MENINGKATKAN GERAK DASAR LARI SPRINT PADA CABANG ATLETIK MELALUI PERMAINAN BEBENTENGAN PADA SISWA KELAS IV SDN NEGLASARI KECAMATAN TOMO KABUPATEN SUMEDANG.

48  Download (0)

Full text

(1)

i

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pendidikan Jasmani ... 18

a. Pengertian Pendidikan Jasmani ... 20

b. Tujuan Pendidikan Jasmani ... 24

c. Ruang Lingkup Pengajaran Pendidikan Jasmani ... 26

d. Hakikat Belajar Pendidikan Jasmani ... 28

B. Pembelajaran Atletik di SD ... 30

a. Pengertian Lari Sprint ... 33

b. Pembelajaran Lari Sprint di SD... 34

C. Permainan Tradisional ... 35

a. Pengertian Permainan Tradisional ... 36

b. Manfaat Permainan Tradisional ... 38

c. Pengertian Permainan Tradisional Bebentengan ... 39

D. Temuan Hasil ... 42

E. Hipotesis Tindakan ... 45

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 47

1. Rancangan Penelitian ... 47

B. Tahap Penelitian ... 50

1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning) ... 50

2. Pelaksanaan Tindakan (Action) ... 50

3. Pengamatan (Observation) ... 51

4. Refleksi (Reflection) ... 52

C. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 52

(2)

ii

BAB IV PEMBAHASAN DAN PENGOLAHAN DATA A. Paparan Data Awal ... 61

b. Paparan Data Pelaksanaan Siklus III ... 105

c. Paparan Data Hasil ... 114

d. Refleksi ... 118

e. Pembahasan ... 119

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 123

(3)

iii

(4)

iv

Tabel Halaman

1.1 Data Awal Penilaian Siswa ... 7

3.1 Daftar Pengajar SDN Neglasari ... 54

3.2 Daftar Jumlah Siswa SDN Neglasari ... 55

4.1 Data Hasil Belajar Lari Sprint 60 m ... 63

4.2 Data Aktivitas Siswa Siklus I ... 70

4.3 Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus I ... 74

4.4 Data Hasil Belajar Lari Sprint 60 m Siklus I ... 75

4.5 Data Aktivitatas Belajar Siswa Siklus II ... 88

4.6 Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus II ... 91

4.7 Data Hasil Belajar Lari Sprint 60 m Siklus II ... 93

4.8 Data Aktivitas Belajar Siklus III Siswa Siklus III ... 107

4.9 Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus III ... 110

(5)

v

Gambar Halaman 1.1 Model Spiral Kemmis & Mc. Taggart ... 49 4.1 Diagram Batang Kinerja Guru Siklus I ... 78 4.2 Diagram Batang Perbandingan Jumlah Siswa yang Memenuhi

Kriteria Pada Data Awal Siklus I... 79 4.3 Diagram Batang Perbandingan Kinerja Guru Siklus I dan Siklus II .... 95 4.4 Diagram Batang Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus II 96 4.5 Diagram Batang Perbandingan Jumlah Siswa yang Memenuhi

Kriteria Pada Siklus I dan Siklus II ... 97 4.6 Diagram Batang Perbandingan Kinerja Guru Siklus I, Siklus II,

Siklus III ... 114 4.7 Diagram Batang Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I, Siklus II,

dan Siklus III ... 115 4.8 Diagram Batang Perbandingan Jumlah Siswa yang Memenuhi

(6)

i

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pendidikan Jasmani ... 18

a. Pengertian Pendidikan Jasmani ... 20

b. Tujuan Pendidikan Jasmani ... 24

c. Ruang Lingkup Pengajaran Pendidikan Jasmani ... 26

d. Hakikat Belajar Pendidikan Jasmani ... 28

B. Pembelajaran Atletik di SD ... 30

a. Pengertian Lari Sprint ... 33

b. Pembelajaran Lari Sprint di SD... 34

C. Permainan Tradisional ... 35

a. Pengertian Permainan Tradisional ... 36

b. Manfaat Permainan Tradisional ... 38

c. Pengertian Permainan Tradisional Bebentengan ... 39

D. Temuan Hasil ... 42

E. Hipotesis Tindakan ... 45

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 47

1. Rancangan Penelitian ... 47

B. Tahap Penelitian ... 50

1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning) ... 50

2. Pelaksanaan Tindakan (Action) ... 50

3. Pengamatan (Observation) ... 51

4. Refleksi (Reflection) ... 52

C. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 52

(7)

ii

BAB IV PEMBAHASAN DAN PENGOLAHAN DATA A. Paparan Data Awal ... 61

b. Paparan Data Pelaksanaan Siklus III ... 105

c. Paparan Data Hasil ... 114

d. Refleksi ... 118

e. Pembahasan ... 119

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 123

(8)

iii

(9)

iv

1.1 Data Awal Penilaian Siswa ... 7

3.1 Daftar Pengajar SDN Neglasari ... 54

3.2 Daftar Jumlah Siswa SDN Neglasari ... 55

4.1 Data Hasil Belajar Lari Sprint 60 m ... 63

4.2 Data Aktivitas Siswa Siklus I ... 70

4.3 Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus I ... 74

4.4 Data Hasil Belajar Lari Sprint 60 m Siklus I ... 75

4.5 Data Aktivitatas Belajar Siswa Siklus II ... 88

4.6 Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus II ... 91

4.7 Data Hasil Belajar Lari Sprint 60 m Siklus II ... 93

4.8 Data Aktivitas Belajar Siklus III Siswa Siklus III ... 107

4.9 Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus III ... 110

(10)

v

1.1 Model Spiral Kemmis & Mc. Taggart ... 49 4.1 Diagram Batang Kinerja Guru Siklus I ... 78 4.2 Diagram Batang Perbandingan Jumlah Siswa yang Memenuhi

Kriteria Pada Data Awal Siklus I... 79 4.3 Diagram Batang Perbandingan Kinerja Guru Siklus I dan Siklus II .... 95 4.4 Diagram Batang Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus II 96 4.5 Diagram Batang Perbandingan Jumlah Siswa yang Memenuhi

Kriteria Pada Siklus I dan Siklus II ... 97 4.6 Diagram Batang Perbandingan Kinerja Guru Siklus I, Siklus II,

Siklus III ... 114 4.7 Diagram Batang Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I, Siklus II,

dan Siklus III ... 115 4.8 Diagram Batang Perbandingan Jumlah Siswa yang Memenuhi

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani diajarkan di sekolah mempunyai peranan penting untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.

Pembekalan pengalaman belajar penjas diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan. psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat, seperti yang dikatakan oleh Yusuf (2006: 183).

Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktifitas motorik yang lincah. Oleh karena, itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan. motorik ini, sepeti menulis, menggambar, melukis, mengetik, berenang, main bola dan atletik.

Dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani yang diutamakan adalah siswa harus banyak bergerak atau aktif. Pada dasarnya pendidikan jasmani adalah upaya untuk membina manusia baik secara fisik maupun mental melalui aktivitas jasmani. Tujuan utama pendidikan jasmani adalah

(12)

menghasilkan manusia yang sehat, cerdas, aktif, disiplin serta sportif dan kemandirian yang tinggi.

Mata pelajaran pendidikan jasmani yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu program yang bertujuan untuk meningkatkan kesegaran siswa, dengan kesehatan yang baik diharapkan siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani adalah siswa yang banyak bergerak atau aktif dalam mengikuti pembelajaran. Maka dari itu, mata pelajaran pendidikan jasmani sangat berperan penting bagi kesehatan siswa.

Guru pendidikan jasmani mempunyai peranan vang sangat penting untuk membantu tercapainya kesegaran jasmani siswa, karena itu guru pendidikan jasmani harus mampu membawa siswa kedalam situasi yang menyenangkan dalam pembelajaran. Dalam menerapkan batasan pendidikan jasmani, harus pula dipertimbangkan kaitannya dengan permainan dan olahraga. Meskipun banyak yang menganggap, bahwa tidak ada perbedaan antara ketiganya, kajian secara khusus menunjukkan ciri masing-masing meskipun saling melengkapi. Permainan jadi aktivitas bermain, terutarna merupakan aktivitas kegembiraan. Bermain adalah jenis non-kompetitif, atau non-pertandingan dari kegembiraan gerak fisik. Meskipun bermain tidak harus selalu fisikal.

(13)

meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran. Keberhasilan program pendidikan jasmani di sekolah tentunya harus didukung beberapa faktor seperti : kecakapan guru pendidikan jasmani dalam memberikan materi ajar dan meningkatkan kemauan siswa dalam mengikuti pelajaran serta tersedianya alat dan fasilitas yang memadai. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada, seorang guru pendidikan jasmani dengan kreatifitas yang dimilikinya dapat memodifikasi proses pembelajaran melalui model permainan untuk meningkatkan motivasi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Salah satu model permainan yang bisa dikembangkan salah satunya dengan cara menerapkan bentuk permainan tradisional. Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dan pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap, merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan. Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.

(14)

Menurut Hughes (1999: 148), dalam Ismail (2006: 157) seorang ahli mengatakan bahwa bermain adalah :

Merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur didalamnya, yaitu: 1. Mempunyai tujuan yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat

kepuasan.

2. Memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.

3. Menyenangkan dan dapat menikmati.

4. Mengkhayal untuk mengembangkan daya imaginatif dan kreativitas.

5. Melakukan secara aktif dan sadar.

Salah satu jenis permainan yang sering dimainkan oleh siswa SD yaitu permainan tradisional. Permainan tradisional juga dikenal sebagai permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial.

(15)

Permainan tradisional dapat diterapkan dalam pembelajaran penjas di SD, salah satunya dalam pembelajaran lari sprint. Untuk lebih mempermudah kita menelaah bahan ajar ini akan lebih balk kita tahu apa pengertian atletik itu sendiri, seperti yang dikatakan oleh Syarifudin (1992: 1).

Atletik adalah salah satu cabang olahraga tertua, yang telah dilakukan oleh manusia sejak jaman purba sampai dewasa ini. Bahkan boleh dikatakan sejak adanya manusia dimuka bumi ini atletik sudah ada, karena gerakan-gerakan yang terdapat dalam cabang olahraga atletik, seperti berjalan, berlari, melompat dan melempar adalah gerakan yang dilakukan oleh manusia didalam kehidupannya sehari-hari.

Atletik berasal dari bahasa Yunani, yaitu athlon atau athlum yang artinya pertandingan, perlombaan, pergulatan, atau perjuangan sedangkan orang yang melakukannya dinamakan athleta (atlet).

Di dalam perlombaan atletik ada nomor-nomor yang dilakukan di lintasan (track) dan ada nomor-nomor yang dilakukan di lapangan (field). Oleh karena itu atletik di Amerika, dinamakan “Track and field”.

(16)

Nomor-nomor yang terdapat dalam cabang olahraga atletik secara garis besar dapat dijadikan 3 bagian, yaitu : Nomor jalan dan lari, nomor lompat, dan nomor lempar. Salah satu cabang atletik yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu cabang lari sprint.

Lari jarak pendek atau sering juga dikatakan dengan lari cepat (sprint), adalah suatu cara lari di mana si atlet harus menempuh seluruh jarak dengan kecepatan semaksimal mungkin. Artinya harus melakukan lari yang secepat-cepatnya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya mulal awal (mulai dari start) sampai dengan melewati ganis akhir (finish).

Untuk pembelajaran lari sprint di SD lebih menekankan pada proses. Namun, orientasi pendidikan lebih cepat, lebih jauh dan lebih tinggi, dapat juga disiapkan. Bentuk tugas semacam ini, menanamkan sifat bahwa, atletik merupakan wahana bagi pendidikan jasmani. Karena itu ide-ide bermain harus dipilih secara cermat guna mengoptimalkan pencapalan tujuan pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan jasmani.

(17)

Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan di SDN Neglasari Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang, pada saat pembelajaran lari sprint siswa terlihat tidak bersemangat mengikuti pembelajaran lari sprint, pembelajaran lari sprint yang tidak dikemas dalam bentuk permainan membuat siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran tersebut, dan kemampuan dasar kecepatannya pun tidak terlalu baik, dan hasilnya tidak sesuai dengan KKM. Untuk mengetahui kemampuan kecepatan dan seberapa besar minat siswa terhadap pembelajaran lari sprint. Maka peneliti melakukan tes kecepatan lari sprint 60 meter, selain itu untuk mengetahui motivasi siswa mengikuti pembelajaran lari sprint, maka peneliti membuat angket yang sebelumnya telah diujicobakan kepada siswa kelas IV SDN Neglasari.

(18)

11 Handrian N. √ √ √ 4 44,4 √

3 Jika posisi jongkok, lutut dan tangan sejajar dengan garis start dan posisi kepala lurus ke depan.

2 Jika posisi jongkok, lutut dan tangan sejajar dengan garis start dan kepala tidak lurus ke depan.

1 Jika posisi jongkok, lutut dan tangan sejajar dengan garis start dan posisi kepala ditekukkan ke bawah.

Gerakan Inti

3 Jika pada saat lari mengayunkan tangan saling bergantian dan gerakan lari lebih cepat.

2 Jika pada saat lari tidak mengayunkan tangan saling bergantian dan gerakan lari lebih cepat.

1 Jika pada saat lari tidak mengayunkan tangan saling bergantian dan gerakan lari kurang cepat.

Gerakan Akhir

3 Jika pada saat finish, kepala harus terlebih dahulu dan badan dicondonggkan ke depan.

(19)

badan tidak dicondonggkan ke depan.

1 Jika pada saat finish, kepala tidak terlebih dahulu dan badan tidak dicondonggkan ke depan.

Nilai = Skor yang diperoleh x 100 Skor Maksimal

Skor maksimal = 9

Berdasarkan gejala yang terjadi, jika permasalahan dalam permainan ini tidak diteliti, jelas akan menimbulkan ketidaktercapaian tujuan pembelajaran dan siswa tidak memiliki pengalaman belajar sesuai dengan keterampilan yang akan diperolehnya. Sebaiknya, jika gejala yang timbul diteliti dengan benar, maka akan diperoleh suatu pembelajaran yang sesuai dengan pembelajarannya. Selain itu, mengenai aspek kognitif, afektif dan spikomotor siswa mengenai gerak dasar lari sprint.

Ditinjau dari permasalahan tersebut, peneliti memberikan tindakan untuk memodifikasi pembelajaran lari sprint menggunakan permainan tradisional, yang bertujuan untuk meningkatkan kecepatan dan motivasi siswa pada saat pembelajaran lari sprint. Salah satu bentuk permainan yang bisa diterapkan pada pembelajaran lari sprint di SD yaitu salah satunya menggunakan bentuk permainan tradisional bentengan, diambil dari kamus Wikipedia. Com. 2009. (www.kamuswikimedia.com).

(20)

dimana untuk group yang memiliki tiang atau pilar itu, sudah berada di area aman tanpa takut terkena lawan.

Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi 'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dan 'aktu terakhir saat si 'penawan' atau 'tertawan' menyentuh 'benteng' mereka masing-masing. Orang yang paling dekat waktunya ketika menyentuh benteng berhak menjadi 'penawan' dan bisa mengejar dan menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan.

Dalam permainan ini, biasanya masing-masing anggota mempunyai 'penyerang', 'mata-mata, 'pengganggu', dan penjaga benteng'. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan strategi yang handal.

Melalui pembelajaran permainan tradisional bebentengan, pembelajaran lari sprint akan lebih menarik, dan siswa tidak akan cepat bosan, siswa mendapatkan banyak variasi dalam pembelajaran, memotivasi kreativitas dan semangat belajar siswa, selain itu siswa dapat belajar sambil bermain.

(21)

Agar pembelajaran lari sprint bisa berjalan lancar, guru harus bisa memberikan motivasi atau dorongan yang bisa membuat siswa terpacu semangatnya untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Karena apabila siswa tidak memiliki motivasi untuk melakukan pembelajaran lari sprint maka tidak akan timbul suatu pembelajaran yang diharapkan sesuai tujuan yang hendak dicapai.

Dari paparan di atas, maka peneliti mengambil judul “Meningkatkan

Gerak Dasar Lari Sprint Pada Cabang Atletik Melalui Permainan Bebentengan.”

B. Rumusan Masalah

Dari uraian ini penulis merumuskan beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimana perencanaan gerak dasar lari sprint dalam permainan bebentengan untuk meningkatkan gerak dasar lari melalui permainan bebentengan pada siswa SDN Neglasari ?

2. Bagaimana pelaksanaan permainan bebentengan untuk meningkatkan gerak dasar lari sprint pada siswa SDN Neglasari ?

(22)

C. Pemecahan Masalah

Masalah tentang belum optimalnya guru Penjas dalam menyajikan proses pembelajaran tugas gerak di SDN Neglasari. Khususnya dalam hal meningkatkan gerak dasar lari sprint melalui permainan bebentengan dipecahkan melalui proses penelitian tindakan kelas (class action research). Penelitian tindakan pada prinsipnya, adalah penelitian yang dilakukan dalam setting kelas oleh guru sebagai pelaku pembelajaran. Bentuk penelitian tersebut dapat dikatakan sebagai penelitian tindakan kelas (PPPG, 2005).

Karena penelitian dilakukan dalam setting kelas maka harus melibatkan seorang guru Penjas sebagai pelaksana pembelajaran dari seorang peneliti sebagai observer sehingga proses pelaksanaan dan hasil penelitian ini menjadi tidak bias.

Sedangkan konsep penelitian tindakan terdiri dari empat komponen yaitu :

a. Tahap Perencanaan

1. Membuat skenario pembelajaran.

2. Membuat evaluasi belajar, untuk melihat peningkatan siswa dalam pembelajaran lari sprint.

(23)

b. Tahap Pelaksanaan

1. Mengkondisikan siswa ke arah pembelajaran yang kondusif dengan metode bermain.

2. Guru memotivasi siswa.

3. Guru melakukan apersepsi sebelum kegiatan pembelajaran. 4. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

5. Penjelasan teknik lari sprint. a. Lari dengan ujung kaki.

b. Lutut atau paha di angkat tinggi.

c. Ayunan lengan atau tangan dari belakang ke depan. d. Badan condong ke depan.

c. Pengamatan

Guru dan peneliti mengamati (mencatat) proses pembelajaran gerak dasar pada siswa kelas IV SDN Neglasari. Aktivitas siswa berkaitan dengan sikap dan perilaku sebelum (pada tahap persiapan), selama dan sesudah melaksanakan aktivitas belajar gerak dasar pada siswa kelas IV SDN Neglasari, termasuk juga memperoleh gambaran minat dan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran gerak dasar lari sprint.

d. Tahap Evalusi

(24)

lembar observasi maupun catatan lapangan kinerja guru dan aktivitas siswa. Sesudah penyampaian materi, siswa melakukan pos tes untuk memperoleh perkembangan kemampuan individu dalam pembelajaran gerak dasar lari sprint.

Untuk memperbaiki permasalahan dalam pembelajaran tersebut. Selain satu cara yang dapat digunakan adalah dengan permainan bebentengan maka siswa akan bisa memahami pembelajaran tersebut tidak hanya itu dengan menggunakan permainan tersebut siswa akan memiliki minat yang besar saat pembelajaran atketik, melalui permainan tersebut siswa tidak merasa belajar atletik karena pembelajaran tersebut menggunakan permainan bebentangan untuk meningkatkan gerak dasar lari spint pada cabang atletik lari jarak pendek.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang diajukan, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah

1. Untuk mengetahui perencanaan gerak dasar lari sprint melalui permainan bebentengan pada siswa kelas IV SDN Neglasari.

2. Untuk mengetahui pelaksanaan dalam pembelajaran gerak dasar lari sprint melalui permainan bebentengan siswa kelas IV SDN Neglasari. 3. Untuk mengetahui hasil belajar dalam pembelajaran gerak dasar lari

(25)

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi :

a. Guru : dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas ini guru dapat mengetahui tindakan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan gerak dasar lari sprint dalam rangka meningkatkan kemampuan gerak dasar sebagai pondasi bagi peningkatan keterampilan gerak tahap lanjut.

b. Siswa : penelitian tindakan kelas ini akan bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan gerak dasar guna meningkatkan keterampilan gerak yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan kesehariannya.

c. Sekolah Dasar : hasil penelitian tindakan kelas ini akan memberikan sumbangan yang berarti bagi sekolah dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan efektivitas efesiensi proses pembelajaran Penjas. Terutama bagi sekolah yang tempat penelitian ini dilaksanakan dan bagi sekolah lain pada umumnya.

(26)

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalah pahaman terhadap pokok-pokok masalah yang diteliti, berikut ini akan dijelaskan secara operasional beberapa istilah yang dipandang perlu untuk diketahui kejelasannya, sebagai berlikut.

a. Pembelajaran adalah dengan mengaktifkan indera siswa agar memperoleh pemahaman sedangkan pengaktifan indera dapat dilaksanakan dengan jalan menggunakan media/alat bantu. Di samping itu penyampaian pengajaran dengan berbagai variasi artinya menggunakan banyak metode. (Krisna. 2009: 56).

b. Sprint atau lari cepat merupakan salah satu nomor lomba dalam cabang olahraga atletik. Sprint atau lari cepat merupakan semua perlombaan lari dimana peserta berlari dengan kecepatan maksimal sepanjang jarak yang ditempuh. Sampai dengan jarak 400 meter masih digolongkan dalam lari cepat atau sprint. (Jaya. 2007: 157).

c. Permainan tradisional adalah permainan anak-anak dan bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat (Sukirman, 2008: 19). d. Bebentengan adalah permainan yang dimainkan dengan cara saling

menangkap sambil menjaga benteng yang dijaga oleh batu. (Sarah, 2009: 65).

(27)
(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta-fakta prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu secara teknologi.(Margono, 2004:1).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu suatu bentuk kajian yang bersifat refiektif untuk memahami, meningkatkan kemahiran, memperbaiki kondisi proses pembelajaran. Tahapan-tahapan yang dipergunakan dalam penelitian tindakan kelas ini dimulai dari : pencarian masalah, melakukan orientasi, merencanakan tindakan perbaikan, merencanakan tindakan, observasi dan interpretasi, analisis dan refleksi, dan selanjutnya merencanakan kembali tindakan siklus 2 dan seterusnya.

1. Rancangan Penelitian

Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, terlebih dahulu harus disiapkan atau membuat rancangan (Desain) penelitian. (Kasbolah, 1998/1999: 69).

Penyusunan rancangan penelitian dapat dilakukan dengan jalan memilih salah satu model rancangan yang telah dikembangkan oleh pakar penelitian. Rancangan penelitian tindakan kelas dapat disusun secara berbeda-beda tergantung pada tujuan penelitian, sifat masalah yang digarap, dan karakteristik kelas yang diteliti.

(29)

Dalam penelitian ini saya membuat setting penelitian dalam empat tahapan, yaitu : (1) Perencanaan (planning), (2) Tindakan (action), (3) Observasi (observation), (4) Refleksi (reflection) dalam setiap siklusnya. Prosedur penelitian yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah berbentuk siklus desain Kemmis dan Taggart (Kasbolah, 1999/1998:226). Pada hakekatnya siklus ini berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

a. Rencana : Tindakan apa yamg kita lakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.

b. Tindakan : Apa yamg dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan. c. Observasi : Mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan

yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa.

d. Refleksi : Peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangakan atas hasil atau dampak atau tindakan dari berbagai kriteria. Penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planning), yang disusun berdasarkan masalah yang hendak dipecahkan

(30)

Refleksi (reflection), merupakan kegiatan analisis terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Melalui proses refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam.

Bentuk desain menurut Kemmis dan Taggart (Kasbolah 1999/1998:226). Yang didalamnya terdiri dari satu perangkat komponen yang dikatakan sebagai satu siklus dapat dilihat pada Gambar 3.1

Gambar 3.1

(31)

B. Tahap Penelitian

1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning)

Perencanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas disusun berdasarkan masalah yang hendak dipecahkan dan hipotesis yang diajukan. Rencana tindakan disusun untuk menguji secara empirik ketepatan hipotesis tindakan yang diajukan.

Adapun langkah-langkah kegiatan dalam tahap perencanaan tindakan adalah sebagai berikut.

a. Membuat perencanaan skenario pembelajaran Iari sprint melalui permainan tradisional bebentengan untuk meningkatkan kecepatan siswa.

b. Membuat lembar observasi untuk mengetahui hasil kinerja murid ketika permainan tradisional diberikan.

c. Membuat alat evalusi belajar untuk mengetahui :

1) Apakah pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan diminati oleh siswa ?

2) Apakah pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan dapat meningkatkan kecepatan ?

2. Pelaksansan Tindakan (Action)

(32)

pembelajaran berlangsung. Untuk inilah diperlukan adanya perencanaan yang matang dan seksama.

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan untuk meningkatkan kecepatan dan motivasi siswa. Apabila pada pelaksanaan siklus pertama tujuan pembelajaran. Belum tercapai maka diperbaiki pada pelaksanaan siklus kedua dan apabila masih belum tercapai juga maka akan diperbaiki pada siklus selanjutnya sampai target atau tujuan tercapai. Adapun penerapan tindakan terhadap pelaksanaan pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional untuk meningkatkan kecepatan dan motivasi siswa adalah sebagai berikut : 3. Pengamatan (Observation)

Tahap ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan kemudian dilaksanakan kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.

(33)

4. Refleksi (Reflection)

Kegiatan refleksi ini dilakukan setelah guru selesai melakukan tindakan, kemudian berdiskusi tentang implementasi rancangan tindakan. Hasil yang didapat dalam tahapan observasi dikumpulkan serta dianalisa. Dan hasil observasi ini guru merefleksi diri dengan melihat data observasi, apakah pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan bisa meningkatkan kecepatan dan motivasi siswa atau tidak. Adapun langkah-langkah dari kegiatan refleksi ini adalah sebagai berikut :

a. Melakukan evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan tindakan.

b. Memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Dalam kegiatan refleksi ini, para pelaku (peneliti, guru, dan kepala sekolah) yang terlibat dalam penelitian tindakan mempunyai banyak kesempatan untuk meningkatkan kecepatan melalui permainan tradisional bebentengan, siswa dalam mengikuti pembelajaran lari sprint. Hasil analisa yang dilaksanakan dapat digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.

C. Lokasi dan Subyek Penelitian

1. Lokasi Penelitian

(34)

2. Subyek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Neglasari dan sebagian guru penjas (observasi) berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.

3. Waktu Penelitian

Lamanya tindakan dalam penelitian pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan untuk meningkatkan kecepatan dan motivasi pada siswa kelas IV SDN Neglasari diperkirakan selama 3 bulan, yang dimulai pada bulan Februari sampai dengan bulan April 2011.

4. Letak Geografis

SDN Neglasari terletak di Desa Tomo Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang yang terdiri di atas tanah seluas 695,96. SDN Neglasari dibangun pada tahun 1955. Bangunan sekolah terdiri 7 ruang kelas, 1 ruang kepala sekolah dan guru, kantin, 5 kamar WC siswa dan 1 kamar WC Guru.

5. Keadaaan Guru

(35)

Tabel 3.1

Daftar Pengajar SDN Neglasari

Desa Tomo Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang

No Nama NIP Jabatan Gol Ijazah

Tahun 1 Kokom Komariah 195702221978032002 Kepala

Sekolah IV a

D2 1998 2 Hartini 195109171982012002 Guru

Kelas IV a

D2 1998 3 Lela Sulastri M, S.Pd 196208211982012003 Guru

Kelas IV a

S1 2008 4 Supriadi 196409081986101002 Guru

Kelas IV a

D2 2000 5 N. Atin, S.Pd 197002212002122003 Guru

Kelas III d

S1 2008 6 Rusmana, S.Pd 197106272008011005 Guru

Kelas III a

S1 2010 7 Eti Rohaeti, S.Pd 196508101986102005 Guru

Penjas IV a

S1 2008

8 Koni’ah, S.Pd 196205041984102006 Guru

Agama IV a 11 Sumarya 195906261981091002 Penjaga II c SMP 1997

6. Keadaan Siswa

(36)

Tabel 3.2

Daftar Jumlah Siswa SDN Neglasari

No Kelas Jenis Kelamin Jumlah

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan ini dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. Metode observasi sebagai alat pengumpul data, dapat dikatakan berfungsi ganda, sederhana, dan dapat dilakukan tanpa menghabiskan banyak biaya. Namun demikian, dalam melakukan observasi peneliti dituntut memiliki keahlian dan penguasaan kompetensi tertentu. Margono (1997: 158) dalam Zuriah (2005: 173).

(37)

2. Wawancara

Teknik wawancara adalah cara mengumpulkan data melalui tentang hubungan pribadi antara pengumpul data dan sumber data. Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi penting yang diinginkan. Dalam kegiatan wawancara terjadi hubungan antara dua orang atau lebih, di mana keduanya berperilaku sesuai dengan status dan peranan mereka masing-masing. (Zuriah, 2005: 179).

Wawancara ialah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari wawancara adalah adanya kontak langsung dengan tatap, muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewee).

Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data tentang proses pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan. 3. Catatan Lapangan

Catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian pada pelaksanaan dalam pembelajaran lari sprint.

4. Hasil Belajar

Tes lari sprint 60 m dilakukan untuk mengukur dan mengetahui kemampuan keberhasilan siswa sebelum dan sesudah tindakan dilaksanakan dengan cara membandingkan nilai rata-rata yang diperoleh. Seperti yang dikatakan (Zuriah, 2005: 184).

(38)

dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Persyaratan pokok bagi tes adalah validitas dan reliabilitas.

E. Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, wawancara, catatan lapangan, tes hasil belajar terhadap siswa kelas IV SDN Neglasari. Sumber data dalam penelitian ini dalah siswa kelas IV SDN Neglasari dan guru penjas, serta seluruh komponen SDN Neglasari.

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

1. Teknik Pengolahan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dari hasil wawancara, observasi, dan tes hasil belajar yang dilakukan terhadap siswa kelas IV SDN Neglasari Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang. Data pada penelitian ini dibedakan menjadi data proses dan data hasil. a. Data Proses

Teknik yang digunakan untuk pengolahan data proses yaitu dengan memberikan penilaian terhadap aspek yang terdapat pada lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa. Masing-masing mempunyai skala, skor 3-2-1.

b. Data Hasil Belajar

(39)

Neglasari sebesar 65%. Kriteria waktu kecepatan yang diperlukan dalam pembelajaran lari sprint 60 meter adalah 8 detik.

2. Analisis Data

Pada dasarnya pengolahan data dan analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara terus menerus dari awal sampai akhir tindakan. Hal ini berarti bahwa peneliti akan melakukan analisis data sejak tahap orientasi lapangan, mulai dari observasi awal sampai tahap berikutnya. Menurut Bogdan & Biklen, (1982) dalam Arifin, (1994) dalam Zuriah, (2005:54).

Analisis data adalah proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan 1ain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat diinterpretasikan temuannya kepada orang lain.

Dalam tahap ini data ditelaah, direnungkan, dimaknai dan diberi penjelasan supaya data yang telah didapat dicek untuk menentukan keabsahan data. Data yang diperoleh lewat observasi diperiksa kebenarannya. Kegiatan akhir yang dilaksanakan adalah dengan mengadakan pemeriksaan validasi data.

G. Validasi Data

(40)

1. Member Chek

Yakni meninjau kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara, dengan cara. mengkonfirmasikannya dengan guru maupun siswa melalui kegiatan reflektif-kolaboratif pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. Kegiatan

member cek ini peneliti mengemukakan hasil temuan sementara untuk memperoleh tanggapan, sanggahan atau informasi baik dari guru maupun siswa, sehingga terjaring data yang benar dan memiliki derajat validitas yang tinggi.

2. Triangulasi

Yakni memeriksa kebenaran data yang diperoleh peneliti dengan membandingkan terhadap hasil yang diperoleh sumber lain yakni guru dan siswa. Tujuannya untuk memperoleh derajat kepercayaan data yang maksimal. Kegiatan triangulasi dalam kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan refleklif-kolaboratif antara kepala sekolah, guru, pembimbing dan peneliti.

3. Audit Trail

(41)

4. Expert Opinion

(42)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berikut ini peneliti akan menyajikan kesimpulan dan saran yang diperoleh dari temuan di lapangan selama pelaksanaan penelitian Meningkatkan Gerak Dasar Lari Sprint Pada Cabang Atletik Melalui Permainan Bebentengan Pada Siswa SDN Neglasari Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang. Kedua hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

A. Kesimpulan

Meningkatkan Gerak Dasar Lari Sprint Pada Cabang Atletik Melalui Permainan Bebentengan Pada Siswa SDN Neglasari pada prosesnya meliputi perencanaan, aktivitas siswa dan kinerja guru, dan evaluasi sebagai berikut : 1. Perencanaan yang dilakukan dalam pembelajaran lari sprint melalui

permainan tradisional bebentengan untuk meningkatkan kecepatan dan motivasi siswa merencanakan jumlah pertemuan sebanyak 3 kali pertemuan. Untuk memudahkan dalam pembelajaran, siswa dibagi kedalam beberapa kelompok. Semua siswa melakukan pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan.

2. Pelaksanaan pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan diikuti dengan kinerja guru yang maksimal dalam mengarahkan dan memotivasi siswa dan bimbingan melalui arahan-arahan dalam melakukan pembelajaran lari sprint. Pada kegiatan inti pembelajaran, siswa melakukan permainan tradisional bebentengan,

(43)

siswa diberikan kebebasan bergerak, siwa aktif dan semangat mengikuti pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan. Guru terus memantau dan memberikan arahan-arahan agar pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana.

3. Adanya peningkatan kinerja gurudata yang terkumpul siklus I adalah sebagai berikut:

B. Saran

Pembelajaran lari sprint melalui permainan tradisional bebentengan merupakan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kecepatan dan motivasi siswa dalam pembelajaran lari sprint. Dengan memperhatikan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di SD Neglasari Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang, ada beberapa hal yang dapat disarankan sebagai implikasi dari hasil penelitian ini, adalah sebagai berikut : l. Bagi Guru

(44)

b. Guru hendaknya perlu memahami secara mendalam mengenai modifikasi pembelajaran lari sprint, sehingga dalam penerapannya tidak menjadi salah persepsi.

c. Guru sebagai fasilitator harus mau dan mampu mengadakan perubahan pada cara mengajar yang tadinya lebih banyak terpusat pada guru, sekarang harus mulai merubahnya menjadi suatu pembelajaran yang lebih minitikberatkan pada keaktifan dan kreatifitas peserta didik sehingga pembelajaran itu akan lebih menarik.

2. Bagi Siswa

a. Para siswa perlu dibina untuk melakukan pembelajaran lari sprint agar bermanfaat bagi dirinya, sehingga dengan pembelajaran lari sprint dapat berguna bagi kehidupannya kelak.

b. Diperlukan penggalian potensi masing-masing siswa dalam pelajaran pendidikan jasmani. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan bakat yang dimiliki setiap anak.

3. Bagi Lembaga

(45)

4. Bagi Sekolah

a. Untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, maka pihak sekolah diharapkan berupaya untuk memberikan kontribusi yang maksimal agar pembelajaran ini berlangsung dengan tuntutan kurikulum. Hal tersebut dapat dilakukan dengan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran baik untuk siswa maupun guru. b. Dalam meningkatkan bakat dan minat terhadap lari sprint, maka

perlu diadakannya pertandingan baik pada tingkat gugus, kecamatan, maupun tingkat kabupaten yang dilakukan secara berkala.

c. Pembinaan dan pelatihan yang intensif terhadap para guru juga perlu diadakan oleh pihak sekolah, ini dimaksudkan agar dapat meningkatkan kemampuan mengajamya dalam rangka inovasi pembelajaran pendidikan jasmani.

5. Bagi peneliti lain

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bandingan sekaligus landasan penelitian lanjut yang berhubungan dengan pengembangan modifikasi pembelajaran.

b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian khususnya dengan menjadikannya modifikasi dalam pembelajaran sebagai tindakan. c. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian tindakan kelas

(46)
(47)

DAFTAR PUSTAKA

Ahira, Anne. (2009). Permainan Tradisional. Tersedia: http//www.Asian Brain.com. (19 April 2010).

Ateng, H. Abdulkadir. (1992). Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ayi, H. Suherman. (2011). Kurikulum Pembelajaran. Bandung: UPI Kampus Sumedang.

Gilford, (2009). Lari Jarak Pendek. Tersedia: Http://www.gilford.co.cc/2009/lari-jarak-pendek.html2009. (03 Desember 2009.)

Jaya, Ricky Saputra. (2007). Lari Sprint 100 Meter. Tersedia: Http`://riki1987.blogspot.com/. (13 Desember 2009).

Husdarta, (2009). Manajemen Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Kasbolah E.S, Kasihani. (1998/1999). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Krisna, (2009). Pengertian dan Ciri-ciri Pembelajaran. Tersedia:

http://krisna1.blog.uns.ac.id/2009/10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/. (03 Desember 2009).

Nurlan, (2009). Permainan Tradisional. UPI Kampus Sumedang.

M. Saputra, Yudha. (2001). Pembelajaran Atletik di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Rifikaha, Mohammad. (2009). Pengertian Permainan Tradisional. Tersedia: http://moharifikaha.blogspot.com/. (19 April 2010).

Sarah, Isni. (2009). Permainan/Kaulinan. Tersedia: Http: //www.duniatanpawarna.co.cc/?p=132.permainan. (13 Desember 2009). Somad, raden. (2010). Pengertian Pendidikan Jasmani. Tersedia: http://radensomad.com/pengertian-sistem-pendidikan-jasmani.html. (26 April 2010).

(48)

Syarifuddin, Aip. (1991/1992). Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Figure

Tabel                                                                                                            Halaman

Tabel Halaman

p.4
Gambar                                                                                                        Halaman

Gambar Halaman

p.5
Tabel 1.1 Data Awal Penilaian Siswa

Tabel 1.1

Data Awal Penilaian Siswa p.17
Gambar 3.1 Bagan Model Spiral Kemmis dan Taggart (Kasbolah, 1998/1999: 226)

Gambar 3.1

Bagan Model Spiral Kemmis dan Taggart (Kasbolah, 1998/1999: 226) p.30
Tabel 3.1  Daftar Pengajar SDN Neglasari

Tabel 3.1

Daftar Pengajar SDN Neglasari p.35
Tabel 3.2 Daftar Jumlah Siswa SDN Neglasari

Tabel 3.2

Daftar Jumlah Siswa SDN Neglasari p.36

References