SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh:
PUTRI SEPTIKA SILITONGA 120200110
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Tuhan Yesus Kristus atas rahmat dan kasih karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tindak Pidana Korupsi dalam Pengadaan Alat – alat Kesehatan (Studi Putusan No.
31/Pid.Sus.K.2014/Pt.Mdn)”.
Penyelesaian skrispsi ini merupakan sebuah perjuangan dan tahap awal Penulis dalam mengerjakan hal-hal yang lebih besar lagi di masa mendatang.
Segala upaya yang terbaik telah Penulis lakukan demi selesainya skripsi ini.
Namun upaya dan kerja keras itu tidak lepas dari bantuan dan dukungan banyak pihak dan orang-orang tersayang.
Terimakasih banyak Penulis ucapkan untuk kedua orangtua, yang mana tanpa mereka Penulis tidak mungkin sampai pada tahap saat ini. Terimakasih untuk Papa tersayang Anthon P Silitonga untuk segala dukungan, kasih sayang, kesabaran dan bimbingannya. Terimakasih juga untuk Mama tercinta Rosmiaty br Nainggolan untuk begitu banyak nasihat dan kasih sayang yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Penulis yakin Mama sudah tersenyum dan bangga dari surga sana.
Terimakasih Penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Alvi Syahrin S.H., MS selaku Dosen Pembimbing I, yang telah senantiasa meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk memberikan nasihat, bimbingan, masukan, serta motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini agar tetap semangat dalam setiap proses yang ditempuh.
Terimakasih pula Penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, S.H., M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II untuk arahan, bimbingan, dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
Terimakasih Penulis ucapkan kepada Bapak Dr. M. Hamdan, S.H., M.H.
dan Ibu Rafiqoh Lubis, S.H., M.Hum atas kesediannya menjadi Dosen Penguji yang juga turut memberikan banyak masukan positif bagi Penulis.
Pada kesempatan ini Penulis juga tidak lupa mengucapkan terimakasih serta penghargaan yang tulus kepada banyak pihak yang begitu membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Terimakasih saya ucapkan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. OK Saidin, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Unversitas Sumatera Utara.
4. Bapak Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Dr. M. Hamdan, S.H., M.H., selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Ibu Liza Erwina, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Bapak Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Akademik Penulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Keluarga yang begitu menyayangi dan mendukung Penulis. Abang tersayang Hendra GM Silitonga, S.Sos, kakak-kakak tersayang Melva Sari Silitonga, S.H. dan Imerlyn Andriyani Silitonga, SKM. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih untuk Adek Frans Bonsis dan Bou Sur tersayang, sepupuku Papa dan Mama Abbie, terkhusus untuk keponakanku si cantik jelita Rose Abigail. Terima kasih untuk begitu banyak cinta dan dukungan. Terimakasih karena selalu mengingatkan untuk menyelesaikan skripsi dan perkuliahan ini.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan di Fakultas Hukum USU stambuk 2012 terkhusus teman-teman sekelas di Grup B. Stevia Amelia, Marissa Hutabarat, Fadillah Tanjung, Merry Sinaga, Emila Nasution, Reni Tanjung, Parulian Scot, Immanuel Carlos, Arya Mulatua, Wido Sihombing, Rizal Banjarnahor, Douglas Hard, Yeremia Panomban, Frengky Simamora.
10. Kakanda Melisa Andriani, Adinda Gracia Eilerta dan Kakanda Ita (KTU FH USU) yang begitu baik hati dan mau direpotkan demi terselesaikannya skripsi ini. Terimakasih atas bantuannya yang begitu besar kepada penulis. Terimakasih juga untuk Kak Yuli Hutagalung, my bro Raja Lingga, dan Febry Zulianda untuk doa dan dukungannya
selama ini.
11. Terimakasih kepada Ibu Gembala tersayang, Ibu Savitri Simamora atas dukungan doa, nasihat, dan motivasi agar segera menyelesaikan skripsi dan proses perkuliahan.
12. Sahabat-sahabat saya yang jauh di mata namun dekat di hati, Ari
“Rumski” Wedhaningrum dan Sisi Vega Didam.
13. Teman rasa saudara sekaligus partner di Photo Coffee Medan, Kak Yanti Herlina Tjoa, Bang Marthin Van Niel, Bang Jhon Malau, dan keluarga yang baru saja ditemukan: Randy Faisal, Anggana Mutiara, Rendy Haikal, Gio, Nathanael, dan Kevin, terimakasih untuk segala dukungan dan doanya.
14. Seluruh pihak yang telah membantu baik selama perkuliahan maupun penulisan skripsi yang tidak dapat Penulis sebutkan satu per satu.
Terimakasih Penulis ucapkan. Skripsi ini Penulis persembahkan mereka semua.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih mempunyai kekurangan dan kelemahan, untuk itu kritik dan saran membangun akan selalu diterima. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, Juli 2019
Putri Septika Silitonga
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... v
ABSTRAK ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 6
D. Keaslian Penulisan ... 7
E. Tinjauan Kepustakaan ... 8
1. Pengertian Tindak Pidana ... 8
2. Pengertian Tindak Pidana Korupsi ... 12
3. Jenis-jenis Tindak Pidana Korupsi ... 15
4. Pengadaan Barang dan Jasa ... 17
5. Pengertian Alat Kesehatan ... 18
F. Metode Penelitian... 19
1. Pendekatan Masalah ... 19
2. Sumber Pengumpulan Data ... 22
3. Metode Pengumpulan Data ... 22
4. Analisa Data ... 23
G. Sistematika Penelitian ... 23
BAB II KETENTUAN PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN
TINDAK PIDANA KORUPSI JUNCTO UNDANG-
UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 ... 25
A. Perkembangan Pengaturan Tindak Pidana Korupsi dalam Hukum Pidana Indonesia ... 25
B. Bentuk-Bentuk Perbuatan yang Terkategori Delik Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001... 31
C. Formulasi Pertanggungjawaban Pidana Dalam Tindak Pidana Korupsi ... 34
D. Formulasi Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana Korupsi ... 48
BAB III TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PENGADAAN BARANG DAN JASA ... 55
A. Pengadaan Barang dan Jasa ... 55
1. Tinjauan Umum Pengadaan Barang dan Jasa Menurut Pengaturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ... 55
2. Etika, Norma, dan Prinsip Pengadaan Barang dan Jasa .. 65
B. Tindak Pidana Korupsi, Suap, dan Gratifikasi dalam Pengadaan Barang dan Jasa ... 70
BAB IV TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PENGADAAN ALAT-ALAT KESEHATAN DALAM KASUS DENGAN PUTUSAN PENGADILAN TINGGI MEDAN DENGAN Nomor 31.Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn ... 77
A. Posisi Kasus ... 77
1. Kronologis Perkara ... 77
2. Dakwaan dan Tuntutan ... 80
3. Pertimbangan Hakim... 85
4. Putusan Hakim ... 88
B. Analisa Kasus ... 90
BAB V PENUTUP ... 96
A. Kesimpulan ... 96
B. Saran ... 98
DAFTAR PUSTAKA ... 99
ABSTRAK
TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PENGADAAN ALAT-ALATKESEHATAN
(Studi Putusan No. 31/Pid.Sus.K.2014/Pt.Mdn) Putri Septika Silitonga*
Alvi Syahrin**
Mahmud Mulyadi***
Pembangunan kesehatan masyarakat saat ini menjadi salah satu prioritas penting dalam program pemerintah. Besarnya alokasi anggaran dari pemerintah membuka peluang untuk disalahgunakan apabila tidak ada pengawasan yang ketat dari Kementerian Kesehatan sendiri atau dari lembaga lain. Salah satu program yang memiliki pos anggaran cukup besar saat ini adalah program pengadaan alat kesehatan. Anggaran kesehatan yang seharusnya digunakan untuk membangun kesehatan masyarakat justru digunakan untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain yang berakibat pada buruknya pelayanan dan kualitas kesehatan masyarakat.
Skripsi ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer dan sekunder sebagai sumber datanya, yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Skripsi ini juga menganalisis putusan Pengadilan Tinggi Medan tentang tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan dengan register No.
31/Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn.
Kajian dalam skripsi ini dituangkan dengan membahas berbagai peraturan yang memiliki kaitan dengan kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah, khususnya pengadaan alat-alat kesehatan yang memunculkan unsur-unsur tindak pidana korupsi. Tindak pidana korupsi yang terjadi diakibatkan kesalahan dalam proses pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah sehingga menyebabkan kerugian keuangan negara. Selanjutnya ketentuan pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dalam hal pengadaan alat-alat kesehatan di RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah dimana ancaman pidana penjara adalah minimal 4 (empat) tahun maksimal 20(dua puluh) tahun dan pidana denda minimal Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan maksimal Rp.1.000.000.000,- (satu miliyar rupiah). Pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana korupsi Direktur RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah berdasarkan Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 31/Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn adalah pidana penjara selama 6 (enam) tahun dengan denda sebesar Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan.
Kata kunci: Korupsi, Pengadaan Barang dan Jasa, Alat Kesehatan
* Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Pembimbing I dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
*** Pembimbing II dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara etimologis, korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus. Selanjutnya disebutkan bahwa corruptio berasal pula dari kata asal corrumpere, suatu kata Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itulah turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris, yaitu: corruption, corrupt; Prancis, yaitu corruption; dan Belanda, yaitu corruptie (korruptie). Dari bahasa Belanda turun ke bahasa Indonesia, yaitu ”korupsi”. Arti harfiah dari kata itu adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian.2
Suatu fenomena sosial yang dinamakan korupsi merupakan realitas perilaku manusia dalam interaksi sosial yang dianggap menyimpang, serta membahayakan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, perilaku tersebut dalam segala bentuk dicela oleh masyarakat. 3 Dapat dikatakan bahwa perbuatan korupsi telah merambah hampir di seluruh sektor politik, ekonomi, hukum, dan administrasi, serta sosial, baik pada instansi-instansi pemerintah maupun kalangan swasta dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Korupsi merupakan perbuatan tercela,
2 Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2015, hal. 4.
3 H. Elwi Danil, Korupsi: Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, hal. 1.
yang merugikan keuangan negara dan perekonomian negara serta masyarakat dalam skala besar.4
Tindak pidana korupsi merupakan jenis kejahatan yang dikategorikan sebagai salah satu bentuk kejahatan kerah putih (white collar crime).5 Korupsi dapat terjadi karena adanya penyalahgunaan wewenang, karena jabatan atau karena kedudukan, tetapi yang pasti harus merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Pengadaan barang dan jasa adalah bidang yang membuka peluang untuk melakukan perbuatan korupsi. Karena pengadaan barang dan jasa umumnya menyangkut jumlah uang yang besar dan melibatkan orang dalam dan orang luar pemerintah yang punya nama dan pengaruh besar.6
Menurut data dari Indonesia Procurement Watch, sekitar 70 persen praktik korupsi bersumber dari ranah PBJ (Pengadaan Barang dan Jasa), baik di tingkat pusat maupun daerah. Langkah pemerintah untuk membasmi korupsi di sektor ini, diawali dengan membuat sistem dan unit kerja Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Hingga saat ini, LPSE telah diterapkan di 344 instansi pusat dan daerah di 31 provinsi. Namun, hal ini belum optimal meski sistem online ini sudah diterapkan hampir di semua kementerian dan lembaga.7
4 Muzakkir Samidan Prang, Peranan Hakim dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2011, hal. 31.
5 Romli Atmasasmita dkk, Analisis dan Evaluasi Hukum tentang Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Korupsi, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta, 2007, hal. 31.
6 Adrian Sutedi, Aspek Hukum Pengadaan Barang & Jasa dan Berbagai Permasalahannya, Sinar Grafika, Jakarta,2012, hal. 124.
7 Berita KPK, http://www.kpk.go.id/id/berita/berita-kpk-kegiatan/1639-6-pilar- membangun- sistem-pengadaan-yang-kapabel?tmpl=component&format=pdf, diakses pada tanggal 1 April 2016 pukul 10.00 WIB.
Ada beberapa praktik yang memicu tindak pidana dalam pengadaan barang dan jasa antara lain penyuapan, memecah atau menggabung paket, penggelembungan harga, mengurangi kualitas dan kuantitas barang dan jasa, penunjukan langsung, kolusi antara penyedia dan pengelola pengadaan barang dan jasa.8
Pembangunan kesehatan masyarakat saat ini menjadi salah satu prioritas penting dalam program pemerintah. Besarnya anggaran yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan menjadikan adanya peluang untuk disalahgunakan apabila tidak ada pengawasan yang ketat dari Kementerian Kesehatan sendiri atau dari lembaga lain. Peluang korupsi semakin besar apabila melihat program- program kesehatan saat ini memiliki pos anggaran yang cukup besar seperti program pengadaan alat kesehatan, pengadaan obat, program penanggulangan dan pencegahan penyakit dan sebagainya.9
Terjadinya tindak pidana korupsi di bidang kesehatan yang dilakukan oleh dokter dan pejabat di lingkungan kementrian kesehatan mengakibatkan semakin buruknya pelayanan kesehatan dan menurunnya derajat kesehatan masyarakat.
Anggaran kesehatan yang seharusnya digunakan untuk membangun kesehatan dan mewujudkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat masyarakat, justru
8 Dwi Ari Wibawa, Memahami Praktik-Praktik yang Memicu Tindak Pidana dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/147- artikel-anggaran-dan perbendaharaan/20096-memahami-praktik-praktik-yang-memicu-tindak- pidana-dalam-pengadaan-barang-dan-jasa-pemerintah, diakses pada tanggal 26 Mei 2016 pukul 16.43 WIB.
9 Ahmad Ahid Mudayana, Pusaran Korupsi Sektor Kesehatan, http://uad.ac.id/id/pusaran- korupsi-sektor-kesehatan, diakses pada tanggal 1 April 2016 pukul 11:02 WIB.
digunakan untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain yang berakibat pada buruknya pelayanan kesehatan masyarakat.10
Tindak pidana korupsi di sektor kesehatan juga melibatkan oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pusat maupun daerah. Direktur RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah, dr. Ricardo, M.M. juga tidak terlepas dari indikasi korupsi.
Pada tanggal 16 Oktober 2012, Direktur RSUD Pandan menandatangani Rencana Kerja Anggaran Perubahan Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKAP SKPD) TA 2012 dengan nomor RKAP SKPD: 1.02 02 01 26 31 5 2, kemudian diajukan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah untuk ditandatangani. Direktur RSUD Pandan menetapkan biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan Alat Kesehatan dan Kedokteran di RSUD Pandan T.A. 2012 sebesar Rp. 27.000.000.000,00.
Direktur RSUD Pandan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) memiliki kewenangan untuk menetapkan rencana pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang meliputi: spesifikasi teknis barang/jasa, harga perkiraan sendiri (HPS), dan rancangan kontrak. Dalam rangka penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), Direktur RSUD Pandan tidak pernah melakukan survei untuk memperoleh harga, melainkan hanya meminta informasi harga melalui surat-surat kepada 3 (tiga) perusahaan, yaitu: PT. Hafidz Medika, PT. Artha Medic, dan PT.
Meditronic Imaging Indonesia.
Sebelum penetapan HPS, Direktur RSUD Pandan sebagai PPK telah melakukan serangkaian upaya untuk melakukan kesepakatan dengan pihak lain
10 http://www.kompasiana.com/sangpujangga/dokter-dalam-sorotan-kpk-membedah- korupsi-para-dokter-pns_552e08d76ea8340c258b45d5, diakses pada tanggal 26 Mei 2016 pukul 16.44 WIB.
yang akan mengerjakan proyek tersebut. Direktur RSUD Pandan menjumpai Ridwan Winata, dimana Ridwan Winata mengajukan dirinya untuk mengerjakan proyek pengadaan tersebut dengan menawarkan kepada Direktur RSUD sejumlah dana taktis/fee dari keuntungan yang diperoleh nantinya.
Berdasarkan berita acara yang dibuat oleh Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada RSUD Pandan TA 2012, hasil evaluasi teknis, administrasi, maupun kewajaran harga, bahwa yang memenuhi syarat tersebut adalah PT.
Winatindo Bratasena. Sedangkan menurut Panitia Pengadaan yang menerima dokumen, Panitia ternyata tidak melakukan pemeriksaan atas kewajaran harga yang tertera dalam HPS.
Pada tanggal 21 November 2012, Direktur RSUD Pandan sebagai Pengguna Anggaran (PA) dan selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menandatangani Surat Perjanjian dengan Direktur PT. Winatindo Bratasena sesuai dengan Surat Perjanjian Nomor: 1920/001/RSUD/XI/2012 senilai Rp. 26.964.993.000,00 dengan ketentuan bahwa jangka waktu penyelesaian pekerjaan adalah 35 (tiga puluh lima) hari dan pekerjaan harus sudah selesai pada tanggal 26 Desember 2012. Sejak kontrak ditandatangani, Direktur RSUD Pandan telah menerima dana taktis/fee dari Ridwan Winata beberapa kali pada waktu dan tempat yang berbeda.
Berdasarkan latar belakang tersebut, menarik untuk ditelaah lebih lanjut mengenai tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan di RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah sesuai dengan prosedur hukum yang telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Undang-Undang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 Juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana ketentuan pidana korupsi menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001?
2. Bagaimana tindak pidana korupsi dalam pengadaan barang dan jasa?
3. Bagaimana tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan dalam kasus dengan putusan Pengadilan Tinggi Medan dengan nomor 31.Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui ketentuan pidana korupsi menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
2. Untuk mengetahui tindak pidana korupsi dalam pengadaan barang dan jasa.
3. Untuk mengetahui tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan dalam kasus dengan putusan Pengadilan Tinggi Medan dengan nomor 31.Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn.
2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran tentang perkembangan penindakan hukum di bidang tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan, yaitu mengenai siapa yang dijerat dalam tindak pidana pengadaan alat-alat kesehatan tersebut dan apa sanksi hukum yang diberikan bagi pelaku tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana tersebut. Selain itu penulisan skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran mengenai hukum pidana di Indonesia, terutama bagi kalangan akademisi di Perguruan Tinggi.
b. Secara Praktis
Pembahasan skripsi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dan bahan rujukan bagi para rekan mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah dalam melakukan penelitian berkaitan dengan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan. Diharapkan penulisan skripsi ini memiliki manfaat bagi aparatur pelaksana penegakan hukum dalam rangka upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan.
D. Keaslian Penulisan
Berdasarkan pemeriksaan arsip hasil-hasil penulisan skripsi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU), Penulis tidak menemukan skripsi dengan judul yang sama dengan penulisan skripsi Penulis yang berjudul Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengadaan Alat-Alat Kesehatan (Studi Putusan No.
31/Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn).
Penulisan skripsi ini adalah asli dari ide, gagasan pemikiran dan usaha penulis sendiri tanpa ada penjiplakan, penipuan atau dengan cara lain yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu. Hasil dari upaya penulis dalam mencari keterangan-keterangan baik berupa buku-buku, internet, maupun peraturan perundang-undangan yang sangat erat kaitannya dengan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan. Dengan demikian keaslian penulisan skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak pidana adalah berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu ”strafbaar feit”. Strafbaar feit terdiri dari 3 kata, yakni straf, baar, dan feit. Dari 7 istilah yang digunakan sebagai terjemahan dari strafbaar feit itu, ternyata straf diterjemahkan dengan pidana dan hukum. Perkataan baar diterjemahkan dengan dapat dan boleh. Sedangkan untuk kata feit diterjemahkan
dengan tindak, peristiwa, pelanggaran, dan perbuatan.11 Pompe sebagaimana dalam Buku Adami Chazawi merumuskan strafbaar feit adalah suatu tindakan yang menurut suatu rumusan Undang-Undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.12
Simons sebagaimana dalam Buku P.A.F Lamintang, memberikan arti strafbaar feit sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja atau pun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. 13 Alasan Simons merumuskan strafbaar feit seperti di atas adalah:
a. Agar suatu strafbaar feit harus terdapat suatu tindakan yang dilarang atau yang diwajibkan oleh undang-undang, dimana pelanggaran terhadap larangan atau kewajiban itu telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.
b. Agar suatu tindakan itu dapat dihukum, maka tindakan tersebut harus memenuhi semua unsur dari delik seperti yang dirumuskan dalam undang-undang.
c. Setiap strafbaar feit sebagai pelanggaran terhadap larangan atau kewajiban menurut undnag-undang itu, pada hakikatnya merupakan suatu tindakan melawan hukum atau merupakan suatu onrechtmatige handeling.
11 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002, hal.69.
12 Ibid, hal.72.
13 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hal. 185.
Moeljatno sebagaimana dalam Buku Adami Chazawi memilih istilah perbuatan pidana, lalu mendefinisikan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut.14 Ketika dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melakukannya, maka unsur-unsur perbuatan pidana meliputi beberapa hal. Pertama, perbuatan itu berwujud suatu kelakuan, baik aktif maupun pasif yang berakibat pada timbulnya suatu hal atau keadaan yang dilarang oleh hukum. Kedua, kelakuan dan akibat yang timbul tersebut harus bersifat melawan hukum baik dalam pengertiannya yang formil maupun materiil. Ketiga, adanya hal-hal atau keadaan tertentu yang menyertai terjadinya kelakuan dan akibat yang dilarang oleh hukum.15
Setiap tindak pidana yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pada umumnya dapat kita jabarkan kedalam unsur-unsur yang pada dasarnya dapat kita bagi menjadi menjadi dua macam unsur, yaitu :
a. Unsur Subjektif
Yang dimaksud dengan unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur-unsur subjektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah:16
14 Adami Chazawi, Op.cit., hal 71.
15 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hal. 100.
16 P.A.F. Lamintang, Op.cit., hal. 193.
1) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa).
2) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud dalam pasal 53 ayat (1) KUHP.
3) Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat dalam pasal-pasal pencurian, penipuan, dan lan-lain.
4) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang misalnya terdapat dalam kejahatan pembunuhan menurut pasal 340 KUHP.
5) Perasaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut pasal 308 KUHP.
b. Unsur Objektif
Yang dimaksud dengan unsur-unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu didalam keadaan- keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan.
Unsur-unsur objektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah : 1) Sifat melawan hukum atau wederrechtelijkheid.
2) Kualitas dari sipelaku, misalnya ”keadaan sebagai seorang pegawai negeri” di dalam kejahatan jabatan menurut pasal 415 KUHP.
3) Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
Moeljatno juga mengemukakan unsur-unsur tindak pidana yaitu perbuatan (manusia), memenuhi rumusan dalam undang-undang (formil), bersifat melawan hukum (syarat materiil).17
2. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
Istilah korupsi berasal dari bahasa Latin ”corruptio” atau “corruptus” yang berarti kerusakan atau kebobrokan. Di samping itu istilah korupsi di beberapa negara, dipakai juga untuk menunjukkan keadaan dan perbuatan yang busuk.
Korupsi banyak dikaitkan dengan ketidakjujuran seseorang di bidang keuangan.
Beberapa istilah korupsi di beberapa negara yaitu ”gin moung” (Muangthai), yang berarti ”makan bangsa”, ”oshoku” (Jepang), yang berarti: ”kerja kotor”.18
Dalam Kamus Lengkap Oxford (The Oxford Unabridged Dictionary) korupsi didefinisikan sebagai penyimpangan atau perusakan integritas dalam pelaksanaan tugas-tugas publik dengan penyuapan atau balas jasa.
Sedangkan pengertian ringkas yang dipergunakan World Bank, korupsi adalah penyalahgunaan jabatan publik untuk keuntungan pribadi (the abuse of public office for private gain).19 Henry Campbell Black sebagaimana dalam buku H.
Elwi Danil, mengartikan korupsi sebagai suatu perbuatan yang dilakukan dengan
17 Moeljatno, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Bina Aksara, Yogyakarta, 1983, hal.55.
18 Muzakkir Samidan Prang, Op.cit., hlm. 11.
19 Muchlisin Riadi, Pengertian, Model, Bentuk, dan Jenis-Jenis Korupsi, http://www.kajianpustaka.com/2013/08/pengertian-model-bentuk-jenis-korupsi.html, diakses pada tanggal 2 Mei 2016 pukul 16.26 WIB.
maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan kewajiban resmi dan hak-hak dari pihak lain.20
Syed Hussein Alatas sebagaimana dalam Buku Muzakkir Samidan Prang menyebutkan bahwa terjadinya korupsi adalah apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seseorang dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan- kepentingan si pemberi. Termasuk dalam pengertian ini juga pemerasan yakni permintaan pemberian atau hadiah dalam pelaksanaan tugas-tugas publik.21
Ketentuan pidana mengenai korupsi diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU 31/1999), yang kemudian diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU 20/2001).22
Kedua Undang-Undang ini (UU 31/1999 dan UU 20/2001) memiliki pertimbangan yang berbeda dalam memberantas korupsi. UU 31/1999 mengajukan dua alasan memberantas korupsi, yaitu a. merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dan b. menghambat pembangunan nasional.
Sedangkan UU 20/2001 mengajukan tiga alasan memberantas korupsi, yaitu: a.
tindak pidana korupsi telah terjadi secara meluas, b. merugikan keuangan negara,
20 H. Elwi Danil, Op.cit., hal. 3
21 Muzakkir Samidan Prang, Op.cit., hlm. 14.
22 Alvi Syahrin, Tindak Pidana Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa, http://alviprofdr.blogspot.co.id/2014/06/tindak-pidana-korupsi-dalam-pengadaan.html, diakses pada tanggal 14 Juli 2016 pukul 17.44 WIB.
dan c. merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas.23
Kedua Undang-Undang ini tidak memuat secara langsung pengertian mengenai tindak pidana korupsi. Pasal 2 dan pasal 3 UU PTPK hanya mengatur secara tegas mengenai unsur-unsur pidana dari tindak pidana korupsi tersebut.
Pasal 2 ayat (1) UU PTPK, menyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara...”
Yang dimaksud dengan “secara melawan hukum” dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni walaupun perbuatan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. Dalam ketentuan ini kata “dapat” sebelum frasa
“merugikan keuangan atau perekonomian negara” menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat.24
23 Alvi Syahrin, Tindak Pidana Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa, http://alviprofdr.blogspot.co.id/2014/06/tindak-pidana-korupsi-dalam-pengadaan.html, pada tanggal 14 Juli 2016 pukul 17.44 WIB.
24 Penjelasan atas Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Selanjutnya dalam pasal 3 UU PTPK, menyatakan : “Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara...”
3. Jenis-jenis Tindak Pidana Korupsi
Menurut J. Soewartojo sebagaimana dalam Buku Evi Hartanti, ada beberapa bentuk dan jenis tindak pidana korupsi, yaitu sebagai berikut:25
a. Pungutan liar jenis tindak pidana, yaitu korupsi uang negara, menghindari pajak dan bea cukai, pemerasan dan penyuapan.
b. Pungutan liar jenis tindak pidana yang sulit dibuktikan, yaitu komisi dalam kredit bank, komisi tender proyek, imbalan jasa dalam pemberian izin-izin, kenaikan pangkat, pungutan terhadap uang perjalanan, pungli pada pos-pos pencegatan di jalan, pelabuhan dan sebagainya.
c. Pungutan liar jenis pungutan tidak sah yang dilakukan oleh Pemda, yaitu pungutan yang dilakukan tanpa ketetapan berdasarkan peraturan daerah, tetapi hanya dengan surat-surat keputusan saja.
d. Penyuapan, yaitu seorang pengusaha menawarkan uang atau jasa lain kepada seseorang atau keluarganya untuk suatu jasa bagi pemberi uang.
25 Evi Hartanti, Op.cit., hal. 20.
e. Pemerasan yaitu orang yang memegang kekuasaan menuntut pembayaran uang atau jasa lain sebagai ganti atau timbal balik fasilitas yang diberikan.
f. Pencurian, yaitu orang yang berkuasa menyalahgunakan kekuasaannya dan mencuri harta rakyat, langsung atau tidak langsung.
g. Nepotisme, yaitu orang yang berkuasa memberikan kekuasaan dan fasilitas pada keluarga atau kerabatnya, yang seharusnya orang lain juga dapat atau berhak bila dilakukan secara adil.26
Komisi Pemberantasan Korupsi melalui buku saku yang diterbitkannya menyatakan ada setidaknya 7 (tujuh) jenis korupsi yakni:27
a. Korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara.
Pasal 2 dan pasal 3 UU 31/1999 jo. UU 21/2001.
b. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap.
Pasal 5 ayat (1) huruf a, pasal 5 ayat (1) huruf b, pasal 13, pasal 5 ayat (2), pasal 12 huruf a, pasal 12 huruf b, pasal 11, pasal 6 ayat (1) huruf a, pasal 6 ayat (1) huruf b, pasal 6 ayat (2), pasal 12 huruf c, dan pasal 12 huruf d UU 31/1999 jo. UU 20/2001.
c. Korupsi yang terkait dengan penggelapan dalam jabatan.
Pasal 8, pasal 9, pasal 10 huruf a, pasal 10 huruf b, pasal 10 huruf c UU 31/1999 jo. UU 20/2001.
d. Korupsi yang terkait dengan perbuatan pemerasan.
26 Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hal.20.
27http://multimediaitjen.dephub.go.id/konten/mm/uploadedpdf/buku_saku_korupsi_kpk.pdf
?p=pdf, diakses pada tanggal 3 Mei pukul 17.26 WIB.
Pasal 12 huruf e, pasal 12 huruf g, dan pasal 12 huruf f UU 31/1999 jo.
UU 20/2001.
e. Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang.
Pasal 7 ayat (1) huruf a, pasal 7 ayat (1) huruf b, pasal 7 ayat (1) huruf c, pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 7 ayat (2), dan pasal 12 huruf h UU 31/1999 jo. UU 20/2001..
f. Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan.
Pasal 12 huruf i UU 31/1999 jo. UU 20/2001.
g. Korupsi yang terkait dengan gratifikasi.
Pasal 12 huruf b jo. Pasal 12 huruf c UU 31/1999 jo. UU 20/2001.
4. Pengadaan Barang dan Jasa
Definisi pengadaan barang dan jasa sudah tercantum dengan jelas dalam Pasal 1 angka (1) Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, menyatakan sebagai berikut.28
”Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa.”
Di samping Peraturan Presiden Nomor 70 tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, ada juga definisi mengenai pengadaan barang/jasa menurut Pasal 1 angka 1 Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang
28 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, menyatakan sebagai berikut:29
“Pengadaan barang/jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.”
Istilah pengadaan barang dan jasa atau procurement diartikan secara luas, mencakup penjelasan dari tahap persiapan, penentuan dan pelaksanaan atau administrasi tender untuk pengadaan barang, lingkup pekerjaan atau jasa lainnya.
Pengadaan barang dan jasa juga tak hanya sebatas pemilihan rekanan proyek dengan bagian pembelian atau perjanjian resmi kedua belah pihak saja, tetapi mencakup seluruh proses sejak awal perencanaan, persiapan, perizinan, penentuan pemenang tender hingga tahap pelaksanaan dan proses administrasi dalam pengadaan barang, pekerjaan atau jasa seperti jasa konsultasi teknis, jasa konsultasi keuangan, jasa konsultasi hukum atau jasa lainnya.30
Selain pengertian pengadaan dan jasa menurut peraturan perundang- undangan, Prajudi Atmosudirjo juga mengemukakan pengertian dari pengadaan barang dan jasa, yaitu: “Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah adalah kegiatan untuk memperoleh Barang dan Jasa oleh Kementerian, Lembaga, Satuan Kerja 11 Perangkat Daerah, Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang dan Jasa”.31
29 Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
30 Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 4.
31 Prajudi Atmosudirjo, Hukum Adminstrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981, hal.13-14.
5. Pengertian Alat Kesehatan
Adapun yang dimaksud dengan alat kesehatan menurut Pasal 1 angka (5) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.32
Selain alat kesehatan yang dimaksud dalam pasal 1 angka 5 Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, alat kesehatan dapat juga mengandung obat yang tidak mencapai kerja utama pada atau dalam tubuh manusia melalui porses farmakologi, imunologi, atau metabolisme tetapi dapat membantu fungsi yang diinginkan dari alat kesehatan dengan cara tersebut.33
F. Metode Penelitian 1. Pendekatan Masalah
Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, yakni penelitian yang dilakukan dengan melakukan penelitian terhadap bahan pustaka atau data sekunder.34 Penelitian dalam skripsi ini dilakukan dengan mengelompokkan hukum positif yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat- alat kesehatan. Penelitian juga dilakukan dengan menganalisis putusan pengadilan tinggi, dalam hal ini Pengadilan Tinggi Medan untuk mengetahui bagaimana
32 Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
33 Alat Kesehatan, http://e-report.alkes.kemkes.go.id/home/alkes, diakses pada tanggal 2 Mei 2016 pukul 16.44 WIB.
34 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, hal. 13-14.
implementasi hukum pidana terhadap tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan.
Di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabnya. Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum adalah pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach).35
a. Pendekatan undang-undang
Pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.
b. Pendekatan kasus
Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Kasus itu dapat berupa kasus yang terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Yang menjadi kajian pokok dalam pendekatan kasus adalah ratio decidendi atau reasoning, yaitu pertimbangan pengadilan sampai kepada suatu putusan.
c. Pendekatan historis
35 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenadamedia Grup, Jakarta, 2005, hal.
133.
Merupakan suatu pendekatan dengan menelaah latar belakang apa yang dipelajari dan perkembangan pengaturan mengenai isu yang dihadapi.
Telaah demikian diperlukan oleh peneliti manakala peneliti memang ingin mengungkap filosofis dan pola pikir yang melahirkan sesuatu yang sedang dipelajari.
d. Pendekatan komparatif
Pendekatan ini dilakukan dengan membandingkan undang-undang suatu negara dengan undang-undang dari satu atau lebih negara lain mengenai hal yang sama. Pendekatan komparatif ini dapat juga membandingkan beberapa putusan pengadilan di beberapa negara untuk kasus yang sama. Kegunaan pendekatan ini adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara undang-undang tersebut.
e. Pendekatan konseptual
Pendekatan konseptual dilakukan dengan mempelajari pandangan dan dokrtin-doktrin dalam ilmu hukum, dimana peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi.
Pemahaman atas pandangan dan doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kasus (case approach).
Dalam menggunakan pendekatan kasus, yang perlu dipahami oleh penulis adalah
ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai pada putusannya. Menurut Goodheart sebagaimana dalam buku Peter Mahmud Marzuki, ratio decidendi dapat ditemukan dengan memperhatikan fakta materiel. Fakta-fakta tersebut berupa orang, tempat, waktu, dan segala yang menyertainya asalkan tidak terbukti sebaliknya. 36 Selanjutnya akan dilihat ketentuan asas dan norma yang berlaku dan terkandung dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan dan mengaitkannya dengan putusan yang dibuat hakim melalui proses pengadilan tentang tindak pidana korupsi tersebut yaitu Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor: 31/Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn.
2. Sumber Pengumpulan Data
Sumber-sumber penelitian (bahan hukum) dapat dibedakan menjadi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.37
a. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif), seperti: peraturan perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan suatu rancangan peraturan perundang-undangan, dan putusan hakim.
b. Bahan hukum sekunder adalah semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen yang tidak resmi, seperti: buku-buku teks yang membicarakan suatu dan/atau beberapa permasalahan hukum termasuk
36 Ibid, hal. 158.
37 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2007, hal. 141.
skripsi, tesis, dan disertasi hukum; kamus-kamus hukum; jurnal-jurnal hukum; dan komentar-komentar atas putusan hakim.
3. Metode Pengumpulan Data
Keseluruhan data dalam skripsi ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan (library research), yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan seperti: peraturan perundang-undangan, buku-buku, pendapat para sarjana, dan bahan lainnya yang berkaitan dengan skripsi ini.
4. Analisa Data
Data yang diperoleh dari studi pustaka dikumpulkan dan diurutkan kemudian diorganisasikan dalam satu pola, kategori, dan satu uraian dasar.
Analisa data dalam skripsi ini adalah analisa dengan cara kualitatif terhadap data primer dan data sekunder yang meliputi isi dan struktur hukum positif, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi atau makna aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi objek kajian.38
G. Sistematika Penulisan
Gambaran secara keseluruhan mengenai skripsi ini akan dijabarkan penulis dengan cara menguraikan sistematika penulisannya yang terdiri atas 5 (lima) bab yaitu:
38 H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 107.
Bab I Pendahuluan merupakan bab yang memberikan ilustrasi guna memberikan informasi yang bersifat umum dan menyeluruh serta sistematis terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Ketentuan Pidana Korupsi Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001. Bab ini terdiri dari perkembangan pengaturan tindak pidana korupsi dalam hukum pidana Indonesia, bentuk-bentuk perbuatan yang terkategori delik dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, formulasi pertanggungjawaban pidana dalam tindak pidana korupsi, serta formulasi sanksi pidana dalam tindak pidana korupsi.
Bab III Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengadaan Barang dan Jasa. Bab ini terdiri dari pengadaan barang dan jasa serta tindak pidana korupsi, suap, upeti, dan gratifikasi dalam pengadaan barang dan jasa.
Bab IV Tindak Pidana Korupsi dalam Pengadaan Alat-Alat Kesehatan dalam Kasus dengan Putusan Pengadilan Tinggi Medan dengan Nomor 31.Pid.Sus.K/2014/Pt.Mdn. Bab ini terdiri dari posisi kasus dan analisa kasus dari putusan tersebut.
Bab V Penutup. Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran yang merupakan bagian akhir dari hasil penulisan dan kaitannya dengan masalah yang diidentifikasikan.
BAB II
KETENTUAN PIDANA KORUPSI
MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI
JUNCTO UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001
A. Perkembangan Pengaturan Tindak Pidana Korupsi Dalam Hukum Pidana Indonesia
Di Indonesia, bentuk-bentuk tindak pidana korupsi pada masa awal kemerdekaan masih sangat sederhana. Hal tersebut dapat dilihat dari perumusan pasal-pasal di KUHP, misalnya suap atau pemaksaan terhadap seseorang untuk memberikan sesuatu oleh para pejabat atau pegawai negeri.39
Korupsi di Indonesia berkembang pesat. Korupsi meluas, ada dimana-mana dan terjadi secara sistematis. Artinya, seringkali tindak pidana korupsi dilakukan dengan rekayasa yang canggih dan memanfaatkan teknologi modern. Seseorang yang mengetahui adanya dugaan korupsi, biasanya jarang melapor ataupun bersaksi, dan ketika berani untuk melapor, terkadang ada oknum penegak hukum yang tidak melakukan tindakan hukum sebagaimana mestinya.40
Perkembangan pengaturan perundang-undangan pidana dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan dan proses pembaruan hukum pidana serta berkaitan erat dengan
39 Muzakkir Samidan Prang, Op.cit., hal. 31.
40 Jawade Hafidz Arsyad, Korupsi dalam Perspektif HAN (Hukum Administrasi Negara), Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hal. 2.
sejarah perkembangan bangsa Indonesia.41 Keberadaan tindak pidana korupsi dalam hukum positif Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama, yaitu sejak berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) 1 Januari 1918, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai suatu kodifikasi dan unifikasi berlaku bagi semua golongan di Indonesia sesuai dengan asas konkordansi dan diundangkan dalam Staatblad 1915 Nomor 752, tanggal 15 Oktober 1915.42
Di dalam KUHP, tidak ditemui adanya penggunaaan terminologi korupsi secara tegas dalam rumusan delik, namun terdapat beberapa ketentuan yang dapat dipahami esensinya sebagai rumusan tindak pidana korupsi. Artinya, di dalam KUHP terdapat pasal-pasal tertentu yang secara substansial di dalamnya terkandung pengertian korupsi. Ketentuan-ketentuan tentang tindak pidana korupsi dalam KUHP ditemui pengaturannya secara terpisah di beberapa pasal pada (tiga) bab, yaitu:43
1. Bab VIII menyangkut kejahatan terhadap penguasa umum, yakni pada Pasal 209, dan 210 KUHP.
2. Bab XXI menyangkut perbuatan curang, yakni pada Pasal 387, dan 388 KUHP.
3. Bab XXVIII menyangkut kejahatan jabatan, yakni pada Pasal 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 425, dan 435 KUHP.
Rumusan tentang tindak pidana korupsi yang terdapat dalam KUHP dapat dikelompokkan atas 4 (empat) kelompok tindak pidana (delik) yaitu:
41 H. Elwi Danil, Op.cit., hal. 17.
42 Ermansjah Djaja, Tipologi Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Mandar Maju, Balikpapan, 2010, hal. 32.
43 H. Elwi Danil, Op.cit., hal. 26.
1. Kelompok tindak pidana penyuapan; yang terdiri dari Pasal 209, 210, 418, 419, dan 420 KUHP.
2. Kelompok tindak pidana penggelapan; yang terdiri dari Pasal 415, 416, dan 417 KUHP.
3. Kelompok tindak pidana kerakusan; yang terdiri dari Pasal 423 dan 425 KUHP.
4. Kelompok tindak pidana yang berkaitan dengan pemborongan, leveransir, dan rekanan; yang terdiri dari dari Pasal 387, 388, dan 435 KUHP.
Dengan demikian, secara keseluruhan di dalam KUHP terdapat 13 buah pasal yang mengatur rumusan tindak pidana, yang kemudian dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi. Di Indonesia, langkah-langkah pembentukan hukum positif untuk menghadapi masalah korupsi telah dilakukan selama beberapa masa perjalanan sejarah dan melalui beberapa masa perubahan peraturan perundang-undangan. Istilah korupsi sebagai istilah yuridis, baru digunakan pada tahun 1957, yaitu dengan adanya Peraturan Penguasa Militer yang berlaku di daerah kekuasaan Angkatan Darat (Peraturan Militer Nomor PRT/PM/06/1957).
Masa pengaturan penguasa militer terdiri atas:44
1. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/06/1957 dikeluarkan oleh Penguasa Militer Angkatan Darat dan berlaku untuk daerah kekuasan Angkatan Darat. Rumusan korupsi menurut perundang- undangan ini
44 Evi Hartanti, Op.cit., hal. 22.
ada dua yaitu, tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapa pun juga baik untuk kepentingan sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk kepentingan suatu badan yang langsung atau tidak langsung menyebabkan kerugian keuangan atau perekonomian.45
2. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/08/1957 berisi tentang pembentukan badan yang berwenang mewakili negara untuk menggugat secara perdata orang-orang yang dituduh melakukan berbagai bentuk korupsi yang bersifat keperdataan melalui Pengadilan Tinggi. Badan yang dimaksud adalah Pemilik Harta Benda (PHB).
3. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/011/1957 merupakan peraturan yang menjadi dasar hukum dari kewenangan yang dimiliki oleh Pemilik Harta Benda (PHB) untuk melakukan penyitaan harta benda yang dianggap hasil perbuatan korupsi lainnya, sambil menunggu putusan Pengadilan Tinggi.
4. Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat Nomor PRT/PEPERPU/031/1958 serta peraturan pelaksanaannya.
5. Peraturan Penguasaan Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Laut Nomor PRT/z.1/I/7/1958 tanggal 17 April 1958.
Paradigma pemberantasan tindak pidana korupsi dalam peraturan Penguasa Perang Pusat ini lebih mengutamakan pada pengembalian atau pengamanan harta atau kekayaan negara, hal ini terlihat dengan adanya ketemtuan yang mengatur
45 Martiman Prodjohamidjojo, Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi (UU No.31 Tahun 1999), Mandar Maju, Bandung, 2001, hal. 13.
tentang Pemilik Harta Benda serta kewenangannya melakukan penyitaan terhadap harta benda yang dicurigai telah diperoleh secara melawan hukum. Selain itu, ada ketentuan yang mengatur bahwa tidak akan dilakukan penuntutan secara pidana jika secara sukarela melaporkan kepada instansi yang berwajib tentang perbuatan korupsi yang telah dilakukan dan harta benda yang diperoleh dengan atau karena perbuatan korupsi yang diserahkan kepada negara.46
Selanjutnya, pada tahun 1960 dibentuk Undang-Undang Nomor 24/Prp/Tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan, dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi, yang merupakan perubahan dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961.
Sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 dibentuklah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kemajuan antara perumusan tindak pidana korupsi menurut Undang- Undang ini dengan peraturan perundang-undangan sebelumnya antara lain:47
1. Perumusan tindak pidana korupsi dengan unsur ”melawan hukum”, sedangkan peraturan terdahulu dirumuskan dengan unsur “dengan atau karena melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran”.
2. Bentuk delik korupsi merupakan ”delik formil”, berarti bahwa delik korupsi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 merumuskan dalam unsurnya serta bentuknya, akibat nyata dari perbuatan tidak disyaratkan
46 Rohim, Modus Operandi Tindak Pidana Korupsi, Pena Multi Media, Jakarta, 2008, hal.9.
47 Evi Hartanti, Op.cit., hal. 24.
untuk selesainya delik, sedangkan peraturan sebelumnya delik korupsi sebagai delik materiil.
3. Apabila dalam peraturan sebelumnya perumusan terbagi dalam tiga bagian, yaitu tindak pidana korupsi yang hanya bersifat luas dan umum, tindak pidana korupsi yang berupa penyalahgunaan kewenangan atau jabatan serta beberapa pasal delik jabatan dalam KUHP, maka dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 selain hal itu ada pula dirumuskan tindak pidana suap aktif dan suap pasif.
4. Perluasan bentuk tindak pidana korupsi berupa ”percobaan dan permufakatan” melakukan tindak pidana korupsi sudah dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi (delik selesai).
Namun demikian di dalam perkembangannya, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 dianggap oleh penegak hukum memiliki beberapa kelemahan, sehingga perlu diganti. Beberapa kelemahan tersebut, antara lain: tidak adanya ketegasan mengenai sifat rumusan tindak pidana korupsi sebagai delik formal, tidak adanya ketentuan yang dapat diterapkan terhadap korporasi sebagai subjek tindak pidana korupsi, serta mengenai sanksi pidana yang hanya menetapkan batas maksimum umum (dua puluh tahun) dan minimum umum (satu hari).
Dengan demikian, dilihat dari segi kebutuhan praktis dalam proses penegakan hukum pidana, dikarenakan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 dianggap sudah tidak lagi efektif, maka dibentuklah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang di dalamnya
terkandung aspek-aspek pembaruan hukum pidana.48 Kemudian Undang-Undang tersebut diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
B. Bentuk-Bentuk Perbuatan yang Terkategori Delik Dalam Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
Berdasarkan pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, ada 7 (tujuh) bentuk perbuatan yang terkategori sebagai delik korupsi di antaranya adalah:
1. Korupsi yang Terkait dengan Kerugian Keuangan Negara (Pasal 2 dan 3) Menurut Pasal 2 UU PTPK 1999, suatu perbuatan termasuk korupsi harus memenuhi unsur-unsur:
a. Setiap orang;
b. Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
c. Dengan cara melawan hukum;
d. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Sedangkan Pasal 3 UU PTPK 1999 menyatakan bahwa suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai korupsi apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
48 H. Elwi Danil, Op.cit., hal. 40.
a. Setiap orang;
b. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;
c. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
d. Yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan;
e. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
2. Korupsi yang Terkait dengan Suap-Menyuap (Pasal 5 ayat (1) huruf a dan b, pasal 13, pasal 5 ayat (2), pasal 12 huruf a dan b, pasal 11, pasal 6 ayat (1) huruf a dan b, pasal 6 ayat (2), pasal 12 huruf c dan d)
a. Menyuap pegawai negeri.
b. Memberi hadiah kepada pegawai negeri karena jabatannya.
c. Pegawai negeri yang menerima suap.
d. Pegawai negeri yang menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatannya.
e. Menyuap hakim dan advokat.
f. Hakim dan advokat yang menerima suap.
3. Korupsi yang Terkait dengan Penggelapan Dalam Jabatan
a. Pegawai negeri yang menggelapkan uang atau membiarkan penggelapan.
b. Pegawai negeri yang memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi.
c. Pegawai negeri yang merusakkan bukti.
d. Pegawai negeri yang membiarkan orang lain merusakkan bukti.
e. Pegawai negeri yang membantu orang lain merusakkan bukti.
4. Korupsi yang Terkait dengan Perbuatan Pemerasan a. Pegawai negeri yang memeras.
b. Pegawai negeri yang memeras pegawai negeri yang lain.
5. Korupsi yang Terkait dengan Perbuatan Curang a. Pemborong yang berbuat curang.
b. Pengawas proyek yang membiarkan perbuatan curang.
c. Rekanan TNI/Polri yang berbuat curang.
d. Pengawas rekanan TNI/Polri yang membiarkan perbuatan curang.
e. Penerima barang TNI/Polri yang membiarkan perbuatan curang.
f. Pegawai negeri yang menyerobot tanah negara sehingga merugikan orang lain.
6. Korupsi yang Terkait dengan Benturan Kepentingan Dalam Pengadaan a. Pegawai negeri yang turut serta dalam pengadaan yang diurusnya.
7. Korupsi yang Terkait dengan Gratifikasi
a. Pegawai negeri yang menerima gratifikasin dan tidak melaporkan kepada KPK dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya gratifikasi.
C. Formulasi Pertanggungjawaban Pidana Dalam Tindak Pidana Korupsi Menurut Moeljatno, perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut. 49 Pengertian perbuatan pidana tersebut tidak termasuk pengertian pertanggungjawaban pidana.
Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya perbuatan dengan suatu ancaman pidana. Apakah orang yang melakukan perbuatan kemudian dijatuhi pidana, tergantung kepada apakah dalam melakukan perbuatan itu orang tersebut memiliki kesalahan.50
Pertanggungjawaban pidana diartikan sebagai diteruskannya celaan yang objektif yang ada pada perbuatan pidana dan secara subjektif yang ada memenuhi syarat untuk dapat dipidana karena perbuatannya itu. Dasar adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, sedangkan dasar dapat dipidananya pembuat adalah asas kesalahan. Kapan seseorang dikatakan mempunyai kesalahan menyangkut masalah pertanggungjawaban pidana.51 Dengan kata lain, orang dapat melakukan tindak pidana tanpa mempunyai kesalahan, tetapi sebaliknya orang tidak mungkin mempunyai kesalahan jika tidak melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum.52
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesalahan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk memidana seseorang. Tanpa itu, pertanggungjawaban pidana tidak
49 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hal. 59.
50 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, hal. 155.
51 Ibid, hal. 156.
52 Suharto RM, Hukum Pidana Materil: Unsur-Unsur Obyektip Sebagai Dasar Dakwaan (Edisi Kedua), Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hal. 107.
akan pernah ada.53 Mengenai pentingnya unsur kesalahan dalam penjatuhan pidana juga terlihat jelas di dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 6 ayat (2)54 yang pada pokoknya menyatakan bahwa unsur kesalahan itu sangat menentukan terhadap akibat dari perbuatan seseorang, yaitu berupa penjatuhan pidana sebagai konsekuensi dari perbuatannya tersebut.
Kesalahan adalah dapat dicelanya pembuat tindak pidana karena dilihat dari segi masyarakat sebenarnya dia dapat berbuat lain jika tidak ingin melakukan perbuatan tersebut. Orang dapat dikatakan mempunyai kesalahan, jika dia pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihat dari segi masyarakat dapat dicela karenanya, yaitu kenapa melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat padahal mampu untuk mengetahui makna perbuatan tersebut, dan karenanya dapat bahkan harus menghindari perbuatan demikian.55
Berdasarkan uraian mengenai pengertian kesalahan, dapat dikatakan bahwa pengertian kesalahan adalah dasar untuk pertanggungjawaban pidana. Kesalahan merupakan keadaan jiwa dari si pembuat dan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya. Adanya kesalahan pada seseorang, maka orang tersebut bisa dicela. Mengenai keadaan jiwa dari seseorang yang melakukan perbuatan merupakan apa yang lazim disebut sebagai kemampuan bertanggung jawab, sedangkan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya itu merupakan
53 Mahrus Ali, Op.cit., hal. 157.
54 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 6 ayat (2) : “Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut Undang- Undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.”
55 Mahrus Ali, Op.cit., hal. 157.