BAB II
KERANGKA TEORI
II. 1 Pasar Tradisional
Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh
pemerintah, pemerintah daerah, swasta, badan usaha milik negara, dan badan
usaha milik daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha
berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,
menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal
kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar
(Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2008 tentang Pedoman
Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
Pasal 1 ayat 2).
Pasar tradisional merupakan tempat bertemu antara penjual dan pembeli,
melakukan transaksi secara langsung dengan adanya aktifitas tawar-menawar
harga. Selain itu, pasar tradisional dianggap sebagai pasar basah karena
keadannya yang cenderung tidak nyaman, kotor, kumuh, bahkan menjadi sumber
kemacetan lalu lint
Namun keadaan pasar tradisonal yang seperti ini awalnya tidak menjadi
satu hal yang dihindari oleh sebagian masyarakat karena di pasar tradisional
pembeli bisa melakukan tawar menawar yang memberikan kepuasan khususnya
hari dalam jumlah, jenis dan harga yang beragam juga dianggap sesuai dengan
keadaan keuangan yang tidak menentu dari masyarakat pada saat krisis. Dan dari
sudut kepentingan pemerintah daerah, keberadaan pasar tradisional juga berperan
penting dalam memberikan pemasukan yang menerus dan langsung kepada kas
pemerintah daerah.
II. 2 Pasar Modern
Pasar modern adalah pasar dimana penjual dan pembeli tidak bertransaksi
secara langsung, melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam
barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara
mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual,
selain bahan makanan seperti buah, sayuran daging, sebagian besar barang lain
yang juga dijual adlah barang-barang yang dapat bertahan lama (Fithrati 2002:1).
Biasanya pasar modern melakukan pengelolaan manajemen yang modern
pula, seperti sistem persediaan barang di gudang yang terukur, penetapan harga
yang pasti, serta kualitas barang yang relatif lebih terjamin karena melalui
penyeleksian terlebih dahulu secara ketat sehingga barang yang rijek atau tidak
memenuhi persyaratan klasifikasi akan ditolak.
Pasar modern ini awalnya menyasar pada masyarakat kelas menengah ke
atas. Namun seiring dengan perubahan di masyarakat dan keinginan memperluas
jangkauan, pasar modern pun menurunkan margin keuntungan dari tiap jenis
produk agar masyarakat dari kelas ekonomi menengah ke bawah juga bisa
membelanjakan uangnya di pasar modern. Pasar modern ini terdiri dari mall,
pasar serba ada, toko serba ada dan sebagainya. Namun sesuai dengan judul
penelitian yang ditetapkan oleh peneliti, jenis pasar modern yang dibahas pada
penelitian ini terbatas pada pasar modern dengan jenis waralaba toko modern.
II. 2. 1 Toko Modern
Toko modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual
berbagai jenis barang secara eceran yang dapat berbentuk minimarket,
supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk
perkulakan (Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008
tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan
dan Toko Modern, Pasal 1 ayat 5).
Toko modern biasanya dilengkapai berbagai fasilitas yang memberikan
rasa nyaman bagi pembeli yang datang. Mulai dari AC, music, display produk
yang rapi dan teratur, ruangan yang wangi dan bersih hingga pramuniaga yang
bersikap ramah saat menyambut konsumen datang. Transaksi pembayaran pun
dilakukan secara teratur dengan mengantri dan pembeli bisa memilih sistem
pembayaran, secara tunai atau debit. Semua transaksi dan kegiatan ekonomi pada
toko modern ini berlangsung di gerai. Luas gerai ini nantinya menetukan kategori
dari toko modern itu sendiri, antara lain:
1. Gerai minimarket memiliki luas gerai ≤ 400m²
2. Gerai supermarket memiliki luas gerai ≤ 1200m² 3. Gerai department store memiliki luas gerai ≤ 2000m²
II. 2. 2 Waralaba
Waralaba yang saat ini berkembang pesat di Indonesia berasal dari bahasa
“francorum rex” yang artinya bebas dari ikatan, yang mengacu pada kebebasan
untuk memilih hak usaha. Sedangkan pengertian franchise berasal dari bahasa
Perancis abad pertengahan, diambil dari kata “franc” (bebas) dan “francher”
(membebaskan) yang secara umum diartikan sebagai pemberian hak istimewa.
Namun kemudian di Indonesia dialih-bahasakan dengan istilah waralaba yang
diperkenalkan pertama kali oleh Lembaga Pendidikan dan Pengembangan
Manajemen (LPPM). Waralaba berasal dari dua kata yaitu kata "wara" yang
berarti lebih atau istimewa dan kata “laba” yang berarti untung. Sehingga
waralaba berarti usaha yang memberikan laba lebih atau istimewa (Sutedi
2008:7).
Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau
badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka
memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat
dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba
(Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor
68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba Untuk Jenis Usaha Toko Modern Pasal 1
ayat 1)
Dari dimensi bisnis, waralaba dapat didefinisikan sebagai pengaturan
dengan sistem pemberian hak pemakaian nama dagang milik franchisor oleh
pihak independen atau franchisee untuk menjual produk atau jasa sesuai dengan
kesepakatan atau perjanjian (Sutedi 2008:6).
Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia waralaba adalah suatu
merk (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk
melaksanakan bisnis dengan merk, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang
telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu
(Sutedi 2008:1).
Beberapa istilah yang kerap ditemui dalam sistem usaha waralaba (franchise)
antara lain :
1. Pemberi waralaba (franchisor)
Franchisor adalah pihak pertama baik berupa perorangan ataupun
badan usaha yang memiliki kapasitas untuk memberikan hak
intelektual yang dimilikinya kepada pihak kedua (franchisee) untuk
memanfaatkan segala ciri khas usaha dan segala kekayaan intelektual,
seperti nama, merek dagang, logo dan sistem usaha, dan semua
prosedur yang dimilikinya.
2. Penerima waralaba (franchisee)
Franchisee adalah pihak kedua baik berupa perorangan ataupun
badan usaha yang menerima hak untuk memanfaatkan dan menggunakan
hak atas kekayaan intelektual atau ciri khas usaha yang dimiliki oleh
franchisor.
3. Royalty fee
Royalty fee adalah kontribusi biaya dari operasional usaha franchisee
yang dibayarkan kepada franchisor set iap peri ode pe njualan
bula na n. Royalty fee ini berupa persentase tertentu dari besarnya omset
penjualan franchisee.
Franchisee fee adalah biaya waralaba berupa kontribusi biaya dari
franchisee kepada franchisor, sebagai imbalan atas pemberian hak
pemanfaatan dan penggunaan hak intelektual franchisor dalam kurun
waktu tertentu. Franchisee fee ini sering juga disebut sebagai one time/
initial fee.
5. Refranchising
Refranchising adalah suatu lokasi yang pada awalnya dimiliki oleh
franchisee tetapi akhirnya gerai tersebut dimiliki (dibeli kembali) dan
dikelola oleh franchisor.
6. Master franchisee
Master franchisee adalah franchisee yang mendapat hak waralaba
langsung dari franchisor yang meliputi are geografis tertentu dan
umumnya meliputi satu wilayah hukum (negara). Master franchise dapat
menjual hak waralabanya kepada area, multiple, maupun individual
franchisee.
7. Multiple franchisee
Franchisee yang memegang hak waralaba untuk lebih dari satu outlet
di area geografis tertentu, tetapi tidak dapat menjual hak waralaba yang
dimilikinya.
8. Individual franchisee
Franchisee yang bertindak atas nama sendiri yang memegang hak
waralaba untuk satu outlet saja dan tidak dapat menjual hak waralaba
9. Area franchisee
Inividu atau perusahaan yang diberi hak waralaba meliputi cakupan
wilayah geografis yang disepakati sebelumnya dalam perjanjian waralaba.
Area franchisee dalam hal ini diberikan target atau deadline berkaitan
dengan jumlah outlet yang harus dibuka dalam periode waktu tertentu.
Area franchisee dapat menjual hak waralaba yang dimilikinya kepada
individual atau multiple franchisee.
10.Retrofranchising
Retrofranchising adalah lokasi yang dimiliki dan dikelola
sendiri oleh franchisor dan tidak akan dijual (di-franchise-kan)
Suatu usaha dapat diwaralabakan bila setidaknya ada lima syarat minimal, yaitu :
1. Memiliki keunikan
2. Terbukti telah berhasil
3. Memiliki standar
4. Dapat diajarkan/diaplikasikan
5. Menguntungkan (Sutedi 2008:54)
II. 2. 3 Tinjauan Hukum Waralaba
Berbagai peraturan telah dikeluarkan pemerintah untuk menjadi landasan
hukum jalannya bisnis waralaba. Tidak hanya bersifat melegalisasi dan
mendukung, peraturan yang dikeluarkan juga ada yang bertujuan untuk
membatasi agar bisnis waralaba tetap dalam jumlah yang proporsional di pasar.
Peraturan itu antara lain :
2. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.
53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
3. Permendag No. 53/MDAG/PER/8/2012 tentang Penyelenggaraan
Waralaba
4. Permendag Nomor 68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba Untuk
Jenis Usaha Toko Modern
Selain peraturan dari pemerintah pusat, pemerintah Kota Medan juga
mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur tentang waralaba yaitu Peraturan
Walikota Medan Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Namun kemudian seiring
dengan perkebambangan yang terjadi, peraturan ini mengalami perubahan untuk
menyesuaikan dengan pertumbuhan waralaba yang ada. Maka dari itu, pada
tanggal 26 Juli 2012 pemerintah kota medan melalui walikota Medan
mengeluarkan Peraturan Walikota Medan Nomor 23 Tahun 2012 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Walikota Medan Nomor 20 Tahun 2011 Tentang
Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko
Modern.
Tidak sampai disitu, perubahan dirasa masih perlu dilakukan untuk
menciptakan peraturan yang lebih ideal lagi untuk mengatur waralaba di kota
Medan khususnya. Karena itu pemerinath kota Medan kemudian mengeluarkan
Peraturan Walikota Medan Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua
Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern pada 13
Desember 2012.
II. 2. 4 Waralaba Dan Persaingan Usaha
Salah satu yang membedakan pedagang tradisional dengan para pengusaha
waralaba adalah akses langsung yang dimiliki pengusaha waralaba dengan
produsen, sehingga mereka bisa menurunkan harga pokok penjualan, yang pada
akhirnya mampu membuat pengusaha waralaba menawarkan harga yang lebih
rendah. apalagi ditambah dengan semakin banyaknya gerai-gerai waralaba toko
modern yang tersebar, memegang pangsa pasar dengan persentase yang sangat
tinggi, bukan tidak mungkin satu saat akan terbentuk kartel.
Tapi ternyata waralaba merupakan jenis usaha yang dikecualikan tunduk
pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dikecualikan dari ketentuan UU No. 5 Tahun 1999, perjanjian yang
berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual seperti lisensi, paten, merek
dagang, hak cipta, desain produk industri, rangkaian elektronik terpadu, dan
rahasia dagang, serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba (UndangUndang
No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat, Pasal 50 huruf b).
Ada beberapa alasan yang mendukung hal ini. Pertama, bisnis waralaba
termasuk dalam golongan usaha kecil dan menengah. Kedua, waralaba merupakan
suatu sistem pemasaran yang vertikal dimana salah satu pihak diberikan hak untuk
penemuan atau ciri-ciri yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan
berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut dalam rangka
penyediaan dan/atau penjualan barang dan/atau jasa (Sutedi 2008:148)
Jika dilihat sepintas, isi ketentuan Pasal 50 huruf b Undang-undang
Antimonopoli ini seolah-olah menyatakan waralaba secara jelas dan pasti
dikecualikan dari jangkauan Undang-Undang Antimonopoli. Tapi sebenarnya
tidak, sebab yang dikecualikan adalah sistem waralabanya, sedangkan tindakan
pelaku usaha waralaba tidak dikecualikan. Jadi apabila pelaku usaha waralaba
melakukan persaingan usaha tidak sehat, ia dapat terkena Undang-Undang
Antimonopoli (Sutedi 2008:149)
II. 3 Penjualan
Penjualan merupakan fungsi yang paling penting dalam pemasaran karena
menjadi tulang punggung kegiatan untuk mencapai pasar yang dituju (Swastha
dan Sukotjo 2002:183).
Atau dapat juga dikatakan sebagai salah satu usaha manusia untuk
memperoleh imbalan berupa uang sejumlah tertentu sesuai persetujuan bersama
dengan menyampaikan suatu barang atau produk bagi pihak yang membutuhkan.
Fungsi penjualan merupakan sumber pendapatan yang diperlukan untuk
menutup ongkos-ongkos dengan harapan bisa mendapatkan laba. Jika barang
diproduksi, atau dibeli untuk kemudian dijual kembali, maka harus diusahakan
sejauh mungkin agar barang tersebut dapat terjual. Oleh karena itu perlu adanya
sebagainya. Selain mendapatkan laba, kegiatan penjualan juga dilakukan untuk
menunjang pertumbuhan dan mencapai volume penjualan.
II. 3. 1 Volume Penjualan
Volume penjualan merupakan hasil akhir dari hasil penjualan produk dan
dihitung secara total baik kredit maupun tunai dalam jangka waktu tertentu.
Volume penjualan biasanya berbanding lurus dengan laba yang diperoleh. Jika
volume penjualan meningkat dan biaya distribusi menurun maka tingkat
pencapaian laba meningkat, tetapi sebaliknya bila volume penjualan menurun
maka laba yang diperoleh juga menurun. Dalam hal ini pembeli menurun, volume
penjualan berkurang, semua biaya mungkin tidak dapat ditutup dan akhirnya
perusahaan bisa menderita rugi (Swastha dan Sukotjo 2002:211).
Adapun usaha untuk meningkatkan volume penjualan tersebut antara lain :
a. Menjajakan produk agar dilihat konsumen
b. Tata letak atau display produk
c. Analisa pasar
d. Menentukan calon pembeli atau konsumen potensial
e. Discount atau potongan harga
II. 4 Pemasaran
Pemasaran berbeda dengan penjualan. Theodore Levitt menyatakan bahwa
penjualan berfokus pada kebutuhan penjual; pemasaran berfokus pada kebutuhan
pembeli. Penjualan didasari oleh kebutuhan penjual untuk mengubah produknya
pelanggan melalui produk dan hal-hal yang berhubungan dengan menciptakan,
menghantarkan dan akhirnya mengkonsumsinya. Untuk itu, pemasaran bisa
dikatakan sebagai kunci untuk mempertahankan kelangsungan perkembangan dan
perluasan perusahaan (Kotler dan Keller 2000:20)
Pemasaran juga adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan
dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain (Kotler dan
Amstrong, 2001:7).
Dengan demikian terdapat unsur-unsur penting dalam pemasaran, yaitu:
a. Kebutuhan dan keinginan konsumen
b. Adanya kebutuhan produk yang dianggap mampu memuaskan kebutuhan
c. Adanya pertukaran dan membutuhkan tempat untuk pertukaran yaitu pasar
Selain itu di zaman modern seperti saat ini pemasaran memiliki konsep
yang disebut sebagai Marketing Mix, yang sangat menentukan keberhasilan
pengusaha dalam mengejar maksimum profit. Marketing Mix atau bauran
Pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk
terus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran (Kotler 2002:18).
Unsur-unsur dalam Marketing Mix biasa disebut 4P, yaitu:
a. Product (produk)
Produk adalah sesuatu yang dijual. Produk lebih dari sesuatu yang nyata dan
jelas, produk merupakan suatu kesatuan dari nilai tambah yang mampu
b. Price (harga)
Harga adalah faktor dari marketing mix yang ditunjukkan dari berapa banyak
seorang konsumen diharuskan untuk membayar.
c. Place (tempat/distribusi)
Place adalah metode distribusi yang diadaptasi antara produk dengan
konsumen. Tujuannya adalah menghubungkan antara persediaan dengan
permintaan yang ada.
d. Promotion (promosi)
Promosi adalah cara bagi sebuah perusahaan untuk menyediakan informasi
bagi target pasar aan penawaran mereka, baik melalui iklan, public relation,
dan promosi penjualan.
Setiap pihak yang melakukan kegiatan pemasaran juga harus mengatur
arus informasi pemasarannya. Sistem informasi manajemen atau pemasaran
adalah serangkaian subsistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi
secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi
informasi lewat serangkaian cara, untuk mengambil keputusan sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan (Anoraga 1997:203). Sistem informasi pemasaran
terdiri dari orang-orang, peralatan, dan prosedur-prosedur untuk mengumpulkan,
menyortir, menganalisa, mengevaluasi dan mendistribusikan informasi dengan
tepat waktu, akurat dan dibutuhkan kepada pembuat keputusan pemasaran (Kotler
1997:97). Sistem informasi tersebut terdiri dari empat komponen yaitu:
a. Sistem pencatatan internal yang meliputi informasi siklus pesanan ke
b. Sistem intelijensi pemasaran, serangkaian prosedur dan sumber yang
digunakan untuk memperoleh informas harian tentang perkembangan
dalam lingkungan pemasaran.
c. Sistem riset yang memungkinkan rancangan sistematis, pengumpulan,
analisa dan pelaporan data dan temuan yang relevan dengan situasi
pemasaran tertentu.
d. Sistem pendukung keputusan pemasaran terkomputerisasi yang membantu
dalam menginterpretasikan data dan informasi relevan serta menjadikan
mereka sebagai dasar tindakan pemasaran.
Riset juga menjadi satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemasaran.
Riset pemasaran adalah perancangan, pengumpulan , analisa dan pelaporan data
yang sistematis dan temuan-temuan yang relevan dengan situasi tertentu yang
dihadapi. Alasan utama dilakukannya riset pemasaran adalah untuk menemukan
peluang pasar (Kotler 1997:125).
Pemasaran juga melihat bagaimana kulaitas pelayanan yang pada akhirnya
menimbulkan rasa nyaman bagi konsumennya. Sebab konsumen tentu cenderung
lebih menyukai hal yang dapat menimbulkan rasa nyaman. Seperti yang dikatakan
oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry pada (Kotler 2000), salah satu hal yang
perlu diperhatikan untuk memberi rasa nyaman pada pelanggan adalah dengan
menerapkan Serve Equal, yaitu:
a. Reliability : kehandalan dalam menghadapi dan melayani konsumen atau
kemampuan untu menampilkan secara tepat pelayanan yang sudah
b. Responsiveness : sikap dan keinginan untuk tanggap melayani pelanggan
c. Assurance : pengetahuan dan kemampuan yang bisa dipercaya dari pihak
pemasar.
d. Emphaty : kemampuan untuk peduli dan memperhatikan pelanggan secara
mendalam dan mampu menyesuaikan dan berbaur dengan pelanggan.
e. Tangibles : penampilan yang menggambarkan suatu nilai lebih misalnya
dari fasilitas, peralatan, pegawai maupun materi komunikasi.
Selain Serve Equal, faktor keamanan atau sekuritas juga diperlukan untuk
menimbulkan perasaan nyaman bagi pelanggan. Sebab bagaimana mungkin
seseorang bisa nyaman berbelanja atau membeli suatu barang jika ditempat dia
ingin membeli barang tersebut banyak terjadi tindakan kriminal, tidak aman dan
berbahaya. Untuk itu faktor keamanan atau sekuritas pada pembelanja juga perlu
menjadi prioritas dalam menetapkan strategi pemasaran.
Kegiatan pemasaran juga perlu didukung dengan adanya kerjasama antar
beberapa pihak dalam satu jaringan yang membantu mereka untuk saling
terhubung satu sama lain. Sebab tanpa disadari tidak ada pihak pemasar atau
bahkan pedagang yang berdiri sendiri. Kegiatan pemasaran dan perdagangan yang
mereka jalankan terlebih dahulu melewati rantai pasokan mulai dari produsen,
distributor, pedagang akhir hingga ke konsumen nantinya. Jika tidak ada
kerjasama dari berbagai pihak tersebut tentunya akan menghambat proses
pemasaran yang direncanakan. Dan satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah
kegiatan opereasional yang dijalankan benar-benar legal, sah, tidak ada indikasi
melanggar hukum sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Sedangkan yang menjadi fungsi pokok dari pemasaran adalah:
a. Penjualan
Fungsi penjualan merupakan sumber pendapatan untuk bisa mendapatkan
laba
b. Pembelian
Fungsi pembelian betujuan memilih barang yang dibeli untuk dijual atau
digunakan dalam perusahaan dengan harga, pelayanan dari penjual dan
kualitas produk tertentu
c. Pengankutan
Pengangkutan merupakan fungsi pemindahan barang dari tempat barang
dihasilkan ke tempat barang dkonsumsikan
d. Penyimpanan
Penyimapanan merupakan fungsi menyiman barang-barang pada saat barang
selesai diproduksi sampai pada saat barang dikonsumsikan
e. Pembelanjaan
Pembelanjaan adalah fungsi mendapatkan modal dari sumber ekstern guna
menyelenggarakan kegiatan pemasaran
f. Penanggungan resiko
Penanggungan resiko adalah fungsi menghindari dan mengurangi resiko yang
berkaitan dengan pemasaran barang
Standarisasi adalah penentuan batas-batas dasar dalam bentuk spesifikasi
barang-barang hasl manufatur, kadang disebut juga normalisasi. Grading
adalah usaha menggolongkan barang ke dalam golongan standar kualitas
yang telah mendapat pengakuan dunia perdagangan
h. Pengumpulan informasi pasar
Pengumpulan informasi pasar termasuk juga penafsiran keterangan tentang
macam barang yang beredar di pasar, jumlahnya, macam barang yang
dibutuhkan konsumen, harapannya, dan sebagainya (Swastha dan Sukotjo