PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL.

194  24  Download (0)

Teks penuh

(1)

S K R I P S I

Disusun Untuk Me me nuhi Se b a g ia n Pe rsya ra ta n

Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Disusun oleh:

ARTANTO RIDHO LAKSONO

F 100 040 121

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Untuk Memenuhi Sebagian Prasyarat dalam Mencapai

Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Diajukan Oleh :

ARTANTO RIDHO LAKSONO

F 100 040 121

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(3)

Skripsi

Yang Diajukan Oleh:

ARTANTO RIDHO LAKSONO

F 100 040 121

Yang disetujui untuk dipertahankan

Di depan penguji

Pembimbing utama

Tanggal

Dra. Nisa Rachmah N. A., M.Si

Pembimbing Pendamping

Tanggal

Lisnawati Ruhaena, S. Psi., M.Si

(4)

ARTANTO RIDHO LAKSONO

F 100 040 121

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 22 Januari 2009

Dan telah dinyatakan memenuhi syarat

Penguji Utama

Dra. Nisa Rachmah N. A., M.Si ________________________

Penguji Pendamping I

Lisnawati Ruhaena, S. Psi., M.Si ________________________

Penguji Pendamping II

Eny Purwandari, S. Psi., M.Si ________________________

Surakarta,

Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Psikologi

Dekan

Susatyo Yuwono, S.Psi, M.Si

(5)

Bahaya yang paling besar adalah putus asa Keagungan yang paling mulia adalah iman

Rahasia yang paling besar adalah mati Harta yang paling besar adalah anak soleh Guru yang paling besar adalah pengalaman Modal yang paling besar adalah kepercayaan diri”

(Ali bin Abi Thalib)

“Ketahuilah Saudaraku bahwa tidak setiap orang fakir itu nista dan hina justru kadangkala kekayaan dunia ini bersemayam diantara sekerat

roti dan sehelai jubah.”

(Kahlil Gibran)

“Jadilah air penyejuk dalam panasnya kehidupan” (Penulis)

(6)

Karya sederhana ini penulis persembahkan untuk : Bapak dan Ibu yang telah menyayangi dan membesarkan penulis

hingga menjadi dewasa. Adik-adikku, De’ Wahyu dan De’Diah yang selalu memberikan dukungan kepada

penulis. Kakekku yang telah memberikan segala perhatian

dan do’a selama ini. Bude Ning yang selalu memberikan semangat kepada penulis. Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan keceriaan kepada penulis.

(7)

Alhamdulilahi robbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan karena ridha-Nya skripsi ini dapat

terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan

masih banyak kekurangan-kekurangan yang dikarenakan keterbatasan penulis.

Oleh karena itu, kritik dan saran selalu penulis terima dengan tangan terbuka.

Skripsi ini terselesaikan atas dukungan, dorongan, semangat dan bantuan

dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung. Dengan segala

ketulusan dan kerendahan hati, penulis menyampaikan penghargaan dan rasa

terima kasih kepada :

1. Bapak Susatyo Yuwono, S.Psi, M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Surakarta.

2. Ibu Dra. Nisa Rachmah Nur Anganthi, M.Si, selaku pembimbing I dalam

pembuatan skripsi ini. Terima kasih atas bimbingan, arahan, kesabaran dan

keikhlasan dalam membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Lisnawati Ruhaena, S. Psi., M.Si, selaku pembimbing akademik yang

telah banyak membimbing penulis selama studi di Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan selaku pembimbing II dalam

pembuatan skripsi ini. Terima kasih telah meluangkan waktu, tenaga dan

pikiran dalam memberikan bimbingan dan masukan yang berharga bagi

penulis dalam menyusun skripsi ini.

(8)

5. Ibu M, Y, TRS dan ES yang telah bersedia menjadi informan penelitian.

6. Bapak dan ibu tercinta. Terima kasih telah memberikan dukungan, doa,

semangat dan nasehat yang berarti.

7. De’ Wahyu dan De’ Diah yang selalu memberi semangat kepada penulis

8. Kakekku dan bude Ning terima kasih telah memberikan segala perhatian dan

do’a selama ini.

9. Teteh, Dara dan Astarika yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini

10. Teman-teman seperjuanganku di kos PTC, Bekti, Heri, Rustam, Pi2n, W2n,

U2k, M2d, Dedy, Febri. Terima kasih atas dukungannya.

11. Teman-teman kelas C angkatan 2004. Terima kasih atas kenangannya.

12. Karibku sejak SMA, Tugas, Meneer, Santoso, Dian, Kurniawan. Terimakasih

atas kebersamaannya

13. Rekan-rekan di “Hek Pak Pardi”, Doel, Juki, Bogel, Toni, Pelo, Niki, Roni.

Terima kasih atas keceriannya.

Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang

telah membantu penulis baik secara moril maupun materiil. Semoga Allah SWT

memberikan balasan yang lebih baik.

Amin ya Rabbal’alamin.

Wssalamualaikum Wr. Wb.

Surakarta, Oktober 2008

Penulis

(9)

HALAMAN JUDUL... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DARTAR LAMPIRAN ... xiv

ABSTRAKSI ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Tujuan Penelitian ... 5

C. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 6

A. Pemecahan masalah ... 6

1. Pengertian masalah ... 6

2. Pengertian pemecahan masalah ... 7

3. Tahapan pemecahan masalah ... 10

(10)

1. Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal ... 18

2. Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal ... 19

3. Penyebab wanita sebagai orang tua tunggal... 20

C. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ... 28

D. Pertanyaan penelitian ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

A. Gejala penelitian ... 29

B. Definisi operasional gejala... 29

C. Informan penelitian ... 30

D. Metode dan alat pengumpul data ... 32

E. Keabsahan data/ Trustworthiness ….………...….. 37

F. Metode analisis data……….. 38

BAB IV LAPORAN PENELITIAN... 40

A. Persiapan Penelitian ... 40

1. Orientasi lapangan... 40

2. Persiapan alat pengumpul data... 41

B. Pengumpulan Data ... 41

C. Analisis Data ... 42

1. Karakteristik informan penelitian ... 42

2. Data hasil penelitian ... 43

(11)

tunggal ... 77

2. Alasan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal... 79

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ... 84

E. Pembahasan... 86

BAB V PENUTUP ………. 98

A. Kesimpulan ... 98

B. Saran... 101

DAFTAR PUSTAKA ... 103

LAMPIRAN... 107

(12)

Karakteristik informan penelitian ... 31

Tabel 2

Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. 33 Tabel 3

Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal

untuk wawancara dengan Significant person... 35

Tabel 4

Guide observasi... 39

Tabel 5

Karakteristik Informan Penelitian ... 46

Tabel 6

Tabulasi hasil wawancara pemecahan masalah pada wanita sebagai orang

tua tunggal... 75

Tabel 7

Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal... 92

(13)

Gambar 2

Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 2... 81

Gambar 3

Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 3... 82

Gambar 4

Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 4... 83

Gambar 5

Skema dinamika psikologis pemecahan masalah pada wanita sebagai orang

tua tunggal... 97

(14)

Verbatim wawancara... 107

Lampiran B

Foto kopi identitas informan ... 179

(15)

Pemecahan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada cara-cara penyelesaian masalah secara langsung. Permasalahan yang dihadapi wanita sebagai orang tua tunggal bukan hanya dari dalam dirinya saja tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluargannya. Permasalahan yang dihadapi wanita sebagai orang tua tunggal ini memerlukan pemecahan dan penyesuaian diri yang tepat ditengah pilihan hidup yang dipilihnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan, dan faktor-faktor pemecahan masalah yang digunakan oleh wanita sebagai orang tua tunggal. Informan penelitian ini adalah wanita janda yang memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, belum menikah lagi dan mempunyai karakteristik pekerjaan sebagai PNS, Pegawai swasta, Janda pensiunan Polisi dan Wiraswasta adapun karakteristik usia anaknya adalah Anak balita, anak usia sekolah dasar, remaja, dan dewasa awal. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dan observasi, sedangkan tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis isi. Penelitian ini menunjukkan bahwa alasan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal adalah mereka berusaha mengidentifikasi masalah yang timbul kemudian mencari alternatif pemecahan masalah yang sesuai dengan kondisi yang dialami selanjutnya memilih atau menentukan salah satu alternatif yang paling sesuai dengan kondisi yang dialami dan berusaha mewujudkan alternatif yang dipilih dengan tindakan nyata, pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal digolongkan menjadi 5 (lima) bentuk, yaitu : (a) Membutuhkan bantuan orang lain, (b) Berserah diri, (c) Berfikir positif, (d) Berusaha, dan (e) Berharap. Adapun faktor-faktor yang mempangaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya ada 5 (lima) macam, yaitu : (a) Tingkat pendidikan, (b) Usia, (c) Kreatifitas, (d) Kepercayaan diri, dan (e) Lingkungan sosial.

Kata kunci : pemecahan masalah, wanita, orang tua tunggal

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan adalah salah satu titik permulaan dari misteri kehidupan.

Komitmen laki-laki dan perempuan untuk menjalani sebagian kecil dari perjalanan

hidup dengan peran baru mereka, yaitu menjadi suami dan isteri (Ibrahim, 2002).

Setiap pasangan, pada dasarnya telah memiliki peran yang terbagi berdasarkan jenis

kelamin atau peran jenis (sex role) (Shaevitz, dalam Khoiriyah, 2004). Peran jenis

kelamin ini menurut (Swerdolf dalam Khoiriyah, 2004) diartikan sebagai peran yang

dilakukan individu didasarkan perbedaan jenis kelamin.

Myers, (1995) mengemukakan teorinya tentang pembagian kerja berdasarkan

jenis kelamin, bahwa dalam satu keluarga ada dua fungsi yang harus dikembangkan

secara khusus yaitu mendidik anak dan memproduksi makanan. Sebuah rancangan

keluarga yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang wanita, maka akan sangat

menguntungkan apabila salah satu fungsi dalam keluarga tersebut diberikan kepada

satu jenis kelamin dan fungsi lainnya kepada jenis kelamin yang lain.

Lantas bagaimana apabila seorang isteri yang harus menerima kenyataan

menjadi orang tua tunggal, karena bercerai dengan suami ataupun suaminya

meninggal. Sehingga terpaksa berpisah dari suami, harus mencari nafkah dan menjadi

kepala keluarga. Sehingga menjalankan fungsi sebagai ibu serta ayah bagi

(17)

Jumlah janda di Indonesia lebih banyak dari pada jumlah duda, hal ini

diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo, 2002 (dalam Puspitadewi,

2005). mengemukakan bahwa perbandingan jumlah janda di Indonesia adalah

469:100 artinya jumlah duda atau pria tidak menikah berusia 60 tahun keatas

jumlahnya hanya seperlima dari jumlah janda. Hal ini menunjukkan bahwa janda

lebih tahan untuk hidup sendiri dari pada duda. Dikemukakan pula bahwa kelompok

wanita usia 60 tahun ke atas di Indonesia yang hidup sendiri atau tidak menikah, cerai

dan janda, merupakan kelompok terbesar di dunia, sehingga Indonesia layak disebut

“negara janda”.

Panjaitan (1993) menyatakan bahwa istilah janda atau duda, muncul

disebabkan apakah itu karena kematian ataukah perceraian, maka prosentase untuk

menikah lagi lebih besar pada duda daripada janda terlebih jika sudah mencapai usia

60-an. Orang tua tunggal adalah suatu kenyataan dan menjadi sebuah fenomena yang

makin dianggap biasa dalam masyarakat modern. Kenyataan dimana isteri berfungsi

menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anak mereka. Isteri yang tiba tiba harus

menjalankan multi peran dan mengambil tanggung jawab penuh dalam keluarga, baik

dalam bidang ekonomi, pendidikan, cara mengambil keputusan yang tepat untuk

kelangsungan keluarga, dan berusaha menguatkan anggota keluarga atas persoalan

yang dihadapi.

Hal ini dianggap biasa karena di dalam kehidupan masyarakat modern karena

kesetaraan gender antara pria dan wanita sudah dapat dikatakan sama. Hal ini juga

(18)

parent dengan satu orang anak yang telah sukses mengelola berbagai bisnis dan

sekarang menduduki berbagai posisi penting di beberapa perusahaan serta menjabat

sekjen DKI Jakarta Ikatan Pembauran Pengusaha Perempuan Indonesia (Tempo,

2008).

Adapun penyebab menjadi orang tua tunggal tersebut karena (terpaksa) mengalaminya, entah karena bercerai atau pasangan hidupnya meninggal. Namun, dibalik keterpaksaannya itu muncul berbagai permasalahan yang timbul diantaranya adalah

permasalahan ekonomi, pendidikan, psiko seksual, ritual keagamaan dan pola asuh

anak, bagi anak yang tiba-tiba mendapati orang tuanya tidak lengkap lagi akan timbul

rasa belum siap menghadapi rasa kehilangan salah satu orang tuanya sehingga akan

terpukul, dan kemungkinan besar berubah tingkah lakunya. Ada yang menjadi

pemarah, ada yang suka melamun, mudah tersinggung, suka menyendiri, dan lain

sebagainya.

Wanita sebagai orang tua tunggal melaksanakan tanggung jawab mencari

nafkah. Mereka lebih banyak memilih untuk mengurus anak mereka sendiri tanpa

suami, sehingga banyak diantara mereka yang mengalami stress. (Harian Kompas, 15

Oktober 2001), menginformasikan bahwa :

“Banyak di antara wanita bekerja yang mengalami stress karena tidak siap dengan peran gandanya tersebut. Kalau saya sendiri memang dari dulu sudah siap untuk berperan ganda. Makanya jika wanita tidak siap atau tidak mau berperan ganda, tidak perlu memaksakan diri untuk berperan ganda.”

Sedangkan menurut Glasser (dalam Santoso, 2004) mempunyai

(19)

pergaulan dunia luar. Simon de Beavior (dalam Ibrahim, 2002) menyatakan bahwa

wanita banyak mengalami penurunan tingkat rasional dan sosial akibat dari

(kurungan) tugas-tugas rumah tangga seperti mengurus suami dan anak-anak,

memasak, menjahit, mencuci dan sebagainya.

Ditengah berbagai masalah yang timbul para wanita sebagai orang tua tunggal

tersebut haruslah mempunyai strategi pemecahan masalah di dalam dirinya supaya

mampu dan mau untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri karena masalah itu

timbul seiring dengan kondisi biologis, perkembangan anak, dan kondisi

perekonomian yang sedang dalam masa resesi, yang berpengaruh terhadap naiknya

harga-harga kebutuhan pokok sehingga biaya hidup semakin mahal dan sulit untuk

dijangkau, mampukah wanita sebagai orang tua tunggal tersebut mampu menghadapi

dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Berdasarkan uraian diatas jelaslah wanita sebagai orang tua tunggal hidup

dengan berbagai masalah dan kesulitan, dengan demikian penulis tertarik untuk

mengetahui bagaimana para wanita sebagai orang tua tunggal menyelesaikan

permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Dalam rumusan ini penulis mengajukan

sebuah judul penelitian “ Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua

(20)

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah : (1) Mengetahui pemecahan masalah pada wanita

sebagai orang tua tunggal, (2) Alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai

orang tua tunggal, (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada

wanita sebagai orang tua tunggal.

C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan pada

pihak-pihak yang berkepentingan antara lain sebagai berikut :

1. Bagi wanita sebagai orang tua tunggal dapat memberikan pemahaman

yang lebih mendalam mengenai konsekwensi pilihan hidup menjadi

wanita sebagai orang tua tunggal.

2. Bagi anak yang ibunya memilih menjadi orang tua tunggal agar dapat

dijadikan bahan pertimbangan untuk menerima secara positif dan

mempersiapkan diri terhadap pilihan hidup yang dibuat orang tuanya.

3. Bagi masyarakat dapat dijadikan masukan agar dapat memeberikan

(21)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pemecahan Masalah

1. Pengertian pemecahan masalah

1. a. Pengertian masalah

Masalah atau problem merupakan bagian dari kehidupan manusia. Hampir

setiap hari orang dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang perlu dicari jalan

keluarnya. Masalah seringkali disebut orang sebagai kesulitan, hambatan, gangguan,

ketidak puasan atau kesenjangan. Anderson (dalam Suharnan, 2005) mengemukakan

bahwa secara umum dan hampir semua ahli psikologi kognitif sepakat bahwa

masalah adalah suatu kesenjangan antara situasi sekarang dengan situasi yang akan

datang atau tujuan yang diinginkan (problem is a gap or discrepancy between present

state and future state or desired goal).

Masalah dapat digolongkan menjadi berbagai jenis, tergantung dipandang dari

sudut mana. Sebagian ahli membedakan masalah menurut pengetahuan seseorang,

sehingga dapat digolongkan menjadi masalah yang jelas dan tidak jelas. Sebagian ahli

lain membedakan masalah menurut proses-proses kognitif yang terlibat dalam

(22)

Menurut Thurstone (dalam Walgito, 1991) berpendapat bahwa individu dalam

mengartikan suatu masalah akan bersifat positif bila masalah tersebut menimbulkan

perasaan senang, sehingga individu bersifat menerima, tetapi dapat juga bersifat

negatif jika masalah tersebut menimbulkan perasaan tidak enak sehingga individu

bersifat menolak.

Masalah selalu muncul dalam bentuk dan tingkat kerumitan yang

bermacam-macam. Morgan (dalam Gunarsa, 1990) mengemukakan bahwa masalah adalah

berbagai penyimpangan dari keadaan yang belum jelas. Apabila ada ketidaksesuaian

dalam suatu situasi antara keadaan yang sebenarnya dengan tujuan, dan di dalam

situasi tersebut mengandung suatu perintang bagi seseorang dalam mencapai tujuan,

maka akan menimbulkan permasalahan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masalah merupakan kesenjangan

antara harapan dan kenyataan, serta memiliki bentuk dan tingkat kerumitan yang

berbeda-beda tergantung bagaimana individu dapat menghadapi dan terlibat didalam

masalah yang muncul.

1.b. Pengertian pemecahan masalah

Menurut Rakhmat (2001) berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam

rangka pengambilan keputusan, memecahkan masalah, dan menghasilkan hal yang

baru (creativity). Adapun proses berfikir secara normal menurut Solso (dalam

(23)

a. Berfikir adalah aktivitas kognitif yang terjadi dalam mental atau pikiran

seseorang, tidak tampak, tetapi dapat disimpulkan berdasarkan perilaku

yang tampak.

b. Berfikir merupakan suatu proses yang melibatkan beberapa manipulasi

pengetahuan didalam sistem kognitif.

c. Aktivitas berfikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah.

Pemecahan masalah adalah suatu proses mencari atau menemukan jalan yang

menjembatani antara keadaan yang sedang dihadapi dengan keadaan yang diinginkan

(Hayes, dalam Suharnan, 2005). Jadi, ruang masalah (problem space) sebagai jurang

atau kesenjangan sangat menentukan tingkat kemudahan atau kesulitan pencarian

pemecahan.

Evans (1991) mendefinisikan pemecahan masalah sebagai suatu aktivitas

yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar atau cara yang cocok bagi tindakan

dan pengubahan kondisi sekarang menuju pada kondisi yang diharapkan, karena

setiap individu berusaha sebisa mungkin untuk melakukan pemecahan masalah yang

muncul dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan pengalaman masa lalunya,

walaupun pada dasarnya tujuan pemecahan masalah adalah sama yaitu mendapatkan

sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi.

Chaplin (2001) dalam Kamus Lengkap Psikologi menyatakan bahwa pemecahan

(24)

alternatif-alternatif jawaban mengarah pada satu sasaran atau ke arah pemecahan

yang ideal.

Sedangkan menurut Hayers (dalam Suharnan, 2005) strategi penemuan jalan

pemecahan dapat dibedakan menjadi dua: penemuan secara acak, semua jalan keluar

ditempuh atau dicari tanpa ada pengetahuan khusus, dan penemuan melalui strategi

heuristic, yaitu proses penggunaan pengetahuan seseorang untuk mengidentifikasikan

sejumlah jalan atau cara yang akan ditempuh dan dianggap menjanjikan bagi

pemenuhan pemecahan masalah.

Hal ini didukung oleh pendapat Billing’s dan Moos (Susilowati, 2004) yang

menyatakan bahwa menyelesaikan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan

dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin

dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada cara-cara

penyelesaian masalah secara langsung.

Pemecahan masalah, adalah individu yang dihadapkan pada persoalan yang

mendesak dan perlu dilakukan pemecahan atau mencari solusi dengan berpikir.

Pemecahan masalah merupakan proses berpikir, belajar, mengingat serta menjawab

atau merespon dalam bentuk pengambilan keputusan. Pemecahan suatu masalah

dapat dilakukan dengan insight atau pemahaman dalam memecahkan masalah

berpikir mutlak diperlukan (Widayatun, 1999).

Jadi kemampuan menyelesaikan masalah dapat diartikan sebagai sebuah

kemampuan aktivitas kognitif dan kecakapan individu dalam menyelesaikan

(25)

dan mempertahankan alternatif jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang

ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan.

2. Tahapan pemecahan masalah

Individu pada kenyataannya tidak selalu dapat menyelesaikan masalah yang

datang padanya. Dalam menghadapi masalah individu terkadang menggunakan suatu

cara lain walaupun menghadapi suatu permasalahan yang sama.

Sedangkan menurut Evans (1991), membagi menjadi tiga tahap atau langkah

dalam memecahkan suatu masalah, yaitu:

a. Pemahaman masalah (Problem Understanding)

Agar dapat diperoleh suatu pemecahan yang benar, seseorang harus

terlebih dahulu memahami dan mengenali gambaran pokok persoalan secara

jelas. Lama waktru yang dibutuhkan untuk mengerti permasalahan

berbeda-beda bagi setiap orang. Perberbeda-bedaan ini sangat tergantung pada hakekat

permasalahan terutama dalam penampakannya, informasi disekitar persoalan,

dan keakraban seseorang terhadap persoalan tersebut.

b. Penemuan berbagai hipotesis mengenai cara pemecahan, dan memilih

salah satu di antara hipotesis-hipotesis itu.

Setelah memahami masalah yang dihadapi kemudian seseorang

memilih dan menententukan hipotesis berdasarkan dari hakekat yang

permasalahan yang dihadapi.

(26)

c. Menguji hipotesis

Agar diperoleh pemilihan hipotesis yang terbaik maka selanjutnya

seseorang harus menguji dari beberapa hipotesis yang ada kemudian dipilih

untuk mendapatkan hipotesis terbaik terhadap persolan tersebut.

Menurut Monica (1998), menjelaskan langkah-langkah dalam memecahkan

masalah, yaitu :

a. Pengenalan masalah

Suatu masalah dikenali melalui perbedaan antara apa yang sebenarnya

terjadi dalam suatu situasi (aktual) dan apa yang seseorang inginkan untuk

terjadi (optimal). Setelah berpikir tentang area-area permasalahan ini

selanjutnya memfokuskan pada satu masalah tertentu.

b. Definisi masalah

Setelah mengenali masalah maka pernyataan masalah harus spesifik.

c. Pilihan tindakan

Pilihan tindakan masalah merupakan beberapa jalan keluar dari

masalah. Untuk setiap pilihan tindakan, perlu dibuat dukungan hasil-hasil

positif dan negatifnya.

d. Pelaksanaan dan evaluasi

Melaksanakan berarti melakukan atau menerapkannya tindakan.

(27)

dilaksanakan. Sebelum pelaksanaan, evaluasi muncul sebagai sebuah

tanggung jawab dan tetap penting sampai tindakan telah selesai dilakukan.

Menurut Woolfolk dan Nicolich (2004), secara umum terdapat empat langkah

untuk memecahkan masalah:

a. Memahami masalah

Langkah pertama untuk memecahkan masalah adalah menetapkan

secara tepat apa masalahnya. Yaitu dengan menemukan informasi yang

relevan pada masalah yang ada.

b. Menyeleksi solusi

Setelah menentukan masalahnya, kemudian merencanakan strategi

dengan menyimpulkan bahwa situasi yang ada sama seperti masalah

sebelumnya dan mencoba apa yang berhasil sebelumnya.

c. Memutuskan rencana

d. Mengevaluasi hasil

Yaitu meliputi pengecekan fakta baik yang menguatkan maupun yang

melemahkan dari solusi masalah serta mengidentifikasi solusi yang

terbaik.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan

penyelesaian masalah individu akan melalui beberapa tahap antara lain : mengenali

(28)

dengan masalahnya, menentukan alternatif pemecahan masalah sekaligus

menentukan prioritas alternatif yang baik, pelaksanaan pemecahan masalah berdasar

dari alternatif yang dipilih serta melakukan evaluasi.

3. Aspek-aspek kemampuan memecahkan masalah

Menurut Rakhmat, (2001) berhasil tidaknya suatu pemecahan masalah yang

dilakukan oleh seseorang dapat diketahui dari beberapa hal, yaitu :

a. Motivasi

Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi

membatasi fleksibilitas. Semakin besar keinginan dari dalam diri individu

untuk segera memecahkan masalah membuat pemecahan masalah berjalan

dengan baik.

b. Kepercayaan dan sikap yang tepat

Asumsi yang tepat terhadap kerangka rujukan yang cermat membantu

efektifitas pemecahan masalah. Sifat terbuka terhadap informasi serta

memahami dan mengakui kekeliruan akan mempermudah pemecahan

masalah.

c. Fleksibilitas

Keluwesan berpikir dalam melihat permasalahan dari berbagai sisi

(29)

d. Emosi

Dalam menghadapi masalah tidak disadari emosi sering terlibat di

dalamnya, sehingga menyebabkan individu berpikir secara tidak objektif.

Sebagai manusia yang utuh tidak dapat mengesampingkan emosi. Emosi

bukan hambatan utama, tetapi bila sudah mencapai intensitas tinggi akan

menimbulkan kesulitan untuk berpikir efisien yang menghambat pemecahan

masalah. Para ahli menganjurkan pembelajaran emosi dimulai sejak kecil agar

ada taraf perkembangan selanjutnya emosi terbiasa ditata dan dikontrol dalam

menghadapi masalah.

Anderson (dalam Paryanti, 2006) mengungkapkan adanya tiga aspek yang

berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah, yaitu:

a. Berpikir positif tentang masalah yang dihadapi

Yaitu diharapkan seseorang menjadi pencari masalah, berpikir tentang

ketidaknyamanannya dan menanyakan apa yang menyebabkan

ketidaknyamanannya, serta berpikir tentang alternatif pemecahan masalah.

b. Berpikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah

Yaitu melihat diri sebagai orang yang dapat menyelesaikan masalah,

mengetahui sumber kekuatan di luar diri yang bisa membantu memecahkan

masalah, mencari waktu yang cukup untuk memecahkan masalah serta

(30)

c. Berpikir sistematis

Yaitu berhenti dan berpikir, tidak dengan langsung mengambil

keputusan, akan tetapi merencanakan langkah-langkah untuk menyelesaikan

masalah.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek

pemecahan masalah meliputi : motivasi, kepercayaan dan sikap yang tepat,

fleksibilitas berpikir dan emosi, berpikir positif tentang masalah yang dihadapi dan

tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah, serta berpikir sistematis.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah ada sebagai

berikut :

a. Inteligensi

Ester (dalam Walgito, 1991) mengemukakan bahwa dalam

memecahkan masalah, cepat atau lambatnya tergantung dari tingkat

inteligensi individu yang bersangkutan. Faktor inteligensi dianggap memiliki

peran yang sangat besar dalam keberhasilan pemecahan masalah.

b. Usia

Sejalan dengan bertambah usia maka individu akan semakin matang

dan kemampuan pemecahan masalah akan semakin bertambah. Kematangan

(31)

produk dari kemampuan berpikir yang lebih sempurna yang ditunjang dengan

sikap serta pandangan yang rasional (Mappiare, dalam Paryanti 2006).

c. Jenis Kelamin

Pria kebanyakan lebih mampu melakukan pemecahan masalah

daripada wanita, karena pria dituntut untuk tidak tergantung pada orang lain

tetapi harus bertahan. Pria lebih menggunakan rasio sehingga dalam

pemecahan masalah dibutuhkan ketegasan dan rasionalitas dalam menghadapi

masalah. Dagun (1990) berpendapat bahwa wanita diperbolehkan bersandar

secara emosional pada pria. Di samping itu secara kodrati perempuan

cenderung untuk menggunakan perasaannya dalam menghadapi masalah.

d. Kreativitas

Merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru

dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar, 1994). Semakin tinggi

tingkat kreativitas individu, semakin banyak ide atau alternatif yang dia

temukan.

e. Konsentrasi

Konsentrasi dalam memecahkan masalah mutlak diperlukan.

Suardiman (1992), mengatakan bahwa konsentrasi adalah pemusatan segenap

kekuatan pada situasi tertentu. Dalam konsentrasi keterlibatan mental secara

detail sangat diperlukan sehingga tidak diperhitungkan sekedarnya.

Selanjutnya Suardiman mengatakan bahwa konsentrasi seseorang terhadap

(32)

f. Pengalaman

Thornton (dalam Shapiro, 1997) menyimpulkan bahwa pemecahan

masalah yang berhasil tidak begitu bergantung pada kecerdasan individu

tetapi lebih kepada pengalaman mereka.

g. Kepercayaan diri

Astono (2001) mengungkapkan bahwa tumbuhnya kepercayaan diri

akan mendorong dan merangsang individu dalam mencoba dan mencari baru

untuk dipecahkan.

h. Lingkungan sosial

Yaitu lingkungan dimana individu mengadaptasi cara-cara

penyelesaian masalah melalui komunikasi dalam keluarga. Monks, dkk

(2002). Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga

akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman

atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi

kemampuan pemecahan masalah adalah : inteligensi, usia, jenis kelamin, kreativitas,

(33)

B. Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal

1. Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal

Menurut Qaimi (2003) seorang wanita sebagai orang tua tunggal adalah suatu

keadaan dimana seorang wanita akan menduduki dua jabatan sekaligus; sebagai ibu

yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. Dalam pada itu ia akan memiliki

dua bentuk sikap, sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya,

dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan

tata tertib, serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga.

Tolok ukur keberhasilan seorang wanita dalam mendidik anaknya terletak pada

kemampuannya dalam menggabungkan kedua peran dan tanggung jawab tersebut,

tanpa menjadikan sang anak bingung dan resah.

Peran sebagai ayah, sejak kematian suami, seorang ibu sekalipun dirinya

wanita harus pula menduduki posisi sang ayah dan bertanggung jawab dalam

menjaga perilaku serta kedisiplinan anaknya, kini dengan tugas baru yang harus

diembannya itu, ia memiliki tanggung jawab yang jauh lebih sulit dan berat

ketimbang sebelumnya.

Tidak ada salahnya kalau disini kita membuang gambaran buruk yang melekat

di masyarakat. Mereka mengatakan bahwa kaum ibu tidak akan mampu memainkan

peran ayah. Disini perlu ditegaskan bahwa ketika anda mempunyai kemauan keras,

(34)

Berdasarkan pengalaman, ternyata kaum wanita mampu memainkan kedua peran

tersebut.

Menurut SPOTNEWS Ibu Tunggal seringkali tidak dipandang sama dengan keluarga utuh yang lengkap dengan Ayah dan Ibu. Keluarga Ibu tunggal cenderung dipandang

prejudice, jika ibu tunggal muda, cantik dan berhasil dari sisi materi, gosip negatif dan sinis

akan melingkupi percakapan harian tentang dia di daerah tempat tinggalnya. Lingkungan sekitar akan mengabaikan kalau ibu tunggal tadi selain cantik, muda dan berhasil juga

(http/:spotnews.singleparents.com/artikel.htm.20/05/08)

Penetapan dan peringatan tanggal 21 Maret sebagai hari orang tua tunggal

sedunia yang diadakan sejak tahun 1984. Bertujuan untuk memonumentalkan hari

orang tua tunggal telah ada sejak tahun 1957, tatkala berdirinya kolaborasi sebuah

organisasi “Parents Without Partners”, yang diprakasai Janice Moglen, seorang

ibu tunggal dengan dua orang anak menetapkan hari orang tua tunggal sebagai

variasi dari hari ibu dan hari ayah di dalam artikel yang ditulisnya, yang kemudian

disepakati mulai tahun 1984 bulan Maret tanggal dijadikan hari orang tua tunggal.

(http/:spotnews.singleparents.com/artikel.htm.20/05/08)

2. Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal

a. Mencukupi kebutuhan finansial keluarga seorang diri

b. Memiliki suami tetapi tidakberdaya ketika diuji dengan suatu penyakit yang

menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya.

(35)

d. Berpisah karena takdir-Nya (kematian).

Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan bahwa wanita sebagai orang tua

tunggal adalah pilihan hidup yang dipilih seorang ibu dengan seluruh konsekuensi

yang harus diterima dan dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga wanita

sebagai orang tua tunggal selalu menerima kenyataan menjalankan multi perannya di

dalam keluarga dan selalu berusaha secara mandiri dan semaksimal mungkin untuk

memenuhi kebutuhan anaknya bukan hanya secara finansial saja tetapi juga

karakteristik individunya, ketidakberdayaan suami ketika diuji dengan suatu penyakit

yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya,

perceraian dan berpisah karena takdir-Nya (kematian).

3. Penyebab wanita menjadi orang tua tunggal

Menurut majalah Nikah (No.3 Vol.6, thn 2007) secara umum bahwa asal dari

kepemimpinan dalam keluarga pada dasarnya ditangan suami.

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ : 34,

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, dengan keutamaan yang Allah berikan kepada sebagian mereka atas sebagian lain, dan karena apa yang mereka nafkahkan dari harta mereka…”

Artinya, Islam tidak membenarkan kepemimpinan dalam sebuah masyarakat,

hingga sebuah rumah tangga, bila dipegang oleh wanita, idealnya seorang suami

(36)

kepemimpinan dipegang seorang wanita, hal itu terpaksa dilakukan oleh wanita

ketika suami tidak atau kurang bisa memegang kendali penuh dalam kehidupan

keluargannya.

Penyebab terjadinya wanita memegang kendali penuh dalam keluarga pun

sangat beragam, dari mulai ketidakberdayaan suami ketika diuji dengan suatu

penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap

keluargannya, perceraian, atau berpisah karena takdir-Nya yaitu ada satu fihak

(suami) yang meninggalkan dunia fana terlebih dahulu dibanding isterinya dan

hal-hal lainnya.

Ketika wanita ditinggal oleh suaminya maka kendali penuh dalam keluarga

dipegang oleh isteri, sejak kematian suami, seorang ibu sekalipun dirinya wanita

harus pula menduduki posisi sang ayah dan bertanggung jawab dalam menjaga

perilaku serta kedisiplinan anaknya, isteri berusaha semaksimal mungkin untuk dapat

memenuhi kebutuhan hidup anak-anak dan keluarganya, dan tidak sedikit pula wanita

yang akhirnya memutuskan untuk tetap menjanda dan tidak mencari suami lagi

sampai akhir hayat mereka.

Dalam kehidupan manusia sehari-hari manusia pasti dihadapkan atas berbagai

pilihan yang terkadang terasa berat, tetapi mau tidak mau harus dijalani ketika

seorang wanita (isteri) harus menjalankan multi peran, menerima kenyataan yang

berpisah dari suami, harus menghadapi permasalahan ekonomi, pendidikan anak,

(37)

kelangsungan keluarga, dan berusaha menguatkan anggota keluarga atas persoalan

yang dihadapi hanya seorang diri.

Menurut Qaimi (2003) beberapa penyebab seorang wanita menjadi orang tua

tunggal adalah :

a. Kematian

Kematian memang menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap perasaan

dan kejiwaan dalam rumah tangga. Kehancuran rumah tangga sebagai akibat dari

kematian, merupakan sebuah kehilangan yang teramat berat. Adalah manusiawi bila

seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya menjadi bingung dan gelisah.

Kematian disini dapat berarti terpisahnya suami-istri karena takdir yang telah

ditentukan dan menjadi sebuah kata yang menakutkan dan mengerikan bagi mereka

yang meyakini bahwa kematian merusak kebahagiaan. Juga, bagi mereka yang tak

meyakini adannya kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini.

Bagi anak yang masih kecil dan belum memahami hakikat kematian, dan belum

mengerti tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi setelah kematian itu bukanlah

suatu yang begitu berat. Ia mungkin hanya menangis, menjerit, dan meneteskan air

mata. Dan itu dilakukannya lantaran adannya tangisan dan jeritan orang lain. Rasa

takut akan kematian disebabkan oleh berbagai bayangan dan khayalan manusia

mengenai kematian itu sendiri. Adapun pengaruh kematian ayah terhadap seorang

anak antara lain sebagai berikut :

(38)

Seorang anak kehilangan ayah atau ibu, sebenarnya telah kehilangan

tempat berlindung dan bersandar, ini menyebabkan rasa tidak aman,

perasaan semacam ini baik pada anak-anak ataupun dewasa, mengakibatkan

melorotnya nafsu makan.

(2.)Gangguan Pencernaan

Perasaan sedih dan duka pada diri anak, dalam berapa kasus dapat

mengganggu sistem pencernaannya, sehingga tak dapat bekerja secara baik

dan normal, akibatnya, muncullah berbagai dampak yang lain.

(3.)Pertumbuhan badan yang terganggu

Karena hilangnya nafsu makan dan tak mengkonsumsi makanan

dengan kandungan gizi yang diperlukan tubuh maka pencernaan anak akan

mengalami gangguan sehingga tubuhnya tak dapat lagi tumbuh dengan

baik.

(4.)Gerakan tak terkontrol

Yang dimaksud disini adalah gerakan syaraf sebagai tanda terjadinya

pergolakan jiwa, keinginan tak terpenuhi, dan konstraksi batin. Akibatnya,

ia akan menderita. Secara tiba-tiba, ia akan melompat atau kelopak mata

dan telingannya bergerak-gerak sendiri tanpa disadari atau tanpa

dikehandaki.

(5.)Perubahan pada raut wajah

Karena tidak mengkonsumsi makanan secara sempurna sebagai akibat

(39)

maka terbukalah peluang bagi terwujudnya berbagai ketidak-seimbangan,

seperti perubahan raut wajah anak. Wajahnya terlihat muram, sendu dan

kekuning-kuningan. Ini lantaran rasa sedih, tidak adannya ketentraman

batin, guncangan pikiran dan pengucilan diri.

(6.)Waktu istirahat tak teratur

Perasaan sedih dan duka seorang anak atas kematian ayah, dapat

mengganggu waktu tidur dan beristirahat dengan baik. Sekalipun dapat

tidur maka tidurnya pun tidak pulas dan lama. Ia pun terjaga, ketika bangun

dan tak melihat ayah disampingnya, ia pun tak dapat tidur kembali.

(7.)Penyakit

Kesedihan dan perasaan duka yang dipendam itulah yang

menyebabkan munculnya penyakit dalam diri anak.

b. Kesahidan

Adakalanya, setelah kesyahidan ayahnya, sang anak berada dalam keadaan

atau suasana yang tak begitu menyedihkan. Keadaan ini terutama terjadi pada

anak-anak yang hidup dalam sebuah rumah tangga yang sibuk atau tak memiliki hubungan

baik dengan ayah sewaktu masih hidup. Juga, bila sang ibu merupakan seorang

wanita cerdas dan bijaksana, yang selalu mengawasi dan mengarahkan kehidupan

anak-anaknya dengan benar.

Kesyahidan disini dapat diartikan meninggalnya suatu hamba karena

membela agama Allah, bagi anak akan menjadikan teladan, panutan, dan idola dalam

(40)

merasakan kebahagiaan, namun, dikemudian hari, ketika telah memiliki pengetahuan

tentang rahasia kehidupan dan kematian serta air mata, ia pun tak mampu lagi

menahan tangis dan kesedihannya. Adapun pengaruh rasa kehilangan terhadap

anak-anak antara lain sebagai berikut :

(1.)Pengaruh terhadap pikiran dan kecerdasan

Karena anak terlalu lama tenggelam dalam perasaan sedih dan duka

maka pertumbuhan otaknya akan terganggu dan melemah, sehingga

menjadikannya memiliki tingkat kecerdasan yang jauh lebih rendah dari

teman-teman sebayannya.

(2.)Kesulitan belajar dan menuntut ilmu

Anak mengalami kesulitan menghubungkan pelajaran yang telah lalu

dengan sekarang. Boleh jadi pandangannya tertuju pada guru atau papan tulis,

namun pikirannya melayang dan terbang ketempat lain.

(3.)Tujuan dan cita-cita

Anak biasanya tenggelam dalam kesedihan yang menimpannya

sehingga tidak mampu menyusun program yang akan dikerjakannya di masa

datang. Atau mereka tidak mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu

untuk meraih tujuan dan cita-cita masa datang.

(4.)Berharap dan menanti

Adakalanya, guncangan kejiwaan memaksa anak menahan berbagai

keinginan dan tuntutan yang biasa dan wajar. Namun, terdapat juga berbagai

(41)

Yakni mereka tidak rela hak-haknya dirampas atau diabaikan, meskipun itu

berkaitan dengan masalah remeh. Ini biasanya dialami anak-anak yang selalu

dimanja atau diagungkan.

(5.)Kepribadian dan mental

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak miskin dan tidak

berayah, bila diasuh dan dibimbing dengan baik pertumbuhan dan

perkembangan mental serta kepribadiannya akan mengalami gangguan,

sehingga tidak memiliki perilaku yang normal dan stabil.

Hasil penelitian Dr. John Balby menunjukkan bahwa keterpisahan

dalam rentang waktu yang cukup panjang, terlebih pada usia tiga tahun

pertama, akan memberikan dampak dan pengaruh yang tidak baik secara

kejiwaan dan kepribadian. Bahkan anak-anak anak melakukan perbuatan

tercela, membangkang, merasa terhina dan rendah diri, bermuka-masam, serta

berperilaku buruk.

(6.)Kelainan jiwa

Boleh jadi, peristiwa kematian tersebut mengakibatkan munculnya

kelainan jiwa, meskipun ini jarang terjadi. Ini bukan hanya menimpa

anak-anak namun juga orang dewasa. Mereka menjadi gila dan tenggelam dalam

khayalan serta angan-angan.

c. Perceraian

Sedangkan perceraian disini dapat berarti berakhirnya sebuah rumah tangga,

(42)

menjalankan tugasnya masing-masing, tidak terdapat rasa saling memaafkan dan

menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing.

Menurut majalah Nikah (No.5 Vol.4 thn,2005) Bagi anak yang masih kecil

dan belum memahami perceraian, dan belum mengerti tentang berbagai peristiwa

yang terjadi setelah perceraian. Ia akan kebingungan, dan menangis, mau tinggal

dengan siapakah ia kelak. Itu jika orang tua mereka tidak menikah lagi, tetapi jika

kedua orang tuanya menikah lagi ini akan memberikan efek yang buruk pada anak

karena anak merasa berbeda dengan teman-temannya anak merasa mempunyai dua

ayah dan dua ibu, mendapat perhatian yang berlebih sehingga dapat mempengaruhi

sikap dan perilakunya.

d. Ditinggal suami bekerja/ berjihat

Ayah yang berjihat, atau sekarang dapat diartikan ayah yang karena sesuatu

hal harus tinggal terpisah dari keluarga, entah karena bekerja atau lain sebagainya,

bagi anak laki-laki akan melahirkan teladan, figur, dan idola. Sementara bagi anak

perempuan tidak terlalu demikian. Oleh karena itu, pengaruh yang muncul dari

peristiwa tersebut lebih banyak menyentuh anak laki-laki dari pada anak perempuan.

Bertapa banyak anak lelaki mengalami berbagai penderitaan, gangguan jiwa,

dan melakukan tindakan kasar. Bahkan terkadang kehilangan akan keberaniannya.

Sementara bagi anak perempuan, hanya terbentuk perasaan kehilangan tempat

bergantung dan mungkin merasa bahwa kelangsungan hidup mereka tengah dalam

(43)

C. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah pada wanita

sebagai orang tua tunggal adalah kemampuan dan kecakapan wanita sebagai orang

tua tunggal dalam menyelesaikan permasalahan secara efektif yang meliputi usaha

untuk memikirkan, memilih dan mempertahankan alternatif jawaban kepada satu

pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang

ditimbulkan ditengah pilihan hidup yang dipilihnya ketika menduduki dua jabatan

sekaligus; sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. Dan harus

memiliki dua bentuk sikap, sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap

anaknya, dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali

aturan dan tata tertib, serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan

rumah tangga.

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan pertanyaan penelitiannya

adalah :

1. Alasan-alasan yang melatar belakangi adannya pemecahan masalah.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kualitatif, dimana

peneliti ingin mengungkap gejala penelitian secara menyeluruh sesuai dengan

konsteknya melalui pengumpulan data dari latar alami. Hadi (1990) mengutarakan

bahwa metode merupakan masalah yang penting dalam penelitian dan sangat

mempengaruhi dari hasil penelitian yang dilakukan. Kesalahan dalam menentukan

metode akan mengakibatkan kesalahan dalam mengambil data serta keputusan,

sebaliknya semakin tepat metode yang digunakan diharapkan semakin baik pula hasil

yang diperoleh karenanya berhasil tidaknya suatu penelitian bergantung pada

ketepatan dalam menentukan metode yang digunakan.

A. Gejala Penelitian

Gejala Penelitian yang akan penulis teliti adalah :

1. Pemecahan masalah

2. Wanita sebagai orang tua tunggal

B. Definisi Operasional Gejala Penelitian

Dalam penelitian ini definisi gejala penelitian yang akan penulis teliti adalah

(45)

1. Pemecahan masalah, adalah sebuah kemampuan aktivitas kognitif dan

kecakapan diri yang dimiliki oleh informan dalam menyelesaikan

permasalahan yang dihadapi di dalam keluarganya secara lebih efektif yang

meliputi usaha informan untuk memikirkan, memilih dan mempertahankan

alternatif dari sebuah jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal

dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan di dalam

keluarganya.

2. Alasan pemecahan masalah adalah dasar yang dipilih dan dilakukan

informan untuk mengatasi kesulitan, hambatan, gangguan, ketidak puasan

atau kesenjangan yang dialaminya antara harapan dan kenyataan.

3. Faktor-faktor pemecahan masalah adalah, hal-hal atau unsur yang

mempengaruhi para informan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi,

adapun faktor yang mempengaruhi adalah berdasarkan kemampuan

inteligensi, usia, jenis kelamin, kreativitas, konsentrasi, pengalaman,

kepercayaan diri dan lingkungan sosial yang berbeda. Pemecahan masalah

yang dipilih, alasan dan faktor yang digunakan informan dalam memecahkan

masalahnya akan digali menggunakan metode wawancara.

4. Wanita sebagai orang tua tunggal adalah wanita yang mempunyai anak

dengan pernikahan sebelumnya, dan belum menikah kembali setelah

ditinggal oleh suaminya baik karena perceraian atau kematian sehingga

(46)

C. Informan Penelitian

Informan yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 4 orang yang

merupakan janda yang membesarkan anak seorang diri. Adapun karakteristik

pekerjaan informan penelitian meliputi : (a) Wiraswasta (b) Pegawai Negeri (c) Janda

pensiunan Polisi (d) Pegawai Swasta. Adapun kriteria usia anak informan penelitian

meliputi : (a) Anak balita (berusia 5 tahun), (b) Anak usia sekolah dasar (berusia 9

tahun), (c) Remaja (berusia 15 tahun), (d) Dewasa Awal (berusia 22 tahun).

Variasi informan yang akan dilihat peneliti dalam penelitian ini didasarkan

pada pekerjaan informan dan usia anak pada masing-masing informan penelitian, dan

peneliti menggunakan informan sebanyak 4 orang.

Tabel 1. Karakteristik informan penelitian

Karakteristik

Informan Umur Tingkat pendidikan

Kreteria anak

Pekerjaan Alamat Lama

menjanda

Manahan 13 Tahun Meninggal karena

Wiraswasta Jagalan 15 Tahun Meninggal karena

(47)

D. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan metode :

1. Wawancara

Menurut Narbuko dan Achmadi (1997) wawancara adalah proses tanya jawab

dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap

muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan

keterangan. Sementara Nasution (1992) menyatakan bahwa wawancara dilakukan

untuk mengetahui apa yang terkandung dalam hati dan pikiran orang lain, bagaimana

pandangannya tentang dunia, yaitu hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui

observasi.

Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

yang menggunakan petunjuk umum wawancara yaitu jenis wawancara yang

mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok “yang

ditanyakan” dalam proses wawancara (Moleong, 2001).

Wawancara dalam penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti sendiri. Teknik

wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung, dimana

peneliti langsung berhadapan dan mewawancarai subjek penelitian. Agar data yang

diperoleh sesuai dengan apa yang disampaikan oleh subjek, maka pembicaraan

selama wawancara sedapat mungkin direkam dengan tape recorder. Alat

pengumpulan data yang digunakan adalah guide interview yang akan disampaikan

(48)

Tabel 2. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua

tunggal

Aspek psikologis Indikator Perilaku Pertanyaan

Aspek kognitif 1. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi

1 Apakah yang ibu pikirkan ketika ada suatu permasalah dalam keluarga ibu, dan bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikannya?

2. Berfikir positif

tentang kecakapan diri untuk

memecahkan masalah.

1. Bagaimana ketika ada masalah dalam

keluarga, apakah ibu berusaha

memecahkan masalah yang dihadapi seorang diri tanpa bantuan orang lain?

3. Berfikir sistematis 1. Bagaimana ketika ibu

mandapatkan masalah didalam keluarga dan bagaimana

menentukan tindakan yang ibu pilih? apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi selanjutnya?

4. fleksibilitas. 1. Bagaimanakah ibu

(49)

Aspek afektif Emosi 1. Bagaimana perasaan ibu pada anak-anak dan bagaimana penyesuaian diri ibu pada saat masa awal ditinggal oleh suami?

2. Bagaimana perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam diri keluarga ibu?

Aspek psikomotor

1. Motivasi 1. Bagaimana ketika ada masalah dalam keluarga ibu, apakah ibu ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya?

2. Kepercayaan dan

sikap yang tepat

1. Apakah ada keluarga lain yang membantu

menyelesaikan masalah ketika ada masalah dalam keluarga ibu dan apakah ibu selalu mau menerima bantuannya? Apabila mau menerima bantuannya bagaimana ibu

mempercayai dan menyikapinya?

Sumber data primer, 2008

Sedangkan guide interview yang digunakan dalam wawancara dengan orang

(50)

Tabel 3. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua

tunggal untuk wawancara dengan Significant person.

Aspek Indikator perilaku Daftar Pertanyaan

1. Identitas fleksibilitas. 1. Apakah anda

mengenal ibu…? 2. Sejauh mana anda

mengenalnya? 2. Kehidupan rumah

tangganya

Berfikir sistematis 1. Bagaimana kehidupan rumah tangganya menurut

sepengetahuan anda? 3. Permasalahan yang

dihadapi

Kepercayaan dan sikap yang tepat

1. Apakah pernah ibu… menceritakan tentang masalah

keluargannya? 2. Sejauh mana anda

terlibat dalam kehidupan rumah tanggannya? 4. Pendapat significant

person terhadap

informan.

Emosi 1. Bagaimana tanggapan

anda mengenai ibu…? 2. Bagaimana tentang

sosialisasinya?

Sumber data primer, 2008

2. Observasi

Menurut Banister (Poerwandari, 1998) istilah observasi diarahkan pada

kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan

mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Lebih lanjut

dikatakan bahwa tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari,

(51)

makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang

diamati tersebut.

Patton (Poerwandari, 1998) menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data

penting karena memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada

penemuan daripada penelitian. Selain itu memungkinkan peneliti melihat hal-hal

yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari dan juga memungkinkan peneliti

memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh

subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.

Observasi yang digunakan bersifat deskriptif, yaitu mencatat data konkret

berkaitan dengan fenomena yang diamati agar memungkinkan pembaca untuk dapat

memvisualisasikan setting yang diamati. Dengan uraian deskriptif, pengamat

meminimalkan biasnya, sehingga dengan sendirinya juga dapat mengembangkan

analisis yang lebih akurat saat menginterprestasi seluruh data yang ada (Poerwandari,

1998). Alat pengumpulan data yang digunakan adalah guide observasi yang akan

dijadikan pedoman dalam pengamatan terhadap subjek yaitu :

Tabel 4. Guide observasi

Aspek Hal-hal yang diobservasi

1) Fisik a. Kondisi fisik.

b. Pakaian yang dikenakan ketika wawancara.

c. Sikap subjek ketika wawancara.

2) Psikologis a. Bahasa tubuh informan

b. Ekspresi wajah

(52)

wawancara

d. Interaksi informan dengan orang-orang disekitarnya

3) Lingkungan a. Lingkungan fisik dilakukannya wawancara

b. Suasana ruangan dilakukannya wawancara.

Sumber data primer, 2008

E. Keabsahan data / Trustworthiness

Menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan.

Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Moleong

(2001) membagi 4 kriteria keabsahan data yaitu :

1) Keteralihan (transferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris yang bergantung pada kesamaan

konteks pengirim dan penerima. Keteralihan dilakukan dengan cara uraian

rinci (thick description) dimana peneliti melaporkan uraian hasil penelitian

yang dilakukannya dengan teliti dan cermat sehingga mengambarkan kontek

tempat penelitian diselenggarakan.

2) Kebergantungan (dependability)

Penganti istilah reliabilitas dalam penelitian nonkualitatif.

3) Kepastian (confirmability).

Objektifitas dalam penelitian kualitatif menghendaki penekanan bukan

(53)

dilakukan dengan penulusuran audit (audit trail), proses ini didasarkan pada

catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan proses dan hasil studi.

4) Kepercayaan (credibility),

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi,

dimana peneliti akan membandingkan apa yang dikatakan orang terdekat

informan dengan apa yang dikatakan informan.

F. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan satu langkah yang sangat kritis dalam suatu

penelitian (Suryabrata, 1992). Lebih lanjut dikatakan bahwa analisis data adalah cara

peneliti dalam mengolah data yang terkumpul sehingga mendapatkan suatu

kesimpulan penelitian. Poerwandari (1998) mengemukakan bahwa data penelitian

kualitatif tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa narasi, deskripsi, cerita,

dokumen tertulis dan tidak tertulis ataupun bentuk-bentuk non angka lainnya.

Nasution (1992) menyatakan bahwa analisis data adalah proses menyusun

data, mengkategorikan data, mencari pola atau tema dengan maksud untuk

memahami maknanya. Data-data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dan

observasi.

Berdasarkan jenis data tersebut maka teknik analisis data yang digunakan

peneliti adalah content analysis (analisis isi atau kajian isi). Berelson (Bungin,2004)

mendefinisikan analisis isi sebagai metode untuk mempelajari dan menganalisis

(54)

Sedangkan Holsti (Moelong,2001) menyatakan bahwa kajian isi adalah teknik yang

digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan,

(55)

BAB IV

LAPORAN PENELITIAN

A. Persiapan Penelitian

Tahap persiapan penelitian merupakan tahap yang dilakukan sebelum

pelaksanaan penelitian. Adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Orientasi lapangan

Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu di kota Surakarta dan

Karanganyar. Informan yang digunakan sebagai sampel sebanyak 4 orang.

Informan yang ada di Surakarta sebanyak 3 orang yang menghidupi keluargannya

sebagai Wiraswasta (penjahit), Janda pensiunan POLRI, dan Pegawai Swasta

(buruh harian lepas), ketiganya berasal dari Kelurahan yang berbeda-beda.

Sedangkan 1 informan yang ada di Karanganyar Bekerja sebagai PNS (guru).

Keempat informan tersebut memiliki usia, tingkat pendidikan, latar belakang

ekonomi, dan jumlah serta umur anak yang berbeda-beda.

Penelitian pada informan pertama dilakukan di daerah aspol Manahan

pada tanggal 9 September 2008, Kemudian penelitian informan kedua dilakukan

di daerah Jagalan pada tanggal 9 September 2008, sedangkan penelitian informan

ketiga dilakukan Sumber pada tanggal 18 September 2008, dan penelitian

informan keempat dilakukan di daerah Gawanan Colomadu pada tanggal 24

(56)

2. Persiapan alat pengumpul data

Penulis mempersiapkan beberapa alat pengumpul data untuk mendapatkan

data yang diperlukan dalam penelitian ini, antara lain :

a. Pedoman wawancara,

Dalam penyusunan pedoman wawancara berdasarkan pada pertanyaan

penelitian. Pedoman tersebut mengalami pengembangan dan penyempitan,

artinya pedoman yang digunakan dapat diubah sesuai dengan situasi dan

kondisi penelitian sehingga diharapkan akan terkumpul data yang diantaranya

menjawab pertanyaan penelitian tersebut.

b. Pedoman observasi,

Penyusunan pedoman observasi dilakukan untuk lebih memfokuskan

hal-hal yang akan diobservasi serta memperkecil kemungkinan terlewatnya

hal-hal penting yang harus diobservasi.

B. Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2008, dengan subjek penelitian

sebanyak 4 orang wanita sebagai orang tua tunggal yang telah memiliki anak dari

pernikahan sebelumnya dan belum menikah lagi, yang terdiri dari 3 orang informan

yang bertempat tinggal di Surakarta dan 1 orang informan yang bertempat tinggal di

Karanganyar. Informasi tentang keberadaan subjek diketahui penulis melalui

(57)

Penulis melakukan wawancara dengan informan di rumahnya masing-masing.

Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan orang terdekat subjek untuk

menambah informasi. Selama wawancara subjek ada yang didampingi anaknya,

namun ada pula yang tidak didampingi. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa

tahap, antara lain peneliti berusaha mengetahui tentang masa lalu subjek, yaitu

dengan melakukan rapport untuk mendapatkan informasi tentang diri subjek dan

sekaligus melakukan observasi terhadap tingkah laku subjek dalam kehidupan

keluarga.

C. Analisis Data

1. Karakteristik informan penelitian

Karakteristik informan penelitian dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 5. Karakteristik Informan Penelitian

Keterangan Informan I Informan II Informan III Informan IV

Nama Informan M Y T. R. S E. S

Tingkat pendidikan

SMA SMA SMA S 1

Umur 47 Tahun 54 Tahun 45 Tahun 36 Tahun

Kriteria anak Remaja 15 tahun

Dewasa awal 22 tahun

Usia SD 9 tahun

Balita 5 tahun

Pekerjaan Janda

pensiunan

Penjahit Buruh Guru

Alamat Manahan Jagalan Sumber Gawanan

Lama menjanda 13 Tahun 15 Tahun 2 Tahun 5 Tahun

Penyebab

informan menjadi janda

Meninggal karena sakit

Meninggal karena sakit

Meninggal karena kecelakaan

Meninggal karena kecelakaan

(58)

ASPEK INDIKATOR PERILAKU

PERTANYAAN HASIL WAWANCARA ANALISIS

Bagaimana kesabaran dan selalu berusaha”

(W I / S I, 19-20)

Informan menghadapi masalah dengan sabar dan selalu berusaha

1. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi

Kesimpulan : Informan (M) menyikapi permasalahannya dengan penuh kesabaran dan selalu berusaha.

Apakah ibu

“Kalau masih dalam masalah pendidikan, insya allah saya masih bisa mengatasi sendiri, tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan saya kompromikan dengan bisa diatasi sendiri Aspek

kognitif

2. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah.

Kesimpulan : Informan (M) mengajak keluarga terdekatnya untuk memikirkan langkah yang terbaik untuk dipilih

(59)

akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih

pikirkan jernih, dengan bening insya allah tidak”

(W I/S I.88-90)

“Tidak, saya pasrah”

(W I/ S I.94)

tindakan yang diambilnya.

Kesimpulan : Karena Informan (M) sudah pasrah maka informan tidak terlebih dahulu memikirkan tindakan yang diambilnya.

Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain

“kalau dalam masalah keluarga ya tidak masalah, tapi kalau masalah yang perlu dikomunikasikan sama keluarga ya saya konsultasikan, kalau nggak perlu ya nggak, nggak saya konsultasikan sama keluarga”

(W I/S I.100-106)

Informan mau menerima dan melibatkan orang lain didalam masalahnya 4. fleksibilitas.

Kesimpulan : Informan (M) mau meneriman dan melibatkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

(60)

oleh bapak harus bersikap sabar” (W I/S I. 139-143

terlebih dahulu.

Kesimpulan : Informan (M) memegang kendali penuh dalam keluarga setelah kematian suaminya.

Bagaimana perasaan ibu kalau

menghadapi masalah

“cuma apa sok kadang-kadang kesulitan yang tidak bisa teratasi untuk dirinya, hanya

menyerahkan sama allah” (W I/S I. 161-164)

Perasaan informan hanya pasrah ketika menghadapi

masalah

Kesimpulan : Ketika menghadapi masalah yang tidak bisa teratasi oleh informan (M), informan pasrah.

(61)

yang betul-betul soleh dan solehah, bakti pada kepada orang tuannya, dunia sampai akherat itu yang saya harapkan”

(W I/S I. 264-270)

sekarang.

Kesimpulan : Informan (M) berharap anaknya lebih baik dari dirinya dan menjadi yang terbaik.

Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya

“Saya kalau ada masalah, saya ingin karena saya anu tipe orangnya tuh tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang

dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan, segera diselesaikan, otomatis segera selesai besuk sudah ganti persoalan lagi”

( W I/ S I, 172-178)

Informan ingin langsung segera menyelesaikan masalahnya Aspek

psikomotor

1. Motivasi

Kesimpulan : Informan (M) selalu ingin langsung menyelesaikan masalah yang dihadapinya

(62)

masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga

keluarganya

Kesimpulan : Informan (M) tidak memecahkan masalahnya seorang diri

Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga

“Karena itu rejeki, mungkin rejeki anak saya tapi lewat mereka”

(W I/ S I, 231-232)

“karena semua itu yang memberikan dan yang menglantari tuh semua Allah”

(W I/ S I, 244-247)

“Saya yakin, semua datangnya dari Allah, cuma mer, anu

hambannya tuh sebagai lantaran”

(W I/ S I, 252-254)

Informan mau untuk menerima bantuan yang diberikan kepadannya

Kesimpulan ; Informan (M) menerima pemberian bantuan dari keluarga lain.

Figur

Tabel 1. Karakteristik informan penelitian

Tabel 1.

Karakteristik informan penelitian p.46
Tabel 2. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua

Tabel 2.

Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua p.48
Tabel 3. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua

Tabel 3.

Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua p.50
Tabel 4. Guide observasi

Tabel 4.

Guide observasi p.51
Tabel 5. Karakteristik Informan Penelitian

Tabel 5.

Karakteristik Informan Penelitian p.57
Tabel 6. Tabulasi Hasil Wawancara Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai

Tabel 6.

Tabulasi Hasil Wawancara Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai p.90
Gambar 1  Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan I

Gambar 1

Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan I p.95
Gambar II  Skema alasan dan Faktor pemecahan masalah Informan II

Gambar II

Skema alasan dan Faktor pemecahan masalah Informan II p.96
Gambar III Skema dan Alasan dan Faktor Pmecahan Masalah Informan III

Gambar III

Skema dan Alasan dan Faktor Pmecahan Masalah Informan III p.97
Gambar IV Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan IV

Gambar IV

Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan IV p.98
Tabel 7. Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai

Tabel 7.

Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai p.107
Gambar 6 Skema Dinamika Psikologis Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal

Gambar 6

Skema Dinamika Psikologis Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal p.112

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL. Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Pengertian pemecahan masalah a. Pengertian masalah Pemahaman masalah Problem Understanding Penemuan berbagai hipotesis mengenai cara pemecahan, dan memilih Menguji hipotesis Pengenalan masalah Definisi masalah Pilihan tindakan Pelaksanaan dan evaluasi Motivasi Kepercayaan dan sikap yang tepat Fleksibilitas Emosi Berpikir positif tentang masalah yang dihadapi Berpikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah Berpikir sistematis Inteligensi Usia Jenis Kelamin Kreativitas Konsentrasi Pengalaman Kepercayaan diri Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal Tidak nafsu makan Gangguan Pencernaan Pertumbuhan badan yang terganggu Perubahan pada raut wajah Waktu istirahat tak teratur Penyakit Pengaruh terhadap pikiran dan kecerdasan Perceraian Ditinggal suami bekerja berjihat Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Pertanyaan Penelitian Gejala Penelitian Definisi Operasional Gejala Penelitian Informan Penelitian Wawancara Metode dan Alat Pengumpulan Data Keabsahan data Trustworthiness Metode Analisis Data Hasil data wawancara dengan informan Hasil data observasi informan I Hasil data observasi informan II Hasil data observasi informan III Hasil data observasi informan IV Membutuhkan bantuan orang lain Berserah diri Berfikir positif Berusaha Berharap Alasan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Pembahasan umum pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua Tingkat pendidikan Usia Kreativitas Kepercayaan diri Lingkungan sosial Kepada Informan penelitian Kepada anak Kepada masyarakat