Transformasi Ormas Menjadi Partai Politik ( Studi Tentang Ormas Persatuan Indonesia menjadi Partai Persatuan Indonesia)

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Kehidupan Masyarakat Indonesia terdapat bermacam-macam kepentingan dan

keinginan untuk ikut berpartisipasi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan

rakyat. Berbagai ide dan gagasan dari sekelompok orang, diwujudkan sebagai bentuk

keikutsertaan dan kepedulian untuk turut serta mewujudkan kesejahteraan dan

kemakmuran bangsa ini. Oleh karena itu, banyak sekali dibentuk

perkumpulan-perkumpulan di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut

paham demokrasi, yang artinya pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk

rakyat. Kemudian dijalankan melalui mekanisme kelembagaan yang bernama Partai

Politik. Kemudian Partai Politik saling berkompetisi secara sehat untuk

memperebutkan kekuasaan pemerintahan negara, melalui mekanisme pemilihan

umum. Inilah wujud dari adanya hak asasi manusia yang telah diakui dan dijamin

oleh Undang-Undang dasar Republik Indonesia tahun 1945 yaitu hak untuk

berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran serta pendapat.

Perkembangan Partai Politik di Indonesia tidak terlepas dari hak dan kewajiban

warga negara dalam memberikan partisipasi politik serta membentuk karakter bangsa

dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, dan Momentum pemilu

tahun 2004 merupakan saat yang sangat bersejarah bagi perjalanan demokrasi di

negeri ini. Pemilu di tahun 2004 ini menjadi pemilu pertama yang memungkinkan

rakyat memilih langsung wakil mereka untuk duduk di DPR, DPD, dan DPRD serta

memilih Presiden dan Wakil Presiden.1

1

Berdasarkan sistem demokrasi yang telah

berjalan melalui pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Sejak tahun

2004, bentuk pendidikan politik bagi masyarakat yang membawa dalam situasi

politik praktis dengan berbagai macam Partai Politik yang bermunculan dari tahun ke

(2)

tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan politik bagi masyarakat merupakan

bagian yang penting dalam membangun sistem pemerintahan yang kuat dan

berkelanjutan.

Berdasarkan Pasal 31 ayat (1) dalam Undang-Undang nomor 2 Tahun 2008

Tentang Partai Politik menyebutkan bahwa Partai Politik melakukan pendidikan

politik bagi masyarakat sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawabnya dengan

memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.2

Partai Politik merupakan keharusan dalam kehidupan politik modern yang

demokratis. Sebagai suatu organisasi, Partai Politik secara ideal dimaksudkan untuk

mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan

jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan sarana Maka, dapat dinyatakan bahwa

pendidikan politik bagi masyarakat merupakan suatu ruang lingkup dalam upaya

meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajibannya dalam berpolitik, terutama

memberikan partisipasi politik dengan kemandirian, kedewasaan dan membangun

karakter bangsa dengan tujuan utama memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Selain itu, Partai Politik diharapkan mampu membangun iklim berdemokrasi yang

berlandaskan pada Pancasila sebagai wadah bagi masayarakat dalam memberikan hak

dan kewajibannya dalam berpolitik.

Pendidikan politik oleh Partai Politik penting diimplementasiakan kepada usaha

peningkatan kesadaran berdemokrasi sebagai salah satu upaya untuk menjabarkan

pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, yakni pemerintahan yang

kewenangannya pada rakyat. Pelaksanaan dari demokrasi ini telah dilakukan dari

dahulu di berbagai daerah di Indonesia, hingga Indonesia merdeka sampai sekarang

ini. Demokrasi di negara Indonesia bersumber dari Pancasila dan UUD’45 sehingga

sering disebut dengan demokrasi pancasila. Demokrasi pancasila berintikan

musyawarah untuk mencapai mufakat, dengan berpangkal tolak pada paham

kekeluargaan dan kegotongroyongan.

2

(3)

suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai.3 Secara umum Partai Politik dikatakan sebagai suatu kelompok yang terorganisir yang

anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan

kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan melalui kekuasaan itu,

melaksanakan kebijakan mereka.4 Demikian pula Partai Politik merupakan perantara yang besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi-ideologi sosial

dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang resmi dan publik politik yang lebih

luas.5

Indonesia terdapat trend baru dalam pendirian Partai Politik, yaitu sebagai

pecahan atau sempalan karena adanya politisi-politisi yang kecewa di partai

sebelumnya. Konflik internal, kekecewaan terhadap pemimpin, dan garis kebijakan

partai, terhambatnya proses regenerasi kader, dan tertutupnya aspirasi politik

merupakan faktor-faktor penyebab keluarnya sejumlah politisi dari suatu Partai

Politik. Mereka yang keluar dari suatu Partai Politik sepakat satu dengan yang lain

untuk membentuk partai sempalan atau pecahan. Karena partai baru yang mereka

dirikan memiliki sejumlah kesamaan karakteristik dengan partai lama yang mereka

tinggalkan. Kita dapat melihat secara visual dari atribut partai misalnya, bendera, dan

bentuk logo partai sampai ke ideologi partai.6

Partai Politik dapat juga lahir sebagai institusional kelompok-kelompok yang

sudah ada di dalam masyarakat. Dalam hal ini, individu-individu dan kelompok

bukannya didasarkan pada ideologi politik, tetapi lebih karena kesamaan hobi,

pekerjaan, permasalahan yang dihadapi, atau karena tergabung pada suatu asosiasi,

klub, ikatan, organisasi kemasyarakatan, dan grup sosial lainnya. Ketertarikan

kelompok-kelompok masyarakat ini terhadap dunia politik hanya akan terjadi apabila

kepentingan mereka dirasakan terancam oleh pengambil kebijakan di tingakat daerah

3

Ichasul Amal, 1996. Teory Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta : Tiara Mutiara, hal.11.

4

Miriam Budihardjo. 1981. Partisipasi dan Partai Politik-Sebuah Bunga Rampai. Jakarta : PT Gramedia, hal. 14.

5

Drs. M. Rusli Karim.1993. Perjalanan Partai Politik Di Indonesia. Jakarta: Citra niaga Rajawali. hal. 32.

6

(4)

atau nasional. Sehingga mereka merasa perlu memperjuangkan eksistensi kelompok

mereka.

Organisasi yang tadinya tidak didesain untuk terlibat dalam politik ‘electoral’

akhirnya terlibat untuk menyuarakan aspirasi politiknya. Salah satu contoh di

Indonesia sendiri, banyak sekali organisasi keagamaan maupun organisasi

kemasyarakatan yang melalui muktamar dan kesepakatan elite organisasi lalu

memutuskan untuk membentuk Partai Politik. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

tidak dapat dilepaskan dari organisasi Nadlathul Ulama. Lambang partai ‘Bintang

Sembilan’ merupakan istilah yang sangat di kenal dikalangan Nadlathul Ulama dan

merupakan identitas NU. Sehingga tidak mengherankan apabila PKB dianggap

sebagai rumah politik NU. Pola pendirian partai seperti ini juga dapat kita temui di

partai lain seperti PAN dengan Muhamadiyah.7

7

Ibid. hal. 62.

Partai HANURA yang dengan

Perhimpunan Kebangsaan (PK). Partai NasDem dengan Ormas Nasioanal Demokrat

(OND). Kemudian yang terbaru adalah pendirian Partai Persatuan Indonesia yang

diawali dengan membentuk Ormas Persatuan Indonesia.

Pembentukan Partai Persatuan Indonesia Bertolak dari pemahaman atas peluang

dan tantangan di atas, maka di tengah dinamika ketegangan politik antara kubu

Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) di parlemen setelah

penyelenggaraan Pemilhan Presiden 2014 yang lalu, dibentuklah sebuah Partai Politik

baru yang luput dari perhatian publik. Partai Politik itu adalah Partai Persatuan

Indonesia (Perindo) pimpinan Hary Tanoesoedibjo, seorang Tokoh Nasional dan

pengusaha sukses di bidang media yang sebelumnya pernah bergabung di Partai

Nasdem dan Partai Hanura. Pembentukan partai ini bukanlah secara tiba-tiba,

melainkan telah dipersiapkan cikal bakalnya jauh-jauh hari dalam bentuk ormas

Persatuan Indonesia yang dideklarasikan di Jakarta pada 24 Februari 2013

(5)

Struktur Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Indonesia8

yaitu Ketua

Umum adalah

Ketua Bidang Kader Anggota dan Saksi ialah

dan IT yait

Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan yaitu

Bidang Hukum dan Advokasi adalah

Pemberdayaan Perempuan yaitu

Ekonomi yaitu

Lembaga adalah

dan Pertahanan Keamanan yaitu

Pemula yaitu

Umum yait

Meski sebagai Partai Politik baru, Partai Persatuan Indonesia telah memiliki

badan hukum yang sah berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi

Manusia Republik Indonesia Nomor: M.HH-03.AH.11.01 Tahun 2014 tertanggal 08

Oktober 2014. Oleh karena itu, dengan status badan hukum, berarti satu tahapan

verifikasi yang wajib diikuti Partai Persatuan Indonesia telah terlampaui. Tahapan

selanjutnya yang mesti dilewati adalah verifikasi yang dilakukan KPU lolos sebagai

Partai Politik peserta pemilu. Status sebagai partai peserta pemilu, Partai Persatuan

Indonesia akan ikut menentukan dalam kompetisi politik tahun 2019 yang akan

datang. ”Persatuan Indonesia” sebagai nama partai diambil dari isi sila ketiga

Pancasila. Penggunaan nama tersebut tentu mengandung maksud dan tujuan, dasar

pertimbangan filosofis, serta konsekuensi logis yang harus dapat dipertanggung

jawabkan. Partai Persatuan Indonesia memahami realitas sejarah bahwa masalah

persatuan di Indonesia senantiasa mengalami pasang-surut seiring dengan dinamika

dan perkembangan bangsa dan negara. Partai Persatuan Indonesia menjadikan

Pancasila sebagai ideologi partai dan meyakini bahwa Pancasila adalah ideologi yang

8

(6)

benar, tepat, dan menyelamatkan, karena telah teruji dan terbukti mampu melewati

dengan selamat berbagai ujian dan cobaan disintegrasi dalam proses perjalanan

bangsa, dan tetap berhasil mempersatukan bangsa yang sangat majemuk ini. Bagi

Partai Persatuan Indonesia, Pancasila merupakan sumber inspirasi dan motivasi, serta

rujukan sekaligus tolok ukur keberhasilan perjuangan partai dalam proses

pembangunan bangsa. Konsekuensi logis dari penggunaan nama tersebut, maka Partai

Persatuan Indonesia harus mampu berperan sebagai garda terdepan Persatuan

Indonesia. Partai Persatuan Indonesia harus senantiasa proaktif mengingatkan seluruh

komponen bangsa mengenai urgensi persatuan dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa, dan bernegara. Partai Persatuan Indonesia digagas sebagai partai modern

yang merupakan hasil perpaduan dari karakteristik partai kader dan partai massa. Jati

diri partai secara singkat dapat dirumuskan sebagai ”Partai modern yang menjadi

garda terdepan Persatuan Indonesia, menjunjung tinggi prinsip keadilan, memelihara

nilai-nilai luhur budaya bangsa, berbasis pada kekuatan rakyat, dan berorientasi pada

kesejahteraan rakyat dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat

Indonesia.

Pendirian Persatuan Indonesia merupakan tahap penjajakan dari sebuah Partai

Politik. Ormas tersebut bukan ormas biasa. Tidak dimaksudkan sebagai ormas

selamanya. Akan tetapi, dipersiapkan sebagai kekuatan politik yang dapat mengikuti

kompetisi pemilu. Tidak dipungkiri oleh partai lain, pendirian Partai Persatuan

Indonesia akan berkembang pesat dengan adanya kekuatan Media yang dimiliki oleh

ketua Partai Persatuan Indonesia. Partai Persatuan Indonesia yang merupakan partai

yang bertransformasi dari organisasi masyarakat untuk berkepentingan politik.

Sebelumnya, Ormas Persatuan Indonesia didirikan dengan tujuan untuk mengatasi

kesenjangan sosial di Indonesia, tetapi dengan berkembangan politik di Indonesia

terlalu pesat, maka organisasi masyarakat Persatuan Indonesia bertransformasi ke

Partai Persatuan Indonesia. Partai Persatuan Indonesia yang diketuai oleh Hary

Tanoesudibjo selaku CEO MNC Group tentunya akan mengangkat perkembangan

(7)

Atas pernyataan sebelumnya, bahwa penulis ingin mendeskripsikan proses Ormas

Persatuan Indonesia bertransformasi menjadi Partai Persatuan Indonesia khususnya di

Provinsi Sumatera Utara.

1.2 Perumusan Masalah

Perubahan Ormas Persatuan Indonesia menjadi Partai Politik yang terjadi di

tingkat nasional juga berpengaruh di daerah daerah lain, khususnya di Sumatera

Utara. Ormas Persatuan Indonesia sudah ada semenjak tahun 2013 dan memiliki basis

massa yang cukup besar di Indonesia. Oleh karena itu, pendirian Ormas Persatuan

Indonesia memungkinan untuk menjadi Partai Politik di Indonesia dan kemudian

didukung oleh kekuatan lokal dan pengaruh elit lokal yang ada di Sumatera Utara.

Selain itu elit lokal juga mempengaruhi terbentuknya Partai Persatuan Indonesia di

Sumatera Utara. Ini jelas bahwa perubahan struktur yang terjadi diakibatkan karena

kekuatan lokal di Sumatera Utara. Sekalipun terdapat banyak perubahan yaitu

perubahan infrastruktur, AD/ART yang terjadi di Partai Persatuan Indonesia.

Sebenarnya sudah tampak jelas bahwa terjadinya transformasi ke Partai Politik

bertujuan untuk mengambil kekuasaan. Penulis ingin menjelaskan secara deskriptif

dengan data yang diperoleh untuk melihat mekanisme maupun proses yang terjadi.

Dalam hal ini pertanyaan peneliti yang akan dijawab yaitu,

1. Siapa sajakah elit lokal di Sumatera Utara yang mendukung pendirian Partai

Persatuan Indonesia ?

2. Bagaimana perananan elit lokal Sumatera Utara dalam pendirian Partai

Persatuan Indonesia di Sumatera Utara ?

1.3 Pembatasan Masalah

Penulisan ini memperjelas dan memaparkan dalam menghasilkan data yang

akurat mengenai mekanisme perubahan Ormas Persatuan Indonesia menjadi Partai

Persatuan Indonesia yang ada di Sumatera Utara. Hal ini menarik, mengingat terjadi

(8)

Kendala keterbatasan waktu dan kemampuan faktor ekonomi, peneliti hanya

menjelaskan mengenai perubahan infratruktur, struktur, AD/ART yang terjadi di

dalam Transformasi Partai Persatuan Indonesia di tingkat DPW Sumatera Utara.

1.4 Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :

1. Untuk menganalisis elit lokal di Sumatera Utara yang mendukung

pembentukan Partai Persatuan Indonesia di Sumatera Utara

2. Untuk mengetahui peranan elit Sumatera Utara dalam pendirian Partai

Persatuan Indonesia dari ormas ke Partai Politik di Sumatera Utara.

1.5 Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat baik bagi peneliti

maupun bagi orang lain. Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan baru bagi peneliti

dalam mengembangkan kemampuan berfikir untuk menulis karya ilmiah.

2. Secara teoritis, penelitian ini merupakan kajian ilmu politik yang dapat

memberikan kontribusi pemikiran politik dan kepentingan politik di dalam

Ormas Persatuan Indonesia.

3. Secara akademis, sebagai bahan referensi bagi peneliti berikutnya dalam topik

yang relevan khususnya mahasiswa departemen ilmu politik. Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

1.6 Kerangka Teori. 1.6.1. Teori Elit

Kehidupan bermasyarakat dapat ditemukan adanya perbedaan di antara umat

manusia satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu tidak hanya sebatas perbedaan yang

(9)

Perbedaan tersebut dapat dinyatakan sebagai titik awal bagi munculnya

kelompok-kelompok yang mempunyai keunggulan apabila dibandingkan dengan kelompok-kelompok

lainnya dalam suatu masyarakat yang sama. Anggota masyarakat yang mempunyai

keunggulan pada gilirannya akan tergabung dalam suatu kelompok yang lebih dikenal

dengan sebutan elit.9

Elit yang sering diartikan sebagai sekumpulan orang sebagai individu yang

suverior, yang berada dengan massa yang menguasai jaringan-jaringan kekuasaan

adalah sekelompok yang berada di lingkaran kekuasaan maupun yang sedang

berkuasa. Menurut buku Teori Politik Modern, Pareto menjelaskan bahwa membagi

stratifikasi masyarakat ke dalam dua kategori yaitu:10

1. Elite yang memerintah (governing elit), kelas ini terdiri dari individu-individu

yang secara langsung atau tidak langsung mengendalikan dan memainkan

peranan yang besar .

2. Elit yang tidak memerintah (non-elite). Kelas ini terdiri dari individu-individu

di luar sirkulasi pemerintah.

Elit berdasarkan kajian teoritis yang dibagun awal-awalnya oleh Mosca dalam

The Rulling Class, Pareto dan Michels mempunyai beberapa prinsip umum yaitu:11

1. Adanya kekuasaan politik, seperti juga barang-barang sosial lainnya di

distribusikan dengan tidak merata. Gagasan Pareto tentang orang berdasarkan

pemilikan akan barang yang berwujud kekayaan, kecakapan atau kekuasaan

politik merupakan hal yang menunjukkan prinsip itu.

2. Secara umum masyarakat di kategorikan ke dalam dua kelompok, mereka

yang memiliki kekuasaan politik penting dan mereka yang tidak memilikinya.

3. Elit bersifat homogen, bersatu, dan memiliki kesadaran kelompok. Elit itu

bukan merupakan penjumlahan orang saja tetapi individu yang berada dalam

9

SP Varma. 2001. Teori Politik Modern. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. hal. 200

10

Ibid. hal 202.

11

(10)

komunitas elit itu saling mengenal satu dengan yang lainnya, memiliki latar

belakang yang sama (walau memiliki pandangan yang berbeda), memiliki

nilai-nilai yang sama dan kepentingan yang sama. Dan anggotanya berasal

dari satu lapisan masyarakat yang sangat terbatas.

4. Elit mengatur sendiri kelangsungan hidupnya dan anggotanya berasal dari

satu lapisan yang sangat terbatas.

5. Elit bersifat otonom dan kebal akan gugatan dari siapapun yang diluar

kelompoknya mengenai keputusan-keputusan yang dibuatnya. Semua

persoalan politik penting diselesaikan menurut kepentingan atau tindakan

kelompok.

Secara Universal, Pareto memberikan konsep-konsep mengenai elit bahwa

dalam setiap masyarakat senantiasa ada dan harus ada suatu kelompok minoritas yang

menduduki jabatan komando yang memerintah dan memegang kendali atas

pemegang keputusan politik.12

1. Elit politik lokal merupakan individu-individu yang menduduki jabatan politik

(kekuasaan) di eksekutif dan legislatif yang dipilih melalui pemilu dan dipilih

dalam proses yang demokratis ditingkat lokal, mereka yang menduduki

jabatan tinggi ditingkat lokal yang membuat kebijakan-kebijakan politik. Elit Elit politik itu dibedakan dari elit-elit lain yang kurang

dekat dihubungkan dengan penggunaan kekuasaan, meskipun mereka mungkin

memiliki pengaruh sosial yang besar. Seperti hal nya yang dapat kita lihat dengan

seketika, gagasan tentang elit pada mulanya dipertentangkan dengan gagasan tentang

sosial.

Elit sering diartikan sebagai individu-individu yang superior, yang berbeda

dengan massa yang menguasai struktur dan jaringan-jaringan kekuasaan atau

kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam lingkaran kekuasaan maupun yang

sedang melaksanakan kekuasaan. Menurut Pareto menyebutkan bahwa elit politik

terdiri dari dua komponen yaitu:

(11)

politik itu seperti: Gubernur, Bupati, dan Walikota, pemimpin DPRD, para

anggota DPRD dan pemimpin-pemimpin Partai Politik

2. Elit non-politik lokal adalah seseorang atau individu yang menduduki jabatan

strategis dan mempunyai pengaruh untuk memerintah orang lain dalam

lingkup masyarakat. Elit non-politik ini seperti: elit keagamaan, elit organisasi

kemasyarakatan dan kepemudaan serta profesi dan lain sebagainya.

Menurut Pareto secara prinsip menyatakan pendapat bahwa disetiap sistem

masyarakat baik struktur masyarakat yang masih bersifat tradisional maupun tatanan

masyarakat modern, pasti ditemukan sekelompok kecil minoritas individu yang

memerintah anggota masyarakat lainnya. Pareto menyatakan bahwa setiap

masyarakat diperintah oleh sekelompok kecil orang yang mempunyai kualitas yang

diperlukan dalam kehidupan sosial dan politik. Kelompok kecil itu disebut dengan

elit, yang mampu menjangkau pusat kekuasaan. Elit adalah orang-orang yang berhasil

yang mampu menduduki jabatan tinggi dalam lapisan masyarakat.

1.6.2. Rekrutmen Politik

Dalam partai politik terdapat beberapa fungsi penting yang dijalankan partai

sebagai sarana dalam mengaplikasikan tujuan mereka. Salah satu fungsi partai politik

yang terkait dengan ini adalah rekrutmen partai politik.13 Rekrutmen merupakan suatu proses untuk mencari dan menyeleksi anggota untuk kegiatan regenerasi dari

sebuah organisasi, baik partai politik, lembaga pemerintahan maupun organisasi

lainnya. Namun, rekrutmen lebih dikenal dalam bahasa politik seperti yang terdapat

dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Politik yang menyebutkan: “…proses mencari dan

mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai

anggota partai…”14

13

Amal, Ichlasul. 1996. Edisi Teori-teori Mutakhir Partai Politik Edisi Revisi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogyakarta. Hal: 28

14

(12)

Istilah rekrutmen lebih dikenal dalam bahasa perpolitikan, dan kemudian

diadopsi oleh partai politik seiring dengan kebutuhan partai akan dukungan

kekuasaan dari rakyat, dengan cara mengajak dan turut serta dalam keanggotaan

partai tersebut. Rekrutmen sendiri memiliki acuan waktu dalam prosesnya, maka

pada saat itu pula rekrutmen dilakukan pada saat partai memerlukan. Pendapat

lainnya yang mengemukakan pengertian rekrutmen politik oleh Ramlan Surbakti

dalam buku Memahami Ilmu Politik yang dimaksud rekrutmen politik adalah:

“Seleksi dan pemilihan atau seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya, dengan mengkhususkan kepada orang-orang yang mempunyai bakat yang cukup menonjol, partai politik menyeleksi dan menempatkannya sebagai seorang calon pemimpin”15

Pola rekrutmen adalah konstansi berbagai praktek rekrutmen oleh partai politik.

Sungguhpun pada dasarnya setiap partai harus berprinsip untuk terbuka bagi

kelompok sosial manapun, namun pada level parktis. Kerapkali sulit dihindari bahwa

tiap kecenderungan tipe partai menstrukturkan perbedaan dalam menatap konsep

rekrutmen yang dianggap ideal bagi partainya.

Rekrutmen politik partai dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan

sebagai ajang untuk mencari dan menyeleksi keanggotaan baru untuk diikutsertakan

dalam partai politik sebagai pembelajaran politik, disamping untuk melakukan

regenerasi dalam partai politik tersebut maka dilakukan melalui mekanisme yang

diterapkan oleh partai. Pengaruh rekrutmen politik sangat menentukan dalam

regenerasi kehidupan partai. Hal itu dikarenakan partai memerlukan penyegaran

keanggotaan untuk dapat bertahan dalam mempertahankan kekuasaan politiknya

dimata masyarakat.

16

15

Ramlan,Surbakti.1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. hal:118.

16

I ketut Putra Erawan, Riswanda Imawan dkk.2010. Draft Modul Organisasi dan Manajemen Kepartaian: Bab I

(13)

Adapun mekanisme rekrutmen politik partai yang dikemukakan oleh Rush dan

Althoff adalah: “…proses pengrekrutan politik memiliki dua sifat yaitu: (1) sifat

tertutup; adalah suatu sistem pengrekrutan administratif yang didasarkan atas

patronase. (2) sifat terbuka; adalah sistem yang berdasarkan pada ujian-ujian

terbuka”.17

Sistem rekrutmen politik menurut Rush dan Althoff dibagi menjadi dua cara.

Pertama, rekrutmen terbuka, yakni dengan menyediakan dan memberikan

kesempatan yang sama bagi seluruh warga Negara untuk ikut bersaing dalam proses

penyeleksian. Dasar penilaian dilaksanakan melalui proses dengan syarat-syarat yang

telah ditentukan melalui pertimbangan-pertimbangan yang objektif rasional. Dimana

setiap orang yang memenuhi syarat untuk mengisi jabatan politik yang dipilih oleh

rakyat mempunyai peluang yang sama dalam melakukan kompetisi. Kedua,

rekrutmen tertutup yaitu adanya kesempatan untuk masuk menduduki jabatan politik Proses pengrekrutan partai memiliki sifat khusus dalam tafsirannya, misalnya

untuk pengrekrutan administratif diperlukan suatu dasar patronase (lindungan) dalam

proses pengrekrutannya, dalam arti faktor kedekatan seseorang dapat dijadikan acuan

untuk memperoleh pengaruh terutama ketika proses pemilihan pemimpin partai.

Rekrutmen politik meliputi aspek: subyek politik dalam arti manusia, dan obyek

politik dalam arti partai politik. Rekrutmen politik partai dapat dilakukan dengan

cara-cara yang diinginkan partai baik secara terbuka maupun tertutup.

Setiap sistem politik memiliki sistem atau prosedur rekrutmen yang berbeda.

Anggota kelompok yang direkrut adalah yang memiliki suatu kemampuan atau bakat

yang sangat di butuhkan untuk suatu jabatan politik. Setiap partai juga memiliki pola

rekrutmen yang berbeda.

17

(14)

tidaklah sama setiap warga negara artinya hanya individu-individu tertentu yang

dapat menduduki jabatan politik.18

Partai Politik mempunyai peranan yang sangat besar dalam menjamin

kelancaran proses politik di dalam sebuah sistem demokrasi perwakilan. Partai Politik

merupakan agen demokratisasi di dalam sebuah sistem politik yang demokratis.

Dalam defenisinya, Partai Politik merupakan sarana bagi warga negara untuk turut

serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara. Dimana Partai Politik

adalah suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi,

nilai-nilai, dan cita-cita yang sama.

1.6.3. Konsep Partai Politik

Partai Politik merupakan wadah atau sarana partisipasi warga negara dalam

mempengaruhi proses pembuatan dan turut aktif dalam pelaksanaan (implementasi)

keputusan-keputusan politik pemerintah yang berupa kebijakan publik. Partai Politik

memiliki beberapa fungsi yaitu, fungsi sosialisasi politik, rekrutmen politik,

partisipasi politik, komunikasi politik, artikulasi dan agregasi kepentingan,

pengendalian konflik, serta kontrol politik.

19

Berdasarkan pengertian konsep Partai Politik di dalam buku “Mengelola Partai

Politik” yang menurut Firmanzah,

Partai Politik dapat berarti organisasi yang

mempunyai basis ideologi yang jelas, dimana setiap anggotanya mempunyai

pandangan yang sama dan bertujuan untuk merebut kekuasaan atau mempengaruhi

kebijaksanaan Negara baik secara langsung maupun tidak langsung serta ikut pada

sebuah mekanisme pemilihan umum untuk bersaing secara kompetitif guna

mendapatkan eksistensi.

20

18

Hesel Nogi Tangkilisan,2003, Kebijakan Publik yang Membumi, Yogyakarta :Yayasan Pembaruan Administrasi Publik Indonesia. Hal:188

19

Miriam Budiarjo. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum. hal 160.

20

Firmanzah Ph.D. 2008. Op.Cit, hal. 67.

Partai Politik sesungguhnya adalah kumpulan

(15)

wadah lembaga formal berdasarkan kepada ketentuan konstitusi kelembagaan dan

mengikuti sistem politik dan sistem pemilihan yang ada. Seperti halnya organisasi

lain yang beroperasi dalam tataran public sphare, Partai Politik perlu melihat kembali

peran dan tugas yang diembannya. Secara garis besar peran dan fungsi Partai Politik

dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, peran dan tugas internal organisasi. Dalam

hal ini organisasi Partai Politik memainkan peranan penting dalam pembinaan,

edukasi, pembekalan, kaderisasi, dan melanggengkan ideologi politik yang menjadi

latar belakang pendirian Partai Politik. Kedua, Partai Politik juga mengemban tugas

yang lebih bersifat eksternal organisasi, di sini peran dan fungsi Partai Politik terkait

dengan masyarakat luas, bangsa dan negara. Kehadiran Partai Politik juga memiliki

tanggung jawab konstitusional, moral, dan etika untuk membawa dan situasi

masyarakat menjadi lebih baik.

Menurut Miriam Budiardjo, Partai Politik memiliki fungsi utama yaitu mencari

dan mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program-program yang disusun

berdasarkan ideologi tertentu. Selain fungsi di atas, Partai Politik juga memiliki

fungsi antara lain21

1. Sebagai Sarana Komunikasi Politik :

Dalam menjalankan fungsi sebagai sarana komunikasi politik, Partai Politik

mempunyai peran penting sebagai penghubung antara yang memerintah dan

yang diperintah. Menurut Signmund Neumann dalam hubungannya dengan

komunikasi politik, Partai Politik merupakan perantara besar yang

menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi sosial dengan lembaga

pemerintah yang resmi dan mengaitkannya dengan aksi politik di dalam

masyarakat politik yang lebih luas.

Dalam melaksanakan fungsi ini Partai Politik tidak menyampaikan begitu saja

segala informasi dari pemerintah kepada masyarakat atau dari masyarakat

kepada pemerintah, tetapi merumuskan sedemikian rupa sehingga penerima

21

(16)

informasi dapat dengan mudah memahami dan memanfaatkan. Segala

kebijakan pemerintah yang biasanya dirumuskan dalam bahasa teknis dapat

diterjemahkan dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Sebaliknya segala aspirasi, keluhan, dan tuntutan masyarakat yang biasanya

tidak terumuskan dalam bahasa teknis dapat diterjemahkan oleh Partai Politik

ke dalam bahsa yang dapat dipahami oleh pemerintah. Jadi proses komunikasi

politik antara pemerintah dan masyarakat dapat berlangsung secara efektif

melalui Partai Politik

2. Sebagai Sarana Sosialisasi Politik

Fungsi sosialisasi politik partai adalah upaya menciptakan citra (image)

bahwa Partai Politik memperjuangkan kepentingan umum dan lebih tinggi

nilainya apabila mampu mendidik anggotanya menjadi manusia yang sadar

akan tanggung jawab sebagai warga negara dan menempatkan kepentingan

sendiri dibawah kepentingan sosial.

Melalui proses sosialisasi politik inilah para anggota masyarakat memperoleh

sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam

masyarakat. Proses ini berlangsung seumur hidup yang dipeoleh secara segaja

melalui pendidikan formal, nonformal dan informal maupun secara tidak

sengaja melalui kontrak dan pengalaman sehari-hari, baik dalam kehidupan

keluarga maupun dalam kehidupan masyarakat. Melalui proses ini masyarakat

mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan simbol-simbol

politik negaranya dari berbagai sarana sosialisasi politik, seperti sekolah,

Partai Politik, dan pemerintah. Partai Politik dalam sistem politik dapat

menyeleggarakan proses sosialisasi politik pada masyarakat.

3. Sebagai Sarana Rekrutmen Politik

Fungsi Partai Politik ini yakni seleksi kepemimpinan dan kader-kader yang

berkualitas. Rekrutmen politik menjamin kontinuitas dan kelestarian partai

sekaligus merupakan salah satu cara untuk menjaring dan melatih calon-calon

(17)

4. Partisipasi Politik

Partisipasi politik adalah kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi

proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan umum dan dalam ikut

menentukan pelaksana pemerintahan. Dalam hal ini, Partai Politik memiliki

fungsi untuk membuka kesempatan, mendorong, dan mengajak para anggota

masyarakat yang lain untuk menggunakan Partai Politik sebagai saluran

kegiatan mempengaruhi proses politik. Partai Politik merupakan wadah

partisipasi politik. Fungsi ini lebih tinggi porsinya dalam sistem politik

demokrasi mengharapkan ketaatan dari para warga dari para aktivitas mandiri.

5. Sebagai Sarana Pengatur konflik

Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat. Negara Indonesia yang

bersifat heterogen terdiri dari etnis, agama dan lain-lain. Perbedaan tersebut

dapat menyebabkan konflik. Maka Partai Politik melaksanakan fungsi sebagai

pengatur konflik. Partai Politik sebagai salah satu lembaga demokrasi

berfungsi untuk mengendalikan konflik melalui cara berdialog dengan

pihak-pihak yang berkonflik, menampung,dan memadukan berbagai aspirasi dan

kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik dan membawa permasalahan

pada musyawarah badan perwakilan rakyat untuk mendapatkan penyelesaian

berupa keputusan politik. Untuk mencapai penyelesaian berupa keputusan itu

diperlukan kesediaan berkompromi diantara para wakil rakyat, yang berasal

dari partai-Partai Politik

Dalam kehidupan yang demokrasi seperti di Indonesia sekarang ini, Partai

Politik merupakan instrumen yang wajib ada disuatu Negara yang menjalankan

demokrasi. Bahkan pendapat yang ekstrim yang mengatakan bahwa tidak ada

demokrasi ketika tidak ada Partai Politik didalamnya, karena Partai Politiklah yang

memainkan peranan penting dalam sistem demokrasi. Dengan adanya Partai Politik

maka masyarakat akan merasakan mempunyai Negara atau pemerintah, karena ketika

(18)

kekuasaan tersebut akan digunakan secara berlebihan dan tentunya masyarakatlah

disini yang akan selalu dirugikan melalui kebijakan-kebijakannya.22

Partai Politik dianggap sebagai atribut suatu negara dan mempunyai fungsi yang

erat kaitannya dengan jalannya pemerintahan. Seperti yang diungkapkan sebelumnya

bahwa Partai Politik dapat berfungsi untuk ikut serta dalam kehidupan masyarakat,

bangsa dan negara. Partai Politik adalah institusi yang berupa organisasi

non-pemerintah, yang didirikan untuk memperjuangkan hak dan kewajiban warga negara

dalam rangka mencapai kesejahteraan serta kedaulatan rakyat. Perbedaan Partai Tujuan khusus Partai Politik adalah memperjuangkan cita-citanya dalam

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diwujudkan secara

konstitusional. Perlu diterapkan bahwa partai berbeda dengan gerakan. Suatu gerakan

merupakan kelompok atau golongan yang ingin mengadakan perubahan-perubahan

pada lembaga-lembaga politik atau kadang-kadang malahan ingin menciptakan suatu

tata masyarakat yang baru sama sekali, dengan memakai cara-cara politik. Dibanding

dengan Partai Politik, gerakan mempunyai tujuan yang lebih terbatas dan

fundamental sifatnya dan kadang-kadang malahan bersifat ideologi. Orientasi ini

merupakan ikatan yang kuat di antara anggota-anggotanya dan dapat menumbuhakan

suatu identitas kelompok yang kuat. Organisasinya kurang ketat dibandingkan dengan

Partai Politik. Berbeda dengan Partai Politik, gerakan sering tidak mengadukan nasib

dalam pemilihan umum

Partai Politik juga berbeda dengan kelompok penekan atau istilah yang lebih

banyak dipakai dewasa ini, kelompok kepentingan. Partai Politik bertujuan

memperjuangkan suatu kepentingan dalam skala yang luas melalui mekanisme

pemilu, sedangkan kelompok pennekan atau kepentingan yang lain seperti kelompok

profesi, kelompok adat, organisasi kemasyarakatan hanya mengejar

kepentingan-kepentingan sesaat dalam ruang lingkup yang lebih kecil serta melewati mekanisme

politik formal seperti pemilu.

22

(19)

Politik dari lembaga sosial kemasyarakatan lainnya adalah bahwa Partai Politik dapat

berperan dalam penentuan kebijakan publik, dimana kebijakan tersebut bisa

membawa dampak kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat dan mengakibatkan

risiko pertanggung jawaban publik menjadi lebih besar. Selain memiliki peran dan

fungsi yang penting, Partai Politik juga diklasifikasikan ke dalam tipologi tertentu.

Klasifikasi Partai Politik dapat didasarkan atas beberapa hal diantaranya, dari segi

komposisi, fungsi keanggotaan dan dasar ideologinya.

Dalam klasifikasi berdasarkan komposisi dan fungsi keanggotaan, Partai Politik

dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu partai kader dan partai massa. Menurut

Haryanto, Partai Politik dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya secara umum

dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu.23

1. Partai massa, dengan ciri utamanya adalah jumlah anggota atau pendukung

yang banyak. Meskipun demikian, partai jenis ini memiliki program walaupun

program tersebut agak kabur dan terlampau umum. Partai jenis ini cenderung

menjadi lemah apabila golongan atau kelompok yang tergabung dalam partai

tersebut mempunyai keinginan untuk melaksanakan kepentingan

kelompoknya. Selanjutnya, jika kepentingan kelompok tersebut tidak

terakomodasi, kelompok ini akan mendirikan partai sendiri.

2. Partai kader, kebalikan dari partai massa, partai kader mengandalkan

kader-kadernya untuk loyal. Pendukung partai ini tidak sebanyak partai massa

karena memang tidak mementingkan jumlah, partai kader lebih

mementingkan disiplin anggotannya dan ketaatan dalam berorganisasi.

Doktrin ideologi partai harus tetap terjamin kemurniannya. Bagi anggota yang

menyeleweng, akan dipecat keanggotaannya. Partai kader biasanya lebih

mementingkan keketatan, disiplin dan kualitas anggota. Kelemahan partai

kader ini terutama dalam mencari dukungan, biasanya mereka kalah dalam

23

(20)

persaingan mengumpulkan jumlah dukungan masayarakat luas karena

dianggap anggota partai kader terbatas pada kelompok-kelompok tertentu.

Partai massa, merupakan kebalikan dari partai kader karena mereka lebih

menekankan pada pencarian jumlah dukungan yang banyak di masyarakat atau

dengan kata lain lebih menekankan aspek kuantitas. Kelemahan partai massa adalah

bahwa disiplin anggota biasanya lemah, juga lemahnya ikatan organisasi sesama

anggota, bahkan kadang kala tidak saling kenal, karena luasnya dukungan dari

berbagai golongan dan lapisan masyarakat.

Perkembangan partai massa sebenarnya berawal dari partai kader. Partai-partai

kader yang sebelumnya masih terbatas keanggotaannya pada kalangan tertentu mulai

membuka diri untuk keanggotaann yang lebih luas. Sedanngkan tipologi berdasarkan

tingkat komitmen partai terhadap ideologi dan kepentingan, menurut Ichlasul Amal

terdapat lima jenis Partai Politik, yakni:24

1. Partai proto, adalah tipe awal Partai Politik sebelum mencapai tingkat

perkembangan seperti dewasa ini. Ciri yang paling menonjol partai ini

adalah pembedaan antara kelompok anggota atau ins dengan non anggota

atau outs. Selebihnya partai ini belum menunjukkan ciri sebagai Partai

Politik dalam pengertian modern. Karena itu sesungguhnya partai ini

adalah faksi yang dibentuk berdasarkan pengelompokkan ideologi

masyarakat.

2. Partai kader, merupakan perkembangan lebih lanjut dari partai proto.

Keanggotaan partai ini terutama berasal dari golongan kelas menengah ke

atas. Akibatnya, ideologi yang di anut partai ini adalah konservatisme

ekstrim atau maksimal reformis moderat.

3. Partai massa, muncul saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga

dianggap sebagai respon politis dan organisasional bagi perluasan hak-hak

24

(21)

pilih serta pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut.

Partai massa berorientasi pada pendukungnya yang luas, misalnya buruh,

petani, dan kelompok agama dan memiliki ideologi cukup jelas untuk

memobilisasi massa serta mengembangkan organisasi yang cukup rapi

untuk mencapai tujuan-tujuan ideologisnya.

4. Partai dictatorial, sebenarnya merupakan sub tipe dari partai massa, tetapi

memiliki ideologi radikal. Pemimpin tertinggi partai melakukan kontrol

yang sangat ketat terhadap pengurus bawahan maupun anggota partai.

Rekrutmen anggota partai dilakukan secara lebih selektif dari pada partai

massa.

5. Partai catch-all, merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa.

Istilah catch-all pertama kali dikemukakan oleh otto kirchheimer untuk

memberikan tripologi pada kecenderungan perubahan karakteristik.

Catch-all dapat diartikan sebagai menampung kelompok-kelompok sosial

sebanyak mungkin untuk dijadikan anggotanya. Tujuan utama partai ini

adalah memenangkan pemilihan dengan cara menawarkan

program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai pengganti ideologi

yang kaku.

1.7 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk menjawab sebuah atau

beberapa pertanyaan mengenai keadaan objek atau subjek amatan secara rinci.25

25

Bagong Suyanto dan Sutinah. 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagi Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. hal. 17-18.

Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami

makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari

(22)

dengan tujuan untuk menggambarkan dan menganalisis fenomena sosial yang sedang

terjadi.26

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data 1.7.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Sumatera Utara dan hal pengumpulan

data maupu n informasi, Penelitian ini akan dilakukan di kantor Dewan Perwakilan

Wilayah (DPW) Partai Persatuan Indonesia Provinsi Sumatera utara yang bertempat

di jalan K.H Wahid Hasyim No.38/43 Medan baru.

1.7.2 Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif.

Penelitian ini moncoba mengumpulkan data dari Partai Persatuan Indonesia dan

melihat proses perubahan Ormas Persatuan Indonesia menjadi Partai Persatuan

Indonesia di Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Indonesia Provinsi

Sumatera Utara dan menatap fokus pada masalah yang akan diteliti, diharapkan

nantinya peneliti akan mendapat data yang maksimal untuk menggambarkan

fenomena aktual yang terjadi.

Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini

digunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu data primer dan data sekunder.27 1. Data primer

Untuk mendapatkan data primer, dalam penelitian ini dilakukan

dengan wawancara. Wawancara merupakan proses Tanya jawab

secara langsung yang ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian

dengan menggunakan panduan atau pedoman wawancara. Wawancara

dengan melakukan komunikasi secara wawancara tersebut merupakan

26

K. Robert Yin. 2000. Studi Kasus (Desain dan Metode). Jakarta: Raja Grafindo Persada. hal. 1.

27

(23)

data pendukung bagi terlaksananya penelitian. Adapun informan kunci

dalam penelitian ini adalah ketua Partai Persatuan Indonesia Sumatera

Utara: Bapak Ir. Rudi Zulham Hasibuan, Sekertaris Partai Persatuan

Indonesia Sumatera Utara, Bapak Binsar Marulitua Simatupang, SE,

MM, mantan Ketua Ormas Perindo Sumatera Utara yaitu Effendy

Syahputra dan beberapa pengurus DPW Partai Persatuan Indonesia

Provinsi Sumatera Utara yang memahami tentang pendirian Partai

Persatuan Indonesia yang berasal dari Ormas Persatuan Indonesia

2. Data sekunder

Data sekunder adalah semua data yang diperoleh melalui studi

kepustakaan yaitu pengumpulan data dari buku-buku referensi, jurnal,

majalah, internet yang sesuai dengan objek kajian penelitian ataupun

berkaitan dengan judul penelitian.

1.7.4 Teknik Analisia Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan teknik analisis data kualitatif, yaitu dengan menekankan pada sebuah

proses pengambilan kesimpulan secara induktif serta analisis pada fenomena yang

sedang diamati dengan menggunakan metode ilmiah.28

1.8Sistematika Penulisan

Dalam penelitian ini data dan

informan yang terkumpul baik data primer maupun data sekunder selanjutnya disusun

dan diuraikan dengan cara menjelaskan fenomena yang ditemukan dalam proses

pengumpulan data.

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah,

pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori,

metode penelitian, dan sistematika penulisan.

28

(24)

BAB II : PROFIL DEWAN PIMPINAN WILAYAH PARTAI PERSATUAN INDONESIA SUMATERA UTARA

Dalam bab ini akan diuraikan tentang gambaran umum Partai

Persatuan Indonesia secara keseluruhan, deskripsi singkat tentang

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Indonesia Provinsi

Sumatera Utara.

BAB III : TRANSFORMASI ORMAS ORMAS PERSATUAN INDONESIA MENJADI PARTAI PERSATUAN INDONESIA

Bab ini berisi mengenai penyajian data dan analisis data yang

diperoleh dari lapangan mengenai Ormas Persatuan Indonesia yang

bertransformasi menjadi Partai Persatuan Indonesia.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini terdiri dari kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis data

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...