• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyesuaian Pernikahan pada Pasangan yang Menikah Dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penyesuaian Pernikahan pada Pasangan yang Menikah Dini"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan pasangan ataupun salah satu pasangannya masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia dibawah 19 tahun (WHO, 2006). Menurut Undang-Undang Perkawinan Pasal 7 perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Jadi, pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki dengan perempuan salah satu pihak atau keduanya berusia kurang dari 19 tahun.

(2)

Provinsi Sumatera Utara sebanyak 12.982.204 jiwa, mencakup mereka yang bertempat tinggal didaerah perkotaan sebanyak 6.382.672 jiwa (49,16%) dan di d aerah pedesaan sebanyak 6.599.532 jiwa (50,84%) (Kartono, 1992).

Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan BPS Sumut menyebutkan 10 sampai 11% wanita usia subur (WUS) menikah di usia 16 tahun pada 2010, dan menurut keterangan dari BPS Sumut sendiri paling tidak, ada 47,79% perempuan dikawasan pedesaan kawin pada usia dibawah 16 tahun, sementara diperkotaan besarnya mencapai 21,75% pada tahun 2011. Dari kantor Kementerian Agama Sumut disebutkan bila di tahun 2006 kasus pernikahan usia dini sebanyak 19 kasus, dan meningkat menjadi 42 kasus di tahun 2007, serta melonjak lagi menjadi 68 kasus di tahun 2008, hingga desember 2010 diperkirakan maksimal terjadi 50 kasus perkawinan di usia dini pada remaja (Manaf, dkk, 2000).

(3)
(4)

di luar pernikahan, alasan lainnya lagi memiliki anak dengan usia yang tidak terlalu jauh, dan memupuk cinta atau melewati masa pacaran dalam hubungan berumah tangga akan membuat hubungan selalu harmonis dan langgeng (Sarlito, 1991).

Pernikahan dini ini terjadi pada remaja. Masa remaja merupakan suatu periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Peralihan ini tidak berarti terputusnya atau perubahan yang terjadi sebelumnya, tetapi lebih kepada sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ketahap perkembangan berikutnya. Tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa yang salah satunya adalah mempersiapkan pernikahan dan keluarga (Hurlock, 2000). Persiapan pernikahan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja, dikarenakan munculnya kecenderungan menikah dini dikalangan remaja yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan mereka.

(5)

menikah dini mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan tingkat frekuensi tinggi. Sisanya, 56% perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah (Kompas.com). Pernikahan dini menyebabkan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, kehilangan kesempatan untuk bergaul bersama teman, kehilangan kesempatan berkarier, beresiko mengalami gangguan seksual (Ahira, 2013). Kehamilan di usia muda rentan terjadinya keguguran, persalinan prematur, anemia pada kehamilan, dan keracunan kehamilan yang mengakibatkan kematian (Kusmiran, 2011). Anak-anak yang lahir dari ibu yang berusia di bawah 20 tahun memiliki kesehatan yang buruk dan resiko kematian yang cukup tinggi (Mathur dkk, 2003). Dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 1997 diketahui bahwa seekitar 52,6% wanita pernah melakukan perkawinan pertamanya pada kelompok umur 15-19 tahun dengan tingkat pendidikan hanya tamat SD. Sejumlah 5,8 juta remaja pernah menikah pada umur kurang dari 16 tahun dan 25% diantaranya bahkan menikah dibawah usia 14 tahun. Pihak yang sangat merasakan akibatnya adalah remaja perempuan karena tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah lagi dan harus menjalani perkawinan yang sebenarnya belum siap baginya, baik dari sisi mental maupun kesehatan reproduksinya seperti meningkatnya penularan penyakit seksual dan bahkan HIV/AIDS.

(6)

akan mengalami kehidupan pernikahan yang harmonis. Individu yang mengalami kegagalan dalam penyesuaian pernikahan mereka akan mengalami kehidupan pernikahan yang tidak harmonis dalam kehidupan pernikahan mereka, terlebih juga dengan pasangan yang menikah dini, mereka juga harus melakukan penyesuaian pada pernikahannya karena pasangan yang menikah dini harus mencoba untuk membentuk hubungan jangka panjang dibawah kondisi dimana mereka hanya memiliki sedikit pengalaman tentang diri pasangan masing-masing serta dukungan yang rendah terhadap pernikahan (WHO, 2006). Untuk menghindari masalah yang terjadi dalam pernikahan dini, maka dibutuhkan penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini. Pernikahan menjadi problema psikis dan sosial yang penting bagi laki-laki dan perempuan karena masing-masing harus berusaha untuk melakukan penyesuaian diri dengan pasangannya dan kehidupan pernikahannya. Penyesuaian seperti ini biasanya terjadi sangat lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, wanita mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri dibandingkan laki-laki dikarenakan kemampuan mereka cenderung rasional dalam menyelesaikan masalah (Ibrahim, 2002).

(7)

dan harapan. Jadi, penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini adalah kemampuan suami istri yang ketika menikah salah satu pihak atau keduanya berusia kurang dari 19 tahun untuk saling menyesuaikan diri dengan kepribadian, lingkungan, kebutuhan, keinginan, harapan dan kehidupan keluarga dalam pernikahan mereka.

(8)

Penyesuaian seksual juga dapat menimbulkan permasalahan dalam penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini. Pernikahan dini juga berarti hubungan seksual yang dipercepat, wanita yang menikah diusia muda hanya memiliki sedikit pengetahuan mengenai permasalahan seksual seperti hubungan seksual, alat kontrasepsi, penyakit menular seksual, kehamilan, dan kelahiran (Mathur, dkk, 2003).

Masalah penyesuaian yang ketiga adalah berhubungan dengan masalah keuangan pada pasangan yang menikah dini. Suami yang menikah diusia muda yang terpaksa berhenti sekolah sehingga tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk mencari dan mempergunakan uang dengan baik akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan pernikahannya. Pernikahan dini sangat mengurangi kesempatan wanita untuk mendapatkan akses pendidikan, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk membantu perekonomian keluarga (Mathur, dkk, 2003).

(9)

Dari permasalahan-permasalahan yang telah terjadi pada pernikahan dini dikarenakan kurangnya penyesuaian pernikahan oleh pasangan yang menikah dini sehingga tidak dapat merasakan keberhasilan dalam pernikahannya. Dengan demikian, berdasarkan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pernikahan dini, akan diteliti bagaimana gambaran penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif.

B. Rumusan Permasalahan

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini dilihat dari kriteria keberhasilan penyesuaian pernikahan.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan mendatangkan dua manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis

(10)

2. Manfaat Praktis

a. Dapat memberikan masukan bagi masyarakat tentang penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini, agar dapat membantu masyarakat dalam memahami bahwa penyesuaian pernikahan dalam menikah dini penting untuk dipahami.

b. Dapat menjadi bahan referensi atau rujukan bagi penelitian selanjutnya mengenai penyesuaian pernikahan.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Landasan teori

Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang berkaitan dengan variabel yang diteliti. Teori-teori yang dinyatakan adalah teori yang berhubungan dengan penyesuaian pernikahan pada pasangan yang menikah dini.

Bab III Metode penelitian

(11)

alat pengumpulan data, prosedur pelaksanaan penelitian, dan metode analisa data.

Bab IV Analisa Data dan Pembahasan

Bab ini berisi tentang gambaran subjek, hasil utama penelitian, hasil tambahan penelitian, dan pembahasan mengenai hasil penelitian.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Referensi

Dokumen terkait

Pembukaan dan Evaluasi Penawaran No.26 Butir 26.4 Apabila Penawaran yang Masuk Kurang dari 3 (tiga) maka Pelelangan dinyatakan Gagal. dan

Pembatasan adalah bahwa dalam menggunakan keterampilan ini konselor menjadi acuan ke dalam bingkai konseli sendiri, sehingga memaksa konselor untuk berurusan dengan mereka (atau

42 Penilaian parameter hematologi berupa jumlah leukosit, neutrofil absolut, rasio neutrofil imatur dan matur, trombosit, granular toksik, dan vakuolisasi sitoplasma

Yogurt merupakan salah satu bentuk produk minuman hasil pengolahan susu yang memanfaatkan mikroba dalam proses fermentasi susu segar menjadi bentuk produk emulsi

Tenaga pelayanan kesehatan yang diperlukan pada saat operasional haji di Arab Saudi terdiri dari tenaga kesehatan haji indonesia (TKHI), panitia penyelenggara ibadah haji

Kartu Seminar PKL, PraSeminar (Biru) yang telah ditandatangani oleh Ketua Program Studi6. Tanda Terima Pengumpulan Laporan PKL dan

Mengulas bagaimana pemanfaatan driver dan mode grafis pada bahasa C di sebuah game, dan penerapannya ke dalam logika pemrograman. Game My Igo ini memiliki beberapa kelebihan

1). Memperjelas tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham kearah mana ia ingin dibawa. Meningkatkan motivasi siswa akan terdorong untuk