BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Tentang Hasil Belajar

Menurut Slameto ( 1991:78 ) secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan. Definisi ini menyiratkan dua makna: pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Kedua, seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Maka kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar.

Gagne ( dalam Sudjana, 2001:22 ) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kapabilitas orang yang mungkin beragam penampilan. Bentuk penampilan dari siswa – siswa dapat dilihat sebagai bukti belajar tentang suatu program pembelajaran meskipun demikian banyak ragam penampilan siswa yang merupakan hasil belajar. Sedangkan Dimyati(1994:109) mengatakan bahwa “Hasil belajar adalah sebuah kegiatan belajar yang menghendaki tercapainya tujuan pengajaran yang ditandai dengan skala nilai”. Sementara Hamalik (1999:5) mendefinisikan bahwa “Hasil belajar bukanlah penguasaan hasil latihan, melainkan sebuah perubahan kelakuan.

Bloom (dalam Sudjana,2001:22) mengklasifikasikan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek kognitif yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari 5 aspek yaitu penerimaan, pemberian respon, penilain, pengorganisasian, dan karakteristik ( internalisasi ). Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak

(2)

yang terdiri dari 6 aspek yakni: gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, persepsi, keharmonisan atau ketepatan, keterampilan kompleks, dan interpretatif.

Sudjana (2001:22) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Dengan demikian, proses belajar siswa merupakan penunjang hasil belajar yang dicapainya. Semakin baik proses yang dilakukan oleh siswa, semakin tinggi pula hasil belajarnya. Sehingga tercapai tujuan pengajaran melalui keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan bentuk perubahan prilaku baru yang diakibatkan oleh pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang dapat berupa sesuatu yang konkrit maupun non konkret.

2.2 Tinjauan Tentang Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif dalam Muslimin ( dalam Abdullah:20 ) diartikan sebagai suatu pendekatan mengajar yang tidak hanya membantu siswa mempelajari isi akademik dan keterampilan semata, namun juga melatih siswa untuk memperoleh tujuan-tujuan hubungan sosial dan manusia. Apabila interaksi sosial telah terwujud, maka akan tumbuh adanya kebersamaan dan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Roger dan David Johson (dalam Anita lie, 2004: 31) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok biasa dianggap pembelajaran kooperatif. Ada lima unsur yang membedakan model pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok biasa, yakni:

a. Saling ketergantungan positif; b. Tanggung jawab perorangan; c. Tatap muka;

d. Komunikasi antar kelompok; e. Evaluasi proses kelompok.

(3)

Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil yang bekerja sebagai satu tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini dapat melatih siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain, bekerja sama dan saling membantu satu sama lain. Struktur tujuan kooperatif menciptakan suatu situasi bahwa tujuan pribadi dapat tercapai apabila kelompok itu berhasil.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Arends (1997 : 111) Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri:

untuk memuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara bekerja sama

kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang heterogen ras, suku, budaya, dan jenis kelamin, maka diupayakan agar tiap kelompok terdapat keheterogenan tersebut. penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Hasil belajar akademik , yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalm tugas-tugas akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit.

Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam latar belakang.

Pengembangan keterampilan social, yaitu untuk mengembangkan keterampilan social siswa diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.

(4)

Fase Indikator Aktivitas Guru 1 Menyampaikan tujuan dan

memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan

demonstrasi atau lewat bahan bacaan 3 Mengorganisasikan siswa

ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien

4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas

5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok.

Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif di Kelas

Yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan model pembelajaran kooperatif di kelas, diantaranya:

1. pilih pendekatan apa yang akan digunakan, misal STAD, Jigsaw, Investigasi Kelompok, dll.

2. Pilih materi yang sesuai untuk model ini 3. mempersiapkan kelompok yang heterogen 4. menyiapkan LKS atau panduan belajar siswa

(5)

Menurut Suherman (2003:260) mengemukakan bahwa cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Tidaklah cukup menunjukkan sebuah cooperative learning jika para siswa duduk bersama di dalam kelompok-kelompok kecil tetapi menyelesaikan masalah secara sendiri-sendiri.

Ada beberapa hal yang harus dipenuhi dalam cooperative learning agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif. Hal-hal tersebut meliputi : pertama, para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai. Kedua, para siswa yang tergabung dalam kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan berhasil tidaknya kelompok menjadi tanggung jawab bersama. Ketiga, untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya. Akhirnya, para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat membentuk keterampilan sosial, tanggung jawab serta kemandirian siswa dalam pembelajaran.

2.3 Tinjauan Tentang Tipe Think Pair Share

Think-Pair-Share (TPS) pertama kali dikembangkan oleh Lyman pada tahun 1981.Resiko dalam pembelajaran TPS relatif rendah dan struktur pembelajaran kolaboratif pendek, sehingga sangat ideal bagi guru dan siswa yang baru belajar kolaboratif. TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota).

(6)

Think pair share merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985 sebagai salah satu struktur kegiatan cooperative learning. Think pair share memberikan waktu kepada para siswa untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Think pair share memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari pembelajaran ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.

Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok secara keseluruhan.Karakteristik model TPS siswa dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi untuk menyelesaikan permasalahan. Model ini selain diharapkan dapat menjebatani dan mengarahkan PBM juga mempunyai dampak lain yang sangat bermanfaat bagi siswa. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah siswa dapat berkomunikasi secara langsung oleh individu lain yang dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.

Menurut Lie (2002), berikut kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS:

Kelebihan model kooperatif tipe TPS yaitu: 1. Meningkatkan kemandirian siswa

2. Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.

3. Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat 4. Melatih kecepatan berpikir siswa

(7)

1. Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik 2. lebih sedikit ide yang masuk

3. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitor.

Langkah-langkah belajar model TPS menurut Trianto (2007): Langkah 1. Think (berpikir)

Guru mengajukan suatu pertanyaan yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri

Langkah 2. Pairing (berpasagan)

Guru meninta siswa untuk berpasangan dan berdiskusi dengan teman sebangku untuk menyatukan jawaban yang sudah mereka proleh. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

Langkah 3. Share (berbagi)

Langkah terakhir guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan yang telah mereka bicarakan.Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Kagan dalam (Atik Widarti :2007) menyatakan manfaat think pair share sebagai berikut:

1. Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka terlibat dalam kegiatan think pair share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik.

(8)

2. Para guru juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan think pair share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.

Fogarty dan Robin (1996) menyatakan bahwa teknik belajar mengajar think pair share mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut:

Mudah dilaksanakan dalam kelas yang besar,

Memberikan waktu kepada siswa untuk merefleksikan isi materi pelajaran,

Memberikan waktu kepada siswa untuk melatih mengeluarkan pendapat sebelum berbagi dengan kelompok kecil atau kelas secara keseluruhan.

Dengan teknik belajar mengajar think pair share yang disebutkan Fogarty dan Robin siswa dilatih untuk banyak berfikir dan saling tukar pendapat baik dengan teman sebangku ataupun dengan teman sekelas, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar ranah kognitif siawa karena siswa dituntut untuk mengikuti proses pembelajaran agar dapat menjawab setiap pertanyaan dan berdiskusi.

Karakteristik pembelajaran

Ciri utama pada model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yaitu langkah think (berpikir secara individual), pair (berpasangan dengan teman sebangku), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (Ibrahim dkk, 2000) adalah sebagai berikut:

Tahap 1 : Thinking (berpikir), guru mengajukan pertanyaan, isu atau masalah yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau masalah tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

(9)

Tahap 2 : Pairing (berpasangan), guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau masalah dan berbagi ide jika suatu persoalan itu telah diidentifikasi.Biasanya guru memberi waktu 4 – 5 menit untuk berpasangan.

Tahap 3 : Share (saling menukar ide), guru meminta kepada pasangan kelompok untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share, dibagi atas 5 fase, yakni: (1) penyajian materi, (2) berpikir bersama, (3) transisi ke pasangan/tim, (4) monitoring dan (5) berbagi jawaban.

Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share antara lain: a. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan pasangan dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dipasangkan dengan rendah, tinggi dengan sedang, dan sedang dengan rendah berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru dan hasil tes awal.

b. Penghargaan lebih berorientasi perorangan dari pada kelompok atau pasangan. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif Think Pair Share adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan daya pikir siswa, memperoleh kedalaman tingkat pengetahuan dan

menciptakan kemampuan berpikir kritis siswa

2. Meningkatkan kemampuan bekerja dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama 3. Mendorong siswa untuk memperhatikan pendapat orang lain

4. Menyenangkan siswa dalam belajar

(10)

6. Mengembangkan rasa percaya diri siswa.

Langkah-langkah (syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe think pair share

Langkah-langkah (syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terdiri dari lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas yaitu think, pair, dan share. Kelima tahapan pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dapat dilihat pada tabel berikut.

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Tahap 1 Pendahuluan

- Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah

- Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa

Tahap 2 Think

- Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi

- Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa

- Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu Tahap 3

Pair

- Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya - Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai

(11)

jawaban tugas yang telah dikerjakan

Tahap4 Share

- Satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.

Tahap 5 Penghargaan

- Siswa dinilai secara individu dan kelompok

Penjelasan dari setiap tahap adalah sebagai berikut: a.Tahap pendahuluan

Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pembelajaran.Pada tahap ini, guru juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan.

b. Tahap think (berpikir secara individual)

Proses think pair share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (“think time”) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan.Dalam penentuannya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.

c. Tahap pair (berpasangan dengan teman sebangku)

Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai

(12)

jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru.Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama.

d. Tahap share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)

Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok.Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka.

e. Tahap penghargaan

Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.

Teori belajar yang melandasi model pembelajaran kooperatif tipe think pair share Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya.

Menurut teori konstruktivisme, siswa sebagai pemain dan guru sebagai fasilitator. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara optimal. Siswa belajar bukanlah menerima paket-paket konsep yang sudah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang mengemasnya. Bagian terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, siswalah yang harus aktif mengembangkan kemampuan mereka, bukan guru atau orang lain.Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.

(13)

Dalam Implementasinya secara teknis Howard (2006) mengemukakan lima langkah utama dalam pembelajaran dengan teknik TPS, sebagai berikut:

Step 1 : Guru memberitahukan sebuah topik dan menyatakan berapa lama setiap siswa akan berbagi informasi dengan pasangan mereka.

Step 2 : Guru akan menetapkan waktu berpikir secara individual.

Step 3 : Dalam pasangan, pasangan A akan berbagi; pasangan B akan mendengar. Step 4 : Pasangan B kemudian akan merespon pasangan A.

Step 5 : Pasangan berganti peran.

2.4 Tinjauan Tentang Pembelajaran Menggunakan Model Pembelajaran Direct Instruction

Model pengajaran langsung (direct intruction). Menurut Arends (2001):”A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Artinya: “Sebuah model pengajaran yang bertujuan untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan pengetahuan yang dapat diajarkan langkah-demi-langkah.

Arends (1997) menyatakan: “The direct instruction model was specifically designed to promote student learning of procedural knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step fashion”. Artinya: Model pengajaran langsung secara khusus dirancang untuk mempromosikan belajar siswa dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan secara langkah-demi-langkah. Lebih lanjut Arends (2001) menyatakan: ”Direct instruction is a teacher-centered model that has five steps: establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice, feedback, and extended practice a direct instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning environment that businesslike and task-oriented”.

(14)

Artinya: Pengajaran langsung adalah model berpusat pada guru yang memiliki lima langkah: menetapkan tujuan, penjelasan dan/atau demonstrasi, panduan praktek, umpan balik, dan perluasan praktek. Pelajaran dalam pengajaran langsung memerlukan perencanaan yang hati-hati oleh guru dan lingkungan belajar yang menyenangkan dan berorientasi tugas.

Karakteristik:

Salah satu karakteristik dari suatu model pembelajaran adalah adanya sintaks/tahapan pembelajaran. Selain harus memperhatikan sintaks, guru yang akan menggunakan pengajaran langsung juga harus memperhatikan variabel-variabel lingkungan lain, yaitu fokus akademik, arahan dan kontrol guru, harapan yang tinggi untuk kemajuan siswa, waktu dan dampak dari pembelajaran.

Fokus akademik merupakan prioritas pemilihan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran, aktivitas akademik harus ditekankan.Pengarahan dan kontrol guru terjadi ketika memilih tugas-tugas siswa dan melaksanakan pembelajaran, menentukan kelompok, berperan sebagai sumber belajar selama pembelajaran dan meminimalkan kegiatan non akademik.Kegiatan pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan sehingga guru memiliki harapan yang tinggi terhadap tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh siswa. Sintaks model pengajaran langsung memiliki 5 tahapan, sebagai berikut:

Fase 1 : Fase Orientasi

Pada fase ini guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi pelajaran yang meliputi:

Kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa

Mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pembelajaran

(15)

Menginformasikan materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran

Menginformasikan kerangka pelajaran Memotivasi siswa

Fase 2 : Fase Presentasi/Demonstrasi

Pada fase ini guru menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep atau keterampilan yang meliputi:

Penyajian materi

Pemberian contoh konsep

Pemodelan/peragaan keterampilan

Menjelaskan ulang hal yang dianggap sulit atau kurang dimengerti oleh siswa Fase 3 : Fase Latihan Terstruktur

Dalam fase ini, guru merencanakan dan memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan latihan-latihan awal. Guru memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi yang salah

Fase 4 : Fase Latihan Terbimbing

Pada fase ini, siswa diberi kesempatan untuk berlatih konsep dan keterampilan serta menerapkan pengetahuan atau keterampilan tersebut ke situasi kehidupan nyata.Latihan terbimbing ini dapat digunakan guru untuk mengakses kemampuan siswa dalam melakukan tugas, mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik atau tidak, serta memberikan umpan balik. Guru memonitor dan memberikan bimbingan jika perlu.

Fase 5 : Fase Latihan Mandiri

Siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, dan guru memberikan umpan balik bagi keberhasilan siswa.

(16)

C. Kelebihan dan Kelemahan

Secara umum setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan-kelebihan yang membuat model pembelajaran tersebut lebih baik digunakan dibanding dengan model pembelajaran yang lainnya.Tetapi selain mempunyai kelebihan-kelebihan pada setiap model pembelajaran juga ditemukan keterbatasan-keterbatasan yang merupakan kelemahannya. Model pengajaran langsung mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut:

1. Dalam model pengajaran langsung, guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.

2. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan kepada siswa yang berprestasi rendah sekalipun.

3. Model ini dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat menunjukan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan.

4. Model pengajaran langsung menekankan kegiatan mendengarkan (melalui ceramah) dan kegiatan mengamati (melalui demonstrasi), sehingga membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini.

5. Model pengajaran langsung dapat memberikan tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan antara teori dan fakta.

6. Model pengajaran langsung dapat diterapkan secara efektif dalam kelas besar maupun kelas yang kecil.

7. Siswa dapat mengetahui tujuan-tujuan pembelajaran dengan jelas.

8. Waktu untuk berbagi kegiatan pembelajaran dapat dikontrol dengan ketat. 9. Dalam model ini terdapat penekanan pada pencapaian akademik.

(17)

10. Kinerja siswa dapat dipantau secara cermat. 11. Umpan balik bagi siswa berorientasi akademik.

12. Model pengajaran langsung dapat digunakan untuk menekankan butir-butir penting atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa.

13. Model pengajaran langsung dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual dan terstruktur.

Model pengajaran langsung mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:

1. Karena dalam model ini berpusat pada guru, maka kesuksesan pembelajaran bergantung pada guru. Jika guru kurang dalam persiapan, pengetahuan, kepercayaan diri, antusiasme maka siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran akan terhambat.

2. Model pengajaran langsung sangat bergantung pada cara komunikasi guru. Jika guru tidak dapat berkomunikasi dengan baik maka akan menjadikan pembelajaran menjadi kurang baik pula.

3. Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci atau abstrak, model pembelajaran langsung tidak dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk cukup memproses dan memahami informasi yang disampaikan.

4. Jika terlalu sering menggunakan modelpengajaran langsung akan membuat beranggapan bahwa guru akan memberitahu siswa semua informasi yang perlu diketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung jawab mengenai pembelajan siswa itu sendiri.

5. Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan siswa. Kenyataannya, banyak siswa bukanlah pengamat yang baik sehingga sering melewatkan hal-hal penting yang seharusnya diketahui.

(18)

2.5 Tinjauan Tentang Materi Perbandingan Dan Fungsi Trigonometri A.Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut pada Segitiga Siku-Siku

1.Memahami Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut pada Segitiga Siku-Siku

Ambil kertas berpetak 0,5 cm. buatlah tiga buah segitiga siku-siku yang panjan sisi siku-sikunya masing-masing 3 cm dan 4 cm namakan ABC,6 cm dan 8 cm

namakan DEF,serta 9 cm dan 12 cm namakan PQR.

Dengan menggunakan teorema Pythagoras tentu kalian dapat menghitung panjang sisi AC, panjang sisi DF,dan panjang sisi PR (yang disebut hipotenusa),masing-masing yaitu 5 cm, 10 cm,, dan 15 cm.Selanjutnya, bandingkan besar

A

,

D

, dan

P

.

ternyata besar

A

=

D

=

P

.

perbandingan trigonometri untuk

A

pada segitiga siku-siku ABC didefinisikan sebagai berikut:

a.

AC BC

disebut sinus

A

disingkat sin

A

b.

AC AB

disebut kosinus

A

disingkat cos

A

c.

AB BC

disebut tangen

A

disingkat tan

A

C F R B 4 A 3 4 F D E R Q P 8 12 6 9 (a) (b) (c)

(19)

d.

BC AB

disebut kotangen

A

disingkat cot

A

e.

AB AC

disebut sekan

A

disingkat sec

A

f.

BC AC

disebut kosekan

A

disingkat csc

A

Cobalah kalian hitung nilai-nilai perbandingan trigonometri untuk

A

pada segitiga siku-siku ABC,demikian juga nilai-nilai perbandingan trigonometri untuk

D

pada segitiga siku-siku DEF ,dan nilai-nilai perbandingan trigonometri untuk

P

pada segitiga siku-siku PQR ,kalian akan memperoleh hasil yang sama untuk masing-masing nilai-nilai perbandingan trigonometri dari

A

,

D

,dan

P

,misalnya :

tan

4

3

A

,tan

4

3

8

6

D

dan tan

4

3

12

9

P

Hal ini mennjukan bahwa besarnya nilai-nilai perbandingan trigonometri suatu sudut tidak bergantung pada besar kecilnya segitiga tetapi bergantung pada nilai-nilai perbandingan pada sisi-sisinya.

Karena besar

A

=

D

=

P

maka dapat diwakili oleh sebuah sudut,sebut saja sudut .

Secara keseluruhan, nilai-nilai perbandingan trigonometri sudut pada ketiga segitiga tersebut sebagai berikut :

a. sin 5 3 b. cos 5 4 c.tan 4 3 e. sec 4 5 d. cot 3 4 f. csc 3 5

Secara umum,jika diberikan ∆ UVW seperti gambar berikut: W B E Q 9 6 3 A=B=C C A

(20)

Nilai-nilai perbandingan trigonometri untuk sudut pada UVW sebagai berikut: a. sin V U d. cot U W b. cos V W e. sec W V c. tan W U f. csc U V

Dari perbandingan-perbandingan itu, diperoleh hubungan sebagai berikut:

sin csc 1 atau csc sin 1 cos sec 1 atau sec cos 1 tan cot 1 atau cot tan 1 tan cos sin atau cot sin cos

Hubungan dalam rumus-rumus diatas disebut rumus kebalikan.

Nilai perbandingan trigonometri suatu sudut merupakan perbandingan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku.Oleh karena itu, nilai perbandingan trigonometri tidak mempunyai satuan.

2. Perbandingan Trigonometri Pada Sistem Koordinat

 U V V U W Y

(21)

Perhatikan gambar disamping! Gambar disamping adalah sebuah lingkaran dengan

pusat

O(0,0) dan panjang jari-jari r.sudut α adalah sudut antara

Sumbu X positif dan garis OP.Garis OP dapat diputar Sepanjang lingkaran sehingga besar sudut α berkisar Antara

0

 sampai dengan

360

 .

Koordinat titik P adalah P (x,y).panjang jari-jari lingkaran itu adalah r sehingga

y

x

r 2 2

Perbandingan trigonometri untuk sudut α didefinisikan sebagai berikut :

a. r y sin c. x y tan e. x r sec b. r x cos d. y x cot f. y r csc

Jika sudut

0

0 maka koordinat titik P(x,y) adalah P(r,0) berarti

; 1 cos ; 0 0 sin

0

0

r r r x r r y   dan tan

0

0 0 0 r x y

Jika sudut

90

0 maka koordinat titik P(x,y) adalah P(0,r) berarti:

; 0 0 cos ; 1 sin

90

90

r r x r r r y   dan 0 tan

90

0 r x y (tak terdefinisi).

3.Perbandingan Trigonometri Sudut Khusus

a. Nilai Perbandingan Trigonometri untuk Sudut

45

0

Perhatikan gambar disamping,

Tampak bahwa sudut XOY merupakan sudut siku-siku. X

O

(22)

Oleh karena itu,jika sudut XOP=

45

0 maka sudut YOP=

45

0. Akibatnya panjang OP = panjang OQ.

Tetapi karena panjang OR = panjang PQ maka, Panjang OQ = panjang PQ.selanjutnya,

OP

PQ

OQ

2 2 2

OP

PQ

OQ

2 2 2

OP

PQ

2 2 2

r

PQ

2 2 2

r

PQ

2 2 2 1 2 2 1 2 1 2 2 r

r

PQ

Jadi, koordinat P adalah 2 2 1 , 2 2 1 r r

Dengan demikian diperoleh :

1.) 2 2 1 2 2 1 sin

45

0 r r r y 2.) 2 2 1 2 2 1 cos

45

0 r r r x 3.) 1 2 2 1 2 2 1 tan

45

0 r r x y

(23)

Perhatikan gambar disamping.jika garis PQ tegak lurus OX dan sudut XOP =

30

0

maka sudut

OPQ =

60

0

.karena OP=OQ maka segitiga OPQ sama sisi sehinngga panjang OP = OQ = PQ.

Jika R adalah titik potong PQ dan OX maka:

r RQ PR 2 1

r

r

PR

OP

OR

2

1

2 2 2 2 3 2 1 4 3 2 2 2

4

1

r

r

r

r

Jadi,koordinat titik P(x,y)= P r r

2 1 , 3 2 1

.oleh karena itu,

1). 2 1 2 1 sin

30

0 r r r y ;

(24)

2). 3; 2 1 3 2 1 cos

30

0 r r r x 3). 3; 3 1 3 1 3 2 1 2 1 tan

30

0 r r x y

c. Nilai Perbandingan Trigonometri untuk Sudut 60⁰

Perhatikan gambar dibawah.misalkan XOP = 60⁰.dengan memperhatikan gambar pada perhitungan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut 30⁰,dapat diketahui bahwa

r OR 2 1 dan 3 2 1 r PR

.jadi koordinat P adalah

3 2 1 , 2 1 r . Dengan demikian,di peroleh:

1). 3 2 1 3 2 1 sin

60

0 r r OP OR ; 2). ; 2 1 2 1 cos

60

0 r r OP PR 3). 3; 2 1 3 2 1 tan

60

0 r r PR OR 60⁰ Y X P(X,Y) 160⁰ P R O

(25)

Hasil perbandingan trigonometri sudut istimewa untuk sin ,cos ,dan tan selengkapnya terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 6.1 Perbanding an trigonometri Sudut-Sudut Istimewa 0⁰ 30⁰ 45⁰ 60⁰ 90⁰ Sin Cos Tan 0 1 0 2 1 3 2 1 3 3 1 2 2 1 2 2 1 1 3 2 1 2 1 3 1 0 tidak terdefinisi

Nilai –nilai perbandingan trigonometri yang lain,yaitu sec ,csc ,dan cot sudut-sudut istimewa,dapat diperoleh dengan menggunakan rumus kebalikan yang telah kita pelajari sebelumnya.

4.Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut diberbagai Kuadran

X Y y x O Kuadran II Kuadran I

(26)

Pada suatu bidang cartesius diketahui xop adalah sudut yang diukur dari sumbu X positif berlawanan dengan arah putar jarum jam kegaris OP.hal ini berarti bahwa besar sudut dapat berubah-ubah dari 0⁰ sampai 360⁰, yaitu jika garis OP diputar dengan pusat pangkal koordinat sampai satu putaran. Perhatikan gambar 6.11.

Sumbu-sumbu koordinat pada gambar 6.11 membagi bidang koordinat menjadi empat daerah,yang selanjutnya disebut kuadran.dengan demikian, besar sudut dapat

dikelompokkan menjadi empat daerah,yaitu: a. Kuadran I : 0⁰< ≤ 90⁰;

b. Kuadran II : 90⁰< ≤ 180⁰; c. Kuadran III : 180⁰< ≤ 270⁰; d. Kuadran IV : 270⁰< ≤ 360⁰;

a. Kuadran I ( 0⁰< ≤ 90⁰ )

Jika terletak dikuadran I maka X positif dan Y positif sehingga:

, sin r y bernilai positif ; , cos y x bernilai positif ; , tan x y bernilai positif ; Gambar 6.11 P (x,y) X Y O y x

(27)

b. Kuadran II ( 90⁰< ≤ 180⁰

Jika terletak dikuadran II maka X negatif dan Y positif sehingga:

, sin r y bernilai positif , cos r x bernilai negatif ; , tan x y bernilai negatif ; c. Kuadran III ( 180⁰< ≤ 270⁰ )

Jika terletak dikuadran III maka X negatif dan Y negatif sehingga:

, sin r y bernilai negatif ; , cos r x bernilai negatif ; , tan x y x y bernilai positif ; d. Kuadran IV ( 270⁰< ≤ 360⁰ )

Jika terletak dikuadran IV maka X positif dan Y negatif sehingga:

, sin r y bernilai negatif ; , cos r x bernilai positif; , tan x y bernilai negatif ; X X Y P (-x,y) y x O -y P (-x,-y) -x O -y x X Y P (x,-y)

Figur

Tabel 6.1  Perbanding an  trigonometri  Sudut-Sudut Istimewa 0⁰ 30⁰ 45⁰  60⁰  90⁰  Sin  Cos  Tan   0 10  212 31331 2 212211 2 3121 3   1 0  tidak  terdefinisi

Tabel 6.1

Perbanding an trigonometri Sudut-Sudut Istimewa 0⁰ 30⁰ 45⁰ 60⁰ 90⁰ Sin Cos Tan 0 10 212 31331 2 212211 2 3121 3 1 0 tidak terdefinisi p.25

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :