• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

Lebih dari 20 juta bayi diseluruh dunia (15,5%) dari seluruh kelahiran merupakan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan 95,6% diantaranya merupakan bayi yang dilahirkan di negara-negara sedang berkembang (Unicef-WHO, 2004). Namun, angka kematian BBLR masih sangat tinggi.

Dalam laporan World Health Organization (WHO) yang dikutip dari State of the World’s Mother 2007 (data tahun 2000-2003) dikemukakan bahwa 27%

kematian neonatus disebabkan oleh BBLR. Akan tetapi jumlah ini diperkirakan lebih tinggi karena sebenarnya kematian yang disebabkan oleh sepsis, asfiksia, dan kelainan kongenital sebagian juga BBLR. Di Indonesia, menurut Survei Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada 2005 terdapat 38,85%

kematian neonatus yang disebabkan oleh BBLR.

BBLR telah lama digunakan sebagai indikator kesehatan masyarakat yang penting. BBLR telah didefinisikan oleh WHO sebagai bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram. Definisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram mempunyai kontribusi terhadap outcome kesehatan yang buruk.

Menurunkan insiden BBLR hingga sepertiganya menjadi salah satu tujuan utama “A World Fit for Children” hingga tahun 2010 sesuai deklarasi dan rencana kerja United Nations General Assembly Special Session on Children in 2002 (Unicef-WHO, 2004).

Berdasarkan rekap data kelahiran hidup di kota Semarang bulan Januari-September 2011, jumlah bayi lahir dengan BBLR sebanyak 129 dan bayi lahir dengan prematur sebanyak 34 dengan angka kematian bayi BBLR sejumlah 24 dan bayi prematur sejumlah 20, berarti angka kematian BBLR sebanyak 18,6% dan bayi prematur sebanyak 58,8% (Dinkes Semarang,2011). Di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang, BBLR menjadi penyebab kedua kematian neonatus setelah asfiksia. Pada 2010

(2)

didapatkan data bahwa bayi yang lahir dengan BBLR sebanyak 130 dan 47 yang meninggal selama menjalani perawatan, berarti sebanyak 36,15%

kematian neonatus di ruang perinatologi disebabkan oleh BBLR (Perinatologi RSDK, 2011).

Perawatan BBLR sangat kompleks dan membutuhkan infrastruktur yang mahal serta perawat yang memiliki keahlian khusus sehingga menjadi beban sosial dan kesehatan di negara manapun. Di Indonesia, perawatan BBLR masih memprioritaskan pada penggunaan inkubator, tetapi keberadaannya masih sangat terbatas. Selain jumlahnya yang terbatas, inkubator juga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi serta memerlukan tenaga terampil yang mampu mengoperasikannya. Disamping itu dengan menggunakan inkubator, bayi dipisahkan dari ibunya sehingga menghalangi kontak kulit langsung antara ibu dan bayi yang sangat diperlukan bagi tumbuh kembang bayi (Depkes RI, 2008).

Perawatan dengan metode kanguru (PMK) merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan BBLR yang paling mendasar yaitu kehangatan, air susu ibu, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan, dan kasih sayang (WHO, 2003). Menurut Conde Aguedelo, dkk. (2007), dibandingkan perawatan konvensional PMK terbukti dapat menurunkan angka kejadian infeksi, penyakit berat, masalah menyusui, dan ketidakpuasan ibu serta meningkatkan hubungan antara ibu dengan bayi.

Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Rey dan Martinez di Bogota, sebagai alternatif bagi perawatan BBLR yang telah melewati masa krisis tetapi masih memerlukan perawatan khusus untuk pemberian makanan bagi pertumbuhannya. Melalui kontak kulit bayi langsung dengan ibunya dapat meningkatkan kelangsungan hidup BBLR karena akan terjadi aliran panas dari tubuh ibu kepada bayinya sehingga terhindar dari bahaya hipotermi (Depkes RI, 2008).

Penelitian yang dilakukan oleh Cattaneo pada 1988 secara multicenter di 3 rumah sakit di Addis Ababa (Ethiopia), Yogyakarta (indonesia), dan Merida (Mexico) dengan jumlah sampel sebanyak 178 bayi dengan berat lahir

(3)

antara 1000-1999 gram tanpa memandang usia gestasi yang diambil secara random. Bayi dalam keadaan stabil, tidak tergantung dengan oksigen dan cairan intravena, tidak ada gangguan nutrisi, dan tidak ada kelainan kongenital. Bayi dilakukan PMK secara terus menerus selama 24 jam kecuali ketika ibu tidur. Hasilnya adalah penurunan angka kejadian sakit berat, hipotermi, hipertermi, dan angka kematian bayi, keberhasilan menyusui dan peningkatan berat badan, meningkatkan kepuasan ibu dan menghemat biaya perawatan.

Kebutuhan BBLR untuk tumbuh cepat dan pemeliharaan harian harus dipenuhi dalam keadaan adanya banyak kekurangan anatomis dan fisiologis.

Toleransi yang berhubungan dengan kemampuan bayi untuk menyusu harus didasarkan pada evaluasi status respirasi, denyut jantung, saturasi oksigen, dan variasi dari kondisi normal dapat menunjukkan stress dan keletihan sehingga harus diperhatikan kesiapan bayi untuk menyusu, mengkaji perilaku, kemampuan mempertahankan suhu tubuh tanpa dukungan sumber pemanas artifisial, status respirasi, dan kesiapan mengisap payudara ibu. Hal ini dapat diatasi melalui kontak kulit ke kulit (kanguru) sehingga ibu dan bayi menjadi terbiasa satu sama lain (Gardner, Snell, dan Lawrence, 1998 dalam Wong, 2008).

Salah satu tujuan utama perawatan bayi BBLR adalah konversi energi.

Pembatasan aktivitas yang dapat menganggu bayi dan mempertahankan lingkungan hangat netral dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan kalori karena bayi tidak perlu mengeluarkan banyak energi sehingga energi yang ada digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dikarenakan bayi BBLR sangat rentan terhadap stress. Stress akan mempengaruhi fungsi hipotalamus yang akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan, produksi panas, dan mekanisme neurologis. Kontak kulit pasif reguler (asuhan cara kanguru) antara orangtua (ayah dan ibu) dan bayi BBLR dapat membantu menghilangkan stress (Wong, 2008). Hal ini akan berdampak positif terhadap peningkatan berat badan BBLR.

(4)

Holly Richardson (1997) menyebutkan bahwa PMK akan menyebabkan bayi prematur tidur nyenyak sehingga dapat meningkatkan energinya. Hal ini berpengaruh terhadap peningkatan berat badannya. Pada bayi yang dirawat terpisah dari ibunya di dalam inkubator, bayi akan merasa tidak nyaman sehingga lebih banyak menangis dan tidurnya menjadi berkurang. Akibatnya dapat membuang energi bayi dan berpengaruh pada peningkatan berat badannya.

Pada 1998 Papi A. Gomez meneliti hubungan antara menyusui dengan PMK, didapatkan bahwa PMK lebih dari 50 menit akan meningkatkan reflek menghisap bayi dan ibu lebih lama menyusui. Selain itu juga dapat meningkatkan produksi ASI ibu. Hal ini akan memberikan efek positif terhadap kebutuhan nutrisi BBLR sehingga berdampak pada peningkatan berat badan bayi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Usman dkk. di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung pada 1996 menyatakan bahwa kemampuan mempertahankan suhu serta kenaikan berat badan pada BBLR yang dilakukan PMK menunjukkan hasil yang lebih baik.

Di ruang perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang sudah menerapkan perawatan metode kanguru, tetapi masih secara intermitten belum secara termitten. Bayi BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru adalah yang telah stabil keadaannya dan dilakukan minimal selama 1 jam perharinya.

Bayi yang dilakukan PMK sambil diajarkan cara menyusui pada ibunya untuk meningkatkan refleks hisap bayi dan keberhasilan menyusui. Akan tetapi selama ini belum ada penilaian mengenai pelaksanaan perawatan metode kanguru di ruang perinatologi apakah sudah berjalan sesuai dengan standar operasional yang berlaku.

Melihat fenomena yang terjadi, penulis tertarik untuk meneliti tentang pelaksanaan perawatan metode kanguru di ruang perinatologi karena melalui metode ini bermanfaat bagi BBLR untuk membantu pertumbuhannya dan ibu juga merasa lebih percaya diri sehingga lebih berperan aktif dalam menyusui serta merawat bayinya. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi staf ruang perinatologi sehingga pelaksanaan PMK lebih

(5)

berhasil dari sebelumnya dan berdampak pada penurunan angka kematian BBLR dan mempersingkat hari rawat BBLR di rumah sakit.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : “ Bagaimanakah deskripsi perawatan BBLR dengan menggunakan perawatan metode kanguru (PMK) dan efeknya pada BBLR di ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang?”

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mendeskripsikan perawatan BBLR dengan menggunakan perawatan metode kanguru.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan pelaksanaan perawatan metode kanguru pada BBLR di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang.

b. Mendeskripsikan faktor predisposisi BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang.

c. Mendeskripsikan peningkatan kebutuhan energi pada BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru di ruang Perinatologi RSUP Dr.

Kariadi Semarang.

d. Mendeskripsikan status imunologis BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang.

e. Mendeskripsikan status nutrisi BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang.

f. Mendeskripsikan aktivitas BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang.

g. Mendeskripsikan perubahan berat badan BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru di ruang Perinatologi RSUP Dr. Kariadi Semarang.

(6)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi profesi

a. Perawat mengetahui pelaksanaan perawatan metode kanguru pada BBLR sesuai dengan standar operasional yang berlaku serta manfaatnya sehingga mempunyai pemahaman yang lebih dalam mengenai pentingnya perawatan metode kanguru bagi BBLR. Oleh karenanya perawat akan mau, mampu, dan senantiasa melakukan perawatan metode kanguru bagi BBLR di instansi kerjanya.

b. Penelitian ini dapat memberikan wawasan dan acuan untuk penelitian selanjutnya sehingga didapatkan pengetahuan yang lebih banyak mengenai manfaat dari perawatan metode kanguru.

2. Manfaat bagi instansi terkait

Perawatan metode kanguru memberikan keuntungan dari berbagai aspek baik fisik maupun psikologis bagi BBLR dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Hal ini dapat memperpendek masa rawat bayi di rumah sakit dan mengurangi biaya rumah sakit sehingga pencapaian rumah sakit untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan BBLR secara cost efektif akan lebih berhasil.

3. Manfaat bagi keluarga

Ibu bayi dan keluarganya akan mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik mengenai perawatan BBLR sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu dan keluarganya dalam merawat bayinya di rumah.

4. Keaslian Penelitian

Penulis telah melakukan penelusuran penelitian sebelumnya melalui internet mengenai pelaksanaan perawatan metode kanguru terhadap BBLR.

Adapun penelitian yang telah dilakukan sebelumnya sebagai berikut :

(7)

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Peneliti Tahun Judul Desain Sampel Hasil

Lina Marliyani

2010 Gambaran pengetahuan dan sikap tenaga

kesehatan terhadap pelaksanaan metode kanguru di ruang

perinatologi RSUD Banjarbaru

Deskriptif dan pengambilan

sampel secara total

sampling

Tenaga kesehatan yang bekerja di ruang perinatologi sejumlah 16 orang

Sebagian besar tenaga kesehatan memiliki pengetahuan baik (62,5%), dan memiliki sikap yang baik dalam pelaksanaan metode kanguru (81,3%), serta pelaksanaan metode kanguru oleh tenaga kesehatan sebanyak 68,75%)

Yane Melisia Lukman

2010 Pengetahuan dan Sikap Ibu yang Memiliki BBLR

Tentang PMK di Ruang Perinatologi RS. Al Islam Bandung

Deskriptif kuantitatif dengan pengambilan

sampel secara accidental

sampling

24 ibu bayi yang memiliki BBLR yang dirawat di Ruang Perinatologi

Sebagian besar responden (16 responden, 66,7%) memiliki tingkat pengetahuan tentang PMK yang kurang, sebanyak 8 responden (33,3%) memiliki pengetahuan baik. Sementara untuk sikap, sebagian besar ibu memiliki sikap yang tidak mendukung terhadap PMK yaitu sebanyak 14 responden (58,3%), dan 10 responden (41,7%) memiliki sikap mendukung terhadap PMK.

Nuniek Wulansari

2011 Deskripsi perawatan BBLR dengan metode kanguru dan efeknya pada

BBLR di

Ruang Perinatologi RSUP Dr.

Kariadi Semarang

Deskriptif kuantitatif dan

pengambilan sampel secara total sampling untuk sampel perawat, consecutive sampling untuk sampel BBLR

10 bayi BBLR dengan berat badan 1250- 1800 gram tanpa memandang usia gestasi dan 14 perawat di Ruang Perinatologi RSUP Dr.

Kariadi Semarang

57% responden perawat belum melaksanakan PMK sesuai protap,

82% faktor predisposisi responden BBLR karena faktor ibu, 100%

responden BBLR tidak mengalami peningkatan energi, 100% responden BBLR tidak menunjukkan peningkatan imaturitas imunologis, 80%

responden BBLR

mendapatkan ASI, 100%

responden BBLR

pergerakannya lebih aktif dan berat badannya meningkat setelah PMK

(8)

Gambar

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Melihat permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh komitmen organisasi dan modal sosial (social capital) terhadap perilaku wirausaha anggota pramuka

Melihat fenomena di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Terapi Akupunktur Pada Titik Baihui (GV 20), Anmian (Ex-HN 16)

Atas dasar latar belakang tersebut penulis merasa tertarik meneliti lebih lanjut terkait dengan masalah apakah peserta didik memiliki pendapat tentang adanya

Atas dasar inilah penulis tertarik ingin meneliti lebih dalam mengenai permasalahan di atas dengan judul penelitian “Pengaruh Karakteristik Pekerjaan Terhadap

Dengan dilatarbelakangi oleh hal-hal tersebut, penulis merasa tertarik untuk meneliti Tafsir ini, lebih lanjut guna pencapaian yang maksimal dalam komprehensip,

Dengan segala bentuk kelebihan yang dimiliki oleh metode Contextual Teaching and Learning (CTL), peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka melihat

Fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat, khususnya dalam batasan orang Kristen, memperlihatkan hal yang secara normatif kurang sesuai. Perilaku-perilaku yang

Penelitian bermanfaat sebagai ruang informasi bagi pihak akademisi untuk menahami lebih mendalam mengenai hasil metode desain logo yang digunakan pada situs