• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS II.1 Definisi Pajak

Pajak adalah iuran kepada negara ( yang dapat di paksakan ) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapatkan prestasi kembali, yang langsung dapat di tunjuk dan yang gunanya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan. Definisi ini di kemukakan oleh Prof. Dr. PJA Adriani dari Universitas Amsterdam.

Sedangkan definisi pajak menurut Prof. Dr MJH Smeeth dalam bukunya yangn berjudul ”De Economische betekenis der Belastingen” prestasi kepada Pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dan yang dapat di paksakan dan tanpa adanya kontra prestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual, yang di maksudkan untuk membiayai pengeluaran pemerintah ”.

II.2 Ciri-ciri pajak

Menurut Prof. Dr MJH Smeeth, pajak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

ƒ Pengalihan kekayaan dari masyarakat kepada Negara.

ƒ Dapat di paksakan ( berdasarkan UU dan aturan pelaksanaannya ).

ƒ Di pungut berulang-ulang atau sekaligus.

ƒ Tidak ada kontraprestasi secara langsung.

ƒ Di pungut oleh Negara.

ƒ Di peruntukkan untuk pengeluaran Pemerintahan dan tujuan lain.

ƒ Di kenakan berdasarkan peraturan per Undang-Undangan.

ƒ Pajak di kelola oleh pemerintah bukan di kelola oleh pihak swasta dan tidak di perbolehkan untuk mencari keuntungan.

(2)

9 II.3 Fungsi Pajak

Menurut Prof. Dr MJH Smeeth, pajak mempunyai 4 (empat) fungsi, yaitu :

ƒ Fungsi budgeter, yaitu fungsi uang untuk memasukkan sebanyak- banyaknya ke dalam kas Negara, yang di maksudkan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara.

ƒ Fungsi regulerend, yaitu fungsi pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah di bidang ekonomi, sosial dan budaya, dan sebagainya sebagai fungsi tambahan karena fungsi ini hanya sebagai pelengkap dari fungsi utama pajak, dan dalam pencapaian tujuan tersebut maka pajak di pakai sebagai alat kebijakan.

ƒ Fungsi demokrasi, yaitu fungsi pajak ini mengatur Pajak agar di berlakukan secara adil dalam hal pelayanan secara merata ( mendapatkan pelayanan jasa ).

ƒ Fungsi distribusi, yaitu fungsi pajak untuk menanggulangi bencana alam dan sosial yang terjadi di wilayah Indonesia.

II.4 Pendekatan pajak

Ada 4 (empat) segi pendekatan dalam mempelajari pajak, yaitu :

• Segi ekonomi, berhubungan dengan penghasilan, pola konsumsi, harga pokok, permintaan, penawaran, dan lain-lain.

• Segi pembangunan, berhubungan dengan adanya tabungan pemerintah untuk pembangunan dari pembayaran pajak, fiskal policy.

• Segi penerapan praktis, berhubungan dengan siapa yang di kenakan pajak, apa yang di kenakan pajak, berapa besarnya, bagaimana mengenakan,dan lain-lain.

(3)

10

• Segi hukum, berhubungan dengan perikatan, hak dan kewajiban, subjek pajak dalam hubungannya dengan subjek hukum, utang pajak, pengenaan sanksi perpajakan, penagihan perpajakan,dan sebagainya.

II.5 Perbedaan pajak dengan pungutan lain

Macam-macam pungutan lain :

• Restribusi, yaitu pungutan yang di lakukan oleh negara sehubungan dengan penggunaan jasa-jasa yang di sediakan oleh negara.

• Iuran, yaitu pungutan yang di lakukan oleh negara sehubungan dengan penggunaan jasa atau fasilitas yang di sediakan oleh negara untuk sekelompok orang.

Sumbangan, yaitu biaya yang di keluarkan untuk prestasi pemerintah tertentu, tidak boleh di keluarkan dari kas umum karena tidak di tujukan kepada penduduk seluruhnya, melainkan hanya sebagian tertentu saja.

Tabel II.1 Perbedaan Pajak dengan pungutan lain

pajak Pungutan lain

Iuran rakyat Pembayaran oleh individu Dapat di paksakan (UU) Tida dapat di paksakan Tidak ada kontraprestasi

langsung

Ada kontraprestasi langsung

(4)

11 II.6 Macam-macam pajak

Pembedaan pajak berdasarkan golongan:

• Pajak langsung

Pajak yang beban pajaknya harus di tanggung langsung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan dan tidak dapat di alihkan kepada pihak lain.

• Pajak tidak langsung

Pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain.

Pembedaan pajak berdasarkan wewenang pemungut:

1. Pajak Pusat

o Pajak yang wewenang pemungutannya dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan dilakukan oleh Departemen Keuangan melalui Dirjen pajak.

o Diatur oleh UU.

o Hasilnya akan masuk APBN.

2. Pajak Daerah

o Pajak yang wewenang pemungutannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan dilakukan oleh BPKD melalui Dispenda.

o Diatur oleh PERDA.

o Hasilnya akan masuk APBD.

(5)

12 Pembedaan pajak berdasarkan sifat:

a. Pajak Subjektif, merupakan:

o Pajak yang memperhatikan kondisi/keadaan WP.

o Dalam menentukan pajak harus ada alasan-alasan objektif yang berhubungan erat dengan keadaaan materialnya yaitu gaya pikul.

b. Pajak obyektif, merupakan:

o Pengenaan pajak yang hanya memperhatikan kondisi obyeknya.

II.7 Hukum Pajak

Hukum pajak adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang atau masyarakat dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat melalui Kas Negara.

Yang di atur dalam Hukum Pajak di antaranya adalah:

• Subjek pajak

• Objek pajak

• Tarif pajak

• Kewajiban masyarakat

• Cara pengenaan pajak

• Cara penagihan pajak

• Dan lainnya

Pembagian hukum pajak:

1. Hukum pajak formal, yaitu norma-norma yang menerangkan keadaan, perbuatan dan peristiwa yang harus di kenakan pajak.

Memuat cara-cara penyelenggaraan mengenai penetapan suatu hutang pajak.

(6)

13 2. Hukum pajak material, yaitu hukum pajak yang memuat subjek

pajak, objek pajak, tarif pajak (mendukung pelaksanaan hukum pajak materiil) atau dengan kata lain, segala sesuatu tentang timbulnya, besarnya, dan hapusnya utang pajak dan pula hubungan hukum antara pemerintah dengan wajib pajak, termasuk di dalamnya peraturan-peraturan yang memuat kenaikan-kenaikan, denda-denda dan hukuman serta cara-cara tentang pembebasan dan pengembalian pajak.

Gambar II.1 Penggolongan Pajak

Untuk memahami maksud dan arti dari suatu peraturan perpajakan, terdapat 7 (tujuh) penafsiran, yaitu:

1. Penafsiran histories, dengan melihat sejarah pembuatan Undang-Undang nya.

2. Penafsiran sosiologis, disesuaikan dengan perkembangan hidup masyarakat.

3. Penafsiran sistematik, dengan mengkaitkan antara Pasal-pasal dalam Undang- Undang atau dengan Undang-Undang lainnya.

4. Penafsiran otentik, dengan melihat apa yang di jelaskan dalam Undang-Undang tersebut.

(7)

14 5. Penafsiran tata bahasa, berdasarkan bunyi kata-kata secara keseluruhan dalam

kalimat suatu Pasal.

6. Penafsiran analogis, dengan cara memberi kiasan atau arti lain pada kata-kata yang tercantum dalam Undang-Undang.

7. Penafsiran a contrario, di dasarkan pada perlawanan pengertian antara yang dihadapi dengan yang diatur dalam Undang-Undang.

Perlawanan terhadap pajak:

1. Perlawanan pasif yaitu perlawanan yang dilakkukan oleh wajib pajak yang berhubungan dengan kondisi ekonomi masyarakat atau negara.

2. Perlawanan aktif yaitu serangkaian usaha yang dilakukan oleh masyarakat atau wajib pajak untuk tidak membayar pajak. Dilakukan dengan:

ƒ Penghindaran pajak

ƒ Penggelapan pajak

ƒ Melalaikan pajak II.8 Asas dan teori pajak

Asas pajak merupakan suatu hal yang hakiki dalam pengenaan atau pemungutan pajak disuatu negara, sehingga terhindar dari hal-hak yang dapat merugikan masyarakat dan negara (misalnya: pengenaan pajak sewenang-wenang, menimbulkan perlawanan atau bahkan tindakan anarkis seperti Revolusi Perancis).

Setiap pengenaan atau pemungutan pajak harus memperhatikan 2 (dua) aspek:

1. keadilan

2. kepastian hukum

(8)

15 Terdapat 4 (empat) asas dalam pengenaan dan pemungutan pajak, menurut Adam Smith dalam bukunya yang berjudul The Four Cannons atau The Four Maxims, yaitu:

1. Equality, yaitu tidak boleh ada diskriminasi pengenaan pajak terhadap wajib pajak yang memiliki keadaan yang sama.

2. Certainly, yaitu harus jelas dasar hukum pengenaan pajak, juga penentuan subjek pajak, objek pajak, tarif, dan lainnya.

3. Convenience of payment, yaitu pajak yang hendaknya di pungut pada waktu atau saat yang paling baik bagi wajib pajak.

4. Economic of collection, yaitu pemungutan pajak di lakukan sehemat mungkin.

Teori pajak merupakan dasar yang menyangkut apa, bagaimana dan mengapa di kenakan atau dipungut pajak atas sesuatu objek pajak atau subjek pajak.Tujuan adanya teori pajak yaitu agar pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang sudah ada dan berjalan dengan baik.

Terdapat 5 (lima) teori pemungutan pajak:

1. Teori asuransi, sehubungan dengan perlindungan yang diberikan oleh Pemerintah, pembayaran pajak dipersamakan dengan premi dalam asuransi.

2. Teori kepentingan, yaitu bahwa pemerintahan berkepentingan harta benda masyarakatnya, sehingga biaya yang dikeluarkan pemerintah dibebankan kepada masyarakat.

3. Teori daya pikul, yaitu bahwa pembayaran pajak di dasarkan atas daya pikul yang dimiliki masyarakat (adanya PTKP).

4. Teori daya beli, yaitu berhubungan dengan kemampuan masyarakat dalam bertransaksi.

(9)

16 5. Teori bakti, yaitu dengan adanya kesepakatan masyarakat membentuk

negara, maka masyarakat memberikan baktinya kepada negara agar negara dapat berjalan dengan baik.

II.9 Yuridiksi dan sistem pemungutan pajak

Yuridiksi pemungutan pajak adalah kewenangan yang dimiliki oleh suatu negara dalam memungut pajak terhadap masyarakat atau objek pajak.

Terdapat 3 (tiga) dasar yuridiksi pemungutan pajak, yaitu:

1. asas domisili, yaitu suatu asas pemungutan pajak berdasarkan domisili atau tempat tinggal seseorang atau perusahaan.

2. asas kebangsaan, yaitu suatu asas pemungutan pajak berdasarkan kebangsaan atau kewarganegaraan seseorang atau perusahaan.

3. asas sumber, yaitu suatu asas pemungutan pajak berdasarkan pada sumber atau tempat penghasilan diperoleh.

Sistem pemungutan pajak adalah sistem yang digunakan dalam mengenakan, menghitung, memungut dan membayar pajak. Terdapat 3 (tiga) sistem pemungutan pajak:

1. Official Assessment System, yaitu pengenaan, penghitungan, penetapan dan pemungutan pajak yang dilakukan oleh pemerintah atau fiskus.

2. Self Assessment System, yaitu pengenaan, penghitungan, penetapan dan pemungutan pajak yang dilakukan oleh masyarakat atau wajib pajak.

3. Withholding System, yaitu pengenaan, penghitungan, penetapan dan pemungutan pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga, biasanya perusahaan.

Terdapat juga 3 (tiga) cara dalam pemungutan pajak:

1. Stelsel nyata (riel stelsel), yaitu penghitungan, penetapan dan pemungutan pajak yang dilakukan berdasarkan keadaan nyata (riel) yang dialami masyarakat atau wajib pajak.

(10)

17 2. Stelsel fiktif (fictive stelsel), yaitu penghitungan, penetapan dan

pemungutan pajak yang dilakukan dengan menganggap sama besarnya dengan tahun pajak atau masa pajak sebelumnya.

3. Stelsel campuran (mix stelsel), yaitu penghitungan, penetapan dan pemungutan pajak yang dilakukan dengan menggabungkan cara stelsel riel dengan stelsel fiktif.

II.10 Subjek dan objek pajak

Subjek pajak diartikan sebagai orang yang dituju oleh Undang- Undang untuk dikenakan pajak. Pengertian subjek pajak meliputi:

1. Orang pribadi

Orang pribadi sebagai subjek pajak yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia.

2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

Warisan yang belum terbagi dimaksud merupakan subjek pajak pengganti menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris. Masalah penunjukkan warisan yang belum terbagi sebagai subjek pajak pengganti dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tetap dilaksanakan.

3. Badan, terdiri dari Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, dan Perseroan lainnya.

Khusus masalah perkumpulan sebagai subjek pajak adalah perkumpulan yang menjalankan usaha atau kegiatan untuk memperoleh penghasilan dan atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan dan atau memberikan jasa kepada anggota.

(11)

18 4. Bentuk Usaha Tetap.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau badan yang tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

Sanksi pidana “Sesuai dengan pasal 39 Undang-Undang KUP menyatakan bahwa barang siapa dengan sengaja tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau di pungut, sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, akan diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 6 (enam) tahun dan denda setinggi-tingginya 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar “.

Yang tidak termasuk Subjek pajak:

1. badan perwakilan negara asing.

2. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak mendapatkan dan memperoleh penghasilan serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.

3. organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan di Indonesia.

4. pejabat perwakilan organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan di Indonesia.

(12)

19 Subjek pajak terdiri dari:

a. subjek pajak pasif, secara Undang-Undang ditetapkan sebagai subjek pajak namun tidak atau belum dalam kategori Wajib Pajak dan belum membayar pajak.

b. Subjek pajak aktif, secara Undang-Undang ditetapkan sebagai subjek pajak dan telah terdaftar sebagai Wajib Pajak.

Objek pajak dapat diartikan sebagai sasaran pengenaan pajak dan dasar untuk menghitung pajak terutang. Fungsi Objek pajak yaitu agar dapat diketahui atau ditetapkan berapa jumlah pajak yang terutang atau akan di bayar.

II.11 Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

Hak-hak yang dimiliki oleh Wajib Pajak:

1. mendapatkan pelayanan, pembinaan, dan penyuluhan pajak, diberikan agar dapat lebih mengefektifkan self assessment system.

2. memperpanjang penyampaian SPT.

3. membetulkan SPT.

4. memperoleh kelebihan pembayaran pajak.

5. mengajukan keberatan dan banding.

6. mengajukan permohonan angsuran pembayaran pajak dan penundaan pembayaran pajak.

7. mengurangi penghasilan bruto dengan biaya fiskal, sesuai dengan Pasal 6.

8. menggunakan norma penghitungan.

9. memperoleh fasilitas perpajakan.

10. mengkreditkan pajak masukan.

11. menunjuk kuasa.

(13)

20 Kewajiban Wajib Pajak:

1. mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak.

2. mengisi dan menyampaikan SPT.

3. membayar atau menyetor pajak yang terutang.

4. menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan.

5. membantu pelaksanaan pemeriksaan pajak.

6. melakukan pemotongan atau pemungutan pajak.

7. membuat faktur pajak.

8. melunasi bea materai.

II.12 Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak.

Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan per Undang-Undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu.

Pengusaha kena pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.

II.13 Nomor Pokok Wajib Pajak

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah suatu sarana untuk administrasi perpajakan yang digunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. NPWP memiliki fungsi sebagai berikut :

a. Identitas Wajib Pajak.

b. Dicantumkan dalam setiap dokumen perpajakan.

c. Sarana dalam administrasi perpajakan.

d. Menjaga ketertiban pembayaran pajak.

(14)

21 II.14 Cara memperoleh NPWP

Setiap wajib pajak wajib mendaftarkan diri pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus diberikan NPWP. Kewajiban mendaftarkan diri ini juga berlaku terhadap wanita yang telah menikah yang dikenakan pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dikenakan sanksi perpajakan.

II.15 Sunset Policy dan kaitannya dengan penerimaan negara

Sunset Policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan, yang berlaku hanya di tahun 2008, dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2007).

Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mendaftarkan diri disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat akan pengetahuan perpajakan, seperti: tata cara pendaftaran dan perolehan NPWP untuk membayar pajak dan lainnya. Selain itu disebabkan pula adanya ketakutan masyarakat akan diadakannya pemeriksaan terhadap pelaporan pajaknya serta denda atau sanksi administrasi sebesar 2% per bulan dari jumlah pajak yang terutang.

Karena ketidaktahuan serta ketakutan akan hal-hal seperti itulah maka banyak Wajib Pajak yang tidak membayar pajak dan walaupun membayar pajak, Wajib Pajak akan melaporkan dan membayar pajak tidak menggunakan keadaan dan kondisi yang sebenarnya (seperti: rekayasa pajak dan juga penggelapan pajak).

(15)

22 Keadaan yang membelakangi di laksanakannya Sunset Policy yaitu: diterbitkannya Undang-Undang KUP tahun 2008 yang memberikan kewenangan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun data perpajakan dan mewajibkan instansi pemerintah, lembaga, asosiasi dan pihak lainnya untuk memberikan data kepada Direktorat Jenderal Pajak.

Ketentuan ini memungkinkan Direktorat Jenderal Pajak mengetahui ketidakbenaran pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat.

Untuk menghindarkan masyarakat dari pengenaan sanksi perpajakan yang timbul apabila masyarakat tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan benar, Direktorat Jenderal Pajak di tahun 2008 ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mulai memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela dan melaksanakannya dengan benar. Pada saat ini, Direktorat Jenderal Pajak telah memiliki dan mengembangkan Sistem Informasi yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Geografis (via satelit) sehingga dapat mengetahui dengan cepat dan tepat kondisi properti yang dimiliki oleh Wajib Pajak.

Oleh karena itu, pemerintah melaksanakan program Sunset Policy dengan harapan agar masyarakat atau Wajib Pajak tidak perlu takut lagi terhadap sanksi perpajakan atas penyampaian SPT tidak benar maupun Wajib Pajak yang belum memiliki NPWP. Pemerintah mengharapkan dengan adanya program ini, dapat menimbulkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membayar pajak. Hal ini terbukti berhasil dengan adanya peningkatan warga yang mengurus pajak, yang tadinya hanya 7000-8000 orang per hari meningkat menjadi 50.000-100.000 orang per harinya dan juga tumbuhnya kesadaran untuk menjadi Wajib Pajak di semua kalangan masyarakat, serta adanya permintaan dari masyarakat untuk memperpanjang masa pelaksanaan Sunset Policy, dikarenakan banyaknya masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari program ini yang

(16)

23 disebabkan banyaknya permintaan baik itu NPWP baru maupun pembetulan SPT yang membuat Direktorat Jenderal Pajak mengalami kesulitan dalam memenuhi semua permintaan tersebut, yang biasanya dalam standar operasional bisa diselesaikan dalam sejam, maka dibutuhkan waktu lebih lama dalam memenuhi permintaannya yang dikarenakan kondisi tersebut.

Yang dapat memanfaatkan Sunset Policy adalah:

• Orang Pribadi yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang dalam tahun 2008 secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak 2007 dan tahun-tahun pajak sebelumnya paling lambat 31 Maret 2009.

• Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang telah memiliki NPWP sebelum tahun 2008, yang menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2006 dan tahun-tahun pajak sebelumnya untuk melaporkan penghasilan yang belum diperhitungkan dalam pelaporan SPT Tahunan PPh yang telah disampaikan.

Orang pribadi yang belum memiliki NPWP dapat memanfaatkan Sunset Policy, dengan cara:

ƒ Mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP secara langsung ke Kantor Paleyanan Pajak (KPP) tempat orang pribadi tersebut bertempat tinggal (KPP Domisili) atau melalui e-registration.

ƒ Mengisi SPT Tahunan PPh tahun pajak 2007 dan tahun-tahun pajak sebelumnya (sejak memperoleh penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak).

(17)

24

ƒ Melunasi pajak yang harus dibayar berdasarkan SPT Tahunan PPh ke Bank Persepsi atau Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).

ƒ Menyampaikan SPT Tahunan PPh yang dilampiri dengan SSP, paling lambat tanggal 31 Maret 2009, ke KPP Domisili (KPP tempat Wajib Pajak mendaftar).

Wajib Pajak orang pribadi atau Badan yang telah memiliki NPWP dapat memanfaatkan Sunset Policy, dengan cara:

ƒ Membetulkan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2006 dan atau tahun-tahun pajak sebelumnya yang telah disampaikan dengan cara mengisi kembali formulir SPT Tahunan tersebut, apabila menurut Wajib Pajak terdapat kekurangan pajak yang harus dibayar.

ƒ Melunasi kekurangan pajak yang harus dibayar berdasarkan pembetulan SPT Tahunan PPh ke Bank Persepsi atau Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).

ƒ Menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh yang dilampiri dengan SSP, paling lambat tanggal 31 Desember 2008 ke Kantor Pajak tempat Wajib Pajak mendaftar.

Keuntungan Wajib Pajak yang memanfaatkan Sunset Policy:

o tidak dikenai sanksi administrasi berupa bunga.

o tidak dilakukan pemeriksaan, kecuali SPT yang disampaikan menjadi Lebih Bayar atau dikemudian hari ditemukan data atau keterangan lain yang ternyata belum dilaporkan di SPT tersebut.

o apabila Wajib Pajak sedang diperiksa dan belum disampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP), maka pemeriksaan akan dihentikan.

(18)

25 o data dan atau informasi yang tercantum dalam SPT

Tahunan PPh terkait dengan pemanfaatan Sunset Policy tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak atas jenis pajak lainnya.

Program Sunset Policy diperpanjang, dengan alasan : a. Perpanjangan itu tidak akan merugikan keuangan Negara.

b. Pengunduran itu juga dimaksudkan sebagai salah satu

kebijkasanan dari pemerintah untuk memberi waktu kepada wajib pajak atau pengusaha dalam menghadapi krisis global yang melanda Indonesia saat ini;

c. Pengunduran itu akan menimbulkan multiplier effects yang positif, karena akan menyebabkan penurunan PHK;

d. Pengunduran itu diyakini akan mendorong lebih banyak masyarakat yang memiliki NPWP;

e. Masyarakat akan membayar pajak dengan benar sehingga pemasukan negara akan semakin bertambah.

Tata Cara Pelaporan Pelaksanaan Sunset Policy

A. Pengadministrasian Pelaporan Pelaksanaan Sunset Policy

Kepala Kantor Pelayanan Pajak melakukan monitoring atas pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebelum Tahun Pajak 2007 dari Wajib Pajak yang telah terdaftar sebelum tahun 2008 dan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya dari Wajib Pajak yang mendaftar secara sukarela pada tahun 2008, dengan menggunakan formulir sebagaimana dalam lampiran III-1, lampiran III- 1.1, Lampiran III-2, dan lampiran III-2.1 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, dengan tata cara sebagai berikut :

(19)

26 1. Kepala Seksi Pelayanan/Kepala Seksi TUP menugaskan

kepada Pelaksana Seksi Pelayanan/Seksi TUP untuk menyiapkan Laporan Triwulanan.

2. Pelaksana Seksi Pelayanan/Pelaksana Seksi TUP menyiapkan konsep Laporan Triwulanan.

3. Kepala Seksi Pelayanan/Kepala Seksi TUP meneliti dan memaraf konsep Laporan triwulanan.

4. Kepala Kantor meneliti dan menandatangani Laporan Triwulanan

5. Laporan Triwulanan disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah atasannya dengan tembusan kepada Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

Selain tata cara sebagaimana dimaksud dengan huruf A KPP/Kantor Wilayah memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Laporan Triwulanan disampaikan oleh Kantor Pelayanan Pajak kepada Kepala kantor Wilayah atasannya dengan tembusan kepada Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan dengan ketentuan:

a. Periode Januari sampai dengan Juni 2008 agar dilaporkan paling lambat tanggal 31 Juli 2008;

b. Periode Juli sampai dengan September 2008 dilaporkan paling lambat tanggal 15 Oktober 2008;

c. Periode Oktober sampai dengan Desember 2008 dilaporkan paling lambat tanggal 15 Januari 2009;

d. Periode Januari sampai dengan Maret 2009 dilaporkan paling lambat 15 April 2009.

(20)

27 2. Laporan Pelaksanaan Sunset Policy dikompilasi secara regional oleh

Kantor Wilayah.

3. Kantor Wilayah bertanggung jawab untuk melakukan monitoring pelaksanaan dan pelaporan pelaksanaan Sunset Policy oleh kantor Pelayanan Pajak diwilayahnya.

4. Laporan Pelaksanaan Sunset Policy dikompilasi secara nasional oleh Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan.

5. Para Eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak sebagai supervisor Kantor Wilayah memantau pelaksanaan sunset policy ini diwilayah tugas masing-masing.

Penghentian Pemeriksaan Sehubungan Dengan Pemanfaatan Sunset Policy

Pemeriksaan terhadap SPT Wajib Pajak yang telah dibetulkan dalam rangka sunset policy dihentikan kecuali :

1. Pajak yang terutang berdasarkan pembetulan SPT Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi/badan lebih rendah daripada pajak yang terutang berdasarkan temuan sementara pemeriksaan yang didukung dengan bukti yang cukup (bukan hasil analisis) dan disetujui oleh atasan Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan.

2. Terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan yang meliputi:

a. Wajib Pajak menolak untuk dilakukan pemeriksaan.

b. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;

c. Wajib Pajak tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain.

d. Wajib Pajak tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik

(21)

28 atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (11) Undang-Undang KUP.

e. Wajib Pajak tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut.

f. Wajib Pajak menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya; atau

g. Wajib pajak menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Pengumuman Nomor PENG-01/PJ/2008

a. Orang pribadi yang secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam tahun 2008 dan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) tahun pajak 2007 dan tahun-tahun sebelumnya paling lambat tanggal 31 Maret 2009, diberikan penghapusan sanksi administrasi berupa bunga dan tidak dilakukan pemeriksaan, kecuali terdapat data atau keterangan lain yang menyatakan bahwa SPT Tahunan PPh yang disampaikan tidak benar atau menyatakan lebih bayar.

b. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan yang menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh tahun pajak 2006 dan tahun- tahun sebelumnya dalam tahun 2008, diberikan penghapusan sanksi administrasi berupa bunga dan tidak dilakukan pemeriksaaan, kecuali terdapat data atau keterangan lain yang menyatakan bahwa pembetulan SPT Tahunan PPh tersebut tidak benar.

Gambar

Tabel  II.1   Perbedaan Pajak dengan pungutan lain
Gambar II.1  Penggolongan Pajak

Referensi

Dokumen terkait

bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang Menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Orang

Wajib Pajak Orang Pribadi memiliki kewajiban menyampaikan SPT tahunan PPh, dalam formulir SPT 1770 atau dapat juga pada 1770S atau 1770SS beserta lampirannya, atas pembayaran

4) sebagai wajib pajak sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir (SPT Tahunan) serta memiliki laporan bulanan

Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir (SPT Tahunan tahun 2015), serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21, PPh

1) Insentif hanya diberikan atas PPh. 2) Insentif hanya diberikan jika Wajib Pajak menyampaikan pembetulan SPT tahun pajak sebelum 2007, yang mengakibatkan pajak yang

Batas waktu maksimal yang telah ditentukan untuk melaporkan SPT ke Kantor Pajak adalah tiga bulan setelah akhir tahun pajak untuk SPT PPh tahunan Wajib Pajak

Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan maupun Masa adalah merupakan kewajiban wajib pajak sebagai subjek pajak dan jika tidak melaksanakannya akan dikenakan

Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) mengatur pajak atas pengahasilan (laba) yang diterima atau diperoleh orang pribadi maupun badan dalam tahun pajak. Wajib pajak