• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : Daun sirsak, Flavonoid. SPF Daftar Pustaka : 44 pustaka ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci : Daun sirsak, Flavonoid. SPF Daftar Pustaka : 44 pustaka ( )"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran Program Studi Farmasi

Skripsi, 22 Januari 2015

Ryan Suryanda Putra (050110a055)

Efektifitas Perlindungan Sinar UV-B Lotio O/W Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) Secara In-situ Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar

(xv + 77 halaman + 9 gambar + 11 tabel + 7 lampiran) INTISARI

Telah dilakukan penelitian tentang daun sirsak (Annona muricata L.) yang mengandung senyawa flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas perlindungan sinar UV-B lotio O/W ekstrak daun sirsak (Annona

muricata L.) yang dilakukan secara in-situ.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post

Test Control Group Design. Jumlah sampel meliputi 30 ekor tikus putih jantan

galur wistar yang dibagi menjadi 5 kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol negatif (-), kontrol positif (senyawa tabir surya merk Sollare SPF 30), kelompok perlakuan 1 (lotio ekstrak etanol daun sirsak dengan konsentrasi 20% b/v), kelompok perlakuan 2 (lotio ekstrak etanol daun sirsak dengan konsentrasi 25% b/v) dan kelompok perlakuan 3 (lotio ekstrak etanol daun sirsak dengan konsentrasi 30% b/v).

Hasil penelitian secara in-situ menyatakan bahwa pada perbandingan perlakuan kontrol positif (+) dengan lotio ekstrak etanol daun sirsak kadar 30% b/v menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan, karena nilai p-value 0,787 (p > 0,05) yang artinya kelompok perlakuan yang diberi kontrol positif (+) senyawa tabir surya merk Sollare® dengan lotio ekstrak etanol daun sirsak konsentrasi 30% b/v memiliki efektivitas yang sama atau sebanding.

Kata kunci : Daun sirsak, Flavonoid. SPF Daftar Pustaka : 44 pustaka (1972-2014)

(2)

Ngudi Waluyo School of Health Ungaran Study Program of Pharmacy

Final Assignment, 22 January 2015 Ryan Suryanda Putra (050110a055)

The Effectivity of UV-B Protection by Lotion O/W of Extract Ethanol of Sirsak Leaf (Annona muricata L.) Through In-Situ of Male Albino Rats with Wistar Strain

(xv + 77 pages + 11 tables + 9 pictures + 7 enclosures) ABSTRACT

The research had been conducted on Annona muricata L. containing flavonoids. This research aimed to know the effectivity of UV-B protection by lotion O/W of extract ethanol of Annona muricata L. through in-situ.

This research was an experimental study with Post test control group

design. The samples were 30 male albino rats with wistar strain divided into 5

groups randomly : negative control group, positive control group (Sollare®), first treatment group (lotion from extract ethanol of Annona muricata L. with 20% b/v concentration), second treatment group (lotion extract ethanol of Annona muricata L. with 25% b/v concentration) and third treatment group (Lotion extract ethanol of Annona muricata L. with 30% b/v concentration).

The results of the study through in-situ stated that comparism between control positive treatment with lotion of extract ethanol of Annona muricata L. in 30% concentration showed insignificant difference, because p-value 0,787 (p > 0,05), it meant that the positive control and lotion O/W of extract ethanol of

Annona muricata L. with 30% concentration had the same effectiveness.

Key Words : Annona muricata L., Flavonoids, SPF References : 44 references (1972-2014)

(3)

PENDAHULUAN

Sinar matahari selain merupakan sumber energi bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup, ternyata juga memberikan efek yang merugikan, antara lain menyebabkan terbakarnya sel-sel kulit manusia, pigmentasi, dan penuaan dini pada paparan yang berlebihan (Aiache, 1993 dalam Widji Soerarti et al, 2005). Terjadinya pemanasan global memungkinkan intensitas sinar ultraviolet (UV) yang sampai ke bumi menjadi bertambah karena rusaknya lapisan ozon.

American Cancer Society (2001) menyatakan bahwa sinar surya yang sampai dipermukaan bumi dan mempu nyai dampak terhadap kulit dibedakan menjadi sinar ultraviolet A atau UV-A dengan panjang gelombang (λ) 320-400 nm, sinar UV-B panjang gelombang 290-320 nm dan sinar UV-C panjang gelombang 200-290 nm.

Beberapa cara untuk mengurangi kerusakan kulit dari radikal bebas akibat sinar UV yaitu dengan pemakaian tabir surya, obat topikal vitamin A atau turunannya, atau obat topikal yang mengandung antioksidan, serta mengkonsumsi antioksidan, baik yang terdapat pada makanan maupun berupa suplemen (Baumann dan Allemann, 2009).

Antioksidan herbal yang memiliki aktivitas sebagai tabir surya pernah diteliti oleh Wiyono (2013) dengan judul penentuan nilai SPF secara in vitro krim tabir surya ekstrak etanol kulit alpukat, menyebutkan bahwa kulit alpukat memiliki kandungan kimia flavonoid. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa krim ekstrak kulit alpukat kadar 5% b/b; 7,5% b/b; dan 10% b/b memiliki tingkat kemampuan tabir surya dengan nilai SPF berturut-turut 3,99 (kategori minimal); 5,88 (kategori sedang); dan 6,81 (kategori ekstra). Tanaman yang diperkirakan mempunyai aktivitas perlindungan dari sinar UV adalah daun sirsak. Daun sirsak mengandung senyawa flavonoid, tannin, kalsium, fosfor, hidrat arang, vitamin (A, B dan C), fitosterol, Ca-oksalat dan alkaloid murisin (Mangan, 2009). Daun sirsak juga pernah diteliti sebagai antioksidan oleh Sulihingtyas et al (2012). Selain itu, daun sirsak juga sering digunakan sebagai bahan obat tradisional, antara lain untuk pengobatan kanker (Zuhud, 2011).

Adapun tujuan dari penelitian ini ialah guna mengetahui efektifitas perlindungan sinar UV-B dari lotio ekstrak daun sirsak (Annona muricata Linn) secara in-situ pada tikus putih jantan galur wistar serta untuk mengetahui kadar

lotio ekstrak daun sirsak (Annona muricata Linn) yang mempunyai aktivitas

sebagai perlindungan terhadap sinar UV yang sama dengan kontrol positif lotio merk Solare® dengan SPF 30 secara in situ.

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan

A. Alat

Kandang tikus lengkap dengan tempat pakan dan minumnya, timbangan tikus, lampu UV Exoterra, gunting dan alat pencukur bulu tikus, alat-alat pembuatan ekstrak dan lotio lengkap, boks tempat pemejanan hewan uji, plester.

(4)

B. Bahan

Ekstrak daun sirsak, tabir surya, aquadest, tikus jantan galur wistar, pakan tikus, etanol 70%, setil alkohol, asam stearat, trietanolamin, lanolin, gliserin, propil paraben, metil paraben.

Prosedur Penelitian A. Determinasi tanaman

Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Diponegoro Semarang untuk memastikan kebenaran tanaman.

B. Pembuatan serbuk daun sirsak (Annona muricata L.)

Daun sirsak (Annona muricata L.) yang telah melalui proses sortasi basah dan kering kemudian diblender hingga terbentuk serbuk daun sirsak (Annona

muricata L.). Selanjutnya untuk mendapatkan serbuk yang lebih halus diayak

menggunakan ayakan 30 mesh.

C. Pembuatan ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.)

Pembuatan ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) dilakukan dengan metode maserasi. Sebanyak 500 gram serbuk halus dilarutkan kedalam pelarut etanol 70%. Maserat yang diperoleh diuapkan di atas waterbath pada suhu 60 0C sehingga terbentuk ekstrak kental daun sirsak (Annona muricata L.)

D. Idetifikasi flavonoid

Sebanyak 0,1 g ekstrak kental daun sirsak (Annona muricata L.) ditambah metanol sampai terendam lalu dipanaskan kemudian filtratnya ditambahkan H2SO4 pekat. Terbentuknya warna merah akibat penambahan H2SO4. Selain itu juga dapat diidentifikasi dengan penambahan 5 ml dan 5 tetes asam sulfat pekat ke dalam 0,5 ml filtrat sampel.

E. Pembuatan lotio ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.)

Lotio ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu ; kadar 20% b/v, 25% b/v, dan 30% b/v. Fase minyak dan fase air lotio dipanaskan pada suhu 65 0C – 75 0C di atas waterbath. Setelah fase minyak meleleh, ditambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga homogen. Lotio yang terbentuk kemudian didinginkan selanjutnya ditambahkan ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) sesuai konsentrasi lalu didiamkan selama 24 jam sebelum perlakuan didalam wadah yang tertutup rapat.

F. Evaluasi basis lotio

1. Pemeriksaan homogenitas

Diambil lotio pada masing-masing formula secukupnya. Dioleskan pada plat kaca, diraba dan digosokkan. Massa lotio harus menunjukkan susunan homogennya yaitu tidak terasa adanya bahan padat pada kaca 2. Organoleptis

Diamati bentuk, warna dan bau dari lotio yang dibuat 3. Pemeriksaan pH lotio

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan indicator pH universal. Pemeriksaan pH dilakukan dengan mencelupkan strip pH ke dalam 1

(5)

gram sediaan lotio yang diencerkan dengan air suling hingga 10 ml. 4. Uji daya sebar

Sediaan sebanyak 0,5 gram diletakkan dengan hati-hati diatas kaca transparan, dibiarkan sesaat (15 detik) dan dihitung luas daerah yang diberikan oleh basis, lalu ditutup dengan plastik transparan. Kemudian diberi beban tertentu diatasnya (1, 3, 5, dan 7 gram) dan dibiarkan selama 60 detik. Lalu hitung pertambahan luas yang diberikan oleh basis.

5. Uji daya lekat

Sebanyak 0,1 gram sediaan dioleskan diatas objek gelas yang telah ditentukan luasnya yaitu 2 x 2 cm, diatas sediaan tersebut diletakkan objek gelas yang lain dan ditindih dengan beban 1 kg selama 5 menit, dicatat waktunya hingga kedua objek gelas tersebut lepas. Sediaan lotio yang baik memiliki daya lekat lebih dari 1 detik.

G. Uji efektivitas perlindungan terhadap sinar UV-B

Metode yang dipilih adalah metode in-situ dengan mengamati efek terjadinya eritema pada kulit hewan uji yang disinari dengan sinar UV. Tikus dibagi dalam 5 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol positif, 1 kelompok kontrol negatif, dan 3 kelompok tikus uji. Tikus sebagai kontrol negatif adalah tikus yang tidak diolesi tabir surya, tikus sebagai kontrol positif adalah tikus yang diberi senyawa tabir surya (oktil metoksi sinamat 7,5 %, benzofenon-3 3% dan titan dioksida 1,5%) merk Sollare® SPF 30. Setelah bulu bagian punggung dicukur 2 cm x 2 cm, dioleskan bahan uji. Bahan dibiarkan kontak 1 jam kemudian dipejan dengan lampu Exoterra selama 6 jam. Pengamatan dilakukan setelah bagian punggung dibersihkan. Skor eritema yang digunakan adalah 0 - 4 yang menunjukkan tidak ada eritema skor = 0, eritema sangat sedikit skor = 1 (diameter ≥25,00 mm), eritema berbatas jelas skor = 2 (diameter antara 25,10-30,00 mm), eritema moderat sampai berat skor = 3 (diameter antara 30,10-35,00 mm), eritema berat atau merah bit sampai membentuk kerak atau luka dalam = 4 (diameter ≥35,10 mm).

H. Analisa data

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni post test control

group design. Data yang diperoleh berupa skor eritema dianalisis dengan

SPSS 19.0 for Windows dengan taraf kepercayaan 95%. Untuk mengetahui normalitas data dengan menggunakan uji Shapiro-wilk karena jumlah sampel kecil (n < 50). Data dikatakan terdistribusi normal jika p > 0,05 dan data dikatakan tidak terdistribusi normal jika p < 0,05. Kemudian dilanjutkan dengan uji Levene’s test (untuk mengetahui homogenitas data). Jika nilai p > 0,05 maka data yang diuji adalah homogen dan jika p < 0,05 maka data dikatakan tidak homogen. Kemudian jika data homogen dan terdistribusi normal, maka data dianalisa dengan statistik parametrik ANOVA satu jalan, kemudian dilanjutkan dengan uji LSD. Apabila salah satu atau keduanya tidak homogen dan tidak terdistribusi normal, data dianalisa dengan statistik

nonparametrik menggunakan Kruskal-Wallis kemudian dilanjutkan dengan

(6)

HASIL PENELITIAN A. Determinasi tanaman

Hasil determinasi tanaman sirsak (Annona muricata L.) sebagai berikut : Kunci determinasi :

1b – 2b – 3b – 4b – 12b – 14b – 17b – 18b – 19b – 20b – 21b – 22b – 23b – 24b – 25b – 26b – 27a – 28b – 29b – 30b – 31a – 32a – 33a – 34b – 35b – 36d – 37b – 38b – 39b – 41b – 42b – 44b – 45b – 46e – 50b – 51b – 53b – 54b – 57b – 58b – 59d – 73a – 74a – 75b – 76a – 77a – 78b – 103b – 104b – 106b – 107b – 186b – 287b – 288b – 289b – 298b – 302b – 308b – 309b – 310b – 311a – 317b – 318a – 319b – 320a (Famili : Annonaceae) – 1b – 10b – 13b – 17a –Genus : (Annona) 1a – 2a (Species : Anona muricata L)

Berdasarkan kunci determinasi diatas diperoleh kesimpulan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah Annona muricata L. atau yang lebih dikenal dengan tanaman sirsak.

B. Pembuatan ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.)

Ekstrak kental daun sirsak diperoleh melalui proses maserasi dimana 500 gram serbuk halus dilarutkan dengan pelarut etanol 70% kemudian diuapkan di atas waterbath pada suhu 60 0C dan dihasilkan ekstrak kental seperti gambar dibawah ini.

C. Identifikasi flavonoid

Tabel 1. Reaksi kimia identifikasi flavonoid Sampel ekstrak

(berwarna hijau) Reaksi

Perubahan warna

Ditambahkan

H2SO4 pekat Merah

Ditambahkan

Amonia encer Kuning

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung senyawa flavonoid yang digunakan sebagai perlindungan terhadap sinar UV-B.

H OH -OH -OH -Flavonoid Kalkon Flavonolol Flavonoid

(7)

D. Evaluasi basis lotio

1. Pemeriksaan homogenitas

Tabel 2. Pemeriksaan homogenitas lotio ekstrak etanol daun sirsak Responden Formulasi A (kadar 20% b/v) Formulasi B (kadar 25% b/v) Formulasi C (kadar 30% b/v)

1 Homogen Homogen Homogen

2 Homogen Homogen Homogen

3 Homogen Homogen Homogen

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa ketiga formulasi lotio yang dibuat sudah homogen.

2. Pemeriksaan organoleptis

Tabel 3. Pemeriksaan organoleptis lotio ekstrak etanol daun sirsak

Responden Konsentrasi Pengamatan

Bentuk Warna Bau

1

20% b/v Semisolid Putih kental Khas asam stearat 25% b/v Semisolid Putih kekuning-kuningan Khas asam stearat 30%b/v Semisolid Putih kecoklatan Khas asam stearat

2

20% b/v Semisolid Putih kental Khas asam stearat 25% b/v Semisolid Putih kekuning-kuningan Khas asam stearat 30%b/v Semisolid Putih kecoklatan Khas asam stearat

3

20% b/v Semisolid Putih kental Khas asam stearat 25% b/v Semisolid Putih kekuning-kuningan Khas asam stearat 30%b/v Semisolid Putih kecoklatan Khas asam stearat

Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa bentuk sediaan lotio yang terbentuk memiliki bentuk yang semisolid dan bau yang khas yaitu bau asam stearat. Terdapat perbedaan warna pada tiap sediaan, ini disebabkan oleh adanya peningkatan kadar dari masing-masing formulasi dimana formulasi A dengan kadar 20% b/v, formulasi B kadar 25% b/v dan formulasi C kadar 30% b/v.

3. Pemeriksaan pH lotio ekstrak etanol daun sirsak

Tabel 4. Hasil pemeriksaan pH lotio Konsentrasi Nilai pH

Kadar 20 % b/v 5

Kadar 25% b/v 5

Kadar 30% b/v 5

Dari hasil pemeriksaan pH lotio yang terbentuk termasuk ke dalam rentang nilai pH sediaan topikal yang baik yaitu 4,5 – 6,5. Sehingga lotio dapat dikatakan aman pada pengolesan di kulit karena tidak mengiritasi kulit.

(8)

4. Uji daya sebar

Tabel 5. Hasil uji daya sebar lotio ekstrak etanol daun sirsak Formulasi Diameter penyebaran jika diberi beban (cm)

Tanpa beban

1 gram 3 gram 5 gram 7 gram

A (kadar 20%b/v 1,1 1,602 1,98 3,09 3,11

B (kadar 25% b/v) 1,1 1,603 1,97 3,10 3,14 C (kadar 30% b/v) 1,1 1,602 1,99 3,09 3,13 Standar daya sebar sediaan topikal yang baik ialah pada rentang diameter 5-7 cm, sedangkan pada daya sebar lotio yang terbentuk belum termasuk ke dalam standar daya sebar lotio yang baik sehingga absorpsi dan penyebaran dari lotio yang terbentuk berlangsung lambat.

5. Uji daya lekat

Tabel 6. Hasil uji daya lekat lotio ekstrak etanol daun sirsak

Konsentrasi Waktu

Tanpa beban tekan

Beban 1 kg

Kadar 20% b/v 5 detik 7 detik

Kadar 25% b/v 4 detik 7 detik

Kadar 30% b/v 4 detik 6 detik

Dilihat dari tabel di atas, daya lekat lotio sudah memenuhi persyaratan, karena daya lekat sediaan topikal yang baik adalah lebih dari 4 detik. Sediaan lotio dikatakan baik jika daya lekatnya besar pada daerah yang dioleskan (misalnya pada kulit)

E. Uji efektivitas perlindungan terhadap sinar UV

Uji aktivitas perlindungan terhadap sinar UV dilakukan dengan metode in-situ yaitu diamati secara langsung apakah terjadi eritema pada kulit tikus yang disinari lampu UV-B selama paparan 6 jam. Eritema yang timbul pada kulit tikus diberi skor 0-4 sebagai tingkat keparahan kondisi eritema.

Tabel 7. Hasil uji skor eritema secara in-situ

Kelompok perlakuan Mean ± SD

Kontrol negatif 3,7 ± 0,3 Kontrol positif 0,7 ± 0,4 A 2,5 ± 0,3 B 1,4 ± 0,3 C 0,7 ± 0,2 Keterangan :

Kontrol negatif : tanpa pengolesan senyawa tabir surya Kontrol positif : senyawa tabir surya merk Sollare® SPF 30 A : lotio ekstrak etanol daun sirsak 20% b/v B : lotio ekstrak etanol daun sirsak 25% b/v C : lotio ekstrak etanol daun sirsak 30% b/v

Dari data di atas dapat dilihat bahwa skor eritema paling sedikit timbul adalah pada kontrol positif dan kelompok perlakuan C dengan skor rata-rata 0,7.

(9)

F. Analisa data

Untuk mengetahui normalitas data maka dilakukan uji normalitas dengan uji

Shapiro wilk yang menyatakan bahwa data skor eritema pada tiap perlakuan

berdistribusi normal dimana p-value > 0,05. Kemudian dilanjutkan dengan uji

Levene Test untuk mengetahui homogenitas data dan diperoleh p-value 0,193

(p > 0,05) menunjukkan bahwa data yang diperoleh pada variabel skor eritema memiliki varian yang homogen.

Setelah data dinyatakan berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya dilakukan uji ANOVA. Dari hasil olah data dengan uji ANOVA didapatkan p-value < 0,05 yang artinya terdapat perbedaan bermakna pengaruh dari kelima perlakuan yang diberikan. Untuk mengetahui perlakuan mana yang memiliki pengaruh yang berbeda terhadap skor eritema tikus putih jantan galur wistar, dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji LSD

Tabel 8. Hasil uji Post Hoc menggunakan uji LSD

Pasangan Perlakuan p-value Kesimpulan

Kontrol Negatif vs kontrol positif 0,000 Berbeda signifikan Kontrol Negatif vs dosis 20% 0,000 Berbeda signifikan Kontrol Negatif vs dosis 25% 0,000 Berbeda signifikan Kontrol Negatif vs dosis 30% 0,000 Berbeda signifikan Kontrol Positif vs Dosis 20% 0,000 Berbeda signifikan Kontrol Positif vs Dosis 25% 0,002 Berbeda signifikan Kontrol Positif vs Dosis 30% 0,787 Berbeda tidak signifikan Dosis 20% vs Dosis 25% 0,000 Berbeda signifikan Dosis 20% vs Dosis 30% 0,000 Berbeda signifikan Dosis 25% vs Dosis 30% 0,001 Berbeda signifikan

Hasil dari uji LSD menyatakan bahwa pada perbandingan perlakuan kontrol positif (+) dengan ekstrak etanol daun sirsak kadar 30% b/v menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan, karena nilai p-value = 0,787 (p> 0,05) yang artinya kelompok perlakuan yang diberikan kontrol (+) dengan ekstrak etanol kadar 30% b/v memiliki efektifitas perlindungan terhadap sinar UV-B yang sama atau sebanding.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Lotio ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) mempunyai efektivitas terhadap perlindungan sinar UV-B secara in-situ

2. Lotio ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) yang sebanding dengan kontrol positif senyawa tabir surya merk Sollare® SPF 30 adalah pada konsentrasi 30% b/v.

B. Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektifitas perlindungan terhadap sinar UV-B ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) dengan formula yang berbeda dan kadar konsentrasi yang berbeda.

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim peneliti dan semua pihak yang ikut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society, 2001, Skin Cancer Fact Sheet,

http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/radiationexposureandcancer/uvra diation/uv-radiation-what-is-uv, Mei 2014.

Aiache, J.M., Devissaquet, J., 1993, Farmasetika dan Biofarmasi. Edisi Ke II, oleh Widji Soerarti, 2005, Airlangga University Press, Surabaya.

Baumann, L., and Allemann, I.B., 2009,Cosmetic dermatology principles and

practice, 2nd, McGraw-Hill, New York.

Mangan, Y., 2009, Solusi Sehat Mencegah Dan Mengatasi Kanker, AgroMedia Pustaka, Jakarta Selatan.

Markham, K.R., and Andersen, O.M., 2006, Flavonoids, Taylor & Francis Group, Francis.

Meri, S., Dachriyanus,dan Doni P.P., 2012, Aktivitas Perlindungan Sinar UV Kulit Buah Mangosta Linn, Jurnal Ilmiah Farmasi, 13(2), Universitas Andalas

Sulihingtyas, W, D., Wahjuni, S., dan Artini, N.P.R., 2012, Ekstrak Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Sebagai Antioksidan Pada Penurunan Kadar Asam Urat Tikus Wistar, Jurnal Kimia, Fakultas MIPA Universitas Udayana, Bali.

Tahir, I., Jumina, Yuliastuti, I., 2002, Analisis Aktivitas Perlindungan Sinar Uv Secara In-Vitro Dan In-Vivo Dari Beberapa Senyawa Ester Sinamat Produk Reaksi Kondensasi Benzaldehida Tersubstitusi Dan Alkil Asetat,

Jurnal, Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wiyono, W., Mokodompit, A.N., dan Edy, H.J., 2013, Penentuan Nilai Sun Protective Factor (SPF) Secara In-Vitro Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol Kulit Alpukat, Jurnal Ilmiah Farmasi, Universitas Sam Ratulangi, Sulawesi Utara.

Zuhud, E.A.M., 2011, Kanker Lenyap Berkat Sirsak, Agro Media Pustaka, Jakarta Selatan.

Gambar

Tabel 5. Hasil uji daya sebar lotio ekstrak etanol daun sirsak  Formulasi  Diameter penyebaran jika diberi beban (cm)

Referensi

Dokumen terkait

menunjukkan bahwa para guru telah menggunakan biografi tokoh dalam menanamkan sikap toleransi kehidupan beragama yang diintegrasikan dengan mata pelajaran yang

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2012 tentang Badan Akreditasi Nasional,

(Masih terdapat dana yang belum sesuai dengan perencanaan, kader kesehatan tidak diberikan uang transportasi ke puskesmas untuk diberikan penyuluhan tentang TB

Lampiran Nama Lampiran Halaman. 1 Kuesioner

Melalui media internet, diharapkan rental vcd secara online sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dapat dijalankan

Indikator yang akan dicapai yaitu persentase peningkatan pemahaman dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan social, Persentase laporan yang dapat digunakan

Hasil penelitian dari terbentuknya lapisan tipis TiAlN pada substrat pahat karbida diharapkan dapat meningkatkan kekerasan permukaan pahat karbida sehingga pahat memiliki

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “DAMPAK KENAIKAN