Karya Ilmiah
PERANAN PEMERINTAH DESA MENURUT UNDANG-UNDANG
NOMOR 23 TAHUN 2004 (PERSFEKTIF YURIDIS DAN DEMOKRATIS
DALAM PEMERINTAHAN DESA DI DESA PEMATANG TAMBUN
RAYA KECAMATAN PEMATANG SIDAMANIK KAB. SIMALUNGUN)
Oleh :
RINSOFAT NAIBAHO
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
FAKULTAS HUKUM
MEDAN
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah……… 1
B. Perumusan masalah………. . 8
C. Tujuan penelitian………..………. 9
D. Manfaat penelitian………...……..9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian peranan pemerintahan………..………. 11
B. Pengertian desa……… 13
C. Pemerintahan desa……… 16
D. Sistem demokrasi desa………...……… 25
E. Keuangan desa ...………...31
1.. Pendapatan desa………... 34
2. Belanja desa……….. 34
3. Pembiayaan desa………..35
BAB III PEMBAHASAN A. Keadaan umum Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun………..…36
dan Demokratisasi dalam pemerintahan desa di Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun)………47
D. Yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan peranan pemerintahan desa di desa pematang tambun raya kecamatanpamatang sidamanik….61 A. Keterbatasan sumber dayamanusia………...……….61
B. Keterbatasansumber dana desa……… 62
C. Kurangnya kesadaran masyarakat………. 63
D. Kurangnya pembinaan dan pengawasan dari aparat pemerintah……..64
BAB V PENUTUP
a. Kesimpulan………...……...………64
b. Saran………...………65
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas anugrah, kasih karunia,
hikmat dan sukacita sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini dengan
judul“ Peranan Pemerintahan Desa Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 ( Persfektif Yuridis dan Demokratisasi Dalam Pemerintahan Desa di Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun )”.
Penulis sadar akan ketidak sempurnaan hasil penulisan ini yang membawa harapan
yang besar kepada semua pihak agar dapat memberikan kritik dan saran yang
konstruktif guna menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih sempurna lagi, baik
BAB I PENDAHULAN A. LATAR BELAKANG MASALAH.
Sitem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut
Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keluasan kepada daerah untuk menyelenggarakan
otonomi daerah.Dalam penyelenggaraan otonomi daerah, dipandang perlu untuk lebih
menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi,peran serta masyarakat, pemerataan dan
keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.Dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerahsesuai dengan Undang-Undang Dasar
1945, pemerintahan daerah yang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat
terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,
pemberdayaan dan peranan serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah
dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan suatu
daerah dalam kesatuan system Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah propinsi dan daerah propinsi
itu dibagi atas kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur
dalam Undang-Undang.Kebijakan penyelenggaraan pemerintahan daerah tercantum
dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, yang
memberikan kewenangan kepada Desa untuk mengatur dan mengurus rumah
masyarakat setempat. Kemudian menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun
2005 tentang desa, bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hokum yang memiliki
batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 202 yaitu:
1. Pemerintah Desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa
2. Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya.
3. Sekretaris desa sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) diisi dari
pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat.
Melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 masyarakat diharapkan lebi
otonom dan lebih demokratis.Segala sesuatu yang berkaitan dengan masa depan
desanya akan ditentukan sendiri oleh masyarakat desa. Untuk itu, semua pihak
dilibatkan alam rangka membangun desanya agar lebih maju.Maka untuk
mengoptimalkan pemerintahan di desa dalam membina masyarakatnya khususnya
dalam membangun sarana dan prasarana desa.
Ada tiga fungsi utama pemerintah Desa yang terdapat dalam Undang-Undang
Nomor 32 tahun 2004 tersebut, yakni dalam bidang :
a. Pemerintahan: Urusan pemerintahan dimaksudkan adalah pengaturan kehidupan
masyarakat sesua dengan kewenangan desa seperti peraturan desa, pembentukan
lembaga kemasyarakatan, pembentukan badan usaha milik desa dan kerjasama
b. Pembangunan : Urusan pembangunan adalah pemberdayaan masyarakat dalam
penyediaan sarana dan prasarana fasilitas umum desa seperti jalan desa,
jembatan desa, irigasi desa, pasar desa dan sebagainya. Peran pembangunan
yang dilaksanakan oleh pemerintahan desa adalah merupakan indikasi
keberhasilan suatu daerah yang sedang menjalankan pemeintahan, oleh sebab
itu pemerintahan desa harus berusaha mendatangkan program-program
pembangunan
baik kepada pemerintahan diatasnya, kepada pihak non pemerntahan maupun
penciptaan partisipasi swadaya dari masyarakat desa itu sendiri.
c. .Kemasyarakatan: kemasyarakatan adalah pemberdayaan masyarakat melalui
pembinaan kehidupan social budaya masyarakat seperti bidang kesehatan,
peribadatan, pendidikan, dan pembinaan adat istiadat.
Sesuai dengan amanat yang diemban dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah,pelaksanaan fungsi dan pemerintahan,
pembangunan maupun kemasyarakatan harus beroientasi kebawah dan melibatkan
masarakat luas.Dengan cara ini pemerintah desa akan mampu mengatur
pemerintahannya dan menyerap aspirasi masyarakat banyak, sehingga kewenangan
yang dilaksanakan mampu memberdayakan dan memenuhi kebutuhan masyarakat
lalu membentuk pemerintahan yang sehat. Rakyat harus menjadi pelaku dalam
pelaksanaan kewenangan, masyaraka perlu dibina dandisiapkan unuk merumuskan
sendiri masalah yang dihadapi, merecanakan langkah-langkah yang diperlukan,
Pemerintahan Desa adalah penyelenggarakan urusan pemerintahan oleh
Pemerintahan Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan adat
istiadat setempat.Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup:
a. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa.
b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang
diserahkan pengaturannya kepada desa.
c. Tugas pembantu dari pemerintah,pemerintah propinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota.
d. Urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang-undangan
diserahkan kepada desa.1
Pada saat pola pemerintahan sentralistik, daerah memerima saja
program-program yang telah dirancang dari pusat.Akan tetapi, sekarang ini daerah harus
melakukan sendiri aktifitas perencanaan, pelaksanaan, hingga pengwasan.Dengan
beban pekerjaan yang semakin banyak tersebut, maka sumberdaa manusia harus siap
baik jumlah maupun kualitasnya. Berdasarkan UU No.32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah pasal 200 ayat 1 maka dapat diketahui bahwa dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa ada dua unsur pemerintahan penting yang
berperan didalamnya, yaitu Pemerintahan Desa dan Badan Permusyawaratan Desa.
Dimana kedua elemen pemerintahan tersebut saling berhubungan erat dalam
melaksanakan urusan pemerintahan.
1
Demi menjamin terwujudnya suatu pemerintahan yang baik dan demokratis,
lebih baik dan berpihak padamasyarakat, perlua adanyacheck and balancesebagai
Negara bagian. Wilayah Indonesia dibagi kedalam daerah-daerah baik yang bersifat
otonom maupun yang bersifat administratif antara lain:
1. Daerah-daerah itu mempunyaipemerintahan.
2. Pembagian wilayah seperti pada suatu angka dan bentuk susunan
pemerintahanya ditetapkan dengan kuasa undang-undang.
3. Dalam pembentukan daeah-daerah itu, terutama daera-daerah otonom dan
dalam menentukan susunan pemerintahannya harus diingat permusyawaratan
dalam sistem pemerintahan Negara dan hak asal-usul dalam daerah-daerah
yang bersifat istimewa (asli).2
Pemerintahan desa merupakan lembaga eksekutif dan Badan
Permusyawaratan desa merupakan lembaga legislatif desa dalam pelaksanaan
pemerintahan.Masing-masing lembaga harus mempunyai fungsi yang jelas dan lebih
independen.Seluru proes baik perumusan sampai pada pelaksnaan kebijakan dan
pemerintahan harus dlakukan secara transparan untuk diketahui publik, sehingga
mudah dalam pengawasan.
Badan Permusyawaratan Desalah yang mempunyai peran penting dalam menjaga
akuntabilitasdan keseimbangan kewenangan ditingkat pemerintahan desa. Salah satu
tugas pokok yang dilaksanakan lembaga Badan Permusyawaratan Desa adalah
2
kewajiban dalam menyalurkan aspirasi dan meningkatkan kehidupan masyarakat desa
sebagaimana juga diatur dalam UU No.32 Tahun 2004 tentang pokok-pokok
pemerintahan daerah, Badan Permusyawaratan Desa dituntut mampu menjadi
aspirator dan articulator antara masyarakat desa dengan pejabat atau instansi yang
berwenang.Tugas dan peran tersebut diwujudkan dalam proses pembuatan peraturan
desa dengan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Hubungan antara BPD dengan
Kepala desa adalah mitra kerja, yang masing-masing elemen memiliki fungsi yang
lebih spesifik dan darisanalah kekuatan itu berasal.Kekuatan didistribusikan atau
dipisahkan untuk memudahkan pengelolaan pemerintahan.Semua interaksi antar
elemen berlangsung dalam konstitusi sebagai sentral regulasi.Eksistensi desa dapat
juga dilihat dari perspektif yuridis dan demokratisasi dalam pemerntahan desa pada
hakekatnyamerupakan bentuk pemerintahan yang riil, otonom dengan tradisi
adat-istiadat dan hukumnya sendiri sangat kuat.Hal ini dapat dapat dilihat pada kerangka
pemikiran konstitusionalisme yaitu pemerintahan berdasarkan konstitusi dimana
tercakup konsepsi bahwa struktur daya jangkau kekuasaan wewenang organisasi
Negara dalam mengatur pemerintahan hanya pada tingkat kecamatan.Artinya secara
akademis mempertegas bahwa organ yang berada dibawah struktur
organisasikecamatan dianggap sebagai organ masyarakat yang sifatnya otonom.3 Berdasarkan peraturan daerah dalam rangka pembangunan ekonomi,
pembangunan daerah sebagai bagian internal dari pembangunan nasional diarahkan
untuk mengembangkan daerah dan menyerasikan laju pertumbuhan anta daerah, antar
3
kota dan desa, antar sector, serta pembukaan dan percepatan pertumbuhan kawasan
timur Indonesia, daerah terpencil, daerah minus, daerah kritis, daerah perbatasan, dan
daerah terbelakang lainnya yang disesuaikan dengan prioritas dan potensi yang
bersangkutan. Sehingga terwujud daerah pembangunan yang merupakan perwujutan
wawasan nusantara, peran aktif masyarakat didalam pembangunan perlu lebih dikem
bangkan melui pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada daerah khususnya
daerah otonom.4
Berdasarkan Peraturan Daerah Simalungun Nomor 13 Tahun 2006 Tentang
Pemerintahan Nagori atau Desa. Pada BAB I pasal 1 ayat 1 yaitu: Pemerintahan
Nagori atau Desa adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintahan
nagori dan maujana nagori dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia. Dan juga pada ayat (12)
disebutkan bahwa Maujana Nagori (BPD) adala lembaga yang merupakan perwujutan
demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Nagori sebagai unsure
penyelenggara pemerintahan Nagori.
Pemerintah dan Badan Permusyawaratan Desa di Desa Pematang Tambun
Raya Kecamatan Pamatangtang Sidamanik Kabupaten Simalungun dapat berperan
dan berfungsi untuk memperjuangkan dan mengakomodasikan kepentingan
masyarakat. Dalam kaitan ini maka BPD maupun Pemerintahan desa di Desa
4
Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun
harus memiliki sumberdaya manusia yang professional, kapabel, mantap dan dapat
diandalkan kinerja organisasinya secara keseluruhan, sehingga pemerintahan desa dan
BPD akan mampu memberikan respon terhadap percepatan kemajuan dan dinamika
yang berkembang.
Berdasarkan pengamatan yang telah penulis lakukan, ada indikasi yang belum
terlaksana dengan baik fungsi pemerintahan desa yang dilakukan oleh pemerintahan
aparatur Desa Pematang Tamun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten
Simalungun. Hal ini bias dilihat adanya gejala-gejala yang tampak selama penulis
melakukan pra-riset dikantor Kepala Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan
Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun, mengidentifikasi bahwa masih ada
terdapat masalah-masalah yang terjadi.
Berkaitan dengan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul
:“PERANAN PEMERINTAHAN DESA MENURUT UNDANG-UNDANG
NOMOR 32 TAHUN 2004 ( PERSFEKTIF YURIDIS DAN DEMOKRATISASI DALAM PEMERINTAHAN DESA DI DESA PEMATANG TAMBUN RAYA
KECAMATAN PAMATANG SIDAMANIK KABUPATEN SIMALUNGUN “.
B. PERUMUSAN MASLAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan masalah
1. Bagaimana peranan pemerintahan desa menurut Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 ( persfektif yuridis dan demokratisasi di Desa Pematang Tambun
Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun).
2. Faktor apa yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan peranan
pemerintahan desa di Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang
Sidamanik Kabupaten Simalungun?
C. TUJUAN PENELITIAN
Dengan melihat rumusan maslah seperti yang telah disebutkan diatas,
penelitian ini bertujuan untk:
1. Memberikan gambaran mengenai peranan pemerintahan desa menurut
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam persfektif dan demokratisasi di
Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten
Simalungun.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat dan pendukung
dalam pelaksanaan peranan pemerintaan desa di Desa Pematang Tambun
Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun.
D. MANFAAT PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memperoleh manfaat sebagai
berikut:
1. Bagi Pemerinah desa diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penelenggaraan
hukum dan perundang-undangan yang berlaku sehingga tujuan dari
pemrintahan desa dapat mencapai asaran yang diharapkan.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berupa sumbangan pikiran guna
menambah dan mengembangkan khasanah ilmu hukum khususnya Hukum
Tata Negara.
3. Sebagai bahan masukan bagi peranan pemerintahan desa serta penanganan
permasalahan yang timbul berkenaan dengan penyelenggaraan pemerintahan
desa.
4. Bagi penulis, penelitian ini dapat melengkapi pengetahuan dan melihat dari
dekat tentang masalah-masalah pemerintah, kususnya mengenai pemerintahan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Peranan Pemerintahan
Dalam pengertian umum, peranan dapat diartikan sebagai perbuatan seseorang
atas suatupekerjaan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, peranan adalah tindakan
yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Peranan merupakan sebuah
suatu aspek yang dinamis dari suatu kedudukan peranan juga merupakan sebuah
landasan perseps yang digunakan setiap orang yang berinteraksi dalam suatu
kelompok atau organisasi untuk melakukan suatu kegiatan mengenai tugas dan
kewajibannya. Dalam kenyataanya, munkin jelas dan mungkin juga tidak begitu jelas.
Tingkat kejelasan ini akan menentukanpula kejelasan peranan seseorang.5
Setiap orang memiliki macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola
pergaulan hidup. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang
diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan leh
masyarakat dalam menjalankan suatu peran. Peran tersebut mencakup tiga hal yaitu:
1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat
seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rankaian
peraturan-peraturan yang membimbing seseorangdalam kehidupan
masyarakat.
5
2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu
dalam masyarakat dalam organisasi.
3. Peranan juga dapat dilakukan sebagai perilaku yang penting bagi struktur
social masyarakat.6
Secara etimologis Pemerintah berasal dari kata perintah. Perintah adalah
perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu. Sedangkan pemerintah
adalah perbuatan (cara, hal, urusan dan sebagainya) memerintah. Sedangkan menurut
Inu Kencana Syafie yang mengutip dari C.F Strong dalam bukunya yang berjudul
“Ekologi Pemerintahan, sebagai berikut:
“Maksudnya Pemerintahan dalam arti luas mempunyai kewenangan untuk memelihara perdamaian dan keamanan Negara, ke dalam dan keluar. Oleh karena itu, pertama harus mempunyai kekuatan militer atau kemampuan untuk mengendalikan angkatan perang. Kedua harus mempunyai kekuatan Legislatif atau dalam arti pembuatan Undang-undang. Ketiga, harus mempunyai kekuatan finansial/kemampuan untuk mencukupi keuangan masyarakat dalam rangka membiayai ongkos keberadan Negara dalam menyelengggarakan peraturan, hal tersebut dalam rangka kepentingan Negara”.7
Pendapat lain menurut H Muhammad Rohidin Pranadjaja dalam bukunya
yang berjudul “Hubungan antar Lembaga Pemerintahan”, pengertian Pemerintah
adalah sebagai berikut :
“Istilah Pemerintah berasal dari kata perintah, yang berarti perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu, sesuatu yang harus dilakukan. Pemerintah adalah orang, badan atau aparat yang mengeluarkan atau memberi perintah”.8
6
http//www.google,perananpemerintahan desa di Indonesia.com. Diakses 24/6/2013
7
Inu Kencana Syafie, 1998,Ekologi pemerintahan, Hal.4-5.
8
B. Pengertian Desa
Secara etimologi kata desa berasal dari bahasa Sansekerta, deca yang berarti
tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran.Desa menurut H.A.W. Widjaja dalam
bukunya yang berjudul “Otonomi Desa” menyatakan bahwa:
“Desa adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan asal-usul yang bersifat istimewa. Landasan pemikiran dalam mengeai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomoi asli, demokratisasi dan pemberdayan masyarakat”.9
Desa menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
mengartikan desa sebagai berikut:
“Desa atau disebut nama lain, selanjutnya disebut desa adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan
adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintah Negara
Kesatuan Repubilk Indonesia”.
Dalam penegertian Desa menurut Widjaja dan UU Nomor 32 Tahun 2004
diatas sangat jelas sekali bahwa Desa merupakan Self Communityyaitu komunitas
yang mengatur dirnya sendiri. Dengan pemahaman bahwa Desa memiliki
kewenangan untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakatnya sesuai
dengan kondisi dan sosial budaya setempat, maka posisi desa yang memiliki
otonomiasli sangat strategis sehingga memerlukan perhatian yang seimbang terhadap
9
penyeleggaraan Otonomi Daerah. Desa memiliki wewenang sesuai yang tertuang
dalam Peraturan Pemerintah No.72 Tahun 2005 tentang desa yakni:
a. Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak
asal-usul Desa.
b. Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
kabupaten/kota yang diserahkan peraturannya kepada desa, yakni urusan
pemerintahan yang secara langsung dapa meningkatkan pelayanan
masyarakat.
c. Tugas pembantuan dari pemerintah, pemarintah provinsi, dan
Pemerintahan/Kota.
d. Urusan pemerintahan lainnya yang boleh peraturan perundang-undanagn
diserahkan kepada desa.
Tujuan pembentukan desa adalah untuk meningkatkan kemampuan
penyelenggaraan pemerintahan secara berdaya guna dan peningkatan pelayanan
terhadap masyarakat sesuai dengan tingkat perkembanagan dan kemajuan
pembangunan. Dalam menciptakan pembangunan hingga ditingkat akar rumput,
maka terdapat syarat yang harus dipenuhi untuk pembentukan desa yakni:
1. Faktor penduduk, minimal 2500 jiwa atau 500 kepala keluarga.
2. Faktor luas yang terjangkau dalam pelayanan dan pembinaan masyarakat.
3. Faktor letak yang memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi antar
4. Faktor sarana dan prasarana pemerintahan desa
5. Faktor soaial budaya, adanya kerukunan hidup beragama dan kehidupan
bermasyarakat dalam hubungan adat-istiadat.10
Faktor kehidupan masyarakat, yaitu tempat untuk keperluan mata pencaharian
masyarakat.Pembangunan nasional, desa memegang peranan yang sangat penting,
sebab desa merupakan struktur pemerintahan terendah dari sitem pemerintahan
Indonesia. Setiap jenis kegiatan pembangunan nasional pasti bermuara pada
pembangunan desa sebab pembangunan di Indonesia tidak aka nada artinya tanpa
membangun desa, dan bias dikatakan bahwa hari depan Indonesia terletak dan
tergantung dari berhasilnya kita membangun desa. Sehingga dengan semangat
desentralisasi dalam otonomi daerah ini masyarakat haruslah dilibatkan atau
diberdayakan dalam pembangunan desanya.
Desa memiliki hak otonomi tetapi tetap dalam ikatan Pemerintah Republik
Indonesia. Hak otonomi maksudnya berhak menyelenggarakan rumah tangganya
menurut keputusan sendiri, berhak mengatur rumah tangganya sendiri,asalkan tidak
bertentangan dengan peraturan pemerintah di desanya dan berkewajiban melaksanakan
peraturan pemerintahan desa.Di Desa terdapat masalah yang dihadapi masyarakat. Ada
masalah kesehatan, masalah pekerjaan dan pendapatan, pendidikan. Pertanian,
lingkungan hidu dan lain sebagainya. Masyarakat berharap dapat lepas dari
masalah-masalah warga masyarakat dakam kebutuhannya untuk meningkatkan tariff hidup
masyarakat.
10
C. Pemerintahan Desa.
Pemerintahan Desa merupakan bagian dari Pemerintahan Nasional yang peny
elenggaraannya ditujukan pada pedesaan. Pemerintahan Desa adalah suatu proses
dimana usaha masyarakat desa yang bersangkutan dipadukan dengan
usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.11
Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan mengatur dan
mengurus kepentingannya sendiri berarti kesatuan masyarakat tersebut mempunyai
otonomi karena berwenang membuat kebijakan yang bersifat mengatur sekaligus juga
berwenang membuat aturan pelaksanaannya. Dengan demikian desa mempunyai
otonomi. Hanya saja otonomi desa bukan otonomi desa yang dimiliki pemerintah
propinsidan kabupaten/kota, tetapi otonomi berdasarkan asal usul dan adat istiadat.
Otonomi berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat adalah otonomi yang
dimiliki sejak dulu kala dan telah menjadi adat istiadat yang melekat dalam
masyarakat desa yang bersangkutan dan diakui oleh undang-undang.
C.1.Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
Pemerintah desa terdiri dari pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan
Desa. Pemrintah Desa yang dimaksud terdiri dari Kepala Desa dan Perangkat Desa,
dan anggota Badan Permusyawaratan Desa adalah wakil dari penduduk desa
bersangkutan derdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara
musyawarah dan mufakat.
11
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa menurut H.A.W. Widjaja dalam bunya
“Otonomi Desa” Pemerintahan desa diartikan:
“Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintah, sehingga Desa memiliki kewenangan untk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Kepala Desa bertanggung jawab kepada Badan Permusyawaratan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tersebut kepada Bupati’.12
Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa disampakan kepada Bupati/wali
kota melalui camat satu kali dalam satu tahun. Mengimpormasikan laporan
penyelengaraan pemerintahan desa kepada masyarakat dapat berupa selebaran yang
ditempelkan pada papan pengumuman atau diinformasikan secara lisan dalam
berbagai pertemuan rapat desa dan media lainnya. Laporan tersebut digunakan oleh
bupati/walikota sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraa pemerintahan desa
dan sebagaibahan pembinaan lebih lanjut. Sebagaimana dibahas didepan, kepala desa
dibantu oleh perangkat desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Perangkat
desa bertanggung jawab kepada kepala desa, perangkat desa terdiri atas sekretaris
desa dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa diisi dari pegawai negeri sipil yang
memenuhi syarat. Kepala desa dan perangkat desa diberikan penghasilan tetap setiap
bulan dan/atau tunjangan lainnya sesuai dengan kemampuan keuangan desa yang
ditetapkan setiap tahun dalam APBDesa. Ketentuan lebih lanjut mengenai kedudukan
keuangan desa dan perangkat desa diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota
yang sekurang-kurangnya memuat:
12
a. Rincian jenis penghasilan
b. Rincian jenis tunjangan
c. Penentuan besarnya dan pembebanan pemberian
d. Penghasilan dan/atau tunjangan.13
Berdasarkan PP Nomor 72 Tahun 2005 Pasal 30 tentang desa dijelaskan bahwa
anggota Badan Permusyawaratan Desa terdiri dari Ketua rukun warga, pemangku
adat, golongan propesi, pemuka agama, dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya.
Sedangkan masa jabatan BPD adalah enam tahun dan dapat diangkat atau diusulkan
kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Jumlah anggota BPD ditetapkan
dengan jumlah ganjil, paling sedikit lima orang dan paling banyak sebelas orang
dengan memperhatikan luas wilayah, jumlah penduduk, dan kemampuan keuangan
desa. Anggota BPD adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasarkan
keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat.
Pimpinan dan anggota BPD tidak diperbolehkan merangkap jabatan menjadi kepala
desa dan perangkat desa.Pimpinan dan anggota BPD dilarang menjadi pelaksana
proyek desa, menyalahgunakan wewenang dan melanggar sumpah.14
Prinsip dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan desa adalah:
1. Untuk menjamin terselenggaranya tertip pemerintahan desa dan sesuai pula dengan
sifat Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pengaturan terhadap
penyelenggaraan
13
Hanif Nurcholis,2011,”Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa”, Jakarta, Penerbit Erlangga,Hal.77.
14
pemerintahan desa sejauh mungkin diseragamkan. Halini dimaksud untuk
memudakan pelaksanaan pembinaandan pengawasan atas Desa di seluruh Indonesia
yang beranekaragam baik dalam sunan masyarakat, tata hukun adatnya maupun latar
belakang kehidupannya sebagai sauna masyarakat kecil. Keseragaman tersebut
meliputi keijaksanaan-kebijaksanaan poko dalam penyelenggaraan pemerintahan desa
yang diarahkan kepada perwujutan daya guna dan hasil guna yang rasional.
2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pementahan desa hanya mengatur
Desa dan kelurahan dari segi pemerintahannya. Dengan demikian Undang-Undang
tersebut tetap mengakui adanya kesatuan masyarakat hukum adat dan
kebiasaan-kebiasan yang masih hidup sepanjang menunjang kelangsungan pemerintahan.
Pembangnan dan ketahanan nasional dalam Undang-undang nomo 32 tahun 2004
tenang pemerintahan desa tidak mengarah kepada pembentukan daerah otonomi
tingkat tiga. Hal ini sesuai dengan penjelasan Undang-undang tersebut yang
menegaskan bahwa walaupun desa mempunyai hak untuk menyelenggarakan rumah
tangganya sendiri, tetapi hak tersebut bukanlah hak otonomi sebagai mana dimaksud
dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang pokok-pokok pemerintahan desa.
Program tahunan dalam rencana kerja yang disusun oleh pemerintaha desa
yang selama ini diatur dengan berbagai kebijakan daerah menjadi sistem
penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 adalah
merupakan pembaharuan dalam sitem penyelenggaraan pemerintahan Desa. Oleh
karena itu dala melakukan pengkajian terhadap materi UU Nomor 32 Tahun 2004 dan
tidak menimbulkan suatu penafsiran yang keliru. Hal ini sejalan dengan penaran dan
fungsi desa dalam kehidupannya sebagai berikut:
a. Sumber segala data, informasi, daya gerak, pembinaan dan pengawasan.
b. Benteng yang harus diandalkan dalam pengalaman Pancasial.
c. Pusat penumbuhan dan peningkatan jiwa gotong-royong di segala bidang
kehidupan.
C.2. Kewenangan Pemerintahan Desa C.2.1. Kepala Desa
Kepala desa mempunyai tugas menyelenggarakan ursan pemerintahan,
pembangunan dan kemasyarakatan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala desa
mempunyai wewenang:
1. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan pemerintahan desa berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan bersama BPD,
2. Mengajukan rancangan peraturan desa,
3. Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD,
4. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APBDesa
untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD,
5. Membina perekonomian desa,
6. Membinan masyarakat desaMengkordinasikan pembangunan desa secara
partisipasif,
7. Mewakili desanya di dalam dan diluar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa
8. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenang kepala desa mempunyai kewajiban:
a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan
dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
c. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat,
d. Melaksanakan kehidupan demokrasi,
e. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari
kolusi, korupsi dan nepotisme,
f. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa,
g. Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan,
h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik,
i. Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa,
j. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa,
k. Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa,
l. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa,
m. Membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan
adat-istiadat,
n. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa,
o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan
Diatas telah disebutkan bahwa tugas dari kepala desa adalah
menyelenggarakan urusan pemerintahan, yang dimaksud dari urusan pemerintahan
yaitu antara lain pengaturan kehidupan masyarakat sesuai kewenangan desa seperti
pembuatan peraturan desa seperti pembuatan peraturan desa dan pembentukan
lembaga kemasyarakatan. Kemudian tugas kepala desa dalam hal pembangunan yaitu
antara lain pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana prasarana fasilitas
umum. Sedangkan tugas kemasyarakatan kepala desa yaitu meliputi pemberdayaan
masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat.
Sebagai mana didalam Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun Nomo 13
Tahun 2006 Pasal (58) tentang peraturan Desa menyatakan:
Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban Pangulu ( Kepala Desa):
(1) Wajib bersikap dan bertindak adil, tidak membeda-bedakan dan tidak
mempersulit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
(2) Pangulu tidak memberikan pelayanan sebagai mana ayat (1) oleh maujana
nagori dapat mengusulkan pemberhentian kepada Bupati setelah mendapat
teguran secara tertulis tiga kali berturut-turut.
(3) Surat teguran sebagaimana disebut ayat (2) Pasal ini ditembuskan kepada
Bupati Simalungun melalui Camat.
Atas pelaksanaan tugas tersebut, kepala desa berkewajiban memberikan
pertangung jawaban berupa pembuatan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa
yang ditujukan kepada Bupati/Walikota, dan laporan pertanggung jawaban kepada
masyarakat. Didalam laporan tersebut berisi laporan dari semua kegiatan desa
berdasarkan kewenangan desa yang ada, serta tugas-tugas dankeuangan dari
pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten /kota. Laporan
pertanggung jawaban atas tugas kepala desa ini dilakukan sebagai upaya untuk
mewujudkan suatu akuntabilitas dalam suatu pemerintahan desa serta sebagai upaya
dalam perwujudan transparansi pemerintahan terhadap masyarakat.
C.2.2. Badan Permusyawaratan Desa
Badan Permusyawaratan Desa berkedudukan sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan desa. Jadi, dalam menyelenggarakan pemerintahan desa terdapat dua
lembaga yaitu pemerintahan desa dan Badan pemerintahan desa. BPD berfungsi
menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan
aspirasi masyarakat. Atas fungsi tersebut Badan Permusyawaratan desa mempunyai
wewenang:
1. Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa,
2. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanakan peraturan desa dan
peraturan kepala desa,
3. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa,
4. Membentuk panitia pemilihan kepala desa,
5. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi
masyarakat,
Anggota Badan Permusyawaratan Desa adalah wakil dari penduduk desa
bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara
musyawarah dan mufakat. Anggota BPD terdiri atas ketua rukun warga, pemangku
adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya.15 Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai penanggungjawab utama dalam
bidang pembangunan kepala desa dapat dibantu lembaga kemasyarakatan yang
terdapat di desa. Sedangkan dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sekretaris desa
kepala seksi dan kepala dusun berada dibawah serta bertanggungjawab kepada
Kepala Desa, sedangkan kepala urusan berada dibawah dan bertanggung jawab
kepada sekretaris desa.
Badan Permusyawaratan Desa mempunyai hak dan kewajiban yaitu sebagai
berikut:
a. Meminta keterangan kepada pemerintah desa,
b. Mengajukan rancangan peraturan desa,
c. Mengajukan pertanyaan,
d. Menyampaikan usul dan pendapat
e. Mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati segala peraturan
perundang-undangan,
f. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan
desa,
15
g. Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keuthan Negara
Kesatuan Republik Indonesia,
h. Menyerap, menampung, menghimpun dan menindaklanjuti aspirasi
masyarakat,
i. Memproses pemlihan kepala desa
j. Mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, kelompok dan
golongan,
k. Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat,
l. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga
kemasyarakatan.
Kinerja Badan Permusyawaratan Desa dititik beratkan pada proses
penyelenggaraan Pemerintah Desa yang responsif. Sehingga diharapkan terjadinya
penyelenggaraan pemerintah yang mengedepankan pemerintah yang aspiratif dan
bertanggung jawab demi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Kinerja BPD diwujudkan dengan adanya pembentukan tata tertip BPD, pembuatan
Perdes bersama dengan pemerintah desa, pengangkatan dan pemberhentian kepala
desa. Kinerja Badan Permusyawaratan Desa dalam pelaksanaan otonomi desa
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan selalu
memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat.
D. Sistem Demokrasi Desa
Sesuai dengan prinsip demokrasi, kepala desa mempunyai kewajiban untuk
bupati/walikota.Demokrasi desa merupakan demokrasi asli yang lebih dahulu
terbentuk sebelum negara Indonesia berdiri, bahkan pada masa kerajaan sebelum era
colonial. Ciri-ciri dari demokrasi desa antara lain adanya mekanisme pertemuan antar
warga desa dalam bentuk-bentuk pertemuan publik seperti musyawarah/ rapat, dan
ada kalanya mengadakan protes terhadap penguasa (raja) secara bersama-sama.
Dengan pengertian demokrasi desa seperti di atas, pada tataran realitas
terdapat keterkaitan antara aspek ekonomi dan politik dalam konteks rakyat pedesaan.
Misalnya di Jawa pada kurun waktu pasca revolusi kemerdekaan hingga 1960an,
Moh. Hatta berpendapat, ‘di desa-desa yang sistem demokrasinya masih kuat dan hidup sehat sebagai bagian dari adat istiadat yang hakiki, dasarnya adalah pemilikan
tanah yang komunal yaitu setiap orang merasa bahwa ia harus bertindak berdasarkan
persetujuan bersama, sewaktu mengadakan kegiatan ekonomi.” Ia juga menambahkan, “struktur demokrasi yang hidup dalam diri bangsa Indonesia harus berdasarkan pada demokrasi asli yang berlaku di desa”. Perkembangan jaman
menunjukkan desa-desa di Jawa mengalami perubahan yang diakibatkan oleh
kemampuan adaptasi desa terhadap tekanan eksternal, misalnya migrasi penduduk,
atau terhadap bentuk proyek kebijakan ekonomi dan politik lainnya.
Saat ini, demokrasi desa dan desentralisasi, merupakan dua isu utama dalam
statecraft Indonesia pasca Orde Baru. Desentralisasi secara umum dikategorikan ke
dalam dua perspektif utama, yakni perspektif desentralisasi politik dan desentralisasi
administrasi. Perspektif desentralisasi politik menerjemahkan desentralisasi sebagai
perspektif desentralisasi administrasi diartikan sebagai pendelegasian wewenang
administratif dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
Jika desentralisasi merupakan arena hubungan antara desa dengan pemerintah
supra desa yang bertujuan untuk memberikan pengakuan terhadap eksistensi desa,
memperkuat identitas lokal, membangkitkan prakarsa dan inisiatif lokal, serta
membagi kekuasaan dan kekayaan kepada desa, dan mewujudkan otonomi desa,
maka demokratisasi merupakan upaya untuk menjadikan penyelenggaraan
pemerintah desa menjadi lebih akuntabel, responsif, diakui oleh rakyat, mendorong
parlemen desa berfungsi sebagai badan perwakilan serta memperkuat partisipasi
masyarakat desa dalam proses pemerintahan dan pembangunan desa. Partisipasi juga
menandai keikutsertaan kalangan marjinal yang selama ini disingkirkan dari proses
politik dan ekonomi.
Prinsip kekeluargaan yang bersumber pada kepribadian dan pandangan hidup
bangsa Indonesia Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu negara
demokrasi. Salah satu bentuk dari demokrasi di tingkat desa yaitu pemilihan Kepala
Desa yang merupakan wujud dari pelaksanaan yang dipraktekkan di Indonesia ini
didasarkan pada prinsip musyawarah dan mufakat atau demokrasi langsung.
Disamping itu kehadiran Badan Perwakilan Desa (BPD) mempunyai peranan
atau kedudukan yang penting yaitu membuat peraturan desa, menampung dan
menyalurkan aspirasi masyarakat, serta melakukan pangawasan terhadap
penyelenggaraan pemerintahan desa, dalam hal ini proses PILKADES (Pemilihan
desa. Terlebih bagi mereka yang masih masih punya pandangan bahwa dengan status
sosial dikalangan masyarakat, dengan kata lain kedudukan kepala desa di dalam
masyarakat merupakan posisi yang sangat diminati oleh masyarakat desa.
Adapun proses dari PILKADES dalam rangka pelaksanaan demokrasi yang
melalui beberapa tahapan, menunjukkan pada ; Tahap persiapan (pembentukan
panitia) yaitu BPD membentuk panitia pencalonan, panitia pengawas, serta panitia
peneliti dan penguji. Tahap ujian Kepala Desa yaitu terdiri dari ujian lisan dan ujian
tertulis. Tahap kampanye yaitu kegiatan untuk menyampaikan sesuatu agar orang lain
tertarik dengan salah satu peserta calon Kepala Desa yan pelaksanaannya pada satu
hari sebelum hari H. Tahap pelaksanaan pemilihan pemungutan suara yaitu memilih
salah satu calon kepala desa dengan mencoblos gambar yang menjadi unggulan
dalam kartu suara. Serta tahap pengesahan (pengangkatan) dan pelantikan kepala desa
yaitu calon kepala desa yang terpilih disahkan, diangkat dan dilantik oleh Bupati
selaku Kepala Daerah untuk menjadi kepala desa.
Sebagai tindak lanjut dari peraturan mengenai desa yang merupakan pedoman
dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.16Sebelum pelaksanaan pemilihan kepala
desa, BPD memberitahukan kepada kepala desa mengenai akan berakhirnya masa
jabatan kepala desa secara tertulis enam bulan sebelum berakhir masa
jabatan.Disamping itu tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin
penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih lanjut dengan peraturan daerah
16
berdasarkan peraturan pemerintahan. Kepala desa berhenti karena meninggal dunia,
permintaan sendiri dan diberhentikan. Dimana kepala desa diberhentikan karena:
1. Berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru.
2. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap
secara berturut-turut selama enam bulan
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebaga kepala desa
4. Dinyaakan melanggar sumpah/ janji jabatan
5. Tidak melaksanakan kewajiban kepala desa
6. Melanggar larangan bagi kepala desa.
Masa jabatan kepala desa adalah lima tahun, yang dihitung sejak yang
bersangkutan dilantik.kepala desa yang sudah menduduki jabatan kepala desa hanya
boleh menduduki jabatankepala desa lagi untuk satu kali masa jabatan. Perangkat
desa bertanggung jawab kepada kepala desa. Perangkat desa terdiri atas sekretaris
desa dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa diisi dari pegawai negeri sipil yang
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Berpendidikan paling rendah ulusan SMA atau sederajat,
b. Mempunyai pengetahuan tentang teknis pemerintahan,
c. Mempunyai kemampuan dibidang administrasi perkantoran,
d. Mempunyai pengalaman dibidang administrasi keuangan dan dibidang
perencanaan,
f. Bersedia tinggal di desa yang bersangkutan.17
Sekretaris desa diangkat oleh sekretaris darah kabupaten/kota atas nama
bupati/ walikota. Adapun perangkat desa lainnya diangkat oleh kepala desa dari
penduduk desa yang bersangkutan.Untuk bias dangkat sebagai perangkat desa calon
harus berusia paling rendah 20 tahun dan paling tinggi 60 tahun. Jumlah perangkat
desa disesuaian dengan kebutuhan dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Susunanorganisasi dan tata kerja pemerintahan desa ditetakan dengan peraturan desa.
Ketentuan lebih lanjut megenai pedoman penyusunan organisasi dan tata kerja
pemerintahan desa diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota.
Anggota BPD adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasakan
keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. Masa
jabatan anggota BPD adalah enam tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu kali
masa jabatan berikutnya. Jumlahanggota BPD ditetapkan dengan jumlah ganjil,
paling sedikit lima orang dan paling banyak 11 orang, dengan memperhatikan luas
wilayah, jumlah penduduk dan kemampuan keuangan desa. Pimpinan Badan
Permusyawaratan desa teridri dari satu orang ketua, satu orang wakil ketua dan satu
orang sekretaris. Pimpinan BPD dipilih dari dan oleh anggota BPD secara langsung
dalam rapat BPD yang diadakan secara khusus.
17
E. Keuangan Desa
Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan desa, termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan
yang berhubungan dengan hak dan kewajiban desa tersebut. Desa dikelola melalui
Anggaran Pendapatan Belanja Desa. Telah dikemukakan, bahwa desa yang berhak
mengurus rumah tangganyasendiri membutuhkan biaya untuk membiayai
penyelenggaraan roda pemerintahan desa.18 Maka pemerintahan desa diberikan wewenang untuk mencari sumber pendapatan desa sesuai dengan kemampuannya.
Sumber-sumber pendapatan desa yang pada umumnya adalah sebagai barikut:
1. Dari pemerintah ialah sumbangan-sumbangan dari pemerintah pusat atau
pemerintah daerah yang perlu direalisasikan dalam APBD masing-masing
10% untuk dana alokasi desa. Adapun jenis-jenis sumbangan dari pemerintah
pusat sebagai berikut :
a. Bantuan, sudsidi atau sumbangan dari pemerintah pusat melalui APBN,
b. Bantuan dari pemerintah propinsi melalui APBD,
c. Bantuan dari pemerintah kabupaten,
d. Sumbangan atau hadiah dari panitia-panitia perlombaan,
e. Sebagian pajak dan retribusi yang diberikan kepada desa.
2. Dari masyarakat adalah smber dari masyarakat dikenal dengan berbagai
sebutan seperti: gotong-royong, iuran dan organisasi kemasyarakatan.
18
Naskah akademik rancangan Undang-undang tentang desa.direktorat pemerintahan desa dan kelurahan direktorat jenderal pemberdayaan masyarakat dan desa departemen dalam negeri jakarta
3. Dari pihak ketiga adalah pemerintah desa dapat menerima sumber dari pihak
ketiga yang bersifat tidak mengikat dan sah. Misalnya dari yayasan,
badan-badan dan organisasi.
4. Dari kekayaan desa adalah segala kekayaan dan sumber penghasilan bagi desa
bersangkutan, kekayaan desa tersebut terdiri dari :
a. Tanah kas
b. Pasar desa
c. Bangunan desa
d. Objek rekreasi yang diurus desa
e. Pemandian umum yang diurus desa
f. Hutan desa
g. Tempat-tempat pemancingan
h. Pelelangan ikan yang dikelola desa
Pemerintah desa wajib mengelola keuangan desa secara transparan, akuntabel,
partisipasif serta dilakukan dengan tertip dan disiplin.Transparan artinya dikelola
secara terbuka, akuntabel artinya dipertanggung jawabkan secara legal, dan
partisipasif artinya melibatkan masyarakat dalam penyusunannya. Disamping itu
keuangan desa harus dibukukan dalam sistem pembukuan yang benar sesuai dengan
kaidah sistem akuntansi keuangan pemerintahan.
Sistem pengelolaan keuangan desa mengikuti sistem anggaran nasional dan
kepala pemerintah desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa dan
mewakili pemerintah desa dalam epemilikan kekayaan desa yan diisahkan.19
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
Anggaran pendapatan dan belanja desa adalah suatu daftar terperinci
mengenai rencana kegiatan desa yang ditetapkan dalam jangka waktu tertentu
biasanya satu tahun sekali. Anggaran desa yang tertuang didalam APBDesa
merupakan satu kesatuan yang terdiri dari anggaran rutin dan anggaran
pembangunan. Anggaran pengeluaran rutin dibiayai dengan anggaran penerimaan
rutin. Sebaliknya anggaran penermaan dbiayaioleh anggaran penerimaan
pembangunan.20
Maka sewajarnya desa yang telah mengurus dan menyelengarakan
rumahtangganya sendiri setiap tahun harus menyusun Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa, karena demikian semua pengeluaran dan pendapatan
dan belanja desa. Anggaran Pendapatan dan belanja desa terdiri atas bagian
penerimaan dan pengeluaran. Dengan demikian, kegiatanpemerintah desa berupa
pemberian pelayanan, pembangunan dan perlindungan kepada warga dalam tahun
berjalan sudah dirancang anggarannya sehingga sudah dipastikan dapat dilaksanakan.
Pendapatan belanja desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa
yang merupakan hak desa dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar
kembali oleh desa.
19
Hanif Nurcholis, Opcit.Hal.82.
20
2. Pendapatan Desa
Pendapatan desa meliputi semua penrimaan uang melalui rekening desa antara
lain:
a. Pendapatan asli desa,
b. Bagi hasil pajak kabupaten
c. Bagian dari retribusi
d. Alokasi dana desa
e. Bantuan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota dan desa lainnya,
f. Hibah
g. Sumbanganpihak ketiga.
3. Belanja desa
Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan
kewajiban desa dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh desa. Belanja desa terdiri atas:
1. Belanja langsung yang terdiri atas:
a. Belanja pegawai,
b. Belanja barang dan jasa,
c. Belanja modal
2. Belanja tidak lansung yang terdiri atas:
b. Belanja subsidi
c. Belanja hibah
d. Belanja bantuan sosial
e. Belanja bantua keuangan
f. Belanja tak terduga.
4. Pembiayaan desa
Pembiayaan desa meliputisemua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan
pengeluara yang akan diterima kembali, baik ada tahu anggaran yang bersangkutan
maupun pada tahun-than anggaran berikutnya. Pembiayaan desa terdir dari:
1. Penerimaan pembiayaan yang mencakup:
a. Sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya,
b. Pencairan dana cadangan,
c. Hasil penjualan kekayaan desa ang dipisahkan,
d. Penerimaan pinjaman.
2. Pengeluaran pembiayaan yang mencakup:
a. Pembentukan dana cadangan,
b. Peyertaan modal desa,
BAB III PEMBAHASAN
A. Keadaan Umum Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun
1. Sejarah Desa Pematang Tambun Raya
Sejarah Desa Pematang Tambun Raya terbentuk sejak jaman kerajaan dan
jaman penjajahan yang disebut sebagai Partuanon atau Raja. Yang dimana
masing-masing Huta ( kampung) dipimpin oleh seorang raja, kemudian setelah Indonesia
merdeka Huta (kampung) tersebut digabungkan menjadi 1 (satu) yan disebut sebagai
Desa Pematang Tambun Raya yang terdiri dari 4 ( empat) dusun. Masing-masing
kepala desa yang pernah menjabat sebagai kepala desa di Desa Pematang Tambun
Raya adalah:
Najain Sinaga : s/d 1994
Timur Sidabalok : 1994–1999
Judin Damanik : 1999–2004
Holman Sitanggang : 2004–2009
Robinhoot Silalahi : 2009 s/d sekarang
2. Kondisi Geografis
Kondisi masyarakat desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang
Sidamanik Kabupaten Simalungun, dimana masyarakatnya mengandalkan sektor
Tambun Raya juga masih sangat erat. Adapun batasan Wilayah Desa Pematang
Sidamanik meliputi :
1. Sebelah Utara berbatasan : Tigaras
2. Sebelah Selatan berbatasan : Danau Toba
3. Sebelah Barat berbatasan : TPL/ Indorayon
4. Sebelah Timur berbatasan : Sipolha
Luas wilayah Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik yaitu
14 Ha, dengan ketinggian dari permukaan laut yaitu 1000 meter.
3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Komposisi penduduk desa Pematang Tambun Raya berdasarkan tingkat
pendidikan dapat dipilih pada table sebagai berikut :
Tabel : 1.1
Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik
No. Jabatan Jumlah
1. Belum Sekolah 150
2. Usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah 10
3. Pernah sekolah tapi tidak tamat 50
4. SD 189
5. SMP 168
6. SMA 176
7. Sarjana 49
Jumlah 765
Dari tabel 1.1 menujukkan bahwa tingkat pendidikan desa Pematang Tambun
Raya yang paling banyak yaitu SD yaitu 189 orang, tamatan SMP 168 orang, tamatan
SMA 176, sarjana 49 orang, serta kelompok tingkat pendidikan yang pernah sekolah
tapi tidak tamat mencapai 50 orang kemudian usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah
mencapai 10 orang dan yang belum sekolah mencapai 150 orang.
Dari table diatas dapat disimpulkan bahwa penduduk desa Pematang Tambun
Raya sebagian besar masih bependidikan rendah.Lahan pertanian dan persawahan
memegang penting dalam sektor perekonomian masyarakat desa dikarenakan
rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian atau keterampilan terutama pada kalangan
orang tua sehingga kehidupan mereka sangat tergantung pada sektor pertanian.
Secara lengkap jenis mata pencaharian masyarakat desa Pematang Tambun
Raya per tahun 2013 dapat digambarkan pada table berikut:
Tabel 1.2
Jenis Mata Pencaharian Penduduk Desa Pematang Tambun Raya
13. Tukang Batu 1
14. Guru Swasta 1
15. Supir 4
Jumlah 596
Sumber Data : Monografi Desa Pematang Tambun Raya Tahun 2013
Sebagaimana yang telah digambarkan pada table 1.2 tersebut tampak bahwa
dari 596 penuduk desa yang bekerja pada sektor pertanian 30 penduduk desa
merupakan brurh tani dan 450 penduduk merupakan petani sendiri. Lapangan
pekerjaan utama merupakan sektor pertanian dimana besar kecilnya pendapatan
tergantung dari kondisi atau keadaan alam.
4. Bidang Ekonomi
Bidang Ekonomi yang menjadi dominasi kehidupan masyarakat desa
Pematang Tambun Raya adalah sektor pertanian. Dilihat dari Luas wilayah desa
Pematang Tambun Raya Mencapai 14 Ha yang diantaranya sebagian besar lahan
dijadikan sektor pertanian. Dari 14 Ha desa dapat dibagi seperti table berikut ini :
Tabel 1.3
Potensi Sumber Daya Desa
No. Keterangan Luas lahan (Ha)
1. Tanah Sawah
Sawah irigasi 3 Ha
Sawah Tadah Hujan 0,2 Ha
2. Tanah Kering
Ladang/ Tegal 4 Ha
Permukiman 3 Ha
Tanah Perkebunan Rakyat 0.5 Ha
Tanah Perkebunan Negara
-Tanah perkebunan swasta
-4. Tanah Fasilitas Umum
Kas Desa/ Tanah Umum 0,4 Ha
Lapangan
-Sumber Data : Monografi Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang
Sidamanik Tahun 2013.
Sebagai mana yang telah digambarkan pada table 1.3 tersebut dapat
disimpulkan bahwa sebagian besa luas lahan desa Pematang Tambun Raya dari 14
Ha, 10 Ha lahan dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Petani disini dapat dibagi
menjadi dua yaitu petani dan buruh tani. Petani adalah mereka yang memiliki lahan
sendiri sekaligus sebagai penggarap, sedangkan buruh tani adalah mereka yang hanya
menggarap lahan bukan miliknya, hanya sebagai penggarap saja. Keadaan di Desa
Pematang Tambun Raya cukup baik, tetapi pengerjaannya masih bersifat tradisional.
Dengan banyaknya masyarakat yang bergerak dibidang pertanian, maka dapat
dikatakan bahwa desa Pematang Tambun Raya merupakan desa pertanian. Dengan
demikian tanah merupakan faktor yang sangat penting bagi masyarakat desa
pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik sehingga dalam setiap
Perekonomian di desa Pematang Tambun Raya tidak hanya disektor pertanian
tetapi juga disektor perdagangan, jumlah ini tergolong kecil tapi memiliki peran yang
sangat penting bagi peningkatan ekonomi masyarakat desa Pematang Tambun Raya.
Ini dapat dilihat dari kelembagaan yang dimiliki desa Pematang Tambun Raya seperti
digambarkan dalam table berikut:
Tabel 1.4
Kelembagaan Ekonomi Desa Margajaya
No. Kelembagaan Ekonomi Jumlah
1. Koperasi 1 unit
2. Pedagang 30 orang
3. Warung kelontong 40 unit
4. Usaha Perikanan 20 unit
5. Usaha Peternakan 2 unit
Sumber Data : Monografi Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang
Sidamanik Tahun 2013
Seperti yang telah digambarkan pada table 1.4 tersebut walaupun sektor usaha
perdagangan dan industry rumahtangga tergolong lebih kecil tetapi sangat
Tambun Raya bagi mereka yang tidak memiliki lahan pertanian sebagai alternatif
didalam memperoleh atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa Pematang
Tambun Raya.
B. Struktur Organisasi Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik
Suatu Pemerintahan pada umumnya mempunyai organisasi dan manajemen
yang baik merpkan aspek yang penting dan untuk mendapatkan serta menempatkan
orang-orang yang tepat pada tempatnya merupakan kewenangan dan objektivitas
dalam suatu dasa. Susunan organisasi pemerintahan desa sederhana merupakan
petunjuk yang akan diperhatikan dalam menjalankan organisasi, hal ini dimaksudkan
supaya organisasi pemerintahan inimenjadi lebih efektif dan mencapai tujuan secara
optimal.
Pelaksanaan pekerjaan sudah barang tertentu yang paling utama dalam fungsi
manajemen, karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri agar
semua anggota kelompokmulai dari tinggkat teratas sampai kebawah berusaha
mencapai sasaran organisasi sesuai rencana yang telah ditetapkan semula dengan cara
terbaik dan benar. Pemerintahan Desa Pematang Tambun Raya memiliki struktur
Gambar 1.1
Deskripsi jabatan dan pekerjaan sangat diperlukan agar dapat
mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan, karena terkadang suatu pekerjaan masyarakat
kondisi pengalaman ataupun kemampuan tertentu bagi pelaksanaan nya. Berikut ini
akan diuraikan bentuk dan susunan pemerintahan desa berdasarkan struktur
organisasi sebagai berikut:
a. Kepala Desa
Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya Kepala Desa wajib bersikap
dan bertindak adil, tidak diskriminatif serta tidak mempersulit dalam memberikan
pelayanan terhadap masyarakat. Namun yang lebih penting ebaai seorang
pemimpinmendorng aparatur di bawahnya dalm bekerja untuk memperoleh hasil
yang maksimal, merupakan penopang kekuatan mental yang amat penting
dibawahnya. Kepala Desa sebagai seorang pemimpin dalam suatu pemerintahan akan
berhasil memimpin suatu organisasi yang memiliki syarat-syarat yakni, mempunyai
kecerdasan yang cukup tinggi untuk dapat memikirkan dan merencanakan cara-cara
pemecahan setiap persoalan dengan cara yang tepat, serta mengandung kelengkapan
dan syarat-syarat yang memungkinkan untuk dilaksanakan.
b. Sekretaris Desa dan Kepala Urusan
Adalah unsur yang membantu Kepala Desa dalam menjalankan hak,
wewenang dan kewajiban pimpinan pemerintahan desa. Sekretariat yang terdiri dari
Sekretaris dan Kepala Urusan atau Kaur diangkat dan diberhentkan oleh bupati
setelah mendengar pertimbangan Camat atas usul kepala desa sesudah mendengar
Kepala Urusan berkedudukan sebagai unsure pembantu Sekretaris Desa dalam
bidangnya. Adapun fungsi dan peranan Kepala Urusan sebagai berikut:
1. Melaksanakan kegiatan urusan pembangunan, pemerintahan, kesejahteraan,
keuangan dan urusan umum sesuai bidang tugasnya masing-masing.
2. Melaksanakan pelayanan administrasi Kepala Desa.
c. Kepala Dusun
Untuk memperlancar jalannya pemerintahan desa, dalam desa debentuk
Dusun yang dikepalai oleh Kepala Dusun. Pembentukan Dusun detetapkan dengan
memperhatikan faktor manusia, jumlah penduduk, faktor alam, faktor letak dan faktor
sosial budaya termasuk adat istiadat. Ada faktor objektif yang lainnya seperti
penguasaan wilayah, keseimbanagan antar organisasi dan luas wilayah serta
pelayanan. Kepala dusun adalah unsure pelaksana dalam pemerintahan desa dengan
wilayah tertentu. Kepala Dusun diangkat dan diberikan oleh Camat atas nama Bupati
atas usul Kepala Desa.
d. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
BPD sebagai Badan Permusyawaratan merupakan paham untuk melaksanakan
demokrasi berdasarkan pancasila, mempunyai kedudukan sejajar dan menjadi mitra
kerja Kepala Desa baik dalam penyelenggaraan roda pemerintahan maupun
pembangunan Desa. Anggota BPD dilih dari calon-calon yang diajukan oleh
kalangan Adat, Agama, organisasi sosial polotik, golongan profesi dan unsure
Adapun struktur organisasi BPD desa Pematang Tambun Raya dapat dilihat
pada gambar berikut :
Gambar 1.2
Struktur BPD Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik
KETUA
JAPISTAR SIGIRO
SEKRETARIS
TIGOR AMBARITA
WAKIL KETUA
BINSON NAIBAHO
ANGGOTA
1. LUSDIN SIADARI 2. SALMA AMBARITA 3. ROBERT PURBA
C. Peranan Pemerintahan Desa menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (Persfektif Yuridis dan Demokratisasi di Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun ).
1. Persfektif yuridis di Desa Pematang Tambun Raya Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun.
Semenjak gerakan reformasi digulirkan dalam rangka merubah struktur
kekuasaan menuju demokrasi dan desentralisasi, maka kebutuhan masyarakat
terhadap suatu pelayanan prima dari pemerintah, dalam hal ini pemerintah desa
Pematang Tambun Raya sangat penting. Diawali dengan Undang-Undang No.22
Tahun 1999 dan selanjutnya dilakukan revisi menjadi Undang-Undang No 32 Tahun
2004 tentang pemerintahan daerah, yang dijadikan sebagai landasan yuridis untuk
menggeser fokus politik ketatanegaraan , diawali desentralisasi kekuasaan pemerintah
pusat kepada daerah
Pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat diharapkan menjadi lebih
responsif terhadap kepentingan masyarakat itu sendiri, dimana paradigm pelayanan
masyarakat yang telah berjalan selama ini beralih dari pelayanan yang sifatnya
sentralistik ke pelayanan yang lebih memberikan fokus pada pengelolaan yang
berorientas kepuaan masyarakat sebagai berikut:
a. Lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui kebijakan yang
memfalitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi pelayanan masyarakat.
b. Menerapkan sistem kompetisi dalam hal penyediaan pelayanan tertentu
c. Terfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang berorientasipada
hasl, sesuai dengan msukan atau aspirasi yang diharapkan masyarakat.
d. Lebih mengutamakan pelayanan apa yang diinginkan oleh masyarakat.
Namun dilain pihak, pelayanan yang diberikan oleh aparatur pemerintahan kepada
masyarakat di Desa Pematang Tambun Raya diharapkan juga memiliki:
a. Memiliki dasar hukum yang jelas dalam penelenggaraan.
b. Memiliki perencanaan dalam pengambilan keputusan.
c. Memiliki tujuan sosial dalam kehidupan masyarakat.
d. Dituntut untutk akuntabel dan transparan kepada masyarakat.
e. Memiliki standarnisasi pelayanan yang baik pada masyarakat
Adapun bentuk pelayanan pemerintah desa kepada masyarakat di Desa
Pematang Tambun Raya yaitu apabila masyarakat yang bersangkutan membutuhkan
pelayanan misalnya perbaikan dibidang pertanian maka aparat pemerintah Desa
berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik kepada
warganya.
Berkaitan dengan efektifitas dan efesiensi pelayanan terhadap masyarakat di
Desa dapat dilihat pada pelayanan yang diberikan oleh aparat pemerintah Desa
kepada masyarakat yang berkepentingan. Sehubungan dengan pelayanan ini ada
beberapa indicator yang dijadikan sebagai ukuran untuk melihat efektivitasnya yaitu
kesadaran dan kebijakan oleh kepala desa serta aparat pemerintahan desa yang lain
birokrasi pemerintah pada umumnya, setiap pelayanan harus melalui prosedur dan
mekanismenya.
Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun Nomor 13 Tahun 2006
tentang pemerintahan nagori (desa) Pasal 98 menyatakan bahwa Maujana Nagori
berfungsi menetapkan peraturan Nagori bersama Pangulu menampung dan
menyalurkan aspirasi masyarakat. Peraturan Desa disampaikan oleh kepala desa
kepada Bupati melalui camat sebagai bahan pengawas dan Pembina paling lambat
tujuh hari setelah penetapan. Untuk melaksanakan peraturan desa, kepala desa
menetapkan peraturan kepala desa dan keputusan kepala desa. Peraturan desa atau
keputusan desa dilarang bertentanagan dengan kepentingan umum dan peraturan
perundang-undangan yang tinggi.
Berikut keterangan Robinhoot selaku kepala Desa Pematang Tambun Raya
Robinhoot Silalahi mengatakan:
“Setelah Pemerintah Desa menerima kembali rancangan Peraturan Desa yang dibahas oleh BPD maka langkah selanjutnya barulah Kepala Desa akan menetapkan Rancangan Peraturan Desa tersebut menjadi Peraturan Desa”.( Wawancara tanggal 29 April 2013)21
Salmen Ambarita selaku sekretaris desa juga menjelaskan sebagai berikut :
“ Setelah Peraturan Desa tadi ditetapkan oleh Kepala Desa, maka peraturan desa tersebut sudah dapat berlaku di masyarakat, Nah……agar warga tahu kalau ada peraturan yang mengikat di Desa ini, maka perlu adanya sosialisasi Peraturan Desa pada saat pertemuan”.( wawancara tanggal 30 April 2013).22
Begitu juga dengan penjelasan Japistar Sigiro selaku ketua BPD sebagai berikut:
21
Wawancara dengan Robinhoot Silalahi. Kepala Desa Pematang Tambun Raya.
22