ii
SEBAGAI KONSUMEN JASA PELAYANAN
KESEHATAN ATAS KESALAHAN INFORMASI YANG DIBERIKAN OLEH DOKTER SEBELUM DILAKUKAN
TINDAKAN OPERASI
I.B. Putra Atmadja, SH.,MH NIP. 195412311983031018
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
ii
iii DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... i
DAFTAR ISI ... xi
ABSTRAK ... xv
ABSTRACT ... xvi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah ... 1
Rumusan Masalah ... 6
Ruang Lingkup Masalah ... 7
Tujuan Penelitian ... 9
1.5.1. Tujuan Umum ... 9
1.5.2. Tujuan Khusus ... 10
Manfaat Penelitian ... 10
1.6.1. Manfaat Teoritis ... 10
1.6.2. Manfaat Praktis ... 11
Landasan Teoritis ... 11
Metode Penelitian ... 14
1.8.1. Jenis Penelitian ... 15
1.8.2. Jenis Pendekatan ... 16
1.8.3. Sifat Penelitian ... 16
iv
1.8.4. Data dan Sumber Data ... 16
1.8.5. Teknik Pengumpulan Data ... 17
1.8.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 18
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM, PELAYANAN KESEHATAN, PASIEN DAN DOKTER Perlindungan Hukum ... 19
2.1.1. Pengertian Perlindungan Hukum ... 19
2.1.2. Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum ... 20
2.1.3. Bentuk-bentuk Perlindungan Hukum ... 22
Pelayanan Kesehataan ... 24
2.2.1. Pengertian dan Pengaturan Pelayanan Kesehatan ... 24
2.2.2. Asas-asas Pelayanan Kesehatan ... 26
2.2.3. Syarat-syarat Pelayanan Kesehatan ... 34
2.2.4. Standart Pelayanan Kesehatan ... 36
Pasien ... 39
2.3.1. Pengertian Pasien ... 39
2.3.2. Jenis-Jenis Pasien ... 40
Dokter ... 43
2.3.1. Pengertian Dokter ... 43
2.3.2. Tugas Dokter ... 44
v
BAB III PELAYANAN BADAN PENYELESAIAN SENGKETA
KONSUMEN DALAM PEMENUHAN HAK-HAK
KONSUMEN DALAM HAL SENGKETA ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN
Hubungan Antara Pasien dan Dokter ... 46 Hak dan Kewajiban Pasien sebagai Konsumen ... 50 Hak dan Kewajiban Dokter ... 53 Tugas dan Wewenang BPSK Berdasarkan Undang-Undang
No. 8 Tahun 1999 Tentang Undang-Undang Perlindungan
Konsumen ... 55 Prosedur dalam Mengajukan Permohonan Penyelesaian
Sengketa Konsumen di BPSK ... 57 Upaya BPSK dalam Menangani Sengketa Antara Dokter
dengan Pasien ... 61
BAB IV BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN SEBAGAI KONSUMEN JASA PELAYANAN KESEHATAN
Kerugian Pasien Atas Kesalahan Informasi yang DiberikanOleh Dokter 65 Perlindungan Hukum Terhadap Pasien dan Tanggung Jawab Dokter . 68 BAB V PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
vi ABSTRAK
Dengan adanya Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang selanjutnya disebut BPSK memberikan kemudahan bagi seorang pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan untuk menuntut perlindungan hukum atas kerugiannya akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan dalam melakukan pekerjaannya. Adanya hubungan hukum antara dokter dengan pasien menciptakan hak dan kewajiban antara kedua belah pihak yang dapat menimbulkan suatu permasalahan di kemudian hari apabila salah satu pihak lalai akan kewajibannya.
Dalam penulisan penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian empiris, menggunakan pendekatan kasus, pendekatan fakta dan pendekatan perundang-undangan. Penelitian ini membahas dua permasalahan hukum yaitu:
Bagaimana upaya BPSK dalam menangani sengketa antara dokter dengan pasien terkait dengan kesalahan informasi sebelum dilakukannya tindakan operasi kista? Dan Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan atas kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menangani sengketa antara dokter dengan pasien, BPSK telah melakukan upaya sesuai dengan tugas dan wewenang BPSK yang tercantum dalam UU No. 8 Tahun 1999 Tentang UU Perlindungan Konsumen yaitu melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara melalui mediasi. Berdasarkan survei di lapangan mengenai bentuk perlindungan hukum yang diperoleh oleh pasien, hasil wawancara dengan beberapa narasumber dari BPSK menyatakan bahwa pasien mendapatkan perlindungan hukum represif dengan dikabulkannya gugatan pasien dalam bentuk pemberian ganti rugi dalam bentuk materiil oleh pihak rumah sakit.
Kata kunci: Perlindungan Hukum, Konsumen Jasa Pelayanan Kesehatan, Tanggung Jawab.
vii ABSTRACT
With the existence ofBadan Penyelesaian Sengketa Konsumen, hereinafter referred BPSK makes it easy for a patient as a consumer of health care services to demand legal protection of the losses due to errors or omissions by doctors or health professionals in their work. The existence of a legal relationship between doctor and patient creates rights and obligations between the parties that may cause a problem later on if one of the parties forgot their obligations.
In writing this essay the author uses empirical research methods, use case approach, the approach of facts and law approach. This thesis discusses two legal issues, namely: How BPSK efforts in dealing with disputes between doctors and patients, associated with misinformation prior to surgery cyst? And What are the forms of legal protection to patients as consumers of healthcare services on erroneous information given by the doctor?
The results showed that in dealing with disputes between doctor and patient, BPSK has made efforts in accordance with the duties and authority BPSK set forth in Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection Law, it is carrying out the handling and settlement of disputes by way of mediation. Based on field surveys regarding the forms of legal protection acquired by the patient, the results of interviews with several sources of BPSK explain that patients get the repressive legal protection granted in the form of a lawsuit patient compensation in the form of material by the hospital.
Keywords: Legal Protection, Consumer Health Care Services, Responsibility.
1 1.1 Latar Belakang Masalah
Kesehatan merupakan bagian penting dari kesejahteraan masyarakat.
Kesehatan juga merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia disamping sandang, pangan, dan papan. Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Pada hakikatnya tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, karena merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama- sama.
Menurut Nototmodjo, pelayanan di bidang kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Pelayanan kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk melaksanakan pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit, termasuk didalamnya pelayanan medis yang dilaksanakan atas dasar hubungan individual antara dokter dengan pasien yang membutuhkan penyembuhan.1 Dokter merupakan pihak yang mempunyai keahlian di bidang medis atau kedokteran yang dianggap memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukan
1 K. Bertens, 2011, Etika Biomedis, Kanisius, Yogyakarta, h. 133.
tindakan medis. Sedangkan pasien merupakan orang sakit yang tidak mengerti dengan penyakit yang dideritanya dan mempercayakan dirinya untuk diobati dan disembuhkan oleh dokter, sehingga dokter berkewajiban memberikan pelayanan medis yang sebaik-baiknya bagi pasien.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan telah berkembang dengan pesat dan didukung oleh sarana kesehatan yang semakin canggih, perkembangan ini turut mempengaruhi jasa professional di bidang kesehatan yang dari waktu ke waktu semakin berkembang pula. Berbagai cara perawatan dikembangkan sehingga akibatnya juga bertambah besar, dan kemungkinan untuk melakukan kesalahan semakin besar pula.
Beberapa tahun terakhir ini sering timbul gugatan dari pasien yang merasa dirugikan, untuk menuntut ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan dalam melakukan pekerjaannya. Dalam kasus dugaan kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter di rumah sakit, pasien yang merasa dirugikan dapat dan berhak untuk melakukan gugatan dan meminta ganti rugi kepada dokter atau rumah sakit yang bersangkutan.
Hubungan dokter dan pasien pada dasarnya merupakan hubungan hukum keperdataan, dimana pasien datang kepada dokter untuk disembuhkan penyakitnya dan dokter berjanji akan berusaha mengobati atau menyembuhkan penyakit pasien tersebut. Hubungan keperdataan adalah hubungan hukum yang dilakukan oleh pihak- pihak yang berada dalam kedudukan yang sederajat, setidak-tidaknya pada saat para
pihak akan memasuki hubungan hukum tertentu. Timbulnya dan adanya perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen didahului dengan adanya hubungan antara dokter dengan pasien.2
Pada dasarnya seorang pasien yang menggunakan jasa pelayanan medis adalah konsumen. Hal ini dibenarkan dalam UU No.8 Tahun 1999 tentangPerlindungan Konsumen (UUPK) yang menyebutkan bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Salah satu sifat sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat, dan seringkali konsumen diposisikan sebagai pihak yang lemah sehingga harus dilindungi oleh hukum.
Dalam hukum perlindungan konsumen dikenal tuntutan ganti kerugian konsumen kepada produsen, yang berdasarkan tiga teori tanggung jawab, yaitu tanggung jawab berdasarkan kelalaian/kesalahan (negligence), tuntutan berdasarkan ingkar janji atau wanprestasi (breach of warranty), dan tanggung jawab mutlak (strictliability). Prinsip tanggung jawab produk dalam UU No.8 Tahun 1999 tentangPerlindungan Konsumen (UUPK) merupakan modifikasi terhadap prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan.
Pengertian perlindungan konsumen termaktub dalam Pasal 1 Angka 1 UUPK dinyatakan segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan
2 Syahrul Machmud, 2008, Penegakan Hukum dan Perlindungan Hukum Bagi Dokter yang Diduga Melakukan Medikal Malpraktek, Mandar Maju, Bandung, h. 44.
perlindungan kepada konsumen. Kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen itu antara lain adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat konsumen serta membuka akses informasi tentang barang dan/atau jasa baginya, dan menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab.3
Tujuan yang ingin dicapai perlindungan konsumen umumnya dapat dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu:
1 Memberdayakan konsumen dalam memilih, menentukan barang dan/atau jasa kebutuhannya, dan menuntut hak-haknya;
2 Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang memuat unsur- unsur kepastian hukum, keterbukaan informasi, dan akses untuk mendapatkan informasi;
3 Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap jujur dan bertanggung jawab.
Dari ketiga tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa sangat penting untuk dapat melindungi konsumen dari berbagai hal yang dapat mendatangkan kerugian bagi mereka.Konsumen perlu dilindungi, karena konsumen dianggap memiliki suatu
“kedudukan” yang tidak seimbang dengan para pelaku usaha.Ketidakseimbangan ini menyangkut bidang pendidikan dan posisi tawar yang dimiliki oleh konsumen.Sering kali konsumen tidak berdaya mengahadapi posisi yang lebih kuat dari para pelaku usaha.
3Adrian Sutedi, 2008, Tanggung Jawab Produk Dalam Hukum Perlindungan Konsumen, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 8.
Melalui UUPK menetapkan 9 hak konsumen, yaitu:
1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa;
2. Hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan atau jasa;
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan atau jasa yang digunakan;
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
8. Hak untuk mendapatkan konpensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Selain memperoleh hak, konsumen juga diwajibkan untuk:
1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur atau pemanfaatan barang dan atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan atau jasa;
3. Membayar sesuai nilai tukar yang disepakati;
4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Pengertian sengketa konsumen adalah suatu sengketa yang salah satu pihaknya haruslah konsumen.Sengketa konsumen dapat dilakukan di pengadilan ataupun di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela dari para pihak. Unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 45 UUPK antara lain:
a. Adanya kerugian yang diderita konsumen;
b. Gugatan dilakukan terhadap pelaku usaha;
c. Dilakukan melalui pengadilan.
Pasal 48 UUPK dinyatakan bahwa penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan mengacu kepada ketentuan yang berlaku dalam peradilan umum dengan memperhatikan Pasal 45 UUPK.Selain itu, menurut ayat (1), penyelesaian sengketa dapat dilakukan di luar jalur pengadilan.Penyelesaian di luar jalur pengadilan dapat dilakukan dengan memanfaatkan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) sebagaimana tercantum dalam Pasal 49 sampai dengan Pasal 58 UUPK.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik membahas permasalahan tersebut dalam bentuk penelitian dengan judul “PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN SEBAGAI KONSUMEN JASA PELAYANAN KESEHATAN ATAS KESALAHAN INFORMASI YANG DIBERIKAN OLEH DOKTER SEBELUM DILAKUKAN TINDAKAN OPERASI KISTA.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, beberapa permasalahan pokok yang akan diteliti oleh penulis dirumuskan antara lain sebagai berikut :
1. Bagaimana upaya Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam menangani sengketa antara dokter dengan pasien terkait dengan kesalahan informasi sebelum dilakukannya tindakan operasi kista?
2. Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan atas kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan yang dibahas, maka akan dipaparkan mengenai batasan-batasan yang menjadi ruang lingkup permasalahan dalam penulisan ini. Permasalahan pertama akan dibahas mengenaiupaya Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam menangani sengketa antara dokter dengan pasien terkait dengan kesalahan informasi sebelum dilakukannya tindakan operasi kista. Permasalahan kedua mengenai bentuk perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan atas kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter.
1.4 Tujuan Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki tujuan karena dengan adanya tujuan yang jelas dapat memberikan arah yang jelas pula dalam mencapai tujuan tersebut. Adapun tujuan tersebut antara lain :
1.5.1. Tujuan Umum
Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui upaya Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam menangani sengketa antara dokter dengan pasien terkait dengan kesalahan informasi sebelum dilakukannya tindakan operasi kista.
b. Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan atas kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter.
1.5.2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Untuk lebih memahamiupaya Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen (BPSK) dalam menangani sengketa antara dokter dengan pasien terkait dengan kesalahan informasi sebelum dilakukannya tindakan operasi kista.
b. Untuk lebih memahamibentuk perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan atas kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter.
1.5 Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penulisan, adapun manfaat penulisan dari penelitian ini dapat dibedakan dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu :
1.6.1. Manfaat Teoritis
Manfaat teroritis yaitu manfaat dari penulisan hukum ini yang bertalian dengan pengembangan ilmu hukum. Manfaat teoritis dari penelitian ini sebagai berikut :
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum pada umumnya serta Hukum Kesehatan dan perlindungan konsumen pada khususnya.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan literatur dalam dunia kepustakaan tentang perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan.
c. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan terhadap penelitian- penilitian sejenis untuk tahap berikutnya.
1.6.2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yaitu manfaat dari penulisan hukum ini yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Manfaat praktis dari penelitian ini sebagai berikut :
a. Untuk pemerintah sebagai pembuat kebijakan, agar memberikan perhatian terhadap perlindungan pasien dan segera merealisasikan Undang-Undang dan peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan perlindungan pasien.
b. Untuk kalangan dokter dan tenaga kesehatan sebagai bahan masukan dan perubahan dalam memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar pelayan kesehatan.
1.6 Landasan Teoritis
Tujuan dan kegunaan landasan teoritis pada dasarnya adalah untuk menunjukkan jalan pemecahan permasalahan penelitian.4Hukum diciptakan sebagai suatu sarana atau instrumen untuk mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban subyek hukum.Di samping itu hukum juga berfungsi sebagai instrumen perlindungan bagi subyek hukum.Menurut Sudikno Mertokusumo hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia.Perlindungan hukum berarti adanya pengakuan, kepatuhan, serta adanya dukungan atas hak-hak segenap pribadi, segenap keluarga dan segenap kelompok, beserta aspek pelaksanaannya.5
Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum
4 Bambang Sunggono, 2006, Metodologi Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 112.
5 Koerniatmanto Soetoprawiro, 2003, Bukan Kapitalisme Bukan Sosialisme, Kanisius, Yogyakarta, h. 250.
atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.
Perlindungan konsumen merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan adanya hukum yang memberikan perlindungan kepada konsumen dari kerugian atas penggunaan produk barang/jasa.Perlindungan konsumen mempunyai cakupan yang sangat luas meliputi perlindungan terhadap segala kerugian akibat penggunaan barang dan/atau jasa.Perlindungan perlu diberikan kepada konsumen sebab secara umum keberadaannya selalu berada pada kedudukan yang lemah.6Berbicara mengenai konsumen dalam kaitannya di dalam pelayanan medis, dimana terdapat hubungan antara tenaga pelaksana (tenaga kesehatan) dengan pasien yang merupakan konsumen jasa. Dan untuk itu, perlu diketahui apa yang dimaksud dengan konsumen.
Konsumen secara harfiah diartikan sebagai “orang atau perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu”, atau “sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang”.7Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang dan jasa. Pasien adalah seorang konsumen karena dalam hal ini ia merupakan seorang pemakai jasa yaitu jasa seorang dokter.
6 Burhanuddin S, 2011, Pemikiran Hukum Perlindungan Konsumen dan Sertifikasi Halal, UIN-Maliki Press, Malang, h. 1.
7 Abdul Halim Barkatullah, 2008, Hukum Perlindungan Konsumen, FH Unlan Press, Kalsel, h. 7.
Hukum perjanjian ini adalah bagian dari hukum perdata yang berlaku di Indonesia.Hal janji adalah suatu sendi yang amat penting dalam hukum perdata, oleh karena hukum perdata banyak mengandung peraturan-peraturan hukum yang berdasar atas janji seseorang.8 Di dalam Pasal 1320 KUHPerdata menyebutkan suatu perjanjian dapat dikatakan sah apabila :
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
b. Kecakapan membuat suatu perjanjian;
c. Suatu hal tertentu; dan d. Suatu sebab yang halal.
Asas merupakan pikiran dasar yang ada di belakang atau di dalam sistem hukum.Adapun asas-asas dalam perjanjian adalah asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme, asas pacta sunt servanda dan asas itikad baik.9
Perjanjian yang merupakan kesepakatan dari para pihak mengakibatkan timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak terkait.Akibat dari timbulnya hak dan kewajiban tersebut menyebabkan munculnya tanggung jawab para pihak. Terkait dengan tanggung jawab terdapat teori-teori tentang tanggung jawab dalam perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain dan tanggung jawab yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
Tanggung jawab dalam kamus hukum adalah suatu keseharusan bagi seorang untuk melaksanakan apa yang telah diwajibkan kepadanya.10 Selanjutnya menurut
8 Wirjono Projodikoro, 2011, Azas-Azas Hukum Perjanjian, Mandar Maju, Bandung, h. 2.
9Much, Nurachmad, 2010, Buku Pintar Memahami dan Membuat Surat Perjanjian, Transmedia Pusaka, Jakarta, h. 13.
Titik Triwulan pertanggungjawaban harus mempunyai dasar, yaitu hal yang menyebabkan timbulnya hak hukum bagi seorang untuk menuntut orang lain sekaligus berupa hal yang melahirkan kewajiban hukum orang lain untuk memberi pertanggungjawaban.11
1.7 Metode Penelitian
Istilah “metodelogi” berasal dari kata “metode” yang berarti “jalan ke”.12 Metode dapat diartikan sebagai suatu jalan atau cara untuk mencapai sesuatu. Dalam rangka menjawab permasalahan dan mencapai tujuan serta untuk melengkapi penulisan penelitian ini dengan tujuan agar dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penulisan yang dipergunakan antara lain :
1.8.1. Jenis Penelitian
Penelitian Hukum merupakan bagian kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tentunya yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tersebut, kemudian mengusahakan suatu pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan yang timbul dalam gejala yang bersangkutan.13
Dalam penulisan penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris.Istilah empiris artinya bersifat nyata, maka
10 Andi Hamzah, 2005, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia.
11Titik Triwulan dan Shinta Febrian, 2010, Perlindungan Hukum bagi Pasien, Prestasi Pustaka, Jakarta, h. 48.
12 Soerjono Soekanto, 2008, Pengantar Penelitian Hukum, Cet ke 3, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, h. 5.
13Sugiyono, 2001, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung, h. 2.
penelitian empiris dimaksudkan ialah sebagai usaha mendekati masalah yang diteliti dengan sifat hukum yang nyata atau sesuai dengan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Sehingga penelitian ini di samping mengacu pada ketentuan undang-undang, teori dan asas-asas hukum, juga harus dilakukan secara langsung ke lapangan yaitu ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) mengenai upaya dan bentuk perlindungan hukum BPSK terhadap pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan atas kesalahan informasi yang diberikan oleh dokter.
1.8.2. Jenis Pendekatan
Dalam penelitian hukum dikenal adanya suatu pendekatan penelitian.Pendekatan tersebut memungkinkan diperolehnya jawaban yang diharapkan atas permasalahan hukum yang ada.Penelitian hukum umumnya mengenal 7 jenis pendekatan diantaranya :
a. Pendekatan kasus (the case approach) b. Pendekatan perundang-undangan (the statue approach) c. Pendekatan fakta (the fact approach) d. Pendekatan analisis konsep hukum (analytical & conseptual
approach)
e. Pendekatan frasa (word & phrase approach) f. Pendekatan sejarah (historical approach) g. Pendekatan perbandingan (comparative approach)
Dalam penelitian ini akan menggunakan pendekatan kasus (the case approach), pendekatan fakta (the fact approach) serta pendekatan perundang- undangan(the statue approach).
1.8.3. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei ke lapangan untuk mendapatkan informasi yang dapat mendukung teori yang telah ada.
1.8.4. Data dan Sumber Data
Sumber bahan hukum secara umum digolongkan menjadi 3 yaitu sumber bahan hukum primer, sumber bahan hukum sekunder dan sumber bahan hukum tersier.Menurut Peter Mahmud Marzuki mengatakan bahwa sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder.14Adapun data yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari 2 sumber, yaitu :
a Data primer, untuk mendapat data primer dilakukan penelitian lapangan (fied research), yaitu dengan cara melakukan penelitian secara langsung ke lapangan yakni di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
b Data sekunder, untuk mendapat data sekunder dilakukan penelitian kepustakaan (library research), yaitu pengumpulan berbagai data yang
14 Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Cet ke IV, Kencana, Jakarta, h. 141.
diperoleh dari menelaah literatur, majalah di bidang hukum guna menemukan teori yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas.
1.8.5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data lapangan yang dipergunakan adalah melalui wawancara.Wawancara (interview) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab secara langsung dan lisan dengan responden, guna memperoleh informasi atau keterangan yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Metode ini merupakan alat pengumpulan data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan dan mempelajari berbagai data sekunder yang ada kaitannya secara langsung maupun tidak langsung dengan objek yang diteliti.
1.8.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Agar data yang dikumpulkan dapat dipertanggungjawabkan,dan dapat menghasilkan jawaban yang tepat dari suatu permasalahan, maka perlu suatu teknik analisa data yang tepat.Analisis data merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan.
Data-data yang diperoleh baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dianalisis melalui langkah-langkah depenelitian, sistematisasi, dan eksplanasi. Depenelitian maksudnya uraian apa adanya terhadap kondisi dari
proposisi-proposisi hukum. Sistematisasi maksudnya upaya mencari kaitan rumusan suatu konsep hukum antara peraturan perundang-undangan dengan literatur yang terkait.Eksplanasi maksudnya hubungan antara bahan-bahan hukum yang satu dengan yang lainnya serta memberikan argumentasi terhadap hubungan data-data tersebut.
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM, PELAYANAN KESEHATAN, PASIEN DAN DOKTER
2.1 Perlindungan Hukum
2.1.1. Pengertian Perlindungan Hukum
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, perlindungan berarti tempat berlindung atau merupakan perbuatan (hal) melindungi, misalnya memberi perlindungan kepada orang yang lemah.
Pengertian perlindungan menurut ketentuan Pasal 1 butir 6 Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menentukan bahwa perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.
Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan
19
perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut.15
Menurut Sotiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.16
Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah- kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.17
Jadi perlindungan hukum adalah suatu perbuatan hal melindungi subyek-subyek hukum dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pelaksanaannya dapat dipaksakan dengan suatu sanksi.
2.1.2. Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum
Prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia berlandaskan pada Pancasila sebagai dasar ideologi dan dasar falsafah
15 Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, PT. Bina Ilmu, Surabaya, h. 25.
16Setiono, 2004, Rule of Law (Supremasi Hukum), Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta, h. 3.
17Muchsin, 2003, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, h. 14.
Negara.Prinsip-prinsip yang mendasari perlindungan hukum bagi rakyat berdasarkan Pancasila, antara lain :18
a. Prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi rakyat terhadap tindakan pemerintahan yang bersumber pada konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Pengakuan akan harkat dan martabat manusia pada dasarnya terkandung dalam nilai-nilai Pancasila yang telah disepakati sebagai dasar negara. Dengan kata lain, Pancasila merupakan sumber pengakuan akan harkat dan martabat manusia.
Pengakuan akan harkat dan martabat manusia berarti mengakui kehendak manusia untuk hidup bersama yang bertujuan yang diarahkan pada usaha untuk mencapai kesejahteraan bersama.
b. Prinsip negara hukum.
Prinsip kedua yang melandasi perlindungan hukum bagi rakyat terhadap tindakan pemerintah adalah prinsip negara hukum.Pancasila sebagai dasar falsafah negara serta adanya asas keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat berdasarkan asas kerukunan tetap merupakan elemen pertama dan utama karena Pancasila yang pada akhirnya mengarah pada usaha tercapainya keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan.
18 Philipus M. Hadjon, op.cit, h. 19-20.
2.1.3. Bentuk-Bentuk Perlindungan Hukum
Menurut Muchsin dalam bukunya menyebutkan bahwaperlindungan hukum dapat dibedakan menjadi 2yaitu :19
a. Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran.Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.
b. Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Menurut Philipus M. Hadjon, bahwa sarana perlindungan Hukum ada 2 macam, yaitu :20
1. Sarana Perlindungan Hukum Preventif
Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif.Tujuannya adalah mencegah terjadinya sengketa.Perlindungan hukum preventif sangat besar
19Muchsin, op.cit, h. 20.
20 Philipus M. Hadjon, op.cit, h. 30.
artinya bagi tindak pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi.Di Indonesia belum ada pengaturan khusus mengenai perlindungan hukum preventif.
2. Sarana Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan Pengadilan Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini.Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah.Prinsip kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip negara hukum.Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum.
2.2 Pelayanan Kesehatan
2.2.1. Pengertian dan Pengaturan Pelayanan Kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia di samping sandang pangan dan papan, tanpa hidup yang sehat, hidup manusia menjadi tanpa arti, sebab dalam keadaan sakit manusia tidak mungkin dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik. Selain itu orang yang sedang sakit (pasien) yang tidak dapat menyembuhkan penyakitnya sendiri, tidak ada pilihan lain selain meminta pertolongan dari tenaga kesehatan yang dapat menyembuhkan penyakitnya dan tenaga kesehatan tersebut akan melakukan apa yang dikenal dengan upaya kesehatan dengan cara memberikan pelayanan kesehatan.21
Sebagaimana yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan pada Pasal 1 ayat (11) Ketentuan Umum yang berbunyi :
“Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.”
Di dalam Ketentuan Umum yang ada pada Undang-Undang Kesehatan memang tidak disebutkan secara jelas mengenai Pelayanan Kesehatan namun hal tersebut tercermin dari Pasal 1 Ketentuan Umum Ayat (11) bahwa upaya
21 Wila Chandrawila, 2001, Hukum Kedokteran, Mandar Maju, Bandung, h. 35.
kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka untuk kepentingan kesehatan di masyarakat.
Walaupun tidak diuraikan secara jelas mengenai pelayanan kesehatan namun kita dapat memahaminya melalui pengertian-pengertian yang dikemukakan oleh para sarjana sebagai berikut ini :
Menurut Hendrojono Soewono, yang dimaksud pelayanan kesehatan adalah setiap upaya baik yang diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan, mencegah penyakit, mengobati penyakit dan memulihkan kesehatan yang ditujukan terhadap perorangan, kelompok/masyarakat.22
Menurut Wiku Adisasmito, pelayanan kesehatan adalah segala bentuk kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan derajat suatu masyarakat yang mencakup kegiatan penyuluhan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang diselenggarakan secara terpadu dan berkesinambungan yang secara sinergis behasil guna dan berdaya guna sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.23
22 Hendrojono, Soewono, 2007, Batas Pertanggungjawaban Hukum Malpraktik Kedokteran dalam Transaksi Teurapetik, Srikandi, Surabaya, h. 100-101.
23 Wiku Adisasmito, 2008, Kebijakan Standar Pelayanan Medik dan Diagnosis Related Group (DRG), Kelayakan Penerapannya di Indonesia, Fak. Kesehatan Masyarakat, UI, Jakarta, h. 9.
2.2.2. Asas-Asas Pelayanan Kesehatan
Bilamana ditinjau dari kedudukan para pihak di dalam pelayanan kesehatan, dokter dalam kedudukannya selaku profesional di bidang medik yang harus berperan aktif, dan pasien dalam kedudukannya sebagai penerima layanan kesehatan yang mempunyai penilaian terhadap penampilan dan mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya.Hal ini disebabkan, dokter bukan hanya melaksanakan pekerjaan melayani atau memberi pertolongan semata- mata, tetapi juga melaksanakan pekerjaan profesi yang terkait pada suatu kode etik kedokteran.Dengan demikian dalam kedudukan hukum para pihak di dalam pelayanan kesehatan menggambarkan suatu hubungan hukum dokter dan pasien, sehingga di dalam pelayanan kesehatan pun berlaku beberapa asas hukum yang menjadi landasan yuridisnya.
Menurut Veronica Komalawati yang mengatakan bahwa, asas-asas hukum yang berlaku dan mendasari pelayanan kesehatan dapat disimpulkan secara garis besarnya sebagai berikut :24
(a) Asas Legalitas
Asas ini pada dasarnya tersirat di dalam Pasal 23 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa :
24Veronica Komalawati, 2002, Peranan Informed Consent Dalam Transaksi Terapeutik (Persetujuan Dalam Hubungan Dokter dan Pasien); Suatu Tinjauan Yuridis, PT. Citra Aditya Bhakti, Bandung, h. 126-133.
(1). Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan;
(2). Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki;
(3). Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan tenaga kesehatan wajib memiliki izin dari pemerintah.
Berdasarkan pada ketentuan di atas, maka pelayanan kesehatan hanya dapat diselenggarakan apabila tenaga kesehatan yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan dan perizinan yang diatur dalam Undang-Undang No.
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, terutama Pasal 29 ayat (1) dan (3); Pasal 36; Pasal 38 ayat (1) yang antara lain berbunyi sebagai berikut : Pasal 29 ayat (1) dan (3) antara lain menyatakan bahwa :
(1). Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi;
(3). Untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi harus memenuhi persyaratan :
a. Memiliki ijazah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter gigi spesialis;
b. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji dokter atau dokter gigi;
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. Memiliki sertifikat kompetensi; dan
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
Di samping persyaratan-persyaratan tersebut di atas, dokter atau dokter gigi dalam melakukan pelayanan kesehatan harus pula memiliki izin praktik, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 36 Undang-Undang Praktik
Kedokteran sebagai berikut : “Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat Izin Praktik”.
Selanjutnya, surat izin praktik ini akan diberikan jika telah dipenuhi syarat-syarat sebagaimana yang ditentukan secara tegas di dalam ketentuan Pasal 38 ayat (1) yang menyatakan bahwa :
Untuk mendapatkan surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, dokter dan dokter gigi harus :
a. Memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat registrasi dokter gigi yang masih berlaku;
b. Mempunyai tempat praktik;
c. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi.
Dari ketentuan di atas dapat ditafsirkan bahwa, keseluruhan persyaratan tersebut merupakan landasan legalitasnya dokter dan dokter gigi dalam menjalankan pelayanan kesehatan.Artinya, “asas legalitas” dalam pelayanan kesehatan secara latern tersirat dalam Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.
(b) Asas Keseimbangan
Menurut asas ini, penyelenggaraan pelayanan kesehatan harus diselenggarakan secara seimbang antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat, antara fisik dan mental, antara material dan spiritual.Di dalam pelayanan kesehatan dapat pula diartikan sebagai keseimbangan antara tujuan dan sarana, antara sarana dan hasil, antara manfaat dan risiko yang ditimbulkan dari pelayanan kesehatan yang dilakukan.Dengan demikian berlakunya asas keseimbangan di dalam
pelayanan kesehatan sangat berkaitan erat dengan masalah keadilan.Dalam hubungannya dengan pelayanan kesehatan, keadilan yang dimaksud sangat berhubungan dengan alokasi sumber daya dalam pelayanan kesehatan.
(c) Asas Tepat Waktu
Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, asas tepat waktu ini merupakan asas yang cukup krusial, oleh karena sangat berkaitan dengan akibat hukum yang timbul dari pelayanan kesehatan.Akibat kelalaian dokter untuk memberikan pertolongan tepat pada saat yang dibutuhkan dapat menimbulkan kerugian pada pasien.Berlakunya asas ini harus diperhatikan dokter, karena hukumnya tidak dapat menerima alasan apapun dalam hal keselamatan nyawa pasien yang terancam yang disebabkan karena keterlambatan dokter dalam menangani pasiennya.
(d) Asas Itikad Baik
Asas itikad baik ini pada dasarnya bersumber pada prinsip etis untuk berbuat baik pada umumnya yang perlu pula diaplikasikan dalam pelaksanaan kewajiban dokter terhadap pasien dalam pelayanan kesehatan. Dokter sebagai pengemban profesi, penerapan asas itikad baik akan tercermin pada sikap penghormatan terhadap hak-hak pasien dan pelaksanaan praktik kedokteran yang selalu patuh dan taat terhadap standar profesi. Kewajiban untuk berbuat baik ini tentunya bukan tanpa batas, karena berbuat baik harus tidak boleh sampai menimbulkan kerugian pada diri sendiri.
(e) Asas Kejujuran
Kejujuran merupakan salah satu asas yang penting untuk dapat menumbuhkan kepercayaan pasien kepada dokter dalam pelayanan kesehatan.Berlandaskan asas kejujuran ini dokter berkewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien, yakni sesuai standar profesinya.Di samping itu, berlakunya asas ini juga merupakan dasar bagi terlaksananya penyampaian infomasi yang benar, baik dari pasien maupun dokter dalam berkomunikasi. Kejujuran dalam menyampaikan informasi sudah barang tentu akan sangat membantu dalam kesembuhan pasien. Kebenaran informasi ini sangat berhubungan dengan hak setiap manusia untuk mengetahui kebenaran.
(f) Asas Kehati-hatian
Kedudukan dokter sebagai tenaga profesional di bidang kesehatan, mengharuskan agar tindakan dokter harus didasarkan atas ketelitian dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dalam pelayanan kesehatan.Karena kecerobohan dalam bertindak yang mengakibatkan terancamnya jiwa pasien, dapat berakibat dokter terkena tuntutan pidana. Asas kehati-hatian ini secara yuridis tersirat di dalam Pasal 58 ayat (1) yang menentukan bahwa : “Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya”.
Dalam pelaksanaan kewajiban dokter, asas kehati-hatian ini diaplikasikan dengan mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien terutama hakatas informasi dan hak untuk memberikan persetujuan yang erat hubungannya dengan informed consent dalam transaksi terapeutik.
(g) Asas Keterbukaan
Salah satu asas yang ditentukan dalam Pasal 2 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 adalah asas penghormatan terhadap hak dan kewajiban, yang secara tersirat di dalamnya terkandung asas keterbukaan. Hal ini dapat diinterpretasikan dari Penjelasan Pasal 2 angka (9) yang bebunyi : “Asas penghormatan terhadap hak dan kewajiban berarti bahwa pembangunan kesehatan dengan menghormati hak dan kewajiban masyarakat sebagai bentuk kesamaan kedudukan hukum”.
Pelayanan kesehatan yang bedaya guna dan berhasil guna hanya dapat tercapai bilamana ada keterbukaan dan kesamaan kedudukan dalam hukum antara dokter dan pasien dengan didasarkan pada sikap saling percaya.Sikap tesebut dapat tumbuh apabila terjalin komunikasi secara terbuka antara dokter dan pasien, di mana pasien dapat memperoleh penjelasan dari dokter dalam komunikasi yang transparan.
Di samping Veronica Komalawati, Munir Fuady sebagaimana yang dikutip dari bukunya Veronica Komalawati mengemukakan pendapatnya bahwa, di dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan terdapat beberapa asas etika modern dari praktik kedokteran yang disebutkan oleh Catherine Tay Swee Kian antara lain sebagai berikut :25
(1). Asas Otonom
Asas ini menghendaki agar pasien yang mempunyai kapasitas sebagai subyek hukum yang cakap berbuat, diberikan kesempatan untuk menentukan pilihannya secara rasional sebagai wujud penghormatan terhadap hak asasinya untuk menentukan nasibnya sendiri. Meskipun pilihan pasien tidak benar, dokter tetap harus menghormatinya dan berusaha untuk menjelaskan dengan sebenarnya menurut pengetahuan dan keahlian profesional dokter tersebut agar pasien benar-benar mengerti dan memahami tentang akibat yang akan timbul tatkala pilihannya tidak sesuai dengan anjuran dokter. Dalam hal terjadi demikian, menjadi kewajiban dokter untuk memberikan masukan kepada pasien tentang dampak negatif yang mungkin timbul sebagai akibat ditolaknya anjuran dokter tersebut.
(2). Asas Murah Hati
Asas ini mengajarkan kepada dokter untuk selalu bersifat murah hati dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasiennya.Berbuat kebajikan, kebaikan dan dermawan merupakan anjuran yang berlaku umum bagi setiap
25Ibid, h. 129.
individu.Hal ini hendaknya dapat diaplikasikan dokter dalam pengabdian profesinya dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan baik terhadap individu pasien maupun terhadap kesehatan masyarakat.
(3). Asas Tidak Menyakiti
Dalam melakukan pelayanan kesehatan terhadap pasien, dokter hendaknya mengusahakan untuk tidak menyakiti pasien tersebut, walaupun hal ini sangat sulit dilakukan, karena kadang-kadang dokter harus melakukan pengobatan yang justru menimbulkan rasa sakit kepada pasiennya. Dalam hal terjadi demikian, maka dokter harus memberikan informasi kepada pasien tentang rasa sakit yang mungkin timbul sebagai akibat tindakan yang dilakukan guna kesembuhan pasien tersebut dan agar pasien tidak menganggap apa yang telah dilakukan dokter bertentangan dengan asas tidak menyakiti.
(4). Asas Keadilan
Keadilan harus dilakukan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam artian bahwa dokter harus memberikan pengobatan secara adil kepada pasien dengan tidak memandang status sosial ekonomi mereka. Di samping itu, asas ini juga mengharuskan dokter untuk menghormati semua hak pasien antara lain hak atas kerahasiaan, hakatas informasi dan hak memberikan persetujuannya dalam pelayanan kesehatan.
(5). Asas Kesetiaan
Asas kesetiaan mengajarkan bahwa dokter harus dapat dipercaya dan setia terhadap amanah yang diberikan pasien kepadanya. Pasien berobat kepada dokter, karena percaya bahwa dokter akan menolongnya untuk mengatasi penyakit yang dideritanya. Hal ini merupakan amanah yang harus dilaksanakan dokter dengan penuh tanggung jawab untuk menggunakan segala pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya demi keselamatan pasiennya.
(6). Asas Kejujuran
Asas ini mengajarkan bahwa, dalam pelayanan kesehatan menghendaki adanya kejujuran dari kedua belah pihak, baik dokter maupun pasiennya.Dokter harus secara jujur mengemukakan hasil pengamatan dan pemeriksaan yang dilakukan kepada pasien, dan pasien pun harus secara jujur mengungkapkan riwayat perjalanan penyakitnya. Dalam praktik pelayanan kesehatan, pelaksanaan informed consent harus berorientasi pada kejujuran.
2.2.3. Syarat-Syarat Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kedokteran berbeda dengan pelayanan kesehatan masyarakat, untuk dapat disebut sebagai suatu pelayanan yang baik, keduanya harus memiliki berbagai persyaratan pokok. Syarat pokok pelayanan kesehatan yaitu :26
1. Tersedia dan berkesinambungan (available and continuous)
26Azwar, 1996, Pengantar Administrasi Kesehatan, Ed 3, Binarupa Aksara, Jakarta, h. 16.
Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan adalah harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous), artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit untuk ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat pada setiap dibutuhkan.
2. Dapat diterima dan wajar (acceptable and appropriate)
Pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat.Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.
3. Mudah dicapai (accessible)
Pengertian ketercapaian adalah dari sudut lokasi.Pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik.Pelayanan kesehatan dianggap tidak baik apabila terlalu terkonsentrasi di daerah perkotaan saja dan tidak ditemukan di pedesaan.
4. Mudah dijangkau (affordable)
Pengertian keterjangkauan terutama dari sudut biaya.Biaya pelayanan kesehatan harus sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
5. Bermutu (quality)
Mutu menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan,
dan di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan.
2.2.4. Standart Pelayanan Kesehatan
Bagian penting dari suatu pelayanan kesehatan adalah tersedia dan dipatuhinya standar, karena pelayanan kesehatan yang bermutu adalah bila pelayanan tersebut dilaksanakan sesuai dengan standar yang ada.Umumnya petugas banyak menemui variasi pelaksanaan pelayanan kesehatan.Dalam penjaminan mutu pelayanan kesehatan standar digunakan untuk menjadikan variasi yang ada seminimal mungkin.27
Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.28
Dari pengertian di atas maka apabila dihubungkan dengan standar pelayanan kesehatan maka disini sudah pasti berhubungan dengan pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri seperti puskesmas atau rumah sakit sebagai tempat yang memberikan pelayanan kesehatan, dan secara langsung hal
27Bustami, 2011, Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan dan Akseptabilitasnya, Erlangga, Jakarta, h. 21.
28Indra Bastian Suryono, 2011, Penyelesaian Sengketa Kesehatan, Salemba Medika, Jakarta, h. 182.
tersebut berhubungan dengan tenaga kesehatan, maka untuk mengetahui standar pelayanan kesehatan kita dapat melihatnya dari standar profesi medik/standar kompetensi tenaga kesehatan.29
Untuk mengetahui standar pelayanan kesehatan maka harus melihat pada standar pelayanan kesehatan yang harus dimiliki oleh pemberi pelayanan kesehatan dalam hal ini penyedia layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit dan dari tenaga kesehatan itu sendiri seperti dokter, perawat, apoteker dan lain-lain.
Pelayanan kesehatan baik di puskesmas, rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait, saling tergantung, saling mempengaruhi antara satu sama lain. Standar pelayanan kesehatan yang baik terdiri dari 3 komponen yang harus dimiliki yaitu adanya masukan (input, disebut juga structure), proses, dan hasil (outcome).30
a Masukan (input)
Masukan (input) yang dimaksud di sini adalah sarana fisik, perlengkapan dan peralatan, organisasi dan manajemen keuangan, serta sumber daya manusia dan sumber daya lainnya di puskesmas dan rumah sakit.
Beberapa aspek penting yang harus mendapat perhatian dalam hal ini adalah kejujuran, efektivitas, serta kuantitas dan kualitas dari masukan yang ada.
29Ibid, h. 183.
30Bustami, op.cit, h. 16-17.
Pelayanan kesehatan yang baik memerlukan dukungan input yang bermutu yaitu sumber daya yang ada perlu diorganisasikan dan dikelola sesuai dengan perundang-undangan dan prosedur kerja yang berlaku dalam hal ini adalah memiliki tenaga kesehatan yang baik yang bekerja secara profesional.
b Proses yang Dilakukan
Proses adalah semua kegiatan atau aktivitas dari seluruh karyawan dan tenaga profesi dalam interaksinya dengan pelanggan. Baik tidaknya proses yang dilakukan di puskesmas atau rumah sakit dapat diukur dari :
1). Relevan atau tidaknya proses yang diterima oleh pelanggan dalam hal ini pasien;
2). Efektif atau tidaknya proses yang dilakukan; dan 3). Mutu proses yang dilakukan.
Variable proses merupakan pendekatan langsung terhadap pelayanan kesehatan. Semakin patuh petugas atau tenaga kesehatan terhadap standar pelayanan kesehatan, maka semakin baik pula standar pelayanan kesehatan yang dimiliki.
c Hasil yang Dicapai
Hasil yang dicapai disini adalah merupakan tindak lanjut dari pelayanan kesehatan yang diberikan terhadap pasien, apakah pelayanan kesehatan yang diberikan telah sesuai dengan standar pelayanan kesehatan yang ada atau tidak dapat dilihat dari hasil pengobatan yang diberikan kepada
pasien dan apakah pasien tersebut dengan melihat dari kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan tersebut.
Mengenai standar pelayanan kesehatan di rumah sakit diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 129 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.Hal tersebut berarti segala hal yang bersangkutan dengan standar pelayanan kesehatan harus sesuai dengan yang ada di dalam peraturan menteri tersebut.
2.3 Pasien
2.3.1. Pengertian Pasien
Pasien atau pesakit adalah seseorang yang menerima perawatan medis.
Kata pasien dari bahasa Indonesia analog dengan kata patient dari bahasa Inggris. Patient diturunkan dari bahasa Latin yaitu patiens yang memiliki kesamaan arti dengan kata kerja pati yang artinya “menderita”.Konotasi yang melekat pada kata itu adalah ketergantungan. Karena alasan inilah banyak perawat memilih kata pasien, yang berasal dari kata kerja bahasa latin yang artinya “bersandar” dan berkonotasi bekerja sama dan independen. Sedangkan menurut Kamus Besar Basar Bahasa Indonesia, pasien adalah orang sakit (yang dirawat dokter), penderita (sakit).
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyebutkan bahwa pasien adalah setiap
orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pasien adalah setiap orang yang menerima/memperoleh pelayanan kesehatan secara langsung maupun tidak langsung dari tenaga kesehatan.
2.3.2. Jenis-Jenis Pasien
Tempat Penerimaan Pasien (TPP) adalah pintu gerbang rumah sakit yang menerima pasien dengan jenisnya masing-masing. Adapun jenis-jenis pasien di rumah sakit antara lain :31
1). Pasien baru
Pasien baru di rumah sakit digolongkan menjadi 3 bagian yaitu : a. Pasien rawat jalan adalah pasien yang datang ke rumah sakit
tetapi dapat menunggu;
b. Pasien rawat inap adalah pasien yang datang ke rumah sakit tetapi dapat menunggu dan menginap;
c. Pasien gawat darurat adalah pasien yang datang ke rumah sakit tetapi tidak dapat menunggu (harus segera ditolong).
2). Pasien lama
31Anonim, 2015, “Jenis-Jenis Pasien”,http://www.medrec07.com/2015/01/jenis-jenis- pasien.html, diakses tanggal 9 Januari 2017.
Pasien lama di rumah sakit digolongkan menjadi 2 bagian yaitu : a. Pasien rawat jalan
1). Pasien perjanjian adalah pasien yang sebelum datang ke rumah sakit tanpa disiapkan rekam medis terlebih dahulu, dengan kata lain rekam medis diambil dari rak penjajaran setelah pasien datang dan menyelesaikan administrasi keuangan.
2). Pasien non perjanjian adalah pasien yang sebelum datang ke rumah sakit telah disiapkan rekam medisnya terlebih dahulu, dengan kata lain rekam medis diambil dari rak penjajaran sebelum pasien datang dan menyelesaikan administrasi keuangan.
b. Pasien rawat inap
1). Elektif adalah pasien yang masuk rawat inap dengan persiapan dan perencanaan suatu tindakan medis, dengan kata lain pasien datang ke rumah sakit dengan persiapan mental dan perencanaan biaya yang telah diketahui dan disiapkan.
2). Non elektif adalah pasien yang masuk rawat inap tanpa persiapan dan perencanaan suatu tindakan medis karena indikasi medis yang diketahui setelah pasien masuk rumah
sakit dengan kategori berobat jalan, atau dengan kata lain pasien masuk rumah sakit karena perlu penanganan lebih lanjut setelah rawat jalan.
3). Pasien gawat darurat adalah pasien yang segera harus ditolong karena indikasi medis yang tiba-tiba.
3). Pasien umum
Pasien umum adalah pasien yang karena penyakitnya harus mendapatkan pelayanan.Petugas rekam medis di TPP menerima pasien dari semua jenis umur, jenis kelamin dan jenis penyakit.
4). Pasien Bayi baru lahir
Pasien Bayi baru lahir adalah pasien yang memberian identitasnya di TPP rawat inap terdiri dari :
a. Nama Ibu;
b. Nama Ayah;
c. Nomor rekam medis;
d. Nama dokter/bidan yang menolong anak ke berapa, bayi lahir:
gentasi, partus dan abortus (GPA);
e. Nama Bayi;
f. Nomor penang;
g. Nama pemberi nomor penang;
h. Tanggal lahir;
i. Jam lahir;
j. Jenis kelamin;
k. Warna kulit bayi;
l. Berat badan;
m. Panjang badan;
n. Cap ibu jari tangan kanan ibu;
o. Cap telapak kaki bayi kanan dan kiri.
5). Pasien tidak dikenal
Pasien tidak dikenal adalah pasien yang karena penyakitnya harus mendapat pelayanan.Petugas rekam medis di TPP menerima pasien dari semua jenis umur, jenis kelamin dan jenis penyakit.
2.4 Dokter
2.4.1. Pengertian Dokter
Dokter (dari bahasa Latin yang berarti “guru”) adalah seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit.Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter.Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar dalam bidang kedokteran.
Sedangkan dalam bukunya, Endang Kusuma Astuti menyebutkan pengertian dokter adalah orang yang memiliki kewenangan dan izin sebagaimana mestinya untuk melakukan pelayanan kesehatan, khususnya memeriksa dan mengobati penyakit dan dilakukan menurut hukum dalam pelayanan kesehatan.32
Dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dokter adalah seseorang yang berwenang untuk melakukan pelayanan kesehatan berdasarkan keilmuan dan izin yang dimilikinya.
32 Endang Kusuma Astuti, 2009, Perjanjian Terapeutik Dalam Upaya Pelayanan Medis di Rumah Sakit, Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 17.
2.4.2. Tugas Dokter
Adapun tugas seorang dokter adalah meliputi hal-hal sebagai berikut:33 1). Melakukan pemerikasaan pada pasien untuk mendiagnosa penyakit
pasien;
2). Memberikan terapi untuk kesembuhan penyakit pasien;
3). Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan sakit;
4). Menangani penyakit akut dan kronik;
5). Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar;
6). Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke RS;
7). Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat di RS dan memantau pasien yang telah dirujuk atau dikonsultasikan;
8). Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya;
9). Memberikan nasihat untuk perawatan dan pemeliharaan sebagai pencegahan sakit;
10). Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, pengobatan pasien harus komprehensif, yaitu mencakup semua tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dokter juga berhak dan berkewajiban untuk melakukan tindakan tersebut untuk kesehatan dan keselamatan
33 Fitri, 2014, “Profesi Dokter: Definisi, Kompetensi Dasar dan Tugas Dokter”, http://sehat.link/definisi-dan-sejarah-terbentuknya-profesi-dokter.info, diakses tanggal 11 Januari 2017.
pasien. Tindakan promotif misalnya memberikan saran atau penyuluhan, preventif misalnya melakukan vaksinasi, kuratif memberikan obat atau tindakan operasi, dan rehabilitatif misalnya rehabilitasi medis;
11). Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya meningkatkan standar kesehatan, pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi penyakit;
12). Mawas diri dan mengembangkan diri/belajar sepanjang hayat dan melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmu kedokteran;
13). Memberikan Surat Keterangan Sakit dan Surat Keterangan Berbadan Sehat setelah melakukan pemeriksaan pada pasien sebagai wewenang eksklusif dokter.
BAB III
PELAYANAN BPSK DALAM PEMENUHAN HAK-HAK KONSUMEN DALAM HAL SENGKETA ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN
3.1 Hubungan Antara Pasien dan Dokter
Hubungan dokter dan pasien pada dasarnya merupakan hubungan hukum keperdataan, dimana pasien datang kepada dokter untuk disembuhkan penyakitnya dan dokter berjanji akan berusaha mengobati atau menyembuhkan penyakit pasien tersebut (perjanjian terapeutik). Hubungan keperdataan adalah hubungan hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berada dalam kedudukan yang sederajat, setidak- tidaknya pada saat para pihak akan memasuki hubungan hukum tertentu. Timbulnya dan adanya perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen didahului dengan adanya hubungan antara dokter dengan pasien.34
Dalam bukunya, Veronica Komalawati menguraikan pengertian tentang hubungan antara dokter dan pasien di bidang medis menurut beberapa ahli, antara lain :35
a. Russel menyatakan bahwa hubungan antara dokter dan pasien lebih merupakan hubungan kekuasaan, yaitu hubungan antara pihak yang memiliki wewenang (dokter) sebagai pihak yang aktif, dengan pasien
34 Syahrul Machmud, loc.cit.
35 Veronica Komalawati, op.cit, h. 43-44.
46