1 BERSAMA PETANI MENGHADAPI COVID19
Together with farmers to handling covid19
Oleh: R. Sabrina1, Agnes Imelda Manurung2danBilter Sirait3
1)Dosen UMSU,2)Dosen UDA dan3)DosenLLDiktiWil I dpk UDA
ABSTRACT
Background and Objectives. COVID-19 is a disease caused by the Novel Coronavirus (2019-nCoV), a new type of coronavirus that in humans causes illness ranging from the common cold to serious illnesses such as Middle East Respiratory Syndrome (MERS) and Severe Acute Respiratory Syndrome (MERS) SARS).
Materials and Methods: The method of this article is through the collection of various regulations and documents from the united nations organization, the central government to local governments. Results: The results of the search from various sources, it turns out that North Sumatra is still relatively under control in terms of the spread of covid19. Conclusions: The state civil apparatus must develop food security so that the food security index increases, with economic activities that directed at supporting the availability of food, farmers' lives are helped and the community can fulfill their primary need, namely food.
Keywords:Together, farmers, handling, covid19
PENDAHULUAN
RPJMD Provinsi Sumatera Utara 2018 – 2023 merupakan tahap keempat dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005 – 2025 yaitu tahap pemantapan “Tingkat kemandirian yang tinggi, makmur, berkeadilan dan maju, melalui percepatan pembangunan semua bidang yang didukung struktur ekonomi yang tangguh” menuju pencapaian “Masyarakat Sumatera Utara yang Beriman, Maju, Mandiri, Mapan dan Berkeadilan didalam ke Bhinnekaan yang didukung oleh Tata Pemerintahan yang Baik”.
Misi yang telah disusun dalam upaya pencapaian visi tersebut salah satunya adalah mewujudkan masyarakat Sumatera Utara yang bermartabat dalam kehidupan karena memiliki imandan taqwa, tersedianya sandang pangan yang cukup, rumah yang layak, kesehatan yang prima, mata pencaharian yang menyenangkan, serta harga-harga yang terjangkau. RPJMD dimaksud diuji saat ini akibat pandemic covid19, apakah Pemprovsu mampu membuat terobosan untuk meningkatkan indeks ketahanan pangan Sumatera Utara.
2 Sustainable Development Goals Index Indonesia tahun 2020 pada ranking 101.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumatera Utara pada tahun 2020 mencapai 71,77.
Sebagaimana yang pernah diungkapkan, bahwa Pemerintah Sumatera tetap taat azas dalam kerangka pembangunan ketahanan pangan di Indonesia (Sabrina, R., A.I.
Manurung, B. A. Sirait, 2021). Sabrina, R., A.I. Manurung, B. A. Sirait (2021) juga mengungkapkan bahwa pembagunan ketahanan pangan mempunyai multi fungsi, indikator keberhasilan (outcome /hasil akhir ) pada tahun 2025 diurai sebagai berikut :
➢ Konsumsi Energi Mencapai 2.150 Kkal/Kapita/Hari dan Ketersediaan Energi Mencapai 2.400 Kkal/Kapita /Hari. Konsumsi energi ini sangat diperlukan dalam kegiatan/aktifitas sehari hari bagi manusia yang sehat supaya produktif. Konsumsi energi tercapai kalau ada ketersediannya maka ditargetkan terdapat ketersediaan energi sebesar 2.400 kkal/kapita /hari.
Guna mencapai indikator ini maka diperlukan produksi pangan yang cukup baik jumlah dan mutunya serta merata dan terjangkau. Pemprovsu diyakini mampu memanage ketersediaan, aksesibilitas serta mutu pangan sehingga tercapai konsumsi energi 2.150 kakal/kapita/hari dan ketersediaan energi 2.400 kakal/kapita/hari di Sumatera Utara.
➢ Konsumsi Protein Mencapai 57 g /kapita/hari dan Ketersediaan Protein Mencapai 63 g/kapita/hari. Protein merupakan gizi untuk pembentukan otot/organ organ tubuh lainnya serta untuk kecerdasan.
dengan tubuh yang kekar dan cerdas dapat mendorong peningkatan produktivitas penduduk /masyarakat. Sangat dibutuhkan adanya upaya mencapai konsumsi protein 57 g/kapita/hari serta ketersedian protein 63 g/kapita/hari, begitu juga program skor pola pangan harapan ( PPH ) agar mencapai 90,15 dan skor pph ketersediaan 98,3. Pola Pangan Harapan sangat menentukan adanya pangan yang beragam , bergizi dan seimbang antara karbohidrat, protein, mineral dan vitamin. Kalau hanya berdasarkan target asupan/konsumsi energi dapat saja diperoleh dari mengonsumi satu jenis komoditi saja. Maka perlu diatur atau dibimbing dengan skor Pola Pangan Harapan, dimana energi diperoleh dari berbagai jenis komoditi.
➢ Prevalensi Anemia pada Ibu Hamil 28%. Ibu hamil merupakan awal kehidupan bagi seorang anak yang dilahirkan, maka ibu hamil yang sehat sangat diperlukan guna dapat melahirkan anak yang sehat jasmani dan rohani. Seorang ibu harus mempunyai gizi dan darah yang cukup guna bisa menunjang kegiatannya khususnya dalam memberi darah dan gizi pada bayi yang dikandungnya.
➢ Persentase Bayi dengan Berat Badan Rendah (Bblr) 1,4%.
Ibu yang sehat dan produktif dapat melahirkan anak yang sehat dan cerdas.
3 Salah satu indikator anak yang dilahirkan sehat adalah berapa berat bayi saat dilahirkan ,biasanya antara 3.5 kg ---5 kg pada saat dilahirkan.
➢ Persentase Bayi Dengan Usia Kurang Dari 6 Bulan yang Mendapatkan Asi Eksklusif 80%. Setelah anak lahir maka asupan gizinya harus sesuai standar kesehatan, dimana secara alami atau anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sudah memberi asupan bagi bayi melalui ibunya yang sehat yakni air susu ibu. Oleh sebab itu sesuai anjuran dokter gizi bahwa bagi balita, air susu ibu merupakan sumber makanan yang lengkap bagi perkembangan anak yang disebut dengan asi eksklusif, yang diberikan oleh ibunya melalui menyusui minimal 6 bulan setelah anak dilahirkan, dengan demikian anak diharapkan sehat jasmani dan rohaninya. BUMD Pangan yang akandidirikandikatakansehatapabilamampumenjaminketersediaanberbagaigizi di Sumatera Utara.
➢ Prevalensi Kekurangan Gizi ( Underweight) Pada Anak Balita 18%. Anak balita yang bergizi cukup sesuai standart kesehatan akan memberikan positif bagi perkembangan jasmani dan rohani anak untuk masa mendatang. Umur balita antara 0 – 5 tahun sangat menentukan masa depan anak khususnya untuk sehat dan produktif.
➢ Prevalensi Kurus (Wasting ) Pada Anak Balita 4,9%. Kurus ada hubungannya dengan berat badan anak balita ,yang biasanya adanya anak balita kurus pada umummnya disebabkan asupan makanan yang kurang bergzi dan tidak beragam ,bergizi dan seimbang. Untuk itu diharapkan seluruh anak umur 0- 5 tahun atau balita tidak ada yang kurus maupun tidak ada yang obesitas sehingga mendorong perkembangan anak yang sehat dan produktif.
➢ Prevalensi Pendek Dan Sangat Pendek ( Stunting ) Pada Anak Baduta ( Bayi Dibawah Dua Tahun ) 0.63 %. Fisik anak pad umur 0 – 2 tahun khususnya tentang tinggi badan anak baduta sangat menentukan perkembangan fisik tinggi badannya pada masa yang datang. Anak yang pendek dan sangat pendek pada umur baduta berpotensi disebabkan pola makan dan pola asuh anak yang bersangkutan dan juga berpengaruh bagi kesehatan dan produktivitas anak pada masa remaja dan dewasa.
➢ Prevalensi Berat Badan Lebih dan Obesitas Pada Penduduk Usia > 18 Tahun 7.7%. Anak balita sampai umur 18 tahun rentan terhadap berat berlebih dan obesitas karena pola makan yang salah serta gizi berlebih,yang menyebabkan anak kelebihan berat badan yang menyebabkan berkurangnya kecerdasan dan gerakan yang lamban. Menurut pakar kesehatan kondisi fisik yang terlalu gemuk tidak baik untuk kesehatan dan produktivitas , untuk itu perlu diperhatikan dengan mengadakan program dan kegiatan yang mengurangi keadaan tersebut.
4 Covid yang tiba-tiba merebak membuat pemerintah harus menanganinya dengan cepat dan serius, sehingga anggaran pemerintah di- refocusing untuk itu. Pemprov Sumut juga me-refocusing APBD untuk penenganan Covid yang terdiri atas pembiayaan sektor Kesehatan, Jaring Pengaman Sosial dan Stimulan Ekonomi.
Dampak Covid sangat memukul kehidupan masyarakat, banyak yang kehilangan pekerjaan dan sampai pada kondisi sangat memerlukan bahan pangan. Untuk itu dengan dana Jaring Pengaman Sosial Pemprov Sumut memberikan bantuan 1,3 juta Paket Sembako kepada masyarakat di 33 Kab/Kota se Sumut. Disamping itu juga memberikan bantuan stimulan ekonomi, sosialisasi dan penanganan medis.
Selanjutnya, untuk membantu pemenuhan Pangan masyarakat tidak lagi dalam bentuk paket sembako, tetapi bantuan usaha produktif terutama produksi bahan pangan, yang hal ini sekaligus dalam rangkaian pemulihan ekonomi nasional.
Seringkali kita mendengar pernyataan petinggi dunia sebagai berikut: a person can be infected from a person with COVID-19. This disease can spread through small droplets (droplets) from the nose or mouth when coughing or sneezing.
The droplets then fall on nearby objects. Then if someone else touches an object that has been contaminated with these droplets, then that person touches the eyes, nose or mouth (triangle of the face), then that person can be infected with COVID-19. A person can also become infected with COVID-19 when they accidentally inhale droplets from an infected person. This is why it is important for us to maintain a distance of at least one meter from people who are sick.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Juli 2021 dengan menelusuri data situasi covid19 Indonesia dan Sumatera Utara melalui koleksi berbagai regulasi dan dokumen dari WHO-PBB, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
5 Hasil Penelitian dan Pembahasan
Dari berbagai dokumen yang ditelusuri, diperolehlah data Situasi Covid Indonesia dan Sumatera Utara seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Situasi Covid Indonesia dan Sumatera Utara
Keterangan 31 Desember 2020 13 Juli 2021
Indonesia Sumut Indonesia Sumut
Suspek 68.316 717 181.043
(…%)
473(-
Terkonfirmasi 743.198 18.149 2.615.529 39.757
Sembuh 611.097 15.410 2.139.609 34.439
Meninggal 22.138 679 68.219 1.257
Kasus Aktif 109.963 2.060 407.709 4.061
Sumber: Satgas Covid Sumut, 2021.
Dari Tabel 1 diperoleh bahwa mulai 31 Desember 2020 hingga 13 Juli 2021, Indonesia mengalami kenaikan Suspek 165 % sedang Sumatera Utara turun -34 %. Selanjutnya, Indonesia terkonfirmasi 252 % dan Sumatera Utara naik menjadi 119 %. Angka ini sangat membahayakan apabila tidak diambil segera kebijakan tegas. Di Indonesia, jumlah yang meninggal dunia akibat covid19 sejak 31 Desember 2020 hingga 13 Juli 2021 meningakat dari 22 138 menjadi 68 219 (naik 208.1 %) sedang di Sumatera Utara dari 679 menjadi 1 257 (naik 85.1 %). Dilain pihak, yang menggembirakan bahwa Indonesia sembuh dari serangan Covid19 sebesar 250.1 % dan Sumatera Utara 123.5 %, dalam hal ini patut diapresiasi kebijakan Pemerintah. Selanjutnya, kasus aktif covid di Indonesia sejak 31 Desember 2020 hingga 13 Juli 2021 dari 109 963
6 menjadi 407 709 (naik 270.70 %), sedang di Sumatera Utara dari 2 060 menjadi 4 061 (naik 97.1 %).
Beberapa dampak pandemi covid19:
Kualitas kesehatan masyarakat menurun
Kualitas pendidikan masyarakat menurun
Pertumbuhan ekonomi daerah menurun
Kegiatan usaha (ekonomi) masyarakat menurun
Pencari kerja meningkat
Pendapatan masyarakat menurun
Ketersediaan bahan pangan menurun (harga meningkat)
Daya beli masyarakat menurun
Pemerintah Sumatera Utara sangat komit Membantu Petani yang Berarti Membantu Masyarakat, antara lain:
Covid belum ada obatnya, sehingga dilawan dengan imunitas yang tinggi agar tidak terpapar, artinya masyarakat harus sehat. Dalam menjaga kesehatan (mencapai imun tinggi) salah satu yang penting adalah asupan gizi dari konsumsi makanan. Oleh karenanya Ketersediaan Pangan menjadi perhatian Pemerintah. Selanjutnya, ketersediaan pangan diperoleh dari produksi domestik dan impor. negara-negara eksportir bahan pangan menahan produknya karena memprioritaskan keperluan dalam negerinya. Mau tak mau produksi domestik harus ditingkatkan, sementara kemampuan produksi petani menurun. Dari segi kemampuan alam Indonesia/Sumut sangat memungkinkan untuk dapat memproduksi pangan besar-besaran, tinggal bagaimana pemerintah mengalokasikan dananya. Arahan Gubsu: pulihkan ekonomi salah satunya melalui peningkatan produksi bahan pangan; bantu masyarakat dengan memberi pancing bukan ikan. Berkaitan dgn hal tersebut, Pemprov Sumut meningkatkan program bantuan kepada Petani (termasuk Peternak dan Nelayan atau Pembudidaya Ikan) untuk meningkatkan produksi bahan pangan (bantuan bibit, sarana produksi hingga asuransi), sehingga dapat diharapkan
7 bahan pangan tersedia dengan harga terjangkau, dengan demikian, petani dapat menjalankan usahanya, menggerakkan roda perekonomian dan menghasilkan produk sebagai sumber penghasilannya, sedangkan produksi tsb memasok ketersediaan bahan pangan setempat. Dalam hal ini, Pemerintah membantu petani memproduksi bahan pangan (pendapatan petani) dan petani membantu pemerintah menyediakan bahan pangan bagi masyarakat.
Sekali melangkah dayung dua tiga pulau terlampaui, diartikan bahwa sekali melangkah dayung adalah kegiatan bantuan sarana produksi bagi petani, peternak dan nelayan, sedang dua tiga pulau terlampaui dimaksudkan:
➢ Membantu masyarakat tetap mampu menjalankan usaha di tengah terpaan badai Covid-19 yang menghancurkan kemampuan petani berproduksi.
➢ Menjamin adanya Penghasilan masyarakat dengan adanya kegiatan usaha taninya (meningkatkan daya beli).
➢ Menjamin ketersediaan Pangan secara lokal dengan tetap berproduksinya Petani, Peternak dan Nelayan (menjaga stabilitas harga).
➢ Mendorong tetap bergeraknya kegiatan ekonomi lainnya berkaitan dengan usaha transportasi, distribusi, pemasaran/perdagangan, pergudangan, dll, sehingga menggerakkan roda perekonomian daerah dengan masih bergeliatnya usaha-usaha ekonomi.
➢ Memberi lapangan kerja bagi masyarakat pencari kerja, bekerja di usaha pertanian, peternakan dan perikanan, serta usaha-usaha lain yang menyertainya, baik pra maupun pasca kegiatan usaha tani.
Beberapa Kegiatan Bantuan Produksi Bagi Petani yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara rinciannya sebagai berikut:
Bantuan benih dan pengembangan budidaya padi, jagung, kacang kedele, kacang tanah, bawang merah, bawang putih, kentang,
Bantuan benih padi dan bawang merah untuk penangkar
Pengembangan Jaringan irigasi
Pengembangan jalan produksi pertanian
Pembangunan rumah kompos
Pembangunan embung
Pembangunan bangsal bawang
Bantuan alat angkut roda-3 dan alat mesin pertanian
8
Bantuan bibit ternak dan pakan ternak sapi potong, sapi perah, kerbau, Kambing, Domba, Itik, Ayam
Peremajaan kebun sawit rakyat dan bimbingan teknologinya
Intensifikasi tanaman tembakau
Bantuan saprodi (pupuk, herbisida, dll)
Bantuan benih aren genjah
Bimbingan teknologi dan bantuan bibit, pohon pelindung dan saprodi/alsintan tanaman kopi
Bantuan sarana prasarana budidaya ikan
Pengembangan usaha budidaya udang windu dan kerang
Pengadaan rumah ikan, kapan perikanan, alat penangkap ikan, mesin kapal perikanan, sampan (solu)
PENUTUP
Dengan adanya kegiatan ekonomi yang diarahkan untuk menopang ketersediaan Pangan, maka kehidupan petani terbantu dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan primernya yaitu makanan, untuk dapat hidup sehat sehingga mampu bertahan dari serangan Covid-19.
DAFTAR PUSTAKA
1. Keppres 12/2020, Penetapan Bencana Covid sebagai Bencana Non Alam
2. Keppres 7/2020 dan 9/2020, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid
3. Keppres 82/2020, Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional
4. Kep.Gubsu 188.44/174/KPTS/2020, Status TanggapDaruratCovid di Sumut
5. Kep.Gubsu 188.44/200/KPTS/2020, Gugus TugasCovid Sumut.
6. Kep.Gubsu 188.44/458/KPTS/2020. Satuan Tugas Covid Sumut.
7. Sabrina R., B. A. Sirait, A. I. Manurung, 2021. Membangun Ketahanan Pangan Indonesia dari Sumatera Utara. Untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, aktif, produktif dan berkesinambungan. Let my food be my medicine and my medicine from my food. USU Press.
8. WHO tgl 11 Maret 2020, menetapkan Covid-19 sebagai Global Pandemic