• Tidak ada hasil yang ditemukan

School of Communication Inspiring Creative Innovation. Pengembangan Kepemimpinan Pertemuan 3 SM III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "School of Communication Inspiring Creative Innovation. Pengembangan Kepemimpinan Pertemuan 3 SM III"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Kepemimpinan Pertemuan 3 SM III

2017-2018

Penempatan Pegawai

School of Communication & Business Inspiring Creative Innovation

1

(2)

BEBERAPA PENDEKATAN KEPEMIMPINAN,

Pertemuan 3 Semester 3/Ganjil Tahun 2017-2018

Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami beberapa Pendekatan Dalam Kepemimpinan

2

(3)

Pendekatan Kepemimpinan

Beberapa teori yang menjelaskan kemunculan pemimpin:

a. Teori Genetis, menyatakan:

Bahwa pemimpin itu tdk dibuat, ia lahir jadi pemimpin krn bakat yg luar biasa yg dibawa sejak lahir. Bisa dipengaruhi oleh gen keturunan orang tua.

Bahwa ia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin karena sikon tertentu.

3

(4)

Pendekatan Kepemimpinan

aLini gilang,sh.mm

b. Teori Sosial >< lawan teori genetis, menyatakan:

Bahwa pemimpin tdk lahir begitu saja, tapi ia harus disiapkan dan dibentuk utk menjadi pemimpin.

Setiap org bisa menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan/kaderisasi dan melalui proses pendidikan/ pembelajaran.

c. Teori Ekologis,

Merupakan sintesa kedua teori sebelumnya, menyatakan bahwa : Pemimpin yang

ideal, jika sejak lahir telah memiliki bakat kepemimpinan kemudian bakat tsb dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan

lingkungan/ ekologinya.

4

(5)

Pendekatan Untuk Mempelajari Kepemimpinan

1. Pendekatan Sifat/ Ciri

Pendekatan ini menekankan pada atribut / sifat yang ada pada pemimpin.

2. Pendekatan berdasarkan Perilaku

Menekankan pada penelitian tentang sifat dari pekerjaan manajerial, dan membandingkan perilaku pemimpin yang efektif dan tidak efektif.

3. Pendekatan Kekuasaan-pengaruh

Dengan mempelajari proses mempengaruhi antara pemimpin dan pengikutnya.

Jumlah dan jenis kekuasaan dan cara kekuasaan tersebut digunakan.

4. Pendekatan Situasional

Menekankan pada faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan, sifat lingkungan

dan karakter pengikutnya. 5

(6)

1. PENDEKATAN SIFAT / CIRI

Pendekatan Sifat menyatakan bahwa: Keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin. Sifat-sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan dan keturunan. Jadi, seseorang menjadi pemimpin karena sifat- sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.

Beberapa sifat tersebut adalah sbb :

Ambisi dan semangat

Hasrat untuk memimpin

Kejujuran dan integritas

Kepercayaan diri

Kecerdasan dan pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan

Luwes dalam menyesuaikan perilaku mereka ke dalam situas yang

berlainan 6

(7)

2. PENDEKATAN PERILAKU

Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin.

Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya.

Teori ciri akan menjadi dasar dari memilih orang yang tepat, sedangkan teori perilaku dapat melatih orang yang tepat.

7

(8)

2.1 Teori perilaku – OHIO (1960)

(Penelitian Universitas Ohio) Consideration:

Tingkat di mana pemimpin memiliki hubungan pekerjaan yang dicirikan dengan rasa saling percaya, penghormatan terhadap gagasan bawahan dan menghargai perasaan mereka.

Indikatornya:

1. Membantu bawahan dalam menyelesaikan tugas

2. Mendengarkan dan mendiskusikan keluhan bawahan

3. Menerima saran bawahan

4. Memperlakukan semua bawahan secara sama

5. Memperhatikan kesejahteraan bawahan

8

(9)

Teori perilaku – OHIO (1960)

(Penelitian Universitas Ohio)

Initiating Structure:

Tingkat dimana pemimpin mendefinisikan dan menstruktur perannya dan peran para anak buahnya dalam mengupayakan pencapaian sasaran.

Indikatornya:

1. Mengkritik dan marah kepada bawahan yang malas dan kinejanya rendah

2. Memberi tugas secara rinci

3. Mengingatkan bawahan untuk taat prosedur standar dan standar kinerja

4. Mensupervisi bawahan secara ketat

5. Menentukan target kerja 9

(10)

Teori perilaku – OHIO (1960)

(Penelitian Universitas Ohio)

High Considiration and Low initiating

Structure

High initiating Structure and High Considiration

Low initiating Structure and Low Considiration

High initiating Structure and Low Considiration

INITIATING STRUCTURE High

Low C

O S I D E R A T I O N

Low High 10

(11)

2.2. Teori Perilaku - Michigan

Penelitian Universitas Michigan

Pemimpin Berorientasi Karyawan :

Menekankan pada hubungan antarmanusia; memberikan

perhatian pribadi terhadap kebutuhan karyawan dan menerima perbedaan individual diantara para anggota.

Pemimpin Berorientasi Produksi :

Pemimpin yang menekankan pada aspek-aspek teknis atau tugas atas pekerjaan tertantu.

11

(12)

Teori Perilaku – Michigan (Con’t)

Matriks 9x9 yang menjabarkan 81 gaya kepemimpinan yang berbeda, didasarkan pada:

kepedulian akan orang dan

kepedulian akan produksi

12

(13)

2.3 Teori Perilaku - LMX

(Leader-Member Exchange model)

F Follower

In-Group

F F F F

F

Out-group

F

F F

F F

F

F Leader

13

(14)

Teori Perilaku - LMX

(Leader-member Exchange Model)

Pemimpin

Pengikut Kelompok Luar (out group) Pengikut Kelompok

Dalam (in group) Hubungan Diadik

(dua arah)

Hubungan Diadik Pemimpin dan Pengikut Dalam LMX

Pemimpin berinteraksi berbeda antara dengan

“Kelompok Dalam” dan “Kelompok Luar”

14

(15)

Bahwa ternyata Leader memperlakukan Followernya berbeda2, tergantung kedekatan & kesamaan interest mereka

Jika dekat  High quality relationship

Follower menjadi bagian dari “in-group”

Biasanya follower dalam in goup akan lebih bertanggung jawab, lebih memuaskan kinerjanya

Jika Jauh  Low quality relationship

Follower menjadi bagian dari “out-group”

Biasanya follower dalam out-goup akan lebih cuek, dan kepuasan kerja rendah

Teori Perilaku - LMX

(Leader-member Exchange Model)

15

(16)

3. Pendekatan kekuasaan

Kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.

Orang-orang yang berada pada puncak pimpinan suatu organisasi seperti manajer, direktur, kepala dan sebagainya, memiliki kekuasaan (power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orang- orang yang secara struktural organisator berada di bawahnya.

Sebagian pimpinan menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik.

16

(17)

Kekuasaan dalam Kepemimpinan

Kekuasaan merupakan kapasitas untuk mempengaruhi secara unilateral sikap dan prilaku orang ke arah yang diinginkan (Gary Yukl, 1996:183).

Kartini Kartono (1994:140) mengungkapkan bahwa sumber kekuasaan pemimpin dapat berasal dari:

Kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain.

Sifat dan sikapnya yang lebih unggul sehingga memiliki kewibawaan terhadap pengikutnya.

Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang luas.

Memiliki human relation yang baik, kepandaian bergaul dan berkomunikasi.

17

(18)

SUMBER-SUMBER KEKUASAAN

1. Kekuasaan Imbalan, kekuasaan yang bersumber pada kemampuan orang mengontrol sumberdaya dan memberikan imbalan pada orang lain

2. Kekuasaan koersif, kekuasaan yang bersumber pada kemampuan dalam menggunakan ancaman dan hukuman

3. Kekuasaan Legitimasi, kekuasaan yg bersumber pada hak atau wewenang resmi dalam organisasi. Wewenang biasanya diterapkan melalui permintaan, perintah, maupun instruksi.

4. Kekuasaan Keahlian kekuasaan yang bersumber pada kemampuan spesifik (keahlian) dalam bidang tertentu.

5. Kekuasaan Rujukan kekuasaan yang bersumber pada ciri khas kepribadian tertentu.

18

(19)

Robbins dan Judge (2008, 2:139) mengidentifikasi sembilan macam taktik untuk mendapatkan kekuasaan.

1. Legitimasi, mengandalkan posisi kewenangan seseorang atau menekankan bahwa sebuah permintaan selaras dengan kebijakan /ketentuan organisasi

2. Penalaran atau persuasi rasional, menyajikan fakta dan argumen yang logis untuk memperlihatkan bahwa sebuah permintaan itu masuk akal.

3. Seruan inspirasional mengembangkan komitmen emosional dengan cara menyerukan nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan aspirasi sebuah sasaran.

4. Konsultasi, meningkatkan motivasi dan dukungan dari pihak yang menjadi sasaran (target) dengan cara melibatkan dalam memutuskan bagaimana rencana atau perubahan akan dijalankan.

Taktik kekuasaan

(Cara-cara yang ditempuh individu untuk menerjemahkan sumber kekuasaan menjadi tindakan yang sepesifik)

19

(20)

5. Tukar pendapat, memberikan imbalan kepada target atau sasaran berupa uang atau penghargaan lain sebagai ganti karena mau menaati suatu permintaan.

6. Seruan pribadi, meminta kepatuhan berdasarkan persahabatan atau kesetiaan

7. Menyenangkan orang lain, menggunakan rayuan, pujian atau perilaku bersahabat sebelum membuat permintaan.

8. Tekanan, menggunakan peringatan tuntutan tegas, dan ancaman

9. Koalisi, meminta bantuan orang lain untuk membujuk target atau menggunakan dukungan orang lain sebagai alasan agar si target setuju.

20

Taktik kekuasaan (Con’t)

(21)

Taktik Kekuasaan yang sebaiknya dipilih menurut arah pengaruh

Pengaruh ke atas

Pengaruh ke bawah

Pengaruh ke samping

• Persuasi rasional

• Konsultasi

• Menyenangkan orang lain

• Tukar pendapat

• Legitimasi

• Seruan pribadi

• Koalisi

• Pesuasi rasional

• Seruan inspirasional

• Tekanan

• Konsultasi

• Menyenangkan orang lain

• Tukar pendapat

• Legitimasi

• Persuasi rasional

Sumber:diadopsi dari Robbins & Judge, Perilaku Organisasi, Buku 2, Salemba Empat, Jakarta, 2008, H. 140

21

(22)

4. Pendekatan situasional

Pendekatan situasional biasa disebut dengan pendekatan kontingensi. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja.

Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat, watak dan situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula.

Interaksi ini mengunakan rumus :

SL = kepemimpinan yang berhasil f = Fungsi dari

L,S,F = Pemimpin, Pengikut, Situasi.

SL = f (L.F.S)

22

(23)

4.1 Teori Situasional Hershey dan Blanchard - SLT

(Situational Leadership for Transformational Model)

23

(24)

Gaya Kepemimpinan Path Goal

Dalam Kepemimpinan Situasional

1. Kepempimpinan direktif: Pemimpin memberikan pedoman, yang memungkinkan bawahan tahu apa yang diharapkan dari mereka, menetapkan standar kinerja, dan mengontrol perilaku ketika standar kinerja tidak terpenuhi. Pemimpin secara bijaksana memberikan penghargaan dan sanksi disiplin. Bawahan diharap mengikuti aturan dan kebijakan yang dikeluarkan.

2. Kepemimpinan suportif: pemimpin yang sifatnya mengayomi bawahan dan menampilkan perhatian pribadi terhadap kebutuhan, dan kesejahteraan mereka.

3. Kepempimpinan partisipatif: pemimpin percaya pengambilan keputusan dalam kelompok dan berbagi informasi dengan bawahan. Berkonsultasi dengan bawahannya mengenai keputusan penting berkaitan dengan pekerjaan, tujuan tugas, dan cara untuk menyelesaikan tujuan.

4. Kepemimpinan berorientasi prestasi: pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mendorong karyawan untuk mencapai kinerja terbaik mereka.

Pemimpin percaya bahwa karyawan cukup bertanggung jawab untuk mencapai tujuan yang menantang. Gaya ini sama dengan pandangan teori penetapan tujuan.24

(25)

Kepemimpinan Situasional

Kontingensi (ketidakpastian)

Pemimpin mampu memilih lebih dari satu jenis gaya cocok untuk situasi tertentu. Tipe perilaku kepemimpinan yang berbeda dapat dipraktekkan oleh orang yang sama di situasi yang berbeda. Hubungan antara gaya pemimpin dan efektivitas tergantung pada variabel-variabel dua faktor ketidakpastian yaitu: (1) karakteristik karyawan dan (2) karakteristik lingkungan kerja.

1. Karakteristik karyawan: Termasuk faktor-faktor seperti kebutuhan karyawan, lokus kontrol, pengalaman, kemampuan dirasakan, kepuasan, keinginan untuk meninggalkan organisasi, dan kecemasan.

Jika pengikut memiliki kemampuan tinggi, maka gaya kepemimpinan direktif mungkin tidak diperlukan, melainkan pendekatan suportif yang lebih mengena.

Karakteristik karyawan sangat menentukan bagaimana karyawan bereaksi terhadap perilaku pemimpin serta sejauh mana mereka melihat perilaku pemimpin tersebut sebagai sumber langsung dan potensial untuk memuaskan kebutuhan mereka.

25

(26)

2. Karakteristik lingkungan kerja: Termasuk faktor-faktor seperti struktur tugas dan dinamika tim yang berada di luar kendali karyawan.

Misalnya, melakukan tugas-tugas sederhana dan rutin, gaya kepemimpinan suportif jauh lebih efektif daripada gaya kepemimpian direktif.

Gaya partisipatif bekerja lebih baik untuk tugas non-rutin daripada yang rutin. Jadi karakteristik lingkungan kerja berhubungan dengan sejauh mana pekerjaan bersifat rutin dan terstruktur, atau bersifat non rutin dan tidak terstruktur.

Semakin terstruktur suatu pekerjaan, semakin tujuannya jelas, dan semakin terbangun rasa percaya diri bawahan, maka upaya untuk terus- menerus menjelaskan suatu pekerjaan atau pengarahan (direktif) merupakan tindakan pemimpin yang tidak diharapkan oleh bawahan.

Namun, tatkala pekerjaan tidak terstruktur secara baik, tujuan tidak jelas, dan bawahan kurang pengalaman, kemudian gaya kepemimpinan direktif akan lebih diterima oleh para bawahan

Kepemimpinan Situasional

Kontingensi (ketidakpastian)

26

(27)

Buat secara Individu :

“Mind Mapping”

(Materi Kuliah Minggu ini)

Persyaratan

1. Maksimal 1 (satu) halaman

2. Informatif (dapat diberi gambar, warna, symbol, dll ilustrasi)

3. Tidak Pakai Cover (cukup menulis nama, NIM, dan Nomor Urut Absensi di lembar Mind Map)

4. Ditulis tangan atau diprint (menggunakan software Mind Map) 5. Tidak boleh copy paste (harus unik Individual)

6. Dikumpulkan saat kuliah pertemuan berikutnya

7. Terlambat mengumpulkan perhari didenda 0,5 27

(28)

28

Referensi

Dokumen terkait

Agar Pelatihan dan Pengembangan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mencapai tujuan yang dinginkan langkah2 yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:..

Pengembangan SDM adalah Penyiapan Individu pegawai untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau lebih tinggi di dalam organisasi ( Donni J.P .).. Sikula menyatakan

Perilaku politik yang ekstrim yang melanggar aturan Politik Organisasi : penggunaan kekuasaan utk mempengaruhi pengambilan keputusan di dalam

Standar perilaku yang bisa diterima dalam kelompok yang digunakan secara bersama- sama oleh anggota kelompok.. PERILAKU

Penempatan Pegawai School of Communication &amp; Business Inspiring Creative Innovation...

dalam menilai karyawan, apa yang dipersepsikan oleh penilai sebagai karakteristik atau perilaku baik atau buruk akan berpengaruh secara signifikan terhadap penilaian tersebut.

Penilaian Kebutuhan adalah suatu diagnose untuk menentukan masalah yang dihadapi saat ini dan tantangan dimasa mendatang yang harus dipenuhi oleh program pelatihan dan

– Pengambil risiko tinggi menghasilkan prestasi kerja yang lebih efektif untuk seorang pedagang saham di suatu perusahaan perdagangan perantara karena jenis pekerjaan tersebut