137
Mengurai Ketegangan
antara Kesalehan dan Seni-Budaya
Ekky Imanjaya
School of Media and Communication, Binus International, Universitas Bina Nusantara, Jakarta
& University of East Anglia, Inggris [email protected]
D
an apakah itu kesalehan? Dan apa hubungan-nya dengan ekspresi kebersenian dan kebuda-yaan? Pernah ada buku Saleh Ritual, Saleh Sosial dari KH Mustafa Bisri (1994) atau tentang wacana (ketegangan) Islam Kultural versus Islam Ideologis oleh KH Abdurrahman Wahid dan Prof. Dr. Nurcholis Madjid, atau tentang pemetaan sejarah oleh Kuntowijoyo. Akan tetapi, pembahasan mendalam dan akademis tentang hubungan (kesalehan) Islam dengan seni pertunjukan dan budaya pop masih langka. Dan buku Performance, Popular Culture, and Piety in Muslim Southeast Asia yang disunting Timothy Daniels ini menjadi menarik dan penting untuk disimak.Sekilas melihat judul dan jika kita tertarik den-gan temanya, buku ini memang begitu menarik. Kemudian, begitu melihat ke daftar isi, beberapa pertanyaan awam segera terlintas: Bagaimana seni pertunjukan dan budaya pop dihubungkan dengan kesalehan, terlebih lagi beberapa kasusnya sep-erti Tari Topeng Cirebon dan Tarian Ngremo dari Malang yang secara sekilas tak berhubungan den-gan kesalehan? Mengapa memilih kota Malang dan tidak, misalnya, Aceh atau Padang? Mengapa bukan
nasyid atau fenomena Rhoma Irama atau ilm seperti Volume II
Nomor 1 April 2013 ISSN 2301-9816
JURNAL KOMUNIKASI INDONESIA
Timothy P. Daniels (Ed.)
Performance, Popular Culture, and Piety in Muslim Southeast Asia
Palgrave Macmillan 2013
ix+226
ISBN 9781137318398
138
Ayat-Ayat Cinta? Mengapa hanya fokus pada Ma-laysia dan Indonesia, padahal di judulnya tercakup “Muslim Southeast Asia”? Mengapa menggabungkan kajian seni pertunjukan dengan budaya pop, yang adalah wilayah kajian yang masih luas dan berpo-tensi untuk tidak fokus?
Tentu saja, kita bisa langsung membaca bab-bab di buku ini secara terpisah, tergantung kebutuhan dan minat kita masing-masing. Tapi, jika kita ingin tahu ada dan bagaimana buku ini secara holistis, ada dua cara untuk menjawabnya. Pertama, melihat bab pendahuluan dari sang penyunting, hingga kita
tahu tujuan dan kerangka teori dan ilosoi buku ini
langsung dari pembuatnya. Cara kedua, kita mem-bacanya hingga tuntas dan mencari pola dan benang merah keenam tulisan di dalam buku setebal 226 halaman lebih ini—yang saya baca tak lebih dari tiga hari karena daya tarik tema-tema yang dieksplorasi oleh para penulis yang sudah berpengalaman di la-pangan dan/atau kajian literatur tahunan.
Buku ini, tulis Timothy Daniels sang editor, beru-paya “mengeksplorasi persimpangan yang rumit dari format kultural masyarakat—seni pertunjukan dan
genre-genre budaya pop—dan kesalehan muslim di Indonesia dan Malaysia”. Karena kedua negara itu— dan bukan bagian lain dari muslim Asia Tenggara seperti minoritas di Myanmar, Kamboja, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Filipina, atau mayoritas di Brunei—adalah negara muslim terbesar di wilayah
ini dan sangat signiikan sehingga “…secara umum,
kedua negeri ini seharusnya tak lagi menjadi subjek sambilan dalam kajian Islam” (h. 1).
Buku ini juga dimaksudkan untuk memahami bagaimana pertunjukan memediasi kesalehan re-ligius dalam berbagai cara dan wahana (h. 1) dan menjabarkan bagaimana peranan kompleks seni pertunjukan dan genre-genre budaya pop bermain dalam berbagai variasi konteks religius dan sosio-politik di dunia kontemporer (h. 8). Sang editor juga menyatakan bahwa, walaupun hanya berfokus pada Malaysia dan Indonesia, tapi banyak melahirkan temuan yang bisa menjadi nilai perbandingan bagi mereka yang belajar Islam dan agama lainnya di ber-bagai belahan dunia. Menurut Daniels: “Volume ini
tidak hanya berkontribusi secara etnograis dengan
studi kasus yang mendetail, tetapi juga secara teo-ritis mendorong munculnya bacaan tentang agama-agama dalam praktiknya dengan cara melukiskan berbagai jalan yang ditempuh kaum muslim untuk meggunakan dan menafsirkan sumber-sumber teks-tual dalam kehidupan mereka dan masyarakat, dan bagaimana agama dalam keseharian termediasi le-wat pertunjukan” (h. 8).
Buku ini memang lebih membahas aspek sosial-budaya, dan sedikit sejarah, dari berbagai kasus seni
pertunjukan (tari, teater) dan budaya pop (ilm, sine -tron, musik). Sang penyunting dengan benderang me-nyatakan bahwa pendekatan buku ini terilhami oleh Victor Turner yang menganjurkan untuk menggeser kajian praktik estetis dalam menganalisis “kajian pertunjukan” (h. 3-4), dari yang cenderung struktura-lis yang statis menjadi pendekatan-pendekatan yang lebih cair dan dinamis, seperti melihat bagaimana agen-agen seniman mengkritik, mengevaluasi, dan
mereleksi masyarakat dan kebudayaan. Karena itu -lah, tulisan-tulisan di dalamnya mencoba menggali
praktik-praktik bentuk estetika dan bagaimana ia berkonstruksi, berkoneksi, dan bernegosiasi dengan relasi-relasi sosial dan kesalehan religius (h. 5-6).
Sebagai tulisan yang menjahit berbagai pemikir-an perca ini, James Peacock di catatpemikir-an akhir meng-garisbawahi bahwa tema buku ini adalah bahwa semua tulisannya mensejajarkan kesalehan dan budaya pop, khususnya kesalehan seputar hubung-annya dengan menjadi muslim, dan ketegangan di antara keduanya (h. 185). Peacock lantas melontar-kan pertanyaan yang menjadi benang merah dalam tulisan-tulisan di sini: “Apa pengaruh Islam terhadap semua bentuk kesenian dan kebudayaan ini, khusus-nya kreativitas artistik?” dan “Bagaimana kekuatan agama dan kreativitas yang terlokalisir ini berhadap-an dengberhadap-an kekuatberhadap-an global?” (h. 184). Dalam bingkai berpikir seperti ini, kita bisa paham mengapa ada ka-sus tarian lintas gender di Malang, kontroversi “Go-yang Inul” “Go-yang marak tahun 2003, atau Mak Yong yang dilarang di Kelantan. Kesemuanya, dalam pan-dangan awam, tidak secara langsung berhubungan dengan ekspresi spiritual, simbol, dan akhlak Islam.
Penulis berasumsi bahwa buku ini memilih untuk menganalisis kasus-kasus anomali dan belum ba-nyak dibahas, sehingga terkesan menghindari tema-tema arus utama—seperti dangdut dakwah Rhoma Irama dan fenomena nasyid—yang sudah dibahas peneliti lain. Misalnya, Andrew Wentraub yang ber-bicara soal dangdut, atau Bart Barendgregt yang berbicara soal nasyid. Sayangnya, kajian Metal Satu Jari, komunitas band dan fan beraliran metal yang kental dengan semangat Islam ideologis, yang amat langka dikaji, tidak ada.
Hal kedua yang bisa dilakukan untuk melihat pola dan benang merah dalam rangka melihat keutuhan buku ini dengan membacanya secara tuntas. Penu-lis ingin membahas beberapa pola yang bisa disim-pulkan setelah membaca buku menarik ini. Agaknya sang penyunting, lewat para penulisnya, memilih dua modus dalam memetakan analisisnya. Pertama, seperti yang disebut di atas, kasus-kasus yang hadir
di ilm ini terkesan secara sekilas, dalam pandangan
orang awam, tidak secara langsung berkaitan dengan kesalehan keislaman dalam pandangan orang awam, bahkan, menjadi kontroversi. Kedua, beberapa tu-lisan memang membahas bentuk kesenian yang se-cara langsung bersentuhan dengan tema keislaman, dan dikontradiksikan dengan jenis “kesalehan” lain dari genre budaya pop yang sama. Misalnya, sine-tron “Nur Kasih” di Malaysia dibandingkan dengan
ilm-ilm Yasmin Ahmad yang acap dianggap kurang
atau bahkan tidak “islami”, atau Sang Pencerah dan Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung
Bra-mantyo dihadapkan dengan tiga ilm bertema Islam
dari duet Chaerul Umam-Asrul Sani. Untuk kasus kedua ini, penulis teringat dengan wacana Islam kul-tural dan Islam ideologis Gus Dur dan Cak Nur di atas.
Untuk kasus-kasus kategori yang pertama, berkaitan dengan kesalehan, ada dua modus seni-man, atau pengkajinya, dalam “membela diri” atau bersikap. Pertama, mengaitkan kesenian dengan konsep kesalehan keislaman, dalam konteks ini,
su-isme dan budaya lokal. Misalnya, dalam kasus To -peng Cirebon. Dengan gaya bertutur yang menarik dan banyak berbagi pengetahuan trivial, sang
139
lis, Laurie Margot Ross mengaitkan Tari Topeng
Cirebon dengan suisme (dan membedakannya den -gan Tari Topeng Malang yang lebih kepada bisnis keluarga, h. 14) dan dakwah Walisongo dan bahkan Syeikh Siti Jenar, mengingat pencipta topeng, menu-rut sang penulis bab ini, adalah Pangeran Panggung, yang adalah murid Siti Jenar. Walaupun harus dikri-tisi lagi apa benar Siti Jenar dihukum mati karena dituduh sebagai pengikut syiah ekstrem seperti yang tertulis (h. 14).
Yang menarik, disebutkan bahwa sejak gebrakan aliran Wahabi tahun 1924 dan juga pengaruh Orde Baru, terjadi proses sekularisasi dan membuat Tari Topeng sedikit banyak tercabut dari semangat spiri-tualisme Islam, khususnya di tanah Jawa yang mem-punyai dinamikanya sendiri (h. 16-17). Di masa Orde Baru, jenis tari ini dianggap jauh dari islami karena profesi ronggeng acap disamakan dengan pelacuran dan banyak yang mengonsumsi alkohol yang terla-rang dalam Islam (h. 26). Hal lainnya adalah, upaya sang penulis bab ini mengaitkan menguatnya kem-bali Topeng Cirebon 40 tahun setelah G30S justru di Pesantren Al-Zaytun (h. 20) yang secara ideologis adalah keturunan DI/TII, tetapi sepertinya kurang menjabarkan apa dan bagaimana DI/TII berinteraksi dengan seni tari tersebut—mengingat gerakan itu
lebih kepada politis daripada suistis.
Mak Yong, pentas drama Melayu di Kelantan yang dilarang Parti Islam Se-Malaysia (PAS) sejak 1991, adalah kasus lainnya yang menarik, dan diu-las Patricia Hardwick (h. 77). Bentuk kesenian yang berakar dari budaya pra-Islam ini dilarang karena dianggap condong kepada syirik dan merendahkan wanita. Di sisi lain, banyak pihak menyatakan bah-wa dalam setiap gerakan Mak Yong mengandung spiritualisme Islam (dan Mandala, dalam perspektif Hindu-Budha), misalnya menyimbolkan empat ele-men kehidupan seperti bumi, angin, api, air, rukun Islam, dan salat lima waktu (h. 84-88).
Sikap kedua yang dilakukan para seniman adalah menyatakan tidak mencampur urusan kesenian de-ngan keagamaan. Umumnya mereka menjalankan ritual kesalehan, seperti salat, tetapi tetap melaku-kan pekerjaan yang dianggap tidak atau kurang is-lami. Misalnya, beberapa seniman di Malang, seperti ditulis Christina Sunardi, memisahkan seni dengan kehidupan religius. Mereka tetap menjalankan ri-tual keagamaan, dan juga berbusana dan berdandan bak lawan jenis dalam menari Beskalan, Ngremo, dan Tari Topeng—sesuatu yang lumrah terjadi di atas panggung (h. 137). Langkah ini diambil karena di Malang, kaum Islam fanatik menganggap musik dan pertunjukan lintas gender sebagai hal yang ha-ram (h. 146-147). Inul juga melakukan tindakan yang sama (h. 170), tapi ia mendapatkan advokasi dari to-koh agama seperti Gus Dur dan Emha Ainun Nadjib.
Kontradiksi Dua Kesalehan
Pola dan modus lainnya hadir dalam kasus-ka-sus yang mengandung tema keislaman secara
lang-sung, misalnya dalam ilm-ilm Hanung Bramantyo
atau sinetron “islami” di Malaysia, dan membentur-kannya dengan kasus-kasus dengan jenis kesalehan yang berbeda. Kebetulan, keduanya bukan seni pertunjuk-an, dan masuk dalam kategori budaya
pop. Sebagai contoh, dalam tulisan Eric Sasono, ilm-ilm Hanung dibenturkan dengan ilm-ilm-ilm-ilm karya
Chairul Umam yang skenarionya ditulis Asrul Sani.
Atau antara sinetron “islami” dengan ilm-ilm Yas -min Ahmad. Dari dua tulisan di atas, pembaca bisa mengambil kesimpulan adanya, katakanlah, dua ma-cam kesalehan yang kontradiktif. Di satu sisi, ada kesalehan formalistik-skriptualis dan di sisi lainnya ada kesalehan kultural-substansial—senafas dengan dikotomi Gus Dur dan Cak Nur.
Eric Sasono, misalnya, membedah bagaimana As-rul Sani sebagai penulis skenario sering membentur-kan kesalehan konvensional/formalistis dengan jenis kesenian berbeda dari sang protagonis, yaitu kesaleh-an ykesaleh-ang progresif/substkesaleh-ansial. Dkesaleh-an skesaleh-ang tokoh utama selalu direpresentasikan dengan orang dari luar desa atau daerah setempat dan melakukan pembaruan. Hal ini memang jelas terlihat dari al-Kautsar (1977), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983), dan Nada dan
Dakwah (1991). Singkat kata, dalam ilm-ilm itu,
Islam adalah agen perubahan dan kemajuan mela-wan elite-elite yang korup (termasuk para pemim-pinnya), dan berupaya menyelamatkan masyarakat yang dekaden dan tereksploitasi dan dimanipulasi
penguasa. Ini jelas berbeda dengan ilm bertema
Islam pasca-1998 semisal Ayat-Ayat Cinta atau Ke-tika Cinta Bertasbih yang lebih berkonsetrasi pada problematika personal dan seakan enggan mengang-kat isu kemasyaramengang-katan seperti judi, pelacuran dan minuman keras, dan seolah-olah tak punya hubung-an lhubung-angsung denghubung-an umat (h. 52-53).
Untuk ilm selepas Orde Baru yang mempunyai
semangat kesalehan yang sama dengan Umam/Sani, Eric mengambil kasus Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan Sang Pencerah (2010). Misalnya, di Sang Pencerah ada adegan otokritik seputar pengrusakan rumah ibadah, yang mengingatkan penonton pada kejadian yang serupa terhadap jemaat Ahmadiyah
tak lama sebelum ilm dirilis. Masalahnya, berbeda dengan ketiga ilm pendahulunya, kedua ilm Ha -nung Bramantyo itu diliputi kontroversi dan pu-nya sedikit perbedaan dalam hal solusi. Misalpu-nya, di Perempuan Berkalung Sorban, banyak kalangan
pesantren yang protes termasuk MUI karena ilm
itu tidak berimbang dalam menggambarkan Islam dan dunia pesantren, dan solusinya adalah, alih-alih menyajikan Islam yang ramah terhadap perem-puan semisal karya-karya Fatimah Mernissi atau Annemarie Schimmel, buku-buku karya penulis “kiri” semisal Pramoedya Ananta Toer. Sementara, di Sang Pencerah, adalah kontroversi seputar
simpli-ikasi kasus Siti Jenar yang dianggap mencemarkan
kemurnian Islam dan intervensi pemegang otoritas politik (Sri Sultan) dalam menyelesaikan sengketa (h. 67).
Kasus kedua, tulisan Timothy Daniels, adalah si-netron “islami” (atau “islamic” TV drama) Nur Kasih yang mengudara di TV3 mulai bulan Mei 2009 (h. 89), disusul oleh Stanza Cinta dan Tahajjud Cinta. Nur Kasih menggambarkan ekspresi dan perwuju-dan norma, nilai, perwuju-dan motif Islam, lengkap dengan adegan salat di masjid dan rumah, penggambaran ta-nah suci, baju takwa, dialog yang berorientasi religi-us (h. 106), yang mayoritas adegan hanya memper-lihatkan etnis Melayu. Dan kali ini, drama televisi
140
Ekky Imanjaya, Mengurai Ketegangan antara Kesalehan dan Seni-Budaya
yang kurang dianggap menggarap tema dan nilai islami oleh masyarakat Malaysia (h. 116), dan bah-kan melanggar aturan agama, seperti penggundulan perempuan pada muallaf (h. 117). Bagi penulis,
ilm-ilm Yasmin adalah idealisme sang sutradara untuk
hidup dengan saling menenggang dan berdampingan dengan etnis dan agama lain di Malaysia, dengan kesalehan yang memang “nyeleneh” karena sifatnya yang inklusif, pluralis, dan berbeda dengan arus uta-ma. Di sini, lagi-lagi ada dua macam jenis “kesaleh-an”, yang satu lebih eksklusif/skriptualis/normatif, dan lainnya cenderung ke arah kesalehan yang bersi-fat kultural-substansial dan lebih terbuka.
Sayangnya, LESBUMI (Lembaga Seniman Bu-dayawan Muslimin Indonesia) yang merupakan or-ganisasi di bawah NU, sedikit sekali dibahas di sini. Padahal, seperti disebut oleh Choirotun Chisaan di Lesbumi, Strategi Politik Kebudayaan, organisasi
yang diotaki oleh Usmar Ismail-Asrul Sani-Djamalud-din Malik ini bergelut dengan upaya mendamaikan kaum ulama (yang resah akan ulah seniman yang berpotensi melanggar hukum Islam dengan karya-karyanya) dan kaum seniman (yang gelisah kepada ulama yang cenderung melarang-larang kreativitas) pada tahun 1960an. Mungkin karena semangat buku ini adalah mencari ekspresi alternatif dan non-arusu-tama, maka Lesbumi tidak dikaji mendalam.
Lepas dari itu, buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mendalami hubungan (kesa-lehan) Islam dengan seni pertunjukan dan budaya pop. Semoga ada volume berikutnya yang mengkaji teater, komik, animasi (misalnya superhero berjilbab
dalam The 99 dan serial TV Boboi Boy), ilm ber-genre
populer (seperti Jaka Sembung yang acap dianggap islami), dan hal-hal lain yang tak tercakup dalam buku ini.
Eriyanto. (2001). Analisis wacana: Pengantar analisis teks media. Yogyakarta:
LKiS.
Eriyanto. (2003). Analisis framing: Konstruksi, ideology, dan politik media.
Yogyakarta: LKiS.
Gerbner, G. (1970). Cultural indicators: The case of violence in television drama. The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, 388(1), 69-81. doi: 10.1177/000271627038800108 Grifin, E. (2012). Communication Communication Communication. New
Daftar Pustaka
York: McGraw-Hill. 366-377.
Guba, E.G. & Lincoln, Y.S. (1994). Competing paradigm in qualitative research. Dalam Denzin, N.K. & Lincoln, Y.S. (Eds.), Handbook of qualitative research. California: Sage Publications, Inc.
Hayes, A. F., & Krippendorff, K. (2007). Answering the call for a standard