vii
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI
PEKERTI KELAS VII DI SMPN 02 AKABILURU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
SKRIPSI
Ditulis Sebagai SyaratUntukMendapatkanGelarSarjana Pendidikan PadaJurusanPendidikan Agama Islam
Oleh:
DELIA MISNA FITRIADI 14 101 027
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR
2019
viii
ix
x
xi
ABSTRAK
DELIA MISNA FITRIADI, NIM.14 101 027, dengan judul :“PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI KELAS VII DI SMPN 02 AKABILURU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA”JurusanPendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Batusangkar, yang terdiri dari 76 halaman.
Penelitian ini di latar belakangi oleh hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswakhususnyakelas VII di SMPN 02 Akabiluru masih belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata ujian tengah semesternya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan perbaikan dalam proses pembelajaran, salah satunya yaitu dengan penerapan metode pembelajaran Quantum Teaching.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa dengan penerapan metode pembelajaran Quantum Teaching.lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan metode Ekspositori pada pembelajaran Pendidikan Agama islam dan Budi pekerti materi Taharah di SMPN 02 Akabiluru.
Jenispenelitian ini adalah penelitian eksperimen semu, dengan rancangan penelitian Completely Randomized Desain (AcakSempurna). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII.3-VII.1 SMPN 02 Akabiluru tahun ajaran 2017/2018 yang terdiri dari 3 kelas. Teknik penentuan sampel adalah menggunakan Cluster Random Sampling dan diperoleh jumlah sampel yang diteliti sebanyak 43 orang siswa yakni 21 orang siswa kelas eksperimen dan 22 orang siswa kelas Kontrol.
Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata kelas eksperimen 85,95 sedangkan, pada kelas Kontrol 68,45 dengan selisih 17,5. Begitupun dengan melihat persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal yaitu pada kelas eksperimen persentase ketuntasan diperoleh 99% sedangkan, pada kelas Kontrol diperoleh 59% dengan selisih 40%. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa “Hasil belajar siswa dengan penerapan metode pembelajaran Quantum Teaching .Lebih baik dari pada Metode pembelajaran Ekspositori pada matapelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII di SMPN 02 Akabiluru.
Kata Kunci: Metode Pembelajaran Quantum Teaching, Hasil Belajar
xii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB IPENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Batasan Masalah... 8
D. Rumusan Masalah ... 8
E. Tujuan Penelitian ... 8
F. Manfaat Penelitian ... 9
G. Defenisi Operasional ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode Pembelajaran Quantum Teaching ... 11
1. Pembelajaran ... 11
a. Pengertian Pembelajaran ... 11
b. Prinsip-Prinsip pembelajaran ... 12
2. Pengertian Metode ... 13
3. Metode Quantum Teaching ... 14
a. Pengertian metode Quantum Teaching ... 14
b. Asas Utama Quantum Teaching ... 16
c. Prinsip-Prinsip Quantum Teaching ... 17
d. Langkah-Langkah Rancangan Quantum Teaching ... 18
4. Materi Semua Bersih Hidup Menjadi Nyaman ... 20
xiii
a. Pengertian Taharah ... 20
b. Dalil Taharah ... 20
c. Tata cara Taharah ... 21
d. Hikmah Pelaksanaan Taharah ... 26
5. Pendidikan Agama Islam ... 27
6. Pembelajaran Ekspositori ... 29
7. Penelitian Relevan ... 31
B. Kerangka Berfikir... 32
C. Hipotesis ... 33
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 34
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
C. Rancangan Penelitian ... 34
D. Populasi dan Sampel ... 35
E. Prosedur Pnelitian ... 41
1. Tahap Persiapan ... 41
2. Tahap pelaksanaan ... 42
3. Tahap Penyelesaian ... 47
F. Instrumen Penelitian ... 47
G. Teknik pengumpulan data ... 54
H. Teknik Analisis Data ... 54
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 59
B. Analisa Data ... 63
1. Uji Normalitas ... 63
2. Uji Homogenitas ... 64
3. Uji Hipotesis ... 65
C. Pembahasan ... 67
D. Kendala Yang DihadapiDalamPenelitian ... 71
xiv
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ... 72 B. Saran ... 72 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xv
DAFTAR TABEL Tabel 1 Persetase Ketuntasan Nilai UTS kelas VIII SMPN
02 Akabiluru ... 6
Tabel2Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi ... 28
Tabel3Rancangan Penelitian ... 34
Tabel 4
Jumlah siswa kelas VII SMPN 02 Akabiluru 2017/2018 ... 35
Tabel5Hasil Uji Normalitas Populasi ... 37
Tabel6Desain Acak Lengkap Kelas Populasi ... 39
Tabel 7Uji Kesamaan Rata-Rata ... 40
Tabel8Tabel Bantu Uji Kesamaan Rata-rata... 41
Tabel 9Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 42
Tabel 10 Hasil validitas soal tes ... 50
Tabel 11Tabel kritis untuk menentukan nilai r
tabel ... 51Tabel 12Kriteria pembeda soal ... 52
Tabel 13 Hasil Daya Pembeda Soal setelah Dilakukan Uji Coba ... 53
Tabel 14 Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal ... 54
Tabel15Hasil Klasifikasi Tingkat Kesukaran ... 54
Tabel 16Jadwal Pelaksanaan Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen dan KelasKontrol ... 60
Tabel17Hasil Perhitungan Data Tes Hasil Belajar Aspek Kognitif Kedua Kelas Sampel ... 61
Tabel 18Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa pada Aspek kognitif ... 62
Tabel 19Hasil Uji Homogenitas Kelas Sampel ... 66
Tabel 20Hasil Uji Hipotesis kelas Sampel ... 68
xvi
DAFTAR GAMBAR
Hal Gambar 1
Gambar 2
Hasil belajar Siswa Kelas eksperimen Hasil belajar Siswa Kelas Kontrol
144
147
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Distribusi Nilai UTS Fiqh Siswa Kelas VIII SMPN 02 Akabiluru
Lampiran 2 Uji Normalitas Kelas Populasi Lampiran 3 Uji Homogenitas Kelas Populasi Lampiran 4 Analisis Variansi
Lampiran 5 Kisi-kisi Soal Tes Uji Coba Lampiran 6 Soal Penelitian
Lampiran 7 Instrumen Penelitian Psikomotor Lampiran 8 Hasil Uji Coba Tes
Lampiran 9 Perhitungan indeks Pembeda Soal Tes Uji Coba Lampiran 10 Perhitungan indeks Kesukaran Soal
Lampiran 11 Perhitungan reliabilitas Soal Uji Coba
Lampiran 12 Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol pada Kelas VIII SMPN 02 Akabiluru
Lampiran 13 Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kontrol Lampiran 14 Uji Homogenitas data
Lampiran 15 Uji Hipotesis data Lampiran 16 Validitas soal Lampiran 17 Tabel pedoman Lampiran 18 RPP kelas eksperimen
Hal 74
75 76 77 78 79 80 81 82 83 84
85
86
87
88
89
90
xviii
Lampiran 19 RPP kelas Kontrol
Lampiran 20 Hasil Belajar Psikomotor Kelas Eksperimen Lampiran 21 Hasil Belajar Psikomotor Kelas Kontrol Lampiran 22 Dokumentasi
Surat Permohonan Validasi Instrumen Penelitian Surat Rekomendasi Penelitian dari LPPM
Surat Rekomendasi Penelitian dari Kesbangpol
Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari SMPN 02 Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota
91
92
93
94
95
xix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia dan syarat perkembangan. Oleh karena itu perubahan dan perkembangan pendidikan merupakan hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan kebudayaan kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan perlu terus dilakukan sebagai antisispasi kepentingan masa depan.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa yang akan datang, sehingga pendidikanyang bersangkutan akan mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan mampu menerapkan apa yang dipelajari disekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku yang diinginkan terjadi setelah siswa belajar, tujuan pendidikan dapat dijabarkan mulai dari tujuan institusional, kurikuler sampai instruksional.(Purwanto,2009:35)
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:
“Pendidikan merupakan proses yang terjadi secara
berkesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki spritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (RI, 2006: 5)
xx
1
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa pendidikan bertujuan untuk membantu proses pendewasaan terhadap peserta didik, serta bisa membangun akhlak mulia ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga dia mampu untuk menentukan apa yanng harus dilakukan dalam rangka menatap masa depannya. Pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia, karena hanya dengan pendidikanlah manusia dapat mencapai masa depan yang lebih baik lagi.
Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan agar dapat mempengaruhi para peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para peserta didik menuju pada perubahan- perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial. Dalam mencapai tujuan tersebut peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik melalui proses pendidikan. (Sudjana, 2002: 1) Dalam proses pembelajaran tercapai atau tidaknya suatu pendidikan tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seorang pendidik harus mengetahui berbagai strategi dan metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seseorang guru harus mengetahui berbagai metode. Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat berbagai strategi dan metode, maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan strategi dan metode yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi.
Penggunaan strategi dan metode mengajar sangat bergantung pada tujuan
pembelajaran.
Salah satu hal yang mampu melibatkan siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan strategi yang memungkinkan peserta didik untuk berfikir akan pelajaran yang tidak dipahami dan berdiskusi dengan teman sehingga pemeblajaran tidak hanya terjadi satu arah, tetapi lebih menekankan kegiatan berpusat pada peserta didik. Quantum Teaching merupakan suatu strategi pembelajaran multisensori, multikecerdasan dan kompatibel otak, dengan konsep bawalah dunia mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita kedunia mereka dengan cara yang dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan pengubahan belajar yang meriah dengan segala suasana. Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. E Jurnal: (Eni Purwanti dan Salamah,2010:3) Metode Quantum Teaching memiliki perancangan pembelajaran yang dinamakan dengan TANDUR berarti tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan. Tumbuhkan berarti sertakan diri peserta didik, pikat dan puaskan dengan menjelaskan manfaat belajar, sedangkan Alami berarti memberikan peserta didik pengalaman belajar untuk mengalaminya sendiri, demonstrasikan berarti memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru sehingga menjadikan pengalaman pribadi, ulangi berarti merekatkan gambaran keseluruhannya dengan retensi dan rayakan berarati belajar dengan asosiasi positif atau memberikan penghargaan prestasi yang positif, sehingga akan terus diulangi. Pembelajaran menggunakan metode Quantum Teaching ini memiliki tujuan pokok yaitu meningkatkan partisipasi peserta didik, meningkatkan motivasi dan minat belajar, meningkatkan daya ingat, meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan daya dengar serta meningkatkan kehalusan daya perilaku. (Rusman, 2010 : 331)
Belajar memerlukan lingkungan yang menunjang, dimana anak dapat
mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif .
Hal ini perlu diperhatikan untuk membantu siswa agar responsif dan bergairah dalam proses belajar mengajar. Pengubahan lingkungan belajar yang semula membosankan menjadi lingkungan pembelajaran yang mendukung dapat membuat peserta didik lebih bersemangat mengikuti proses pembelajaran.
Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menata lingkungan belajar yang mendukung proses pembelajaran, antara lain : menata lingkungan sekeliling, menggunakan alat bantu, mengatur tempat duduk peserta didik, menghadirkan tumbuhan dan aroma, serta menghadirkan musik (DePorter, 2005, hal. 63)
Kompetensi inti pada kurikulum 2013 merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap tingkat kelas. Kompetensi dasar merupakan kemampuan dan materi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti. Kompetensi inti pada kurikulum 2013 terdiri atas:Kompetensi Inti I (Sikap Spiritual), Kompetensi Inti II (Sikap Sosial), Kompetensi Inti III (Pengetahuan) dan Kompetensi Inti IV (Keterampilan).Kompetensi dasar pada kurikulum 2013 berisi kemampuan dan materi pembelajaran untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti. (Mulyasa,2017:67)
Berdasarkan hasil observasi di SMPN 02 Akabiluru pada hari Kamis
tanggal 18 April 2018 penulis mengamati bahwa di SMPN 02 Akabiluru
didapatkan hasil bahwa didalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh
guru masih bersifat berpusat kepada guru, guru lebih berperan aktif dalam
proses pembelajaran dan siswa hanya memperhatikan guru tanpa adanya
respon yang diberikan oleh siswa atau kurang aktif, ini juga menunjukkan
tidak adanya hubungan timbal balik antara guru dengan siswa sehingga pada
saat guru bertanya kepada siswa seputar pelajaran yang diberikan guru, siswa
tidak mampu menjawab dengan baik karena proses pembelajaran siswa hanya
cenderung mendengarkan, pendidik dalam proses pembelajaran tidak adanya pemberian pengalaman kepada siswa sehingga siswa tidak aktif dalam pembelajaran karena tidak ditumbuhkan untuk berfikir aktif, dan pendidik tidak memberikan penghargaan kepada siswa yang sudah berusaha menjawab, sehingga siswa tidak mau mengulangi untuk berfikir karena tidak diberikan penghargaan untuk menghargai usaha yang sudah dilakukan, pemberian penghargaan kepada siswa dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa karena dia merasa dihargai. sehingga hal ini jelas tidak sesuai dengan kurikulum 2013 yang mengharuskan pembelajaran bersifat student centered dimana siswa sebagai pusat pembelajaran.
Wawancara yang dilakukan dengan Bapak Muliadi pada hari kamis tanggal 19 April 2018, merupakan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII SMPN 02 Akabiluru didapatkan informai bahwa: dalam proses pembelajaran peserta didik belum termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran, guru mengakui masih kurang menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi, dimana guru hanya menggunakan metode ceramah, sehingga siswa tidak tertarik untuk belajar. Guru juga mengatakan bahwa banyak siswa yang kurang memperhatikan guru saat menerangkan pembelajaran didepan kelas. Kemudian peneliti juga melakuakn wawancara dengan beberapa orang siswa kelas VII, diketahui bahwa siswa kesulitan dalam memahami materi pembelajaran disebabkan penyampaian materi guru masih monoton, dalam penyampaian materi guru umumnya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Sementara, siswa mengharapkan dalam proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bisa membuat seluruh siswa aktif menyampaikan ide-ide atau pendapat mereka.
Masalah-masalah yang terjadi didalam pembelajaran diatas,
mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti, sehingga berdampak kepada rendahnya hasil
belajar siswa. dimana bisa terlihat dari ketuntasan nilai ulangan harian siswa yang dinyatakan ditabel 1 berikut:
Tabe l. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Peserta didik pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMPN 02
Akabiluru Tahun ajaran 2017/2018.
(Sumber: Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII SMPN 02 Akabiluru)
Dilihat dari table diatas jelas bahwa nilai UH 1 peserta didik kelas VII belum memuaskan, lebih dari 50% peserta didik yang nilainya dibawah KKM (75), dari 68 siswa kelas VII hanya 31 siswa yang tuntas pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Dilihat dari fenomena diatas bahwa metode yang digunakan pendidik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam belum sempurna pelaksanaannya. Dalam proses pembelajaran yang terjadi diatas tidak terlihat pembelajaran yang menyenangkan serta tidak terjadinya interaksi antara pendidik dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didiklainnya.
Melihat fenomena tersebut maka salah satu solusinya adalah dengan menggunakan metode Quantum Teaching, karena metode Quantum Teachingdapat membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan meriah yang mampu membuat siswa melahirkan keterampilan dalam berfikir untuk memahami materi dengan bahasanya sendiri sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 agar siswa dapat mengembangkan 4 aspek yang diantaranya (Kompetensi Inti 1 aspek Spritual, Kompetensi Inti 2 aspek sosial,
No Kelas Jumlah Siswa Persentase Ketuntasan Nilai UH Semester Ganjil
Tuntas Tidak Tuntas
1 VII/1 30 60% 40%
2 VII/2 28 45% 55%
3 VII/3 30 40% 60%
Kompetensi Inti 3 aspek intelektual dan Kompetensi Inti 4 aspek keterampilan).
Metode ini peneliti terapkan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang terfokus kepada materi semua bersih hidup menjadi nyaman. Agar peserta didik tidak hanya sekedar mempelajari materi tetapi juga mampu menerapkan materi ini dalam kehidupan lingkungan peserta didik sehari-hari. Materi ini harus disenangi oleh peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, karna mengandung banyak manfaat dalam lingkungan hidup peserta didik sehari-hari. Manfaat belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sekolah merupakan bagian penting dari pendidikan agama, karena faktor penentu keberhasilan pendidik menyampaikan materi dapat dilihat dari perilaku dan kepribadian peserta didik dalam menerapkan nilai-nilai keyakinan dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Metode Quantum Teaching dengan pola pembelajaran meriah peserta didik dituntut aktif berfikir sehingga bisa mempertajam daya ingat serta proses pembelajaran menjadi berarti dengan siswa mengalaminya sendiri dalam proses belajar mengajar,dengan hal ini metode Quantum Taching akan membantu meningkatkan proses berfikir siswa secara kritis terhadap materi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.
Oleh karena itu menurut penulis penerapan metode Quantum Teaching
sangat tepat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
SMPN 02 Akabiluru. Dalam hal ini penulis mencoba mengangkat dalam
bentuk karya ilmiah yang berjudul ”Penerapan Metode Pembelajaran
Quantum Teaching pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Budi Pekerti kelas VII di SMPN 02 Akabiluru Kabupaten Lima Puluh
Kota”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Hasil belajar peserta didik masih rendah.
2. Kurangnya pemberian penghargaan yang diberikan pendidik bagi peserta didik yang aktif
3. Proses pembelajaran masih teacher center
4. Siswa bersifat pasif dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam
5. Motivasi belajar sisiwa rendah C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan identifikasi masalah, maka penelitian ini dibatasi pada: Penerapan metode Quantum Teaching pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk mengetahui hasil belajar kognitif dan psikomotor siswa dibatasi pada wudhu dan tayamum di SMPN 02 Akabiluru.
D. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah dengan penerapan metode Quantum Teaching hasil belajar kognitif dan psikomotor yang dibatasi pada wudhu dan taharah, peserta didik lebih baik dari pada hasil belajar dengan pembelajaran ekspositori pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VII SMPN 02 Akabiluru.
E. Tujuan Penelitian
Mengetahui hasil belajar kognitif dan psikomor Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti materi taharah Kelas VII SMPN 02 Akabiluru melalui
penerapan metode Quantum Teaching hasil belajar peserta didik lebih baik
dari pada hasil belajar dengan pembelajaran ekspositori pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VII SMPN 02 Akabiluru.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat teoritis, yaitu manfaat untuk pengembangan ilmu. Maka manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah:
Menambah wawasan penulis tentang penelitian dan teori-teori yang terkait dengan pembahasan ini serta dapat dijadikan bekal untuk mengajar dimasa yang akan datang.
2. Manfaat praktis, yaitu membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada objek yang diteliti. Maka manfaat penelitian secara praktis adalah:
a. Bagi Peserta Didik
Dapat memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik dan meningkatkan hasil belajar serta motivasi, juga aktivitas pembelajaran dan yang paling penting dapat meningkatkan percaya diri peserta didik untuk aktif belajar.
b. Bagi Pendidik
Sebagai masukan bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam menggunakan model pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
c. Bagi Sekolah
Dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh pendidik di SMPN 02 Akabiluru dalam memilih metode pembelajaran Quantum Teaching untuk diterapkan di dalam kelas dan dapat mengembangkan materi- materi lain yang cocok dengan model pembelajaran tersebut.
G. Defenisi Operasional
Untuk mempermudah pemahaman dan untuk menghindari terjadinya
kesalahan dalam memahami judul penelitian ini, maka penulis mencoba untuk
menjelaskan defenisi operasional dari beberapa istilah yang terdapat dalam
judul yaitu:
Penerapan adalah sesuatu kegiatan yang dipraktekkan oleh seorang pendidik pada waktu pembelajaran berlangsung untuk mencapai tujuan tertentu yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.
Metode Quantum Teaching adalah pendekatan pengajaran untuk membimbing peserta didik agar mau belajar. Disamping itu untuk memotivasi, menginspirasi dan membimbing pendidik agar lebih efektif dan sukses dalam pembelajaran sehingga lebih menarik dan menyenangkan.
Terdapat enam unsur yang menjadi kerangka dasar pembelajaran Quantum Teaching, agar mudah diingat disebut “TANDUR”. T adalah Tumbuhkan, A adalah Alami, N adalah Namai, U adalah Ulangi, dan R adalah Rayakan.
Kerangka ini dimaksudkan untuk menarik peserta didik dalam belajar dan berminat pada setiap pembelajaran.
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMP adalah salah satu mata pelajaran wajib yang harus dipelajari peserta didik di SMP.
Pendidikan Agama Islam dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spritual.
Ekspositori adalah proses pembelajaran yang lebih menekankan pada penyampaian materi kepada siswa, supaya siswa dapat memahami materi pelajaran dengan optimal. Pembelajaran ini hanya guru yang aktif menyampaiakn materi sedangkan siswa hanya mendengarkan penyampaian materi dari pendidik.
Hasil Belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan yang dimaksud adalah
kemampuan kognitif dan psikomotor siswa, kemampuan kognitif adalah
kemampuan dalam penguasaan pengetahuan sedangkan kemampuan
psikomotor adalah kemampuan mempraktekkan secara langsung materi yang
telah dipelajari.
11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Pembelajaran Quantum Teaching 1. Pembelajaran
a) Pengertian Pembelajaran
Istilah pembelajaran lebih dipengaruhi oleh perkembangan teknologi untuk kebutuhan belajar, di mana peserta didik diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peranan yang utama, pembelajaran adalah terjemahan dari bahasa inggris instruction yang banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif-holistik yang menempatkan peserta didik sebagai sumber kegiatan. (Wahab Jufri,2013:40)
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi: “Pendidikan merupakan proses yang terjadi secara berkesinambungan untuk mewujudkan suasana mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan proses yang diarahkan kepada perkembangan peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdesan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Istilah pembelajaran lebih dipengaruhi oleh perkembangan
teknologi untuk kebutuhan belajar, dimana peserta didik diposisikan
sebagai subjek belajar yang memegang peranan yang
utama. Peserta didik difasilitasi untuk beraktifitas secara individual maupun kelompok dalam proses belajar. Oleh karena itu istilah pengajaran menepatkan pendidik sebagai pemeran utama dalam memberikan informasi, maka dalam pembelajaran pendidik lebih berperan sebagai fasilitator dan pengelola sumber dan fasilitas belajar untuk peserta didik.(Wahab Jufri, 2013: 39)
Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran adalah upaya sadar dan disengaja yang dilakukan, pembelajaran membuat peserta didik belajar, tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses belajar dilaksanakan, dan pelaksanaan pembelajaran harus terkendali, baik isinya, waktu, proses dan hasil belajar peserta didik. Dalam pembelajaran pendidik dijadikan sebagai fasilitator dan pengelola sumber dan fasilitas belajar peserta didik.
b) Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Makna dari pembelajaran yang mendidik dalam konteks standar proses pendidikan di Indonesia ditunjukkan oleh beberapa prinsip:
1) Pembelajaran sebagai proses pengembangan kemampuan berfikir Belajar pada dasarnya merupakan proses untuk membantu perkembangan keterampilan berfikir. Keterampilan berfikir adalah salah satu aspek kecakapan hidup yang sangat perlu mendapat perhatian dan dikembangkan melalui proses pendidikan.
Kemampuan seseorang untuk kehidupan terutama dalam upaya
menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya,
ditentukan oleh keterampilan berfikir yang dimilikinya. Belajar
sebagaimana cara pengetahuan melalui interaksi peserta didik
secara individual dengan lingkungan sekitarnya.
2) Proses pengembangan otak
Pembelajaran harus dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi otak peserta didik secara maksimal.Otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu otak kiri dan otak kanan. Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan potensi semua bagian otak.
3) Pembelajaran sepanjang hayat
Belajar adalah proses yang berlangsung terus menerus dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.(Wahab Jufri, 2013 :41)
Jadi prinsip pembelajaran itu ada tiga: pembelajaran sebagai proses pengembangan kemampuan berfikir, pembelajaran merupakan proses pengembangan otak, pembelajaran itu dilakukan oleh manusia sepanjang hayat.
2. Pengertian Metode
Metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara megajar yang dipergunakan oleh seorang pendidik atau intrukstur. Pengertian lainnya metode adalah teknik penyajian yang dikuasai pendidik untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik dalam kelas, baik secara individual atau secara kelompok, agar pembelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh speserta didik dengan baik.
Makin baik metode belajar maka efektif padapencapaian tujuan pembelajaran metode disebut juga cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. (Wina Sanjaya,2009:125)
Secara umum metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu.
Secara khusus, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan.
Selain itu, metode juga merupakan berbagai teknik dan sumber daya
terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pelajar.
Banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan, tetapi ada sejumlah metode pembelajaran yang mendasar, sedangkan selebihnya kombinasi atau modifikasi diri metode dasar tersebut. Metode intrusional merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, member contoh, dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang diterapkan oleh seorang pendidik baru berdaya guna dan berhasil, jika mampu mempergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Jadi, dapat dipahami bahwa metode pendidikan adalah berbagai cara atau teknik yang dilakukan oleh pendidik , sebagai jalan penyampaian pengetahuan, sikapdan tingkah laku. Sehingga nilai-nilai Islam dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
3. Metode Quantum Teaching
a) Pengertian Metode Quantum Teaching
QuantumTeaching diartikan sebagai pendekatan pengajaran untuk membimbing peserta didik agar mau belajar.Disamping itu untuk memotivasi, menginspirasi dan membimbing pendidik agar lebih efektif dan sukses dalam pembelajaran sehingga lebih menarik dan menyenangkan.
Quantum teaching adalah pengubahan belajar yang meriahdengan segala nuansanya. Quantum teaching juga menyertakan segala kaitan antara, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar, berfokus pada hubungan dinamisdilingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka belajar.(Aris Shoimin,2017:138)
Quantum Teachingmerupakan proses pembelajaran dengan
menyediakan latar belakang dan strategi untuk meningkatkan proses
belajar mengajar menjadi menyenangkan. Pembelajaran Quantum
Teachingmencakup petunjuk untuk menciptakan lingkungan belajar
yang efektif merancang pengajaran, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar.
Banyak upaya-upaya yang dilakukan dalam membuat metode belajar baru yang lebih memberdayakan peserta didik, yang tidak mengharuskan menghafal fakta-fakta, tetapi metode yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan dibenak siswa itu sendiri, salah satu diantaranya dengan menerapkan pembelajaran Quantum Teaching. Penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran lebih menekankan pada aktifitas yang mengutamakan kerjasama, kerja sama yang diwujudkan dalam bentuk diskusi belajar tentunya membutuhkan pemahaman ketika masing-masing individu harus mengemukakan alasan logis dalam mencapai suatu kesimpulan dengan adanya kerjasama tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan pemahaman. (Winda Yani, 2016:2)
Poter menyatakan bahwa, Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik utuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar, melalui cara-cara efektif yakni partisispasi dengan mengubah keadaan, motivasi dan inat dengan menerapka kerangka rancangan yang dikenal dengan singkatan TANDUR, rasa keebersamaan dengan menggunakan delapan kunci keunggulan, daya dengar anak dengan mengikuti prinsip-prinsip komunikasi ampuh dan kehalusan transisi (DePorter, 2010:33)
Pada pembelajaran Quantum Teaching, pembelajaran harus dilakukan dengan menyenangkan siswa. Hal ini menyebabkan pembelajaran dapat menjadi efektif. Quantum Teaching menganggap bahwa semua pribadi adalah penting, sehingga dipersiapkan lingkungan agar semua siswa merasa penting, aman dan nyaman.
Lingkungan emosional juga diperhatikan dalam pembelajaran dengan
Quantum Teaching. Lingkungan belajar dan emosional akan menjadi stimulus yang merangsang kemampuan mental yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Kondisi dan kemampuan mental siswa akan sangat berpengaruh terhadap kesiapannya menerima pelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan prestasi belajar dapat ditingkatkan.(Eni Purwanti dan Salamah, 2011:3)
Quantum Teaching merupakan pembelajaran yang segar, praktis dan mudah diterapkan, menguraikan cara baru memaksimalkan dampak usaha pengajaran melalui pengembangan hubungan dan pengubahan belajar dengan interaksi.(Muchtar Ibrahim,2011:145)
Pembelajaran Quantum Teaching berusaha mengembangkan otak kiri dan otak kanan. Guru akan berusaha menciptakan jalinan pengertian dengan siswa dengan cara menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan yang positif. Keyakinan terhadap diri sendiri dipupuk dan ditingkatkan, akan meningkatkan minat belaj ar siswa. Hal ini menjadi suatu modal yang kuat untuk tercapainya prestasi belajar yang optimal.
b) Asas Utama QuantumTeaching
Quantum Teaching bersandar pada konsep Bawalah Dunia
Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia
Mereka.(Kusmiyati,2015:9) Inilah Asas Utama alasan dasar di balik
segala metode, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Segala hal
yang dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching. Setiap interaksi
dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode
instruksional dibangun di atas prinsip Bawalah Dunia Mereka ke
Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.Asas tersebut
menyiratkan bahwa untuk melaksanakan suatu pembelajaran
diperlukan pemahaman yang cukup tentang audience kita. Dengan
begitu akan memudahkan semua proses pembelajaran itu sendiri.
Pemahaman itu amat penting karena setiap manusia memiliki dinamikanya sendiri. Siswa scbagai manusia telah dibekali dengan berbagai potensi untuk berkembang (DePorter,2010:34-35)
Azas utama Quantum Teaching tersebut menegaskan bahwa pada dasarnya belajar melibatkan semua aspek kepribadian manusia yaitu pikiran, perasaan dan bahasa tubuh disamping itu juga pengetahuan, sikap dan keyakinan yang sudah dimiliki atau dianut dan diharapkan masa depan.(Yatim Riyanto,2012:200)
Maksud dari azas Quantum Teaching adalah masukilah dunia mereka karena tindakan itu memberikan izin untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang lebih luas. Dengan cara mengaitkan apa yang kita ajarkan dengan sebuah peristiwa atau perasaan peserta didik yang diperolehnya diluar sekolah. Dan siswa dapat membawa apa-apa yang dipelajarinya disekolah dan siswa bisa menerapkannya dikehidupan sehari-hari.
c) Prinsip-Prinsip Quantum Teaching
Quantum Teaching memiliki lima prinsip dalam pembelajaran yaitu:
1) Segalanya Berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rangcangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
2) Segala Bertujuan
Semua yang terjadi dalam penggubahan mempunyai tujuan.
3) Pengalaman sebelum pemberian nama
Otak berkembang pesat dengan adanya rangsangan rasa ingin
tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika
peserta didik telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
4) Akui setiap usaha
Belajar mengandung risiko.Pada saat peserta didik mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
5) Jika layak dipelajari, maka layak dirayakan
Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.(DePoter,2010:36-37)
Metode Quantum Teaching memiliki prinsip mengupayakan proses pembelajaran yang meriah dan bermakna agar dalam pembelajaran bisa berjalan dengan komunikasi yang bagus antara pendidik dengan peserta didik.
d) Langkah-Langkah Rancangan Quantum Teaching
Terdapat enam unsur yang menjadi kerangka dasar pembelajaran Quantum Teaching, agar mudah diingat disebut
“TANDUR”. T adalah Tumbuhkan, A adalah Alami, N adalah Namai, U adalah Ulangi, dan R adalah Rayakan. Kerangka ini dimaksudkan untuk menarik peserta didik dalam belajar dan berminat pada setiap pembelajaran, berikut penjelasan dari TANDUR:
1) Tumbuhkan
Sertakan diri mereka (peserta didik), pikat mereka, puaskan
AMBAK (apa manfaatnya bagiku). Penyertaan menciptakan
jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling
memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka,
mencari tanggapan “Yes” dan mendapat komitmen untuk
menjelajah.
2) Alami
Berikan mereka pengalaman belajar tumbuhkan kebutuhan untuk mengetahui.Unsur ini memberikan pengalaman kepada peserta didik dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah.Pengalaman dapat membuat pendidik mengajar untuk memanfaatkan pengetahuan dan keingintahuan peserta didik.
3) Namai
Berikan data tepat disaat minat peserta didik memuncak.Penamaan memuaskan hasrat otak untuk memberikan identitas, mengurutkan dan mendefenisi.Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan peserta didik.Pada penamaan ini saatnya untuk mengajarkan konsep, keterampilan, berfikir dan strategi belajar.
4) Demonstrasikan
Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga mereka menghayati dan menambahkan sebagai pengalaman pribadi.
5) Ulangi
Lakukan pengulangan terhadap data yang diberikan, pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan pengetahuan peserta didik.
6) Rayakan
Sesuatu yang pantas dipelajari tentu pantas untuk dirayakan jika berhasil dipelajari berikan penghargaan kepada peserta didik atas keberhasilan.(DePorter, 2010, hal. 39-40)
Rancangan dalam metode Quantum Teching merupakan
langkah yang harus diterapkan pendidik dalam menerapkan metode
Quantum Teaching dalam proses pembelajaran agar bisa berjalan
dengan baik dan tujuan metode serta tujuan pembelajaran bisa tercapai.
4. Materi Semua Bersih Hidup Menjadi Nyaman a. Pengertian Taharah
Taharah secara bahasa artinya bersih atau bersuci sedangkan secara istialah taharah berarti membersihkan badan, tempat serta segala sesuatu yang menghalangi sahnya pelaksanaan ibadah dari najis dan hadas. Semua harus dibersihkan, termasuk badan, pakaian, tempat dan lingkungan yang menjadi tempat segala aktifitas. Tempat yang digunakan untuk melaksanakan ibadah salat. Lokasi ibadah ini harus suci dari najis dan bersih dari segala kotoran pasti akan menjadi lebih sempurna dan bermakna. (Yusrizal Efendi,2015:2)
b. Dalil Taharah
1) Qs. At-Maidah ayat 6
Artinya:Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.(Qs.Al-Maidah:6)
2) Qs. AL-Mudatsir ayat 4
Artinya: Dan pakaianmu bersihkanlah. (Qs.Al- Mudatsir:4). (Sayyid Sabiq,2012:66)
c. Tata cara Taharah
Taharah meliputi 2 hal yaitu: taharah dari najis dan taharah dari hadas. Taharah dari najis maksudnya adalah membersihkan sesuatu dari najis.
1) Tata cara Taharah dari Najis
Ada tiga macam najis, yaitu najis mukhaffafah, najis mutawasitah, dan najis mughalazah.:
a) Najis mukhaffafah adalah najis yang ringan, seperti air
kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan
belum makan apapun kecuali air susu ibu. Cara
menyucikannya sangat mudah, cukup dengan memercikkan
atau mengusapkan air yang suci pada permukaan yang terkena
najis.
b) Najis mutawasitah adalah najis pertengahan. Contoh najis jenis ini adalah darah, nanah, air seni, tinja, bangkai binatang, dan sebagainya. Najis jenis ini ada dua macam, yaitu najis hukmiyah dan najis „ainiyah. Najis hukmiyah diyakini adanya tetapi tidak nyata wujudnya (zatnya), bau dan rasanya. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis. Sedangkan najis „ainiyah adalah najis yang tampak wujudnya (zat-nya) dan bisa diketahui melalui bau maupun rasanya. Cara menyucikannya adalah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya dengan menggunakan air yang suci.
c) Najis mughalazah adalah najis yang berat. Najis ini bersumber dari anjing dan babi. Cara menyucikannya melalui beberapa tahap, yaitu dengan membasuh sebanyak tujuh kali.
Satu kali di antaranya menggunakan air yang dicampur dengan tanah.(Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,2015:42)
2) Tatacara Taharah dari Hadas
a) Pelaksanaan Taharah dari hadast (1) Mandi Wajib
Mandi wajib adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar. Sering disebut juga mandi janabat/ junub.
Adapun rukun mandi wajib adalah sebagai berikut:
(a) Berniat
Berniat dengan cara mengucapkan dengan lisan.
(b) Membasuh seluruh anggota tubuh
Hakikat mandi adalah membasuh seluruh anggota
tubuh dengan menyiramkan air pada seluruh
tubuh.(Sayid Sabiq,2012:126-127)
(2) Wudhu
Wudhu adalah cara bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Adapun rukunwudhu adalah sebagai berikut:
(a) Rukun Wudhu‟
- Niat
- Membasuh muka.
- Membasuh kedua tangan sampai siku.
- Mengusap kepala.
- Membasuh kaki sampai mata kaki.
- Tertib (dilakukan secara berurutan).
(b) Sunah Wudhu‟
- Memulai wudhu‟ dengan membaca basmalah - Menggososk gigi atau bersiwak
- Mencuci kedua telaak tangan sampai tiga kali.
- Berkumur-kumur sebanyak tiga kali
- Memasukkan air kehidung kemudian mengeluarkan. (Sayid Sabiq,2012:7077)
(3) Tayamum
Tayamum adalah pengganti wu«u atau mandi
wajib. Hal ini dilakukan sebagai rukh¡ah (keringanan)
untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa
halangan. Tayamum dilakukan dengan menggunakan
sarana debu yang suci. Debu ini digunakan sebagai
pengganti air. Apabila kita berada di dalam pesawat atau
kendaraan, debu yang digunakan untuk tayamum cukup
mengusap debu yang ada di dinding pesawat atau
kendaraan. Cara ini boleh dilakukan jika:
- Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya.
- Berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit.
- Telah masuk waktu salat.
(a) Tatacara bertayamum:
- Niat (untuk dibolehkan mengerjakan Salat);
“Aku niat bertayamum untuk dapat mengerjakan Salat, fardu karena Allah ta‟ala”.
- Mengusap muka dengan tanah (debu yang suci) - Mengusap dua tangan kanan hingga siku-siku dengan
debu.
- Mengusap dua tangan kiri hingga siku-siku dengan debu. (Sayid Sabiq,2012:140)
b) Ketentuan Pelaksanaan Taharah dari Hadast (1) Taharah dari Hadast Kecil
T
erkena hadas kecil apabila mengalami/melakukan salah satu dari 4 hal, yaitu:
(a) Keluar sesuatu dari qubul (kemaluan) dan dubur (b) Hilang akal (contoh tidur),
(c) Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim.
(d) Menyentuh qubul (kemaluan) dan dubur dengan telapak tangan.
Cara menyucikan hadas kecil dengan berwudu.
Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayamum.
(2) Taharah dari Hadast Besar
Terkena hadas besar apabila mengalami/melakukan
salah satu dari enam perkara, yaitu:
(a) Berhubungan suami istri (setubuh) (b) Keluar mani
(c) Haid (menstruasi) (d) Melahirkan (e) Nifas
(f) Meninggal dunia.
Cara menyucikannya adalah dengan mandi wajib, yaitu membasahi seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayamum. Masalah hadas besar bagi perempuan menjadi sangat penting dan menarik untuk dipelajari.
Perempuan mengalami peristiwa khusus yang tidak dialami oleh seorang laki-laki. Seorang perempuan mengalami peristiwa haid, nifas, dan terkadang istihadah.
Darah yang keluar dari rahim perempuan ada beberapa macam. Ada yang dinamakan haid, nifas, dan istihadah.
(a) Darah haid, yaitu darah yang keluar pada perempuan saat kondisi sehat. Adapun ciri-ciri secara umum adalah kental, hangat, baunya kurang sedap, hitam, merah tua, kemudian berangsur-angsur menjadi semakin bening.
Kalau kamu sudah mengalami haid, maka bersyukurlah.
Itu artinya organ-organ kewanitaanmu sudah berfungsi secara normal.Sebagian perempuan ada yang sudah mengalami haid saat mulai berumur 9 tahun. Namun, rata-rata mereka mengalaminya pada usia belasan tahun.Masa haid minimal adalah sehari semalam, biasanya 6 atau 7 hari, dan paling lama adalah 15 hari.
Kalau setelah 15 hari darah masih terus keluar, maka
darah itu merupakan darah istihadah (penyakit). Apabila kalian ada yang mengalami kondisi ini, segeralah berkonsultasi dengan dokter.Perlu diingat bahwa perempuan yang sedang haid tidak boleh melaksanakan salat, puasa, membaca dan menyentuh/memegang al- Qur‟an, tawaf, berdiam diri di masjid, berhubungan suami istri, dan cerai dari suami.
(b) Darah nifas, yaitu darah yang keluar sesudah melahirkan, setelah kosongnya rahim dari kehamilan, meskipun hanya segumpal darah. Sedikit atau banyaknya darah nifas juga bervariasi. Ada yang hanya satu tetes, keluar sehari, atau dua hari. Rata-rata perempuan mengeluarkan darah nifas selama 40-an hari, dan paling lama 60 hari. Adapun cara mandi wajib untuk perempuan yang nifas sama sebagaimana mandinya haid.
(c) Darah istihadah, yaitu darah yang keluar tidak pada hari- hari haid dan nifas karena suatu penyakit. Darah is ada empat macam yaitu: Keluar kurang dari masa haid, Keluar lebih dari masa hai
d,Keluar sebelum usia haidatau setelah masa menopause, keluar lebih lama dari maksimal masa nifas.Seorang perempuan yang mengeluarkan darah istihadah tetap harus melaksanakan kewajiban salat dan puasa. Apabila hendak salat maka bersihkan darah itu, pakailah pembalut, kemudian ambillah air wudu.
3) Hikmah Pelaksanaan Taharah
a) Orang yang hidup bersih akan terhindar dari segala macam
penyakit karena kebanyakan sumber penyakit berasal dari
kuman dan kotoran.
b) Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang selalu menjaga wuduakan bersinar wajahnya kelak saat dibangkitkan dari kubur.
c) Dapat dijadikan sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
d) Rasulullah saw. menegaskan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman dan ada ungkapan bijak pula yang mengatakan
”kebersihan pangkal kesehatan”.
e) Kebersihan akan membuat kita menjalani hidup dengan lebih nyaman.(Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,2013:45) 5. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai pendidikannya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan Agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan baik pribadi maupun kehidupan masyarakat.(Aat Syafaat,2008:16)
Dapat dipahami bahwa pendidikan agama harus ada di setiap sekolah baik sekolah ke agamaan ataupun umum sesuai dengan agama yang bersangkutan masing-masing. Mata pelajaran Agama Islam itu secara keseluruhannya meliputi pembelajaran keimanan, Al-Qur‟an dan hadist, akhlak, fiqih dan sejarah. Mata pelajaran pendidikan agama islam yang khusus untuk sekolah umum sudah merangkum semua aspek pembelajaran yang dikhususkan untuk sekolah ke agamaan. Melalui kurikulum 2013 pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah dalam satu semester sudah tercampur akan semua aspek keagamaan dimulai dari akidah hingga sejarah Islam disebut dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Adapun materi Pendidikan Agama Islam yang penulis maksud
materi PAI pada kelas VII semester I (ganjil) yang kompetensi dasar
dan indikator pencapaian kompetensi terdapat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 3.8 Memahami ketentuan
bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.
3.8.1 Menjelaskan defenisi Taharah
3.8.2 Menjelaskan dalil perintah pelaksanaan taharah.
3.8.3Menjelaskan tata cara pelaksanaan taharah
3.8.4Menjelaskan hikmah pelaksanaan taharah
4.8 Mempraktekkan tata cara bersuci dari hadas besar dn hadas kecil
4.8.1Mendemonstrasikan pelaksanaan wudhu 4.8.2Mendemonstrasikan pelaksanaan tayamum
Metode Quantum Teaching digunakan pada materi Taharah agar materi ini lebih menarik dipelajari oleh peserta didik, dapat menimbulkan ke aktifan dengan membandingkan makna yang terdapat dalam ayat dengan realita kehidupan peserta didik sehari-hari pembelajaran akan menyenangkan dengan pemikiran kritis dan logis terhadap materi sehingga peserta didik bisa menemukan sendiri makna konsep dari pembelajaran dengan pembagian kelompok berbagi realita dan pemecahan masalah.
Dengan mengaitkan konsep, ayat Al-Qur‟an dan realita dalam
kehidupan dengan metode belajar menyenangkan akan lebih mudah
peserta didik pahami dan amalkan dalam kehidupan. Sehingga konsep dipahami melalui pembahasan ayat Al-qur‟an dan penerapan dalam kehidupan akan dilahirkan melalui pehamaman sendiri.
6. Strategi Ekspositori
a. Pengertian Strategi Ekspositori
Strategi ekspositori adalah strategi pembelajaranyang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pembelajarn secara verbal, artinya bertutur dengan lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang mengidentikanya dengan ceramah. Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
(Suyadi,2013:145)
Dalam pendekatan ini guru berperan lebih aktif, lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan dengan siswa- siswanya. Guru mengelola dan mempersiapkan bahan ajar secara tuntas, lalu menyampaikan kepada siswa. Sebaliknya para siswa berperan lebih pasif, tanpa banyak melakukan kegiatan pengolahan bahan, karena menerima bahan ajar yang disampaikan oleh guru.(Wina Sanjaya,2009:177)
b. Langkah-langkah Strategi Ekspositori 1) Persiapan
Tahap pesiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta didik
untuk menerima pelajaran. Langkah persiapan adalah langkah
yang sangat penting dalam ekspositori, karena pembelajaran snagat bergantung pada persiapan.
2) Penyajian Materi
Langkah penyajian adalah menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan secara jelas. Satu hal yang harus diperhatikan oleh pendidik atau guru dalam penyajian materi adalah bagaimana materi dapat dipahami oleh peserta didik dalam menjelaskan.
3) Korelasi
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman peserta didik dengan hal lain yang memungkinkan dapat menangkap keterkaitanya dalam pengetahuan.
4) Meyimpulkan
Menyimpulkan adalah tahap akhir dalam proses pembelajaran.
Kegiatan menyimpulkan dimaksudkan untuk memahami inti dari seluruh materi yang dibahas.
5) Mengaktualisasikan Materi Pelajaran
Tahap terakhir dalam strategi ekspositori adalah aplikasi atau
aktualisasi berarti peserta didik harus mampu mengaplikasikan
materi yang disampaikan dalam kehidupan. Tentunya peserta didik
harus memiliki pemahman materi secara tepat. (Suyadi,2013:154-
155)
7. Penelitian Relevan
a) Nama Peneliti : Rahmayanti ,NIM : 09 101 130, Judul Penelitian : Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Metode Quantum Teaching dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Kabupaten Solok. Keterangan :Dalam penelitian Rahmayanti lebih menekankan kepada upaya meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Kabupaten Solok, sedangkan dalam penelitian ini dilaksanakan di SMPN 02 Akabiluru dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti .
b) Nama Peneliti :Englariad Bukhari, NIM : 11 101 054, Judul Penelitian : Penerapan Metode Quantum Teaching pada Mata pelajaran Akidah Akhlak di MTsN Penampungan Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam.Keterangan : Dalam penelitian Englariad Bukhari dilakukan pada mata pelajaran Akidah Akhlak di MTsN Penampungan Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam, sedangkan penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang dilaksanakan di SMPN 02 Akabiluru.
c) Nama Peneliti : Eni Purwanti,Judul Penelitian : Upaya
Peningkatan Minat Dan Prestasi Belajar Ips Melalui Metode Quantum
Teaching Siswa Kelas V Sd Tegalsari Srigading
SandenKabupatenBantul.Keterangan : Dalam penelitian Eni Purwanti
dengan mata Pelajaran IPS untuk meningkatkan minat dan prestasi
belajar siswa sedangkan penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMPN 02 Akabiluru.
B. Kerangka Berfikir
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik baik dari diri peserta didik maupun dari lingkungan. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dianggap pembelajaran yang mudah tapi membosankan hal ini disebabkan strategi pendidik, kurangnya motivasi belajar dan kesiapan mental dalam mengikuti pembelajaran.
Untuk memperbaiki semua hal tersebut diperlukan ke kreatifan pendidik untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, berarti serta menarik sehingga menimbulkan ke aktifan dan partisipasi dalam pembelajaran pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal dan bisa berpengaruh terhadap penerapan sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu metode yang dapat membantu untuk membuat peserta didik berpartisipasi aktif dalam pembelajaran untuk memudahkan mencapai tujuan pembelajaran serta memiliki makna adalah metode Quantum Teaching.
Diharapkan melalui penerapan metode ini peserta didik lebih aktif dalam
kegiatan pembelajaran dengan lebih banyak mengikut sertakan peserta didik
dalam pembelajaran mendapatkan suatu pemahaman yang lebih baik.
Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian C. Hipotesis
Ha : Hasil belajar peserta didik dengan penerapan metode Quantum Teaching lebih baik dibandingkan hasil belajar peserta didik dengan pembelajaran ekspositori pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMPN 02 Akabiluru.
Ho : Hasil belajar peserta didik dengan penerapan metode Quantum Teaching tidak lebih baik dibandingkan hasil belajar peserta didik dengan pembelajaran ekspositori pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMPN 02 Akabiluru.
Proses Pembelajaran PAI
Guru
Siswa
Kelas Kontrol Kelas Kontrol Kelas Ekperimen
Penerapan Metode Ekspositori Penerapan pembelajaran dengan
metode Ekspositori Penerapaan pembelajarandengan
metode Quantum Teaching
Hasil Belajar Hasil Belajar
Dibandingkan
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang terjadi di lapangan.Adapun Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan Jenis penelitian eksperimen semu dengan pendekatan kuantitatif.Eksperimen semu merupakan jenis penelitian untuk memperoleh informasi yang diperoleh dengan eksperimen dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol semua variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.( Sugiyono, 2013: 77)
B. Tempat dan waktu penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan pada kelas VII SMPN 02 Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota.Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil, Tahun Ajaran 2018/2019.
C. Rancangan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah acak sempurna (Sudjana,2012:
17), pada penelitian ini perlakuan diberikan pada kelas eksperimenadalahpenerapan metode Quantum Teaching pada kelas Kontrol adalah model pembelajaran Ekspositori. Rancangan penelitian yang peneliti gunakan sebagai berikut
Tabel 3. Rancangan Penelitian
No Kelas Perlakuan Posttest
1 Eksperimen X O
2 Kontrol Y O
34