• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

xi BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan diharapkan setiap individu mendapatkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan yang selalu meningkat sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan diharapkan mampu membentuk pribadi yang tanggap terhadap perubahan lingkungan dan peka terhadap perubahan zaman. Dengan pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya (UU-Dikti, 2012).

Berdasarkan laporan UNDP (2013) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di urutan 121 dari 187 negara didunia naik tiga peringkat dari tahun sebelumnya yang menenpati urutan 124. Nilai IPM Indonesia 0,629 dibawah nilai rata-rata dunia 0,694 dan dibawah rata-rata regional Asia Tenggara 0,683 naik dari tahun sebelumnya dengan nilai 0,624. Untuk tingkat regional, Nilai IPM Indonesia berada di urutan nomor 6, Indonesia tertinggal jauh dari Singapura, Brunai Darusalam, Malaysia, Thailand dan Filiphina.

Gambar 1.1. Grafik Peringkat IPM Negara Asia Tenggara

1

(2)

Penyelenggaraan pendidikan nasional yang bersifat konvensional, mengalami banyak kendala ketika dituntut untuk memberikan pelayanannya bagi masyarakat luas yang tersebar di seluruh nusantara. Kendala tersebut antara lain keterbatasan finansial, perbedaan keadaan demografi, dan keterbatasan sumber daya. Perkembangan teknologi informasi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengatasi kendala tersebut. Teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk membantu penyelenggaraan pendidikan di Indonesia agar IPM Indonesia dapat terus meningkat dan dapat bersaing di tingkat regional dan internasional. Terlebih di masa depan pendidikan akan mengahadapi persaingan global yang lebih ketat. Agar dapat memenangkan ataupun dapat ikut bermain dalam dinamika global membutuhkan prasyarat kekuatan kepercayaan diri dan kemandirian (Tafiardi, 2005).

Lebih lanjut Tafiardi (2005) menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi ataupun internet tidak hanya untuk pendidikan jarak jauh, akan tetapi juga dapat dikembangkan dalam sistem pendidikan konvensional. Pemanfaatan internet dapat melengkapi kekurangan-kekurangan pengajaran secara konvensional. e-Learning saat ini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Penggunaan istilah maupun penulisan yang berbeda- beda dengan e-Learning seperti e-Learning, e learning maupun elektronic learning namun pada prinsipnya e-Learning adalah sama yaitu suatu proses

pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya.

e-Learning adalah suatu model pembelajaran yang dibuat dalam format digital melalui perangkat elektronik. Tujuan digunakannya e-Learning dalam sistem pembelajaran adalah untuk memperluas akses pendidikan ke masyarakat luas.

Politeknik Kesehatan Bengkulu saat ini menyelenggarakan tujuh jurusan dengan sepuluh program studi dengan mahasiswa yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Banyaknya jurusan dan program studi yang ada memerlukan pengelolaan yang baik agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik pula. Pengelolaan pendidikan yang tidak baik dapat menyebabkan permasalahan dalam proses belajar mengajar seperti adanya tumpang tindih jadwal perkuliahan,

(3)

tidak meratanya akses mahasiswa memperoleh materi, bahan ajar, modul serta tingginya biaya operasional pendidikan. Sistem pembelajaran konvensional yang diterapkan di Politeknik Kesehatan Bengkulu dapat menimbulkan potensi adanya perbedaan akses mahasiswa mendapatkan pelayanan pendidikan.

Berdasarkan Profil Poltekkes (2013) dalam kurun waktu antara tahun 2009 hingga tahun 2013 menunjukkan adanya peningkatan jumlah mahasiswa.

Peningkatan jumlah mahasiswa tersebut dikarenakan adanya penambahan jurusan dan program studi baru. Seiring dengan penambahan jumlah mahasiswa tersebut agar mutu lulusan dapat dipertahankan dan ditingkatkan maka perlu diikuti dengan peningkatkan layanan institusi kepada mahasiswa. Jumlah peningkatan mahasiswa terlihat pada Gambar 1.2.

No Program Studi 2009 2010 2011 2012 2013

1 D.III Keperawatan Bengkulu 86 89 119 167 194 2 D.III Keperawatan Curup 260 239 281 265 269 3 D.III Kebidanan Bengkulu 479 517 469 373 345

4 D.III Kebidanan Curup 40 130 209 159 161

5 D.III Gizi 195 190 209 159 161

6 D.III Analis Kesehatan 40 79 118 160 148

7 D.III Kesehatan Lingkungan 40 78 118 160 148

8 D.IV Kebidanan 130 40 48 45 85

9 D.IV Keperawatan 18 80 0 19 59

10 D.IV Gizi 0 0 0 85 122

Total 1.288 1.442 1.570 1.612 1.788

Gambar 1.2. Grafik Jumlah Mahasiswa Poltekkes Bengkulu

Poltekkes Bengkulu memiliki dua unit perpustakaan yang terletak di Kota Bengkulu dan Curup Kabupaten Rejang Lebong. Berdasarkan profil poltekkes (2013) kunjungan mahasiswa keperpustakaan melebihi 100% (persen) hal ini dikarenakan adanya kunjungan dari dosen, pegawai dan mahasiswa dari luar Politeknik Kesehatan Bengkulu. Namun demikian kunjungan ke perpustakaan tetap didominasi oleh mahasiswa dari Kota Bengkulu dan Curup dengan jumlah kunjungan lebih dari 90% (persen) dimana perpustakaan tersebut berada. Untuk

(4)

peminjaman buku perpustakaan dari target 60% (persen) peminjaman buku tahun 2013 terealisasi 42

buku yang dipinjam pada tahun 2013 realisasi judul buku yang dipinjam 9 (persen). Salah satu penyebab kunjungan ke perpustakaan

dikarenakan akses kunjungan

konvensional dimana mahasiswa harus mendatangi perpustakaan secara langsung sementara kunjungan ke perpustakaan

peminjaman buku perpustakaan terlihat pada gambar 1.

Gambar 1.

Proses pembelajaran di Politeknik Kesehatan Bengkulu saat ini masih bersifat konvensional, dimana aktivitas

pertemuan tatap muka secara langsung antara dosen dan mahasiswa pada waktu yang telah ditentukan. Apabila dosen pengajar pada jadwal yang telah ditentukan tidak dapat hadir dikarenakan sesuatu alasan maka kegiatan pemb

dibatalkan dan dijadwal ulang atas kesepakatan dosen dan mahasiswa.

proses pembelajaran konvensional, kehadiran dosen mutlak diperlukan proses pembelajaran maupun

memberikan materi bahan ajar maupun akhir proses pembelajaran

jarang beberapa mahasiswa tidak mendapatkan bahan ajar

0%

20%

40%

60%

80%

Peminjaman Buku

man buku perpustakaan dari target 60% (persen) peminjaman buku terealisasi 42.6% (persen). Sementara dari 10% (persen) target judul buku yang dipinjam pada tahun 2013 realisasi judul buku yang dipinjam 9

Salah satu penyebab kunjungan ke perpustakaan tidak mencapai target dikarenakan akses kunjungan ke perpustakaan hanya dapat dilaksanakan secara konvensional dimana mahasiswa harus mendatangi perpustakaan secara langsung sementara kunjungan ke perpustakaan secara online belum tersedia

peminjaman buku perpustakaan terlihat pada gambar 1.3.

Gambar 1.3 Grafik Peminjaman Buku Perpustakaan

Proses pembelajaran di Politeknik Kesehatan Bengkulu saat ini masih bersifat konvensional, dimana aktivitas pembelajaran dilakukan dikelas dengan pertemuan tatap muka secara langsung antara dosen dan mahasiswa pada waktu yang telah ditentukan. Apabila dosen pengajar pada jadwal yang telah ditentukan tidak dapat hadir dikarenakan sesuatu alasan maka kegiatan pemb

dibatalkan dan dijadwal ulang atas kesepakatan dosen dan mahasiswa.

proses pembelajaran konvensional, kehadiran dosen mutlak diperlukan proses pembelajaran maupun pada saat pemberian kuis dan penugasan memberikan materi bahan ajar secara langsung kepada mahasiswa

maupun akhir proses pembelajaran dalam bentuk softcopy maupun jarang beberapa mahasiswa tidak mendapatkan bahan ajar tersebut

Target Reaisasi

60% 43%

10% 9,9%

Peminjaman Buku Judul Buku Yang di Pinjam

man buku perpustakaan dari target 60% (persen) peminjaman buku di Sementara dari 10% (persen) target judul buku yang dipinjam pada tahun 2013 realisasi judul buku yang dipinjam 9.9%

tidak mencapai target perpustakaan hanya dapat dilaksanakan secara konvensional dimana mahasiswa harus mendatangi perpustakaan secara langsung belum tersedia. Grafik

Grafik Peminjaman Buku Perpustakaan

Proses pembelajaran di Politeknik Kesehatan Bengkulu saat ini masih pembelajaran dilakukan dikelas dengan pertemuan tatap muka secara langsung antara dosen dan mahasiswa pada waktu yang telah ditentukan. Apabila dosen pengajar pada jadwal yang telah ditentukan tidak dapat hadir dikarenakan sesuatu alasan maka kegiatan pembelajaran dibatalkan dan dijadwal ulang atas kesepakatan dosen dan mahasiswa. Pada proses pembelajaran konvensional, kehadiran dosen mutlak diperlukan baik dalam dan penugasan. Dosen secara langsung kepada mahasiswa baik pada awal maupun hardcopy. Tak tersebut.

Judul Buku Yang di Pinjam

(5)

Agar proses belajar mengajar dapat ber

dukungan tenaga pengajar yang berkompeten. Dosen sebagai anggota akademika memiliki tugas mentransformasikan

teknologi yang dikuasainya kepada belajar dan pembelajaran sehingga

Untuk mencapai hal tersebut maka lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan Program sarjana wajib memiliki Dosen yang berkualifikasi akademik minimum

Tinggi, 2012). Berdasarkan Profil (2013) Tenaga Pengajar/dosen tetap di Politeknik Kesehatan Bengkulu berjumlah 94 dosen terdiri dari 1 orang doktor (1.06%), 76 Magister (80.85%), 9 Strata 1 (9,57%) d

Untuk dosen dengan pendidikan strata 1 dan Diploma IV sedang dalam tugas belajar melanjutkan ke jenjang S2

Selain dukungan tenaga pengajar mengajar juga diperlukan dukungan

teknologi informasi dan komunikasi menurut

atau peralatan dan berbagai sumber yang digunakan untuk melakukan kegiatan komunikasi, pengolahan, diseminasi, penyimp

meliputi komputer, internet

Politeknik Kesehatan Bengkulu dalam proses pembelajaran telah menggunakan

9,57

Agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik, perlu adanya dukungan tenaga pengajar yang berkompeten. Dosen sebagai anggota

memiliki tugas mentransformasikan ilmu pengetahuan

yang dikuasainya kepada mahasiswa dengan mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran sehingga mahasiswa aktif mengembangkan potensinya.

mencapai hal tersebut maka lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan Program sarjana wajib memiliki Dosen yang berkualifikasi

lulusan program magister atau sederajat (UU P

, 2012). Berdasarkan Profil (2013) Tenaga Pengajar/dosen tetap di Politeknik Kesehatan Bengkulu berjumlah 94 dosen terdiri dari 1 orang doktor (1.06%), 76 Magister (80.85%), 9 Strata 1 (9,57%) dan 8 Diploma IV (8,51%).

Untuk dosen dengan pendidikan strata 1 dan Diploma IV sedang dalam tugas melanjutkan ke jenjang S2.

Gambar 1.4 Grafik Tingkat Pendidikan Dosen

Selain dukungan tenaga pengajar yang berkompeten dalam juga diperlukan dukungan infrastruktur Teknologi Informasi teknologi informasi dan komunikasi menurut Tinto (2001), merupakan

atau peralatan dan berbagai sumber yang digunakan untuk melakukan kegiatan pengolahan, diseminasi, penyimpanan, dan pengolahan informasi meliputi komputer, internet yang dapat meningkatkan mutu pendidikan Politeknik Kesehatan Bengkulu dalam proses pembelajaran telah menggunakan

1,06

80,85 9,57

8,51

S3 S2 S1 D4

jalan dengan baik, perlu adanya dukungan tenaga pengajar yang berkompeten. Dosen sebagai anggota sivitas ilmu pengetahuan dan/atau dengan mewujudkan suasana aktif mengembangkan potensinya.

mencapai hal tersebut maka lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan Program sarjana wajib memiliki Dosen yang berkualifikasi lulusan program magister atau sederajat (UU Perguruan , 2012). Berdasarkan Profil (2013) Tenaga Pengajar/dosen tetap di Politeknik Kesehatan Bengkulu berjumlah 94 dosen terdiri dari 1 orang doktor an 8 Diploma IV (8,51%).

Untuk dosen dengan pendidikan strata 1 dan Diploma IV sedang dalam tugas

Grafik Tingkat Pendidikan Dosen

dalam proses belajar Teknologi Informasi. Konsep merupakan sarana atau peralatan dan berbagai sumber yang digunakan untuk melakukan kegiatan anan, dan pengolahan informasi dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Politeknik Kesehatan Bengkulu dalam proses pembelajaran telah menggunakan

80,85

(6)

komputer dan internet sebagai kegiatan sehari-hari. Dalam pembuatan bahan ajar digital, dosen dapat memanfaatkan perangkat keras baik komputer maupun laptop/notebook yang telah tersedia untuk seluruh jurusan dan program studi.

Demikian juga dengan fasilitas internet, selain ketujuh jurusan telah memiliki jaringan internet berbasis LAN (Local Area Network) untuk kebutuhan pengelola akademik dan dosen juga terdapat hotspot internet untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa. Mahasiswa memanfaatkan hotspot internet untuk browsing mencari bahan kuliah dengan laptop/notebook maupun gadged masing-masing.

Fasilitas internet umum untuk mahasiswa yang lain adalah adanya laboratorium multi media dan perpustakaan yang dapat diakses oleh mahasiswa.

Untuk mengoptimalkan fasilitas yang ada dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada mahasiswa, dosen dan pengelola akademik diperlukan media pembelajaran berbasis teknologi informasi. Media pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan diatas adalah e-Learning. e-Learning dalam dunia pendidikan merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran. Manfaat e-Learning dapat menghasilkan kesempatan belajar yang lebih besar bagi mahasiswa sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi lembaga. Kesiapan lembaga untuk mengadopsi e-Learning menjamin keselarasan dalam konteks pendidikan dan ekomomi (Frehywot et al., 2013).

Khoe Yao Tung (2000) mengatakan bahwa setelah kehadiran guru dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil guru yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia.

Untuk menghadapi persaingan di dunia pendidikan, kedepan Politeknik Kesehatan Bengkulu hendaknya memanfaatkan Teknologi Informasi dengan menerapkan blended learning dimana e-Learning sebagai suplemen dalam proses pembelajarannya, sebagaimana filosofis e-Learning menurut Cisco (2001) yang menjelaskan e-Learning adalah menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-Room, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi, e-Learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat

(7)

model belajar tersebut melalui pengayaan kontent dan pengembangan teknologi pendidikan.

Dengan metode pembelajaran e-Learning mahasiswa merasa bahwa belajar terasa lebih menyenangkan, efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (Warnecke & Lecturer, 2011). e-Learning juga dapat diterima secara luas di kalangan mahasiswa walaupun dengan pengetahuan yang berbeda.

Bahkan jika e-Learning diselenggarakan secara menyeluruh dapat meningkatkan penerimaan bahkan lebih jauh lagi dapat meningkatkan gengsi institusi (Lavender et al., 2013). Dengan pemanfaatan e-Learning diharapkan mahasiswa dapat memperoleh materi pembelajaran yang merata, kesempatan untuk melaksanakan diskusi baik dengan rekan sesame mahasiswa ataupun dengan dosen sehingga akan lebih terjadi pemerataan pengetahuan antar mahasiswa yang ada di kota dan mahasiswa yang berada di daerah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimanakah rancangan aplikasi media pembelajaran e-Learning untuk peningkatan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan

kebutuhan Politeknik Kesehatan Bengkulu.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah menghasilkan prototype media pembelajaran e-Learning yang sesuai kebutuhan Politeknik Kesehatan Bengkulu.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi kebutuhan pengguna aplikasi e-Learning Politeknik Kesehatan Bengkulu.

b. Mengembangkan prototype e-Learning sesuai kebutuhan Politeknik Kesehatan Bengkulu.

(8)

c. Melakukan evaluasi prototype e-Learning Politeknik Kesehatan Bengkulu.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada :

1. Politeknik Kesehatan Bengkulu, mendapatkan masukan rancangan dan prototype aplikasi e-Learning yang sesuai kebutuhan Politeknik Kesehatan Bengkulu.

2. Peneliti, dapat menambah pengetahuan dan pemahaman ilmu sistem informasi manajemen dalam menganalisa kebutuhan dan pengembangan aplikasi e-Learning sebagai media pembelajaran.

3. Pengembangan Ilmu Pengetahuan, dapat dijadikan rujukan, pembahasan dan referensi untuk penelitian selanjutnya.

E. Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian sejenis telah dilakukan oleh peneliti lain yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah :

Frehywot et al., (2013) judul penelitian “An e-Learning Reproductive Health Module To Support Improved Student Learning And Interaction: A Prospective Interventional Study At A Medical School In Egypt. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil pembelajaran menggunakan media pembelajaran e-Learning dan pembelajaran secara tradisional mahasiswa di Universitas Cairo Mesir yang dilatarbelakangi oleh sulitnya membuat materi untuk kebutuhan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia sehingga dapat beresiko mahasiswa banyak yang tidak memahami materi yang diberikan. Perbedaan dengan penelitian yang akan diteliti pada metode yang digunakan prospektif intervensi dengan sampel mahasiswa Universitas Cairo yang memiliki perbedaan karakter dengan mahasiswa di Indonesia.

Maryani et al., (2011) judul penelitian Aplikasi e-Learning sebagai model pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak. Tujuan Penelitiannya adalah untuk mengetahui

(9)

persepsi pengguna dalam aplikasi e-Learning sebagai model pembelajaran berbasis teknologi Informasi. Metodologi yang digunakan menggunakan pendekatan Action Research yang bersifat kualitatif. Subjek Penelitian ditentukan secara purposive sampling dari mahasiswa Kelas 1 dan mahasiswa Kelas 2.

Perbedaan dengan penelitian yang diambil adalah tujuan penelitiannya untuk mengetahui persepsi pengguna aplikasi e-Learning dan sampel yang digunakan secara purpose sampling dari dua kelas yang diberi perlakuan dan tidak.

Wirawan et al., (2009). judul penelitian Pengembangan e-Learning di Politeknik Kesehatan Depkes Mataram sebagai suatu metode pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi. Tujuan Penelitiannya adalah untuk mengetahui kepuasan pengguna dalam pengembangan e-Learning sebagai salah satu metode pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi di Politeknik Kesehatan Depkes Mataram. Metodologi yang digunakan menggunakan pendekatan Action Research yang bersifat kualitatif. Subjek Penelitian ditentukan secara purposive sampling dari Kampus A dan Kampus B Poltekkes Depkes Mataram. Perbedaan dengan penelitian yang diambil adalah tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepuasan pengguna dalam pengembangan e-Learning, sampel yang digunakan menggunakan purpose sampling.

Gambar

Gambar 1.1. Grafik Peringkat IPM Negara Asia Tenggara
Gambar 1.2.  Grafik Jumlah Mahasiswa Poltekkes Bengkulu
Gambar 1.4 Grafik Tingkat Pendidikan Dosen

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang dengan masa kerja lama ( ≥ 10 tahun) memiliki risiko hingga 4 kali lebih besar untuk terjadi gangguan fungsi

McCullough, Root, dan Cohen (2006) menjelaskan bahwa dimensi forgiveness ada 3 (tiga) yaitu avoidance motivation , revenge motivation , benevolence motivation.

Dengan demikian parpol sebagai subjek sekaligus objek implementasi UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum sudah sepatutnya menerapkannya secara konsisten

Ketiga tesis di atas secara substantif memang meneliti tentang pemasaran pendidikan di sebuah lembaga, baik pada sekolah tingkat menengah maupun sekolah tinggi. Akan

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah tersebut, maka penelitian ini diberi judul “ Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing

1. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dimaksudkan untuk selalu mengikuti perkembangan teori pendidikan dan perkembangan zaman. Pada setiap guru mata pelajaran yang

Pelaksanaan PKPA oleh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker ini memiliki tujuan yaitu untuk memberikan pemahaman, bekal pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan

terapi musik instrumental 82% depresi ringan, 18% depresi berat, 2) setelah melakukan terapi musik instrumental 88% tidak depresi dan 12% depresi ringan, 3) hasil