• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Visual Heritage Building of Surabaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Buku Visual Heritage Building of Surabaya"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Buku Visual

(2)

Penelusuran Masalah

Banyak bangunan, jalan dan situs cagar budaya yang tidak terlacak bahkan

dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru.

(Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, 2004, Penyusunan Rencana Pelestarian BENDA CAGAR BUDAYA di Kota Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya )

Sebagai warisan budaya, bangunan cagar budaya bisa menjadi masterpiece

karya kreatif manusia, memiliki keunikan universal (outstanding universal

value), dan memiliki keaslian (originality). Dari aspek sejarah, antropologi,

arkeologi, etnologi, apresiasi keindahan dan artistik serta alasan keilmuan

seperti geografi dan geologi, setiap bangunan-bangunan bersejarah beserta

kawasannya di Surabaya, diharapkan bisa menjadi masterpiece kota sehingga

perlu dilestarikan.

(Prawiranegara, RM Yunani, Anggota Tim Cagar Budaya Kota Surabaya, FORUM

(3)

Penelusuran Masalah

Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 tahun

2005, yang berisi tentang pelestarian bangunan dan atau lingkungan cagar

budaya, diperlukan sebuah media (terutama buku) yang khusus memuat

tentang bangunan-bangunan cagar budaya dan sejarahnya di Surabaya

(M. Syahroel Soelaiman, Kepala SubDinas Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata menyatakan bahwa Surabaya membutuhkan buku yang dapat menjadi literatur sejarah Surabaya, khususnya bangunan cagar budaya yang jarang sekali diangkat.)

Buku itu bersifat everlasting dan prestige

(Pak Hwie, pengusaha Perpustakaan Medayu Agung dan pengkoleksi Buku Langka)

Manfaat Buku : dapat menceritakan kejadian di masa lalu dan mengajarkan

penemuan-penemuan di masa lampau

(2006. Jendela yang Dapat Menembus Ruang dan Waktu.

(4)

Penelusuran Masalah

Untuk upaya-upaya pelestarian budaya atau sejarah, langkah awal terpenting

dalam usaha pelestarian dengan melakukan pendokumentasian.

Ada 4 cara pendokumentasian :

Film, Foto, Video, Tulisan

Pendokumentasian yang paling murah dan praktis adalah pendokumentasian

melalui tulisan/buku.

(Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra M.A, Permainan Tradisional Jawa, Sukirman Dharmamulya, Yogyakarta 2008, hal 7 )

(5)

Identifikasi Masalah

„ Menurut Dosen Arsitektur ITS dan juga merupakan pemerhati pelestarian arsitektur, Ir. Andi

Mappajaya mengatakan bahwa di Kota Surabaya memiliki banyak bangunan kuno dan unik yang perlu dilindungi dan dilestarikan. ”[1]

„ Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 tahun 2005, yang berisi tentang

pelestarian bangunan dan atau lingkungan cagar budaya, diperlukan sebuah media (terutama buku) yang khusus memuat tentang bangunan-bangunan cagar budaya dan sejarahnya di Surabaya (M. Syahroel Soelaiman, Kepala SubDinas Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata menyatakan bahwa Surabaya membutuhkan buku yang dapat menjadi literatur sejarah Surabaya, khususnya bangunan cagar budaya yang jarang sekali diangkat.)

„ Sebagai warisan budaya, bangunan cagar budaya bisa menjadi masterpiece karya kreatif manusia,

memiliki keunikan universal (outstanding universal value), dan memiliki keaslian (originality). Dari aspek sejarah, antropologi, arkeologi, etnologi, apresiasi keindahan dan artistik serta alasan keilmuan seperti geografi dan geologi, setiap bangunan-bangunan bersejarah beserta kawasannya di Surabaya, diharapkan bisa menjadi masterpiece kota sehingga perlu dilestarikan.[2]

[1] Kompas cyber media, Rabu, 04 Mei 2005, Akses 10 Februari 2009

(6)

Rumusan Masalah

Bagaimana merancang Visual Buku tentang bangunan cagar budaya kota

Surabaya dengan fungsi sebagai buku koleksi sebagai upaya pengenalan dan

(7)

Tujuan

• Adanya media berupa buku koleksi yang memuat bangunan cagar budaya kota Surabaya dapat memperlihatkan dan memberi informasi pada masyarakat luas khususnya wisatawan tentang bangunan-bangunan Kota Surabaya yang memiliki nilai historis yang tinggi yang patut dihargai dan dilestarikan.

Secara tidak langsung, dan sedikit demi sedikit mampu untuk meningkatkan animo

audience Surabaya untuk memahami lebih dalam potensi wisata serta konservasi budaya dan sejarah budaya dalam kaitannya dengan bangunan-bangunan bersejarahnya.

• Secara keseluruhan media ini dapat memicu pelestarian potensi sejarah kota Surabaya dari segi keilmuwan (yang dimuat dalam media tersebut), dan diharapkan timbul

ethoconservation, yakni upaya pelestarian oleh masyarakat secara mandiri dengan

dasar pada pemahaman dan konsep pribadi, khususnya terhadap bangunan cagar budaya.

(8)

USP

Sebuah Visual book yang menampilkan bangunan-bangunan cagar budaya

Surabaya yang memiliki nilai-nilai historis, dikemas dalam bidang keilmuan

DKV dalam bentuk fotografi disertai dengan penjelasan singkat.

(9)

Key Message

History

Heritage

(10)
(11)

Keyword

Historical Hospitality

Makna Denotatif :

Historical : Historis, Semua hal yang berkenaan dengan sejarah.

Hospitality : Keramahtamahan.

Makna Konotatif :

Historical Hospitality mempunyai makna keramahtamahan sejarah dalam artian

memberikan nuansa baru pada sejarah.

Dalam buku ini sejarah akan berusaha ditampilkan sedemikian rupa hingga

pembaca dapat merasakan langsung kondisi bangunan dan cerita dibalik

bangunan tersebut, dari situ diharapkan timbul ethoconservation, yakni upaya

pelestarian oleh masyarakat secara mandiri dengan dasar pada pemahaman dan

konsep pribadi, khususnya terhadap bangunan cagar budaya.

(12)

Strategi Komunikasi

Strategi menghadirkan keramahtamahan sebuah penelitian sejarah dalam

berkomunikasi, adalah menyajikan sejarah yang bersifat kontemplatif, personal

dan formal. Kontemplatif disini berarti, mengajak merenung dan melibatkan

emosi pembacanya yang berkarakter smart dan edukatif.

Disampaikan dengan gaya bahasa yang formal, resmi sesuai dengan obyek yang

diangkat yaitu bangunan cagar budaya Surabaya.

(13)

Strategi Visual

Warna yang akan digunakan adalah warna klasik dan tradisional yang mewakili

aspek sejarah kota Surabaya. Dalam buku Get to Communicating With Color,

warna-warna klasik menggambarkan kebenaran, juga menyimbolkan tentang bangunan dan monumen kuno. Termasuk juga dengan kombinasi warna hitam- putih, warna yang simple dan mendasar. Sedangkan warna Tradisional

menggambarkan elegant dan powerful memberikan kesan hangat dan long- lasting.[1]

Sesuai dengan yang diharapkan dalam perancangan buku ini. Kedua tone warna ini disebutkan pula cocok untuk

menggambarkan sejarah, budaya, dan isu sosial.

(14)

Strategi Visual

Layout pada buku ini lebih dominan menggunakan Headings, Sub-Headings dan Body copy dan yang paling utama menonjolkan Fotografi yang artistik sebagai kekuatan. Dengan layout

Headings, Sub-Headings dan Body copy ini menjadikan foto yang ditampilkan menjadi tampak lebih bebas tanpa terganggu elemen-elemen visual yang terlalu ramai. Sehingga, makna yang ingin disampaikan dapat di tangkap pesannya oleh target audience. Dalam penataaan layout, buku ini lebih menonjolkan foto dari pada text.

(15)

Strategi Visual

Grid yang digunakan dalam buku ini adalah komposisi mixing grid format.

Untuk penataannya fleksibel, artinya tiap halaman tidak monoton, disesuaikan dengan besar kecilnya ukuran elemen pendukung berupa fotografi atau ilustrasi dalam layout untuk tetap rapi, agar nyaman dibaca dan dilihat oleh pembaca.

Untuk layoutnya, ukuran elemen

pendukung seperti fotografi dan ilustrasi menyesuaikan dengan banyaknya narasi tiap halaman, diusahakan agar seimbang sehingga rapi dan nyaman di mata

pembaca. Layout yang diterapkan dalam buku ini adalah layout yang rapi dan bersih, agar buku ini terkesan elegan.

(16)

Strategi Visual

Gambar atau ilustrasi juga merupakan alat pendokumentasian. Ilustrasi yang

ditampilkan dalam buku ini merupakan elemen pendukung sebagai pemanis atau pelengkap narasi. Ilustrasi dalam buku ini berfungsi untuk memberikan beberapa gambaran dari narasi.

Gaya ilustrasi yang digunakan gaya semi realis dengan tone warna cokelat dan finishing arsir

(17)

Strategi Visual

Kekuatan terbesar dari fotografi adalah kredibilitas dan kemampuannya untuk memberikan kesan dapat dipercaya[1]

Fotografi di dalam buku ini merupakan elemen pendukung visual utama yang bertujuan untuk menangkap detail dari setiap bangunan cagar budaya,

menggambarkan keadaan sejarah tempo dulu (untuk foto-foto lama) yang sangat berguna dalam membangun sebuah cerita sejarah.

Hal ini dpat digambarkan melalui

fotografi, dengan memakai teknik long shoot, medium shoot , low angle dan high angle dengan menggunakan lensa wide dan lensa normal.

[1] Layout dan Dasar Penerapannya, Surianto Rustan, S.Sn, Gramedia Pustaka Utama, 2008, hal 54

(18)

Strategi Visual

Ornamen Visual yang dipakai dalam buku Heritage Building of Surabaya diambil dari elemen arsitektural Eropa.

Pemakaian elemen ini selain sebagai elemen estetis, juga sebagai elemen yang mewakili kesan ”Historikal”.

(19)

Output Visual

(20)

Output Visual

Jaket Buku dan Cover Dalam

Untuk Cover menampilkan Balai Pemuda, karena Balai Pemuda adalah salah satu bangunan yang mempunyai ciri khas dan karakteristik peninggalan Belanda yang

monumental. Dari sesama gedung peninggalan Belanda di Surabaya, Balai Pemuda adalah satu- satunya bangunan peninggalan Belanda yang memiliki bentuk seperti sekarang ini. Bahkan para turis mancanegara yang berkunjung memberikan kesan serupa dan menyatakan bahwa Balai Pemuda adalah gedung

peninggalan yang terbagus se Asia.

Cover Buku ini menggunakan art paper 210 Gr, memiliki tebal punngung 2 cm, finishing buku menggunakan teknik hardcover.

(21)

Output Visual

Grid Satu kolom

Grid Dua kolom

(22)

Output Visual

Mixing Grid Format

(23)

Output Visual

Ilustrasi Judul

(24)

Output Visual

Head Text Sistem Page Number Fotografi

(25)

Output Visual

Ilustrasi Keterangan Gambar Head Text Teks mixing grid Fotografi Fotografi

Gambar

Gambar atau ilustrasi juga merupakan alat  pendokumentasian. Ilustrasi yang

Referensi

Dokumen terkait

Mengenai upaya pelestarian bangunan dan/atau lingkungan Cagar Budaya, sebenarnya sudah ada Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012 serta diterbitkannya

Prosedur penataan bangunan dan lingkungan permukiman swadaya di sekitar cagar budaya (apalagi yang telah ditetapkan dan dilindungi oleh Undang-Undang) disusun agar

Untuk itu perlu adanya perhatian khusus untuk cagar budaya yang terdapat di Tanjung Pura ini seperti melakukan pelestarian kawasan dan bangunan- bangunan guna untuk melindungi,

Untuk itu perlu adanya perhatian khusus untuk cagar budaya yang terdapat di Tanjung Pura ini seperti melakukan pelestarian kawasan dan bangunan- bangunan guna untuk melindungi,

Pada kawasan ini telah dibuat Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang berbasis pelestarian cagar budaya yang telah dikeluarkan olehDinas Tata Ruang dan

PENENTUAN KRITERIA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN KAWASAN CAGAR BUDAYA BERDASARKAN PADA TINGKAT PERUBAHAN FISIK DAN LINGKUNGAN YANG TERJADI DI KAMPUNG PENELEH

Kedua, Eksistensi komunitas untuk pelestarian suatu bangunan cagar budaya yang ada di Kota Malang bertujuan untuk melakukan perlindungan pada suatu bangunan sehingga membuat suatu

Oleh karena hal-hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk merancang buku foto bangunan cagar budaya Jakarta Barat yang memvisualkan potret bangunan bersejarah sehingga