Penerapan standar pelayanan kefarmasian pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di kota Yogyakarta - USD Repository

167 

Teks penuh

(1)

PENERAPAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN ASMA OLEH APOTEKER PADA SEPULUH APOTEK DI KOTA

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

SuhartatiMentari Rurubua’ NIM : 108114139

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

PENERAPAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN ASMA OLEH APOTEKER PADA SEPULUH APOTEK DI KOTA

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

SuhartatiMentari Rurubua’ NIM : 108114139

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

Ketika dunia berkata “Menyerahlah”,

Harapan berkata “Cobalah Sekali Lagi”.

.

Roma 4 : 1-25, Markus 11 : 24, bahwa hiduplah dalam Iman,

Percaya dan Pengharapan

Karya sederhana yang kupersembahkan :

Kepada Bapa disurga, Tuhan Yesus sang Juruslamatku atas

semua berkat dan pernyertaannya dan Bunda Maria

Alm. Papa Zeth yang pernah hadir menjadi Ayah yang luar

biasa dalam hidupku

Bapak dan Mama atas kasih sayang, dukungan, dan Doanya

Adek Anne, Tri, Lin, Alex tersayang

Orang yang aku sayangi, Sahabat-sahabatku,

Almamater kebanggaanku…

iv

Ketika dunia berkata “Menyerahlah”,

Harapan berkata “Cobalah Sekali Lagi”.

Roma 4 : 1-25, Markus 11 : 24, bahwa hiduplah dalam Iman,

Percaya dan Pengharapan

Karya sederhana yang kupersembahkan :

Kepada Bapa disurga, Tuhan Yesus sang Juruslamatku atas

semua berkat dan pernyertaannya dan Bunda Maria

Alm. Papa Zeth yang pernah hadir menjadi Ayah yang luar

biasa dalam hidupku

Bapak dan Mama atas kasih sayang, dukungan, dan Doanya

Adek Anne, Tri, Lin, Alex tersayang

Orang yang aku sayangi, Sahabat-sahabatku,

Almamater kebanggaanku…

Ketika dunia berkata “Menyerahlah”,

Harapan berkata “Cobalah Sekali Lagi”.

Roma 4 : 1-25, Markus 11 : 24, bahwa hiduplah dalam Iman,

Percaya dan Pengharapan

Karya sederhana yang kupersembahkan :

Kepada Bapa disurga, Tuhan Yesus sang Juruslamatku atas

semua berkat dan pernyertaannya dan Bunda Maria

Alm. Papa Zeth yang pernah hadir menjadi Ayah yang luar

biasa dalam hidupku

Bapak dan Mama atas kasih sayang, dukungan, dan Doanya

Adek Anne, Tri, Lin, Alex tersayang

(6)
(7)
(8)

vii PRAKATA

Puji syukur dan berlimpah terima kasih kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Farmasi (S. Farm), pada Program Studi Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma.

Pada awal proses penelitian dan penyusunan skripsi hingga selesainya, penulis telah banyak memperoleh bantuan berupa dukungan, bimbingan, arahan, hingga bantuan sarana dan prasarana dari berbagai pihak. Atas segala bantuan yang diberikan, penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orangtua yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang, yang telah bekerja keras demi membiayai kuliah saya, mendoakan dan selalu mendukung saya

2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

3. Adek – Adek (Anne, Tri, Lin, Alex) atas segala doa, kasih sayang, dukungan, pengertian yang telah diberikan

4. Aris Widayati, M.Si., Ph. D., Apt. selaku pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bagitu banyak dukungan, bimbingan, ilmu, saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat selesai

(9)

viii

6. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan, saran dan kritik

7. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Dinas Perizinan Kota Yogyakarta yang telah memberikan izin dan membantu dalam menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan untuk penelitian

8. Bapak/ Ibu apoteker di apotek-apotek di Kota Yogyakarta yang telah berkenan untuk menjadi responden dalam penelitian ini

9. Mas Narto yang selalu membantu dalam membuat surat pengantar dari kampus untuk kebutuhan pelaksanaan penelitian

10. Ariben yang telah memberikan dukungan, kasih sayang, dan pengertian 11. Tere, Mirsha, Dika yang telah bersama-sama saling mendukung dan

berjuang demi menyelesaikan skripsi

12. Teman-teman FKK B 2010 yang telah berdinamika bersama, belajar bersama selama proses perkuliahan. Terima kasih untuk kenangan manis yang kita buat bersama

13. Kak Sandi yang telah memberi semangat dan selalu mendoakan, serta teman-teman Sang-Torayan di Yogyakarta yang selalu memberi dukungan dan telah berjuang bersama untuk study di Yogyakarta.

(10)
(11)

x DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

INTISARI... xviii

ABSTRACT... xix

BAB I PENGANTAR ... 1

A. Latar Belakang ... 1

1. Permasalahan... 4

2. Keaslian penelitian ... 5

3. Manfaat penelitian... 6

B. Tujuan Penelitian ... 8

1. Tujuan umum ... 8

2. Tujuan khusus ... 8

(12)

xi

A. Gambaran Umum Asma... 9

1. Pengenalan asma ... 9

2. Epidemiologi asma... 10

B. Perkembangan Profesi Kefarmasian ... 12

1. Periode tradisional (sebelum tahun 1940-an)... 12

2. Periode transisional (tahun 1960-1970) ... 12

3. Periode masa kini (dimulai tahun 1970) ... 13

C. Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care)... 13

D. Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) ... 15

1. Pengkajian (assessment)... 15

2. Penyusunan rencana pelayanan (care plan development)... 15

3. Tindak lanjut evaluasi (follow-up evaluation) ... 16

E. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek... 16

1. Aspek sumber daya ... 17

2. Aspek pelayanan ... 19

F. Keterangan Empiris... 36

BAB III METODE PENELITIAN... 37

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 37

B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ... 37

C. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38

D. Subjek Penelitian... 39

(13)

xii

F. Metode Pengambilan Data ... 41

G. Instrumen Penelitian... 41

1. Perumusan pertanyaan-pertanyaan... 42

2. Pengujian panduan wawancara dan proses wawancara ... 42

H. Tata Cara Penelitian dan Analisis Data... 43

1. Menentukan jadwal wawancara ... 44

2. Melaksanakan wawancara... 44

3. Melakukan analisis data ... 44

I. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian... 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 48

A. Karakteristik Demografi Responden... 48

B. Profil Pelaksanaan Pelayanan Resep pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta... 50

1. Skrining administratif ... 51

2. Skrining kesesuaian farmasetik... 54

3. Skrining pengkajian klinis ... 56

4. Proses penyiapan obat ... 58

C. Profil Pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta... 61

1. Bentuk kegiatan pelayanan informasi obat ... 61

2. Penyampaian informasi obat ... 65

(14)

xiii

D. Profil Pelaksanaan Konseling pada Pasien Asma oleh Apoteker

pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta... 75

1. Kegiatan konseling... 75

2. Materi konseling... 78

3. Prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling ... 79

4. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien terhadap pengobatan yang telah dijelaskan dokter ... 84

5. Bentuk pertanyaan untuk memastikan pengetahuan pasien dan keluarganya ... 85

6. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) ... 87

E. Profil Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta ... 93

1. Bentuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi untuk meningkatkan keberhasilan terapi pasien asma ... 93

2. Kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat (ESO) ... 94

F. Profil Pelaksanaan Edukasi dan Promosi pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta... 96

1. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan kepada pasien asma dan keluarganya (promosi)... 96

(15)

xiv

1. Pelayanan residensial (home care)... 98

2. Langkah-langkah pelaksanaan pelayanan residensial (home care) ... 99

H. Ringkasan Pembahasan ... 101

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 107

A. Kesimpulan ... 107

B. Saran... 108

DAFTAR PUSTAKA ... 110

LAMPIRAN ... 115

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Karakteristik demografi responden ... 49

Tabel II. Bentuk skrining administratif... 51

Tabel III. Alasan responden tidak melakukan skrining

administratif secara lengkap... 53

Tabel IV. Ketentuan skrining kesesuaian farmasetik ... 54

Tabel V. Alasan responden tidak melakukan skrining

kesesuaian farmasetik secara lengkap ... 55

Tabel VI. Kegiatan skrining pengkajian klinis... 56

Tabel VII. Kegiatan proses penyiapan obat... 59

Tabel VIII. Alasan responden tidak melakukan proses penyiapan

obat secara lengkap ... 60

Tabel IX. Kegiatan pelayanan informasi obat... 62

Tabel X. Alasan responden tidak melakukan penelusuran

literature... 64

Tabel XI. Jenis informasi obat... 66

(17)

xvi

Tabel XIII. Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi... 69

Tabel XIV. Sasaran pemberian konseling... 76

Tabel XV. Materi konseling... 78

Tabel XVI. Prosedur tetap pelaksanaan konseling... 80

Tabel XVII. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien... 85

Tabel XVIII. Bentuk pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan”... 86

Tabel XIX. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) ... 87

Tabel XX. Frekuensi pelaksanaan konseling yang dilaksanakan oleh responden ... 89

Tabel XXI. Bentuk monitoring dan evaluasi... 93

Tabel XXII. Bentuk kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO ... 94

Tabel XXIII. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan ... 96

Tabel XXIV. Kriteria pelayanan residensial bagi pasien asma... 98

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian dan Pengambilan

Data kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta ... 115

Lampiran 2. Surat Keputusan Izin Penelitian dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta ... 116

Lampiran 3. Surat Keputusan Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta... 117

Lampiran 4. Surat Permohonan Izin Penelitian dan Pengambilan Data (Wawancara) kepada Apoteker Pengelola Apotek di Apotek-Apotek Tempat Meneliti di Kota Yogyakarta ... 118

Lampiran 5. Daftar Sampel 10 Apotek di Kota Yogyakarta ... 119

Lampiran 6. Panduan Wawancara Terstruktur ... 120

(19)

xviii

INTISARI

Penyakit asma merupakan masalah kesehatan yang serius. Penderita asma diperkirakan 25,9 juta dan terus meningkat serta menduduki urutan ke tiga penyebab kunjungan pasien ke rumah sakit di Yogyakarta. Salah satu penyebab kekambuhan adalah ketidakpatuhan pengobatan pasien. Apoteker wajib melaksanakan pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) untuk pasien meliputi pelayanan resep, pelayanan informasi obat, konseling, monitoring dan evaluasi, edukasi dan promosi, serta pelayanan residensial yang berpengaruh pada kepatuhan pengobatan pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran kesesuian penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

Jenis penelitian adalah observasional dengan mengambil data selama periode Februari 2014 - Maret 2014 melalui wawancara terstruktur terkait penerapan Pharmaceutical care kepada apoteker. Data dianalisis dengan pendekatan kualitatif secara thematic dan content analysis dengan melihat acuan standar yang ditetapkan. Pemaparan hasil ditampilkan dalam bentuk tabel.

Hasil penelitian dari 12 responden diketahui bahwa penerapan Pharmaceutical careuntuk pasien asma di sepuluh apotek belum dilakukan secara optimal dan belum memenuhi standar pelayanan kefarmasian dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Oleh karena itu perlu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian oleh apoteker dengan melaksanakan standar yang berlaku.

(20)

xix

ABSTRACT

Asthma is a serious health problem. An estimated 25.9 million people with asthma and continues to increase also ranks the third leading cause of patient visits to the hospital in Yogyakarta. One cause of relapse is noncompliance treatment of patient. Pharmacist are required to implementing pharmaceutical care for patient include prescriptions, drug information services, counseling, monitoring and evaluation, education and promotion, also home care that affect patient treatment compliance. The purpose of the study was to determine the suitability overview of the application of pharmaceutical care to patient with asthma by pharmacists in ten pharmacies at Yogyakarta City with reference of the standard Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

This research was observational type with taken the data during the period February 2014 - March 2014 through a structured interview related to the implementation of Pharmaceutical care to pharmacist. The data was analized with qualitative approach thematically and content analysis by referring to the established standarts. Exposure results displayed in tabular form.

The results of the study from 12 respondents found that the application of pharmaceutical care for patient with asthma in ten pharmacies was not performed optimally and not meet the standard of pharmaceutical care in Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 yet. Therefore necessary efforts to improve the quality of pharmaceutical services by pharmacist with implement the applicable standard.

(21)

1 BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang

Asma saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Data National Health Interview Survey (NHIS) memperkirakan 25,9 juta orang menderita asma dimana 7,1 juta adalah anak-anak (NHIS, 2011). Hasil prediksi Departemen Kesehatan RI, kasus pasien dengan penyakit asma di Indonesia pada tahun 1996 adalah 5% meningkat mencapai 15% pada tahun 2005 (Suryaningnorma, 2009). Khusus daerah Yogyakarta prevalensi penyakit asma sebesar 3,46% (Oemiati, 2010).

Beberapa penelitian mengemukakan bahwa peningkatan kejadian serangan kekambuhan pada penderita asma khususnya anak-anak menyebabkan mereka harus absen sekolah. Di Asia anak-anak tersebut kehilangan 16% hari sekolah, 43% hari sekolah untuk anak di Eropa, dan 40% hari sekolah untuk anak-anak di Amerika Serikat (Health,2005). Penderita asma dengan derajat kekambuhan sedang hingga besar untuk orang dewasa yang berprofesi sebagai pekerja harus melakukan absen kerja lebih dari 6 hari per tahun sebesar 19,2%, dan pada penderita asma dengan derajat kekambuhan ringan sebesar 4,4% (Sundaru,2007).

(22)

biaya yang keluar akibat hilangnya hari sekolah anak-anak yang terserang asma, aktifitas atau biaya lain yang berkaitan (ISAAC, 1998).

Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta juga menyatakan bahwa asma menduduki peringkat ke-3 penyebab peningkatan kunjungan pasien ke rumah sakit, bahkan sempat menduduki peringkat pertama pada tahun 2010. Selain itu, survey yang dilakukan oleh Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005 menyatakan sebanyak 225.000 orang meninggal dikarenakan asma dan dari jumlah tersebut sebanyak 16,4% kejadiannya terjadi di Kota Yogyakarta (Dinkes D.I Yogyakarta, 2012).

Angka kejadian kekambuhan asma pada dasarnya dapat dicegah dan diminimalisir (Lahdensuo, 1999). Pencengahan tersebut dilakukan dengan menerapkan manajemen asma sehingga dapat membantu memperbaiki kualitas hidup dan menurunkan kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD), mengurangi biaya perawatan secara lebih efektif dan mengurangi kekambuhan asma. (Lahdensuo, 1996). Pengobatan Asma dibagi dalam 2 metode yaitu Long-term controller (Pengontrol jangka panjang) dan Quick Reliever (Pereda Jangka Pendek). Dua metode tersebut mutlak memerlukan kepatuhan pengobatan pasien asma (Dipiro, 2005).

(23)

mengetahui hubungan terapi yang baik, keefektifan terapetik dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien (Depkes RI, 2007). Salah satu tenaga kesehatan yang berperan adalah tenaga kefarmasian terutama apoteker sebagai tenaga profesional yang bertugas untuk memberikan pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care).

Pharmaceutical care merupakan bentuk pelayanan yang lebih menekankan padapatient oriented dimana apoteker memegang peran penting dan bertanggung jawab untuk mewujudkan tercapainya penggunaan obat yang rasional, aman dan efisien sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini dapat terselenggara dengan memberikan edukasi, mengarahkan pasien terkait pemeriksaan diri, memberikan motivasi kepada pasien agar patuh dalam pengobatan, memberikan informasi, memantau penggunaan obat, memberikan konseling dan membantu pencatatan untuk pelaporan yang tentunya harus disertai dengan bekal pengetahuan yang memadai dan sesuai dengan standar pelayanan Apoteker (Depkes RI, 2007).

Mengingat pentingnya pemberian pelayanan kefarmasian yang memiliki pengaruh terhadap kepatuhan dan peningkatan kualitas hidup pasien, maka ditetapkan standar pelaksanaan kefarmasian di apotek dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 sebagai salah satu pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam melaksakan pelayanan kepada pasien (Depkes RI, 2009).

(24)

mengenai “Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian pada Pasien Asma oleh

Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta” dengan mengacu pada

standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 .

1. Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa tingkat kekambuhan penyakit asma masih menjadi masalah serius di dunia termasuk Indonesia seperti di Kota Yogyakarta. Faktor penyebab tingginya kekambuhan penyakit asma dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah ketidakpatuhan pasien asma terhadap pengobatan. Apoteker memiliki peran penting untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien dengan memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah melihat kesesuaian penerapan standar pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care)pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengunakan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Terkait hal tersebut, beberapa hal penting yang akan diidentifikasi adalah :

a. Seperti apa pelayanan resep pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ?

b. Seperti apa pelayanan informasi obat pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ?

(25)

d. Seperti apa monitoring dan evaluasi pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ?

e. Seperti apa edukasi dan promosi pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ?

f. Seperti apa pelayanan residensial (home care) pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ? 2. Keaslian penelitian

Penelitian yang lain oleh Sukmajati (2008) yang berjudul “Pelaksanaan

Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 di Kota Yogyakarta”. Sukmajati (2008)

melakukan penelitian pada semua aspek yang terdapat dalam standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 di Kota Yogyakarta, sedangkan pada penelitian ini lebih ditekankan kesesuaian penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma berdasarkan aspek pelayanan menurut standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

Pernah dilakukan penelitian mengenai “Penerapan Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek di Kota Medan Tahun 2008” oleh Ginting (2009).

(26)

dengan menggunakan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Selain itu lokasi tempat penelitian berbeda, dimana pada penelitian Ginting (2009) dilakukan di kota Medan sedangkan pada penelitian ini dilakukan sepuluh apotek Kota Yogyakarta.

Pernah dilakukan penelitian mengenai “Analisis Aplikasi Standar

Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kota Yogyakarta” oleh Atmini, Gandjar, dan

Purnomo (2011). Perbedaan dengan penelitian ini ialah pada penelitian Atmini dkk. (2011) ingin melihat gambaran pelaksanaan standar pelayanan farmasi secara umum dengan responden apoteker, karyawan dan pasien, sedangkan pada penelitian ini ingin melihat penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis. Memberikan gambaran terkait kesesuian maupun hal

yang tidak sesuai dalam “Penerapan Pharmaceutical carepada Pasien

Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta”

menurut standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

b. Manfaat praktis. Hasil penelitian yang diperoleh dapat digunakan sebagai:

(27)

yang dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi atau Dinas Kesehatan Kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2) Memberikan gambaran bagi mahasiswa farmasi atau calon

apoteker yang tertarik dalam pelayanan di apotek terkait penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

3) Sebagai bahan kajian bagi apotek-apotek dalam rangka upaya evaluasi untuk pembinaan kedepan demi peningkatan mutu, efisiensi pelayanan terhadap pasien asma oleh apoteker maupun tenaga kefarmasian lainnya yang bekerja di apotek sehingga dengan demikian diharapkan akan berpengaruh pada tingkat pemahaman dan kepatuhan pasien pasien asma, menurunkan tingkat keparahan serangan asma dan meningkatkan kualitas hidup penderita asma.

(28)

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui gambaran penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi pelayanan resep yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

b. Mengidentifikasi pelayanan informasi obat yang diberikan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

c. Mengidentifikasi pelayanan konseling yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

d. Mengidentifikasi monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

e. Mengidentifikasi edukasi dan promosi yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

(29)

9 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Asma 1. Pengenalan asma

a. Pengertian. Asma adalah salah satu penyakit inflamasi kronis pada saluran napas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Penyakit ini ditandai dengan terjadinya mengi episodik, batuk, dan sesak yang terasa di dada disebabkan karena terjadinya penyumbatan saluran napas (GINA,2007 dan Bernstein, 2003).

Menurut Nelson (1996), asma didefinisikan sebagai tanda dan gejala Wheezing atau mengi dan atau batuk yang memiliki karakteristik seperti ; timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung terjadi pada malam hari atau dini hari (nocturnal), bersifat musiman, adanya aktivitas fisik sebagai faktor pencetus yang reversibel baik secara spontan maupun karena terjadinya penyumbatan, faktor pencetus lain yaitu adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien atau keluarganya

(30)

antara lain adalah : ozon, rinovirus, dan pemakaian β2-agonis (Depkes RI, 2009).

c. Tanda dan gejala asma. Pada penderita asma, tanda awal yang bisa dikenali untuk indikasi pasien tersebut mendapat serangan asma adalah pasien akan mengalami perubahan pola pernapasan, mengalami bersin-bersin, hidung mampat, tengggorokan terasa gatal, mengalami susah tidur, tidak dapat melakukan olahraga yang berat seperti orang sehat normal lainnya, batuk, terjadi penurunan prestasi dalam penggunaan Peak Flow Meter, dan mudah merasa lelah (Depkes RI, 2007).

2. Epidemiologi asma

Penyakit asma diketahui memiliki prevalensi yang tinggi serta tergolong dalam penyakit kronik. Di Negara maju maupun di Negara berkembang, ditemukan sebagian besar penyakit asma diderita oleh anak dan orang dewasa. Penderita asma didunia tercatat mencapai 300 juta manusia yang disertai dengan kejadian kekambuhan pada penderita tersebut dan angka ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan pada tahun 2025 hingga mencapai 400 juta manusia (Masoli, 2004).

(31)

Penelitian yang pernah dilakukan di Australia pada tahun 1982 diketahui sebesar 12,9% masyarakatnya menderita asma pada usia 8-11 tahun, kemudian terjadi peningkatan pada tahun 1992 sebesar 29,7%. Hasil yang bervariasi ditunjukkan di Indonesia, di beberapa Kota besar seperti Yogyakarta prevalensi penderita asma ditemukan sebesar 4,8%, 7,99% di Menado, 8,08% di Palembang, dan 17% di Ujung Pandang (Naning,1991).

Menurut survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005 mengemukakan bahwa tercatat sebanyak 225.000 orang meninggal karena asma dari jumlah tersebut sebanyak 16,4 % kejadiannya terjadi di Kota Yogyakarta. Penelitian oleh Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta menyatakan bahwa asma selalu menduduki peringkat 3 besar penyebab peningkatan kunjungan pasien, bahkan pada tahun 2010 asma bergeser menduduki urutan peringkat pertama (Dinkes D.I Yogyakarta, 2012).

(32)

B. Perkembangan Profesi Kefarmasian

Sebelum tahun 1940-an profesi kefarmasian terus mengalami perubahan. Dalam perkembangan sejarahnya profesi kefarmasian mengalami beberapa tahap perubahan periode.

1. Periode tradisional (sebelum tahun 1940-an)

Pada periode ini pekerjaan seorang farmasi masih berorientasi pada penyediaan, pembuatan/peracikan, dan pendistribusian produk yang berkhasiat sebagai obat. Setelah terjadi perkembangan dalam perindustrian, banyak perusahaan-perusahaan yang memproduksi obat dalam skala besar yang menyebabkan profesi farmasis menjadi menyempit dikarenakan peracikan obat menjadi semakin jarang (Ikawati, 2010).

2. Periode transisional (tahun 1960-1970)

(33)

3. Periode masa kini (dimulai tahun 1970)

Pada periode ini terjadi perubahan dalam praktek kefarmasian dikarenakan adanya tuntutan pelayanan farmasi yang tidak lagi berorientasi hanya pada produk saja namun bergeser lebih pada pelayanan terhadap pasien. Periode ini juga dikenal dengan periodePharmaceutical care(Pradipta, 2011).

Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) merupakan upaya peningkatan kesehatan yang diberikan dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat dimana pelayanan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan pekerjaan kefarmasian terutama dalam profesinya sebagai Apoteker (Kepmenkes RI, 2008).

C. Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care)

Pharmaceutical careadalah rancangan dasar dalam pekerjaan kefarmasian yang menyiratkan suatu tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan dalam pemberian obat pada pasien. Bentuk tanggung jawab itu sendiri antara lain adalah dalam bentuk pelayanan. Pharmaceutical care dapat dijadikan penuntun bagi tenaga kefarmasian untuk menerapkan suatu pelayan terhadap pasien (IAI DIY, 2010). Dalam pekerjaan kefarmasian seseorang dengan profesi apoteker memiliki tanggung jawab dalam bentuk pelayanan demi meningkatkan kualitas hidup pasien, hal ini disebut dengan asuhan kefarmasian (Pharmaceutical care) (Depkes RI, 2009).

(34)

memperlambat proses penyakit, ataupun pencegahan terhadap suatu penyakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien (Trisna, 2007). Pelayanan yang diberikan haruslah dapat dipertanggung jawabkan dan memenuhi aturan yang berlaku, sehingga ditetapkanlah suatu Undang-Undang yang mengatur tentang pelayanan kefarmasian baik itu di Rumah Sakit maupun di apotek. Salah satu keputusan yang dirancang oleh Departemen Kesehatan RI adalah SK Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (Kepmenkes RI, 2008).

DalamPharmaceutical careterdapat 2 hal yang sangat ditekankan, yaitu : 1. Pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh apoteker sesuai

dengan kondisi dan kebutuhan pasien

2. Membuat komitmen untuk dapat meneruskan pelayanan setelah dimulai secara terus-menerus (Lukmanto, 2007).

Menurut Hepler and Strand (1990) dalamPharmaceutical carememiliki 3 fungsi utama yaitu :

1. Mengidentifikasi secara aktual dan potensial terkait masalah yang berkaitan dengan obat

2. Menangani masalah yang berhubungan dengan kejadian Drug Related Problem(DRP)

(35)

D. Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) Pada penerapan Pharmaceutical care, apoteker memiliki peranan penting untuk mendidik pasien yang berdampak pada sikap atau perilaku positif pasien dalam berkontribusi untuk mendukung pencapaian terapi pengobatan yang dijalaninya (ASHP, 1993).

Terdapat standar perawatan yang ditetapkan bagi apoteker yang berperan sebagai praktisi. Standar yang ditetapkan ini merupakan sekumpulan harapan yang diharapkan dari kinerja seorang praktisi dari segi individual (Cipolle, Strand, and Morley, 2003).

1. Pengkajian (assessment)

a. Pada kategori ini, praktisi wajib untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk digunakan dalam mengambil keputusan terkait terapi obat yang diberikan kepada pasien.

b. Praktisi wajib untuk menganalisis pengkajian data untuk melihat apakah kebutuhan pengobatan pasien telah terpenuhi, sudah tepat, sudah paling efektif, paling aman, dan pasien mampu serta bersedia untuk mengambil obat yang diberikan.

c. Praktisi melakukan analisis terhadap pengkajian data untuk menentukan apakah terdapat masalah terkait terapi pengobatan yang dijalani pasien (Cipolleet al, 2003).

2. Penyusunan rencana pelayanan (care plan development)

(36)

berguna untuk menyelesaikan masalah terapi pengobatan, mencapai tujuan terapi dan mencegah terjadinya masalah dalam pengobatan, dilanjutkan penentuan jadwal sebagai bentuk tindak lanjut dan evaluasi untuk melihat efektifitas pengobatan dan menilai kejadian efek samping obat yang mungkin dialamin oleh pasien (Cipolleet al, 2003).

3. Tindak lanjut evaluasi (follow-up evaluation)

Praktisi wajib melakukan evaluasi hasil nyata yang dialami pasien dan menetapkan sejauh mana kemajuan pasien terhadap pencapaian terapi, menentukan jika ada masalah terhadap keamanan atau kepatuhan pasien, dan menilai apakah ada masalah baru yang muncul dari pengobatan pasien (Cipolleet al, 2003).

E. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Apotek adalah suatu tempat dilaksanakannya kegiatan dan tugas terkait kefarmasian, penditribusian sediaan farmasi dan pemberian edukasi kepada masyarakat. Apotek berguna sebagai tempat bagi apoteker untuk mengabdikan diri sesuai perannya, memfasilitasi pelaksanaan compounding, pencampuran, dan penyaluran obat maupun sarana perbekalan farmasi kepada masyarakat yang memerlukan tanpa terkecuali (Kepmenkes RI, 2008).

(37)

praktek kefarmasian khususnya praktek sebagai apoteker yang berorientasi terhadap pasien atau masyarakat yang membutuhkan (Kemenkes RI, 2008).

Tujuan dari penetapan standar pelayanan kefarmasian yaitu sebagai panduan bagi apoteker dalam melaksanakan praktek kerja sesuai dengan profesinya sehingga dapat sekaligus melindungi masyarakat / pasien dari pelayanan yang tidak profesional dan juga sebagai perlindungan bagi profesi dalam rangka menjalankan praktek kerjanya (Kepmenkes RI, 2008).

1. Aspek sumber daya

a. Sumber daya manusia. Dari segi sumber daya manusia, pengelolahan apotek yang baik apabila memiliki tenaga apoteker yang handal dan profesional dalam menjalankan pelayanan kefamasian. Apoteker adalah lulusan yang menimbah ilmu dibidang perguruan tinggi Farmasi, telah lulus sarjana, menempuh pendidikan lanjutan untuk gelar profesi apoteker dan telah mengucapkan sumpah profesi apoteker berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tersertifikasi keprofesiannya yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker (Anonim, 2004).

(38)

prasarana yang diadakan haruslah sesuai dengan kebutuhan apotek dan dapat membantu keefektifan kinerja pelayanan oleh apoteker ataupun tenaga kesehatan lain yang bekerja di apotek serta membantu menfasilitasi kebutuhan pasien atau masyarakat. Kebersihan, kenyamanan, kelengkapan perabotan, susunan dena ruang berdasarkan kepentingan masing- masing khususnya untuk pelayanan, penyimpanan produk kefarmasian menjadi hal yang perlu diperhatikan demi mendukung pelaksanaan pelayanan kefarmasian di Apotek (Anonim, 2004).

c. Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan. Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan merupakan suatu kegiatan terstruktur. Kegiatan tersebut berupa perencanaan untuk menentukan sediaan ataupun perbekalan kesehatan yang dibutuhkan di apotek, pengadaan untuk menyediakan sediaan ataupun perbekalan farmasi yang telah ditetapkan yang dilakukan melalui prosedur resmi sesuai aturan perundang-undangan, penyimpanan sebagai upaya pemeliharaan sediaan dan perbekalan farmasi dengan tujuan agar kualitas dan keamaannya pun dapat terjaga dengan baik dan penyerahan sediaan atau perbekalan kesehatan kepada yang membutuhkan (Anonim, 2004).

(39)

pasien dan pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat yang merupakan bagian dari administrasi pelayanan, serta pelaporan narkotika dan psikotropika (Anonim, 2004).

2. Aspek Pelayanan

Pemberian pelayanan yang berkualitas kepada pasien khususnya di apotek merupakan tanggung jawab yang sangat penting untuk dipegang dan dilaksanakan oleh seorang apoteker. Segala bentuk kegiatan dan tanggung jawab yang wajib dilaksanakan oleh apoteker dalam rangka pelayanan kefarmasian di apotek dituangkan dalam peraturan Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. (Anonim, 2004). Khusus dalam hal pelayanan, dipaparkan bahwa hal penting yang perlu untuk dilaksanakan yaitu terkait pelayanan resep, penyiapan obat, promosi dan edukasi dan pelayan residensial

a. Pelayanan resep 1) Skrining resep

(40)

b) Kesesuaian farmasetik juga perlu diperhatikan dengan memeriksa bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama penggunaan obat (Anonim, 2004).

c) Aspek klinis yang penting untuk disidik yaitu melihat ada tidaknya alergi, kemungkinan efek samping obat, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat yang ditulis dalam resep. Apabila terdapat ketidaksesuaian dalam pengkajian aspek klinis, maka apoteker dapat melakukan konsultasi dan memberikan rekomendasi obat lain sebagai alternatif yang sekiranya mendapat persetujuan dari dokter yang menuliskan resep (Kepmenkes RI, 2008).

2) Penyiapan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan. Pada proses penyiapan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan, penyiapannya haruslah sesuai dengan permintaan resep yang datang. Dari resep yang diterima, kemudian dilakukan perhitungan dosis untuk memastikan ketepatan dan kesesuaiannya agar tidak melebihi dosis maksimum.

(41)

b) Penulisan etiket dan warna etiket yang benar (warna putih untuk obat dalam, warna biru untuk obat luar, dan etiket lain sebagai petunjuk penggunaan khususnya untuk sediaan cair) (Anonim, 2004).

c) Pengemasan obat, dilakukan dengan memperhatikan kerapian dan kesesuaian kemasan yang digunakan guna menjaga kualitas dari obat yang diberikan kepada pasien (Anonim, 2004).

d) Penyerahan obat, diawali dengan melakukan pengecekan ulang obat yang akan diberikan dengan memperhatikan kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep. Pemerikasaan ulang data pasien baik identitas dan alamat perlu dilakukan (Anonim, 2004).

e) Ketika menyerahkan obat kepada pasien pun tidak lupa disertai dengan pemberian informasi terkait obat yang diberikan. Setelah itu apoteker memberi paraf pada salinan resep sesuai degan resep aslinya kemudian disimpan dan didokumentasikan (Anonim, 2004).

Pada peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pelindungan Konsumen pada Bab III pasal 4 mengenai hak konsumen menyatakan bahwa

(42)

serta tidak diskriminatif” (Undang-Undang Perlindungan Konsumen, 1999).

Pada pelayanan informasi obat, apoteker wajib untuk memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah untuk dipahami, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan up date. Informasi yang diberikan kepada pasien minimal mencakup : cara penggunaan obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang tidak boleh dikonsumsi selama proses terapi (Kepmenkes RI, 2006). Pada pelayanan informasi obat di apotek, terdapat prosedur tetap yang diputuskan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 yaitu :

(1) Melihat resep atau kartu pengobatan pasien (medication record) atau kondisi kesehatan pasien untuk menentukan informasi obat seperti apa yang akan diberikan kepada pasien baik itu secara lisan maupun tertulis.

(2) Informasi obat yang diberikan kepada pasien dapat didasarkan dengan melakukan penulusuranliterature. (3) Informasi yang diberikan untuk menjawab pertanyaan dari

pasien dapat dijawab secara lisan ataupun tertulis dan penjelasan yang diberi harus jelas, tidak bias, etis, mudah dipahami, dan bijaksana.

(43)

(5) Kegiatan pelayanan informasi obat yang diberikan selalu didokumentasikan (Kepmenkes RI, 2008).

Keputusan Departemen Kesehatan RI (2007) merancang pedoman Pharmaceutical care untuk penyakit asma, diantaranya adalah :

(1) Pedoman bagi apoteker dalam memberian informasi dan edukasi untuk pasien asma :

(a) Pengetahuan yang cukup,skill, dan bekal yang dimiliki oleh Apoteker menjadi dasar dalam memberian informasi terhadap pasien asma. Passion dengan rasa empati terhadap pasien akan juga menjadi hal yang penting yang akan mendukung kegiatan pelayanan informasi dan menarik perhatian pasien itu sendiri. (b) Informasi dan edukasi tidak hanya diberikan kepada

(44)

(c) Pengumpulan dan pendokumentasian data-data pasien yang berisi : riwayat keluarga, gaya hidup, pekerjaan dan pengobatan yang dijalan oleh pasien baik itu obat asma yang dikonsumsi maupun obat-obat lain yang juga dikonsumsi pasien.

(d) Penggunaan alat peraga dalam penyampaian informasi dan edukasi seperti memberikan contoh cara penggunaan inhaler akan mendukung tingkat pemahaman pasien dan keuarga pasien.

(e) Pengobatan jangka panjang sebaiknya mempertimbangkan penggunaan jumlah obat yang lebih sedikit, dosis yang lebih sedikit , kejadian efek samping obat yang minimal, adanya pengertian dan kesepakatan antara dokter, pasien dan apoteker untuk mendukung kepatuhan pasien.

(f) Menolong pasien dan keluarga pasien dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi terkait penggunaan obat

(2) Informasi yang disampaikan kepada pasien dan keluarga : (a) Menyampaikan sejarah penyakit asma, tanda dan gejala,

serta faktor-faktor yang menyebabkan asma dan serangan asma.

(45)

(c) Cara untuk mengetahui serangan asma dan tingkat keparahannya, kemudian hal yang perlu dilakukan apabila terjadi kekambuhan pada pasien, bahkan bagaimana cara menemukan pertolongan jika diperlukan.

(d) Bagaimana mengajarkan untuk menghindari terjadinya serangan kekambuhan dengan memperhatikan faktor-farktor yang dapat menjadi pencetus seperti olah raga yang berat, makanan, alergi, penggunaan obat tertentu, stress, atau polusi.

(e) Menjelaskan resiko merokok terhadap penyakit asma. (f) Menyampaikan pengobatan asma dengan pemahaman

bahwa pengobatan untuk tiap individu dapat berbeda tergantung tingkat keparahan yang dialami.

(g) Menjelaskan 2 golongan besar dalam pengobatan yaitu : Pengobatan simptomatik yang digunakan pada saat terjadi serangan yang kerjanya secara cepat. Pengobatan pencegahan, yaitu obat yang digunakan secara rutin untuk mencegah serangan asma.

(46)

(i) Penggunaan obat yang dapat dilakukan melalui parenteral, oral, dan inhalasi (inhaler, rotahaler dan nebuliser).

(j) Menjelaskan waktu penggunaan obat, cara penggunaan, jumlah/frekuensi/lama penggunaan, efek samping obat yang kemungkinan terjadi, serta cara menghindari atau meminimalkan efek samping obat.

(k) Mengingatkan pasien setelah penggunaan inhaler terutama yang mengandung obat kortikosteroid untuk melakukan kumur-kumur guna meminimalisir terjadinya pertumbuhan jamur di mulut dan tenggorokan dan absorpsi sistemik.

(l) Memberikan penjelasan terkait keamanan penggunaan obat asma untuk kasus wanita hamil atau ibu menyusui. (m)Cara penyimpanan obat asma dan cara mengetahui

jumlah obat yang ada dalam aerosol inhaler.

(n) Menjelaskan betapa pentingnya kepatuhan pasien dalam menggunakan obat asma.

(47)

f) Konseling merupakan proses terstruktur yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien. Hal yang dapat diidentifikasi yaitu mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan untuk memperbaiki kualitas hidup dan mencegah terjadinya penggunaan obat yang tidak benar (Kepmenkes RI, 2006). Pada dasarnya kegiatan konseling dapat diberikan dengan pertimbangan bahwa pasien diketahui tidak mengkonsumsi obat secara teratur, pasien yang menerima obat dengan indeks terapi sempit sehingga perlu untuk dipantau, pasien dengan multirejimen obat, pasien lansia, pasien pediatric sehingga konseling dapat diberikan kepada pengasuh anak atau langsng kepada orangtua, atau pasien yang mengalamiDrug Related Problem(Kepmenkes RI,2008)

(48)

pengobatan seperti efek samping yang bisa saja muncul. Dengan demikian, pasien lebih mudah mengenali efek samping apabila terjadi dan dapat mengatasinya. Melalui diskusi yang dilakukan dalam konseling, akan memudahkan bagi apoteker untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman pasien terkait pengobatan yang diberikan yang kemudian bisa dijadikan sebagai arahan informasi apa yang masih perlu diberikan sebagai tambahan sehingga pengobatan dapat berjalan dengan efektif dan optimal (Rantucci, 2007).

(49)

kesadaran pasien bahwa konseling yang diberikan adalah demi kebaikan pasien (Rantucci, 2007).

Pada Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 telah ditetapkan prosedur tetap untuk mengadakan proses konseling yang meliputi :

(1) Konseling yang dilakukan dengan melihat kondisi penyakit pasien.

(2) Menjalankan komunikasi antara apoteker dengan pasien ataupun keluarga pasien

(3) Mengajukan pertanyaan Three Prime Questions yang meliputi:

(a) Apa yang dokter katakan mengenai obat yang diberikan (b) Bagaimana penjelasan dokter terkait cara pemakaian

obat yang diberikan

(c) Apa yang dokter katakan terkait harapan dari pengobatan yang dberikan

(4) Memberikan peragaan dan menerangkan mengenai pemakaian obat-obat tertentu seperti inhaler, suppositoria, dll

(50)

(b) Mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan cara penggunaan obat sehingga tujuan terapi dapat tercapai dengan baik

(6) Melakukan pendokumentasian berupa pencatatan pada kartu pengobatan terkait hal-hal yang telah dilakukan dalam proses konseling (Kepmenkes RI, 2008).

Untuk pasien asma yang mendapat resep dokter ada beberapa yang perlu dilaksanakan secara sistematis dengan mengajukan 3 pertanyaan utama dan dapat dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan, diantaranya :

(1) Menanyakan kepada pasien apa yang dikatakan dokter terkait penggunaan pengobatan yang diberikan ?. Pengembangan pertanyaan yaitu : Menanyakan persoalan apa yang bisa dibantu, apa yang bisa dilakukan, dan menanyakan persoalan apa yang menyebabkan pasien datang ke dokter.

(51)

dosis obat, bagaimana penyimpanan obat, dan menanyakan apa arti “tiga kali sehari” kepada pasien.

(3) Apa yang dikatakan dokter terkait harapan terhadap pengobatan yang diberikan ?. Pengembangan pertanyaan yaitu : Pengaruh apa yang diharapkan muncul oleh pasien, bagaimana cara pasien mengetahui bahwa obat tersebut bekerja, pengaruh buruk apa yang disampaikan dokter yang perlu diwaspadai pasien, apa yang harus diperhatikan oleh pasien selama obat tersebut digunakan, apa yang dokter sampaikan apabila pasien merasa kondisinya semakin parah, dan bagaimana pasien tau jika obat yang digunakan tidak bekerja.

(4) Pertanyaan tunjukkan dan katakan. Menanyakan tujuan penggunaan obat untuk apa, bagaimana cara pasien menggunakan obatnya, dan gangguan atau penyakit apa yang dialami pasien.

(5) Penanganan awal asma mandiri (Self care). Menganjurkan kepada pasien untuk menggunakan obat yang sudah biasa dipakai, tidak panik, segera menghubungi dokter apabila setelah 15 menit penggunaan obat pasien tidak mengalami perbaikan kondisi (Depkes RI, 2007).

(52)

Dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan yang dicapai dari pelaksanaan terapi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan membuat pencatatan data pengobatan pasien (Medication recort) (Kepmenkes, 2006). Melalui monitoring dan evaluasi ini apoteker dapat mengukur sejauh mana tingkat kepuasan pasien dan kepatuhan pasien yang pada akhirnya juga membantu untuk melihat sejauh mana mutu pelayanan yang telah dilakukan selama ini, sehingga dapat ditentukan bentuk evaluasi seperti apa yang perlu untuk dilakukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan kefarmasian yang pada akhirnya juga berpengaruh pada peningkatan kualitas pengobatan / kesehatan pasien atau masyarakat (Kepmenkes RI, 2008).

(53)

sebagai salah satu pedoman dalam mempertimbangkan tindak lanjut yang akan diberikan kepada pasien seperti pembatasan indikasi, pembatasan dosis bahkan hingga ke pembekuan atau penarikan obat dari peredaran yang semata-mata untuk tujuan keselamatan pasien/ masyarakat (Badan POM RI, 2007).

Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan pencatatan data pasien dalam bentuk rekam medis (medication record) yang berisi mengenai identitas pasien, hasil pemeriksaaan, pengobatan, dan pelayanan atau tindakan yang telah diberikan kepada pasien yang dimuat dalam bentuk catatan dan dokumen (Permenkes RI, 2008).

Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan kesehatan menurut PERMENKES No.269/MenKes/PER/111/2008 kurang lebih memuat tentang : Identitas pasien, tanggal dan waktu, hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis, diagnosis, rencana penatalaksanaan, pengobatan dan/atau tindakan, pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien, persetujuan tindakan bila diperlukan (Permenkes, 2008).

(54)

kualitas hidup dalam hal ini kesehatan masyarakat tersebut. Edukasi merupakan upaya yang dilakukan terhadap masyarakat dengan memberikan pengetahuan terkait obat dan pengobatan, serta bersama-sama dengan pasien untuk mengambil suatu keputusan dalam hal pengobatan yang dijalani, sehingga diharapkan hasil pengobatan yang maksimal dan efektif dapat tercapai. Selain memberikan edukasi berupa pemberian informasi secara lisan atau tatap muka langsung, pemberian informasi yang bertujuan sebagai edukasi dapat diberikan melalui penyebaran leaflet, brosur, poster, penyuluhan, dll (Kepmenkes RI, 2008).

Pada kasus pasien asma, upaya yang dapat dilakukan sebagai alternatif terkait kegiatan promosi dan edukasi adalah penyuluhan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE). Penyuluhan (KIE) dapat membantu untuk menambah pengetahuan pasien / keluarganya terkait penyakit asma, memberikan semangat agar termotivasi untuk ikut berpartisipasi dalam upaya pengendalian penyakit asma itu sendiri. Selain itu, penyuluhan (KIE) dapat membantu mempengaruhi sikap dan tindakan pasien dalam menghadapi penyakit asma dan secara mandiri para pasien mampu mengendalikan penyakit asma tersebut (Depkes RI, 2009).

(55)

gejala dan faktor penyebab penyakit asma serta bagaimana mengatasi atau mengontrol penyakit asma. Apoteker diharapkan dapat memberikan pelatihan terkait cara penggunaan obat asma secara tepat dan benar dan penanganan segera terutama saat terjadi serangan. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi pasien asma,namun juga bagi keluarga pasien, tenaga kesehatan lain bahkan masyarakat. Penyuluhan KIE dapat dilaksanakan secara aktif yaitu dengan memberikan informasi secara langsung ataupun secara pasif yaitu melalui brosur, leaflet dan majalah kesehatan (Depkes RI, 2009).

c. Aspek pelayanan residensial (home care).Dilakukan di rumah pasien, terutama untuk pasien yang lanjut usia atau dengan penyakit kronis. Kegiatan ini ditujukan apabila pasien tidak memungkinkan untuk memperoleh pelayanan dengan datang ke apotek. Dua cara pelaksanaan pelayanan residensial adalah dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien atau melalui telefon (Kepmenkes RI, 2008).

Dalam pelayanan residensial di apotek, ada ketentuan yang ditetapkan sebagai prosedur tetap untuk dilakukan, yaitu :

(56)

2) Pelayanan residensial dapat diberikan dengan melakukan penawaran secara langsung kepada pasien yang dianggap perlu untuk diberi pelayanan tersebut.

3) Pelayanan residensial dapat dilakukan dengan pertimbangan riwayat pengobatan pasien.

4) Pelayanan residensial dapat dilakukan dengan mendatangi rumah / kediaman pasien.

5) Pelayanan residensial dapat dilakukan dengan menggunakan media komunikasi yang ada, seperti telefon, dimana kegiatan ini adalah merupakan lanjutan dari pelayanan residensial sebelumnya, sehingga dengan demikian program residensial dapat berjalan terus.

6) Dalam pelayanan residensial kegiatan pencatatan dan evaluasi pengobatan menjadi hal yang perlu untuk dilakukan (Kepmenkes RI, 2008).

F. Keterangan Empiris

(57)

37 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan kualitatif. Penelitian observasional adalah penelitian dengan melakukan pengamatan terhadap sejumlah ciri subjek menurut keadaan yang sebenarnya tanpa ada tindakan manipulasi ataupun intervensi peneliti (Jasaputra dan Santosa, 2008 ). Pendekatan kualitatif yang berarti penelitian ini dilakukan dalam memahami suatu fenomena yang terjadi tanpa rekayasa yang dapat memberikan suatu gambaran terhadap realitas yang ada pada objek yang diteliti (Sarosa, 2012).

B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah pelayanan kefarmasian oleh apoteker pada pasien asma.

Definisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan kefarmasian adalah segala bentuk kegiatan pengobatan diantaranya pelayanan resep, pelayanan informasi obat, monitoring dan evaluasi, promosi dan edukasi, pelayanan residensial yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta yang menjadi lokasi penelitian dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ Menkes/ SK/ IX/ 2004.

(58)

penyiapan obat dan penyerahan obat kepada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta yang menjadi tempat penelitian.

3. Pelayanan informasi obat mangacu pada Kepmenkes RI Nomor 1027/ Menkes/ SK/ IX/ 2004 yang meliputi kegiatan penyampaian informasi pengobatan dan konseling kepada pasien asma ataupun keluarga pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta yang menjadi tempat penelitian.

4. Monitoring dan evaluasi adalah kegiatan pencatatan data pengobatan pasien asma (medication record) maupun pemantauan atau pelaporan efek samping obat yang dilakukan dalam upaya pengecekan dan peningkatan keberhasilan terapi oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

5. Edukasi dan promosi (kegiatan pemberdayaan) dalam penelitian ini adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka menginspirasi pasien dan meningkatkan pengetahuan pasien atau keluarga mengenai penyakit asma oleh apoteker dengan cara penyebaran leaflet, brosur, poster atau penyuluhan kesehatan masyarakat terkait penyakit asma.

6. Pelayanan residensial adalah kegiatan pelayanan kefarmasian dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

(59)

belum berbintang yang berada di Kota Yogyakarta. Di bawah ini merupakan apotek-apotek yang dijadikan sebagai tempat penelitian berdasarkan golongan apotek:

Periode penelitian dimulai dari bulan November 2013- Maret 2014, terdiri dari proses perijinan pada bulan November 2013 - Januari 2014 hingga proses pengambilan data pada bulan Februari–Maret 2014.

D. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah apoteker yang bekerja di apotek-apotek yang ditetapkan sebagai tempat penelitian.

Kriteria inklusi subyek penelitian adalah sebagai berikut :

1. Apoteker yang bekerja di apotek sebagai APA (Apoteker Pengelola Apotek) atau Aping (Apoteker Pendamping) yang pernah memberikan pelayanan Pharmaceutical care kepada pasien asma yang datang ke apotek tersebut dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

(60)

Kriteria eksklusi subyek penelitian yaitu apoteker baik APA maupun Aping yang tidak pernah memberikan pelayanan kefarmasian kepada pasien asma dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

E. Besar Sampel dan Teknik Sampling

Pada dasarnya dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif tidak ada patokan khusus terkait jumlah sampel yang harus diambil. Pemilihan sampel diambil berdasarkan kebutuhan dari penelitian itu sendiri sehingga digunakan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel responden yang dianggap mengetahui tentang apa yang diharapkan dalam penelitian dan dapat memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan oleh penelitian ini. Oleh karena itu sampel yang diambil sebagai responden merupakan informan yang berperan sebagaikey person (Sugiyono, 2008). Penetapan sampel didasarkan pada data terkini hasil labelisasi apotek yang ada di Kota Yogyakarta periode 2013 yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan sebanyak 133 apotek dimana terdapat 118 apotek yang telah dilabelisasi bintang satu untuk kategori apotek cukup, bintang dua untuk kategori apotek lebih dari cukup, bintang tiga untuk kategori apotek baik, dan bintang empat untuk kategori apotek sangat baik sehingga terdapat 15 apotek yang belum terlabelisasi.

(61)

responden yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. Dari 12 responden tersebut, sebanyak 10 responden bersedia diwawancarai secara langsung dan 2 responden bersedia berpartisipasi dengan mengisi panduan wawancara secara mandiri.

F. Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terstruktur. Wawancara merupakan salah satu alternatif dalam pengumpulan data dimana kegiatannya dilakukan melalui diskusi antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan penelitian (Sarosa, 2012).

Pertanyaan - pertanyaan telah disusun secara rinci di dalam panduan wawancara untuk ditanyakan kepada responden. Responden yang tidak bersedia diwawancarai secara langsung diberikan panduan wawancara yang diisi sendiri oleh responden secara tertulis. Data yang diperoleh merupakan data primer yang berarti bahwa data tersebut diperoleh dari sumber asli atau responden berupa kata-kata atau tindakan dari informan.

G. Instrumen Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan wawancara (interview guide) yang digunakan dalam melakukan wawancara. Alat perekam digunakan untuk mendukung proses wawancara terutama untuk pendokumentasian.

(62)

1. Perumusan pertanyaan-pertanyaan

Panduan wawancara berguna untuk menggali informasi pada subjek penelitian (Adi, 2004). Isi dari panduan wawancara yaitu pertanyaan terstruktur yang didasarkan pada perumusan masalah dari penelitian. Panduan wawancara pada penelitian ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada penerapan Pharmaceutical care meliputi pelayanan resep, pelayanan informasi obat, konseling, monitoring dan evaluasi, edukasi dan promosi, serta pelayanan residensial pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Bagian kedua, berisi data responden yang terdiri dari: jabatan apoteker di apotek tersebut, yaitu APA atau Aping dan lama responden bekerja sebagai apoteker.

2. Pengujian panduan wawancara dan proses wawancara

Pengujian ini dilakukan untuk melihat seberapa besar tingkat kepercayaan dan keabsahan dari hasil penelitian yang datanya diambil menggunakan instrumen ini. Pada penelitian ini keabsahan yang dimaksud adalah data atau informasi yang diperoleh dari apoteker yang merupakan responden penelitian melalui wawancara menggunakan panduan wawancara tersebut. Beberapa upaya dilakukan terkait dengan hal ini, yaitu (Sugiyono, 2005) :

(63)

2) Menanyakan pertanyaan –pertanyaan di dalam panduan kepada beberapa mahasiswa farmasi untuk memastikan bahwa pertanyaan – pertanyaan tersebut dapat dipahami. Idealnya, hal ini dilakukan kepada apoteker yang nantinya tidak digunakan sebagai responden penelitian. Namun, karena expert adjustment yang dilibatkan juga merupakan seorang apoteker dan adanya kesulitan dalam memperoleh kesediaan apoteker lain untuk ikut berpartisipasi dalam penelitian maka dilakukan kepada mahasiswa farmasi.

3) Melakukan observasi awal di apotek tersebut untuk melakukan perkenalan awal terutama kepada responden yang akan diwawancarai guna membangun hubungan yang baik sehingga akan memudahkan dalam proses wawancara nantinya.

H. Tata Cara Penelitian dan Analisis Data

Penelitian diawali dengan pengurusan ijin penelitian yaitu pengajuan surat pengantar dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Dinas Perijinan Kota Yogyakarta. Permohonan perizinan juga diajukan kepada apoteker di apotek-apotek yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian guna mendapatkan kesediaan dari para apoteker untuk menjadi responden penelitian dan bersedia untuk diwawancarai.

(64)

digunakan sebagai tempat penelitian. Analisis situasi dilakukan secara langsung dengan mendatangi apotek-apotek yang ditetapkan menjadi tempat penelitian dan mendata jumlah apoteker dan apotek yang bersedia untuk ikut serta dalam penelitian.

Setelah memperoleh perizinan dari pihak terkait, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan dipaparkan secara sistematis dibawah ini :

1. Menentukan jadwal wawancara

Setelah memperoleh ijin penelitian dari apotek-apotek, langkah selanjutnya adalah melakukan konfirmasi kepada responden untuk memperoleh kesepakatan bersama terkait waktu dan tempat pelaksanaan wawancara.

2. Melaksanakan wawancara

Pada pelaksanaan wawancara digunakan panduan wawancara. Pedoman ini membantu agar proses wawancara dapat berjalan sistematis dan tidak keluar dari topik utama wawancara.

3. Melakukan analisis data

(65)

mengkuantifikasikannya dalam bentuk persentase untuk setiap topik yang digali. Tahap ini diawali dengan :

a. Pencatatan data. Hasil wawancara yang telah dilakukan yaitu berupa catatan dan rekaman, kemudian dipindahkan dalam bentuk pencatatan data dengan membuat salinan atau transkrip.

b. Coding. Untuk memudahkan dalam proses analisis, dilakukan pengkodean yang dapat berupa kata atau frase dengan tujuan agar data yang disajikan dapat terorganisir dan tersusun secara sistematis. Pengokodean akan memudahkan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan atau meringkas kalimat dari hasil wawancara yang telah diperoleh.

(66)

I. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian Terdapat beberapa kesulitan dalam penelitian ini, diantaranya :

1. Terdapat beberapa apotek yang pada dasarnya banyak melayani pasien asma namun tidak bersedia untuk dijadikan sebagai tempat penelitian. 2. Pada penelitian ini hanya dilakukan oleh 1 orang sebagai peneliti yang

harus berperan sebagai pewawancara yang mengajukan pertanyaan kepada responden, mencatat jawaban dari responden dan merekam proses wawancara dalam waktu yang bersamaan sehingga sehingga fokus peneliti dalam melakukan wawancara dan menggali informasi dari responden menjadi terbagi-bagi.

Selain beberapa kesulitan yang dialami dalam penelitian ini juga terdapat beberapa keterbatasan, diantaranya :

1. Penelitian dengan pendekatan kualitatif akan lebih baik apabila dalam proses penelitiannya menggunakan jangka waktu yang panjang agar peneliti memiliki lebih banyak waktu untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam. Namun, hal ini tidak terlaksana karena faktor kesibukan dari apoteker yang menjadi responden sehingga waktu untuk melakukan wawancara menjadi terbatas.

(67)

3. Terdapat kemungkinan responden memberikan informasi tidak spesifik terkait penerapanPharmaceutical careyang telah dilakukan kepada pasien asma saja, meskipun peneliti sebagai pewawancara telah berupaya untuk selalu menegaskan dan mengingatkan kepada responden pada saat wawancara berlangsung untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan pengalaman pelayanan yang telah diberikan khusus kepada pasien asma. 4. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif sehingga

(68)

48 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesesuaian pelaksanaan Pharmaceutical care yang diberikan oleh apoteker kepada pasien asma pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta menurut standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Hasil dari penelitian dikategorikan dalam 6 aspek yang dibagi berdasarkan acuan standar yaitu aspek pelayanan resep, pelayanan informasi obat, pelayanan konseling, monitoring dan evaluasi, promosi dan edukasi, dan pelayanan residensial (Home care).

A. Karakteristik Demografi Responden

(69)

6 responden sebesar 50% dan apoteker pendamping (Aping) yaitu 6 responden sebesar 50%. Lama masa kerja responden sebagian besar adalah 1≥ masa kerja ≤ 5 tahun dengan jumlah responden 7 sebesar 58,3%.

Tabel I. Karakteristik demografi responden

Keterangan :APA (Apoteker Pengelola Apotek), APING (Apoteker Pendamping)

Menurut standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004, apotek merupakan suatu tempat dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan kefarmasian dan menyediakan sediaan farmasi ataupun perbekalan kesehatan yang dapat disalurkan ke masyarakat. Suatu apotek harus dikelola oleh tenaga profesional yaitu seorang

(70)

apoteker yang dapat menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan profesinya dan memberikan pelayanan yang baik pula (Kepmenkes RI, 2008). Dari data yang disajikan pada Tabel I menunjukkan bahwa apotek yang dijadikan sebagai tempat penelitian memiliki apoteker sebagai tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek tersebut yang dalam penelitian ini juga adalah sebagai responden.

Pada beberapa penelitian mengemukakan bahwa usia (umur) memiliki pengaruh terhadap kinerja seseorang. Pada dasarnya umur produktif berkisar antara 20-45 tahun. Usia dan pengalaman kerja dapat dikatakan saling berkaitan, keduanya memiliki pangaruh terhadap kemampuan, pengetahuan, tanggung jawab, pola pikir dalam mengambil suatu keputusan oleh seseorang dalam bekerja (Christiana, 2005). Seiring dengan pertambahan usia dan masa kerja yang lama, akan cenderung meningkatkan kemahiran dan pengalaman yang dimiliki sehingga mempengaruhi kualitas atau kinerja, dalam hal ini adalah apoteker dalam memberikan suatu pelayanan kesehatan. Lama bekerja akan mempengaruhi pengalaman kerja yang tinggi dan pada akhirnya berpengaruh pada keunggulan atau kemampuan dalam mendeteksi kesalahan, memahami kesalahan dan mencari penyebab munculnya kesalahan, misalnya dalam hal pengobatan yang dijalani pasien (Samsi, 2013).

B. Profil Pelaksanaan Pelayanan Resep pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta

(71)

Hal yang perlu diawali dalam pelayanan resep adalah melakukan skrining resep. Skrining resep terdiri dari 3 bagian utama yaitu skrining administratif, skrining kesesuaian farmasetik, dan skrining pengkajian klinis (Anonim, 2004).

1. Skrining administratif

Pada kegiatan pelayanan resep di apotek, hal pertama yang perlu dilakukan oleh tenaga kefarmasian adalah melakukan skrining dengan memeriksa kelengkapan administratif yang terdapat di resep. Bentuk - bentuk kegiatan yang perlu dilakukan dalam skrining administratif didasarkan pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 (Anonim, 2004). Skrining administratif yang dilakukan oleh responden berdasarkan hasil penelitian ditampilkan pada Tabel II , sebagai berikut :

Tabel II. Bentuk skrining administratif

Nomor Kegiatan pemeriksaan Jumlah responden yang melaksanakan, n=12

1. nama, SIP, dan alamat dokter 10

2. tanggal penulisan resep 11

3. tanda tangan/paraf dokter penulis resep 9 4. nama, alamat, umur, jenis kelamin dan

berat badan pasien 11

5. cara pemakaian obat 11

Keterangan :SIP (Surat Ijin Praktek)

(72)

melakukan skrining tanda tangan/ paraf dokter penulis resep. Dengan demikian sebagian responden belum memenuhi standar pelaksanaan skrining administratif yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Sukmajati (2008) menemukan bahwa kegiatan skrining administratif dilakukan oleh responden yang merupakan APA dan Aping sebesar 95,65% selalu melakukan skrining administratif dan 4,35% tidak melakukan skrining administratif.

Figur

Tabel I. Karakteristik demografi responden
Tabel I Karakteristik demografi responden. View in document p.69
Tabel II. Bentuk skrining administratif
Tabel II Bentuk skrining administratif. View in document p.71
Tabel III. Alasan responden tidak melakukan skrining administratif secara
Tabel III Alasan responden tidak melakukan skrining administratif secara. View in document p.73
Tabel IV.  Ketentuan skrining kesesuaian farmasetik
Tabel IV Ketentuan skrining kesesuaian farmasetik. View in document p.74
Tabel V. Alasan responden tidak melakukan skrining kesesuaian farmasetik
Tabel V Alasan responden tidak melakukan skrining kesesuaian farmasetik. View in document p.75
Tabel VI, sebagai berikut :
Tabel VI sebagai berikut . View in document p.76
Tabel VII.  Kegiatan proses penyiapan obat
Tabel VII Kegiatan proses penyiapan obat. View in document p.79
Tabel VIII. Alasan responden tidak melakukan proses penyiapan obat secara
Tabel VIII Alasan responden tidak melakukan proses penyiapan obat secara. View in document p.80
Tabel VII. Hal ini dilakukan agar ketepatan obat, ketepatan dosis dan ketepatan
Tabel VII Hal ini dilakukan agar ketepatan obat ketepatan dosis dan ketepatan. View in document p.81
Tabel IX. Kegiatan pelayanan informasi obat
Tabel IX Kegiatan pelayanan informasi obat. View in document p.82
Tabel X. Alasan responden tidak melakukan penelusuran literature
Tabel X Alasan responden tidak melakukan penelusuran literature. View in document p.84
Tabel XI.  Jenis informasi Obat
Tabel XI Jenis informasi Obat. View in document p.86
Tabel XII. Informasi tambahan untuk pasien asma
Tabel XII Informasi tambahan untuk pasien asma. View in document p.87
Tabel XIII. Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi
Tabel XIII Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi. View in document p.89
Tabel IX, XI, dan XIII merupakan rangkaian dari pelaksanaan pelayanan
Tabel IX XI dan XIII merupakan rangkaian dari pelaksanaan pelayanan. View in document p.94
Tabel XIV. Sasaran pemberian konseling
Tabel XIV Sasaran pemberian konseling. View in document p.96
Tabel XV sebagai berikut :
Tabel XV sebagai berikut . View in document p.98
Tabel XVI. Prosedur tetap pelaksanaan konseling
Tabel XVI Prosedur tetap pelaksanaan konseling. View in document p.100
Tabel XVII. Disimpulkan bahwa bentuk pertanyaan – pertanyaan terkait harapan
Tabel XVII Disimpulkan bahwa bentuk pertanyaan pertanyaan terkait harapan. View in document p.104
Tabel XVII. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien
Tabel XVII Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien. View in document p.105
Tabel XVIII. Bentuk pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan”
Tabel XVIII Bentuk pertanyaan Tunjukkan dan Katakan . View in document p.106
Tabel XIX. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care)
Tabel XIX Informasi penanganan awal asma mandiri self care . View in document p.107
Tabel XX. Frekuensi pelaksanaan konseling yang dilaksanakan oleh
Tabel XX Frekuensi pelaksanaan konseling yang dilaksanakan oleh. View in document p.109
Tabel XXI. Bentuk monitoring dan evaluasi
Tabel XXI Bentuk monitoring dan evaluasi. View in document p.113
Tabel XXII. Bentuk kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO
Tabel XXII Bentuk kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO. View in document p.114
Tabel XXIII. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan
Tabel XXIII Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan. View in document p.116
Tabel XXIV. Kriteria pelayanan residensial bagi pasien asma
Tabel XXIV Kriteria pelayanan residensial bagi pasien asma. View in document p.118
Tabel XXV. Langkah-langkah dalam pelaksanaan pelayanan residensial
Tabel XXV Langkah langkah dalam pelaksanaan pelayanan residensial. View in document p.120

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (167 Halaman)