SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH HASRAWATI 10538 01955 10
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI 2015
viii Yakinkan hatimu bahwa setiap perjuangan
pasti akan membuahkan keberhasilan karena kgagalan
hanyalah milik mereka yang berputus asa.
Kupersembahkan karya ini buat : Kedua orang tuaku, suami dan Anakku tercinta, saudaraku, dan Sahabatku, atas keikhlasan dan do’anya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan.
x
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdullah, sembah sujud yang tak terhingga sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Hidayahnya sehingga penulis dapat menyusun proposal ini. Tak lupa juga Shalawat dan salam atas junjungan nabi besar Muhammad SAW., dan keluarga beserta sahabat.
Dalam penulisan proposal ini penulis mengalami berbagai hambatan dan kesulitan, namun hal itu dapat teratasi dengan baik berkat kerja keras dan tekad yang bulat serta bantuan dan dukungan dari semua pihak .
Setiap orang berkarya pasti mencari kesempurnaan, begitu juga dengan tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Namun dibalik semua itu, kesempurnaan tiada milik manusia kecuali milik yang Maha sempurna, penulis hanya mampu mengerahkan segala daya dan upaya agar tulisan ini dapat bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam penyelesaian tulisan ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya Muh. Sain dan Haerati yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu.
xi
2. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, 3. Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar,
4. Dr. H. Nursalam M,Si., Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi, dan
5. Muhammad Akhir S.Pd., M,Pd., Sekertaris Jurusan Pendidikan Sosiologi serta seluruh dosen dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin seseorang akan menjadi dewasa ketika telah dihadapkan oleh berbagai macam persoalan begitu pula dengan tulisan ini, tidak akan menjadi tulisan yang berarti tanpa adanya kritikan, mudah-mudahan dapat member manfaat bagi pembaca terutama bagi penulis sendiri. Amin.
Makassar, Februari 2015
Penulis
xiv
1.1 Teknik Kategori Standar Berdasarkan Ketetapan DEPDIKNAS ... 32
2.1 Jadwal Penelitian... 33
3.1 Observasi Sikap Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus I... 38
3.1.2 Distribusi Frekuensi Kehadiran Siswa pada Siklus ...39
3.1.2 Distribusi Frekuensi Siswa dalam Hal Keaktifan Berbicara pada Siklus ...39
3.1.3 Distribusi frekuensi keaktifan siswa dalam hal menanggapi pada siklus I ... 40
3.2 Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus I ... 40
3.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Siklus I ... 41
4.1 Tabel Observasi Sikap Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus II ... 46
4.1.1 Distribusi Frekuensi Kehadiran Siswa pada Siklus II... 47
4.1.2 Distribusi Frekuensi Siswa Dalam Hal Keaktifan Berbicara pada Siklus II ...47
4.1.3 Distribusi Frekuensi Keaktifan Siswa Dalam Hal Menanggapi pada Siklus ...48
4.2 Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus II ... 48
4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Siklus II ...49
4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Sosiologi Siswa... 50
xv
1.1 Skema Kerangka Pikir ... 22
2 .1 Alur PTK (Model Kemmis dan Mc. Taggar... 25
3.1 Diagram Batang Siklus I... 52
3.2 Diagram Batang Siklus II ... 52
1
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu kewaktu semakin pesat. Dan tentunya mengakibatkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, salah satu diantaranya adalah pendidikan. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan adanya peningkatan mutu pendidikan, karena dengan melalui pendidikan akan tercipta manusia yang berkemampuan dan memiliki keterampilan yang tinggi, oleh sebab itu permasalahan pendidikan di era perkembangan ini harus mendapat perhatian yang serius dari semua kalangan, baik pemerintah maupun masyarakat luas.
Begitu pula bahwa pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangannya. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi siswa. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang
bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang. Menurut Buchori (dalam Trianto, 2009: 5) Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para peserta didiknya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa peningkatan kualitas pendidikan, penyempurnaan pendidikan atau perbaikan pendidikan formal untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan dalam persaingan di era globalisasi, khususnya di Negara-negara berkembang seperti Indonesia agar dapat bersaing dengan Negara-negara maju di dunia. Olehnya perlu terus menerus dilakukan optimalisasi penyempurnaan pendidikan berkenaan dengan perkembangan kebutuhan dunia usaha/ dunia industri, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pada peningkatan kualitas siswa, guru sebagai tenaga pengajar sangat berperan utama dalam menentukan keberhasilan dan peningkatan belajar siswa. Demikian pula siswa memegang peranan penting dalam menerima pelajaran. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari strategi belajar mengajar yang mencakup mutu, metode/teknik, media yang digunakan, dan cara guru memotivasi siswa agar berminat dan giat belajar.
Akan tetapi optimalisasi penyempurnaan pendidikan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan karena karena banyaknya kendala, dimana pada
kenyataannya dalam penyelenggaraan pendidikan formal (sekolah) guru sering mendapati berbagai macam kendala dalam proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran sosiologi. Salah satu kendala utama satu kendala utama adalah kurangnya antusias siswa untuk belajar sosiologi, siswa lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, diam dan enggan dalam mengemukaan pertanyaan maupun pendapat. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional yang penekanannya siswa sebagai objek dan guru sebagai subyek pembelajaran. Padahal dalam kerangka pembelajaran sosiologi, siswa mesti dilibatkan secara mental, fisik dan sosial untuk membukikan sendiri tentang kebenaran dari teori-teori dan hokum-hukum sosiologi yang telah dipelajari dari melalui proses ilmiah. Jika hal ini tidak mencakup dalam proses pembelajaran dapat dipastikan penguasaan konsep sosiologi akan kurang dan menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa yang pada akhirnya akan mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan
Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dicarikan solusi yang dapat mengatasi masalah-masalah tersebut., dalam hal ini guru dituntut bukan hanya sekedar menguasai materi plajaran yang akan diajarkan tapi juga dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sedikit inovatif, kreatif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran. Inovasi-inovasi yang dilakukan dalam hal ini salah satunya adalah mengganti pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran kooperatif.
Menurut Roger, dkk (dalam Huda, 2011: 29), pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang di organisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok siswa yang didalamnya setiap siswa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota kelompok kecil untuk mengerjakan tugas akademik demi mencapai tujuan bersama.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sosiologi kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 6 Bulukumba, yaitu Bapak A, S.Pd., bulan januari lalu, menjelaskan bahwa jumlah siswa kelas XI IPS 2 sebanyak 36 orang dan kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada kelas ini adalah 65. Rata-rata ulangan harian pada kelas XI IPS 2 adalah 60. Berdasarkan data yang diperoleh menyatakan siswa yang mampu memenuhi standar KKM hanya sekitar 25% (9 orang), sedangkan yang belum memenuhi standar KKM sekitar 75% (27 orang) dari 36 orang siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas XI IPS 2 dalam menyelesaikan soal ulangan terhitung rendah, dan perlu adanya tindakan bagi para guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hal tersebut maka, pembelajaran sosiologi sebaiknya dilaksanakan dengan menekankan pada Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan. Akan tetapi efektif tidaknya model pembelajaran yang diterapkan, tidak ditentukan oleh kecanggihan suatu model pembelajaran saja, karena pada prinsipnya tidak ada satu model pembelajaran pun yang terbaik.
Model pembelajaran yang terbaik adalah model pembelajaran yang relevan
dengan tujuan kompetensi yang hendak dicapai. Salah satu model yang yang dimaksudkan adalah model pembelajaran kooperatif case study yang diharapkan mampu menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja, dan bersikap ilmiah dalam proses pembelajaran, yang terpenting siswa bukan sekedar penerima pesan akan tetapi dia sekaligus penyampai pesan.
Dengan dasar inilah yang mendorong penulis unuk mencoba melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Case Study Pada Materi Pembelajaran Sosiologi Pokok Bahasan Diferensiasi Sosial (Komunitas Nelayang Di Alorang) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba”
B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
a. Rendahnya hasil Belajar siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba khususnya dalam pembelajaran sosiologi,
b. Kecenderungan guru menerapkan model pembelajaran konvensional yang dirasa tidak tepat.
2. Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif pemecahan masalahnya adalah mengganti model pembelajaran lama dengan model pembelajaran kooperatif tipe case study
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: ”Apakah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Case Study dapat meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi dari nilai 60 menjadi minimal 65 pada Pokok Bahasan Diferensiasi Sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah terebut di atas, maka tujuan penelitan ini adalah untuk meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi pada Pokok Bahasan Diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba dengan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Case Study.
D. Manfaat Penelitian
Adapun mamfaat hasil penelitian ang diharapan adalah sebagai berkut:
1. Manfaat Teoretis
Dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan akurat tentang kemampuan siswa dalam menganalisis diferensiasi sosial dengan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Case Study pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
b. Bagi guru memberikan informasi mengenai manfaat penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Case Study dalam meningkatkan peran serta siswa dalam proses pembelajaran.
c. Bagi siswa yaitu untuk melatih siswa lebih aktif dan kreatif serta menumbuhkan semangat kerja sama dalam Pembelajaran Kooperatif Case Study.
d. Bagi Peneliti
Dapat memberikan bekal, wawasan, dan pengalaman bagi peneliti sebagai calon guru yang siap melaksanakan tugas lapangan serta mengetahui tentang Model Pembelajaran Kooperatif Case Study
8 A. Landasan Teori
1. Kajian Tentang Belajar
Sampai saat ini, hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang belajar. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Berikut ini beberapa perumusan tentang belajar:
a. Menurut Winkel (1996) belajar dapat didefinisikan sebagiai suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relative, konstan dan terbatas.
b. Menurut Burton (Aunurrahman, 2009: 35), pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi.
c. Menurut Degeng bahwa belajar merupakan pengaitan pengetahuan pada struktur kognitif yang sudah dimiliki peserta didik, hal ini mempunyai arti bahwa dalam proses belajar, peserta didik akan menghubung-hubungkan pengetahuan atau ilmu yang telah tersimpan dalam memorinya dan kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan yang baru.
d. Menurut Winkel (1996) belajar dapat didefinisikan sebagiai suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relative, konstan dan terbatas.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang disadari dan mempunyai tujuan sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku dan adanya latihan-latihan, aktivitas mental/ psikis, serta adanya pengaitan antara pengetahuan yang tersimpan dalam memori dengan pengetahuan baru, untuk menuju perkembangan pribadi seutuhnya.
2. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik (Suprijono, 2012: 6).
Hasil merupakan seuatu yang diperoleh melalui suatu aktivitas, sedangkan belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan perubahan pada individu, yakni perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh peserta didik setelah melalui proses belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Hasil belajar yang dicapai peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri peserta didik dan faktor dari luar diri peserta didik (Sudjana). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri peserta didik perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark bahwa hasil belajar peserta didik disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik dan 30% dipengaruhi
oleh lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri peserta didik yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran.
Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja.
Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil. Hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh kamampuan peserta didik dan kualitas pengajaran.
Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).
Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu peserta didik berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri peserta didik yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh peserta didik berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.
3. Peningkatan Hasil Belajar sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu yang berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat yang menjadi objek kajiannya. Sebagaimana
dikemukakan oleh Hotman M. Siahaan (dalam Murdiyatmoko, 2007: 14) bahwa sosiologi merupakan refleksi dari keadaan masyarakat yang sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya merupakan hasil dari keadaan masyarakat itu sendiri. Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai model. Sebagai ilmu, Sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai model, Sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Pembelajaran Sosiologi di Sekolah Menengah berfungsi untuk meningkatkan kemampuan peserta didik mengaktualisasikan potensi diri mereka dalam mengambil dan mengungkapkan status dan peran masing- masing dalam kehidupan sosial dan budaya yang terus mengalami perubahan dan Tujuan pembelajaran sosiologi di Sekolah Menengah pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pembelajaran Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar Sosiologi agar peserta didik mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku peserta didik yang rasional dan kritis
dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari- hari.
Ruang lingkup mata pelajaran sosiologi adalah sebagai berikut:
a. Sosiologi sebagai ilmu dan model b. Interaksi sosial
c. Sosialisasi d. Struktur sosial e. Kebudayaan
f. Perubahan sosial budaya g. Dll.
4. Pengertian Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial adalah proses penempatan orang – orang dalam berbagai kategori sosial yang berbeda, yang didasarkan pada perbedaan – perbedaan yang diciptakan secara sosial. Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah variasi pekerjaan, prestise, dan kekuasaan kelompok dalam masyarakat, yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat umum dari proses interaksi sosial yang lain.
Diferensiasi sosial terjadi akibat pola interaksi individu yang memiliki ciri – ciri fisik dan nonfisik berbeda – beda, meliputi :
1. Ciri Fisik seperti bentuk dan tinggi tubuh, raut muka, warna kulit, warna rambut, dan lain – lain.
2. Ciri sosial budaya , antara lain kecerdasan, motivasi, dedikasi, minat, dan bakat. Dalam lingkup yang lebih luas meliputi bentuk prganisasi, kebiasaan, dan sistem nilai budayalainnya.
Diferensiasi sosial merupakan karakteristik sosial yang membuat individu atau kelompok terpisah dan berbeda satu sama lain. Perbedaan ini didasarkan pada beberapa Faktor, yaitu :
a. Usia,
b. Gender (jenis kelamin) c. Latar belakang etnis.
Bentuk – bentuk diferensiasi sosial 1. Ras dan Etnis
2. Agama dan Kepercayaan 3. Gender (jenis kelamin) 4. Profesi
5. Klan (Clan) 6. Suku Bangsa 5. Pengertian Profesi
Profesi (profession) adalah jenis pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan teknik atau keterampilan secara intelektual. Jadi, untuk menjadi seseorang yang professional tidak cukup hanya berbekal latihan, tetapi harus pula terampil (kompoten) serta teruji dalam menjalankan tugas – tugas khususnya. Seorang professional hanya menekuni dan mengembangkan satu jenis pekerjaan saja dan bidan pekerjaan tersebut
diakui secara luas oleh masyarakat, misalnya dokter, hakim, guru, arsitek, peneliti biologi, sosiolog, dan lain – lain. Karena suatu profesi bersifat khusus, maka dia akan melahirkan diferensiasi sosial. Artinya tidak ada perbedaan tinggi rendah, terhormat tidak terhormat diantara profesi – profesi tersebut.
6. Pembelajaran koperatif a. Pengertian Kooperatif
Ada beberapa definisi tentang pembelajaran kooperatif yang dikemukakan para ahli pendidikan. Belajar kooperatif bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai guru dan mungkin peserta didik kita pernah menggunakannya atau mengalaminya misalnya saat bekerja dalam lobaratorium.
Roger, Dkk. (dalam Huda, 2011: 29) menyatakan bahwa cooperative learning is group structured change of information between learners in group in which each learner is held accountable for his or her own learning and is motivated to increase the learning of others (pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh suatu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara social diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota lain).
Selanjutnya menurut Parker mendefinisikan kelompok kecil kooperatif sebagai suasana pembelajaran dimana para peserta didik saling berinteraksi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas.
Akademik demi mencapai tujuan bersama. Sementara itu, Davidson (dalam Huda 2011: 30) mendefinisikan pembelajaran kooperatif secara terminologis dan perbedaannya dengan pembelajaran koolaboratif. Menurutnya, pembelajaran kooperatif merupakan suatu konsep yang sebenarnya sudah ada sejak dulu dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini memang dikenal sangat penting untuk meningkatkan kinerja kelompok, organisasi, dan perkumpulan manusia.
Artz and Newman (dalam Huda 2011: 32) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal (kelompok kecil pembelajar/ peserta didik yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mencapai suatu tujuan bersama).
Dengan demikian, pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas kelompok-kelompok peserta didik tersebut. Dalam pembelajaran ini, guru diharapkan mampu membentuk kelompok- kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua anggotanya
dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajarannya sendiri dan pembelajaran teman-teman sekelompoknya. Masing- masing anggota kelompok bertanggung jawab mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman-teman satu anggota untuk mempelajarinya juga.
Singkatnya, pembelajaran kooperatif mengacu pada model pembelajaran dimana peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. Pembelajaran kooperatif umumnya melibatkan kelompok yang terdiri dari 4 peserta didik dengan kemampuan yang berbeda dan ada pula yang menggunakan kelompok dengan ukuran berbeda.
Pembelajaran kooperatif biasanya menempatkan peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil selama beberapa minggu atau bulan kedepan untuk kemudian diuji secara individual pada hari ujian yang telah ditentukan. Sebelumnya kelompok-kelompok peserta didik ini di beri penjelasan/ pelatihan tentang :
1) Bagaimana menjadi pendengar yang baik 2) Bagaimana memberi penjelasan yang baik
3) Bagaimana mengajuakan pertanyaan dengan baik
4) Bagaimana saling membantu dan menghargai satu sama lain dengan cara yang baik pula.
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pengembangan pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mencapai hasil belajar, penerimaan terhadap keragaman, dan
pengembangan keterampilan sosial. Masing-masing tujuan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pencapaian Hasil Belajar. Memusatkan perhatian pada kelompok pembelajaran kooperatif dapat mengubah norma budaya anak muda dan membuat budaya lebih dapat menerima prestasi menonjol dalam berbagai tugas pembelajaraan akademik. Disamping merubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan pada peserta didik yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, baik kelompok bawah maupun kelompok atas.
2. Penerimaan terhadap keberagaman. Efek penting yang kedua dari model pembelajaran kooperatif ialah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, tingkat sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan.
3. Pengembangan keterampilan sosial. Tujuan penting ketiga ialah untuk mengajarkan kepada peserta didik keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat, banyak kerja orang dewasa dilakukan dalam organisasi yang bergantung satu sama lain dalam masyarakat meskipun beragam budayanya.
Selain unggul dalam membantu peserta didik memahami konsep-konsep sulit, model ini sangat berguna untuk membantu peserta didik menumbuhkan kemampuan kerja sama.
c. Unsur Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Kooperatif Menurut Johnson & Johnson (dalam Huda 2011 : 46), terdapat lima unsur penting dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antar peserta didik.
2. Interaksi antar peserta didik semakin meningkat 3. Tanggung jawab individual
4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil 5. Proses kelompok
Selain lima unsur diatas pembelajaran kooperatif juga mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lain, yaitu :
a. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang telah ditetukan.
b. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok.
c. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa peserta didik telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri.
d. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada dasrnya terdiri atas empat tahap yaitu :
1. Penjelasan materi, merupakan tahapan penyampaian pokok- pokok materi pelajaran sebelum sisiwa belajar dalam kelompok.
Tujuannya adalah agar peserta didik memahami materi pelajaran.
2. Belajar kelompok, dilakukan setelah guru menjelaskan materi, peserta didik bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
3. Penilaian, biasa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok.
4. Pengakuan tim, penerapan tim yang dianggap paling menonjol atau berprestasi yang kemudian diberikan penghargaan.
7. Metode Case Study
Metode ini berbentuk penjelasan tentang masalah, kejadian, atau situasi tertentu, kemudian siswa ditugasi mencari alternatif pemecahannya. Kemudian metode ini dapat juga digunakan untuk mengembangkan berpikir kritis dan menemukan solusi baru dari suatu topic yang dipecahkan.
Metode ini dapat dikembangkan atau diterapkan pada siswa manakalah siswa memiliki pengetahuan awal tentang masalah ini.
Metode ini memili keterbatasan sebagai berikut :
a. Mendapat kasus yang telah ditulis yang baik sebagai hasil penelitian lapangan dan sesuai dengan lingkungan kehidupan siswa
b. Mengembangkan kasus sangat mahal.
Metode untuk Mengembangkan Case Study, adalah sebagai berikut:
1. Guru menceritakan/menulis sebuah topic permasalahan yang menarik yang terjadi dalam masyarakat.
2. Harus ditulis topic permasalahannya kemudian dilakukan penelitian dilapangan dan hasil penelitian dibuat dalam bentuk makalah
3. Untuk mempermudah penelitian, peneliti dapat melakukan wawancara kepada masyarakat.
4. Persiapan guru 5. RPP
6. Pelaksanaan Pembelajaran
c. Kegiatan awal, inti, dan akhir d. Metode dan strategi pembelajaran e. Materi pembelajaran
f. Evaluasi
g. Ketercapaian tujuan pembelajaran 7. Perilaku siswa
8. Perasaan guru (keberhasilan, kegagalan, dan persepsinya terhadap siswa)
Dapat disimpulkan langkah penggunnaa dari case study adalah sebagai berikut:
1. Siswa diberikan topik permasalahan
2. Siswa disuruh melakukan studi kasus pada topik permasalahan yang telah diberikan
3. Hasilnya bisa buat dalam bentuk tulisan (makalah).
B. Kerangka Pikir
Pencapaian kompetensi merupakan pencerminan dari hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya kompetensi peserta didik, salah satunya adalah faktor sekolah. Komponen yang termasuk dalam faktor sekolah adalah guru, kurikulum, proses pembelajaran dan peserta didik. Kurikulum sebagai rencana tertulis mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan harus dapat mencerminkan kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Aktivitas belajar siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba masih tergolong rendah terutama saat melakukan kerja sama dengan teman sebangku. Banyak diantara yang apatis dan egois tidak mau bekerja sama walau itu teman sebelahnya mereka kebanyakan lebih mementingkan diri sendiri. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru belum menerapkan model pembelajaran yang memberikan peluang yang lebih luas kepada peserta didik untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Hal ini berakibat pada rendahnya prestasi hasil belajar peserta didik.
Proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Case Study diharapkan dapat meningkatkan peran serta peserta didik, sebab dalam
pelaksanaannya peserta didik dilibatkan secara langsung, mulai dari perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara mempelajarinya melalui diskusi atau pleno kecil. Model pembelajaran Kooperatif Case Study menuntut para peserta didik untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, bekejasama maupun mempresentasekan atau mengutarakan hasil pikirannya. Dengan demikian peserta didik selalu aktif dan selalu dilibatkan dalam proses pembelajaran sehingga tercipta belajar bermakna dan peserta didik termotivasi untuk belajar, yang kemudian akan dapat meningkatkan kompetensi siswa.
Skema kerangka pikir
Gambar 1.1 Skema Kerangka Pikir
SISWA:
Hasil belajar sosiologi rendah GURU:
Belum menggunakan Model Pembelajaran Case Stady
KONDISI AWAL
SIKLUS I:
Pemberian materi Diferensiasi sosial (Komunitas
Nelayan Di
Alorang) MENGGUNAKAN
MODEL
PEMBELAJARAN Case Stady TINDAKAN
SIKLUS II Pemberian materi Diferensiasi sosial (Komunitas Neayan Di Alorang) KONDISI
AKHIR HASIL BELAJAR
SOSIOLOGI MENINGKAT
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Model Pembelajaran kooperatif Case Study dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari skor 60 menjadi minimal 65 pada materi Diferensiasi Sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba”.
24 A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research).
Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus meliputi 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Arikunto (2010: 3) penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan di laksanakan pada bulan Agustus 2015 di SMA Negeri 6 Bulukumba
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam pelaksanaan penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba dengan jumlah siswa 36 orang terdiri atas 28 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.
D. Faktor yang Diselidiki
Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah :
1. Faktor siswa, yaitu untuk melihat kehadiran siswa dan keaktifan siswa dalam belajar sosiologi seperti minat, perhatian siswa terhadap materi dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal minimal yang diberika serta keberanian siswa bertanya
2. Faktor proses, yaitu dengan memperhatikan model yang digunakan dalam pembelajaran di kelas, melihat sejauh mana keberhasilan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajara kooperatif Case Study
3. Faktor hasil, yaitu untuk melihat hasil belajar sosiologi apakah terjadi peningkatan atau tidak setelah diadakan tes.
E. Prosedur Penelitian.
Rancangan penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan terdiri atas dua, yakni siklus pertama, dan siklus kedua. Gambaran umum yang dilakukan pada setiap siklus adalah : Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Mc.
Taggar yang dijabarkan sebagai berikut.
Siklus I
Siklus II
Siklus berikutnya Gambar 2.1 Alur PTK ( Model Kemmis dan Mc. Taggar)
Pelaksanaan Tindakan II Alternatif
Pemecahan Belum
Terselesaikan
Pemahaman Pelaksanaan
Tindakan I Alternatif Pemecahan
(Rencana Tindakan)
Observasi I
Refleksi I Analisis Data I
Terselesaikan
Belum Terselesaikan
Refleksi II Analisis Data II Observasi II
Secara rinci pelaksanaan penelitian untuk dua siklus ini sebagai berikut : 1. Siklus I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan sebanyak 8 jam pelajaran
(8 x 40 menit). Tiga kali pertemuan untuk proses belajar mengajar sebanyak enam kali jam pelajaran (6 x 40 menit), dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus I sebanyak dua jam pelajaran (2 x 40 menit).
2. Siklus II dilaksanakan selama empat kali pertemuan, sebanyak delapan jam pelajaran (8 x 40 menit). tiga kali pertemuan untuk proses belajar mengajar selama enam jam pelajaran (6 x 40 menit), dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus II sebanyak 2 jam pelajaran (2 x 40 menit).
Siklus I
Siklus satu dilaksanakan selama empat kali empat puluh menit (8 x 40 menit). Secara rinci prosedur pelaksanaan tindakan pada siklus ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Tahap Perencanaan
1. Mengembangkan silabus yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
2. Menyusun dan mengembangkan rencana pembelajaran.
3. Guru membuat instrumen pedoman observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.
4. Membuat instrumen tes akhir siklus I untuk mengetahui hasil perkembangan siswa setelah menerapkan strategi pembelajaran Kooperatif Case Study
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
a. Mendapat kasus yang telah ditulis yang baik sebagai hasil penelitian lapangan dan sesuai dengan lingkungan kehidupan siswa
b. Mengembangkan kasus sangat mahal.
Metode untuk Mengembangkan Case Study, adalah sebagai berikut:
1. Guru menceritakan/menulis sebuah topic permasalahan yang menarik yang terjadi dalam masyarakat.
2. Harus ditulis topic permasalahannya kemudian dilakukan penelitian dilapangan dan hasil penelitian dibuat dalam bentuk makalah
3. Untuk mempermudah penelitian, peneliti dapat melakukan wawancara kepada masyarakat.
4. Persiapan guru 5. RPP
6. Pelaksanaan Pembelajaran
a. Kegiatan awal, inti, dan akhir b. Metode dan strategi pembelajaran c. Materi pembelajaran
d. Evaluasi
e. Ketercapaian tujuan pembelajaran 7. Perilaku siswa
8. Perasaan guru (keberhasilan, kegagalan, dan persepsinya terhadap siswa)
Dapat disimpulkan langkah penggunnaa dari case study adalah sebagai berikut:
1. Siswa diberikan topik permasalahan
2. Siswa disuruh melakukan studi kasus pada topik permasalahan yang telah diberikan
3. Hasilnya bisa buat dalam bentuk tulisan (makalah).
3) Tahap Pengamatan
Pada tahap ini ada dua perlakuan yaitu observasi dan evaluasi.
Pelaksanaan tahap observasi terhadap aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar yang menggunakan lembar observasi.
Pelaksanaan evaluasi memberikan tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir tindakan siklus I dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
4) Tahap Refleksi
Pada tahap ini peneliti melakukan refleksi terhadap hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpul kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Refleksi dimaksudkan untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Hasil analisis siklus I inilah yang dijadikan acuan untuk merencanakan siklus II dimana aspek-aspek yang diangap bagus tetap dipertahankan, sedangkan kekurangannya menjadi pertimbangan dan revisi pada siklus berikutnya.
Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II ini relatif sama dengan pelaksanaan tindakan pada siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan- perbaikan dari siklus I sehingga hasil belajar meningkat. Siklus ini dilakukan selama delapan kali empat puluh lima menit (8 x 40 menit). Secara rinci prosedur tindakan pada siklus ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Tahap Perencanaan
1. Mempersiapkan perangkat pembelajaran.
2. Membuat rencana pembelajaran.
3. Membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan siswa selama tindakan berlangsung.
4. Membuat tes prestasi belajar siswa siklus II sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal- soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus II.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
1. Guru menceritakan/menulis sebuah topic permasalahan yang menarik yang terjadi dalam masyarakat.
2. Harus ditulis topic permasalahannya kemudian dilakukan penelitian dilapangan dan hasil penelitian dibuat dalam bentuk makalah
3. Untuk mempermudah penelitian, peneliti dapat melakukan wawancara kepada masyarakat.
4. Persiapan guru 5. RPP
6. Pelaksanaan Pembelajaran a. Kegiatan awal, inti, dan akhir b. Metode dan strategi pembelajaran c. Materi pembelajaran
d. Valuasi
e. Ketercapaian tujuan pembelajaran 7. Perilaku siswa
8. Perasaan guru (keberhasilan, kegagalan, dan persepsinya terhadap siswa)
Dapat disimpulkan langkah penggunnaa dari case study adalah sebagai berikut:
1. Siswa diberikan topik permasalahan
2. Siswa disuruh melakukan studi kasus pada topik permasalahan yang telah diberikan
3. Hasilnya bisa buat dalam bentuk tulisan (makalah).
3) Tahap Pengamatan
Melakukan observasi aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi. Melakukan evaluasi dengan memberikan tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir tindakan siklus II dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
4) Tahap Refleksi
Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi akan dianalisis dan merupakan hasil akhir pelaksanaan tindakan siklus II yang telah dilakukan. Kemudian melakukan refleksi dengan maksud untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu diadakan perbaikan.
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi
Data tentang kondisi proses belajar mengajar selama tindakan dilakukan diambil dengan menggunakan observasi baik secara langsung dan tidak langsung dengan beberapa indikator yang diamati.
2. Data tes hasil belajar
Tes digunakan untuk mengambil data pada siklus I dan siklus II yaitu untuk mendapatkan data tentang hasil belajar yang dicapai siswa selama proses pembelajaran baik kognitif, afektif maupun psikomotorik
G. Instrumen Penelitian
1. Pedoman Observasi : Berupa check List tentang aktivitas siswa dalam menjawab soal-soal yang diberikan
2. Tes berupa pemberian soal 7 nomor pada siklus I dan 2 nomor pada siklus II
H. Teknik Analisis Data
Data hasil belajar siswa berupa tes akan dianalisis dengan menggunakan skor yang berdasarkan penilaian acuan patokan, dihitung berdasarkan skor maksimal yang mungkin dicapai oleh siswa. Nilai yang diperoleh dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar Diferensiasi Sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) adalah berdasarkan teknik kategorisasi yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang dinyatakan sebagai berikut :
Tabel 1.1 Teknik Kategori Standar Berdasarkan Ketetapan DEPDIKNAS (Purwanto. 2004: 32)
No Persentase Tingkat Penguasaan Kategori Kategori
1 0-54 Sangat rendah
2 55-64 Rendah
3 65-79 Sedang
4 80-89 Tinggi
5 90-100 Sangat tinggi
I. Indikator Keberhasilan
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar nilai dan norma siswa setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif Case Study. Indikator lain yang digunakan adalah kriteria ketuntasan belajar yaitu siswa dinyatakan tuntas belajar apabila mencapai skor rata-rata minimal 65 dan tuntas secara klasikal jika minimal 65 % dari jumlah keseluruhan siswa yang mendapat skor 65.
J. Jadwal Penelitian
Tabel 2.1 Jadwal Penelitian
No Rencana Kegiatan Waktu (Minggu ke-)
1 Persiapan 1 2 3 4 5 6 7 8
Menyusun konsep pelaksanaan Menyusun Instrumen
Menyusun alat evaluasi Lain-lain
2. Pelaksanaan
Menyiapkan kelas dan alat Melakukan tindakan siklus I Melakukan tindakan siklus II
3. Analisis Data
34 A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil penelitian mengenai pengembangan hasil belajar Sosiologi siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba melalui model pembelajaran Kooperatif tipe Case Study yang terdiri atas dua siklus dan masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi. Tiap siklus dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif.
Data kualitatif merupakan data sikap siswa yang diperoleh melalui lembar observasi. Data kuantitatif merupakan data yang diteliti dengan menggunakan analisis statistik diskriptif. Analisis diskriptif kuantitatif yang dimaksudkan ini untuk memberikan gambaran umum mengenai kehadiran dan keaktifan siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba dalam materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Case Study. Keaktifan yang dimaksudkan dalam pengamatan ini terdiri dari 2 yaitu keaktifan berbicara dan keaktifan menanggapi.
Adapun untuk keperluan analisis diskriptif yang digunakan dalam indikator keaktifan digunakan kategori apabila:
1. 2 kali berbicara berarti dikategorikan tidak aktif, 2. 2 kali berbicara dikategorikan aktif.
Sedangkan keperluan analisis diskriptif yang digunakan dalam indikator kehadiran digunakan kategori apabila:
1. 2 kali hadir dikategorikan tidak rajin, 2. 2 kali hadir dikategorikan rajin.
1. Kegiatan Hasil Siklus I a. Tahap perencanaan
Adapun tahap perencanaan siklus I adalah:
1) Peneliti melakukan diskusi awal dengan guru mata pelajaran sosiologi untuk membahas tentang pelaksanaan penelitian kemudian menelaah kurikulum SMA kelas XI untuk menyesuaikan materi sedemikian rupa sehingga dapat diajarkan selama 4 kali pertemuan.
2) Membuat rencana pengajaran sesuai dengan kurikulum untuk setiap pertemuan. Dalam pembuatan rancangan pelaksanaan pembelajaran ini akan dibuatkan soal-soal yang akan diberikan kepada siswa pada akhir siklus I sebagai bahan evaluasi berdasar materi yang diajarkan.
3) Membuat lembar observasi untuk mengamati proses pembelajaran di kelas.
4) Menyiapkan referensi-referensi yang relevan demi kelancaran selama dalam pelaksanaan penelitian.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan Pertemuan Ke I:
Adapun pelaksanaan tindakan pada pertemuan I yaitu pada kegiatan awal guru memberikan salam, melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen dan berkenalan dengan siswa. Setelah itu sebelum guru
memberikan catatan materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang), terlebih dahulu guru memberikan penjelasan secara garis besar kepada siswa mengenai materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang), kemudian guru dan siswa mengadakan tanya-jawab sesuai dengan materi yang diajarkan. Setelah mengadakan Tanya-jawab, guru memberikan kesimpulan materi, membagi kelompok diskusi sebanyak 6 kelompok yang dibagi secara acak untuk mendiskusikan lanjutan materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) minggu depan dan membagi poin-poin materi yang akan didiskusikan oleh setiap kelompok yang disusun dalam bentuk resume, setelah pembagian materi guru menutup pertemuan I.
Pertemuan Ke II:
Pada pertemuan ke II yaitu pada kegiatan awal guru memberikan salam, melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen dan memberikan arahan sebelum diskusi dimulai kemudian guru mempersilahkan kelompok 1 dan 2 untuk mempersentasekan hasil makalanya dan siswa mengadakan diskusi. Setelah diskusi antar siswa selesai, guru memberikan kesimpulan dari hasil diskusi dan mempersilahkan siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahami dari hasil diskusi. Selanjutnya guru memberitahukan kelompok 3 dan 4 untuk mempersentasekan makalanya pada pertemuan selanjutnya. Guru menutup pertemuan ke II.
Pertemuan Ke III:
Pada pertemuan ke III yaitu pada kegiatan awal ketua kelas menyiapkan kelas, melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen dan mengadakan apersepsi mengenai materi yang telah didiskusikan minggu
lalu. Setelah apersepsi guru mempersilahkan kelompok 3 dan 4 untuk mempersentasekan hasil makalanya dan siswa mengadakan diskusi. Setelah diskusi selesai guru memberikan kesimpulan dari hasil diskusi siswa, mempersilahkan siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami dari hasil diskusi dan memberitahukan kelompok 5 dan 6 untuk mempersentasekan hasil makalanya pada pertemuan yang akan datang.
kemudian guru menutup pertemuan ke III.
Pertemuan Ke IV:
Pada pertemuan ke IV yaitu pada kegiatan awal ketua kelas menyiapkan kelas dan guru melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen. Kemudian mempersilahkan kelompok 5 dan 6 untuk mempersentasekan makalanya dan siswa mengadakan diskusi. Setelah diskusi selesai, dan untuk lebih memperjelas guru memberikan kesimpulan dari hasil diskusi siswa serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas. kemudian sebagai tugas akhir siklus guru menyuruh siswa untuk membuat resitasi dari hasil diskusi kelompok I- 6 dan memberitahukan pengadaan evaluasi pekan depan
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
Adapun tahap observasi dan evaluasi dari kegiatan siklus I yaitu:
1. Mengamati kehadiran siswa dengan membuat absensi.
2. Mengamati keaktifan belajar siswa yang terdiri atas keaktifan berbicara dan keaktifan menanggapi dengan menggunakan lembar observasi.
Adapun hasil observasi aktivitas dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus I untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.1 Tabel Observasi Sikap Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus I
No Komponen yang diamati
S
I
K
L
U
S I
Pertemuan Ke-
T E S
S I K L U S I
Rata – Rata Persentase(%)
I II III IV
1 Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran
29 28 32 35 31 86,1
2 Siswa yang aktif berbicara dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode Demonstrasi
19 20 18 23 20 55,6
3 Siswa yang aktif menanggapi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi
17 17 19 23 19 52,8
Sesuai dengan lembar observasi di atas, gambaran kehadiran siswa, keaktifan berbicara, keaktifan menanggapi dapat dilahat pada table-tabel frekuensi di bawah ini:
a. Kehadiran Siswa
Gambaran kehadiran siswa dalam materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) sosial dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.1.1 Distribusi Frekuensi Kehadiran Siswa pada Siklus I No. Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Rajin 31 86,1
2. Tidak Rajin 5 13,9
JUMLAH 36 100
b. Keaktifan Berbicara
Keaktifan berbicara siswa dalam materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.1.2 Distribusi Frekuensi Siswa dalam Hal Keaktifan Berbicara pada Siklus I
No Kategori Frekuensi Presentasi (%) 1
2
Tidak Aktif Aktif
22 14
61,1 38,9
JUMLAH 36 100
c. Keaktifan Menanggapi
Gambaran keaktifan siswa dalam materi diferensiasi sosial dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1.3 Distribusi frekuensi keaktifan siswa dalam hal menanggapi pada siklus I
No Kategori Frekuensi Presentasi (%) 1
2
Tidak Aktif Aktif
24 12
66,7 33,3
JUMLAH 36 100
Pada siklus 1 dilaksanakan hasil tes belajar yang berbentuk ulangan harian setelah selesai penyajian materi. Adapun hasil analisis skor hasil belajar siswa setelah diterapkan model Pembelajaran Cooperatif Case Study dapat dilihat pada table 4 berikut:
Tabel 3.2 Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus I
Statistik Nilai statistic
Objek 36
Skor Ideal 100
Skor Rata-rata 59,8
Skor Tertinggi 90
Skor Terendah 0
Rentang Skor 90
Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar sosiologi setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif case study pada siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Bulukumba pada siklus I adalah 59,8 dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Sedangkan secara individual skor yang dicapai siswa pada penerapan ini tersebar dengan skor tertinggi 90 dan skor terendah 0 dari skor
tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0, dengan rentang skor 90.
a. Hasil Belajar Siswa
Data hasil belajar siklus I diperoleh melalui ulangan harian yang dilaksanakan setelah tiga kali pertemuan belajar mengajar. Adapun distribusi, frekuensi dan presentase hasil belajar sosiologi siswa sebagai berikut:
Tabel 3.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Siklus I
Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0-39 Sangat rendah 3 8,33
40-54 Rendah 11 30,6
55-69 Sedang 8 22,2
70-84 Tinggi 2 5,56
85-100 Sangat tinggi 12 33,3
Jumlah 36 100
Berdasarkan tabel di atas, dapat dikemukakan bahwa pada siklus pertama ini menunjukkan bahwa dari 36 siswa kelas XI SMA Negeri 6 Bulukumba yang diajarkan dengan menggunakan model Pembelajaran kooperatif Case Study secara umum penguasaan siswa terhadap materi Diferensiasi Sosial (Komunitas Nelayan Di Aloang) pada siklus I belum sepenuhnya maksimal. Hal ini terlihat bahwa siswa yang memperoleh nilai pada kategori sangat rendah 3 orang dengan persentase 8,33%, siswa yang berada pada kategori rendah 11 orang dengan
persentase 30,6%, siswa yang berada pada kategori sedang 8 orang dengan persentase 22,2%, sedangkan siswa yang berada pada kategori tinggi 2 orang dengan persentase 5,56% dan sangat tinggi 12 orang dengan persentase 33,3%, data hasil belajar ini menjadi salah satu bahan refleksi untuk pelaksanaan siklus II.
Berdasarkan data hasil belajar dari siklus I akan mengalami peningkatan walaupun masih ada siswa sebagian yang masih membutuhkan bimbingan guru.
d. Tahap Refleksi
Melihat komponen observasi pada siklus I di atas, menunjukkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran khususnya pada materi diferensiasi social (Komunitas Nelayan Di Alorang) masih pada tingkat kategori tidak aktif/tidak rajin, baik dari segi kehadiran, keaktifan berbicara, dan keaktifan menanggapi siswa sehingga masih perlu dilanjutkan pada siklus II.
2. Kegiatan Hasil Siklus II a) Tahap Perencanaan
Adapun tahap perencanaan pada kegiatan siklus II adalah:
1) Menelaah kurikulum SMA kelas XI untuk menyesuaikan materi sedemikian rupa sehingga dapat diajarkan selama 4 kali pertemuan.
2) Membuat rencana pengajaran sesuai dengan kurikulum untuk setiap pertemuan. Dalam pembuatan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) ini akan dibuatkan soal-soal yang akan diberikan kepada siswa pada akhir siklus II.
3) Membuat lembar observasi siklus II untuk mengamati proses pembelajaran di kelas.
4) Merancang dan membuat tes hasil belajar yang akan diberikan pada akhir pelaksanaan siklus II sebagai bahan evaluasi berdasarkan materi yang diajarkan.
b) Tahap Pelaksanaan Tindakan Pertemuan Ke V :
Adapun pelaksanaan tindakan pada pertemuan ke V yaitu pada kegiatan awal ketua kelas menyiapkan kelas dan guru mengabsen siswa serta mengadakan apersepsi tentang diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) . Kemudian guru memberi penjelasan kepada siswa mengenai materi diferensiasi sosial secara garis besarnya dan memberikan catatan sesuai dengan materi diferensiasi sosial yang diajarkan. Setelah memberikan catatan, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan contoh diferensiasi sosial yang sering terjadi di masyarakat kemudian guru memberikan respon terhadap contoh yang disebutkan oleh siswa serta melakukan tanya-jawab antara siswa dan guru. Guru memberitahukan materi yang akan dibahas dan didiskusikan pada pertemuan selanjutnya dan setiap siswa harus siap untuk tampil berdiskusi karena pembagian kelompok akan dibentuk pada minggu depan, guru menutup pertemuan V.
Pertemuan Ke VI :
Adapun pelaksanaan tindakan pada pertemuan ke VI yaitu ketua kelas menyiapkan kelas, guru melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen dan mengadakan apersepsi tentang materi diferensiasi sosial.
setelah apersepsi, guru mengacak nomor urut siswa yang dibagi kedalam 6 kelompok. dan memberikan satu bentuk diferensiasi sosial yang kemudian dipilih oleh ketua kelompok dalam bentuk gulungan kertas, setelah kelompok mendapatkan materi yang akan dibahas siswa diberikan kesempatam untuk melakukan observasi berupa pengamatan, menganalisa, serta menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan materi yang diberikan untuk selanjutnya dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Guru menutup pertemuan ke VI.
Pertemuan Ke VII :
Adapun pelaksanaan tindakan pada pertemuan ke VII yaitu ketua kelas menyiapkan kelas, guru melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen dan memberikan arahan sebelum melaksanakan diskusi, setelah memberikan arahan, guru menunjuk secara acak salah satu kelompok untuk mempertanggungjawabkan hasil observasi terhadap materi yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. Dan sebagai akhir kegiatan guru memberikan kesimpulan dari hasil diskusi dan menutup pertemuan.
Pertemuan Ke VIII
Adapun pelaksanaan awal dari pertemuan ke VIII yaitu ketua kelas menyiapkan kelas, guru melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen dan mengadakan apersepsi tentang apa yang telah dipresentasikan. Setelah itu, guru memberikan evaluasi sebagai tindakan akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa. Guru menutup pertemuan ke VIII.
c) Tahap Observasi dan Evaluasi
Adapun tahap observasi dan evaluasi dari pelaksanaan tindakan siklus II yaitu:
1) Mengamati kehadiran siswa dengan membuat absensi.
2) Mengamati keaktifan belajar siswa yang terdiri atas keberanian berbicara dan keaktifan menanggapi dengan menggunakan lembar observasi.
Adapun hasil observasi aktivitas dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus II dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Case Study untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Tabel Observasi Sikap Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus II
No Komponen yang diamati S
I
K
L
U
S II
Pertemuan Ke-
Rata – Rata Persentase I II III IV (%)
T E S
S I K L U S II 1 Jumlah siswa yang hadir
pada saat kegiatan pembelajaran
33 31 36 36 34 94,4%
2 Siswa yang aktif berbicara dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode Demonstrasi
23 21 31 25 25 69,4
3 Siswa yang aktif menanggapi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi
25 20 29 20 23,5 65,3
Sesuai dengan lembar observasi di atas, gambaran kehadiran siswa, keaktifan berbicara, keaktifan menanggapi dapat dilihat pada tabel-tabel frekuensi di bawah ini:
a. Kehadiran Siswa
Gambaran kehadiran siswa dalam materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di alorang) dengan menggunakan model Kooperatif Case Study dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1.1 Distribusi Frekuensi Kehadiran Siswa pada Siklus II No Kategori Frekuensi Presentasi (%) 1
2
Tidak Rajin Rajin
3 33
8,3 91,7
JUMLAH 36 100
b. Keaktifan berbicara
Gambaran keaktifan berbicara siswa dalam materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di alorang) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Case Study dalam hal kaektifan berbicara siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1.2 Distribusi Frekuensi Siswa Dalam Hal Keaktifan Berbicara pada Siklus II
No Kategori Frekuensi Presentasi (%) 1
2
Tidak Aktif Aktif
15 21
41,7 58,3
JUMLAH 36 100
c. Keaktifan Menanggapi
Gambaran keaktifan siswa dalam materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Case Study dalam hal menanggapi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1.3 Distribusi Frekuensi Keaktifan Siswa Dalam Hal Menanggapi pada Siklus II
No Kategori Frekuensi Presentasi (%) 1
2
Tidak Aktif Aktif
16 20
44,4 55,6
JUMLAH 36 100
Adapun hasil analisis skor hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif case study dapat dilihat pada table 7 berikut:
Tabel 4.2 Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus II
Statistik Nilai statistic
Objek 36
Skor Ideal 100
Skor Rata-rata 66,7
Skor Tertinggi 100
Skor Terendah 0
Rentang Skor 100
Dari Tabel di atas, menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar sosiologi setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif case study pada siswa kelas XI SMA Negeri 6 Bulukumba adalah 66,7 dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Sedangkan secara individual skor yang dicapai siswa pada penerapan ini terbesar dengan skor tertinggi 100 dan skor terendah 0 dari skor
tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0, dengan rentang skor 100.
a. Hasil Belajar Siswa
Data hasil belajar siswa siklus II diperoleh melalui ulangan harian yang dilaksanakan setelah tiga kali pertemuan belajar mengajar. Adapun distribusi, frekuensi dan presentase hasil belajar sosiologi siswa dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Siklus II
Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0-39 Sangat rendah 7 19,5
40-54 Rendah 4 11,1
55-69 Sedang 0 0
70-84 Tinggi 17 47,2
85-100 Sangat tinggi 8 22,2
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel di atas, dapat dikemukakan bahwa pada siklus II ini menunjukkan bahwa dari 36 siswa kelas XI SMA Negeri 6 Bulukumba, 7 orang memperoleh nilai sangat rendah atau sekitar 19,5%, 4 orang memperoleh nilai rendah atau sekitar 11,1%, 17 orang atau 47,2% nilainya berada pada kategori tinggi, dan 8 orang atau 22,2% nilainya berada pada kategori sangat tinggi. Hasil observasi mengenai aktivitas siswa menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II menjadi lebih baik.
Untuk melihat persentase ketuntasan belajar siswa kelas XI SMA Negeri 6 Bulukumba setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif case study pada siklus I dan siklus II dapat di lihat pada tabel 9 berikut:
Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Sosiologi Siswa
No Siklus Subjek
Skor
Ideal Tertinggi Terendah Rentang Skor
Rata- rata
1. I 36 100 90 0 90 59,8
2. II 36 100 100 0 100 66,7
Berdasarkan tabel 9 di atas, dapat dikemukakan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar sosiologi melalui model pembelajaran kooperaif case study siswa kelas XI SMA Negeri 6 Bulukumba dari siklus I yang tuntas 15 siswa atau 41,7%
dengan nilai rata-rata hasil yang di peroleh sebesar 59,8 dan pada siklus II meningkat 25 atau 69,4% dengan nilai rata-rata sebesar 66,7%.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan pada siklus II pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif case study berjalan lebih baik lagi dibandingkan dengan siklus sebelumnya, ini menunjukkan bahwa perubahan sikap dari siklus I ke siklus II selalu mengarah pada ha-hal yang telah direncanakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah disiapkan pada prosedur penelitian.
d. Tahap Refleksi
Melihat komponen observasi pada siklus II di atas, menunjukkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran khususnya pada materi diferensiaasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) sudah mencapai tingkat kategori aktif/rajin, baik dari segi kehadiran, keaktifan berbicara, dan keaktifan menanggapi sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya.
A. Pembahasan
Berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan semenjak pengalaman mengajar pada tahun ajaran 2015/2016, sebelum melaksanakan penelitian/
studi pendahuluan di SMA Negeri 6 Bulukumba Kelas XI IPS 2 ditemukan bahwa umumnya siswa kurang memberi respon yang positif terhadap pelajaran sosiologi sehingga pada akhirnya menimbulkan kesulitan dalam belajar sosiologi dan berdampak pada hasil belajar siswa yang berada pada kategori tidak aktif.
Dan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui model pembelajaran Kooperatif Case Study. Melalui model pembelajaran ini diharapkan dapat mengembangkan hasil belajar siswa .
Pengamatan dilakukan oleh peneliti pada saat berlangsungnya tindakan, setelah siklus I dan siklus II ini berakhir maka terlihat gambaran peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil penelitian yang dilaksanakan selama dua siklus dengan tahap kegiatan terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tidakan, observasi dan evaluasi serta refleksi, diperoleh peningkatan hasil belajar sosiologi siswa khususnya pada materi diferensiasi sosial (Komunitas Nelayan Di Alorang) secara
kuantitatif menunjukkan terjadi peningkatan yang dapat dilihat pada grafik di bawah ini dari siklus I ke siklus II.
Gambar 3.1 Diagram Batang Siklus I
Gambar 3.2 Diagram Batang Siklus II
Hasil observasi dan pemantauan terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam penelitian ini selama dua siklus dengan tahap kegiatan terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tidakan, observasi dan evaluasi serta refleksi, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara
0 5 10 15 20 25 30 35
Tidak Aktif Aktif
Kehadiran
Keaktifan Berbicara Keaktifan Menanggapi
0 5 10 15 20 25 30 35
Tidak Aktif Aktif
Kehadiran
Keaktifan Berbicara Keaktifan Menanggapi