Daftar isi
Profil Yayasan & Program 2
Profil Mitra 6
Liputan Kegiatan 7
Edisi Januari 2014 Newsletter Yayasan Bina Desa Indonesia
Dokumentasi Kegiatan 8
Laporan Keuangan 16
newsletter
Dr. Ir. Anton Apriyantono Dewan Pembina Yayasan Bina Desa Indonesia Dari seluruh komponen bangsa,
pemuda merupakan salah satu sumber SDM yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan dan dibentuk menjadi agent of change dalam masyarakat.
Pemuda dengan kemampuan wirausaha dan kemampuan sosial tinggi memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemimpin dalam mewujudkan keber- hasilan pembangunan nasional berupa kemampuan mengarahkan dan bekerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Akan tetapi, dalam realita di masyarakat, sangat terbatas sekali sarana serta prasarana yang mampu mendukung pemuda untuk untuk membangun desa, dimana desa merupakan salah satu bagian dari fokus pembangunan nasional. Badan ataupun wadah yang mampu memfasilitasi para pemuda ini diharapkan mampu mengakselerasi terciptanya generasi pemuda pemban- gun bangsa, khususnya pembangunan pada aspek pengembangan desa.
Langkah jangka panjang dari pembentu- kan wadah akselerator ini, pemuda diharapkan mampu menjadi generasi pengisi kekurangan wirausaha muda di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan yang berkualitas serta berdaya saing global di daerah pedesaan dan pesisir yang membutuhkan.
Melalui hal ini, desa-desa beserta pesisir mendapatkan sarana baru bagi pengembangan wilayahnya terkait pemanfaatan potensi yang berkaitan dengan bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan.
Program pembangunan desa juga dapat bermanfaat positif bagi generasi muda yakni menjadi wahana belajar kepem- impinan bagi anak-anak muda terbaik bangsa agar lebih dekat kepada masyarakat terutama para petani dan nelayan.
Wahana ini secara langsung mampu meningkatkan komunikasi dan hubun-
gan kerja sama yang baik antara warga dan pemuda, sehingga hal ini mampu mempercepat pertumbuhan pembangu- nan nasional.
Peranan pemuda dalam membangun desa ini tidak lepas dari jalinan
kerjasama dengan BUMN, Pemerintah, Perusahaan, dan Lembaga lokal dalam memajukan ekonomi masyarakat terutama para petani dan nelayan.
Melalui program Indonesia Bangun Desa (IBD), jiwa kewirausahaan dan kemandi- rian harus muncul dari setiap pemuda itu sendiri. Program IBD sebagai fasilitator berupaya untuk menghadirkan berbagai aktivitas usaha produktif baik on-farm maupun off-farm di pedesaan dan pesisir berbasis potensi sumberdaya alam lokal.
Hadirnya berbagai usaha produktif ini secara langsung diyakini mampu meningkatkan taraf hidup warga desa setempat dengan pembentukan sentra-sentra usaha kecil menengah, dan secara tidak langsung dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berdampak meningkatnya pendapatan nasional Indonesia.
INDONESIA sebagai negara yang telah merdeka memiliki cita-cita suci demi kemajuan bangsanya. Cita-cita yang mulia serta bersahaja yang terkandung dalam proklamasi kemerdekaan ini yakni berkaitan dengan peningkatan kembali taraf kehidupan bangsanya, peningkatan kecerdasan bangsa, serta mengejar ketertinggalan dengan mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Agar mampu mengemban amanah sosial dan kemanusiaan tersebut, maka diperlukan penjabaran akan cita-cita dalam wujud kegiatan yang bergerak di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang berkelanjutan.
Hal ini dapat dimulai dengan membentuk SDM yang berkualitas dalam usaha menciptakan komponen-komponen bangsa yang bermutu tinggi dan mampu berfungsi sebagai motor penggerak bagi pembangunan nasional.
Pribadi SDM yang dibentuk diharapkan memiliki nilai-nilai positif di antaranya mengedepankan nasionalisme, memiliki kepekaan sosial tinggi, berkemampuan bersinergi, dan mampu melihat setiap peluang dalam berbagai kondisi untuk dikembangkan menjadi bisnis yang menguntungkan.
Kedepannya SDM ini diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi pemimpin baru yang memiliki kompetensi wirausaha kelas dunia berbasis pertanian yang dapat memajukan ekonomi masyarakat pedesaan dan pesisir.
Cita-Cita Indonesia Bangun Desa
Perspektif 14
2 | Profil Yayasan & Deskripsi Program Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Program Indonesia Bangun Desa ini merupakan program pelatihan bagi calon wirausaha dibidang pertanian terpadu yang terdiri atas pelatihan, praktik lapang, pengembangan
program pertanian terpadu (pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan), dan pengembangan
masyarakat di desa penempatan
TRAINING CENTER
PROFIL YAYASAN BINA DESA INDONESIA
Yayasan Bina Desa Indonesia
Didirikan oleh Muhamad Idrus, S.T, lulusan Fakultas Teknik Metalurgi, Universitas Indonesia. Lahir di Jakarta, 28 Maret 1978.
Beliau mengajak rekan-rekan seperjuangan yang berasal dari berbagai alumni universitas seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjajaran untuk menyatukan potensi dan mengabdi untuk Negeri dalam satu wadah Yayasan.
Yayasan Bina Desa Indonesia didirikan pada 26 September 2012 dengan semangat untuk meningkatkan jumlah agropreneur muda yang mampu mengembangkan daerah pesisir dan pedesaan yang kemudian menginisasi lahirnya program Indonesia Bangun Desa (IBD).
Muhamad Idrus, S.T berperan sebagai Ketua Dewan Pembina dan Bachtiar Firdaus, S.T, MPP dengan pengala- mannya dalam pembinaan kepemimpinan SDM unggul di Program Pembinaan Sumberdaya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri ditunjuk untuk menahkodai yayasan Bina Desa Indonesia sebagai Direktur Yayasan.
Visi
Melahirkan pemimpin baru yang memiliki kompetensi wirausaha kelas dunia berbasis industri pertanian yang dapat memajukan ekonomi masyarakat pedesaan dan pesisir.
Misi
Mengisi kekurangan wirausaha muda pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan berkualitas dan berdaya saing global di daerah pedesaan dan pesisir yang membutuhkan.
Menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak anak muda terbaik Indonesia agar lebih dekat kepada masyarakat terutama para petani dan nelayan
Menjalin kerjasama dengan BUMN, Pemerintah, Perusahaan dan Lembaga lokal dalam memajukan ekonomi masyarakat terutama para petani dan nelayan
Menghadirkan berbagai aktivitas usaha produktif baik on-farm maupun off-farm di pedesaan dan pesisir berbasis potensi sumber daya alam lokal.
Peserta mengikuti pelatihan secara intensif selama 3 bulan (Mei-Juli 2013). Training Center bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Insan Pertanian Indonesia (YAPIPI) yang berlokasi di Ciomas, Bogor.
Selama masa pelatihan, peserta mendapatkan materi leadership & entrepreneurship skills, management skills, technical skills, human development skills, dan character building skills.
Peserta mendapatkan pelatihan ilmu pertanian dan wirau- saha dari dosen, praktisi, pengusaha, dan tokoh nasional.
Sebanyak 51 pengajar telah berpartisipasi dalam program pelatihan ini, antara lain: Anton Apriyantono (Menteri Pertanian RI 2004-2009), Lukman M. Baga (dosen Agribis- nis Institut Pertanian Bogor), Gun Soetopo (Owner Sabila Farm ‘kebun buah naga’) hingga Anies Baswedan dari Indonesia Mengajar.
Selain memperoleh materi pelatihan in class, peserta melakukan praktek lapang dan study visit, antara lain:
pembibitan hingga pengolahan bunga rosella, pengolahan lahan dan penanaman padi, budidaya tanaman hortikultura
(cabai, kangkung, mentimun dan kacang panjang), pembibitan dan pelatihan penanaman buah naga, pemu- pukan, kunjungan ke Teaching Farm IPB dan pusat budidaya jamur, CV. Cahya Mandiri Jamur Organik, Bogor.
Pada bidang peternakan, peserta belajar beternak ayam broiler, pencukuran bulu domba, budidaya kelinci (loading, feeding, reproduksi hingga pemasaran), dan kunjungan ke Mitra Tani Farm yang bergerak di bidang usaha peternakan domba.
Praktek bidang perikanan diantaranya manajemen kolam, sortir ikan, budidaya ikan (gurami, bawal, nila, koi), serta pembuattan kakaban. Peserta juga melakukan kegiatan sosial yaitu kunjungan ke panti jompo disekitar lokasi training.
Model pembelajaran ini dinilai efektif untuk membentuk jiwa agropreneur muda yang memahami seluk beluk pertanian.
2
3
4
1
Temu Tokoh Nasional Praktik Pertanian
Training In Class Study Visit
Pelopor Agropreneur Muda Indonesia Profil Yayasan & Deskripsi Program | 3
Peserta mengikuti pelatihan secara intensif selama 3 bulan (Mei-Juli 2013). Training Center bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Insan Pertanian Indonesia (YAPIPI) yang berlokasi di Ciomas, Bogor.
Selama masa pelatihan, peserta mendapatkan materi leadership & entrepreneurship skills, management skills, technical skills, human development skills, dan character building skills.
Peserta mendapatkan pelatihan ilmu pertanian dan wirau- saha dari dosen, praktisi, pengusaha, dan tokoh nasional.
Sebanyak 51 pengajar telah berpartisipasi dalam program pelatihan ini, antara lain: Anton Apriyantono (Menteri Pertanian RI 2004-2009), Lukman M. Baga (dosen Agribis- nis Institut Pertanian Bogor), Gun Soetopo (Owner Sabila Farm ‘kebun buah naga’) hingga Anies Baswedan dari Indonesia Mengajar.
Selain memperoleh materi pelatihan in class, peserta melakukan praktek lapang dan study visit, antara lain:
pembibitan hingga pengolahan bunga rosella, pengolahan lahan dan penanaman padi, budidaya tanaman hortikultura
(cabai, kangkung, mentimun dan kacang panjang), pembibitan dan pelatihan penanaman buah naga, pemu- pukan, kunjungan ke Teaching Farm IPB dan pusat budidaya jamur, CV. Cahya Mandiri Jamur Organik, Bogor.
Pada bidang peternakan, peserta belajar beternak ayam broiler, pencukuran bulu domba, budidaya kelinci (loading, feeding, reproduksi hingga pemasaran), dan kunjungan ke Mitra Tani Farm yang bergerak di bidang usaha peternakan domba.
Praktek bidang perikanan diantaranya manajemen kolam, sortir ikan, budidaya ikan (gurami, bawal, nila, koi), serta pembuattan kakaban. Peserta juga melakukan kegiatan sosial yaitu kunjungan ke panti jompo disekitar lokasi training.
Model pembelajaran ini dinilai efektif untuk membentuk jiwa agropreneur muda yang memahami seluk beluk pertanian.
Anton Apriyantono Menteri Pertanian RI (2004-2009)
Goris Mustaqim Indonesian Young Entrepreneur
Gun Soetopo
Founder Sabila Farm ‘Buah Naga’
Roy Sembel
Pakar Manajemen Ekonomi Keuangan & Investasi
Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina
Ninok Hariyani Praktisi Media
Gigin Mardiansyah
Founder Boneka Horta Abdul Basith
Motivational Trainer
Program Indonesia Bangun Desa memiliki 51 pengajar yang telah memberikan kontribusinya dalam melatih peserta angkatan pertama selama 3 bulan yang terdiri dari kalangan praktisi, akademisi, pengusaha dan tokoh nasional
MITRA PENGAJAR
Daftar pengajar
1. Dr.Ir. Anton Apriyantono, MS 2. Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc. Agr 3. Ir. Lukman M. Baga, MA. Ec
4. Prof. Dr. Ir. H. Hadi Susilo Arifin, MS., Dipl, RLE
5. Dr. Ir. Edy Hartulistiyoso, MSc 6. Dr. Titik Sumarti
7. Soni Trison, S.Hut, Msi 8. Bachtiar Firdaus, ST., MPP 9. Ir. Burhanuddin, MM 10. Dr. Irzaman, Msi
11. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., MM 12. Ir. Bregas Budianto
13. Dr. Ir. Sobri Effendy, M.Si 14. Dr. Ir. Elang Ilik Martawijaya, MM 15. Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS.
16. Dr. Ir. Rita Nurmalina Suryana, MS
17. Tintin Sarianti
18. Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si 19. Dr. Ir. Yudiwanti WE Kusumo, MS 20. Mad Yamin, MT
21. Hariyani 22. Suprapto
23. Ranti Wiliasih, S.P., M.Si 24. Ir. Popong Nurhayati, MM 25. Nazrul Anwar, SE.
26. Dr. Dwi Rachmina, M.Si 27. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec 28. Bramada Winiar Putra, S.Pt., M.Si 29. Shinta Wulan Sari, SP
30. Ir. Abdul Basith, MS 31. Ir. Eddi Kuswendi (Pertani) 32. Tatiek Kancaniati, Amd 33. Gigin Mardiansyah, SP 34. Nugget F. Gunawi
35. Bambang Suhadi 36. Muharrom 37. Goris Mustaqim 38. Farkhan, S.Hum 39. Gun Soetopo 40. Dr. Ade M. Zulkarnain 41. Didi Setiadi, ST., MM
42. Muhammad Firdaus, SP, M.Si, Ph.D 43. Zainal Abidin (Bang Jay)
44. Prof. Roy Sembel
45. Dr. Ir. Winni Tri Laksani, MSc 46. Agresta Priatama, S.TP 47. Ninok Hariyani 48. Arga Wisnu Pradana
49. Dr. Ir. Biakman Irbansyah, MBAsono, S.Pi 50. Maryono, S.P., M.Sc
51. Ahmad Sudarsono, S.Pi
4 | Profil Yayasan & Deskripsi Program Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Daftar Desa Penempatan Peserta IBD:
Banten
1. Desa Bayah Barat, Kec. Bayah, Kab. Lebak Jawa Barat
2. Desa Ciapus, Kec. Ciomas, Kab. Bogor 3. Desa Sukawening, Kec. Dramaga, Kab. Bogor 4. Desa Cileutik, Kel. Kasomalang Wetan, Kec.
Kasomalang, Kab. Subang
5. Desa Ligarmukti, Kec. Klapanunggal, Kab. Bogor 6. Desa Haurkolot, Kec. Haurgeulis, Kab. Indramayu 7. Desa Pacing, Kec. Jatisari, Kab. Karawang 8. Desa Bubulak, Kec. Bogor Barat, Kab. Bogor Kepulauan Riau
9. Desa Tembeling, Kec. Teluk Bintan, Kab. Bintan DI. Yogyakarta
10. Desa Gilangharjo, Kec. Pandak, Kab. Bantul
Keseluruhan Desa ini merupakan hasil kerjasama dengan mitra yang memiliki kesamaan visi dalam membina agropreneur muda.
Mitra yang telah terjalin antara lain: Yayasan Pengem- bangan Insan Pertanian Indonesia (YAPIPI), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT. Bank Pembangunan Jawa Barat
& Banten Tbk, PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, PT.
Berdikari (Persero), PT. Pangan Guna Sejahtera dan lahan pertanian perseorangan.
Kegiatan utama peserta IBD di Desa penempatan adalah mengembangkan usaha pertanian berbasis potensi lokal.
Menurut Ratna Yunita Handayani (Divisi Program IBD), memasuki pertengahan tahun program, peserta IBD sudah mulai meningkatkan potensi Desa, seperti yang telah dilakukan oleh Nur Agis Aulia dengan usaha pende- deran patinnya di Desa Ciapus, Umaris Santoso dengan budidaya jamur tiramnya di Desa Bayah Barat, Hasti dengan keripik jamur merangnya di Desa Pacing, Restu yang saat ini mengembangkan trading karkas ayam dari PT. Pangan Guna Sejahtera di Desa ,dan Arif Rahmat yang telah membantu PT. Tiga Pilar Sejahtera, Tbk dalam pemetaan lahan sawah dan suplai gabah dari petani lokal.
“Sebenarnya masih banyak potensi desa lainnya yang sedang dikembangkan oleh para peserta lainnya, kondisi ini menuntut kerja keras dari peserta IBD bersama masyarakat desa agar mampu meningkatkan ekonomi lokal sesuai luaran program Indonesia Bangun Desa”
Tambah Ratna Yunita Handayani.
PENEMPATAN
Kepulauan RiauBanten
Jawa Barat
DI. Yogyakarta
10
Desa4
Provinsi
Sebanyak 30 orang peserta Indonesia Bangun Desa (IBD) angkatan pertama telah menempati 10 Desa yang tersebar di Provinsi Jawa Barat, Banten, DI. Yogyakarta dan Kepulauan Riau sejak 17 Agustus 2013.
Kunjungi Microsite IBD site.inilah.com/indonesiabangundesa
Media Partner by:
Portalnya pemuda yang cinta pertanian
Pelopor Agropreneur Muda Indonesia Profil Peserta Angkatan Pertama | 5
PESERTA INDONESIA BANGUN DESA 2013
ANGKATAN PERTAMA
PROFIL MITRA
6 | Profil Mitra dan Pengajar Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
YAYASAN PENGEMBANGAN INSAN PERTANIAN INDONESIA
PT BERDIKARI (PERSERO)
Yayasan Pengembangan Insan Pertanian Indonesia (Yapipi)
Memiliki visi menjadi arus utama dalam pembangunan pertanian modern berbasis kawasan dan komunitas. Yapipi merupakan mitra yang menyediakan sarana dan prasarana training center yang digunakan untuk pelatihan peserta selama 3 bulan dan menjadi bagian dari mitra penempatan peserta yang berlokasi di Ciomas, Bogor.
PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Merupakan perusahaan multina- sional yang bergerak dalam industri makanan. Kerjasama yang dilaku- kan berupa penempatan peserta program Indonesia Bangun Desa di tiga lokasi, yaitu Karawang, Subang dan Indramayu dengan fokus kegiatan manajemen dan pengem- bangan jejaring suplai gabah dari petani lokal. Kerjasama ini dapat terjalin karena Tiga Pilar Sejahtera memiliki komitmen dalam kontri- busi sosial, lingkungan dan pengembangan masyarakat.
PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Menggelar ajang Mandiri Bersama Mandiri (MBM) Challenge untuk mendorong pengembangan sosial entrepreneur atau kewirausahaan sosial di kalangan generasi muda.
Yayasan Bina Desa Indonesia akan melakukan kerjasama dalam mitra penempatan peserta di lokasi pemenang MBM Challenge, yaitu di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau) dan Bantul (Yogyakarta). Pengem- bangan bisnis di Tanjung Pinang fokus pada usaha budidaya kepiting bakau, sedangkan di Bantul mengembangkan usaha pengelo- laan limbah ikan untuk pakan ternak.
PT. Bank Pembangunan Jawa Barat & Banten Tbk Merupakan perbankan Nasional yang peduli dalam proses pengembangan pemuda Jawa Barat & Banten agar dapat mandiri secara ekonomi. Melalui program Corporate Social Responsibility- nya bank bjb mendukung program Indonesia Bangun Desa dengan memberikan beasiswa peserta selama satu tahun program.
PT. Berdikari (Persero)
Merupakan BUMN yang melaku- kan transformasi perusahaannya ke arah bisnis peternakan. PT.
Berdikari (Persero) memiliki program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) yang berupaya mengembangkan jejaring dan menstimulus pengembangan usaha ternak petani lokal. Melalui program tersebut, diharapkan peserta IBD dapat belajar proses bisnis dari hulu ke hilir.
PT. Pertani (Persero)
Merupakan perusahaan yang bekerjasama dengan Yayasan dalam pengadaan sarana produksi pertanian berupa pengadaan segala jenis pupuk yang dibutuh- kan dalam pengembangan lahan pertanian.
PT. Pangan Guna Sejahtera
Merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pemotongan hewan. Melalui Rumah Potong Hewan milik PT. Pangan Guna Sejahtera, peserta Indonesia Bangun Desa diberi kesempatan mempelajari manajemen distribusi dan supply daging ayam broiler.
Program Indonesia Bangun Desa berusaha menggandeng mitra dari pemerintah, perusahaan BUMN, perusahaan swasta, LSM, perbankan, hingga mitra persorangan.
Yayasan Bina Desa Indonesia juga bermitra dengan perseroangan, yaitu pemilik lahan Desa Ligarmukti dan Desa Bayah Barat. Daerah ini menjadi laboratorium sosial pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Di desa ini akan dikembangkan konsep pertanian terpadu.
|7 Liputan Kegiatan Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Berikut hasil petikan wawancara tim Humas IBD dengan Bapak Bachtiar Firdaus, selaku direktur Yayasan Bina Desa Indonesia:
Siapa yang pertama kali menginisiasi Program IBD?
Saya memang sudah bergerak dalam pengembangan SDM (sumber daya manusia) di salah satu yayasan yang bertujuan untuk menghasilkan SDM pemimpin di kalangan mahasiswa. Di IBD ini, saya mengajak rekan- rekan seangkatan perjuangan saat mahasiswa 1998 dulu, untuk mengembangkan SDM pertanian.
Apa tujuan dilahirkannya IBD?
Kami berusaha untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian yang lebih modern, inovatif, dan siap turun ke pedesaan dan pesisir. SDM ini harus dimulai dari pemuda.
IBD juga bertujuan untuk mengembalikan SDM yang berpendidikan di kalangan pemuda untuk menjadi agen perubahan dan agen pembangunan di desa.
Kenapa harus konsen pada pertanian dan pedesaan?
Karena kita memiliki 70.000 lebih desa di Indonesia yang berpotensi besar di bidang pertanian, dalam artian luas juga mencakup perikanan dan peternakan. Oleh karena itu jika desa sudah kuat dengan pertaniannya, maka ketahanan pangan secara makro akan dapat diatasi.
Kenapa melirik pemuda?
Inilah inti perubahan suatu negara, jika negara ingin maju, siapkanlah pemudanya. Bung Karno saja lebih membutuh- kan peran pemuda dalam memajukan Indonesia. Saat ini pemuda Indonesia telah mencapai 62,9 juta jiwa, karena itu pemuda ini asset yang penting.
Bagaimana model program IBD ini?
Ide dasarnya kami melatih pemuda selama 3 bulan untuk kemudian ditempatkan di desa selama 9 bulan. Pada saat
penempatan, SDM ini diarahkan untuk mengembangkan usaha yang berbasis pertanian lokal, jika lokasi desanya disekitar pantai maka bisa jadi usaha bidang perikanan yang akan diangkat, namun jika lokasi desanya lebih kuat di pertanian dan peternakan, maka sektor inilah yang harus dikembangkan.
SDM yang kami seleksi saat ini berasal dari berbagai lulusan perguruan tinggi di Indonesia, kami senang ada banyak sarjana maupun diploma muda yang ingin berpar- tisipasi dalam program ini.
Dimana saja desa penempatannya?
Saat ini ada sepuluh desa yang menjadi sasaran kami, desa ini tersebar di dalam 4 provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, dan Kepulauan Riau. Sepuluh desa ini merupakan hasil kerjasama dengan mitra-mitra IBD.
Bagaimana posisi tawar IBD terhadap masyarakat dan pemerintah? bukankah program pembangunan desa dan petani sudah dilakukan pemerintah?
Kami menjembatani antara masyarakat dan pemerintah, IBD ini menjadi salah satu solusi untuk menarik kalangan pemuda yang tidak hanya berasal dari latar belakang pertanian, melainkan non pertanian untuk ikut serta dalam membangun desa.
Melalui program ini kami berusaha membantu pemerin- tah untuk mengembangkan SDM pertanian dan mampu mengajak masyarakat dalam membangun desanya masing-masing”
Bagaimana caranya untuk berpartisipasi?
Tangan kami selalu terbuka untuk kerjasama dari berbagai pihak. Mimpi kami pada 10-15 tahun dari sekarang banyak generasi muda yang mempunyai cita-cita menjadi petani untuk senantiasa membangun negeri ini mulai dari desanya masing-masing.
Bentuk kemitraan yang dapat dilakukan dapat dengan menjadi mitra pengajar, mitra pelatihan, mitra lokasi training, mitra lokasi penempatan, mitra sarana produksi pertanian, donasi rutin, dan media partner.
Apa pesan yang ingin disampaikan kepada kalangan pemuda?
Kepada kalangan pemuda khususnya dan masyarakat umumnya, tidak akan lahir bangsa yang besar, jika ketahanan pangannya tidak kuat, ketahanan pangan yang kuat tidak akan lahir jika orang-orang terbaiknya tidak ada di desa.
INILAH.COM - Keberadaan program Indonesia Bangun Desa tidak lepas dari arus urbanisasi yang semakin meningkat, sehingga pedesaan yang potensial dengan pertaniannya tidak lagi menarik minat kalangan pemuda.
Indonesia Bangun Desa (IBD) didirikan sejak 26 Septem- ber 2012 oleh Yayasan Bina Desa Indonesia dengan didasari cita-cita melahirkan pemuda-pemuda yang siap berkompetensi dalam wirausaha pertanian dan memaju- kan usaha pertanian di Indonesia.
IBD, Siap Dorong Usaha Pertanian
Launching Program & Pelepasan Peserta IBD
Foto bersama Direktur dan Dewan Pembina Yayasan Bina Desa Indonesia dengan Gubernur Jawa Barat
dan Peserta Indonesia Bangun Desa Launching Program IBD oleh Bachtiar Fidaus S.T., MPP (Direktur
Yayasan), didampingi oleh M. Idrus, S.T (Dewan Pembina) dan Dr (HC) H. Ahmad Heryawan, LC sebagai Gubernur Jawa Barat
15 Agustus 2013
Pengembangan Usaha Pertanian di Desa
Desa Ciapus, Kec. Ciomas, Kab. Bogor
Mitra: Yayasan Pengembangan Insan Pertanian Indonesia (YAPIPI) Usaha: Budidaya ikan patin, kebun buah naga & sayur pakcoy
Agustus 2013 - Mei 2014
Desa Bubulak, Kec. Bogor Barat, Kab. Bogor.
Mitra: PT. Pangan Guna Sejahtera.
Usaha: Rumah Potong Unggas (RPU)
Desa Gilangharjo, Kec. Pandak, Kab. Bantul Mitra: PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Usaha: Pengolahan pakan ternak ayam petelur dari limbah ikan
Desa Tembeling, Kec. Teluk Bintan, Kab. Bintan Mitra: PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Budidaya Kepiting Bakau
Lokasi Penempatan &
Aktivitas Usaha
Desa Haurkolot, Kec. Haurgeulis, Kab. Indramayu Mitra: PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.
Usaha: Pengolahan beras dan budidaya Wijen
Desa Sukawening, Kec. Dramaga, Kab. Bogor Mitra: Private Farm
Usaha: Budidaya Jamur Tiram
Desa Ligarmukti, Kec. Klapanunggal, Kab. Bogor Mitra: Private Farm
Usaha: Budidaya buah naga, peternakan sapi, jagung, dan sorgum
Desa Bayah Barat, Kec. Bayah, Kab. Lebak Mitra: Private Farm
Budidaya Jamur Tiram dan Pepaya California Desa Cileutik, Kec. Kasomalang, Kab. Subang
MItra: Private Farm
Usaha: Agrowisata Kampung Kumbung Desa Pacing, Kec. Jatisari, Kab. Karawang
Mitra: PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.
Usaha: Keripik Jamur Merang Crispy dan Arang Sekam
Pengembangan Usaha Pertanian di Desa Agustus 2013 - Mei 2014
-
KABARDESA.com – Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas hingga dulu sering disebut-sebut sebagai Negara Agraris. Aneka hasil pertanian Indonesia pun sangat beragam, tidak hanya padi saja namun juga hasil-hasil tani lain yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk alternatif pangan di Indonesia.
Luasnya lahan pertanian di Indonesia juga diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat agar mampu mengo- lah hasil pertaniannya menjadi berbagai macam olahan.
Selain itu, diharapkan dengan luasnya lahan pertanian ini juga mampu untuk eksport hasil tani ke negara lain.
Namun, perhatian pemerintah di sektor pertanian ini kurang mendapatkan pendampingan yang lebih, sehingga beberapa kali negara ini harus import hasil tani dari luar negeri. Selain itu, penggarapan di sektor pertanian di masyarakat desa kurang terjamah oleh kaum-kaum muda.
Melihat adanya hal tersebut, lahirlah program Indonesia Bangun Desa yang tujuannya untuk menghasilkan agropreneur-agropreneur muda Indonesia agar mampu
meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya desa dari sektor pertanian.
Program Indonesia Bangun Desa ini terdiri dari dua tahap, yang pertama training center selama 3 bulan dan tahap selanjutnya adalah Tahap Penempatan selama 9 bulan.
Untuk menghasilkan Agropreneur Muda ini pun dengan proses yang selektif dan memilih yang benar-benar mampu untuk berjuang demi desa untuk Indonesia.
Agropreneur Muda ini nanti diharapkan saat penempatan mampu memberikan perubahan secara riil bagi masyarakat desa khususnya di sektor pertanian agar mampu menghasilkan produk pertanian yang lebih poten sial dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan.
Gerakan Indonesia Bangun Desa yang dikelola oleh Yayasan Bina Desa Indonesia ini merupakan organisasi non profit, non politik dan non partisan. Dengan niat tulus untuk memajukan desa di Indonesia melalui sektor pertanian.
Indonesia Bangun Desa,
Gerakan Melahirkan Agropreneur Muda Indonesia
10 | Berita Pers Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
BJB Turut Serta Membangun Desa
Pada acara Launching & Pelepasan Peserta Program Indonesia Bangun Desa (IBD) kamis, 15 Agustus 2013, bank bjb turut serta menghadiri acara. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Sofie Suryasnia, sebagai Kepala Divisi Corporate Secretary bank bjb, sangat ingin program IBD ini dapat dikembangkan di Jawa Barat dan pemuda- pemudinya mampu mandiri untuk meningkatkan potensi desa. Oleh karena itu, bank bjb berkomitmen untuk mendukung program IBD bersama dengan Yayasan Bina Desa Indonesia.
Program ini juga didukung oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, yang telah bersedia memberikan sambutan dan memfasilitasi pelaksanaan acara Launching
& Pelepasan ini. Dalam sambutannya Ahmad Heryawan mendukung bank bjb untuk ambil bagian dalam pemban- gunan desa melalui program IBD ini.
Pasca acara tersebut, dukungan dari bank bjb direalisasi- kan dengan penandatanganan kerjasama yang dilakukan di Kantor IBD, Senen, Jakarta Pusat. Melalui kerjasama ini, bjb turut membentuk pemuda agar mencintai pertanian dengan memberikan donasi kepada Yayasan Bina Desa Indonesia. Sebanyak 8 (delapan) peserta IBD menerima Beasiswa dari donasi yang diberikan oleh bank bjb.
“Kami sangat menyambut positif bentuk kerjasama ini, untuk membentuk pemuda yang mandiri memang harus merangkul banyak pihak. Kedepannya pemuda inilah yang nantinya akan mengangkat perekonomian desa” sambut Beffy Saskia, Manajer Kemitraan pada saat penandatanga- nan kerjasama.
11 | Laporan Keuangan
Pelopor Agropreneur Muda Indonesia Artikel |11
Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Untuk itu bagi community organizer, pendamping, fasilitator, humas, ada baiknya memahami, mendalami dan menjiwai pemetaan social mapping yang baik dan benar sebelum bertugas. Sebuah kesalahan akan membuat masalah baru di masyarakat karena program yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Social mapping yang baik dan benar merupakan kunci sukses program pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu model pembangunan bottom up yang tujuannya agar tercipta masyarakat berdaya dan sejahtera.
Pemberdayaan masyarakat hadir sebagai jawaban atas kelemahan kelemahan model pembangunan yang top down.
Ide besar dari pemberdayaan masyarakat yaitu menempatkan manusia sebagai subyek dalam dunianya sendiri, jadi pemberdayaan masyarakat diartikan sebagai upaya membantu masyarakat untuk mengembangkan kemampuannya sendiri, sehingga bebas dan mampu mengatur masalah dan mengambil keputusannya secara mandiri.
Pemberdayaan masyarakat memiliki tahapan- tahapan, di antaranya yaitu :
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan-ketrampilan agar terbuka wawasan dan memberikan ketrampi- lan dasar sehingga dapat mengambil peran dalam pembangunan.
3. Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan-ketrampilan sehingga terbentuk inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian.
Pada tahap penyadaran, salah satu aktifitas kuncinya adalah pemetaan sosial/social mapping, yaitu proses pengumpulan dan penggambaran (profiling) data dan informasi, termasuk potensi, kebutuhan dan permasalahan (sosial, ekonomi, teknis dan kelembagaan) masyarakat (Robert Chamber, 1992).
Tujuan dari pemetaan sosial yaitu menggali informasi terkait masalah, potensi dan kebutuhan yang ada dimasyarakat (sosial, budaya, ekonomi dan politik). Tujuan social mapping sebenarnya bisa lebih dari itu, yaitu bagaimana masyarakat sadar akan masalah yang sedang dihadapinya, masyarakat tahu akan potensi-potensinya, dan paham akan kebutuhannya, sehingga mampu untuk bergerak mengembangkan diri dan mengop- timalkan potensi sebagai solusi dari masalah yang dihadapi.
Oleh karena itu proses pemetaan sosial harus dilakukan secara objektif, baik, benar, dan keterli- batan masyarakat dalam pemetaan sosial harus dominan. Hasil pemetaan sosial kemudian menjadi rekomendasi utama untuk menentukan sebuah program pemberdayaan.
Kesalahan hasil pemetaan sosial tentunya membawa dampak yang buruk, akan terciptanya program pemberdayaan masyarakat yang sejatinya itu bukan muncul karena kebutuhan dari masyarakat. Efeknya partisipasi masyarakat sangat rendah, dan dalam jangka panjang bukan tidak mungkin justru program pemberdayaan memun- culkan konflik baru dimasyarakat.
Kita sering mendengar banyaknya program program pembedayaan masyarakat baik dari pemerintah, perusahaan swasta yang menga- tasnamakan CSR atau bentuk yang serupa, ternyata hanya jalan di tempat, tidak berlanjut atau bahkan justru program tersebut membuat masalah baru di masyarakat.
Salah satu penyebabnya adalah karena kekeliruan dalam merumuskan masalah, potensi, kebutuhan.
Bisa juga dikarenakan perumusan informasi, potensi, dan kebutuhan masyarakat dilakukan secara subyektif oleh pendamping atau fasilitator atau petugas. Untuk itu dalam penentuan program pemberdayaan haruslah melakukan social mapping dengan baik dan benar, agar program pember- dayaan sesuai kebutuhan masyarakat.
Nur Agis Aulia
Peserta IBD asal Serang, Banten
Social Mapping, Kunci Pemberdayaan Masyarakat
KEBERHASILAN
program community
empowerment
(pemberdayaan
masyarakat), corpo-
rate social responsibil-
ity (CSR), community
development, mem-
bangun desa ataupun
program serupa
ditentukan oleh
ketepatan melakukan
pemetaan sosial
(social mapping).
INDONESIA telah lahir sebagai sebuah bangsa sebelum diproklamirkan kemerdekaannya pada 1945. Kelahiran bangsa ini dipromotori oleh kalangan pemuda melalui sumpah pemuda 1928 yang meng- inginkan adanya persatuan perjuangan di atas semua kemajemukan.
Janji setia yang diucapkan, menunjukkan betapa besarnya kekuatan dan keberanian pemuda sebagai agen perubahan. Prestasi yang ditorehkan oleh pemuda saat itu memiliki dampak yang menyejarah, yaitu Indonesia merdeka.
Namun semangat kebangsaan kini mengalami pasang surut. Adanya arus global tidak menampik adanya eksploitasi berbagai budaya dan ideologi lintas Negara. Arus ini terus menerus menggerus hakikat dari Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Kondisi ini membuat keberadaan pemuda mulai senyap dari panggung perubahan Bangsa.
Lahir dari kondisi
Saat ini, Indonesia memiliki piramida yang sangat menguntungkan, pasalnya penduduk di Indonesia lebih di dominasi kalangan pemuda, jumlahnya kini telah mencapai 62,91 juta jiwa dari atau 25,2% dari total penduduk. Kuantitas yang sangat besar ini belum mampu menunjukkan kualitas yang sepadan.
Pemuda dulu begitu tangguh membela NKRI, menjaga budaya, dan persatuan Bangsa. Semua itu terjadi karena mereka terlahir dari kondisi yang memaksa. Saat ini kita juga harus melahirkan pemuda agar dapat turut serta membangun Indonesia dan menjadi solusi di tengah masyarakat dengan menciptakan kondisi yang juga ‘memaksa’.
Oleh karena itulah, kita perlu menginvestasikan pemuda.
Pembinaan Pemuda
Melalui program Indonesia Bangun Desa, pemuda dibina dan dilatih untuk menjadi calon Agropreneur Muda. Berangkat dari latar belakang yang berbeda- beda, mereka bergabung dalam program ini dengan cita-cita membangun pertanian, peternakan &
perikanan Indonesia yang lebih baik.
Oleh karena itu, demi membentuk kesamaan visi dan misi, maka Program Indonesia Bangun Desa mengawalinya dengan tahapan training center.
Output yang diharapkan agar pemuda mampu memiliki memahami seluk beluk pertanian, mental yang siap dan karakter yang kuat dalam berwirau- saha, serta memiliki kepemimpinan yang baik sebagai calon Agropreneur Muda Indonesia pengembang ekonomi di desa-desa.
Model Pembinaan
Pola pembinaan yang dijalankan di IBD yakni berupa program pelatihan selama 3 bulan dengan lokasi terpusat di Bogor. Pelatihan yang diberikan terhadap peserta mencakup 5 bidang, yakni Leadership and Entrepreneurship Skills, Management Skills, Technical Skills, Human and Development Skills dan Character Building Skills.
Kegiatan rutin pelatihan ini terdiri dari materi in class, simulasi serta praktek di lapang.
Training center ini melibatkan banyak pihak, di antaranya akademisi, praktisi, UKM-UKM, yayasan yang terkait, termasuk juga pemerintah.
Keterlibatan dari masing-masing pihak memiliki porsi yang berbeda-beda sesuai dengan perannya masing-masing.
Para akademisi serta praktisi terlibat sebagai pengajar yang meningkatkan skill para peserta.
UKM menjadi penyedia lokasi study visit dan praktek lapang. Yayasan yang terkait seperti Indonesia Mengajar & Indonesia Setara terlibat dalam sharing program dan motivasi peserta. Pihak pemerintah melalui BUMN juga menjadi penyedia sarana produksi pertanian di lokasi Training Center.
Training center IBD telah dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2013 untuk peserta angkatan pertama.
Karakter yang terbentuk pada pemuda ini diharap- kan semakin mencintai tanah air, siap untuk memimpin dan berani mandiri dalam berwirausaha berbasis pertanian sehingga mampu meningkatkan perekonomian pedesaan.
Namun dalam pelaksanaan pembinaan ini tidak semuanya dapat dilaksanakan dalam jalur yang ideal, kebutuhan akan pembelajaran diberbagai sektor pertanian, perikanan, dan peternakan belum semuanya mampu dipenuhi secara maksimal. Oleh karena itulah diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk sama-sama membina pemuda.
Investasi pemuda ini akan terus dilakukan agar semakin banyak iron stock yang akan membawa perubahan bagi bangsa ini. Pembinaan angkatan kedua akan kembali dibuka awal tahun 2014 ini.
Pembinaan Pemuda, Investasi Bangsa
12 | Artikel Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Ratna Yunita Handayani, S.Pt Divisi Program
Di antara banyak faktor yang mengakibatkan kesen- jangan adalah migrasi penduduk desa ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan yang lebih baik.
Ditambah, para “perantau” tersebut merupakan elemen masyarakat dalam kategori usia produktif (generasi muda). Sehingga mengakibatkan kawasan desa yang ditinggalkan menjadi semakin tidak produktif, khususnya dalam konteks ekonomi.
Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami kawasan pesisir, khususnya yang termasuk wilayah pedesaan. Bahkan angka kemiskinan terbesar terdapat di kawasan pesisir, yakni dengan jumlah nelayan miskin yang merupakan 25% dari total penduduk di bawah garis kemiskinan Indonesia (Badan Pusat Statistik/BPS, 2010).
Potensi pesisir Indonesia sangat besar, yakni dengan memiliki 17.508 pulau dan bergaris pantai 81.000 km (Bengen, 2001), belum lagi dengan kekayaan keanekaragaman hayati kelautannya.
Bahkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo, dalam forum Rio+20 di Rio De Janeiro, Brasil, menyebutkan bahwa potensi ekonomi laut Indonesia sekitar US$1,2 triliun per tahun. Potensi itu setara sepuluh kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yang besarnya Rp1.300 T. Hal inilah yang membuat kita berpikir kembali, “Ada apa dengan negeri kaya ini?”
Tentu, migrasi penduduk desa ke kota sangatlah beralasan, khususnya untuk kawasan desa pesisir.
Infrastruktur yang kurang memadai, terfokus pada satu kegiatan spesifik, kesempatan kerja yang sempit, dan kurangnya pengetahuan akan peluang- peluang usaha pada keragaman potensi pesisir, ternyata berdampak pada pola pikir (mindset)
masyarakat desa untuk merantau ke kota dan memperoleh apapun yang diinginkan.
Atau, bagi yang tidak berminat merantau, mereka pun masih terjebak dalam “lingkaran setan”
kemiskinan. Padahal, sebenarnya kota pun tak menjamin kesejahteraan.
Salah satu cara untuk memperbaiki pola pikir ini adalah dengan mengubahnya. Kegiatan-kegiatan membangun bangsa dari merupakan langkah kecil nan kongkrit untuk memperkecil kesenjangan ekonomi dan memperbaiki perekonomian Indone- sia.
Indonesia Bangun Desa (IBD) merupakan salah satu program membangun desa melalui pendeka- tan kewirausahaan yang berbasis pada sarjana muda. Saya, peserta IBD angkatan pertama yang ditempatkan di Kampung Gisi, Kabupaten Bintan, di Kepulauan Riau, diberi kesempatan untuk belajar membangun desa dengan turut serta membangun usaha masyarakat kepiting bakau.
Dari sini saya benar-benar dihadapkan dengan kenyataan bahwa potensi daerah pesisir yang sangat besar tidak didukung infrastruktur yang baik, kesempatan kerja yang luas, dan tentunya jiwa wirausaha pada individu masyarakatnya.
Padahal, secara sosial budaya, masyarakat yang mayoritas nelayan tangkap tersebut, merupakan orang-orang yang ramah dan sangat terbuka.
Namun terdapat sedikit masalah yakni sulitnya untuk menggerakkan, apalagi mengubah kebiasaan ‘menangkap’ menjadi ‘budidaya’.
Semangat mereka yang turun-naik dalam usaha budidaya ini merupakan suatu tantangan tersendiri.
Yang perlu dilakukan adalah membuat mereka sadar akan pentingnya perubahan dan memiliki jiwa wirausaha. Kami akan memulainya dari usaha budidaya kepiting bakau, kemudian jika ini berhasil kami akan merambah pada budidaya komoditas hasil laut lainnya.
Kampung ini merupakan kawasan hutan mangrove yang lebat, sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan kawasan ekowisata.
Banyak daya tarik yang belum terjelajahi. Di sini kami dituntut untuk menjadi pengusaha muda yang mampu melihat peluang-peluang yang ada.
Semoga upaya kami bisa memberi manfaat pada bangsa, minimal untuk masyarakat kampung ini.
Jika ingin membangun negeri, mari berinvestasi di desa, mari berinvestasi untuk pesisir.
Oddie Aulia Zulha Peserta IBD asal Bekasi
Bangun Pesisir Melalui Wirausaha Muda
11 | Laporan Keuangan
Pelopor Agropreneur Muda Indonesia Artikel |13
Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
SALAH satu persoa- lan berat yang harus dihadapi bangsa saat ini adalah disparitas atau kesenjangan pertumbuhan ekonomi regional.
Salah satunya
bentuk kesenjangan
adalah kesenjangan
desa-kota.
ADA sebuah anekdot. Seorang mahasiswa bertanya kepada dosen pengajar mata kuliah pembangunan Pertanian. Mahasiswa itu bertanya tentang posisi Indonesia pada 5 (lima) tahapan Teori Rostow, yaitu: a) masyarakat tradisional, b) Pra-kondisi tinggal landas c) tinggal landas, d) menuju kedewasaan, dan e) era konsumsi tinggi.
Sang dosen menjelaskan bahwa Indonesia menurut Teori Rostow tersebut, masih berada pada tahapan ke tiga yaitu lepas landas, namun diplesetkan menjadi tahapan:
ketinggalan di landasan.
Jawaban tersebut mungkin bukanlah hanya guyonan belaka, jika merujuk pada tahapan ketiga pembangunan ekonomi Teori Rostow, ciri-cirinya antara lain (a) munculnya satu/dua leading sector dalam pembangunan (b) muncul lebih banyak wirausahawan (entrepreneur).
Pada tahap pertama (masyarakat tradisional), sektor yang menjadi pundak perekonomian Indonesia adalah sektor pertanian. Kemudian tahap kedua (prasyarat untuk lepas landas), dicirikan dengan bertranformasinya dari sektor pertanian ke sektor industri.
Artinya bahwa untuk menuju tahap ketiga (lepas landas) tersebut, harus ada transformasi terlebih dulu dari sektor pertanian ke sektor industri hingga akhirnya sektor indus- tri menjadi leading sektor pembangunan. Pertanyaannya adalah layak kah sektor industri menjadi leading sektor daripada sektor pertanian?
Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak 1 April 1969, Indonesia melaksanakan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang titik beratnya adalah pada pemban- gunan sektor pertanian. Sektor pertanian mendapat prioritas utama karena sektor ini ditinjau dari berbagai
segi memang merupakan sektor yang dominan dalam ekonomi nasional. Hasilnya jauh berbeda pada masa sebelumnya (Orde lama), bahkan berbagi prestasi dapat dicapai pada masa itu, yang paling terkenal adalah swasembada beras pada 1984.(Mubyarto,1995)
Namun, setelah pencapaian swasembada beras, prioritas pembangunan nasional nampaknya tidak lagi berpihak pada pertanian. Dalam dokumen kebijakan pembangu- nan, setelah tahapan prioritas pembangunan pertanian, dilanjutkan dengan pembangunan industri yang berbasis pertanian.
Dalam prakteknya, hal itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Industri-industri yang dikembangkan tidak berkaitan sama sekali dengan pertanian. Pembangunan pertanian mengalami stagnasi bahkan kemunduran yang luar biasa.
Sektor industri seharusnya secara simultan memproduk- sikan saran-sarana produksi serta alat-alat untuk mening- katkan produksi pertanian. Petani tertarik untuk menerap- kan teknologi-teknologi baru tersebut karena hasilnya terbukti dan dapat dirasakan.
Pemerintah di samping mengadakan investasi-investasi dalam prasarana berupa jalan-jalan ekonomi dan bangunan-bangunan irigasi memberikan pula penyuluhan-penyuluhan kepada petani dan organisasi- organisasi petani mengenai berbagai penemuan teknologi baru.
Kebijakan pemerintah harus mengarahkan kebijakan mengenai leading sector tersebut ke sektor pertanian.
Sektor industri yang dibangun juga harus lebih banyak menopang sektor pertanian, agar keduanya dapat berjalan bersama dan saling menguatkan.
BANGUN PERTANIAN
AGAR TAK TERTINGGAL DI LANDASAN
14 | Perspektif Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Oleh: Imam Ahmad Maulana Yusup
Lanjutan...
Butuh Pengusaha
Selanjutnya stakeholder lain yang dapat berpengaruh dalam memajukan pembangunan pertanian yaitu munculnya banyak wirausahawan. Jika melihat di 2004, pemerintah cenderung ingin kembali menjadi pemimpin pembangunan pertanian. Indikasinya budget yang terus membesar di Kementrian Pertanian.
Pada 2004 waktu itu ketika melarang impor beras dengan subsidi pupuk hanya Rp1,2 triliun sementara anggaran Kementan hanya Rp2 triliun. Sedangkan tahun lalu (2010) subsidi pupuk sudah Rp18 triliun dan anggaran Kementan hanya Rp10 triliun, tapi harus mengimpor beras 1,2 juta ton. (Tabloid Agrina, 2011).
Pelajaran yang bisa diambil dari krisis keuangan tersebut adalah bahwa pembangunan pertanian yang dipimpin oleh para petani dan para pengusaha pertanian jauh lebih efisien, efektif dan berdaya saing, dibandingkan jika ingin dipimpin pemerintah secara sendiri.
Jumlah pengusaha di Indonesia tidak begitu banyak hanya sekitar 0.24% (kompas.com) dari jumlah penduduk dan itupun untuk semua bidang keahlian. Jika di kerucutkan lagi pada pengusaha bidang pertanian juga tidak lebih banyak.
Meskipun SDM dalam bidang pertanian memang melimpah, namun status petani itu lebih banyak pada status buruh tani atau petani penyewa bukan petani pengusaha/pengusaha pertanian.
Untuk mencetak pengusaha memang pemerintah juga berpengaruh dalam merangsang tumbuhnya pertanian, melalui Kementrian Pendidikan (Kemendiknas) lewat desain pendidikan kewirausahaan atau pada iklim wirau- saha, seperti modal, akses pasar dan lain lain.
Namun, kita juga tidak bisa berharap banyak dan itu tidak selalu harus tugas pemerintah, karena menjadi pengusaha yang handal, ulet, kuat dan gigih harus muncul dari dalam diri individu dan masyarakat.
Peluang yang paling besar dan mungkin dilaksanakan adalah wirausaha melalui generasi mudanya. Bahkan
generasi muda yang mulai menggeluti akademi pertanian (SPMA, PT) tentu harus berorientasi pada bidang usaha pertanian/agribisnis bukan pegawai. Mereka harus mema- hami pembangunan pertanian lewat agribisnis.
Seorang akademisi pertanian harus menyiapkan untuk bangunan pertanian itu sendiri, mereka harus mendesain, memilih input pendidikan dan mengikuti kegiatan agribisnis sejak masa kuliahnya dan yang paling penting adalah harus memahami dan menjaga bangunan pertanian itu sendiri sehingga bisa dinikmati.
Bagaimana mungkin kita membangun sebuah bangunan tanpa menjaga dan menikmati isi dari bangunan itu sendiri?
menikmati bangunan pertanian itu sendiri berarti kita mengasah keterampilan dan potensi kita dalam ber-agribisnis.
Harapannya muncul banyak petani pengusaha (agribisnis) sehingga pertanian dan perekonomian Indonesia semakin maju. Hanya dengan 2% saja dari jumlah penduduk saja Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 10% (Kementerian Koperasi dan UKM).
Berbagi peran antara pemerintah (leading sector) dan kemudian masyarakat (menjadi pengusaha pertanian, khususnya akademi pertanian) adalah bentuk kerjasama dan membangun bersama pertanian Indonesia dengan harapan mengembalikan identi- tas Indonesia sebagai negara agraris.
Indonesia pun tidak hanya lagi tertinggal di landasan, tapi bisa terbang melesat jauh m e n i n g g a l k a n landasan.
Imam Ahmad Maulana Yusup Peserta Indonesia Bangun Desa
|15 Perspektif Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Beras Unggulan Petani Desa
Brown Rice
L O N G G R A I N Persembahan dari Indonesia Bangun Desa(021) 424 3755
Call Service
9 am - 5pm
Cara Pemesanan:
Via BBM: 27bb97dd atau hubungi Call Service.
Barang akan dikirimkan setelah pelanggan melakukan pembayaran.
Dapatkan harga khusus untuk reseller
Brown Rice merupakan beras yang hanya dibuang lapisan terluarnya (gabah) dan menyisakan kulit ari. Beras ini sarat dengan kandungan serat dan asam lemak esensial. Serat dapat memperlambat
absropsi karbohidrat ke dalam darah sehingga menstabilkan kadar gula darah.
DESKIRPSI TAHUN 2012 (dalam Rupiah)
TAHUN 2013 (dalam Rupiah)
PENDAPATAN
Pendapatan & Penghasilan Tidak Terikat Rp 73,865,500.00 Rp 690,259,640.00
Pendapatan & Penghasilan Terikat Temporer Rp 224,415,000.00
Pendapatan & Penghasilan Terikat Permanen
Pendapatan, Total Rp 73,865,500.00 Rp 914,674,640.00
BEBAN PROGRAM
Beban Training Center Rp 327,917,483.00
Beban Penempatan Rp 496,888,880.00
Beban Program Lain-Lain Rp 32,581,100.00
Beban Program, Total Rp 857,387,463.00
BEBAN MANAJEMEN & UMUM
Beban Administrasi Rp 748,250.00 Rp 1,422,150.00 Beban Konsumsi Rp 293,750.00 Rp 1,918,470.00 Beban Listrik, telepon & PAM Rp 410,000.00 Rp 11,538,640.00 Beban Kantor, Total Rp 15,959,000.00 Rp 8,816,700.00 Beban Pembelian RTK Rp 3,207,477.00 Rp 3,990,250.00 Beban Perbaikan & Pemeliharaan Rp 230,000.00 Rp 12,400,000.00 Beban Transportasi dan Akomodasi Rp 389,160.00 Rp 12,135,100.00
Beban Rapat, Total Rp 3,192,600.00
Beban Operasional Kantor Lain-Lain Rp 463,400.00 Rp 646,700.00 Beban Karyawan, Total Rp 30,800,000.00 Rp 174,197,000.00 Beban Publikasi & Promosi, Total Rp 2,569,500.00 Rp 25,688,145.00 Beban Konsultan, Total Rp 8,600,000.00 Rp 2,000,000.00 Beban Depresiasi, Total
Beban Pajak, Total Beban Piutang Tak Tertagih Beban Asuransi, Total Beban Langganan, Total Beban Perizinan
Beban Sumbangan & Kegiatan Sosial Rp 20,000.00
Beban Manajemen & Umum, Total Rp 63,670,537.00 Rp 257,965,755.00
PENDAPATAN & BEBAN DI LUAR AKTIVITAS Selisih Kurs
Selisih Persediaan Selisih Penjualan Aktiva
Administrasi Bank Rp 131,232.87 Rp 183,870.36 Pembulatan
Koreksi Kesalahan
Pendapatan & Beban di Luar Aktivitas Lain-lain
Pendapatan Beban diluar aktivitas, Total Rp 131,232.87 Rp 183,870.36
TOTAL Rp 63,801,769.87 Rp 1,115,537,088.36
PERUBAHAN AKTIVA BERSIH Rp 10,063,730.13 Rp - 200,862,448.36
LAPORAN AKTIVA BERSIH
YAYASAN BINA DESA INDONESIA Per 31 Desember 2013 (dalam Rupiah)
PERUBAHAN AKTIVA BERSIH
16 | Artikel Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Deskripsi Saldo Awal Mutasi Saldo Akhir AKTIVA
AKTIVA LANCAR
Kas Rp 4,194,963.00 Rp - 3,678,578.00 Rp 516,385.00 Bank Rp 5,868,767.13 Rp 175,066,126.32 Rp 180,934,893.45 Deposit
Bank Guarantee Piutang Aktivitas Piutang Internal Piutang Giro Piutang Lain-Lain Penyisihan Piutang Cash Advanced Uang Muka Pembelian Pajak Dibayar Dimuka Biaya Dibayar Dimuka Lain-Lain Persediaan
AKTIVA LANCAR, TOTAL Rp 10,063,730.13 Rp 171,387,548.32 Rp 181,451,278.45
AKTIVA TETAP Kendaraan
Perlengkapan Operasional Construction In Progress AKTIVA TETAP, TOTAL
INVESTASI Investasi Lancar Properti Investasi Investasi Jangka Panjang INVESTASI, TOTAL
AKTIVA, TOTAL Rp 10,063,730.13 Rp 171,387,548.32 Rp 181,451,278.45
PASIVA KEWAJIBAN
Hutang Aktivitas Rp 372,250,000.00 Rp 372,250,000.00 Hutang Aktivitas Lain-Lain
Hutang Pajak Hutang Lain-Lain Uang Muka Penjualan Hutang Bank Hutang Pihak Ke-3 Hutang Investasi Hutang Pendiri Yayasan
KEWAJIBAN, TOTAL Rp 372,250,000.00 Rp 372,250,000.00
AKTIVA BERSIH
Aktiva Bersih Tidak Terikat Rp 10,063,730.13 Rp 432,110,011.32 Rp 442,173,741.45 Aktiva Bersih Terikat Temporer Rp - 632,972,463.00 Rp - 632,972,463.00 Aktiva Bersih Terikat Permanen
AKTIVA BERSIH, TOTAL Rp 10,063,730.13 Rp - 200,862,451.68 Rp - 190,798,721.55
PASIVA, TOTAL Rp 10,063,730.13 Rp 171,387,548.32 Rp 181,451,278.45
NERACA KEUANGAN
YAYASAN BINA DESA INDONESIA Per 31 Desember 2013 (dalam Rupiah)
NERACA
|17 Artikel Pelopor Agropreneur Muda Indonesia
Dengan ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :...
Tempat/Tgl. Lahir :...
Alamat :...
Telp/HP :...
Email :...
Menyatakan kesediaan untuk berdonasi berupa uang ke Yayasan Bina Desa Indonesia sebesar:
Rp...
Terbilang: ………
Donasi ini digunakan untuk:
Beasiswa Agropreneur Muda Pembangunan Fasilitas Pelatihan
Pembangunan Fasilitas Lokasi Penempatan
Donasi Umum
Saya serahkan melalui:
Transfer ke Rekening Bank Mandiri,
No. Rek. 103-00-0594223-6 a.n Yayasan Bina Desa Indonesia
Transfer ke Rekening Bank BJB,
No. Rek. 003-00-3358200-1 a.n Yayasan Bina Desa Indonesia
Menyerahkan langsung ke Kantor Yayasan Bina Desa Indonesia di Jalan Bungur Besar, No. 152 RT 05/04, Kel. Bungur, Kec. Senen, Jakarta Pusat, 10460
Terima kasih atas dukungannya.
Jakarta, ..., 20...
(...)
FORM KESEDIAAN DONASI
Hotline (021) 424 3755 | 081319156556 | [email protected]
potong disini
Cooming Soon
Penerimaan
Peserta IBD Angkatan ke-2
Diselenggarakan oleh:
YAYASAN BINA DESA INDONESIA
Jl. Bungur Besar No. 152, Kelurahan Bungur, Kec. Senen. Jakarta Pusat Telp. 021 424 3755 | Hp. 081319156556
www.indonesiabangundesa.org Indonesia Bangun Desa @IBD45 [email protected]
Kunjungi www.indonesiabangundesa.org
Pengurus : Bachtiar Firdaus, Tonny F. Kurniawan, Subhan, Umar Salim, Bramanian Surendro, Fajar S.A. Noerman, Hadi G.P Kusuma, Siti Nurjanah, Ratna Yunita Handayani, Beffy Saskia, Haidir Ilyas
Struktur Yayasan Bina Desa Indonesia
YAYASAN BINA DESA INDONESIA
Jl. Bungur Besar No. 152 Rt 05 Rw 04 Kel. Bungur, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10460 (021) 424 3755
0813 1915 6556 29FB0E08 [email protected]
www.indonesiabangundesa.org indonesia bangun desa
@IBD45
Tidak akan pernah lahir bangsa yang besar, jika ketahanan pangannya tidak kuat,
Ketahanan pangan yang kuat tidak akan lahir, jika orang-orang terbaiknya tidak ada di desa.
Mitra Sarana Produksi Pertanian Mitra Pelepasan
YAYASAN PENGEMBANGAN INSAN PERTANIAN
INDONESIA PT BERDIKARI (PERSERO)
Mitra Sponsorship & Penempatan
PT. PANGAN GUNA SEJAHTERA
Mitra Kunjungan Studi
Mitra Seleksi Peserta Mitra Media