• Tidak ada hasil yang ditemukan

[Type here] ONIGIRI #11

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "[Type here] ONIGIRI #11"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ONIGIRI #11

(2)

Tim Penulis

Ketua Proyek Kajian

Muhammad Musyarroful Ala (Politik dan Pemerintahan UGM, 2018)

Tim Kajian

Marshal Nizar Ismail (Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, 2018) Arya Yudha Andrea (Sosiologi UGM, 2018)

Taufik Mehindra (Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, 2019) Gregorius Dimas Ray (Filsafat UGM, 2018)

Muhammad Afif Siduppa (Hukum UGM, 2019) Rasa Cinta Jurnalista (Psikologi UGM, 2019) Rosa Diptya Putri (SV Teknik Elektro UGM, 2018)

Lukman Nur Prasetyo (Psikologi UGM, 2018)

(3)

Pada tanggal 30 Maret 2020, DPR RI memutuskan menggelar rapat paripurna pembukaan masa persidangan III, meskipun Virus Corona (COVID-19) sedang mewabah di Indonesia. Perlu diketahui bahwa, virus COVID-19 ini telah menyebar hampir di seluruh negara tak terkecuali di Indonesia dengan korban kematian yang cukup besar. Untuk mengatasi bertambahnya korban, pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan physical distancing dan mendeklarasikan kondisi Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana diatur pada UU Nomor 6 Tentang Kekarantinaan Kesehatan guna membatasi aktivitas diluar rumah dan tidak melakukan kegiatan yang melibatkan khalayak ramai.

DPR RI, yang merupakan perwakilan rakyat Indonesia, harus memperhatikan seruan dan masukan masyarakat demi terciptanya kondisi aman dan nyaman dalam kehidupan masyarakat. Sayangnya, tugas utama sebagai penampung aspirasi rakyat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika tuntutan buruh dan berbagai elemen organisasi masyarakat, yang menyerukan tunda pembahasan Omnibus Law di tengah pandemik COVID-19 ini dan DPR RI fokus menjalankan fungsi anggaran dan pengawasan dalam penanganan COVID- 19, tuntutan tersebut tidak didengarkan oleh anggota dewan yang terhormat.

Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa pembahasan Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja di parlemen tetap akan tetap dilakukan sesuai mekanisme. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi publik,

“Apa Urgensi Pemerintah Mengedepankan Pembahasan RUU Cipta Kerja di tengah Kondisi Pandemi COVID-19? Apakah DPR sudah berfokus kepada fungsinya dalam menangani COVID-19? Dan Etis-kah membahas RUU Cipta Kerja di Tengah Pandemi COVID-19?

Kajian ini mencoba membedah sekilas mengenai urgensi pembahasan RUU Cipta Kerja dengan mengaitkan pembahasan dengan fungsi serta kode etik DPR dalam mengemban

amanahnya sebagai wakil rakyat,

(4)

Pada tanggal 20 Oktober 2019, wacana mengenai konsep Omnibus Law di Indonesia mulai dibahas. Hal itu ditandai dengan di singgungnya wacana Omnibus Law pada pidato Presiden Jokowi pada sidang paripurna MPR RI dalam rangka pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024 di Senayan, Jakarta. Pada 17 Desember 2019, Pemerintah mengajukan konsep perundangan Omnibus Law

ke DPR. Setelah satu tahun berjalan, Pada 16 Januari 2020, Badan Legislasi DPR RI menyelenggarakan rapat kerja dengan Menteri Hukum dan HAM serta Panitia Perancang UU DPD guna menyusun kembali Prolegnas RUU Prioritas 2020. Dari rapat tersebut, DPR dan pemerintah menyepakati 50 Rancangan Undang-Undang (RUU) dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas tahun 2020 yang mana terdapat empat RUU yang menggunakan konsep Omnibus Law di dalamnya.

Menindaklanjuti hasil rapat kerja Badan Legislasi DPR dengan pemerintah, tertanggal 22 Januari 2020, Rapat Paripurna DPR menyetujui laporan Baleg DPR RI mengenai penetapan Prolegnas Prioritas 2020. Eksistensi Omnibus Law di Indonesia kemudian berlanjut semakin nyata dimulai dari penyerahan Surat Presiden, RUU Cipta Kerja, dan Naskah Akademik kepada DPR RI oleh pemerintah pada tanggal 12 Februari 2020. RUU Cipta Pidato Presiden Jokowi pada sidang paripurna

MPR RI 2019 Sumber: Kompas.com

(5)

kerja merupakan Omnibus Law yaitu UU baru yang memuat beragam substansi aturan yang keberadaannya mengamandemen beberapa UU sekaligus. Pada tanggal 30 Maret 2020, DPR mengakhiri masa reses dan menyelenggarakan rapat paripurna, dimana Ketua DPR Puan Maharani menegaskan pembahasan RUU Cipta Kerja di parlemen tidak akan berhenti, dan tetap akan dilakukan sesuai mekanisme perundang-undangan.

Memasuki bulan April, situasi pandemi di Indonesia semakin mengenaskan. Persebaran Virus Corona semakin meluas dan kebutuhan masyarakat semakin meningkat, termasuk kebutuhan APD bagi tenaga medis yang bertugas menjadi garda terdepan penanganan Virus Corona. Namun, kondisi tersebut tidak menggoyahkan keteguhan DPR. Tertanggal 2 April 2020, DPR menyetujui pembahasan

rancangan undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja dalam Rapat Paripurna, dimana di dalam Rapat Paripurna tersebut kemudian dilakukan penugasan kepada Badan Legislasi untuk membahas RUU Cipta Kerja. Tidak berhenti sampai disitu, pada tanggal 7 April 2020, Dilakukan rapat pendahuluan oleh Badan Legislasi (Baleg) untuk menyepakati rancangan jadwal acara pembahasan

RUU Cipta Kerja yang dilanjut Rapat kerja pertama untuk membahas draf Omnibus Law antara pemerintah dan Baleg DPR yang kemudian disepakati untuk membentuk panitia kerja (panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law pada 14 April 2020. 20 April 2020 Badan Legislasi (Baleg) DPR menetapkan nama anggota panitia kerja (panja) pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja, Dimana delapan dari sembilan fraksi partai mencatatkan nama anggotanya untuk terlibat dalam Panja RUU Cipta Kerja.

DPR Terima Draf dan Surpres RUU Omnibus Law Cipta Kerja

Sumber: Kompas.com

(6)

Pada tanggal 22 April 2020, Perwakilan buruh menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, pihak buruh meminta klaster ketenagakerjaan dalam Omnibus Law Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja dihapus. Pihak buruh berencana akan melakukan demonstrasi apabila permintaannya tidak digubris oleh pemerintah. Tidak sia-sia, tertanggal 23 April 2020, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta Badan Legislasi DPR RI menunda pembahasan klaster ketenagakerjaan pada RUU Cipta Kerja yang disusun dengan metode omnibus. Hal ini menjadi kabar baik bagi masyarakat untuk sementara waktu hingga akhirnya pada tanggal 24 April 2020 Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa pembahasan RUU Cipta Kerja khusus klaster ketenagakerjaan resmi ditunda.

Meskipun klaster ketenagakerjaan ditunda, pembahasan RUU Cipta Kerja ternyata tetap berjalan sesuai dengan jadwal. Pada tanggal 27 April 2020, Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Baleg DPR RI sempat menyoroti status media sosial Jokowi yang menyatakan penundaan pembahasan klaster ketenagakerjaan dari RUU tersebut. Namun, Baleg tidak menghiraukan pernyataan Presiden Jokowi, karena pernyataan tersebut tidak disampaikan melalui surat resmi. Baleg DPR RI tetap menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) untuk menjaring pendapat dari berbagai pakar dan praktisi. 28 April 2020, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Willy Aditya menyebutkan beberapa usulan fraksi kepada pemerintah terkait kelanjutan pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Usulan tersebut diantaranya meminta Presiden Joko Widodo menarik klaster ketenagakerjaan dari RUU, selain itu ada pula usulan untuk mengganti nama RUU menjadi RUU Omnibus Law tentang Kemudahan Berinvestasi dan Debirokratisasi Perizinan, atau RUU Omnibus Law

Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea bersama Jokowi di Istana Negara

Sumber: Emintennews

(7)

Pembangunan Ekonomi Baru. Hingga pada 29 April 2020, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) untuk membahas RUU Cipta Kerja dengan sejumlah pakar hukum yang diantaranya adalah pakar hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Bambang Kesowo dan Prof. Dr. Satya Arinanto. Bambang Kesowo memandang positif tujuan di balik pembentukan RUU Ciptaker. Sedangkan Satya juga memberikan dukungannya terhadap penggunaan metode Omnibus Law.

(8)

Pembahasan mengenai RUU Omnibus Law Cipta Kerja oleh DPR mendapatkan berbagai reaksi dari masyarakat. Suara terbesar datang dari kaum buruh yang menolak pembahasan RUU ini ditengah pandemik global. Mereka menyayangkan pihak legislatif yang justru menggunakan momentum social distancing ini untuk membahas kebijakan yang cenderung mendapat reaksi negatif dari sebagian besar golongan masyarakat atau publik. Penolakan ini berujung pada saran untuk menghentikan pembahasan RUU Omnibus Law dan meminta seluruh stakeholder fokus menangani penyebaran COVID-19.

Pentingnya Peran DPR dalam Penanganan Pasca Bencana

Pemerintah Indonesia telah sepakat bahwa penanganan pandemi COVID-19 dilakukan di bawah pengarahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan salah satu tugasnya adalah;

“memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan keadaan darurat bencana, rehabilitasi, dan

rekonstruksi secara adil dan setara.”

Dalam pelaksanaannya, BNPB bekerja sama dengan lembaga eksekutif untuk mengeksekusi segala kebijakan dan tindakan yang diambil untuk penanggulangan bencana. Sedangkan secara formal, lembaga negara legislatif hanya bertugas untuk mengawasi eksekutif dalam usaha penanggulangan COVID-19 seperti memberi persetujuan terhadap kebijakan untuk menekan persebaran angka penyakit dan penyediaan fasilitas kesehatan. Sehingga, tidak menutup kemungkinan bagi DPR untuk melaksanakan fungsi lainnya sebagai pembuat kebijakan perundang – undangan.

(9)

Penanggulangan bencana harus diikuti dengan penanganan pasca bencana yang telah diatur oleh Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi.

Penanganan pasca bencana diartikan sebagai;

“segala upaya dan kegiatan perbaikan fisik maupun non fisik yang dilakukan setelah terjadinya bencana/masa tanggap darurat, meliputi : rehabilitasi dan rekonstruksi sarana,

prasarana, fasilitas umum yang rusak akibat bencana dalam upaya pemulihan kehidupan masyarakat. Khusus penanganan non fisik akan diatur kemudian”

Selain itu, salah satu kriteria dilaksanakannya penanganan pasca bencana adalah apabila bencana mengakibatkan terganggunya kegiatan ekonomi masyarakat secara nyata dan menurunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Meskipun keseluruhan pedoman tersebut berkaca pada lingkup bencana yang lebih sempit, namun dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan kebijakan atas dasar recovery pasca pandemi memiliki urgensi yang sama dengan penanganan pandemi itu sendiri.

Sejak pandemi berlangsung, banyak kegiatan usaha terhenti hingga perusahaan yang mengalami kerugian terpaksa harus mem-PHK massal pekerjanya. Gejolak perekonomian yang tak pasti tentu mencegah investor untuk menanamkan investasi pada perusahaan nasional. Sama seperti negara lainnya, COVID-19 telah merubah arah perekonomian negara secara signifikan. Untuk merespon keadaan ini, pemerintah–

lembaga legislatif bersama eksekutif– perlu mengambil kebijakan untuk melindungi masyarakat dan mengembalikan stabilitas perekonomian negara.

COVID-19 Merubah Arah Perekonomian Global Secara Drastis

Sumber: Penjelasan RUU Cipta Kerja, Kementerian Perekonomian RI

(10)

RUU Omnibus Law Sebagai Strategi Untuk Mendobrak Investasi

Beberapa perubahan yang diatur dalam RUU Omnibus Law antara lain mengenai AMDAL (analisis dampak lingkungan), yang mana sebelumnya diatur pada pasal 23 UU no 32 th.

2009. Pasal tersebut menjelaskan secara rinci mengenai analisis lingkungan apa saja yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mengantongi perizinan pembangunan sarana dan prasarana penunjang bisnis. Namun pada RUU Omnibus Law pasal ini disederhanakan menjadi; analisis dampak dari proses dan kegiatan usaha terhadap perubahan lingkungan hidup, sosial, ekonomi, dan budaya.

Selain itu, dalam naskah akademik dijelaskan alasan perubahan pada pasal 26 yang memangkas akses pelibatan masyarakat dalam penentuan perizinan karena dinilai menjadi faktor penghambat investasi. Pemerintah memberi keleluasan kepada pengusaha untuk mengatur jam kerja para buruh/pekerjanya seperti pengadaan waktu istirahat panjang dan jam kerja lembur. Hal ini tentu menarik bagi perusahaan. Secara keseluruhan, tujuan Omnibus Law tertera pada pasal 7 yang secara garis besar adalah penyederhanaan persyaratan investasi beserta dasar perizinan berusaha.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menciptakan iklim investasi yang ramah investor.

Tingginya investasi akan diikuti dengan banyaknya pendirian perusahaan baru yang mana akan membuka lapangan kerja seluas – luasnya bagi masyarakat Indonesia. Kesempatan kerja yang tinggi dan berputarnya kembali roda perekonomian Indonesia diharapkan mampu menopang perekonomian masyarakat yang ter-PHK atau terdampak ekonominya akibat pandemi. Dengan begitu kebijakan Omnibus Law dinilai mampu mempercepat laju recovery perekonomian negara pasca pandemi.

(11)

Gerak Fungsi DPR untuk Percepatan Penanganan COVID-19

Dewan Perwakilan Rakyat merupakan lembaga vital negara yang masuk kedalam jajaran 3 kekuasaan yaitu Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Ketiga kekuasaan tersebut seharusnya melaksanakan fungsi check and balances agar tidak ada satu kekuasaan yang memiliki overpower dalam menjalankan setiap fungsinya. DPR dalam hal ini sebagai lembaga legislatif, mempunyai 3 fungsi utama yaitu fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Fungsi legislasi merupakan tugas dan wewenang DPR dalam hal melakukan penyusunan Program Legislasi Nasional (Prolegnas), menyusun dan membahas Rancangan Undang- Undang (RUU), menerima dan membahas RUU yang diusulkan Presiden atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD), menetapkan UU bersama dengan Presiden, dan menyetujui atau tidak menyetujui PERPPU.

Fungsi anggaran merupakan tugas dan wewenang DPR dalam hal memberikan persetujuan atas RUU tentang APBN (yang diajukan oleh Presiden), memperhatikan pertimbangan DPD atas RUU tentang APBN/Pajak/Pendidikan/Agama, menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang disampaikan oleh BPK, dan memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara maupun terhadap perjanjian yang berdampak luas bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Sedangkan, fungsi pengawasan merupakan tugas dan wewenang DPR dalam hal melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang, APBN, dan kebijakan pemerintah, serta membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD (mengenai pelaksanaan UU mengenai otonomi daerah). Dalam fokusnya terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia, seharusnya DPR bisa memberikan prioritas kebijakan yang akan dirancang bersama pemerintah melalui fungsi legislasi.

(12)

“Meredam dampak ekonomi COVID-19, pemerintah memberikan insentif dan stimulus ekonomi kepada masyarakat, dunia usaha, dan pasar keuangan. Di sisi lain, stimulus ini

membuat pelebaran defisit APBN tidak terhindarkan.”

Dalam fungsi anggaran, DPR seharusnya mengetahui dan mengkritisi anggaran apa saja yang dapat digunakan untuk kepentingan yang lebih prioritas, yaitu anggaran yang digelontorkan pemerintah sebanyak 405,1 Triliun Rupiah sebagai stimulus ekonomi untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat pandemi. DPR dalam hal ini seharusnya harus terus mengawasi re-alokasi APBN yang dilakukan oleh pemerintah yang juga termuat dalam Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi COVID-19.

Fungsi Pengawasan DPR terhadap Kebijakan Insidental dari Pemerintah untuk Penanganan COVID-19

Sistem demokrasi Indonesia menganut Asas Trias Politika dimana kekuasaan eksekutif dibatasi dan dikendalikan melalui kekuasaan legislatif, yang berdasarkan konstitusi. Salah satu fungsi dari badan legislatif adalah fungsi pengawasan. Melalui fungsi pengawasan tersebut badan legislatif atau dalam arti sempit DPR (Dewan Permusyawaratan Rakyat) berupaya memastikan bahwa pelaksanaan keputusan politik yang telah diambil tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. DPR memegang peran esensial dalam mengendalikan arah kebijakan dan memastikan bahwa keputusan yang diambil mampu dijadikan solusi atas permasalahan yang ada, terlebih dalam masa-masa pandemi seperti ini yang memerlukan kebijakan sifatnya impulsif. DPR harus dapat menjamin bahwa kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran bukan sebagai upaya golongan tertentu yang memanfaatkan momentum.

Pemerintah melakukan serangkaian stimulus kebijakan yang insidental dalam menangani kasus COVID-19 ini. Relokasi anggaran secara besar-besaran dilakukan sebagai penunjang kebijakan selama pandemi pandemi. Secara konstitusional, DPR sebagai lembaga legislatif yang berwenang melakukan pengawasan haruslah membersamai serta mengawal kebijakan yang telah diputuskan pemerintah. Merespon hal tersebut, DPR secara resmi

(13)

membentuk Tim Pengawas DPR RI terhadap Pelaksanaan Penanganan Bencana Pandemi Coronavirus Disease COVID-19. Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar menyatakan bahwa Tim Pengawasan DPR dibentuk untuk memastikan bahwa pelaksanaan penanganan pandemi COVID-19 yang dilaksanakan pemerintah dari aspek regulasi, kelembagaan, dan mitigasi bencana dapat berjalan dengan efektif dan tepat sasaran. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tim yang dibentuk turut mengawasi ketersediaan logistik dan peralatan medis seperti Alat Pelindung Diri (APD), masker, hingga distribusi obat-obatan di daerah-daerah. Ketersediaan logistik ini berhubungan dengan penggunaan anggaran yang di re-lokasikan untuk fokus dalam pemenuhan kebutuhan darurat.

(14)

Pembahasan RUU Cipta Kerja oleh DPR tidak semata-mata untuk menuntaskan amanah prolegnas saja, namun berkaitan dengan kepentingan dan juga kesempatan. Pandemi COVID- 19 ini seharusnya menjadi momentum bagi DPR untuk membela kepentingan rakyat, namun justru momentum ini dianggap sebagai kesempatan untuk melancarkan kepentingan tanpa ada perlawanan. Dengan diterapkannya kebijakan physical distancing, kekuatan massa masyarakat untuk mengguncang meja legislasi menjadi minim, terlebih lagi kondisi pandemi ini juga melilit kantung ekonomi dari berbagai kalangan masyarakat. Maka tidak dapat dipungkiri, atensi publik terhadap RUU Cipta Kerja ini kalah dengan kondisi mengenaskan akan kesulitan bertahan hidup di tengah masyarakat.

Pada dasarnya anggota DPR terikat oleh kode etik yang menjadi protokolnya dalam mengemban jabatan sebagai wakil rakyat. Berdasarkan Pasal 1 ayat 3 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2015, Kode Etik adalah norma yang wajib dipatuhi oleh setiap Anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas DPR. Berdasarkan pasal tersebut, sudah semestinya DPR dalam menjalankan tugasnya selalu memprioritaskan kepentingan masyarakat.

Pembahasan RUU Cipta Kerja di tengah pandemi ini pada dasarnya melanggar kode etik DPR dan juga nalar logika pemerintahan. Pada pasal 2 ayat 2 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2015 disebutkan bahwa;

“Anggota bertanggung jawab mengemban amanat rakyat, melaksanakan tugasnya secara adil, mematuhi hukum, menghormati keberadaan lembaga legislatif, dan mempergunakan

fungsi, tugas, dan wewenang yang diberikan kepadanya demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.”

(15)

Pasal tersebut menekankan bahwa dalam mengemban amanat rakyat DPR harus menjalankan fungsinya demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Apa yang dilakukan oleh DPR ketika membahas RUU Cipta Kerja secara tidak langsung melanggar etika sebagaimana tercantum pada Pasal 2 ayat 2. RUU Cipta Kerja masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Mulai dari segi formil maupun materiil terdapat banyak kecacatan yang diafirmasi oleh beberapa aktivis, akademisi, bahkan masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian RUU Cipta Kerja bukanlah RUU yang dikehendaki oleh rakyat, sudah semestinya DPR selaku wakil rakyat menolak pembahasan RUU Cipta Kerja atas nama kepentingan rakyat. Tidak berhenti sampai disitu, terdapat beberapa kode etik lain yang dilanggar oleh DPR dan perlu dipertanggung jawabkan. Pada pasal 5 ayat 3 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2015 disebutkan bahwa;

“Anggota wajib menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi rakyat kepada pemerintah, lembaga, atau pihak yang terkait secara adil tanpa memandang suku, agama, ras,

golongan, dan gender.”

Pengusul dibahasnya RUU Cipta Kerja adalah pemerintah. Berdasarkan pasal tersebut, ketika memang DPR adalah wakil rakyat sudah semestinya pula memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat kepada pemerintah. Kini masyarakat berkehendak untuk menunda pembahasan RUU Cipta Kerja yang kontravensi tersebut, maka DPR selaku wakil rakyat perlu untuk mengaspirasikan kepentingan rakyat ditataran pemerintah.

RUU Cipta Kerja diusung oleh Pemerintah Sumber: http://www.dpr.go.id/uu/prolegnas-long-list

(16)

Jika dikontekstualisasikan dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah yaitu Kekarantinaan Kesehatan, maka pembahasan RUU Cipta Kerja tidak hanya melanggar kode etik DPR, namun juga menerjang logika dan juga ketentuan dari penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan itu sendiri. Pada dasarnya Kekarantinaan Kesehatan yang diatur pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 diterapkan sebagai kondisi darurat akibat terancamnya kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan/atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah atau lintas negara. Dengan demikian fokus pemerintah harus mendukung pencegahan persebaran penyakit yang menjadi sebab terjadinya darurat kesehatan, dalam hal ini persebaran COVID-19. Pembahasan RUU Cipta Kerja di tengah darurat kesehatan menjadi pertanyaan besar.

“Apakah RUU Cipta Kerja sangat penting untuk dibahas di tengah pandemi dan darurat kesehatan? Apakah RUU Cipta Kerja membantu mengurangi penyebaran COVID-19?

Apakah selaras dengan penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan?”

Memang pertanyaan tersebut masih menjadi perdebatan, namun dalam konteks kekarantinaan kesehatan pembahasan RUU Cipta Kerja dinilai tidak tepat. Fokus kebijakan yang seharusnya dibahas oleh pemerintah adalah kebijakan yang mendukung pencegahan persebaran COVID-19. Pembahasan RUU Cipta Kerja di tengah pandemi ini semata-mata menjadi kartu AS pemerintah untuk mendongkrak pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi COVID-19, namun mengutip dari rekomendasi Mckinsey & Company pemulihan ekonomi suatu negara dapat berjalan secara kuat dan konsisten ketika kebijakan ekonomi yang parsial didukung dengan adanya penegakan public health response yang baik. Dengan dipenuhi dan seimbangnya kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah, maka ekonomi indonesia dapat pulih dengan maksimal. Dengan demikian memprioritaskan secara berlebihan RUU Cipta Kerja untuk dibahas di tengah pandemi dan darurat kesehatan ini tidaklah tepat. Seharusnya pemerintah lebih mengedepankan kepentingan kesehatan masyarakat dengan membahas regulasi yang mengedepankan kepentingan kesehatan masyarakat.

(17)

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa RUU Cipta Kerja yang disusun menggunakan metode Omnibus Law merupakan produk hukum kontroversial yang sejak awal sudah dikritisi bahkan ditolak oleh berbagai elemen masyarakat. Selain karena materi muatannya dianggap bermasalah, RUU yang diusung oleh pemerintah ini dianggap cacat sebab minimnya partisipasi publik dalam proses pembentukannya. Padahal, pembentukan peraturan perundang-undangan seharusnya dilakukan berdasarkan asas keterbukaan, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 5 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Asas keterbukaan bermakna bahwa penyusunan peraturan perundang-undangan harus dilakukan secara transparan dan terbuka sejak proses perencanaan, penyusunan, hingga penetapan demi memastikan bahwa seluruh elemen masyarakat dapat memberikan masukannya. Hak masyarakat untuk mengakses dan memberi masukan dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan telah dijamin dalam Pasal 88 dan Pasal 96 UU 12/2011.

Pemerintah dalam hal ini dianggap mengabaikan asas keterbukaan dalam proses pembentukan RUU Cipta Kerja terbukti dari sulitnya mengakses draf Naskah Akademik dan RUU tersebut terutama di masa awal pembentukan. Kami menemukan bahwa draf RUU Cipta Kerja baru dapat diakses secara luas oleh masyarakat setelah pemerintah menyerahkan draf tersebut kepada DPR RI pada tanggal 12 Februari 2020. Apabila masyarakat tidak dapat mengakses drafnya, tentu saja mereka juga tidak dapat memberikan masukan terhadap materi muatan RUU tersebut.

(18)

Selain itu, berbagai kalangan seperti buruh dan pegiat lingkungan hidup juga mengaku tidak dilibatkan dalam proses penyusunan RUU padahal materi muatan RUU tersebut banyak bersinggungan dengan kepentingan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak membuka pintu partisipasi kepada publik dalam proses perencanaan dan pembentukan RUU Cipta Kerja yang berujung pada masifnya kritik dan penolakan terhadap RUU tersebut. Kasus tersebut berpotensi terjadi kembali apabila DPR RI bersikukuh melaksanakan pembahasan RUU Cipta Kerja di tengah pandemi COVID-19. Dengan adanya himbauan physical distancing dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kawasan tanah air, tentu saja masyarakat tidak dapat berpartisipasi secara optimal dalam proses pengawasan dan pengawalan pembahasan RUU ini.

Memang benar bahwa masyarakat tetap dapat memberi masukan serta kritik secara daring, namun cara tersebut dinilai tidak efektif. Kita dapat berkaca pada gelombang penolakan dan aksi demonstrasi terhadap RUU Perubahan atas UU KPK pada tahun 2019 lalu yang sampai menimbulkan korban jiwa, tetapi ternyata aspirasi masyarakat tetap tidak dihiraukan oleh DPR dan RUU tersebut pada akhirnya tetap disahkan. Apabila aksi masif seperti itu saja tidak ditanggapi oleh DPR, bagaimana jadinya apabila masukan dan kritik oleh masyarakat hanya disampaikan secara daring. Bisa dipastikan hasilnya akan nihil. Belum lagi tenaga dan pikiran publik saat ini tersita untuk menghadapi pandemi COVID-19 sehingga meskipun masyarakat masih memiliki ruang untuk berpartisipasi dan mengawasi pembahasan RUU Cipta Kerja, partisipasi tersebut tidak akan berjalan secara maksimal.

Aksi Penolakan Omnibus Law oleh Buruh di Depan Kompleks Parlemen RI

Sumber: CNN Indonesia

(19)

Menanggapi kondisi tersebut, seharusnya DPR mengambil langkah bijaksana untuk menunda pembahasan RUU kontroversial yang bersifat kompleks dan lintas sektor ini. Pembahasan produk legislasi strategis seyogyanya dilaksanakan dalam situasi kondusif. Keputusan untuk melaksanakan pembahasan terhadap RUU Cipta Kerja justru menimbulkan persepsi bahwa DPR memanfaatkan situasi krisis pandemi untuk memuluskan agenda pembahasan dan pengesahan RUU tersebut. Tanpa adanya pengawasan dan partisipasi aktif masyarakat, maka rawan terjadi “korupsi legislasi” dimana ketentuan dalam suatu produk legislasi di monopoli sehingga berpotensi menguntungkan kepentingan golongan tertentu semata.

Selain momentum yang tidak tepat dalam pembahasan RUU Cipta Kerja, tidak sesuai dengan fungsi legislasi, dan melanggar logika serta kode etik legislatif, DPR seharusnya mencurahkan atensi penuhnya untuk mengawasi kebijakan pemerintah serta menyerap aspirasi masyarakat terkait upaya penanganan COVID-19. Apabila tidak demikian, wajar saja apabila DPR dianggap tidak memiliki rasa empati dan sense of crisis di tengah pandemi ini.

(20)

Referensi:

Buku dan Jurnal

- Warwick McKibbin. 2020. The Global Macroeconomic Impact of Virus Corona, Australia National University.

- Fukuyama, Francis. 2018. "What is Governance?" Center for Global Development 314.

- RI, S., 2020. Undang-Undang Dan RUU - Dewan Perwakilan Rakyat. [online]

Dpr.go.id. Available at: http://www.dpr.go.id/uu/detail/id/442

- Sekretariat Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi. 2005. "Pedoman Penanganan Pasca Bencana". Jakarta.

- RI, S., 2020. DPR Sahkan 50 RUU Prolegnas Prioritas 2020. [online] Dpr.go.id.

Available at:

http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/27306/t/DPR+Sahkan+50+RUU+Prolegnas+Pr ioritas+2020

- RI, S., 2020. Baleg Bahas RUU Ciptaker Dengan Sejumlah Pakar Hukum. [online]

Dpr.go.id. Available at:

http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/28594/t/Baleg+Bahas+RUU+Ciptaker+Dengan +Sejumlah+Pakar+Hukum

- Naskah Akademik RUU Cipta Lapangan Kerja.

(21)

Website

- Harjono, 2020. Setuju Bahas Omnibus Law, DPR Dinilai Manfaatkan Wabah Corona. [online] nasional. Available at:

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200402160310-32-489673/setuju-bahas- omnibus-law-dpr-dinilai-manfaatkan-wabah-corona

- Illyas, A., 2020. Pemerintah Dan DPR Sepakat Bentuk Panja RUU Omnibus Law Ciptaker - Katadata.Co.Id. [online] Katadata.co.id. Available at:

https://katadata.co.id/berita/2020/04/14/pemerintah-dan-dpr-sepakat-bentuk-panja- ruu-omnibus-law-ciptaker

- Tsarina Maharani, “Puan Pastikan Pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja di DPR Jalan Terus”, diakses

dari https://nasional.kompas.com/read/2020/03/30/17090581/puan-pastikan- pembahasan-omnibus-law-cipta-kerja-di-dpr-jalan-terus

- McKinsey & Company. 2020. COVID-19: Implications For Business. [online]

Available at:https://www.mckinsey.com/business-functions/risk/our- insights/COVID-19-implications-for-business

- Wirdatul Aini. 2020. Stimulus Ekonomi Meredam Gejolak COVID-19. [online]

Available at : https://kompas.id/baca/riset/2020/04/20/stimulus-ekonomi-meredam- gejolak-COVID-19/

- Iqbal Muhammad. 2020. Jokowi Terbitkan Peraturan Pemerintah PSBB, Ini Respons MPR. [online] Available at:

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200331171026-4-148847/jokowi- terbitkan-peraturan-pemerintah-psbb-ini-respons-mpr

- Ramadhani, Pipit Ika. 2020. Kucuran Dana Rp 405,1 Triliun untuk Tangani Pandemi Corona, Bagaimana Penyalurannya?. [online] Available at:

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4216090/headline-kucuran-dana-rp-4051- triliun-untuk-tangani-pandemi-corona-bagaimana-penyalurannya

- Jayani, Dwi Hadya. 2020. Proyeksi Pemerintah, Ekonomi Indonesia 2020 Tumbuh 2,3%. [online] Available at:

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/04/07/proyeksi-pemerintah- ekonomi-indonesia-2020-tumbuh-23

(22)

Undang-Undang

- Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945

- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan - Undang - Undang Nomor 13 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan

- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

- Undang - Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

- Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2015

Referensi

Dokumen terkait

Pada 21 September 2018, di dalam Mesyuarat Jawatankuasa Khas Kabinet Mengenai Antirasuah (JKKMAR) Bilangan 3, IIM telah diberikan tangggungjawab oleh Kerajaan untuk membantu

Pada Halaman Pendaftaran Antrian ini digunakan untuk mengelola data pendaftaran, admin tersebut bisa menambah, merubah dan menghapus data-data yang

Sementara itu/ sejumlah pengamat juga menilai/ bahwa pertemuan tersebut tidak sehat/ di tengah fungsi kontrol terhadap lembaga kepresidenan yang memanas// Pertemuan

Hal ini di sebabkan karena asupan energi remaja putri Madrasah Aliyah Al Mukmin lebih banyak memiliki asupan energi yang normal dan tidak berlebih, makanan yang dikonsumsi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek terdapat kausalitas satu arah dari konsumsi energi terhadap tingkat pendapatan di India dan

Artinya, proses komunikasi yang terjadi dalam organisasi tersebut jika terlaksana dengan baik maka BASARNAS Kupang akan semakin kokoh dan kinerja pegawai akan meningkat.

Bagaimana menciptakan brand identity yang tepat, sesuai dan konsisten dengan inti bisnis dari Klinik Kecantikan dr.Myrna serta tidak melanggar kode etik yang

Dalam hal Hubungan kewenangan antara lembaga kekuasaan Legislatif antara MPR, DPR, dan DPD, misalnya antara DPR dan DPD sebagai fungsi legislasi, DPD mempunyai kewenangan