BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian tentang keterlaksanaan

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian tentang keterlaksanaan penerapan Ranking Task Exercise dalam model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write untuk meningkatkan kemampuan análisis siswa.

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan, pada pertemuan pertama dilakukan pretest terlebih dahulu untuk mengetahui pengetahuan awal siswa mengenai konsep tekanan hidrostatis, hukum pascal, hukum archimides dan tegangan permukaan. Kemudian dilakukan tiga kali pembelajaran atau treatment dan setelah itu diberikan posttest pada pertemuan selanjutnya. Posttest dilakukan untuk mengetahui pengetahuan siswa setelah pembelajaran. Soal posttest yang diberikan sama dengan soal pretest. Keterlaksanaan kegiatan pembelajaran diamati oleh dua sampai empat orang observer disetiap pertemuannya. Hasil pengamatan yang dilakukan observer dituliskan dalam lembar observasi yang telah disediakan.

Pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe TTW dimulai dengan tahap berpikir (think), kegiatan pembelajarannya yaitu siswa melakukan pembentukan kelompok terlebih dahulu, masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 siswa secara heterogen, kemudian siswa akan menerima lembar LKS RTE untuk kemudian dianalisis, setelah itu siswa mengamati demonstasi yang dilakukan guru

(2)

lalu siswa melakukan percobaan dan mulai memikirkan kemungkinan jawaban pada lembar LKS berdasarkan hasil pengamatannya dalam percobaan. Selanjutnya tahap berbicara (talk), pada tahap ini siswa melakukan diskusi bersama teman sekelompoknya untuk menjawab permasalahan dalam LKS setelah itu guru memilih kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Kemudian tahap terakhir adalah menulis (write), yaitu siswa akan diminta untuk menuliskan hasil diskusi atau solusi permasalahan dalam LKS dengan pemilihan kata secara ilmiah yaitu berkaitan dengan konsep yang dipelajarinya. Pada akhir pembelajaran guru melakukan konfirmasi atau penguatan untuk menyimpulkan jawaban atas masalah-masalah yang didapat dari percobaan atau diskusi.

B. Keterlaksanaan Penerapan Ranking Task Exercise dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write

Dari data observasi keterlaksanaan penerapan RTE dalam model pembelajaran kooperatif tipe TTW dapat dianalisis persentase keterlaksanaan model tersebut. Observer menilai seberapa jauh guru telah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TTW. Dalam tahap analisisnya setiap indikator yang muncul pada kegiatan pembelajaran di kelas diberi skor satu dan indikator yang tidak muncul diberi skor nol. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TTW yang telah dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran, ditunjukkan dengan persentase keterlaksanaan model pembelajaran yang telah diobservasi oleh observer seperti pada Tabel 4.1.

(3)

Tabel 4.1 Persentase Keterlaksanan Penerapan Ranking Task Exercise dalam Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Talk Write oleh Guru dan

Siswa Sintaks/

Tahapan Pembelajaran

Pertemuan ke-1 Pertemuan ke-2 Pertemuan ke-3

Guru Siswa Guru Siswa Guru Siswa

Think 85,71% 88.33% 100,00% 90,77% 100,00% 94,97% Talk 90,00% 79,63% 94,44% 70,37% 100,00% 87,07% Write 91,67% 95.37% 100,00% 85,14% 100.00% 95,71% Rata-rata 88,33% 87,88% 97,62% 81,60% 100,00% 92,51% Kriteria Hampir Seluruh Kegiatan Terlaksana Hampir Seluruh Kegiatan Terlaksana Hampir Seluruh Kegiatan Terlaksana Hampir Seluruh Kegiatan Terlaksana Seluruh Kegiatan Terlaksana Hampir Seluruh Kegiatan Terlaksana

Berdasarkan hasil analisis data observasi di atas maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TTW pada pertemuan ke-1 telah dilaksanakan dengan persentase keterlaksanaan 88,33%. Pada pertemuan ke-1 ini tidak seluruh tahapan kegiatan pembelajaran terlaksana, hal ini disebabkan karena guru masih harus beradaptasi dengan keadaan kelas dan siswanya sehingga guru merasa kesulitan untuk mengatur seluruh aktivitas siswa. Selain itu guru baru pertama kali menerapkan model kooperatif tipe TTW ini sehingga dibutuhkan keterampilan lebih untuk pengelolaan kelas yang baik. Sedangkan keterlaksanaan pembelajaran siswa pada pertemuan ke-1 diperoleh persentase sebesar 87,88%, yang artinya hampir seluruh tahapan kegiatan pembelajaran dari model pembelajaran kooperatif tipe TTW terlaksana. Hal itu disebabkan karena pada pertemuan ke-1 siswa baru pertama kali mendapat pembelajaran dengan model kooperatif tipe TTW menggunakan RTE, oleh sebab itu siswa masih merasa kesulitan dalam mengikuti tahapan pembelajaran. tetapi siswa dinilai observer

(4)

begitu antusis mengikuti pembelajaran khususnya pada saat tahap think yaitu pada saat percobaan dan tahap talk pada waktu presentasi Kekurangan-kekurangan pada pertemuan ke-1 ini menjadi catatan perbaikan pada pertemuan berikutnya. Pada lembar observasi, observer ada yang menulis catatan perbaikan bahwa ada siswa yang kurang terkondisikan, siswa tersebut malah sibuk dengan kegiatannya sendiri dan tidak antusias untuk berdiskusi dengan kelompoknya. Hal ini karena siswa belum memahami penjelasan guru mengenai mekanisme aturan model pembelajaran kooperatif tipe TTW dan juga mekanisme dalam mengerjakan LKS RTE, sebaiknya guru memberikan pendekatan yang lebih baik agar siswa lebih semangat dalam belajar.

Selanjutnya pada pertemuan ke-2, berdasarkan hasil data observasi pembelajaran telah dilaksanakan dengan persentase keterlaksanaan sebesar 97,62%. berbeda dengan pertemuan ke-1, pada pertemuan ke-2 ini guru lebih bisa mengondisikan aktivitas siswa, selain itu guru juga dapat mengatasi catatan perbaikan pada pertemuan ke-1 agar tidak terulang. tetapi masih saja masih ada kegiatan pembelajaran yang belum terlaksana, hal ini karena kurangnya keterampilan guru dalam membimbing seluruh kelompok dalam berdiskusi. Keterlaksanaan pembelajaran siswa pada pertemuan ke-2 diperoleh persentase sebesar 81,60%. Nilai ini mengalami penurunan dibandingkan dengan nilai persentasi pada pertemuan sebelumnya. terjadinya penurunan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:

a. alat dan bahan yang digunakan pada pertemuan ke-2 tidak lengkap sehingga menyebabkan kelompok yang tidak kebagian alat diam menunggu giliran

(5)

kelompok lain. hal ini menyebabkan siswa tidak melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks/tahapan pembelajaran yang ada.

b. siswa membutuhkan waktu lebih banyak untuk pembelajaran bila ingin sesuai dengan tahapan. dengan waktu yang sedikit dan terbuang maka akan banyak siswa yang tidak melakukan tahapan pembelajaran.

c. materi pada pertemuan ke-2 yaitu hukum Archimides dinilai siswa lebih sulit daripada konsep tekanan hidrostatis pada pertemuan ke-1. hal ini menyebabkan siswa yang tidak mengerti hanya menunggu jawaban dari teman sekelompoknya, sehingga tahapan pembelajaran tidak terlaksana.

Kemudian pada pertemuan ke-3 tahapan-tahapan model pembelajaran kooperatif tipe TTW dengan menerapkan RTE dapat dilaksanakan seluruhnya oleh guru dengan persentase sebesar 100%. Hal ini dikarenakan guru sudah mengetahui keadaan siswa dan mulai terbiasa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TTW dengan menerapkan RTE dan berusaha agar kekurangan-kekurangan pada pertemuan sebelumnya tidak terulang kembali. Sedangkan persentase keterlaksanaan pembelajaran siswa diperoleh sebesar 92,51%. Hal ini karena siswa sudah terbiasa dalam melaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe TTW dengan menerapkan RTE. Tetapi karena keterbatasan waktu dan rasa bosan melakukan kegiatan pembelajaran TTW sehingga siswa tidak melakukan kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.

Secara keseluruhan menurut persentase rata-rata bahwa hampir seluruh tahapan pembelajaran model kooperatif tipe TTW menerapkan RTE terlaksana. Tidak terlaksananya seluruh tahapan karena selama proses pembelajaran dalam

(6)

setiap pertemuan masih terdapat beberapa siswa dalam kelompoknya yang belum terlibat aktif secara maksimal baik dalam tahap think saat melakukan percobaan, tahap talk saat berdiskusi kelompok dan diskusi kelas atau presentasi, maupun pada tahap write saat menuliskan semua hasil diskusi kelompok dan diskusi kelas. Selain itu, alokasi waktu yang terbatas menyebabkan siswa pada saat berdiskusi kelas atau presentasi dapat mengemukakan pendapatnya dan antusias siswa yang berkurang pada akhir pertemuan. Hal tersebut dapat mempengaruhi persentasi keterlaksanaan model pembelajaran oleh siswa.

C. Peningkatan Kemampuan Analisis Siswa

Setelah pembelajaran dengan menerapkan RTE dalam model pembelajaran kooperatif tipe TTW dilaksanakan, rata-rata pengetahuan siswa pada materi tekanan hidrostatis, hukum Archimides, tegangan permukaan dan hukum Pascal mengalami peningkatan. Dengan adanya peningkatan tersebut mengindikasikan bahwa hasil belajar siswa pada ranah kognitif kemampuan menganalisis mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan skor rata-rata antara pre test dan post test. Adapun perbandingan hasil rata-rata-rata-rata skor pre test dan post test ditunjukkan oleh Gambar 4.1 berikut ini.

(7)

Gambar 4.1 Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Tes Kemampuan Analisis

Berdasarkan Gambar 4.1 diketahui bahwa skor rata-rata pre test yang diperoleh siswa adalah 41,71. Setelah dilaksanakan pembelajaran, ternyata siswa mengalami peningkatan skor rata-rata tes kemampuan analisis, yaitu skor rata-rata pos test yang diperoleh siswa adalah 74,10. Adapun nilai rata-rata gain yang dinormalisasi adalah 0,41 yang mempunyai kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think talk write dapat meningkatkan kemampuan analisis siswa. Peningkatan kemampuan analisis siswa juga disebabkan karena pembelajaran dengan menggunakan ranking taks exercise. RTE ini dapat melatih siswa untuk menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan.

Peningkatan kemampuan analisis juga dianalisis pada setiap tipenya, yaitu pada tipe analisis elemen, analisis hubungan dan analisis prinsip. Berdasarkan nilai pretest dan postest diperoleh rata-rata skor setiap tipe analisis mengalami peningkatan. Peningkatan skor rata-rata pretest dan postest pada setiap tipe analisis ditunjukan oleh gambar 4.2 dibawah ini.

41,71 74,1 41 0 20 40 60 80 100

pre test pos test <g>

rata -r ata sko r (% )

Tes Kemampuan Analisis

pre test pos test <g>

(8)

Gambar 4.2 Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Tipe Kemampuan Analisis

Berdasarkan gambar diatas terlihat peningkatan skor rata-rata pre test dan pos test pada tipe analisis elemen terlihat dari rata-rata gain yang dinormalisasi yaitu sebesar 0,49 dengan kriteria sedang. Pada tipe analisis hubungan nilai rata-rata gain yang dinormalisasi adalah sebesar 0,63 dengan kriteria sedang. Sedangkan pada tipe analisis prinsip nilai rata-rata gain yang dinormalisasi adalah sebesar 0,19 dengan kriteria rendah. Terlihat nilai gain terbesar adalah pada tipe analisis hubungan dan nilai gain yang terkecil adalah tipe analisis prinsip. Perbedaan peningkatan setiap tipe analisis ini disebabkan karena tingkat kesukaran jenis soal setiap tipe berbeda. Perbedaan ini bisa dalam hal tingkat kesukaran tiap konsep, atau pembelajaran setiap tahapan TTW disetiap pertemuannya berbeda sehingga menyebabkan peningkatan setiap tipe berbeda.

D. Profil Tingkat Penalaran Siswa

Setelah dilakukan pembelajaran dengan menerapkan RTE dalam model pembelajaran kooperatif tipe TTW, profil penalaran siswa dapat ditentukan

24,76 45,24 40 63,81 87,14 56,73 49 63 19 0 20 40 60 80 100

analisis elemen analisis hubungan analisis pinsip rata -r ata sko r (% )

Tipe Kemampuan Analisis

pretest postest <g>

(9)

dengan menganalisis alasan jawan siswa dalam lembar RTE. Analisis profil tingkat penalaran siswa ini akan ditentukan berdasarkan klasifikasi rubrik tingkat penalaran menurut Hudgins. Adapun masing-masing tingkat penalaran siswa pada setiap konsep ditunjukan pada tabel 4.2 di bawah ini,

Tabel 4.1. Tingkat Penalaran Siswa pada Setiap Konsep

No. Nama T.P tekanan hidrostatis T.P hukum archimides T.P tegangan permukaan T.P hukum pascal 1 MRN 4 3 3 3 2 NNA 4 3 3 4 3 MHS 4 3 4 4 DAH 4 3 3 3 5 YAM 4 3 3 4 6 MIH 3 3 3 3 7 MYF 3 3 3 3 8 FTI 3 3 3 3 9 FKZ 3 3 3 3 10 FLK 2 3 3 1 11 AAN 5 5 3 2 12 NKF 5 5 5 2 13 SFY 5 5 4 2 14 NLM 5 5 4 2 15 EAW 5 5 3 2 16 DFG 4 4 4 2 17 RYF 4 4 4 2 18 RAA 4 4 4 2 19 PAA 4 4 4 2 20 EHN 3 4 3 2 21 MNDP 2 3 3 2 22 MMA 2 3 3 2 23 LRR 2 3 24 NRG 2 3 3 2 25 ZFN 2 4 2 26 LAR 3 4 4 2 27 INN 3 4 2 28 IMG 3 4 2

(10)

No. Nama T.P tekanan hidrostatis T.P hukum archimides T.P tegangan permukaan T.P hukum pascal 29 HFR 3 4 2 30 MNH 4 3 4 2 31 PYD 2 3 2 32 SPS 3 3 1 33 HON 3 3 3 34 TAM 4 3 2 35 YIY 2 4 4 2

Dari tabel 4.2 diatas terlihat setiap siswa menempati level yang berbeda-beda disetiap konsepnya. Siswa dengan level yang tidak terisi menandakan siswa tidak mengikuti kegiatan pembelajaran atau tidak mengisi lembar RTE dengan alasan tertentu. Adapun perbandingan tingkat penalaran siswa pada setiap konsep yang ditunjukan pada tabel 4.2 di atas dapat digambarkan seperti gambar 4.3 di bawah ini,

Gambar 4.3 Diagram Perbandingan Tingkat Penalaran Siswa

0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Ti n gkat Pe n al ar an Siswa

T.P tekanan hidrostatis T.P hukum archimides T.P tegangan permukaan T.P hukum pascal

(11)

Berdasarkan gambar 4.3, diketahui bahwa tidak semua siswa mengisi lembar RTE pada semua konsep dan tingkat penalaran siswa pada setiap konsep beragam, ada yang tetap pada tingkatan yang sama, ada juga yang berubah-ubah tingkatan. Pada konsep tekanan hidrostatis rata-rata penalaran siswa berada pada level functional yaitu 10 dari 31 orang siswa dengan persentase 32,25%. Ini menunjukan bahwa kebanyakan siswa mendeskripsikan solusi permasalahan hanya secara umum dengan dilengkapi penjelasan variabel dan proses secara umum pula. Lembar RTE konsep tekanan hidrostatis ini diberikan pada pertemuan ke-1 sehingga siswa sangat antusias mengerjakan dan berdiskusi karena siswa baru pertama kali mengisi lembar RTE. Sedangkan pada konsep hukum archimides, terlihat tingkat penalaran siswa rata-rata berada pada level near funtional yaitu 16 dari 30 orang siswa dengan persentase 53,33% siswa. Siswa hanya mendeskripsikan variabel yang ada namun tidak memiliki kedalaman pengetahuan yang cukup dalam menjelaskannya serta penjelasannya menunjukan sedikit kebingungan. RTE yang ke-2 ini diberikan pada pertemuan ke-2 sehingga siswa terlihat sudah mengerti mekanisme atau cara pengerjaan RTE. Selanjutnya pada konsep tegangan permukaan menunjukan rata-rata tingkat penalaran siswa berada pada level near functional yaitu sebanyak 20 dari 34 orang siswa dengan persentase 58,82%. Sama halnya seperti pada konsep Hukum Archimides, pada konsep ini pun siswa sulit untuk menjelaskan solusi yang didapat secara kompleks, siswa hanya mendeskripsikan variabel yang ada namun tidak memiliki kedalaman pengetahuan yang cukup dalam menjelaskannya serta penjelasannya menunjukan sedikit kebingungan. Kemudian pada konsep hukum pascal rata-rata

(12)

tingkat penalaran siswa berada pada level subfuntional yaitu sebanyak 21 dari 34 orang siswa dengan persentase 61,76%, dengan kriteria siswa hanya mengidentifikasi variabel yang relevan tanpa mendeskripsikan konsep atau hubungan variabelnya. Lembar RTE pada konsep tegangan permukaan dan hukum pascal diberikan pada hari yang sama yaitu pada pertemuan ke-3. siswa merasa bosan dalam mengerjakan pola LKS yang sama selain itu waktu yang terbatas juga membatasi siswa dalam menganalisis lebih dalam mengenai konsep tegangan permukaan dan hukum pascal ini.

E. Pembahasan Pelaksanaan Penelitian 1. Peningkatan Kemampuan Analisis Siswa

Kemampuan analisis siswa yang diukur pada penelitian ini adalah tiga tipe kemampuan analisis yang dikemukakan Bloom (1979) yaitu analisis elemen, analisis hubungan dan analisis prinsip. Peningkatan kemampuan analisis dilihat berdasarkan nilai N-gain dari pre test dan post test pada setiap tipenya. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa setiap tipe memiliki peningkatan rata-rata skor pretest dan post test serta nilai N-gain yang berbeda-beda. Pada tipe analisis prinsip diketahui memiliki nilai N-gain yang paling kecil yaitu 0,19 yang menunjukan kriteria rendah. Ini disebabkan karena komplestitas analisis prinsip lebih tinggi dari analisis elemen dan hubungan, hal ini sejalan dengan pernyataan Bloom (1979:147) bahwa, “Analysis of Organization Prinsiple at an even more complex and difficult is likely to be the task of analyzing the structure and organization of a communication”. Oleh karena itu kompleksnya analisis tipe

(13)

prinsip organisasi ini menyebabkan siswa kesulitan dalam menjawab permasalahan sehingga peningkatan skor pre testnya tidak terlalu besar, ini yang menyebabkan nilai N-gain pada tipe analisis prinsip menjadi kecil. Sedangkan secara umum peningkatan kemampuan analisis siswa dalam model pembelajaran kooperatif tipe TTW menggunakan RTE terlihat dari nilai rata-rata gain yang dinormalisasi yang diperoleh yaitu sebesar 0,41 dan berada pada kategori sedang. Tidak seperti penelitian yang dilakukan oleh Khanafiyah (2011) yang menggunakan strategi Rotating Trio Exchange untuk meningkatkan kemampuan analisis siswa dengan nilai N-gain yang diperoleh sebesar 0,37 disebutkan bahwa kemampuan analisis siswa belum mencapai hasil yang cukup baik karena hanya dua orang siswa yang mampu mencapai batas nilai minimal yaitu 60. Sementara dalam penelitian ini menemukan bahwa kebanyakan siswa atau 29 dari 34 siswa mendapat nilai di atas 60. Hal tersebut dikarenakan melalui kegiatan percobaan, eksplorasi dan menyelesaikan permasalahan pada lembar RTE siswa akan belajar membangun pengetahuan berdasarkan pengalamannya sendiri. Sudjana (2005) mengungkapkan bahwa:

“Analisis merupakan kecakapan yang kompleks yang memanfaatkan kecakapan dari tipe pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi. Bila kecakapan analisis telah dapat berkembang pada seseorang, maka ia akan dapat mengaplikasikannya pada situasi baru secara kreatif”

Sejalan dengan hai itu model pembelajaran kooperatif tipe TTW menggunakan RTE dapat melatih siswa untuk lebih mengasah kemampuan menganalisisnya karena siswa diberikan kesempatan untuk mengeksplor lebih dalam konsep yang dipelajarinya melalui permasalahan yang harus diselesaikan dengan menuliskan

(14)

alasan jawabannya. Ini akan memberikan ruang yang lebih banyak untuk berdiskusi bersama temannya sehingga siswa akan lebih memahami konsep yang dipelajarinya.

2. Profil Tingkat Penalaran Siswa

Profil tingkat penalaran siswa ditentukan dengan menganalisis jawaban siswa pada lembar RTE pada setiap pertemuannya. Dalam alasan jawaban inilah siswa menuangkan semua hal yang dianalisisnya termasuk fakta-fakta yang ditemukan sehingga siswa sampai pada kesimpulan yang dianggapnya benar. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sukartinah (2003) yang menyebutkan bahwa “penalaran adalah suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta-fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan”. Berdasarkan rata-rata tingkat penalaran siswa pada setiap konsep seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, diketahui bahwa tingkatannya berbeda-beda. Secara umum tingkat penalaran siswa berada pada level near functional, Hudgins (2005) menguraikan bahwa pada level near functional,

”Deskripsi siswa berisikan identifikasi dua atau lebih variabel dan hubungan dari konsep yang relevan akan tetapi tidak mengungkapkan satu atau lebih pengetahuan dari elemen yang sangat esensial. Penjelasannya terkadang menunjukkan sedikit kebingungan dalam penyajian bahasa atau konteks, namun pada umumnya tetap mengahasilkan solusi yang benar. Bagaimanapun, deskripsi siswa menyarankan penguasaan konseptual yang terbatas serta tidak memiliki kedalaman atau fleksibilitas yang cukup untuk menjelaskan jika konsep yang sama dibuat perubahan kecil dalam penyajian bentuk atau presentasi pada masalah konseptual yang lain”. Tingkat penalaran yang berbeda ini disebabkan karena tingkat kesukaran setiap konsep berbeda. Kesukaran yang berbeda-beda ini dirasakan siswa pada

(15)

saat kegiatan eksplorasi yaitu pada tahap think, kegiatan pembelajaran pada tahap think ini akan membantu siswa untuk memahami suatu konsep. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Pratama (2010) bahwa,

“Model pembelajaran TTW berpengaruh besar terhadap belajar siswa dikarenakan terdapat unsur think yang mampu menjadikan siswa aktif dalam memahami materi sehingga siswa tidak hanya mengacu terhadap guru tetapi guru disini hanya sebagai motifator di dalam pembelajaran”.

Pemahaman siswa terhadap suatu konsep ini akan membantunya dalam menganalisis setiap permasalahan dalam lembar RTE. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa rata-rata tingkat penalaran siswa dalam konsep hukum Archimides, tegangan permukaan dan hukum Pascal lebih rendah daripada rata-rata tingkat penalaran siswa pada konsep tekanan hidrostatis. Pada konsep archimides siswa merasa lebih kesulitan untuk menganalisis permasalahan dalam lembar RTE dibandingkan dengan pada saat mengisi lembar RTE pada konsep tekanan hidrostatis, begitu pula pada konsep tegangan permukaan. Sedangkan pada saat mengisi lembar RTE pada konsep Hukum Pascal, selain merasa kesulitan siswa juga merasa jangka waktu yang diberikan untuk mengisi LKS terlalu sedikit. Hal ini kurang mendukung pernyataan yang dikemukakan Kartika (2010) mengenai pembelajaran TTW yang menyatakan bahwa “interaksi yang diharapkan adalah siswa dalam kelompoknya dapat aktif berpikir (think) baik dalam mempelajari materi maupun dalam memecahkan masalah yang dihadapi, saling berdiskusi (talk) dan menuliskan hasil diskusi (write)”. Siswa membutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan setiap tahapan pembelajaran dengan baik, dan jika dalam tahapan berdiskusi (talk) atau menulis (write) siswa

(16)

merasa waktu yang diberikan sedikit, maka siswa tidak akan bisa menganalisis suatu permasalahan lebih dalam sehingga siswa kurang bisa menuangkan pendapatnya mengenai analisis permasalahan dalam lembar RTE. Hal inilah yang menyebabkan tingkat penalaran siswa menjadi rendah pada konsep hukum pascal.

Figur

Tabel 4.1 Persentase Keterlaksanan Penerapan Ranking Task Exercise dalam  Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Talk Write oleh Guru dan

Tabel 4.1

Persentase Keterlaksanan Penerapan Ranking Task Exercise dalam Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Talk Write oleh Guru dan p.3
Gambar 4.1 Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Tes  Kemampuan Analisis

Gambar 4.1

Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Tes Kemampuan Analisis p.7
Gambar 4.2 Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Tipe  Kemampuan Analisis

Gambar 4.2

Diagram Batang Peningkatan Skor Rata-Rata Tipe Kemampuan Analisis p.8
Tabel 4.1. Tingkat Penalaran Siswa pada Setiap Konsep

Tabel 4.1.

Tingkat Penalaran Siswa pada Setiap Konsep p.9
Gambar 4.3 Diagram Perbandingan Tingkat Penalaran Siswa

Gambar 4.3

Diagram Perbandingan Tingkat Penalaran Siswa p.10

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :