• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Waralaba Toko Modern Terhadap Pasar Tradisional (Studi Pada Pasar Tradisional “Pajak Sore” Padang Bulan Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dampak Waralaba Toko Modern Terhadap Pasar Tradisional (Studi Pada Pasar Tradisional “Pajak Sore” Padang Bulan Medan)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI

II. 1 Pasar Tradisional

Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh

pemerintah, pemerintah daerah, swasta, badan usaha milik negara, dan badan

usaha milik daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha

berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,

menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal

kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar

(Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2008 tentang Pedoman

Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Pasal 1 ayat 2).

Pasar tradisional merupakan tempat bertemu antara penjual dan pembeli,

melakukan transaksi secara langsung dengan adanya aktifitas tawar-menawar

harga. Selain itu, pasar tradisional dianggap sebagai pasar basah karena

keadannya yang cenderung tidak nyaman, kotor, kumuh, bahkan menjadi sumber

kemacetan lalu lint

Namun keadaan pasar tradisonal yang seperti ini awalnya tidak menjadi

satu hal yang dihindari oleh sebagian masyarakat karena di pasar tradisional

pembeli bisa melakukan tawar menawar yang memberikan kepuasan khususnya

(2)

hari dalam jumlah, jenis dan harga yang beragam juga dianggap sesuai dengan

keadaan keuangan yang tidak menentu dari masyarakat pada saat krisis. Dan dari

sudut kepentingan pemerintah daerah, keberadaan pasar tradisional juga berperan

penting dalam memberikan pemasukan yang menerus dan langsung kepada kas

pemerintah daerah.

II. 2 Pasar Modern

Pasar modern adalah pasar dimana penjual dan pembeli tidak bertransaksi

secara langsung, melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam

barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara

mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual,

selain bahan makanan seperti buah, sayuran daging, sebagian besar barang lain

yang juga dijual adlah barang-barang yang dapat bertahan lama (Fithrati 2002:1).

Biasanya pasar modern melakukan pengelolaan manajemen yang modern

pula, seperti sistem persediaan barang di gudang yang terukur, penetapan harga

yang pasti, serta kualitas barang yang relatif lebih terjamin karena melalui

penyeleksian terlebih dahulu secara ketat sehingga barang yang rijek atau tidak

memenuhi persyaratan klasifikasi akan ditolak.

Pasar modern ini awalnya menyasar pada masyarakat kelas menengah ke

atas. Namun seiring dengan perubahan di masyarakat dan keinginan memperluas

jangkauan, pasar modern pun menurunkan margin keuntungan dari tiap jenis

produk agar masyarakat dari kelas ekonomi menengah ke bawah juga bisa

membelanjakan uangnya di pasar modern. Pasar modern ini terdiri dari mall,

(3)

pasar serba ada, toko serba ada dan sebagainya. Namun sesuai dengan judul

penelitian yang ditetapkan oleh peneliti, jenis pasar modern yang dibahas pada

penelitian ini terbatas pada pasar modern dengan jenis waralaba toko modern.

II. 2. 1 Toko Modern

Toko modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual

berbagai jenis barang secara eceran yang dapat berbentuk minimarket,

supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk

perkulakan (Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008

tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan

dan Toko Modern, Pasal 1 ayat 5).

Toko modern biasanya dilengkapai berbagai fasilitas yang memberikan

rasa nyaman bagi pembeli yang datang. Mulai dari AC, music, display produk

yang rapi dan teratur, ruangan yang wangi dan bersih hingga pramuniaga yang

bersikap ramah saat menyambut konsumen datang. Transaksi pembayaran pun

dilakukan secara teratur dengan mengantri dan pembeli bisa memilih sistem

pembayaran, secara tunai atau debit. Semua transaksi dan kegiatan ekonomi pada

toko modern ini berlangsung di gerai. Luas gerai ini nantinya menetukan kategori

dari toko modern itu sendiri, antara lain:

1. Gerai minimarket memiliki luas gerai ≤ 400m²

2. Gerai supermarket memiliki luas gerai ≤ 1200m² 3. Gerai department store memiliki luas gerai ≤ 2000m²

II. 2. 2 Waralaba

Waralaba yang saat ini berkembang pesat di Indonesia berasal dari bahasa

(4)

francorum rex” yang artinya bebas dari ikatan, yang mengacu pada kebebasan

untuk memilih hak usaha. Sedangkan pengertian franchise berasal dari bahasa

Perancis abad pertengahan, diambil dari kata “franc” (bebas) dan “francher”

(membebaskan) yang secara umum diartikan sebagai pemberian hak istimewa.

Namun kemudian di Indonesia dialih-bahasakan dengan istilah waralaba yang

diperkenalkan pertama kali oleh Lembaga Pendidikan dan Pengembangan

Manajemen (LPPM). Waralaba berasal dari dua kata yaitu kata "wara" yang

berarti lebih atau istimewa dan kata “laba” yang berarti untung. Sehingga

waralaba berarti usaha yang memberikan laba lebih atau istimewa (Sutedi

2008:7).

Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau

badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka

memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat

dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba

(Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor

68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba Untuk Jenis Usaha Toko Modern Pasal 1

ayat 1)

Dari dimensi bisnis, waralaba dapat didefinisikan sebagai pengaturan

dengan sistem pemberian hak pemakaian nama dagang milik franchisor oleh

pihak independen atau franchisee untuk menjual produk atau jasa sesuai dengan

kesepakatan atau perjanjian (Sutedi 2008:6).

Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia waralaba adalah suatu

(5)

merk (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk

melaksanakan bisnis dengan merk, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang

telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu

(Sutedi 2008:1).

Beberapa istilah yang kerap ditemui dalam sistem usaha waralaba (franchise)

antara lain :

1. Pemberi waralaba (franchisor)

Franchisor adalah pihak pertama baik berupa perorangan ataupun

badan usaha yang memiliki kapasitas untuk memberikan hak

intelektual yang dimilikinya kepada pihak kedua (franchisee) untuk

memanfaatkan segala ciri khas usaha dan segala kekayaan intelektual,

seperti nama, merek dagang, logo dan sistem usaha, dan semua

prosedur yang dimilikinya.

2. Penerima waralaba (franchisee)

Franchisee adalah pihak kedua baik berupa perorangan ataupun

badan usaha yang menerima hak untuk memanfaatkan dan menggunakan

hak atas kekayaan intelektual atau ciri khas usaha yang dimiliki oleh

franchisor.

3. Royalty fee

Royalty fee adalah kontribusi biaya dari operasional usaha franchisee

yang dibayarkan kepada franchisor set iap peri ode pe njualan

bula na n. Royalty fee ini berupa persentase tertentu dari besarnya omset

penjualan franchisee.

(6)

Franchisee fee adalah biaya waralaba berupa kontribusi biaya dari

franchisee kepada franchisor, sebagai imbalan atas pemberian hak

pemanfaatan dan penggunaan hak intelektual franchisor dalam kurun

waktu tertentu. Franchisee fee ini sering juga disebut sebagai one time/

initial fee.

5. Refranchising

Refranchising adalah suatu lokasi yang pada awalnya dimiliki oleh

franchisee tetapi akhirnya gerai tersebut dimiliki (dibeli kembali) dan

dikelola oleh franchisor.

6. Master franchisee

Master franchisee adalah franchisee yang mendapat hak waralaba

langsung dari franchisor yang meliputi are geografis tertentu dan

umumnya meliputi satu wilayah hukum (negara). Master franchise dapat

menjual hak waralabanya kepada area, multiple, maupun individual

franchisee.

7. Multiple franchisee

Franchisee yang memegang hak waralaba untuk lebih dari satu outlet

di area geografis tertentu, tetapi tidak dapat menjual hak waralaba yang

dimilikinya.

8. Individual franchisee

Franchisee yang bertindak atas nama sendiri yang memegang hak

waralaba untuk satu outlet saja dan tidak dapat menjual hak waralaba

(7)

9. Area franchisee

Inividu atau perusahaan yang diberi hak waralaba meliputi cakupan

wilayah geografis yang disepakati sebelumnya dalam perjanjian waralaba.

Area franchisee dalam hal ini diberikan target atau deadline berkaitan

dengan jumlah outlet yang harus dibuka dalam periode waktu tertentu.

Area franchisee dapat menjual hak waralaba yang dimilikinya kepada

individual atau multiple franchisee.

10.Retrofranchising

Retrofranchising adalah lokasi yang dimiliki dan dikelola

sendiri oleh franchisor dan tidak akan dijual (di-franchise-kan)

Suatu usaha dapat diwaralabakan bila setidaknya ada lima syarat minimal, yaitu :

1. Memiliki keunikan

2. Terbukti telah berhasil

3. Memiliki standar

4. Dapat diajarkan/diaplikasikan

5. Menguntungkan (Sutedi 2008:54)

II. 2. 3 Tinjauan Hukum Waralaba

Berbagai peraturan telah dikeluarkan pemerintah untuk menjadi landasan

hukum jalannya bisnis waralaba. Tidak hanya bersifat melegalisasi dan

mendukung, peraturan yang dikeluarkan juga ada yang bertujuan untuk

membatasi agar bisnis waralaba tetap dalam jumlah yang proporsional di pasar.

Peraturan itu antara lain :

(8)

2. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.

53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar

Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

3. Permendag No. 53/MDAG/PER/8/2012 tentang Penyelenggaraan

Waralaba

4. Permendag Nomor 68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba Untuk

Jenis Usaha Toko Modern

Selain peraturan dari pemerintah pusat, pemerintah Kota Medan juga

mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur tentang waralaba yaitu Peraturan

Walikota Medan Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar

Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Namun kemudian seiring

dengan perkebambangan yang terjadi, peraturan ini mengalami perubahan untuk

menyesuaikan dengan pertumbuhan waralaba yang ada. Maka dari itu, pada

tanggal 26 Juli 2012 pemerintah kota medan melalui walikota Medan

mengeluarkan Peraturan Walikota Medan Nomor 23 Tahun 2012 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Walikota Medan Nomor 20 Tahun 2011 Tentang

Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko

Modern.

Tidak sampai disitu, perubahan dirasa masih perlu dilakukan untuk

menciptakan peraturan yang lebih ideal lagi untuk mengatur waralaba di kota

Medan khususnya. Karena itu pemerinath kota Medan kemudian mengeluarkan

Peraturan Walikota Medan Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua

(9)

Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern pada 13

Desember 2012.

II. 2. 4 Waralaba Dan Persaingan Usaha

Salah satu yang membedakan pedagang tradisional dengan para pengusaha

waralaba adalah akses langsung yang dimiliki pengusaha waralaba dengan

produsen, sehingga mereka bisa menurunkan harga pokok penjualan, yang pada

akhirnya mampu membuat pengusaha waralaba menawarkan harga yang lebih

rendah. apalagi ditambah dengan semakin banyaknya gerai-gerai waralaba toko

modern yang tersebar, memegang pangsa pasar dengan persentase yang sangat

tinggi, bukan tidak mungkin satu saat akan terbentuk kartel.

Tapi ternyata waralaba merupakan jenis usaha yang dikecualikan tunduk

pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Dikecualikan dari ketentuan UU No. 5 Tahun 1999, perjanjian yang

berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual seperti lisensi, paten, merek

dagang, hak cipta, desain produk industri, rangkaian elektronik terpadu, dan

rahasia dagang, serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba (UndangUndang

No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Tidak Sehat, Pasal 50 huruf b).

Ada beberapa alasan yang mendukung hal ini. Pertama, bisnis waralaba

termasuk dalam golongan usaha kecil dan menengah. Kedua, waralaba merupakan

suatu sistem pemasaran yang vertikal dimana salah satu pihak diberikan hak untuk

(10)

penemuan atau ciri-ciri yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan

berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut dalam rangka

penyediaan dan/atau penjualan barang dan/atau jasa (Sutedi 2008:148)

Jika dilihat sepintas, isi ketentuan Pasal 50 huruf b Undang-undang

Antimonopoli ini seolah-olah menyatakan waralaba secara jelas dan pasti

dikecualikan dari jangkauan Undang-Undang Antimonopoli. Tapi sebenarnya

tidak, sebab yang dikecualikan adalah sistem waralabanya, sedangkan tindakan

pelaku usaha waralaba tidak dikecualikan. Jadi apabila pelaku usaha waralaba

melakukan persaingan usaha tidak sehat, ia dapat terkena Undang-Undang

Antimonopoli (Sutedi 2008:149)

II. 3 Penjualan

Penjualan merupakan fungsi yang paling penting dalam pemasaran karena

menjadi tulang punggung kegiatan untuk mencapai pasar yang dituju (Swastha

dan Sukotjo 2002:183).

Atau dapat juga dikatakan sebagai salah satu usaha manusia untuk

memperoleh imbalan berupa uang sejumlah tertentu sesuai persetujuan bersama

dengan menyampaikan suatu barang atau produk bagi pihak yang membutuhkan.

Fungsi penjualan merupakan sumber pendapatan yang diperlukan untuk

menutup ongkos-ongkos dengan harapan bisa mendapatkan laba. Jika barang

diproduksi, atau dibeli untuk kemudian dijual kembali, maka harus diusahakan

sejauh mungkin agar barang tersebut dapat terjual. Oleh karena itu perlu adanya

(11)

sebagainya. Selain mendapatkan laba, kegiatan penjualan juga dilakukan untuk

menunjang pertumbuhan dan mencapai volume penjualan.

II. 3. 1 Volume Penjualan

Volume penjualan merupakan hasil akhir dari hasil penjualan produk dan

dihitung secara total baik kredit maupun tunai dalam jangka waktu tertentu.

Volume penjualan biasanya berbanding lurus dengan laba yang diperoleh. Jika

volume penjualan meningkat dan biaya distribusi menurun maka tingkat

pencapaian laba meningkat, tetapi sebaliknya bila volume penjualan menurun

maka laba yang diperoleh juga menurun. Dalam hal ini pembeli menurun, volume

penjualan berkurang, semua biaya mungkin tidak dapat ditutup dan akhirnya

perusahaan bisa menderita rugi (Swastha dan Sukotjo 2002:211).

Adapun usaha untuk meningkatkan volume penjualan tersebut antara lain :

a. Menjajakan produk agar dilihat konsumen

b. Tata letak atau display produk

c. Analisa pasar

d. Menentukan calon pembeli atau konsumen potensial

e. Discount atau potongan harga

II. 4 Pemasaran

Pemasaran berbeda dengan penjualan. Theodore Levitt menyatakan bahwa

penjualan berfokus pada kebutuhan penjual; pemasaran berfokus pada kebutuhan

pembeli. Penjualan didasari oleh kebutuhan penjual untuk mengubah produknya

(12)

pelanggan melalui produk dan hal-hal yang berhubungan dengan menciptakan,

menghantarkan dan akhirnya mengkonsumsinya. Untuk itu, pemasaran bisa

dikatakan sebagai kunci untuk mempertahankan kelangsungan perkembangan dan

perluasan perusahaan (Kotler dan Keller 2000:20)

Pemasaran juga adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan

kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan

dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain (Kotler dan

Amstrong, 2001:7).

Dengan demikian terdapat unsur-unsur penting dalam pemasaran, yaitu:

a. Kebutuhan dan keinginan konsumen

b. Adanya kebutuhan produk yang dianggap mampu memuaskan kebutuhan

c. Adanya pertukaran dan membutuhkan tempat untuk pertukaran yaitu pasar

Selain itu di zaman modern seperti saat ini pemasaran memiliki konsep

yang disebut sebagai Marketing Mix, yang sangat menentukan keberhasilan

pengusaha dalam mengejar maksimum profit. Marketing Mix atau bauran

Pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk

terus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran (Kotler 2002:18).

Unsur-unsur dalam Marketing Mix biasa disebut 4P, yaitu:

a. Product (produk)

Produk adalah sesuatu yang dijual. Produk lebih dari sesuatu yang nyata dan

jelas, produk merupakan suatu kesatuan dari nilai tambah yang mampu

(13)

b. Price (harga)

Harga adalah faktor dari marketing mix yang ditunjukkan dari berapa banyak

seorang konsumen diharuskan untuk membayar.

c. Place (tempat/distribusi)

Place adalah metode distribusi yang diadaptasi antara produk dengan

konsumen. Tujuannya adalah menghubungkan antara persediaan dengan

permintaan yang ada.

d. Promotion (promosi)

Promosi adalah cara bagi sebuah perusahaan untuk menyediakan informasi

bagi target pasar aan penawaran mereka, baik melalui iklan, public relation,

dan promosi penjualan.

Setiap pihak yang melakukan kegiatan pemasaran juga harus mengatur

arus informasi pemasarannya. Sistem informasi manajemen atau pemasaran

adalah serangkaian subsistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi

secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi

informasi lewat serangkaian cara, untuk mengambil keputusan sesuai dengan

tujuan yang telah ditetapkan (Anoraga 1997:203). Sistem informasi pemasaran

terdiri dari orang-orang, peralatan, dan prosedur-prosedur untuk mengumpulkan,

menyortir, menganalisa, mengevaluasi dan mendistribusikan informasi dengan

tepat waktu, akurat dan dibutuhkan kepada pembuat keputusan pemasaran (Kotler

1997:97). Sistem informasi tersebut terdiri dari empat komponen yaitu:

a. Sistem pencatatan internal yang meliputi informasi siklus pesanan ke

(14)

b. Sistem intelijensi pemasaran, serangkaian prosedur dan sumber yang

digunakan untuk memperoleh informas harian tentang perkembangan

dalam lingkungan pemasaran.

c. Sistem riset yang memungkinkan rancangan sistematis, pengumpulan,

analisa dan pelaporan data dan temuan yang relevan dengan situasi

pemasaran tertentu.

d. Sistem pendukung keputusan pemasaran terkomputerisasi yang membantu

dalam menginterpretasikan data dan informasi relevan serta menjadikan

mereka sebagai dasar tindakan pemasaran.

Riset juga menjadi satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemasaran.

Riset pemasaran adalah perancangan, pengumpulan , analisa dan pelaporan data

yang sistematis dan temuan-temuan yang relevan dengan situasi tertentu yang

dihadapi. Alasan utama dilakukannya riset pemasaran adalah untuk menemukan

peluang pasar (Kotler 1997:125).

Pemasaran juga melihat bagaimana kulaitas pelayanan yang pada akhirnya

menimbulkan rasa nyaman bagi konsumennya. Sebab konsumen tentu cenderung

lebih menyukai hal yang dapat menimbulkan rasa nyaman. Seperti yang dikatakan

oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry pada (Kotler 2000), salah satu hal yang

perlu diperhatikan untuk memberi rasa nyaman pada pelanggan adalah dengan

menerapkan Serve Equal, yaitu:

a. Reliability : kehandalan dalam menghadapi dan melayani konsumen atau

kemampuan untu menampilkan secara tepat pelayanan yang sudah

(15)

b. Responsiveness : sikap dan keinginan untuk tanggap melayani pelanggan

c. Assurance : pengetahuan dan kemampuan yang bisa dipercaya dari pihak

pemasar.

d. Emphaty : kemampuan untuk peduli dan memperhatikan pelanggan secara

mendalam dan mampu menyesuaikan dan berbaur dengan pelanggan.

e. Tangibles : penampilan yang menggambarkan suatu nilai lebih misalnya

dari fasilitas, peralatan, pegawai maupun materi komunikasi.

Selain Serve Equal, faktor keamanan atau sekuritas juga diperlukan untuk

menimbulkan perasaan nyaman bagi pelanggan. Sebab bagaimana mungkin

seseorang bisa nyaman berbelanja atau membeli suatu barang jika ditempat dia

ingin membeli barang tersebut banyak terjadi tindakan kriminal, tidak aman dan

berbahaya. Untuk itu faktor keamanan atau sekuritas pada pembelanja juga perlu

menjadi prioritas dalam menetapkan strategi pemasaran.

Kegiatan pemasaran juga perlu didukung dengan adanya kerjasama antar

beberapa pihak dalam satu jaringan yang membantu mereka untuk saling

terhubung satu sama lain. Sebab tanpa disadari tidak ada pihak pemasar atau

bahkan pedagang yang berdiri sendiri. Kegiatan pemasaran dan perdagangan yang

mereka jalankan terlebih dahulu melewati rantai pasokan mulai dari produsen,

distributor, pedagang akhir hingga ke konsumen nantinya. Jika tidak ada

kerjasama dari berbagai pihak tersebut tentunya akan menghambat proses

pemasaran yang direncanakan. Dan satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah

(16)

kegiatan opereasional yang dijalankan benar-benar legal, sah, tidak ada indikasi

melanggar hukum sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Sedangkan yang menjadi fungsi pokok dari pemasaran adalah:

a. Penjualan

Fungsi penjualan merupakan sumber pendapatan untuk bisa mendapatkan

laba

b. Pembelian

Fungsi pembelian betujuan memilih barang yang dibeli untuk dijual atau

digunakan dalam perusahaan dengan harga, pelayanan dari penjual dan

kualitas produk tertentu

c. Pengankutan

Pengangkutan merupakan fungsi pemindahan barang dari tempat barang

dihasilkan ke tempat barang dkonsumsikan

d. Penyimpanan

Penyimapanan merupakan fungsi menyiman barang-barang pada saat barang

selesai diproduksi sampai pada saat barang dikonsumsikan

e. Pembelanjaan

Pembelanjaan adalah fungsi mendapatkan modal dari sumber ekstern guna

menyelenggarakan kegiatan pemasaran

f. Penanggungan resiko

Penanggungan resiko adalah fungsi menghindari dan mengurangi resiko yang

berkaitan dengan pemasaran barang

(17)

Standarisasi adalah penentuan batas-batas dasar dalam bentuk spesifikasi

barang-barang hasl manufatur, kadang disebut juga normalisasi. Grading

adalah usaha menggolongkan barang ke dalam golongan standar kualitas

yang telah mendapat pengakuan dunia perdagangan

h. Pengumpulan informasi pasar

Pengumpulan informasi pasar termasuk juga penafsiran keterangan tentang

macam barang yang beredar di pasar, jumlahnya, macam barang yang

dibutuhkan konsumen, harapannya, dan sebagainya (Swastha dan Sukotjo

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif type of pair checks perlu dicoba sebagai alternatif strategi pembelajaran matematika guna meningkatkan kemampuan

Dari perangkat mana pun yang berada dalam segmen jaringan yang sama seperti data embedded system yang dikelola dapat dikirim ke embedded system tanpa

A particular parent revealed that jobs required English much, especially for those who work with the international-based company.Moreover, there are three kinds

jika pengunaan nya secara aromatic jika dipakai sebelum tidur dengan dosis 5 tetes/hari minyak ini bisa anda gunakan sebanyak 50 kali atau 50 hari..

design/method (instruments, data collection and analysis methods) for answering the

Berdasarkan latar persoalan di atas dianggap perlu dilakukan pelatihan guru tentang bagaimana mendesain media presentasi interaktif yang dapat menciptakan

2) Koefisien regresi X1 ( customer relationship marketing ) sebesar 0,308 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 pada variabel customer relationship marketing akan

Untuk pembuatan sistem secara keseluruhan dilakukan beberapa proses, mulai dari input login admin untuk masuk ke dalam aplikasi, kemudian input data pelaku, input kriminal, input