• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang Masalah

Menjalani hidup yang berkualitas, bahagia, bermanfaat, serta dilengkapi dengan kesehatan yang prima merupakan impian setiap manusia. Kesehatan merupakan salah satu hal dan faktor yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup manusia, baik itu kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Ketika seseorang memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, maka seluruh fungsi tubuhnya juga akan baik sehingga ia bisa menjalani hidup dengan normal.

Sebaliknya, jika salah satu kesehatan seseorang baik itu fisik ataupun mentalnya terganggu, maka akan berdampak pada fungsi tubuhnya, aktivitasnya, serta mempengaruhi kondisi psikisnya. Tanpa kesehatan fisik dan kesehatan mental yang prima, hidup manusia tidak akan berjalan dengan baik dan akan berkurang kualitasnya, karena kesehatan merupakan salah satu determinan penting penentu kualitas hidup seseorang (Chen, 2005).

Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi momok paling ditakuti masyarakat dunia saat ini adalah penyakit HIV/AIDS. Meskipun telah banyak disalahkaprahkan, HIV dan AIDS merupakan dua hal yang berbeda namun saling berhubungan. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sebuah virus yang menyerang sel darah putih (limfosit) manusia sehingga mengganggu sistem imun dan kekebalan tubuh. HIV juga merupakan virus dan infeksi yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, ras, dan status. Sedangkan AIDS (Acquired Immune

(2)

Deficiency Syndrome) menurut Mark (Zeth dkk, 2010) merupakan sekumpulan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV dan komplikasi infeksi virus-virus lainnya, sehingga bisa juga dikatakan bahwa AIDS merupakan stadium lanjutan dari infeksi HIV. Seseorang yang menderita AIDS sudah pasti terjangkit HIV, namun seseorang yang terkena HIV belum tentu dapat terjangkit AIDS. Semuanya bergantung kembali pada bagaimana ODHA melakukan pengobatan dan perawatan secara rutin, serta menjaga kesehatan dan pola hidup, karena hingga hari ini belum ditemukan obat dan terapi yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS.

Menurut Laporan Perkembangan HIV/AIDS & PIMS (Penyakit Infeksi Menular Seksual) di Indonesia Triwulan I Tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah orang yang terinfeksi HIV sampai dengan bulan Maret 2017 dilaporkan sebanyak 10.376 orang, dimana presentase infeksi HIV tertinggi dialami oleh kelompok usia 25-49 tahun (69.6%) dan usia 20-24 tahun (17.6%). Adapun jumlah orang yang terjangkit AIDS sampai dengan Maret 2017 dilaporkan sebanyak 673 orang, dengan presentase tertinggi sebanyak 38.6% pada kelompok usia 30-39 tahun, dimana perbandingan terjangkitnya baik HIV maupun AIDS pada laki-laki dan perempuan sama-sama sebesar 2:1.

Nursalam dan Kurniawati (2007) mengemukakan bahwa permasalahan yang dialami ODHA tidak hanya berada dalam lingkup kesehatannya, namun juga berdampak hingga ke lingkup sosial, psikologis, lingkungan, dan spiritualnya.

(3)

Contohnya di masyarakat saat ini, ODHA banyak mendapatkan stigma dan diskriminasi, padahal sebagian ODHA hanyalah korban penularan yang tidak pernah secara sengaja melakukan seks bebas, narkoba, dan perilaku buruk lainnya sehingga menjadi tertular HIV/AIDS. Penelitian yang dilakukan oleh Astuti dan Budiyani (2010) menunjukkan bahwa ODHA sering mendapatkan diskriminasi dari berbagai pihak seperti dari masyarakat sekitar, pers, bahkan dari institusi seperti rumahsakit dan juga dari keluarganya sendiri.

Peneliti melakukan wawancara dengan seorang responden wanita berusia 30- an tahun bernama RA yang tertular HIV dari suaminya. Reaksi pertama responden setelah mengetahui bahwa dirinya terkena HIV adalah rasa tidak terima dan marah, bahkan responden sempat pingsan dan mengurung diri. Responden RA saat itu beranggapan bahwa HIV adalah penyakit yang menjijikkan, menakutkan, dan merupakan kutukan. Responden juga dijauhi oleh teman-teman dan keluarganya, termasuk ibunya dan suaminya sendiri. Suami subjek malah menuduh subjek selingkuh karena virus tersebut. Semua tekanan ini kemudian membuat responden RA merasakan stressor yang sangat besar, yang kemudian mempengaruhi kehidupan responden RA, seperti merasakan perasaan negatif setiap harinya baik itu kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri, mengurung diri, tidak nafsu makan, sehingga kemudian menurunkan keberfungsian, produktifitas, dan kualitas hidupnya sendiri.

Responden kedua yang diwawancara merupakan salah satu pengurus KDS (Kelompok Dukungan Sosial) dan juga pendamping sebaya bagi ODHA, yakni seorang wanita berusia 50-an tahun bernama LM. Responden LM mengatakan

(4)

bahwa teman-teman ODHA yang baru didiagnosis tidak sedikit yang kemudian diusir dari rumah, mendapat perlakuan tidak menyenangkan di rumah sakit, tidak memiliki tempat untuk mencurahkan masalah, sehingga semua hal ini kemudian berperan besar dalam memperparah kondisi ODHA, baik itu secara fisik maupun psikologisnya, diantaranya adalah memperlambat penerimaan diri mereka hingga bertahun-tahun lamanya, mengembangkan konsep diri yang buruk pada ODHA, hingga melemahkan kondisi fisik yang kemudian banyak teman-teman ODHA yang terkomplikasi TBC, meningitis, hingga mengidap AIDS.

Hal ini sesuai dengan penjelasan Kubler-Ross (Yunita & Lestari, 2017;

Nursalam dkk, 2014) mengenai lima tahapan dan siklus yang dilalui seseorang ketika berhadapan dengan stressor yang dianggap sangat berat, misalnya ketika berduka karena kehilangan seseorang yang dicintai, ketika tertimpa masalah serius, mengalami penyakit berat, menghadapi kematian, atau stressor berat lainnya. Lima tahapan tersebut terdiri dari tahap penyangkalan (denial), tahap marah (anger), tahap tawar-menawar (bargaining), tahap depresi (depression), dan tahap penerimaan (acceptance).

Tahap denial merupakan reaksi umum pada individu ketika tertimpa stressor berat, yakni adanya rasa tidak percaya, shock, dan kemudian menyangkal atau mengingkari masalah yang ia hadapi. Setelah menyangkal apa yang terjadi, individu kemudian memasuki fase anger dimana individu menunjukkan reaksi marah entah itu pada dirinya sendiri, pada keadaan, pada orang lain yang bersangkutan, hingga kepada Tuhan. Individu kemudian berusaha melakukan bargaining (tawar-menawar) atapun melakukan kesepakatan dan memohon

(5)

pertolongan, kesempatan, waktu, dan lain-lain sebagai upaya mencegah, menunda, ataupun dalam menghadapi stressor tersebut. Tahap depression ditandai dengan individu yang mulai kehilangan harapan, putus asa, frustasi, menarik diri, dan sebagainya, yang mana jika semakin parah dapat menimbulkan pemikiran untuk bunuh diri. Hingga kemudian individu sampai kepada tahap acceptance, dimana individu sudah mulai dapat menerima keadaan disertai dengan bersikap tenang, pikiran yang lebih jernih, dan mulai melihat dari sisi positif dan berpikir ke depan.

Penyakit HIV/AIDS yang diderita ODHA dapat menjadi stressor utama yang menurunkan berbagai aspek kualitas hidup dan kemampuan bertahan hidupnya (Setiyorini, 2015). Secara fisik, penyakit HIV/AIDS yang diderita ODHA membuat kondisi fisiknya menurun dan menyebabkan gangguan seperti lebih mudah lelah, mual, tidak nafsu makan, timbulnya bercak-bercak di tubuh, penurunan berat badan, dan lain sebagainya. Secara sosial ODHA juga dapat terpengaruh, diantaranya adalah karena stigma, diskriminasi, dan sikap negatif lainya terhadap ODHA yang masih umum terjadi di masyarakat saat ini sehingga mengganggu hubungan interpersonal dan sosial ODHA dan dapat menurunkan kualitas hidup ODHA (Lubis dkk, 2016).

Sementara secara psikis, adanya stigma dan diskriminasi yang diterima dari berbagai pihak serta ketakutan akan masa depan dapat memunculkan perasaan hampa, depresi, putus asa, bahkan sebagian ODHA memiliki keinginan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya sudah tidak berkualitas dan tidak bermakna lagi (Astuti & Budiyani, 2010). Selano (2015) menjelaskan bahwa berdasarkan

(6)

penelitian-penelitian sebelumnya, mayoritas pasien HIV/AIDS mengalami gangguan dan bahkan penurunan kualitas hidup, diantaranya sebesar 63%

(Selano, 2015), sehingga penanganan ODHA yang penyakitnya sudah mecapai tahap progresif perlu untuk diperhatikan aspek kualitas hidupnya terkait fisik, psikologis, sosial, dan aspek kualitas hidup lainnya. Kusuma (2011) juga mengemukakan bahwa kualitas hidup ODHA sangat penting untuk diteliti karena HIV/AIDS merupakan penyakit kronis dan progresif yang dampaknya dapat merambah pada aspek fisik, psikologis, sosial, hingga spiritual ODHA.

Kualitas hidup merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia karena kualitas hidup tidak hanya mengindikasikan bagaimana kesejahteraan seseorang secara psikologis, tapi juga keberfungsian seseorang dalam kehidupannya (Wulandari & Rahmania, 2010). Lukkarinen dan Hentinen (Wulandari & Rahmania, 2010) berpendapat bahwa jika kualitas hidup ingin dihubungkan dengan kesehatan, maka dapat didefenisikan sebagai bagaimana pengalaman subyektif seseorang mengenai kehidupannya yang dipengaruhi oleh kondisi kesehatan fisiknya, sehingga kualitas hidup harus dilihat dari pandangan pasien, karena pasienlah yang paling memahami bagaimana hidupnya dipengaruhi oleh kesehatan atau penyakitnya. Kualitas hidup memiliki makna yang sangat luas dan dapat dikaitkan dengan berbagai lingkup internal dan eksternal manusia, seperti lingkup sosial, lingkungan, psikis, kesehatan, dan lingkup lainnya.

Kualitas hidup mencakup berbagai dimensi yang meliputi fisik, mental, emosi, sosial, hingga komponen-komponen perilaku yang dirasakan seorang pasien (Muhaimin, 2010). Konsep kualitas hidup secara umum juga selaras

(7)

dengan konsep WHO yang memandang konsep “sehat” pada manusia tidak hanya sebatas pada sehat karena tidak adanya penyakit atau kecacatan pada tubuh secara fisik, namun juga berdasarkan kondisi psikis, emosi, serta kesejahteraan seseorang (well-being), sehingga pengukuran akan kesehatan tidak hanya sebatas pada tingkat keparahan penyakitnya, namun juga mengukur kesejahteraan dan kualitas hidup manusia (WHO, 1997; WHOQOL-HIV Group, 2003). Hal ini terbukti dengan World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) yang menggagas defenisi kualitas hidup sebagai bagaimana perspektif dan persepsi seseorang terhadap status, tujuan, hingga harapan hidupnya sendiri. WHO juga mendefinisikan kualitas hidup sebagai bagaimana persepsi individu akan posisinya dalam kehidupan terkait dengan konteks budaya, sistem nilai yang dianut, serta hubungannya dengan tujuan dan permasalahan hidup seseorang (WHO, 1997; WHOQOL Group, 1998; WHOQOL HIV Group, 2003; Kusuma, 2011).

Setelah divonis menderita HIV, responden lainnya yang merupakan seorang wanita berumur 30-an tahun bernama SK yang awalnya sangat bingung karena belum paham benar apa itu HIV/AIDS, sempat menjalani fase-fase yang berat hingga kemudian bangkit dan berusaha mencari tahu segala informasi mengenai HIV/AIDS. Responden SK lalu diperkenalkan ke salah satu organisasi dan KDS dimana kemudian di KDS ini responden SK berkenalan dengan ODHA dari berbagai latar belakang dan kemudian aktif membantu dan mensosialisasikan pemberdayaan ODHA. Hingga kini responden SK selalu berusaha hidup lebih

(8)

bermanfaat, positif, dan berkualitas dengan membantu teman-teman ODHA dan senantiasa berkomunikasi dengan Tuhan.

Basavaraj dkk (2010) mengemukakan bahwa salah satu prediktor penting dari kualitas hidup ODHA adalah antiretroviral therapy (ART), psychological well- being, spiritual well-being, dan strategi coping seseorang. Kualitas hidup ODHA dapat dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung dari kemampuan coping-nya (Wrosch & Scheier, 2003), dimana Sari dan Haryati (2015) juga mengemukakan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi ODHA adalah dalam menemukan dan mengembangkan coping yang efektif untuk mempertahankan kondisi fisik dan psikisnya. Degroote dkk (2014) dalam penelitiannya juga mengemukakan bahwa terdapat faktor-faktor penentu utama yang dapat mempengaruhi dan berhubungan dengan kualitas hidup seseorang, diantaranya adalah faktor psikologis yang terdiri dari kemampuan coping, tingkat religiusitas, dan kepercayaan agama seseorang. Sedangkan menurut Lim (Aninofita, 2015), kepercayaan atau agama yang diyakini individu dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Adapun menurut penelitian Trevino (Siah &

Tan, 2017), religious coping merupakan salah satu hal yang relevan dan mampu meningkatkan kualitas hidup pada penderita HIV/AIDS.

Pargament (1997; 2011) menjelaskan bahwa koping religius adalah sebuah usaha dalam mengatasi dan mengurangi berbagai sumber stressor dengan meningkatkan aspek keagamaan dan mendekatkan hubungan kepada Tuhan.

Menurut Koenig (Aflakseir & Coleman, 2011), koping religius melibatkan strategi perilaku atau kognitif yang berdasarkan kepada kepercayaan atau praktik

(9)

agama untuk membantu mengatasi stres emosional dan ketidaknyamanan fisik.

Ward (Angganantyo, 2011) mengemukakan bahwa koping religius umumnya muncul pada saat-saat kritis atau genting bagi individu, seperti kematian orang terdekat, kecelakaan, hingga terkena penyakit parah, dan-hal lain yang bisa menimbulkan stressor yang besar. Freitas dkk (2015) juga mengemukakan bahwa ketika pasien tertekan karena penyakit kronis yang dialaminya, pasien dapat menemukan perasaan lega dan kendali dirinya melalui koping religius.

Pargament (1998; 2000; 2011) serta Aflakseir dan Coleman (2011) mengelompokkan koping religius menjadi dua, yaitu koping religius positif, dimana terdapat hubungan kedekatan antara individu dengan Tuhan-nya yang bersifat kuat dan aman (secure relationship with God) disertai dengan peningkatan iman, serta koping religius negatif yang berarti tidak terjalinnya kedekatan yang aman antara individu dan Tuhan-nya (less secure relationship with God), dimana salah satunya individu merasa diabaikan dan marah kepada Tuhan. Positive religious coping telah terbukti dapat meningkatkan kesehatan fisik dan afek positif pada seseorang, sedangkan negative religious coping terbukti dapat menurunkan kesehatan fisik, meningkatkan tingkat psikopatologi dan depresi, serta menurunkan kualitas hidup seseorang (Siah & Tan, 2017).

Koping religius positif juga telah terbukti berasosiasi dengan kondisi Islamic well-being, penyesuaian sosial, serta kepuasan hidup yang lebih baik, sedangkan koping religius negatif berkorelasi negatif dengan peningkatan kualitas hidup, sehingga semakin sedikit seseorang menggunakan koping religius negatif, maka kualitas hidupnya dapat semakin membaik (Pargament & Raiya, 2007). Anggraini

(10)

(Zakiyah, 2017) juga mengemukakan bahwa penggunaan koping religius dapat mendekatkan hubungan seseorang dengan Tuhan-nya, menimbulkan ketenangan dan optimisme yang kemudian membantu menghadapi stressor dan meningkatkan kualitas hidup pada seseorang.

Seperti yang telah dipaparkan diatas, ODHA mengalami berbagai hal dan menerima stressor yang berat setiap harinya, karena ODHA selalu berhadapan dengan penyakit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya, mendapatkan stigma dan diskriminasi dari masyarakat, serta harus senantiasa menstabilkan kondisi psikologisnya, padahal penelitian Ader dan Subowo (Nursalam dkk, 2014) telah menjelaskan bahwa individu yang terkena terlalu banyak stressor maka kondisi fisiknya dapat memburuk dan sisten imunnya dapat tertekan. Semua stressor ini dapat memperburuk kondisi ODHA dan kehidupannya, salah satunya adalah kepada bagaimana kualitas hidup yang dirasakan ODHA itu sendiri.

Jika ODHA dapat mengatasi berbagai stressor dan permasalahan di sekitarnya dengan baik, maka hal itu akan sangat membantu meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup ODHA. Ditambah lagi dengan adanya koping religius, yakni upaya memanajemen permasalahan ODHA dengan pendekatan keagamaan, diharapkan dapat menjadi strategi koping yang efektif bagi ODHA dalam menghadapi permasalahannya dan menjalani hidup dengan lebih baik dan berkualitas. Dengan adanya koping religius yang diterapkan pada ODHA, diharapkan menurunkan stressor, menenangkan pikiran, serta meningkatkan kualitas hidup pada ODHA.

Dengan menerapkan koping religius yang baik maka kualitas hidupnya juga akan semakin baik, namun begitu juga sebaliknya, koping religius yang buruk atau

(11)

tidak adanya upaya dalam menangani permasalahan dapat berdampak pada rendahnya kualitas hidup ODHA serta memperparah penyakitnya.

Berdasarkan latar belakang tersebut dan adanya urgensi agar ODHA memiliki kualitas hidup yang baik, peneliti ingin mengetahui bagaimana hubungan koping religius terhadap kualitas hidup pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan koping religius terhadap kualitas hidup pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan rekomendasi teoritis mengenai kualitas hidup serta bagaimana memanajemen atau mengatasi stressor dengan pendekatan keagamaan (koping religius), terutama yang berhubungan dengan pengidap HIV/AIDS. Penelitian ini juga sebagai bentuk kontribusi terhadap perkembangan riset mengenai HIV/AIDS dalam bidang psikologis, medis, sosial, dan lainnya.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk meningkatkan kesadaran mengenai betapa pentingnya mencapai hidup yang berkualitas, dan pentingnya menerapkan koping keagamaan yang positif dalam menghadapi permasalahan hidup sehari-hari, baik pada

(12)

individu yang sehat maupun yang memiliki penyakit. Peneliti juga berharap dapat memberikan wawasan tambahan pada masyarakat mengenai HIV/AIDS dan meningkatkan pemberdayaan ODHA.

D. Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian ini mengacu kepada beberapa penelitian terdahulu mengenai kualitas hidup dan koping religius pada pasien HIV/AIDS yang memiliki karakteristik dan beberapa komponen penelitian yang sama, meskipun tetap memiliki perbedaan pada konsep, variabel, alat ukur, subjek, metode penelitian, dan lainnya. Diantaranya adalah penelitian Khakha dan Kapoor (2015) yang berjudul “Effect of Coping Strategies Intervention on The Coping Styles Adopted by People Living with HIV/AIDS at A Tertiary Care Hospital in The National Capital” dengan pengambilan data responden menggunakan alat ukur BREF COPE Pargament dan WHOQOL-BREF HIV. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa mekanisme coping yang paling sering digunakan pada pasien HIV/AIDS adalah acceptance coping & religious coping, serta koping religius positif berkorelasi secara positif dengan kualitas hidup.

Aninofita (2015) melakukan penelitian mengenai koping religius terhadap kualitas hidup pada 83 orang warga yang menjadi penyintas erupsi Gunung Merapi Yogyakarta pada tahun 2010. Kualitas hidup penyintas Merapi dalam penelitian ini diukur menggunakan WHOQOL-BREF dan koping religius penyintas diukur menggunakan Iranian Religious Coping Scale (IRCOPE), sebuah skala religius koping khusus Islam yang dikembangkan oleh Aflakseir dan Coleman (2011) berdasarkan teori Pargament. Hasil penelitian ini menunjukkan

(13)

adanya hubungan positif antara koping religius positif terhadap peningkatan kualitas hidup warga penyintas erupsi. Pinho dkk (2016) ingin mengetahui bagaimana koping religius/spiritual penderita HIV/AIDS terhadap kualitas hidup menggunakan Religious/Spiritual Coping Scale (RCOPE): Positive & Negative RCOPE. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya asosiasi positif antara RCOPE positif terhadap kualitas hidup pasien HIV.

Adapun penelitian Dalmida dkk (2015) dengan judul “Religious and Psychosocial Covariates of Health-Related Quality of Life in People Living with HIV/AIDS” mengukur kualitas hidup pasien HIV melalui beberapa variabel, yakni koping religius, religiusitas, dukungan sosial, dan variabel terkait medis seperti depresi dan kepatuhan berobat. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah modifikasi dari Brief Multidimensional Measure of Religiousness/Spirituality (BMMRS), Religious Coping Scale (RCOPE), serta RAND-36-Item Health Survey 2.0 untuk mengukur kualitas hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien HIV yang berdoa setidaknya sekali dalam sehari dan rutin mendatangi pertemuan agama memiliki kualitas hidup dan emotional well-being yang lebih baik.

Adapun Zakiyah (2017) melakukan penelitian mengenai koping religius terhadap kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 yang berusia 45 hingga 65 tahun ke atas yang beragama Islam. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah WHOQOL-BREF untuk mengukur kualitas hidup pasien dan Iranian Religious Coping Scale (IRCOPE) Aflakseir untuk mengukur koping religius Islam pada pasien diabetes. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan

(14)

positif antara koping religius positif terhadap peningkatan kualitas hidup pasien, serta adanya hubungan negatif terhadap penurunan kualitas hidup pasien diabetes.

1. Keaslian Topik

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini juga mengkaji mengenai kualitas hidup dan koping religius, namun koping religiusnya lebih kepada mengkaji Islamic religious coping pada pasien HIV/AIDS, dengan judul penelitian yakni “Hubungan Koping Religius terhadap Kualitas Hidup pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)”, sehingga penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang telah dilakukan Khakha dan Kapoor (2015), Aninofita (2015), Pinho (2016, Dalmida dkk (2015), dan Zakiyah (2017).

2. Keaslian Teori

Teori dan konsep kualitas hidup dalam penelitian ini mengacu kepada World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) yang mendefinisikan kualitas hidup sebagai bagaimana perspektif dan persepsi seseorang terhadap status, tujuan, hingga harapan hidupnya sendiri serta bagaimana persepsi individu akan posisinya dalam kehidupan terkait dengan konteks budaya, sistem nilai yang dianut, tujuan hidup, dan permasalahan hidup seseorang (WHO, 1997; WHOQOL-HIV Group, 2003). Penelitian ini juga berfokus pada coping yang didasarkan pada pendekataan keagaman dan hubungan dengan Tuhan, yakni Islamic positive and negative religious coping yang dikemukakan oleh Aflakseir dan Coleman (2011) berdasarkan teori Pargament (1997; 1998; 2011).

(15)

Adapun penelitian Khakha dan Kapoor (2015) menggunaan metode eksperimen untuk menerapkan intervensi strategi koping terhadap pasien HIV berdasarkan kepada teori kualitas hidup WHOQOL dan religious coping Pargament, sedangkan Pinho (2016) menganalisis religious and spiritual coping pada responden HIV-nya berdasarkan kepada religious coping dari Koenig (2008) serta Panzini dan Bandeira (2005), dan Dalmida dkk (2015) melakukan penelitiannya mengukur health related quality of live pasien HIV melalui beberapa variable kovariat, yakni religiusitas, dukungan sosial, dan variabel terkait medis seperti depresi dan kepatuhan berobat, serta religious coping Pargament. Penelitian Aninofita (2015) dan Zakiyah (2017) juga menggunakan teori WHOQOL dan koping religius Aflakseir, namun lebih diperuntukkan kepada penyintas erupsi Merapi dan penelitian Zakiyah (2017) lebih diperuntukkan kepada pasien diabetes melitus tipe 2.

3. Keaslian Alat Ukur

Kualitas hidup dalam penelitian ini diukur menggunakan WHOQOL- HIV BREF dalam WHO (2002) dan Pedroso dkk (2011) yang juga telah uji kesahihannya ke bahasa Indonesia oleh Muhammad dkk (2017).

Sedangkan koping religius diukur menggunakan IRCOPE (Iranian Religious Coping Scale), sebuah skala RCOPE (religious coping) khusus Islam yang dikembangkan oleh Aflakseir dan Coleman (2011) berdasarkan adaptasi teori dan alat ukur Pargament (1998; 2000; 2011).

(16)

Penelitian Aninofita (2015) dan Zakiyah (2017) juga menggunakan skala IRCOPE namun kualitas hidupnya diukur menggunakan WHOQOL-BREF. Sedangkan Khakha dan Kapoor (2015) menerapkan metode eksperimen dan FGD sebelum menggunakan skala WHOQOL HIV-BREF dan BREF COPE. Adapun Pinho (2016) mengukur religious coping dengan menggunakan RCOPE Brazil oleh Panzini dan Bandeira (2005) serta The Duke University Religiosity Index (DUREL). Dalmida dkk (2015) dalam penelitiannya mengukur religious coping menggunakan modifikasi dari Brief Multidimensional Measure of Religiousness/Spirituality (BMMRS), Religious Coping Scale (RCOPE), serta RAND-36-Item Health Survey 2.0 untuk mengukur kualitas hidup 4. Keaslian Subjek

Responden yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) laki-laki dan perempuan yang berasal dari LSM IP & VP yang berlokasi di Yogyakarta. Beberapa penelitian sebelumnya juga menggunakan ODHA sebagai subjek, namun berbeda dengan penelitian ini. Penelitian Khakha dan Kapoor (2015) menggunakan subjek ODHA di India, penelitian Pinho (2016) menggunakan subjek ODHA di Brazil, penelitian Dalmida dkk (2015) menggunakan subjek ODHA di Amerika. Sedangkan penelitian Aninofita (2015) diterapkan kepada penyintas erupsi Merapi Yogyakarta, dan penelitian Zakiyah (2017) pada pasien diabetes di Yogyakarta dan Kalimantan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian keterbacaan ini akan menggunakan dua alat ukur yakni menggunakan grafik Fry dan prosedur Cloze (Cloze Procedure). Grafik Fry adalah alat ukur keterbacaan yang digagas

Manfaat tersebut berupa pemahaman tentang jenis afiks pada kata majemuk bahasa Indonesia, pemahaman tentang macam kategori pada kata majemuk bahasa Indonesia, dan

hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan metode Ummi dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran pada siswa SMP IT Izzatul Islam Getasan secara umum telah

Dari hasil perhitungan gaya-gaya dalam yang berupa gaya lintang, momen torsi, dan momen lentur akan dihitung penulangan lentur, penulangan geser, dan penulangan

Metode yang digunakan untuk Sistem Pendukung Keputusan pemilihan laptop adalah Prototipe Sistem Pendukung Keputusan Untuk Membandingkan Sistem Operasi Terbaik Pada

Dari penggabungan model Horton 5 lokasi yang tergolong kelompok kepadatan rendah diatas diketahui lokasi di Karangbesuki memiliki nilai laju infiltrasi awal yang

Selain KTI terbit dalam bentuk buku apabila peneliti tersebut telah memiliki 1 KTI terbitan majalah ilmiah internasional atau mempunyai penemuan baru atau internasional atau

Hasil peneitian menunjukkkan bahwa proses latihan yang kondusif dapat meningkatkan ketrampilan dalam pembelajaran Lari jarak pendek dan dapat menggunakan berbagai