LAPORAN AKHIR
PENELITIAN PRODUK TERAPAN
PEMODELAN STANDAR KEBUTUHAN TULANGAN PADA KOMPONEN STRUKTURAL KONSTRUKSI
BANGUNAN GEDUNG
Tahun ke-1 dari rencana 2 tahun
Ketua : Ir. Tripoli, MT (0011055901) Anggota : Mubarak, ST, MT (0006057502) Nurisra, ST, MT (0001107002)
Dibiayai oleh :
Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sesuai dengan Kontrak Penelitian
Nomor : 105/SP2H/LT/DPRM/IV/2017 Tanggal 3 April 2017
UNIVERSITAS SYIAH KUALA OKTOBER 2017
RINGKASAN
Laporan Akhir penelitian ini melaporkan hasil kegiatan penelitian yang telah dicapai pada tahun ke-1 dari rencana 2 tahun. Penelitian pada tahun pertama ditekankan pada tiga aspek dari keseluruhan enam aspek yang menjadi tujuan penelitian. Pertama, mengidentifikasi kebutuhan tulangan pada tiap komponen struktural bangunan bila dilihat dari dimensi dan mutu beton. Kedua, menganalisis rasio penggunaan tulangan pada setiap m3 beton pada tiap komponen struktural bangunan. Dan ketiga, mengevaluasi penyimpangan yang mungkin timbul dari Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) pada SNI 7394:2008 dengan hasil analisis desain lapangan.
Terkait dengan ketiga tujuan penelitian tersebut, hasil penelitian secara umum mengindikasikan bahwa penerapan SNI terterkait AHSP tidak dapat diberlakukan secara umum. Diperlukan adanya pertimbangan terkait dengan zonasi dimana konstruksi bangunan gedung akan dibangun, sebagaimana klasifikasi zonasi yang tertuang dalam SNI 1726:2012. Di samping itu, faktor terkait dengan fungsi bangunan juga perlu mendapat perhatian. Dari tiga fungsi yang ditinjau, yaitu bangunan pendidikan, hunia, dan perkantoran, dapat disimpulkan bahwa AHSP juga tidak dapat berlaku secara umum untuk seluruh fungsi. Dari kedua faktor zonasi dan fungsi bangunan, pertimbangan terhadap posisi zonasi bangunan harus menjadi perhatian awal dan utama sebelum mempertimbangkan aspek fungsi bangunan.
Laporan ini juga menginformasikan capaian penelitian terkait dengan target yang telah direncakan saat proposal diajukan. Untuk tahun pertama, secara umum seluruh target yang direncanakan telah terpenuhi. Terkait dengan publikasi ilmiah, pada tahun ini telah dapat menyelesaikan draft artikel untuk dikirimkan pada jurnal yang menjadi target. Pada komponen pemakalah dalam temu ilmiah, untuk tahun pertama telah dapat terlaksana baik pada tingkat nasional maupun internasional. Di samping itu, draft model sebagai produk yang dihasilkan oleh penelitian ini telah diperoleh.
Model tersebut merupakan model matematis yang dapat digunakan untuk memprediksi jumlah tulangan pada konstruksi beton bertulang. Model ini masih dalam tahap pengembangan dan belum dapat diaplikasikan. Diperlukan adanya data tambahan dari sejumlah zonasi untuk menambah akurasi dan sekaligus bagian dari proses validasi aktual.
Kata kunci : model, tulangan, komponen struktural, beton bertulang, bangunan gedung, zonasi gempa bumi.
PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga penulisan laporan kemajuan penelitian ini dapat diselesaikan pada waktunya.
Laporan ini dibuat untuk menyampaikan hasil kegiatan Penelitian Produk Terapan dengan judul PEMODELAN STANDAR KEBUTUHAN TULANGAN PADA KOMPONEN STRUKTURAL KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG. Laporan ini berisikan informasi aktivitas dan capaian sejak penandatanganan kontrak pada Bulan Mei 2017 sampai dengan Oktober 2017.
Pelaksanaan penelitian dan penulisan laporan telah dapat terlaksana dengan baik atas dukungan sejumlah pihak. Dukungan finansial diperoleh dari hibah Penelitian Produk Terapan dengan Kontrak No. 55/UN11.2/PP/SP3/2017 Tanggal 3 April 2017. Dukungan lainnya berupa keterlibatan sejumlah pihak baik dari instansi pemerintah atau pun swasta dalam hal penyediaan data. Dalam proses pengumpulan data sampai dengan analisis, dukungan ditunjukkan oleh tim peneliti yang terlibat serta Staf Bidang dan Laboratorium Manajemen Rekayasa Konstruksi. Untuk seluruh dukungan yang telah diperoleh, penulis menyampaikan ucapan terima kasih.
Akhirnya kepada Allah SWT jugalah penulis berserah diri dengan harapan semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara umum, Amin.
Darussalam, 30 Oktober 2017 Ketua Peneliti,
Ir. Tripoli, MT
NIP. 195905111987021001
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
RINGKASAN iii
PRAKATA iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB 1 PENDAHULUAN 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Kerangka Konseptual (State of The Art Review) 3
2.2 Estimasi Biaya 5
2.3 Harga Satuan Pekerjaan 6
2.4 Kebutuhan (Requirement) Material Tulangan Pada Struktur Beton
Bertulang 8
2.5 Zonasi gempa bumi Indonesia 9
2.6 Pemodelan 11
2.7 Road Map Penelitian 12
BAB 3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 14
3.1 Tujuan Penelitian 14
3.2 Manfaat Penelitian 14
BAB 4 METODE PENELITIAN 16
4.1 Lokasi dan Objek Penelitian 16
4.2 Pengumpulan Data 16
4.3 Pengolahan Data dan Analisis 16
4.4 Fish Bone Diagram Penelitian 17
BAB 5 HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 19
5.1 Hasil 19
5.1.1 Pondasi Tapak Beton Bertulang 19
5.1.2 Sloof Beton Bertulang 26
5.1.3 Kolom Beton Bertulang 31
5.1.4 Balok Lantai Beton Bertulang 37
5.1.5 Pelat Lantai Beton Bertulang 44
5.1.6 Rekomendasi Aplikasi AHSP 47
5.2 Capaian Luaran Penelitian 47
BAB 6 RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA 51
6.1 Rencana Kegiatan Penelitian 51
6.2 Rencana Capaian Penelitian 51
6.3 Rencana Biaya dan Jadual Penelitian Tahun Kedua 52
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 54
7.1 Kesimpulan 54
7.2 Saran 54
DAFTAR PUSTAKA 55
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 State of the art review 3
Tabel 2.2 Membuat 1 m3 kolom beton bertulang (300 kg besi + bekisting) 8
Tabel 2.3 Roadmap Penelitian 13
Tabel 5.1 Volume Beton dan Tulangan Pondasi di Zona 10 20 Tabel 5.2 Volume Beton dan Tulangan Pondasi di Zona 15 21 Tabel 5.3 Rasio Kebutuhan Tulangan Pondasi di Zona 10 22 Tabel 5.4 Rasio Kebutuhan Tulangan Pondasi di Zona 15 23 Tabel 5.5 Volume Beton dan Tulangan Sloof Tinjauan Zona 10 24 Tabel 5.6 Volume Beton dan Tulangan Sloof Objek Tinjauan Zona 15 25 Tabel 5.7 Rasio Kebutuhan Tulangan Sloof Zona 10 27 Tabel 5.8 Rasio Kebutuhan Tulangan Sloof Zona 15 27 Tabel 5.9 Volume dan Rasio Tulangan Kolom pada Zona 10 Lantai 1 28 Tabel 5.10 Volume dan Rasio Tulangan Kolom pada Zona 10 Lantai 2 28 Tabel 5.11 Volume dan Rasio Tulangan Kolom pada Zona 15 Lantai 1 29 Tabel 5.12 Volume dan Rasio Tulangan Kolom pada Zona 15 Lantai 2 30 Tabel 5.13 Volume Beton dan Tulangan Balok di Zona 10 32 Tabel 5.14 Volume Beton dan Tulangan Balok di Zona 15 32 Tabel 5.15 Rasio Kebutuhan Tulangan Balok di Zona 10 33 Tabel 5.16 Rasio Kebutuhan Tulangan Balok di Zona 15 33 Tabel 5.17 Selisih Hasil Analisis dengan Standar AHSP Kolom Beton
Bertulang yaitu (158 kg/m3 beton)
35
Tabel 5.18 Selisih Hasil Analisis dengan Standar AHSP Kolom Beton Bertulang yaitu (315 kg/m3 beton)
36
Tabel 5.19 Volume Beton dan Tulangan Balok di Zona 10 38 Tabel 5.20 Volume Beton dan Tulangan Balok di Zona 15 39 Tabel 5.21 Rasio Kebutuhan Tulangan Balok di Zona 10 31 Tabel 5.22 Rasio Kebutuhan Tulangan Balok di Zona 15 32 Tabel 5.23 Perbandingan Rasio Tulangan Balok di Zona 15 dengan Standar
AHSP
41
Tabel 5.24 Perbandingan Rasio Tulangan Balok di zona 10 dengan Standar AHSP
42
Tabel 5.25 Volume Beton dan Tulangan Plat Lantai Objek Tinjauan Zona 10
44
Tabel 5.26 Volume Beton dan Tulangan Plat Lantai Objek Tinjauan Zona 15
44
Tabel 5.27 Rasio Kebutuhan Tulangan Plat Lantai Zona 10 45 Tabel 5.28 Rasio Kebutuhan Tulangan Plat Lantai Zona 15 45 Tabel 5.29 Aplikasi AHSP Menurut Komponen dan Zonasi 47 Tabel 5.30 Aplikasi AHSP Menurut Fungsi Bangunan dan Zonasi 47 Tabel 5.31 Rencana dan Realisasi Capaian Penelitian 48 Tabel 5.32 Rencana dan Realisasi Penggunaan Anggaran 49
Tabel 5.33 Capaian dan Rencana Penelitian 49
Tabel 6.1 Rencana Biaya Penelitian Tahun Kedua 52
Tabel 6.2 Rencana Jadual Penelitian Tahun Kedua 53
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Analisis Harga Satuan Pekerjaan 7
Gambar 2.2 Peta Zonasi Gempa Indonesia 11
Gambar 3.1 Fish Bone Diagram Penelitian 17
Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian 18
Gambar 5.1 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan AHSP
26
Gambar 5.2 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan AHSP
31
Gambar 5.3 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan standar AHSP (300 kg/m3 beton)
34
Gambar 5.4 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan standa AHSP (300 kg/m3 beton)
35
Gambar 5.5 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan AHSP
43
Gambar 5.6 Rasio Berdasarkan Fungsi Bangunan 46
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Peta Wilayah Kajian LAMPIRAN 2 Tipikal Bangunan Zona 10 LAMPIRAN 3 Tipikal Bangunan Zona 15
LAMPIRAN 4 The Unit Price Implication of Reinforcement Usage in Tie Beam Reinforced Concrete Construction
LAMPIRAN 5 The Implementation of Unit Price of Work Standard SNI 7394:
2008 for The Construction of Reinforced Concrete Beam
LAMPIRAN 6 Analisis Kebutuhan Tulangan Pelat Lantai Beton Bertulang Pada Konstruksi Bangunan Gedung
LAMPIRAN 7 Rancangan Pelaksanaan Penelitian Tahun Ke-1
LAMPIRAN 8 Catatan Harian Penelitian Tahun Ke-1 (Periode April – Oktober 2017)
LAMPIRAN 9 Draft Model Kebutuhan Tulangan
BAB 1 PENDAHULUAN
Proses estimasi kebutuhan anggaran pada sebuah konstruksi perlu mendapat perhatian yang serius. Bagi perusahaan penyedia jasa konstruksi, akurasi analisis diperlukan agar penawaran harga yang diajukan saat pelelangan berdaya bersaing (kompetitif) dengan penawaran harga dari kompetitor lain dan dapat mengakomodir seluruh kubutuhan pelaksanaan pembangunan. Di sisi lain, bagi pengguna jasa (owner), akurasi estimasi dibutuhkan dalam rangka efektifitas dan efisiensi anggaran, mengingat besarnya jumlah kebutuhan bila dibandingkan dengan anggaran yang tersedia. Permasalahan keterbatasan anggaran menuntut agar proyek konstruksi direncanakan dengan baik, juga harus dapat mencukupi kebutuhan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Anggaran biaya sebuah bangunan gedung dianalisis dengan sejumlah metode, salah satunya menggunakan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Standar Nasional Indonesia (SNI). Untuk bangunan gedung milik pemerintah, AHSP dianalisis dengan menggunakan standar sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 11/PRT/M/2013 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum. Pengkodean dan lingkup pekerjaan konstruksi bangunan gedung dalam AHSP terdiri dari 8 divisi, salah satunya adalah divisi pekerjaan struktural. Divisi ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap sebuah bangunan dengan proporsi 25%-35% dari nilai bangunan tersebut (Anonim, 2007). Pekerjaan beton bertulang termasuk dalam divisi ini.
AHSP pekerjaan beton bertulang memberikan sejumlah pola analisis yang langsung menggabungkan kebutuhan material beton, tulangan dan bekisting dalam satu analisis sebuah komponen beton bertulang. Pola tersebut terdapat pada analisis untuk komponen pondasi, sloof, kolom, balok, dan dinding. Pola analisis tersebut berpeluang menimbulkan ketidak-akuratan, mengingat desain komponen tersebut belum tentu sama di setiap bangunan. Diperlukan sebuah kajian yang dapat menginformasikan seberapa jauh standar tersebut dapat diberlakukan pada beragam
kondisi dan jenis komponen konstruksi. Hal ini diperlukan agar perencanaan anggaran benar-benar dapat memenuhi kaidah efisien dan efektif.
Berdasarkan kondisi tersebut di atas, diperlukan sebuah penelitian untuk mengkaji seberapa jauh akurasi standar AHSP pada sejumlah komponen beton bertulang pada sejumlah desain bangunan gedung. Lebih lanjut, diperlukan juga upaya untuk memodelkan pola kebutuhan material tulangan pada komponen beton bertulang, sebagai acuan atau indikasi awal kebutuhan material tulangan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Seberapa besar kebutuhan tulangan pada tiap komponen struktural bangunan bila dilihat dari dimensi dan mutu beton.
2. Seberapa besar rasio penggunaan tulangan pada setiap m3 beton pada tiap komponen struktural bangunan.
3. Seberapa besar penyimpangan yang timbul bila hasil analisis lapangan dibandingkan dengan standar AHSP.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Konseptual (State of The Art Review)
Sejumlah penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan material tulangan pada konstruksi beton bertulang dan pemodelan biaya pada bangunan gedung ditunjukkan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. State of the art review
Judul Peneliti Tahun Hasil
Parametric Cost Estimating Model For Conceptual Cost Estimating of Building Construction Projects
Phaobunjong, K
2002 Estimasi konseptual memberikan tingkat keakuratannya berkisar -30% hingga +50% dari biaya aktual
Current practices in building project contract price forecasting in the UK
Fortune, C dan Cox, O
2005 Penelitian menunjukkan bahwa jenis peramalan model
tradisional masih digunakan secara luas, seperti lifecycle cost models and in-house knowledge- based systems. Model yang baru dikembangkan seperti artificial neural nets, fuzzy logic nets, dan environmental and sustainability cost models, baru diaplikasikan sangat terbatas dalam praktek.
Parametric Cost Estimation Model for State Buildings
Riswan, D dan Abduh, M
2006 Mengembangkan model estimasi biaya awal dengan parameter Rasio Fasilitas Gedung (RFG) Model Perhitungan Harga
Satuan Tertinggi Gedung Negara
Abduh, M &
Kurniawan, B
2008 Mengembangkan pola estimasi dengan pempertimbangkan kondisi lokasi dan waktu pelaksanaan proyek. Metoda ini melakukan pendekatan dengan mengindentifikasi komponen dominan dan kuantitas.
The Study of Project Cost Estimation Based on Cost- Significant Theory and Neural Network Theory
X. Wang, L.
Xing, and F.
Lin
2009 Penelitian ini menunjukkan bahwa model berdasarkan teori signifikansi biaya dan teori jaringan saraf berhasil dan efektif untuk aplikasi teknis praktis.
Studi Harga Satuan Bangunan Gedung di Provinsi Nanggroe Aceh
Mubarak 2010 Faktor lokasi dan waktu pembangunan mempengaruhi besarnya biaya pembangunan,
Judul Peneliti Tahun Hasil
Darussalam sehingga harga bangunan akan
berbeda antara satu kabupaten/
kota dengan kabupaten/kota lainnya.
Penggunaan variabel harga material untuk memprediksi harga satuan Bangunan gedung di kota banda aceh
Mubarak dan Tripoli
2011 Hubungan variabel harga material terhadap harga satuan bangunan gedung dianalisis menggunakan model regresi linear berganda. Variabel harga material yang dianalisis terdiri dari 8 jenis material utama bangunan gedung.
Housing rehabilitation budget estimate due to earthquake disaster by using multiple linear regression models
Mahmuddin and Mubarak
2014 Pemodelan dilakukan untuk memprediksi biaya rehabilitasi pada bangunan perumahan dengan tingkat kerusakan ringan dan sedang.
The implementation of unit price of work standard SNI 7394: 2008 for the
construction of reinforced concrete beam
Tripoli, Mubarak, Nurisra, Mahmuddin
2017 The analysis results indicate that the UP standard for reinforced concrete beam cannot be applied to all zoning. The UP standard is only possible on buildings constructed in Zone 10 or zonation with seismic spectral response 0.6-0.7g or lower.
Analisis kebutuhan tulangan pelat lantai beton bertulang pada konstruksi bangunan gedung
Tripoli, Nurisra, Mubarak
2017 Penggunaan AHSP untuk bangunan pada Zona 15 berpotensi menghasilkan estimasi biaya yang tidak akurat.
Ketidak-akuratan tersebut menghasilkan nilai estimasi biaya dibawah nilai yang semestinya dibutuhkan untuk pekerjaan konstruksi pelat lantai.
The unit price implication of reinforcement usage in tie beam reinforced concrete construction
Mubarak, Abdullah, M.
Riza, Y. Hayati
Est.
2018
The potential inaccurate of cost estimation appears in the two review zones. Such inaccuracies may have an impact on the insufficient costs for the work.
Thus, the use of the standard unit price analysis needs further assessment for proper application.
Dari penelitian terdahulu seperti pada Tabel 2.1 maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Secara umum, belum ada kajian yang dilakukan spesifik untuk mengidentifikasi seberapa besar kebutuhan material tulangan untuk struktur beton bertulang pada sejumlah komponen bangunan. Di samping itu, juga belum terjawab seberapa jauh dan dalam kondisi bagaimana pola kebutuhan material tulangan yang tersebut dalam standar AHSP komponen beton bertulang layak diaplikasikan.
2. Dalam hal pemodelan biaya, umumnya kajian yang dilakukan cenderung difokuskan pada mengestimasi kebutuhan anggaran bangunan secara keseluruhan dengan berbagai variabel.
3. Mengingat konstruksi beton bertulang merupakan komponen yang memberi kontribusi terbesar pada biaya sebuah bangunan gedung, maka penelitian ini akan dikembangkan sampai dengan tahap pemodelan kebutuhan material dan harga satuan pekerjaan pada sejumlah komponen struktural bangunan.
2.2 Estimasi Biaya
Estimasi kebutuhan biaya sebuah proyek merupakan salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan proyek konstruksi. Estimasi dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan kebutuhan dana untuk sebuah rencana pembangunan proyek.
Keakuratan hasil estimasi sangat ditentukan oleh ketersediaan informasi berupa pola hubungan estimasi biaya atau model biaya (Kerzner, 2006). Pola tersebut dapat diperlihatkan dalam bentuk :
a. persamaan matematis (mathematical model) yang diperoleh dari analisa regresi;
b. hubungan biaya-kuantitas (cost-quantity) seperti kurva belajar (learning curves);
c. hubungan biaya-biaya (cost-cost);
d. hubungan biaya-non biaya (cost-non cost) berdasarkan karakteristik fisik, parameter teknis, atau parameter performa.
Bila dikaji dari sisi akurasi estimasi, Kerzner (2006) mengelompokkan jenis estimasi sebagai berikut :
a. Order-of-magnitude analysis; estimasi ini dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dari pengalaman sejenis terdahulu, tanpa adanya data detail engineering yang lengkap dengan akurasi + 35%.
b. Approximate estimate; estimasi ini dibuat berdasarkan prorata dari proyek terdahulu yang memiliki similaritas dari segi lingkup dan jumlah dan juga masih tanpa ketersediaan data detail engineering yang lengkap dengan akurasi mencapai + 15%.
c. Devinitive estimate; estimasi ini dibuat berdasarkan data detail engineering yang lengkap seperti gambar detail, daftar harga, daftar kuantitas pekerjaan, dan lain- lain, dengan akurasi mencapai + 5%.
d. Penggunaan kurva belajar; estimasi ini diperoleh dari representasi grafis dari pengulangan-pengulangan terhadap kegiatan-kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus dan lazim digunakan dalam estimasi untuk kegiatan manufaktur.
Jenis estimasi biaya juga dapat dibedakan berdasarkan tahapan siklus sebuah proyek (Schuette & Liska, 1994), yaitu :
a. Estimasi kelayakan (feasibility estimate); yang digunakan untuk menentukan layak-tidaknya sebuah proyek untuk dibangun pada saat pemilik proyek mengemukakan rencana atau ide membangun sebuah bangunan.
b. Estimasi konseptual (conceptual estimate); yang buat setelah konsep rancangan bangunan ditentukan, namun belum ada rencana desain detail.
c. Estimasi elemen atau parametric (elemental or parametric estimate); merupakan estimasi yang paling akurat dimana informasi kuantitas pekerjaan pada proyek telah dapat terukur dengan baik.
2.3 Harga Satuan Pekerjaan
Harga satuan pekerjaan merupakan uraian dari sejumlah komponen biaya seperti bahan, tenaga kerja, peralatan, peralatan, dan subkontraktor yang membentuk harga satuan (Pico & Wayne, 2012). Perencanaan harga satuan pekerjaan dapat dibedakan berdasarkan tahapan pelaksanaan proyek. Schuette & Liska (1994) menyatakan estimasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Menggunakan satuan harga berdasarkan fungsi bangunan, seperti untuk sekolah, perparkiran, dan rumah sakit;
2. Menggunakan satuan harga berdasarkan luasan lantai bangunan;
3. Menggunakan satuan harga berdasarkan kubikasi pekerjaan bangunan;
4. Memfaktorkan komponen pekerjaan yang memiliki kesamaan dengan pekerjaan yang akan direncanakan.
Perencanaan anggaran pada proyek pemerintah dilakukan dengan menggunakan acuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 11/PRT/M/2013 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum. Ruang lingkup Pedoman AHSP ini meliputi penanganan pekerjaan pemeliharaan dan pembangunan di bidang pekerjaan umum (bidang umum, sumber daya air, bina marga, dan cipta karya.
AHSP untuk konstruksi bangunan gedung tercakup pada bidang cipta karya.
Terdapat 8 divisi untuk pengelompokan pekerjaan, salah satu adalah divisi pekerjaan struktural. Mengingat lingkup pekerjaan AHSP Cipta Karya ini masih berbasis pada SNI-ABK tahun 2008, maka sub level dikelompokkan dan dirinci sesuai dengan SNI-ABK. Pekerjaan beton dicantumkan pada sub level 4.1.1. Sub level ini terdiri dari 36 standar AHSP. Sebagai ilustrasi, bagan proses AHSP ditunjukkan dalam Gambar 2.1, dan format salah satu standar AHSP tersebut (kolom beton bertulang) ditunjukkan dalam Tabel 2.2.
Gambar 2.1. Analisis Harga Satuan Pekerjaan
(Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 11/PRT/M/2013)
Tabel 2.2. Membuat 1 m3 kolom beton bertulang (300 kg besi + bekisting)
No Uraian Kode Satuan Koefisien Harga Satuan (Rp)
Jumlah Harga (Rp) A TENAGA
Pekerja Tukang batu Tukang kayu Tukang besi Kepala tukang Mandor
L.01 L.02 L.02 L.02 L.03 L.04
OH OH OH OH OH OH
7,050 0,275 1,650 2,100 0,403 0,353 B BAHAN
Kayu kelas III Paku 5 cm – 12cm Minyak bekisting Besi beton polos Kawat beton Semen Portland Pasir Beton Kerikil
Kayu kelas II balok Plywood 9 mm Dolken kayu φ (8-10) cm, panjang 4 m
m3 kg Liter
kg kg kg m3 m3 m3 Lbr Batang
0,40 4,00 2,00 315,00 4,50 336,00 0,54 0,81 0,15 3,50 20,00
C JUMLAH -
D OVERHEAD & PROFIT -
E HARGA SATUAN PEKERJAAN -
Sumber : SNI 7394:2008
2.4 Kebutuhan (Requirement) Material Tulangan Pada Struktur Beton Bertulang
Material baja merupakan material yang ideal untuk membentuk konstruksi beton bertulang. Material ini dapat mengikat baik dengan beton. Pada struktur komposit, ikatan antara dua material berbeda harus dapat berfungsi sebagai bahan tunggal. Pada saat proses pengerasan setelah pengecoran beton, material beton dan baja akan membentuk ikatan mekanis (Mehta, et.al, 2013).
Sejumlah hasil penelitian terhadap material tulangan pada konstruksi beton bertulang umumnya cenderung diarahkan untuk menganalisis perilaku fisik dan mekanis beton bertulang (Shanmugam & Lakshmi, 2001; Elnashai, et.al, 2003; Montes, et.al, 2008; Rao, et.al, 2008; Maekawa, 2009; Amir & Sigmund, 2013). Belum ada kajian yang dilakukan spesifik untuk mengidentifikasi seberapa besar kebutuhan material tulangan untuk struktur beton bertulang pada sejumlah komponen bangunan. Di
samping itu, juga belum terjawab seberapa jauh dan dalam kondisi bagaimana pola kebutuhan material tulangan yang tersebut dalam standar AHSP komponen beton bertulang layak diaplikasikan.
Secara teknis, jumlah tulangan pada struktur beton bertulang harus memadai.
Dimensi dan jumlah material ditentukan dari hasil analisis pada tiap komponen struktural, seperti pondasi, kolom, balok, pelat lantai, dan dinding. Pada daerah dengan tingkat kerawanan gempa tinggi, perencanaan dilakukan menggunakan Pedoman Tata Cara Perencanaan Konstruksi Tahan Gempa Indonesia. Tingkat kerawanan dapat dikenali dengan berpedoman pada peta zonasi gempa sebagaimana tersebut dalam Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung (SNI 1726:2012).
Secara umum, kebutuhan bahan untuk menyelesaikan suatu satuan pekerjaan dapat dianalisis dengan beberapa metode. Standar kebutuhan material sebagaimana disebut dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 11/PRT/M/2013, dianalisis berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan berdasarkan analisis laboratorium.
Pengamatan langsung lapangan mendapatkan data jumlah bahan riil yang dihabiskan oleh gugus kerja termasuk loose materials. Sedangkan analisis laboratorium menghitung jumlah bahan berdasarkan sifat/karakter bahan, misalnya faktor berat isi, bulking factor, susut, dan lain-lain. Koefisien bahan dihitung dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi tersebut. Oleh karena itu koefisien bahan selalu ditambahkan toleransi, yang besarnya 5-20%. Untuk keperluan estimasi biaya, kebutuhan material tulangan dapat diperoleh dari sejumlah standar AHSP.
2.5 Zonasi gempa bumi Indonesia
Indonesia menempati zona tektonik yang sangat aktif karena tiga lempeng besar dunia dan sembilan lempeng kecil lainya saling bertemu di wilayah Indonesia (Bird, 2003). Keberadaan interaksi antar lempeng-lempeng ini menempatkan wilayah Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap gempa bumi (Milson, 1992).
Perencanaan konstruksi tahan gempa di Indonesia mulai diaplikasikan pada tahun 1983 berpedoman pada peta percepatan maksimum gempa dan Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung (PPTIUG). Pedoman tata cara perencanaan konstruksi tahan gempa Indonesia terus mengalami perkembangan,
hingga pada saat ini perencanaan berpedoman pada peta zonasi gempa SNI 1726:2012 (Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung). Pembaruan yang ditekankan pada standar tersebut terkait dengan : 1. Periode ulang
Pada SNI 2012, kemungkinan pelampauan (probability of exceedance) diambil sebesar 2% dalam 50 tahun. Dengan persamaan yang sama, didapat periode ulang gempa sebesar 2.475 tahun atau dibulatkan menjadi 2.500 tahun. Kemungkinan pelampauan merupakan faktor langsung terhadap berubahnya periode ulang.
Semakin kecil kemungkinan pelampauan semakin besar periode ulang, sekaligus semakin kecil kemungkinan terjadi gempa diatas gempa rencana hingga dapat terhindar dari kejadian gempa.
2. Pendekatan Deterministik
SNI 2012,menambahkan satu konsep yang disebut Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA). Pada konsep ini, probabilitas gempa tidak hanya diturunkan dari statistic terjadinya gempa yang tercatat. Probabilitas juga diturunkan dengan mengidentifikasi adanya subduksi lapisan bumi dan sesar aktif (active faults) pada suatu wilayah.
3. Uniform Hazard vs Uniform Risk
Peta gempa SNI 1726 2012 mengadopsi konsep uniform risk yang artinya beban gempa didasarkan pada resiko keruntuhan bangunan yang sama yaitu 1% resiko keruntuhan dalam 50 tahun. Oleh karena itu, percepatan gempa pada peta SNI 1726 2012 disebut sebagai risk targeted ground motion yaitu percepatan tanah yang sudah disesuaikan untuk mencapai target resiko keruntuhan 1% dalam 50 tahun. Konsep risk of collapse mengindikasikan bahwa tidak semua gedung yang terkena beban gempa diatas gempa rencana tidak selamat atau menunjukan kegagalan struktur sesuai prediksi desain.
4. Koefisien pada Respon Spektra
Peta gempa SNI 1726 2012 memberikan tambahan koefisien spektra berupa PGA (percepatan di batuan dasar), 0,2 detik dan 1 detik. PGA digunakan untuk menentukan percepatan gempa pada desain pondasi. Koefisien 0,2 detik dan 1 detik digunakan untuk membuat respon spektra gedung.
Peta zonasi wilayah gempa menunjukkan posisi seluruh wilayah Indonesia berdasarkan tingkat respon sprektra gempa dan warna berbeda untuk setiap batasan nilai respon sprektra atas dan bawah dalam satuan gravity (g). Nilai sprektra ini dijadikan acuan untuk mendesain beban gempa dalam perencanaan suatu bangunan gedung di Indonesia. Peta zonasi gempa SNI 1726:2012 ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 2.2 Peta Zonasi Gempa Indonesia
(http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/)
2.6 Pemodelan
Model adalah suatu representasi analogikal dari realita. Model merupakan penyederhanaan deskripsi dari sebuah sistem, untuk mengkalkulasi dan memprediksi. Modeling adalah suatu upaya untuk merepresentasikan realitas secara apa adanya, sedemikian sehingga aspek-aspek tentangnya dapat diuraikan, diterangkan, dioptimalkan atau diramalkan sesuai dengan realitasnya. Output atau temuan dari proses modeling memungkinkan seorang analis untuk menentukan hasil- hasil keputusan yang logis dan memilih suatu tindakan optimal. Wibowo (2005) juga membedakan model menjadi lima macam, yaitu :
1. Model matematik yaitu model yang menggunakan notasi-notasi dan persamaan matematika untuk mempresentasikan sistem, yang dinyatakan dengan variabel- variabel dan aktifitas dinyatakan dengan fungsi matematika yang menjelaskan hubungan antar variabel tersebut.
2. Model fisik.
3. Model lapangan yaitu kondisi suatu lapangan yang dijadikan model.
4. Model statistik, misalnya regresi, logit, provit, dan genetik algoritma.
5. Model behavior.
Pemodelan dapat dibuat melalui analisis regresi. Analisis ini merupakan salah model statistik yang dapat digunakan untuk merumuskan pola hubungan antar variabel berdasarkan satu set titik data. Analisis regresi secara sistematis dapat meminimalkan kesalahan estimasi dengan cara least squares regression (regresi kuadrat terkecil). Analisis ini menjadi salah satu metode yang lazim dipakai untuk pemodelan biaya (Blocher, et.al, 2010).
Pemodelan untuk estimasi biaya telah dilakukan oleh sejumlah peneliti.
Model estimasi untuk biaya pada tahap konseptual telah direkomendasikan oleh Mubarak & Tripoli (2011), Mubarak (2010), Abduh & Kurniawan (2008), Riswan &
Abduh (2006), dan Phaobunjong (2002). Untuk pemodelan perkiraan harga konrak bangunan gedung, Fortune dan Cox (2005) merokemendasikan model menggunakan artificial neural nets, fuzzy logic nets, dan environmental and sustainability cost models. Pola yang tipikal juga disarankan oleh Wang, et.al (2009), dengan memodelkan perkiraan harga penawaran saat tender. Model yang dibuat untuk memprediksi kebutuhan material untuk sebuah analisis harga satuan, khususnya tulangan untuk struktur beton bertulang masih belum tersedia.
2.7 Road Map Penelitian
Merujuk pada hasil kajian sejumlah literatur, arah penelitian ini perlu dirumuskan dalam sebuah roadmap penelitian. Roadmap tersebut ditunjukkan pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Roadmap Penelitian
PRODUKTIVITAS Studi Faktor Penentu Produktivitas
Pekerjaan (qualitative analysis) - Building
- Non-building
Analisis Produktivitas
Pekerjaan (lapangan) - Struktural - Non-
struktural
Analisis Produktifitas
Pekerjaan (const.historical
record) - Struktural - Non-
struktural
STUDI ESTIMASI BI AYA KO NSTRUKS I
ANALISIS KEBUTUHAN (REQUIREMENT)
Analisis Berdasarkan
Komponen Struktural Bangunan
Analisis berdasarkan pola kerawanan
wilayah dari risiko bencana
alam
Analisis berdasarkan
fungsi bangunan
Evaluasi kelayakan requirement
dari tiap kelompok analisis dengan
requirement standar AHSP - Pondasi
- Kolom - Balok - Pelat lantai - Dinding
- Pondasi - Kolom - Balok - Pelat lantai - Dinding
- Pendidikan - Perkantoran - Hunian
MODEL
Regresi linear Regresi non linear - Komponen bangunan
- Potensi risiko bencana alam - Fungsi bangunan
- Komponen bangunan - Potensi risiko bencana alam - Fungsi bangunan
BAB 3
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1 Tujuan Penelitian
Merujuk pada permasalahan yang dijelaskan pada bagian terdahulu, tujuan penelitian dirumuskan berdasarkan tahapan penelitian per tahun. Untuk tahun pertama, penelitian ini ditujukan untuk :
1. Mengidentifikasi kebutuhan tulangan pada tiap komponen struktural bangunan bila dilihat dari dimensi dan mutu beton.
2. Menganalisis rasio penggunaan tulangan pada setiap m3 beton pada tiap komponen struktural bangunan.
3. Mengevaluasi penyimpangan yang mungkin timbul dari standar AHSP dengan hasil analisis desain lapangan.
Sedangkan untuk tahun kedua, penelitian ini ditujukan untuk :
1. Mengidentifikasi variabel pemodelan dalam penentuan kebutuhan tulangan.
2. Merumuskan pola/model prediksi kebutuhan tulangan pada tiap komponen struktural bangunan.
3. Menguji akurasi dari sejumlah pola/model yang dihasilkan sehingga dapat diaplikasi untuk estimasi kebutuhan material tulangan.
3.2 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Penelitian ini dapat memberikan informasi seberapa besar kebutuhan material tulangan untuk struktur beton bertulang pada sejumlah komponen bangunan.
2. Penelitian ini juga dapat menjawab seberapa jauh dan dalam kondisi bagaimana pola kebutuhan material tulangan yang tersebut dalam standar AHSP komponen beton bertulang layak diaplikasikan.
3. Penelitian ini akan menghasilkan pola/model prediksi kebutuhan tulangan pada tiap komponen struktural bangunan, yang akan bermanfaat bagi seorang cost
estimator dalam memprediksi kebutuhan material pada sejumlah komponen struktural konstruksi bangunan gedung.
4. Penelitian ini juga akan memberi gambaran aplikasi model untuk menganalisis kebutuhan biaya pada sejumlah komponen pekerjaan struktural.
Secara umum, hasil penelitian ini akan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu referensi pengembangan dan penyesuaian standar kebutuhan material bangunan, khususnya material tulangan pada konstruksi beton bertulang. Informasi tersebut akan dapat memperbaharui standar yang telah ada mengingat perkembangan dan inovasi yang terus terjadi dalam industri konstruksi. Penggunaan model prediksi akan menjadi salah satu alat untuk mempermudah seorang cost estimator dalam menganalisis kebutuhan material, khususnya pada konstruksi beton bertulang.
Estimasi yang akurat akan memberikan banyak implikasi positif bukan hanya bagi perusahaan konstruksi sebagai penyedia jasa, namun juga bagi pemilik proyek (owner) terkait dengan hal efektitas dan efisiensi anggaran.
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Objek Penelitian
Survey pada penelitian ini dilakukan proyek bangunan gedung yang dibangun di wilayah Provinsi Aceh. Tinjauan objek penelitian difokuskan pada bangunan gedung dengan klasifikasi sederhana dan tidak sederhana sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan Menteri PU No. 45 Tahun 2007. Objek bangunan yang akan diteliti difokuskan pada kelompok bangunan non perumahan berlantai 2 atau lebih. Potensi risiko yang akan dikaji adalah risiko bencana gempa bumi dengan pola potensi diklasifikasi menurut peta zonasi gempa Indonesia (SNI 1726:2012).
4.2 Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah berupa data sekunder. Data tersebut diperoleh dari pengelola teknis bangunan pada instansi terkait. Data yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
1. Dokumen kontrak untuk proyek gedung yang dibangun pada tahun 2012 sampai dengan 2015, yang berisikan data bill of quantity, harga satuan, harga material, dan gambar bestek (site plan, denah, dan tampak bangunan).
2. Standar harga satuan bangunan yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur.
Mengingat sebaran data yang dibutuhkan dan keragaman pengelola teknis, maka pengumpulan data tidak hanya diupayakan di Kota Banda Aceh, namun juga diupayakan dengan penelurusuran ke ibukota kabupaten/kota yang menjadi target lokasi penelitian.
4.3 Pengolahan Data dan Analisis
Proses pengolahan data dan analisis yang akan dilakukan untuk Tahun I : - Pengelompokan data berdasarkan pada jenis komponen struktur bangunan,
potensi risiko gempa bumi, dan fungsi bangunan.
- Analisis kebutuhan material tulangan pada struktur beton bertulang.
- Pengelompokan hasil analisis menurut jenis komponen struktur bangunan, potensi risiko gempa bumi, dan fungsi bangunan.
- Evaluasi kesesuaian kebutuhan material hasil analisis dengan nilai kebutuhan yang tersebut dalam AHSP.
Proses pengolahan data dan analisis yang akan dilakukan untuk Tahun II : 1. Perumusan variabel model penelitian
2. Analisis regresi linear berdasarkan pada jenis komponen struktur bangunan, potensi risiko gempa bumi, dan fungsi bangunan.
3. Analisis regresi non linear berdasarkan pada jenis komponen struktur bangunan, potensi risiko gempa bumi, dan fungsi bangunan.
4. Validasi model dan perbandingan akurasi model dengan kondisi aktual.
4.4 Fish Bone Diagram Penelitian
Bentuk fish bone diagram penelitian ini ditunjukkan dalam Gambar 3.1 dan bagan alir penelitian ditunjukkan dalam Gambar 3.2.
Gambar 3.1. Fish Bone Diagram Penelitian Req. material
menurut komponen
Req. material menurut fungsi bang.
Req. material menurut potensi risk.
Model Regresi Linear
Model Regresi Non Linear Pondasi
Kolom Balok
P.Lantai Pondasi
Pondasi Kolom
Balok
P.Lantai Pondasi
Pondasi Kolom
Balok
P.Lantai Pondasi
Komponen strk.
Fungsi bang.
Potensi risiko
Komponen strk.
Fungsi bang.
Potensi risiko
TAHAP/
LOKASI
LUARAN PRA STUDI
(2016) Lokasi kegiatan:
Lab. MRK Perpustakaan
- Referensi utama - Data awal zonasi objek
TAHAP I (2017) Lokasi objek:
Bangunan gedung di Prov. Aceh Lokasi pengl.
data & anls.:
Lab. MRK
- Laporan hasil penelitian Tahun 1 - Prosiding (nasional/int’l)
TAHAP II (2018) Lokasi objek:
Bangunan gedung di Prov. Aceh Lokasi pengl.
data & anls.:
Lab. MRK
- Laporan hasil penelitian Tahun 2 - Prosiding (nasional/int’l) - Jurnal (nasional/int’l) - Model - Draft buku ajar
Gambar 3.2. Bagan Alir Penelitian MULAI
Studi Pendahuluan dan Perumusan Masalah
Pengumpulan Data Tahap I
Pengolahan Data dan Analisis - Pengelompokan data
- Analisis kebutuhan material tulangan
- Pengelompokan hasil analisis - Evaluasi kesesuaian kebutuhan
material
Literatur Review
Perumusan Hasil, Kesimpulan dan Rekomendasi Tahap I
Seleksi Data Tahap I dan Pengumpulan Data Tahap II
Pengolahan Data dan Analisis 1. Perumusan variabel
2. Analisis regresi linear 3. Analisis regresi non linear 4. Validasi
Perumusan Hasil, Kesimpulan dan Rekomendasi Tahap II
SELESAI
BAB 5
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
5.1 Hasil
Hasil penelitian yang telah diperoleh dapat dijabarkan sesuai dengan komponen struktural bangunan gedung yang ditinjau. Wilayah tinjauan dan tipikal bangunan yang ditinjau pada Zona 10 dan Zona 15 ditujukkan pada Lampiran 1 sampai dengan Lampiran 3. Komponen bangunan tersebut terdiri dari :
1) Pondasi;
2) Sloof;
3) Kolom;
4) Balok lantai;
5) Pelat lantai.
5.1.1 Pondasi Tapak Beton Bertulang
Menurut Bowles (1993), ondasi adalah bagian dari suatu sistem rekayasa struktur yang meneruskan beban yang ditopang oleh pondasi dan beratnya-sendiri kepada dan ke dalam tanah dan batuan yang terletak di bawahnya. Pondasi tapak (spread footing) merupakan pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom.
Umumnya dibuat dengan kedalaman 1 sampai dengan 1,50 m dari permukaan tanah, atau lebih.
Perencanaan struktur suatu bangunan bertingkat harus mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun beban khusus yang bekerja pada struktur bangunan tersebut dan struktur pondasi tapak menerima beban dari elemen- elemen struktur yang didistribusikan dan diteruskan melalui struktural pondasi beton bertulang. Bekerjanya beban untuk elemen-elemen struktur gedung bertingkat secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut : beban pelat lantai didistribusikan terhadap balok anak dan balok portal, beban balok portal didistribusikan ke kolom dan beban kolom kemudian diteruskan ke tanah dasar melalui pondasi.
Pemilihan tipe pondasi didasarkan atas:
- Fungsi bangunan atas (upper structure) yang dipikul pondasi tersebut.
- Besarnya beban dan berat bangunan atas.
- Keadaan tanah untuk mendukung bangunan yang akan didirikan.
- Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas.
A. Deskripsi Objek
Pada penelitian ini objek yang ditinjau adalah bangunan gedung di Provinsi Aceh yang difokuskan pada zona gempa 10 dan 15. Pada peta zonasi gempa SNI 1726:2012 wilayah 10 dan 15 adalah zona merah yaitu zona yang rawan akan terjadinya gempa. Untuk data objek penelitian yang dipakai adalah berdasarkan lokasi peta zona gempa SNI 1726:2012. Objek yang ditinjau berjumlah 20 data yang merupakan bangunan gedung berlantai 2 dan 3 dengan fungsi bangunan pendidikan seperti ruang kuliah dan ruang sekolah, bangunan hunian seperti asrama dan rumah sakit, kemudian fungsi bangunan kantor. Objek yang akan ditinjau merupakan bangunan yang dibangun tersebut pada tahun 2012 sampai dengan 2015.
B. Volume Beton dan Tulangan Pondasi Tapak
Perhitungan untuk volume beton dan tulangan pondasi tapak dihitung berdasarkan gambar bestek yang ada pada kontrak proyek yaitu gambar detail penulangan balok dengan menggunakan tabel analisis tulangan kebutuhan tulangan pondasi tapak. Rekapitulasi volume beton dan tulangan untuk setiap objek berdasarkan zonasi gempa dari hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 5.1. dan Tabel 5.2.
Tabel 5.1. Volume Beton dan Tulangan Pondasi di Zona 10
No. Nama Proyek Jumlah Lantai
Fungsi bangunan
Volume Beton
(m3)
Berat Tulangan
(kg)
1
Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor dan Gudang KPPBC Kuala, Langsa
2 Kantor 36.000 5698.265
2 Gedung Hukum Unsam (Langsa) 2 Pendidikan 156.464 33439.710 3 Lab Metrologi (Langsa) 2 Pendidikan 115.920 15342.524 4 Gedung Perawat RSU Langsa 2 Hunian 59.594 10903.594
No. Nama Proyek Jumlah Lantai
Fungsi bangunan
Volume Beton
(m3)
Berat Tulangan
(kg)
5 SDN 3 Idi Cut, Aceh Timur 2 Pendidikan 12.668 2508.498 6 SDN Gandapura, Aceh Utara 2 Pendidikan 12.936 1640.026 7 Puskesmas IDI Aceh Timur 2 Pendidikan 113.600 23953.119 8 Kantor Walikota Lhokseumawe 2 Kantor 59.586 16044.241 9 Pembangunan Gedung Administrasi
Politeknik Negri Lhokseumawe 2 Kantor 49 10300.986
10 STMIK BINA BANGSA
LHOKSEUMAWE 2 Pendidikan 125.314 18249.282
Tabel 5.2. Volume Beton dan Tulangan Pondasi di Zona 15
No. Nama Proyek Jumlah
Lantai
Fungsi bangunan
Volume Beton
(m3)
Berat Tulangan
(kg)
1 Pembangunan RKB Bertingkat SDN 42
(Otsus) Banda Aceh 2 Pendidikan 7.920 1480.387
2 Gudang BPM Banda Aceh 2 Kantor 48.000 6962.155 3 Ika Unsyiah Banda Aceh 2 Kantor 34.560 6015.118
4 Ipedelma Banda Aceh 2 Hunian 83.920 12927.610
5 Dedung STTIT Muhammadiyah Aceh
barat daya 2 Pendidikan 12.638 1706.755
6 Aspol Punge Jurong Banda Aceh 2 Hunian 32.951 3986.124 7 Asrama Putri Beutong, Banda Aceh 2 Hunian 18.816 3692.230 8 Asrama UPTD BPKP ACEH, Banda
Aceh 2 Hunian 14.534 3575.311
9 Asrama Pelajar Nagan Raya, Banda Aceh 2 Hunian 19.440 3536.207 10 Gedung Rukyatul Hilal Aceh Barat 2 Pendidikan 66.824 16575.417 11 Asrama Putri Beutong, Banda Aceh 2 Hunian 83.856 10436.718 12 Pembangunan ruang guru SMPN Banda
Aceh 2 Hunian 12.096 2785.207
13 UKM ACEH, Banda Aceh 2 Hunian 98.000 23367.572
14 Asrama BP2IP Lamdom, Banda Aceh 2 Hunian 61.152 17694.184 15 Asrama Pelajar Aceh Singkil, Banda Aceh 2 Hunian 25.637 3399.735
C. Rasio Kebutuhan Aktual Tulangan untuk Setiap 1 m3 Pondasi Tapak Beton Bertulang
Perhitungan rasio kebutuhan tulangan pondasi tapak dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah penggunaan tulangan dan total volume beton.
Perhitungan rasio tulangan pondasi tapak diklasifikasikan berdasarkan zona gempa dan juga fungsi bangunan. Hasil dari perhitungan rasio kebutuhan tulangan komponen struktural pondasi tapak beton bertulang dalam 1 m3 dapat dilihat pada Tabel berikut yaitu pada Tabel 5.3 dan 5.4.
Tabel 5.3. Rasio Kebutuhan Tulangan Pondasi di Zona 10
No. Nama Proyek Fungsi bangunan
Volume Beton
(m3)
Berat Tulangan
(kg)
Rasio Tulangan
(Kg/m3)
1
Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor dan Gudang KPPBC Kuala Langsa
Kantor 36.000 5698.265 158.285
2 Gedung Hukum Unsam (Langsa) Pendidikan 156.464 33439.710 213.721
3 Lab Metrologi (Langsa) Pendidikan 115.920 15342.524 132.354
4 RSU Langsa Hunian 59.594 10903.594 182.966
5 SDN 3 Idi Cut, Aceh timur Pendidikan 12.668 2508.498 198.019
6 SDN Gandapura, Aceh Utara Pendidikan 12.936 1640.026 126.780
7 Puskesmas IDI, Aceh Timur Pendidikan 113.600 23953.119 210.855
8 Kantor Walikota Lhokseumawe Kantor 59.586 16044.241 269.262
9 Pembangunan Gedung Administrasi
Politeknik Negri Lhokseumawe Kantor 49.000 10300.986 193.573
10 STMIK Bina Bangsa Lhokseumawe Pendidikan 125.314 18249.282 145.629
Rata-rata 183.144
Rasio Max 269.262
Rasio Min 126.780
Standar Deviasi (STDEV) 36.057
Tabel 5.4. Rasio Kebutuhan Tulangan Pondasi di Zona 15
No. Nama Proyek Fungsi
bangunan
Volume Beton
(m3)
Berat Tulangan
(kg)
Rasio Tulangan
(Kg/m3)
1 Pembangunan RKB Bertingkat SDN 42
(Otsus), Banda Aceh Pendidikan 7.920 1480.387 186.918 2 Gudang BPM, Banda Aceh Kantor 48.000 6962.155 145.045 3 Ika Unsyiah, Banda Aceh Kantor 34.560 6015.118 174.049 4 Ipedelma, Banda Aceh Hunian 83.920 12927.610 154.047 5 Dedung STTIT Muhammadiyah Aceh
barat daya Pendidikan 12.638 1706.755 135.049
6 Aspol Punge Jurong Banda Aceh Hunian 27.783 3986.124 144.126 7 Asrama Putri Beutong, Banda Aceh Hunian 18.816 3692.230 196.228 8 Asrama UPTD BPKP ACEH, Banda
Aceh Hunian 14.534 3575.311 255.065
9 Asrama Pelajar Nagan Raya, Banda Aceh Hunian 19.440 3536.207 181.904 10 Gedung Rukyatul Hilal Aceh Barat Pendidikan 66.824 16575.417 248.046 11 Asrama Putri Nagan Raya, Banda Aceh Hunian 83.856 10436.718 124.460 12 Pembangunan ruang guru SMPN Banda
Aceh Hunian 12.096 2785.207 230.259
13 UKM ACEH, Banda Aceh Hunian 98.000 23367.572 238.445 14 Asrama BP2IP Lamdom, Banda Aceh Hunian 61.152 17694.184 289.348 15 Asrama Pelajar Aceh Singkil, Banda Aceh Hunian 25.637 3399.735 132.613
Rata-rata 189.040
Rasio Max 289.348
Rasio Min 124.460
Standar Deviasi (STDEV) 51.976
Hasil dari nilai rata-rata keseluruhan rasio kebutuhan tulangan pondasi tapak untuk zona gempa 10 dan 15 berdasarkan Tabel 5.3 dan 5.4 terjadi perbedaan rasio kebutuhan tulangan, pada tabel tersebut zona 15 memiliki rasio dengan rata-rata sebesar 189,040 kg/m3 sedangkan rasio pada zona 10 sebesar 183,144 kg/m3. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tulangan pondasi tapak pada zona 15 lebih besar bila dibandingkan dengan penggunaan tulangan pondasi tapak pada zona 10.
D. Perbandingan Rasio Tulangan Pondasi Tapak Berdasarkan Zona Gempa dengan AHSP
Tabel 5.5. Perbandingan Rasio Tulangan Pondasi Tapak di Zona 15 dengan Standar AHSP
No. Nama Proyek
Rasio Standar
Selisih (Kg/m3)
Persentase Tulangan AHSP (%)
(Kg/m3) (Kg/m3)
1 2 3 4 5 6
(3-4) (5/4)
1 Pembangunan RKB Bertingkat
SDN 42 ( Otsus), Banda Aceh 186.918 150 36.918 25 2 Gudang BPM, Banda Aceh 145.045 150 -4.955 -3
3 Ika Unsyiah, Banda Aceh 174.049 150 24.049 16
4 Ipedelma, Banda Aceh 154.047 150 4.047 3
5 Dedung STTIT Muhammadiyah
Aceh barat daya 135.049 150 -14.951 -10
6 Aspol Punge Jurong Banda
Aceh 144.126 150 -5.874 -4
7 Asrama Putri Beutong, Banda
Aceh 196.228 150 46.228 31
8 Asrama UPTD BPKP ACEH,
Banda Aceh 255.065 150 105.065 70
9 Asrama Pelajar Nagan Raya,
Banda Aceh 181.904 150 31.904 21
10 Gedung Rukyatul Hilal Aceh
Barat 248.046 150 98.046 65
11 Asrama Putri Beutong, Banda
Aceh 124.460 150 -25.540 -17
12 Pembangunan ruang guru
SMPN Banda Aceh 230.259 150 80.259 53.506
13 UKM ACEH, Banda Aceh 238.445 150 88.445 58.963
14 Asrama BP2IP Lamdom Banda
Aceh 289.348 150 139.348 92.898
15 Asrama Pelajar Aceh Singkil,
Banda Aceh 132.613 150 -17.387 -11.591
Jumlah Rata-rata 189.040 150 39.040 26
Tabel 5.6. Perbandingan Rasio Tulangan Pondasi di Zona 10 dengan Standar AHSP
No. Nama Proyek
Rasio Standar
Selisih (Kg/m3)
Persentase Tulangan AHSP (%)
(Kg/m3) (Kg/m3)
1 2 3 4 5 6
(3-4) (5/4)
1
Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor dan Gudang KPPBC Kuala Langsa
158.285 150 8.285 6
2 Gedung Hukum Unsam
(Langsa) 213.721 150 63.721 42
3 Lab Metrologi (Langsa) 132.354 150 -17.646 -12
4 Geduung Perawat RSU Langsa 182.966 150 32.966 22
5 SDN 3 Idi Cut, Aceh Timur 198.019 150 48.019 32
6 SDN Gandapura, Banda Aceh 126.780 150 -23.220 -15
7 Puskesmas IDI Aceh Timur 210.855 150 60.855 41
8 Kantor Walikota Lhokseumawe 269.262 150 119.262 80
9
Pembangunan Gedung Administrasi Politeknik Negri Lhokseumawe
193.573 150 43.573 29
10 STMIK BINA BANGSA
LHOKSEUMAWE 145.629 150 -4.371 -3
Jumlah Rata-rata 183.144 150 33.144 22
Berdasarkan pada Tabel 5.5 dan 5.6, dapat dilihat hasil perbandingan rasio kebutuhan hasil perhitungan dengan apa yang telah distandarkan pada AHSP tersebut terjadi perbedaan yang mana hasil dari perhitungan pada zonasi gempa 15 dengan jumlah jenis dan fungsi bangunan yaitu 3 bangunan pendidikan, 8 bangunan hunian dan 3 bangunan kantor dengan jumlah 15 bangunan memiliki rasio rata-rata 189,040 kg/m3 nilai lebih besar dari pada yang telah distandarkan oleh AHSP yaitu sebesar 150 kg/m3 dan memiliki selisih sebesar 39.040 kg/m3 atau 26 % lebih besar terhadap standar AHSP. Sedangkan hasil perhitungan pada zona gempa 10 dengan jenis dan
ZONA 15 ZONA 10
Pendidikan 200.068 163.301
Penghunian 184.724 196.911
Kantor 185.846 165.829
Standar AHSP 150 150
0 50 100 150 200 250
Rasio Tulangan (kg/m3)
Rasio Berdasarkan Fungsi Bangunan dengan Standar AHSP
fungsi yang berbeda yaitu 5 bangunan pendidikan, 3 bangunan kantor dan 2 bangunan hunian dengan jumlah 10 bangunan yang memiliki rasio rata-rata 183,144 kg/m3 lebih besar dari AHSP yaitu 150 kg/m3 dan memiliki selisih sebesar 33,144 kg/m3 atau 22 % lebih besar terhadap apa yang telah distandarkan AHSP pondasi beton bertulang.
Nilai rasio tulangan pondasi tertinggi pada zonasi 15 adalah pada bangunan gedung asrama BP2IP dengan fungsi bangunan adalah bangunan hunian dengan jumlah nilai rasio adalah 289,348 kg/m3 dan nilai rasio tulangan tertinggi pada zonasi 10 ada pada bangunan Kantor Wali Kota Lhokseumawe dengan jenis bangunan sebagai bangunan perkantoran dengan jumlah nilai rasio adalah sebesar 269.262 kg/m3.
Gambar 5.1. Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan AHSP
5.1.2 Sloof Beton Bertulang
A. Volume Beton dan Tulangan Sloof
Perhitungan volume beton dan tulangan sloof dilakukan berdasarkan gambar bestek yaitu gambar detail penulangan sloof dengan menggunakan tabel analisis kebutuhan tulangan. Rekapitulasi volume beton dan tulangan untuk setiap zona gempa ditunjukkan pada Tabel 5.7 dan Tabel 5.8.
Tabel 5.7. Volume Beton dan Tulangan Sloof Tinjauan Zona 10
No Nama Proyek Fungsi
Bangunan
Volume Beton
(m3)
Volume Tulangan
(kg) 1 Pembangunan RKB Bertingkat SDN 42 Pendidikan 15,000 3110,635 2 Pembangunan RKB SMPN 8 Pendidikan 14,860 3474,705 3 Pembangunan Asrama Mahasiswa Kecamatan Tiro Penghunian 3,460 796,357 4 Pembangunan Asrama Pelajar Aceh Singkil Penghunian 12,040 2508,807 5 Pembangunan Kantor Badan Narkotika Nasional Kantor 18,950 4034,450 6 Pembangunan SMP Negeri 9 Pendidikan 8,520 1858,758 7 Pembangunan Gedung STIT Muhammadiayah Pendidikan 12,400 2893,490 8 Pembangunan Ruang Tempat Belajar Santri
Pesantren Nida Ul Islam Ds. Suak Nibong Pendidikan 4,980 1067,559 9 Pembangunan Gedung Kantor Lost Children Office Kantor 10,965 2234,240 10 Pembangunan Asrama Iwata Peurada Penghunian 12,500 2554,878 11 Pembangunan Gedung Mess UPTD Lab. Verteriner Kantor 12,648 2617,589 12 Pembangunan Gedung Pusat Pelatihan UKM Aceh Kantor 55,986 12332,22
5
13 Pembangunan Asrama Polisi Punge jurong Penghunian 29,630 6538,975 14 Pembangunan asrama santri pondok pesantren Drul
ihsan Desa Pawoh Penghunian 5,600 1152,140
15 Pembangunan Asrama UPTD BPKP Aceh Penghunian 21,023 4356,752 Tabel 5.8. Volume Beton dan Tulangan Sloof Objek Tinjauan Zona 15
No Nama Proyek Fungsi
Bangunan
Volume Beton
(m3)
Volume Tulangan
(kg)
1 Pembangunan Gedung Kantor Bea Cukai Kantor 22,800 4953,501
2 Pembangunan Gedung Kantor dan Laboratorium
UPTD metrologi Kantor 18,510 3665,473
3 Pembangunan Gedung Fakultas Hukum Pendidikan 42,943 9009,319 4 Pembanguanan Ruang Kelas Baru (RKB) Pendidikan 46,400 9993,104
5 Rumah Sakit Umun Penghunian 24,600 5099,715
6 Bilik Santri Dayah Pesantren Penghunian 5,688 1201,339
B. Rasio Kebutuhan Aktual Tulangan per m3 Sloof Beton Bertulang
Perhitungan rasio tulangan sloof diklasifikasikan berdasarkan berdasarkan zona gempa dan fungsi bangunan. Hasil perhitungan rasio kebutuhan tulangan sloof dapat dilihat pada Tabel 5.9 dan 5.10.