KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan berkat- Nya sehingga saya dapat melaksanakan Tu

165  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vii halangan yang berarti.

Tugas Akhir ini disusun berdasarkan apa yang telah saya pelajari di kampus Pelita Bangsa, yang beralamat di Jl. Inspeksi Kali Malang – Tegal Danas, Arah Deltamas, Cikarang Selatan – Bekasi,17530.

Tugas Akhir (skripsi) ini merupakan salah satu syarat wajib yang harus ditempuh dalam Program Studi Arsitektur. Selain untuk menuntaskan program studi yang saya tempuh, tugas akhir ini ternyata banyak memberikan manfaat kepada saya baik dari segi akademik maupun pengalaman yang tidak dapat saya temukan saat berada di bangku kuliah.

Dalam penyusunan tugas akhir ini saya banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh sebab itu saya ingin mengungkapkan rasa terimakasih kepada.

1. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan berkat dan perlindungan-Nya kepada saya.

2. Ibu Putri Anggun Sari. S.Pt,.M.Si. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Pelita Bangsa.

3. Ibu Retno Fitri Astuti, S.T., M.T. selaku Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Pelita Bangsa.

4. Bapak Akhmad Akromusyuhada, S.T.,M.Pd.I. selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada saya dalam melaksanakan tugas akhir (skripsi) ini Arsitektur.

5. Bapak Windi,S.Pd.,M.M. selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada saya dalam melaksanakan tugas akhir (skripsi) ini Arsitektur.

6. Ibu Lia Amelia M. S.Pd. M.T selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada saya dalam melaksanakan tugas akhir ini.

7. Bapak Ahmad Aguswin, S.T., M.M. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada saya dalam melaksanakan tugas akhir ini.

8. Seluruh Bapak/Ibu dosen Teknik Arsitektur yang telah memberikan pengetahuan yang sangat bermanfaat selama masa perkuliahan.

(8)

viii

semoga segera menyusul untuk menyelesaikan studinya.

12. Seluruh teman – teman seangkatan adik - adik angkatan, maupun teman – teman fakultas lain yang selalu mengisi hari – hari menjadi menyenangkan di kampus.

13. Tak lupa pula saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak – pihak terkait lainnya yang telah banyak membantu

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir (skripsi) ini mungkin terdapat kesalahan, baik dari segi penyusunan, tata bahasa maupun data – data yang dilaporkan. Oleh karena itu, penulis memohon saran dan kritik yang membangun guna melengkapi dan menyempurnakan Tugas Akhir ini.

Akhir kata semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan banyak manfaat bagi kita semua.

Bekasi, 14 September 2019 Penyusun,

Roy Alex Saputra Laia

(9)

ix

Lembar Persetujuan Skripsi ... ii

Lembar Pengesahan Sidang Skripsi ... iii

Lembar Pernyataan Keaslian... iv

Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademik ... v

Abstrak ... vi

Abstract ... vii

Kata Pengantar ... viii

Daftar isi ... x

Daftar Gambar ... xv

Daftar Tabel ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Maksud dan tujuan ... 3

1.3 Lingkup pembahasan ... 3

1.4 Sistematika penulisan ... 3

(10)

x

2.1.1 Pengertian kampus ... 5

2.1.2 Fungsi dan tujuan kampus ... 5

2.1.3 Sejarah kampus di Indonesia... 7

2.1.4 Kategori kampus ... 9

2.2 Tinjauan khusus ... 13

2.2.1 Latar belakang tapak ... 13

2.2.2 Data umum tapak ... 14

2.2.3 Kondisi tapak ... 16

2.3 Tinjauan topik ... 25

2.3.1 Pengertian arsitektur modern ... 25

2.3.2 Sejarah arsitektur modern ... 26

2.3.3 Bangunan arsitektur modern ... 36

2.3.4 Pengertian green arsitektur... 47

2.3.5 Sejarah green arsitektur ... 50

2.3.6 Penerapan green arsitektur ... 57

(11)

xi

2.4.2 Institut teknologi sains bandung ... 75

BAB III PERMASALAHAN ... 81

3.1 Aspek manusia ... 81

3.2 Aspek bangunan ... 81

3.3 Aspek lingkungan ... 82

BAB IV ANALISA ... 83

4.1 Analisa aspek manusia ... 83

4.1.1 Analisa pelaku kegiatan ... 83

4.1.2 Analisa jenis kegiatan ... 84

4.1.3 Analisa kebutuhan ruang ... 84

4.1.4 Analisa pola kegiatan ... 85

4.2 Analisa aspek bangunan ... 87

4.2.1 Kebutuhan dan dimensi ruang ... 87

4.2.2 Masa bangunan ... 92

4.2.3 Analisa pola sirkulasi bangunan ... 96

(12)

xii

4.2.6 Analisa material utilitas ... 101

4.3 Analisa aspek lingkungan ... 109

4.3.2 Tapak ... 110

4.3.3 Analisa sirkulasi tapak ... 111

4.3.3.1 Analisa sirkulasi pada tapak ... 111

4.3.3.2 Analisa sirkulasi pada bangunan ... 113

4.3.4 Tata ruang luar ... 115

4.3.4.1 Analisa zoning ... 115

4.3.4.2 Analisa entrance ... 116

4.3.4.3 Analisa pergerakan matahari ... 117

4.3.4.4 Analisa peredam kebisingan ... 118

BAB V KONSEP PERANCANGAN ... 119

5.1 Konsep bentuk bangunan kampus ... 119

5.1.1 Konsep green teknologi ... 119

5.2 Konsep pengembangan kampus ... 123

(13)

xiii

5.3 Konsep perancangan tapak ... 125

5.3.1 Berdasarkan konsep ... 125

5.3.2 Berdasarkan topologi Kawasan tapak ... 126

5.3.3 Sirkulasi ... 127

5.4 Konsep perancangan bangunan ... 128

5.4.1 Bentuk bangunan ... 128

5.4.2 Massa bangunan ... 130

5.4.3 Utilitas bangunan ... 132

DAFTAR PUSTAKA ... 140 Hasil Desain (terlampir)

(14)

xiv

Gambar 2.3 Contoh PTK – STAN ... 13

Gambar 2.4 Lokasi perancangan ... 15

Gambar 2.5 Site lahan kampus ... 16

Gambar 2.6 RTRW kabupaten Bekasi ... 20

Gambar 2.7 Contoh arsitektur modern per.1 ... 28

Gambar 2.8 Contoh arsitektur modern pe.2 ... 30

Gambar 2.9 Contoh arsitektur modern per.3 ... 31

Gambar 2.10 Contoh arsitektur modern ... 36

Gambar 2.11 The fallingwater ... 37

Gambar 2.12 Rumah kaca ... 38

Gambar 2.13 Villa savoy... 39

Gambar 2.14 Museum Guggenheim ... 40

Gambar 2.15 Barcelona pavilion... 41

Gambar 2.16 Arena seluncur ... 42

Gambar 2.17 Villa diricks ... 44

Gambar 2.18 Isokon ... 45

Gambar 2.19 Neue national... 46

Gambar 2.20 Cite radiuse ... 47

Gambar 2.21 Salah satu top teen green arsitektur ... 49

Gambar 2.22 NUS ... 65

Gambar 2.23 NUS school design ... 69

Gambar 2.24 NUS school design ... 70

Gambar 2.25 NUS school design ... 71

(15)

xv

Gambar 2.28 NUS school design ... 74

Gambar 2.29 Itsb ... 75

Gambar 2.30 Konsep green arsitektur itsb ... 79

Gambar 4.1 Skema kegiatan mahasiswa ... 85

Gambar 4.2 Skema kegiatan dosen dan pengelola ... 86

Gambar 4.3 Skema kegiatan pengunjung... 86

Gambar 4.4 Area pejalan kaki dan kendaraan ... 91

Gambar 4.5 Contoh bangunan terpusat ... 92

Gambar 4.6 Contoh massa bangunan grid ... 93

Gambar 4.7 Contoh massa bangunan linear ... 94

Gambar 4.8 Contoh massa bangunan cluster ... 95

Gambar 4.9 Contoh massa bangunan radial ... 96

Gambar 4.10 Solar panel ... 101

Gambar 4.11 Variasi inlet outlet ... 102

Gambar 4.12 Sun shading ... 103

Gambar 4.13 Vertical garden ... 103

Gambar 4.14 Cahaya masuk ke ruangan ... 105

Gambar 4.15 Smoke detector ... 105

Gambar 4.16 hidrant... 106

Gambar 4.17 Analisa sekitar lingkungan ... 109

Gambar 4.18 GSB Peraturan kabupaten Bekasi ... 110

Gambar 4.19 Analisa zoning ... 115

Gambar 4.20 Analisa entrance ... 116

Gambar 4.21 Analisa orientasi matahari ... 117

(16)

xvi

Gambar 5.3 GSB kabupaten Bekasi ... 124

Gambar 5.4 Tapak Bangunan ... 126

Gambar 5.5 Sirkulasi bangunan ... 128

Gambar 5.6 Bentuk bangunan ... 130

Gambar 5.7 Massa bangunan ... 131

Gambar 5.8 Sistem utilitas air bersih ... 133

Gambar 5.9 Sistem utilitas pembuangan ... 135

Gambar 5.11 Sistem utilitas pencahayaan dan ME ... 137

Gambar 5.12 Sistem keamanan Gedung ... 138

Gambar 5.13 Solar panel ... 139

(17)

xvii

Tabel 4.2 Kebutuhan ruang berdasarkan kategori ruang ... 85

Tabel 4.3 Standar kebutuhan ruang STT... 87

Tabel 4.4 Standar kebutuhan ruang STIE ... 87

Tabel 4.5 Standar kebutuhan ruang STAI ... 88

Tabel 4.6 Laju pertumbuhan mahasiswa STT... 88

Tabel 4.7 Laju pertumbuhan mahasiswa STIE ... 88

Tabel 4.8 Laju pertumbuhan mahasiswa STAI ... 89

Tabel 4.9 Kebutuhan ruang buat prodi ... 89

Tabel 4.10 Pola sirkulasi horizontal ... 97

Tabel 4.11 Jenis struktur konstruksi atas ... 100

Tabel 4.12 Variasi inlet outlet ... 102

Tabel 4.13 Sirkulasi horizontal ... 113

Tabel 4.13 Sirkulasi vertical ... 114

Tabel 5.1 Penggunaan lahan ... 123

Tabel 5.2 Topografi kabupaten Bekasi ... 127

(18)

1 1.1 Latar Belakang Masalah

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk paling padat di Indonesia. Jumlah penduduk yang banyak itu menggambarkan Jawa Barat sebagai daerah yang memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang banyak.

Akan tetapi, kondisi tersebut tidak diimbangi oleh meratanya Pendidikan tinggi masyarakatnya.

Melihat fenomena tersebut, pemerintah dan pihak swasta pun berinisiatif untuk membangun gedung-gedung kampus dan perguruan tinggi sebagai solusi untuk meminimalisir angka masyarakat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.

Kampus pelita bangsa terletak di Jalan Inspeksi Kalimalang Tegal Danas, Cikarang Pusat menjadi salah satu kampus yang menyediakan kesempatan bagi masyarakat yang ingin menempuh studi kelas reguler dan studi kelas karyawan

Kampus Pelita Bangsa merupakan salah satu perguruan tinggi yang sangat berpotensi untuk berkembang, akan tetapi menurut pengalaman penulis sebagai seorang mahahsiswa di Pelita Bangsa, desain bangunan yang sudah tersedia sangat kurang untuk menciptakan kenyamanan untuk penggunanya, yaitu penataan ruang dan desain estetika gedungnya yang kurang menarik dalam segi arsitektural dan lingkungan.

(19)

Sejak didirikan pada tahun 2000, saat ini peruguruan tinggi Pelita Bangsa sudah berkembang dengan pesat, dari segi kualitas dan fasilitas sarana dan prasarana. Setiap tahun jumlah mahasiswa semakin bertambah dengan signifikan, terbukti dengan berkembangnya jumlah gedung dari satu gedung menjadi dua gedung untuk menampung jumlah mahasiswa yang makin bertambah.

Saat ini, tepatnya pada tahun 2019, peningkatan jumlah pengguna semakin bertambah, untuk itu dengan adanya perancangan desain baru gedung kampus, maka akan lebih menarik minat calon mahasiswa untuk menyelesaikan studi di Pelita Bangsa.

Perancangan desain baru merupakan solusi untuk membantu Kampus Pelita Bangsa menjadi perguruan yang layak untuk menjadi wadah kepada pengguna bangunan dan fasilitasnya.

Dalam perancangan gedung kampus yang baru, ada beberapa aspek penting yang harus dianalisa dan ditinjau terlebih dahulu. Salah satu aspek tersebut adalah Penataan site yang efektif. gedung sebelumnya merupakan salah satu contoh dampak dari penataan site yang kurang efektif.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk merancang gedung baru kampus Pelita Bangsa agar dapat digunakan secara Fungsi dan Estetika.

(20)

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Merancang gedung baru dengan fungsi dan estetika secara arsitektural 2. Merancang gedung baru yang nyaman untuk pengguna

3. Merancang gedung baru dengan konsep arsitektur green modern Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Membuat perancangan desain gedung baru Pelita Bangsa

2. Membuat perancangan penataan ruang baru Gedung Pelita Bangsa

3. Sebagai syarat kelulusan program studi S1 Jurusan Arsitektur STT Pelita Bangsa

1.3 Lingkup Pembahasan

Berisikan kajian-kajian kebijakan dan persyaratan perancangan bangunan (ketentuan, peratuaran, standar, dll) yang berkhaitan dengan fungsi, lokasi, ruang, tampilan bangunan, dan utilitas.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika pembahasan yang digunakan dalam penyusunan Laporan Program Perencanaan dan Perancangan ini adalah :

(21)

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup pembahasan dan sistematika pembahasan.

BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI

Berisi tentang tinjauan umum tentang gedung kampus Pelita Bangsa dan Tinjauan khusus yang berkaitan dengan tapak , tinjauan topic dan studi banding.

BAB III PERMASALAHAN

Berisi tenang permasalahan dalam perancangan arsitektur yaitu dalam aspek manusia, aspek bangunan dan aspek lingkungan.

BAB IV ANALISA

Berisi tentang analisa aspek manusia mencakup: pelaku kegiatan, urutan kegiatan dan kebutuhan ruang. Analisa aspek bangunan mencakup: kebutuhan dan dimensi ruang, massa bangunan, sistem bangunan dan utilitas Analisa aspek lingkungan mencakup: perkotaan dan lingkungan, tapak, sirkulasi dalam tapak, tata ruang luar (analisa zoning, analisa entrence, analisa pergerakan matahari, analisa peredam kebisingan)

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Berisi tentang konsep dasar perancangan mencakup: luas total perancangan dan hubungan skematik. Konsep perancangan tapak mencakup: sirkulasi (diluar tapak dan di dalam tapak) dan pola ruang luar. Konsep perancangan bangunan mencakup: bentuk bangunan, massa bangunan dan sistem bangunan dan utilitas DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN DAN GAMBAR.

(22)

5 2.1 Tinjauan Umum

2.1.1 Pengertian Kampus

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kampus merupakan daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung.

2.1.2 Fungsi dan Tujuan Kampus

a. Fungsi Kampus

Fungsi Kampus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah Kampus adalah suatu tempat yang digunakan mahasiswa untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka. Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dan dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepadamasyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

(23)

b. Tujuan Kampus

Selain memiliki fungsi, Kampus juga memiliki beberapa tujuan. Seperti halnya pengertian dan fungsi pendidikan tinggi, tujuan pendidikan tinggi juga tertuang dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yaitu pada pasal 5. Dalam UU No. 12 Tahun 2012 pasal 5 tersebut disebutkan 4 (empat) tujuan Kampus, yaitu sebagai berikut :

1. Berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.

2. Dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa.

3. Dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.

4. Terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

(24)

2.1.3 Sejarah Kampus di Indonesia

Awalnya rintisan perguruan tinggi perintisan ini hanya di bidang kesehatan saja. Pada tahun 1902 di Batavia didirikan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau dikenal sebagai Sekolah

Dokter Bumi Putera) kemudian NIAS (Nerderlandsch Indische Artsen School) tahun 1913 di Surabaya . Ketika STOVIA tidak menerima murid lagi, didirikanlah sekolah tabib tinggi GHS (Geneeskundige Hooge School) pada tahun 1927.

Perguruan inilah yang sebenarnya merupakan embrio kedokteran Universitas Indonesia..

Di Bandung tahun 1920 didirikan Technische Hooge School (THS) yang pada tahun itu juga dijadikan perguruan tinggi negeri THS ini adalah embrio Institut Teknologi Bandung. Pada tahun 1922 didirikan Textil Inrichting Bandoeng (TIB) ini lah embrio Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung.

Pada tahun 1922 kemudian berdiri sekolah hukum (Rechts School) yang kemudian ditingkatkan menjadi sekolah tinggi hukum (Recht hooge School) pada tahun 1924. Sekolah tinggi inilah embrio Fakultas Hukum di Indonesia. Di Jakarta tahun 1940 didirikan Faculteit de Letterenen Wijsbegeste yang kemudian menjadi Fakultas Sastra dan Filsafat di Indonesia.

Di Bogor didirikan sekolah tinggi pertanian (Landsbouwkundige Faculteit) pada tahun 1941 yang sekarang disebut Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada zaman Jepang sampai awal kemerdekaan, GHS ditutup dan atas inisiatif pemerintahan militer, GHS dan NIAS dijadikan satu dan diberikan nama Ika Dai Gakko (Sekolah

(25)

Tinggi Kedokteran). Dua hari setelah proklamasi, tanggal 19 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mendirikan Balai Pergoeroean Tinggi RI yang memiliki Pergoeroean Tinggi Kedokteran. Sekolah tinggi ini dibuka secara resmi pada

tanggal 1 Oktober 1945.

Pada masa perjuangan revolusi fisik melawan Belanda (1946-1949) Pergoeroean Tinggi Kedokteran mengungsi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur,

(Klaten dan Malang). Sementara itu pemerintah RI di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1949 mendirikan Universitas Gadjah Mada. Pada awalnya hanya ada 2 Fakultas, yaitu Hukum dan Kesusasteraan yang bertempat di pagelaran dan baru kemudian berangsur-angsur pindah ke kampus Bulak Sumur.

Pada zaman pendudukan, di Batavia pihak Belanda mengusahakan dibukanya kembali GHS. Maka bukan hal yang aneh ketika penyerahan kedaulatan, tahun 1949 timbul gagasan untuk menjunjung tinggi ilmu pengetahuan tanpa membedakan warna kulit dan asal keturunan. Kedua lembaga pendidikan bekas Belanda dan bekas Republik dijadikan satu menjadi Universiteit Indonesia, Fakulteit Kedokteran, tanggal 2 Februari 1950, yang saat ini dikenal dengan

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang berdiri tanggal 8 Juli 1945 merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan tertua di Indonesia.

(26)

2.1.4 Kategori Kampus di Indonesia

Jenis-jenis peruguruan atau Pendidikan tinggi di Indonesia terbagi atas 5 (lima) jenis kategori :

1. Universitas

Universitas terdiri dari sejumlah fakultas yang menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan/atau Pendidikan Vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni. Jadi Universitas bisa menyelenggarakan dua jenis pendidikan tinggi nih, yaitu Pendidikan Akademik dan Pendidikan Vokasi.

Universitas juga bisa menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai rumpun ilmu tanpa batas. Misalnya, rumpun ilmu agama (syariah, ekonomi islam, ilmu penerangan agama Hindu, dan sebagainya), rumpun ilmu humaniora (filsafat, sejarah, bahasa, dan sebagainya), rumpun ilmu sosial (sosiologi, psikologi, ekonomi, dan sebagainya), rumpun ilmu alam (ilmu angkasa, ilmu kebumian, kimia, dan sebagainya), rumpun ilmu formal (komputer, matematika, statistika, dan sebagainya) dan rumpun ilmu terapan (pertanian, arsitektur dan perencanaan, bisnis, dan sebagainya). Jadi, bisa dibilang univeristas adalah perguruan tinggi yang menyediakan apa pun kebutuhan pendidikan tinggi.

2. Institut

Institut terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan/atau Pendidikan Vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sama seperti Universitas, Institut bisa menyelenggarakan dua jenis pendidikan tinggi juga Pendidikan Akademik dan Pendidikan Vokasi.

(27)

Perbedaannya terhadap Universitas adalah fakultas-fakultas dalam sebuah institut berasal dari satu jenis keilmuan saja. Berbeda, dong, dengan universitas yang fakultas-fakultasnya berasal dari berbagai jenis keilmuan. Misalnya, Institut Teknologi Bandung (ITB) hanya fokus kepada rumpun ilmu alam, sehingga fakultas-fakultas di ITB hanyalah yang terkait dengan ilmu alam, seperti ilmu angkasa, ilmu kebumian, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu fisika, dan sebagainya.

3. Sekolah Tinggi

Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang melaksanakan Pendidikan Akademik dan/atau Pendidikan Vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Sama seperti Universitas dan Institut, Sekolah Tinggi bisa menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan Pendidikan Vokasi.

Namun, berbeda dengan Universitas dan Institut, Sekolah Tinggi cuma terdiri dari satu fakultas yang terbagi ke dalam berbagai program studi. Misalnya, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi hanya menyediakan program studi-program studi dari Fakultas Komunikasi, seperti Hubungan Masyarakat, Penyiaran, Periklanan, dan sebagainya.

4. Politeknik

Politeknik adalah sekolah tinggi yang hanya menyelenggarakan Pendidikan Vokasi. Jadi Politeknik nggak menyelenggarakan Pendidikan Akademik.

Sesuai dengan jenis pendidikan tinggi yang ditawarkan, tujuan politeknik sendiri tentunya untuk mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi anggota masyarakat yang punya kemampuan profesional agar mampu menerapkan,

(28)

mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi agar taraf hidup masyarakat dan kesejahteraan umat manusia meningkat.

5. Akademi

Sama seperti Politeknik, Akademi adalah sekolah tinggi yang hanya menyelenggarakan Pendidikan Vokasi dalam satu atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau seni tertentu.

Beda antara Politeknik dan Akademi adalah, Politeknik bisa menyelenggarakan Pendidikan Vokasi dari beberapa rumpun ilmu, sedangkan Akademi hanya bisa menyelenggarakan Pendidikan Vokasi dari satu cabang ilmu saja. Misalnya, di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) tersedia program studi dalam rumpun ilmu rekayasa (teknik elektro, teknik mesin, teknik kimia, dan sebagainya) dan rumpun ilmu tata niaga (akuntansi, bisnis, manajemen, dan sebagainya). Sementara Akademi Sekretari dan Manajemen Don Bosco hanya berisi program studi seputar Kesekretariatan dan Manajemen.

Dalam kategori pengelolaan, perdidikan tinggi di Indonesia terbagi atas :

1. Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yaitu perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintahan, baik langsung berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional maupun di bawah departemen lain milik pemerintah.

(29)

Gambar 2.1 Contoh PTN - Institut Teknologi Bandung Sumber : google.com

2. Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yaitu perguruan tinggi yang dimilliki dan dikelola oleh perorangan atau kelompok/yayasan tertentu.

Gambar 2.2 Contoh PTS – Binus Unversity Sumber : google.com

(30)

3. Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK), yaitu perguruan tinggi di bawah departemen selain Departemen Pendidikan Nasional, atau merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri yang memiliki ikatan dengan lembaga pemerintahan sebagai penyelenggara pendidikan.

Gambar 2.3 Contoh PTK - STAN

2.2 Tinjauan Khusus 2.2.1 Latar Belakang Tapak

Lokasi Pelita Bangsa terletak di Jl. Raya Kalimalang No.9 Cibatu, Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat. Dengan koordinat 6°19'28.53"S Garis Lintang Selatan dan 107°10'11.73"E Garis Bujur Timur, dengan ketinggian 11 meter diatas permukaan laut. Pada kondisi tapaknya sudah terbangun 2 buah Gedung yang terpisah dengan masing-masing 2 fungsi antara lain untuk STT dan untuk STIE dan STAI.

(31)

Dikarenakan persentase jumlah mahasiswa yang meningkat setiap tahunnya, maka sangat perlu untuk membangun lagi sebuah Gedung tambahan, agar ketersediaan fasilitas dapat mengimbangi jumlah mahasiswa yang terus bertambah setiap tahunnya.

Selain untuk menambah fasilitas baru, manfaat lain penambahan Gedung baru adalah untuk mendukung adanya penambahan fakultas-fakultas baru yang tentunya sangat membutuhkan bangunan baru yang memadai.

2.2.2 Data-data Tapak

Lokasi : Jl. Raya Kalimalang No.9, Cibatu, Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat 17530

Lebar Jalan : 8 m

Lingkungan : Padat Penduduk

Transportasi : 1 Km dari Gerbang Tol Cibatu

Lahan : Untuk industri, perdagangan, dan fasilitas umum Luas Lahan : ±1,37 HA (13.700 m2)

Topografi : Lahan berkontur rata atau tidak berkontur Kondisi : Lahan Kosong

KDB : 60 % x 13.700 m2 = 8.220 m2 KLB : 2 x 13,700 m2 = 27.400 m2

(32)

Gambar 2.4 Lokasi Perancangan

Batasan-batasan Tapak

Utara : PT. KAO Indonesia Timur : Persawahan

Selatan : Sungai Kalimalang dan Desa Cibatu

Barat : Pemukiman

(33)

Gambar 2.5 Site lahan Kampus

2.2.3 Kondisi Tapak

a. Kondisi Tapak

1. Pencapaian Tapak

Pencapaian ke tapak merupakan satu-satunya pencapaian darat yang mudah dijangkau. Sistem transportasi umum cukup memadai dengan adanya kendaraan umum yang melalui tapak.

(34)

2. View Tapak

View tapak langsung berhadapan dengan Jalan Raya Kalimalang, dan pemukiman penduduk serta beberapa lahan kosong yang cukup luas.

3. Kemiringan dan Drainase Tapak

Kondisi tapak berumpak dengan sistem drainase diarahkan menuju saluran pembuangan yang telah ada disepanjang jalan Raya Kalimalang, sistem saluran bawah tanah (gorong-gorong).

4. Geografis

Sebagian besar wilayah Bekasi adalah dataran rendah dengan bagian selatan yang berbukit-bukit. Ketinggian lokasi antara 0 – 115 meter dan kemiringan 0 – 250 meter. Kabupaten Bekasi yang terletak di sebelah Utara Propinsi Jawa Barat dengam mayoritas daerah merupakan dataran rendah, 72% wilayah Kabupaten Bekasi berada pada ketinggian 0-25 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan karakteristik topografinya, sebagian besar Kabupaten Bekasi masih memungkinkan untuk dikembangkan untuk kegiatan budidaya,Terutama untuk budidaya ikan di tambak ataupun untuk budidaya hewan domestik seperti ayam dan kambing. Jenis tanah di Kabupaten Bekasi diklasifikasikan dalam tujuh kelompok. Kelompok yang paling layak untuk pengembangan pembangunan memiliki luas sekitar 16.682,25 Ha (81,25%), yang terdiri dari jenis asosiasi podsolik kuning dan hidromorf kelabu;

komplek latosol merah kekuningan, latosol coklat, dan podsolik merah; aluvial kelabu tua; asosiasi glei humus dan alluvial kelabu; dan asosiasi latosol merah, latosol coklat kemerahan, dan laterit. Klasifikasi cukup layak seluas 3.745,04 Ha (18,24%), terdiri dari jenis tanah asosiasi alluvial kelabu dan alluvial coklat

(35)

kekelabuan. Sisanya sekitar 104,71 Ha (0,51%) dari jenis podsolik kuning merupakan areal yang kurang layak untuk pembangunan. Ditinjau dari tekstur tanahnya, sebagian besar wilayah ini memiliki tekstur tanah halus sekitar 15.555,04 Ha (75,76%) dan bertekstur sedang sekitar 4.755,21 Ha (23,16%) berada di sebelah utara dan sebelah selatan yakni, sedangkan sisanya sekitar 221,75 Ha atau 1,08%

bertekstur kasar berada di sebelah barat. Tingkat kepekaan tanah terhadap erosi cukup baik/stabil. Tingkat kepekaan ini diklasifikasikan tiga bagian yakni stabil (tidak peka), peka, dan sangat peka. Sekitar 17.220,19 Ha (83,87%) dari luas lahan merupakan lahan stabil yang layak untuk dikembangkan untuk berbagai macam kegiatan perkotaan. Seluas 3.127,02 Ha (15,23%) dari lahanya memiliki kondisi peka dan masih cukup layak untuk dibangun. Sedangkan di bagian selatan, lahnnya sangat peka terhadap erosi yakni sekitar 184,79 Ha (0,9%), kurang layak untuk dikembangkan. Adanya beberapa sungai yang melewati wilayah Kabupaten Bekasi merupakan potensi sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Kabupaten Bekasi terdapat enam belas aliran sungai besar dengan lebar berkisar antara 3 sampai 80 meter, yaitu sebagai berikut Sungai Citarum, Sungai Bekasi, Sungai Cikarang, Sungai Ciherang, Sungai Belencong, Sungai jambe, Sungai Sadang, Sungai Cikedokan, Sungai Ulu, Sungai Cilemahabang, Sungai Cibeet, Sungai Cipamingkis, Sungai Siluman, Sungai Serengseng, Sungai Sepak dan Sungai Jaeran. Selain itu, terdapat 13 situ yang tersebar di beberapa kecamatan dengan luas total 3 Ha sampai 40 Ha, yaitu Situ Tegal Abidin, Bojongmangu, Bungur, Ceper, Cipagadungan, Cipalahar, Ciantra, Taman, Burangkeng, Liang Maung, Cibeureum, Cilengsir, dan Binong. Saat ini kebutuhan air di Kabupaten

(36)

Bekasi dipenuhi dari 2 (dua) sumber, yaitu air tanah dan air permukaan. Air tanah dimanfaatkan untuk pemukiman dan sebagian industri.

Kondisi air tanah yang ada di wilayah Kabupaten Bekasi sebagian besar merupakan air tanah dangkal yang berada pada kedalaman 5 – 25 meter dari permukaan tanah, sedangkan air tanah dalam pada umumnya didapat pada kedalaman antara 90 – 200 meter. Air permukaan, seperti sungai, dimanfaatkan oleh PDAM untuk disalurkan kepada konsumennya, baik permukiman maupun industri.

5. Klimatologi

Curah hujan tertinggi selama periode tahun 2015 – 2018 terjadi pada bulan Desember dengan rata-rata curah hujan 302 mm, sedangkan terendah pada bulan Agustus dengan curah hujan rata-rata per tahun 22 mm.

6. Kebijakan Pola Tata Ruang Kabupaten Bekasi

Berdasarkan kebijakan peraturan RTRW Kabupaten Bekasi 2011-2031, wilayah Kabupaten Bekasi dibagi menjadi 4 wilayah pengembangan kabupaten.

(37)

Gambar 2.6 RTRW Kabupaten Bekasi

7. Pola Guna Lahan

Luas wilayah Kabupaten Bekasi pada tahun 2018 seluruhnya adalah 1.484,37 km2 dalam RTRW. Fenomena yang terjadi didaerah perkotaan menunjukkan luas lahan sawah akan semakin berkurang sejalan dengan banyaknya pembangunan di bidang perumahan, perdagangan ataupun industri.

No BWP Fungsi Kecamatan

1 WP I • Industri

• Perumahan

• Tambun Selatan

• Cibitung

(38)

Kabupaten Bekasi bagian Tengah

• Perdangangan

• Jasa Pemukiman

• Pendukung Industri

• Pariwisata

• Cikarang Barat

• Cikarang Selatan

• Cikarang Timur

2 WP II Kabupaten Bekasi bagian Selatan

• Pusat Pemerintahan

• Industri

• Perumahan

• Permukiman Skala Besar

• Pertanian

• Pariwisata

• Setu

• Serang Baru

• Cibarusah

• Cikarang Pusat

• BojongMangu

3 WP III Kabupaten Bekasi bagian Timur

• Pertanian Lahan Basah

• Perumahan

• Permukiman

• Sukawangi

• Cabangbungin

• Tambelang

• Sukakarya

• Pebayuran

• Sukatani

• Karang Bahagia

• Kedung Waringin

4 WP IV • Industri

• Transportasi

• Pertambangan

• Muara Gembong

• TarumaJaya

• Babelan

(39)

Kabupaten Bekasi bagian Utara

• Perumahan

• Permukiman

• Pertanian

• Kawasan Hutan Lindung

• Tambun Utara

Tabel 2.1 Pola Guna Lahan RTRW Kabupaten Bekasi

8. Kebijakan Pola Ruang

Kabupaten Bekasi dibagi dalam dua zona pemanfaatan ruang kawasan yaitu Kawasan lindung dan kawasan budidaya. Secara terperinci diuraikan sebagai berikut :

a. Rencana Kawasan Hutan Lindung

Penetapan kawasan lindung dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dalam pembangunan dengan fungsi-fungsi ruang yang ada agar diperoleh pemanfaatan kawasan yang optimat sesuai dengan daya dukungnya. Dengan demikian, penetapan kawasan lindung adalah bentuk- bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawas.an lindung seperti rehabilitasi kawasan, konservasi, penelitian dan pendidikan, wisata alam dan bentuk- bentuk pemanfaatan hasil hutan bakau lainnya yang bersifat lestari. Penataan ruang di kawasan lindung dimaksudkan agar :

• Diperoleh kawasan lindung yang optimal sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang berlaku tentang kawasan lindung.

(40)

• Meningkatkan fungsi kawasan lindung melalui pengelolaan kawasan yang spesifik

• Mengatisipasi terjadinya bentuk-bentuk kerusakan kawasan lindung yang menyebabkan daya dukung terhadap kawasan secara keseluruhan menurun

b. Rencana Kawasan Budidaya

Untuk mempertahankan lahan sawah, terutama yang beririgasi teknis, program yang akan dilakukan adalah:

• Pengukuran lahan kawasan pertanian lahan hrasah khr-tsrrsnya lahan sawah breririgasi teknis.

• Peningkatan pelayanan infrastruktur pertanian untuk mempertahankan keberadaan fungsi lahan sawah beririgasi teknis'

• Mengendalikan alih fungsilahan sawah

• Pengembangan Perikanan

• Pengembangan Peternakan

• Pengembangan Pariwisata

• Pengembangan lahan peruntuhan industri

• Pengembangan Kawasan Permukirnart

• Pengembangan Kawasan khusus Pantai utara Kabupaten Bekasi

• Pengembangan Wilayah Prioritas

(41)

c. Rencana Penentuan Kawasan Rawan Bencana

Kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Bekasi , meliputi antara lain : banjir, tanah longsor, dan gelombang pasang. Karakteristik kawasan rawan bencana longsor dan banjir rata-rata memiliki kemiringan lebih curam dari 20

% kelerengan > 40 % dengan karakteristik :

• Sifat fisik tanah dengan tekstur halus cenderung menimbulkan bahaya berupa gerakan ianah cian pergeseran muka ianah (longsor)

• Kawasan yang rutin mengalami banjir yang cukup tinggi dan dalam jangka waktu relatif lama

b. Kondisi Lingkungan 1. Pola Lingkungan

Pertumbuhan lingkungan pada kawasan site terpilih secara umum membentuk pola pertumbuhan lingkungan yang secara linier karena pertumbuhan semakin banyak.

2. Intensitas Pemanfaatan Lahan

Intensitas pemanfaatan lahan dikawasan ini kepadatan bangunannya mencapai 40% sampai 60% dengan penyebaran pengelompokan yang merata dengan keseimbangan antara bangunan dan area hijau yang padat.

3. Fungsi Bangunan

Penggunaan fungsi bangunan pada kawasan lokasi tapak sebagian besar digunakan untuk permukiman, daerah jasa dan komersial baik berupa pertokoan, rumah makan dan lainnya.

(42)

4. Kondisi Fisik Pra-sarana

Jaringan prasarana yang perlu direncanakan adalah jaringan air bersih dan jaringan komunikasi, saluran pembuangan air hujan, sistem pembuangan sampah. Jaringan prasarana tersebut diperlukan untuk kemudahan dalam pengoprasionalan bangunan yang ada diwilayah tersebut.

Sistem jaringan utilitas terdiri dari:

• Jaringan air bersih : Sumber dari PDAM

• Jaringan komunikasi: jaringan telepon dan Internet

• Air limbah dan tadah hujan: dibuang melalui saluran tertutup.

• Jaringan listrik: menggunakan saluran dari PLN.

• Jaringan pembuangan sampah: petugas dinas kebersihan Kabupaten Bekasi

2.3 Tinjauan Topik

2.3.1 Pengertian Arsitektur Modern

Arsitektur modern atau arsitektur modernis adalah sebuah istilah yang ditujukan untuk sekelompok gaya arsitektur yang muncul pada paruh pertama abad ke-20 dan menjadi dominan setelah Perang Dunia II. Ini berdasarkan pada teknologi pembangunan baru, terutama penggunaan kaca, baja dan beton, dan setelah penolakan dari gaya Beaux-Arts dan arsitektur neoklasik tradisional yang menjadi populer pada abad ke-19

(43)

2.3.2 Sejarah

Perkembangan Arsitektur Modern : Periode I (1920-1929)

• Mulai menonjol setelah PD I (1917) bersamaan dg hancurnya sarana, prasarana dan ekonomi.

• Konsep ruang arsitektur sebelumnya dititik beratkan hanya pada kegiatan, emosi &

kemulyaan, maka pada masa ini faktor terbentuknya ruang juga ditunjang faktor komposisi, rasio, dimensi manusia.

• Mulai berkembang konsep “free plan”, atau “universal plan”, yaitu ruang yg ada dpt dipergunakan unt berbagai macam aktifitas, ruang dapat diatur fleksibel dan dapat digunakan fungsi apa saja.

• “Typical Concept” mulai berkembang yaitu ruang-ruang dibuat standar dan berlaku universal. – Penggunaan konsep ekonomis mulai ditrapkan.

• Efisiensi dalam penggunaan bahan mulai nampak yaitu terlihat dengan munculnya bentuk-2 kubus, terutama pada bangunan bertingkat tinggi à (arsitektur “kotak korek” dg menggunakan struktur beton dan baja)

• Konsep “Open Space” nampak dengan menggunakan jendela kaca yg lebar dan menerus.

• Pemakaian bahan terutama “baja, beton dan kaca” dengan bentuk polos. Ornamen dianggap sebagai suatu kejahatan.

• Arsitektur modern berarti putusnya hubungan dengan sejarah dan daerah. Selalu ingin universal (karena industri, ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga bersifat universal) dan juga manusianya. (gaya universal sebagai international style)

(44)

CIAM (Congres Internationaux d’Architecture Moderne)-1928 yg hasilnya adalah : Arsitektur modern adalah pernyataan jiwa dari suatu masa, dapat menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan ekonomi yg ditimbulkan zaman mesin. Yaitu dg dengan menjari keharmonisan dari elemen-elemen modern serta mengembalikan arsitektur pada bidangnya (ekonomi, sosiologi, dan kemasyarakatan) yg secara keseluruhan siap melayani umat manusia.

• Konsep baru dan sangat mendasar dari arsitektur modern antara lain adalah FORM FOLLOWS FUNCTION yg dikembangkan oleh Louis Sullivan (Chicago), dengan beberapa ciri sebagai berikut:

• Ruang yang dirancang harus sesuai dengan fungsinya.

• Struktur hadir secara jujur dan tidak perlu dibungkus dengan bentukan masa lampau (tanpa ornamen).

• Bangunan tidak harus terdiri dari bagian kepala, badan dan kaki.

• Fungsi sejalan/menyertai dengan wujud.

Tokoh pada periode I ini antara lain adalah:

Louis Sullivan

Frank Lloyd Wright

Le Corbusier

Walter Gropius

Ludwig Mies van de Rohe

(45)

Gambar 2.7 Contoh Arsitektur Modern Periode I

Periode II (1930-1939)

• Perkembangan arsitektur modern sudah sampai di seluruh Eropa, Amerika dan Jepang, yg mana masing-masing daerah mempunyai perbedaan iklim, keadaan tanah, corak tradisi, yang bisa mempengaruhi apresiasi bentuknya.

• Perkembangan metode hubungan ruang, bentuk, bahan dan struktur tidak lagi bersifat universal, akan tetapi mempunyai hubungan yg sangat erat dg tempat dimana bangunan itu didirikan, mempunyai hubungan erat dg spesivikasi kedaerahan dan keregionalan.

• Karakteristik bentuk dan tampilan dg gaya International Style atau Universal Style dari arsitektur modern pada peride ini diwarnai oleh tipe-tipe tampilan baru, yaitu tampilan dg – memperhatikan penggunaan bahan-bahan lokal / setempat.

(46)

• Pada prinsipnya arsitektur merupakan perpaduan antara keahlian, perkembangan teknologi, industri serta seni dengan faham kedaerahan (manusia dan lingkungan) dengan tidak mengurangi rasa kesatuan yang disebut kemanusian, akal dan seni dari arsitektur modern.

• Hal ini adalah merupakan keberanian untuk menyalahi zamannya. Hanya dengan perencanaan yg obyektif dan ketelitian dalam penampilan bahan-bahan asli, maka bahaya gagalnya perancangan dapat dihindari, namun demikian karya seperti ini masih banyak dikritik dan disalah artikan.

Tokoh yang menonjol pada Periode II ini adalah:

Alvar Aalto

Arne Jacobsen

Oscar Niemeyer

Tokoh-tokoh pada Periode I juga berkarya dengan tetap atau terpengaruh oleh pemikiran Periode II, demikian juga pada periode selanjutnya.

(47)

Gambar 2.8 Contoh Arsitektur Modern Periode II

Periode III (1945 – 1958)

• PD II (1941 – 1945) menimbulkan kerusakan pada gedung-2 dan rumah tinggal, menyebabkan faktor-faktor kebutuhan manusia akan rumah tinggal dan gedung-2 menjadi latar belakang pada periode ini.

• Pada masa ini timbul aliran yg disebut Eklektisisme, aliran yg berpedoman mengambil yg paling baik diantara yang sudah ada, untuk digunakan sebagai bagian dari sesuatu yang baru.

• Prinsip-prinsip perancangannya didasari pada kebutuhan, fungsi yang dipadu dengan hasil penemuan teknik serta keindahan mesin, menginginkan satu kesatuan antara manusia dengan lingkungannya.

(48)

• Ekspresi bentuk massa bangunan serta materi yg dominan pada periode ini dapat dibagi atas:

• Bentuk curvelinier geometris yg plastis dengan penggunaan bahan dan struktur utama pada umumnya beton serta strutur atap baja.

• Bentuk geometri (kubus, prisma), umumnya menggunakan baja sebagai struktur utama dengan dinding kaca sebagai penutup.

• Arsitektur Landscape mulai dikembangkan, dengan menggunakan bahan, fungsi, sistem pencahayaan, bentuk masa, dipengaruhi oleh keadaan iklim, topografi dan sifat kenasionalan.

Gambar 2.9 Contoh Arsitektur Modern Periode III

Periode III fase I (1949 – 1958)

• Penyatuan antara karakter bangunan dengan fungsi, perancangan tidak hanya mempertimbangkan bagian dalamnya saja, tetapi juga hubungannya dengan keadaan lingkungan di mana bangunan tersebut akan berdiri (mis: iklim).

(49)

• Bangunan yg tercipta mencerminkan suatu dialog dengan teknologi, hal ini terlihat dari penggunaan produk baru, seperti; baja, alumunium, metal, beton pracetak.

Yang penggunaannya dapat dibagi menjadi dua prinsip dasar yg berbeda yaitu:

• Dilihat dari segi keindahan eksterior dan interior (estetika).

• Dilihat dari metode produksi (efisiensi).

• Ciri-ciri lain pada bangunan masa ini adalah:

• Penggunaan bidang kaca yg lebar.

• Penggunaan dinding penyekat yg diprodusi secara industrial.

• Permukaan bangunan mulai agak kasar. (menjurus ke brutalisme).

• Sistem “cantilever” dengan tujuan untuk mendapatkan lantai lebih luas.

Ada 5 aliran yg berkembang pada masa ini (1950an):

• Aliran “penyederhanaan bentuk” (minimalism), di dalam kesederhanaan berusaha mencapai efek yg kaya. Bentuknya lurus-lurus hampir sama untuk berbagai jenis bangunan. (tokohnya : Mies-van de Rohe).

• Aliran “bentuk sesuai dengan fungsi dan bahan”, bila ada bagian yg perlu ditonjolkan akan dibuat menonjol, sehingga ada variasi pada bentuk masanya.

Aliran ini bentuknya lebih plastis dibandingkan aliran di atas. (tokohnya: Alvar Aalto)

• Aliran “pernyataan bentuk melalui struktur” (experimental structure), bentuk terlahir dari permainan gaya-gaya struktural, sehingga tercipta bangunan yg istimewa bentuknya dan berskala besar. (tokohnya: Eero Saarinen)

(50)

• Aliran “organik” (organic architecture), berusaha menghubungkan alam dan lingkungan ke dalam pemecahan masalah arsitektural (tokohnya: Frank Lloyd Wright)

• Aliran “perubahan sikap terhadap zaman yang lampau”, menggunakan kembali langgam- langgam dari masa lalu yang sudah dipermodern dan disederhanakan.

(tokohnya : Minoru Yamasaki) Periode III fase II (1958 – 1966)

Setelah mengalami beberapa variasi sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan pandangan-2 pada fase I dan periode sebelumnya. Pada fase ini timbul dua aliran yg menonjol di Eropa dan Amerika yaitu:

• Aliran “Brutalisme”, berasal dari beton brut (beton telanjang), yg dipakai oleh Le Corbusier pada bangunan Unite d’Habitation di Marseilles. Bangunan yg dibuat dengan gaya seperti ini, yaitu menggunakan bahan bangunan yg kasar, seperti beton expose, batu bata kasar dan bahan lain yg sejenis termasuk di dalam aliran ini. Brutalisme mengalami dua fase, yaitu:

• Brutalisme dalam artian sempit dalam lingkungan Smitthsons (Inggris), lebih mementingkan etika dari pada estetika.

• Internasional Brutalisme, disini lebih bertujuan pada estetika.

Brutalisme memulai suatu perancangnan dari kumpulan ruang yg kecil dan terpisah serta dihubungkan dg elemen-2 fungsional yg bebas dan dengan indah dikembangkan ketika bergabung bersama. Bentuk keseluruhan dari bangunan merupakan faktor yg menentukan, tetapi bagian-2 individual dinyatakan

(51)

dengan tegas dan teliti. (tokohnya: Le Corbusier, Paul Rudolph, Michael Kallmenn, Eero Sarine, Kenzo Tange, Stubbin):

• Aliran “Formalisme”, perancangan bangunan berdasarkan segi estetika, lebih menonjolkan bentuk bangunan. Penampilan dipengaruhi oleh faktor emosi dan perasaan dari arsitek, fungsi dinomer duakan, bentuk luar tidak sesuai dengan fungsinya. Slogan “Form follows function” dirubah menjadi “Form evokes function” (bentuk menciptakan fungsi), bentuk adalah merupakan titik tolak perancangan. Formalisme dipengaruhi aliran lainnya:

• Formalisme vs Brutalisme; bertitik tolak pemikiran yg sama yaitu technical excellence, kekuatan teknik sebagai suatu cara untuk mencapai keindahan ideal. (Paul Rudolph)

• Formalisme vs Neo-Historisme; ditrapkan bentuk-bentuk masa lampau yg tujuannya untuk mencapai estetika, perletakan masa simetris, ada plaza di tengah dan penyusunan ruangnya sama dengan masa abad XIX

• Faham dan aliran yg berkembang pada arsitektur modern memang banyak, namun perbedaannya sangat tipis. Dan sering perbedaan ini lebih banyak disebabkan oleh penekanan permasalahan yg berbeda, sedangkan inti permasalahannya sama, yaitu ingin menciptakan arsitektur yang efisien.

Setelah berjalan beberapa lama, maka arsitektur modern dapat disimpulkan mempunyai ciri sebagai berikut:

• Terlihat mempunyai keseragaman dalam penggunaan skala manusia.

(52)

• Bangunan bersifat fungsional, artinya sebuah bangunan dapat mencapai tujuan semaksimal mungkin, bila sesuai dengan fungsinya.

• Bentuk bangunan sederhana dan bersih yg berasal dari seni kubisme dan abstrak yg terdiri dari bentuk-bentuk aneh, tetapi intinya adalah bentuk segi empat.

• Konstruksi diperlihatkan.

• Pemakaian bahan pabrik yg diperlihatkan secara jujur, tidak diberi ornamen atau ditempel- tempel.

• Interior dan eksterior bangunan terdiri dari garis-garis vertikal dan horisontal.

• Konsep open plan, yaitu membagi dalam elemen-elemen struktur primer dan sekunder, dg tujuan untuk mendapatkan fleksibelitas dan variasi di dalam bangunan.

Karakter arsitektur modern, menurut Bruno Taut:

• Bangunan mencapai kegunaan semaksimal mungkin, menjadi syarat utama dari bangunan.

• Material dan sistem bangunan yg digunakan ditempatkan sesudah syarat di atas.

• Keindahan tercapai dari hubungan langsung antara bangunan dan kegunaannya, ketepatan penggunaan material dan keindahan sistem konstruksi.

• Estetika dari arsitektur baru tidak mengenal perbedaan antara depan dg belakang, fasad dengan rencana lantai, jalan dg halaman dalam; tidak ada detail yg berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian yg diperlukan bagi keseluruhan.

(53)

• Pengulangan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindarkan, tetapi merupakan alat yg penting dalam ekspresi artistik.

Gambar 2.10 Contoh Arsitektur Modern Periode IV sampai sekarang

2.3.3 Bangunan Arsitektur Modern

Beberapa bangunan yang mengadopsi Arsitektur Modern adalah sebagai berikut :

1. The Fallingwater (Frank Lloyd Wright, Mill Run, Pennsylvania, AS, 1935)

Desain rumah ikonik The Fallingwater terinspirasi oleh arsitektur Jepang yang terkenal dengan menggunakan struktur kantilever. Rumah

(54)

itu, yang secara ideal dimasukkan ke dalam lanskap alami, diciptakan sebagai tempat liburan akhir pekan untuk keluarga Kaufmann.

Kondisi bangunan mulai memburuk dengan cepat setelah konstruksi yang disebut 'bangunan tujuh ember', ini mengalami atap bocor. Selain itu, teras kantilever mulai jatuh karena kurangnya penguatan yang tepat.

Bangunan itu mengalami perombakan beberapa kali dan diubah menjadi museum pada tahun 2002.

Gambar 2.11 The Fallingwater Sumber : Frank Lyoid Wright

2. Rumah Kaca (Philip Johnson, New Canaan, Connecticut, AS, 1949)

Philip Johnson membangun rumah itu menjadi miliknya sendiri.

Desainnya minimal dan menggunakan fitur refleksi / transparansi kaca. Dia juga bereksperimen dengan dimensi dan bentuk geometris yang menjadikan

(55)

rumah tersebut salah satu landmark daerah dan ikon dalam dunia arsitektur modern.

Rumah yang dibuat untuk tempat akhir pekan itu sebagian besar terbuat dari kaca dan baja. Namun, bangunan tersebut juga mengalami masalah 'atap bocor' seperti pada rumah The Fallingwater, yang membuat Johnson menggambarkannya dengan bercanda, sebagai 'rumah empat ember'.

Gambar 2.12 Rumah Kaca Sumber : diariodesign.com

3. Villa Savoye (Le Corbusier, Paris, Prancis, 1931)

Villa Savoye adalah villa yang dibangun sebagai tempat peristirahatan bagi keluarga Savoy, di Poissy, di pinggiran Paris. Desainnya yang berbeda menunjukkan 'lima poin' prinsip desain Le Corbusier

(56)

termasuk konsep open plan, grid kolom beton bertulang, jendela horizontal, taman di atap, dan fasad yang independen.

Banyak yang belum tahu bahwa keluarga Savoy ternyata pernah mengalami berbagai masalah yang muncul setelah mereka mulai menggunakan bangunan ini. Konstruksi yang salah dan kesalahan desain menyebabkan keluarga itu meninggalkan Villa Savoy beberapa tahun kemudian. Ajaibnya bangunan ini berhasil masuk ke daftar 'Public Building' dan telah diubah menjadi museum arsitektur modern.

Gambar 2.13 Villa Savoy Sumber : Flickr user August Fischer

4. Museum Guggenheim (Frank Lloyd Wright, New York, AS, 1959)

Arsitek hebat Frank Lloyd memasarkan konsep arsitektur organik yang membayangkan umat manusia dapat berinteraksi erat dengan lingkungan. Museum Guggenheim berbentuk kerucut ini terdiri dari banyak

(57)

galeri kunci dan koleksi seni. Interior yang dirancang secara spiritual membawa kita pada perjalanan tanpa akhir yang melarutkan semua penghalang antar ruang.

Bentuk-bentuk geometris yang kaku dan dominan dalam arsitektur modern dideskripsikan oleh Wright dengan mengatakan: “bentuk-bentuk geometris ini menunjukkan gagasan, suasana hati, sentimen manusia tertentu, misalnya: lingkaran, infinity; segitiga, kesatuan struktural; spiral, kemajuan organik; alun-alun, integritas." Wright melihat Museum Guggenheim sebagai 'spirit temple'.

Gambar 2.14 Museum Guggenheim Sumber : Club Innovation Culture.fr

(58)

5. Paviliun Barcelona (Ludwig Mies Van der Rohe, Barcelona, Spanyol, 1929) Paviliun ini awalnya diperkenalkan sebagai Paviliun Jerman untuk Pameran Internasional 1929 di Barcelona, yang menampung German wing of the exhibition. Desain, yang dipengaruhi oleh gerakan Bauhaus, menampilkan dinding transparan dan atap kantilever.

Meskipun paviliunnya sangat minim, arsitek melakukan yang terbaik dengan menggunakan bahan mewah seperti onyx merah, marmer, dan Travertine. Salah satu perabot mewah, yang khusus dibuat untuk bangunan ini adalah 'Kursi Barcelona' yang legendaris.

Gambar 2.15 Barcelona Pavillion Sumber : Flickr User: gondolas

(59)

6. Arena Seluncur Es David S. Ingalls di New Haven (Eero Saarinen, Connecticut, AS)

Bangunan ini juga dikenal sebagai 'Yale Whale’, merujuk pada Universitas Yale, tempat Eero Saarinen lulus. Desain kreatifnya memegang ciri khas arsitektur Saarinen yang berbeda, yang sering menggunakan lengkungan catenary. Arena hoki memiliki atap kantilever bergelombang yang didukung oleh lengkungan beton bertulang sepanjang 90 meter.

Gambar 2.16 Arena Seluncur

Sumber : Carol M. Highsmith via Wikimedia Commons

(60)

7. Villa Dirickz (Marcel Leborgne, Brussels, Belgia, 1933)

Bangunan terkenal lain dari arsitektur modern adalah Villa Dirickz.

Dengan warna kuning mencolok, lapisan kaca, dan beton putih dikelilingi oleh tanaman hijau. Vila, yang bernilai $ 10.000.000 ini ternyata juga memiliki interior mewah serta fasilitas seperti gudang anggur dan bioskop.

Marcel Leborgne adalah arsitek Belgia dan ia adalah bapak dari arsitektur modern di tanah kelahirannya. Rumah itu dirancang untuk Mr.Dirickz, seorang tokoh industri yang tertarik pada seni. Bertahun-tahun kemudian, vila itu mengalami masalah karena kelalaian perawatan, sampai pengembang Alexander Cambron membelinya pada tahun 2007. Cambron mendedikasikan semua sumber dayanya untuk merenovasi villa tersebut.

Gambar 2.17 Villa Diricks Sumber : Iiletter.com

(61)

8. Bangunan Isokon di London (Wells Coates, London, UK, 1934)

Bangunan Isokon di London adalah perumahan yang masih digunakan hingga hari ini, terdiri dari 32 apartemen. 24 apartemen diantaranya adalah apartemen studio dan 8 lainnya adalah apartemen satu kamar tidur. Bangunan ini juga memiliki ruang staf dan garasi yang luas.

Apartemen ini memiliki dapur kecil karena ada dapur umum yang dapat digunakan semua penghuni. Mereka bisa dengan bebas menggunakannya untuk menyiapkan makanan. Juga ada layanan lain seperti binatu dan sepatu.

Avanti Architects, yang berspesialisasi dalam pembenahan apartemen Arsitektur modern, merenovasi gedung ini pada tahun 2003. Renovasi ini menghasilkan pembangunan galeri komunal di garasi untuk memberi tahu orang-orang tentang sejarah bangunan tersebut. Blok perumahan beton ini terdaftar sebagai bangunan kelas I dan merupakan salah satu landmark arsitektur utama di ibukota Inggris.

(62)

Gambar 2.18 Isokon

Sumber : Wells Coates – Photography: Nick Weall

9. Galerie Nasional Neue (Ludwig Mies Van der Rohe, Berlin, Jerman, 1968) Didedikasikan untuk perkembangan seni modern, museum ini memiliki koleksi seni yang berasal dari tahun-tahun awal abad ke-20.

Desain modernisnya yang khas meliputi sejumlah besar kaca, atap kantilever dan eksterior yang datar.

Bangunan ini dikelilingi oleh lanskap buatan yang juga diciptakan oleh Mies Van der Rohe. Museum ini adalah bagian dari Galeri Nasional Museum Negara Berlin. Galeri ini mulai mengalami renovasi pada tahun 2015.

(63)

Gambar 2.19 Neue National Sumber : Greatbuildings.com

10. Cité Radieuse (Le Corbusier, Marseille, Prancis, 1952)

Proyek perumahan ini adalah salah satu karya paling penting dari Le Corbusier yang menginspirasi banyak proyek arsitektur modern lainnya.

Proyek minimalis yang dipengaruhi oleh pilihan warna Bauhaus seperti kuning, merah, dan biru. Cité Radieuse terdiri dari 337 flat dari 27 jenis, taman bermain dan kolam renang.

Bangunan ini terbuat dari beton tuang yang kasar dan sang arsitek berencana untuk memasukkan kerangka baja, tetapi karena ketidakberuntungannya, Perang Dunia II membuat bahan semacam itu sulit didapat. Gedung tersebut kemudian menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2016.

(64)

Gambar 2.20 Cite Radiuse Sumber : Photography: Catrina Beevor

2.3.4 Pengertian Green Arsitektur

Green architecture yaitu pendekatan perencanaan arsitektur yang

berusahameminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Konsep green architecture ini memiliki beberapa manfaat diantaranyabangunan lebih tahan lama, hemat energi, perawatan bangunan lebih minimal, lebihnyaman ditinggali, serta lebih sehat bagi penghuni. Konsep green architecture memberi kontribusi pada masalah lingkungan khususnya pemanasan global. Apalagi bangunan adalah penghasil terbesar lebih dari 30% emisi global karbon dioksida

(65)

sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Selain karna adanya pemanasan global, penciptaan atau inovasi energi yang terbarukan juga menjadi latar belakang timbulnya konsep green architecture. Sampai pada akhirnya timbul konsep Green Building. Gedung Hemat Energi atau dikenal dengan sebutan green building terus digalakkan pembangunannya sebagai salah satu langkah antisipasi terhadap perubahan iklim global.

Dengan konsep hemat energi yang tepat, konsumsi energi suatu gedung dapat diturunkan hingga 50%, dengan hanya menambah investasi sebesar 5% saat pembangunannya. ”Dengan hanya menambah 5% dari biaya pembangunan gedung biasa, konsumsi energi gedung dapat diturunkan hingga 50%.” Green Building dibangun dengan perencanaan energi modern. Selain dari sisi desain yang dipertimbangkan untuk meminimalkan masuknya sinar matahari sehingga mengurangi penggunaan beban Air Conditioner (AC), pada atap gedung bisa dipasang panel surya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam gedung. Beberapa sudut pandang dapat dipertimbangkan dalam perencanaan tersebut diantaranya adalah aspek Passive Design, Active Design,

Kondisi Udara Ruangan, Management, serta Service & Maintenance.

Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), Teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah

(66)

hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.

Gambar 2.21 Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green Architecture Projects Of 2008

Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

(67)

Arsitektur berkelanjutan, adalah sebuah topik yang menarik. Akhir-akhir ini semakin banyak diberitakan dan dipromosikan dalam kalangan arsitek, karena arsitek memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dalam desain-desain bangunannya. Apresiasi yang besar bagi mereka yang turut mempromosikan arsitektur berkelanjutan agar kita lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam yang makin menipis.

Sustainable architecture atau dalam bahasa Indonesianya adalah arsitektur berkelanjutan, adalah sebuah konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai macam eksploitasi sumber daya alam tersebut.

2.3.5 Sejarah Green Arsitektur

Istilah Arsitektur Hijau mulai dikenal dalam dunia arsitektur sejak tahun 1980-an. Pada masa itu, banyak sekali bencana yang berhubungan dengan dunia industri. Hal ini menandakan kemajuan peradaban manusia dan menunjukkan besarnya dampak kemajuan peradaban tersebut terhadap lingkungan (Baweja, 2008). Menanggapi hal tersebut, pada tahun 1987 PBB mendirikan World Commission on Environment and Development (WCED) yang kemudian mengenalkan istilah “sustainability” yang

(68)

kemudian dalam perkembangannya di bidang arsitektur dikenal dengan istilah “Green Architecture”.

Di sisi lain, Wines (2008) menyatakan bahwa bangunan-bangunan telah mengkonsumsi seperenam sumber air bersih dunia, seperempat produksi kayu dunia, dan duaperlima bahan bakar dari fosil. Sehingga sudah sewajarnya Arsitektur turut ambil peran dalam upaya memperbaiki lingkungan.

“Green Buildings are buildings of any usage category that subscribe to the principle of a conscientious handling of natural resources.” (Michael Bauer, dalam “Green Building: Guidebook for Sustainable Architecture.”)

Berdasarkan ungkapan Bauer diatas, maka yang dimaksud dengan Green Building adalah bangunan yang memberikan sesedikit mungkin dampak terhadap lingkungan, bangunan yang menggunakan material yang bersahabat dengan lingkungan, low cost energy, menggunakan energi terbaharukan, dan juga murah dalam operasional dan pembangunannya.

Arsitektur Hijau, Sustainable Architecture, dan Zero Energy Building Istilah Arsitektur Hijau tidak bisa lepas dari istilah Sustainable Building, atau Bangunan Berkelanjutan. Dimana istilah Sustainable juga sering digunakan dalam bidang pengembangan. Secara bahasa, sustain bisa diartikan sebagai bertahan atau mempertahankan. Sebagaimana mempertahankan lingkungan agar dapat dirasakan juga manfaatnya oleh anak cucu kita yang akan hidup dimasa yang akan datang.

(69)

Lantas bagaimana hal ini menghubungan Arsitektur Hijau dan Sustainable Architecture? Keduanya sama-sama memiliki kepentingan dalam menjaga alam agar tidak berubah ke arah yang lebih buruk dan kalau bisa justru mengarahkan perkembangan alam ke arah yang lebih baik.

“Hijau merupakan istilah yang menjadi konsep Sustainable Development atau Pembangunan Berkelanjutan sebagaimana yang diterapkan pada bangunan industri. Arsitektur ‘Hijau’ ialah arsitektur yang mempertimbangkan konsep pembangunan berkelanjutan.” (Saraswati 2011:4)

Dalam Deklarasi Copenhagen (7 Desember 2009), dirumuskan Konsep Strategi Desain Berkelanjutan yang kurang lebih dapat diartikan sebagai berikut:

1. Dimulai dari tahapan awal proyek dan melibatkan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam proyek tersebut.

2. Mengintegrasikan semua aspek dalam konstruksinya dan penggunaannya di masa depan berdasarkan “Full Life Cycle Analysis and Management”

3. Mengoptimalkan nilai efisiensi dengan pertimbangan menggunakan energi terbarukan dan teknologi modern yang ramah lingkungan sejak tahap konsep.

4. Menyadari bahwa proyek-proyek arsitektur dan perencanaan merupakan sistem interaktif yang kompleks dan terkikat dengan

(70)

lingkungan sekitarnya yang lebih luas. Termasuk sejarah,, budaya, dan nilai sosial masyarakatnya.

5. Mencari dan menggunakan material yang baik bagi lingkungan dan penggunanya.

6. Bertujuan untuk mengurangi produksi karbon yang dapat berdampak buruk pada manusia dan lingkungan.

7. Berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup, mempromosikan nilai-nilai kesetaraan, memajukan ekonomi, serta memberi kesempatan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat.

8. Memahami adanya ikatan lokal dan integrasi antara desa dan kota dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhanya baik yang bersifat fisik maupun psikis.

9. Mendukung pernyataan UNESCO mengenai keberagaman budaya sebagai hasil peradaban manusia.

Menurut Kelly Hart, Prinsip dari Arsitektur Berkelanjutan adalah: small is beautiful, heat with the sun, keep your cool, let nature cool your food, be energy efficient, conserve water, use local material, use natural material, save the forests, recycle material, build to cast, grow your food, dan share facilities. Pernyataan Hart tentang prinsip Arsitektur Berkelanjutan ini sesungguhnya tidak bertentangan dengan rumusan Konsep Strategi Desain Berkelanjutan.

(71)

Namun konsep dan prinsip tersebut bertentangan dengan pendapat Mathias Fuchs, dalam bukunya yang berjudul: “Energy Manual: Sustainable Architecture”, yang menyatakan bahwa bangunan berkelanjutan sering kali bersifat self-sufficient, sehingga bersifat terlepas dari bangunan yang ada disekitarnya atau masyarakat yang ada disekitarnya. Dalam buku yang sama, Fuchs juga mengatakan bahwa bangunan berkelanjutan sering kali mengabaikan konteks kelokalan yang seharusnya menjadi identitas. Oleh karena itu, diharapkan para praktisi Arsitektur Hijau atau Sustainable Buildings dapat kembali kepada Konsep Strategi Desain Berkelanjutan.

Zero Energy Building/ZEB secara konseptual adalah suatu bangunan yang mengurangi konsumsi energinya sedemikian rupa sehingga kebutuhan energinya dapat dipenuhi dengan energi yang terbaharukan. ZEB dapat dibagi menjadi sejumlah kategori (P. Torcellini, 2006):

• Zero Site Energy, yaitu bangunan di suatu tapak mampu menghasilkan energi sebanyak energi yang dibutuhkannya di tapak tersebut.

• Zero Source Energy, yaitu bangunan mampu menghasilkan energi sebanyak energi yang dibutuhkannya dari suatu sumber dengan jarak tertentu dari tempat bangunan tersebut berada.

• Zero Energy Cost, yaitu bangunan mampu menghasilkan energi dengan nilai sama dengan energi yang dibutuhkan oleh bangunan tersebut.

Figur

Gambar 2.4 Lokasi Perancangan

Gambar 2.4

Lokasi Perancangan p.32
Gambar 2.5 Site lahan Kampus

Gambar 2.5

Site lahan Kampus p.33
Gambar 2.7 Contoh Arsitektur Modern Periode I

Gambar 2.7

Contoh Arsitektur Modern Periode I p.45
Gambar 2.8 Contoh Arsitektur Modern Periode II

Gambar 2.8

Contoh Arsitektur Modern Periode II p.47
Gambar 2.10 Contoh Arsitektur Modern Periode IV sampai sekarang

Gambar 2.10

Contoh Arsitektur Modern Periode IV sampai sekarang p.53
Gambar 2.12 Rumah Kaca  Sumber : diariodesign.com

Gambar 2.12

Rumah Kaca Sumber : diariodesign.com p.55
Gambar 2.15 Barcelona Pavillion   Sumber : Flickr User: gondolas

Gambar 2.15

Barcelona Pavillion Sumber : Flickr User: gondolas p.58
Gambar 2.17 Villa Diricks  Sumber : Iiletter.com

Gambar 2.17

Villa Diricks Sumber : Iiletter.com p.60
Gambar 2.18 Isokon

Gambar 2.18

Isokon p.62
Gambar 2.19 Neue National  Sumber : Greatbuildings.com

Gambar 2.19

Neue National Sumber : Greatbuildings.com p.63
Gambar 2.21 Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green Architecture Projects Of   2008

Gambar 2.21

Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green Architecture Projects Of 2008 p.66
Gambar 2.23 NUS School of Design & Environment 4  Sumber : rori gandiner photography

Gambar 2.23

NUS School of Design & Environment 4 Sumber : rori gandiner photography p.86
Gambar 2.24 NUS School of Design & Environment 4  Sumber : rori gandiner photography

Gambar 2.24

NUS School of Design & Environment 4 Sumber : rori gandiner photography p.87
Gambar 2.25 NUS School of Design & Environment 4  Sumber : rori gandiner photography

Gambar 2.25

NUS School of Design & Environment 4 Sumber : rori gandiner photography p.88
Gambar 2.26 NUS School of Design & Environment 4  Sumber : rori gandiner photography

Gambar 2.26

NUS School of Design & Environment 4 Sumber : rori gandiner photography p.89
Gambar 2.27 NUS School of Design & Environment 4  Sumber : rori gandiner photography

Gambar 2.27

NUS School of Design & Environment 4 Sumber : rori gandiner photography p.90
Gambar 2.28 NUS School of Design & Environment 4  Sumber : rori gandiner photography

Gambar 2.28

NUS School of Design & Environment 4 Sumber : rori gandiner photography p.91
Gambar 4.1 Skema Kegiatan Mahasiswa di kampus Pelita Bangsa Datang Beribadah Belajar Buang Air Parkir  Interaksi Sosial Makan Pulang

Gambar 4.1

Skema Kegiatan Mahasiswa di kampus Pelita Bangsa Datang Beribadah Belajar Buang Air Parkir Interaksi Sosial Makan Pulang p.102
Gambar 4.2 Skema Kegiatan Dosen dan Pengelola di kampus Pelita Bangsa

Gambar 4.2

Skema Kegiatan Dosen dan Pengelola di kampus Pelita Bangsa p.103
Gambar 4.4 Area Pejalan kaki dan kendaraan

Gambar 4.4

Area Pejalan kaki dan kendaraan p.108
Gambar 4.10 Solar Panel

Gambar 4.10

Solar Panel p.118
Gambar 4.17 Analisa Sekitar Lingkungan

Gambar 4.17

Analisa Sekitar Lingkungan p.126
Gambar 4.20 Analisa Entrance

Gambar 4.20

Analisa Entrance p.133
Gambar 4.21 Analisa Orientasi Matahari

Gambar 4.21

Analisa Orientasi Matahari p.134
Gambar 4.22 Analisa Tingkat Kebisingan Lingkungan Tapak

Gambar 4.22

Analisa Tingkat Kebisingan Lingkungan Tapak p.135
Gambar 5.2 Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green Architecture Projects Of  2008

Gambar 5.2

Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green Architecture Projects Of 2008 p.138
Gambar 5.5 Sirkulasi Bangunan  Sumber : Analisa 2019

Gambar 5.5

Sirkulasi Bangunan Sumber : Analisa 2019 p.145
Gambar 5.7 Massa Bangunan  Sumber : Analisa 2019

Gambar 5.7

Massa Bangunan Sumber : Analisa 2019 p.148
Gambar 5.9 Sistem Utlitas Pembuangan dan Pengelolahan Limbah Cair dan Limbah Padat  Sumber : Analisa 2019

Gambar 5.9

Sistem Utlitas Pembuangan dan Pengelolahan Limbah Cair dan Limbah Padat Sumber : Analisa 2019 p.152
Gambar 5.13 Solar Panel

Gambar 5.13

Solar Panel p.156
Related subjects :