

yang diteliti atau dipilih haruslah perusahaan yang berbadan hukum, bergerak dibidang lembaga keuangan (bank), dan telah melakukan akuisisi yaitu PT. Bank Mandiri Tbk. Denpasar dan PT. Bank Sinar Harapan Bali Denpasar.

1.8.7 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Setelah data terkumpul, baik data lapangan (data primer) maupun data sekunder, kemudian dilakukan analisis secara kualitatif. Dalam penelitian dengan teknis kualitatif maka keseluruhan data yang terkumpul akan diolah dan dianalisis dengan cara menyusun data secara sistematis, digolongkan dalam pola dan tema, dikategorisasikan dan diklasifikasikan, dihubungkan antara satu data dengan data lainnya, dilakukan interpretasi dengan merujuk pada landasan teoritis, konsep, pandangan-pandangan sarjana yang relevan untuk memahami makna dalam situasi sosial dan dilakukan penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan

kualitas data.18 Setelah dilakukan analisis secara kualitatif, kemudian data

akan disajikan secara deskriptif analisis.

18Ade Saptomo, 2009, Pokok-Pokok Metodologi Penelitian Hukum Empiris Murni Sebuah

(26)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :