BAB I PENDAHULUAN. dilakukan dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda. Akan tetapi, hingga saat ini belum menunjukan hasil yang optimal.

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan karakter sebenarnya bukan hal yang baru, sejak awal kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru, dan masa reformasi sudah dilakukan dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda. Akan tetapi, hingga saat ini belum menunjukan hasil yang optimal.1

Ki Hadjar Dewantara telah jauh berpikir dalam masalah pendidikan karakter. Mengasah kecerdasan budi sungguh baik, karena dapat membangun budi pekerti yang baik dan kokoh, hingga dapat mewujudkan kepribadian (persoonlijkhheid) dan karakter (jiwa yang berasas hukum kebatinan). Jika itu terjadi orang akan senantiasa dapat mengalahkan nafsu dan tabiat-tabiatnya yang asli (bengis, murka, pemarah, kikir, keras, dan lain-lain).2

Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu dari sejumlah Perintis Kemerdekaan Indonesia. Sebagai perintis kemerdekaan, Ki Hadjar Dewantara aktif dalam berbagai ranah pergerakan pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, antara lain politik, jurnalistik, dan pendidikan. Kiranya , apapun ranah perjuangan yang digeluti sang maestro pendidikan nasional Indonesia itu pastilah berkaitan dengan pembanguan kemanusiaan sejati. Artinya, perjuangannya tidak lain adalah demi perwujudan kondisi

1 Hamdani Hamid, dkk, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Cet. Ke-1 (Bandung: CV.

PUSTAKA SETIA, 2013), hlm. 29.

2 Ki Hajar Dewantara, Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan,

(2)

hidup manusia di Indonesia yang manusiawi dan bermartabat luhur. Dalam konteks itu pula, Ki Hadjar Dewantara dapat kita pandang sebagai sosok pejuang kemanusiaan yang bercita-cita membangun kesadaran bangsa Indonesia akan identitas dirinya yang memang berbeda dari bangsa lain dan sekaligus setara martabat kemanusiaannya dengan martabat kemanusiaan bangsa lain sehingga tidak boleh dihina dan direndahkan oleh bangsa manapun juga.3

Selanjutnya Ki Hadjar Dewantara mengatakan, yang dinamakan “budi pekerti” atau watak atau dalam bahasa asing disebut “karakter” yaitu “bulatnya jiwa manusia” sebagai jiwa yang “berasas hukum

kebatinan”. Orang yang memiliki kecerdasan budi pekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya orang

dapat kita kenal wataknya dengan pasti; yaitu karena watak atau budi pekerti itu memang bersifat tetap dan pasti.

Budi pekerti, watak, atau karakter, bermakna bersatunya gerak

pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan, yang menimbulkan

tenaga. Ketahuilah bahwa “budi” itu berarti pikiran-perasaan-kemauan, sedang “pekerti” itu artinya “tenaga”. Jadi “budi pekerti” itu sifatnya jiwa

manusia, mulai angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga. Dengan

“budi pekerti” itu tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri (mandiri,

zelfbeheersching). Inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan

3 Bartomoleus Samho, Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Cet. Ke-1 (Yogyakarta:

(3)

tujuan pendidikan. Jadi teranglah di sini bahwa pendidikan itu berkuasa

untuk mengalahkan dasar-dasar dari jiwa manusia, baik dalam arti melenyapkan dasar-dasar yang jahat dan memang dapat dilenyapkan,

maupun dalam arti “naturaliseeren” (menutupi, mengurangi) tabiat-tabiat jahat yang “biologis” atau yang tak dapat lenyap sama sekali, karena sudah bersatu dengan jiwa.

Lebih lanjut Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa; Pendidikan ialah usaha kebudayaan yang bermaksud memberi bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak agar dalam kodrat pribadinya serta pengaruh lingkungannya, mereka memperoleh kemajuan lahir batin menuju ke arah adab kemanusiaan.4

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia, pendidikan Islam pun memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi manusia dimana karakter merupakan salah satu aspek yang harus dikembangkan melalui pendidikan. Lebih dari itu, karakter atau dalam perspektif agama Islam lebih sering disebut dengan akhlak ini tidak dapat lepas dari aspek lain, misalnya aspek akidah. Pembahasan tentang akhlak selalu terkait dengan akidah, sebab akhlak merupakan salah satu indikator keimanan seorang muslim.5

Adapun konsep pendidikan karakter itu sendiri, sebenarnya jauh hari telah di galakkan oleh bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara. Hal ini antara lain dapat kita lihat dalam konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha

4

Ki Suratman. Pokok-pokok Ketamansiswaan. ( Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1987), hlm. 12.

5

Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 94.

(4)

Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani, arti dari konsep tersebut

adalah Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau diantara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Ing

Ngarsa Sung Tuladha (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan

atau contoh tindakan yang baik).6 Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya.7

Pendidikan yang menjadi cita-cita Ki Hajar Dewantara adalah membentuk anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin. Luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bertanggungjawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka Ki Hajar Dewantara menawarkan beberapa konsep dan teori pendidikan di antaranya “Panca Darma”, yaitu dasar-dasar pendidikan yang meliputi : “Dasar kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan dan dasar kemanusiaan”.8

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Dalam pengertian taman siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu, agar kita dapat

6 http://pendidikan.kulonprogo.go.id/2014/04/13/Ing-ngarso-sung-tulodo-1/.(13 April

2014). Diakses, 30 April 2014.

7

Zahara Idris , Dasar-dasar Pendidikan, (Padang : Angkasa Raya, 1991) hlm. 9.

8

Abdurrahman Soerjomiharjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah

(5)

memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.9

Pendidikan karakter dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran Agama, harus mengusahakan agar nilai-nilai karakter yang diajarkan mampu mengkristal dalam diri peserta didik dan menyentuh pengalaman dalam kehidupan nyata. Pendidikan karakter harus mampu mengolah pengalaman peserta didik ketika melihat maraknya kekejian moral yang terjadi, seperti kasus korupsi, suap menyuap, bahkan saling membunuh hanya untuk mendapatkan suatu jabatan ataupun harta, padahal dalam Qur’an Surat Al-An‟am ayat 151 yang berbunyi :

بًَبَع ْحِإ ٍِْيَدِناَىْنبِبَو بًئْيَش ِهِب اىُكِسْشُت لاَأ ْىُكْيَهَع ْىُكُّبَز َوَّسَح بَي ُمْتَأ اْىَنبَعَت ْمُل

ْىُهبَّيِإَو ْىُكُلُشْسََ ٍُ ْحََ ٍقلاْيِإ ٍِْي ْىُكَدلاْوَأ اىُهُتْمَت لاَو

بَي َش

ِحاَىَفْنا اىُبَسْمَت لاَو

ْىُكبَّصَو ْىُكِنَذ ِّكَحْنبِب لاِإ ُ َّاللَّ َوَّسَح يِتَّنا َطْفَُّنا اىُهُتْمَت لاَو ٍََطَب بَيَو بَهُِْي َسَهَظ

ٌَىُهِمْعَت ْىُكَّهَعَن ِهِب

Artinya : Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Ditekankan adanya keharusan manusia untuk menghindari kebejatan moral, baik terhadap Allah maupun sesama manusia.10

9

Ki Hajar Dewantara, op. cit., hlm. 14-15.

10 Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur‟an Vol.3,

(6)

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan melalui perantara Malaikat Jibril, memiliki banyak nama: Kitab, Furqon, adz-Dzikr,

al-Huda dan sebagainya. Namun al-Qur’an dan al-Kitab adalah nama yang

paling sering dipergunakan untuk menyebutnya. Al-Qur’an diyakini oleh kaum Muslimin, dan memang demikian kenyataannya, berisi petunjuk-petunjuk bagi manusia untuk hidup bahagia dunia akhirat.11 Hubungan konsep Ing Madya Mangun Karsa dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 13 yang berbunyi:

ْىُهََِّإ لاَأ ُءبَهَفُّعنا ٍََيآ بًََك ٍُِيْؤََُأ اىُنبَل ُضبَُّنا ٍََيآ بًََك اىُُِيآ ْىُهَن َميِل اَذِإَو

ٌَىًَُهْعَي لا ٍِْكَنَو ُءبَهَفُّعنا ُىُه

Artinya : “Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu

sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu”.

Diantara tujuan pendidikan fisik adalah membantu siswa menemukan kebutuhan biologis dari perspektif Qur’ani dan membentuk sikap positif terhadap kebutuhan tersebut. Dan jika kita berbicara tentang pembentukan sebuah sikap atau pencapaian sebuah keterampilan dan kemampuan, maka penyajian fakta-fakta relevan menjadi penting.12

Seorang pendidik muslim yang berkepentingan mengarahkan siswa secara khusus membentuk pribadi. Perannya tidak terbatas pada menyusun situasi belajar, dan kemudian membiarkan siswa menentukan pilihannya

11 Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut al-Qur‟an serta Implementasinya, (Bandung: cv. Diponegoro, 1991), hlm. 41.

12

(7)

sendiri, tanpa memikirkan akibatnya. Bila ternyata muridnya memilih jalan yang salah, maka guru tidak boleh tinggal diam. Dalam surat al-Ahzab ayat 21 disebutkan:

َسِخلآا َوْىَيْناَو َ َّاللَّ ىُجْسَي ٌَبَك ًٍَِْن ٌتََُعَح ٌةَىْظُأ ِ َّاللَّ ِلىُظَز يِف ْىُكَن ٌَبَك ْدَمَن

اًسيِثَك َ َّاللَّ َسَكَذَو

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul Allah itu suri tauladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Dengan demikian seorang guru muslim secara mendalam terlibat dalam membentuk pribadi dan merasa susah jika muridnya gagal mencapai standar yang diinginkannya.13 Al-Qur’an turun sedikit demi sedikit, ayat-ayatnya berinteraksi dengan Budaya dan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanatkannya dapat diterapkan pada situasi dan kondisi. Nilai-nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakat sehingga Al-Qur’an dapat benar-benar menjadi petunjuk, pemisah antara yang hak dan batil, serta jalan bagi setiap problem kehidupan yang dihadapi.14 Berkaitan dengan konsep Tut Wuri Handayani dijelaskan juga dalam QS. An Nahl ayat 64 yang berbunyi:

َهَع بَُْنَصََْأ بَيَو

ٍوْىَمِن ًتًَْحَزَو يًدُهَو ِهيِف اىُفَهَتْخا يِرَّنا ُىُهَن ٍَِّيَبُتِن لاِإ َةبَتِكْنا َكْي

ٌَىُُِي ْؤُي

Artinya: “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) ini,

melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.

13 Ibid., hlm. 213

14

(8)

Berdasarkan latar belakang di atas, yakni begitu urgennya fungsi dan kedudukan karakter yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang meliputi tujuan, materi pendidikan dan metode pendidikannya. Pemikiran- pemikiran beliau tentang konsep pendidikan “Ing Ngarsa

Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani” dalam

sudut pandang Al-Qur’an. Maka penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan penulisan skripsi yang berjudul “Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya

Mangun Karsa Tut Wuri Handayani Dalam Persapektif AL Qur’an”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah:

Bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang konsep Ing Ngarsa

Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani dalam

perpsektif Al Qur’an?

C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah yaitu:

a. Menganalisis pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang konsep

Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani dalam perspektif Al Qur’an.

(9)

2. Kegunaan Penelitian

Nilai pendidikan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

a. Secara Teoritis dari penulisan skripsi ini, maka diharapkan akan diperoleh pengetahuan konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun

Karsa Tut Wuri Handayani dalam buku karya Ki Hajar

Dewantara bagian pertama pendidikan.

b. Secara Praktis, setelah konsep skripsi ini diperoleh, maka diharapkan akan dapat dijadikan tuntunan bagi guru dan murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang optimal, baik didalam maupun diluar proses belajar mengajar.

D. Kajian Pustaka

Berdasarkan telaah pustaka yang penulis lakukan, ada beberapa penelitian yang memiliki kajian hampir sama. Pertama, penelitian saudari Ratna Setyawati, yang berjudul “Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara ditinjau dari Konsep Pendidikan Islam”. Dengan kesimpulanya bahwa pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara mengedepankan nila-nilai kemaslahatan umat dan memerangi kebodohan. Karena Ki Hajar Dewantara memunculkan ide konsep pendidikan pada masa penjajahan maka beliau mengedepankan nilai kebangsaan. Sedangkan pendidikan

(10)

islam selalu berkembang seiring dengan penemuan-penemuan baru para pakar Islam yang menyesuaikan perkembangan zaman.15

Kedua, penelitian saudari Nur Idlokh, yang berjudul “Pemikiran

Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Hadist-Hadist Nabi SAW tentang Pendidikan. Dengan Kesimpulannya meliputi : Pertama; Konsep pendidikan keluarga yaitu, keluarga sebagai pusat pendidikan, yang berarti menuntut adanya berbagai pendidikan baik pendidikan individual maupun pendidikan sosial bagi anak dilakukan dalam lingkungan keluarga. Kedua; Sumbangan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan adalah menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan.16

Letak persamaan dengan penelitian yang dilakukan dalam kedua skripsi diatas ialah penggunaan konsep Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan dalam menggali nilai-nilai karakter. Selain itu pada skripsi saudari Ratna Setyawati sama-sama menggunakan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara untuk menganalisis nilai karakter bangsa.

Letak perbedaan penelitian ini dengan kedua skripsi diatas adalah pada obyek kajian dan metode yang digunakan. Dalam skripsi saudari Ratna Setyawati yang dikaji adalah konsep pendidikan Islam dengan metode perbandingan konsep Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan karakter yang diarah adalah pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Islam secara umum. Begitu juga skripsi yang disusun saudari Nur Idlhoh, ia juga

15

Ratna Setyawati, Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara ditinjau dari Konsep

Pendidikan Islam, Skripsi, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2003, hlm. Ix.

16 Nur Idlokh, Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Hadist-Hadist Nabi SAW tentang Pendidikan, Skripsi, Fakultas Tarbiyah IAIN

(11)

menggunakan metode komparatif dalam menganalisis Hadits-hadits tentang pendidikan. Pembahasannya tentang pendidikan karakter dalam keluarga. Berbeda dengan keduanya, dalam skripsi yang peneliti susun ini obyek kajiannya ialah Al Qur’an.

Dari beberapa tulisan tersebut diatas, sejauh pengamatan penulis belum ada yang membahas secara murni pemikiran beliau tentang konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri

Handayani dalam perspektif Al-Qur’an. Harapan penulis konsep yang

akan disampaikan ini dapat melengkapi informasi yang ada sebelumnya dan menambah wacana khazanah keilmuan.

E. Landasan Teori

1. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Pendidikan karakter sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab. Karakter menurut Ratna Megawangi berasal dari bahasa Yunani yang berarti „to mark‟ (menandai). Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku.17

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia belum memasukkan kata karakter, yang ada adalah kata „watak‟ yang diartikan sebagai

17 Masnur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional,

(12)

sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak didik.

Pendidikan karakter dapat dimaknai dengan pendidikan moral, pendidikan watak, atau pendidikan budi pekerti yang memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.18

Konsep pendidikan dalam desain induk pendidikan karakter disebutkan bahwa karakter terdiri atas 3 nilai operatif yang meliputi pengetahuan tentang moral (moral knowing, aspek kognitif), perasaan berlandaskan moral (moral feeling, aspek afektif), dan perilaku berlandaskan moral (moral behavior, aspek psikomotor).19 Menurut Ahmad Taufiq dan Muhammad Rohmadi, moral akhlak yang kokoh (Matin al-Khūluq) penting dimiliki umat manusia sehingga Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri yang telah mencontohkan kepada kita akhlak yang agung dalam Al Qur’an.20

18 Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), hlm.

33.

19

Muchlas Samani & Hariyanto, Konsep dan Model pendidikan karakter, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 49.

20

Ahmad Taufiq dan Muhammad Rohmadi, Pendidikan Agama Islam, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2003), hlm. 144.

(13)

Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan pendidikan Islam belum sepenuhnya dilandasi oleh al-Qur’an sebagai doktrin Islam yang memuat berbagai sistem dalam kehidupan. Al-Qur’an adalah pedoman dan tuntunan hidup manusia, baik sebagai individu maupun sebagai umat. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna langkah yang harus dilakukan adalah memahami kandungan isi al-Qur’an dengan mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari secara bersungguh-sungguh dan konsisten.21

2. Tinjauan tentang nilai-nilai pendidikan dalam al-Qur’an

Secara filosofis, nilai sangat terkait dengan masalah etika. Etika juga sering disebut sebagai filsafat nilai, yang mengkaji nilai-nilai moral sebagai tolak ukur tindakan dan perilaku manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Sumber-sumber etika dan moral bisa merupakan hasil pemikiran, adat istiadat atau tradisi, ideologi bahkan dari agama. Dalam konteks etika dalam Islam maka sumber etika dan nilai-nilai yang paling shahih adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Sedangkan nilai-nilai Qur’ani yaitu nilai yang bersumber kepada al-Qur’an adalah kuat, karena ajaran al-al-Qur’an bersifat mutlak dan universal.22

Secara normatif, tujuan yang ingin dicapai dalam proses aktualisasi nilai-nilai al-Qur’an dalam pendidikan meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan. Pertama, dimensi spiritual, yaitu iman, takwa dan

21 Said Agil Husin Al Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur‟ani dalam Sistem Pendidikan Islam, (Ciputat: PT. Ciputat Press, 2005). hlm. xi.

22

(14)

akhlak mulia. Dimensi spritual ini tersimpul dalam satu kata yaitu akhlak. Akhlak merupakan alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan berada dengan kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupannya. Rasulullah Saw merupakan sumber akhlak yang hendaknya diteladani oleh orang mukmin, seperti sabdanya

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.23

Pendidikan Agama Islam ialah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam disertai dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan, dan persatuan bangsa.24

Dalam pendidikan Islam di sekolah, pendidik, dalam hal ini guru menempati posisi penting dalam proses pendidikan. Tak terkecuali dalam pendidikan karakter. Imam Al-Ghazali juga mewajibkan kepada para pendidik Islam untuk memiliki adab yang baik karena peserta didik akan mengikuti pendidik dan menjadikannya sebagai teladan yang harus diikuti. Peserta didik selalu melihat dan mendengar sesuatu tentang pendidiknya sehingga ketika pendidik

23 Ibid., hlm. 7.

24 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 20.

(15)

menganggap baik maka hal itu baik pula dimata peserta didik begitu pula sebaliknya.25

Selain pendidik faktor metode dalam penyampaian materi yang diajarkan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Dalam Al-Qur’an ada beberapa model atau metode pendidikan karakter, antara lain: (a) Model perintah, (b) Model larangan, (c) Model Targhib (motivasi), (d) Model Tarhib/ hukuman,

(e) Model kisah, (f) Model dialog dan debat, (g) Model pembiasaan, (h) Model Qudwah/ teladan.26

Pendidikan Karakter memiliki keterkaitan erat dengan Pendidikan Agama Islam. Pendidikan karakter harus menjadi fokus utama dalam Pendidikan Agama Islam. Islam adalah agama moral yang mementingkan isi, bukan penampilan saja, serta membentuk jiwa dengan nilai-nilai moral. Islam dimulai dengan perjuangan menumbuh suburkan aspek-aspek akidah dan etika dalam diri pemeluknya.27

Pendidikan akhlak dalam Islam tersimpul dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran”. Pendidikan akhlak menekankan pada sikap, tabiat dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan anak didik dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, dimensi budaya, yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Ketiga, dimensi kecerdasan yang membawa kepada

25 Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 170. 26 Ulil Amri Syafri, op. cit., hlm. 99.

27

(16)

kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, profesional, inovatif dan produktif.28

F. Metode Penelitian

Dalam metode penelitian ini akan dijelaskan tentang jenis penelitian, pendekatan penelitian, objek penelitian, metode pengumpulan data, dan analisis data.

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu suatu cara kerja tertentu yang bermanfaat untuk mengetahui pengetahuan ilmiah dari suatu dokumen yang dikemukakan oleh ilmuwan masa lalu maupun sekarang.29 Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif sehingga menghasilkan data deskriktif berupa kata-kata, catatan yang berhubungan dengan makna, nilai dan pengertian.

Dalam skripsi ini peneliti menganalisis muatan isi dari objek penelitian yang berupa dokumen yaitu teks Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Konsep “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya

Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” dalam Perspektif Al-Qur’an.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatatif, yaitu penelitian yang bertitik tolak dari realitas dengan asumsi pokok bahwa tingkah laku manusia

28 Said agil Husin Al Munawar, op. cit,. hlm. 8-9

29 Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, (Yogyakarta: Paradigma, 2005),

(17)

mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu.30 Skripsi ini akan menggunakan pendekatan hermeneutika. Pendekatan ini penulis pakai karena hermeneutika sangat relevan untuk menafsirkan berbagai gejala, peristiwa, simbol, maupun niali-nilai yang terkandung dalam ungkapan bahasa.31 Dalam hal ini yang diungkap adalah pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing

Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani dalam perspektif Al

Qur’an.

3. Objek Penelitian

Pada skripsi ini yang menjadi objek penelitian adalah Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing

Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani dalam perspektif

Al-Qur’an. Sedangkan sumber datanya peneliti membaginya dalam 2 jenis. a. Sumber data primer

Sumber data primer yaitu hasil penelitian atau tulisan karya peneliti atau teoritis yang orisinil.32 Dalam hal ini yang dijadikan rujukan pokok dalam penelitian data primer yaitu karya Ki Hajar Dewantara bagian pertama Pendidikan, Yogyakarta : Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977. Dan Al Qur’an.

Sumber data primer ini yang akan memecahkan dan menjawab masalah yang ada pada skripsi ini. Namun bukan berarti data primer ini tidak membutuhkan data pendukung, sumber data

30 Ahmad Tanzeh, Metodologi Penelitian Praktis, (Yogyakarta : Teras, 2011), hlm. 48. 31 Kaelan, op., cit., hlm. 80.

32 Ibnu Hadjar, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta

(18)

primer sangat membutuhkan data pendukung untuk memperkuat teori dan memberi kejelasan yang lebih mendalam.

b. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder yaitu sumber data yang di ambil di dapat dari sumber data kedua, atau tidak langsung di selidiki.33 Sumber data sekunder dijadikan sebagai sumber data yang dapat digunakan untuk sarana pendukung dalam memahami masalah yang akan diteliti. Data sekunder dalam penelitian ini adalah karya-karya penulis lain yang membahas tentang pendidikan karakter, baik dalam bentuk buku, jurnal, artikel, maupun karya ilmiah lainnya. Beberapa sumber yang penulis gunakan sebagai data sekunder antara lain: buku, jurnal, artikel dan sumber lain yang relevan dengan penelitian.

4. Metode Pengumpulan Data

Penulis menggunakan metode dokumentasi dalam melakukan pengumpulan data. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data melalui dokumen. Dokumen disini bisa berupa buku, surat kabar, majalah, jurnal ataupun internet yang relevan dengan penelitian ini. 5. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dalam penelitian selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik content analisis,34 yaitu analisis tekstual dalam studi pustaka melalui interpretasi terhadap isi pesan, suatu komunikasi sebagaimana terungkap dalam literatur-literatur yang

33 Cholil Narbuko, Metodologi Riset, (Semarang : IAIN Press, 1980), hlm. 7.

34 Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitati, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991)

(19)

memiliki relevansi dengan tema penelitian ini yang berorientasi pada upaya mendeskripsikan pada sebuah konsep atau memformulasikan suatu ide pemikiran melalui langkah-langkah penafsiran terhadap teks karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an.

Selain analisis ini, peneliti juga menggunakan teknik analisis semiotik, karena obyek kajian berupa teks, maka nantinya juga akan dikaji bahasa dari teks yang digunakan tersebut. Semiotik merupakan kajian tanda yang ada dalam kehidupan, artinya segala sesuatu yang ada dalam kehidupan dapat dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus diberi makna.35 Disini teks karya Ki Hadjar Dewantara pun menjadi bagian dari tanda yang harus dimaknai.

Dalam penerapan teknik analisis semiotik ini peneliti memperhatikan bahasa yang dipergunakan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam perspektif al-Qur’an. Ketika ada suatu kata atau bahasa yang diulang-ulang atau sebuah penekanan pada bahasa yang digunakan maka itu artinya ada sebuah pesan yang ingin disampaikan olehnya.

Adapun langkah-langkah analisisnya sebagai berikut:

a. Memilih data dengan pembacaan dan pengamatan secara cermat terhadap teks karya Ki Hadjar Dewantara bagian pertama Pendidikan yang didalamnya terdapat hubungan antara pemikiran Beliau dengan tuntunan dalam Al-Qur’an.

35 Benny H Hoed, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, (Jakarta: Komunitas Bambu,

(20)

b. Mengkategorikan ciri-ciri atau komponen pesan yang mengandung pembahasan tentang pemikiran Ki hadjar Dewantara tentang konsep “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut

Wuri Handayani” dalam perspektif Al-Qur’an.

c. Menganalisis data keseluruhan sehingga mendapatkan pesan yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam perspektif Al-Qur’an.

Untuk mendapatkan kesimpulan penulis menggunakan pola penalaran induktif, yaitu pola pemikiran berangkat dari suatu pemikiran khusus kemudian ditarik generalisasi yang bersifat umum.

G. Sistematika Penelitian

Untuk mempermudah dalam mempelajari dan memahami skripsi ini, maka penulisan skripsi ini menggunakan sistematika sebagai berikut : Bagian awal adalah bagian yang mendahului tubuh karangan yang berisi: halaman sampul, halaman judul, halaman surat pernyataan, halaman persetujuan Pembimbing halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi dan daftar lampiran.

Bagian tengah, ialah bagian tubuh karangan yang terdiri dari lima bab yaitu :

Bab I : Pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika penelitian.

(21)

Bab III : Konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun

Karsa Tut Wuri Handayani dalam perspektif Al-Qur’an.

Bab IV : Analisis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang konsep

Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani

dalam perspektif Al-Qur’an.

Bab V : Bab ini terdiri dari tiga sub yaitu kesimpulan, yang memuat kesimpulan-kesimpulan dari uraian-uraian pada bab terdahulu, saran yang memuat beberapa saran dari penulis yang berhubungan dengan kesimpulan yang telah dikemukakan dan kata penutup. Kemudian bagian akhir terdiri dari daftar pustaka, lampiran-lampiran serta daftar riwayat hidup.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :