PERANAN SUPERVISI SEKOLAH TERHADAP PENINGKATAN KINERJA GURU PAI DI SMK NEGERI 4 JENEPONTO
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Program Studi Pendidikan Agama
IslamFakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
RUSTAN K.105 191 732 12
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1437 H / 2015 M
iii
Alhamdulillahi Rabbil’Alamin penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.
Rab yang Maha Pengasih dan tidak pilih kasih, Maha Penyayang yang tidak pilih sayang penggerak yang tidak bergerak, atas segala limpahan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, serta para tabi’innya yang masih konsisten dan istiqamah dalam membumikan ajarannya.
Segala usaha dan upaya telah dilakukan oleh Penulis dalam rangka menyelesaikan proposal ini dengan semaksimal mungkin. Namun, penulis menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Akan tetapi, Penulis tak pernah menyerah karena penulis yakin ada Allah SWT yang senantiasa mengirimkan bantuanNya dan dukungan dari segala pihak semoga Allah SWT selalu merahmati kita semua dan menghimpun kita dalam hidayah-Nya, Aamiin. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada:
1. Kepada orangtua tercinta Ayahanda daeng Siama dan Ibunda daeng Gowa tersayang yang telah memberikan kasih sayang, jerih payah, cucuran keringat, dan do’a yang tidak putus-putusnya buat penulis, sungguh semua itu tak mampu penulis membalasnya dengan apapun.
2. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dekan Fakultas Agama Islam, dan semua wakil Dekan beserta Dosen-dosen dan seluruh staf Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar mereka dengan ikhlas membantu, mengarahkan, dan membimbing penulis hingga selesainya skripsi ini.
3. Amirah Mawardi S. Ag, M. Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
iii
4. Hj. Maryam, M.Th.I selaku wakil ketua jurusan pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
5. Drs. Mutakallim Sijal, M.Pd dan Drs. Muri Khalid, M.Pd.I sebagai pembimbing I dan pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai.
6. Kakak dan adik yang telah banyak memberikan dukungan dan sumbangsinya baik berupa materi maupun doa.
7. Kepada almarhum daeng Sialle dan almarhuma daeng Nurung yang sudah menganggap saya sebagai anak sendiri dan kelurganya yang telah menganggap saya sebagai saudaranya selama menempuh pendidikan di SMA 1 Bangkala hingga sekarang.
8. Kepada daeng. Ngerang dan istrinya daeng Dinging sudah yang memberikan bantuan dan kesempatan untuk tinggal di gubuk kecil namun bagaikan istana.
9. Kepala SMK Negeri 4 Jeneponto yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan penelitan dalam penyelesaian skripsi.
10.Ibu Hariyati dan pak Morra Bilu sebagai guru Pendidikan Agama Islam SMK Negeri 4 Jeneponto yang telah banyak membantu memberikan bimbingan dan arahan selama melaksanakan penelitian.
11.Kepada Adhe Roslina dan saudara Mahdin yang telah banyak meluangkan waktu dan pikirannya dalam pembuatan proposal sampai pembuatan skripsi hingga selesai.
12.Teman-teman seperjuangan SMA Negeri 1 Bangkala: Ijal, Adhy, Ino, Mustamin, Erick, Pandi, Rudi, Zulkifli, Ismail, Adhe, Feby, Ekha, Afrianti dan semua teman-teman SMA yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu.
iii dan hambatan bisa dilewati bersama.
14.Kepada perusahaan Indo Food yang memproduksi Indo Mie sebagai makanan praktis dikalangan mahasiswa.
Penulis berharap semoga amal baik semua pihak yang ikhlas memberikan andil dalam penyusunan skrispsi ini mendapatkan pahala dari Allah SWT, Aamiin. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan karya selanjutnya.
Makassar, 07 Muharram 1437 H 20 Oktober 2015 M
Penulis
v DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ...i
PENGESAHAN PEMBIMBING ... ...ii
KATA PENGANTAR ... ...iii
ABSTRAK ...iv
DAFTAR ISI... ...v
DAFTAR TABEL ...vi
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...10
C. Tujuan Penelitian...10
D. Manfaat Penelitian...11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...13
A. Pengertian Supervisi Sekolah...13
1. Tujuan Supervisi Sekolah………15
2. Fungsi dan Peran Supervisi Sekolah...16
3. Teknik – Teknik Supervisi Sekolah...22
4. Jenis – Jenis Supervisi Sekolah...23
B. Kinerja Guru...30
1. Pengertian Kinerja Guru ...30
vi
4. Syarat – Syarat Guru...40
BAB III METODE PENELITIAN...44
A. Jenis Penelitian...44
B. Lokasi dan Objek Penelitian...44
C. Variabel Penelitian ...44
D. Definisi Overasional Variabel...45
E. Populasi dan Sampel...46
F. Instrumen Penelitian...48
G. Teknik pengumpulan Data ...49
H. Teknik Analisis Data...50
BAB IV HASIL PENELITIAN ...52
A. Sejarah Berdirinya SMK Negeri 4 Jeneponto ...52
B. Peranan Supervisi Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Agama Islam di SMK Negeri 4 Jeneponto ...59
C. Proses pelaksanaan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto ....60
D. Faktor pendukung dan penghambat supervisi Sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 jeneponto ...61
vii
BAB V PENUTUP ...63
A. Kesimpulan ...63
B. Saran ...64
DAFTAR PUSTAKA………... ..66
viii
Tabel Halaman
Tabel .1 Populasi penelitian... 32
Tabel .2 Data supervisi sekolah SMK Negeri 4 Jeneponto ... 37
Tabel .3 Personil guru... 41
Tabel .4 Staf tata usaha... 43
Tabel .5 Petugas keamanan... .43
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Dengan penuh kesadaran, peneliti yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya peneliti sendiri.
Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, maka skripsi dan gelar yang diperoleh batal demi hukum.
26 Muharam 1437 H Makassar
06 November 2015
Peneliti
RUSTAN
Rustan K10519173212 Peranan Supervisi Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto (dibimbing oleh Mutakallim Sijal dan Muri Khalid)
Adapun tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang peranan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI.
(1) Untuk mengetahui peranan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto. (2) Untuk mengetahui proses pelaksanaan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto. (3) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto
Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, jumlah populasi 8 orang dan sampel penelitian berjumlah 8 orang. data diperoleh berdasarkan catatan observasi, dokumentasi dan wawancara,.Data yang terkumpul pada setiap kegiatan observasi dianalisis secara deskriptif agar dapat dilihat peningkatam kinerja guru PAI.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan supervisi sekolah maka kinerja guru pendidikan agama Islam mengalami peningkatan dimana guru pendidikan agama tersebut berusaha memperbaiki kemampuan merencanakan pembelajaran dalam kelas, pelaksanaan pembelajaran di kelas, serta evaluasi pembelajaran. Proses pelaksanaan supervisi sekolah dapat ditingkatkan dengan adanya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Faktor pendudkung supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto yaitu guru ingin dibina, mengahadirkan pemateri dari provinsi, adanya kerjasama antara guru-guru dengan kepala sekolah dan adanya kesadaran bagi guru akan tugasnya sebagai guru. Faktor penghambat supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI adalah tidak ada supervisi sekolah pada sekolah tingkat lanjut dari Departemen agama, biasa ada guru yang belum selesai RPPnya bahkan lupa bawa RPPnya pada saat proses pelaksanaan supervisi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian dengan judul Peranan Supervisi Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto dikategorikan sudah berhasil.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai kehidupan termasuk kehidupan pendidikan. ST. Ramlah, (2013:94). Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di Negara kita Indonesia, sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan sampai sekarang, maka kewajiban dan tanggung jawab para pemimpin pendidikan umumnya dan kepala sekolah khususnya mengalami perkembangan dan perubahan pula.
Perubahan-perubahan tersebut dapat berupa perubahan dalam tujuan, perubahan dalam scope (luasnya tanggung jawab/ kewajiban, serta perubahan dalam sifatnya). Ketiga aspek tersebut sangat berhubungan erat dan sukar untuk dipisahkan satu dari yang lain.
Pendidikan Agama Islam peru dikembangkan dengan tetap melihat kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan persuasif, mengingat kondisi, situasi, sarana, dan prasarana serta beragamnya kemampuan guru dalam menerapkan metode mengajar, terutama dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam.
Pada dasarnya, perkembangan merujuk kepada perubahan sistematiktentang fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi dan hasil dari
interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral. Kreativitas guru fiqih sangat penting dalam mengembangkan potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik tujuannya untuk memberikan pemahaman dan pematangan tentang perlunya Agama Islam sebagai upaya pembentukan sikap.
Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan kuantitatif dan kualitatif individu dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja sampai masa dewasa.
Perkembangan individu merupakan pola gerakan atau perubahan yang secara dinamis di mulai dari perubahan atau konsepsi dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan manusia yang terjadi akibat kematangan dan pengalaman.
Perkembangan individu disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan , kualitas individu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti faktor lingkungan yang tidak lepas dari pengaruh faktor psikososial. Baik faktor bawaan atau sering juga disebut faktor keturunan dan faktor lingkungan yang berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain menyebabkan perbedaan yang disebut dengan instilah individual differences.
3
Berdasarkan hal ini, masing-masing individu memiliki keunggulan atau kekhasan sendiri baik dari ranah perkembangan fisik, intelektual, kognitif dan bahasa, serta emosi dan sosialnya yang terlihat dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, intelektual, emosi, sosial, maupun moral-spritual, satu sama lainya saling mempengaruhi.
Pada umumnya terdapat hubungan antara korelasi yang positif antara aspek-aspek tersebut.
Perkembangan berlangsung dari out-control ke inner-control, yang berarti bahwa pada awalnya anak sangat tergantung kepada pengawasan atau bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan atau untuk melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan kedisiplinan. Seiring dengan bertambahnya pengalaman atau belajar dari pergaulan sosial tentang norma atau nilai-nilai, baik dilingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat, anak dapat mengembangkan
kemampuanya untuk mengontrol tindakan atau perilakunya oleh dirinya sendiri (inner-control).
Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu membangun budaya akademik di kalangan siswa. Dalam hal ini, pimpinan sekolah dan guru- guru perlu menampilkan dirinya sebagai figur atau panutan yang memberi suri tauladan kepada para siswa dalam membangun budaya akademik ini yang dimaksud dengan budaya akademik disini adalah merujuk pada sikap mental, kebiasaan, dan perilaku yang terkait dengan proses
pengembangan intelektual, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagaimana rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang- undang sistem pendidikan nasional Nomor 20 tahun 2003 yaitu:
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
Sejalan dengan kemajuan dalam berbagai bidang sebagai hasil pembangunan, bidang pendidikan pun mengalami perkembangan. Jika pada zaman penjajahan dulu tugas guru dan kepala sekolah hanya melaksanakan petunjuk dan perintah dari atasan saja, kini tugas mereka, terutama tugas guru sudah lebih berat.
Adanya perubahan dalam tujuan pendidikan mengubah pola scope atau luasnya tanggung jawab yang harus di pikul dan dilaksanakan oleh para pemimpin pendidikan. Hal ini mengubah pula bagaimana sifat-sifat kepemimpinan yang harus dijalankan sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendidikan merupakan bagian yang integral dalam kehidupan manusia, dimana manusia dapat membina kepribadiannya dengan jalan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian dari nilai-nilai yang ada berlangsung suatu proses yang selaras dengan tujuan utama
5
pendidikan yaitu mengembangkan kemampuan pengetahuan keterampilan dan sikap anak didik secara optimal. Proses pendidikan sangat menentukan kepribadian, skill serta budi pekerti manusia tersebut.
Pendidikan merupakan salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu bangsa bisa diketahui melalui sejauh mana komitmen masyarakat, bangsa atau pun negara dalam menyelenggarakan pendidikan nasional. Oleh karena itu, pendidikan menjadi faktor utama atau penentu bagi masa depan bangsa.
Dalam rangka perwujudan fungsi idealnya untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut, sistem pendidikan di Indonesia haruslah senantiasa mengorientasikan diri menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat Indonesia sebagai konsekuensi logis dari perubahan.
Pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan tarhadap Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasioal.
Muhaimin, (2012:75).
Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan kegiatan proses belajar mengajar sebagai upaya untuk tercapainya tujuan pendidikan. Penanggung jawab dalam proses
belajar mengajar yang dilakukan di sekolah ditentukan pula bagaimana akhlak dan kinerja guru.
Tinggi rendahnya mutu pendidikan banyak dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, karena guru secara langsung memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Agus Prasetyo, dalam Muslihani (2012:47).
Dalam dunia pendidikan di Indonesia guru dan kepala sekolah adalah salah satu supervisi atau supervisor yang merupakan center leader yang memenage aktivitas program kerja sekolah menjadi terarah, terfokus, dan mengalami peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu, kepala sekolah atau supervisor berperan penting bagi peningkatan kinerja guru untuk lebih semangat dan professional dalam mengajar mengembangkan diri dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik.
Oleh karena itu harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar siswa dengan memperbaiki kualitas pengajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru diharapkan mampu berperan aktif sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan organisasi kelas, penggunaan metode mengajar maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola belajar mengajar.
Perangkat sekolah seperti kepala sekolah, dewan guru, siswa, pegawai/karyawan harus saling mendukung untuk bekerja sama
7
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sukses atau tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sangat tergantung atas kemampuan pimpinannya untuk menumbuhkan iklim kerja sama agar dengan mudah dapat menggerakkan sumber manusia yang ada, sehingga pendayagunaannya dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Menurut Sergiovani dan Starrat yang dikutip oleh E. Mulyasa dalam Sugiono, (2000:23), mengatakan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas-tugasnya sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif.
Ada kecenderungan yang kuat bahwa untuk meningkatkan kualitas layanan dalam kualifikasi profesional guru yang perlu dibina dan ditata kembali kemampuannya sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk mengarahkan program guru agar menjadi sosok professional dalam pendidikan. Hal ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari supervisor.
Dalam melaksanakan tugasnya pengawas berkewajiban membantu guru memberi dukungan yang dapat melaksanakan tugas dengan baik sebagai pendidik maupun pengajar. Sebagai guru yang profesional mereka harus memiliki keahlian khusus dan dapat menguasai seluk beluk pendidikan
dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.
Dalam penelitian ini supervisor efektif dalam lembaga pendidikan adalah kepala sekolah yang baik. Kepala sekolah yang merupakan center of leader dalam membantu efektivitas belajar mengajar. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan tingkat operasional memiliki sentral dalam membawa keberhasilan lembaga pendidikan.
Kepala sekolah berperan memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi dan memotivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik, memberi supervisi atau pengawasan yang efisien dengan ketentuan waktu dan perencanaan.
Keterlibatan kepala sekolah dan guru pendidikan agama Islam dalam pengembangan efektivitas pembelajaran di sekolah juga mendorong rasa kepemilikan yang lebih tinggi terhadap sekolahnya yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada dengan seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang maksimal.
Kemampuan sekolah untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi siswa untuk belajar.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari sebagai upaya mendapatkan sekolah yang baik dan berkualitas.
9
Kepemimpinan kepala sekolah meliputi kepemimpinan intern dan ekstern, sebagai wujud pengakuan legitimasi lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Tentunya kepemimpinan yang efektif dimulai dari perbaikan kualitas sumber daya manusia.
Kesadaran terhadap pentingnya kehidupan agama bagi bangsa Indonesia diwujudkan dalam pemberian materi agama sejak TK hingga perguruan tinggi. Hal ini dilakukan karena pembangunan bangsa akan menuai keberhasilan jika para pelakunya memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, dimana salah satu indikatornya adalah siswa harus memiliki kesadaran beragama yang baik.
Namun dilihat dari kenyataannya justru indikatornya siswa kurang memiliki kesadaran beragama yang baik.Ini disebabkan kinerja guru pendidikan agama Islam yang belum optimal.
Oleh karena itu, peneliti menganalisis dan mendeskripsikan secara kritis tugas dan aplikasi kegiatan supervisi sebagai upaya peningkatan kinerja guru pendidikan agama Islam di salah satu sekolah kejuruan di Jeneponto.
Kekurang berhasilan guru pendidikan agama Islam menjadi pokok penting pembahasan penelitian dimana peran supervisi sekolah dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Islam dalam menjalankan tugas belajar mengajar. Dengan latar belakang tersebut peneliti memberi judul proposal ini "Peranan Supervisi Sekolah
Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam Di Smk Negeri 4 Jeneponto"
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah peranan Supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto?
2. Bagaimana proses pelaksanaan Supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto?
3. Apa faktor pendukung dan penghambat supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah peningkatan kinerja guru pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 4 Jeneponto. Sedangkan lebih khusus lagi sesuai dengan rumusan masalah yang dikaji peneliti, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang:
1. Untuk mengetahui peranan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto
2. Untuk mengetahui proses pelaksanaan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat supervisi
11
sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi stake holder sebagai berikut:
1. Kepala Sekolah.
Sebagai masukan terhadap pengembangan kompetensi strategi supervisi kepala sekolah dalam peningkatan kinerja guru pendidikan agama Islam di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Jeneponto Selain itu, penelitian ini berguna untuk memberi informasi pemikiran yang konstruktif bagi kepala sekolah dalam menjalankan tugas supervisi di sekolah yang dipimpinnya. Memperbaiki proses pembelajaran dan memberikan motivasi untuk meningkatkan kinerja guru agama Islam sehingga dapat mempermudah tujuan visi misi sekolah tercapai.
2. Pengembangan Pengetahuan Pendidikan
Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca untuk memahami pentingnya strategi-strategi supervisi sekolah dalam peningkatan kinerja guru pendidikan agama Islam bagi peneliti dan calon peneliti sebagai pengalaman berharga dan pelajaran dalam menerapkan ilmu yang didapat peneliti selama menempuh studi di Program Studi Pendidikan Agama Islam.
3. Instansi Pendidikan Lainnya
Menambah masukan dan peningkatan lembaga dan instansi pendidikan dalam mengembangkan lembaga khususnya bidang kompetensi strategi supervisi kepala dalam meningkatkan kinerja guru dalam menjalankan tugas-tugasnya.
4. Bagi Guru pada Umumnya dan Guru PAI
Bagi guru pada umumnya dan guru PAI, dapat digunakan sebagai masukan untuk memilih dan menentukan dalam melaksanakan praktek pembelajaran Umumnya dan PAI khususnya, sehingga siswa dapat memiliki kompetensi dengan materi yang diajarkan, dan profesionalisme guru semakin meningkat.
5. Bagi Siswa
Untuk merangsang minat dan motivasi belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto.
13 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Supervisi Sekolah
Dari segi etimologi supervisi diambil dari kata super artinya mempunyai kelebihan tertentu, kelebihan dalam kedudukan, pangkat, dan kualitas, visi artinya melihat dan mengawas, Yusak Burhanuddin, (1998:99). Sedangkan dari segi terminologi, supervisi adalah suatu aktivitas pemibinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan secara efektif . Dan supervisor itu sendiri memberikan bimbingan dan penyeluhan (guedance and couselling) guna kemajuan sekolah. Oleh karena itu, yang bertugas menjadi supervisor harus bersifat lapang dada atau bijak dalam menerima saran dan kritik dari semua pihak agar setiap pengambilan keputusan menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi kemajuan sekolah. Guru dan kariawan sekolah tidak henti-hentinya diarahkan dan dibina serta dibimbing untuk mencapai kesempurnaan di dalam pekerjaannya.
Tugas supervisi pertama kali dilaksanakan oleh penilik sekolah.
Pengawasan dilakukan ke setiap sekolah untuk menilai tingkat perkembangan dan kemajuan sekolah serta pelaksanaan berbagai kegiatan sekolah. Semua guru dan proses belajar-mengajar diawasi oleh penilik sekolah. Apabila semua guru dan karyawaan sekolah telah melaksanakan administrasi sekolah dengan baik, biasanya akan
memperoleh penghargaan dari penilik. Sekolah-sekolah dikompotisikan keberhasilannya dalam berbagai bidang sehingga memacu dan mendorong semua karyawan sekolah untuk meningkatkan kemajuan sekolahnya.
Kemudian, kepala sekolah pun bertindak sebagai supervisi yang mengawasi, mengarahkan, membina, dan menilai kegiatan yang dilaksanakan di Sekolah. Semua aktivitas dan proses belajar-mengajar serta tertibnya-tidaknya administrasi sekolah dinilai sehingga para guru dan karyawaan sekolah termasuk patner kepala sekolah dalam mengembangkan dan memajukan sekolahnya masing-masing.
Hal ini bagaimanapun lengkapnya sarana, alat, dan guru yang ada bila pengadministrasian dan supervisi tidak baik tentu tidak akan mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sedangkan berbicara masalah administrasi berarti berbicara mengenai perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Dalam surah At-Tur ayat 48 dijelaskan:
Terjemahnya:
Dan Bersabarlah (Muhammad) dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun.
(Depertemen Agama RI., 2006:523)
Supervisi mempunyai pengertian yang luas. Berikut ini merupakan beberapa definisi tentang supervisi. dalam Yusak Burhanuddin, (1998:99).
1. Menurut Kimball Wiles, menyatakan,” supervisi merupakan kegiatan untuk membantu tugasnya secara baik”.
15
2. Kurikulum 1975 dinyatakan bahwa,” supervisi adalah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik”.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukan oleh Ngalim Purwanto, (2014: 76) Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.
1. Tujuan Supervisi Sekolah
Tujuan supervisi sekolah ialah mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar. Yusak Burhanuddin,( 1998:100). Sedangkan menurut Piet Sahertian, (2010:19), tujuan supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Sejalan dengan yang di ungkapkan oleh Olive, dalam Piet Sahartian, (2010:19) supervisi memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa.
Beberapa tujuan supervisi berdasarkan Kurikulum 1975 dalam Yusak Burhanuddin,(1998:100) sebagai berikut:
1. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar mengajar
2. Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan.
3. Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan dan memperoleh nilai yang optimal
4. Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan dalam tugasnya 5. Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan,
kekurangan, dan kekhilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah, sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.
Dalam hal ini adapun tujuan supervisi yang dikemukakan oleh Burton dalam Ngalim Purwanto, (2014:77) merupakan perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total.
Jadi dapat disimpulkan tujuan supervisi ialah meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. Fungsi dan Peran Supervisi Sekolah a. Fungsi Supervisi
Fungsi utama supervisi ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Fungsi utama supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik. Burton & Bruckner, dalam Agus Salim (2009:198). Sedangkan Briggs mengungkapkan bahwa fungsi utama supervisi bukan hanya perbaikan pembelajaran saja tapi mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong kearah pertumbuhan profesi guru. Piet Sahartian, (2010:21).
17
Analisis yang lebih luas seperti yang telah dibahas oleh Swearingen dalam bukunya Supervision of Instruction – Foundation and Dimension dalam Suyatno (2009:25) ia mengemukakan 8 fungsi supervisi:
1) Mengkoordinasi semua usaha sekolah.
oleh karena perubahan terus-menerus terjadi, maka kegiatan sekolah juga makin bertambah. Usaha-usaha sekolah makin menyebar. Perlu ada usaha yang baik terhadap semua usaha sekolah.
2) Melengkapi kepemimpinan sekolah.
Kepemimpinan itu suatu keterampilan yang harus dipelajari.
Dan itu harus melalui latihan terus-menerus. Dengan melatih dan melengkapi guru-guru agar mereka memiliki keterampilan dalam kepemimpinan di Sekolah.
3) Memperluas pengalaman guru-guru.
Seorang yang akan jadi pemimpin, bila ia mau belajar dari pengalaman nyata di lapangan, melalui pengalaman baru ia dapat belajar untuk memperkaya dirinya dengan pengalaman belajar baru.
4) Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif.
Usaha-usaha kreatif bersumber pada pandangan manusia.
Semua orang percaya pada manusia dicptakan dengan memiliki potensi untuk berkembang dan berkarya. Supervisi bertugas untuk
menciptakan suasana yang memungkinkan guru-guru dapat berusaha meningkatkan potensi-potensi kreativitas dalam dirinya.
5) Memberi fasilitas dan penilaian yang terus-menerus.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya diperlukan penilaian terus-menerus. Melalalui penelitian kita dapat diketahui kelemahan dan kelebihan dari hasil dan proses belajar-mengajar. Penilaian itu harus bersifat menyeluruh dan kontinu. Menyeluruh berarti penilaian itu menyangkut semua aspek kegiatan di sekolah.kontinu dalam arti penilaian berlangsung setiap saat, yaitu pada awal, pertengahan, dan diakhir dengan melakukan sesuatu tugas.
Mengadakan penilaian secara teratur merupakan suatu fungsi utama dari supervisi pendidikan.
6) Menganalisis situasi belajar-mengajar.
Supervisi diberikan dengan tujuan tertentu. Tujuannya ialah untuk memperbaiki situasi belajar-mengajar. Agar usaha memperbaiki situasi belajar dapat tercapai, maka perlu analisis hasil dan proses pembelajaran. Dalam situasi belajar-mengajar peranan guru-peserta didik memegang peranan penting.
Memperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta didik akan memberikan pengalaman dan umpan balik terhadap perbaikan pembelajaran. Yang pada gilirannya memperbaiki tugas-tugas pembelajaran dan tujuan-tujuan pendidikan. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perbaikan belajar-mengajar. Fungsi supervisi
19
adalah menganalisis faktor-faktor tersebut. Penganalisaan memberikan pengalaman baru dalam menyusun strategi dan usaha kearah perbaikan.
Suatu jabatan akan mengalami pertumbuhan bila selalu ada usaha perbaikan pengalaman baru. Pengalaman baru memberi motivasi kearah usaha peningkatan.
7) Memperlengkapi setiap anggota staf dengan pengetahuan yang baru dan keterampilan-kerampilan baru pula.
Supervisi memberi dorongan stimulasi dan membantu guru agar mengembangkan pengetahuan dalam keterampilan hal mengajar.
Mengajar itu suatu ilmu pengetahuan, suatu keterampilan, dan sekaligus suatu kiat (semi). Kemampuan-kemampuan hanya dicapai bila ada latihan, mengulang dan dengan sengaja dipelajari.
Setiap orang selalu menginginkan sesuatu yang baru. Motivasi untuk membarui itu merupakan fungsi dari supervisi pendidikan.
8) Memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru.
Untuk mencapai suatu tujuan yang lebih tinggi harus berdasarkan pada tujuan-tujuan sebelumnya. Setiap guru pada suatu saat harus mampu mengukur kemampuannya.
Mengembangkan kemampuan guru adalah salah satu fungsi supervisi pendidikan.
Sedangkan menurut Daryanto dalam Piet Sahartian fungsi atau tugas supervisi adalah:
1. Menjalankan aktivitas untuk mengetahui situasi administrasi pendidikan sebagai kegiatan pendidikan disekolah dalam segala bidang
2. Menentukan syarat-syarat yang diperlukan untuk menciptakan situasi pendidikan disekolah
3. Menjalankan aktivitas untuk mempertinggi hasil dan untuk menghilangkan hambatan-hambatan.
Dalam melakukan sesuatu pekerjaan orang yang terlibat dalam pekerjaan itu harus mengetahui dengan jelas apakah tujuan pekerjaan itu, yaitu apa yag hendak dicapai. Di bidang pendidikan dan pengajaran seorang supervisor pendidikan harus mempunyai pengetahuan yang cukup jelas.
b. Peran Supervisi
Dilihat dari fungsinya tampak dengan jelas peranan supervisi. Peranan dalam kinerja supervisor yang melaksanakan tugasnya. Mengenai peranan supervisi dapat dikemukakan berbagai pendapat para ahli:
1. Menurut Peter F Olivia, dalam Piet Sahertian (2010: 25) peran supervisi adalah:
a) Coordinator,
21
Sebagai koordinator ia dapat mengkoordinasi program belajar-mengajar, tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru.
b) Konsultan,
Sebagai konsultan ia dapat memberi bantuan bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun kolompok.
c) Pemimpin kelompok,
Sebagai pemimpin kolompok ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru-guru secara bersama. Sebagai pemimpin kolompok, ia dapat mengembangkan keterampilan dan dan kiat-kiat dalam bekerja untuk kolompok (working for the group), bekerja dengan kolompok (working with the group) dan bekerja melalui kolompok (working through the group)
d) Evaluator.
Sebagai evaluator ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan. Seorang pemimpin pendidikan dalam hal ini kepala sekolah yang berfungsi sebagai supervisi nampak dengan jelas peranannya sesuai dengan pengertian hakiki dan supervisi itu sendiri, maka peranan supervisi adalah memberi support
(supporting), membantu (assisting), dan mengikutsertakan (sharing).
2. Menurut Anonimous, dalam Abdurahman, (2012:12) peran supervisi adalah:
a) Sebagai Manajemen, b) Service Activity c) Sebagai pemimpin
3. Teknik –Teknik Supervisi Sekolah
Banyak teknik supervisi sekolah yang dapat di gunakan dalam meningkatkan kemampuan personil sekolah, yaitu:
1. Kunjungan sekolah dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas/ penilik. Teknik ini adalah teknik yang paling sering dipakai untuk mengamati proses kerja. Alat yang dipakai, metode yang digunakan, dan sebagainya. Hasil observasi dianalisis kemudian didiskusikan dengan guru, serta disusun program yang baik untuk memperbaiki proses belajar- mengajar. Kunjungan kelas sebaiknya dipersiapkan secara cermat dan dilaksanakan dengan hati-hati.
2. Pembicaraan Individual, merupakan teknik supervisi yang efektif sebab memberi kesempatan seluas-luasnya bagi kepala sekolah atau pengawas/ penilik untuk berbicara langsung dengan guru tentang masalah yang berkaitan dengan
23
professional pribadi mereka. Masalah-masalah itu banyak ragamnya, ada yang berkaitan dengan pengajaran, segela sesuatu yang dibutuhkan guru, pemilihan, dan penggunaan alat peraga.
3. Diskusi kelompok adalah kegiatan kelompok yang dilakukan dalam situasi tatap muka yang sebaiknya tidak mempersoalkan kesulitan pribadi melainkan membina kerjasama antara guru- guru agar saling mengisi dan membantu kesulitan mereka.
4. Demonstrasi mengajar sebaiknya disusun secara teliti dan mengutamakan penekanan yang dianggap penting.
5. Kunjungan kelas antar guru, dalam hal ini biasanya lebih efektif dan disukai karena menciptakan keakraban antara sesama guru. Hasil observasi sebaiknya digunakan untuk menilai aktivitas sendiri.
4. Jenis – jenis supervisi sekolah
Dalam uraian terdahulu dijelaskan bahwa supervisi mengandung pengertian yang luas. Setiap kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan di Sekolah ataupun di Kantor – Kantor memerlukan adanya supervisor agar pekerjaan itu dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Di dalam dunia pendidikan supervisi sekolah dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
a. Supervisi Umum
Yang dimaksud dengan supervisi umum adalah supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan – kegiatan atau pekerjaan yang secara langsung berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran seperti supervisi terhadap pengololaan bangunan dan perlengkapan sekolah atau kantor – kantor pendidikan, supervisi terhadap kegiatan pengololaan administrasi kantor, supervisi pengololaan keuangan sekolah atau kantor pendidikan, dan sebagainya.
b. Sepervisi Pengajaran
Supervisi pengajaran ialah kegiatan – kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi – kondisi baik personel maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar – mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan.
c. Supervisi Klinis
Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran.
Dikatakan supervisi klinis karena prosedur pelaksanaannya lebih ditekankan kepada mencari sebab – sebab atau kelemahan yang terjadi didalam proses belajar – mengajar, dan kemudian secara
25
langsung pula diusahkan bagaimana memperbaiki kelemahan dan kekurangan tersebut. Ngalim Purwanto,( 2014: 89-90).
Di dalam supervisi klinis cara “memberikan obatnya”
dilakukan setelah supervisor mengadakan pengamatan secara langsung terhadap cara guru mengajar, dengan mengadakan
“diskusi balikan” antara supervisor dengan guru yang bersangkutan.
Yang dimaksud “diskusi balikan” disini ialah diskusi yang dilakukan segera setelah guru setelah mengajar, dan bertujuan untuk memperoleh balikan tentang kebaikan maupun kelemahan yang terdapat selama guru mengajar serta bagaimana usaha untuk memperbaikinya.
Menurut Jhon J. Bolla dalam Ngalim Purwanto (2014 : 91) “ supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru/ calon guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut.”
Ciri – ciri supervisi klinis yaitu menurut La Sulo dalam Ngalim Purwanto (2014: 91) mengemukakan ciri – ciri supervisi klinis ditinjau dari segi pelaksanaanya sebagai berikut:
1. Bimbingan supervisor kepada guru/ calon guru bersifat bantuan bukan perintah atau instruksi.
2. Jenis kerampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru/
calon guru yang akan disupervisi, dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan supervisor.
3. Meskipun guru atau calon guru mempergunakan berbagai keterampilan mengajar secara terintegrasi, sasaran supervisi hanya pada beberapa keterampilan tertentu saja;
4. Instrumen supervisi dikembangkan dan disepakati bersama antara supervisor dan guru berdasarkan kontrak (lihat nomor 3 diatas)
5. Balikan diberikan dengan segera dan secara objektif (sesuai data yang direkam oleh instrumen observasi)
6. Meskipun supevisor telah menganalisis dan menginterpretasi data yang direkan oleh instrumen observasi, di dalam diskusi atau pertemuan balikan guru/ calon guru diminta terlebih dahulu menganalisi penampilannya.
7. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah dan mengarahkan.
8. Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka 9. Supervisi berlangsung dalam siklus yang meliputi
perencanaan, observasi, dan diskusi/ pertemuan balikan 10.Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk pembentukan
atau peningkatan dan perbaikan keterampilan mengajar;
dipihak lain dipakai dalam konteks pendidikan prajabatan maupun dalam jabatan (preservice dan inservice education).
d. Supervisi pendidikan
Secara umum supervisi pendidikan adalah proses pembelajaran peserta didik dengan tujuan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Karena itu supervisi pendidikan menaruh perhatian utama pada upaya-upaya peningkatan profesionalitas guru sehingga memiliki kemampun
1. Merencanakan kegiatan pembelajaran 2. Melaksanakan pembelajaran
3. Menilai proses dan hasil pembelajaran 4. Memanfaatkan hasil penilaian
5. Memberikan umpan balik
6. Melayani peserta didik yang mengalami kesulitan
27
7. Menciptakan lingkungan pembalajaran yang men yenangkan 8. Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu
pembelajaran
9. Memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang tesedia 10. Mengembangkan interaksi pendidikan (strategi, metode dan
teknik).
11.melakukan penelitian penting untuk perbaikan pembelajaran.
Landasan Religius supervisi
Menurut Al qur’an landasan supervisi terdapat dalam surah Al Hajj ayat 41
Terjemahnya:
(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
(Depertemen Agama RI., 2006:337)
Surah Al-Baqarah ayat 148:
Terjemahnya:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.
di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Depertemen Agama RI., 2006:23)
Landasan yuridis Supervisi
Terdapat beberapa landasan yuridis yang mendasari pentingnya supervisi pengajaran pada tingkat satuan pendidikan antara lain sebagai berikut:
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional: Bahwa sistem pendidikan nasiomal harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peingkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajeman pendidikan untuk mengahadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang guru dan Dosen: Bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mempu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terarah, terencana dan berkesinambungan.
c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah: pasal
29
1. (1) Untuk diangkat sebagai epala sekolah/ madrasah seseorang wajib memenuhi standar kepala sekolah / madrasah yang berlaku nasional. (2) Standar kepala sekolah /madrash sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Yaitu salah satunya kompetensinya supervisi yang meliputi: 1. Merencanakan progra supervisi pengajaran dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, 2. Melaksanakan superterhadvisi pengajaran terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, serta, 3.
Menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru: pasal 1 (1) Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang belaku secara nasional. (2) Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran peraturan Menteri ini. Pasal 2 ketentuan mengenai guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1) akan diatur dengan peraturan Menteri tersendiri.
B. Kinerja Guru
1. Pengertian Kinerja Guru
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kinerja memiliki arti tentang sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan kerja, Purwadarminto,( 2002:156). Dalam Bahasa Inggris, padanan untuk makna kinerja adalah kata ferformance yang berarti kemampuan dan kemauan melakukan sesuatu pekerjaan, atau dapat disebut juga sebagai prestasi kerja, yaitu hasil yang diinginkan dari suatu perilaku. Dalam pengertian ini mencakup kemampuan mental dan fisik.
Prestasi bukan berarti banyaknya kejuaraan yag diperoleh guru tetapi suatu keberhasilan yang salah satunya nampak dari suatu proses belajar mengajar.
Untuk mencapai kinerja maksimal, guru harus berusaha mengembangkan seluruh kompetensi yang dimilikinya dan juga manfaatkan serta ciptakan situasi yang ada dilingkungan sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku. Kemudian Anwar Prabu dalam Purwadarminto mendefinisikan kinerja ( prestasi kerja) sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Secara terminologi, Fremont, Kast dan Rosenzweig yang diterjemahkan oleh M. Yasin, sebagaimana yang dikutip oleh Afnibar, dalam Mulyasa, (2012:55), menyatakan bahwa kinerja adalah proses kerja seseorang individu untuk mencapai tujuan yang relevan.
31
Dachniel menyatakan bahwa kinerja berarti kemauan dan kemampuan melakukan suatu pekerjaan. Artinya, kinerja merupakan semangat, intensitas, kemauan serta kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam kata kinerja juga terkandung makna profesionalitas, sebab dalam mewujudkan kinerja, keterampilan seseorang dalam bidang yang ia kerjakan sangat menentukan.
Selanjutnya, menurut Tuckman dalam Achmad Sanusi, (1984: 101), mendefinisikan bahwa kinerja (performance) digunakan untuk menandai manifestasi pengetahuan, pemahaman, ide, konsep, keterampilan dan sebagainya yang dapat diamati. Ditinjau dari pandangan Islam, makna kinerja memiliki arti kesungguhan dan kemauan dalam melaksanakan tugas, dalam surat at-Taubah 105 dijelaskan :
Terjemahnya :
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
( Depertemen agama RI., 2006:187)
Selanjutnya dalam surat Al-Maidah ayat 35 dijelaskan :
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah
pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan.(Depertemen Agama RI., 2006:106)
Islam memberikan rambu-rambu bagi ummatnya, bahwa ketika melaksanakan suatu pekerjaan yang baik, maka tuntutan untuk bersungguh-sungguh menjadi sesuatu yang mutlak. Kesungguhan ini dinilai sebagai sebuah jihad. Orang yang bersungguh-sunguh dalam bekerja, bukan manusia saja yang akan melihat pekerjaan yang ia lakukan, bahkan Allah memberikan penghargaan sebagai orang yang mulia atas prestasi kerja yang dilakukan dengan kemuliaan pula.
Kemudian dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari umar Ra, Nabi SAW bersabda :
ا ﻰﻠﺻ ا ل وﺳر ل ﺎﻗ :ل ﺎﻗ ﮫﻧﻋ ا ﻲﺿر ب ﺎطﺧﻟ ا نﺑ ارﻣﻋ نﻋ : مﻠﺳ و ﮫﯾﻠﻋ
ﻧ إ ﮫﺗ رﺟھ تﻧ ﺎﻛ نﻣﻓ ىوﻧ ﺎﻣ ئرﻣ ا لﻛﻟ ﺎﻣﻧ إ و ت ﺎﯾﻧﻟ ﺎﺑ ل ﺎﻣﻋ ﻻ ا ﺎﻣ
ﮫﻟ وﺳر و ا ﻰﻟ إ ا ﺎﮭﺑﯾﺻﯾ ﺎﯾﻧ دﻟ ﮫﺗ رﺟھ تﻧ ﺎﻛ نﻣ و ﮫﻟ وﺳر و ا ﻰﻟ إ ﮫﺗ رﺟﮭﻓ
ﮫﯾﻟ إرﺟ ﺎھ ﺎﻣ ﻰﻟ إ ﮫﺗ رﺟﮭﻓ ﺎﮭﺣﻛﻧﯾ ة أرﻣ إ و
( د و د وﺑ أ ه ا و ر )
Artinya:
“Dari Umar Ibn al-Khaththab ra., dia berkata: Rasulullah telah bersabda bahwa amal-amal (itu sah bila disertai dengan niat). Dan bahwa bagi setiap orang (mendapatkan apa yang diniatkan). Maka barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya kepada harta dunia yang dicarinya atau seorang wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dihijrahinya.”(Syarah Hadits Arba’in Annawawiyyah, 2008: 1)
33
Pesan utama yang terkandung dalam hadits diatas adalah kesung- guhan, apapun aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan niat yang ia lahirkan dari dalam hatinya. Niat yang benar dan sungguh-sungguh akan melahirkan aktivitas yang penuh kesungguhan pula. Hasil dari aktivitas itu akan sesuai dengan apa yang telah menjadi niat dalam hatinya. Artinya kinerja yang memiliki makna kesungguhan itu akan berkaitan erat dengan niat yang menjadi awal seseorang melakukan aktivitas.
Guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Menurut Departemen pendidikan dan kebudayaan, guru adalah seorang yang mempunyai gagasan yang harus di wujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menunjang hubungan sebaik-baiknya dengan anak didik, sehingga menunjang tinggi, mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan, keilmuan.
Kegiatan mengajar merupakan suatu keterampilan yang dengan sendirinya dapat dipelajari, sebagai suatu ilmu yang juga sebagai seni.
Seorang guru harus bersifat sebagai artis dan sebagai scientist. Sebagai seorang artis, guru harus dapat berperan dimuka kelas, sebagai mana seorang artis berperan di atas panggung.
Hanya bedanya seorang guru harus menumpahkan seluruh kebiasaan hidupnya sebagai guru, yang harus ditiru tidak memiliki cela di masyarakat. Bila seorang guru berasal dari tokoh-tokoh masyarakat,
seperti tokoh politik, seorang militer, seorang mantan pejabat, seorang pedagang, yang telah memperoleh dasar-dasar pengetahuan keguruan, maka dia harus memerankan lakon guru di depan kelas, tidak lagi sebagai mana profesinya semula, masih berlagak sebagai tokoh politik, masih seperti tentara, masih seperti pedagang dan sebagainya.
Kemudian sebagai scientist, dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul di depan kelas atau disekolah, maka guru dapat memecahkan permasalahan tersebut dengan cara-cara ilmiah, tidak lagi sebagai mana orang awam menghadapi masalah dengan cara emosional atau dengan mengambil jalan pintas, tampa disertai dengan pertimbangan yang matang. Oleh sebab itu, keterampilan mengajar dapat dipelajari, dilatih sehingga menjadi kebiasaan yang melekat pada diri.
Jadi yang paling penting dalam mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut. Dari pandangan terakhir itu, maka peranan yang menonjol dalam kegiatan pengajaran ada pada siswa meskipun tidak berarti bahwa peranan guru disisihkan, hanya dirubah saja, guru bukan berperan sebagai penyampai informasi akan tetapi hanya bertindak sebagai pengarah dan pemberi fasilitas untuk mewujudkan terciptanya pro
Dalam dunia pendidikan, maka kinerja guru dapat dilihat dari berbagai tugas yang telah diamanahkan dalam Undang-undang. Pada hakikatnya, kinerja guru bukan hanya sebatas melaksanakan kurikulum sebagai beban kerja, tetapi justeru banyak tugas lain yang harus
35
dilaksanakan dan itu terwujud dalam bentuk kinerja seorang guru. Inilah hakikatnya tuntutan profesionalitas yang telah di sematkan kepada beban dan tanggung jawab kepada mereka.
Secara umum, dalam UU no 20 tahun 2003 dan UU no 14 tahun 2005 telah memberikan gambaran bahwa kinerja guru berada dalam rumusan melaksanakan tugas Utama dan menunaikan beban kerja, serta mewujudkan kompetensi dalam mengembang amanah pendidikan yang ada di pudaknya.
Sedangkan kinerja guru agama Islam telah memberikan gambaran bahwa tugasnya bukan hanya sekedar mentransformasikan ilmu kepada para peserta didik, tetapi juga harus berusaha memberikan srtategi pemaknaan dari materi pembalajaran yang ia laksanakan, sehingga pendidikan Agama Islam sebagai syarat pendidikan nilai tidak hanya sekedar berada dalam level keilmuan peserta didik saja, tetapi menjadi cermin dalam kehidupan sehari-hari
Sebagai pendidik, justru amanah kinerja dalam melaksanakan tugasnya lebih terfokus pada internalisasi nilai yang berada dalam makna tugas mendidik..
Agama senantiasa mendorong agar sesorang berpredikat muslim sejati, serta memberikan motivasi hidup sebagai pembangun dan pengendali diri manusia yang senantiasa harus diamalkan. Kesemuanya ini memberikan dorongan untuk berakhlak dan bermoral agar dapat menjamin kelestarian, keselarasan, dan keseimbangan dalam hidup
manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai ketentraman dunia dan akhirat.
Adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh guru untuk membujuk siswa agar menjadi manusia yang “agamawan” dan tekun melakukan ibadah dan hal ini merupkan hasil usaha pendekatan dari jiwa kepribadian guru, karena dengan kepribadian melakukan proses belajar mengajar diharapakan tercapainya usaha belajar siswa yang diharapkan.
Zakiah Darajat (1994:16), merupakan seorang pakar psikologi dalam bukunya kepribadian Guru menjelaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik atau pembina yang lebih baik bagi anak didiknya”. Dengan demikian dipahami bahwa bukan hanya profesi guru yang dituntut, melainkan kepribadian harus pula dimiliki sebagai bekal seorang pendidik. Hal yang satu ini menjadi kemutlakan karena
2. Pengertian Guru
Guru merupakan pembimbing dan pendidik yang sangat berpengaruh dalam memberikan pengajaran kepada siswa.
Sejalan dengan yang dijelaskan diatas, menurut UU SIKDIKNAS No.14 Tahun 2005:
guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, megajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jenjang pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah .
37
Sedangkan menurut Tohirin, ( 2011:15 ) pengertian guru yaitu
“Suatu jabatan profesional, karena ia menuntut dimilikinya disiplin ilmu tertentu yang hanya bisa diperoleh melalui lembaga pendidikan profesi”.
Pendidikan agama pertama kali diberikan sejak kecil, karena orang tualah sebagai peletak dasar pertama dalam menumbuhkan jiwa keagamaan Sedangkan Guru PAI di sekolah merupakan pengembang potensi keagamaan yang telah diperoleh dari kedua orangtuanya sejak kecil. Kalau siswa tidak mempunyai potensi keagamaan, yang diterima dari kedua orang tuanya, maka di sinilah letak permasalahannya, sehingga siswa tersebut mengalami kebimbangan dalam mepelajari Agama Islam.
Adanya siswa seperti ini menyebabkan Guru harus mendekati siswanya untuk memotivasi agar siswa tersebut lepas dari kebimbangan yang dialaminya. sehingga secara tidak langsung siswa yang bersangkutan dapat meyakini akan kebenaran agama Islam sebagai agama yang dianutnya.
Menurut Arifin (1998:2), memaknai bahwa Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma kewahyuan bagi kepentingan hidup manusia di atas bumi, baru aktual dan fungsional bila diiternalisasikan ke- dalam pribadi melalui proses pendidikan yang konsisten terarah kepada tujuan.
Keterbatasan alam pikiran siswa ini tentu disadari dari perbuatan jasmaniah yang biasanya menimbulkan kegoncangan, kecemasan, emosi
dan kekhawatiran yang pada akhirnya kegoncangan tersebut menimbulkan kurang kepercayaan kepada keagamaaan. Pada segi ini dapat dilihat kecenderungan siswa dalam beragama yang sewaktu-waktu fanatik dan sewaktu-waktu lemah imannya. Sebagai contoh dalam hal ibadah (shalat) yang malas melaksanakan shalat. Sehingga perlu diperhatikan oleh seorang guru khususnya guru agama.
Bilamana ada siswanya yang malas beribadah, secara spontanitas guru harus mengatasi siswanya dengan jalan pendekatan terhadap siswa yang bersangkutan. Adanya hubungan yang harmonis menunjukkan mudahnya komunikasi komunikasi guru terhadap siswanya dalam memberikan pemahaman atau ransangan yang sedapat mungkin mampu menggugah hatinya dalam menerima segala saran-saran yang diberikan.
Mengingat bahwa siswa seperti itu sangat membutuhkan bantuan untuk diberikan pemahaman secara mendalam sampai mereka bisa menyakini kebenaran Islam, agar terhindar dari perbuatan dosa yang biasa dilakukan.
Guru harus senantiasa memerhatikan siswanya agar mereka dapat terbuka menyampaikan segala hambatannya yang ada pada diri mereka dan mereka senang untuk menerima segala nasehat dan bimbingan yang diberikan oleh gurunya.
Selanjutnya Arifin ( 1998:45) juga memaknai guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah ditentukan dalam proses belajar mengajar.
39
Agama memberikan pedoman yang senantiasa harus dipegangi dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Agar tertanam jiwa keagamaan terhadap para siswa, maka penulis menganggap bahwa pendekatan individual sangat diharapkan dimana guru agama mendekati siswa secara perorangan dalam memberikan pengertian bahwa Agama adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan harus dipenuhi. Dengan demikian Agama Islam merupakan pegangan hidup yang senantiasa dijadikan acuan dalam gerak langkah manusia.
3. Sifat- sifat Guru
Seorang pendidik dapat menjalankan fungsi sebagaimana yang telah dibebankan Allah kepada Rasul dan pengikutnya, maka seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat berikut ini :
a. Seorang pendidik hendaknya mengajarkan ilmunya dengan sabar.
b. Ketika menyampaikan ilmunya kepada anak didik, seorang pendidik harus memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang dia ajarkan dalam kehidupan pribadinya.
c. Seorang guru harus senantiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kajiannya.
d. Seorang pendidik harus cerdik dan terampil dalam menciptakan metode pengajaran yang variatif serta sesuai dengan situasi dan materi pelajaran.
e. Seorang guru harus mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai proporsinya sehingga dia akan mampu mengontrol dan menguasai siswa.
f. Seorang guru dituntut untuk memahami psikologi anak, psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan sehingga ketika dia mengajar, dia akan memahami dan memperlakukan anak didiknya sesuai kadar intelektual dan kesiapan psikologisnya.
g. Seorang guru dituntut untuk peka terhadap fenomena kehidupan sehingga dia mampu memahami berbagai kecenderungan dunia beserta dampak dan akibatnya terhadap anak didik, terutama dampak terhadap akidah dan pola pikir mereka.
h. Seorang guru dituntut memiliki sikap adil terhadap seluruh anak didiknya.
4. Syarat-Syarat Guru
Dalam Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab IV pasal 8 tersebut disebutkan ada 5 syarat bagi seorang guru , yaitu :
a. Memiliki Kualifikasi Akademik . Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang guru atau pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan kata lain Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan
41
akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan.
Ijazah yang harus dimiliki guru adalah Ijazah jenjang Sarjana S1 atau Diploma IV yang sesuai dengan jenis,jenjang dan satuan pendidikan atau mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
b. Memiliki Kompetensi. Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi guru menurut Undang-undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial. Mengenai Kompetensi guru akan penulis uraikan dalam sub bab tersendiri
c. Memiliki Sertifikat Pendidik. Sertifikat Pendidik adalah sertifikat yang ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara serifikasi sebagai bukti formal pengakuan guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga professional. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesi guru melalui proses sertifikasi. Guru yang telah mendapat sertifikat pendidik berarti telah mempunyai kualifikasi mengajar seperti yang dijelaskan di dalam sertifikasi tersebut.
d. Sehat Jasmani dan Rohani. Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.
Seorang guru (pendidik) adalah merupakan petugas lapangan dalam pendidikan. Faktor kesehatan jasmani adalah faktor yang menentukan terhadap lancar dan tidaknya proses pendidikan yang ada, dan di samping itu kesehatan jasmani dari seorang guru banyak memberikan pengaruh terhadap anak didik terutama yang menyangkut kebanggaan mereka apabila memiliki guru yang berbadan sehat.
Guru yang mengidap penyakit menular sangat membahayakan anak didik. Disamping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah dalam mengajar, dan kerap kali absen yang tentunya merugikan anak didik.
Sedangkan yang dimaksud sehat rohani menyangkut masalah keseluruhan bentuk rohaniah manusiawi hubungannya dengan masalah moral yang baik, moral yang luhur, moral tinggi, dimana seorang guru harus memiliki moral yang baik dan menjadi teladan bagi siswanya. Apa yang hendak disampaikan kepada murid untuk menuju tingkat martabat kemanusiaan yang luhur hendaklah lebih dahulu guru itu sendiri memiliki martabat tersebut, sebab nantinya menyangkut masalah kewibawaan bagi seorang guru.
43
Adapun sifat-sifat yang dapat digolongkan ke dalam moral atau budi yang luhur antara lain berlaku jujur, berlaku adil terhadap siapapun, lebih-lebih terhadap dirinya, cinta kepada kebenaran, bertindak bijaksana, suka memaafkan, tidak pembenci, mau mengakui kesalahan sendiri, ikhlas berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.
e. Memiliki Kemampuan untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional Guru harus punya kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 :
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”