• Tidak ada hasil yang ditemukan

ROHINGYA : SUARA ETNIS YANG TAK BOLEH BERSUARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ROHINGYA : SUARA ETNIS YANG TAK BOLEH BERSUARA"

Copied!
191
0
0

Teks penuh

(1)

ROHINGYA : SUARA ETNIS YANG TAK BOLEH BERSUARA

Editor : Heru Susetyo

Heri Aryanto Ryan Muthiara Wasti

Penerbit :

Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PAHAM) Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan (PIARA)

Jl. T.B. Simatupang Komplek Depsos No. 19 JAKARTA TIMUR 13761

Pewajah sampul : Anggi Aribowo Penata letak : Heru Susetyo

Pemeriksa aksara : Heru Susetyo & Ryan Muthiara Wasti Diterbitkan pertama kali oleh PAHAM Indonesia, Mei 2013

(2)

ROHINGYA :

SUARA ETNIS YANG TAK BOLEH BERSUARA

Kumpulan laporan investigasi, kunjungan lapangan,

pendampingan, observasi, wawancara dan opini

Aktifis dan Relawan Pusat Informasi dan Advokasi

Rohingya-Arakan (PIARA) PAHAM

tentang Kasus Rohingya,

Etnis Myanmar yang ditindas, dianiaya, didiskriminasikan,

dipinggirkan dan dilupakan

The Stateless and Forgotten People...

Editor :

Heru Susetyo

Heri Aryanto

Ryan Muthiara Wasti

Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PAHAM)

Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA)

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Pengantar Editor (Heru Susetyo)

Menyuarakan Suara Etnis yang Tak Boleh Bersuara 1 Bagian Satu

Rohingya : Data Lapangan

Menjumpai Rohingya di Bumi Myanmar (Heri Aryanto) 7 Menjumpai Rohingya di Bumi Indonesia (Heri Aryanto) 21 Perempuan dan Anak : Duka Rohingya yang Lain (Ryan Muthiara W.) 32 Bagian Dua

Rohingya : Peta Masalah

Etnis Rohingya : Korban Kekerasan Struktural yang Menyejarah (Heru Susetyo) 41 Rohingya : Problem and Solution (Mahbubul Haque) 48 Kekerasan Negara Sumbu Konflik Myanmar (Heru Susetyo) 62 Pembersihan Etnis sebagai Kejahatan Genosida (Nasrulloh Nasution) 66 Bagian Tiga

Sisi Lain Rohingya dan Myanmar

Duka Etnis Rohingya (Heru Susetyo) 74

Tin Yu dan Kemiskinan di Negeri Penuh Anomali (Heru Susetyo) 80 Muslim Non Rohingya di Myanmar (Heru Susetyo) 86 Bagian Empat

Mengurai Akar Masalah

Rohingya Bagian dari Siapa dan Tanggung Jawab Siapa? (Ulfah Yanuar S.) 94

Pencari Suaka dan Pengungsi (Fitria) 102

Penanganan Pencari Suaka dan Pengungsi di Indonesia (Fitria) 114 Implementasi Perlindungan terhadap Etnis Rohingya (Fitria) 137 Bagian Lima

Solusi dan Rekomendasi

(4)

Solution to Rohingya Problem 147 Bagian Enam

Press Release

Press Release ARNO 150

Press Release PIARA 1 152

Press Release PIARA 2 154

Press Release PIARA 3 155

AKTIFITAS PIARA 158

Tentang Penulis 185

(5)

Kata Pengantar

Direktur Eksekutif PAHAM Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah atas ijin Allah SWT buku Rohingya : Suara Etnis yang Tak

Boleh Bersuara ini dapat juga diterbitkan dan sampai ke tangan para

pembaca tercinta. Buku ini adalah buah pengalaman, pemikiran dan curahan hati para aktifis dan relawan PIARA (Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan), lembaga semi otonom di dalam organisasi Pusat Advokasi Hukum dan HAM Indonesia (PAHAM).

Lembaga PIARA adalah kumpulan para pembela dan pemerhati hak-hak warga Rohingya yang berpuluh tahun lama-nya berstatus stateless dan

forgotten (tanpa kewarganegaraan dan dilupakan). Berdiri karena kepedulian

dan keprihatinan akan nasib bangsa yang tak boleh bersuara di rumahnya sendiri.

Maka, PIARA, yang merupakan lembaga semi otonom di bawah PAHAM Indonesia, memiliki misi utama untuk menyuarakan suara etnis Rohingya, yang lidah dan tenggorokannya dicekat. Supaya penderitaan dan harapan-harapan mereka diketahui dan menjadi memori publik juga. Sehingga negara dan masyarakat, khususnya di Indonesia, dapat berperan aktif untuk mengembalikan hak-hak etnis Rohingya yang direnggut negara dan sesama masyarakat Myanmar sendiri.

Dan, buku ini adalah salah satu wujud dari kepedulian dan keprihatinan tersebut. Buah dari pemikiran, pengalaman, observasi, kunjungan lapangan, dan misi kemanusiaan yang dilakukan di sampai ke Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau dan bumi Arakan sendiri di negara Myanmar.

Terimakasih kami ucapkan untuk seluruh aktifis dan relawan PIARA-PAHAM, juga untuk para mitra lembaga kemanusiaan yang tergabung dalam SEAHUM (Southeast Asia Humanitarian Committee) yang tak dapat kami sebutkan satu persatu. Terimakasih juga untuk aktifis kemanusiaan Rohingya, antara lain Mr. Mahbubul Haque (Bangladesh/ Thailand), Mr. Nurul

(6)

Islam (London), Mr. Zaw Min Htut (Tokyo) serta jaringan Universal Justice Network (UJN) peduli Rohingya baik di Sekretariat Penang maupun di London.

Selamat membaca dan semoga Allah SWT memberkahi kita semua.

Jakarta, Mei 2013

Nasrulloh Nasution, SH.

(7)

PENGANTAR EDITOR :

MENYUARAKAN SUARA ETNIS YANG TAK BOLEH BERSUARA Oleh : Heru Susetyo

“Rohingya are not our people and we have no duty to protect them.” (Thein Sein, President of Myanmar)

Menulis tentang Rohingya adalah suatu kewajiban sejarah. Karena, etnis minoritas Myanmar yang tertindas berpuluh-puluh tahun di negerinya sendiri ini disebut oleh Medicine Sans Frontiers (MSF) sebagai “one of the ten world populations in danger of existence and survival.” Alias satu dari populasi masyarakat dunia yang terancam eksistensinya.

Human Rights Watch, organisasi internasional yang bergerak di bidang HAM, secara tegas menyebut dalam laporannya pada April 2013 bahwa Myanmar telah melanggar HAM dengan melakukan kampanye pembersihan etnis Rohingya, utamanya pada tahun 2012.

Sebegitu serius kasus etnis yang dikenal sebagai ‘stateless and forgotten people’ ini, namun ternyata tidak banyak warga dunia yang akrab dengan isu ini. Sama halnya dengan di Indonesia. Warga di negeri muslim terbesar di dunia ini banyak yang baru terbuka mata dan telinganya ketika mendengar dan membaca ribuan etnis Rohingya terdampar di Aceh dan Sumatera Utara sebagai manusia perahu (boat people) sejak tahun 2008.

Dapat dikatakan, ‘popularitas’ Rohingya sebagai etnis tertindas kalah jauh apabila dibandingkan dengan warga terdiskriminasi lainnya seperti orang Palestina, Kurdi, Gypsy, Armenia, dan lain-lain.

Sejatinya, Rohingya adalah nama kelompok etnis yang tinggal di negara bagian Arakan/ Rakhine sejak abad ke 7 Masehi (788 M). Ada beberapa versi tentang asal kata “Rohingya”. Rohingya berasal dari kata “Rohan” atau “Rohang”, nama kuno dari “Arakan”. Sehingga orang yang mendiaminya disebut “Rohingya”. Versi lain menyebutkan bahwa istilah

(8)

“Rohingya” disematkan oleh peneliti Inggris Francis Hamilton pada abad 18 kepada penduduk muslim yang tinggal di Arakan.

Etnis Rohingya bukanlah orang Bangladesh ataupun etnis Bengali. ‘Rohingya’ adalah ‘Rohingya’. Nenek moyang Rohingya adalah berasal dari campuran Arab, Turk, Persian, Afghan, Bengali, Moors, Mughal, Pathans, Maghs, Chakmas, Dutch, Portuguese dan Indo-Mongoloid.

Banyak dari orang Rohingya yang merupakan keturunan campuran dari orang Arab dan warga lokal. Sehingga ketika itu nama ‘Rohan” adalah cukup populer di kalangan para musafir Arab, bahkan jauh sebelum Islam masuk ke Arakan.

Arakan sendiri adalah nama kerajaan Bengal di sisi timur daerah yang kini bagian dari Bangladesh yang eksis sejak abad ke 8 Masehi. Kerajaan Arakan sebelum bergabung dengan Union of Myanmar pada 1948 berturut-turut dikuasai oleh kerajaan Hindu, kerajaan Islam (pada abad 15-18), dan Buddhist.

Saat ini Arakan adalah negara bagian dari Union of Myanmar yang terletak di sisi arat laut Myanmar berbatasan dengan Bangladesh. Nama Arakan berubah menjadi “Rakhine” pada tahun 1930 dan belakangan disebut juga “Rakhaing.” Nama “Rakhine” merujuk pada etnis Rakhine Buddhist (Moghs), sehingga istilah “Rakhine” sejatinya tidak mewakili etnis Rohingya yang mayoritas beragama Islam.

Populasi orang Rohingya saat ini diprediksi sekitar 1.5 juta – 3 juta jiwa. Dimana 800.000-an tinggal di Arakan dan sisanya menyebar di banyak negara. Jumlah tersebut semakin lama semakin berkurang karena banyak orang Rohingya yang mengungsi dan mencari suaka ke negeri seberang dengan menjadi ‘manusia perahu’. Sedangkan,mereka yang bertahan di Arakan tidak sedikit yang menjadi korban ‘pembersihan etnis’.

Kalau ditanyakan, apa saja kedukaan yang dialami warga Rohingya? Jawabannya amat panjang dan berderet. Namun intinya kedukaan tersebut berasal dari kebijakan “Burmanisasi” dan

(9)

“Budhanisasi” yang secara struktural telah mengeluarkan dan memarjinalkan warga Rohingya di tanahnya sendiri di Arakan.

Maka, etnis Rohingya mengalami intoleransi karena mereka dianggap berbeda. Karena beragama berbeda (muslim), identitas etnis berbeda, serta memiliki ciri-ciri fisik plus bahasa yang berbeda dengan

mainstream. Oleh karenanya, mereka selalu menjadi subyek penyiksaan

utamanya sejak 1962, ketika rezim militer U Ne Win mengambil alih pemerintahan negara Burma. Rezim militer Thein Sein yang kini berkuasa juga menolak memberikan kewarganegaraan Myanmar pada Rohingya. Lebih buruk lagi, ia memasukkan Rohingya pada daftar hitam (blacklisted).

Sejatinya, etnis Rohingya tidak sekali-sekali ingin merdeka dan memisahkan diri dari Union of Myanmar. Mereka hanya ingin diakui sebagai bagian dari warganegara Myanmar yang berhak untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan. Bebas bergerak dan berpindah kemanapun serta bebas berekspresi, beribadah dan menjalankan keyakinan agamanya. Suatu keinginan yang amat wajar.

Adalah fitnah belaka menyebutkan perjuangan Etnis Rohingya adalah didukung dan dikelola oleh kelompok ‘teroris’ seperti Al Qaeda dan Jama’ah Islamiyah. Etnis Rohingya tidak ingin dan juga tidak punya kapasitas untuk menjadi kelompok teroris apalagi untuk mendirikan negara sendiri dengan cara-cara terror dan kekerasan.

Sama halnya dengan mengaitkan isu terorisme di Indonesia dengan masalah Rohingya adalah juga tidak relevan. Karena Rohingya pada akhirnya bukan isu agama tertentu lagi namun adalah isu kemanusiaan yang berskala internasional. Kurang arif mendudukkan masalah Rohingya sebagai semata-mata isu Islam vs Buddha. Karena sejatinya kedua agama tersebut mengagungkan perdamaian dan kesedapan hidup bersama. Namun ada pihak-pihak tertentu yang mempolitisir etnis dan agama sebagai trigger untuk politik pembersihan etnis Rohingya ini.

(10)

Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tahun 1982 telah meniadakan Rohingya sebagai etnis yang diakui di Myanmar. Selanjutnya peniadaan ini adalah juga bermakna penghilangan dan pembatasan hak etnis Rohingya dalam hal hak untuk bebas bergerak dan berpindah tempat; Hak untuk menikah dan memiliki keturunan; Hak atas Pendidikan; Hak untuk berusaha dan berdagang; Hak untuk bebas berkeyakinan dan beribadah; serta Hak untuk bebas dari penyiksaan dan kekerasan.

Sedangkan, Kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) yang dialami oleh etnis Rohingya antara lain : Pembunuhan massal dan sewenang-wenang; pemerkosaan; Penyiksaan; Penyitaan tanah dan bangunan; Kerja Paksa dan Perbudakan; Relokasi secara paksa; dan Pemerasan.

Akibat kekerasan struktural yang berlangsung begitu panjang, maka warga Rohingya terpaksa mengungsi dan menjadi ‘manusia perahu’, mencari negeri aman yang mau menerima mereka di Asia Tenggara atau di negeri manapun di seluruh dunia. Tidak jarang para manusia perahu itu tenggelam ataupun mati karena kelaparan dan kehausan di tengah laut. Banyak pula yang ditahan atau diperlakukan semena-mena di negara-negara transit atau di negara-negara penerima mereka.

Saat ini ada 1.5 juta orang Rohingya yang terusir dan tinggal terlunta-lunta di luar Arakan/ Myanmar. Kebanyakan mereka mengungsi di Bangladesh, Pakistan, Saudi Arabia, UAE, Malaysia, Thailand, Indonesia dan lain-lain.

Kekerasan di Arakan terhadap etnis Rohingya ini mulanya tidak diketahui oleh dunia. Hanya media-media lokal yang anti muslim dan

xenophobic yang dapat beroperasi dan menyebarkan informasi-informasi

yang palsu (fabricated).

Petugas kemanusiaan banyak yang dihalangi untuk ke Arakan bahkan ditangkap. Bahkan pemerintah Myanmar memberi peringatan

(11)

kepada PBB dan organ-organnya, UNHCR dan lembaga-lembaga kemanusiaan untuk melakukan kegiatan kemanusiaan di Arakan.

Dengan minimnya media yang independen, informasi yang akurat dan berimbang, ekstrimis Rakhine amat leluasa untuk melakukan kejahatan genosida tanpa diketahui oleh publik dunia.

Parahnya, President Myanmar Thein Sein telah memperburuk krisis Rohingya Arakan dengan mengatakan bahwa : “Rohingya are not our

people and we have no duty to protect them.’ Ia menginginkan supaya

etnis Rohingya dikelola oleh UNHCR saja atau ditampung di negara ketiga yang mau menampungnya. Bahkan dia menyebut etnis Rohingya di Arakan sebagai : a ‘threat to national security’.

Maka, situasi saat ini adalah etnis Rohingya dalam situasi helpless dan terlumpuhkan. Orang Rohingya tidak punya teman di dalam negara Myanmar. Bahkan ada slogan popular di Myanmar saat ini adalah :

“Arakan is for Rakhines. Arakan and Buddhism are synonymous. There is no Rohingya in Arakan. Drive them out to their country– Bangladesh”.

Yang memprihatinkan, Pemimpin oposisi Burma, Aung San Suu Kyi tetap diam tak bereaksi terhadap kasus Rohingya. Sikapnya normatif saja. Sama menyedihkannya adalah sikap Amerika Serikat dan Uni Eropa, termasuk Inggris yang terlalu percaya kepada pemerintah Myanmar untuk mengatasi krisis.

Jiran terdekat Arakan, yaitu Bangladesh, sama memprihatinkannya. Bangladesh beberapa kali menutup pintu untuk pengungsi Rohingya dan mengirim mereka kembali ke laut. Bahkan pernah lembaga-lembaga kemanusiaan internasional penolong Rohingya, seperti MSF, ACF dan Muslim Aid UK dilarang beroperasi di Bangladesh.

Akhirnya, sekali lagi, menulis buku ini adalah bagian dari kewajiban sejarah. Kewajiban untuk menyuarakan suara etnis yang tak boleh bersuara. Menyuarakan suara etnis yang lama dibungkam dan didiskriminasikan. Menyuarakan suara kelompok orang yang tidak boleh hidup di tanahnya sendiri.

(12)

Buku ini ditulis oleh para aktifis PIARA (Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan) di Indonesia, yang merupakan buah dari investigasi, observasi, pengalaman pendampingan, kesan, pendapat dan opini terhadap kasus Rohingya.

Di bagian awal buku ini mengulas data lapangan tentang kasus Rohingya baik dari Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau maupun laporan langsung dari Myanmar yang dituturkan oleh Direktur PIARA, Heri Aryanto, dilanjutkan dengan tulisan yang berangkat dari wawancara, observasi dan opini dari para aktifis dan relawan PIARA, serta sejumlah solusi dan rekomendasi untuk penyelesaian konflik Rohingya dari perspektif praktis maupun akademis.

Mengakhiri pengantar ini, kami mengajak kita semua untuk merenungi kata-kata Daw Aung San Suu Kyi, tokoh legendaris perjuangan demokrasi di Myanmar, sebagai berikut :

We, in the National League for Democracy believe that human-rights are of universal relevance. But even those who do not believe in human rights must certainly agree that the rule of law is most important. Without the rule of law there can be no peace, not in a nation, a region, or throughout the world. In Burma at the moment there is no rule of law, which means there can be no peace or justice in this country.

(13)

Bagian Satu

ROHINGYA :

(14)

MENJUMPAI ROHINGYA DI BUMI MYANMAR (LAPORAN PANDANGAN MATA)

Oleh : Heri Aryanto

Pendahuluan

Konflik yang memuncak di bulan Juni 2012 antara Rohingya (muslim) dengan penduduk mayoritas Rakhine (Buddhist) telah memberikan dampak yang meluas ke dalam kehidupan politik dan kehidupan umat beragama di Myanmar, khususnya terhadap kerukunan antara umat Budha dan umat Islam.

Menurut release pemerintah, umat Islam di Myanmar diperkirakan berjumlah 5% dari total seluruh penduduk Myanmar. Jumlah ini faktualnya hanya sebagian kecil dari total jumlah umat Islam sebenarnya di Myanmar yang diperkirakan 10-20 %. Hal tersebut disebabkan karena Rohingya tidak masuk dalam kategori etnis atau warga negara yang ikut disensus oleh pemerintah, karena sejak tahun 1974 Pemerintah Republik Sosialis Myanmar yang dipimpin oleh Jenderal Ne Win (1962-1988) telah melucuti organisasi sosial dan politik serta kewarganegaraan Rohingya dan selanjutnya pada tahun 1982 melalui Peraturan Kewarganegaraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982), Pemerintah menyatakan Rohingya "non-national" yang berarti Rohingya tidak diakui sebagai warga negara dan menghapus Rohingya dari daftar delapan etnis utama (yaitu Burmanese, Kachin, Karen, Karenni, Chin, Mon, Arakan, Shan) dan dari 135 kelompok etnis kecil lainnya. Oleh karenanya, jumlah umat Islam di Myanmar lebih kecil dari yang sebenarnya.

Pemerintah Myanmar yang tidak lagi mengakui Rohingya sebagai warga negara (stateless) dan sebagai etnis yang eksis di Myanmar, telah memusnahkan secara sistematis eksistensi Rohingya di bumi Arakan.

Sistematical Operation yang dijalankan pemerintah untuk mengeliminasi

(15)

Kelompok ekstrimis ini dalam perjalanannya telah mengancam dan melanggar hak asasi manusia etnis-etnis minoritas di Myanmar, terutama etnis Rohingya.

(16)

Hal ini senada dengan laporan eksklusif Human Rights Wacth (HRW) yang berbasis di Amerika bahwa dalam laporan dan temuannya di Arakan, dikonklusikan bahwa pemerintah Myanmar terlibat dalam tindakan ethnic cleansing terhadap etnis Rohingya. Kondisi ini, tentunya menimbulkan reaksi yang keras dari negara barat dan negara-negara Islam, terutama Indonesia. Terlebih sekarang semakin nyata upaya eliminasi sistematis yang dilakukan pemerintah, dimana baru-baru ini muncul Rohingya Elimination Group (Kelompok Pengeliminasi Rohingya) di Rakhine-Myanmar, yang tentu saja didalangi oleh kelompok ekstrimis 969.

Rangkaian peristiwa di Arakan yang dialami oleh Rohingya semakin membuka mata dunia bahwa peristiwa yang terpelihara selama beberapa dekade tersebut bukan merupakan konflik sosial semata, melainkan ada agenda besar untuk menghapuskan etnis Rohingya dari bumi Arakan dan upaya eliminasi islam dari tanah Myanmar. Eliminasi ini dilakukan oleh kelompok 969 yang didukung oleh pemerintah Myanmar. Eliminasi dimulai dari basis Islam terbesar di Myanmar, yaitu Arakan (Rakhine), kemudian Meikhtila, Yangon, dan daerah basis Islam lainnya di Myanmar. Diskriminasi yang berujung pada upaya eliminasi etnis Rohingya di Arakan sudah dimulai sejak adanya perjanjian penyatuan etnis di Myanmar pada tahun 1947 dalam rangka menyongsong kemerdekaan Myanmar tahun 1948, dimana pada saat itu etnis Rohingya tidak ikut dilibatkan dan tidak ikut menandatangani Perjanjian Penyatuan tersebut. Akibatnya, etnis Rohingya menjadi etnis yang tidak diakui di Myanmar, baik oleh pemerintah maupun etnis mayoritas, hingga saat ini.

Islam sebenarnya tidak hanya ada dan eksis di ketiga kota tersebut saja, melainkan ada di setiap wilayah division (sekarang region) dan state meskipun jumlahnya tidak lebih significant dari ketiga daerah tersebut. Sebagaimana diketahui, bahwa Myanmar membagi wilayahnya berdasarkan region dan state (negara bagian). Terdapat 7 region dan 7 negara bagian yang disatukan dalam negara Myanmar yang sekarang

(17)

setelah ada amandemen konstitusi Myanmar menjadi Republic of the Union of Myanmar. Arakan diakui menjadi wilayah indepeden dari negara bagian Myanmar yang sekarang disebut Rakhine State, dengan ibukota Sittwe. Namun, sebaliknya penduduk asli Arakan yang telah hidup beratus-ratus tahun di Arakan (Rohingya), tidak diakui sebagai bagian dari etnis Myanmar.

Indonesia sendiri sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam melalui NGO-nya telah menunjukkan perhatian terhadap permasalahan Rohingya dan umat Islam pada umumnya serta permasalahan kejahatan kemanusiaan di Myanmar. Hal ini dibuktikan dengan upaya rehabilitasi pengungsi dengan membangun sheltter-shelter, pompa air, dan beberapa bantuan lainnya termasuk bahan makanan yang dibutuhkan oleh para pengungsi Arakan oleh NGO Indonesia. Selain di Arakan, bantuan juga diberikan ke beberapa wilayah di Myanmar yang saat ini juga menjadi dampak eliminasi Rohingya di Arakan, di antaranya korban akibat tragedi kota Minhla dan korban kebrutalan ekstrimis

buddhist di kota Meikhtila (Mandalay Region);

Masyarakat Indonesia bersama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) yang bergerak di bidang kemanusiaan baik NGO

philantrophy maupun yang bergerak di bidang advokasi hak asasi

manusia telah menunjukkan kepeduliannya terhadap permasalahan Rohingya ini, dan umat Islam Myanmar pada umumnya, serta telah berkontribusi dalam upaya restorasi dan giat melakukan kampanye mendukung perjuangan Rohingya mendapatkan keadilan baik di tingkat nasional maupun internasional. Pusat Advokasi dan Informasi Rohingya Arakan (PIARA) Indonesia melakukan perjalanan ke Myanmar untuk menginventarisasi fakta-fakta dengan jalan mengunjungi Sittwe, Minhla, Meikhtila, Pyaw Pwa, Yangon, dan beberapa desa di dekat wilayah Meikhtila untuk mendapatkan fakta dan klarifikasi atas kebenaran tragedi pembantaian dan pembakaran umat Islam di Myanmar.

(18)

Perjalanan Advokasi menuju Myanmar dimulai di Minggu pagi tanggal 21 April 2013. Selama ini, advokasi dimaknai secara sempit sebagai tindakan atau upaya pembelaan di persidangan (litigasi) saja, dimana kegiatan advokasi tersebut dimonopoli oleh para advokat. Hal ini dapat dipahami karena kata "advokasi" itu sendiri sejalan dengan pengertian kata "advokat" sebagai orang yang menjalankan profesinya dalam bidang advokasi.

Namun demikian, sejalan dengan proses demokratisasi di Indonesia yang melahirkan peran-peran civil society sebagai aktor di luar lingkar penguasa, advokasi menjadi sarana yang terbukti efektif dalam proses transisi maupun perubahan radikal sebuah rezim kebijakan. Salah satu contoh yang paling fundamental dalam sejarah kenegaraan Indonesia adalah proses tumbangnya rezim Orde Baru yang berganti dengan era reformasi yang melibatkan peran sentral advokasi yang dilakukan para mahasiwa dan civil society lainnya yang berhasil membangun kekuatan massal masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, peran Advokasi harus dimaknai secara luas, tidak hanya proses pendampingan dan pembelaan dalam proses peradilan, namun jauh dari itu sebuah proses yang terintegrasi, sistematis, dan berkesinambungan untuk melakukan perubahan menuju keadaan dan/atau kebijakan yang lebih baik dan berpihak kepada golongan masyarakat tidak mampu dan termajinalkan (monoritas).

Perjalanan menuju Myanmar merupakan bagian dari advokasi yang tidak hanya mencari informasi dan kebenaran atas segala pemberitaan yang tidak seragam mengenai kondisi faktual Rohingya di Arakan. Namun, lebih dari itu adalah mencari kebenaran faktual mengenai kondisi umat Islam di negeri yang dikenal dengan "seribu pagoda"nya tersebut. Hampir di setiap jalan, setiap kampung, setiap meter ada pagoda yang kubahnya (sule-nya) dilapisi atau berwarna keemasan.

Perjalanan udara dari Indonesia menuju Myanmar ditempuh selama kurang lebih 6 jam dari Soekarno-Hatta International Airport termasuk 2

(19)

jam transit di Malaysia. Penulis berangkat mewakili Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan (PIARA) bersama dengan dua delegasi dari lembaga kemanusiaan ternama di Indonesia. Perjalanan udara pun akhirnya sampai di Yangon International Airport (YIA) di kota Yangon, mantan ibukota Myanmar sebelum dipindah ke Nay Pyi Taw. Kondisi YIA sebagai “bandara baru” secara design dan ukuran tidak jauh berbeda dengan airport-airport yang ada di beberapa daerah di Indonesia, seperti airport Sultan Hassanudin di Makasar. Namun YIA belum dilengkapi fasilitas wifi sehingga sangat sulit mengakses internet.

Yangon, Mantan Ibukota

Yangon sendiri sebagai mantan ibukota Myanmar terkesan seperti suasana kota Jakarta di tahun 1990-an. Bangunan-bangunan bersejarah bekas peninggalan Inggris masih kokoh berdiri, menandakan eksistensi kolonialisasi Inggris di Myanmar. Namun, peninggalan sejarah Inggris tersebut terlihat tidak terawat dan sudah banyak yang kelihatan kusam dan kotor, padahal bangunan-bangunan bersejarah tersebut merupakan salah satu destinasi wisata utama di Myanmar. Disamping bangunan dan gedung peninggalan Inggris, di Yangon juga bersebaran pagoda-pagoda hampir di setiap titik kota. Di samping itu, juga terdapat beberapa bangunan masjid milik Rohingya, Bangladesh, Sunni, dan Syiah yang berdiri di tengah-tengah kota Yangon.

Namun, kondisi pembangunan dan rehabilitasi masjid di Yangon dan di Myanmar pada umumnya tidak bisa berkembang karena Pemerintah Myanmar dan masyarakat setempat (Buddhist) tidak mengizinkan pembangunan masjid baru dan bahkan tidak mengizinkan renovasi masjid yang sudah ada. Angkutan umum yang masih sederhana dan orang-orang yang naik angkutan umum sambil berdiri atau bergelantungan menjadi pandangan sehari-hari kota Yangon, meskipun tidak sedikit pula beberapa orang kaya yang mempunyai mobil sekelas Honda City atau bahkan Toyota Alphard keluaran pertama, yang semakin

(20)

mengesankan Yangon seperti Jakarta di era 1990 sampai 2000-an. Banyak ditemui becak-becak khas Myanmar yang "ngetem" maupun berkeliaran di jalan-jalan utama di kota Yangon. Orang-orang dewasa Myanmar juga masih suka memainkan permainan tradisional di beberapa titik pedestrian seperti permainan dadu, dan ada juga yang masih suka main game tetris - atau orang-orang di kampung menyebutnya "jimbot".

Di sepanjang jalan kota Yangon, terlihat laki-laki Myanmar yang mayoritas menggunakan sarung (mereka menyebutnya dengan Loungi), mengunyah sirih dan menggunakan sandal. Jarang sekali Penulis mendapati mereka merokok atau menggunakan sarung dipandakan dengan sepatu. Bahkan, dalam kondisi formal sekalipun, sandal dan sarung menjadi pilihan utama orang Myanmar. Sedangkan bagi perempuan Myanmar, mereka menggunakan kain yang dilingkarkan dan diikatkan ke pinggang sehingga menjadi rok panjang. Perempuannya juga banyak yang menggunakan tanatkhar (bedak tradisional Myanmar), namun bedak tersebut tidak diusapkan merata ke wajah mereka sehingga

first impression Penulis sebagai foreigner yang baru pertama kali

mengunjungi Myanmar merasa aneh saja melihatnya. Dan hal itu ternyata hampir digunakan oleh semua perempuan Myanmar dan menjadi kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang mereka. Menurut orang-orang Myanmar yang Penulis temui, tanatkhar yang mereka gunakan tersebut membuat mereka merasa more beautiful dan kulit wajah menjadi lebih lembut serta membuat wajah terasa sejuk. Meskipun di beberapa kesempatan terlihat laki-laki juga banyak yang memakai

tanatkhar di wajahnya.

Di sisi lain, kondisi sosial masyarakat Yangon seperti pada umumnya masyarakat di Asia Tenggara. Banyak pedagang-pedagang kaki lima di sepanjang trotoar dan kondisi macet di beberapa titik jalan utama. Menariknya, di tengah hiruk-pikuk aktifitas masyarakat Myanmar yang mayoritas beragama Budha, ternyata ada juga beberapa wanita yang terlihat menggunakan hijab (jilbab) di tengah kota Yangon. Umat Islam

(21)

masih bisa beribadah meskipun setiap waktunya berjaga-jaga dari serangan ekstrimis 969 dan pengikutnya. Penulis menyempatkan diri bersama-sama teman-teman lembaga kemanusiaan Indonesia sholat subuh dan sholat Magrib di lima masjid berbeda di kota Yangon. Kondisi muslim di Yangon memang tak jauh beda dengan kondisi muslim di beberapa negara bagian dan division di Myanmar yang tidak kondusif. Menurut pengakuan warga muslim di Yangon, kondisi di Yangon mulai bergejolak pasca tragedi Juni 2012 dan semakin tidak kondusif pasca pembakaran dan pembunuhan ratusan muslim Myanmar, penghancuran 13 masjid, dan 4000 lebih rumah di Meikhtila, Mandalay Region.

Meikhtila, Kota dengan Jumlah Muslim Terbesar Kedua

Meikhtila merupakan kota dengan jumlah muslim terbesar kedua di Myanmar setelah Arakan. Kebanyakan dari muslim Meikhtila dan muslim di Myanmar adalah pedagang atau pebisnis. Bahkan perusahaan konstruksi dan hotel-hotel besar di Myanmar merupakan milik pengusaha muslim. Kegigihan muslim dalam perdagangan dan bisnis memang telah menguasai sendi-sendi ekonomi di Myanmar.

Kedai-kedai muslim juga bersebaran di kota Meikhtila dan Yangon. Mereka memberikan simbol 786 pada kedai-kedainya. Simbol 786 ini merupakan pengganti dari kalimat basmallah, yang dilekatkan pada papan nama kedai-kedai mereka, yang menandakan bahwa kedai tersebut menjual makanan halal. Namun, simbol tersebut kemudian dimaknai lain oleh kelompok ektrimis Budha, dimana mereka kemudian menyebarkan isu dan provokasi bahwa keberadaan Islam di Myanmar merupakan ancaman bagi eksistensi Budha. Mereka takut Myanmar seperti Indonesia, yang mana Indonesia dahulunya dikuasai oleh kerajaan Hindu-Budha, namun sejak masuknya Islam yang dibawa oleh pedagang-pedagang Arab, Indonesia kemudian menjadi negara muslim terbesar di dunia.

(22)

Oleh karena itu, untuk meng-counter perkembangan Islam di Myanmar, mereka membentuk gerakan/kelompok 969 yang diketuai oleh biksu Mandalay bernama Wirathu. Provokasi yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis ini memang ternyata ampuh menyulut amarah dan sinisme terhadap Islam di Meikhtila, dimana kemudian terjadi peristiwa brutal pada tanggal 25 Maret 2013 yang dilakukan oleh penduduk mayoritas Budha dengan dibantu dan didalangi oleh kelompok 969 tersebut terhadap penduduk muslim Meikhtila, yang notabenenya mayoritas adalah etnis burmese. Kelompok ekstrimis ini tidak lagi hanya menyerang eksistensi Rohingya di Arakan, namun juga keseluruhan Muslim di Myanmar. Terbukti dari kebrutalan kelompok ini telah menewaskan sebanyak 400 lebih muslim Meikhtila dan 100 lebih diantaranya adalah anak-anak yang "dipenggal" dan digantung secara keji oleh kelompok ekstrimis tersebut, yang mana mayoritas korbannya adalah burmese muslim.

Di samping itu, kelompok ekstrimis ini juga telah menghancurkan 4000 lebih rumah orang muslim dan 13 masjid dan menyebabkan belasan ribu orang tinggal di kamp-kamp pengungsian serta lebih dari 30 truk besar milik pengusaha muslim dibakar. Dari kejadian ini 51 muslim Meikhtila ditangkap, dimana pedagang muslim yang ditangkap dan diadili telah mendapatkan hukuman penjara 15 tahun untuk si suami dan 14 tahun untuk si isteri bersama pramuniaganya. Sedangkan aktor utama kebrutalan yaitu Buddhist extrimist tidak ada satupun yang ditangkap dan dihukum oleh pemerintah Myanmar.

Ribuan penduduk muslim Meikhtila mengungsi di beberapa tempat pengungsian yaitu diantaranya di gedung Basic Education High School No.1 sebanyak lebih kurang 2600 orang, di gedung Training School for

Communication sebanyak 1600 orang, di gedung Basic Education High School No.3 sebanyak 1300 orang, di Meikhtila stadium sebanyak 2600

orang , dan di Basic Education High School No. 5 tidak dapat diketahui jumlahnya, karena Penulis tidak diizinkan masuk ke area kamp pengungsian tersebut.

(23)

Di dekat kota Meikhtila juga ada kota Pyaw Pyaw City (Happy City) yang jumlah muslimnya juga cukup besar, yaitu diperkirakan belasan ribu muslim yang mendiami lebih dari 6000 rumah. Namun, jumlah pengusaha di kota ini (orang kaya) lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pengusaha di kota Meikhtila. Di kota ini, ada tujuh masjid yang berdiri berbatasan dengan desa-desa kecil di dekat kota Meikhtila.

Selain mengungsi ke kamp, muslim Meikhtila juga banyak yang melarikan diri ke desa-desa yaitu diantaranya desa Yintaw. Untuk sampai ke desa ini harus ditempuh berjalan lebih dari 100 meter dari Meikhtila. Desa ini didiami oleh banyak muslim yang terlihat dari adanya lebih dari 1000 rumah muslim, tujuh masjid dengan satu madrasah besar, dan dua normal madrasah. Madrasah besar dibangun oleh wanita muslim terkenal yaitu Hjma Daw Pu.

Kerusuhan yang terjadi di kota Meikhtila bukan lagi antara penduduk beragama Budha dengan Rohingya dan bukan antara junta militer dengan penduduk Myanmar, melainkan antara penduduk Budha yang dibantu kelompok ekstrimis 969 dan pemerintah Muanmar dengan etnis Myanmar Muslim. Oleh karenanya, konflik horizontal ini semakin menegaskan bahwa kebencian dan target kelompok 969 ini tidak lagi terhadap Rohingya tetapi juga kepada umat islam di seluruh wilayah Myanmar. Itulah mengapa kondisi muslim Myanmar saat ini dalam kondisi yang sangat tidak baik dan bahkan bisa dikatakan sangat terancam keselamatannya. Hal tersebut terbukti, pasca peristiwa Meikhtila yang didalangi oleh kelompok 969, kebencian terhadap muslim meluas ke 8 kota (townships) dan 7 desa (villages) di Myanmar, dan salah satunya adalah Yangon. Meskipun Pemerintah Myanmar menyatakan bahwa peristiwa terbunuh dan terbakarnya 13 santri yatim di Madrasah Swadikiya, Yangon Myanmar karena faktor kebakaran, namun umat muslim di Yangon punya bukti lain bahwa kelompok 969 menjadi dalang di balik peristiwa terbakarnya madrasah Swadikiya di kota Yangon tersebut. Hal ini diperkuat keterangan dari beberapa sumber yang mengatakan bahwa kondisi di Yangon saat ini dibayang-bayangi

(24)

ketakutan. Qunut nazilah selalu dibaca di setiap sholat, dan ada beberapa masjid yang di Yangon yang dilempari batu. Itulah sebabnya mengapa saat ini di Yangon setiap muslim harus sudah kembali ke rumahnya pada pukul 6 sore untuk berjaga-jaga secara bergantian di setiap ujung gang kampungnya dalam mengantisipasi serangan mendadak dari kelompok 969 dan kelompok-kelompok yang benci akan keberadaan umat Islam di Yangon, Myanmar.

Kelompok 969 jugalah yang menjadi dalang tragedi Juni 2012 kelabu yang menewaskan 10 orang muslim di dalam bus di Arakan. Gerakan ini dikontrol oleh mantan junior general (setara Wakil Presiden) pada masa pemerintahan militer Jenderal Than Shwe (1992-2010), yaitu Khin Nyunt, yang pernah dipenjara di Myanmar karena kasus korupsi pada tahun 2004 dan kemudian dibebaskan berkat kontribusi aktifis pro-demokrasi Aung San Suu Kyi bersamaan dengan pembebasan 600 lebih tahanan politik MYanmar. Khin Nyunt sendiri pernah mengasingkan diri di Israel beberapa tahun dan kemudian kembali ke Myanmar dan membangun sebuah gerakan dan organisasi untuk mengeliminasi muslim di bumi Myanmar, yang mana organisasi tersebut yang menjadi dalang segala kerusuhan dan kebrutalan terhadap umat Islam di Myanmar.

Perbuatan keji dan kebencian kelompok 969 terhadap Rohingya dan Islam memang seakan dibiarkan terpelihara hingga era pemerintahan Presiden Thein Sein (2010-2015) dan juga elit-elit politik di parlemen untuk mendulang suara dan dukungan dari kelompok minoritas serta menjegal calon-calon anggota parlemen muslim dalam pemilu yang akan diselenggarakan pada 2015 mendatang. Kelompok 969 yang dibentuk ini untuk men-counter simbol-simbol Islam yang bisanya dilambangkan dengan angka 786. Angka 786 ini biasanya terpampang di restoran-restoran muslim untuk melambangkan ucapan bismillah yang terlalu panjang apabila ditulis dan juga terlalu sensitif bagi warga Myanmar. Arti dari angka 969 sendiri kurang lebih dipropagandakan sebagai gerakan untuk kembali kepada kodrat Myanmar Buddhist sebagai raja dan mereka yang bukan Myanmar Buddhist dianggap sebagai budak (slave atau

(25)

kalar). Gerakan ini dikontrol oleh Khin Nyunt dan dipimpin oleh Wirathu,

seorang biksu dari Mandalay. Proses eliminasi sistemik ini semakin nyata terbukti yaitu baru-baru ini dibentuk sebuah organisasi yang linear dengan kelompok 969 yaitu Rohingya Elimination Group, yang mempunyai misi menghapuskan Rohingya dari tanah Arakan.

Rohingya di Arakan

Etnis Rohingya adalah etnis muslim mayoritas di Arakan yang tinggal di bagian utara Rakhine. Secara historis negara bagian ini dikenal sebagai Arakan dengan ibukotanya pada saat itu bernama Akyab. Namun, seiring dengan gerakan dan operasi eliminasi Rohingya dari Arakan oleh pemerintah dan kelompok-kelompok ekstrimis, Arakan kemudian diubah menjadi Rakhine, dan ibukota Akyab diganti menjadi Sittwe.

Arakan adalah daerah terisolasi di Burma barat yang secara geografis berbatasan dengan negara Bangladesh. Sejak Arakan di bawah aneksasi Inggris, banyak orang India dan Bangladesh yang melakukan migrasi ke Arakan dan sejak kemerdekaan Burma (sekarang Myanmar) pada tahun 1948, Pemerintah telah menyatakan migrasi tersebut adalah illegal dan menyatakan bahwa Rohingya adalah keturunan Bengali serta menolak untuk mengakui mereka sebagai etnis dan warga negara Myanmar. Setelah Jenderal Ne Win dan Partai Program Sosialis Burma-nya (BSPP) merebut kekuasaan pada tahun 1962 dari tangan U Nu, pemerintah militer mulai membubarkan organisasi sosial dan politik Rohingya. Pada tahun 1974 Pemerintahan Jenderal Ne Win (1962-1988) telah melucuti kewarganegaraan Rohingya dan selanjutnya pada tahun 1982 melalui Peraturan Kewarganeraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982), Pemerintah menyatakan Rohingya "non-national". Berdasarkan

The Pyithu Hluttaw Law No. 4 of 1982 atau Burma Citizenship Law, 15 Oktober 1982, Myanmar saat ini mengakui tiga kategori warga, yaitu

warga negara penuh, warga negara asosiasi dan warga negara

(26)

Warga, seperti yang didefinisikan oleh Konstitusi 1947, adalah orang-orang yang menjadi milik suatu "ras pribumi", memiliki nenek dari "ras pribumi", adalah anak-anak warga negara, atau tinggal di Myanmar (Burma Inggris) sebelum 1942. Menurut hukum ini, warga diharuskan untuk memperoleh Kartu Registrasi Nasional (National Registration Card), sedangkan non-warga negara diberi Kartu Pendaftaran Asing (Foreign

Registration Card).

Myanmar memiliki sistem kewarganegaraan bertingkat didasarkan pada bagaimana leluhur seseorang itu diperoleh yaitu antara lain :

1. Warga negara penuh adalah keturunan dari penduduk yang tinggal di Myanmar sebelum 1823 atau lahir dari orang tua yang adalah “warga negara” pada saat kelahiran.

2. Warga asosiasi adalah mereka yang memperoleh kewarganegaraan melalui Union Citizenship Law 1948 ;

3. Warga naturalisasi mengacu kepada orang-orang yang tinggal di Myanmar sebelum 4 Januari 1948 dan mengajukan permohonan untuk kewarganegaraan setelah 1982.

Undang-undang Kewarganegaraan Myanmar 1982 tidak mengakui Rohingya sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis yang diakui secara hukum di Myanmar hingga saat ini. Lebih dari 125.000 Rohingya yang saat ini masih bertahan di Rakhine Utara secara efektif tanpa kewarganegaraan dan hak-hak dasar manusia, begitu pula Rohingya yang telah menyelamatkan diri ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Operasi-operasi militer yang dilakukan pemerintah dan junta militer telah membumihanguskan ratusan ribu rumah, ratusan masjid, dan ribuan nyawa Rohingya.

Perlakuan diskriminasi dan kekerasan terhadap Rohingya terus terpelihara hingga saat ini, dimana President Myanmar Thein Sein mengatakan bahwa : "Rohingya are not our people and we have no duty

to protect them.' Thein Sein menginginkan etnis Rohingya dikelola oleh

(27)

negara ketiga. Lebih jauh lagi, dia menyebut etnis Rohingya di Arakan sebagai : a 'threat to national security'. Pernyataan ini tentunya berimplikasi buruk terhadap kondisi di Arakan, yang menyebabkan konflik berubah dari vertikal menjadi horizontal yaitu yang sebelumnya antara pemerintah melalui junta militer dengan Rohingya kemudian menjadi antara penduduk Mayoritas Budha dengan Muslim Rohingya. Konflik horizontal ini sengaja dibiarkan untuk melegalisasi tindakan pemerintah Myanmar untuk mengusir dan memusnahkan etnis Rohingya dari bumi Arakan.

Kondisi Arakan (sekarang Rakhine) pada akhir bulan April 2013 dalam keadaan yang sangat tidak kondusif. Bahkan satu minggu sebelum Penulis datang ke Sittwe, ibukota Rakhine, ada beberapa kerusuhan di kamp-kamp pengungsian Rohingya, dan ada pula ledakan bom di Sittwe. Kondisi ini membuat pemerintah negara bagian Rakhine menempatkan tentara dan polisi hampir di setiap titik-titik jalan di Sittwe. Lebih dari itu, bagi foreigner tidak diizinkan berkunjung ke Sittwe lebih dari dua hari terkecuali yang memiliki visa bussines. Oleh karenanya, hotel-hotel di Sittwe hanya menyediakan kamar untuk maksimal dua hari saja. Kondisi Rohingya di Arakan memang sangat tidak baik, dimana mereka saat ini tinggal di kamp-kamp yang terbuat dari tenda maupun shelter sementara

(temporary shelters).

Di Rakhine, khususnya di Sittwe, jumlah Rohingya pun sekarang semakin berkurang yang mana beberapa tahun sebelumnya diperkirakan jumlah Rohingya lebih dari 3 juta orang, namun sekarang tidak lebih dari 125.000 orang dengan rincian 100.000 orang menempati shelter-shelter di kamp pengungsian dan menempati tenda-tenda secara nomaden (seperti Rohingya dari kampung San Tu Le yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain dan melakukan perlawanan terhadap kebrutalan ekstrimis Budha).

Semua pemukiman Rohingya di tengah kota Sittwe telah dihancurkan sehingga mereka terpaksa tinggal di kamp penampungan,

(28)

dimana saat ini tinggal satu perkampungan muslim di Sittwe yang ada di tengah kota yaitu Au Min Laar yang terisolasi dan dijaga oleh militer Myanmar. Sedangkan di sekitar kamp penampungan di Ohntawgyi Area, terdapat kampung Rohingya yang masih tersisa yaitu Thatkepyin village dan Bawdupha village.

Ada tiga jenis rumah yang akan dibangun sebagai upaya rehabilitasi konflik di Arakan yaitu rumah tenda, rumah sementara (shelter), dan rumah permanen. Untuk Rohingya, sampai saat ini belum diizinkan oleh pemerintah untuk dibangunkan rumah permanen. Bantuan-bantuan Internasional melalui NGO hanya diizinkan membangun rumah tenda dan shelter, sedangkan kebijakan pembangunan rumah permanen hanya untuk Rakhine.

Kondisi yang tidak baik di Sittwe juga tidak hanya berlaku bagi Rohingya tetapi juga bagi etnis muslim lain seperti Shan dan secara umum bagi setiap muslim di Arakan, karena berdasarkan apa yang Penulis alami, penduduk setempat selalu memandang curiga dan menanyakan “asal negara” kami dan apa kepentingan kami di Sittwe. Sentimen negatif terhadap Islam (oleh kelompok ekstrimis Buddhist disebut "Anjing Muslim Kalar") memang sangat terasa di Sittwe dan sengaja dipelihara untuk kepentingan-kepentingan politik dan deal tertentu. Kalar adalah panggilan rasis untuk orang selain Burmese

Buddhist.

Mengurai Akar Masalah

Dari apa yang kami amati dari konflik berkepanjangan antara Penduduk Rakhine dan Rohingya di Arakan dan bahkan untuk muslim di Myanmar, bahwa penyebab timbulnya konflik dan mengapa konflik tersebut tidak terselesaikan adalah karena beberapa faktor. Pertama faktor SARA, bahwasanya pemerintah tidak mengakui Rohingya sebagai etnis Myanmar karena mereka keturunan asli Bengali (Bangladesh).

(29)

Disamping itu, kelompok ekstrimis 969 melakukan provokasi kebencian terhadap Islam dengan mengatakan bahwa Islam adalah ancaman buat umat Budha. Mereka menyatakan bahwa mereka khawatir jika Myanmar akan seperti Indonesia, yang dahulunya negara dengan kerajaan Hindu-Budha dan sekarang menjadi negara Islam mayoritas dan terbesar di dunia. Hal ini menurut mereka adalah ancaman serius sehingga Islam harus dieliminasi dari bumi Myanmar. Lebih dari itu, mereka menganggap bahwa burmese buddhist adalah raja dan selainnya adalah budak, sehingga burmese buddhist harus kembali dengan kodratnya sebagai Raja di negeri Myanmar.

Kedua, faktor ekonomi, bahwasanya sendi-sendi perekonomian

Myanmar dikuasai oleh pebisnis dan pedagang muslim dengan kedai-kedainya yang menggunakan simbolnya 786 (basmallah), sehingga kondisi ini menimbulkan ketegangan sosial. Kelompok ekstrimis kemudian mendirikan kelompok 969 untuk men-counter perkembangan perekonomian muslim di Myanmar, dengan cara menghancurkan kedai-kedai 786 milik muslim di Arakan dan Meikhtila. Di samping itu, wilayah Arakan kaya akan sumber gas dan sumber daya alam lainnya, yang menjadi perebutan negara-negara adidaya. Dimana untuk tahun 2010-2014 telah dibangun proyek pipa gas sepanjang 2400 km dari Arakan ke China. Pemerintah Myanmar sangat mempunyai kepentingan atas sumber daya alam melimpah di bumi Arakan tersebut.

Ketiga faktor sosial budaya, bahwasanya banyak wanita Myanmar yang

menikah dengan lelaki muslim dan kemudian menjadi mualaf. Kelompok ekstrimis dan pemerintah tidak menyukai hal tersebut dan mencoba meng-counter-nya dengan cara melarang wanita myanmar tersebut dan memenjarakan lelaki muslim yang menikahinya. Disamping itu, kebiasaan kebanyakan lelaki Myanmar (buddhist) suka mabuk dan tidak sayang terhadap istri dan keluarga, sehingga hal tersebut menjadi alasan wanita Myanmar lebih suka menikah dengan lelaki muslim yang memiliki sifat sebaliknya.

(30)

Keempat faktor politik, bahwasanya konflik yang ada di Arakan

merupakan project bagi pemerintah sehingga konflik tersebut sengaja dipelihara untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut. Disamping itu, Myanmar akan menjelang pemilihan umum pada tahun 2015, sehingga konflik ini sengaja dipelihara oleh elit politik dan pemerintah untuk kepentingan pemilu dalam mencari dukungan dari

Buddhist. Konflik ini juga tak lepas dari campur tangan negara adikuasa

yang tidak mendapatkan "kue" di Arakan karena sejauh ini China yang menikmati gas dan kekayaan alam Arakan. Terbukti sudah berjalan proyek pipa gas di Arakan yang dimulai tahun 2010-2014 sepanjang 2400 km dari Kyaukphyu sampai Kumin menuju China.

MENJUMPAI ROHINGYA DI BUMI INDONESIA (Kunjungan Lapangan ke Aceh, Sumatera

Utara & Kepulauan Riau)

(31)

Indonesia menjadi salah satu tujuan orang Rohingya karena Indonesia merupakan negara mayoritas muslim yang diharapkan dapat menjadi tempat berlindung yang aman untuk Rohingya. Persebaran kedatangan Rohingya di Indonesia memang semuanya tidak langsung melalui Myanmar menuju Indonesia. Dari wawancara yang dilakukan oleh Penulis kepada beberapa orang Rohingya yang ditampung Louksemawe, Langsa, Aceh Besar (Aceh), di Rumah Detensi Imigrasi Belawan, Medan, dan di Rumah Detensi Imigrasi Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yaitu

Pertama Rohingya sampai di Indonesia melalui Malaysia (setelah

bertahun-tahun menetap di Malaysia), dimana alasannya hijrah ke Indonesia karena di Malaysia tidak bisa mendapatkan pendidikan dan berharap mendapatkan penghidupan yang lebih baik serta berharap bisa menjadi WNI dengan jalan menikahi wanita Indonesia. Kedua, Perahu Rohingya terdampar di Indonesia dari Myanmar karena tujuan sebenarnya adalah negara Malaysia atau Australia (berlayar dengan cara tradisional). Ketiga, Rohingya dibohongi oleh Tekong yang menjanjikan akan memberangkatkan ke Australia (dari Malaysia atau Myanmar). Dan

keempat, Rohingya melarikan diri dari Arakan dengan tanpa tujuan (non

destinasi) sampai akhirnya terdampar di Indonesia.

Dalam persebaran kedatangan di Indonesia, Rohingya terdampar di beberapa wilayah di Indonesia baik karena terdampar kemudian ditangkap maupun sengaja menyerahkan diri kepada pihak Imigrasi Indonesia yang wilayahnya secara geografis dekat dengan Malaysia atau Myanmar, yaitu antara lain di Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Batam (Kepulauan Riau), dan ada juga yang ditemukan dan ditangkap di Kupang - NTT, Serang- Banten, dan Banyuwangi - Jawa Timur. Kondisi Rohingya yang kelaparan memang membuat mereka akhirnya sengaja menyerahkan diri ke pihak imigrasi dengan harapan bisa mendapatkan makanan dari pihak Imigrasi Indonesia, meskipun beberapa imigran Rohingya yang hijrah ke Indonesia dengan harapan mendapatkan

(32)

perlindungan dan kondisi yang lebih aman serta penghidupan yang lebih baik.

Nanggroe Aceh Darussalam

Aceh merupakan daerah utama hadirnya Rohingya di Indonesia karena secara geografis wilayahnya paling dekat dengan Myanmar, Malaysia dan juga Thailand. Menurut hasil data yang didapatkan dari Kanwil Kemenhukham Aceh dan Komnas HAM Aceh bahwa daerah-daerah tempat kehadiran Rohingya di Aceh yaitu antara lain di Pulau Sabang, Louksemawe, dan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Pulau Sabang sebagai bagian dari wilayah Aceh merupakan tempat dimana Rohingya banyak terdampar dan ditangkap oleh pihak Imigrasi. Tercatat berdasarkan keterangan pihak Kanwil Kemenhukham Aceh, beberapa gelombang perahu/boat orang Rohingya ditemukan dan ditangkap di Sabang. Dari data Komnas HAM Aceh sebanyak 193 Rohingya yang ditangkap di Sabang. Selain di Sabang, Rohingya juga ditemukan dan ditangkap di Lhokseumawe sebanyak 55 orang yang kesemuanya laki-laki. Yang tertua berusia 47 tahun bernama Abdul Majid dan yang termuda berusia 10 tahun bernama Nurul Hafez. Sedangkan di Idi Rayeuk menurut Komnas HAM Aceh ditemukan dan ditangkap sebanyak 173 orang Rohingya. Mereka ditampung sementara di kantor Camat Idi Rayeuk. Di Idi Rayeuk, selain Rohingya juga ada imigran Bangladesh sebanyak 58 orang. Ketika diwawancara oleh Komnas HAM, imigran Bangladesh bersedia dipulangkan ke negara asalnya sedangkan Rohingya tidak bersedia karena alasan keamanan dan kondisi mencekam di negaranya. Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, yang jaraknya kurang lebih 300 km dari Banda Aceh ditemukan imigran gelap yang setelah diklarifikasi langsung ke kantor imigrasi Meulaboh ternyata imigran tersebut asal Srilangka sebanyak 55 orang yang telah dipulangkan ke negara asalnya.

(33)

Secara formal pada tanggal 28 Januari 2013, di Aceh sudah tidak ada lagi Rohingya yang ditampung karena sudah dipindahkan ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) terdekat antara lain Rudenim Medan-Belawan, Sumatera Utara dan Rudenim Tanjung Pinang di Kepulauan Riau. Namun, secara faktual ada beberapa Rohingya yang kemudian melarikan diri atau berbaur dengan penduduk setempat. Pada bulan Januari 2013, di Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Timur ditemukan dan ditangkap seorang Rohingya bernama Mohamed Khan bin Roshid Ahmad, yang telah memegang kartu pengungsi UNHCR dari Malaysia. Alasan kaburnya Mohamed Khan dari Malaysia karena ingin bergabung dan tinggal dengan anggota keluarganya (isterinya WNI), berharap dapat diakui sebagai WNI, ingin menyekolahkan anak-anaknya, tekanan politis dan ekonomis dari Negara yang ditinggalkannya, ingin mencari penghidupan yang lebih baik dan bermartabat, dan ingin alih status pengungsi dari pengungsi UNHCR Malaysia menjadi Pengungsi UNHCR Indonesia.

Namun, kondisi aktual pada riset kedua di Aceh pada tanggal 1- 4 Maret 2013 sebanyak 121 Rohingya yang terdiri dari 99 laki-laki, 6 perempuan, 14 anak-anak, dari total 131 orang (12 orang tewas tertembak), ditampung di Keimigrasian Lhokseumawe. Di Langsa - Aceh, Rohingya yang ditampung sebanyak 63 orang yang terdiri dari 1 balita dan 13 anak-anak, 10 perempuan, dan 39 laki-laki. Kondisi mereka sangat memprihatinkan terutama anak-anak.

Menurut pengakuan Farid Alam (Pengungsi Rohingya di Penampungan Imigrasi Lhokseumawe) dan Abdul Hakim (52) (Pengungsi Rohingya di penampungan Langsa), mereka menempuh perjalanan laut yang berbahaya dari Myanmar selama 23 hari dengan perahu "butut" dan makanan yg tidak mencukupi. Satu perahu "butut" tersebut dinaiki oleh 121 orang (Louksemawe) dan 63 orang (Langsa).

Dan akhirnya mereka pun banyak yang meninggal di tengah laut. Tidak hanya itu, mereka juga ditembaki ketika melewati perairan

(34)

Thailand. Banyak yang selamat, tapi tidak sedikit yang tewas tertembak (10 orang tewas tertembak). Mereka pun "digiring" ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni, mesin-mesin boat dicopot, makanan dan minuman diambil, dan akhirnya dilepas kembali ke tengah laut dengan minuman dan makanan yang sangat sedikit. Perjalanan laut yg berbahaya tersebut membuat mereka akhirnya sampai di tengah perairan Indonesia.

Menurut Jamaludin dan Azwar, nelayan yang menyelamatkan Rohingya di perairan Selat Malaka, kapal boat Rohingya ditarik ke daratan terdekat selama 12 jam. Mereka dalam keadaan kelaparan berhari-hari, sehingga nelayan Indonesia tersebut memasakkan nasi dan ikan untuk Rohingya. Bahkan, "saking" laparnya, anak-anak Rohingya memunguti dan memakan butiran-butiran beras yang ada kapal nelayan. Kedua kapal yang ditemukan di perairan Selat Malaka dibawa ke daratan dan Rohingya (121 orang) dibawa ke Lhokseumawe dan Rohingya (63 orang) dibawa ke Idi Rayeuk dan kemudian dibawa dan ditampung di kota Langsa.

Hasil temuan lanjutan di Ladong, Aceh Besar pada tanggal 11 April 2013, ditampung sebanyak 74 Rohingya yang sebelumnya terdampar di Pulau Aceh. Dari 74 tersebut, 5 diantaranya perempuan, 5 anak-anak, dan 64 laki-laki. Menurut pengakuan Musa, satu-satunya Rohingya yang bisa berbahasa Inggris, mereka menempuh perjalanan laut selama 10 hari dan mereka tidak mempunyai tujuan, mereka hanya ingin keluar dan menyelamatkan diri dari Myanmar.

Medan, Sumatera Utara

Di Medan, Sumatera Utara, Rohingya yang ditampung di Rudenim Medan sebagian besar merupakan Rohingya yang sebelumnya ditampung di Aceh. Mereka dipindahkan dari penampungan sementara di Aceh ke Rudenim Medan, Sumatera Utara dan Rudenim Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Saat dilakukan pencarian fakta ke Rudenim Medan, terdapat 84 detainee asal Myanmar, 45 Rohingya dan 39 Myanmar non Rohingya. Dari 45 Rohingya, 31 orang laki dewasa dan 5 anak

(35)

laki-laki, 5 perempuan dewasa dan 4 perempuan anak-anak. Yang paling muda berusia 8 (delapan) bulan bernama Nur Elhan. Nur Elhan merupakan anak kedua dari pasangan Nazirudin dan Lily Jan. Nazirudin sendiri telah lama tinggal di Malaysia selama lebih kurang 23 tahun. Mereka menikah di Malaysia dan telah mempunyai kartu pengungsi dari UNHCR Malaysia. Nazirudin memutuskan meninggalkan Malaysia dan menuju Indonesia karena di Malaysia anak-anaknya yaitu Nur Elhan (8 bulan) dan Nur Bibi Jan (4 tahun) tidak bisa bersekolah sehingga Nazirudin memutuskan ke Indonesia dengan harapan anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan di Indonesia.

Kondisi ruangan penampungan di Rudenim Medan memang secara fisik seperti Rutan dengan ruang-ruang sempit dan dilengkapi jeruji besi. Kamar yang berukuran lebih kurang 2 x 4 meter itu sedianya ditempati 3 orang, namun karena terbatasnya ruangan, maka satu karena kamar ditempati 6 orang detainee. Bahkan jumlah detainee 266 orang sudah melebihi kapasitas Rudenim, bahkan rumah dinas kepala Rudenim yang berada disebelah kamar-kamar detainee akhirnya ditempati oleh keluarga Nazirudin dan anak-anaknya yang masih sangat kecil.

Secara operasional Rudenim Medan memiliki anggaran yang terbatas untuk penanganan detainee. Oleh karenanya, pelaksanaan operasional harian Rudenim Medan dibantu oleh lembaga intergovernmental IOM (International Organization for Migration). Lembaga IOM dan UNHCR pula yang melakukan assesment terhadap para imigran Rohingya mengenai pemberian status pengungsi internasional.

Di Medan, bagi Rohingya yang sudah mendapatkan status Pengungsi Internasional dari UNHCR dapat tinggal di luar Rudenim. Mereka tinggal di Jalan Cempaka, di Hotel Melati dan Hotel Pelangi di Padang Bulan. Setiap bulannya mereka mendapatkan "uang saku" dari IOM yang besarannya kira-kira 1.2 juta per orang per bulan. Mereka yang tinggal di luar Rudenim bisa beraktifitas seperti warga biasa lainnya sambil menunggu kepastian penempatan ke Negara ketiga. Sedangkan

(36)

bagi mereka yang berada di dalam Rudenim, mereka menunggu

assesment dari UNHCR dan IOM. Selama di Rudenim mereka

mendapatkan fasilitas makan, kesehatan, konsultasi dari IOM dan UNHCR. Namun, dalam prakteknya proses assesment dan penempatan ke negara ketiga tidaklah mudah. Ada detainee Rohingya yang telah 3 tahun sebagai detainee Rudenim Medan dan belum mendapatkan status pengungsi dari UNHCR, bahkan ada detainee Bangladesh yang telah 7 tahun berada di Rudenim Medan.

Tanjung Pinang, Kepulauan Riau

Pencarian fakta di Rudenim Tanjung Pinang dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2013. PIARA diterima baik oleh Kepala Rudenim Tanjung Pinang Bapak Surya Pranata, SH, MH. Di Rudenim Tanjung Pinang, jumlah imigran Myanmar pada saat PIARA mengunjungi Rudenim Tanjung Pinang tercatat berjumlah 92 orang, laki-laki dewasa 86 orang dan anak laki-laki 4 orang. Dari 92 orang Imigran Myanmar 73 di antaranya adalah Rohingya, yang kesemuanya adalah laki-laki. 55 orang diantaranya adalah detainee yang pindahan dari Louksemawe, 9 orang dari Imigrasi Batam dan 9 orang dari Imigrasi Serang, dimana 21 orang Rohingya telah mendapatkan status pengungsi dari UNHCR Indonesia. Bedanya dengan Rudenim Medan, Rohingya yang telah mendapatkan status pengungsi, tetap berada di dalam Rudenim dan tidak diizinkan keluar Rudenim atau tinggal di luar Rudenim. Mereka menunggu penempatan ke negara ketiga di dalam Rudenim, dimana di dalam Rudenim Tanjung Pinang disediakan fasilitas makan, olahraga, dan hiburan yang semuanya didanai oleh IOM.

Secara fisik Rudenim Tanjung Pinang sama dengan Rudenim Medan. Ruangan Detensi dibatasi jeruji besi sehingga secara kasat mata Rudenim terlihat seperti penjara, meskipun kekebasan bergerak para detainee tidak dibatasi di dalam Rudenim tersebut. Detainee bisa berolahraga dengan bebas di dalam Rudenim bersama detainee lainnya. Makan yang

(37)

disediakan menurut penuturan pegawai Rudenim Tanjung Pinang adalah berasal dari IOM.

Detainee Rohingya yang paling muda bernama Mohammed Zakir

berusia 10 Tahun. Ia keluar dari Myanmar bersama orang sekampungnya. Sedangkan orang tuanya masih berada di Myanmar. Ia tidak bisa berbahasa Inggris maupun Melayu dan telah tinggal di Rudenim selama satu tahun. Dia ditangkap bersama 55 orang Rohingya lainnya di Lhokseumawe dan mulai ditampung di Rudenim sejak 23 Februari 2012. Sedangkan Amir Hussin (16 Tahun) dan Hamidul Rahman (22 tahun) yang ditangkap oleh pihak imigrasi Batam, telah berada di Rudenim Tanjung Pinang sejak 08 Maret 2012. Keduanya bisa berbahasa Melayu meskipun tidak secara jelas karena sebelum ke Indonesia, keduanya telah tinggal di Malaysia dan mendapatkan status Pengungsi dari UNHCR Malaysia. Alasan mereka meninggalkan Malaysia adalah karena ingin mendapatkan penghidupan lebih baik di Indonesia. Indonesia sebagai Negara mayoritas muslim diharapkan bisa membantu mereka dan memberikan rasa aman bagi mereka. Sedangkan alasan mereka meninggalkan Myanmar menuju Malaysia adalah karena kondisi mencekam dan tidak aman di Myanmar. Mereka berlayar menggunakan perahu/boat sebanyak 30 orang dalam satu perahu dan berlayar selama 8 (delapan) hari. Sebelum berangkat mereka telah "patungan" untuk membeli bahan makanan dan bahan bakar untuk mesin boat.

Rohingya di Indonesia

Permasalahan yang dapat dielaborasi dari data-data hasil pencarian fakta tentang kondisi aktual Pengungsi Rohingya di Aceh, Medan, dan Tanjung Pinang antara lain muncul dari dalam maupun dari luar. Pertama, permasalahan yang muncul dari dalam antara lain bahwa Indonesia sampai dengan saat ini belum memiliki regulasi yang jelas mengenai penanganan pengungsi internasional dan Indonesia bukan termasuk Negara anggota peratifikasi Konvensi Wina tahun 1951 dan Protokolnya

(38)

tahun 1967 tentang Status Pengungsi sehingga Indonesia tidak mempunyai kewajiban dan kewenangan untuk mengambil tindakan internasional terhadap Imigran Rohingya yang masuk ke Indonesia.

Implikasinya, Indonesia hanya bisa menampung para imigran tersebut sampai batas waktu maksimal 10 (sepuluh) tahun tanpa bisa dan tidak mempunyai hak melakukan tindakan lebih lanjut terkait status imigran Rohingya yang masuk ke wilayah Indonesia tersebut. Terlebih lagi Indonesia di dalam undang keimigrasiannya tidak mengenal istilah pencari suaka maupun pengungsi, dimana orang asing yang

undocumented yang masuk ke wilayah Indonesia dikategorikan sebagai illegal imigrant. Implikasinya, semua orang asing yang datang ke

Indonesia (pencari suaka, pengungsi, atau pelaku kejahatan) yang tidak memiliki dokumen resmi maka dikualifikasikan sebagai imigran gelap dan mereka yang tertangkap ditahan di RUDENIM yang sama.

Dapat dipahami mengapa Indonesia sampai dengan saat ini belum mau meratifikasi Konvensi Wina tersebut. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan Penulis dengan pihak kementerian hukum dan HAM Aceh serta Medan, dan juga dengan pihak Rudenim Aceh dan Tanjung Pinang, bahwa prinsip yang melekat dalam sistem keimigrasian Indonesia adalah bahwa orang-orang asing yang masuk ke wilayah Indonesia seharusnya adalah orang-orang yang memberikan manfaat bagi Indonesia, dan bukan sebaliknya. Indonesia khawatir apabila meratifikasi konvensi tersebut akan berdampak pada stabilitas keamanan dan tanggung jawab Indonesia mengurus warga Negara lain yang datang untuk mencari suaka

(asylum seeker). Para Imigran akan "berbondong-bondong" datang ke

Indonesia untuk mencari suaka apabila Indonesia telah meratifikasi Konvensi Wina tersebut. Namun, demikian meskipun Indonesia bukan sebagai Negara anggota peratifikasi Konvensi Wina 1951, tetapi sebagai masyarakat internasional Indonesia tidak bisa menolak secara sewenang-wenang imigran yang datang meminta suaka, terlebih apabila kondisi

(39)

keamanan di Negara asalnya tidak memungkinkan para imigran tersebut untuk kembali ke Negara asalnya.

Inilah yang kemudian menjadi dilema Indonesia dalam menangani imigran yang masuk ke Indonesia. Karenanya kemudian, para imigran yang ditampung dan ditahan di Rudenim bisa sampai bertahun-tahun tinggal di Rudenim karena lamanya proses assesment yang dilakukan oleh UNHCR terhadap imigran Rohingya untuk mendapatkan status sebagai pengungsi internasional.

Disamping itu pula, kedatangan orang Rohingya ke Indonesia tidak serta merta dikualifikasikan sebagai Pengungsi, karena seseorang dikategorikan sebagai pengungsi internasional harus memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Konvensi Wina tahun 1951 tersebut. Orang Rohingya yang ada di Indonesia dikategorikan sebagai Imigran Pencari Suaka. Statusnya sebagai imigran pencari suaka tentunya berbeda dengan status sebagai pengungsi internasional baik secara hak maupun kewajiban. Ketidakjelasan status imigran Rohingya nyang masuk ke Indonesia berkontribusi terhadap lamanya proses

assesment terhadap Rohingya untuk mendapat status sebagai Pengungsi

Internasional.

Dalam prakteknya, meskipun tidak meratifikasi Konvensi Wina 1951, Indonesia mengimplementasikan dalam beberapa peraturan administratif-nya mengenai penanganan pengungsi secara subtansial yaitu antara lain Surat Edaran Perdana Menteri No. 11/RI/1956 tanggal 7 September 1956 tentang Perlindungan Pelarian Politik, Keputusan Presiden No. 38 Tahun 1979 tentang Koordinasi Penyelesaian Masalah Pengungsi Vietnam, Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2001 tentang Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, dan Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI Nomor : M.05.H.02.01 Tahun 2006 tentang Rumah Detensi Imigrasi. Namun peraturan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

(40)

Kedua, kondisi Rudenim dibatasi dengan jeruji besi dan

kawat-kawat besi di atas pagar seperti halnya sebuah lembaga pemasyarakatan (LP) sehingga terlihat dan sangat dirasakan oleh Rohingya sebagai bentuk perlakuan yang melanggar HAM. Padahal mereka datang ke Indonesia untuk tujuan mencari suaka dan bukan karena melakukan tindakan kriminal. Seharusnya dibentuk dan ditetapkan sebuah alternative

detention seperti kawasan khusus (Pulau Galang di Kepri pernah dijadikan

kawasan khusus sementara bagi pengungsi Vietnam pada tahun 1970-an) atau konsep RUDENIM yang lebih manusiawi sehingga pengungsi bisa menjalankan aktivitasnya seperti bekerja dan bersosialisasi sebagaimana manusia pada umumnya.

Faktor istilah “imigran gelap” untuk semua imigrant undocumented yang ditempatkan dalam RUDENIM yang sama serta konsep RUDENIM yang konvensional seperti penjara, telah berkontribusi dan menjadi penyebab timbulnya kerusuhan di RUDENIM Medan (Belawan) pada tanggal 5 Oktober 2013 yang lalu. Dimana di RUDENIM ini, antara Rohingya dan Myanmar Budha tinggal pada RUDENIM yang sama sehingga berimbas pada gesekan yang pada akhirnya menyebabkan 8 (delapan) orang Myanmar Budha tewas dan 18 orang Rohingya ditetapkan sebagai tersangka, yang mana 6 di antaranya masih anak-anak. Kerusuhan ini semakin menegaskan bahwa konsep RUDENIM yang saat ini diberlakukan harus segera dirubah ke konsep RUDENIM yang lebih manusiawi.

Selain permasalahan dari dalam, permasalahan juga muncul dari luar yaitu antara lain :

a. Sulitnya proses pemulangan atau repatriasi imigran Rohingya ke Myanmar karena kondisi keamanan yang makin memburuk;

b. Kedutaan Myanmar di Indonesia sama sekali tidak peduli dan tidak mengakui Rohingya sebagai warga Negara Myanmar;

c. Rohingya tidak mempunyai paspor sehingga menjadi kendala dalam proses assesment untuk menjadi pengungsi internasional;

(41)

d. Rohingya tidak mau dipulangkan karena kondisi keamanan di Myanmar;

e. Belum ada negara ketiga yang mau menampung pengungsi Rohingya; f. Rohingya bukanlah imigran yang menjadi prioritas IOM sehingga

memperlambat proses penilaian status sebagai pengungsi;

g. Lamanya Rohingya ditampung di Indonesia menjadi beban Negara; h. Rohingya banyak yang menikah dengan wanita Indonesia dan

mempunyai anak dan berharap bisa menjadi WNI;

i. Banyak Rohingya yang memiliki kartu pengungsi UNHCR palsu;

j. Imigran Rohingya tidak bisa berbahasa Melayu maupun Inggris sehingga sulit dalam melakukan tindakan keimigrasian.

Permasalahan-permasalahan yang ada tersebut tentunya menjadi permasalahan seluruh bangsa Indonesia yang harus segera ditindaklanjuti dan diselesaikan. Tidak membiarkan permasalahan mengenai Rohingya di Indonesia ini berlarut-larut. Tindak lanjut dan penyelesaian dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Secara internal tentunya perbaikan penanganan imigran Rohingya di Indonesia baik dari aspek regulasi maupun kebijakan. Secara eksternal tentunya membantu dan berkontribusi dalam penyelesaian akar konflik di Myanmar sehingga Rohingya bisa kembali ke Myanmar dan diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik etnis Rohingya dan Rakhine tidak lepas dari keterlibatan junta militer, faktor-faktor penyebab konflik etnis dilihat

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kedudukan hukum etnis Rohingya dan perlindungannya menurut Hukum Pengungsi Internasional serta untuk mengetahui pemenuhan

Aspek Kedudukan Hukum Etnis Rohingya Menurut Hukum Pengungsi Internasional, Jurnal Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, 2009. Kebijakan Pemerintah Susilo Bambang

Melihat kasus di atas, pelanggaran yang dilakukan oleh Junta Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat karena

Sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis dari Negara Bagian Rakhine, komunitas muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh Pemerintah Myanmar karena tidak

Beliau juga mengatakan bahwa ASEAN tidak dapat menekan pemerintah Myanmar agar dapat memberikan kewarganegaraan pada etnis Rohingya, dalam kasus yang terjadi

Sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis dari Negara Bagian Rakhine, komunitas muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh Pemerintah Myanmar karena tidak

Tindakan pemerintah Indonesia dalam memberikan bantuan kemanusiaan pada etnis Rohingya merupakan tindakan yang tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa ‘Kemanusiaan