• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - BRASIL PERIODE : JANUARI JUNI 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - BRASIL PERIODE : JANUARI JUNI 2013"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - BRASIL PERIODE : JANUARI – JUNI 2013

A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Brasil

Total perdagangan Brasil dengan Dunia pada periode Januari-Juni 2013 sebesar US$ 231,94 milyar atau naik sebesar 2,01% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012, yang tercatat sebesar US$ 227,37 milyar. Total perdagangan tersebut terdiri dari ekspor sebesar US$ 114,42 milyar, atau turun sebesar 2,38% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yang tercatat sebesar US$ 117,21 milyar, dan impor sebesar US$ 117,52 milyar atau naik sebesar 6,68% apabila dibandingkan dengan nilai impor periode yang sama tahun 2012, yang tercatat sebesar US$ 110,15 milyar. Pada periode ini, neraca perdagangan Brasil dengan Dunia defisit sebesar US$ 3,09 milyar. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2012, neraca perdagangan Brasil dengan Dunia surplus sebesar US$ 7,06 milyar.

 Pertumbuhan GDP Brasil pada tahun 2012 sebesar : 1,3% ;  Sementara itu, inflasi bulan Juni 2013, naik sebesar : 6,70% ;  Tingkat pengangguran bulan Mei 2013, stabil sebesar : 5,8% ;

 Nilai tukar Real Brasil (BRL) terhadap US Dollar, bulan Juni 2013, naik yaitu : BRL 2,21 / US$ 1 ;

 Tingkat suku bunga Bank Sentral Brasil, stabil sebesar : 7,25% per tahun . B. Perkembangan Perdagangan Bilateral Brasil dengan Indonesia

1. Ekspor Brasil ke Indonesia periode Januari-Juni 2013 sebesar US$ 815,63 juta, atau meningkat 32,43% apabila dibandingkan dengan nilai ekspor periode Januari-Juni 2012, sedangkan impor Brasil dari Indonesia sebesar US$ 759,86 juta, turun 12,41% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012, sehingga neraca perdagangan Indonesia dengan Brasil pada periode ini, tercatat defisit sebesar US$ 55,77 juta.

(2)

 Natural Rubber, Balata, Gutta-Percha, Guayule (HS 4001) sebesar US$ 127,26 juta, naik sebesar 4,95% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 38,55% ;

 Palm Oil and Its Fractions (HS 1511) sebesar US$ 64,74 juta, turun sebesar 0,22% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 63,27% ;

 Yarn (oth th sewing thread) Of Artificial Staple Fibres (HS 5510) sebesar US$ 66,36 juta, meningkat 17,33% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 34,90% ;

 Yarn (oth th sewing thread) Of Synthetic Staple Fibres (HS 5509) sebesar US$ 65,28 juta, meningkat 16,15% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 48,46%;

 Coconut (copra), Palm Kernel or Babassu Oil & Fractions (HS 1513) sebesar US$ 47,79 juta, turun sebesar 26,96% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 73,41%;

 Parts and Accessories Of The Motor Vehicles (HS 8708) sebesar US$ 57,42 juta, naik 35,91% dibanding periode yang sama tahun 2012, pangsa pasarnya 1,40% .

Sementara itu, impor Indonesia dari Brasil antara lain :

 Cane Or Beet Sugar And Chemically (HS 1701) sebesar US$ 220,70 juta, meningkat 561,53% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 4,04%;

 Soybean Oil Cake & Other Solid Residue, Wh/Not Ground (HS 2304) sebesar US$ 136,05 juta, meningkat sebesar 197,39%, dengan pangsa pasar 4,74% ;  Cotton, Not Carded Or Combed (HS 5201) sebesar US$ 96,00 juta, turun sebesar

8,95%, dengan pangsa pasar 21,75% ;

 Semi-finished Products Of Iron Or Non-alloy Steel (HS 7207) sebesar US$ 65,00 juta, turun sebesar 49,11% , dengan pangsa pasar 5,54% ;

 Iron Ores & Concentrates (HS 2601) sebesar US$ 50,65 juta, turun sebesar 41,03% , dengan pangsa pasar 0,34% ;

 Unmanufactured Tobacco; Tobacco Refuse (HS 2401) sebesar US$ 41,37 juta, naik sebesar 4,38% dibanding periode yang sama tahun 2012, dengan pangsa pasar 3,25% .

(3)

C. Informasi lainnya

1. Pengenaan Tindakan Anti-Dumping Duty Pada Importasi Polycarbonate Resin Dari Thailand

Tanggal 20 Juni 2013, diterbitkan Resolution CAMEX No. 43/2013 yang menyetujui ad-referendum of the Council of Ministers of Foreign Trade Chamber (CAMEX), tentang pemberlakuan anti-dumping duty dari 2013 sampai 2018 untuk importasi dari Thailand atas produk polycarbonate resins, dalam bentuk bubuk, serpih, butiran atau pelet, dengan melt index dari 1.0 hingga 59.9 min g/a0.

Produk yang masuk dalam klasifikasi HS Code 3907.40.90 dikenakan Anti-dumping duty dalam bentuk specific rate sebesar US$ 2.550,40 per ton untuk perusahaan Bayer Thailand Co.,Ltd., dan US $ 3.450,13 per ton untuk perusahaan yang lain.

Menurut penyelidikan yang dimulai Desember 2011, the Department of Defense Commercial (Decom) Trade Secretariat (Secex) of the Ministry of Development, Industry and Foreign Trade (MDIC) membuktikan adanya tindakan dumping terkait dengan produk dari Thailand ke Brazil dan mencederai (injury) industri dalam negeri, yang ditimbulkan dari praktek dagang tersebut.

Dumping merupakan un-fair trade yang terjadi ketika harga jual untuk pasar target, lebih rendah dari harga jual di pasar asal barang.

Polycarbonate resins merupakan jenis produk petrokimia yang digunakan pada hampir semua teknik yang biasa diterapkan di industri manufaktur. Material ini sangat luas aplikasinya di berbagai sektor industri seperti otomotif, elektronik dan peralatan, komputer, compact disc, video discs dan penyimpanan informasi optik, makanan, obat-obatan, rumah sakit, peralatan keselamatan, dan konstruksi sipil. Indonesia melakukan eksportasi produk sejenis dengan HS Code 3907 - Polyacetals, other polyethers and epoxide resins, in primary forms; polycarbonates ke Brasil pada tahun 2012, dengan nilai total US$ 21.282.492.

Sementara, total ekspor produk tersebut periode Januari-Juni 2013 senilai US$ 7.995.586. Hal ini, merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan pasar Brasil lebih besar, mengingat produk yang sama dari negara pesaing (Thailand), sedang mengalami hambatan karena tuduhan dumping.

Adapun, ekspor Thailand periode Januari-Juni 2013 senilai US$ 7.441.016 (nilainya lebih rendah dari Indonesia).

(4)

2. Pertemuan Bisnis dengan perusahaan LPR BRASIL Ltda.

Mr Felipe merupakan pemilik dari LPR BRASIL Ltda., perusahaan importir berbagai macam produk Yarns (benang) berupa Polyester atau Nylon dari berbagai negara, diantaranya dari Indonesia. Perusahaan LPR BRASIL Ltda. telah mengimpor dari Indonesia selama 10 tahun, dengan membeli berbagai macam produk benang lebih dari lima perusahaan di Indonesia, sebagian besar dari Jawa Barat. Nilai pembelian LPR BRASIL Ltda. per tahunnya lebih dari US$ 30 juta, bahkan di tahun 2012 perusahaan tersebut mengimpor dari Indonesia senilai US$ 38 juta. Volume bisnis perusahaan tersebut di Brasil sekitar US$ 60 juta. Selain, dari Indonesia LPR BRASIL Ltda. juga mengimpor dari China, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Kendala LPR BRASIL Ltda. dalam melakukan importasi produk benang, selain adanya pengenaan tuduhan dumping terhadap produk benang dari berbagai negara diantaranya Indonesia, juga adanya pengenaan pajak yang tinggi dari pemerintah Brasil terhadap produk benang impor.

Mr. Felipe Bittencourt menyarankan kepada Indonesia agar memasok produk kain viscose (viscose fabric) dengan harga yang lebih murah dari China, karena China juga sedang menghadapi tuduhan dumping dari Brasil. Indonesia perlu mensejajarkan harganya dengan China, apabila ingin dapat bersaing di pasar Brasil karena proses dying dan printing di Indonesia cukup mahal.

3. Pendekatan kepada BADAX Comercial Ltda.,

Mr. Luiz Carlos Barravieira Junior adalah direktur BADAX Comercial Ltda. Sejak tiga tahun yang lalu, dia melakukan importasi produk ban dari Indonesia. Namun, ada kendala dalam komunikasi dan respons para perusahaan ban di Indonesia. Sehingga, Mr. Luiz Carlos Barravieira meminta bantuan ITPC Sao Paulo untuk memfasilitasi kontak bisnis dengan para produsen ban di Indonesia, yang belum memiliki perwakilan di Brasil untuk memudahkan pelaksanaan importasi.

Mr. Luiz Carlos Barravieira, juga memiliki akses untuk membuat semacam lisensi importasi ban (Metro Certificate of Tyre) di Brasil, sehingga produk ban tersebut layak dan mudah dipasarkan sesuai dengan aturan Brasil. Dipaparkan, bahwa pasar produk ban di Brasil cukup besar dan potensial, terlebih untuk negara bagian Santa Catarina dan negara bagian lainnya di selatan Brasil.

Di samping itu, Mr. Luiz Carlos Barravieira juga tertarik membeli produk-produk lainnya dari Indonesia seperti Paper, Lights, Duct Tapes, Furniture, dan Glue

(5)

karena produk-produk impor dari China, sering mengalami tindakan anti dumping dari pemerintah Brasil, sehingga diperlukan sumber-sumber dari negara lain. Disampaikannya apabila transaksi bisnis dengan Indonesia berjalan lancar, dia akan mengimpor paling tidak sebanyak dua kontainer tiap bulannya dari Indonesia. ITPC Sao Paulo menginformasikan, Mr. Luiz Carlos Barravieira akan menghadiri Trade Expo Indonesia 2013 pada Oktober 2013 di Jakarta, dan Mr. Luiz Carlos Barravieira berniat datang ke acara Expo guna mencari peluang importasi produk-produk lainnya dari Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Koefisien determinasi R 2 antara nitrat dengan densitas zooxanthellae pada masing-masing jenis karang dominan memiliki nilai R² yang berbeda yaitu karang Acropora

Chaniago dan Ibu saya Nurjasmi Koto yang telah menjadi orang tua yang sangat luar biasa untuk saya yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk membiayai

pun sebaliknya. Adapun saran bagi siswa agar lebih memperhatikan kembali kemampuannya, apakah realistis jika orangtua menuntut sesuatu seperti itu. Bila perlu komunikasikan

Untuk mewujudkan visi tersebut Ikatan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (IMPS-A) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dalam rangka meningkatkan kualitas

Aflatoksin merupakan senyawa bersifat sangat toksik dan karsinogenik, sehingga untuk menghindarkan konsumen dari konsumsi produk itik alabio yang tercemar aflatoksin

Komponen- komponen tersebut diantaranya, (dimulai dari kiri) lembar cerita, kartu karya, dan token petunjuk seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6. Sketsa juga

Organisasi “X” membantu atau menolong orang lain yang membutuhkan karena disebabkan oleh adanya perasaan sebagai aturan atau norma yang sudah menjadi kewajibannya untuk

Simpulan kedua, faktor-faktor yang menghambat dalam pelaksanaan kebijakan Pertanahan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu belum