• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BERITA DAERAH

KOTA TANGERANG SELATAN

No.45,2018 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.Perubahan Kedua Atas Peraturan Walikota Nomor 10 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah.

PROVINSI BANTEN

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 45 Tahun 2018

TENTANG

PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG KEBIJAKAN AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,

Menimbang : a. bahwa kebijakan akuntansi Pemerintah Daerah telah

ditetapkan dengan Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 10 tahun 2014 tentang

Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah sebagaimana

telah diubah dengan peraturan Walikota Nomor 38 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan

Walikota Tangerang Selatan Nomor 10 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah;

b. bahwa pengaturan mengenai Aset Tetap, Renovasi, Konstruksi Dalam Pengerjaan dan Aset lainnya belum diatur secara terinci dalam Peraturan Walikota

Tangerang Selatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, sehingga perlu dilakukan perubahan;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Walikota Nomor 10 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

SALINAN

(2)

2. Undang–Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4355);

4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab

Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah

Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438),

6. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan Di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4935);

7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang–Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015

Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

(3)

9. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4890);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5533);

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara

Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara

Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar

Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah (Berita Negara Republik

Indonesia Tahun 2013 Nomor 1425);

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyisihan

Piutang dan Penyisihan Dana Bergulir Pada Pemerintah Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1752);

15. Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 10 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah (Berita Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2014 Nomor 10)

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 38 Tahun 2016 tentang

Prubahan Atas Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 10 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah (Berita Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 38);

(4)
(5)

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 45 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG KEBIJAKAN AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH

BAB VI

KEBIJAKAN NERACA A. TUJUAN

Kebijakan Neraca bertujuan untuk menetapkan perlakuan Akuntansi Neraca Pemerintah Daerah dalam rangka memenuhi tujuan akuntabilitas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

B. STRUKTUR

Neraca menyajikan posisi keuangan suatu Entitas Pelaporan maupun Entitas Akuntansi meliputi Aset, Kewajiban, dan Ekuitas pada tanggal tertentu.

1. ASET

Aset disajikan di Neraca dengan urutan berdasarkan likuiditasnya Aset dikelompokkan menjadi:

a. Aset Lancar, yaitu aset yang diharapkan segera dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset lancar meliputi:

1) Kas dan Setara Kas.

Kas dan setara kas haruslah setiap saat dapat digunakan Pemerintah Daerah untuk membiayai kegiatan dan memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga, dan tidak dibatasi penggunaannya. Kas dan setara kas terdiri dari:

a) Kas, yaitu uang kertas/uang logam atau saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat ditarik atau digunakan untuk melakukan pembayaran.

b) Setara Kas, yaitu investasi jangka pendek (jatuh tempo dalam waktu tidak lebih dari 3 (tiga) bulan sejak tanggal perolehannya) yang sangat likuid yang siap dicairkan menjadi kas serta bebas dari risiko perubahan nilai yang signifikan.

Berdasarkan pihak yang mengelola dan bertanggungjawab terhadap kas, terdapat:

a) Kas di BUD, terdiri dari:

(1) Kas di RKUD;

(2) Kas di Rekening Bendahara Dana Kapitasi; dan (3) Setara Kas.

(6)

b) Kas di bendahara pengeluaran SKPD, yaitu uang tunai/uang logam dan saldo simpanan di bank yang dikelola oleh bendahara pengeluaran SKPD; dan

c) Kas di bendahara penerimaan SKPD, yaitu uang tunai/uang logam dan saldo simpanan di bank yang dikelola oleh bendahara penerimaan SKPD.

d) Kas di BLUD, yaitu saldo kas yang dikelola oleh bendahara BLUD baik dalam rekening kas BLUD maupun setara kas.

e) Kas Lainnya, yaitu kas yang tidak termasuk dalam huruf a), b), c), dan d) tersebut di atas. Contoh: Rekening kas untuk mengelola dana BOSNAS.

2) Investasi Jangka Pendek

Investasi jangka pendek antara lain berupa deposito berjangka 3 (tiga) sampai dengan 12 (dua belas) bulan dan surat berharga yang mudah diperjualbelikan. Pengeluaran kas untuk investasi jangka pendek tidak dilaporkan sebagai Belanja maupun pengeluaran Pembiayaan Daerah dalam LRA. Jika pada saat pelepasan terjadi selisih dengan nilai perolehannya, selisih tersebut dicatat pada SiLPA/SiKPA untuk LRA, dan sebagai surplus atau defisit non operasional pada LO.

Investasi jangka pendek harus memenuhi karakteristik:

a) dapat segera diperjualbelikan/dicairkan;

b) investasi tersebut ditujukan dalam rangka manajemen kas, yaitu untuk memanfaatkan kelebihan kas dan Pemerintah Daerah dapat menjual investasi tersebut jika timbul kebutuhan kas; dan

c) berisiko rendah.

3) Piutang

Piutang merupakan hak yang dapat ditagih oleh Pemerintah Daerah dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

Piutang dikelompokkan menjadi:

a) piutang pendapatan, yaitu pendapatan yang seharusnya telah diterima pada tanggal laporan. Contoh : piutang pajak, piutang retribusi, piutang lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah, dan piutang transfer;

b) piutang lainnya, yaitu bagian lancer tagihan dan uang muka. Uang muka merupakan jumlah yang diterima oleh kontraktor sebelum pekerjaan dilakukan dalam rangka kontrak konstruksi; dan

c) beban dibayar di muka, merupakan pengeluaran Belanja yang belum dapat diakui sebagai beban karena Pemerintah Daerah belum mendapatkan manfaat dari pengeluaran Belanja tersebut.

(7)

4) Persediaan

Persediaan merupakan barang dan jasa yang disimpan untuk dijual, digunakan dalam produksi dan penggunaan lain meliputi:

a) barang atau perlengkapan yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional Pemerintahan Daerah dalam 1 (satu) periode Akuntansi; atau

b) barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan kepada pihak ketiga dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan dalam kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam Neraca, tetapi diungkapkan dalam CaLK.

Contoh persediaan meliputi barang pakai habis, amunisi, suku cadang, pita cukai dan leges, barang untuk tujuan cadangan strategis atau berjaga-jaga, bahan baku dan bahan dalam proses produksi,

barang yang akan dijual atau diserahkan kepada masyarakat dan lain-lain.

b. Aset NonLancar, yaitu Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria Aset lancar, mencakup Aset berwujud dan Aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintahan dan/atau pelayanan publik yang memiliki masa manfaat lebih 12 (dua belas) bulan. Aset Nonlancar meliputi:

1) Investasi Jangka Panjang

Pemerintah Daerah memiliki investasi jangka panjang dengan kriteria yaitu:

a) untuk mengendalikan suatu badan usaha, misalnya pembelian surat berharga untuk menambah kepemilikan modal saham pada suatu badan usaha;

b) untuk tujuan menjaga hubungan kelembagaan yang baik dengan pihak lain; atau

c) tanpa dimaksudkan untuk dicairkan dalam memenuhi kebutuhan kas jangka pendek.

Investasi jangka panjang dibedakan menjadi:

a) Investasi nonpermanen, antara lain:

(1) pinjaman jangka panjang;

(2) investasi dalam surat utang negara;

(3) investasi dalam proyek pembangunan; dan (4) investasi nonpermanen lainnya.

b) Investasi permanen, antara lain:

(1) penyertaan modal pemerintah; dan (2) investasi permanen lainnya.

(8)

2) Aset Tetap

Aset Tetap merupakan aset berwujud yang mempunyai masa manfaat untuk digunakan dalam aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik lebih dari 12 (dua belas) bulan, meliputi:

a) Tanah, mencakup Tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap dipakai.

b) Peralatan dan Mesin, mencakup Peralatan dan mesin yang dimiliki dan digunakan dalam kegiatan operasional oleh Pemerintah Daerah, termasuk juga jaringan komputer.

c) Gedung dan Bangunan, mencakup Gedung dan bangunan yang dimiliki dan digunakan dalam kegiatan operasional oleh Pemerintah Daerah, termasuk dalam pengertian gedung dan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut, termasuk juga:

(1) jalan lingkungan yang terletak dalam 1 (satu) komplek bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, yang merupakan suatu kesatuan dengan komplek bangunan tersebut;

(2) kolam renang;

(3) pagar mewah;

(4) tempat olahraga;

(5) galangan kapal, dermaga;

(6) taman mewah;

(7) tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak;

atau (8) menara.

d) Jalan, Irigasi, dan Jaringan, mencakup:

(1) jalan raya;

(2) jembatan;

(3) bangunan air;

(4) instalasi air bersih;

(5) instalasi pembangkit listrik;

(6) jaringan air minum;

(7) jaringan listrik;

(8) jaringan telepon; dan/atau (9) jaringan gas.

(9)

Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, diatas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air.

e) Konstruksi Dalam Pengerjaan, mencakup perolehan dan/atau pembangunan Aset Tetap berupa Tanah, Peralatan Dan Mesin, Gedung Dan Bangunan, Jalan, Irigasi Dan Jaringan, dan Aset Tetap Lainnya (tidak termasuk Aset Tetap Renovasi) yang prosesnya membutuhkan suatu periode waktu tertentu dan belum selesai pada saat tanggal pelaporan.

f) Aset Tetap Lainnya, mencakup Aset Tetap yang tidak termasuk tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan mesin, jalan, jaringan, dan irigasi, maupun Konstruksi Dalam Pengerjaan.

Misalnya koleksi kepustakaan, hewan dan tanaman, Aset Tetap Renovasi, barang bercorak seni budaya, dan sebagainya. Hewan dan tanaman dicatat sebagai Aset Tetap apabila hewan atau tanaman tersebut digunakan berulang kali dan terus menerus selama lebih dari 1 (satu) tahun untuk menghasilkan barang atau jasa lainnya termasuk ternak, sapi perah, domba untuk diambil bulunya, hewan yang digunakan sebagai alat transportasi, atau tanaman peneduh jalan. Aset Tetap Renovasi merupakan biaya renovasi yang memenuhi syarat kapitalisasi atas Aset Tetap Bukan Milik tapi masih dalam lingkup Entitas Pelaporan atau Aset Tetap Bukan Milik di luar Entitas Pelaporan.

Renovasi atas Aset Tetap Bukan Milik terdiri dari :

(1) Renovasi atas Aset Tetap Bukan Milik tapi masih dalam lingkup Entitas Pelaporan seperti Renovasi Aset Tetap Milik Entitas Akuntansi lain.

(2) Renovasi atas Aset Tetap Bukan Milik di Luar Entitas Pelaporan Pemerintah Daerah, seperti Renovasi Aset Tetap milik Pemerintah lainnya atau Renovasi Aset Tetap milik pihak lain selain Pemerintah (Swasta, Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, Yayasan dan lain-lain).

3) Dana Cadangan

Dana Cadangan merupakan dana yang disisihkan selama beberapa tahun anggaran untuk menampung kebutuhan Belanja di masa datang yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam 1 (satu) tahun anggaran.

(10)

4) Aset Lainnya

Aset lainnya merupakan Aset yang memiliki masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan tidak dapat diklasifikasikan sebagai Aset lancar, investasi jangka panjang, Aset Tetap, dan dana cadangan.

Aset lainnya antara lain terdiri dari:

a) Tagihan Jangka Panjang, mencakup tagihan yang akan jatuh tempo dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Neraca.

Sedangkan bagian tagihan yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Neraca dikelompokkan sebagai

piutang (bagian lancar). Selain tagihan tersebut, juga dikategorikan sebagai tagihan jangka panjang, meliputi:

(1) tagihan pinjaman jangka panjang;

(2) tagihan penjualan angsuran; atau (3) tuntutan ganti kerugian daerah.

b) Kemitraan Dengan Pihak Ketiga, mencakup perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih yang mempunyai komitmen untuk

melaksanakan kegiatan yang dikendalikan bersama dengan menggunakan Aset dan/atau hak usaha yang dimiliki. Contoh Kemitraan Dengan Pihak Ketiga mencakup:

(1) sewa;

(2) kerjasama pemanfaatan; dan

(3) bangun serah guna atau bangun guna serah.

Aset Tetap yang digunakan dalam kemitraan dikeluarkan dari kelompok Aset Tetap.

c) Aset Tidak Berwujud, meliputi:

(1) goodwill;

(2) hak cipta;

(3) paten;

(4) lisensi;

(5) franchise; atau (6) software.

d) Aset Lain-Lain, mencakup Aset Lainnya yang tidak dapat dikelompokkan kedalam tagihan jangka panjang, kemitraan dengan pihak ketiga, dan Aset tidak berwujud. Contoh dari Aset Lain-Lain yakni Aset Tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif Pemerintah Daerah.

(11)

2. KEWAJIBAN

Kewajiban disajikan di Neraca dengan urutan berdasarkan saat jatuh tempo. Kewajiban dikelompokkan menjadi:

a. Kewajiban Jangka Pendek, yaitu Kewajiban yang harus diselesaikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban jangka pendek meliputi:

1) Utang Perhitungan Pihak Ketiga

Kewajiban yang muncul akibat pungutan/potongan perhitungan pihak ketiga yang belum disetorkan kepada pihak lain terkait dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai pemotong pajak atau pungutan lainnya.

Perhitungan pihak ketiga menggambarkan kas yang berasal dari jumlah dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar (SPM) atau diterima secara tunai untuk pihak ketiga misalnya potongan Taspen dan Askes.

2) Utang Bunga (Accrued Interest)

Kewajiban yang muncul akibat terdapat beban bunga yang belum dibayarkan.

3) Bagian Lancar Utang Jangka Panjang

Bagian dari utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

4) Pendapatan Diterima Di Muka

Pendapatan diterima di muka merupakan penerimaan kas yang belum dapat diakui sebagai Pendapatan.

5) Utang Belanja

Utang belanja atau utang kepada pihak ketiga (accounts payable) merupakan Kewajiban yang muncul karena Pemerintah Daerah belum menyelesaikan pembayaran atas barang atau jasa yang telah diterima dari pihak ketiga.

6) Utang Jangka Pendek Lainnya (Other Current Liabilities)

Utang jangka pendek selain utang kepada pihak ketiga, utang transfer, utang bunga, utang perhitungan pihak ketiga, utang retensi, dan bagian lancar utang jangka panjang.

b. Kewajiban Jangka Panjang, yaitu Kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.

Klasifikasi Kewajiban Jangka Panjang terdiri dari:

1) Utang Dalam Negeri, antara lain utang sektor perbankan, utang kepada lembaga keuangan bukan bank, obligasi daerah, utang kepada Pemerintah Pusat, utang kepada pemerintah daerah lainnya, utang dalam negeri lainnya.

2) Utang Jangka Panjang Lainnya

3) Kewajiban Jangka Panjang BLUD, yaitu kewajiban yang timbul dalam operasional BLUD

4) Pendapatan Yang Ditangguhkan, yaitu berupa kas yang diterima atas barang/jasa yang belum diserahkan kepada pihak ketiga dalam jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun.

(12)

3. EKUITAS

Ekuitas terinci atas:

a. Ekuitas LO

Ekuitas LO mencakup Surplus/Defisit-LO yang disajikan dalam LO, termasuk koreksi atas kesalahan tahun sebelumnya dan dampak kumulatif perubahan kebijakan atau kesalahan mendasar.

b. Ekuitas Untuk Dikonsolidasikan

Ekuitas untuk dikonsolidasikan berupa akun RK-PPKD pada Entitas Akuntansi. Akun tersebut menampung transaksi timbal balik (reciprocal transaction) antara SKPD dengan PPKD.

C. PENGAKUAN 1. Aset

a. Aset diakui pada saat:

1) potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal;

2) diterima atau kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah yang ditandai dengan adanya legal document yang membuktikan bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum atas Aset tersebut, misalnya sertifikat tanah, bukti pemilikan kendaraan bermotor, atau perjanjian pemanfaatan Aset; dan

b. Pengakuan aset yang berupa Aset Tetap juga harus memenuhi kriteria Aset Tetap yaitu bahwa barang tersebut merupakan:

1) barang berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;

2) diperoleh atau dibangun untuk digunakan dalam aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik dan tidak untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat atau pihak ketiga; dan

3) memenuhi nilai satuan minimum kapitalisasi, yaitu pengeluaran untuk setiap komponen Aset Tetap, dikapitalisasi seluruhnya, kecuali:

a) pengeluaran untuk peralatan dan mesin, termasuk alat olahraga dan alat musik, yang nilai satuannya kurang dari Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

b) pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilai satuannya kurang dari Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).

c) Pengeluaran untuk buku yang nilai satuannya kurang dari Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah).

(13)

c. Aset Tetap yang tidak memenuhi nilai satuan minimun kapitalisasi tidak tersaji di Neraca, dan perlu dikoreksi untuk diakui sebagai beban nonkapitalisasi.

d. Ketentuan pengakuan Aset Tetap dan batas minimum kapitalisasi tersebut di atas juga diterapkan untuk pengeluaran terhadap Aset Tetap setelah perolehan.

e. Aset tetap berupa Konstruksi Dalam Pengerjaan diakui jika:

1) besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa yang akan datang berkaitan dengan aset tersebut akan diperoleh;

2) biaya perolehan tersebut dapat diukur secara andal; dan 3) aset tersebut masih dalam proses pengerjaan.

Dalam hal konstruksi aset tetap pembangunan fisik proyek belum dilaksanakan, namun biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung ke dalam pembangunan proyek telah dikeluarkan, maka biaya-biaya tersebut harus diakui sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan aset yang bersangkutan.

Suatu Konstruksi Dalam Pengerjaan dapat dipindahkan ke pos Aset Tetap yang bersangkutan jika, konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan yang dibuktikan oleh berita acara penyelesaian pekerjaan atau dokumen lain yang dipersamakan, dan konstruksi tersebut telah dapat memberikan manfaat/jasa sesuai tujuan perolehan. Terkait hal tersebut terdapat kondisi yang mempengaruhi pencatatan dalam penyelesaian suatu Konstruksi Dalam Pengerjaan sebagai berikut:

1) Apabila aset telah selesai dibangun, berita acara penyelesaian pekerjaan atau dokumen lain yang dipersamakan sudah diperoleh dan Aset Tetap tersebut sudah dimanfaatkan oleh Perangkat Daerah, Aset Tetap tersebut dicatat sebagai Aset Tetap definitifnya.

2) Apabila Aset Tetap telah selesai dibangun, berita acara penyelesaian pekerjaan atau dokumen lain yang dipersamakan sudah diperoleh, namun Aset Tetap tersebut belum dimanfaatkan oleh Perangkat Daerah, aset tersebut dicatat sebagai Aset Tetap definitifnya.

3) Apabila aset telah selesai dibangun, namun berita acara penyelesaian pekerjaan atau dokumen lain yang dipersamakan belum ada, walaupun Aset Tetap tersebut sudah dimanfaatkan oleh Perangkat Daerah, aset tersebut masih dicatat sebagai Kontruksi Dalam Pengerjaan dan diungkapkan di dalam CaLK.

4) Apabila sebagian dari Aset Tetap yang dibangun telah selesai, dan telah digunakan/dimanfaatkan, bagian yang

digunakan/dimanfaatkan masih diakui sebagai Kontruksi Dalam Pengerjaan.

(14)

5) Apabila suatu Aset Tetap telah selesai dibangun sebagian (konstruksi dalam pengerjaan), karena sebab tertentu (misalnya terkena bencana alam/force majeur) aset tersebut hilang, penanggung jawab aset tersebut membuat pernyataan hilang karena bencana alam/force majeur dan atas dasar pernyataan tersebut Konstruksi Dalam Pengerjaan dapat dihapusbukukan.

6) Apabila berita acara serah terima sudah ada, namun fisik pekerjaan belum selesai, aset tetap tersebut masih diakui sebagai Kontruksi Dalam Pengerjaan.

f. Terhadap Renovasi atas Aset Tetap Bukan Milik tapi masih dalam Lingkup Entitas Pelaporan, Aset Tetap Renovasi pada akhir tahun anggaran diserahkan kepada pemiliknya melalui mekanisme penyerahan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jika dokumen sumber penyerahan tersebut telah diterbitkan, Aset Tetap Renovasi tersebut dikeluarkan dari Neraca dan Perangkat Daerah pemilik mencatat aset dan menambahkannya pada Aset Tetap terkait pada neraca, jika Aset Tetap Renovasi tersebut sampai akhir tahun belum diserahkan kepada Perangkat Daerah pemilik, aset tersebut tetap dicatat pada Aset Tetap Lainnya-Aset Renovasi. Terhadap Renovasi atas Aset Tetap Bukan Milik di luar Entitas Pelaporan Pemerintah Daerah, jika telah selesai penggunaannya dan aset telah diserahkan kembali kepada pihak lain atau entitas pelaporan lain diluar Pemerintah Daerah, Aset Tetap Renovasi tersebut dihapusbukukan dan dihibahkan kepada pemiliknya.

g. Secara umum aset lainnya diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh Pemerintah Daerah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal dan Diterima atau kepemilikannya dan / atau kepenguasaannya berpindah. Aset lainnya yang diperoleh melalui pengeluaran kas maupun tanpa pengeluaran kas dapat diakui pada saat terjadinya transaksi berdasarkan dokumen perolehan yang sah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Aset lainnya yang berkurang melalui penerimaan kas maupun tanpa penerimaan kas, diakui pada saat terjadinya transaksi berdasarkan dokumen yang sah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Setiap kelompok aset lainnya memiliki karakteristik pengakuan dan pengukuran yang khas, yaitu sebagai berikut :

1) Tagihan jangka panjang terdiri atas tagihan penjualan angsuran dan tuntutan ganti kerugian daerah yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan sejak tanggal pelaporan.

(15)

(a) Tagihan Penjualan Angsuran menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari penjualan aset/jasa pemerintah daerah secara angsuran kepada Pihak Ketiga/Aparatur Sipil Negara/Kepala Daerah. Tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo sampai dengan 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan diakui sebagai piutang dalam kelompok aset lancar. Sedangkan tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan diakui sebagai tagihan jangka panjang pada kelompok aset lainnya. Contoh tagihan penjualan angsuran antara lain adalah penjualan kendaraan perorangan dinas kepada kepala daerah, penjualan rumah golongan III dan penjualan rumah susun.

(b) Tagihan Tuntutan Kerugian Daerah adalah sejumlah uang atau barang yang dapat dinilai dengan uang yang harus dikembalikan kepada negara/daerah oleh seseorang atau badan yang telah melakukan perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Tuntutan Ganti Rugi ini diakui ketika putusan tentang kasus TGR terbit yaitu berupa Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian. Tagihan tuntutan kerugian daerah yang jatuh tempo sampai dengan 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan diakui sebagai piutang dalam kelompok aset lancar.

Tagihan tuntutan kerugian daerah yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan diakui sebagai tagihan jangka panjang pada kelompok aset lainnya.

2) Aset Kerjasama/Kemitraan dengan pihak ke-tiga.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan barang milik daerah, Pemerintah Kota Tangeranng Selatan dapat melakukan kemitraan dengan pihak lain dengan prinsip saling menguntungkan sesuai peraturan perundang- undangan. Kerjasama/Kemitraan ini dapat berupa:

(a) Kemitraan dengan Pihak Ketiga-Sewa.

Kemitraan dengan pihak ketiga berupa sewa diakui pada saat terjadi perjanjian kerjasama/kemitraan, yaitu dengan perubahan klasifikasi aset dari aset tetap menjadi aset lainnya kerjasama/kemitraan-sewa.

(b) Pinjam Pakai.

Pinjam Pakai adalah Penyerahan Penggunaan barang antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah atau antar Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada Pengelola Barang.

(16)

(c) Kerja Sama Pemanfaatan (KSP).

Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan daerah dan sumber pembiayaan lainnya.

Kerjasama pemanfaatan diakui pada saat terjadi perjanjian kerjasama/ kemitraan, yaitu dengan perubahan klasifikasi aset dari aset tetap menjadi asset lainnya kerjasama-pemanfaatan.

(d) Bangun Guna Serah (BGS)

Bangun Guna Serah adalah suatu bentuk kerjasama berupa pemanfaatan aset Pemerintah Daerah oleh pihak ketiga/investor, dengan cara pihak ketiga/investor tersebut mendirikan bangunan dan/atau sarana lain berikut fasilitasnya serta mendayagunakannya dalam jangka waktu tertentu, kemudian menyerahkan kembali bangunan dan atau sarana lain berikut fasilitasnya kepada Pemerintah Daerah setelah berakhirnya jangka waktu yang disepakati (masa konsesi). Dalam perjanjian ini pencatatannya dilakukan terpisah oleh masing-masing pihak. BGS dicatat sebesar nilai aset yang dikerjasamakan oleh pemerintah daerah kepada pihak ketiga/investor untuk membangun aset BGS tersebut. Aset yang berada dalam BGS ini disajikan terpisah dari Aset Tetap dan dicatat dalam kelompok aset lainnya.

(e) Bangun Serah Guna (BSG).

Bangun Serah Guna adalah pemanfaatan aset pemerintah daerah oleh pihak ketiga/investor, dengan cara pihak ketiga/investor tersebut mendirikan bangunan dan/atau sarana lain berikut fasilitasnya kemudian menyerahkan aset yang dibangun tersebut kepada pemerintah daerah untuk dikelola sesuai dengan tujuan pembangunan aset tersebut. BSG diakui pada saat pengadaan/pembangunan gedung dan/atau sarana berikut fasilitasnya selesai dan siap digunakan untuk digunakan/dioperasikan sesuai dengan Berita Acara Serah Terima Aset (BAST).

Penyerahan kembali objek kerjasama beserta fasilitasnya kepada Pengelola Barang dilaksanakan setelah berakhirnya perjanjian dituangkan dalam berita acara serah terima barang. Setelah masa pemanfaatan berakhir, tanah serta bangunan dan fasilitas hasil kerjasama/kemitraan ditetapkan status penggunaannya oleh Pengelola Barang. Klasifikasi aset hasil kerjasama/kemitraan berubah dari “Aset Lainnya” menjadi “Aset Tetap” sesuai jenisnya setelah berakhirnya perjanjian dan telah ditetapkan status penggunaannya oleh Walikota.

Dalam hal sebagian dari luas aset kemitraan, sesuai perjanjian, digunakan untuk kegiatan Pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum harus diungkapkan dalam CaLK. Aset kerjasama/kemitraan selain tanah harus dilakukan penyusutan selama masa kerja sama. Masa penyusutan aset kemitraan dalam rangka Bangun Guna Serah (BGS) melanjutkan masa penyusutan aset sebelum direklasifikasi menjadi aset kemitraan. Masa penyusutan aset kemitraan dalam rangka Bangun Serah Guna (BSG) adalah selama masa kerjasama.

(17)

2. Kewajiban diakui pada saat:

1) dana pinjaman diterima; dan/atau

2) Kewajiban timbul sedangkan sumber daya ekonomi untuk penyelesaian Kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal. Timbulnya Kewajiban tersebut ditandai salah satunya adalah dengan adanya pengakuan formal dari pemerintah untuk menanggung suatu Kewajiban yang sudah terukur jumlahnya secara memadai.

3. Ekuitas diakui pada saat penyusunan LPE.

D. PENGUKURAN 1. Aset

Secara umum, aset disajikan sebesar pengeluaran (penggunaan) sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Pengukuran beberapa komponen aset adalah sebagai berikut:

a. Kas Dan Setara Kas dicatat sebesar nilai nominal.

b. Investasi Jangka Pendek dicatat sebesar:

1) nilai perolehan untuk investasi berupa saham atau obligasi jangka pendek;

2) nilai wajar, untuk investasi jangka pendek yang mempunyai pasar aktif disajikan sebesar harga pasar pada saat perolehannya sebagai nilai wajar, sedangkan yang tidak memiliki pasar aktif dapat menggunakan nilai nominalnya; dan

3) nilai rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal Neraca untuk investasi dalam mata uang asing.

Adapun Pendapatan atau hasil yang diperoleh dari investasi jangka pendek disajikan pada LRA dan LO.

c. Piutang dicatat sebesar nilai nominal yang dapat direalisasikan (netrealizable value). Kecuali piutang berupa Beban Dibayar Di Muka, net realizable value dihitung dengan menandingkan nilai nominal piutang dengan penyisihan piutang tak tertagih. Untuk menghitung penyisihan piutang tak tertagihtersebut digunakan metode umur piutang (aging method) dengan memperhatikan ketentuan persentase ketidaktertagihan piutang, sebagai berikut:

UMUR/STATUS PIUTANG LANCAR KURANG

LANCAR DIRAGUKAN MACET KURANG DARI 1 TAHUN 0,5%

1 S.D. 2 TAHUN 10%

LEBIH DARI 2 TAHUN S.D. 5

TAHUN 50%

LEBIH DARI 5 TAHUN 100%

(18)

d. Persediaan dicatat sebesar:

1) biaya perolehan jika diperoleh dengan pembelian;

2) biaya standar jika diperoleh dengan memproduksi sendiri; dan

3) nilai wajar jika diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan dan hewan atau tanaman yang dikembangbiakkan sebelum diserahkan/dijual kepada masyarakat.

Metode yang digunakan untuk mencatat seluruh jenis persediaan adalah metode periodik, di mana jumlah persediaan akhir akan ditentukan dari hasil inventarisasi fisik yang nilainya akan dihitung dengan FIFO method.

e. Investasi Jangka Panjang dicatat sebesar biaya perolehan termasuk biaya tambahan lainnya yang terjadi untuk memperoleh kepemilikan yang sah atas investasi tersebut. Persentase kepemilikan menentukan metode pengukuran yang digunakan, yaitu:

1) Metode biaya untuk kepemilikan kurang dari 20% (dua puluh per seratus). Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Hasil investasi sebesar bagian hasil yang diterima tidak mempengaruhi besarnya nilai perolehan investasi tersebut.

2) Metode Ekuitas untuk:

a) kepemilikan kurang dari 20% (dua puluh per seratus) tetapi mempunyai pengaruh yang signifikan. Pengaruh yang signifikan ditandai dengan kemampuan untuk:

- mempengaruhi komposisi dewan komisaris;

- menunjuk atau menggantikan direksi;

- menetapkan dan mengganti dewan direksi perusahaan investee;

dan

- mengendalikan mayoritas suara dalam rapat/pertemuan dewan direksi.

b) kepemilikan 20% (dua puluh per seratus) atau lebih.

Dengan menggunakan metode Ekuitas, pemerintah mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau rugi Pemerintah Setelah tanggal perolehan.

3) Metode nilai bersih yang direalisasikan untuk kepemilikan bersifat nonpermanen, yaitu untuk kepemilikan yang akan dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat.

(19)

f. Aset Tetap disajikan sebesar nilai tercatat (nilai buku), yaitu sebesar harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan sampai dengan tanggal Neraca/tanggal pelaporan. Unsur-unsur untuk menghitung nilai buku Aset Tetap adalah sebagai berikut:

1) Nilai Perolehan Aset Tetap

Aset Tetap diperoleh melalui beberapa cara yang menentukan besaran nilainya, antara lain:

a) Nilai Aset Tetap yang diperoleh melalui Pembelian/Pembangunan secara swakelola terdiri dari harga belinya atau konstruksinya dan biaya pendukung lainnya hingga Aset tersebut siap digunakan termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung sehingga Aset Tetap tersebut siap digunakan. Oleh karena itu jika terdapat biaya pendukung yang dapat diatribusikan pada penambahan nilai Aset Tetap terlanjur dianggarkan pada selain belanja modal, maka jumlah tersebut harus dimasukkan sebagai komponen harga perolehan Aset Tetap yang bersangkutan. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung antara lain:

(1) biaya persiapan tempat;

(2) biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat (handling cost);

(3) biaya pemasangan (installation cost);

(4) biaya profesional seperti arsitek dan insinyur;

(5) biaya konsultan perencanaan dan konsultan pengawasan;

(6) biaya konstruksi;

(7) biaya perjalanan dinas; dan (8) biaya kepanitiaan.

Jika pengadaan Aset Tetap dilakukan secara lump sum (gabungan), maka nilai perolehan dari masing-masing Aset Tetap yang diperoleh secara gabungan (penganggarannya dalam satu anggaran kegiatan/rincian kegiatan) dihitung dengan menggunakan proporsi nilai wajarnya yang dihitung dengan metode rata-rata tertimbang (weighted average).

Khusus untuk biaya perolehan tanah mencakup harga perolehan atau biaya pembebasan tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya pematangan, pengukuran, penimbunan, biaya perjalanan dinas untuk pengadaan tanah, dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai. Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli tersebut jika bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan. Biaya yang timbul atas penyelesaian sengketa tanah, seperti biaya pengadilan dan pengacara tidak dikapitalisasi sebagai biaya perolehan tanah.

(20)

Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) dicatat dengan biaya perolehan. Biaya perolehan pada konstruksi yang dikerjakan secara swakelola adalah seluruh biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan sampai KDP tersebut siap untuk digunakan, meliputi biaya bahan baku, upah tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan yang ada di atas tanah yang diperuntukkan untuk keperluan pembangunan.

Biaya konstruksi secara swakelola diukur berdasarkan jumlah uang yang telah dibayarkan dan tidak memperhitungkan jumlah uang yang masih diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Biaya perolehan pada konstruksi yang dikerjakan melalui kontrak konstruksi meliputi termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian pekerjaan, kewajiban yang masih harus dibayar kepada kontraktor sehubungan dengan pekerjaan yang telah diterima tetapi belum dibayar pada tanggal pelaporan dan pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi. Klaim dapat timbul, umpamanya, dari keterlambatan yang disebabkan oleh pemberi kerja, kesalahan dalam spesifikasi atau rancangan dan perselisihan penyimpangan dalam pengerjaan kontrak.

Biaya perolehan pada konstruksi yang dibiayai dari pinjaman maka biaya pinjaman yang timbul selama masa konstruksi dikapitalisasi dan menambah biaya konstruksi, sepanjang biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan ditetapkan secara andal.

Biaya pinjaman mencakup biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul sehubungan dengan pinjaman yang digunakan untuk membiayai konstruksi. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tidak boleh melebihi jumlah biaya bunga yang dibayarkan pada periode yang bersangkutan.

Untuk Aset Tetap Renovasi dicatat sebesar biaya yang dikeluarkan untuk biaya renovasi, sedangkan Biaya perawatan sehari-hari untuk mempertahankan suatu aset tetap dalam kondisi normalnya, termasuk di dalamnya pengeluaran untuk suku cadang, merupakan pengeluaran yang substansinya adalah kegiatan pemeliharaan, tidak dikapitalisasi meskipun nilainya signifikan.

b) Nilai perolehan Aset Tetap yang berasal dari hibah dicatat sebesar jumlah yang tercantum dalam dokumen hibah, atau jika tidak ada maka menggunakan nilai wajarnya saat perolehan.

c) Nilai perolehan Aset Tetap yang diperoleh dari pertukaran aset dibedakan sebagai berikut:

(21)

(1) Pertukaran Aset Tetap yang tidak serupa atau dengan aset lainnya, diukur berdasarkan nilai wajar Aset yang diperoleh yaitu nilai ekuivalen atas nilai tercatat (nilai buku) Aset yang dilepas setelah memperhitungkan dengan jumlah setiap Kas Atau Setara Kas dan Kewajiban lain yang ditransfer/diserahkan.

(2) Pertukaran Aset Tetap yang serupa yang memiliki manfaat dan nilai wajar yang serupa, dicatat sebesar nilai tercatat (carrying amount) atas Aset yang dilepas. Dalam keadaan tersebut tidak ada keuntungan dan kerugian yang diakui dalam transaksi ini.

(3) Khusus pertukaran Aset antar SKPD diakui sebesar nilai buku dari Aset yang dipertukarkan dengan memindahkan nilai perolehan dan akumulasi penyusutan dari SKPD asal ke SKPD penerima.

2) Akumulasi Penyusutan

Akumulasi Penyusutan menampung akumulasi beban penyusutan Aset Tetap yang telah terjadi selama masa manfaat Aset Tetap yang sudah dilalui. Beban penyusutan merupakan pengakuan atas penurunan kondisi dan manfaat Aset karena berlalunya waktu atau telah digunakan dalam kegiatan pemerintahan/pelayanan publik dalam 1 (satu) periode. Selain Tanah, Hewan Dan Tanaman, Aset Tetap Renovasi, dan Konstruksi Dalam Pengerjaan, seluruh Aset Tetap disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik Aset tersebut.

Komponen yang harus diperhatikan untuk melakukan penyusutan adalah:

a) Nilai yang dapat disusutkan (depreciable cost)

Bagian dari nilai perolehan yang akan disusutkan selama masa manfaat Aset Tetap.

b) Masa manfaat (useful life)

Masa manfaat yaitu jangka waktu suatu Aset Tetap dapat dimanfaatkan. Ketentuan mengenai masa manfaat Aset Tetap diatur dalam Peraturan Walikota tersendiri.

c) Metode penyusutan yang digunakan

Metode penyusutan yang digunakan untuk melakukan penyusutan adalah metode garis lurus.

3) Pengeluaran Setelah Perolehan

Pengeluaran setelah perolehan awal suatu Aset Tetap yang memenuhi kriteria kapitalisasi Aset Tetap, harus ditambahkan pada nilai tercatat Aset Tetap yang bersangkutan. Kriteria kapitalisasi tersebut mencakup pula persyaratan memenuhi nilai satuan minimum kapitalisasi, yaitu pengeluaran untuk setiap komponen Aset Tetap, dikapitalisasi seluruhnya, kecuali:

(22)

a) pengeluaran untuk peralatan dan mesin, termasuk alat olahraga dan alat musik, yang nilai satuannya kurang dari Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

b) pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilai satuannya kurang dari Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).

c) Pengeluaran untuk buku yang nilai satuannya kurang dari Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah).

4) Penilaian Kembali (revaluation)

Penilaian kembali atas nilai Aset Tetap dapat dilakukan berdasarkan perintah peraturan perundang-undangan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai tercatat Aset Tetap dibukukan dalam Ekuitas.

g. Aset Lainnya.

1) Tagihan Jangka Panjang.

a) Tagihan Penjualan Angsuran.

Tagihan penjualan angsuran dinilai sebesar nilai nominal dari kontrak/berita acara penjualan aset yang bersangkutan.

b) Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah.

Tuntutan ganti rugi dinilai sebesar nilai nominal dalam Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian dengan dokumen pendukung berupa Surat Keterangan Tanggungjawab Mutlak.

2) Kemitraan dengan Pihak Ketiga.

a) Sewa.

Sewa dinilai sebesar nilai nominal dari kontrak/berita acara penjualan aset yang bersangkutan.

b) Kerjasama Pemanfaatan.

Kerjasama pemanfaatan dinilai sebesar nilai bersih yang tercatat pada saat perjanjian atau nilai wajar pada saat perjanjian, dipilih yang paling objektif atau paling berdaya uji.

c) Bangun Guna Serah.

Bangun Guna Serah dicatat sebesar nilai buku aset tetap yang diserahkan oleh Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga/investor untuk membangun aset Bangun Guna Serah tersebut.

d) Bangun Serah Guna.

Bangun Serah Guna dicatat sebesar nilai perolehan Aset Tetap yang dibangun yaitu sebesar nilai Aset Tetap yang diserahkan Pemerintah Daerah ditambah dengan nilai perolehan aset yang dikeluarkan oleh pihak ketiga/investor untuk membangun aset tersebut.

(23)

3) Aset Tidak Berwujud

Aset Tak Berwujud diukur dengan harga perolehan, yaitu harga yang harus dibayar entitas pemerintah daerah untuk memperoleh suatu Aset Tak Berwujud hingga siap untuk digunakan dan mempunyai manfaat ekonomi yang diharapkan dimasa datang atau jasa potensial yang melekat pada aset tersebut akan mengalir masuk ke dalam Entitas Pemerintah Daerah.

Biaya untuk memperoleh Aset Tak Berwujud dengan pembelian terdiri:

a) Harga beli, termasuk biaya import dan pajak-pajak, setelah dikurangi dengan potongan harga dan rabat; dan

b) Setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. Contoh dari biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:

(1) biaya staf yang timbul secara langsung agar aset tersebut dapat digunakan;

(2) biaya profesional yang timbul secara langsung agar aset tersebut dapat digunakan; dan

(3) biaya pengujian untuk menjamin aset tersebut dapat berfungsi secara baik.

Pengukuran Aset Tak Berwujud yang diperoleh secara internal adalah:

(1) Aset Tak Berwujud dari kegiatan pengembangan yang memenuhi syarat pengakuan, diakui sebesar biaya perolehan yang meliputi biaya yang dikeluarkan sejak memenuhi kriteria pengakuan.

(2) Pengeluaran atas unsur tidak berwujud yang awalnya telah diakui oleh Entitas sebagai beban tidak boleh diakui sebagai bagian dari harga perolehan Aset Tak Berwujud di kemudian hari.

(3) Aset Tak Berwujud yang dihasilkan dari pengembangan software komputer, maka pengeluaran yang dapat dikapitalisasi adalah pengeluaran tahap pengembangan aplikasi.

Aset yang memenuhi definisi dan syarat pengakuan Aset Tak Berwujud, namun biaya perolehannya tidak dapat ditelusuri dapat disajikan sebesar nilai wajar.

4) Aset Lain-Lain.

Salah satu yang termasuk dalam kategori dalam aset lain-lain adalah aset tetap yang dimaksudkan untuk dihentikan dari penggunaan aktif Pemerintah Daerah direklasifikasi ke dalam aset lain-lain menurut nilai tercatat/nilai bukunya.

(24)

5) Amortisasi

Terhadap Aset Tak Berwujud dilakukan Amortisasi, kecuali atas Aset Tak Berwujud yang memiliki masa manfaat tak terbatas. Amortisasi adalah penyusutan terhadap Aset Tidak Berwujud yang dialokasikan secara sistematis dan rasional selama masa manfaatnya. Nilai buku Aset Tak Berwujud nilai buku dihitung dengan mengurangkan nilai Amortisasi Aset Tak Berwujud dari nilai perolehannya. Amortisasi dihitung dengan menggunakan metode garis lurus sepanjang masa manfaatnya. Masa manfaat Aset Tak Berwujud diatur dalam Peraturan Walikota tersendiri.

2. Kewajiban

Kewajiban disajikan sebesar nilai nominal pinjaman atau nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi Kewajiban yang bersangkutan pada tanggal pelaporan. Pengukuran untuk masing-masing item disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis kewajibannya.

a. Kewajiban Jangka Pendek

1) Utang perhitungan pihak ketiga disajikan sebesar potongan untuk pihak ketiga seperti potongan pajak, potongan Taspen, atau potongan Askes yang belum disetorkan kepada pihak ketiga terkait.

2) Utang Bunga dicatat sebesar beban bunga yang belum dibayarkan.

3) Bagian dari utang jangka panjang disajikan sebesar porsi yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

4) Pendapatan diterima di muka disajikan sebesar penerimaan Kas yang belum dapat diakui sebagai Pendapatan.

5) Utang belanja atau utang kepada pihak ketiga (accounts payable) sebesar pembayaran atas barang atau jasa yang seharusnya diberikan kepada pihak ketiga.

6) Utang jangka pendek lainya dicatat sebesar jumlah selain utang kepada pihak ketiga, utang transfer, utang bunga, utang perhitungan pihak ketiga, dan bagian lancar utang jangka panjang.

b. Kewajiban Jangka Panjang

1) Utang sektor perbankan atau utang kepada lembaga keuangan bukan bank dicatat sebesar nilai nominal dari Kewajiban.

2) Obligasi Daerah dicatat sebesar nilai nominal dikurangi/ditambah dengan unamortized discount/premium sehingga diketahui nilai buku (carrying amount) dari obligasi tersebut. Amortisasi diskonto/premi obligasi dilakukan dengan metode garis lurus.

3) Utang jangka panjang lainnya dicatat sebesar nilai nominal atau nilai jatuh tempo tergantung pada jenis utangnya.

3. Ekuitas

Ekuitas disajikan sebesar selisih Aset dengan Kewajiban.

(25)

E. PENGHAPUSAN ASET TETAP.

Suatu aset harus dihapuskan dari Neraca jika dihentikan penggunaannya karena tidak digunakan lagi, hilang, rusak, dihibahkan, dijual, atau sudah selesai masa manfaatnya. Penghapusan pada level Perangkat Daerah (Entitas Akuntansi) dapat berupa penghapusan Aset Tetap karena dialihkan penggunaannya dari satu Perangkat Daerah kepada Perangkat Daerah lain.

Penghapusan Aset harus berdasarkan surat keputusan penghapusan dari pejabat yang berwenang. Oleh karena itu Aset Tetap yang sudah tidak digunakan tetapi belum terdapat keputusan penghapusan direklasifikasi sebagai Aset Lain-Lain. Nilai Aset Tetap dihapuskan sebesar nilai bukunya saat penghapusan dilaksanakan.

Konstruksi Dalam Pengerjaan termasuk biaya perolehan yang beratribusi langsung pada kontruksi tersebut, dapat dihentikan pembangunannya oleh karena ketidaktersediaan dana, kondisi politik, ataupun kejadian-kejadian lainnya. Penghentian Konstruksi Dalam Pengerjaan dapat berupa penghentian sementara dan penghentian permanen. Apabila suatu Konstruksi Dalam Pengerjaan dihentikan pembangunannya untuk sementara waktu, maka Konstruksi Dalam Pengerjaan tersebut tetap dicantumkan ke dalam Neraca dan kejadian ini diungkapkan secara memadai di dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Terhadap Konstruksi Dalam Pengerjaan yang direncanakan untuk dihentikan secara sementara, saldo konstruksi dalam pekerjaan direklasifikasi ke Aset Lainnya dan diungkap secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan, Terhadap Konstruksi Dalam Pengerjaan yang direncanakan untuk dihentikan secara sementara, saldo konstruksi dalam pekerjaan direklasifikasi ke Aset Lainnya dan diungkap secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan, apabila pembangunan Konstruksi Dalam Pengerjaan direncanakan untuk dihentikan pembangunannya secara permanen, maka saldo Konstruksi Dalam Pengerjaan tersebut harus dikeluarkan dari neraca, dan kejadian ini diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Keputusan Walikota penghentian Konstruksi Dalam Pengerjaan secara sementara atau Permanen dan Keputusan Walikota penghapusan Barang Milik Daerah menjadi dasar reklasifikasi Konstruksi Dalam Pengerjaan ke aset lainnya atau penghapusan Konstruksi Dalam Pengerjaan dari neraca.

Persyaratan dan Tata Cara penghentian Konstruksi Dalam Pengerjaan secara sementara atau permanen diatur dengan Peraturan Walikota.

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Sebaiknya terdapat laporan internal yang dibuat oleh ketua tim proyek mengenai aktivitas apa saja yang dilakukan selama pengerjaan proyek sehingga kepala teknis

Dengan adanya teknologi yang dapat memanfaatkan cahaya tampak (visible light) sebagai media komunikasi, seseorang tidak harus lagi membeli sebuah access point untuk menerima

Setelah Narapidana menjalani proses masa tahanan sejak dari masuknya hingga ½ masa tahanan dan mengikuti berbagai prosedur pembinaan dalam Lembaga

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terapi Psikoreligius berpengaruh terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien Skizofrenia di RSJD Surakarta, Ada perbedaan

Untuk staf produksi hanya dapat melakukan input-an proyek, item (yang berupa barang atau jasa) dan orang-orang yang terlibat dalam proyek (bekerjasama dengan

1) Entitas mengakui persediaan ketika diperoleh, sebesar biaya perolehan. 2) Biaya perolehan perediaan mencakup seluruh biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lainnya

Yang seharusnya dari seluruh nilai tersebut sudah termasuk biaya- biaya yang terjadi dalam perolehan aset tersebut diakumulasikan dengan nilai perolehan aset tetap

Penelitian berfokus pada dua permasalahan, yakni (1) ideologi Kesadaran Kelas dalam novel Cinta untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya di Wajahnya Karya Say Fullan