• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI MIKA PERAWATI TAMPUBOLON. Public Relations

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI MIKA PERAWATI TAMPUBOLON. Public Relations"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

dalam Mempromosikan Objek Wisata Rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara)

SKRIPSI

MIKA PERAWATI TAMPUBOLON 160904007

Public Relations

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

MEDAN

(2)

STRATEGI KOMUNIKASI DINAS PARIWISATA (Studi Kualitatif tentang Strategi Komunikasi Dinas Pariwisata

dalam Mempromosikan Objek Wisata Rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

MIKA PERAWATI TAMPUBOLON 160904007

Public Relations

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

MEDAN

2020

(3)
(4)
(5)

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia di proses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Mika Perawati Tampubolon

NIM : 160904007

Tanda Tangan :

Tanggal : 26 Juni 2020

(6)

rahmat dan karunia-Nya sehinga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah (skripsi) dengan judul Strategi Komunikasi Dinas Pariwisata (Studi Kualitatif tentang Strategi Komunikasi Dinas Pariwisata dalam Mempromosikan Objek Wisata Rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara) sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sumatera Utara (USU).

Skripsi ini merupakan hasil dari ilmu yang penulis peroleh selama mengikuti proses perkuliahan dan selama proses penyelesaian skripsi. Skripsi ini dipersembahkan oleh penulis untuk kedua orang tua penulis, Ayahanda Marihot Tampubolon dan Ibunda Betti Nababan yang telah memberi dukungan moril maupun materil yang bermanfaat bagi penulis. Keempat saudara kandung penulis Martua, Pandapotan, Evilia, dan Martin yang menjadi penyemangat untuk penulis dapat segera menyelesaikan kuliah. Penulis mendapat banyak bantuan dan kontribusi baik berupa materi, pikiran, motivasi, serta dukungan semangat dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D selaku ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan ilmu sangat besar dalam membantu proses penyelesaian skripsi ini dan telah meluangkan waktu disela-sela kesibukannya.

(7)

Sumatera Utara

5. Kak Maya dan Kak Yanti sebagai Staff Admnistrasi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang sudah membantu dalam proses administrasi.

6. Para informan yang telah meluangkan waktu untuk diwawancarai oleh penulis yaitu Bapak Binhot Aritonang, Ibu Lusperia Sinaga. Bapak Estomihi P Sihombing, Bapak Managam Panggabean, Bapak Tulus, Bapak Marihot, dan Abangda Jon Piter Sihombing.

7. Sekretaris Dinas Pariwisata Bapak Tutur Simanjuntak yang telah membantu peneliti dalam melakukan penelitian di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Utara.

8. Teman seperjuangan penulis Agus Damanik, Mona Sianturi, Putri Febriani Pohan, Feronika Simanjuntak, Emma Ayu Kardina, dan Widya Safira Ningsih yang telah mendukung dan memberikan warna selama penulis kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

9. Teman satu bimbingan skripsi yaitu Mona, Rima, Diana, Fira,dan Citra yang telah memberi semangat dan dukungan kepada peneliti.

10. Seluruh keluarga besar Ilmu Komunikasi Stambuk 2016 yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini belum mencapai kesempurnaan, maka dari itu dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran guna membangun penyempurnaan skripsi ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Medan,26 Juni 2020 Penulis

(8)
(9)

tentang Strategi Komunikasi Dinas Pariwisata dalam Mempromosikan Objek Wisata Rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis strategi komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dalam mempromosikan objek wisata rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara). Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan promosi objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara serta solusi dalam mengatasi hal-hal tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang diarahkan untuk mendeskripsikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat penelitian serta menganalisis kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik accidental sampling dan snowball sampling dalam mengumpulkan informan. Pembahasan dianalisis melalui hasil wawancara serta menggunakan interpretasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang, dimana empat orang merupakan pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Utara, satu orang pelaku ekonomi kreatif di objek wisata rohani Salib Kasih, dan dua orang pengunjung yang pernah berkunjung ke objek wisata rohani Salib Kasih dalam tiga tahun terakhir. Dari hasil penelitian di lapangan, peneliti menemukan bahwa strategi komunikasi yang sudah digunakan oleh Dinas Pariwisata adalah iklan, promosi penjualan, dan pemasaran langsung.Selain itu, baik permerintah maupun masyarakat melakukan upaya promosi melalui mulut ke mulut, dan ini adalah promosi yang paling efektif berhasil dilaksanakan.

Kata Kunci: Komunikasi Pariwisata, Strategi Komunikasi, Bauran Promosi

(10)

Study of the Communication Strategy of the Tourism Office in Promoting Spiritual Tourism Objects of the Salib Kasih in North Tapanuli Regency). The purpose of this research is to find out and analyze the communication strategy carried out by the Department of Tourism in promoting the spiritual attraction of the Salib Kasih in North Tapanuli Regency). This study also aims to determine the factors that support and hinder the implementation of the promotion of the spiritual tourism object of the Cross of North Tapanuli District and the solutions to overcome these things. This study uses descriptive qualitative research methods, namely research directed to describe the symptoms, facts or events systematically and accurately about the nature of research and analyze its truth based on data obtained. Data collection techniques using observation techniques and in-depth interviews. In this study, researchers used accidental sampling and snowball sampling techniques in gathering informants. The discussion is analyzed through the results of the interview and using interpretation.

There were seven informants in this study, four of whom were employees of the North Tapanuli Regency Tourism Office, one creative economic actor in the spiritual attraction of the Salib Kasih, and two visitors who had visited the spiritual attraction of the Salib Kasih in the last three years. From the results of research in the field, researchers found that the communication strategies that have been used by the Office of Tourism are advertising, sales promotion, and direct marketing. In addition, both the government and the community make promotional efforts by word of mouth, and this is the most effective promotion to succeed implemented.

Keywords: Tourism Communication, Communication Strategy, Promotion Mix

(11)

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... iv

KATA PENGANTAR ... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAKSI ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1

1.2 Fokus Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian ... 11

2.2 Kajian Pustaka ... 14

2.2.1 Komunikasi Pariwisata... 16

2.2.1.1 Fungsi dan Tujuan Komunikasi ... 21

2.2.2 Strategi Komunikasi ... 22

2.2.2.1 Promosi ... 24

2.2.2.2 Bauran Promosi/ Promotion Mix ... 29

2.2.2.3 New Media Sebagai Media Promosi ... 38

2.2.3 Pariwisata ... 41

2.2.3.1 Ciri-Ciri Pariwisata ... 42

2.2.3.2 Jenis-jenis Pariwisata ... 43

2.2.3.3 Bentuk-bentuk Pariwisata ... 44

2.2.4 Objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara ... 46

2.4 Model Teoritik ... 50

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 52

3.2 Objek Penelitian ... 53

3.3 Subjek Penelitian ... 54

(12)

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 106

5.2 Saran Penelitian ... 108

5.3 Saran Dalam Kaitan Akademis ... 109

5.4 Saran Dalam Kaitan Praktis ... 109

DAFTAR REFERENSI ... 110 LAMPIRAN

(13)

Tabel Judul Halaman 2.1 Unsur-Unsur yang Mendapat Perhatian Calon 26 Wisatawan Sebelum Mengambil Keputusan Untuk

Melakukan Perjalanan Wisata

2.2 Daftar Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Objek 47 Wisata Rohani Salib Kasih 4.1 Data Informan 66

(14)

Gambar Judul Halaman

2.1 Proses Komunikasi 19

2.2 Model Teoritik 50

3.1 Kerangka Analisis 56

4.1 Contoh Booklet dan Leaflet yang disediakan Dinas Pariwisata 71 4.2 Acara Tahunan Gebyar Tapanuli 2018 dan 2019 75

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah

Komunikasi merupakan sebuah proses yang memiliki banyak langkah terpisah tetapi saling berhubungan sepanjang waktu. Komunikasi manusia adalah proses melalui mana individu dalam hubungan, kelompok, organisasi, dan masyarakat membuat dan menggunakan informasi untuk berhubungan satu sama lain dan dengan lingkungannya. Kita menciptakan dan menafsirkan pesan sebagai pribadi dan sebagai bagian dari hubungan, kelompok, organisasi, dan masyarakat adalah untuk mengaitkan diri kita dengan lingkungan orang-orang di sekitar kita.

Secara umum, komunikasi bukan saja aktivitas manusia secara alamiah, namun juga perilaku manusia dalam memenuhi sistem sosial dan ekonomi mereka. Dengan kata lain, komunikasi adalah strategi dalam menjalankan sistem sosial dan mata pencaharian. Keberhasilan komunikasi adalah memengaruhi orang dalam kehidupan, sebaliknya kendala dan kegagalan komunikasi akan mempengaruhi orang dan masyarakat dalam memenuhi keberhasilan hidup. Luasnya lingkup pengalaman dan pengetahuan dari perilaku komunikasi dapat mempengaruhi proses penyampaian simbol-simbol komunikasi sehingga dapat mengganggu penyampaian pesan komunikasi, maka akan menimbulkan kesan komunikasi yang berbeda-beda (Kennedy & Soemanagara, 2006).

Bidang ilmu komunikasi terus berkembang dari waktu ke waktu, dan penggunaannya dalam berbagai bidang lain juga terus dikembangkan, salah satunya adalah dalam bidang pariwisata. Komunikasi pariwisata merupakan pengembangan ilmu komunikasi dalam bidang pariwisata. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pariwisata memiliki potensi sebagai salah satu sarana komunikasi. Pemahaman dan pengertian tentang komunikasi pariwisata harus dimulai dari memahami definisi dari pariwisata. Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) menjelaskan konsep pariwisata

(16)

dan turisme. Konsep komunikasi sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses pemindahan dan pengertian dari suatu makna dari pengirim kepada penerima pesan, dimana penerima pesan dapat memberikan umpan balik kepada pengirim pesan.

Komunikasi pada dasarnya merupakan proses penyampaian pesan baik secara pernyataan ataupun lambang lambang bermakna untuk memberitahu, mengubah sikap atau prilaku seseorang kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.

. Pariwisata sudah menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, apalagi dengan kemajuan teknologi dan transportasi yang dapat memudahkan seseorang untuk berpergian kemanapun dengan mudah dan cepat. Dengan kekayaan yang dimiliki, Indonesia menjadi salah satu destinasi favorit untuk dikunjungi para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk menyampaikan potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia tentu dibutuhkan strategi komunikasi yang baik melalui komunikasi pariwisata

Pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan maksud bukan untuk mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut. Dari dua definisi ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi pariwisata adalah suatu aktivitas manusia dalam menyampaikan informasi tentang perjalanan ke suatu daerah maupun objek wisata yang akan dikunjungi wisatawan sambil menikmati perjalanan dari suatu objek wisata ke objek wisata lain, agar wisatawan tertarik. Saat seseorang melakukan kegiatan pariwisata, maka orang tersebut melakukan perjalanan mengunjungi beragam tempat dan bertemu dengan beragam orang. Saat pertemuan itu terjadi, maka saat itu pula berlangsung proses komunikasi antara pendatang (wisatawan) dengan penduduk setempat. Melalui komunikasi yang terjadi tersebut, masing-masing pihak belajar mengenai kebudayaan masing-masing dan belajar untuk menghargai dan saling mengerti tentang

(17)

kebudayaan masing-masing. Interaksi antara wisatawan dengan penduduk lokal ini dapat terjadi dalam beragam bentuk, mulai dari perbincangan sederhana sampai pada transaksi dagang yang melibatkan kedua belah pihak.

Indonesia adalah salah satu negara paling kaya akan seni dan budaya.

Keanekaragaman adat, budaya, suku dan tradisi yang dimiliki Indonesia, membuat banyak wisatawan lokal maupun mancanegara tertarik untuk singgah dan melancong ke tanah air.. Potensi tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki berbagai keanekaragaman flora dan fauna, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, sumber daya alam yang melimpah serta seni dan budaya yang semuanya itu merupakan sumber daya dan modal utama bagi usaha pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. Modal tersebut harus dimanfaatkan secara optimal melalui penyelenggaraan kepariwisataan yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat

Sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang paling cepat untuk mendorong pembangunan nasional di Indonesia, hal itu disebabkan karena pada saat ini wisata bukan hanya dijadikan sebagai keinginan semata tetapi telah menjadi kebutuhan, dapat dilihat dari tingginya minat berwisata para wisatawan, sehingga hal tersebut dapat menjadikan industri pariwisata dapat berkembang dengan cepat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya saat Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia (Masata) di Aruba Room The Kasablanka, bahwa selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, sektor pariwisata berkembang signifikan. Indonesia memiliki ribuan destinasi, baik yang sudah populer namanya maupun yang masih belum digarap optimal. Apalagi pembangunan infrastruktur terus digalakkan, maka bukan tidak mungkin dunia pariwisata akan menjadi andalan baru bagi pemasukan negara.(www.kemenpar.go.id)

Pariwisata Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan ke depannya bukan hanya sebagai prioritas penghasil devisa namun pariwisata akan melaju menjadi

(18)

andalan utama devisa negara. Sejalan dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan Menteri Pariwisata, Arief Yahya juga menetapkan pariwisata sebagai core economy Indonesia.(www.portonews.com)

Pengembangan pariwisata merupakan salah satu cara dalam pengembangan suatu kawasan atau daerahnya. Pengembangan pariwisata ini tidak terlepas dari keberadaan sumber daya alam maupun sumber daya buatan sebagai potensi daerah yang dimilikinya. Kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang strategis. Vellas dan Becheral (2008) menyatakan bahwa secara umum semakin luas suatu wilayah atau kawasan, semakin sulit memasarkannya. Tidak saja karena kesulitan komponen destinasi tetapi karena sifat dari organisasi yang melaksanakan pemasaran. Organisasi pemasaran jarang yang mempunyai kuasa untuk mengendalikan seluruh unsur produk dan pelayanan kecuali dalam destinasi yang berskala kecil. Organisasi pemasaran yang dianggap atau telah menjalani pemasaran sangat beragam, seperti; pengusaha pemilik swasta tunggal dan ganda, badan pemerintah dari pemerintahan wiayah dan negara, mitra usaha sektor pemerintah atau swasta (misalnya, organisasi pariwisata domestic), kerja sama badan pemasaran destinasi (misalnya, ETC, RETOSA,Scandinavia, Caribian).

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung di Sumatera Utara melalui 4 (empat) pintu masuk pada periode Januari-Desember 2019 mencapai 260.331 kunjungan, mengalami kenaikan dibanding tahun 2018 yaitu 236.276 kunjungan. Periode Januari-Desember 2017, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di Sumatera Utara mengalami kenaikan dibanding tahun 2016, yaitu dari 233.643 kunjungan menjadi 261.736 kunjungan. Sedangkan untuk periode Januari- Desember 2015, jumlah kunjungan wisatawan sebesar 229.288 kunjungan.(sumut.bps.go.id)

(19)

Salah satu daerah kawasan stategis pariwisata yang memiliki wilayah di sektor pariwisata adalah Kabupaten Tapanuli Utara, dimana Kabupaten ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara yang memiliki potensi tidak kalah menarik dengan daerah tujuan wisata lainnya di Indonesia. Kabupaten Tapanuli Utara yang beribukota di Tarutung memiliki cukup banyak objek pariwisata, mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata religi dan berbagai jenis wisata lain. Karena itu tidak salah jika kabupaten yang merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara ini menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber potensial dalam mengeruk PAD (Pendapatan Asli Daerah). Salah satu objek wisata yang menjadi land mark di daerah ini adalah objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara.

Objek wisata rohani Salib Kasih terletak di Kecamatan Siatas Barita, dimana objek Wisata Salib Kasih ini merupakan tempat beristirahat pertama dari Missionaris Nommensen setelah sampai di Rura Silindung pada 11 November 1863. Sejarah berdirinya Salib Kasih dimulai pada tahun 1985. HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) bekerjasama dengan gereja Nordstand Jerman, telah mendirikan sebuah salib diatas bukit Siatas Barita, tepatnya di atas sebuah batu tempat Nommensen berdoa. Salib ini berukuran kecil, kemudian menjadi cikal bakal berdirinya salib besar yang sekarang disebut dengan Salib Kasih. Objek wisata ini banyak diminati dan ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal terutama pada hari-hari besar Agama Kristen dan libur nasional. Lokasi dengan luas kurang lebih 7 hektar ini ditata dengan taman rekreasi, kapel-kapel kecil untuk berdoa, serta open stage yang menjadi panggung utama untuk para pengunjung yang bisa digunakan untuk kebaktian ataupun sekedar ingin melihat pemandangan kearah Rura Silindung.(www.pedomanwisata.com)

. Pariwisata jika dikelola secara optimal, maka akan dapat menambah pendapatan negara serta dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Begitu pun dengan objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara. Namun persoalannya

(20)

adalah bagaimana memperkenalkan potensi pariwisata yang dimiliki?. Untuk itu strategi komunikasi sangat di perlukan dalam penyampaian promosi objek wisata rohani Salib Kasih. Strategi komunikasi bukanlah proses yang pasif, yang berorientasi pada sumber yang bertujuan untuk menyampaikan pesan yang paling tepat untuk publik atau menginformasikan kepada masyarakat, tetapi proses komunikasi yang aktif dan melibatkan publik. Strategi komunikasi bertujuan untuk meyakinkan opini publik juga membentuk sikap dan perilaku masyarakat (Seyitoglu

& Yuzbasioglu, 2015). Dalam hal ini, komunikasi menjadi sangat penting untuk memulai jalannya suatu program atau kegiatan. Ada elemen-elemen penting komunikasi yang harus diperhatikan saat merencanakan sebuah strategi komunikasi, yakni komunikator (sumber), pesan, media (sistem), dan penyampai, tujuan atau sasaran (Bungin,2015).

Strategi komunikasi digunakan sebagai alat untuk mengubah perilaku dan diperlukan perencanaan dalam mencapai tujuan strategi komunikasi tersebut. Dalam rangka membangun komunikasi yang efektif diperlukan tindakan yang terorganisasi dalam menyampaikan pesan. Pemerintah setempat dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Utara merupakan penanggung jawab dalam mempromosikan objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara. Pengembangan wisata perlu dukungan dalam berbagai cara termasuk meningkatkan kesadaran diantara penyedia jasa dan produk pariwisata, mendukung dalam mengembangkan produk dan jasa wisata, serta terlibat dalam pemasaran salah satunya melalui promosi.

Perbaikan demi perbaikan tentunya dilakukan pemerintah untuk kembali menarik minat wisatawan untuk kembali mengunjungi Salib Kasih. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Tapanuli Utara, pengunjung akan lebih ramai pada bulan Januari, Juni, Juli,dan Desember. Selama Juni 2019, jumlah kunjungan wisatawan ke Salib Kasih mengalami kenaikan sebesar 30 persen dari bulan sebelumnya. Pada bulan Mei tercatat sebanyak 2.717 kunjungan sementara bulan Juni mencapai 5.900 kunjungan.

(21)

Sementara hal ini dipengaruhi oleh hari libur seperti libur awal tahun, akhir tahun, dan hari-hari besar lainnya.

Dinas Pariwisata Tapanuli Utara harus memperhatikan aspek komunikasi yang tepat dalam merencanakan dan melaksanakan promosi agar informasi mengenai objek wisata rohani Salib Kasih ini dapat sampai ke masyarakat hingga akhirnya menarik pengunjung untuk datang. Seperti objek wisata lainnya, objek wisata rohani Salib Kasih membutuhkan suatu strategi komunikasi yang terumuskan secara komperehensif agar pesan dan informasi mengenai objek wisata rohani ini dapat sampai pada target pengunjung secara efektif dan efesien.

Penerapan strategi komunikasi objek wisata rohani Salib Kasih oleh Dinas Pariwisata Tapanuli Utara ini dapat dilakukan melalui aktivitas promosi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, aktivitas komunikasi pemasaran dalam bentuk promosi merupakan aspek yang penting, sehingga seberapapun uniknya potensi di objek wisata rohani Salib Kasih, tidak akan dikenal masyarakat apabila tidak dipromosikan dengan tepat dan maksimal. Strategi promosi ini juga penting dilakukan, karena sektor pariwisata saat ini merupakan industri yang kompetitif. Dalam industri pariwisata yang berkembang pesat, persaingan menjadi semakin tinggi, sehingga strategi promosi destinasi wisata semakin penting peranannya (Chandra dan Menezes, 2001). Rehman dan Ibrahim (2001) menyebutkan bahwa program komunikasi pemasaran sangat erat dan berhubungan dengan adanya perubahan pola konsumsi, teknik promosi, dan persaingan usaha. Dalam promosi yang dilakukan, Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Utara bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan produk yang dimiliki objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara.

Oleh karena itu promosi harus dilakukan melalui media komunikasi yang efektif, sebab orang-orang yang menjadi sasaran promosi mempunyai selera dan keinginan yang berbeda.

(22)

Promosi objek wisata rohani Salib Kasih dapat dilakukan dengan menggunakan bauran promosi, dimana bauran promosi merupakan gabungan dari berbagai jenis promosi yang ada untuk suatu produk yang sama agar hasil dari kegiatan promosi yang dilakukan dapat memberikan hasil yang maksimal. Sebelum melakukan promosi sebaiknya dilakukan perencanaan matang yang mencakup bauran promosi. Pada hakekatnya sektor pariwisata Indonesia berharap dapat menggaet kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal yang besar, begitu juga dengan objek wisata rohani Salib Kasih. Disisi lain kedatangan wisatawan ke objek wisata rohani Salib Kasih pada dasarnya tidak terlepas dari promosi yang dilakukan.

Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi juga menjadi langkah yang dipandang tepat untuk mendatangkan wisatawan ke objek wisata.

Perkembangan teknologi di bidang komunikasi saat ini banyak membantu manusia di berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalam dunia pariwisata.. Salah satu kemajuan teknologi di bidang komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk penyediaan informasi dan promosi kepariwisataan adalah internet lewat fenomena penyampain pesan di media sosial. Internet merupakan salah satu alternatif yang dikembangkan dan dipandang efektif dalam melakukan promosi. Dengan kehadiran internet tersebut akan mempermudah Dinas Pariwisata dalam melakukan promosi, selain biaya yang tidak terlalu besar, promosi yang dilakukan melalui internet juga bisa menjangkau khalayak yang luas. Saat ini telah berkembang promosi, pemasaran, dan penjualan produk pariwisata serta memanfaatkan teknologi informasi. Pariwisata berbasis teknologi informasi dipandang sebagai salah satu cara yang sangat efektif di dalam memperkenalkan pariwisata suatu daerah atau negara. Hal ini disebabkan karena teknologi informasi saat ini sudah dianggap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal inilah yang menarik peneliti untuk mengetahui bagaimana “Strategi Komunikasi Dinas Pariwisata dalam Mempromosikan Objek Wisata Rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara”.

(23)

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan penelusuran mengenai strategi komunikasi yang digunakan pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dalam promosi objek wisata rohani Salib Kasih.

1.2 Fokus Masalah

Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan di atas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan Dinas Pariwisata dalam mempromosikan objek wisata rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara?”.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui dan menganalisis strategi komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dalam mempromosikan objek wisata rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara.

2. Mengetahui faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan promosi objek wisata rohani Salib Kasih Kabupaten Tapanuli Utara.

3. Mengetahu faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan promosi objek wisata rohani Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara serta solusi dalam mengatasi hal-hal tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam menambah referensi penelitian yang berguna di lingkungan FISIP USU khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi dalam bidang kajian Komunikasi Pariwisata.

(24)

2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat mendukung penelitian sebelumnya serta mampu menerapkan teori dan ilmu yang sudah didapat selama menjadi mahasiswa di Ilmu Komunikasi FISIP USU.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dan kontribusi bagi pihak yang membutuhkan pengetahuan terhadap masalah yang berhubungan dengan strategi komunikasi dalam mempromosikan objek wisata.

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian

Peneliti memiliki cara pandang tertentu dalam sebuah penelitian baik dalam objek, masalah atau peristiwa yang sedang terjadi. Paradigma merupakan perspektif riset yang digunakan peneliti yang berisi bagaimana peneliti melihat realita, bagaimana mempelajari fenomena, cara-cara yang digunakan dalam penelitian dan cara-cara yang digunakan dalam menginterpretasikan temuan. Paradigma penelitian menentukan masalah apa yang dituju dan tipe penjelasan apa yang dapat diterimanya (Kuhn, 1970) (http:www.eprints.undip.ac.id) .Paradigma atau paradigm (Inggris) atau paradigm (Perancis), istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti di samping, di sebelah dan deigma berarti memperlihatkan, yang berarti model, contoh, arkatipe, ideal.. Deigma dalam bentuk kata kerja berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Paradigma adalah satu set asumsi, konsep dan nilai-nilai dan praktek dan cara pandang realitas dalam disiplin ilmu.

Paradigma merupakan cara pandang atau pola pikir komunitas ilmu pengetahuan atas peristiwa, realitas, ilmu pengetahuan yang dikaji, diteliti, dipelajari, dipersoalkan, dipahami, dan untuk dicarikan pemecahan persoalannya. Paradigma adalah seperangkat asumsi tersurat dan tersirat yang menjadi gagasan-gagasan ilmiah (ihalauw, 2004). Lebih lanjut dijelaskan bahwa paradigma bukan masalah benar atau salah, melainkan lebih memberikan manfaat atau kurang bermanfaat sebagai sebuah cara pandang terhadap sesuatu. Paradigma akan mempengaruhi pandangan seseorang atau komunitas apa yang adil atau tidak adil, apa yang baik dan tidak baik (Fakih, 2002). Dengan demikian, paradigma sangat berpengaruh terhadap teori dan analisis yang dianut seseorang atau komunitas dalam mengambil kebijakan dan keputusan.

Paradigma sebagai suatu kerangka berpikir berpengaruh terhadap persepsi seseorang yang berujung kepada memberikan tindakan. Begitu halnya dengan

(26)

yang berujung mempengaruhi hasil penelitian. Paradigma memberikan kerangka bagaimana seseorang memandang suatu realitas. Menurut Alwasilah (2002: 78), apa yang kita perbuat (termasuk kegiatan penelitian) tidak mungkin terjadi tanpa merujuk pada paradigma. Selain berperan sebagai rujukan dan sudut pandang, paradigma juga berperan sebagai pembatas ruang dan gerak peneliti. Egon G. Guba membuat klasifikasi paradigma penelitian sosial menjadi tiga aspek yaitu ontology (apa yang ingin diketahui), epistemology (bagaimana sesuatu bisa diketahui), dan metodologi (bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu). Ontology dan epistemology menciptakan cara pandang menyeluruh tentang bagaimana pengetahuan diperoleh dari penelitian kita nantinya. Sedangkan metodologi adalah strategi yang kita gunakan untuk memperoleh pengetahuan itu nantinya. Namun pada umumnya, paradigma penelitian sosial jatuh pada tiga paradigma saja; positivis, konstruktivis, dan pragmatis.

Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009:107). Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana.

Teori konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu kontruksi pribadi atau kontruksi personal (personal construct) oleh George Kelly. Ia menyatakan bahwa orang memahami pengalamannya dengan cara mengelompokkan

(27)

berbagai peristiwa menurut kesamaannya dan membedakan berbagai hal melalui perbedaannya. Paradigma konstruktivisme ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif. Dengan demikian, realitas yang sama bisa ditanggapi, dimaknai dan dikonstruksi secara berbeda-beda oleh semua orang. Karena, setiap orang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu, dimana kesemua itu suatu saat akan digunakan untuk menafsirkan realitas sosial yang ada disekelilingnya dengan kontruksinya masing-masing.

Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang. Seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada diantara teori fakta sosial dan defenisi sosial (Eriyanto 2004:13). Teori Konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran.

Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Dalam paradigma konstruktivisme Yerby (1995) menyatakan bahwa para individu secara berkala menciptakan struktur sosial melalui aksi dan interaksi mereka; karenanya, tidak terdapat kebenaran abstrak atau realita karena realita ada hanya ketika orang-orang menciptakannya secara bersama- sama ( dalam Turner, 2008:55). Dengan demikian, penelitian dengan strategi seperti ini menyarankan bahwa setiap cara yang diambil individu dalam memandang dunia adalah valid dan perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut ( dalam Patton, 2002:96-97).

(28)

2.2 Kajian Pustaka

Setiap penelitian memerlukan teori sebagai alat yang akan diuji kemudian dengan data dan instrument penelitiannya. Teori merupakan cerita mengenai bagaimana dan mengapa sebuah peristiwa terjadi. Teori memperjelas sesuatu yang bercampur- aduk;merapikan sesuatu yang kacau, teori menyintesis data, memfokuskan perhatian kita pada sesuatu yang penting,dan membantu kita mengabaikan sesuatu yang tidak penting (Stanley J. Baran, 2010,hlm.13). Kajian pustaka hendaknya berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti serta mampu memberikan gambaran tentang landasan teoritis atau paradigma yang dipilih. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan beberapa penelitian terdahulu sebagai acuan dan tambahan informasi bagi peneliti.

Penelitian terdahulu merupakan salah satu acuan peneliti dalam melakukan penelitian. Peneliti akan memaparkan beberapa kajian terdahulu atau penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini. Dalam penelitian terdahulu, peneliti tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul peneliti. Adapun tujuan dari pemaparan penelitian terdahulu ini adalah untuk menentukan posisi penelitian serta menjelaskan perbedaannya. Dengan demikian penelitian ini benar-benar dilakukan secara orisinil. Adapun penelitian terdahulu yang peneliti maksud adalah:

Pertama, peneliti menemukan penelitian mengenai “Strategi Promosi dalam Meningkatkan Minat Pengunjung di Pantai Tanjung Kelayang pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Belitung Provinsi Bangka Belitung”. Penelitian ini mengunakan penelitian deskriptif. Penelitian yang dilakukan oleh Ferdiansyah Putra Jaya bertujuan untuk mengetahui strategi promosi yang dilakukan, untuk mengetahui hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan promosi pantai Tanjun Kelayang, dan untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Belitung.Berdasarkan hasil penelitian, Ferdiansyah Putra Jaya melakukan penelitian langsung ke lapangan, dengan cara menyebarkan angket,

(29)

wawancara, dan observasi non partisipan. Setelah itu peneliti mengembangkan ke dalam tabel dan dianalisis. Dari hasil penelitian, Ferdiansyah Putra Jaya memberikan saran yaitu Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung dapat lebih inovatif, kreatif, dan komunikatif dalam berpromosi. Ferdiansyah juga menyarankan agar pemilihan media lebih diperhatikan guna optimalnya pesan yang ingin disampaikan.

kedua, penelitian terdahulu yang peneliti temukan adalah “Strategi Promosi Banyuwangi sebagai Destinasi Wisata (Studi Kasus pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata)”. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi strategi promosi yang telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta hambatan-hambatan yang dialami. Penelitian yang dilakukan oleh Chintiya Betari Avinda, dkk ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara dengan kepala Dinas dan Staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, serta studi kepustakaan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa strategi promosi yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi melalui bauran promosi sudah memberikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan namun belum cukup efektif untuk memeratakan kunjungan wisatawan dan meningkatkan lama tinggal wisatawan. Bauran promosi yang sudah efektif dilaksanakan adalah periklanan dan penjualan langsung, sedangkan promosi penjualan dan hubungan masyarakat belum cukup efektif. Dalam pelaksanaan strategi promosi juga terdapat faktor pendukung dan penghambat. Dari hasil pengolahan data disarankan kepada Dinas Pariwisata untuk mengkaji ulang program bauran promosi yang kurang efektif, memperbanyak Tourist Information Center, serta menjalin kerja sama dengan stakeholder lainnya.

Ketiga, peneliti menemukan penelitian terdahulu mengenai strategi promosi yaitu “Strategi Promosi dalam Meningkatkan Jumlah Kunjungan pada UPTD Graha Teknologi Sriwijaya di Kota Palembang” . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

(30)

bagaimana strategi promosi yang dilakukan UPTD Graha Teknologi Sriwijaya sebagai wisata edukasi dalam meningkatkan jumlah kunjungan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan melakukan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Indhika Satria ini adalah UPTD Graha Teknologi Sriwijaya melakukan promosi dengan menggunakan bauran promosi seperti periklanan, penjualan perseorangan, promosi penjualan, dan informasi dari mulut ke mulut. Adapun media yang digunakan UPTD Graha Teknologi Sriwijaya dalam melakukan promosi yaitu media cetak dan media internet. Dalam melakukan promosi, UPTD Graha Teknologi Sriwijaya mengalami kendala pada anggaran, lokasi yang kurang strategis dan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM).

Demikian penelitian-penelitian terdahulu yang telah peneliti paparkan diatas.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dengan adanya penelitian terdahulu ini, dimaksudkan untuk memperjelas posisi penelitian yang peneliti lakukan. Adapun kesamaan penelitian yang akan peneliti lakukan dengan peneliti terdahulu adalah hendak mengetahui strategi komunikasi yang dilakukan dalam mempromosikan suatu objek wisata.

Dalam melakukan suatu penelitian tentunya menggunakan teori-teori yang relevan dengan konteks dan masalah penelitian. Adanya variasi teori diperlukan agar dapat menyoroti masalah yang akan diteliti. Adapun teori-teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:

2.2.1 Komunikasi Pariwisata

Komunikasi menjadi peranan terpenting bagi kehidupan manusia dalam berinteraksi di kehidupannya sehari-hari. Komunikasi sebagai alat untuk mampu memahami satu dengan yang lain. Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-

(31)

manusia lainnya. Hampir setiap manusia membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang individu atau lebih agar pesan yang diberitakan tersebut bisa dipahami oleh lawan bicara. Di dalam sebuah komunikasi feedback merupakan hal yang diharapkan untuk mampu mencapai tujuan yang dimaksud dalam berkomunikasi. Dalam Riswandi (2009), istilah “komunikasi”

(bahasa inggris “communication”) berasal dari bahasa latin “communicatus” atau

“communication” atau “communicare” yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan latin

“communication”. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti sama. Sama disini maksudnya sama makna atau sama arti.

Ahli komunikasi mendefenisikan komunikasi menurut sudut pandang mereka masing-masing. Beberapa defenisi komunikasi menurut beberapa ahli itu sendiri adalah “Sarah Trenholm dan Arthur Jensen(1996:4) mendefenisikan komunikasi demikian: “A process by which a source transmits a massage to a receiver through some channel.” (komunikasi adalah suatu proses dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran.) Hoveland (1948:371) mendefenisikan komunikasi demikian: “The process by which an individual (the communicators) transmits stimuli (usually verbal symbols) to modify, the behavior of otherindividu”. (Komunikasi adalah proses dimana individu mentransmisikan stimulus untuk merubah perilaku individu yang lain.) lalu Gode (1969:5) memberi pengertian mengenai komunikasi yaitu: “It is a process that makes common to or several what was the monopoly of one or some.” (Komunikasi adalah suatu proses yang membuat kebersamaan bagi dua atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang.) Cherry sebagaimana dikutip oleh Anwar Arifin (1995:24)

(32)

mengatakan bahwa: “Communication is essensially the relationship set up by the transmission of stimuli and the evocation of response”. Raymond S. Ross (1983:8) mendefenisikan komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator. Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid (1981:18) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam.

Menurut Harold D. Laswell, sebagaimana dikutip oleh Sendjaja (1999:7) cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut: who says what in which channel to whom whit what effect? (Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana?).

Sedangkan Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964:527) mendefenisikan komunikasi, sebagai berikut: “communication: the transmission of information , ideas, emotions, skills, etc. by the uses of symbol...” (komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.

Defenisi-defenisi sebagaimana dikemukakan di atas, tentu belum mewakili semua defenisi yang telah dibuat para ahli. Namun, dapat diperoleh gambaran tentang apa yang dimaksud dengan komunikasi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949), bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal , tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, peyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang atau beberapa orang,

(33)

kelompok, organisasi, dan masyarakat dengan tujuan tertentu. Dalam proses komunikasi tidak selamanya berjalan dengan baik, terkadang pesan yang disampaikan komunikator tidak sampai ke komunikan karena terjadi gangguan di dalam proses penyampaiannya, dan bila pesan tersebut sampai ke komunikan biasanya akan terjadi umpan balik (feed back). Dalam aplikasinya proses komunikasi dapat dilihat dari langkah-langkah berikut :

Gambar 2.1 Proses Komunikasi

Sumber : Suprapto, 2009:8

Langkah pertama yaitu ide/gagasan diciptakan oleh sumber atau komunikator, lalu ide tersebut diubah menjadi lambang-lambang komunikasi yang memiliki makna dan dapat dikirimkan. Pada langkah selanjutnya dikirimkan melalui saluran/media yang sesuai dengan lambang-lambang komunikasi dan ditujukan kepada komunikan.

Komunikan menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya dan jika pesan tersebut berhasil di-decoding khalayak akan mengirim kembali pesan tersebut kepada komunikator (feedback).

Komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam pemasaran sektor pariwisata. Komunikasi pariwisata adalah suatu aktivitas manusia dalam menyampaikan informasi tentang perjalanan ke suatu daerah maupun objek wisata yang akan dikunjungi wisatawan sambil menikmati perjalanan dari suatu objek wisata ke objek wisata lainnya, agar wisatawan tertarik dan sampai pada suatu tindakan untuk mengunjungi. Komunikasi membantu pemasaran pariwisata di berbagai elemen pemasaran, komunikasi berperan baik di media komunikasi maupun konten komunikasi. Di media komunikasi, tersedia berbagai macam media komunikasi

PENGIRIMAN DECODING BALIKAN

ENCODING IDE

(34)

sebagai saluran pemasaran, destinasi, aksesibilitas maupun saluran media SDM dan kelembagaan pariwisata. Komunikasi juga berperan menyiapkan konten pesan yang harus disampaikan kepada masyarakat atau wisatawan, tentang apa yang seharusnya mereka tahu tentang media-media pemasaran, tentang destinasi, aksesibilitas dan SDM serta kelembagaan pariwisata. Dalam perspektif modern, komponen pemasaran, destinasi, aksesibilitas, pemasaran, SDM dan kelembagaan pariwisata menjadi kesatuan produk pariwisata.

Komunikasi pariwisata berkembang dengan menyatunya beberapa disiplin ilmu di dalam satu kajian tentang komunikasi dan pariwisata. Kajian komunikasi pariwisata memiliki kedekatan biologis dengan kajian-kajian komunikasi dan pariwisata yang melahirkannya. Komunikasi menyumbangkan teori-teori komunikasi persuasif, teori komunikasi massa, teori komunikasi interpersonal dan kelompok.

Sementara pariwisata menyumbangkan field kajian pemasaran pariwisata, destinasi pariwisata,aksesibilitas ke destinasi dan SDM serta kelembagaan kepariwisataan.

Untuk menjadikannya sebagai suatu disiplin kajian, komunikasi pariwisata dibantu oleh berbagai disiplin dan kajian lain yang terbagi dua, yaitu disiplin yang sangat besar menyumbangkan teori-teorinya dan disiplin yang letaknya lebih jauh namun tetap menyumbangkan teorinya kepada komunikasi pariwisata. Disiplin yang terdekat adalah pemasaran dan komunikasi pemasaran. Ketiga teori ini antara lain menyumbangkan tentang teori komunikasi, strategi pemasaran, unsur-unsur pemasaran, teori produk, teori brand dan branding. Disiplin lain yang dekat dengan kajian ini, namun lebih dekat ke komunikasi adalah sosiologi komunikasi dan konstruksi sosial media massa. Kedua disiplin kajian ini menyumbangkan teori pengaruh media, dan pencitraan media massa yang dapat digunakan untuk melakukan penguatan terhadap proses branding dan konstruksi sosisal brand. Terpenting pula adalah peran public relations untuk menghendel semua masalah relasi pencitraan, negosiasi dan perundingan-perundingan serta berkaitan dengan penyelenggaraan

(35)

event MICE. Kemudian disiplin teknologi komunikasi memberi sumbangan pengetahuan terhadap kemajuan teknologi komunikasi yang dapat digunakan sebagai media komunikasi pemasaran pariwisata.

2.2.1.1 Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Komunikasi merupakan proses pengiriman pesan antara dua orang atau lebih.

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi sering dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Tentunya terdapat fungsi dari dilakukannya proses komunikasi, yaitu yang paling umum adalah untuk memberi pesan atau informasi kepada orang lain. Komunikasi memiliki beberapa fungsi, menurut Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik (2009) fungsi komunikasi terbagi atas empat diantaranya :

1. Menginformasikan ( to inform ), mengenai peristiwa yang terjadi, ide pikiran yang disampaikan kepada orang lain.

2. Mendidik ( to educate ), dengan menyampaikan ide dan gagasan maka orang lain atau komunikan akan mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.

3. Menghibur ( to entertain ).

4. Mempengaruhi ( to influence ), dengan berusaha mengubah cara pandang, sikap dan perilaku komunikan sesuai dengan yang diharapkan.

Komunikasi yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, lembaga, atau instansi memiliki tujuan tertentu, baik untuk kelangsungan hidup pribadinya maupun kelangsungan hidup masyarakat. Menurut Gordon I. Zimmerman (dalam Mulyana, 2010: 4) kita dapat membagi tujuan komunikasi menjadi dua kategori besar. Pertama, untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi kebutuhan kita. Kedua, kita melakukan komunikasi untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain.

Menurut Effendy (2009:8) tujuan komunikasi dibagi menjadi empat yaitu:

1. Mengubah sikap ( to change the attitude )

2. Mengubah opini/pendapat ( to change the opinion )

(36)

3. Mengubah perilaku ( to change the behavior ) 4. Mengubah masyarakat ( to change the society )

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi atau pesan dari seseorang kepada orang lainnya dengan maksud untuk direspon/ditanggapi agar terjadinya kesamaan makna diantara dua individu dan diharapkan adanya umpan balik dari pesan yang telah disampaikan.

2.2.2 Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi yang baik diperlukan dalam mencapai suatu komunikasi yang efektif. Strategi merujuk pada pendekatan komunikasi menyeluruh yang akan diambil dalam rangka menghadapi tantangan yang akan dihadapi selama berlangsungnya proses komunikasi. Kata strategi berasal dari akar kata bahasa Yunani stategos yang secara harafiah berarti “seni umum”, kelak term in berubah menjadi kata sifat strategia berarti “keahlian militer” yang belakangan diadaptasikan lagi ke dalam lingkungan bisnis modern. Kata strategis bermakna sebagai :

a. Keputusan untuk melakukan suatu tindakan dalam jangka panjang dengan segala akibatnya.

b. Penentuan tingkat kerentanan posisi kita dengan posisi para pesaing (ilmu perang dan bisnis).

c. Pemanfaatan sumber daya dan penyebaran informasi yang relative terbatas terhadap kemungkinan penyadapan informasi oleh para pesaing.

d. Penggunaan fasilitas komunikasi untuk penyebaran informasi yang menguntungkan berdasarkan analisis geografis dan topografis.

e. Penemuan titik-titik kesamaan dan perbedaan penggunaan sumber daya dalam informasi.

Terdapat bermacam-macam pengertian strategi, secara umum strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mencapai tujuan. Strategi berasal dari bahasa Yunani klasik yaitu “stratos” yang artinya tentara dan kata “agein” yang berarti memimpin. Jadi strategi adalah konsep militer yang dapat diartikan seni perang para jenderal (The Art of General), atau suatu rancangan yang terbaik untuk

(37)

memenangkan peperangan. Menurut Middleton stategi komunikasi adalah

“kombinasi yang terbaik dari semua elemen komunikasi mulai dari komunikator, pesan, saluran (media), penerima sampai pada pengaruh (effect) yang dirancang untuk mencapai tujuan komunikasi yang optimal (Cangara, 2013: 61).

Mintzberg berpendapat bahwa strategi adalah yang muncul sesewaktu dapat dikatakan sebagai benturan antara niat untuk mengakomodasi realitas yang berubah.

Jadi, strategi merupakan suatu keputusan yang tepat, jelas, komprehensif, valid, atau apa pun namanya, sebagai dasar filosofis dan praktis bagi kita untuk berpikir, berperilaku, beraktivitas, dan bertindak. Kenneth Andrews menyajikan defenisi panjang tentang strategi dalam bukunya The Concept of Corporate Strategy. Kata Andrews “strategi perusahaan adalah pola dari suatu keputusan yang sangat menentukan dan dapat mengungkapkan arah, sasaran, dan tujuan melalui penetapan kebijakan dan rencana utama perusahaan untuk mencapai tujuan ini; keputusan untuk menetapkan jangkauan bisnis perusahaan yang harus dikejar, jenis pengorganisasian sumber daya manusia agar dapat menjadi SDM yang berkualitas.

Berdasarkan pendapat di atas maka diketahui bahwa strategi merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai tujuan. Michel Robert memberikan defenisi “startegi” dalam bukunya Strategi Pure & Simple, bahwa pembicaraan tentang strategi sebaiknya dikaitkan dengan konsep “manajemen strategis” dan “berpikir strategis”.kata Robert baik manajemen strategis dan berpikir strategis dalam membuat suatu keputusan sangat ditentukan oleh empat faktor : a. Produk dan layanan

b. Pelanggan c. Segmen pasar d. Area geografis

Diperlukan strategi komunikasi yang baik agar pesan yang disampaikan kepada seseorang dapat diterima dengan efektif. Dengan demikian strategi komunikasi adalah strategi yang mengartikulasikan, menjelaskan, dan mempromosikan suatu

(38)

visi komunikasi dan satu tujuan komunikasi dalam suatu rumusan yang baik, untuk menciptakan komunikasi yang konsisten yang berperan memfasilitasi perubahan perilaku sebagai tujuan akhir komunikasi. Oleh karena itu (Liliweri, 2011: 240) strategi komunikasi selalu dihubungkan dengan :

a. Siapa yang bicara

b. Maksud apa yang dibicarakan

c. Pesan apa yang harus disampaikan kepada seseorang

d. Cara bagaimana saya menyampaikan pesan kepada seseorang e. Bagaimana mengukur dampak pesan tersebut

Dalam operasional perusahaan komunikasi pemasaran memiliki peran yang sangat penting, seperti yang disampaikan oleh Philip Kotler & Kevin Lane Killer dalam sebuah organisasi atau perusahaan komunikasi pemasaran memiliki peranan memberikan informasi, membujuk, mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan merek yang dijual. Liliweri (2011) menjelaskan beberapa tujuan dari strategi komunikasi diantaranya, memberitahu (announcing), yaitu pemberitahuan tentang kapasitas dan kualitas informasi yang sedapat mungkin berkaitan dengan informasi utama dari seluruh informasi yang demikian penting, memotivasi (motivating), mendidik (educating), menyebarkan informasi (informing) secara spesifik dan aktual yang tak hanya sekedar menginformasikan dan memotivasi tapi juga mengandung unsur pendidikan dan mendukung pemuatan keputusan (supporting decision making), informasi yang dikumpulkan, dikategorisasikan dan dianalisis sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan informasi utama bagi pembuat keputusan.

2.2.2.1 Promosi

Promosi merupakan salah satu strategi komunikasi yang dapat digunakan dalam memasarkan suatu produk maupun jasa. Promosi dalam komunikasi pemasaran meliputi penggunaan saluran komunikasi. Promosi adalah perusahaan dari pemasar

(39)

dalam menginformasikan dan mempengaruhi orang lain atau pihak yang tertarik untuk melakukan transaksi atau menukarkan produk atau layanan yang dipasarkan.

Pengaruh promosi pada kualitas produk baru menyimpulkan kepercayaan dan penilaian konsumen pada kualitas dapat dibangun dengan membina hubungan dekat antara produsen dengan konsumen melalui pendekatan strategi promosi yang tepat.

Promosi dapat diukur melalui daya tarik promosi, jangkauan promosi, frekuensi promosi dan efektifitas promosi. Adapun macam kegiatan promosi yang biasa dilakukan adalah: Advertising, personal selling, sales promotion, brochures printing, positioning, public relations, dan publicity (Yuti, Oka A, 2002:169).

Keberadaan promosi tidak terlepas dari tujuan yang dicapai. Hal ini ditunjukkan oleh suatu jaringan kerja yang membimbing tindakan yang akan dilakukan, dan pada saat yang sama, promosi akan mempengaruhi hal tersebut. Terdapat beberapa tujuan promosi diantaranya untuk menginformasikan agar pelanggan dapat mengetahui karakteristik suatu produk. Membujuk/ mempesuasi pelanggan agar membeli produk yang ditawarkan dengan berusaha mengembangkan sikap positif dari konsumen terhadap produk sehingga konsumen akan tetap membeli dan memakai produk yang ditawarkan. Mengingatkan pelanggan tentang kelebihan produk yang ditawarkan diharapkan pelanggan tetap membeli dan memakai produk ini dan menghindari produk sejenis lainnya. Diharapkan strategi promosi mampu memusatkan pengaruhnya terhadap keputusan konsumen dalam rangka peningkatan volume penjualan. Komunikasi yang terjalin dalam promosi tidak hanya komunikasi bisnis satu arah. Komunikasi yang terbentuk diharapkan dapat menciptakan konidisi timbal balik sehingga konsumen dengan sendirinya bersedia dalam pembelian produk.

Selain dari tujuan-tujuan yang telah disebutkan terdapat tujuan lain dari promosi yaitu ( Liliweri, 2011 : 505-506):

1. Membangun kesadaran ( build awerness ) 2. Menciptakan minat ( create interest )

3. Menyediakan informasi ( provide information )

(40)

4. Merangsang permintaan ( stimulate demand ) 5. Memperkuat merek ( reinforce the brand )

Bagi suatu daerah seperti Kabupaten atau Kotamadya, perlu direncanakan strategi promosi secara terpadu yang terdiri dari beberapa metode yang mungkin dapat diterapkan pada daerah tersebut. Metode promosi seperti itu harus diciptakan untuk meyakinkan bahwa wisatawan dalam suatu target pasar tertentu dapat mengetahui secara persis apa yang ditawarkan oleh suatu daerah sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Seperti kita ketahui, bila seorang wisatawan ingin melakukan perjalanan wisata, ke mana saja dan kapan saja, sebelum ia mengambil keputusan, selalu akan mencari informasi sebagaiman terlihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.1

Unsur-Unsur yang Mendapat Perhatian Calon Wisatawan Sebelum Mengambil Keputusan Untuk Melakukan Perjalanan Wisata

PERTANYAAN INFORMASI YANG DIPERLUKAN

Kemana akan pergi? Daerah Tujuan Wisata (suatu negar, kota, Kabupaten, kawasan wisata atau resort).

Transportasi apa yang akan digunakan?

Airline, Kapal Pesiar, Kapal Laut, Kereta Api, Bus, Mobil (mobil carteran atau pribadi).

Di mana akan menginap? Akomodasi ( hotel, motel, perkemahan, homestay, bungalow, rumah saudara atau teman.

Daya tarik yang akan dilihat? - something to see

 Natural Resource (Flora, Fauna, Valley, National Parks,

(41)

Volcano, Beaches,etc.

 Cultural Resource (Heritage, Museum, The Way of Life, Ethnic Tradition, Cultural Performance, Religion, History, etc.

-something to buy (Souvenirs, Handicraft, Art Painting, Specific Food/Drink, etc.

-something to do (Hunting, Fishing, Diving, Surfing, Snockling, Benji- Jumping, Boating, Sailing, Yachting, Hiking, Cycling, Hourse Riding, etc.

Bagaimana cara datang berkunjung ke sana?

Bisa dilakukan sendiri (Independent Tour) dan dapat melalui Biro Perjalanan Wisata (BPW) dan Tour Operator lainnya atau membeli paket wisata yang siap jual.

Berapa besar wisatanya? Harga tiket, biaya transportasi local, tarif kamar, makan dan minum, entertainment, obyek dan atraksi wisata, dokumen perjalanan, tip dan lainnya.

Berapa lama perjalanan sebaiknya dilakukan?

Lama tinggal yang pantas pada suatu DTW yang dikunjungi (4,7, atau 12 hari)

Kapan waktu perjalanan sebaiknya dilakukan?

Berkaitan dengan event yang tersedia sepanjang tahun di negara yang dikunjungi.

Di mana pendaftaran (booking) dapat dilakukan?

Pada BPW, Travel Agent, dan Tour Operator yang ditunjuk.

Sumber: Yuti, Oka A, 2002: 171

(42)

Strategi promosi merupakan langkah yang harus diperhitungkan dalam rangkaian aktivitas komunikasi pemasaran. Kegiatan pada strategi promosi merupakan langkah di bidang pemasaran berupa interaksi/komunikasi yang dijalankan perusahaan dengan konsumen atau pelanggan. Strategi promosi terdiri dari bermacam-macam komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan informasi dan meyakinkan atau membujuk calon wisatawan yang potensial untuk melakukan perjalanan wisata.

Berbagai faktor yang banyak berpengaruh terhadap pilihan untuk melakukan strategi promosi antara lain adalah karakter wisatawan, informasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh calon wisatawan, karakter dari produk industri pariwisata sendiri, sumber-sumber daya yang dimiliki suatu daerah sebagai suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW), Ciri atau bentuk komunikasi yang digunakan untuk setiap komponen promosi yang dapat digunakan atau tersedia, dan posisi atau kedudukan dihadapkan dengan pesaing-pesaing utama. Stategi Promosi menurut Moekijat (2000: 443) adalah:”kegiatan perusahaan untuk mendorong penjualan dengan mengarahkan komunikasi-komunikasi yang meyakinkan kepada para pembeli”. Pendapat lain diutarakan oleh Lamb, Hair. McDaniel sebagaimana dikutip oleh Yuti, Oka A, (2002:169) , strategi promosi adalah: “Rencana untuk penggunaan yang optimal dari elemen-elemen promosi: periklanan, hubungan masyarakat, penjualan pribadi dan promosi penjualan”. Dari defenisi di atas dapat dilihat bahwa strategi promosi merupakan kegiatan yang direncanakan dengan maksud membujuk, merancang konsumen agar mau membeli produk perusahaan sehingga tujuan untuk meningkatkan penjualan diharapkan dapat tercapai.

Langkah-langkah penting yang perlu dilakukan dalam mengembangkan strategi promosi suatu daerah adalah ( Yuti, Oka A, 2002):

1. Menentukan target pasar yang akan dipengaruhi oleh kegiatan promosi yang akan dilakukan. Dengan mengetahui target pasar, akan lebih mudah melakukan pemilihan terhadap: media yang akan digunakan, bahasa yang akan dipakai, dan waktu-waktu biasanya mereka melakukan perjalanan wisata.

(43)

2. Menentapkan kelayakan promosi yang akan dilakukan. Maksudnya, jenis dan macam promosi apa saja yang akan dilakukan, dan berapa anggaran yang akan digunakan untuk suatu target pasar tertentu.

3. Mengatur komposisi unsur-unsur bauran pemasaran yang akan digunakan.

4. Mempersiapkan bentuk-bentuk desain iklan yang akan digunakan, mulai dari ukuran (size), berwarna atau hitam putih, bahasa yang digunakan, produk yang ditonjolkan dan copy-writing yang mengenai sasaran.

5. Merumuskan bentuk-bentuk kegiatan Sales Promotion yang akan dilakukan.

6. Perencanaan pembuatan promotion materialis, termasuk bentuk-bentuk hand- out yang akan di berikan pada setiap pertemuan formal kepada pejabat-pejabat pariwisata dari luar negeri dan pencetakan brosur yang berkualitas.

Komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan adanya tindakan terorganisasi di dalam mempersuasi, salah satunya dengan model AIDDA, yaitu Attention, Interest, Desire, Decision, dan Action. Konsep ini dikemukakan oleh Wilbur Schramm, keterangan dari elemen-elemen ini adalah :

a. Perhatian (Attention): keinginan seseorang untuk mencari dan melihat sesuatu.

b. Ketertarikan (Interest): perasaan ingin mengetahui lebih dalam tentang suatu hal yang menimbulkan daya tarik bagi konsumen.

c. Keinginan (Desire): kemauan yang timbul dari hati tentang sesuatu yang menarik perhatian.

d. Keputusan (Decision): kepercayaan untuk melakukan sesuatu hal.

e. Tindakan (Action): suatu kegiatan untuk merealisasikan keyakinan atau ketertarikan pada sesuatu (Effendy, 2009:305).

2.2.2.2 Bauran Promosi/ Communication Mix

Bauran promosi merupakan salah satu bagian dari pemasaran yang tidak bisa dipisahkan, sehingga tanpa keberadaannya pemasaran sama sekali tidak bisa berjalan.

Bauran promosi menjadi suatu alat yang digunakan untuk mengenalkan suatu produk, baik itu barang maupun jasa untuk mempengaruhi konsumen agar tertarik dan mau membeli produk yang ditawarkan perusahaan. Menurut Swastha pengertian bauran promosi yang dikutip dari Angipora (2002:338) yaitu “promosi adalah

(44)

kombinasi strategi yang paling baik dari variabel-variabel periklanan, personal selling, dan alat promosi lainnya yang semuanya mencapai program penjualan”.

Menurut Lamb, Hair, McDaniel (2001: 147),”bauran promosi adalah kombinasi dari alat promosi termasuk periklanan, hubungan masyarakat, dan promosi penjualan yang digunakan untuk mencapai pasar sasaran dan memenuhi tujuan organisasi secara keseluruhan”. Pada dasarnya bauran promosi (promotion mix) yang dapat dilakukan oleh suatu daerah sebagai suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW), diantaranya adalah : advertising, sales Promotion, Personal Selling, Brochures Printing, Public Relations, Publicity, Exhibitions, dan Trade Promotions dalam (Yuti, Oka A, 2002: 178).

Menurut Nickles (1984;19) bauran promosi (promotion mix) yang lengkap meliputi 6 (enam) saluran: periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), berita dari mulut ke mulut (word-of-mouth), promosi penjualan (sales promotion ), publisitas (publicity), dan hubungan masyarakat. Sedangkan Menurut Takada;2009 bauran promosi terdiri dari saluran yang dibaurkan secara cermat yaitu periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, hubungan masyarakat, dan pemasaran langsung (Agus Hermawan, 2012. Hlm. 53-54).

Kotler dan Armstrong (2012:432) mengemukakan, “Promotion mix (marketing communications mix) is the specific blend of the promotion tools that the company uses to persuasively communicate customer value and build customer relationship, yang artinya bauran promosi (bauran komunikasi pemasaran) adalah campuran spesifik dari alat-alat promosi yang digunakan perusahaan untuk secara persuasif mengomunikasikan nilai pelanggan dan membangun hubungan pelanggan. Jain (1985:373) mengargumentasikan bahwa faktor-faktor yang harus dipertimbangkan untuk menentukan bauran promosi secara tepat pada situasi produk pada dasar tertentu adalah faktor : produk, konsumen (wisatawan), anggaran, dan bauran pemasaran. Selain bentuk-bentuk promosi, calon wisatawan dapat pula dipengaruhi melalui kegiatan publikasi. Oleh karena itu suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) perlu

Gambar

Gambar 2.1   Proses Komunikasi
Gambar 2.2   Model Teoritik
Gambar 3.1  Kerangka Analisis
Tabel 4.1  Data Informan

Referensi

Dokumen terkait

Alexius Ibnu Murdjal, M Si selaku Ketua Program D3 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada

Rasudyn Ginting, M.Si selaku Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan selaku dosen pembimbing akademik

selaku ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Dosen Wali yang juga telah

1. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Atik SeptiWinarsih,M.SI, selaku dosen pembimbing dan ketua penguji skripsi yang

Ibu Mariyatul NR, S.Ag, M,Si selaku ketua jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Banjarmasin yang telah

Mariyatul NR, S.Ag, M,Si, Ketua jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Banjarmasin yang telah memberikan dukungan serta

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Ketua dan

Marisa Elsera, S.Sos.,M,Si selaku Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji sekaligus Dosen Penasehat Akademik yang telah