PENGARUH PENGUMUMAN RIGHT ISSUE TERHADAP RETURN DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM YANG TERGABUNG DALAM ISSI (INDEKS SAHAM SYARIAH INDONESIA) PERIODE TAHUN 2011-2014.

104  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGUMUMAN

RIGHT ISSUE

TERHADAP

RETURN

DAN

VOLUME

PERDAGANGAN SAHAM YANG

TERGABUNG DALAM ISSI (INDEKS SAHAM SYARIAH

INDONESIA) PERIODE TAHUN 2011-2014

SKRIPSI

Oleh

Fajar Bagus Fambudi

NIM. C04211070

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Prodi Ekonomi Syariah

Surabaya

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Peneltian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengumuman right

issue terhadap return saham yang tergabung dalam indeks saham syariah

indonesia, serta menganalisis pengaruh pengumuman right issue terhadap volume perdagangan saham yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia.

Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang menerbitkan

right issue yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Sampel

yang digunakan adalah perusahaan yang menerbitkan right issue mulai januari 2011 sampai desember 2014. Sedangkan alat analisis yang digunakan ialah uji normalitas data menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, dan Paired Sample T-test jika data berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal maka menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank.

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara rata-rata return sebelum dan rata-rata return sesudah pengumuman right issue, serta rata volume perdagangan sebelum dan rata-rata volume perdagangan sesudah pengumuman right issue yang juga menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan.

Oleh karena itu bagi perusahaan, right issue dapat memberikan pengaruh pada volume perdagangan. Sehingga perusahaan dapat menggunkan dana right

issue sebagai modal untuk perluasan investasi, tidak hanya sekedar untuk

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFRTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TRANSLITERASI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Kegunaan Hasil Penelitian ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Landasan Teori ... 9

1. Pasar Modal ... 9

2. Pasar Modal Syariah ... 9

(7)

4. Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) ... 20

5. Corporate Action ... 21

6. Right Issue ... 23

7. Return ... 29

8. Volume Perdagangan ... 30

B. Penelitian Terdahulu... 32

C. Kerangka Konseptual ... 35

D. Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 38

A. Jenis Penelitian ... 38

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 38

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39

D. Variabel Penelitian ... 43

E. Definisi Operasional ... 44

F. Data dan Sumber Data ... 44

G. Teknik Pengumpulan Data ... 45

H. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 51

A. Deskripsi Umum Objek Penelitian ... 51

B. Analisis Data ... 68

BAB V PEMBAHASAN... 86

BAB VI PENUTUP ... 92

A. Simpulan ... 92

B. Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 95

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pasar modal Indonesia memiliki peran besar bagi perekonomian

negara. Dengan adanya pasar modal (capital market), investor sebagai pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dananya

pada berbagai sekuritas dengan harapan memperoleh imbalan (return). Sedangkan perusahaan sebagai pihak yang memerlukan dana dapat

memanfaatkan dana tersebut untuk mengembangkan proyek-proyeknya. Dengan alternatif pendanaan dari pasar modal, perusahaan dapat beroperasi dan mengembangkan bisnisnya dan pemerintah dapat

membiayai berbagai kegiatannya sehingga meningkatkan kegiatan perekonomian negara dan kemakmuran masyarakat.1

Pasar modal merupakan tempat bertemunya pihak yang memiliki dana lebih (lender) dengan pihak yang memerlukan dana jangka panjang (borrower). Dalam perspektif perekonomian secara agregat, peran dan

fungsi pasar modal memiliki daya dukung perekonomian. Dalam sistem perekonomian pasar modal memiliki dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan

fungsi keuangan. Fungsi ekonomi, bahwa pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari lender ke borrower dalam rangka pembiayaan investasi. Dengan menginvestasikan dananya, lender

1

(9)

2

mengharapkan adanya imbalan atau return dari penyerahan dana tersebut. Sedangkan bagi borrower, adanya dana dari luar dapat digunakan untuk

pengembangan usahanya tanpa menunggu dana dari hasil operasi peusahaanya. Fungsi keuangan, maksudnya bahwa dengan menyediakan

dana yang diperlukan oleh borrower para lender tidak harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva riil.

Pasar modal syariah adalah pasar modal yang dijalankan dengan

prinsip-prinsip syariah, setiap transaksi surat berharga di pasar modal dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syari’at islam.2 Kegiatan pasar

modal syariah ini menyatu dengan pasar modal konvensional yang ada, hanya peraturan tentang produk dan aturan perdagangannya yang berbeda.

Dalam transaksi pasar modal, informasi merupakan hal yang

terpenting bagi investor untuk memperoleh informasi mengenai surat berharga dengan tingkat risiko tertentu dalam mengambil keputusan untuk

melakukan suatu investasi. Informasi yang dimaksud adalah informasi yang lengkap, benar, dan tepat waktu untuk melakukan investasi agar para investor dapat menganalisis informasi yang diperoleh untuk mengurangi

risiko yang akan terjadi.

Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik

yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari luar

(10)

3

perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa utang maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam bentuk saham (equity). Pendanaan melalui

mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go public.

Untuk go public, perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan untuk go public atau penawaran umum, serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan

Bapepam.3

Go Public merupakan kegiatan penawaran saham atau Efek lainnya

yang dilakukan oleh Emiten (perusahaan yang go public) kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksananya. Suatu perusahaan yang melakukan penawaran

umum saham dapat memperoleh manfaat-manfaat berupa memperoleh dana murah sebagai keperluan penambahan modal, memberikan likuiditas

image perusahaan lebih baik, dan mendapatkan promosi melalui media

masa.

Corporate action adalah tindakan yang dilakukan oleh perusahaan

yang bobotnya cukup material sehingga mempunyai kemungkinan mempengaruhi harga saham dari perusahaan yang bersangkutan di bursa

efek. Tindakan material disini mengandung makna sebagai tindakan atau aksi yang dilakukan secara sadar dan direncanakan oleh manajemen perseroan dan tindakan tersebut berpotensi ter-capture oleh pasar sehingga

3

(11)

4

dapat mempengaruhi harga saham emiten bersangkutan. Makna “Cukup

material” disini mempunyai pengertian yang mengandung bobot yang

cukup tinggi, tetapi tingkat bobot ini tentunya bersifal relatif tergantung persepsi yang mendengarkannya.4

Right merupakan sekuritas yang memberikan hak kepada

pemegang saham lama untuk membeli saham baru perusahaan pada harga yang telah ditetapkan selama periode tertentu. Right juga dikenal dengan

sebutan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETED). Right diterbitkan melalui penawaran umum terbatas (Right Issue). Keputusan penawaran

umum terbatas ditetapkan dalam RUPS. Dalam penawaran terbatas, perusahaan tidak menjual saham barunya kepada masyarakat umum melainkan menawarkannya kepada para pemegang sahamnya dengan

maksud untuk menjaga proporsi kepemilikan.5

Perusahaan akan melakukan corporate action dalam rangka

memenuhi tujuan-tujuan tertentu misalnya pembayaran kewajiban jatuh tempo, perluasan usaha, meningkatkan likuiditas dan tujuan perusahaan lainnya. Umumnya corporate action mempunyai pengaruh signifikan

terhadap kepentingan pemegang saham, karena pada corporate action yang dilakukan umumnya berpengaruh pada jumlah saham yang beredar,

komposisi kepemilikan saham, jumlah saham yang akan dipegang pemilik saham serta pengaruhnya terhadap pergerakan saham.

4

Nor Hadi, Pasar Modal Acuan Teoritis dan Praktis Investasi di Instrumen Keuangan Pasar Modal (Yogyakarta: Graha Ilmu, Cetakan Pertama, 2013), 177.

(12)

5

Kebijakan right issue merupakan usaha emiten untuk menghemat biaya emisi serta untuk menambah jumlah saham yang beredar. Jadi

dengan adanya right issue, kapitalisasi pasar saham akan meningkat dalam prosentasi yang lebih kecil daripada prosentasi jumlah lembar saham yang

beredar. Penambahan saham baru dalam kebijakan right issue hanya ditawarkan kepada pemegang saham lama dalam jangka waktu tertentu sehingga kebutuhan akan tambahan dana tetap terpenuhi dengan

menambah modal sendiri tetapi tidak menimbulkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama. Pemilik saham lama juga dapat

mempertahankan pengendalian atas perusahaan. Disamping itu dengan melakukan right issue kebutuhan perusahaan akan tambahan modal terpenuhi dan pemegang saham lama dapat membeli saham yang

ditawarkan dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar.6

Pengumuman perusahaan yang melakukan right issue, secara

teoretis dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi secara negatif, dan ini merupakan kejadian yang diakibatkan systematic risk. Systematic risk adalah bagian dari risiko yang tidak dapat dihilangkan

dengan melakukan diversifikasi atas portofolionya. Beberapa temuan empiris tersebut diantaranya adalah: Scholes (1972), Marsh (1979), Myers

dan Majulf (1984), Asquith dan Mullins (1986), Masulis dan Korwar (1986), Mikkelson dan Partch (1986), Barclay dan Litzenberger (1988),

6

(13)

6

dan Kothare (1977). Temuan empiris tersebut menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan turun sampai 3% pada saat pengumuman penambahan

saham baru.7

Beberapa temuan empiris tersebut konsisten dengan model

signaling theory, yang mengasumsikan adanya asimetri informasi diantara

berbagai partisipan di pasar modal. Model ini menyatakan bahwa pasar akan bereaksi secara negatif karena adanya pengumuman penambahan

saham baru yang mengindikasikan adanya informasi yang tidak menguntungkan (Bad News), tentang kondisi laba di masa mendatang,

apalagi jika dana right issue digunakan untuk tujuan perluasan investasi. Naik turunnya harga saham saat right issue sangat dipengaruhi oleh rate of

return yang diharapkan oleh investor dari penggunaan dana yang

terhimpun dalam right issue ini. Bila investor berpengharapan bahwa dana tersebut akan menghasilkan NPV positif, maka harga saham akan naik dan

begitu juga sebaliknya.8

Pengumuman right issue yang dipublikasikan akan mempengaruhi pengambilan keputusan investor. Ada tidaknya pengaruh dapat dilihat dari

perubahan harga atau return dan volume perdagangan saham diseputar tanggal pengumuman, selama lima hari sebelum dan lima hari sesudah

tanggal pengumuman. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilakukan pengujian dengan menggunakan metodologi studi peristiwa (event study).

7

Ghozali dan Solichin, “Analisis Dampak Pengumuman Right Issue Terhadap Reaksi Pasar Di

Bursa Efek Jakarta”,Jurnal Ekomi Perusahaan No.1,Vol.10 (Maret, 2003), 102.

8

Wenny Dwi Kisworo, “Analisis Pengaruh Pengumuman Right Issue Terhadap Expected Return

(14)

7

Studi peristiwa merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu

pengumuman. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) pada suatu pengumuman dan dapat juga

digunakan untuk menguji efisiensi pasar.9

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pengumuman right issue terhadap

return dan volume perdagangan saham yang tergabung dalam Index

Saham Syariah Indonesia (ISSI).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan diatas, maka penulis merumuskan masalah yaitu :

1. Apakah terdapat pengaruh pengumuman right issue terhadap return saham yang tergabung dalam Index Saham Syariah Indonesia ?

2. Apakah terdapat pengaruh pengumuman right issue terhadap volume perdagangan saham yang tergabung dalam Index Saham Syariah Indonesia ?

9

Marda Azzawan, “Analisis Pengaruh Right Issue Terhadap Tingkat Keuntungan dan Likuiditas

(15)

8

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah

diuraikan, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan :

1. Untuk menguji dan menganalisis apakah terdapat pengaruh

pengumuman right issue terhadap return saham yang tergabung dalam Index Saham Syariah Indonesia.

2. Untuk menguji dan menganalisis apakah terdapat pengaruh

pengumuman right issue terhadap volume perdagangan saham yang tergabung dalam Index Saham Syariah Indonesia.

D. Kegunaan Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kontribusi bagi :

1. Perusahaan

Diharapkan menjadi pertimbangan dalam mengeluarkan suatu

kebijakan terutama mengenai right issue sehingga saham perusahaan tetap diminati oleh investor.

2. Investor

Diharapkan menjadi suatu pertimbangan dalam menentukan investasi yang tepat, sehingga dapat memaksimalkan keuntungan dan

meminimalkan risiko. 3. Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi untuk

(16)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pasar Modal

Pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya antara permintaan dan penawaran atas instrumen keuangan jangka panjang,

umumnya lebih dari satu tahun.1 Sedangkan menurut Ridwan, pasar modal adalah semua pasar yang terorganisir dan lembaga-lembaga yang memperdagangkan warkat-warkat kredit (biasanya yang berjangka waktu

lebih dari satu tahun) termasuk saham-saham, obligasi, hipotek dan tabungan serta deposit berjangka.2

Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu tempat yang terorganisir dimana efek-efek diperdagangkan yang disebut bursa efek. Bursa efek atau stock exchange adalah suatu tempat yang terorganisasi

yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya. Fungsi bursa efek ini

antara lain adalah menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga efek yang wajar melalui mekanisme permintaan dan penawaran.

2. Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi

dan terlepas dari hal-hal yang dilarang seperti riba, perjudian, spekulasi,

1

Mohamad Samsul, Pasar Modal dan Manajemen portofolio, (Jakarta: Erlangga, 2006), 43.

2

(17)

10

dan lain-lain. Pasar modal syariah secara resmi diluncurkan pada tanggal 14 Maret 2003 bersamaan dengan penandatanganan MOU antara

BAPEPAM-LK dengan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Definisi pasar modal sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek,

Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.

Berdasarkan definisi tersebut, terminologi pasar modal syariah dapat diartikan sebagai kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur dalam UUPM yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Oleh karena itu, pasar modal syariah bukanlah suatu sistem yang terpisah dari sistem pasar modal secara keseluruhan. Secara umum kegiatan Pasar

Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan

dengan prinsip-prinsip syariah.

Penerapan prinsip syariah di pasar modal tentunya bersumberkan

pada Al-Quran sebagai sumber hukum tertinggi dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, dari kedua sumber hukum tersebut para ulama melakukan penafsiran yang kemudian disebut ilmu fiqih. Salah

(18)

11

muamalah, yaitu hubungan diantara sesama manusia terkait perniagaan. Berdasarkan itulah kegiatan pasar modal syariah dikembangkan dengan

basis fiqih muamalah. Terdapat kaidah fiqih muamalah yang menyatakan bahwa “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali

ada dalil yang mengharamkannya.” Konsep inilah yang menjadi prinsip

pasar modal syariah di Indonesia. a. Dasar Hukum

Sebagai bagian dari sistem pasar modal Indonesia , kegiatan di pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah juga

mengacu kepada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang pasar modal berikut peraturan pelaksananaannya (Peraturan Bapepam-LK, Peraturan Pemerintah, Peraturan Bursa dan lain-lain).

Bapepam-LK selaku regulator pasar modal di Indonesia, memiliki beberapa peraturan khusus terkait pasar modal syariah, sebagai

berikut:

1) Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efeek Syariah

2) Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah 3) Peraturan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan

dalam Penerbitan Efek Syariah3

Berikut adalahayat Al-qur’an yang membahas tentang prinsip pasar modal syariah:

3

(19)

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling

memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka

diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.

3. Saham

a. Pengertian Saham

Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan

suatu perusahaan dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan.4 Adapun saham menurut Ridawan, merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh

perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas atau yang disebut emiten.5 Saham adalah surat tanda penyertaan atau kepemilikan

seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas

4

Rusdin, Pasar Modal Teori Masalah dan Kebijakan dalam Praktik, (Bandung: Alfabeta, 2006), 68.

(20)

13

tersebut adalah pemilik (berapapun porsinya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan saham tersebut, sesuai porsi kepemilikannya yang

tertera pada saham.

Dari beberapa definisi di atas maka dapat dipahami bahwa

saham menunjukkan kepemilikan atas suatu perusahaan dan memberikan hak kepada pemiliknya. Kepemilikan tersebut memberikan konstribusi pada pemegangnya berupa return yang

dapat diperolehnya, yaitu keuntungan modal (capital gain) atas saham yang memiliki harga jual lebih tinggi daripada harga belinya,

atau deviden atas saham tersebut, disamping hak lainnya yaitu

non-financial benefit berupa hak suara dalam rapat umum pemegang

saham. Peluang untuk mendapatkan return dari capital gain ini

memotifasi para investor untuk melakukan perdagangan saham di pasar modal (Bursa Efek).

b. Jenis-Jenis Saham

Menurut jenisnya saham dibedakan menjadi dua yaitu saham biasa dan saham preferen.

1) Saham Biasa (Common Stock).

Saham biasa adalah bukti tanda kepemilikan atas suatu

perusahaan. Keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham biasa berasal dari pembayaran deviden dan kenaikan harga saham. Deviden akan dibayarkan sepanjang perusahaan

(21)

14

pemegang saham tidak tetap, tergantung dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tandelilin mendefinisikan

saham biasa (common stock) sebagai, “sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut

mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan”.6 Oleh karena itu, sebagai salah satu pemilik perusahaan pemegang saham mempunyai hak-hak. Hak tersebut antara lain:

a) Pemegang saham biasa mempunyai hak suara pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Rapat Umum Luar

Biasa Saham (RULBS).

b) Mempunyai wewenang untuk memilih direktur perusahaan, memilih manajemen seperti komisaris dan direksi

perusahaan.

c) Mempunyai hak terlebih dahulu untuk membeli saham pada

perusahaan yang bersangkutan sebelum dibeli oleh investor baru.

d) Pemegang saham biasa diberi hak atas laba bersih

perusahaan sebagai laba atas dana yang diinvestasikan, hal ini berbentuk deviden.

e) Pemilik saham biasa mendapatkan hak untuk memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila perusahaan dinyatakan bangkrut, dimana pembagian kekayaan tersebut

6

(22)

15

akan dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

f) Pemegang saham biasa mempunyai hak melihat atau mengetahui hasil RUPS dan daftar pemegang saham suatu

peusahaan serta mempunyai akses yang tidak terbatas untuk akses pembukaan keuangan perusahaan, kecuali kalau

dibatasi oleh suatu keadaan tertentu.

Dalam Islam saham jenis ini boleh diperdagangkan karena saham sesuai terminologi yang melekat padanya, maka saham

yang dimiliki seseorang menunjukkan sebuah bukti kepemilikan atas perusahaan tertentu yang berbentuk aset, sehingga saham merupakan cerminan atas aset tertentu. Saham biasa (common

stock) menurut para ulama boleh dikarenakan saham jenis ini mempunyai prinsip keadilan dan keterbukaan yang merata buat

semua pemegang saham. Namun, aturan dan norma jual beli saham tetap mengacu pada pedoman jual beli yakni tercapai rukun, syarat aspek an-taradhin, serta terhindar dari unsur-unsur

merusat atau tidak mengesahkan jual beli saham tersebut.7

2) Saham Preferen (Preffered Stock)

“Saham preferen (preffered stock) merupakan saham yang

memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham

7

(23)

16

biasa, karena bisa menghasilkan tetap (seperti obligasi) dan juga mendapatkan hak kepemilikan seperti saham biasa”.8

Saham

preferen adalah saham lain sebagai saham alternatif dari saham biasa, pemegang saham preferen akan mendapatkan hak

terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan setelah dikurangi pembayaran kewajiban pemegang obligasi dan hutang (sebelum pemegang saham mendapatkan haknya).

Dikatakan preferen, karena saham ini memiliki keistimewaan diantaranya sebagai berikut:9

a) Preferen terhadap deviden.

(1) Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima deviden terlebih dahulu dibandingkan

dengan pemegang saham biasa.

(2) Pemegang saham preferen mempunyai hak deviden

komulatif, yaitu memberikan hak kepada pemegang sahamnya untuk menerima deviden tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang

saham biasa menerima devidennya. b) Preferen terhadap likuidasi.

Pemegang saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak

8

Tendelilin Eduardus, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio..., 18.

9

Puspaningsih, “Analisis Reaksi Pasar Modal Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan

(24)

17

yang dimiliki oleh pemegang saham biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada saat likuidasi

adalah sebesar nilai nominal saham preferennya, termasuk semua deviden yang belum dibayar jika bersifat kumulatif.

Dalam pandangan syariah saham preferen cenderung tidak diperbolehkan karena dua alasan yang tidak dapat diterima secara konsep syariah. Dua alasan tersebut adalah:

(1) Adanya keuntungan tetap (predeterminant reveneu), yang dikategorikan sebagian ulama sebagai riba.

(2) Pemilik saham mendapat hak istimewa terutama pada saat perusahaan likuidasi. Hal ini mengandung unsur ketidakadilan.10

c. Keuntungan dan Kerugian Membeli Saham

Dalam membeli saham seorang investor perlu memperhatikan

keuntungan dan kerugian yang akan didapatnya dalam membeli saham. Keuntungan membeli saham antara lain:

1) Deviden.

Yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan

perusahaan.

10

(25)

18

2) Capital Gain.

Merupakan selisih keuntungan dari hasil jual dan harga beli

yang lebih tinggi, yang disebut juga selisih kurs yang lebih tinggi dibandingkan dengan kurs pada waktu membelinya.

3) Saham Bonus

Saham bonus yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham.

Agio saham adalah selisih antara harga perdana terhadap harga nominal.

Sedangkan kerugian dari membeli saham, antara lain sebagai berikut:

1) Tidak Mendapat Deviden.

Perusahaan akan membagikan deviden jika operasional perusahaan mendapatkan keuntungan. Dengan demikian

perusahaan tidak akan membagikan deviden jika perusahaan tersebut mengalami kerugian.

2) Capital Loss.

Dalam aktivitas perdagangan saham tidak selalu pemodal mendapatkan capital gain ada kalanya pemodal harus menjual

(26)

19

3) Perusahaan Bangkrut atau Dilikuidasi.

Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi maka pemegang

saham akan menempati posisi terakhir dalam pembagian aset perusahaan dibanding kreditor.

4) Saham di delist dari bursa (Delisting).

Delisting adalah tindakan mengeluarkan suatu saham yang telah tercatat dibursa efek karena kurang memenuhi kriteria

yang ditentukan oleh manajemen bursa efek atau atas permintaan emiten, sehingga saham tersebut tidak dapat

diperdagangkan lagi dibursa efek tersebut.11

Suatu saham di delist dari bursa umumnya karena kinerja yang buruk misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah

diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara berturut-turut selama beberapa

tahun dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan peraturan pencatatan efek di bursa.

d. Penilaian Harga Saham.

Dalam penelitian harga saham dikenal adanya tiga jenis nilai saham yaitu: nilai buku, nilai pasar, dan nilai intrinsik saham. Nilai

buku merupakan nilai yang dihitung dari pembukuan perusahaan penerbitan saham. Nilai pasar adalah nilai saham tersebut bila berada di pasaran. Sedangkan nilai intrinsik ialah nilai sebenarnya dari

11

(27)

20

saham tersebut. Dengan memahami ketiga konsep nilai saham maka kita dapat mengetahui saham-saham yang tumbuh dan yang murah.

4. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

BEI meluncurkan indeks saham baru yang disebut dengan Indeks

Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang konstituennya adalah seluruh saham syariah yang tercatat di BEI. Pada saat ISSI diluncurkan, jumlah saham syariah yang tercatat di BEI sebanyak 214 saham. Keberadaan

ISSI melengkapi indeks syariah yang sudah ada sebelumnya yaitu Jakarta Islamic Index (JII), sehingga indeks saham syariah yang dimiliki oleh

BEI saat ini menjadi dua. Dengan demikian, ISSI tidak akan meniadakan maupun mempengaruhi keberadaan JII.

ISSI diluncurkan untuk memberi jawaban kepada masyarakat yang

ingin mengetahui kinerja seluruh saham syariah yang tercatat di BEI. ISSI akan menjadi indikator dari seluruh saham syariah sehingga akan

memudahkan bagi pelaku pasar dalam mengukur kinerja saham syariah. Selain itu, ISSI juga memberikan peluang untuk fund manager yang tertarik untuk mengeluarkan produk investasi berbasis indeks saham

syariah.

Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan index saham yang

mencerminkan keseluruhan saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES). Konstituen ISSI di review setiap 6 bulan sekali (Mei dan November) dan

(28)

21

penyesuaian apabila ada saham syariah yang baru tercatat atau dihapuskan dari DES. Metode perhitungan indeks ISSI menggunakan

rata-rata tertimbang dan kapitalisasi pasar. Tahun dasar yang digunakan dalam perhitungan ISSI adalah awal penerbitan DES yaitu Desember

2007. Indeks ISSI diluncurkan pada tanggal 12 Mei 2011.12

Perbedaan utama antara ISSI dengan JII terletak pada jumlah saham syariah yang menjadi konstituen masing-masing indeks. ISSI terdiri dari

seluruh saham syariah yang tercatat di BEI, per 1 desember 2014 terdapat 314 saham, sedangkan JII hanya terdiri dari 30 saham syariah yang

paling likuid dan setiap periodenya, saham yang masuk JII berjumlah 30 (tiga puluh) saham yang dinilai tidak melanggar prinsip syariah. JII menggunakan hari dasar tanggal 1 Januari 1995 dengan nilai dasar 100.13

5. Corporate Action14

a. Pengertian Corporate Action

Direksi perusahaan merupakan pihak yang bertanggungjawab atas going concern perusahaan serta perkembangan perusahaan dimasa datang dengan profitabilitas yang tinggi. Untuk itu, direktur

dengan persetujuan dewan komisaris sebagai representasi pemilik (pemegang saham) melakukan tindakan-tindakan strategis dalam

12

Bursa Efek Indonesia,“Indeks Saham Syariah Indonesia”, dalam http://idx.co.id/id-id/beranda/produkdanlayanan/pasarsyariah/indekssahamsyariah.aspx, diakses pada 15 November 2014.

13

Dunia Ekonomi, “Teori Manajemen Keuangan, Pemasaran, Perbankan, dan SDM”, dalam http://ekonomi.kabo.biz/2011/11/idx-new.html, diakses pada 17 November 2014.

14

(29)

22

rangka menjamin tujuan dan mengamankan hak sharehorder, yang salah satunya adalah dengan corporate action.

Corporate action adalah tindakan yang dilakukan oleh

perusahaan yang bobotnya cukup material sehingga mempunyai

kemungkinan mempengaruhi harga saham dari perusahaan yang bersangkutan di bursa efek (Robert Ang, 1995). Tindakan material disini mengandung makna sebagai tindakan atau aksi yang dilakukan

secara sadar dan direncanakan oleh manajemen perseroan dan tindakan tersebut berpotensi ter-capture oleh pasar sehingga dapat

mempengaruhi harga saham emiten bersangkutan. Makna “Cukup material” disini mempunyai pengertian yang mengandung bobot

yang cukup tinggi, tetapi tingkat bobot ini tentunya bersifat relatif

tergantung persepsi yang mendengarkannya.

Tindakan emiten yang tergolong dalam tindakan atau aksi

emiten (corporate action) pada umumnya mempunyai keterkaitan baik secara langsung maupun dengan kinerja keuangan perusahaan, kelangsungan hidup perusahaan, mempengaruhi pertumbuhan

perusahaan serta manajemen perusahaan, maka akan memberikan pengaruh terhadap harga saham perseroan di bursa efek (Robert

Ang, 1995).

Corporate action dapat berupa: right issue, pembagian

dividen (tunai atau saham) stock split, saham bonus, aliansi strategis

(30)

23

akuisi (Acquistion), Hostile Acquistion,Merger (Penggabungan Usaha), Consulidation, Tender Offer, dan lain-lain.

6. Right Issue

a. Pengertian Right Issue

Right issue merupakan hak pembeli saham tambahan yang

dilakukan oleh perusahaan dengan cara memesan terlebih dahulu dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya untuk tanggal

tertentu (www.e-bursa.com). Istilah right issue di Indonesia dikenal pula dengan istilah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD),

karena emiten mengeluarkan saham baru dalam rangka penambahan modal perusahaan dengan terlebih dahulu ditawarkan kepada pemegang saham saat ini. Dengan demikian, pemegang saham

memiliki preemptive right atau hak memesan efek terlebih dahulu atas saham-saham baru tersebut.

Right issue diterjemahkan sebagai bukti right. Merupakan

produk turunan dari saham. Kebijakan right issue merupakan upaya emiten untuk menambah saham yang beredar, guna menambah

modal perusahaan. Sebab, dengan pengeluaran saham baru tersebut, berarti pemodal harus mengeluarkan uang untuk membeli saham

(31)

24

b. Tujuan Right Issue

Pada umumnya tujuan dilakukannya right issue adalah untuk

menghimpun dana segar atau baru yang akan digunakan untuk ekspansi usaha, membayar pinjaman atau untuk modal kerja.

Beberapa tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham atau meningkatkan jumlah saham yang beredar. Jadi dengan adanya right issue, kapitalisasi pasar

saham akan meningkat dalam jumlah yang lebih kecil dari pada prosentase jumlah lembar saham yang beredar. Umumnya

diharapkan penambahan jumlah lembar saham di pasar akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan kata lain dapat meningkatkan likuiditas saham.

Bagi investor, right issue berdampak positif kalau tidak berpengaruh terhadap harga saham. Sebaliknya, berdampak negatif

kalau menyebabkan menurunnya harga. Secara umum, dampak right

issue bisa dirasakan oleh semua pemodal. Right issue merupakan hak

bagi pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan oleh

emiten. Karena merupakan hak, maka investor tidak terikat harus membelinya. Investor boleh mengabaikan haknya dengan

konsekuensi berkurangnya kepemilikan saham atas emiten tersebut. Hal ini, karena pada dasarnya perusahaan menawarkan right sama dengan mengeluarkan saham baru. Akibatnya akan mempengaruhi

(32)

25

c. Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Right Issue

Faktor yang harus diperhatikan dalam suatu penerbitan right

issue antara lain waktu, harga, dan rasio. Bagi investor informasi waktu penerbitan sangat penting untuk mengambil keputusan apakah

dia akan melaksanakan haknya membeli right atau tidak membelinya. Beberapa hal penting yang berkaitan waktu right issue:

1) Cum Date, yaitu tanggal terakhir atau batas akhir seorang

investor mendapatkan haknya untuk memesan efek terlebih dahulu.

2) Ex Date, yaitu batas dimana investor sudah tidak mempunyai hak lagi akan suatu penawaran / corporate action (right issue). 3) Daftar Pemegang Saham (DPS), adalah daftar nama orang atau

investor yang berhak atas suatu corporate action, biasanya diumumkan dalam tanggal yang dikenal dengan nama DPS

Date.

4) Trading Period of Right Certificate, adalah periode pelaksanaan

right tersebut dicatatkan di bursa dan kapan berakhirnya.

5) Exercise Date, adalah tanggal jatuh tempo atas pelaksanaan

right issue.

6) Allotment Date, adalah tanggal penentuan investor yang

(33)

26

7) Listing Date, adalah tanggal right itu pertama kalinya

diperdagangkan di bursa atau tanggal dimana penambahan

saham akibat right tersebut diperdagangkan di Bursa Efek.

Harga pelaksanaan right issue merupakan harga pelaksanaan yang harus dibayar investor untuk mengkonversikan haknya tersebut

ke dalam saham. Umumnya harga pelaksanaan right issue di bawah harga saham yang berlaku. Hal ini, dimungkinkan sebagai tarikan

agar investor mau membelinya.15

Informasi penting lainnya adalah rasio dari pelaksanaan right issue, penentuan rasio ini sangat ditentukan dari berapa besar dana

yang dibutuhkan dan kemampuan investor lama memenuhinya. Jadi, rasio ini merupakan komposisi berapa besar hak pemegang saham

lama mendapatkan kesempatan memesan efek terlebih dahulu. Right

ratio yang biasanya digunakan di Indonesia adalah 2 : 1 yang berarti

bahwa dua saham lama mendapatkan hak memesan satu saham baru.

Konsekuensi penambahan saham akibat kebijakan penerbitan

right ini mempengaruhi kepemilikan pemegang saham lama yang

tidak melakukan konversi rightnya. Penurunan nilai ini terjadi karena harga pasar biasanya terkoreksi dengan adanya kebijakan ini.

Untuk mengukur berapa besar koreksi yang timbul kita harus

15

(34)

27

memperhatikan informasi waktu, harga, dan rasio penerbitan right

tersebut.

d. Teori yang berkaitan dengan Right Issue

1) Signaling Theory

Asumsi utama dalam teori ini adalah manajer memiliki

informasi yang akurat tentang nilai perusahaan yang tidak diketahui oleh investor luar dan manajer adalah orang yang

selalu berusaha memaksimalkan insentif yang diharapkannya. Maksudnya adalah manajer umumnya memiliki informasi yang

lebih lengkap dan akurat daripada pihak luar perusahaan (investor) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan.

Teori sinyal mengindikasikan bahwa pengumuman dalam hal ini adalah right issue dianggap suatu sinyal oleh investor

yang dapat mempengaruhi nilai saham mereka. Dengan adanya sinyal dari perusahaan menyebabkan investor melakukan antisipasi untuk menentukan investasi yang tepat.

Asimetri informasi akan terjadi jika manajer tidak secara penuh menyampaikan seluruh informasi yang diperolehnya

tentang semua hal yang dapat mempengaruhi perusahaan ke pasar modal. Jika manajer menyampaikan suatu informasi ke pasar, maka umumnya pasar merespon informasi tersebut

(35)

28

mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari perubahan harga dan risiko saham yang terjadi sebagai implikasinya.

Pengumuman perusahaan untuk menambah jumlah lembar saham baru yang beredar (right issue) akan direspon oleh pasar

sebagai suatu sinyal yang menyampaikan adanya informasi baru yang dikeluarkan oleh pihak manajer dan selanjutnya akan mempengaruhi nilai saham perusahaan.16

2) Asimetri Informasi

Asimetri informasi sebagai informasi privat yang hanya

dimiliki investor yang memperoleh informasi. Hal ini mengindikasikan bahwa ada investor yang mempunyai informasi dan ada investor yang tidak mempunyai informasi.

Asimetri informasi dapat berada di pasar modal yang mungkin akan mengakibatkan kerugian perusahaan yang menrbitkan

saham (emiten). Agar asimetri informasi ini berkurang, perusahaan emiten harus bersedia memberikan informasi yang dimiliki. Informasi privat ini dapat dipublikasikan kepada

masyarakat dengan pengumuman dan bagi investor yang memiliki informasi privat akan memanfaatkannya.

Bagi investor yang memiliki informasi privat akan berspekulasi, sedangkan yang tidak memiliki informasi privat

16

Wenny Dw Kisworo, ”Analisis Pengaruh Pengumuman Right Issue terhadap Actual Return dan

(36)

29

akan berusaha memperoleh dengan cara melakukan pengamatan melalui perubahan harga saham yang terjadi karena adanya

refleksi atas informasi dari investor yang mempunyai privat.

Insider trading merupakan perdagangan sekuritas yang

dilakukan oleh corporate insider dan berkaitan erat dengan asimetri informasi. Corporate insider merupakan pejabat perusahaan, pihak manajemen, para direksi maupun pemegang

saham mayoritas yang mempunyai informasi privat.17

7. Return

Para investor akan termotivasi dan bersedia menanamkan modalnya, jika investor menganggap prospek suatu investasi mampu menghasilkan keuntungan (return) atau mendapatkan kembalian investasi yang sesuai.

Return atau keuntungan merupakan hasil yang diperoleh dari investasi yang dilakukan.18

Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi diharapakan untuk masa yang akan datang.

Return realisasi merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return ini penting digunakan sebagai

salah satu pengukur kinerja perusahaan. Return ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi dan risiko dimasa yang akan datang. Return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh investor

17

Ibid., 36.

18

(37)

30

dimasa mendatang. Return ini muncul karena adanya ketidakpastian perolehan return dimasa yang akan datang yang dapat diperoleh investor.

Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, sedangkan return ekspektasi belum terjadi.19

8. Volume Perdagangan

Kinerja suatu saham dapat diukur dengan volume perdagangannya. Semakin sering saham tersebut diperdagangkan, mengindikasikan bahwa

saham tersebut aktif dan diminati oleh para investor. Volume perdagangan merupakan jumlah lembar saham suatu perusahaan yang

diperdagangkan dalam waktu tertentu.

Volume perdagangan adalah keseluruhan nilai transaksi pembelian maupun penjualan saham oleh investor dalam mata uang. Volume

perdagangan ini seringkali digunakan tolak ukur (benchmark) untuk mempelajari informasi dan dampak dari berbagai kejadian.

Volume perdagangan merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter volume saham yang diperdagangkan di pasar. Menurut Wang

Sutrisno (2000), volume perdagangan adalah jumlah lembar saham yang diperdagangkan pada periode tertentu. Menurut Magdalena (2004),

volume perdagangan adalah jumlah lembar saham yang diperdagangkan secara harian.

(38)

31

Menurut Abdul Halim dan Nasruhi Hidayat (2000) volume perdagangan sebagai lembar saham yang diperdagangkan pada hari t.

Volume perdagangan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter

pergerakan aktivitas volume perdagangan saham di pasar modal. Oleh karena itu, perusahaan yang berpotensi tumbuh dapat berfungsi sebagai berita baik dan pasar seharusnya bereaksi positif.20

Aktivitas volume perdagangan digunakan untuk melihat penilaian suatu info oleh investor individual dalam arti info tersebut membuat

suatu keputusan perdagangan ataukah tidak. Hal ini berkaitan dengan salah satu motivasi investor dalam melakukan transaksi jual beli saham yaitu penghasilan yang berkaitan dengan capital gain. Volume

perdagangan yang kecil menunjukkan investor yang sedikit atau kurang tertarik dalam melakukan investasi dalam pasar sekunder, sedangkan

volume yang besar menunjukkan banyaknya investor dan banyaknya minat dalam transaksi jual dan beli saham.

Kenaikan volume perdagangan akan semakin tinggi dengan semakin

tingginya ketidakpastian diantara investor mengenai interpretasi mereka atas pengumuman tersebut. Namun demikian, perdagangan tidaklah

secara otomatis mengimplikasikan adanya perbedaan interpretasi diantara investor, kenaikan volume perdagangan tetap bisa saja terjadi apabila

20

(39)

32

investor mempunyai informasi yang berbeda-beda. Info yang dimiliki investor diperoleh dari 2 sumber, yaitu :

1. Informasi yang tersedia di publik.

2. Informasi pribadi yang dimana hanya investor tertentu yang

memiliki informasi tersebut.

B. Penelitian Terdahulu

Imam Ghozali dan Agus Solichin (2003), meneliti dampak

pengumuman right issue terhadap reaksi pasar periode 1996-1997. Hasil penelitiannya menyimpulkan pengumuman right issue tidak mempunyai

kandungan informasi sehingga tidak berpengaruh terhadap pasar yang ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan rata-rata abnormal return yang signifikan dan pengumuman right issue tidak dipergunakan oleh

investor dalam membuat keputusan investasi saham karena pasar tidak bereaksi atas pengumuman right issue.

Marda Azzawan (2004), meneliti Analisis Pengaruh Pengumuman Right

Issue terhadap Tingkat Keuntungan dan Likuiditas Saham di Bursa Efek Jakarta.

Hasilnya menunjukkan bahwa Pengumuman right issue di Bursa Efek Jakarta

tidak berpengaruh terhadap keuntungan dan likuiditas saham.

Suryaningsum dan Prasetyo (2005), meneliti dampak pengumuman

right issueterhadap reaksi pasar pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta perriode 1996-2003. Hasil penelitiannya menyimpulkan

(40)

33

signifikan terhadap rata-rata abnormal return 5 hari sebelum pengumuman right issue dan 5 hari sesudah pengumuman right issue.

Santy Joisse (2006), meneliti pengaruh pengumuman right issue terhadap harga saham dan volume perdagangan saham di bursa efek

jakarta tahun 2000-2002. Hasilnya menunjukkan bahwa pengumuman right issue tidak berpengaruh negatif secara signifikan terhadap volume perdagangan akan tetapi pengumuman right issue berpengaruh negatif

secara signifikan terhadap harga saham.

Wenny Dwi Kisworo (2011), meneliti Analisis Pengaruh Pengumuman

Right Issue terhadap Expected Return dan Actual Return di Bursa Efek Indonesia

(BEI). Hasilnya menunjukkan bahwa pengumuman right issue tidak berpengaruh

terhadap return, expected return, dan actual return.

Berikut ringkasan penelitian terdahulu yang disajikan dalam tabel 2.1

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian

(41)

Actual Return di Bursa Efek Indonesia

Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengembangkan metode yang

dipakai dalam penelitian terdahulu yaitu penelitian dari Marda Azzawan (2004). Adapun yang menjadi perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu antara lain :

1. Penelitian ini menggunakan variabel return saham dan volume perdagangan saham. Sedangkan penelitian terdahulu menggunakan

variabel tingkat keuntungan saham dan likuiditas saham (Marda Azzawan).

(42)

35

3. Penelitian ini menggunakan objek Index Saham Syariah Indonesia (ISSI). Sedangkan penelitian terdahulu menggunkan objek Bursa Efek

Jakarta (BEJ).

Adapun yang menjadi persamaan penelitian ini dengan penelitian

terdahulu antara lain :

1. Sama-sama meneliti tentang pengaruh pengumuman right issue. 2. Metode penentuan sampel menggunakan purposive sampling.

C. Kerangka Konseptual

Dalam penelitian ini akan di analisis pengaruh pengumuman right issue

terhadap return dan volume perdagangan saham yang tergabung dalam Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2011-2014 yang mana digunakan uji beda sebelum dan sesudah right issue apakah terdapat perbedaan yang lebih

baik atau sebaliknya. Dimana right issue merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan mendapatkan dana yaitu dengan menawarkan kembali saham

pada investor melalui pasar modal.

Pada penelitian ini, data yang diperoleh di uji normalitas terlebih dahulu pada setiap variabelnya apabila datanya normal digunakan uji paired sample

t-test, dan apabila datanya tidak normal maka digunakan uji wilcoxon sign

rank test. Untuk lebih jelasnya akan digambarkan berupa kerangka pemikiran

(43)

36

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

INDEKS SAHAM SYARIAH

INDONESIA (ISSI)

Pengumuman Right Issue Periode 2011-2014

Volume Perdagangan Saham Sebelum

dan Sesudah Pengumuman right Issue Return Saham Sebelum dan

Sesudah Pengumuman Right Issue

Data Tidak Normal

Uji Wilcoxon Sign Rank

Uji Normalitas

Data Normal

Uji Paired Sample T-Test

(44)

37

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka konseptual yang telah dijelaskan diatas maka

dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :

a. Terdapat pengaruh yang signifikan antara pengumuman right issue

terhadap return saham yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia.

b. Terdapat pengaruh yang signifikan antara pengumuman right issue

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kuantitatif. Penelitian

kuantitatif karena jenis data yang digunakan adalah data angka dan merupakan suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan

deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan, para ahli, ataupun pemahaman peneliti bedasarkan pengalamannya,

kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan dengan

menggunakan data statistik.Dalam penelitian ini, peneliti akan menguji apakah pengumuman right issue berpengaruh terhadap return dan volume

perdagangan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 20 Oktober 2014,

menggunakan data perusahaan yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang melakukan pengumuman right issue di Bursa Efek

Indonesia (BEI) selama periode 2011-2014, sifat datanya umum dengan cara akses internet, sehingga penelitian ini bisa dilakukan dimana saja atau tidak

(46)

39

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Definisi populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek

dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakter tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Berkenaan dengan itu, maka populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan atau emiten yang terdaftar di ISSI.1

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang mengeluarkan

kebijkan right issue yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) pada periode 2011-2014. Perusahaan yang melakukan pengumuman

right issue selama Januari 2011 sampai Desember 2014 sebanyak 37

perusahaan di Index Saham Syariah Indonesia (ISSI).

Beberapa kriteria yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah :

1. Perusahan yang tergabung dalam Index Saham Syariah Indonesia periode 2011-2014.

2. Tanggal pengumuman right issue.

3. Dalam penelitian ini hanya perusahaan yang melakukan kebijakan right issue dan tidak melakukan corporate action lainnya seperti

pengumuman emisi saham baru, stock split, pembagian dividen dan saham bonus.

4. Selama periode pengamatan perusahaan memiliki data yang lengkap untuk digunakan dalam penelitian.

1

(47)

40

Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi, sehingga sampel harus dapat mewakili populasi. Sampel

yang diteliti harus mewakili gambaran yang tepat dari seluruh populasi yang diteliti.

Metode penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Purposive sampling yaitu sampel yang dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu atau tidak secara acak (non-probabilitas) dan dapat

dianggap mewakili populasinya. Adapun tahapan pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu:

1. Melakukan penyeleksian pada perusahaan yang menerbitkan right issue di Indeks Saham Syariah Indonesia periode 2011 sampai 2014, terdapat sebanyak 37 perusahaan yang menerbitkan kebijakan right issue di Indeks

Saham Syariah Indonesia periode 2011 sampai 2014.

2. Setelah dilakukan penyeleksian, ternyata terdapat 2 perusahaan yang

melakukan kebijakan lain (corporate action) seperti melakukan stock split, pembagian dividen, warrant yaitu Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) dan SMR Utama Tbk (SMRU), sehingga perusahaan-perusahaan tersebut tidak

dapat digunakan sebagai sampel penelitian.

3. Terdapat 7 perusahaan yang tidak mempunyai data lengkap yaitu J

(48)

41

Tbk (TKGA), dan Tanah Laut Tbk (INDX), sehingga perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat digunakan sebagai sampel penelitian.

4. Tersisa 28 perusahaan yang memiliki data lengkap, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini.

Berikut tabel 3.1 yang menyajikan perusahaan yang melakukan

pengumuman right issue selama periode penelitian 2011-2014.

Tabel 3.1

Daftar Perusahaan yang Melakukan Right Issue

No Kode Nama Perusahaan Anouncement

date

1 EPMT Enseval Putera Megatrading Tbk 03-Mar-2011

2 UNTR United Tractors Tbk 03-Mei-2011

3 KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk 07-Okt-2011

4 PWON Pakuwon Jati Tbk 05-Des-2011

5 MDLN Modernland Realty Ltd. Tbk 19-Des-2011 6 PSAB J Resources Asia Pasifik Tbk 06-Jan-2012 7 KIAS Keramika Indonesia Assosiasi Tbk 17-Feb-2012

8 RAJA Rukun Raharja Tbk 04-Mei-2012

9 SMMT Golden Eagle Energy Tbk 21-Jun-2012

10 ITTG Leo Investments Tbk 29-Jun-2012

11 MDRN Modern Internasional Tbk 19-Okt-2012 12 BIPP Bhuwanatala Indah Permai Tbk 04-Des-2012 13 HOME Hotel Mandarine Regency Tbk 05-Des-2012 14 INPC Bank Artha Graha Internasional Tbk 11-Des-2012

15 MYOH Samindo Resources Tbk 11-Des-2012

16 CNKO Exploitasi Energi Indonesia Tbk 12-Des-2012 17 SRAJ Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk 13-Des-2012 18 CENT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk 25-Jan-2013

19 TKGA Permata Prima Sakti Tbk 05-Mar-2013

20 AUTO Astra Otoparts Tbk 18-Apr-2013

21 DNET Indoritel Makmur Internasional Tbk 27-Mei-2013

22 HERO Hero Supermarket Tbk 03-Jun-2013

23 INDS Indospring Tbk 07-Jun-2013

24 INDX Tanah Laut Tbk 02-Jul-2013

25 LCGP Eureka Prima Jakarta Tbk 21-Okt-2013 26 TPIA Chandra Asri Petrochemical Tbk 04-Nov-2013

(49)

42

28 ATPK ATPK Resources Tbk 28-Nov-2013

29 ICON Island Concepts Indonesia Tbk 13-Des-2013

30 PBRX Pan Brothers Tbk 23-Des-2013

31 KPIG MNC Land Tbk 29-Jan-2014

32 GIAA Garuda Indonesia (Persero) Tbk 27-Mar-2014 33 IBST Inti Bangun Sejahtera Tbk 22-Apr-2014

34 MITI Mitra Investindo Tbk 01-Jul-2014

35 SMRU SMR Utama Tbk 02-Jul-2014

36 SIAP Sekawan Intipratama Tbk 03-Jul-2014

37 ARTI Ratu Prabu Energi Tbk 12-Des-2014

Sumber data: IDX Statistik 2011-2014

Setelah dilakukan proses penyeleksian menghasilkan sampel sebanyak 28 perusahaan.

Tabel 3.2

Daftar Nama Perusahan yang melakukan Right Issue yang digunakan

sebagai sampel

No Kode Nama Perusahaan Anouncemet Date

1 EPMT Enseval Putera Megatrading Tbk 03-Mar-2011

2 UNTR United Tractors Tbk 03-Mei-2011

3 KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk 07-Okt-2011

4 PWON Pakuwon Jati Tbk 05-Des-2011

5 MDLN Modernland Realty Ltd. Tbk 06-Jan-2012 6 KIAS Keramika Indonesia Assosiasi Tbk 17-Feb-2012

7 RAJA Rukun Raharja Tbk 04-Mei-2012

8 MDRN Modern Internasional Tbk 29-Jun-2012 9 HOME Hotel Mandarine Regency Tbk 19-Okt-2012

10 MYOH Samindo Resources Tbk 04-Des-2012

11 CNKO Exploitasi Energi Indonesia Tbk 05-Des-2012 12 SRAJ Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk 12-Des-2012 13 CENT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk 13-Des-2012

14 AUTO Astra Otoparts Tbk 25-Jan-2013

15 DNET Indoritel Makmur Internasional Tbk 25-Mar-2013

16 HERO Hero Supermarket Tbk 03-Jun-2013

17 INDS Indospring Tbk 02-Jul-2013

18 TPIA Chandra Asri Petrochemical Tbk 04-Nov-2013

19 ALTO Tri Banyan Tirta Tbk 26-Nov-2013

20 ATPK ATPK Resources Tbk 28-Nov-2013

21 ICON Island Concepts Indonesia Tbk 13-Des-2013

22 PBRX Pan Brothers Tbk 23-Des-2013

23 KPIG MNC Land Tbk 29-Jan-2014

(50)

43

27 SIAP Sekawan Intipratama Tbk 03-Jul-2014

28 ARTI Ratu Prabu Energi Tbk 12-Des-2014

Sumber data: IDX Statistik 2011-2014

Berikut ringkasan tabel perhitungan jumlah perusahaan yang telah dijelaskan sebelumnya akan disajikan di tabel 3.2.

Tabel 3.2 Perhitungan Sampel

Keterangan Jumlah

Perusahaan yang melakukan kebijakan right issue 37 Perusahaan yang melakukan kebijakan lain 2 Perusahaan yang tidak mempunyai data lengkap 7 Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian 28

D. Variabel Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan yang telah dirumuskan, maka variabel dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :

1. Variabel independen atau variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pengumuman right issue (X).

2. Variabel dependen atau variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah return (Y1) dan volume perdagangan

saham (Y2)

E. Definisi Operasional

Definisi operasional dari variabel yang diteliti, dapat diuraikan

sebagai berikut :

1. Pengumuman right issue adalah suatu upaya yang dilakukan oleh emiten untuk menghemat biaya emisi dan untuk menambah jumlah

(51)

44

2. Return saham adalah penghasilan yang diperoleh investor dari

investasinya, yang merupakan perbandingan antara harga saham

sekarang dengan harga saham sebelumnya.

3. VolumePerdagangan saham adalah jumlah lembar saham emiten yang

diperjualbelikan pada pasar modal.

F. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu

data berupa dokumen dan informasi tertulis yang berhubungan dengan objek penelitian yang tidak langsung didapatkan dari perusahaan tapi dalam bentuk

data yang telah dikumpulkan, diolah, dan dipublikasikan oleh pihak lain, dalam hal ini pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui otoritas Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Surabaya. Data sekunder yang peneliti

gunakan antara lain meliputi :

1. Data nama perusahaan yang melakukan pengumuman right issue

antara tahun 2011-2014.

2. Data harga saham harian selama 5 hari sebelum pengumuman right issue dan 5 hari sesudah tanggal pengumuman right issue. Hari yang

dimaksud adalah hari kerja yang merupakan hari perdagangan aktif. 3. Data volume perdagangan saham perusahaan yang melakukan

(52)

45

G. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan

standart memperoleh data yang diperlukan adalah dokumentasi, yang mana data dokumentasi memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi, serta

siapa yang terlibat dalam suatu kejadian.2 Pengumpulan data untuk penelitian ini difokuskan pada volume dan harga saham yang beredar untuk masing-masingsaham yang menjadi sampel selama periode penelitian yaitu 5 hari

sebelum dan 5 hari sesudah.

Pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini dilakukan

dengan menggunakan data sekunder atau data historis. Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Pengumpulan data sekunder yang mencakup data saham perusahaan

yang melakukan pengumuman right issue dan harga perdagangan saham selama periode 2011-2014. Data ini diperoleh dari :

a. Harga saham harian yang diperoleh melalui situs www.duniainvestasi.com.

b. Volume perdagangan saham yang diperoleh melalui situs

www.duniainvestasi.com.

2. Pengumpulan data dilengkapi dengan membaca dan mempelajari serta

menganalisis literatur yang sumber-sumbernya dari buku-buku, jurnal-jurnal dan internet yang berkaitan dengan penelitian ini.

2

(53)

46

H. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini penulis melakukan dua kali pengolahan data

dengan menggunakan alat bantu SPSS versi 20 yaitu yang pertama, pengolahan data SPSS dengan menggunakan return saham aktual 5 hari

pengamatan sebelum dan 5 hari pengamatan sesudah pengumuman right issue, dan yang kedua pengolahan data SPSS dengan menggunakan volume perdagangan saham 5 hari pengamatan sebelum dan 5 hari pengamatan

sesudah pengumuman right issue.

Untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan dan menguji

hipotesis-hipotesis, maka digunakan alat analisis uji beda (perbedaan rata-rata) untuk membandingkan masing-masing kelompok variabel. Dalam konsep uji beda, dinyatakan bahwa jika hasil rasio menunjukkan hasil yang

signifikan, maka berarti menerima Ho. Sebaliknya, jika hasil menunjukkan nilai tidak signifikan, maka berarti menolak Ha. Diterimanya Ho atau ketika

hasil analisis menunjukkan nilai yang signifikan, berarti kedua kelompok variabel yang diuji berpengaruh terhadap variabel yang diteliti. Sebaliknya, jika hasil analisis tidak signifikan beda, berarti peristiwa tersebut tidak

berpengaruh terhadap variabel yang diteliti.

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan program SPSS

FOR Windows versi 20. Langkah-langkah pengolahan data sebagai berikut: 1. Analisis Return Saham

Adapun untuk menganalisis penelitian ini dilakukan perhitungan

(54)

47

Keterangan:

Rit = Return atau actual return saham perusahaan i pada waktu t.

Pit = Harga perusahaan i pada waktu t. Pt-1 = Harga perusahaan i sebelum waktu t. 2. Uji Normalitas

Untuk menguji apakah dalam sebuah model mempunyai distribusi data yang normalatau tidak. Model yang baik adalah memiliki distribusi

normal atau mendekati. Jika data berdistribusi normal maka digunakan paired sample t-test untuk menguji hipotesis, namun jika data tidak berdistribusi normal maka digunakan wilcoxon test untuk menguji

hipotesis.3

Uji satu sampel Kolmogorov-smirnov digunakan data untuk

berlanjut (continue), sebab uji ini digunakan pada data dengan skala ordinal. Pengujian ini lebih sering dilakukan untuk membandingkan dua buah fungsi distribusi kumulatif, yaitu fungsi distribusi kumulatif yang

teramati dan fungsi distribusi kumulatif yang dihipotesiskan. Ho: Data tidak berdistribusi normal.

Ha: Data berdistribusi normal.

Dalam pengujian hipotesis, kriteria untuk menolak atau tidak

menolak Ho berdasarkan P-value adalah sebagai berikut:

3

(55)

48

Jika P-value < 0,05 Ho diterima. Jika P-value > 0,05 Ho ditolak.

3. Uji Beda

Untuk mengetahui pengaruh pengumuman right issue terhadap

return dan volume perdagangan saham dilakukan pengujian paired

sample t-test dengan asumsi data berdistribusi normal dan wilcoxon signed-rank test jika data tidak berdistribusi normal. Alat uji ini

digunakan karena data sebelum dan sesudah adanya peristiwa right issue adalah data yang berpasangan.

a. Paired Sample T-Test

Uji T sampel berpasangan adalah prosedur yang digunakan untuk membandingkan rata-rata dua variabel untuk suatu grup

sampel tunggal dengan asumsi data terdistribusi normal. Perbandingan itu mencari atau menghitung nilai selisih antara nilai

dua variabel untuk tiap kasus. Selain itu, uji ini juga berasal dari subjek yang sama atau satu ukuran dari pasangan subjek.

(56)

49

Dimana Sb = Satandart error 2 rata-rata yang berhubungan.

Dimana:

B : Beda antara pengamatan tiap pasang. AB : Rata-rata dari beda pengamatan.

Sb : Standart error 2 rata-rata yang berhubungan.

Hipotesis:

Ho: µ1 = µ2 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan

Ha: µ1 ≠ µ2 : terdapat pengaruh yang signifikan Kriteria pengambilan keputusan

Jika sig > 0,05 maka Ho diterima

Jika sig < 0,05 maka Ho ditolak

b. Uji Wilcoxon Sign Rank Test

Wilcoxon Sign-Rank Test adalah metode statistika

non-parametik yang digunakan untuk membandingkan perbedaan dua median dan merupakan metode statistik non-parametik alternatif

untuk paired t-test jika populasi tidak terdistribusi normal. Wilcoxon sign rank test merupakan uji non-parametik yang digunakan karena

Figur

  Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu p.40
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Gambar 2.1

Kerangka Berpikir p.43
Daftar Perusahaan yang Melakukan Tabel 3.1 Right Issue

Daftar Perusahaan

yang Melakukan Tabel 3.1 Right Issue p.48
Daftar Nama Perusahan yang melakukan Tabel 3.2 Right Issue yang digunakan

Daftar Nama

Perusahan yang melakukan Tabel 3.2 Right Issue yang digunakan p.49
 Tabel 3.2 Perhitungan Sampel
Tabel 3.2 Perhitungan Sampel p.50
Tabel 4.1  Rata-rata Return Saham Perusahaan Sebelum dan Sesudah Pengumuman

Tabel 4.1

Rata-rata Return Saham Perusahaan Sebelum dan Sesudah Pengumuman p.76
Rata-rata Tabel 4.2 Return saham di sekitar Pengumuman Right Issue
Rata-rata Tabel 4.2 Return saham di sekitar Pengumuman Right Issue p.79
Tabel 4.3 Rata-rata Volume Perdagangan Saham Perusahaan Sebelum

Tabel 4.3

Rata-rata Volume Perdagangan Saham Perusahaan Sebelum p.81
Tabel 4.4  Rata-rata Volume Perdagangan saham di sekitar

Tabel 4.4

Rata-rata Volume Perdagangan saham di sekitar p.84
  Tabel 4.5 Statistik Deskriptif Rata-rata Return
Tabel 4.5 Statistik Deskriptif Rata-rata Return p.85
Uji Tabel 4.6 One-Sample Kolmogorov Smirnov Rata-rata Return

Uji Tabel

4.6 One-Sample Kolmogorov Smirnov Rata-rata Return p.87
 Tabel 4.7 Uji One-Sample Kolmogorov Smirnov
Tabel 4.7 Uji One-Sample Kolmogorov Smirnov p.89
 Tabel 4.8 Uji Beda Wilcoxon Sign Rank Test Rata-rata
Tabel 4.8 Uji Beda Wilcoxon Sign Rank Test Rata-rata p.90
 Tabel 4.9 Uji Beda Wilcoxon Sign Rank Test Rata-rata Volume Perdagangan Saham
Tabel 4.9 Uji Beda Wilcoxon Sign Rank Test Rata-rata Volume Perdagangan Saham p.92

Referensi

Memperbarui...