• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akibat Hukum Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Kopi Secara Wajib Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Standardisasi Dan Penilaian Kesesuaian Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Akibat Hukum Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Kopi Secara Wajib Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Standardisasi Dan Penilaian Kesesuaian Chapter III V"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PROSEDUR PEMBERIAN SERTIFIKASI STANDAR NASIONAL INDONESIA TERHADAP PRODUK KOPI

A. Badan Sertifikasi Nasional Sebagai Penentu Dalam Pemberian Sertifikasi Standar Nasional Indonesia

Badan Standardisasi Nasional bertanggung jawab untuk membina,

mengembangkan, dan mengkoordinasikan kegiatan di bidang standardisasi secara

nasional.75 BSN dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1997 yang disempurnakan denggan Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000

Tentang Kedudukan Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata

Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali

diubah dan yang terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001.

BSN adalah lembaga pemerintah non kementerian yang bertugas dan bertanggung

jawab dibidang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian.76

Undang-Undang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian menyebutkan di

dalam Pasal 8 ayat (2) tugas dan tanggung jawab di bidang Standardisasi dan

Penilaian Kesesuaian yang dimiliki pemerintah dilaksanakan oleh BSN. BSN

berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui menteri

75

Tentang BSN, 2016.

76

(2)

yang mengkoordinasikan.77 BSN sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab untuk merumuskan dan mengembangkan standar di Indonesia, mengacu

pada yang ditetapkan oleh badan dunia seperti ISO, CODEX Alimentarius,

standar nasional lainnya, serta standar regional. BSN bersama dengan komisi

teknis yang terdiri dari kementerian teknis terkait serta para pemangku

kepentingan merumuskan standar terkait proses, manajemen, produk dan juga

jasa/pelayanan.78

Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan organisasi, tugas, dan

fungsi BSN diamanatkan oleh UU Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian untuk

diatur dengan PP terbaru, tapi setelah dua tahun UU disahkan belum terbit PP

terbaru tentang BSN tersebut. BSN adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen

dengan tugas pokok mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di

Indonesia. Badan ini menggantikan fungsi dari Dewan Standardisasi Nasional

(DSN). Dalam melaksanakan tugasnya dikarenakan belum ada PP terbaru yang

mengaturnya maka BSN masih berpedoman pada PP Standardisasi Nasional.79 1. Visi BSN adalah terwujudnya infrastruktur mutu nasional yang handal untuk

meningkatkan daya saing dan kualitas hidup bangsa.

2. Misi BSN adalah :80

77

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian , Pasal 8 ayat (3), Bab II Kelembagaan.

78

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan , “Laporan Akhir Kajian Peranan SNI Untuk Penguatan Pasar Dalam Negeri dan Daya Saing Produk Ekspor” (Jakarta: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 2015), hlm. 12.

79

“Badan Standardisasi Nasional”,

2016.

(3)

a. Merumuskan, menetapkan, dan memelihara SNI yang berkualitas dan bermanfaat bagi pemangku kepentingan;

b. Mengembangkan dan mengelola Sistem Penerapan Standar, Penilaian Kesesuaian, dan Ketertelusuran Pengukuran yang handal untuk mendukung implementasi kebijakan nasional;

c. Meningkatkan persepsi masyarakat dan partisipasi pemangku kepentingan dalam bidang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian;

d. Mengembangkan budaya, kompetensi, dan sistem informasi di bidang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian sebagai upaya untuk meningkatkan efektifitas implementasi Sistem Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian;

e. Merumuskan, mengkoordinasikan, dan mengevaluasi pelaksanaan Kebijakan Nasional, Sistem dan Pedoman di bidang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian yang efektif untuk mendukung daya saing dan kualitas hidup bangsa.

3. Fungsi BSN adalah :81

a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang standardisasi nasional;

b. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BSN;

c. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang standardisasi nasional;

d. Penyelenggaraan kegiatan kerjasama dalam negeri dan internasional di bidang standardisasi;

e. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

4. Kewenangan BSN adalah :82

a. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;

b. Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro;

c. Penetapan sistem informasi di bidangnya;

d. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu :

1) Perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang standardisasi nasional;

2) Perumusan dan penetapan kebijakan sistem akreditasi lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi dan laboratorium;

3) Penetapan SNI;

(4)

4) Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidangnya; 5) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidangnya.

Agar semua norma pengembangan standar dapat diterapkan secara baik,

maka BSN melakukan:

1. Penguatan fungsi Manajemen Teknis Pengembangan Standar (MTPS) adalah lembaga non struktural yang merupakan unsur fungsi BSN sebagai National

Standard Body dan mempunyai tugas memberikan pertimbangan dan saran

kepada Kepala BSN dalam rangka menetapkan kebijakan untuk memperlancar pengelolaan kegiatan pengembangan SNI.

2. Penguatan posisi Masyarakat Standardisasi Indonesia (MASTAN) merupakan organisasi non-pemerintah yang diperlukan untuk memberikan wadah dan saluran yang seluas mungkin bagi stakeholder untuk berpartisipasi dalam berbagai proses standardisasi. Dalam proses pengembangan SNI, khususnya dalam pelaksanaan tahap jajak pendapat dan tahap persetujuan RSNI, agar partisipasi dan pelaksanaan konsensus pihak berkentingan dapat semakin luas.

Pada Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi

Nasional. Pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Standardisasi Nasional di bidang

akreditasi dan sertifikasi dilakukan oleh KAN. KAN mempunyai tugas

menetapkan akreditasi dan memberikan pertimbangan serta saran kepada BSN

dalam menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi. Sedangkan pelaksanaan tugas

dan fungsi BSN di bidang Standar Nasional untuk Satuan Ukuran dilakukan oleh

Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran (selanjutnya disebut KSNSU).

Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran mempunyai tugas

memberikan pertimbangan dan saran kepada BSN mengenai standar nasional

untuk satuan ukuran. Sesuai dengan tujuan utama standardisasi adalah melindungi

produsen, konsumen, tenaga kerja dan masyarakat dari aspek keamanan,

keselamatan, kesehatan serta pelestarian fungsi lingkungan, pengaturan

standardisasi secara nasional ini dilakukan dalam rangka membangun sistem

(5)

dan/atau jasa serta mampu memfasilitasi keberterimaan produk nasional dalam

transaksi pasar global. Dari sistem dan kondisi tersebut diharapkan dapat

meningkatkan daya saing produk barang dan/atau jasa Indonesia di pasar global.83 Sistem penilaian kesesuaian oleh KAN mengandung sejumlah unsur

sebagai berikut :84

1. Unsur pertama adalah proses akreditasi oleh KAN untuk menilai dan memberikan pengakuan terhadap LPK. Hampir semua yang ditetapkan oleh BSN merupakan adopsi pedoman ISO/IEC. Selain itu KAN juga menggunakan rekomendasi organisasi internasional seperti IAF

(International Accreditation Forum), APLAC (Asia Pacific Laboratory

Accreditation Cooperation), PAC (Pacific Accreditation Cooperation),

maupun ILAC (International Laboratory Accreditation Cooperation). Dalam pelaksanaan tugasnya KAN didukung oleh jasa auditor.

2. Unsur kedua adalah proses penilaian kesesuaian yang mencakup kegiatan pengujian oleh laboratorium, inspeksi teknis, sertifikasi sistem manajemen, sertifikasi personel dan sertifikasi produk oleh LPK yang telah diakreditasi oleh KAN.

3. Unsur ketiga adalah proses ketertelusuran pengukuran. Suatu hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian yaitu nilai yang menyatakan rentang di mana nilai yang benar berada. Nilai ketidak pastian dapat berasal dari alat ukuran yang digunakan, pelaksanaan pengukuran oleh operator, kondisi lingkungan. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang dapat diandalkan, khususnya laboratorium penguji memerlukan kalibrasi secara periodik untuk mengetahui ketidakpastian serta mengikuti uji profisiensi untuk dapat menjamin unjuk kerja suatu laboratorium.

Komite Akreditasi Nasional (KAN) adalah suatu lembaga non struktural

yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden, dibentuk

berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 2001. KAN memberikan

pelayanan akreditasi kepada Lembaga Sertifikasi yang berlokasi di Indonesia dan

luar negeri. Sedangkan untuk akreditasi kepada Laboraturium dan Lembaga

83

“Badan Standardisasi Nasional”,

12 November 2016.

84

(6)

inspeksi yang terletak di luar negeri selama di negara tersebut tidak terdapat

Badan Akreditasi lokal yang menandatangani dari mutual recognition di

negaranya.85

B. Lembaga Sertifikasi Produk Sebagai Pemberi Sertifikasi Standar Nasional Indonesia

Kegiatan sertifikasi dilakukan oleh LSPro. Perusahaan yang ingin

produknya disertifikasi mengajukan aplikasi ke LSPro dan mengikuti proses

sertifikasi yang ada di LSPro. Dalam melakukan proses sertifikasi tersebut, LSPro

haruslah mengoperasikan skema sertifikasi tertentu, dalam SNI ISO/IEC

17067:2013 dikatakan bahwa skema sertifikasi ialah aturan, prosedur dan

manajemen untuk melakukan sertifikasi terhadap produk-produk tertentu.

Skema berisi tata cara/persyaratan-persyaratan dan mekanisme apa saja

yang diperlukan dan dilakukan dalam pelaksanaan sertifikasi produk tertentu.

Dari mulai proses seleksi, determinasi, review, keputusan dan atestesi. Jadi dalam

melakukan sertifikasi, LSPro haruslah memastikan bahwa kegiatan sertifikasi

yang dilakukannya sesuai dengan skema yang dioperasikannya.86

Pada prinsipnya skema sertifikasi produk sangatlah bergantung dari jenis,

karakteristik serta proses produksi produk tersebut. Menurut UU Standardisasi

dan Penilaian Kesesuaian, sertifikasi adalah rangkaian kegiatan Penilaian

85

Febi Amanda, Op. Cit., hlm. 62.

86

(7)

Kesesuaian yang berkaitan dengan pemberian jaminan tertulis bahwa Barang,

Jasa, Sistem, Proses, atau Personal telah memenuhi Standar dan/atau regulasi.87 Pada prinsipnya penerapan/sertifikasi SNI adalah sukarela, para pihak

yang ingin menerapkan SNI dipersilahkan menjadikan SNI sebagai rujukan dalam

kegiatan atau proses yang dilakukannya. Namun untuk membuktikan dan

mendapatkan pengakuan formal bahwa benar suatu perusahaan/organisasi telah

menerapkan SNI atau standar tertentu, perlu proses penilaian kesesuaian yang

dilakukan pihak ketiga. Proses penilaian oleh pihak ketiga inilah yang disebut

sebagai Sertifikasi, dan lembaga yang melakukan kegiatan penilaian disebut

sebagai lembaga sertifikasi. Secara umum ada tiga (3) klasifikasi kegiatan

sertifikasi berdasarkan SNI yang dapat dilakukan :88

1. Sertifikasi Sistem Manajemen, yaitu sertifikasi terhadap sistem manajemen

perusahaan misalnya berdasarkan SNI ISO (9001, 14001, 22000, HACCP,dll)

2. Sertifikasi Produk, yaitu sertifikasi terhadap produk yang dihasilkan

perusahaan berdasarkan SNI produk tertentu misalnya SNI 1811:2007 untuk

Helm, SNI 3554:2015 untuk Air minum dalam kemasan, SNI 2054:2014

untuk baja tulangan beton, dan produk-produk lainnya

3. Sertifikasi Personel, yaitu sertifikasi terhadap kompetensi personel misalnya

Auditor, PPC, Tenaga Migas, Tenaga Kelistrikan, dll

Jadi Sertifikasi SNI adalah proses penilaian kesesuaian terhadap

produk/sistem manajemen/kompetensi suatu perusahaan/personel berdasarkan

87

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, Pasal 1 angka 9.

88

(8)

persyaratan dalam SNI dalam rangka memperoleh pengakuan formal. Proses

sertifikasi produk adalah proses menilai apakah suatu produk memenuhi

persyaratan seperti yang tercantum dalam standar. Untuk itu yang harus

dilakukan untuk adalah :

1. Pastikan jenis produk apa yang ingin disertifikasi, ingat objek utama

sertifikasi produk adalah produknya bukan perusahaan, hal ini berbeda

dengan sertifikasi sistem manajemen yang menjadikan perusahaan objek

sertifikasinya.

2. Cek apakah Produk yang anda ingin sertifikasi sudah ada Standar nya, dalam

hal ini apakah SNI nya sudah ditetapkan. Jika SNI nya belum ada, maka

produk tidak dapat disertifikasi.

3. Setelah memastikan SNI nya, cek apakah ada Lembaga Sertifikasi Produk

yang sudah terakreditasi oleh KAN untuk SNI tersebut. Jika tidak ada LSPro

yang terakreditasi berarti produk belum dapat disertifikasi, namun bisa

meminta LSPro untuk menambah ruang lingkup akreditasinya kepada KAN

sehingga produk bisa disertifikasi. Khusus untuk SNI yang sudah diwajibkan,

beberapa kementerian mengatur tentang penunjukan sementara LSPro yang

belum diakreditasi untuk melakukan sertifikasi, namun dipersyaratkan dalam

jangka waktu tertentu harus sudah terakreditasi.

Contoh Persyaratan Pendaftaran SPPT SNI Ke LSPro :

1. Dokumen Administrasi

a. Fotokopi Akte Notaris Perusahaan; b. Fotokopi SIUP, TDP;

c. Fotokopi NPWP;

(9)

e. Surat pelimpahan merek atau kerjasama antara pemilik merek dengan pengguna merek (hanya bila merek bukan milik sendiri);

f. Bagan organisasi yang disahkan pimpinan;

g. Surat penunjukkan wakil manajemen dan biodatanya; h. Surat permohonan SPPT SNI;

i. Angka penegenal importir (api) (bila bukan produsen);

j. Fotokopi sertifikat sistem manajemen mutu atau manajemen lainnya;

2. Dokumen Teknis

a. Pedoman Mutu yang telah disahkan; b. Diagram alir proses produksi; c. Daftar peralatan utama produksi;

d. Daftar bahan baku utama dan pendukung produksi; e. Daftar peralatan inspeksi dan pengujian;

f. Salinan dokumen panduan mutu dan prosedur mutu;

Lembaga sertifikasi produk dimungkinkan menerbitkan tanda kesesuaian

terhadap suatu standar. Tanda kesesuaian yang berlaku adalah tanda SNI dan

tanda lain yang berbasis SNI seperti tanda ekolabel, tanda pangan organik, tanda

keselamatan, tanda hemat energi, tanda lainnya yang ditetapkan oleh BSN, dan

tanda lain sesuai dengan kebutuhan.

Kewenangan lain yang dimiliki lembaga sertifikasi produk adalah:89

1. Menunda, membekukan dan mencabut sertifikat, serta mengurangi ruang

lingkup, atau menilai kembali jika ada:

a. Perubahan personel inti.

b. Pelanggaran persyaratan dan peraturan lembaga sertifikasi produk

dan/atau persyaratan standard dan/atau Peraturan Pemerintah.

c. Kegagalan dalam membantu personel atau sub kontrak lembaga

sertifikasi produk selama menjalankan tugas resminya.

89

(10)

2. Membekukan sertifikat apabila menurut lembaga sertifikasi produk

ketidakmampuan perusahaan hanya bersifat sementara dan tidak

mengakibatkan pencabutan sertifikat.

3. Menetapkan periode penundaan, pembekuan dan selama periode tersebut

sertifikat yang dimiliki perusahaan dapat dicabut apabila tidak mampu

memenuhi persyaratan.

4. Mencabut sertifikat jika :

a. Pemilik dinyatakan bangkrut atau menjadi bagian dari krediturnya.

b. Badan usaha tersebut dalam tahap likuidasi.

c. Tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Proses sertifikasi produk adalah proses menilai apakah suatu produk

memenuhi persyaratan seperti yang tercantum dalam standar, hal yang dapat

dilakukan adalah :90

1. Permohonan sertifikasi

Pemohon diharuskan mengisi Formulir Permohonan Sertifikasi Produk yang

telah disediakan yang diajukan kepada Kepala Badan Sertifikasi.

2. Penilaian sistem manajemen mutu

Penilaian Sistem Manajemen Mutu diharuskan untuk pemohon yang

mengajukan permohonan sertifikasi produk. Hal ini berarti pomohon

diharuskan untuk implementasi/menerapkan sistem manajemen mutu menurut

SNI 19-9000/ISO 9000.

3. Penilaian laboratorium

90

“Proses sertifikasi Produk”,

(11)

Penilaian laboratorium uji diharuskan. Apabila pemohon memiliki

laboratorium uji dan melaksanakan pengujian sendiri maka laboratorium uji

tersebut harus memenuhi persyaratan (implementasi/menerapkan) SNI

19-17025/ISO 17025.

4. Pengambilan contoh uji

Pengambilan contoh uji dilaksanakan oleh personil LSPro. Contoh uji diambil

dari alur produksi dan dari gudang atau dari pasar dengan jumlah sesuai

dengan yang disyaratkan oleh LSPro atau mengikuti aturan lain yang relevan.

Sejumlah contoh uji yang diambil harus mewakili dan berlaku untuk satu tipe

produk yang disertifikasi atau lebih tergantung pada proses pembuatan dan

fungsi dari produk tersebut dan hal ini akan ditetapkan kemudian oleh LSPro

contoh uji yang diambil hanya mewakili dan berlaku untuk satu merek

dagang yang disertifikasi.

5. Pengujian contoh uji

Pengujian dilaksanakan oleh lembaga/laboratorium uji eksternal atas nama

LSPro. Pemohon dapat melaksanakan pengujian di laboratorium uji milik

pemohon atau di laboratorium uji eksternal yang ditunjuk oleh pemohon,

asalkan laboratorium uji tersebut memenuhi persyaratan SNI 19-17025/ISO

17025 seperti yang ditetapkan pada butir 2 diatas dan telah memenuhi

perjanjian kerjasama dengan LSPro, dengan demikian pemohon cukup hanya

menyerahkan ke LSPro laporan uji untuk dievaluasi. Laporan uji harus

(12)

persyaratan uji yang telah ditetapkan oleh standar acuan atau aturan lain yang

relevan.

6. Evaluasi

Evaluasi dilakukan terhadap seluruh rangkaian kegiatan sertifikasi dengan

memperhatikan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.

7. Follow-up

Apabila hasil evaluasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian terhadap

persyaratan yang ditetapkan, dilakukan penilaian ulang sesuai dengan

ketidaksesuaian yang timbul. Penilaian ulang untuk produk sama seperti yang

dilaksanakan pada penilaian semula sedangkan untuk sistem manajemen

mutu dan laboratorium uji hanya memverifikasi ketidaksesuaian yang timbul.

8. Keputusan sertifikasi

Manajemen LSPro akan memutuskan sertifikasi setelah semua tahapan

prosedur sertifikasi dilaksanakan dan dilengkapi dengan laporannya. Apabila

pada laporan evaluasi menunjukkan tidak memenuhi aturan yang ditetapkan

oleh LSPro atau pada laporan evaluasi menujukkan adanya ketidaksesuaian

terhadap persyaratan standar, diputuskan bahwa produk yang dimaksud

dinyatakan tidak lulus sertifikasi.

9. Bukti kesesuaian

Bukti kesesuaian yang diterbitkan oleh LSPro adalah "Sertifikat Produk

Penggunaan Tanda SNI"

(13)

Survailen dilaksanakan minimal sekali dalam setahun dan total survailen tiga

kali sejak tanggal berlakunya sertifikat. Jika survailen tidak dilaksanakan

(kecuali dalam keadaan force majeure) sertifikat akan ditunda setelah 60

(enam puluh) hari sejak surat pemberitahuan survailen diterbitkan. Survailen

meliputi : Penilaian sistem manajemen mutu dan laboratorium uji,

pengambilan contoh uji, pengujian dan evaluasi. Contoh uji diambil dari

pabrik dan pasar dengan jumlah sesuai dengan yang disyaratkan oleh LSPro

atau mengikuti aturan lain yang relevan.

11. Sertifikasi ulang

Sertifikasi ulang dilaksanakan setiap 4 (empat) tahun sekali. Pelaksanaan dan

persyaratan sertifikasi ulang sama seperti dengan pelaksanaan sertifikasi

awal.

Pemberian sertifikat oleh LSPro adalah dilakukan oleh Manajemen LSPro

dapat menerbitkan sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI kepada pemohon

sertifikasi apabila :91

1. Hasil evaluasi terhadap sistem manajemen mutu tidak menunjukkan adanya

ketidaksesuaian.

2. Hasil pengujian contoh uji memenuhi persyaratan standar.

3. Hasil keputusan team evaluasi menyatakan bahwa seluruh tahapan kegiatan

sertifikasi telah memenuhi persyaratan sertifikasi.

Pemegang sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI mempunyai beberapa

hak dan kewajiban, yaitu sebagai berikut :92

91

“Badan Standardisasi Nasional”,

(14)

Hak pemegang sertifikat :

1. Pemegang sertifikat berhak untuk menggunakan sertifikat dan membubuhkan

tanda SNI pada produk atau kemasannya dengan mengikuti aturan

penggunaannya yang ditetapkan oleh LSPro, apabila produk yang dimaksud

telah dinyatakan lulus sertifikasi

2. Pemegang sertifikat berhak untuk mempublikasikan bahwa produknya telah

disertifikasi oleh LSPro.

3. Pemegang sertifikat dapat mengajukan keluhan ke LSPro dalam hal kaitannya

dengan kegiatan sertifikasi termasuk personel sertifikasi.

Kewajiban pemegang sertifikat :

1. Pemegang sertifikat menjamin bahwa produk yang disertifikasi diproduksi

sesuai dengan standar dan spesifikasi yang sama seperti produk yang

dijadikan contoh uji.

2. Pemegang sertifikat harus menginformasikan ke LSPro apabila ada

modifikasi produk, proses produksi dan sistem manajemen mutu.

3. Pemegang sertifikat harus membolehkan personel LSPro untuk akses tak

terbatas ke area pabrik yang memproduksi produk yang disertifikasi.

4. Pemegang sertifikat harus memenuhi kewajiban pembayaran biaya yang

ditetapkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan sertifikasi.

5. LSPro memberi wewenang ke pemegang sertifikat untuk menyatakan bahwa

produknya yang disertifikasi telah sesuai dengan standar dan aturan sistem

sertifikasi.

92Ibid

(15)

6. LSPro memegang dan menjaga rahasia yang diperoleh selama LSPro

berhubungan dengan pemegang sertifikat.

C. Prosedur Pemberian Sertifikat Standar Nasional Indonesia Terhadap Produk Kopi

Persaingan bisnis yang dihadapi perusahan-perusahaan saat ini semakin

ketat, khususya pada perusahaan yang bergerak dalam industri Fast Moving

Consumer Goods (selanjutnya disebut dengan FMCG) yaitu industri yang

memproduksi barang-barang yang sering dibeli konsumen di antaranya :

makanan, minuman, kosmetik, detergen, dan lain sebagainya. Hal ini

menyebabkan manajemen perusahaan dituntut untuk lebih cermat dalam

menentukan strategi bersaing. Oleh karena itu perusahaan harus selalu mencari

ide- ide kreatif serta membuat produk yang berkualitas dalam menjalankan

perusahaan untuk dapat memenangkan persaingan.93

Di pasar internasional, kopi asal Indonesia dikenal berkualitas baik dan

dapat bersaing dengan kompetitor seperti Vietnam dan Brazil. Walaupun memiliki Salah satu kategori produk FMCG yang banyak diminati masyarakat dunia

dan khususnya di Indonesia adalah kopi. Permintaan akan kebutuhan kopi dunia

saat ini diprediksi meningkat hingga hampir 25% dalam lima tahun ke depan.

Ekspor kopi di Indonesia sendiri pada tahun ini diproyeksikan menurun, produksi

kopi terserap dengan maksimal oleh lokal, hal tersebut terjadi karena permintaan

kopi dalam negeri yang kian meningkat.

93

(16)

daya saing dari sisi kualitas namun tidak dapat bersaing pada sisi harga yang

disebabkan pengelolaan kopi di negara kompetitor tersebut didukung penggunaan

teknologi, rendahnya produktivitas kopi Indonesia karena usia tanaman yang

sudah tua, tingginya tarif gas dan listrik, dan infrastruktur pendukung seperti jalan

dan pelabuhan di dalam negeri menyebabkan biaya tambahan.94

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian telah menerbitkan

aturan wajib SNI untuk kopi. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi serbuan

impor produk kopi yang mulai menguasai pasar domestik. Kopi yang tidak

memiliki SNI akan dimusnahkan dan direekspor, aturan tersebut tertuang dalam

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 87/M-IND/PER/10/2014 tentang

Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kopi Instan Secara Wajib yang

kemudian diubah dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor

55/M-IND/PER/6/2015 yang selanjutnya mengalami perubahan kedua yaitu Peraturan

Menteri Perindustrian Nomor 03/M-IND/PER/01/2016 (selanjutnya disebut

Permenperin SNI Kopi Instan). Salah satu tujuan penerbitan aturan tersebut untuk

memberikan perlindungan kepada konsumen.95

Dengan terbitnya Permenperin SNI Kopi tersebut, produsen kopi instan96

94

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri Badan Pengkajian dan Pengembangan, Op. Cit., hlm. 45.

atau importir kopi instan wajib menerapkan ketentuan SNI dengan memiliki SPPT

95

“Pemerintah Terbitkan SNI untuk Kopi”,

diakses pada tanggal 12 Desember 2016.

96

(17)

SNI dan tanda SNI pada setiap bentuk kemasan produknya. Kopi instan97 yang dimaksud adalah kopi dalam bentuk kemasan ritel dan bentuk curah, kopi instan

murni dan tanpa campuran bahan lain, termasuk kopi instan dekafein. Peraturan

ini tidak berlaku bagi kopi yang digunakan sebagai bahan baku atau penolong

serta kopi instan yang digunakan sebagai contoh uji penelitian. Dalam kopi instan

produksi dalam negeri yang tidak memenuhi ketentuan SNI harus ditarik dari

peredaran dan dimusnahkan oleh produsen yang bersangkutan. Kopi Indonesia

khususnya jenis arabika masih menjadi nomor satu di dunia. Hal itu terbukti dari

harga jual kopi arabika Jawa dan Sumatera mencapai US$100 per kilogram untuk

jenis premium. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor produk kopi

olahan sepanjang tahun 2013 mencapai US$243,87 juta atau turun 24,41% di

bandingkan dengan tahun 2012 yang mencapai US$322,62 juta.98

Ekspor produk kopi olahan masih di dominasi produk kopi instan, ekstrak,

esens, dan konsentrat kopi. Kondisi ekspor berbanding terbalik dengan impor kopi

olahan. Sepanjang tahun 2013, impor produk kopi olahan mencapai US$81,11

juta atau naik 15,01% dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencapai

US$71,19 juta. Impor terbesar dialami oleh produk kopi instan yang disinyalir

adalah produk bermutu rendah. Berdasarkan data Kemenperin, impor kopi olahan

di lndonesia pada tahun 2013 merupakan impor dengan nilai tertinggi sejak 7

97

Kopi instan adalah produk kopi berbentuk serbuk atau granuka atau flake yang diperoleh dari proses pemisahan biji kopi, disangrai tanpa dicampur dengan bahan lain, digiling, diekstrak dengan air, dikeringkan dengan proses spray drying (dengan atau tanpa aglomeransi) atau freeze drying atau fluidized bed drying atau proses lainnya menjadi produk yang mudah larut dalam air. Lihat Permenprin 87/M-IND/PER/10/2014 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kopi Instan Secara Wajib, Pasal 1poin 1.

98

“Pemerintah Terbitkan SNI untuk Kopi”,

(18)

tahun terakhir. Selain untuk melindungi industri kopi dalam negeri, berlakunya

SNI wajib juga untuk menjaga kesehatan konsumen. Dalam penerapan SNI wajib

ini, produk kopi akan di uji dari sisi kadar air, toksin yang terdapat dalam biji

kopi, dan sebagainya.99

Sertifikasi dapat dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar, yaitu :

Defenisi sertifikasi dapat kita lihat pad ISO/IEC 17000:2004 yaitu

sertifikasi sebagai pengesahan dari pihak ketiga yang berkaitan dengan produk,

proses, sistem atau orang, dan sertifikasi dapat diterapkan untuk semua obyek

penilaian kesesuaian. Penilaian kompetensi lembaga penilaian kesesuaian itu

sendiri, dilakukan melalui akreditasi.

100

1. Sertifikasi Sistem Manajemen

Sistem manajemen yang dioperasikan oleh suatu organisasi dapat

memberikan bukti bahwa organisasi tersebut telah menerapkan prosedur untuk

menyusun dan mendokumentasikan proses-proses administratif dan

manajemennya. Dokumentasi dari seluruh proses di dalam sebuah organisasi

dapat memfasilitasi deteksi dan pelacakan kesalahan untuk segera mengambil

tindakan perbaikan yang diperlukan. Beberapa sistem manajemen mutu (yang

selanjutnya disebut SMM) yang diakui di seluruh dunia dan dapat disertifikasi

oleh lembaga sertifikasi antara lain adalah :

a. Sistem Manajemen Mutu berdasarkan seri ISO 9000

b. Sistem Manajemen Lingkungan berdasarkan seri ISO 14000

c. Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja berdasarkan seri OHSAS 18000

99 Ibid. 100

(19)

d. Sistem Higinis–Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP)

e. Good Practices, termasuk Good Manufacturing Practice (GMP)

2. Sertifikasi Produk

Lembaga sertifikasi dapat memberikan sertifikasi terhadap jenis standar

berdasarkan pada standar ISO atau yang didasarkan pada standar FAO/WHO

Codex Alimentarius. Harmonisasi proses antara ISO dan Codex Alimentarius telah

menghasilkan ISO 22000, kombinasi antara ISO 9000 dan HACCP yang

menyatakan persyaratan sistem manajemen keamanan pangan (selanjutnya disebut

SMKP) (food safety). Bila sertifikasi sistem manajemen ditujukan untuk

memberikan pengakuan kesesuaian sistem manajemen sebuah organisasi dengan

standar sistem manajemen yang relevan, sertifikasi produk dimaksudkan untuk

memberikan pengakuan bahwa proses produksi, kandungan atau kadar, sifat-sifat

dan karakteristik lainnya dari sebuah produk telah sesuai dengan persyaratan yang

ditetapkan dalam standar yang relevan.101

101

Febi Amanda, Op. Cit., hlm. 78.

Sertifikat merupakan jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga/

laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa produk, proses,

jasa, sistem atau personel telah memenuhi standar yang dipersyaratkan. Seperti

ISO 22000 yaitu suatu standar internasional yang menggabungkan dan

melengkapi elemen utama ISO 9001 dan HACCP dalam hal penyediaan suatu

kerangka kerja yang efektif untuk pengembangan, penerapan, dan peningkatan

(20)

Rainforest Certificate yaitu standar untuk kelestarian lingkungan dan

memastikan kondisi yang lebih baik pada lingkungan kerja dan meningkatkan

kesejahteraan orang-orang yang bekerja pada suatu industri. Fair Trade

Certificate adalah sertifikasi produk yang telah menerapkan kelestarian

lingkungan, kesejahteraan tenaga kerja dan pengembangan standar, dan ISO

17025 diterapkan untuk pengujian laboratorium internal yang dimiliki oleh

industri.102

Standar Nasional Indonesia untuk kopi dalam kemasan diantaranya adalah

SNI 01-3542-2004 kopi bubuk (coffee), SNI 01-2983-1992/SNI 2983:2014 kopi

instan Instant (coffee), SNI 01-4446-1998 kopi mix (coffee mix), SNI

01-4282-1996 kopi celup (coffee bag), SNI 01-4314-1996 minuman kopi dalam kemasan

(coffee drinks in package), SNI 7708:2011 kopi gula krimer dalam kemasan

Standar-standar tersebut diatas adalah standar yang dipersyaratkan oleh

pembeli diluar negeri yang harus dipenuhi oleh eksportir. Beberapa negara yang

menerapkan standar sangat ketat adalah Jepang dan Amerika Serikat, jika pelaku

usaha dapat mengadopsi persyaratan standar pada negara tersebut maka akan lebih

muda untuk memasuki pasar negara lain. Dalam memenuhi persyaratan sertifikasi

tersebut, pelaku usaha berpendapat tidak sulit dan biaya yang dikeluarkan cukup

terjangkau serta jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengurusan dokumen yaitu

satu bulan. Secara umum tidak ditemui kendala dalam memperoleh sertifikasi

namun untuk pelaku usaha menengah dirasa cukup sulit untuk memperoleh

sertifikasi tersebut khususnya pemenuhan persyaratan dan biaya sertifikasi.

102

(21)

(coffee creamer sugar in packaging), SNI 6685:2009 Kopi susu gula dalam

kemasan (coffee sugar milk in sachets).103

SPPT-SNI Kopi Instan diperoleh melalui Sistem Sertifikasi Tipe 5 yang

berlaku selama 4 (empat) tahun atau Sistem Sertifikasi Tipe 1 b yang terbagi atas

kopi instan produk dalam negeri, berlaku untuk setiap Di dalam bab III disebutkan

tata cara memperoleh SPPT-SNI, yaitu :

Prosedur pemberian SPPT-SNI terhadap produk kopi, diatur dalam

Peraturan Direktur Jenderal Industri Agro Nomor 24/IA/PER/3/2015 tentang

Petunjuk Teknis Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Kopi Instan Secara

Wajib, namun karena dikeluarkannya Permenperin Nomor

03/M-IND/PER/01/2016 tentang Perubahan Kedua Pemberlakuan Standar Nasional

Indonesia (SNI) Kopi Instan Secara Wajib, maka dikeluarkan juga Peraturan

Direktur Jenderal Industri Agro Nomor 22/IA/PER/3/2016 tentang Petunjuk

Teknis Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Kopi Instan Secara Wajib

(selanjutnya disebut Perdirjen IA Juknis SNI Kopi Instan).

104

1. Pelaku usaha baik dalam negeri maupun luar negeri atau importir,

mengajukan permohonan SPPT-SNI Kopi Instan kepada LSPro sesuai

prosedur yang ditetapkan LSPro.

2. Pelaku Usaha dapat memperoleh SPPT-SNI jika memenuhi hal berikut :

a. Sistem Sertifikasi Tipe 5 dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

103

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan, Op. Cit., hlm. 72.

104

(22)

1) Mengajukan permohonan kepada LSPro dan memenuhi persyaratan

administrasi dengan melampirkan :

a) Fotokopi akta pendirian perusahaan atau perubahannya, untuk

produsen kopi instan dalam negeri, atau akta sejenis dalam

terjemahan bahasa Indonesia untuk produsen luar negeri, oleh

penerjemah tersumpah;

b) Fotokopi izin industri (Izin Usaha Industri atau Tanda Daftar

Industri) bagi produsen Kopi Instan dalam negeri, atau izin yang

sejenis untuk produsen luar negeri yang telah diterjemahkan ke

dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah tersumpah;

c) Dokumen mengenai penggunaan merek;

(1) Fotokopi Sertifikat Merek Pelaku Usaha atau Tanda Daftar

Merek yang diterbitkan oleh Dirjen Hak Kekayaan

Intelektual, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

(2) Fotokopi perjanjian lisensi dari pemilik merek sebagaimana

dimaksud pada (1);

(3) Fotokopi surat perjanjian dengan perusahaan pengemas

mengenai penggunaan merek pabrikan untuk produk Kopi

instan yang dikemas oleh perusahaan pengemas; atau

(4) Fotokopi surat perjanjian makloon dari pemberi makloon

untuk produk yang menggunakan merek pemberi makloon.

d) Surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa dokumen

(23)

2) Telah menerapkan SMM atau SMKP yang dibuktikan dengan

menyampaikan :

a) Surat pernyataan dari Produsen Kopi instan baik dari dalam

negeri ataupun luar negeri tentang kesesuaian penerapan :

(1) SMM berdasarkan SNI ISO 9001:2008 atau revisinya, atau

SMM lainnya yang diakui; atau

(2) SMKP SNI ISO 22000:2009 atau revisinya; atau

b) Sertifikat SMM berdasarkan SNI ISO 9001:2008 atau revisinya

yang diterbitkan oleh LSMM atau SMKP SNI ISO 22000:2009

atau revisinya yang diterbitkan oleh LSSMKP.

3) Bagi yang telah memiliki SMM, harus menerapkan Cara produksi

pangan olahan yang baik (CPPOB) sesuai dengan Peraturan Menteri

Perindustrian Nomor 75/M-IND/Per/7/2010 untuk produk dalam

negeri yang dinyatakan dalam surat pernyataan (self declaration) dan

Good Manufacturing Practies (GMP) atau yang sejenis untuk produk

impor.

4) Dilakukan audit SMM atau SMKP.

5) Dilakukan pengambilan contoh dan pengujian mutu produk sesuai

parameter SNI 2983:2014 Kopi Instan dengan laboratorium uji yang

terakreditasi KAN.

b. Sistem Sertifikasi Tipe 1 b dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1) Mengajukan permohonan kepada LSPro dan memenuhi persyaratan

(24)

a) Fotokopi izin industri (Izin Usaha Industri)

b) Fotokopi Angka Pengenal Importir (API), Nomor Induk

Kepabeanan (NIK), dan Importir Terdafatar (IT) untuk importir;

c) Fotokopi akta pendirian perusahaan atau perubahannya, dan akta

pendirian dalam terjemahan bahasa Indonesia untuk produsen luar

negeri, oleh penerjemah tersumpah;

d) Dokumen mengenai penggunaan merek;

e) Surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa dokumen

yang dilampirkan sesuai aslinya.

2) Dilakukan pengambilan contoh dan pengujian sesuai parameter SNI

oleh laboratorium uji bagi kopi instan yang diproduksi di dalam negeri

ataupun luar negeri dengan ketentuan sebagai berikut :

a) Kopi instan produk dalam negeri, dilakukan pengujian sesuai SNI

oleh laboratorium uji yang ditugaskan oleh LSPro pada setiap lot

produksi;

b) Kopi instan produk luar negeri, pada setiap kali

pengapalan/pengiriman harus dilakukan pengambilan contoh oleh

LSPro untuk dilakukan pengujian oleh laboratorium uji yang

ditugaskan LSPro.

Proses sertifikasi :

(25)

a. LSPro meneliti kelengkapan dokumen dan apabila dokumen belum

lengkap harus segera dilengkapi oleh perusahaan pemohon untuk diproses

lebih lanjut.

b. Tim Auditor melakukan audit kecukupan dan kebenaran dokumen SMM

atau SMKP dan jika tidak memenuhi persyaratan, perusahaan pemohon

harus melakukan tindakan koreksi.

c. LSPro membuat laporan hasil audit SMM atau SMKP dan mengevaluasi

hasil uji mutu produk dari Laboratorium Uji dan bila ditemukan

ketidaksesuaian, maka harus segera diinformasikan kepada perusahaan

pemohon untuk melakukan perbaikan.

d. Tim evaluasi LSPro meneliti laporan audit sertifikasi SMM atau SMKP

dan SHU serta dokumen lainnya dan menentukan keputusan sertifikasi,

yang terdiri dari :

1) Pemberian atau perpanjangan SPPT-SNI, apabila memenuhi

persyaratan sertifikasi;

2) Penundaan pemberian atau perpanjangan SPPT-SNI, apabila belum

memenuhi persyaratan sertifikasi dan perusahaan pemohon dapat

melakukan tindakan perbaikan; atau

3) Penolakan pemberian atau perpanjangan SPPT-SNI, apabila tidak

memenuhi persyaratan sertifikasi.

(26)

a. LSPro meneliti kelengkapan dokumen dan apabila dokumen belum

lengkap harus segera dilengkapi oleh perusahaan pemohon untuk diproses

lebih lanjut.

b. LSPro mengevaluasi hasil uji mutu produk dari laboratorium uji dan bila

ditemukan tidak memenuhi persayaratan SNI, maka harus segera

diinformasikan kepada perusahaan pemohon untuk dilakukan pengambilan

contoh ulang paling banyak 1 (satu) kali.

c. Tim evaluasi LSPro mengevaluasi SHU serta dokumen lainnya dan

menentukan keputusan sertifikasi, yang terdiri dari :

1) Pemberian atau perpanjangan SPPT-SNI, apabila memenuhi

persyaratan sertifikasi;

2) Penolakan pemberian SPPT-SNI, apabila tidak memenuhi persyaratan

sertifikasi.

Total waktu yang diperlukan untuk pemrosesan dan penerbitan SPPT-SNI

Kopi instan adalah untuk sistem Sertifikasi Tipe 5 apabila semua persyaratan

terpenuhi adalah 41 hari kerja tidak termasuk waktu yang diperlukan untuk

pengujian. Untuk sistem Sertifikasi Tipe 1 b, waktu yang diperlukan adalah 5 hari

kerja tidak termasuk waktu yang diperlukan untuk pengujian. Penerbitan

SPPT-SNI Kopi Instan oleh LSPro wajib dilaporkan kepada Dirjen Pembinaan Industri

paling lambat 7 hari kerja, dan LSPro melakukan survailen satu kali dalam

setahun.105

105

“Sanksi Tegas Atas Pelanggaran Regulasi SNI secara Wajib”,

(27)

Penilaian kesesuaian (conformity assessment)106

Pada dasarnya penilaian kesesuaian diperlukan untuk melandasi

kepercayaan terhadap penerapan SNI ISO/IEC 17000:2004 mendefinisikan

penilaian kesesuaian sebagai pernyataan bahwa produk, proses, sistem, orang atau

lembaga telah memenuhi persyaratan tertentu, yang dapat mencakup kegiatan

pengujian, inspeksi, sertifikasi, dan juga akreditasi LPK. Sama seperti standar,

penilaian kesesuaian pada dasarnya juga merupakan kegiatan yang bersifat

sukarela sesuai dengan kebutuhan dari pihak-pihak yang bertransaksi. Dalam

praktek, penilaian kesesuaian dapat dilakukan oleh produsen (pihak pertama),

oleh pembeli (pihak kedua), maupun pihak-pihak lain (pihak ketiga) yang bukan

merupakan bagian dari produsen maupun konsumen.

mencakup seluruh

kegiatan, kelembagaan dan proses penilaian untuk menyatakan bahwa produk,

proses atau jasa memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam suatu standar.

Dalam kaitannya dengan penerapan SNI, penilaian kesesuaian merupakan

serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa persyaratan yang ditetapkan dalam

SNI telah dipenuhi oleh produk, proses, atau jasa yang relevan.

107

Pelaku penilaian kesesuaian: 108

a. Pihak Pertama - Penilaian dilakukan sendiri oleh pembuat atau pemasok

(deklarasi kesesuaian-diri, self declaration);

b. Pihak Kedua - Penilaian dilakukan oleh pemakai, pembeli atau konsumen

langsung;

c. Pihak Ketiga - Penilaian dilakukan oleh pihak independen dari pembuat

106

Bambang Purwanggono, dkk., Op. Cit., hlm. 42.

(28)

maupun pembeli. Keberadaan pihak ketiga sebagai pelaksana penilaian

kesesuaian merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan

pendayagunaan SNI dalam berbagai kegiatan produksi dan transaksi

perdagangan atau pelayanan jasa, karena objektivitas penilaian mereka

(29)

BAB IV

AKIBAT HUKUM PERMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA KOPI SECARA WAJIB DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN

PENILAIAN KESESUAIAN

A. Standar Nasional Indonesia Kopi Sebagai Suatu Bentuk Perlindungan Terhadap Konsumen

Kesepakatan WTO-TBT menjelaskan bahwa standar merupakan alat

penting dalam mengatasi hambatan dalam perdagangan. Meskipun terdapat

standar nasional yang mungkin berbeda dari negara ke negara, kehadiran standar

telah memberikan efek positif karena telah memberikan corak yang transparan

mengenai produk dan keinginan konsumen. Dalam Pasal 1 angka 1

Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut

UU Perlindungan Konsumen) disebutkan bahwa Perlindungan Konsumen adalah

segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi

perlindungan kepada konsumen.109 Hal yang dapat disimpulkan dari “segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum” melahirkan suatu benteng untuk

meniadakan tindakan sewenang-wenang yang merugikan pelaku usaha hanya

demi untuk kepentingan konsumen.110

Standar nasional dan peraturan teknik merupakan indikator potensi

teknologi suatu negara. Produk yang sesuai standar akan mempelancar

109

Republik Indonesia, Undang-Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 1 angka 1.

110

(30)

perdagangan, karena adanya jaminan bahwa produk tersebut telah memenuhi

persyaratan yang telah disepakati bersama oleh pihak yang berkepentingan.

Fungsi standar dalam perdagangan dapat dijadikan sebagai acuan untuk

menghasilkan suatu produk dagang yang berkualitas atau dijadikan sebagai

persyaratan bagi pihak yang terlibat dalam transaksi perdagangan. Standar dapat

mengurangi biaya transaksi perdagangan dan menghindarkan atau memperkecil

ketidakpuasan konsumen. Standar dapat juga digunakan untuk memproteksi pasar

domestik, dengan menerapkan standar internasional maka akan dapat dicegah

masuknya produk-produk yang tidak standar, sehingga akan melindungi produk

nasional yang menerapkan standar dan sekaligus melindungi konsumen dari

produk tak bermutu.111

Sesuai dengan salah satu tujuan daripada Standardisasi dan Penilaian

Kesesuaian yaitu meningkatkan perlindungan kepada konsumen,112 maka secara tidak langsung hal ini menandakan bahwa keduanya berkaitan erat. Perencanaan

perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang disusun dalam suatu Program

Nasional Perumusan Standar (PNPS) juga memperhatikan aspek perlindungan

konsumen.113

111

Robertus Maylando Siahaya. Op. Cit.,hlm. 68.

112

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, Bab I, Pasal 3.

113

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, Bab III, Pasal 10, angka 3.

Dengan demikian, apabila setiap produk yang dipasarkan di

Indonesia sudah memiliki dan memenuhi standardisasi, maka otomatis produk

tersebut telah terjamin mutu dan kualitasnya. Tentunya standardisasi tersebut

ditandai dengan adanya label SNI. Apabila suatu produk tidak berlabel SNI, maka

(31)

Agar suatu peraturan dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan suatu

lembaga untuk dapat mengawasi serta melaksanakan peraturan-peraturan yang

ada tersebut. Di dalam hukum perlindungan konsumen, pemerintah biasanya

diwakili oleh badan, lembaga, serta instansi-instansi tertentu yang telah diberi

kewenangan untuk mengatur serta mengawasi perlindungan konsumen,

sebagaimana berikut :

1. Menteri Perdagangan, pada Pasal 1 angka 13 UU Perlindungan Konsumen,

yang dimaksud dengan Menteri adalah menteri yang lingkup tugas dan

tanggung jawabnya meliputi bidang perdagangan.114

2. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). BPSK merupakan badan

yang bertugas menangani dan menyelesaikan sengketa antara pelaku usaha

dan konsumen.115

3. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), bertugas untuk

memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya

mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.116

4. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), merupakan Lembaga

Pemerintah Non-Departemen yang bertugas melakukan regulasi,

standardisasi, dan sertifikasi terhadap produk obat dan bahan makanan yang

dikonsumsi oleh konsumen, post marketing vigilance termasuk sampling dan

pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi,

114

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 1 angka 13.

115

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 1 angka 11.

116

(32)

penyidikan dan penegakan hukum, pre-audit iklan dan promosi produk, riset

terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan, komunikasi,

informasi, dan edukasi publik termasuk peringatan publik.117

5. Polisi Republik Indonesia, untuk menindak pelanggaran yang dilakukan

terhadap UU Perlindungan Konsumen, maka polisi merupakan suatu badan

yang memiliki kewenangan untuk menindak lanjuti setiap pelanggaran yang

dilakukan oleh pelaku usaha yang merugikan konsumen.

Untuk mengetahui pelaku usaha yang tidak memenuhi Standar Nasional

Indonesia dalam menentukan perbuatan melawan hukumnya maka diperlukan

teori Hukum Perlindungan Konsumen, antara lain118

1. Pelaku Usaha dan Konsumen Adalah Dua Pihak Yang Sangat Seimbang (Let the buyer beware/caveat emptor); Asas ini berasumsi bahwa:

:

Pelaku usaha dan konsumen adalah dua pihak yang sangat seimbang sehingga tidak perlu ada proteksi apapun bagi si konsumen. Tentu saja dalam perkembangannya, konsumen tidak mendapat akses informasi yang sama terhadap barang atau jasa yang dikonsumsikannya. Ketidakmampuan itu bisa karena keterbatasan pengetahuan konsumen, tetapi terlebih-lebih lagi banyak disebabkan oleh ketidakterbukaan pelaku usaha terhadap produk yang ditawarkannya. Menurut prinsip ini, dalam suatu hubungan jual beli keperdataan, yang wajib berhati-hati adalah pembeli. Sekarang mulai diarahkan menuju kepada caveat venditor (pelaku usaha yang perlu berhati-hati).

2. Teori Prinsip Kehati-hatian (The due care theory);

Doktrin ini menyatakan bahwa pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk berhati-hati dalam memasarkan produknya, baik barang ataupun jasa. Selama berhati-hati, pelaku usaha tidak dapat dipersalahkan. Jika ditafsirkan secara

a-contratio, maka untuk mempersalahkan si pelaku usaha seseorang harus dapat

membuktikan, pelaku usaha itu melanggar prinsip kehati-hatian.

3. The privity of contract; Prinsip ini menyatakan bahwa:

Pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk melindungi konsumen, tetapi hal itu baru dapat dilakukan jika di antara mereka telah terjalin suatu hubungan

117

“Fungsi Badan POM”, pada tanggal 13 November 2016)

118

(33)

kontraktual. Pelaku usaha tidak dapat dipersalahkan atas hal-hal di luar yang diperjanjikan. Fenomena kontrak-kontrak standar yang banyak beredar di masyarakat merupakan petunjuk yang jelas betapa tidak berdayanya konsumen menghadapi dominasi pelaku usaha.

4. Kontrak bukan syarat;

Prinsip ini tidak mungkin dipertahankan, jadi kontrak bukan lagi merupakan syarat untuk menetapkan eksistensi suatu hubungan hukum.

Industri kopi di Indonesia khususnya pada kategori minuman dewasa ini kian meningkatkan, di indikasikan dengan semakin bertambahya produk kopi olahan, serta semakin suburnya cafe dan coffee shop di kota-kota besar. Produk kopi yang ada saat ini tidak hanya berupa kopi bubuk tetapi telah terdapat berbagai diversifikasi produk kopi olahan seperti kopi instan, kopi luak, kopi

three in one. Kopi dengan berbagai rasa seperti vanilla, cocoa, di sisi lain pada cafe/coffee shop terdapat berbagai minuman kopi olahan seperti espresso, latte,

dan cappucino.

Peningkatan konsumsi kopi di Indonesia selain didukung dengan pola

masyarakat yang gemar dalam mengonsumsi kopi, juga ditunjang dengan harga

yang terjangkau, kepraktisan dalam penyajian (instan) serta keragaman rasa/cita

rasa yang sesuai dengan selera konsumen. Tingginya minat minum kopi

masyarakat membuat beberapa perusahaan ikut berpartisipasi dalam pasar kopi

Indonesia. Kopi instan dengan kepraktisannya di dalam penyajiannya, adalah

produk kopi yang paling banyak digemari oleh masyarakat, sehingga membuat

persaingan dalam industri kopi instan semakin ketat, hal tersebut di indikasikan

dengan bermunculannya merek-merek baru pada produk kopi instan di Indonesia.

Banyaknya bermunculan merek-merek baru tersebut dikhawatirkan

menimbulkan persaingan yang tidak sehat, dan tidak memperhatikan aspek K3L

dan perlindungan konsumen. Welfare State Theory mengatakan: “Negara wajib

memberikan perlindungan bagi warga negaranya”.119

119

Roli Harni Yance S. Garingging dkk,. Op. Cit, hlm. 79.

Dalam hal perlindungan

(34)

memberlakukan SNI untuk setiap produk tersebut. Pemberlakuan SNI diterapkan

agar pelaku usaha yang ada di Indonesia menstandardisasikan produk-produknya

sesuai dengan SNI yang ditetapkan pemerintah.

Ketentuan dalam UU Perlindungan Konsumen yang melindungi konsumen

dari penggunaan barang yang tidak sesuai dengan standar yang ditentukan pada

Pasal 8 ayat (1) a, yang menyebutkan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi

dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak

sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan

perundang-undangan. Begitu juga produk impor yang masuk ke dalam suatu negara harus

memenuhi ketentuan tentang standar kualitas yang diinginkan dalam suatu negara.

Untuk lebih menjamin suatu produk, yang diperlukan bukan hanya sampai

pada dipenuhinya spesifikasi dan pembubuhan tanda SNI, tapi masih perlu

dilakukan pengawasan oleh Departemen Perdagangan terhadap produk yang telah

memenuhi spesifikasi SNI yang beredar di pasaran dalam negeri, maupun yang

akan diekspor.120

Berkaitan dengan itu, maka terhadap komoditas ekspor dan impor berlaku

ketentuan:

121

1. Standar komoditas ekspor tidak boleh lebih rendah daripada SNI, yang berarti

standar komoditas ekspor mempergunakan SNI atau dengan spesifikasi

tambahan non mandatory bila diperlukan;

120

Republik Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan, Penerapan, dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia, Bab VI, Pasal 16 angka 2 dan 3.

121

(35)

2. Standar komoditas impor minimal harus memenuhi SNI dan standar nasional

negara yang bersangkutan.

B. Dampak Penerapan Standar Nasional Indonesia Kopi Terhadap Konsumen

Penerapan SNI wajib untuk kopi instan hanya bertujuan untuk melindungi

produsen dan konsumen di dalam negeri. Berdasarkan hasil wawancara dengan

beberapa pelaku usaha kopi instan, opsi penerapan SNI wajib lebih dibutuhkan

untuk menjadi filter yang dapat menyaring produk impor yang berkualitas rendah

dengan harga yang murah sehingga dapat mendorong produsen di pasar dalam

negeri dan melindungi konsumen. Namun, konsumen dalam negeri dianggap

masih belum cukup peduli dengan penerapan standar pada kopi instan. Umumnya

konsumen dalam negeri lebih memilih kopi dengan harga yang lebih terjangkau

tanpa memperhatikan standar yang diterapkan pada produk tersebut. Selain itu,

kendala yang dihadapi dalam penerapan SNI wajib di dalam negeri adalah

keberadaan lembaga pendukung seperti laboratorium penguji yang masih

terbatas.122

Saat ini di Indonesia hanya ada satu laboratorium penguji yaitu Balai

Besar Industri Agro (BBIA) sehingga pelaku usaha membutuhkan waktu yang

lama untuk memperoleh sertifikasi SNI. Sementara itu, biaya sertifikasi SNI.

122

(36)

Sementara itu, biaya sertifikasi SNI cukup terjangkau yaitu sebesar 18 juta

rupiah.123

Disamping itu, pelaku usaha menganggap biaya untuk pemenuhan SNI

relatif mahal. Saat ini hanya ada satu laboratorium penguji untuk produk kopi

instan, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi

SNI cukup lama. Biaya sertifikasi SNI diperkirakan mencapai 18 juta rupiah, dan

bagi sebagian besar pelaku usaha, jumlah ini dianggap mahal sehingga menjadi

kendala dalam penerapan SNI wajib.124

Sesuai dengan Konsep Efektivitas Penerapan SNI Wajib, efektivitas pada

dasarnya mengacu pada sebuah keberhasilan atau pencapaian tujuan. Penerapan

SNI Wajib dianggap efektif jika :

Namun secara umum, penerapan SNI wajib pada produk kopi instan

memiliki dampak positif seperti peningkatan daya saing terutama terhadap kopi

impor yang tidak memenuhi standar. Selain itu, dengan diwajibkannya penerapan

SNI pada kopi instan, jumlah perusahaan yang berpartisipasi dalam menerapkan

standar akan mengalami peningkatan sehingga dapat menjamin aspek K3L pada

proses produksi kopi instan di dalam negeri.

125

1. Diterapkan sacara konsisten oleh industri. Ditandai dengan penerapan SMM

dan kepemilikan SPPT-SNI oleh perusahaan industri terkait.

2. Diterima oleh pasar. Memenuhi aspek-aspek penerapan standar.

123Ibid. 124

Ibid., hlm. 46.

125

(37)

3. Didukung oleh lembaga penilaian kesesuaian yang memadai. Terdapat LSPro

yang memadai untuk pelaksanaan penilaian kesesuaiannya.

Dengan memperhatikan fungsi dan mekanisme pemberlakuan SNI wajib

baik sebagai program kebijakan instansi terkait maupun bagian terintegrasi dari

SSN, maka efektivitas SNI Wajib ini juga berdampak internal (ketersediaan

standar, kesiapan produsen, kesiapan lembaga penilaian kesesuaian, regulasi

teknis, koordinasi antar-instansi terkait dan mekanisme pengawasan SNI Wajib)

maupun eksternal (komitmen stakeholder, harga produk, arus barang impor,

perdagangan internasional, kesepakatan internasional, dan lain-lain).

Dampak pemberlakuan SPPT-SNI secara umum antara lain:

1. Tuntutan Kontraktual126

Dalam hal pelaku usaha mengadakan kontrak dagang di mana dalam

kontrak tersebut telah disyaratkan adanya sertifikasi, maka pelaku usaha wajib

melaksanakan sertifikasi karena telah disepakati dalam kontrak. Dan hal ini

mempunyai akibat hukum yang dapat dipaksakan. Artinya, jika pelaku usaha tidak

memenuhi tuntutan pelanggannya sesuai dengan isi kontrak, maka hal itu akan

menimbulkan gugatan produk. Jika hal ini terjadi maka akan berakibat fatal bagi

masa depan perusahaan yang bersangkutan karena nama baiknya sudah tercemar,

bahkan tidak jarang dimasukkan dalam daftar pengusaha nakal, sehingga akan

sangat mempengaruhi kepuasan konsumen untuk membeli produknya. Maka dari

itu, sangat diperlukan pemberlakuan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Standar

Nasional Indonesia.

126

(38)

2. Peluang Di Pasar127

Sertifikasi berkaitan dengan peluang besar di mana produk tersebut akan

diekspor, misalnya pasar negara-negara maju, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat,

dan Jepang. Jelas negara-negara tersebut akan menuntut sertifikasi. Hal itu akan

memacu pelaku usaha yang sudah memiliki pasar di negara-negara tersebut untuk

segera melakukan sertifikasi untuk mempertahankan pemasaran produknya di

negara-negara maju tersebut, atau bagi pelaku usaha yang ingin mengakses pasar

negara-negara tersebut harus memiliki sertifikat agar dapat masuk dan bersaing di

pasar negara-negara maju. Hal ini juga mendorong pelaku usaha di Indonesia agar

membuat Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia.

3. Era Perdagangan Bebas128

Mulai berlakunya perdagangan bebas di tiap kawasan memang

berbeda-beda sesuai dengan kesepakatan negara-negara dalam kawasan tersebut. Misalnya,

AFTA mulai berlaku pada tahun 2003. APEC mulai berlaku pada tahun 2010,

MEA di tahun 2015 dan WTO mulai berlaku pada tahun 2020. Dalam situasi

perdagangan bebas semua hambatan dalam perdagangan akan dihapuskan.

Perdagangan bersifat borderless, batas-batas negara hampir tidak ada lagi, dan

hanya 1 (satu) pasar, yaitu pasar global, di mana semua negara bebas mengakses

peluang pasar, tentunya dengan kompetisi yang sangat ketat.

Pada saat itu produk yang akan mampu bersaing hanyalah produk-produk

yang memenuhi persyaratan standar dan yang bersertifikat. Sedangkan bagi

produk-produk yang tidak memenuhi syarat standar dan tidak bersertifikat akan

127

Ibid, hlm. 75.

128 Ibid,

(39)

tersingkir dengan sendirinya. Menyadari konsekuensi tersebut, maka pelaku usaha

khususnya di Indonesia tidak dapat diam dan menunggu mengingat era

perdagangan bebas telah dimulai. Penerapan standar dan sertifikasi harus segera

dimulai, karena hal itu akan memerlukan proses yang tidak mudah. Oleh karena

itu, sangat diperlukan pemberlakuan SPPT-SNI.

Sistem Manajemen Mutu (SMM) adalah suatu sistem yang diperlukan

dalam membangun manajemen mutu dalam perusahaan sehingga mampu

beroperasi dan berproduksi sesuai dengan mutu yang dipersyaratkan. Banyak

perusahaan di Indonesia sudah menerapkan SMM yang merujuk kepada BSN-10

dan ISO 9001. Pemberlakuan SNI Wajib mempunyai arti bahwa semua produk

terkait yang beredar di Indonesia harus dibuktikan telah memenuhi persyaratan

SNI. Mekanisme ini dibuktikan dengan tanda SNI dan kepemilikan sertifikat

SPPT-SNI. Ketika pelaku usaha belum memiliki SMM yang sesuai dengan yang

dipersyaratkan dan menjadikannya belum bisa memperpanjang SPPT-SNI, terlihat

ketidakseriusan perusahaan dalam menjaga validitas sertfikatnya. Disini juga

terlihat belum optimalnya LSPro sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikat,

dalam melakukan survailen/pengawasan.129

Terdapat banyak alasan, yang intinya masih diragukannya cost

effectiveness dalam menerapkan SNI, oleh karenanya perlu dipikirkan bentuk

sosialisasi dari regulasi dan juga kejelasan dari sanksi hukum bagi yang

mengabaikan peraturan. Penegakan hukum sangat diperlukan agar tujuan utama

dari regulasi tetap efektif.

129

(40)

Penerapan SNI oleh pelaku usaha menghadapi beberapa kendala, antara lain :130

1. Keterbatasan sumber daya manusia dalam menerapkan SMM;

2. Kesulitan untuk mengkalibrasikan peralatan laboratorium maupun produksi; 3. Adanya pesaing pasar yang memasarkan produknya di bawah standar dengan

harga yang rendah;

4. Biaya pengujian/sertifikasi yang mahal;

5. Kepedulian konsumen terhadap standar yang kurang terhadap produk ber-SNI;

6. Proses sertifikasi yang tidak mudah, lokasi laboratorium/inspeksi/lembaga sertifikasi jauh dari perusahaan;

7. dan kurangnya sosialisasi SMM di Industri.

Tanda SNI belum berperan sebagai selling point, tetapi lebih dominan

karena adanya keharusan. Hal ini umumnya terjadi pada perusahaan-perusahaan

besar yang telah memiliki merek terkenal atau memiliki berbagai tanda sertifikasi.

Perusahaan sudah mengetahui tentang manfaat SNI wajib terhadap produk-produk

yang dihasilkan dalam rangka perlindungan konsumen dan produsen sehingga

produk yang dihasilkan mempunyai daya saing yang tinggi.

C. Tindakan Hukum Atas Pelanggaran Standar Nasional Indonesia Kopi Oleh Produsen Kopi Menurut UU No. 20 Tahun 2014 Tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian

Salah satu tujuan UU Perlindungan Konsumen adalah untuk mengangkat

harkat kehidupan konsumen, maka untuk maksud tersebut berbagai hal yang

membawa dampak negatif dari pemakaian barang dan/atau jasa harus dihindarkan

dari aktivitas perdagangan pelaku usaha. Sebagai upaya untuk menghindarkan

akibat negatif pemakaian barang dan/atau jasa tersebut, maka UU Perlindungan

Konsumen mengatur berbagai larangan bagi para pelaku usaha.

130 Ibid

(41)

Di dalam UU Perlindungan Konsumen, pengaturan mengenai larangan

bagi pelaku usaha dirumuskan pada Pasal 8 hingga Pasal 17. Dalam Pasal 8 ayat

(1) UU Perlindungan Konsumen, diatur bahwa pelaku usaha dilarang

memperdagangkan barang dan/atau jasa yang :131

1. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan;

2. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan sebagaimana dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut; 3. Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah dalam hitungan

menurut ukuran yang sebenarnya;

4. Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan keistimewaan atau kemajuan sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;

5. Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;

6. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;

7. Tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;

8. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan pada label;

9. Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang, ukutan, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturaan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/dibuat;

10. Tidak mencantumkan informasi atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perturan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan UU Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian yang disahkan pada

September 2014 lalu, Pemerintah Indonesia tidak hanya akan memberikan sanksi

administratif tapi akan menerapkan sanksi tegas bagi setiap penyalahgunaan

aturan SNI wajib dengan ancaman pidana penjara atau denda. Dalam UU

131

(42)

Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian BAB X tentang Ketentuan Pidana Pasal

62 hingga 73 tertuang tentang adanya sanksi pidana bagi pihak yang melakukan

pelanggaran. Sanksi tersebut adalah :132

132

Republik Indonesia, Undang-Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 62-73.

Pasal 62: Setiap orang yang memalsukan SNI atau membuat SNI palsu diberikan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah).

Pasal 63: Setiap orang yang dengan sengaja memperbanyak, memperjual belikan, atau menyebarkan SNI tanpa persetujuan BSN diberikan pidana paling lama 4 (empat) bulan atau pidana denda paling banyak Rp. 4.000.000.000,- (empat miliar rupiah).

Pasal 64: Setiap orang yang dengan sengaja membubuhkan tanda SNI dan /atau Tanda Kesesuaian pada Barang dan/ atau kemasan atau label di luar ketentuan yang ditetapkan dalam sertifikat; membubuhkan nomor SNI yang berbeda dengan nomor SNI pada sertifikatnya akan dikenakan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau pidana denda paling banyak Rp. 4.000.000.000,- (empat miliar rupiah).

Psl.65-66: Setiap orang yang tidak memiliki sertifikat atau memiliki sertifikat tetapi habis masa berlakunya, dibekukan sementara, atau dicabut yang dengan sengaja memperdagangkan atau mengedarkan Barang, memberikan Jasa, dan/atau menjalankan proses atau sistem dikenakan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 35.000.000.000,- (tiga puluh lima miliar rupiah).

Pasal 67: Setiap orang yang mengimpor barang yang dengan sengaja memperdagangkan atau mengedar Barang yang tidak sesuai dengan SNI atau penomoran SNI dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 35.000.000.000,- (tiga puluh lima miliar rupiah).

Pasal 68: Setiap orang yang tanpa hak menggunakan dan/atau membubuhkan Tanda SNI dan/atau Tanda Kesesuaian dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 35.000.000.000,- (tiga puluh lima miliar rupiah).

Pasal 69: Setiap orang yang memalsukan tanda SNI dan/atau Tanda Kesesuaian atau membuat Tanda SNI dan/atau Tanda Kesesuaian palsu dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah).

(43)

Pasal 71: Setiap orang yang memalsukan sertifikat Akreditasi atau membuat sertifikat Akreditasi palsu dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah).

Pasal 72: Pelaku tindak pidana dapat dijatuhi pidana tambahan berupa : kewajiban melakukan penarikan Barang yang telah beredar; kewajiban mengumumkan bahwa Barang yang beredar tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; dan/atau perampasan atau penyitaan Barang dan dapat dimusnahkan.

Pasal 73: Pidana denda yang dijatuhkan terhadap korporasi, diberlakukan dengan ketentuan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda secara pribadi dan diberikan pidana tambahan berupa: pencabutan izin usaha; dan/atau pencabutan status badan hukum.

Sanksi yang tegas sebagaimana disebutkan diatas membuktikan keseriusan

pemerintah untuk menegakkan perlindungan pada kepentingan nasional dan

sebagai usaha untuk meningkatkan daya saing nasional. Meski disisi lain kesiapan

dari masyarakat industri di Indonesia untuk menjalankan regulasi yang telah

dirumuskan tidak bisa diabaikan. Untuk itu sinergi dalam berbagai bidang antara

pemerintah dan juga masyarakat Indonesia mulai dari sosialisasi regulasi, peran

serta masyarakat dalam melaksanakan SNI, perumusan SNI, membangun budaya

standar, serta melaporkan pelanggaran menjadi hal yang utama untuk bisa

diwujudkan.133

Selama ini, para pelanggar regulasi SNI secara wajib hanya dikenakan

sanksi administratif berupa peringatan tertulis, denda administratif, penutupan

usaha sementara, pembekuan izin usaha industri, dan/atau pencabutan izin usaha

industri. Dengan Undang-Undang Perindustrian yang baru saja disahkan pada

Desember 2013, Pemerintah Indonesia akan menerapkan sanksi lebih tegas bagi

setiap penyalahgunaan aturan SNI wajib dengan ancaman dipidana penjara.

133

“Sanksi Tegas Atas Pelanggaran SNI secara Wajib”,

(44)

Dalam UU Perindustrian yang baru Pasal 120 tertuang tentang adanya sanksi

pidana bagi pihak yang melakukan pelanggaran.

Menurut UU ini, para pelanggar yang diancam pidana tak hanya mereka

yang dengan sengaja melakukan tindak kejahatan tersebut, tetapi juga bagi mereka

yang terbukti bersikap lalai atau tidak sengaja :

1) Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi, mengedarkan barang,

jasa industri yang tidak memenuhi SNI, spesifikasi teknis, pedoman tata

cara yang diberlakukan secara wajib di bidang industri sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf b, dipidana paling lama lima

tahun dan denda paling banyak Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah).

2) Setiap orang yang karena kelalaiannnya memproduksi, mengimpor,

mengedarkan barang, jasa industri yang tidak memenuhi SNI, spesifikasi

teknik, pedoman tata cara yang diberlakukan secara wajib di bidang

industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf b, dipidana

penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

Selanjutnya, Pasal 53 ayat 1 huruf b yang dimaksud adalah setiap orang

dilarang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan barang dan/atau jasa

industri yang tidak memenuhi SNI, spesifikasi teknis, dan/atau pedoman tata cara

yang diberlakukan secara wajib. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 120 dilakukan oleh korporasi, tuntutan dan penjatuhan pidana

Referensi

Dokumen terkait

Promosi pertama kurang efektif karena masih trial and error , hal itu dikarenakan masih minimnya informasi tentang kota, jenis kelamin, serta umur dari masyarakat

Tipe fender yang digunakan dan penempatannya pada sisi depan dermaga harus dapat melindungi dan menyerap energi benturan dari semua jenis dan ukuran kapal untuk berbagai

Dari tabel 3.1 Pertanyaan penelitian diatas maka metode yang dipilih adalah Survey dan studi kasus , tujuan dari metode survey untuk mengidentifikasi sumber risiko yang

Namun pada pengamatan 18HSA dan 21HSA mortalitas N.lugens perlakuan H4 dan H5 menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, hal ini disebabkan bahwa pada perlakuan H5 (3%) lebih

Di dalam acara Konser Erwin Gutawa, show director memang berasal dari pihak Kompas TV, namun, dengan jabatannya sebagai show director, mau tidak mau ia telah menjadi bagian dari

Kecepatan arus pada lokasi budidaya rum- put laut di perairan desa Matandoi yang sebesar 0,4 m/detik, berada pada ambang batas atas untuk kategori cukup sesuai, atau dengan kata

Perangkat Lunak berbasis IT untuk membantu tugas rutin yang dibebankan pada Direktorat keselamatan penerbangan Republik Indonesia dalam peningkatan pelayanan pemberian

Berdasarkan apa yang dibincangkan dalam kajian ini, dapat disimpulkan bahawa pembinaan trust model yang berasaskan etika perniagaan Islam dan diperbaiki atau ditambah baik dengan