128 DOI.10.26858
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI PENGAMALAN SILA-
SILA PANCASILA KEPADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
St. Sopia1, Nurhaedah,2, Muh. Hamka3
1 PGSD, SD Negeri 31 Salotellue Email : [email protected]
2 PGSD, Universitas Negeri Makassar Email : [email protected]
2SD Negeri Tidung Email : [email protected]
Artikel info Abstrak
Received;2-05-2021 Revised:10-06-2021 Accepted;25-07-2021 Published,16-08-2021
Penelitian ini dilatari oleh masalah yang terjadi dalam pembelajaran di kelas IV SD, fokus masalah diuraikan sebagai berikut: bagaimana gambaran penerapan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi penerapan nilai-nilai dalam sila Pancasila pada siswa kelas IV SD. Langkah penelitian disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan penelitian PTK yang meliputi Perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi, Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, test dan kajian dokumen, Teknik analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian pada siklus 1 diperoleh data 75%
Langkah model telah terlaksana dengan baik, dan pemahaman siswa terhadap materi pengamalan sila-sila pancasila siswa mencapai 67% dari jumlah siswa. Hasil penelitian siklus 2 diperoleh data 85% Langkah model terlaksana dengan baik, dan 93% siswa telah memahami materi pengamalan sila-sila pancasila. Temuan penelitian menunjukkan model pembelajaran problem based learning secara bertahap dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pengamalan sila-sila pancasila siswa kelas IV SD.
Kesimpulan penelitian bahwa model pembelajaran problem based learning yang dterapkan dengan baik dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pengamalan sila-sila pancasila pada siswa kelas IV SD.
Key words:
Problem Based learning, model pembelajaran, Pengamalan Sila-Sila Pancasila
artikel pinisi:journal of teacher proffesonal dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4.0
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu proses belajar yang menghasilkan perubahan pada diri siswa. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan kognitif siswa serta perubahan terhadap sikap serta perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan dan membina potensi sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan pada
129 semua jenjang pendidikan dari tingkatan dasar, tingkat menengah dan perguruan tinggi.
Proses pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan atau memberikan keterampilan Banyaknya terjadi penyimpangan/kesalahan tertentu sebenarnya berakar daritidak mengamalkannya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri. Maka dari itu pentingnya memahami pancasila tidak hanya mengerti namun juga mengamalkan dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai pendidikan karakter.
Pendidikan pancasila dalam kehidupan sehari hari dapat membrikan dampak yang baik untuk masyarakat agar masyarakat mematuhi dan menganut nilai nilai dalam pancasila karena nilai yang terkandung dalam pancasila mempunyai banyak makna untuk kehidupan sehari hari dalam beragama, memberikan pendapat dan lain-lain Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sistem pendidikan nasional selalu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum, dengan adanya kebutuhan dan perkembangan zaman secara langsung akan mempengaruhi konsep kurikulum pendidikan yang diberlakukan. Berdasarkan kurikulum itulah proses pendidikan diharapkan dapat berjalan dengan arah dan tujuan yang benar. Dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut, seorang guru harus bisa menciptakan pembelajaran yang bermakna, sehingga siswa mampu menguasai materi yang dipelajari dengan baik, serta dapat mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru juga harus mampu menanamkan dan mengembangkan
Sesuai dengan yang di kemukakan oleh Susanto (2013:227) dalam skripsi Oriza Oktarina, Juni 2014, pembelajaran PKn di Sekolah Dasar dimaksudkan sebagai suatu proses pembelajaran dalam rangka membantu siswa agar dapat belajar dengan baik dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam pembentukan karakter bangsa yang diharapkan mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila, UUD, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Sedangkan menurut, Susanto (2013:225) pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya indonesia. Dengan demikian pembelajaran PKn sangatlah diperlukan untuk membentuk warganegara yang cerdas, terampil dan berkarakter karena pembelajaran PKn sangat ditekankan untuk penanaman nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat.
130 METODE
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Beberapa alasan digunakannya pendekatan kualitatif, penelitian ini diarahkan pada pengkajian suatu kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar di kelas dengan menggunakan kata-kata tertulis, lisan, pola dan metode dalam meningkatkan kemampuan berpikir, bersikap toleransi dan demokratis dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) serta hambatan-hambatan yang ditemukan dalam kemampuan berpikir, bersikap toleransi dan demokratis.Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang berfokus pada mengembangkan karakter siswa melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) untuk mengembangkan karakter toleransi dan demokratis siswa pada pembelajaran PKn kelas IV SD Negeri 31 Salotellue. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 31 Salotellue yang berjumlah 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Total keseluruhan siswa kelas IV yaitu 30 siswa.
HASIL PENELITIAN
Selama proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya perubahan meskipun belum semua terlihat baik dalam kegiatan pembelajaran. Perkembangan karakter anak yang terjadi merupakan proses untuk membuat karakter siswa semakin bagus dan berkembang dengan baik. Pada saat pembelajaran di kelas, masih banyak siswa yang bermain sendiri dan tidak mendengarkan penjelasan dari guru. Hal ini dikarenakan cara mengajar yang digunakan oleh guru hanya ceramah, sehingga siswa merasa bosan. Jadi untuk dapat mengembangkan karakter siswa guru harus menggunakan model yang tepat salah satunya adalah model Problem Based Learning (PBL). Penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dapat memberikan pemahaman dan penghayatan pada masalah masalah yang terjadi pada siswa.
Hasil refleski siklus I dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) mengalami peningkatan karakter toleransi dan karakter demokratis siswa dari Model Problem Based Learning (PBL), siswa terlihat masih binggung dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru yang berkaitan dengan materi yang sudah dipelajari. Sedangkan Dalam siklus II ini penggunaan model Problem Based Learning (PBL) sudah mulai dapat dipahami oleh siswa, hal tersebut dapat terlihat dari siswa yang menyelesaikan masalah yang diberikan guru.
Pada siklus II tindakan yang diberikan sama dengan apa yang direncankan pada siklus I, membimbing siswa yang belum memenuhi syarat untuk meningkatnya karakter toleransi dan demokratis siswa, menyelesaikan persoalan yang diberikan dengan model Problem Based Learning (PBL) menggunakan tindakan ini sudah terlihat peningkatan pada karakter toleransi dan karakter demokratis siswa yang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa karakter toleransi dan karakter demokratis siswa pada siklus II sudah sangat baik dan sudah tercapai dalam berkembangnya karakter toleransi dan karakter demokratis siswa. kondisi awal. Pada siklus I ini siswa kurang memahami materi yang di ajarkan, siswa bingung ketika menggunakan model Problem Based
131 Learning (PBL)
1. Hasil Belajar Siklus 1
Pada siklus I diperoleh hasil analisis statistik deskriptif yang dapat dilihat pada tabel 1.1 sebagai berikut:
Tabel 1.1 Statistik Skor Hasil Belajar pada Siklus I Statistik Nilai Statistik
Subjek 30
Skor ideal 100
Skor tertinggi 100
Skor terendah 69
Rentang skor 31
Skor rata-rata 80
Berdasarkan tabel menunjukkan hasil belajar murid yaitu 5 orang pada kategori sangat baik dengan persentase 17%, 12 orang pada kategori baik dengan persentase 40%, 3 orang pada kategori cukup dengan persentase 10% dan 10 orang pada kategori kurang dengan persentase 33%. Berdasarkan skor rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 80 maka dapat disimpulkan bahwa skor yang diperoleh siswa berada pada kategori cukup.
Melihat presentase ketuntasan hasil belajar murid dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.2 Deskripsi Hasil Belajar Siklus I
Nilai Kategori Frekuensi Presentase
91-100 Tuntas 20 67%
0-73 Tidak Tuntas 10 33%
Jumlah 30 100%
Dari hasil nilai yang diperoleh siswa pada siklus I masih ada 33% yang tidak tuntas. Maka peneliti kembali melanjutkan pada tahap siklus II
2. Hasil Belajar Siklus II
Penerapan siklus ke II sama hal nya dengan siklus I. Pada siklus II diperoleh hasil analisis statistik deskriptif yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 1.3 Statistik Skor Hasil Belajar pada Siklus II Statistik Nilai Statistik
Subjek 30
Skor ideal 100
Skor tertinggi 100
Skor terendah 69
Rentang skor 31
Skor rata-rata 91
Tabel menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar dengan penerapan model
132 pembelajaran Problem Based Learning setelah diberikan tindakan 91 dari skor ideal 100, skor tertinggi adalah 100, dan skor terendah 69 dengan rentang skor 31. Apabila nilai hasil belajar murid pada siklus II dikelompokkan kedalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi nilai dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.4 Distribusi Frekuensi dan Presentase Skor Hasil Belajar pada Siklus II No Nilai Kategori Frekuensi Presentase
1 91-100 Sangat Baik 19 63%
2 81-90 Baik 6 20%
3 74-80 Cukup 3 10%
4 0-73 Kurang 2 7%
Jumlah 30 100%
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan hasil belajar yaitu 19 orang pada kategori sangat baik dengan persentase 63%, 6 orang pada kategori baik dengan persentase 20%, 3 orang pada kategori cukup dengan persentase 10%
dan 2 orang pada kategori kurang dengan persentase 7%. Berdasarkan skor rata- rata yang diperoleh siswa yaitu 91 maka dapat disimpulkan bahwa skor yang diperoleh siswa berada pada kategori sangat baik. Melihat presentase ketuntasan hasil belajar murid dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.5 Deskripsi Hasil Belajar Siklus II
Nilai Kategori Frekuensi Prese
ntase
91-100 Tuntas 28 93%
0-73 Tidak Tuntas 2 7%
Jumlah 30 100%
Dari hasil nilai peningkatan yang diperoleh murid pada siklus II dengan persentase 93% atau 28 siswa yang tuntas dari 30 siswa. Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas IV SD Negeri 31 Salotellue.
Pembahasan
Hasil belajar PKn murid kelas IV SD Negeri 31 Salotellue sebelum ada tindakan belum berkembang dengan maksimal. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang melakukan pembelajaran yang melibatkan keaktifan murid, suasana pembelajaran kurang menerapkan model pembelajaran yang bervariasi. Hal ini terbukti dari hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, namun setelah diterapkannya model pembelajaran Problem Based Learning murid mengalami peningkatan.
133 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siklus I dan siklus II dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada murid kelas V mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya skor rata-rata murid selama penelitian dilakukan yaitu 80 pada siklus I dan 91 pada siklus II.
Peningkatan yang terjadi pada siklus I ke siklus II menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based learning yang diterapkan mampu meningkatkan hasil belajar murid dan berkurangnya murid yang memperoleh angka yang rendah. Skor rata- rata hasil belajar murid jika dikonversikan ke dalam kategorisasi skala empat berada dalam kategori sangat baik yang pada mulanya berada pada kategori cukup. Siklus I peneliti melakukan penerapan awal model pembelajaran Problem Based Learning. Pada proses siklus I berlangsung yang menjadi kendala adalah kurangnya perhatian murid terhadap materi dan kurangnya pemahaman murid dalam penerapan model pembelajaran yang digunakan. Sehingga penjelasan harus diulang dan dipahamkan kembali. Hal ini terjadi karena belum maksimalnya interaksi antara peneliti dan murid sebelum proses pembelajaran dilaksanakan. Dari hasil nilai yang diperoleh murid pada siklus I masih ada 33% yang tidak tuntas. Maka peneliti kembali melanjutkan pada tahap siklus II.
Siklus II dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dalam proses pembelajaran. Membentuk murid dalam beberapa kelompok, memberikan bimbingan setiap kelompok serta pembagian lembar kerja kelompok kepada murid. Murid bertukar informasi bersama dari proses pertukaran informasi yang telah dilakukan murid kembali mengingat informasi yang didapatkan kemudian mengerjakan lembar kerja murid. Pada siklus II murid menunjukkan peningkatan perhatian terhadap penyampaian materi dan pemahaman murid dalam penerapan model pembelajaran yang digunakan. Dari hasil nilai peningkatan yang diperoleh murid pada siklus II 93% atau 28 murid yang tuntas dari 30 murid.
KESIMPULAN
Pendidikan merupakan suatu proses belajar yang menghasilkan perubahan pada diri siswa. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan kognitif siswa serta perubahan terhadap sikap serta perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan dan membina potensi sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan dari tingkatan dasar, tingkat menengah dan perguruan tinggi.
Proses pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan atau memberikan keterampilan Banyaknya terjadi penyimpangan/kesalahan tertentu sebenarnya berakar daritidak mengamalkannya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri. Maka dari itu pentingnya memahami pancasila tidak hanya mengerti namun juga mengamalkan dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai pendidikan karakter.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh yaitu dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning mengalami peningkatan dari siklus I ke
134 siklus II dilihat dari skor rata-rata siklus I 80 dan siklus II 91. Adapun nilai ketuntasan pada siklus I yaitu dengan nilai persentase 67% menjadi 93% pada siklus II.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn dalam materi pengalaman sila-sila pancasila pada murid kelas IV SDN 31 salotellue.
UCAPAN TERIMA KASIH
Dari hasil kegiatan hingga penyusunan laporan ini banyak hambatan dan tantangan yang kami hadapi namun karena kemauan dan tekad serta bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil segalanya dapat teratasi dengan baik, olehnya tak ada kata yang penulis sampaikan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Unit Program Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas Negeri Makassar (UNM).
2. Ibu Nurhaedah, S.Pd.,M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang bersedia memberikan petunjuk-petunjuk, saran-saran serta ilmunya dalam melaksanakan PPL, sehingga dapat mencapai sasaran yang diinginkan.
3. Bapak Muh. Hamkah, S.Pd.,M.Pd. selaku guru pamong yang telah memberikan bimbingan dan petujuk melaksanakan PPL disekolah sehingga dapat mencapai tujuan yang direncanakan.
4. Bapak dan ibu guru serta staf tata usaha SDN 31 Salotellue yang senantiasa memberikan bantuan demi lancarnya kegiatan ini.
5. Siswa-siswi SDN 31 Salotellue kelas III dan IV.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan PPL di SDN 31 Salotellue.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, M Taufiq. 2013. Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Lickona, Thomas. 2013. Mendidik untuk Membentuk Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mulyadi, M., & Amalia, Y. (2019). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Media Autograph Materi Bangun Ruang Sisi Datar (BRSD) Pada Siswa Kelas VIII MTS Swasta Kuala Kecamatan Kuala. Genta Mulia:
Jurnal Ilmiah Pendidikan, 10(1).
Mulyadi. M, Fahreza. F, Julianda. R (2018). Penggunaan Media Audio Visual Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Pembelajaran IPS Siswa Kelas V SDN Langung. Visipena Journal, 9(1)
Mustari, Mohamad. 2014. Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Rusmono. 2014. Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning Itu Perlu.
Bogor
: Penerbit Ghalia Indone Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Menteri Pendidikan Nasional. Diakses pada tanggal 05 Maret 2016. http://bsnpindonesia.org/id/wpcontent/upl
oads/isi/Permen_22_2006.pdf.
135