• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Makro-Ekonometrika Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Model Makro-Ekonometrika Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Kajian Ekonomi & Keuangan

https://fiskal.kemenkeu.go.id/ejournal

Model Makro-Ekonometrika Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia

Rasidin Karo Karo Sitepu

α*

, Fitriani

β1

, Yulia Indrianingtyas

β2

, Rama Mahesa

β3

, Rindang Mustikawati

β4

& Nanda Puspita

β5

Abstract

This research aims to develop a Macro-Econometric Model of State Budget Posture and its Application for Impact Analysis of Fiscal and Monetary Policy. The approach used is the Macro-Econometric model, also known as the Indonesian State Budget Posture model. The time span of the data series observation is from 1990–2019. The Macro- Econometric Model used for APBN Posture is a system of simultaneous equations estimated using two stages least squares (2SLS) method, while the solution to solve the system of equations used the Newton method.

The analysis results show that economic growth is 2.11 percent, but under the pessimistic scenario, the contraction growth is -2.94 percent, while in the moderate scenario, the contraction was -1.88 percent in 2020. The budget deficit in 2020 is estimated at 6.41 percent of GDP. A budget deficit of below 3 percent of GDP is expected to be achieved in 2023. For the 2020-2024 period, the primary balance is negative, which indicates that the government does not have funds to finance debt interest, so the new debt is also used to pay debt interest. It is more appropriate to finance the budget deficit from domestic sources of funds to avoid in rupiah exchange rate fluctuations.

Kata kunci: APBN Posture; Budget Deficit; Growth; Poverty;

Unemployment

JEL Classification: C53, E24, E27, H62

©2022 Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI

* Email: [email protected]

α Fakultas Pertanian UISU. Jln Sisingamangaraja No 191. Medan-20217 dan Pusat Kajian Daerah dan Anggaran Sekretariat Jendral DPD RI Kompleks Parlemen MPR/DPR/DPD RI Jln.Jndrl Gatot Subroto No.6 Jakarta Pusat 10270

β1 Pusat Kajian Daerah dan Anggaran Sekretariat Jendral DPD RI Kompleks Parlemen MPR/DPR/DPD RI Jln.Jndrl Gatot Subroto No.6 Jakarta Pusat 10270

Riwayat artikel:

▪ Diterima 20 Januari 2021

▪ Direvisi 24 Desember 2021

▪ Disetujui 31 Desember 2021

▪ Tersedia online 12 Juli 2022

(2)

1. PENDAHULUAN

APBN merupakan arah dan kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar 1945. APBN disusun melalui beberapa tahapan, mulai dari resource envelope, pagu indikatif, sampai dengan penetapan APBN. Inti dari tahapan-tahapan tersebut terangkum dalam suatu format yang disebut Postur APBN. Postur APBN dapat didefinisikan sebagai “bentuk rencana keuangan pemerintah yang disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku untuk mencapai tujuan bernegara”. Melalui Postur APBN, publik dapat menilai perkembangan kinerja kebijakan fiskal, kondisi keuangan, kesinambungan fiskal, serta akuntabilitas Pemerintah. Pada hakikatnya, keseluruhan kerangka APBN menggambarkan kinerja kebijakan fiskal, kondisi keuangan, kesinambungan fiskal, serta akuntabilitas Pemerintah. Setiap dinamika dari satu perubahan komponen asumsi APBN akan mempengaruhi komponen-komponen lainnya (pendapatan dan belanja), baik dalam satu periode tahun anggaran maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

Perubahan terhadap UU APBN adalah hal yang lazim dilakukan oleh Pemerintah Pusat sebagai penyesuaian akibat guncangan (shock) internal atau eksternal atau guncangan kinerja ekonomi, kinerja pemerintah pusat atau pemerintah daerah maupun karena guncangan eksternal (ekonomi maupun non ekonomi). Sebagai contoh, pada bulan Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa Corona Virus Disease 2019 (COVID19) merupakan pandemi global yang dapat mengancam perekonomian nasional, perekonomian daerah, stabilitas sistem keuangan, dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah merespon dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) No. 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 dan/atau dalam Rangka menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan, dan Peraturan Presiden No 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian APBN 2020.

Perubahan-perubahan yang terjadi atas Postur APBN, baik disebabkan karena faktor internal maupun faktor external, menjadi alasan pentingnya menyusun satu alat analisis Model Makro- Ekonometrika Postur APBN dan Aplikasinya untuk Analisis Dampak Kebijakan Ekonomi. Budhiasa (2012) telah mereview dan memetakan pemodelan ekonomi makro dari Bappenas, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, dan Bank Indonesia. Ketiga institusi tersebut memiliki kesamaan target ekonomi makro, yaitu mengendalikan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi sekaligus. Meskipun demikian, ketiga lembaga menggunakan pilihan penggunaan instrumen kebijakan yang berbeda.

Bappenas menggunakan optimalisasi sumber daya melalui peranan politik APBN dan kebijakan moneter untuk mencapai target ekonomi makro. Kemenkeu RI lebih terfokus kepada kebijakan fiskal dalam rangka menggerakkan pasar konsumsi domestik, investasi, dan dinamika perdagangan internasional. Model ekonomi makro BKF Kemenkeu lebih mendekati pemodelan yang dikembangkan di sejumlah negara Eropa, khususnya pada kerja sama ekonomi Benelux (Belgia, Nederland, Luxemburg). Pemodelan yang sangat fiscalist lebih memfokuskan pada pemberdayaan ekonomi regional melalui politik anggaran APBN. Sementara itu, Bank Indonesia mengembangkan MOBDI, dengan memilih instrumen suku bunga domestik dan nilai tukar dalam rangka mengelola kebijakan moneter mencapai tujuan akhir.

Ballantyne (2019) mengembangkan sebuah macro-econometric model untuk perekonomian Australia, yang dikenal dengan Model MARTIN. Model MARTIN telah digunakan secara luas di perekonomian Australia untuk menghasilkan peramalan (forecast) dan melakukan scenario dampak analisis (counterfactual scenario analysis). Beberapa negara lain telah membangun dan mengembangkan model-model untuk menangkap perubahan kebijakan eksternal maupun internal, seperti Qin et. al, (2007) mengembangkan model Macroeconometric untuk perekonomian China; Murphy, (2020); Pagan (2019) untuk perekonomian Australia; Thanh, (2019) untuk perekonomian Vietnam; Ducanes et. al (2005) untuk perekonomian Philipina; Palenevil dan Klien (1999) untuk negara India; Koike et al (2018) untuk negara Jepan; Budhiasa (2012) dan Tanuwidjaja (2005) untuk negara Indoensia. Pada intinya model-model tersebut digunakan untuk menganalisis kebijakan dari shock external maupun shock internal, dengan karakterisitik dan features model yang berbeda.

(3)

Perubahan-perubahan yang terjadi atas Postur APBN, baik disebabkan karena faktor internal maupun eksternal, menjadi alasan pentingnya menyusun satu alat analisis Model Makro-Ekonometrika Postur APBN yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang seberapa besar dampak perubahan kebijakan tersebut terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Model Makro-Ekonometrika Postur APBN diharapkan menjadi salah satu alat (tool) dalam memberikan proyeksi dan simulasi terhadap postur APBN yang terjadi sebagai akibat dari exernal shock maupun internal shock. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak perubahan kebijakan atau guncangan eksternal/internal terhadap Postur APBN.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Sejak tahun 2000, format dan postur APBN telah diubah menjadi I-account. Format dan struktur APBN dalam bentuk I-account memungkinkan defisit anggaran tercermin secara eksplisit, serta dapat dibiayai dengan sumber-sumber pembiayaan dari dalam dan luar negeri. Perubahan struktur dan format APBN juga disesuaikan mendekati standar yang berlaku secara internasional sebagaimana digunakan dalam statistik keuangan pemerintah (Government Financial Statistics/GFS) untuk mendukung transparansi dan akuntabilitas Pemerintah. Dalam format baru tersebut, juga dilakukan pengelompokan kembali (reklasifikasi) terhadap pos-pos pendapatan dan belanja negara seperti terlihat di Tabel 1 (Kemenkeu, 2014).

Tabel 1. Postur APBN 2019-2020 (Rp Miliar)

No Uraian 20191 20202 20203

A PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 2.165.111,82 2.233.196,70 1,699,948

B BELANJA NEGARA 2.461.112,05 2.540.422,50 2,739,166

C KESEIMBANGAN PRIMER -20.114,97 -12.012,46 -12,012

D DEFISIT -296.000,24 -307.225,80 -1,039,217

% Defisit Anggaran terhadap PDB -1,84 -1,76 -6.34

E PEMBIAYAAN 296.000,24 307.225,80 1,039,217

Sumber: 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2018 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2019

2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020

3 Perpres 72 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa defisit anggaran sebesar Rp307.22 triliun pada tahun 2020 dengan penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp2,233 triliun dan target belanja sebesar Rp2,540 triliun.

Defisit anggaran ini mengindikasikan bahwa pemerintah sedang menerapkan kebijakan fiskal ekspansif. Adanya krisis kesehatan, yang ditandai dengan munculnya pandemi COVID-19, pemerintah mengubah target penerimaan dan belanja sesuai dengan Perpres 72/2020. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah fleksibel terhadap kondisi dalam negeri. Munculnya gangguan eksternal pandemi COVID-19 membuat pemerintah juga mengubah seluruh asumsi dan target dalam postur APBN. Sebagai langkah antisipasi dampak COVID-19, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian APBN 2020. Kondisi ini menunjukkan bahwa postur APBN sering mengalami perubahan dan penyesuaian karena rentan terhadap guncangan domestik maupun guncangan eksternal.

Terlepas ada tidaknya pandemi Covid-19, beberapa negara umumnya telah membangun dan mengembangkan model-model makro-ekonomi atau model-model makroekonometrika dalam rangka menangkap perubahan yang terjadi terhadap kinerja perekonomian sebagai akibat dari internal shock maupuan external shock. Palanivel dan Klien (1999) mengembangkan kembali model makro-

(4)

ekonometrika India yang dikenal dengan istilah IEG-DES. Model ini dibangun pada tahun 1994 dan dikembangkan kembali olah Palanivel dan Klien pada tahun 1999 dengan penekanan pada sektor keuangan dan perubahan serta penambahan spesifikasi persamaan di sektor riil dan eksternal. Model tersebut dibangun dengan 295 persamaan yang terdiri dari 118 persamaan struktur dan 117 persamaan identitas. Model diestimasi dengan metode two stages least squares. Model ini digunakan sebagai evaluasi alternatif kebijakan yang fokus pada defisit fiskal, investasi publik, nilai tukar, pertumbuhan uang beredar, kredit bank dan bahkan simulasi curah hujan. Model ini kemudian digunakan untuk memproyeksikan jalur pertumbuhan ekonomi selama 1998/99 hingga 2001/02. Secara umum ini memperkirakan bahwa meskipun ekonomi sedang mengalami masa sulit karena lingkungan domestik dan eksternal, ditambah dengan ketidakpastian situasi politik saat itu, namun mereka memperkirakan bahwa situasinya kemungkinan akan membaik selama dua hingga tiga tahun ke depan.

Ducanes et. al (2005)membangun model makroekonometrik untuk sistem perekonomian kecil di Filipina. Model tersebut terdiri dari sektor konsumsi swasta, investasi, pemerintah, perdagangan, produksi, harga, uang, dan tenaga kerja. Model ini diestimasi dengan pendekatan error correction model.

untuk semua persamaan perilaku. Simulasi kebijakan dilakukan dengan menetapkan batas atas (upper- bound limit) untuk rasio utang terhadap PDB sebesar 70 persen dan untuk rasio defisit pemerintah terhadap PDB sebesar 4 persen, skenario lainya juga dilakukan dengan mempertahankan kenaikan pemungutan pajak tahunan sebesar 15 persen. Rekomendasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa penting bagi pemerintah Filipina untuk mengatasi masalah utang agar dapat mencapai pertumbuhan masa depan yang lebih tinggi.

Qin et. al, (2007) mengembangkan model Macroeconometric untuk perekonomian China yang secara umum dibagi menjadi blok pendapatan dan konsumsi, tenaga kerja dan lapangan kerja, investasi, pemerintah, perdagangan luar negeri, tiga sektor PDB, harga dan upah, dan moneter, yang terdapat 73 variabel endogen dan 16 variabel eksogen. Model tersebut diestimasi dengan metode error correction model dan juga menggunakan metode estimasi rekursif untuk menguji parameter konstanta. Perubahan besar telah terjadi dalam perekonomian China selama dua dekade terakhir. Mereka menyakini bahwa model ekonometrika yang telah dibangun cukup kuat untuk menangkap dinamika makro dan mampu memperkirakan indikator kunci ekonomi makro. Prakiraan real-time dan penyelidikan empiris dari sejumlah topik isu makroekonomi telah dibuktikan bahwa model tersebut sangat berguna.

Model makro-ekonometika lain juga telah dibangun oleh beberapa peneliti lainnya. Pagan (2019) telah membangun model makro-ekonometrika untuk perekonomian Australia. Makalah ini memberikan gambaran singkat tentang model makro-ekonometrik lengkap. Awalnya, ini dilakukan oleh para akademisi tetapi kemudian Treasury dan Reserve Bank of Australia mengembangkan ini untuk analisis dan peramalan kebijakan. Murphy (2020) juga mengembangkan model makroekonometrik untuk perekonomian Australia yang digunakan untuk analisis kebijakan maupun peramalan. Model ini menggunakan teori makroekonomi (ditekankan dalam model keseimbangan umum stokastik dinamis New Keynesian) sementara data makroekonomi (dianalis dalam model vector autoregressive). Thanh, (2019) juga telah mengembangkan model makro-ekonometrika untuk perekonomian Vietnam, sementara Koike et al (2018) membangun model makro-ekonometrika untuk negara Jepang.

Tanuwidjaja (2005) dan Budhiasa (2012) membangun pengembangan model ekonomi makro berskala kecil (Small Scale Macroeconomic Model) yang dipelopori sebelumnya oleh Ducanes et al (2005).

Model yang dikembangkan Tanuwidjaja (2005) diduga menggunakan Ordinary Least Squres dan Full Information Maximum Likelihood untuk seluruh persamaan perilaku di Indonesia, sementara Budhiasa model (2012) diduga menggunakan metode two stages least squares. Dari beberapa penelitian sebelumnya dapat dilihat bahwa meskipun dibangun dan didekati dengan model makro-ekonometrika, tetapi teknik estimasi, jumlah persamaan perilaku, dan simulasi yang digunakan relatif berbeda. Namun demikian, model-model tersebut digunakan sebagai alat (tool) dalam memperkirakan dan memprediksi kinerja ekonomi di masa yang akan datang sebagai akibat guncangan fiskal, moneter maupun eksternal.

(5)

3. METODE PENELITIAN

Spesifikasi Model

Model merupakan suatu penjelas dari fenomena aktual sebagai suatu sistem atau proses. Model ekonometrika adalah suatu pola khusus dari model aljabar, yakni suatu unsur yang bersifat stochastic yang mencakup satu atau lebih variabel pengganggu (Pindyck and Rubinfeld, 1991). Dari definisi tersebut, dapat disebutkan bahwa model merupakan abstraksi dari fenomena dunia nyata. Pada artikel ini disebut model Makro-Ekonometrika Postur APBN karena spesifikasi model yang dibangun merupakan agregat yang memiliki ciri khas postur APBN Indonesia dengan menggunakan pendekatan Ekonometrika. Spesifikasi model Makro-Ekonometrika Postur APBN Indonesia dirumuskan pada Lampiran 1, sedangkan kerangka pemikiran secara umum dituangkan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Model Makro-Ekonometrika Postur APBN Indonesia

Sumber: Model Makro-Ekonometrika Postur APBN, (2020)

Model Makro-Ekonometrika Postur APBN secara umum dibagi menjadi blok-blok, yaitu penerimaan pemerintah, pengeluaran pemerintah, produk domestic bruto (GDP), dan blok kesejahteraan. Dalam penelitian ini, model yang telah dirumuskan terdiri dari 48 persamaan yang dapat dibagi menjadi 33 persamaan struktural dan 15 persamaan identitas (spesifikasi persamaan lengkap dapat dilihat di Lampiran 1).

Pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi bulan Juli 1997 dan rupiah mengalami depresiasi lebih dari 100 persen jika dibandingkan dengan nilai kurs awal tahun 1997, sektor perekonomian yang terkena dampak paling besar adalah sektor industri manufaktur. Hal ini karena sektor industri manufaktur sebagian besar menggunakan bahan baku impor yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia turun sebesar -13.1 persen, hampir seluruh sektor ekonomi mengalami kontraksi. Krisis global pada tahun 2008 juga berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dunia dan kondisi eksternal lainnya seperti pandemic Covid-19 tahun 2020.

Identifikasi dan Metode Estimasi Model

Identifikasi model ditentukan atas dasar “order condition” sebagai syarat keharusan dan “rank condition”

sebagai syarat kecukupan. Rumusan identifikasi model persamaan struktural berdasarkan order condition ditentukan oleh (Gujarati, 2004; Creel 2006).

(K - M) > (G - 1)

(6)

dimana K adalah total variabel dalam model, yaitu variabel endogen dan variabel predetermined. M adalah jumlah variabel endogen dan eksogen yang termasuk dalam satu persamaan tertentu dalam model dan G adalah total persamaan dalam model atau jumlah variabel endogen dalam model. Jika dalam model menunjukkan kondisi (K – M) > (G – 1) disebut overidentified, (K – M) = (G – 1) disebut exactly identified, dan jika (K – M) < (G – 1) disebut unidentified. Setiap persamaan struktural haruslah exactly identified atau overidentified untuk dapat menduga parameter-parameternya (Pindyck and Rubinfeld, 1991). Dalam penelitian ini, model yang telah dirumuskan terdiri dari 48 persamaan, berupa 33 persamaan struktural dan 15 persamaan identitas. Jumlah predetermined variable adalah 52 yang terdiri dari 19 variabel eksogen dan 33 lag endogenous variable, sehingga total variabel dalam model (K) adalah 100 variabel. Jumlah variabel dalam persamaan (M) adalah 5 variabel. Berdasarkan kriteria order condition maka setiap persamaan struktural yang ada dalam model adalah over identified. Jika menggunakan metode OLS akan menjadi bias dan inkonsisten karena model merupakan sistem persamaan simultan. Rey (2000) menyarankan menggunakan pendugaan model dilakukan dengan Two Stage Least Squares (2SLS) dengan alasan dapat menghilangkan masalah klasik. Uraian metode pendugaan 2SLS adalah

= 0 + +

j

XB

j j

Y

atau alternatif lain dapat dituliskan secara sederhana menjadi:

j j j j j

j

Y X

y =  +  + 

= Z

j

j

+ 

j

dimana:





−

=

 0

1

j

j

 

= 0

j

Bj

 

 

= 

j j

j

X

Z Y

 

 

= 

j j

j

 

dimana Y adalah vektor matriks variabel endogenous dan X adalah vektor matriks variabel exogenous.

Pada tahap pertama, regresi sisi sebelah kanan dari variabel endogen yj terhadap seluruh variabel exogenous dan untuk mendapatkan nilai prediksi yang dengan formula:

( )

j

j

X X X X Y

Y ˆ = '

1

'

Tahap kedua, meregress kembali yj terhadap

jdan Xj dengan formula 2SLS sebagai berikut:

(

ZjZj

)

Zjy SLS

1 ' '

2 ˆ ˆ ˆ

ˆ =

dimana

Z ˆ =

j

( Y ˆ

j

, X

j

)

(Pindyck and Rubinfeld, 1991; Hansen 2004; Creel 2006; Intriligator et all 1996; Johnston and Dinardo 1997; Verbeek, 2000).

Validasi dan Simulasi Model

Validasi model digunakan untuk mengetahui sejauhmana model ini valid untuk melakukan simulasi dan ataupun peramalan. Keakurasian model atau validasi model bertujuan untuk menganalisis sejauhmana model tersebut dapat mewakili dunia nyata. Kriteria statistik untuk validasi model digunakan Root Means Percent Square Error (RMSPE) dan Theil’s Inequality Coefficient (U). Formula RMSPE dan U-Theil’s masing-masing dituliskan (Pindyck and Rubinfield, 1991):

(7)

=

 

 

 −

=

n

t

a t

a t s t

Y Y Y RMSPE n

1

1

2

( )

( ) ( )

=

=

=

+

=

n

t a t n

t s t

n

t

a t s t

n Y n Y

Y n Y

U

1 2 1

2 1

2

1 1

1

dimana

Y

tsadalah nilai hasil simulasi dasar dari variabel observasi,

Y

taadalah nilai aktual variabel observasi dan n adalah jumlah pengamatan. Statistik RMSPE digunakan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai variabel endogen hasil pendugaan menyimpang dari alur nilai-nilai aktualnya dalam ukuran relatif (persen), atau seberapa dekat nilai dugaan itu mengikuti perkembangan nilai aktualnya. Statistik U-Theil’s bermanfaat untuk mengetahui kemampuan model untuk analisis simulasi model. Menurut Sitepu dan Sinaga (2018), nilai statistik RMPSE berguna untuk mengetahui model valid digunakan untuk melakukan peramalan.

Data dan Sumber

Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan rentang waktu 30 tahun, yaitu tahun 1990–2019.

Untuk menghilangkan pengaruh inflasi, setiap harga telah dideflasi dengan indeks harga yang sesuai dengan tahun dasar 2010=100. Data Realisasi Penerimaan Negara diperoleh dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Bank Indonesia (BI), dan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.

4. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Keragaan Hasil Pendugaan Model

Hasil pendugaan persamaan perilaku (structural behavior) berdasarkan tanda dan besarannya (magnitude and sign), memiliki besaran parameter dan tandanya sesuai dengan harapan, dan cukup logis dari sudut pandang teori ekonomi. Nilai koefisien determinasi (R²) dari masing-masing persamaan perilaku berkisar antara 0.6042 sampai 0.9969 (Lampiran 2). Hal ini menunjukkan exogenous variables yang ada dalam persamaan perilaku mampu menjelaskan dengan baik variabel endogen (endogenous variables).

Hasil pendugaan untuk setiap persamaan perilaku (keterangan variabel) dan hasil estimasi secara lengkap ditampilkan pada Lampiran 3.

Blok Penerimaan Negara

Penerimaan negara dari pajak penghasilan (PPh) dipengaruhi oleh rata-rata upah sektoral dan signifikan secara statistik. Penerimaan negara dari pajak pertambahan nilai (PPN) searah dengan perkembangan jumlah kendaraan. Sebaliknya, berlawanan arah terhadap kondisi krisis ekonomi, kedua variabel tersebut signifikan mempengaruhi perkembangan PPN. Penerimaan negara dari Cukai (excise duties) berpengaruh positif terhadap perkembangan Produk Domestik Bruto riil dan secara statistik berbeda nyata dengan nol pada taraf kepercayaan 5 persen. Penerimaan negara dari bea masuk (import duty fees) secara statistik berhubungan negatif dengan kondisi krisi global. Sementara itu, penerimaan negara bea keluar (export duty fees) selain krisis global, juga dipengaruhi secara nyata oleh real export value dan perkembangan bea keluar tahun sebelumya. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Sumber Daya Alam berhubungan positif terhadap perkembangan produksi minyak mentah Indonesia dan signifikan secara statistik. Sementara itu, PNBP lainnya secara positif dipengaruhi Produk Domestik Bruto riil dan signifikan secara statistik.

Blok Belanja Negara

Pengeluaran belanja untuk negara barang/jasa secara statistik signifikan dipengaruhi oleh penerimaan negara dari Pajak Penghasilan (PPh) dan panjang jalan (km) yang merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. Respon pengeluaran belanja untuk barang/jasa terhadap perubahan PPh adalah inelastis, sedangkan elastis untuk perubahan panjang jalan (km) yang merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. Belanja pengeluaran untuk pembayaran bunga utang berhubungan positif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap US dollar yang secara statistik signifikan dan responnya adalah elastis.

(8)

Artinya, pelemahan nilai tukar sebesar satu persen akan meningkatkan pembayaran bunga utang pemerintah lebih dari satu persen. Belanja pengeluaran untuk pembayaran bunga utang juga dipengaruhi secara positif oleh utang pemerintah dan suku bunga, meskipun secara statistik tidak signifikan. Berbeda dengan temuan Escolano (2014) bahwa diantara negara-negara sedang berkembang, rasio utang terhadap PDB dipengaruhi secara negatif pertumbuhan tingkat suku bunga.

Pengeluaran belanja subsidi bahan bakar minyak (subsidi energi) signifikan dipengaruhi oleh harga (subsidi non energi) selain dipengaruhi secara positif oleh harga pupuk urea, harga beras eceran, dan jumlah penduduk miskin. Namun demikian, respon subsidi non BMM terhadap perubahan harga beras eceran dan jumlah penduduk miskin adalah elastis. Hal ini berarti bahwa kenaikan satu persen harga beras maupun jumlah penduduk miskin akan meningkatkan subsidi non BBM lebih dari satu persen. Pengeluaran belanja pemerintah untuk belanja hibah dan bantuan sosial secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi krisis global. Hal ini menjelaskan bahwa ketika terjadi krisis global akan menyebabkan pengeluaran pemerintah untuk bantuan sosial semakin tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Kondisi ini bisa dilihat pada masa pandemi awal tahun 2020. Hasil temuan Ferreira (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang rendah akan mendorong berkurangnya penerimaan pemerintah, sedangkan di sisi lain belanja untuk social security transfer dan subsidi akan cenderung meningkat.

Otonomi daerah yang berlaku pada tahun 2000 diikuti dengan pengalokasian dana ke daerah dalam bentuk dana perimbangan. Dana perimbangan dalam postur APBN ditunjukkan dengan Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). DBH dipengaruhi oleh penerimaan negara dari pajak penghasilan, penerimaan negara dari cukai dan tembakau, dan penerimaan negara bukan pajak dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas alam. Dari ketiga variabel tersebut, hanya penerimaan negara dari Pajak Penghasilan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan DBH dan responnya adalah elastis. Pengeluaran belanja untuk DAU berpengaruh positif terhadap Pendapatan Dalam Negeri Neto dan Indeks Pembangunan Manusia, tetapi secara statistik besaran perubahan DAU signifikan dipengaruhi oleh Pendapatan Dalam Negeri Neto meskipun responnya adalah inelastis. DAK berpengaruh positif terhadap jumlah penduduk miskin dan tingkat pengangguran terbuka. Alokasi besaran DAK signifikan dipengaruhi oleh jumlah penduduk miskin tetapi responnya adalah inelastis. Sejak tahun 2015, belanja negara yang ditransfer ke daerah mengalami penambahan subbagian dana desa. Hal tersebut mengubah nomenklatur yang digunakan sebelumnya, yaitu transfer ke daerah menjadi transfer ke daerah dan dana desa. Dana desa dipengaruhi oleh perkembangan jumlah desa tetapi tidak signifikan dan inelastis.

Blok Produk Domestik Bruto

Pengeluaran konsumsi swasta (private consumption expenditure) berpengaruh positif terhadap peningkatan disposable income, sementara peningkatan suku bunga akan mengurangi pengeluaran konsumsi swasta.

Variabel disposable income dan tingkat suku bunga signifikan mempengaruhi pengeluaran konsumsi swasta tetapi responnya adalah inelastis. Pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure) signifikan dipengaruhi secara positif oleh berpengaruh bantuan sosial dan hibah (grant expenditure & social assistance expenditure), meskipun responnya adalah inelastis. Pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital formation) secara statistik signifikan dipengaruhi tingkat suku bunga dan kiris ekonomi. Kenaikan tingkat suku bunga dan kejadian krisis ekonomi akan menurunkan pembentukan modal tetap bruto (investasi) yang akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi.

Penguatan (appreciation) nilai tukar rupiah terhadap US$ akan menurunkan impor Indonesia, sebaliknya pelemahan (depreciation) nilai tukar terhadap US$ akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Respon perubahan ekspor dan impor terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (US$) adalah inelastis.

Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah (Undang Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah)

(9)

Blok Indikator Kesejahteraan

Kemiskinan (Poverty) berpengaruh negatif terhadap GDP riil dan berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi. Kenaikan GDP riil akan menurunkan tingkat kemiskinan, sementara kenaikan inflasi akan meningkatkan jumlah penduduk miskin. Variabel GDP Riil dan tingkat inflasi signifikan mempengaruhi tingkat kemiskinan. Tingkat pengangguran terbuka (unemployment) dipengaruhi secara negatif oleh GDP riil dan tingkat investasi meskipun tidak signifikan. Kenaikan laju inflasi dan kenaikan jumlah uang beredar (money supply yang termasuk dalam komponen narrow money, M1) akan mendorong naiknya indeks GDP deflator secara signifikan. Indikator Human Development Index berpengaruh positif terhadap perkembangan GDP riil sedangkan Gini Ratio berpengaruh positif terhadap perubahan tingkat pendapatan sektoral dengan upah minimum regional, tetapi responnya inelastis dan tidak signifikan secara statsitik.

Validasi Model

Validasi model bertujuan untuk mengetahui apakah nilai dugaan sesuai dengan nilai aktual (Pindyck dan Rubinfeld 1991). Hasil validasi model diketahui bahwa terdapat 4 persamaan yang mempunyai nilai RMSPE lebih besar dari 15 persen, 4 persamaan mempunyai nilai RMSPE antara 10– 15 persen, dan 40 persamaan memiliki RMSPE di bawah 10% (Lampiran 4). Berdasarkan kriteria nilai U-Theil’s, seluruh persamaan perilaku memiliki U-Theil lebih kecil/sama dengan 0.20. Hasil validasi menunjukkan bahwa Model Makro-Ekonometrika Postur APBN yang telah dirumuskan cukup baik digunakan sebagai model pendugaan, sehingga model struktural yang dirumuskan juga dapat digunakan sebagai analisis proyeksi, analisis simulasi kebijakan, baik kebijakan fiskal maupun moneter, terhadap kinerja perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Proyeksi Postur APBN 2020-2024

Penerimaan negara dari perpajakan diperkirakan sebesar Rp1,416,687 miliar pada tahun 2020 dan memiliki kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai Rp2,172,178 miliar pada tahun 2024 (Tabel 2). PNBP diperkirakan sebesar Rp280,533 miliar pada tahun 2020 dan memiliki kecenderungan yang meningkat hingga mencapai Rp335,330 pada tahun 2024. Ringkasan perbandingan Postur APBN dengan hasil proyeksi Model ditampilkan pada Tabel-2 yang menunjukkan bahwa model representatif dalam menggambarkan fenomena Postur APBN Indonesia. Pada Tabel 2 diketahui bahwa belanja pemerintah cenderung meningkat pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini diperkirakan karena besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah dalam rangka penanganan COVID-19. Tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebesar 2.11 persen dan diperkirakan cenderung meningkat sampai dengan tahun 2024, yaitu sebesar 4.08 persen. Pertumbuhan ekonomi berhubungan negatif dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran, sebaliknya berkorelasi positif dengan Indeks Pembangunan Manusia. Pertumbuhan ekonomi akan mendorong ketimpangan semakin meningkat

Tabel 2. Proyeksi Postur APBN Indonesia 2020-2024

Label Projection (IDR Million)

2020 2021 2022 2023 2024

Pendapatan Negara dan Hibah 1,699,713 1,777,710 1,975,455 2,225,384 2,518,995 Penerimaan dalam Negeri 1,697,622 1,775,166 1,972,335 2,221,530 2,514,196 Penerimaan Perpajakan 1,428,591 1,508,448 1,688,560 1,913,191 2,178,953 Pajak Dalam Negeri 1,397,198 1,487,008 1,663,035 1,882,001 2,142,841 Pajak Penghasilan (PPh) 629,089 680,456 810,988 978,022 1,180,523 Pajak Pertambahan Nilai (PPn) 588,841 622,881 653,484 679,595 700,490

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 15,783 18,619 17,975 17,405 16,898

Cukai 157,682 159,186 173,112 197,769 233,646

Pajak Lainnya 5,802 5,865 7,475 9,210 11,284

(10)

Pajak Perdagangan Internasional 31,393 21,441 25,526 31,190 36,111

Bea Masuk 30,121 20,761 20,334 19,657 18,809

Pajak Ekspor 1,272 680 5,191 11,532 17,302

Penerimaan Negara Bukan Pajak 269,031 266,718 283,775 308,339 335,243

Penerimaan Sumberdaya Alam 89,926 86,470 85,968 85,786 80,471

Bagian Laba BUMN dan BLU 97,230 92,778 90,427 89,164 88,480

PNBP Lainnya 81,874 87,470 107,381 133,389 166,292

Hibah 2,091 2,544 3,119 3,855 4,800

Belanja Negara 2,739,939 2,747,503 2,686,996 2,715,878 2,821,851

Belanja Pemerintah Pusat 1,933,728 1,926,709 1,830,218 1,797,220 1,802,161 Belanja Pemerintah K/L 1,403,107 1,206,030 1,192,169 1,185,058 1,202,006

Belanja Pegawai 321,140 317,536 319,272 330,788 350,509

Belanja Barang/Jasa 486,799 391,532 383,755 397,595 405,035

Belanja Modal 331,148 247,262 224,609 196,499 166,721

Belanja/Pembayaran Bunga Utang 264,020 249,699 264,533 260,174 279,742 Belanja Pemerintah Bukan K/L 530,621 720,678 638,050 612,163 600,154

Belanja Subsidi 298,571 451,243 331,854 269,297 218,841

Subsidi BBM 81,973 82,977 83,321 83,438 76,879

Subsidi Non BBM 216,598 368,265 248,533 185,858 141,962

Belanja Bantuan Sosial dan Hibah 232,050 269,436 306,195 342,866 381,314 Transfer ke Daerah dan Dana Desa 806,212 820,794 856,777 918,657 1,019,690

Transfer ke Daerah 743,022 753,104 784,741 842,451 939,506

Dana Perimbangan 719,916 730,684 765,129 826,961 928,444

Dana Bagi Hasil 90,684 84,566 83,264 83,843 84,639

Dana Alokasi Umum 487,461 498,891 505,960 511,370 516,393

Dana Alokasi Khusus 141,770 147,228 175,905 231,747 327,412

Dana Otonomi Khusus 23,106 22,419 19,613 15,491 11,061

Rural Fund 63,189 67,690 72,036 76,206 80,184

Keseimbangan Primer -776,206 -720,093 -447,008 -230,319 -23,114

Deficit Anggaran -1,040,226 -969,792 -711,541 -490,493 -302,856

GDP Riil, Harga Konstan 2010=100 10,361,708 10,736,742 11,129,106 11,543,988 12,015,336

Konsumsi 6,104,003 6,394,758 6,701,340 7,022,152 7,348,710

Pegenluaran Pemerintah 949,812 1,010,841 1,054,299 1,090,851 1,119,627 Pembentukan Modal Tetap 3,569,802 3,696,703 3,827,716 3,959,447 4,079,222

Ekspor 2,219,849 2,288,119 2,382,616 2,503,930 2,664,622

Impor 2,481,758 2,653,679 2,836,864 3,032,393 3,196,845

Pertumbuhan Ekonomi (%) 2.11 3.62 3.65 3.73 4.08

Deflator GDP (Index) 156.67 169.54 183.99 198.01 212.08

Deficit Ratio of GDP (%) -6.41 -5.33 -3.47 -2.15 -1.19

GDP Nominal (Rp Miliar) 16,233,181 18,202,638 20,476,970 22,857,719 25,482,593

INDIKATOR KESEJAHTERAAN

Kemiskinan (%) 10.49 10.47 9.98 9.36 8.74

(11)

Pengangguran Terbuka (%) 5.00 4.75 4.56 4.39 4.25

Indeks Pembangunan Manusia (Index) 70.94 70.98 71.13 71.35 71.64

Gini Rasio (Index) 0.391 0.393 0.395 0.399 0.404

Sumber: Model Makro-Ekonometrika Postur APBN, (2020)

Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi trade-off dengan ketimpangan. Anggaran belanja diperkirakan defisit sampai tahun 2024. Hal yang sama terjadi pada keseimbangan primer.

Keseimbangan primer merupakan selisih dari total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer diperkirakan negatif dari periode 2020–2024. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian atau seluruh bunga utang dibayar dengan penambahan utang baru. Zeng (2014) dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat hubungan linier antara keseimbangan primer dengan rasio utang terhadap PDB, tetapi keseimbangan primer di negara-negara maju tidak responsif terhadap perubahan besarnya tingkat utang.

Tabel 3. Perbandingan Postur APBN 2020-2021

Uraian Perpres

72/2020

RUU APBN 2021

Proyeksi Model Makro- Ekonometrika APBN

2020 2021 2020 2021

A. PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 1,699,948 1,776,361 1,699,713 1,777,710

1. PENERIMAAN DOMESTIK 1,698,648 1,775,458 1,697,622 1,775,166

A. Penerimaan Perpajakan 1,404,508 1,481,945 1,428,591 1,508,448 B. Penerimaan Negara Bukan Pajak 294,141 293,514 269,031 266,718

2. Hibah 1,300 903 2,091 2,544

B. BELANJA NEGARA 2,739,166 2,747,527 2,739,939 2,747,503

1. Belanja Pemerintah Pusat 1,975,240 1,951,260 1,933,728 1,926,709 2. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 763,926 796,266 806,212 820,794

C. KESEIMBANGAN PRIMER -12,012* -597,903 -776,206 -720,093

D. SURPLUS/DEFISIT ANGGARAN (A - B) -1,039,217 -971,166 -1,040,226 -969,792

% Defisit terhadap PDB -6.34 -5.50 -6.41 -5.33

E. PEMBIAYAAN 1,039,217 971,166 1,040,226 969,792

* UU No 20 Tahun 2019 tentang APBN 2020

Secara ringkas hasil proyeksi model yang disandingkan dengan Perpres 72 Tahun 2020 dan RUU APBN 2021 ditampilkan pada Tabel 3. Dari postur ringkas tersebut, terlihat bahwa usulan pemerintah pada APBN 2021 sangat mendekati dari peramalan model. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara umum model yang dibangun mendekati fenomenanya.

(12)

Simulasi Kebijakan

Pada tahun 2020, wabah Pandemi Covid-19 telah mulai terasa dan berdampak buruk terhadap kinerja ekonomi nasional dan beberapa negara di dunia. Banyak strategi yang dikeluarkan pemerintah dalam mengantisipasi dampak covid-19, salah satunya adalah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dilihat dari sisi postur angaran, pada tahun 2020 Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Nomor 72 Tahun 2020 Tentang Perubahan Postur dan Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020. Penerimaan negara ditargetkan menurun sebesar 31.37 persen dan belanja ditargetkan meningkat sebesar 7.26 persen. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya krisis sedang terjadi. Pada penelitian ini, proxy Covid-19 belum secara eksplisit tergambarkan karena data pengamatan series hanya tahun 1990-2019. Untuk menangkap dampak Covid-19, pandemi dianggap sebagai proxy sebagaimana krisis global tahun 2008 dan krisis ekonomi tahun 1997. Secara lengkap simulasi kebijakan fiskal, moneter, dan pandemi Covid-19 serta beberapa variabel yang diasumsikan berubah pada nilai dan kisaran tertentu, sebagaimana Simulasi-1 (Pesimis) dan Simulasi-2 (Moderat) ditampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Skenario Pesimis dan Moderat pada Tahun 2020 (%)

No Label Variabel Pesimis Moderat

1 Inflasi (% YoY) INFL 15 10

2 Suku Bunga (BI Rate %) SBII 8 -5

3 Nilai Tukar Rupiah (Rp/US$) NTRP 10 15

4 Harga Minyak Mentah Indonesia (USD/barel) POIL -10 -8

5 Lifting Minyak (ribu barel/hari) LIFT -15 -12

6 Lifting Gas (ribu barel setara minyak/hari) QGAS -20 -10

7 Harga Minyak Premium (Rp/Liter) PBBM 5 -5

8 Uang Beredar Sempit, M1 (Rp Miliar) MS01 -5 -2

9 Harga Listrik Rumahtangga (Rp/KWH) PELECT 5 -5

10 Pertumbuhan Ekonomi Dunia (%) GGDW -20 -10

11 Produksi Batu Bara (ribu barel setara minyak/hari) QCOAL -20 -10

12 Upah Minimum Regional (Rp/Bulan) UMR 5 2.5

13 Luas Hunian Perkapita Rumahtangga (%) RTID -10 -5

14 Nilai Output Tembakan dan Minimum (Rp Miliar) OTBK -15 -10

15 Ekspor Minyak dan Gas (Juta US$) XMGS -10 -7.5

16 Produksi Bahan Bakar Minyak (Barel) QBBM -10 -3

17 Krisis Global (1 = terjadi; 0 = tidak terjadi) DD09 1 1

18 Krisis Ekonomi (1 = terjadi; 0 = tidak terjadi) DD98 1 1

Keterangan: Simulasi hanya dilakukan khusus pada Tahun 2020, yang bertujuan untuk melihat dampatk Dampak Pandemi COVID19 terhadap Postur APBN 2020

Dalam penyusunan APBN, pemerintah telah menetapkan asumsi/target pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, dalam penelitian ini pertumbuhan ekonomi diperlakukan sebagai endogenous variable yang menunjukkan bahwa nilainya ditentukan di dalam sistem. Prinsipnya asumsi yang paling mendasar adalah asumsi varibel krisis ekonomi dan krisis global digunakan sebagai proxy dari Covid-19 masih berlanjut pada tahun 2020. Untuk mengetahui dampak krisis tersebut terhadap kondisi postur APBN, dilakukan simulasi dengan skenario pesimis dan moderat terhadap postur APBN 2020. Hasil simulasi skenario pesimis dan opitimis ditampilkan pada Tabel 5.

(13)

Tabel 5. Dampak Skenario Kebijakan Terhadap Postur APBN 2020

Label Baseline (%)

(IDR Million) Pesimis Moderat

Pendapatan Negara dan Hibah 1,699,713 -11.84 -10.36

Penerimaan dalam Negeri 1,697,622 -12.09 -10.60

Penerimaan Perpajakan 1,428,591 -11.98 -10.55

Pajak Dalam Negeri 1,397,198 -12.26 -10.80

Pajak Penghasilan (PPh) 629,089 -6.33 -3.26

Pajak Pertambahan Nilai (PPn) 588,841 -21.01 -21.03

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 15,783 -0.77 -0.28

Cukai 157,682 -3.31 -2.67

Pajak Lainnya 5,802 -40.43 -40.02

Pajak Perdagangan Internasional 31,393 0.46 0.75

Bea Masuk 30,121 0.39 0.58

Pajak Ekspor 1,272 2.06 4.74

Penerimaan Negara Bukan Pajak 269,031 -12.67 -10.90

Penerimaan Sumberdaya Alam 89,926 -26.58 -22.41

Bagian Laba BUMN dan Badan Layanan Umum 97,230 -5.31 -4.97

PNBP Lainnya 81,874 -6.13 -5.29

Hibah 2,091 184.45 184.45

Belanja Negara 2,739,939 4.18 4.86

Belanja Pemerintah Pusat 1,933,728 4.80 5.70

Belanja Pemerintah K/L 1,403,107 1.00 2.59

Belanja Pegawai 321,140 -1.00 -0.82

Belanja Barang/Jasa 486,799 -3.42 -1.75

Belanja Modal 331,148 0.00 0.00

Belanja/Pembayaran Bunga Utang 264,020 12.82 18.00

Belanja Pemerintah Bukan K/L 530,621 14.87 13.93

Belanja Subsidi 298,571 24.28 22.96

Subsidi BBM 81,973 71.20 69.81

Subsidi Non BBM 216,598 6.53 5.24

Belanja Bantuan Sosial dan Hibah 232,050 2.75 2.30

Transfer ke Daerah dan Dana Desa 806,212 2.69 2.83

Transfer ke Daerah 743,022 2.62 2.85

Dana Perimbangan 719,916 2.26 2.61

Dana Bagi Hasil 90,684 -8.48 -7.01

Dana Alokasi Umum 487,461 -0.06 -0.05

Dana Alokasi Khusus 141,770 17.12 17.91

(14)

Dana Otonomi Khusus 23,106 13.71 10.17

Rural Fund 63,189 3.57 2.68

Keseimbangan Primer -776,206 36.34 33.72

Deficit Anggaran -1,040,226 30.37 29.73

GDP Riil, Harga Konstan 2010=100 10,361,708 -7.87 -6.81

Konsumsi 6,104,003 -0.88 -0.42

Pegenluaran Pemerintah 949,812 0.16 0.13

Pembentukan Modal Tetap 3,569,802 -23.33 -22.41

Ekspor 2,219,849 0.95 2.17

Impor 2,481,758 -1.95 -2.85

Pertumbuhan Ekonomi (%) 2.11 -239.16 -189.13

Deflator GDP (Index) 156.67 1.35 0.66

Deficit Ratio of GDP (%) -6.41 39.63 38.29

GDP Nominal (Rp Miliar) 16,233,181 -6.63 -6.19

INDIKATOR KESEJAHTERAAN

Kemiskinan (%) 10.49 2.49 2.01

Pengangguran Terbuka (%) 5.00 3.67 3.14

Indeks Pembangunan Manusia (Index) 70.94 -0.05 -0.05

Gini Rasio (Index) 0.391 -0.43 -0.21

Sumber: Model Makro-Ekonometrika Postur APBN (Puskadaran, 2020)

Penerimaan negara dengan skenario pesimis diperkirakan menurun sebesar 11.84 persen sedangkan pada skenario moderat turun sebesar 10.36 persen. Ini menunjukkan bahwa krisis global dan krisis ekonomi sebagai gambaran dari Covid-19 berdampak buruk terhadap kinerja penerimaan dan pendapatan negara secara keseluruhan. Penurunan penerimaan negara mengalami penurunan terbesar adalah PNBP jika dibandingkan dengan penerimaan negara dari pajak. Penurunan pendapatan negara yang diiringi dengan kenaikan belanja negara berdampak terhadap naiknya keseimbangan primer dan defisit anggaran. Transfer ke daerah pada skenario pesimis meningkat sebesar 2.69 persen dan skenario moderat meningkat sebesar 2.83 persen. Dana Desa pada skenario pesimis diperkirakan meningkat sebesar 3.57 persen, sementara di skenario moderat meningkat sebesar 2.68 persen. Perkiraan dana desa ini lebih rendah dibandingkan dengan target pemerintah tahun 2020, yaitu sebesar Rp70 triliun. Namun demikian, jika mengacu pada realisasi pada tahun 2019, dana desa hanya terserap sebesar Rp64,08 triliun dari target pemerintah sebesar Rp73 triliun atau turun sekitar 11 persen dari target.

Pada skenario pesimis, tingkat pertumbuhan turun sebesar -239 persen dari baseline (atau pada tingkat pertumbuhan sebesar -2.94 persen) sedangkan pada skenario moderat pertumbuhan ekonomi turun sebesar -189 persen dari baseline (atau pada tingkat pertumbuhan sebesar -1.88 persen). Penurunan tingkat pertumbuhan ini berdampak pada meningkatnya jumlah kemiskinan dan pengangguran.

Tingkat kemiskinan meningkat sebesar 2.49 persen pada skenario pesimis dan sebesar 2.01 persen pada skenario moderat. Tingkat pengangguran terbuka meningkat sebesar 3.67 persen pada skenario pesimis dan 3.14 persen pada skenario moderat. Penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut juga berdampak terhadap penurunan Indeks Pembangunan Manusia. Di sisi lain, ketimpangan pendapatan menjadi menurun relatif kecil, baik pada skenario pesimis maupun moderat.

Pertumbuhan ekonomi yang rendah berdampak terhadap rendahnya penerimaan pemerintah.

Untuk menjaga agar perekonomian tetap stabil, pemerintah meningkatkan pengeluaran (kebijakan fiskal ekspansif), sehingga kebijakan defisit cenderung meningkat melalui peningkatan utang. Hal ini terlihat bahwa kedua scenario, baik pesimis maupun moderat, meningkatkan defisit anggaran APBN

(15)

masing-masing sebesar 30.37 persen dan 29.73 persen. Hasil ini sesuai dengan pandang Bell et al (2015), dimana pertumbuhan ekonomi rendah dapat menyebabkan rendahnya pendapatan pemerintah. Untuk menjaga agar perekonomian tetap stabil maka pemerintah akan cenderung meningkatkan defisit melalui peningkatan utang. Pendapat yang sama juga dikemukan oleh Ferreira (2009) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang rendah akan mendorong berkurangnya penerimaan pemerintah. Di sisi lain, belanja untuk social security transfer dan subsidi cenderung meningkat. Hal ini akan menyebabkan semakin meningkatnya utang pemerintah untuk membiayai belanja. Hal ini menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pembayaran bunga utang memiliki korelasi negatif. Studi empiris mengenai hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan utang pemerintah telah banyak dilakukan oleh beberapa penulis lainnya, seperti Misztal (2010), Puente-Ajovín and Sanso-Navarro (2015), Panizza and Presbitero (2014) yang secara umum menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi cenderung menurunkan utang pemerintah.

5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Model Makro-Ekonometrika Postur APBN dapat dijadikan sebagai suatu tool atau alat analisis dalam memperkirakan pendapatan, pengeluaran, keseimbangan primer maupun defisit APBN untuk periode waktu tertentu. Metode simulasi yang digunakan untuk memecahkan solusi sistem persamaan adalah Newton method. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 adalah sebesar 2.11 persen dengan skenario business as usual dan tanpa adanya skenario krisis ekonomi dan krisis global. Pada skenario pesimis, pertumbuhan ekonomi kontraksi sebesar -2.94 persen sementara pada skenario moderat pertumbuhan ekonomi kontraksi sebesar -1.88 persen. Kontraksi pertumbuhan ekonomi tersebut cenderung menaikkan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Pada periode 2020-2024 diperkirakan terjadi defisit anggaran sebagai akibat dari penanganan pandemi COVID-19 dengan defisit anggaran APBN lebih dari 3 persen sampai tahun 2022. Pada periode peramalan 2020-2024, diperkirakan bahwa pemerintah tidak memiliki dana dalam pembiayaan bunga utang, sehingga utang yang baru juga digunakan untuk membayar bunga utang.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan cara memasukkan persamaan tentang pembiayaan pemerintah, baik yang bersumber dari domestik maupun luar negeri. Di dalam model juga perlu menambahkan persamaan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada daerah (merupakan komponen pengurang dalam menghasilkan pendapatan neto negara) sehingga dapat diperkirakan besaran DAU yang menjadi mandatory dari APBN.

6. UCAPAN TERIMA KASIH

Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik personal maupun institusi, yang telah memberikan kontribusi langsung maupun tidak langsung pada penelitian ini. Penghargaan khusus kami sampaikan kepada Pusat Kajian Daerah dan Anggaran Sekretariat Jenderal DPD RI (Puskadaran- Setjen DPD RI) yang telah memberikan dukungan perizinan, data, dan penyediaan sarana prasarana serta dukungan pendanaan pelaksanaan penelitian melalui program penelitian APBN yang menjadi salah satu program utama Pusat Kajian Daerah dan Anggaran Setjen DPD RI Tahun 2020.

7. DAFTAR PUSTAKA

Ballantyne A, T Cusbert, R Evans, R Guttmann, J Hambur, A Hamilton, E Kendall, R McCririck, G Nodari, D Rees. (2019). MARTIN Has Its Place: A Macroeconometric Model of the Australian Economy. Research Discussion Paper. Economic Analysis Department. Reserve Bank of Australia.

Bell A, Johnston R, Jones K. (2015). Stylised Fact or Situated Messiness? The Diverse Effects of Increasing Debt on National Economic Growth. Journal of Economic Geography, 15, 449-472 Budhiasa GS. (2012). Review Tentang Studi Pemodelan Makro Ekonomi di Indonesia. Buletin Studi

Ekonomi, 17(2): 216-220.

(16)

Creel M. (2006). Econometrics. Department of Economics and Economic History, Universitat Autònoma De Barcelona.

Ducanes G, Cagas MA, Qin D, Quising P, Magtibay-Ramos N. (2005). A Small Macroeconometric Model of the Philippine Economy. Working Paper 62/2005. Asian Development Bank. Manila Philippines.

Escolano J. (2014). The Determinants of the Interest-Rate-Growth Differential. In C. Cottarelli, P.

Gerson, & A. Senhadji (Eds.), Post-crisis Fiscal Policy. London: MIT and IMF.

Ferreira C. (2009). Public Debt and Economic Growth: a Granger Causality Panel Data Approach.

Working Paper No.24. Lisbon: Technical University of Lisbon.

Hansen BE. (2004). Econometrics. University of Wisconsin.

Johnston J, J Dinardo. (1997). Econometric Methods. Fourth Edition, McGraw-Hill International Edition.

Kementerian Keuangan. (2014). Postur APBN Indonesia. Direktorat Jenderal Anggaran. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Jakarta.

Koike T, Hasegawa K, Kogawa T, Ishikawa D, Kojima D. (2018). Macro-Model Analysis of Japan’s Economic and Fiscal Conditions: Analysis by the Office of Econometric Analysis for Fiscal and Economic Policy, Policy Research Institute, Ministry of Finance, Japan, Public Policy Review, 14(4): 527 – 540.

Misztal P. (2010). Public Debt and Economic Growth in Europian Union. Journal of Applied Economic Science, 5, 292-302.

Murphy C. (2020). Decisions in Designing an Australian Macroeconomic Model. Economic Record, (3):

1-19.

Pagan A. (2019). Australian Macro-Econometric Models and Their Construction - A Short History.

CAMA Working Paper 50/2019. School of Economics, University of Sydney Centre for Applied Macroeconomic Analysis, ANU.

Pagan A. (2019). Australian Macro-Econometric Models and Their Construction - A Short History.

Centre for Applied Macroeconomic Analysis. Working Paper 50/2019.

Palanivel T, Klein L R. (1999). An Econometric Model for India with Emphasis on the Monetary Sector.

The Developing Economies, 37(3): 275-336

Panizza U, Presbitero, Andrea F. (2014). Public Debt and Economic Growth: Is There a Causal Effect?

Journal of Macroeconomics. 41(September). 21–41.

Pindyck RS, DL Rubinfeld. (1991). Econometric Models and Economic Forcasts. Third Edition.

McGraw-Hill Inc, New York.

Puente-Ajovín, M, Sanso-Navarro M. (2015). Granger Causality between Debt and Growth: Evidence from OECD Countries. International Review of Economic and Finance, 35, 66–77.

Qin D, Cagas MA, Ducanes G, He X, Liu R, Liu S, Magtibay-Ramos N, Quising P. (2007). A Macroeconometric Model of the Chinese Economy. Economic Modelling 24, 814–822.

Rey SJ. (2000). Integrated Regional Econometric+Input Output Modelling: Issues and Opportunities.

Regional Sciences 79: 271-292.

Tanuwidjaja E. (2005). A Small-Scale Macroeconomic Model of Indonesia. [Thesis]. Department of Economics National University of Singapore

Thanh DV. (2019). Macro-Econometric Model for Medium-Term Socio-Economic Development Planning in Vietnam. Economy of Region, 15(1), 121-136.

Verbeek M. (2000). A Guide Modern Econometrics. Jhon Wiley & Son. Ltd. New York.

(17)

Zeng L. (2014). Determinants of the Primary Fiscal Balance: Evidence from a Panel of Countries. In C.

Cottarelli, P. Gerson, & A. Senhadji (Eds.). Post-crisis Fiscal Policy. London: MIT and IMF.

(18)

Lampiran 1. Model Makro-Ekonometrika Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia

A. Blok Penerimaan Negara

TPPH = a10 + a11 (UPAH/DEFL*100) + a12 CONR + a13 (QOIL+QCOAL+QGAS) + a14 TPPHt-1 + e1

Hipotesis: a11, a12,a13 > 0 dan 0 < a14 < 1

TPPN = a20 + a21 GOVR + a22 KEND + a23 DD98 + a24 TPPN t-1 + e2 Hipotesis: a21, a22 > 0; a23 < 0 dan 0 < a24 < 1

TPBB = a30 + a31 INFL + a32 RTID + a33 LHPT + a34 TPBB t-1 + e3

Hipotesis: a31, a32, a33 > 0 dan 0 < a34 < 1 CUKA = a40 + a41 OTBK + a42 PDBN + a43 CUKA t-1 + e4

Hipotesis: a41, a42 > 0 dan 0 < a43 < 1

TOTH = a50 + a51 PDBN + a52 DD98 + a53 DD09 + a54 TOTH t-1 + e5

Hipotesis: a51 > 0; a52, a53 < 0 dan 0 < a54 < 1

TDOM = TPPH + TPPN + TPBB + BPHT + CUKA + TOTH;

TIMP = a60 + a61 IMPR + a62 DD09 + a63 TIMP t-1 + e6

Hipotesis: a61 > 0; a62 < 0 dan 0 < a63 < 1 TEXP = a70 + a71 EKSR + a72 DD09 + a073 TEXP t-1 + e7

Hipotesis a71 > 0; a72 < 0 dan 0 < a73 < 1 TINT = TIMP + TEXP

PSDA = a80 + a81 (QOIL*POIL) + a82 QGAS + a83 DD98 + a84 PSDA t-1 + e8 Hipotesis: a81, a82 > 0; a83 < 0 dan 0 < a84 < 1

BUMN = a90 + a91 (QBBM*PBBM) + a92 (QCOAL*PCOAL) + a93 BUMNt-1 + e9

Hipotesis: a91, a92 > 0 dan 0 < a93 < 1 NOTH = b10 + b11 PDBN + b12 NOTH t-1 + e10

Hipotesis: b11 > 0 dan 0 < b12 < 1 PNBP = PSDA + BUMN + NOTH

HIBA = b20 + b21 GROW + a22 HIBA t-1 + e11 Hipotesis: b21 > 0 dan 0 < b22 < 1 TREV = TDOM + TINT

RDOM = TREV + PNBP TOTI = RDOM + HIBA

B. Blok Belanja Negara

BPGW = c10 + c11 JPNS + c12 TPPH + c13 PSDA + c14 BPGWt-1 + e12 Hipotesis: c11, c12, c13 > 0 dan 0 < c14 < 1

BBRG = c20 + c21 TPPH + c22 JLNN + c23 BBRGt-1 + e13

Hipotesis: c21, c22 > 0 dan 0 < c23 < 1

Referensi

Dokumen terkait

Dalam percobaan yang kami lakukan pada tabung A di dapatkan hasil akhir berwarna hijau itu artinya pada usus ikan tersebut di tidak terdapat enzim amilase.. itu tandanya terjadi

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis tersebut maka disusun model yang menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kepatuhan pajak sukarela hanya dapat dilakukan dengan

Tujuan dari proses penciptaan karya ini adalah sebagai berikut: menjadikan tumbuhan tempuh wiyang sebagai sumber ide penciptaan motif batik kain panjang serta

Pemberian regimen kemoterapi yang tepat dan adekuat akan memperbaiki kualitas hidup ibu, mengurangi efek samping obat anti tuberculosis (OAT) terhadap janin dan mencegah infeksi

Penyebab lain adalah akibat indirek dari kekerasan suami kepada istri (kekerasan dalam rumah tangga, yang sering disingkat sebagai KDRT). KDRT mempunyai akibat langsung kepada

Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi eksperimen) yang terdiri dari dua kelompok siswa, dimana kedua kelompok tersebut dipilih secara

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Dalam skripsi ini peneliti membahas mengenai “ PENGARUH LIKUIDITAS, MATURITAS DAN PERINGKAT OBLIGASI TERHADAP YIELD OBLIGASI KORPORASI DI BURSA EFEK INDONESIA