UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN TEKNIK BERNYANYI DALAM PEMBELAJARAN PADUAN SUARA DI SD NEGERI 1 PREMBUN MENGGUNAKAN METODE DRILL.

106 

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh : Andre Firmanto

08208241009

JURUSAN PENDIDIKAN SENI MUSIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

i . SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh : Andre Firmanto

08208241009

JURUSAN PENDIDIKAN SENI MUSIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)

v

Apa yang kita inginkan tidak selalu Tuhan berikan, tapi apa yang kita butuhkan Tuhan selalu menyediakan

“mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

(7)

vi

 Nenekku “mbah Harsono‟ yang sangat menyayangiku

 Bapak ibu yang sudah meninnggalkan keluarga untuk kembali menghadapNya.  Bulikku Harsi Utami dan om Subur yang telah merawat keluarga

 Mbak Ana dan mas Tito yang sudah kurepotkan

 Untuk adikku yang sudah mendahuluiku berumah tangga

(8)

vii

yang melimpah akhirnya saya dapat menyelesaikan skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar sarjana.

Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, saya menyampaikan terima kasih secara tulus kepada Ketua Jurusan Pendidikan Seni Musik yang telah memberikan kesempatan dan berbagai kemudahan kepada saya.

Rasa hormat terima kasih, dan penghargaan setingi-tingginya saya sampaikan kepada kedua pembimbing, yaitu bapak H.T.Silaen,S.Mus.,M.Hum dan ibu Francisca Xaveria Diah Kristianingsih, S.Pd.,M.A. yang penuh kesabaran, kearifan, dan kebijaksanaan telah memberikan bimbingan, arahan, dan dorongan yang tidak henti-hentinya di sela-sela kesibukannya.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada ibu Suparmi,S.Pd selaku kepala SD N 1 Prembun dan ibu Hj.Nurhayati, S.Pd selaku Pembina kesenian sekaligus kolaborator yang telah memberikan kesempatan untuk berlangsungnya penelitian dalam skripsi ini, dan memberikan masukan serta berbagai pengalamannya. Tidak lupa juga ucapan terima kasih kepada siswa-siswi anggota paduan suata SD Negeri 1 Prembun yang telah membantu penelitian ini.

(9)
(10)

ix

1. Pengembangan Instrumen Penelitian ... 26

(11)

x

B. Pembahasan ... 60

C. Keterbatasan Penelitian ... 63

BAB V PENUTUP ... 64

A. Kesimpulan ... 64

B. Rencana Tindak Lanjut ... 64

(12)

xi

(13)

xii

Gambar 3. Bentuk Bibir Vokal“ u “ …..……….. 10

Gambar 4. Bentuk Bibir Vokal “ e “ …..……….. 10

Gambar 5. BentukBibir Vokal“ o “ …..……….. 11

Gambar 6. Intonasi ………...…..……….. 12

Gambar 7. Tangganada Mayor ………...……….. 13

Gambar 8. Siklus PTK Kemmis & Mc Taggart...…..………….……….. 25

Gambar 9. Pemanasan 1 ………...…..……….. 37

Gambar 10. Pemanasan 2 ………...…..……..……….. 38

(14)

xiii

NIM 08208241009

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan upaya peningkatan kemampuan bernyanyi pada kelompok ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun menggunakan metode drill. Permasalahan dalam peneltian ini adalah penguasaan teknik bernyanyi siswa yang masih rendah dalam kelompok ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun, sehingga perlu upaya untuk meningkatkannya.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis & Mc.Taggart yang dilakukan dalam 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 4 kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu : 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Subyek dalam penelittian ini adalah anggota kelompok ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun yang berjumlah 25 siswa, yang terdiri dari siswa kelas IV, V dan VI. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik tes yaitu pre-test dan post-test. Dalam penelitian ini, validitas yang digunakan adalah validitas demokratik, validitas hasil, validitas proses, dan validitas katalitik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode drill dapat meningkatan kemampuan bernyanyi dalam pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun. Dari tes pra-siklus, nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 57. Pada siklus I, nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah sebesar 71. Hasil nilai dari pra-siklus ke siklus I terjadi peningkatan sebesar 24,56 %. Pada akhir siklus II, nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah sebesar 85,20. Nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 20%. Berdasarkan hasil tes tersebut, pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun menggunakan metode drill dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bernyanyi.

(15)

1 A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang dalam masyarakat suatu Negara. Ibarat sebuah jantung yang terdapat dalam tubuh manusia, demikianlah peranan pendidikan. Maju tidaknya suatu negara tergantung dari peranan pendidikan dalam meningkatkan sumber daya manusia. Melalui pendidikan yang berkualitas diharapkan mampu membentuk manusia yang terampil dan cakap unttuk mampu menggunakan tekhnologi-tekhnologi modern serta mampu mengambil peluang kerja di era pasar bebas.

Proses pendidikan terjadi melalui kegiatan belajar mengajar, yaitu melibatkan pendidik, siswa yang terdidik, serta kurikulum untuk mengatur suksesnya kegiatan belajar mengajar. Pendidik sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam proses kegiatan belajar mengajar merupakan faktor penting yang memegang kunci keberhasilan pendidikan, sehingga dalam prakteknya pendidik harus dapat menciptakan proses belajar mengajar yang baik, yang mampu mengembangkan potensi serta ketrampilan yang dimiliki oleh peserta didiknya.

(16)

Di Negara kita Indonesia, pendidikan terbagi kedalam beberapa jenjang, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Pendidik dalam setiap jenjang tentunya memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini dikarenakan cara berpikir siswa juga berbeda di setiap jenjangnya. Dengan perbedaan cara berpikir ini maka pendidik sangat menentukan sekali dalam keberhasilan tersampaikannya materi pelajaran.

SD Negeri 1 Prembun adalah salah satu SD negeri di kabupaten Kebumen yang berlokasi di kecamatan Prembun. Tujuan dari SD tersebut adalah mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan budi pekerti, serta ketrampilan untuk siap lanjut kejenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai pribadi yang beriman, berbudi pekerti luhur, peka akan lingkungan sesamanya, berkualitas, berjiwa merdeka dan percaya diri serta bekerja keras menuju pembentukan manusia seutuhnya.

SD Negeri 1 Prembun memiliki beberapa kegiatan Ekstrakurikuler guna memberikan ketrampilan individu bagi siswa-siswinya. Salah satu kegiatan ekstrakurikuler adalah paduan suara. Ekstrakurikuler paduan suara di SD tersebut dikemas dalam format paduan suara untuk SD, yaitu sopran 1 dan sopran 2. Tujuan diadakan ekstrakurikuler tersebut untuk pelatihan bernyanyi bagi siswa-siswi yang ingin belajar bernyanyi. Hasil ekstrakurikuler paduan suara biasanya digunakan dalam tugas bernyanyi pada acara – acara sekolah seperti lomba atau rapat bersama wali murid serta beberapa kegiatan lainnya.

(17)

Kesulitan membaca notasi juga menjadi kendala pada anggota ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun. Hampir semua anggota belum bisa membaca notasi dengan tepat. Apalagi untuk anggota yang tidak memiliki latar belakang pendidikan musik, sangat sulit untuk membaca notasi dengan tepat dan benar. Pada saat latihan biasanya siswa bernyanyi dengan cara menirukan. Pelatih menyanyikan materi lagu yang akan diajarkan terlebih dahulu secara langsung, lalu mereka menirukan nada lagu yang telah dicontohkan tersebut, sehingga mereka bernyanyi tanpa membaca notasi lagunya. Disamping itu, frekuensi mereka untuk latihan bernyanyi sangat kurang. Mungkin mereka berlatih bernyanyi hanya pada waktu kegiatan ekstrakurikuler berlangsung, selanjutnya mereka tidak melakukan latihan individu guna melatih ketrampilan individu di rumah guna meningkatkan ketrampilannya.

Anak-anak anggota ekstrakurikuler paduan suara di sekolah ini adalah siswa-siswi yang duduk di kelas IV dan V SD berusia sekitar 10 - 11 tahun, dan sudah mengikuti perkembangan tekhnologi yang terjadi di muka bumi ini. Sebagai contoh mereka melihat televisi, mendengarkan radio atau mp3 melalui telephone seluler. Lagu-lagu yang terdengar melalui alat elektronik tersebut nampaknya membuat siswa senang karena dianggap mengikuti perkembangan jaman sehingga anak-anak sering menyanyikan. Dalam pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara di SD N 1 Prembun lagu-lagu yang dinyanyikan hanya lagu nasional dan perjuangan dengan satu suara. Bagi anak-anak lagu seperti ini adalah lagu sekolahan, sehingga mereka jarang untuk berlatih menyanyi di luar kegiatan ekstrakurikuler.

Melihat situasi seperti ini peneliti berencana meningkatkan kemampuan bernyanyi para siswa, sehingga siswa bernyanyi dengan baik dan benar tidak hanya pada saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler saja. Salah satu langkah yang hendak diambil peneliti adalah melalui aransemen lagu popular 2 suara.

(18)

ini menjadi soundtrack acara di televisi yang mungkin sering didengar oleh anak-anak.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, dapat diidentifikasi beberapa kemungkinan permasalahan, antara lain :

a) Siswa belum menguasai dasar-dasar teknik bernyanyi. b)Siswa masih kesulitan mempelajari notasi.

c) Frekuensi latihan bernyanyi anggota paduan suara masih sangat kurang.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah upaya meningkatkan kemampuan bernyanyi dalam paduan suara di SD Negeri 1 Prembun menggunakan metode drill?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan upaya peningkatkan kemampuan bernyanyi dalam paduan suara di SD Negeri 1 Prembun menggunakan metode drill.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi beberapa pihak, antara lain :

1. Manfaat Praktis

(19)

penelitian-penelitian selanjutnya, dan dapat dikembangkan lagi menjadi penelitian-penelitian yang baru.

b) Bagi tempat penelitian, yaitu SD Negeri 1 Prembun, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan mengambil kebijakan dalam pembelajaran musik di kelas, mengingat keterbatasan waktu dalam setiap pembelajaran.

2. Manfaat Teoritis

a) Bagi tenaga pendidik, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai apresiasi pembelajaran menyanyi di kelas kaitannya dengan keterbatasan waktu pertemuan / tatap muka sehubungan dengan tugasnya sebagai tenaga pendidik dalam dunia pendidikan.

(20)

6

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tak luput dari interaksi dengan orang lain. Salah satunya yang sudah pasti orang lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah interaksi melalui suara, yaitu dengan bercakap-cakap, ngobrol, ataupun kegiatan-kegiatan lainnya seperti di sekolah, di rumah, di termpat kerja, dan dimanapun berada.Suara yang kita gunakan berasal dari mulut, berisi dengan 26 huruf, yang tersusun dalam kata dan kalimat.

Salah satu cara berinteraksi yang menarik adalah bernyanyi. Bernyanyi berbeda dengan berbicara, untuk dapat bernyanyi dengan baik dan benar membutuhkan teknik-teknik tertentu sedangkan berbicara tidak. Orang melalui bernyanyi bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang indah untuk didengarkan orang lain, perasaan senang, sedih, marah, dan perasaan yang lain. Bernyanyi adalah suatu kegiatan mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui nada dan kata-kata ( Jamalus, 1988:49).

Untuk dapat bernyanyi dengan baik dan benar diperlukan pengetahuan dan latihan-latihan, seperti sikap tubuh yang baik, cara bernapas, cara mengucapkan, dan cara untuk memproduksi suara yang baik. Dengan menguasai teknik bernyanyi tentunya lagu yang dinyanyikan akan lebih bagus dan diterima oleh pendengar.

(21)

mulut untuk mengatur pengeluaran suara sehingga membentuk pengucapan yang sempurna.

1. Kemampuan Bernyanyi

Menurut Rudy ( 2008 : 47 ) “untuk dapat bernyanyi dengan benar,

seseorang harus menguasai teknik pernapasan dengan baik, dapat menempatkan nada-nada dengan benar, tempo yang tepat, dan artikulasi

atau pengucapan kata dengan jelas, sesuai nilai yang telah ditentukan”.

a. Teknik Pernapasan

(22)

yang keluar dikarenakan diafragma yang mendorong dari bawah dibantu otot-otot perut. Pengeluaran udara dapat diatur sesuai kebutuhan dan udara yang dihasilkan menjadi lebih stabil serta meyakinkan.

Dari ketiga teknik pernapasan terebut, teknik pernapasan diafragma merupakan teknik yang paling baik digunakan pada saat bernyanyi. Namun diperlukan latihan-latihan yang teratur untuk dapat menguasainya. Latihan otot-otot perut dapat dilakukan dengan latihan berikut : keluarkan napas terlebih dahulu, tunggulah beberapa saat, kemudian ambil napas melalui hidung dengan cara mengendus, perut akan mengembang dan sisi badan akan melebar. Ini dapat diperiksa atau dirasakan dengan kedua tangan memegang kedua sisi badan. Tahan napas beberapa saat kemudian keluarkan dengan lancar, tanpa paksaan dan yang perlu diingat, janganlah mengambil napas sepenuh-penuhnya dan membuang napas dengan sehabis-habisnya. Hal ini menyebabkan ketegangan dan tidak nyaman pada saat bernyanyi. Dalam bernyanyi ada beberapa kondisi yang menjadi persyaratan untuk memperoleh kemampuan ketrampilan teknik pernapasan vokal yang benar dan baik. Persyaratan tersebut antara lain :

a) Kondisi psikologis yang tenang

b) Konsentrasi pada saat melakukan latihan c) Kesunguhan atau keseriusan dalam berlatih

b. Teknik Artikulasi

(23)

A,I,U,E, dan O. Untuk menguasai teknik artikulassi ini, diperlukan juga latihan yang berkesinambungan.

Untuk produksi vokal “ A”, bentuk bibir seperti corong yang bundar dan rahang bawah diturunkan, gigi atas dan bawah jangan sampai tertutup bibir. Posisi ujung lidah menyentuh gigi bawah.Latihan bisa dilakukan dengan mengucapkan kata-kata yang

mengandung bunyi huruf “a”.misalnya pengucapan kata ma ma ma.

Gambar 1 : bentuk bibir vokal “a”

( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)

Untuk produksi suara “i”, bibir tetap terbuka, sudut bibir kanan dan

kiri ditarik ke belakang dan usahakan gigi atas dan bawah terlihat. Bagian ujung lidah menyentuh gigi bawah sedangkan bagian tengah lidah dinaikan ke atas. Latihan bisa dilakukan dengan mengucapkan

kata yang mengandung bunyi huruf “I”, misalnya pengucapan mi mi

mi.

Gambar 2 : bentuk bibir vokal “i”

( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)

Untuk produksi suara “u” bentuk mulut bundar agak sempit dan

(24)

mengucapkan kata yang mengandung huruf “u”, misalnya pengucapan

mu mu mu.

Gambar 3 : bentuk bibir vokal “u”

( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)

Untuk produksi suara “e” bentuk mulut hampir sama dengan

bentuk mulut pada pengucapan huruf “ i ” , hanya penarikan sudut

bibir kanan dan kiri tidak selebar pada pengucapan huruf “ i “ dan rahang bawah diturunkan. Untuk mengucapkan “ e “ dalam kata

setelah posisi rahang bawah sedikit dimajukan. Untuk melatihnya dapat dilakukan dengan mengucapkan kata yang mengandung huruf

“e”.

Gambar 4 : bentuk bibir vokal “e”

( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)

Untuk produksi suara “o”, bentuk mulut lonjong namun tidak selebar pada saat mengucapkan bunyi vocal “a”. Bentuk mulut saat

mengucapkan huruf “o” pada kata „pohon‟ lebih bundar daripada pengucapan huruf “o” pada kata „obat‟. Posisi lidah sama, yaitu ujung

lidah menyentuh gigi bawah. Latihan dapat dilakukan dengan

(25)

Gambar 5 : bentuk bibir vokal “o” ( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)

Untuk dapat melihat posisi mulut saat bernyanyi, latihan dapat dilakukan di depan cermin. Sehingga setiap posisi dan bentuk mulut yang salah saat bernyanyi dapat segera diperbaiki. Dengan bentuk mulut yang benar maka produksi suara menjadi jelas, tidak membingungkan dan membantu penyampaian isi lagu yang dinyanyikan.

Selain pengucapan vokal ( A, I, U,E, O ) terdapat pula artikulasi yang merangkap dua huruf hidup, atau disebut juga diphthong. Dalam teknik pengucapan ini terdapat dua jenis, yaitu perangkapan dua huruf vokal yang didahului dengan huruf terbuka kemudian diikuti huruf

tertutup.Sebagai contoh perangkapan “au” dalam kata dikau,

tembakau, lampau, atau, sentausa. Perangkapan “ai” ddalam kata

mulai, kedai, selesai, dan helai. Perangkapan “ oi “ dalam kata amboi

dan hoi. Kata-kata tersebut diucapkan dengan pengucapan yang lebih lama dan sedikit ditekan pada huruf vokal yang mendahului dan beralih ke dalam bunyi yang mengikutinya. Jenis yang kedua yaitu perangkapan dua huruf vokal yang didahului dengan huruf tertutup

kemudian diikuti huruf terbuka. Sebagai contoh perangkapan „iu‟ dalam hiu dan perangkapan „ua‟ pada kata tua dan dua. Dalam jenis

(26)

c. Intonasi

Dalam bernyanyi, intonasi sangatlah penting karena sebuah lagu tidak hanya terdiri dari nada-nada yang sama, melainkan variasi dari beragam nada dan harus dinyanyikan sesuai intonasi yang tepat, baik itu nada-nada yang tinggi maupun nada rendah. Intonasi yang tepat akan menghasilkan suara yang jernih serta enak didengar.

Sebuah lagu terdengar merdu dan indah apabila seorang penyanyi membawakannya dengan intonasi yang tepat. Intonasi berasal dari kata intonation yang artinya penalaan, furring of pitch ( Banoe : 2003 ). Dengan kata lain intonasi merupakan ketepatan dalam membunyikan tiap-tiap nada yang ada dalam sebuah lagu ( fals atau tidaknya nada yang dinyanyikan ).

Dalam menyanyi, intonasi merupakan kemampuan dasar membidik nada yang harus dikuasai. Hal ini menjadi dasar dalam menyanyi dikarenakan masing-masing notasi ( not ) dalam tangganada mempunyai nilai frekuensi dan jarak yang berbeda-beda. Pelatihan membidik nada dimulai dengan membaca notasi dalam tangganada, seperti: do, re, mi, fa, sol, la, si, do (tinggi). Berikut penggambarannya :

Gambar 6 : tangganada

(27)

Gambar 7 : tangganada mayor

Untuk memperoleh ketepatan dalam menyanyikan notasi memerlukan latihan yang teratur. Rudi ( 2008 ) untuk mempermudah dalam belajar membaca notasi dapat dilakukan beberapa teknik, antar lain :

a) Menghafalkan nada secara urut dengan bunyi yang tepat, artinya tidak hanya menghafalkan nama nadanya saja ( do, re, mi, dst ), tetapi juga dengan bunyi yang sudah ditetapkan secara internasional. Latihan ini dapat dibantu dengan menggunakan alat musik, misalnya piano.

b) Membaca notasi yang disusun secara acak. Pengacakan nada dapat dilakukan dengan urutan nada yang terdekat terlebih dahulu, kemudian dengan variasi yang berbeda dan wilayah nada yang jauh serta melompat. Latihan ini juga dapat dibantu dengan alat musik, sebagai contoh:

c) Menebak nada dan menirukan nada yang dibunyikan dengan alat musik. Latihan ini digunakan untuk melatih kepekaan

(28)

peka terhadap keselarasan suara, (6) Kurang menguasai dalam membidik nada, (7) Terdapat nada-nada pada batas wilayah suara yang sukar dinyanyikan, (8) Pengucapan huruf hidup yang kurang terbuka, (9) Kecenderungan mengikuti tangganada yang lain, (10) Tidak dapat dalam mencapai nada pada saat menyanyikan nada-nada yang berkesan dinyanyikan ( PML : 1992 ).

d. Tempo

Tempo adalah ukuran kecepatan dalam birama lagu. Ukuran keceptan bisa diukur dengan alat bernama metronome dan alat bernama keyboard. Di dalam keyboard terdapat digital metronome yang bisa berfungsi sebagai pengukur kecepatan dalam birama, misalnya ¾ atau 4/4. Tempo standard lagu pop antara 64-80 atau 100-120, untuk lagu mars bisa antara 140-160.

e. Dinamika

Dinamika adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan keras dan lembutnya permainan sebuah karya musik. Ada beberapa tanda dinamika yang umum digunakan dalam karya musik :

Pp ; pianissimo : sangat lembut

(29)

lagu itu agar makna dari lagu itu bisa lebih bisa ditangkap oleh penikmatnya.

B. Pembelajaran

Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai kemampuan, keterampilan, kompetensi dan sikap. Manusia belajar sejak lahir hingga akhir hayatnya. Mulai dari belajar memegang botol dan mengenal orang yang ada di sekelilingnya, hingga dewasa pun, manusia masih tetap belajar. Baharuddin

(2007:11) menyebutkan bahwa “Kemampuan manusia untuk belajar

merupakan karakter penting yang membedakan manusia dengan makhluk

hidup lainnya”. Belajar merupakan keuntungan, baik bagi individu maupun

masyarakat. Bagi individu, kemampuan untuk belajar secara terus menerus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi. Belajar

merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Perubahan-perubahan tersebut dapat membantu pelaku belajar dalam menyelesaikan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Dalam tindakan belajar, terdapat pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses belajar yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan

sebelumnya. “Belajar adalah proses berpikir dengan menekankan pada proses

mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu

dengan lingkungan”

(Sanjaya, 2006:107). Proses pembelajaran berjalan dengan adanya patokan atau acuan yang disebut dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran.

Rancangan atau rencana tersebut dibuat sebagai “jalan” menuju pendidikan

(30)

dapat memfasilitasi siswa atau peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

C. Metode Penelitian a) Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000:22).

Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.

Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Tujuan pengajaran menggunakan metode demonstrasi adalah untuk memperlihatkan proses terjadinya suatu peristiwa sesuai materi ajar, cara pencapaiannya dan kemudahan untuk dipahami oleh siswa dalam pengajaran kelas.

2. Metode Imitasi

(31)

Pada penggunaan sebuah metode pembelajaran, seorang pengajar vokal tidak cukup dengan hanya menggunakan satu metode tetapi harus berbagai metode. Seseorang yang belajar vokal dapat terlihat peningkatan kemampuannya dengan melihat seberapa jauh penggunaan metode yang dilakukan pengajar. Misalnya pada saat pengajar memberikan satu buah lagu yang sama sekali belum diketahui oleh siswa, pengajar menyanyikan terlebih dahulu secara keseluruhan untuk memberikan sedikit bayangan kepada siswa setelah itu pengajar menyanyikan lagu tersebut per bait yang kemudian siswa menirukannya, atau untuk nada-nada yang sulit diterima oleh siswa terlebih dahulu pengajar menyanyikan lagu tersebut sehingga siswa dapat mengikuti pengajar dan siswa dapat meniru pengajar.

Dengan demikian metode pengajaran khususnya pada vokal sangatlah penting untuk mencapai hasil yang diinginkan, pengajar harus benar-benar menguasai untuk mencapai sebuah tujuan.

3. Metode Driil

Menurut Hamdani (2009:273) : “Metode drill merupakan metode

yang mengajarkan siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan agar siswa memiliki ketegasan atau keterampilan yang lebih tinggi daripada hal-hal

(32)

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali secara kontinyu untuk mendapatkan keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu telah dibekali dengan pengetahuan secara teori. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh guru, siswa diminta mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan terampil.

Tujuan Penggunaan Metode Drill

Menurut Roestiyah (1985:125-126) metode drill biasanya digunakan agar siswa:

a. Memiliki kemampuan menghafalakan kata-kata, menulis, mempergunakan alat.

b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.

c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.

d. Untuk memperoleh suatu ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan melakukannya secara praktis pengetahuan yang telah dipelajari.

Kekurangan dan Kelebihan Metode Drill

Metode drill menurut Djamarah memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a. Kelebihan metode drill

1. Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.

(33)

3. Pemanfaatan kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi yang tinggi dalam pelaksanaannya serta dapat membentuk kebiasaan yang baik.

b. Kekurangan metode drill

1. Latihan yang dilakukan dibawah pengawasan yang ketat dan suasana serius mudah sekali menimbulkan kebosanan.

2. Latihan yang selalu diberikan dibawah bimbingan guru, perintah guru dapat melemahkan inisiatif maupun kreatifitas siswa.

3. Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan bernyanyi anggota paduan suara di SD Negeri 1 Prembun adalah metode drill.

D. Paduan Suara

Menurut Pramudya dalam Wijanarko ( 2013: 9 ) paduan suara merupakan penyajian vokal yang terdiri dari 15 orang atau lebih yang memadukan berbagai warna suara menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat menampakkan jiwa lagu yang dibawakan. Menurut Jamalus (1976:74) paduan suara ialah nyanyian bersama dalam beberapa suara yang dibawakan oleh lebih dari delapan orang.

Ada bermacam-macam jenis paduan suara yang perlu diketahui, antara lain:

1. Paduan suara unisono yaitu paduan suara dengan menggunakan satu suara.

(34)

3. Paduan suara 3 sejenis S – S – A, yaitu paduan suara sejenis dengan menggunakan suara sopran 1, sopran 2, dan alto.

4. Paduan suara 3 suara campuran S – A – B, yaitu paduan suara yang menggunakan 3 suara campuran , contoh : sopran, alto, bass.

5. Paduan suara 3 sejenis T- T – B, yaitu paduan suara 3 suara sejenis pria dengan suara tenor 1, tenor 2, bass.

6. Paduan suara 4 suara campuran, yaitu paduan suara yang mengguanakan suara campuran pria dan wanita, dengan suara S – A – T – B, sopran, alto, tenor, bass.

Untuk paduan suara di SD N 1 Prembun tempat peneliti melakukan penelitian menggunakan paduan suara dengan 2 suara, yaitu suara 1 yang dinyanyikan oleh kelompok perempuan dan suara 2 dinyanyikan kelompok laki-laki.

E.Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian kajian teoritis di atas dapat dirumuskan hipotesis , yaitu metode praktik dalam pembelajaran paduan suara di SD Negeri 1 Prembun dapat meningkatkan kemampuan bernyanyi.

F. Definisi Operasional

1. Paduan suara : merupakan himpunan dari sejumlah penyanyi yang dikelompokkan menurut jenis suaranya, dengan menyanyikan dua harmonisasi suara atau lebih. ( Sitompol : 1986 )

(35)
(36)

22 menit selama 8 kali pertemuan pada bulan Juli.

B. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas ( Class Action Research ). Artinya adalah tindakan yang dilakukan dalam sebuah kelas untuk memperoleh hasil.

Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta mampu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pambelajaran pada suatu kelompok musik. Dalam hal ini pada kelompok paduan suara SD N 1 Prembun kaitannya dengan upaya peningkatan kemampuan anak dalam bernyanyi. Menurut Natawijaya (1997) dalam Narulloh ( 2013 : 23 ), karakteristik Penelitian Tindakan Kelas antara lain :

1.Merupakan prosedur penelitian di tingkat kejadian yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata di tempat yang bersangkutan

2.Diterapkan secara konsektual, artinya variabel-variabel atau faktor-faktor yang ditelaah selalu terkait dengan keadaan dan suasana penelitian

3.Terarah pada perbaikan atau peningkatan suatu kinerja guru di kelas 4.Bersifat fleksibel ( disesuaikan dengan keadaan )

(37)

6.Menyerupai “penelitian eksperimental”, namun tidak secara ketat memperdulikan pengendalian variabel, dan

7.Bersifat situasional dan spesifik, umumnya dolakukan dalam bentuk studi kasus.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas, menurut Muslich ( 2002 : 4 )

1. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam mengatasi masalah pembelajaran yang menjadi tugas utamanya

2. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi peningkatan sikap professional guru

3. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi perbaikan dan /atau peningkatan kinerja belajar dan kompetensi siswa

4. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi perbaikan dan /atau peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas

5. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi perbaikan dan /atau peningkatan penggunaan media, alat bantu dengar, dan sumber belajar lainnya

6. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi perbaikan dan /atau peningkatan kualitas prosedur dan alaat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa

7. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi perbaikan dan /atau pengembangan pribadi siswa di sekolah

8. Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas terjadi perbaikan dan /atau peningkatan kualitas penerapan kurikulum.

(38)

Maksudnya adalah setiap langkah yang dilakukan dalam Penelitian Tindakan Kelas harus dilakukan dengan terprogram dan penuh kesabaran sehingga dapat diketahui aspek-aspek mana yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki demi ketercapaian kompetensi yang ditargetkan.

C. Subyek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah angggota ekstrakurikuler paduan suara yang merupakan anak-anak kelas IV dan V di SD N 1 Prembun sebanyak 25 siswa dengan usia rata-rata 10 – 11 tahun yang karakteristik dalam proses pembelajarannya sebagian besar memiliki kemampuan yang rendah dalam menangkap nada / kepekaan nada dan kepekaan merasakan tempo secara konstan, karena anak-anak tersebut memang tidak memiliki latar belakang musik. Peneliti memilih kelompok ini karena peneliti ingin meningkatkan ketrampilan anak-anak dalam bernyanyi, khususnya angggota paduan suara SD N 1 Prembun tempat peneliti juga pernah mengenyam pendidikan dasar dahulu.

D. Kolaborator

Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini sistem operasional dilaksanakan secara kolaborasi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi unsur subjektifitas pengamat serta mutu kecermatan yang dilakukan. Dengan demikian peneliti merancang semua pelaksanaan kegiatan ini untuk dapat digunakan secara objektif dan terbuka.

(39)

latihan berlangsung dan menjadikannya catatan lapangan, (4) mendiskusikan masalah yang ada pada peneliti, (5) memvalidasi instrument penelitian, kemudian data dikumpulkan dari awal sampai akhir.

E. Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan melalui tahapan-tahapan yang dikenal dengan istilah siklus (daur). Siklus dalam PTK meliputi 4 tahap, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan reflesksi (reflecting). Dalam penelitian ini akan ada 2 siklus yang dilakukan secara bertahap, berikut penggambarannya menurut Kemmis dan Taggart :

(40)

a) Perencanaan (planning)

Tahap ini adalah tahapan dimana peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kenapa dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakann tersebut dilakukan.

2.) Pelaksanaan tindakan ( acting )

Tahap ini adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan rancangan.

3.) Pengamatan

Tahap ini merupakan kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator.

4.) Refleksi ( reflecting )

Tahap ini adalah kegiatan untuk mengemukakan kem,bali apa yang telah dilakukan.

F. Instrumen Penelitian

1. Pengembangan Instrumen Penelitian

(41)

Tabel 1 : Contoh pedoman nilai :

Adapun rubrik penilaian dapat dilihat di tabel 2. Tabel 2: Rubrik Penilaian

No Aspek Skor Kategori Kriteria

1 Pernapasan 20 Sangat baik

Dapat menyanyikan lagu dengan

pernapasan yang tepat sebesar ≥86%

15 Baik Dapat menyanyikan lagu dengan pernapasan yang tepat sebesar 71% -85% 10 Kurang Dapat menyanyikan lagu dengan

pernapasan yang tepat sebesar 55% – 70% 5 Sangat

Kurang

Dapat menyanyikan lagu dengan pernapasan yang tepat sebesar ≤54% 2 Artikulasi 20 Sangat

Baik

Dapat menyanyikan lagu dengan artikulasi

(42)

15 Baik Dapat menyanyikan lagu dengan artikulasi yang tepat sebesar 71% -85%

10 Kurang Dapat menyanyikan lagu dengan artikulasi yang tepat sebesar 55% – 70%

5 Sangat Kurang

Dapat menyanyikan lagu dengan artikulasi

yang tepat sebesar ≤54%

3 Intonasi 20 Sangat Baik

Dapat menyanyikan lagu dengan intonasi

yang tepat sebesar ≥86%

15 Baik Dapat menyanyikan lagu dengan intonasi yang tepat sebesar 71% -85%

10 Kurang Dapat menyanyikan lagu dengan intonasi yang tepat sebesar 55% – 70%

5 Sangat Kurang

Dapat menyanyikan lagu dengan intonasi

yang tepat sebesar ≤54%

4 Dinamika 20 Sangat Baik

Dapat menyanyikan lagu dengan dinamika

yang ditetapkan sebesar ≥86%

15 Baik Dapat menyanyikan lagu dengan dinamika yang ditetapkan sebesar 71% -85%

10 Kurang Dapat menyanyikan lagu dengan dinamika yang ditetapkan sebesar 55% – 70%

5 Sangat Kurang

Dapat menyanyikan lagu dengan dinamika

yang ditetapkan sebesar ≤54%

5 Tempo 20 Sangat Baik

Dapat menyanyikan lagu dengan tempo

yang tepat sebesar ≥86%

Dapat menyanyikan lagu dengan tempo

(43)

Tabel 3 : contoh penilaian siswa : itu,untuk menyelidiki apa yang hendak diselidiki, artinya sampai di mana hasil test sesuai dengan apa yang telah dirumuskan di dalam kriteria, dan yang mencakup apa-apa yang disebutkan oleh aspek-aspek di dalam bagan perencanaan test itu(Stamboel 1982:45). Isi instrumen berpedoman pada kurikulum yang digunakan dan disesuaikan dengan bahan pengajaran serta dikonsultasikan pada ahlinya (expert judgement).

b. Uji Reliabilitas Instrumen

(44)

dengan test yang sama ataupun yang itemnya ekuivalen(Stamboel 1982:59). Hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Kalau dalam obyek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok akan tetap berwarna merah (Sugiyono 2008:121).

G. Teknik Pengumpulan Data

(45)

H. Analisis Data

Menurut Arikunto ( 2011 : 12 ) rumus untuk menghitung nilai peserta didik adalah sebagai berikut :

Kemudian hasil yang diperoleh diterjemahkan kedalam kriteria yang sudah ditentukan. Setelah itu dilakukan perhitungan selisih peningkatan rata-rata pre-test dan post-pre-test dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

( Sukardi, 2008 : 146 )

I. Validitas Penelitian

(46)

1. Validitas Demokratis

Validitas demokratis dicapai dengan melibatkan seluruh objek penelitian. Dalam hal ini adalah peneliti, kolaborator, dan siswa anggota ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun. Masing-masing memiliki kesempatan untuk mengutarakan apa yang dipikirkan, dirasakan serta dialami ketika penelitian berlangsung. Dalam penelitian yang dilakukan, diperoleh hal yang sama dengan identifikasi masalah yang diselidiki berupa kemampuan bernyanyi yang masih kurang. Dengan keadaan seperti ini, diperlukan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bernyanyi. Penggunaan metode drill dirasa merupakan meetode yang tepat untuk pembelajaran ini.

2. Validitas Hasil

(47)

Untuk melihat peningkatannya dapat dilihat dari nilai hasil pra-siklus, siklus I, dan siklus II.

3. Validitas Proses

Validitas proses berkenaan dengan kepercayaan dan kompetensi. Dalam hal ini peneliti dan kolaborator secara terus menerus dapat memberi kritik kepada diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangan dan segera berupaya memperbaikinya. Dalam situasi dan kondisi pembelajaran paduan suara di SD N egeri 1 Prembun Kebumen, sebagian besar siswa aktif mengikuti jalannya latihan, bertanya ketika ada kesulitan, dan mengikuti kegiatan dengan semangat. Namun sebagian anak juga masih terlihat pasif dan masih belum menguasai teknik bernyanyi dengan benar. Peneliti bersama kolaborator kemudian mencari sebab mengapa siswa belum mampu dan masih pasif. Setelah mencari kemudian memecahkan masalah tersebut.

4. Validitas Katalitik

(48)
(49)

35 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi

Hasil penelitian tentang Upaya Peningkatan Kemampuan Bernyanyi Dalam Pembelajaran Paduan Suara di SD Negeri 1 Prembun Menggunakan Metode Drill ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2015. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan dengan tahapan perencanaan, pelaksanan tindakan, observasi dan juga refleksi.Subjek penelitian adalah peserta ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun, berjumlah 25 siswa yang terdiri dari kelas IV, V dan kelas VI.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan bernyanyi siswa dalam ekstrakurikuler paduan suara melalui metode praktik. Hasil penelitian diperoleh dari tes pra-siklus, tindakan pada siklus I dan tindakan pada siklus II. Tes yang dilakukan merupakan kemampuan bernyanyi sebelumdan sesudah diberi tindakan menggunakan metode praktik dalam proses pembelajaran.

1. Pra-Siklus

(50)

frekuensi latihan menjadi sangat kurang. Anggota ekstrakurikuler paduan suara sekolah tersebut belum bisa menerapkan teknik dasar bernyanyi berupa teknik pernapasan, artikulasi, intonasi, dinamika dan tempo sehingga suara yang dihasilkan kurang baik dan tidak sesuai dengan teknik vokal yang benar.

(51)
(52)

2. Siklus 1

Pelaksanaan siklus I merupakan langkah awal penelitian ekstrakurikuler paduan suara menggunakan metode praktik. Dalam siklus ini, peneliti mencoba untuk memperbaiki dan memecahkan masalah yang ada pada pra-siklus. Berikut ini merupakan hasil pelaksanaan siklus I yang meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

a) Perencanaan Siklus I

Dalam tahapan ini, peneliti merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu sebelum penelitian dilaksanakan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi:

1) Menyusun jadwal latihan ekstrakurikuler paduan suara SD Negeri 1 Prembun secara teratur dan periodik. Jadwal latihan disepakati oleh peneliti bersama dengan ibu Hj. Nurhayati, S.Pd selaku pembina kesenian di SD tersebut. Kegiatan latihan paduan suara ini akan dibantu oleh ibu Hj. Nurhayati, S.Pd sebagai kolabolator yang bertugas memberi masukan pada saat proses latihan dan membantu menganalisis hasil ekstrakurikuler paduan suara.

(53)

pengertian tentang teknik pernapasan, artikulasi, intonasi, dinamika, tempo dan penerapannya dalam sebuah lagu.

3) Mempersiapkan materi dan lagu yang akan diberikan kepada peserta.

Lagu yang akan dipelajari adalah “Jadilah Legenda” yang

diarransemen oleh peneliti dengan format 2 suara.

4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran ini dilakukan dalam 4 kali pertemuan. Materi yang akan diajarkan pada pertemuan pertama adalah teknik vokal dasar(pernapasan, artikulasi, intonasi, dinamika, tempo) dan pengenalan notasi angka sesuai dengan teknik dasar vokal yang benar beserta cara membacanya dilanjutkan dengan pengenalan lagu. Untuk pertemuan kedua, materi utama yang akan diajarkan adalah menerapkan teknik dasar vokal pada materi lagu “Jadilah Legenda” kepada peserta dilanjutkan evaluasi dari hasil pembelajaran. Pada pertemuan ketiga akan menerapkan teknik drill, yaitu melakukan proses secara berulang-ulang dalam lagu yang dinyanyikan. Pada pertemuan keempat adalah pengambilan nilai siklus 1.

b) Pelaksanaan Siklus I

(54)

1) Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2015, pukul 14.00 –15.30 WIB. Tujuan dari pertemuan pertama yaitu melakukan pengambilan nilai pre-test dan memberikan pemanasan sebelum bernyanyi. Berikut ini merupakan uraian kegiatan pada pertemuan pertama:

a) Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara. Setelah semua peserta siap mengikuti ekstrakurikuler, pelatih memberikan salam pembuka dan berdoa, kemudian menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti ekstrakurikuler paduan suara.

b) Pelatih mengajak anggota paduan suara untuk bersama-sama

menyanyikan lagu “Jadilah Legenda”

c) Langkah selanjutnya adalah melaksanakan pengambilan nilai pre-test dengan cara mengamati siswa ketika menyanyikan lagu

“Jadilah Legenda” yang sudah dikenal anggota paduan suara.

d) Setelah tes dilaksanakan, pelatih menutup pertemuan ini dengan doa dan anggota paduan suara dipersilakan pulang.

2) Pertemuan Kedua

(55)

pertemuan kedua yaitu mempelajari teknik pernapasan, intonasi, artikulasi, serta mempelajari suara 2 lagu “ Jadilah Legenda”. Berikut ini merupakan uraian kegiatan pada pertemuan kedua:

a. Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara. Dalam kegiatan ini, peneliti bertindak sebagai pelatih dan pengiring pada saat pemanasan, sedangkan kolaborator bertindak sebagai monitoring. Setelah semua peserta siap mengikuti ekstrakurikuler, pelatih memberikan salam pembuka dan berdoa, kemudian menjelaskan tentang interval dan nama-nama nada.

b. Untuk awal kegiatan ini pelatih mengajak anggota paduan suara untuk belajar membaca notasi angka, dimulai dari pengenalan notasi angka dan cara membacanya. Untuk notasi angka 1dibaca do, 2 dibaca re, 3 dibaca mi, 4 dibaca fa, 5 dibaca sol, 6 dibaca la dan 7 dibaca si. Kegiatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang sampai mereka dapat membaca notasi angka dengan baik dan benar.

(56)

saat bernyanyi. Namun diperlukan latihan-latihan yang teratur untuk dapat menguasainya. Selain teknik pernapasan, peneliti juga menjelaskan teknik artikulasi dan intonasi yang baik dan benar saat bernyanyi.

d. Pelatih mengajak anggota paduan suara untuk melakukan pemanasan sebelum mulai menyanyikan lagu. Pemanasan yang digunakan adalah yang sudah biasa digunakan oleh pelatih untuk memulai paduan suara, pemanasan tersebut seperti berikut :

Gambar 9: Pemanasan 1

e. Setelah kegiatan pemanasan selesai kemudian dilanjutkan dengan membagi peserta menjadi 2 suara. Peserta putri dengan jumlah 15 anak mengisi suara 1 dan putra dengan 10 anak mengisi suara 2.

(57)

g. Setelah dirasa cukup dan waktu sudah habis, maka pertemuan diakhiri dengan doa dan anak-anak dipersilakan pulang.

3) Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2015, pukul 14.00 –15.30 WIB. Tujuan yang akan dicapai pada pertemuan ketiga yaitu mempelajari dinamika dan tempo dalam lagu

“Jadilah Legenda” serta mempelajari suara 1 dan suara 2 sesuai

partitur. Berikut ini merupakan uraian kegiatan pada pertemuan ketiga:

a) Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara. Setelah semua peserta siap mengikuti ekstrakurikuler, pelatih memberikan salam pembuka dan berdoa, kemudian menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti ekstrakurikuler paduan suara ini.

(58)

1=B, 1=C 1=C#, 1=D hingga anggota paduan suara dapat memahami intonasi, interval dan artikulasi sehingga dapat menyanyikan materi diatas dengan baik dan benar. Materi pemanasan dapat dilihat di bawah ini:

Gambar 10 : Pemanasan 2

c) Setelah pemanasan dilakukan, pelatih kemudian menjelaskan tentang tempo dan dinamika dalam sebuah lagu, dalam hal ini

lagu “Jadilah Legenda” yang dipelajari oleh peserta paduan

suara.

(59)

e) Setelah melatih suara 1 dirasa cukup, pelatih mengucapkan salam dan meninggalkan kelas.

4) Pertemuan Keempat

Pertemuan keempat pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2015, pukul 14.00 –15.30 WIB. Tujuan dari pertemuan keempat yaitu pengambilan nilai siklus I melalui lagu “Jadilah Legenda” sesuai dengan teknik vokal yang benar. Berikut ini merupakan uraian kegiatan pada pertemuan keempat:

a) Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara. Setelah semua pesertasiap mengikuti ekstrakurikuler, pelatih memberikan salam pembuka dan berdoa, kemudian menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti ekstrakurikuler paduan suara.

(60)

c) Sebelum masuk pada materi lagu, pelatih mengajak paduan suara

mengingat kembali lagu “Jadilah Legenda” yang sudah dipelajari

pada pertemuan sebelumnya.

d) Langkah selanjutnya adalah melaksanakan pengambilan nilai dengan mengamati anggota paduan suara ketika menyanyikan

lagu “Jadilah Legenda” suara 1 dan 2.

e) Setelah tes dilaksanakan, pelatih menutup pertemuan terakir ini dengan mengucapkan salam.

c) Hasil Observasi Siklus I

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama 4 kali pertemuan bersama kolaborator, hasil yang didapat adalah:

a) Anggota paduan suara masih kesulitan bernyanyi sesuai dengan intonasi yang benar.

b) Masih banyak anggota paduan suara yangkesulitan mambaca syair

lagu “Jadilah Legenda” sesuai dengan artikulasi yang benar.

c) Masih banyak anggota paduan suara yang kesulitan menggunakan pernapasan yang baik dan benar untuk bernyanyi

d) Dinamika dan tempo belum sesuai dengan teknik vokal yang benar. e) Beberapa anggota paduan suara masih sering bergurau dengan teman

saat latihan berlangsung.

(61)

g) Masih ada beberapa anggota paduan suara yang malu saat bernyanyi. h) Anggota paduan suara bisa lebih antusias dalam mengikuti latihan ketika sesekali pelatih memberikan humor sehingga membuat suasana latihan lebih ceria dan tidak kaku.

Tabel 5. Hasil Penilaian Siklus 1

(62)

Dari hasil tespada siklus I paduan suara SD Negeri 1 Prembun, nilai rata-rata anggota paduan suara di sekolah tersebut adalah 71. Jika dilihat dari hasil tes masing-masing anggota paduan suara, terdapat 12 anggota paduan suarayang sudah memenuhi nilai dalam kriteria baik dan 13 anggota paduan suara memenuhi nilai dalam kriteria kurang. Persentasi anggota paduan suara yang memenuhi kriteria keberhasilan tindakan adalah 48%, didasari oleh nilai yang didapat sebelum dan sesudah mendapatkan tindakan pada siklus 1 dan itu berarti paduan suara mengalami peningkatan sebesar 24,56%. Ini menunjukkan bahwa penggunaan metode praktik bisa meningkatkan kemampuan bernyanyi dalam ekstrakurikuler paduan suara di SD tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa upaya meningkatkan kemampuan bernyanyi dalam paduan suara SD tersebut pada siklus I dapat dikatakan berhasil.

d) Refleksi Siklus I

Pembelajaran paduan suara menggunakan metode praktik di SD Negeri 1 Prembun belum berjalan dengan baik, karena masih terdapat beberapa kendala selama proses pembelajaran berlangsung. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain:

a) Pernapasan, intonasi, artikulasi, dinamika dan tempo harus lebih diperdalam pada siklus II.

(63)

c) Dalam bernyanyi anggota paduan suara masih malu dalam mengeluarkan suara.

d) Peneliti masih perlu melakukan pendekatan kepada setiap anggota paduan suara.

3. Siklus II

Pelaksanaan siklus II ini merupakan tindakan lanjut pembelajaran paduan suara menggunakanmetode praktik. Dalam siklus ini, peneliti mencoba untuk melanjutkan penelitian pada siklus I, setelah melihat hasil siklus Isebagai acuan yang dirasa masih harus diberikan pembelajaran menggunakan metode praktik. Berikut ini merupakan hasil pelaksanaan siklus II yang meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

a) Perencanaan Siklus II

Dalam tahapanini, peneliti merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu sebelum penelitian dilaksanakan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi:

(64)

b) Mempersiapkan lagu yang akan diberikan dan juga materi yang akan diajarkan kepada anggota paduan suara. Lagu yang akan

dipelajari adalah “Jadilah Legenda” yang diaransemen oleh

peneliti dengan format 2 suara.

c) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran ini dilakukan dalam beberapa kali pertemuan. Materi yang akan diajarkan pada pertemuan pertama sama seperti pertemuan sebelumnya pada siklus I yaitu pada teknik vokal dasar (pernapasan, intonasi, artikulasi, dinamika, tempo) dan lebih difokuskan pada artikulasi serta pernapasan yang baik saat bernyanyi. Untuk pertemuan kedua,materi pembelajaran masih sama seperti pertemuan pertama yaitu belajar menyanyikan lagu

“Jadilah Legenda” dengan format 2 suara sembari memperbaiki

(65)

b) Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan tindakan pada tahapan ini adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat pada tahap sebelumnya. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus IIdilakukan 4 kali pertemuan. Kegiatan pada siklus ini berlangsung selama 90 menit dalam setiap pertemuan.

1) Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2015, pukul 14.00 – 15.30 WIB. Tujuan yang akan dicapai pada pertemuan pertama ini yaitu anggota paduan suara dapat menguasai teknikdasar vokal (pernapasan, intonasi, artikulasi, dinamika, tempo)

dan mampu menyanyikan lagu “Jadilah Legenda” dengan format 2

suara. Berikut uraian kegiatan pada pertemuan pertama.

a. Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara. Setelah semua pesertasiap mengikuti ekstrakurikuler, pelatih memberikan salampembuka dan berdoa, kemudian menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti ekstrakurikuler paduan suara.

(66)

seperti pada siklus 1. Untuk membuat anggota lebih semangat dalam bernyanyi, diberikan pemanasan baru yang diharapkan mampu membuat anggota lebih bisa menerapkan artikulasi sesuai dengan yang telah diajarkan. Materi pemanasan tersebut seperti yang ada di bawah ini:

Gambar 11: Pemanasan3

Materi diatas dinyanyikan dari tangga nada 1=A, 1=A#, 1=B, 1=C 1=C#, 1=D secara berulang-ulang hingga anggota paduan suara dapat menyanyikannya dengan baik dan benar.

c. Pada kegiatan ini, anggota paduan suara dilatih menurut kelompok suaranya terlebih dahulu, diberi contoh menyanyikan kemudian anggota meniru dan pelatih mengajak anggota paduan suara untuk menyayikan secara berulang-ulang sampai dirasa cukup.

(67)

2) Pertemuan Kedua

Pertemuan keduapada siklus II dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2015, pukul 14.00 –15.30 WIB. Tujuan yang akan dicapai pada pertemuan kedua yaitu mempelajarilagu “Jadilah Legenda” dengan format 2 suara sesuai teknik vokal yang benar. Berikut ini merupakan uraian kegiatan pada pertemuan kedua:

a) Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara. Dalam kegiatan ini, peneliti bertindak sebagai pelatih dan kolaborator bertindak sebagai monitoring. Setelah semua peserta siap mengikuti ektrakurikuler, pelatih memberikan salam pembuka dan berdoa, kemudian menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti ekstrakurikuler paduan suara.

b) Setelah itu pelatih mengajak anggota paduan suara untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Materi pemanasan yang diajarkan pada pertemuan ini masih sama dengan pertemuan sebelumnya, yaitu pemanasan no 2 dan pemanasan no 3.

c) Untuk pertemuan kedua ini, masih sama seperti pertemuan

pertama yaitu anggota paduan suara mempelajari lagu “Jadilah

Legenda” dengan format 2 suara seperti pada partitur. Kemudian

(68)

secara berulang-ulang sampai dirasa cukup. Apabila dirasa sudah cukup, pelatih memberikan nasihat kepada anggota paduan suara di SD tersebut supaya mempertahankan hasil pembelajaran yang telah dipelajari, dan pelatih memberikan pengumuman kepada anggota paduan suara bahwa akan diadakan test pada pertemuan selanjutnya.

d) Setelah dirasa cukup pembelajaran dan waktu telah habis, pelatih mengucapkan salam dan anggota paduan suara dipersilakan meninggalkan kelas.

3) Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketigapada siklus II dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2015, pukul 14.00 –15.30 WIB. Tujuan pada pertemuan ketiga yaitu mempelajarilagu “Jadilah Legenda” dengan format 2 suara sesuai teknik vokal yang benar. Berikut ini merupakan uraian kegiatan pada pertemuan ketiga:

(69)

menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti ekstrakurikuler paduan suara.

b) Pelatih mengajak anggota paduan suara untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Materi pemanasan yang digunakan pada pertemuan ini masihsama dengan pertemuan sebelumnya, yaitu: pemanasan 1, pemanasan 2, dan pemanasan 3. Pemanasan dilakukan secara berulang-ulang guna mempersiapkan diri sebelum masuk ke materi lagu, supaya anggota paduan suara dapat bernyanyi dengan teknik vokal yang benar.

c) Pada pertemuan kali ini, pelatih mengkondisikan anggota paduan suara untuk berada pada kelompoknya masing-masing. Kelompok yang menyanyikan suara 1 berada di sebelah kanan pelatih dan kelompok yang menyanyikan suara 2 berada di sebelah kiri pelatih.Setelah itu, pelatih mengajak paduan suara mengingat-ingat kembali lagu yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.

d) Setelah semua anggota paduan suara berada di posisinya, pelatih dan kolaborator memulai materi pembelajaran yang diajarkan yaitu menyanyikan lagu “Jadilah Legenda” dengan format 2 suara.

(70)

f) Setelah selesai pelatih mengucapkan salam dan anggota paduan suara dipersilakan meninggalkan kelas.

4) Pertemuan Keempat

Pertemuan keempat pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2015 pukul 14.00–15.30 WIB. Pada pertemuan keempat siklus II, pelatih melakukan evaluasi serta refleksi bersama dengan kolaborator dan anggota paduan suara SD Negeri 1 Prembun. Berikut ini kegiatan pada pertemuan keempat:

a) Peneliti bersama kolaborator masuk ke dalam kelas untuk memulai kegiatan ekstrakurikuler bersama-sama dengan anggota paduan suara.

b) Memulai pertemuan terakhir ini pelatih mengajak anggota paduan suara untuk melakukan pemanasan, yaitu pemanasan no.1 , pemanasan no.2 dan pemanasan no.3.

c) Langkah selanjutnya adalah melaksanakan pengambilan nilai dengan mengamati anggota paduan suara ketika menyanyikan

lagu “Jadilah Legenda”.

(71)

e) Setelah refleksi dilakukan pertemuan berakhir dan anggota paduan suara dipersilakan pulang.

c) Hasil Observasi Siklus II

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama 4 kali pertemuan bersama dengan kolaborator, hasil yang didapat adalah:

a) Penguasaan teknik vokal pada lagu “Jadilah Legenda” sudah mencapai kriteria baik.

b) Metode praktik memberikan pengaruh besar terhadap penguasaan teknik vokal pada lagu “Jadilah Legenda”.

c) Anggota paduan suara terlihat lebih bersemangat dibandingkan dengan latihan yang sebelumnya.

d) Masih ada anggota paduan suara yang bergurau pada saat latihan berlangsung.

e) Pada saat pengenalan lagu, anggota paduan suara saling mengajarkan satu sama lain jika ada yang kesulitan.

f) Anggota paduan suara yang malu saat bernyanyi sudah mulai

(72)

Tabel 6. Hasil Penilaian Siklus II

(73)

masing-masing anggota paduan suara, terdapat 11 anggota paduan suara yang sudah memenuhi nilai dalam kriteria sangat baik , 13 anggota paduan suara yang sudah memenuhi nilai dalam kriteria baik, dan 1 anggota masih dalam kriteria kurang. Presentasi anggota paduan suara yang memenuhi kriteria keberhasilan tindakan adalah 96 %. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa upaya meningkatkan kemampuan bernyanyi menggunakan metode praktik dalam pembelajaran paduan suara di SD Negeri 1 Prembun pada siklus II dapat dikatakan berhasil dengan baik.

Tabel 7: Rata-rataTes Pra-Siklus, Siklus I dan Siklus I

No Nama Pra-Siklus Siklus I Siklus II

(74)

d) Refleksi Siklus II

Setelah siklus II selesai, peneliti dan kolaborator mendiskusikan hasil pembelajaran. Berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada siklus II, pembelajaran yang telah dilakukan sudah berjalan baik sesuai dengan rencana. Anggota paduan suara mengalami peningkatan kemampuan bernyanyi yang dimulai dari pra-siklus, siklus I, sampai dengan siklus II. Dari hasil siklus ini, didapat 96% anggota paduan suara telah mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Setelah berkoordinasi dengan kolaborator, maka proses tindakan ini disepakati untuk berhenti sampai pada siklus II.

B. Pembahasan

Pembelajaran paduan suara menggunakan metode drill dapat meningkatkan kemampuan bernyanyi dalam ekstrakurikuler paduan suara di SD Negeri 1 Prembun. Hal ini dapat dilihat melalui proses-proses latihan yang berlangsung. Pada tahap awal siklus I, dimulai dengan pengenalan notasi angka kepada para anggota paduan suara, guna mempermudah

(75)

menyanyikan lagu sesuai dengan notasi yang benar.Setelah mempelajari notasi angka, anggota paduan suara diberikan pemanasan sebagai persiapan untuk bernyanyi agar anggota paduan suara dapat bernyanyi dengan teknik vokal yang benar.

Tidak semua anggota paduan suara mengikuti pembelajaran dengan baik.Mereka masih kesulitan dalam membaca notasi angka sesuai dengan intonasi dan artikulasi yang benar, namun ketika didemonstrasikan terlebih dahulu, anggota paduan suara dengan mudah mampu menirukannya, dan tinggal melakukan pengulangan sehingga anggota paduan suara terbiasa bernyanyi dengan benar.

Pada permulaan siklus I, materi yang diajarkan pertama kali adalah mengenai teknik vokal yang benar, meliputi teknik pernapasan, artikulasi, intonasi, tempo, dan dinamika. Saat pertama belajar anggota paduan suara masih kesulitan dalam bernyanyi. Hal ini dikarenakan mereka tidak menggunakan teknik vokal yang benar. Dalam bernyanyi sebagian besar masih menggunakan napas dada, belum menggunakan pernapasan yang benar, yaitu napas diafragma. Demikian pula untuk artikulasi, dimana anggota paduan suara masih banyak yang malu untuk membuka mulut, sehingga dalam pengucapan kata masih kurang sempurna. Untuk intonasi, dinamika dan tempo dipelajari dengan membaca partitur dan juga melalui metode driil.

Pada siklus II, teknik vokal lebih diperdalam lagi untuk meningkatkan kemampuan bernyanyi anggota paduan suara di SD tersebut. Ini dilaksanakan karena dalam siklus I hasil yang didapat masih belum memuaskan, khususnya dalam pernapasan dan artikulasi anggota paduan suara. Hasil yang didapat setelah siklus II selesai dilakukan cukup memuaskan dengan meningkatnya kemampuan bernyanyi anggota paduan suara di SD Negeri 1 Prembun.

(76)

telah dilakukan, siswa terlihat antusias dan lebih semangat ketika belajar lagu

“jadilah Legenda” menggunakan metode praktik. Secara keseluruhan, suara 1 dan suara 2 dapat menyanyikan lagu sesuai dengan peranannya masing-masing dengan baik. Berdasarkan hasil tes yang telah diambil menunjukkan bahwa pembelajaran yang telah dilaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan di awal.

Dari hasil pengamatan, pembelajaran paduan suara menggunakan metode praktik dapat diikuti oleh peserta dengan baik. Langkah awal yang dilakukan peneliti adalah persiapan materi pembelajaran yang dapat membantu proses pembelajaran, melaksanakan tindakan yang telah dipersiapkan, melakukan pengamatan serta menilai proses dan hasil pengamatan tersebut.

(77)

C. Keterbatasan Penelitian

(78)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan metode drill pada proses pembelajaran paduan suara di SD Negeri 1 Prembun dapat meningkatkan kemampuan anak dalam bernyanyi. Kemampuan bernyanyi anggota paduan suara mengalami peningkatan, karena dalam latihan anggota paduan suara mampu bernyanyi menggunakan teknik bernyanyi yang benar ketika diberikan metode praktik. Kesimpulan tersebut dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata yang dicapai anak-anak, yaitu penilaian pada pra-siklus diperoleh nilai rata-rata sebesar 57. Pada siklus I nilai rata-rata sebesar 71, yang berarti terjadi peningkatan nilai dari pra-siklus ke siklus I sebesar 24,56%. Pada siklus II, 96% anggota paduan suara di SD Negeri 1 Prembun sudah memenuhi standar kriteria keberhasilan tindakan baik ( 70 – 85 ) dengan nilai rata-rata sebesar 85,20, yang berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 20%.

Dengan memperhatikan nilai rata-rata yang diperoleh anggota paduan suara dari pra-siklus sampai dengan selesainya pelaksanaan siklus II, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode praktik dalam pembelajaran paduan suara di SD Negeri 1 Prembun dapat meningkatkan kemampuan anggota paduan suara dalam bernyanyi.

a) Rencana Tindak Lanjut

(79)

DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Ma‟mur. 2009. 7 Tips Aplikasi PAKEM. Jogjakarta: DIVA Press. Bahri, Syaiful dan Zain, Aswan (2005). Strategi Belajar Mengajar.Jakarta :

Rineka Cipta

Banoe, Yosep. 2003. Teknik Dasar Belajar Bernyanyi. Bandung. PT Surya Jaya

Hamdani, M.A. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Jamalus.1998. Pengajaran Musik Melalui PengalamanMusik.Jakarta:Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kurniawan, Ardi. 2009. Studi Komparasi Prestasi Belajar Menyanyi Siswa Kelas

3 SD N Kanisius Demangan Baru. Skirpsi S1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Musik, FBS UNY

Kusumah, Wijaya dan Dwitagama, Dedi.2011.Mengenal Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta Barat: PT Indeks

Mirantiyo, Yoki. 2012. Pengertian Paduan Suara.

http://www.googlw.com/search?q=google&ie=utf-8&oe=utf-8#q=paduan+suara. Diunduh pada tanggal 3 Juni 2015.

Muslich,Mansyur. 2005. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta

Nugraha, Nicolas Aditya. 2015. Upaya Peningkatan Ketrampilan Bernyanyi Melalui Vokalisi Dalam Ekstrakurikuler Paduan Suara di SMP Pangudi Luhur Santo Aloysius Bayat. Skripsi S1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Musik, FBS UNY

Pangesti, Nanda Setia Tri. 2014. Upaya Peningkatan Kemampuan Anak Dalam Bernyanyi Melalui Media Audio Pada Kelompok Musik Hadraah Al Mubassyir di Tonggalan, Sleman, Yogyakarta. Skripsi S1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Musik, FBS UNY

PML, Team.1992.Menjadi DirigenII.Yogyakarta:PusatMusikLiturgi

Roestiyah N.K. 1985.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara

(80)

Sanjaya, W. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Senja, Seruling. 2010. bBila Kuberlagu: Kemahiran Asas Nyanyian. https://www.google.com/search?q=bila+keberlagu&ie=utf-8&oe=utf-8#q=bilaku+berlagu%3B+kemahiran+asas=nyanyian. Diunduh pada tanggal 3 juni 2015.

Sudjana, Nana. 2002. Dasar dasar Proses Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo

Sugihartono, dkk.2008.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta:UNY Press

Surakhmad,Winarno.1994. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar.Bandung: Tarsito.

Figur

Gambar 1 : bentuk bibir vokal “a” ( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)
Gambar 1 bentuk bibir vokal a Sumber Seruling senja blogspot bila kuberlagu . View in document p.23
Gambar 2 : bentuk bibir vokal “i” ( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)
Gambar 2 bentuk bibir vokal i Sumber Seruling senja blogspot bila kuberlagu . View in document p.23
Gambar 3 : bentuk bibir vokal “u” ( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)
Gambar 3 bentuk bibir vokal u Sumber Seruling senja blogspot bila kuberlagu . View in document p.24
Gambar 4 : bentuk bibir vokal “e” ( Sumber: Seruling senja.blogspot:bila kuberlagu)
Gambar 4 bentuk bibir vokal e Sumber Seruling senja blogspot bila kuberlagu . View in document p.24
Gambar 6 : tangganada
Gambar 6 tangganada . View in document p.26
Gambar 7 : tangganada mayor
Gambar 7 tangganada mayor . View in document p.27
Gambar 8: Siklus PTK Kemmis & Mc Taggart ( Sumber: Kusumah, 2011;21 )
Gambar 8 Siklus PTK Kemmis Mc Taggart Sumber Kusumah 2011 21 . View in document p.39
Tabel 1 : Contoh pedoman nilai :
Tabel 1 Contoh pedoman nilai . View in document p.41
Tabel 2: Rubrik Penilaian
Tabel 2 Rubrik Penilaian . View in document p.41
Tabel 3 : contoh penilaian siswa :
Tabel 3 contoh penilaian siswa . View in document p.43
Gambar 10 : Pemanasan  2
Gambar 10 Pemanasan 2. View in document p.58
Gambar 11: Pemanasan3
Gambar 11 Pemanasan3 . View in document p.66
Tabel 6. Hasil Penilaian Siklus II
Tabel 6 Hasil Penilaian Siklus II . View in document p.72
Tabel 7:  Rata-rataTes Pra-Siklus, Siklus I dan Siklus I
Tabel 7 Rata rataTes Pra Siklus Siklus I dan Siklus I . View in document p.73

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (106 Halaman)