i
REVITALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN
EKONOMI UMAT
(Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang)
TESIS
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
Guna melanjutkan penelitian dalam rangka penyusunan Tesis Program Studi Magister Ekonomi Syariah
Oleh
ZULHENDRI NIM : 30118007
PROGRAM STUDI MAGISTER EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI
2020
i
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Tesis yang berjudul: Revitalisasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Ekonomi Umat (Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang),yang disusun oleh ZULHENDRI dengan NIM. 3011.8007, telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan ke sidang Munaqasah Program Studi Magister Ekonomi Syariah (S2) Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.
Demikian Persetujuan ini diberikan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bukittinggi, Juli 2020 Pembimbing
Dr. Iiz Izmuddin, MA NIP. 197503032001121007
i
PENGESAHAN TIM PENGUJI
Tesis dengan judul: Revitalisasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Ekonomi Umat (Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang),yang disusun oleh Zulhendri dengan NIM 301180, telah diuji dalam sidang Munaqasah Program Studi Magister Ekonomi Syariah (S2) pada Hari ... Bulan ... 2020. Dan telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persayaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister pada Program Studi Magister Ekonomi Syariah (S2) Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.
Bukittinggi, Juli 2020 TIM PENGUJI
Ketua
...
NIP.
Sekretaris
...
NIP.
Penguji Utama 1
...
NIP.
Penguji Utama 2
...
NIP.
Mengetahui Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Dr. Iiz Izmudin, MA
NIP. 19750303 200112 1 007
Ketua
Program Studi Magister EkonomiSyariah
Dr. Hesi Eka Puteri, SE, M.Si NIP. 19740908 200604 2 002
i
SURAT PERNYATAAN ORISINILITAS Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama / NIM : Zulhendri / 30118007
Tempat / Tanggal lahir : Bukit Tinggi, 17 Oktober 1980
Fakultas / Jurusan : Ekonomi Dan Bisnis Islam / Magister Ekonomi Syariah Judul Tesis :Revitalisasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pengembangan
Ekonomi Umat (Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang)
Menyatakan dengan sesungguhnya karya ilmiah (Tesis) saya dengan judul diatas asli karya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa tesis ini bukan karya sendiri, maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku dan gelar Magister saya dicabut sampai batas waktu yang ditentukan.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bukittinggi, Juli 2020 Yang Membuat Pernyataan
Zulhendri
i
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatdan karunia- Nya, Sholawat dan Salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammaddengan mengucapkan Allohummaa sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aaliMuhammad yang menjadi panutan kita sampai akhir zaman, sehingga penulis dapatmenyelesaikan Tesis dengan judul Revitalisasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Ekonomi Umat (Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang)
Penulisan Tesis ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi Syariah pada Program Studi Magister Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi.Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian Tesis ini, sejak tahap awalsampai dengan tahap akhir, tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orangtuapenulis yang sangat mulia, Ayahanda Yusuf H.S dan Ibunda Megawarni, Istri tercinta Zuhelmanentis, Anak tersayang Khaira Izzati Maghfiroh, serta Adik-adik q yang dengan sabar menyemangati danmendoakan penulis, sehingga Tesis ini dapat selesai.
Selain itu, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesarbesarnyakepada :
1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M.Hum sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi.
2. Bapak Dr. Iiz Izmuddin, MA sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi sekaligus sebagai pembimbing saya dalam penulisan Tesis ini, yang telah memberikan arahan dan masukan kepada penulis sehingga tesis ini dapat selesai.
3. Ibu Dr. Hesi Eka Puteri, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi
ii
4. Semua Dosen Penguji Tesis yang terdiri dari Bapak Dr.Miswardi, M.Hum.
dan Dr. Taufik, MA.
5. Seluruh Dosen Program Studi Magister Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi yang telah memberikan banyak pengetahuan tentang Ekonomi khususnya Ekonomi Syariah kepada penulis.
6. Seluruh Staf dan Tenaga Kependidikan Program Studi Magister Ekonomi SyariahFakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggiyang telah memberikan kelancaran dalam proses perkuliahan.
7. Seluruh sahabat dan teman seperjuangan Program Studi Magister Ekonomi Syariah khususnya Angkatan tahun 2018/2019 yang telah saling membantu dansaling menyemangati secara bersama-sama sampai akhir perkuliahan.
Doa dan harapan penulis kepada semua pihak yang telah memberikandorongan, bantuan, bimbingan, petunjuk, dan arahan yang bermanfaat tersebut,semoga Allah SWT membalas dan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sertamenjadi amal jariyah yang berguna diakhirat kelak.Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh dari sempurna, baik dari sisimateri maupun tehnik penulisan.
Masih banyak hal-hal yang harus dibenahi. Untuk itu penulis mengharapkan masukan, kritik, dan saran yang membangun untuk kesempurnaan Tesis ini.
Bukittinggi, Juli 2020 Penulis,
Zulhendri
iii
REVITALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN EKONOMI UMAT
(Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang)
ZULHENDRI
Magister Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi
Email:[email protected]
ABSTRAK
Masih belum banyak masjid yang secara sungguh-sungguh telah memberdayakan dana untuk mendukung pengembangan ekonomi Islam kususnya ekonomi umat terkusus di Padang Panjang, Masjid selayaknya memperlebar metode dakwahnya kepada program pemberdayaan ekonomi yang berbasis umat dan harus dapat dirasakan manfaatnya bagi umat dan masjid itu sendiri..
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan keadaan suatu fenomena. .Penelitian ini dilaksanakan di masjid kota Padang Panjang.Teknik analisis data penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan menggunakan empat teknik analis data yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian di kota Padang Panjang, dapat diambil kesimpulan bahwa mengelola masjid tidak hanya berfokus pada fisiknya saja, akan tetapi juga berfokus pada jamaahnya. Masjid harus bisa memberdayakan dan mensejahterakan ekonomi jamaahnya atau umat, bukan menjadi beban bagi umatnya. Praktek pemberdayaan ekonomi yang porspek menjanjikan adalah bisnis hewan qurban. Tujuan dalam program bisnis ini adalah dampak positif yang dirasakan masyarakat antara lain:peningkatan pendapatan, kesejahteraan baik masjid terutama umat.
Kata Kunci : Masjid, pemberdayaan ekonomi ,kesejahteraan
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN PERNYATAAN
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ...i
DAFTAR GAMBAR ...ii
DAFTAR TABEL ...iv
DAFTAR LAMPIRAN ...v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1
B..Rumusan Masalah ...10
C. Tujuan Penelitian...10
D. Ruang Lingkup Penelitian ...10
E. Manfaat Penelitian ...11
BAB II KAJIAN PUSTAKA A . Landasan Teori ...12
1. Revitalisasi ...12
2 . Kajian tentang Masjid ...13
3 . Managemen Masjid ...30
4 . Model pengembangan ekonomi melalui Masjid ...34
5 . Kajian tentang zakat, infaq, sedekah, csr ...35
B. Penelitian terdahulu ...38
BAB III METODE PENELITIAN A . Desain Penelitian ...40
B . Pendekatan Fenomenologi ...40
C . Objek Penelitian ...42
D . Jenis dan sumber data ...42
E . Teknik pengumpulan data ...43
F . Teknik pengambilan informan ...44
G . Analisis data ...45
H . Teknik validasi data ...46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pola pengelolaan dana Masjid di Padang Panjang ...47
B. Ekonomi Umat berbasis Masjid ...53
1 Budidaya potensi umat ...54
2. Pola pemberdayaan ekonomi umat ...55
3. Sumber dana yang dapat digunakan ...65
4. Pola bisnis hewan qurban ...69
v BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...77 B. Saran ...80 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BIODATA PENULIS
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Contoh kotak amal masjid ...48
Gambar 2. Contoh laporan keuangan Masjid...50
Gambar 3. Contoh laporan keuangan Masjid pada media sosial...51
Gambar 4. List donatur pembangunan...52
Gambar 5. Model Imarah Masjid Malaysia...67
Gambar 6. Mekanisme Qurban Online dompet dhuafa...72
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Masjid di Padang Panjang Barat ...58
Tabel 2. Masjid di Padang Panjang Timur ...59
Tabel 3. Data Qurban 2018 di Padang Panjang Barat...61
Tabel 4. Data Qurban 2018 di Padang Panjang Timur...62
Tabel 5. Data Qurban 2019 di Padang Panjang Barat...63
Tabel 6. Data Qurban 2019 di Padang Panjang Timur...64
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Fatwa DSN MUI tentang Wadi,ah ... xiii Lampiran 2 Fatwa DSN MUI tentang Bai’ Salam ... xvii Lampiran 3 Fatwa DSN MUI tentang Mudharabah ... xviii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Fungsi masjid pada masa sekarang ini kebanyakan masih hanya sebatas pada hal- hal yang menyangkut urusan ibadah dan pendidikan, sedangkan untuk urusan sosial, kehidupan ekonomi, siyasah dan fungsi-fungsi lainnya, termasuk juga hal- hal yang berkaitan pembangunan ekonomi Islam yang merupakan salah satu program besar Negara dan masyarakat Islam dewasa ini, sepertinya masih belum dikelola secara profesional.
Untuk saat ini, masih belum banyak masjid yang secara benar- benar telah menjalankan program pemberdayaan dalam rangka menyokong pengembangan ekonomi Islam kususnya ekonomi umat, padahal dengan berbekalkan kemasyarakatan dan kapitalnya, masjid sesungguhnya mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menjalankan misi edukasi, sosialisasi dan kapitalisasi dana umat Islam tidak terkecuali Masjid- masjid yang ada di Kota Padang Panjang.
Padahal pembangunan pondasi, pertumbuhan masyarakat Islam pada masa- masa permulaan tidak terlepas daripada masjid.Masjid ialah tempat atau sebuah fasilitas yang fungsi utamanya adalah sebagai tempat untuk beribadah shalat atau bersujud, menghambakan dan menyembah Rabbnya.
Selain tempat untuk beramal bagi masyarakat muslim dalam arti spesifik , tetapi masjid jua sebagai tempat beramal secara luas itupun selama tetap dilaksanakan dalam koridor-koridor Islam. Masjid besar dari segi ukuran fisik, indah cantik dan bersih adalah impian bagi setiap umat, akan tetapi itu saja tidak cukup bilamana tidak ditopang dengan program- program yang sifatnya memakmurkan dan menghidupkan masjid.1Masjid menjadi tonggak kerohanian yang menopang kehidupan dunia serta akhirat umat.
1 Sidi, Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam,(Jakarta: Pustaka Antara ,1971), hal.27.
2
Masjid merefleksikan seluruh kegiatan- kegiatan umat,rumah ibadah umat islam bisa menjadi penilai juga parameter dari kesentosaan kaum muslim baik secara fisik ataupun rohani. Damn karena itu, apabila tiada sebuah masjid didaerah yang berpenghuni umat muslim atau berdirinya masjid diantara umat muslim, tapi tidak dimanfaatkan untuk sentra ibadah, aktivitas jamaah atau umat, ini merupakan sinyal negatif akan adanya kepincangan dalam aktivitas umat.Penyakit spritual akan muncul dalam kehidupan umat yang disebabkan oleh adanya kehampaan karena tiadanya asupan makanan untuk kebutuhan rohani umat.Sehingga Rahmat Allah SWT tidak kunjung turun dalan kehidupan pribadi maupun lingkungan.2
Disamping itu masjid berfungsi juga sebagai sebuah institusi sosial Islam sekaligus sebagai instrumen rahmatan lil’alamin jika hanya itu bisa tercipta jika masjid melaksanakan peran dan fungsinya. Akan tetapi, acap kali peran dan fungsi masjid tersebut tidak terlaksana dengan baik karena penyelenggaraannya yang kurang tepat. Oleh karena itu, peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai institusi sosial bagi umat sejalan dengan bimbingan dari amanat- amanat agama dalam zaman yang modern seperti saat ini harus di dimunculkan kembali atau dihidupkan lagi.
Perkembangan masjid dari sudut wujudan dan pembinaanya mempunyai perjalanan sejarah yang panjang seiring dengan muncul dan kedatangan agama Islam.Dalam menyusuri rentetan sejarah Islam, pembinaan awal masjid ditengah muka bumi ini ialah Masjidil Haram di Makkah yang dibina oleh Nabi Ibrahim A.S dan anak beliau yaitu Nabi Ismail A.S seperti yang terkandung dalam Firman Allah (Ali Imran:96).
Peranan masjid pada zaman Rasulullah berawal dengan pembinaan Masjid Quba pada tahun 622 Masehi, yaitu tahun pertama Hijrah. Pembinaan ini berdasarkan kepada rancangan yang dibuat sendiri oleh Rasulullah SAW dan
2Nana, Rukmana DW, Masjid dan Dakwah, Merencanakan, membangun dan mengelola Masjid, mengemas substansi Dakwah, upaya pemecahan Krisis moral dan Spritual, (Jakarta:Almawardi Prima, 2002), hal 76, bandingkan juga dalam M Quraish Shihab, Wawasan al-Qur'an, Tafsir Maudhu'i atas pelbagai persoalan umat, (Bandung : Mizan, 1996), hal 204.
3
peran serta para sahabat r.anhum dan para penduduk Quba’. Masjid ini telah dibangunkan secara beramai- ramai, di mana Rasulullah SAW sendiri ikut serta mengangkat batu-bata dengan dibantu oleh golongan Muhajirin dan Ansar.3
Dan dalam sejarah perkembangan agama Islam, masjid merupakan instrumen dalam menjalankan kegiatan dakwah dan peningkatan kekuatan ekonomi umat muslim. Setiap jama’ah dalam kontribusinya dalam membangun masjid,selalu bertujuan untuk melaksanakan dakwah dan sekaligus meningkatkan perekonomian jama’ah serta umat yang bertempat di sekitaran masjid. Ada sebuah mimpi besar untuk saat ini tentang revitalisasi peran dan fungsi masjid sebagai sebuah sarana untuk melaksanakan dakwah dan pemberdayaan ekonomi jama’ah dan umat. Harapan dan mimpi besar ini merupakan sesuatu yang amat sakral dan amat sesuai dengan kerangkanya, karena dalam Islam acuannya sebuah masjid adalah menjadi tonggak utama dan terpenting bagi pendirian umat di dalam Islam itu sendiri. Oleh karena itu, umat muslim mustahil akan terwujud secara kuat dan teratur melainkan dengan adanya kemufakatan terhadap aturan aqidah dan aturan di dalam Islam. Hal ini tidakbisa tercipta, dilahirkan kecuali berasal dari institusi yang bernama masjid.
Berangkat dari sejarah apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidup beliau, memperlihatkan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW terhadap masjid, kelihatan tidak hanya sampai pada pengartian saja yang baku dan sesederhana seperti biasa dimengerti dan diketahui oleh kebanyakan umat muslim pada saat ini, yaitu sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat dan melakukan kegiatan- kegiatan rutin untuk menumbuh kembangkan ketaatan pribadi..Tetapi jauh lebih luas dari itu, masjid dijadikan oleh Nabi besar Muhammad SAW sebagai sebuah pranata penumbuh kembangan ketaatan sosial dalam rangka membentuk umat yang sholeh menurut aturan- aturan ajaran agama Islam. Untuk saat itu, masjid mutlak berfungsi sebagai
3Asharaf Mohd. Ramli , Abdullaah Jalil, Norman Hamdan, Asmaddy Haris, Mohammad Aizuddin Abdul Aziz,”Pengurusan Kewangan Masjid, model Imarah Masjid”, (Nilai, Negeri Sembilan, 2014), hal 20.
4
sebuah institusi rekayasa sosial yang sesuai dengan bimbingan ajaran dalam agama Islam.4Masjid menjadi tolak ukur dari perubahan,ide-ide yang brilian lahir dari mesjid.
Masjidil Haram,Di kota Makkahlah tempatnya yang dijadikan sebagai tempat melakukan aktivitas dakwah wahyu secara terbuka, dalam hal ini mengundang sambutan buruk yang sangat keras dari para kaum kafir Quraisy Makkah, seperti dilempari dengan batu dan kotoran-kotoran unta. Kendatipun begitu, tidak dapat mematahkan langkah beliau untuk berdakwah, dakwah tetap di jalankan sampai beliau dapat perintah untuk berhijrah ke kota Madinah.
Setibanya beliau di kota Madinah, Nabi lalu mendirikan masjid yang pertama yang terkenal dengan nama Masjid Quba.Masjid Quba adalah tempat peribadatan umat Islam pertama yang kemudian menjadi model percontohan atau bentuk dasar untuk umat Islam dalam mendirikan masjid-masjid lainnya dikemudian hari.5
Pada masa baginda Rasulullah SAW masjid sangatlah sederhana dalam bangunannya, akan tetapi dengan fisik bangunannya yang biasa itu,masjid justru memiliki dan menjalankan banyak fungsi dan tugas yang bisa dijalankan dan tidak sesederhana tampilan kesederhanaan fisiknya.Sebagian besar waktu dari kehidupan Rasulullah SAW berada dalam lingkungan masjid,disamping berumah di dalam kawasan masjid, Rasulullah acap kali berada di dalam ruangan masjid jika tidak ada hal- hal yang sangat penting yang membuat beliau meninggalkan masjid untuk sementara, serta membuat masjid sebagai sarana pusat dari kegiatan dakwah, titik sentral untuk ibadah (wajib maupun sunnah), titik sentral untuk kegiatan umat, titik sentral pengajaran dan pembinaan kepada umat, titik sentral dari pemerintahan, sentral komando militer, sentral penerangan, pusat bagi forum dialog, titik sentral perbaikan mental, pusat zikir,serta masih banyak yang lain.6Justru pada masjid inilah yang amat sangat sederhana(dari segi
4Muhammad, Sa'id Ramadhan al-Buthy, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyyah: Ma'a Mujiz li- Tarikh al-Khilafah al-Rasyidah, (Damaskus : Dar al-Fikr, 2003), hlm. 143. lihat juga dalam M Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), hal 154.
5Makhmud, Syafe‟i, Masjid dalam perspektif sejarah dan hukum Islam
6Sidi, Gazalba, Masjid Pusat Ibadat,... hal 145.
5
penampakan dari fisiknya) inilah Rasulullah SAW mulai menggalang semua kekuatan.Menggalang, memimpin kaum muslimin dengan sebuah aksi Muakhat (pemersatu, muhajirin dan anshar). Dengan berbekal rumah ibadah yang kecil inilah, Nabi SAW mulai menciptakan dunia Islam, sehingga kota yang dulunya kecil yang menjadi tempat beliau membangun dunia benar-benar menjadi Madinah, yang arti harfiyahnya adalah “pusat peradaban”, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahirlah benih peradaban baru umat manusia sampai saat ini.
Sebagai seorang ynang merangkap jabatan yaitu Kepala Pemerintah dan kepala negara Nabi Muhammad SAW tidak meemiliki sebuah istana mewah seperti halnya para pejabat diera kerajaan dan di era modern seperti saat ini bahkan seperti raja- raja pada Romawi, beliau melaksanakan tugas sebagai kepala pemerintahan dan sebagai Nabi dalam memimpin umat Islam di Masjid. Bahkan juga persoalan- persoalan umat, sampai merumuskan siasat peperangan, beliau tuntaskan secara gotong royong dengan para sahabat- sahabat didalam Masjid.7
Pada masa setelah Nabi yaitu periode sahabat masjid masih tetap menjalankan fungsi dan perannya seperti yang Nabi praktekkan. namun, padi sisi fisik dari bangunan masjid ada sedikit terjadi perubahan, yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah umat Islam serta terus berkembang penyebaran ajaran Islam. Pada masa keKhalifahan Umar bin Khatab antara pendidikan dan keagamaan terjadinya pemisahan, pada masa Umar, disediakannya ruangan kusus untuk pendidikan dan terpisah dengan fungsi lainnya.Selain daripada pendidikan, tidak adanya perubahan- perubahan dan peralihan peran dan fungsi masjid, semuanya tetap sama seperti masa baginda Rasulullah SAW.8
Namun jika kita lihat dan perhatikan pada saat ini , peran dan fungsi masjid telah banyak berubah dan bergeser dari tatanan awalnya seperti yang dipraktekkan pada masa Rasulullah dan para sahabat.Peran dan fungsi tidak lagi terarah dan tidak sesuai dengan harapan atau terjadinya penyempitan fungsi dan peran masjid. Peran dan fungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat masih tetap berjalan, dan pembinaan mental dan spiritual melalui kajian- kajian masih
7Puji, Astari,” Mengembalikan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban Masyarakat”, (IAIN Raden Intan Lampung :Jurnal Ilmu Da‟wah dan Pengembangan Komunitas, 2014), hal 34.
8Makhmud, Syafe‟i, Masjid Dalam Perspektif Sejarah dan Hukum Islam
6
terus berjalan akan tetapi peran dan fungsi ibadah yang lain baik sosial maupun kesehatan, ekonomi semakin menyempit dan seperti tidak pernah umat rasakan lagi.9Tapi sesungguhnya, masjid memiliki fungsi yang strategis krusial,penting sebagai titik sentral dalam pembinaan dalam upaya perlindungan, pemberdayaan umat, dan sebagai pemersatu umat dalam menciptakan umat yang berkualitas, rasional dan toleran. Masjid yang ada pada saat ini, belum terlalu mempunyai rasa kepedulian terhadap kondisi umat atau jama’ahnya. Prariset yang peneliti lakukan di beberapa masjid yang ada di kota Padang Panjang memperkuat statemen ini.
Jika hanya dari segi fisik semata kita melihat akan keberadaan masjid,pembangunan masjid hanya pada objek fisik semata maka kita masih memahami masjid dalam pengertian yang sangat sempit, jika masjid hanyauntuk shalat sebagai aktivitasnya yang waktunya masih kalah jauh dibanding fasilitas umum,fasilitas lain yang bersifa tpublik, oleh karenanya masjid masih kalah bersaing jika dihadapkan dengan bangunan- bangunan megah yang tinggi yang dijadikan menjadi pusat hiburan dan juga harus berhadapan denganperusahaan- perusahaan ,tempat umat dalam mencari rezeki.Selain itu,pembangunan masjid, renovasi bangunan masjid yang semakin marak di Kota Padang Panjang tidak diikuti oleh peningkatan mutu pemberdayaan,tidak berbanding lurus dengan pembangunan rohaniah dan ekonomi umat atau jama’ahnya sehingga masjid- masjidyang ada sekarang ini seakan- akan tidak ada manfaat yang diberikan bagi manfaat sosial ekonomi bagi umat.10
Permasalahan seperti bukan hanya permasalahan di kota Padang Panjang saja tetapi juga terjadi hampir diseluruh masjid yang ada di Indonesia, dimana kehadiran masjid dalam kehidupan umat tidak dirasakanlagi oleh kebanyakan mereka,penyempitan akan peran dan fungsi masjid yang terjadi pada masa ini menjadi penyebab utama dalam masalah ini. Bahkan pendistribusian zakat yang bertujuan salah satunya untuk menguatkan silaturahmi tidak banyak lagi masjid
9Robiatul, Auliyah, Studi Fenomenolgi Peranan Manajemen Masjid At-Taqwa Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Bangkalan,” (Madura:Universitas Trinujoyo Madura)
10Imam, Sadiana, “Tempat di Bumi Yang Paling Allah Cintai Adalah Masjid”, (UIN suka.ac.id)
7
yang menjalankannya kecuali pada momen zakat fitrah.Tabligh, siyasah, terutama masalah ekonomi, sosial serta kesehatan yang sudah lenyap dari peran dan fungsi masjid, maka perlu sebuah terobosan baru bila ingin munculkan dan menghidupkan lagi dengan model yang baru yang sesuai perkembangan zaman dan pas dengan era modern seperti saat ini.Tergerus dan terkikisnya peran dan fungsi tersebut diakibatkan oleh ketidak tahuan dan minimnya ilmu sumber daya manusia (ta’mir) masjid apa dan bagaimana sebenarnya tentang peran dan fungsi masjid serta sejauh mana ruang lingkup alokasi dana masjid bisa digunakan dan bukan bukan hanya untuk fisik dan renovasi semata.Tidak terkecuali fenomena ini juga terjadi di Masjid- masjid yang ada di Kota Padang Panjang yang terkenal dengan sebutan Kota Serambi Makah. Karena pembangunan bukan hanya pembangunan fisik semata tapi terjadinya perubahan di segala bidang termasuk ekonomi umat yang ada didalamnya.
Fenomena yang terjadi ditengah- tengan kehidupan umat ini terhadap pergerusan peran dan fungsi masjid sangat dibutuhkan sebuah terobosan baru, strategi jitu atau pola yang baru dalam menjalankan fungsi perbaikan perekonomian ekonomi umat ini.Umat selayaknya harus diposisikan sebagai objek dalam melakukan pemberdayaan ekonomi,karena mereka merupakan bagian global dan sentral dalam pembangunan ekonomi umat dalam ekonomi makro.Perlu dilaksanakan dengan strategi pemberdayaan ekonomi umat dengan cara kebersamaan baik antara umat, umat denganpara pemimpin pemerintahan, lembaga profit maupun lembaga non profit yang bergerak dibidang kesosialan yang merupakan sebuah modal sosial (social capital) terkuat dalam hal memberdayakan ekonomi umat. Modal sosial ini menjadi jalan tengah sistem kapitalis yang sangat mengedepankan individu. Pemerintah terkusu pemda danDPRDnya–masyarakat,lembaga profit maupunLSM perlu bekerjasama, berkolaborasi dan bahu membahu dengan dasar kesamaan, tolong menolong demi keperluan bersama untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan hak rakyat dan memberdayakan ekonomi umat.
Untuk sebagai corong kegiatan dakwah peran dan fungsi masjid yang banyak difungsikan sekarang ini untuk mensyiarkan ajaran- ajaran agama
8
IslamMasjid. Peran dan fungsi dalam menyelesaikan masalah- masalah umat seperti pengajaran,sosial, adat kebudayaan, sosial kemasyarakatan,dan terutama peningkatan perekonomian umat harus dilakukan oleh institusi masjid. Ada kalanya pengharapan timbul dari umat, institusi profit supaya kiranya masjid bisa dan dapat mengelola modal dan saham yang ingin mereka berikan bisa untuk memberdayaakan ekonomi masjid terutama umat sebagai jalan untuk kegiatan- kegiatan dakwah yang tidak lagi memperhatikanmasalah kedaerahan,adat istiadat,suku, maupun latar tingkat perekonomian.Dengan bermacam gejala yang sudah dipaparkan, yang dapat dilihat, bisa terbaca dari terwujudnya antusias umat antara lain; kegotong royongan dalam hal materi dan tenaga dalam bersama- sama dalam mendirikan masjid, sebagaimana pada masa- masa awal islam yang telah dicontohkan bagaimana masjid didirikan, adanya perbaikan, perluasan, yang semua itu bersumberkan dari harta infaq, wakaf dan shadaqah dari umat. Umat dan saling berkaitan, masjid adalah milik umat dan umat memerlukan masjid, permasalahan terhadap masjid secara tidak langsung merupakan masalah umat dan hendaknya permasalahan umat terkusus ekonomi umatnya juga sedapatnya merupakan permasalahan masjid juga hendaknya.
Di beberapa daerah sudah ada beberapa masjid yang telah memulai menjalankan peran dan fungsi masjid diluar tugas utama masjid yang berfungsi sebagai tempat ibadah, juga sudah menjalankan fungsi pendidikan, dan ekonomi masjid,walaupun belum dilakukan secara sungguh- sungguh dan profesional tetapi kita perlu mengapresiasi program- program masjid yang sudah mulai melakukan revitalisasi fungsi dan perannya secara bertahap. Sebenarnya kemandirian ekonomi sebuah masjid itu sangat diperlukan agar terhindar dari beberapa kepentingan dan, artinya kehidupan seluruh operasional, kegiatan masjid tidak hanya bersandar pada dana yang berasal dari umat dan juga dana dari para donatur.Dan bila masjid sudah mandiri ekonominya nantinya akan berimbas kepada kemandirian ekonomi umatnya.
Teknologi menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan terjadinya pengurangan pada fungsi dan peran masjid terkusus di kota Padang Panjang juga termasuk faktor budaya non material. Zaman sekarang ini yang kemajuan
9
teknologinya begitu pesat yang membuat kejutan- kejuatan pada budaya itu terjadi sehingga yang pada akhirnya akan melahirkan, menciptakan tingkah- tingkah atau model- model karakter yang baru. Maka dampaknya terhadap kehidupan sosial dan budaya umat tidak terlalu signifikan.11
Pemahaman, pengetahun ta’mir menjadi faktor utama mengapa bisa terjadi pengurangan dan pergeseran fungsi dan peranan masjid ,seharusnya dalam mengelola masjid pada masa modern seperti saat sekarang ini harus mencontoh dan berpatokan pada era periode awal Islam, yaitu zaman Rasulullah dan Sahabat walaupun dengan menyesuaikan cara agar sesuai dengan zaman dan permasalahan. Ilmu juga harus dibutuhkan dalam hal mengelola sebuah institusi yang bernama masjid apalagi dengan kemajuan dan infotmasi yang gampang didapat sebenarnya ini tidak menjadi maslah yang berarti asalkan kita mau.Pengetahuan serta keahlian, pengelolaan, pemahaman, perencanaan, strategi,organisasi dan model evaluasi yang dipergunakan dalam manajemen modern, ini merupakan alat bantu yang juga diperlukan dalam manajemen masjid modern.12
Menurut sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Yuliana Muharawati,Sulaeman,Tina Kartini yang berjudul “Strategi Masjid dalam Pemberdayaan ekonomiumat pada Masjid Assalam Karang Tangah dan Masjid Nurul Huda” indikator pengelolaan masjid modern adalah Pertama Keprofesionalan pata takmir dalam membina, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi jama’ah masjid yang berpusat ke masjid dan menjadikan jama’ah sebagai elemen yang penting dari masjid. Kedua sosial budaya yakni dengan mendidik jamaah aga memiliki rasa persamaan sebagai kesatuan adat Islami dengan berlandaskan pada shalat “tanha’anil fahsya walmunkar” yakni dengan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketiga kesejahteraan sosial dan ekonomi pengurus masjid membina lingkungan masjid sebagai kesatuan wilayah kesejahteran sosial dan ekonomi dengan pelaksanaan zakat, infak, dan shadaqah.
11Supardi, dan Teuku, Amiruddin, “Konsep Manajemen Masjid: Optimalisasi Peran Masjid.”,(Yogyakarta: UII Press, 2001) hal viii.
12Supardi, dan Teuku, Amiruddin, Konsep Manajemen Masjid,...hal 29.
10
Sedangkan menurut penelitian Dalmeri yang berjudul “Revitalisasi fungsi Masjid sebagai pusat ekonomi dan dakwah Multikultural” mengatakan bahwa mendidik dan membina umat prioritas utama yang harus dilakukan oleh takmir dengan melalui kajian- kajian bidang muamalah yang selama ini hanya berfokus kepada hal- hal yang menyangkut masalah ibadah sedangkan kajian- kajian muamalah jarang tersentuh dan jarang didakwahkan.Para takmir harus menyeimbangkan antara program kajian muamalah dan ibadah agar tidak ada uamt tau bahwa ekonomi juga diatur dalam agama . Dan agar para takmir menanamkan kepada umat bahwa islam bukan saja dari aspek ibadah dan aqidah serta akhlak secara sempit, tetapi harus secara kāffah dan komprehensif.
Indikator-indikator mesjid modern yang dibahas dalam jurna-jurnal diatas dalam hal pengelolaan dapat disimpulkan menjadi 3 indikator. Pertama sosion struktural, kedua sosio kultural, ketiga socio and economic wilfare tetapi juga menjalankan program mencerdaskan umat dalam hal muamalah. Serta ada indikator yang menurut penulis yang sangat penting yaitu pengalokasian dana mesjid dalam hal- hal pengembangan ekonomi umat yang berbasis mesjid yang sudah mulai tidak dilakukan oleh pengurus- pengurus mesjid kususnya pada Kota Padang Panjang.
Jika masjid maksimal dalam menjalankn peranan dan fungsinya, maka menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lain termasuk lembaga profit itu sangat dimungkinkn akan terjadi, yang muaranya akan mewarnai merubah dan mempengaruhi pandangan dan kehidupan umat, dengan tentunya dengan nilai- nilai Islami. Sudah waktunya lembaga-lembaga ini saling bekerjasama, bahu membahu dengan masjid dibidang penyuluhan dan pemberdayaan,pengembangan ekonomi umat. Masjid memulai dengan dakwah- dakwah ekonominya sedangkan lembaga pemerintah memainkan perannya dibidang regulasinya serta lembaga profit memainkan dibidang dananya. Jika ini terwujud maka penurunan angka kemiskinan bukan isapan jempol belaka. Sebenarnya peran masjid dalam realitasnya, merupakan bagian integratif bersama peran lembaga-lembaga lainnya di dalam masyarakat.Dari masjidlah,lembaga-lembaga ini menjalankan
11
program- program yang bertujuan untuk mengurai berbagai permasalahan umat, serta berpartisipasi dalam merajut, memperbaiki kehidupan umat tentunya.13
Hasil yang optimal tentu harus didukung dan di suport oleh sistem, sebuah aturan, regulasi yang wewenangnya ada di pemerintah dan peran maksimal dari takmir dan tidak terkecuali lembaga- lembaga lainnya dalam pemberdayaan berbasis masjid. Sedapatnya tidakan dalam rangka merevitalisasi fungsi masjid terutama dalam hal ekonomi umat harus dilakukan secara bersama- sama. Baik dari unsur pemerintahan atau Umara ,Pemda termasuk dinas- dinas yang berkopeten m sosial dan ekonomi,legislatif atau DPRD kota yang merupakan perwakilan suara umat. Selanjutnya Ulama baik itu mubaligh, para ustadz yang menyuarakan diatas mimbarnya maupun aktivis- aktivis Islam. Masjid menjadi pangkal tempat Muslim bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya berlabuh.14Dari Masjidlah akan muncul gebrakan perubahan terutama bagi pengembangan ekonomi umat, masjid bisa menjadi barometer perubahan ekonomi umat dan jamaahnya. Dan masjid menjadi garda terdepan bagi pemberantasan kemiskinan dan peningkatan taraf ekonomi jamaah dan umat pada umumnya.
Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasiskan masjid,penulis melakukan prasurvey di beberapa masjid di Kota Padang Panjang yang memiliki 40 Masjid pada 2 Kecamatan.15penulis melihat masjid- masjid ini memiliki potensi yang hampir sama, yakni antusiasnya jamaah dan masyarakat dalam berinfaq ataupun bersedekah, ada juga di beberapa Masjid,telah memiliki usaha- usaha produktif yang bisa menhasilkan seperti kios- kios yang disewakan .
Ditambah lagi dukungan dari pemerintah kota Padang Panjang bagi Masjid- Masjid yang ada di kota Padang Panjang dengan bantuan dana pembangunan, dana kesejahteraan bagi Imam,Marbot, maupun para guru- guru TPA.
Maka dari penjelasan di atas, peneliti merasa sangat penting untuk melakukan riset pada permasalahan pengelolaan fungsi dan peranan masjid yang sudah tidak berjalan secara maksimal lagi. Peneliti berharap dapat memberi ide
13M, Quraish Shihab,“Membumikan al-Qur'an”, (Bandung : Mizan, 1992), hal 149.
14Raghib, al-Isfahani,“Mu'jam Mufradat al-Fadz al-Qur'an”, hal. 60
15Wawancara dengan Setra, staf kantor Kesra Kota Padang Panjang
12
bagi fungsi dan peranan masjid dalam pengembangan ekonomi umat secara maksimal, dimasjid era modern sehingga masjid dapat dirasakan kehadirannya di masyarakat sebagai solusi dari berbagai permasalahan ekonomi masyarakat. Maka dari itu, peneliti memandang sangat penting untukmengangkat judul penelitian
“Revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat pengembangan Ekonomi Umat (Studi Kasus Masjid di Kota Padang Panjang)”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dan dilihat dari fenomena yang terjadi maka permasalahan yang akan dibahas adalah :
1. Bagaimana merevitalisasikan peranan masjid sebagai pusat pengembangan ekonomi umat?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah
1. Model Revitalisasi Peranan Masjid di Era Modern sebagai pusat pengembangan ekonomi umat
D. Ruang Lingkup
Berdasarkan pada konsep atau teori, studi ini hanya membahas tentang Revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat pengembangan ekonomi umat.Penelitian ini fokus terhadap permasalahan tadi agar penelitian ini tidak menyimpang dati tujuan utamanya.Oleh sebab itu penulis hanya fokus terhadap Revitalisasi fungsi Masjid di kota Padang Panjang saja.
E. Manfaat Penelitian Secara Akademik
Hasil temuan serta rancangan revitalisasi fungsi dan peran dari masjid berbasis ekonomi umat dan peranan masjid era modern dapat dijadikan sumber rujukan dan agar bisa terus dikembangkan lagi bagi peneliti-peneliti selanjutnya
13 Bagi Pengelola Masjid
Hasil dari temuan konsep ini,diharapkan bagi seluruh pengelola masjid untuk dapat mengimplementasikannya. Manfaat dari pengimplementasian konsep pengelolaan keuangan ini akan menghasilkan perubahan bagi manajemen masjid kususnya pengalokasian atau pendistribusian dana sesuai dengan syari’ah.
Bagi Mayarakat
Jika konsep revitalisasi masjid berbasis ekonomi umat yang sudah dikemukakan ini di implementasikan oleh masjid, maka masjid akan lebih dirasakan kehadirannya oleh masyarakat kususnya di kota Padang Panjang.
Bagi Pemerintah
Ini bisa menjadi salah satu solusi, Strategi dalam program pemerintah dalam pemberantasan kemiskinan,pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasis Masjid disamping program-program yang telah dicanangkan dan dilakukan oleh Pemerintah selama ini berupa bantuan- bantuan atau pembangunan.
14 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI 1. Pengertian Revitalisasi
Menurut Rais dalam Jefrison dan Rimadewi, pengertian Revitalisasi adalahproses dengan ikhtiar untuk menghidupkan lagi fungsi dan peran yang awalnya pernah ada, seiring dengan waktu dan disebabkan beberapa fakto fungsi dan peran ini mulai hilang. Kalau kita sandingkan ke masjid revitalisasi adalah menghidupkan kembali fungsi dan peran masjid yang dulu pernah ada tetapi mengalami pelemahan atau pengurangan dari fungsi dan peran tersebut. Dalam proses revitalisasi fungsi dan peran masjid aspek yang terpenting adalahaspek pemberdayaan ekonomi umat. Danisworo dalam Jefrison dan Rimadewi menyebutkan bahwa strategi revitalisasi adalah kita harus dapat mengidentifikasi dan menggunakan semuapotensi yang ada di wilayah sekitar seperti sejarah,makna, serta keunikan dan citra lokasi. Begitu juga dengan strategi revitalisasi fungsi dan peran masjid para takmir harus bisa mengenali, mengetahui dan memaksimalkan semua potensi termasuk sejarah masjid zaman awal Islam, makna ydari fungsi dan peran masjid serta memaksimalkan potensi sesuai dengan zaman. Revitalisasi fungsi masjid bukan hanya dari aspek fisik saja yang menyangkut keindahan akan tetapi juga harus menghidupkan kembali fungsi pemberdayaan ekonomi umat.
Laretna dalam Jefrison dan Rimadewi menerangkan bahwa dalam penerapan program revitalisasi dibutuhkan adanya kontribusi dari masyarakat. Keikut sertaan dan keterlibatan yang dimaksud bukan hanya pada tatanan mendukung programnya saja akan tetapi ikut andil dalam kegiatan dan seluruh lapisan masyarakat yang terlibat tidak hanya masyarakat di lingkungan tersebut saja, tapi masyarakat dalam pengertian yang luas.1 Revitalisasi fungsi Masjid untuk peningkatan Ekonomi umat itu tidak segampang yang dibayangkan, dalam
1 Jefrison dan Rimadewi, “Arahan revitalisasi Kawasan Cagar Budaya kota Lama Siak”
Jurnal Teknik Pomits, Vol. 1,No. 1, (Mei,2012), 1-4
15
pelaksanaan program tersebut butus prosesdan keistiqomahan serta waktu yang tidak sedikit. Keikut sertaan jamaah umat dan takmir Masjid serta seluruh komponen baik ulama, pemerintah tapi termasuk lembaga- lembaga provit amatlah sangat diperlukan supaya peningkatan kehidupan ekonomi umat bisa terwujud. Usaha merevitalisasi untuk mengembalikan fungsi dan peran masjid dibidang peningkatan dan pemberdayaan ekonomi umat seperti yang pernah diterapkan pada masa Rasulullah. Yang menjadikan masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah semata tapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi uamat disamping pembelajaran,siyasah, dan lain- lain.
2. Kajian Tentang Masjid a. Pengertian Masjid
Kata Masjid berasal dari bahasa arab “sajada” yang memiliki arti lokasi untuk bersujud atau tempat mengEsakan Allah SWT.Disamping sebagai tempat bersujud ,masjid juga dijadikan sebagai lokasi untuk orang berkumpul serta melaksanakan shalat secara berjama‟ah yang bertujuan untuk memupuk rasa kebersamaan dan silaturrahmi disesamaumat Islam, dan dimasjid ini pulalah tempat terbaik untuk melangsungkan shalat jum‟at bagi kaum laki- laki.2
Masjid jika menggunakan huruf Jiim yang dikasrahkan itu menunjukkan sebuah lokasi yang dikususkan untuk digunakan buat shalat 5 waktu secara berjamaah. Dan bila menggunakan huruf jiim yang di fathahkan maka itu berarti yang dimaksud adalah tempat untuk menaruh kening ketika shalat.3
Firman Allah swt dalam surat al-Jin ayat 18 :
( اً۬ دَحَأ ِ َّلِلّٱ َعَم ْاوُعۡدَت َلََف ِ َّ ِلِلّ َد ِجٰـَسَمۡلٱ َّنَأ َو ١٨
)
َ َ
“ Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. “(Q.S. Al-Jinn:18)
2Mohammad, E. Ayub, Manajemen Masjid, (Jakarta: Gema Insani, 1996) hal 1-2.
3 Ibn Manzur,” Lisanul ‘Arab”, ( Beirut, Daar Al- Ihya At- Turats Al- Arabi, 1419 H) cetakan 3 jilid 3 hal. 204-205
16
Merujuk kepada tafsir Ibnu Katsir, maksud dari ayat diatas adalah Allah SWT berkata sambil menyuruh para hamba-hambaNya agar mereka mengEsakan diriNya didalam melakukan ibadah kepadaNya, tidak mengada- adakan sesembahan yang lain apalagi sampai berbuat syirik,sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Qatadah mengenai firman Allah ta’ala ,dimana dia menceritkan: “Dahulu, apabila kaum- kaum Yahudi dan kaum Nasrani memasuki rumah peribadatan mereka, maka merekaberbuat syirik terhadap Allah SWT, lantas Allah SWT memerintahkan NabiNya supaya mereka mengEsakanNya saja, Sufyan meriwayatkan dari Khushaif dari Ikrimah, ayat tersebut turun atau berhubungan dengan seluruh masjid. Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan anggota-anggota sujud. Yakni segalanya itu adalah kepunyaan Allah SWT, sehingga jangan pernah memakainya untuk menyembah kepada selain Allah. Berkenaan dengan pendapat ini, mereka menyebutkan hadist shahih dari riwayat „Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Ibnu „Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw bersabda: Aku diperintahkan untuk sujud diatas tujuh tulang: diatas dahi beliau menunjuk ke hidung beliau dua tangan, dua lutut, dan ujung-ujung kedua kaki.”4
Ada beberapa pendapat para ulama tentang pengertian masjid, yaitu :
1) Pendapat Abu Bakar, Masjid memiliki arti adalah tempat untuk menyemangati serta menghidupkan memotifasi dan membangkitkan kekuasaan ruhaniyah dan keimanan seorang yang beriman .5
2) Pendapat Mohammad E. Ayub mengartikan Masjid sebagai suatu tempat orang-orangyang beriman berkumpul dan melaksanakan shalat secara berjama’ah dengan meningkatkan rasa persatuan, kebersamaan dan silaturrahim dikalangan umat muslim.6
4M.Abdul Ghoffar, dkk, Tafsir Ibnu Katsir, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi‟i, 2004), hal. 314
5Abubakar, Manajemen Berbasis IT, (Yogyakarta : PT. Arina, 2007), hlm. 9
6 Mohammad, E. Ayub, Manajemen Masjid..hal21
17
3). Sedangkan menurut pendapat Imam Az-Zarkasyi mengatakan, Masjid menurut syara’ juga diartikan sebagai setiap tempat yang berada di bumi yang bisa digunakan untuk bersujud karena Allah yang dilakukan di tempat tersebut.7
Dari beberapa pengertian menurut beberapa ulama dapat ditarik kesimpulan bahwasanya masjid merujuk kepada sebuah tempat untuk melakukan segala macam model ibadah kepada Allah SWT (hablum minallah) dan muamalah (hablum minannas).
b. Masjid dalam al-Qur’an
Dalam Al-Quran yang merupakan kitap suci dan petunjuk umat Islam, masjid yang dirtikan sebagai tempat sujud, disebutkan dengan dalam dua sebutan. Pertama, “masjid”, suatu istilah yang berarti sebagia sebuah tempat peribadatan umat Islam yang sama dengan sebutan tempat -tempat peribadatan agama-agama lainnya (Q.S 22:40)
نِم ْاوُج ِر ۡخُأ َنيِذَّلٱ َُّلِلّٱ اَنُّب َر ْاوُلوُقَي نَأ ٓ َّلَِّإ ٍّ قَح ِرۡيَغِب مِه ِرٰـَيِد
ِ َّلِلّٱ ُعۡفَد َلَّ ۡوَل َو ۗ
مُہَضۡعَب َساَّنلٱ
ٌ۬ تٲ َوَلَص َو
ٌ۬ عَيِب َو
ٌ۬ عِمٲ َوَص
ٌ۬ تَمِ د هَّل
ٌ۬ ض عَبِب
ٌ۬ د ِجٰـَسَم َو اَہيِف
ٌ۬ م سٱ
ٌ۬ ه ر صنَي ٌ۬ ۗ نَم
ٌ۬ َّللّٱ
ٌَّ۬ن َر صنَيَل َو
ۤۥ
ٌ۬ ريِثَڪ ٌ۬ ۗ
ٌَِّ۬للّٱ
ٌ۬ م سٱ اَہيِف
ٌ۬ رَڪ ذ ي
ٌ۬ د ِجٰـَسَم َو ا
٤٠ (
ٌ۬ زي ِزَع )
ٌ۬ ىِوَقَل
ٌََّ۬للّٱ
ٌَّ۬ن
ٌِ۬إ
“ (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong
orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ”8
7 Az-Zarkasyi, “ I’laaamus saajid bi ahkamiil Masaajid”, ( Kairo, Jumhuriyah Mishr Al- Aribiyah, 1416 H) cetakan 4, hal. 28
8QS. Surat al-Hajj, ayat 40, Lihat: Departemen Agama RI, “al-Qur‟an dan Terjemahannya”, (Bandung: PT Sygma Examedia Arkanleema, tt,) hal. 337
18
Kedua,“bayt” yaitu kata yang memiliki dua pengertian, pertama tempat berteduh atau rumah untuk manusia atau sarang untuk binatang.9dan kedua “bayt Allah”.
Sebanyak 28 kali dalam kitap suci Al-Qur’an kata “masjid”, disebut, dengan rincian disebut dalam bentuk tunggal itu sebanyak 22 kali diantaranya dan penyebutan dalam bentuk jamak itu sebanyak 6 kali . Dari beberapa penyebutan kata masjid , 15 kali diantaranya membicarakan tentang “Masjidil Haram baik berbicara yang berhubungan atau berkaitan dengan kesejarahannya, maupun tentang hal- hal semangat dalam pembangunannya, juga kedudukan dan fungsi yang dimilikinya serta etika (adab) memasuki dan menghormatinya. Masjidil Haram yang banyak disebutkan dalam al-Quran, secara tidak langsung mengisyaratkan akan adanya aturan baku yang berkenaan dengan masjid yang seharusnya mencontoh kepada aturan- aturan yang berlaku di masjidil Haram.
Dalam hubungannya dengan ibadah shalat yang dijalankan oleh seluruh umat Islam kapanpun dan dimanapun, maka yang menjadi arah atau arah hadapnya shalat (qiblat) adalah sama, yakni masjidil Haram atau Ka’bah seperti yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 144,149-15. Itulah penyebabnya, seluruh masjid yang ada di belahan muka bumi ini pasti semuanya mengarah ke masjidil Haram, dan ini cukup berbeda jika dibandingkan dengan rumah peribadatan agama lainnya..
Masjidil Haram yang menjadi patokan bagi masjid- masjid yang lain di seluruh bagian muka bumi sebagai kiblat memiliki tempat yang sangat penting dan eksklusif dalam islam dam umat muslim. Baik didalam maupu di area sekitar Masjidil Haram, umat Islam harus menjaga keamanan dan kekhusu’an ibadah sedemikian rupa, sehingga orang-orang yang memusuhi Islam tidak bisa masuk dan bahkan tidak boleh untuk mendekatinya (QS. Taubah : 18)
9Misalnya: sarang lebah (QS An-Nahl :68) dan sarang laba-laba (QS al-Ankabut:41)
19
ىَتاَء َو َة ٰوَلَّصلٱ َماَقَأ َو ِر ِخَ ۡلۡٱ ِم ۡوَيۡلٱ َو ِ َّلِلّٱِب َنَماَء ۡنَم ِ َّلِلّٱ َد ِجٰـَسَم ُرُمۡعَي اَمَّنِإ ََّلِلّٱ َّلَِّإ َش ۡخَي ۡمَل َو َة ٰوَڪ َّزلٱ
ۖ ۖ
ٌَ۬نِم
ٌ۬ او نو كَي
ٌَ۬كِٕٮٰٰٓـَل و أ نَأ
ٌٰٰ۬ٓىَسَعَف
ٌَ۬نيِدَت ه م لٱ
١٨ ( )
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang -orang yang diharapkan termasuk golongan orang- orang yang mendapat petunjuk “(QS. Taubah : 18)
Dalam penjelasan ayat ini pada kitap Tafsir Ath- Thabari diterangkan bahwa Abu Ja’far berkata : Allah berfirman “ Yang berhak memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang percaya akan keEsaan Allah, yang tulus beribadah kepadan Nya, dan percaya akan hari akhir, yaitu orang- orang yang percaya bahwa Allah akan membangkitkan manusia setelah matinyadari kuburan mereka.10
Juga yang terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir maksud dari ayat diatas adalah Allah menyatakan, bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid adalah hanya orang-orang yang beriman, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad, dari Abu Sa’id al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Jika kamu melihat seseorang pria mengunjungi masjid, makaakuilah keimananya.
Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al- Bazzar dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Sesungguhnya hanyalah ahli(kekasih) Allah yang memakmurkan masjid”..11Yang dimaksud dengan memakmurkan masjid itu bukan hanya sekedar untuk menghiasi dan membangun fisiknya saja, tetapi juga dengan berdzikir, mengagungkan nama- nama Allah didalamnya, menegakkan syari’atNya serta menjauhkanNya dari najis dan syirik.12
Sedangkan dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an kartya Sayyid Quthb menjelaskan tentang ayat ini bahwa perkara tersebut telah diingkari sejak awal.
Tidak ada sama sekali pembenaran atas pebuatan kaum musyrik tersebut lantaran bertentangan dengan tabiat segala sesuatu. Sesungguhnya Baitullah adalah milik
10 Ahmad Muhammad Syakir dan Mahmud Muhammad Syakir, “Tafsir Ath- Thabari”, ( Jakarta, pustaka Azzam, 2007), jilid 12 hal. 634.
11M.Abdul Ghoffar, dkk,” Tafsir Ibnu Katsir..., hal. 104-105.
12M.Abdul Ghoffar, dkk,” Tafsir Ibnu Katsir...., hal. 231.
20
Allah dan murni milik Allah semata, tidak boleh disebutkan didalamnya kecuali mengagungkan nama- namNya.Allah tidak boleh disekutukan dengan seorangpun ketika berdoa didalamnya.Bagaimana bisa memakmurkan Baitullah orang- orang yang hati- hatinya tidak dimakmurkan dengan Tauhid? Oorang yang memohon tapi mengadakan sekutuNya.13
Berperang bukan hanya dilarang didalam masjid tetapi larangan tersebut juga berlaku terhadap lingkungan atau dearah sekitar masjid ,kecuali bila kaum musyrik,kaum kafir yang duluan memulai memerangi umat muslimin (QS. al- Baqarah: 191).Selanjutnya umat muslim itu disuruh untuk menggunakan pakaian dan perhiasan yang indah yang terbaik serta menggunakan harum- haruman bila ingin memasuki masjid (QS. al-Araf : 31), berusaha untuk saling menjamin kebutuhan pokok sesama orang yang mengunjungi masjidil haram, dengan penuh keikhlasan. Terlepas dari pembahasan mengenai masjidil haram, kitap suci umat islam menyatakan ada dua dorongan dalam pendirian bangunan masjid.
Pertama adanya dorongan takwa dan kedua adanya dorongan kejahatan. Kedua dorongan ini bisa dilihat dari segi perilaku. Dorongan takwadicirikan dengan pola pikir yang lurus dan memiliki jiwa yang bersih yang dimiliki oleh para pengelolanya atau takmir. Mereka tidak mau menggadaikan kejujuran dan kebenaran dengan pundi- pundi duniawi semata.
Walaupun dengan dengan resiko , kerugian maupun ancaman dan cemoohan kejujuran dan kebenaran para pengelola tetap diutamakan. Tetapi sebaliknya jika pendirian masjid dengan didorong atau dilandasi dengan dorongan kejahatan , ini bisa terlihat dari perilaku, memiliki akhlak buruk, pembangkangan, penuh strategi- strategi jahat dan intrik yang bertujuan untuk memciptakan perpecahan ditengah umat juga dijadikan sebagai tempat untuk memata- matai, mengawasi gerak-gerik umat Islam yang selalu berjuang untuk menegakkan panji- panji Allah dan kebenaran dan keadilan. (QS. Taubah : 107).
13 Sayyid Quthb, “Tafsir Fi Zhilalil Qur’an”,jilid 5 (Beirut, Darusy- Syuruq, 1412H/1992M) hal 309
21
َنيِنِم ۡؤُمۡلٱ َنۡيَب اََۢقي ِرۡفَت َو ا ً۬ رۡفُڪ َو ا ً۬ را َر ِض اً۬ د ِج ۡسَم ْاوُذَخَّتٱ َنيِذَّلٱ َو اً۬ داَص ۡرِإ َو
ُهَلوُس َر َو َ َّلِلّٱ َب َراَح ۡنَمِ ل نِم ۥ
ٌ۬ ل بَق
ٌٰ۬ىَن س ح لٱ ٌ۬ ۗ
ٌَّ۬لِّإ
ٌٰ۬ٓاَن د َرَأ
ٌ۬ نِإ
ٌَّ۬ن فِل حَيَل َو
ٌ۬ ۗ
(١٠٧) ٌَ۬نو بِذ ٰـَكَل ٌ۬ م ہَّنِإ ٌ۬ دَہ شَي ٌ۬ َّللّٱ َو
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orangorang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya) “
Arti ayat ini adalah orang-orang yang membangun masjid yang membahayakan masjid Rasulullah SAW, dan mereka kafir kepada Allah karena dengan itu telah menantang Rasullullah SAW, memecah belah persatuan muslim agar sebagian shalat di masjid mereka dan sebagian lagi shalat di masjid Rasulullah SAW, sehingga mereka berselisih. 14
c. Masjid Pada Masa Rasulullah SAW
Setelah perintah turun agar Nabi segera berhijrah ke Madinah, mendirikan masjid adalah prioritas utama yang beliau lakukan dal perjalanan hijrah, masjid sederhana yang kecil dan masih berlantaikan tanah, dan pelepah dari batang kurmalah yang menjadi atap masjid tersebut .Tetapi dari sananah dasar, awal langkah bagi beliau untuk membangun masjid- masjid berikutnya dan membangun peradaban dunia Islam, sehingga kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah tempat peradaban,atau paling tidak dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia. Masjid Quba yang dibangun pertama kali oleh Nabi SAW bersam sahabat dalam perjalanan hijrahnya.,15. Masjid Quba’ ini dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa tatkala Raullullah SAW membangun masjid Quba , malaikat Jibrillah yang menentukan arah kiblatnya.
Dandiriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Said Al- Khudri yang bercerita dua
14 Ahmad Muhammad Syakir dan Mahmud Muhammad Syakir, jilid 13 “Tafsir….. hal 228
15Moh. E. Ayub, dkk. Manajemen,..., hlm. 3
22
orang berselisih pendapat tentang masjid yang dimaksud dalam ayat At- Thaubah 108 seorang berkata adalah masjid Quba.16disebut sebagai masjid yang pertama dibangun dengan dasar Taqwa. Dama membangun masjid tersebut baginda Rasulullah turun langsung dalam pengerjaannya dan dibantu juga oleh para sahabat yang tepatnya tanggal 23 september 622 M. 17 lalu disusul dengan pendirian masjid Nabawi tidak berselang lama dari pendirian masjid pertama tadi tepatnya di Madinah.18, tetapi yang jelas keduanya Masjid Quba dan Majid Nabawi dibangun atas dasar ketaqwaan kepada Allah SWT, terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang masjid mana yang sebenarnya yang disebut Allah SWT dalam Surat At Thaubah ayat 108 tadi dengan masjid yang dibangun oleh dasar taqwa dan intinya seharusnya setiap masjid didirikan, dibangun seharusnya memiliki landasan dan fungsi seperti itu. Karna itulah sebab mengapa Nabi SAW meratakan bangunan kaum munafik yang juga mereka sebut dengan masjid, dan menggunakan bekas lokasi bangunan- bangunan tersebut sebagai tempat pembungan sampah dan bangkai binatang, dikarenakan fungsi dan peran masjid tidak pernah dijalankan dan dilaksanakan didalamnya,yakni ketaqwaan. Al –Quran menggambarkan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut:
“Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin, serta menggu/mengamat-amati kedatangan orang-orang memerangi Allah dan Rasulnya sejak dahulu” (Qs Al-Taubah: 107).
Maksimalnya setiap peran dan fungsi masjid yang dpraktekan pada masjid Nabawi semaza Nabi SAW menjadi contoh dasar bagi masjid- masjid yang lain.
Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi,yaitu:19
1. Berfungsi sebagai tempat melakukan ibadah (shalat,zikir).
16 M.Abdul Ghoffar, dkk,” Tafsir Ibnu Katsir...,jilid 4 hal 149
17 Shafiyyurrahman Al- Mubarakafury,” Terjemahan Ar- Rahiq Al- Makhtum, “(
Riyadh,Kantor dakwah dan bimbingan bagi pendatang al- sulay,2005), hal 154
18 Quraish Shihab, Tafsir maudhu’i atas berbagai persoalan umat, (Bandung: 1996), hal 461.
19Quraish Shihab, Tafsir maudhu’i atas ……, hal 462.
23
2. Berfungsi sebagai tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).
3. Berfungsi sebagai tempat pendidikan agama.
4. Berfungsi sebagai tempat santunan sosial.
5. Berfungsi sebagai tempat latihan militer dan mempersiapkan peralatannya.
6. Sebagai tempat balai pengobatan para korban perang.
7. Berfungsi sebagai tempai mengadakan perdamaian dan pengadilan sengketa.
8. Berfungsi sebagai aula dan tempat menerima tamu.
9. Berfungsi sebagai tempat menawan tahanan, dan
10. Berfungsi sebagai pusat penerangan atau pembelaan agama.
Berjalannya fungsi dan peran yang sebegitu luas dan kompleknya masjid pada masa itu, disebabkan antara lain oleh :20
1. Aturan dan bimbingan agama kepada umat masih begitu kental dilaksanakan dan jiwa agama yang menyatu.
2. Kemampuan membina masjid menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan uraian dan kegiatan masjid.
3. Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid baik pada pribadi- pribadi pemimpin - pemerintahan yang menjadi imam/khatib maupun didalam ruangan-ruangan masjid yang dijadikan tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).
Akan tetapi situasi itu kini sudah banyak berubah, lahirnya institusi- institusi baru pada masa sekarang ini yang menjalankan dan melaksanakan tugas- tugas dan kewajiban yang dulunya adalah peran dan fungsi dari masjid, baik itu institusi- institusi milik pemerintah maupun milik swasta,yang menjalankan fungsi sebagai pengarah kehidupan dunia dan ukhirat umat beragama. Serta didukung dengan kemampuan manajemen yang bagus serta dana yang cukup dan profesional.
20Quraish Shihab, Tafsir maudhu’i atas ……,, hal 462.
24 d. Fungsi dan Peran Masjid
Sebenarnya fungsi dan peran sebuah masjid bukan hanya untuk ibadah wajib semata .disini penulis akan memaparkan beberapa fungsi dan peran Masjid,diantaranya21
1) Ibadah (hablumminallah)
Ibadah kalau dilihat dari segi bahasa dapat berarti tindakan menghamba serta patuh yang artinya sebuah proses pengejawantahan kepatuhan, atau tindakan atau perbuatan yang menjadi suatu bukti dari kepatuhan dan ketundukan terhadap Allah SWT, Dzat yang menciptakan dan memberikan kehidupan.
Jika manusia secara dari segi akal merasa lebih hebat, pintar, maka aktualisasi ketundukan itu akan tersebut akan terhambat. Sedangkan menurut Istilah bisa berarti segala sesuatu yang diridhoi oleh Allah dan dicintai-Nya dari yang diucapkan maupun yang disembunyikandalam hatinya.
Tempat melaksanakan ibadah shalat baik wajib maupun sunat, baik sendiri maupun jamaah adalah merupakan fungsi dan peran Masjid yang pertama dan utama 22.Shalat memiliki makna“mempertautkan”, bukan hanya menyembah semata arti dari shalat itu akan tetapi juga berarti mempertautkan antara hamba dengan Rabbnya. Memiliki keteraturan dalam hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya yaitu Allah SWT adalah arti shalat menurut Ghazalba .23Dimana saja, kapan saja bisa dilaksanakan shalat yang sifatnya sunnat dan dimana saja , dan dalam waktu yang telah ditentukan bisa dilaksanakan bagi shalat asalkan suci, terbebas dari najis, karena seluruh tempat di bumi ini adalah masjid (tempat sujud), asalkan suci dan bersih itulah persyaratan utamanya, tetapi amat sangat dibutuhkan masjid dalam bentuk fisik atau bangunan sebagai sarana ibadah.
Karena, bukan hanya sebagai tempat melaksanakan aktivitas- aktivitas agama saja, tetapi juga merupakan salah satu simbol terjelas dari eksistensi Islam atau Rumah Gadangnya umat Islam.
21Hanafie, Syahruddin, Mimbar Masjid,Pedoman untuk para khatib dan pengurus masjid.
(Jakarta: Haji Masagung, 1988), hal. 348
22Moh, E. Ayub, Manajemen Masjid..., hal. 47.
23Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadah ..., hal. 148.
25 2) Sosial Kemasyarakatan (Hablumminannas)
Menurut Enda,setiap manusia pasti membutuhkan interaksi dengan sesama, saling membutuhkan dan saling berhubungan dan cara yang digunakan manusia tersebut itulah yng dinamakan dengan sosial. Sedangkan menurut Daryanto,sosial merupakan hal- hal yang terkait dengan arah hidup masyarakat itu sendiri. Namun bila dikaji dari asal katanya, sosial berasal dari kata
“socius” yang berarti segala sesuatu yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam kehidupan secara bersama-sama.
Perubahan- perubahan yang sangat cepat terjadi pada saat ini yang diakibatkan perkembangan zaman dan teknologi akan juga berpengaruh terhadap situasi umat Islam.Juga akan berimbas kepada dalam perkembangan dan penggerusan dari peran dan fungsi masjid itu sendiri termasuk juga di kota Padang Panjang. Tetapi peran dan fungsi sosial kemasyarakatan yang masih penting untuk tetap di pertahankan dan dijaga keberadaannya.Disisi lain masjid juga digunakan sebagai corong bagi umat dalam memperoleh informasi yang berhubungan hal-hal yang penting berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat atau sosial kemasyarakatan di lingkungan seperti informasi kematian maupun informasi- informasi yang berkaitan dengan penanggulangan virus covid- 19.24Karena pada dasarnya masjid itu dibangun, dimiliki dan digunakan untuk kepentingan umat.
Kendatipun pembangunannya ada masjid yang dibangun secara individu, akan tetapi walaupun dibangun ecara individu masjid itu tetap dan harus digunakan dan difungsikan untuk kepentingan agama dan umat.Ini bisa tergambar dari perilaku dan pengaruh dari shalat berjama’ah. Makmum akan patuh dan tunduk dalam shalat berjamaah kepada perintah imam , berdiri, rukuk, sujud dalam satu barisan yang teratur lurus dan rapat..25
Peran dan fungsi yang sangat vital dan strategis dalam mencarikan jalan keluar dalam mengatasi permasalahan ekonomi umat itu dijalankan dan dimaksimalkan sesuai dengan ketentuan- ketentuan syari’ah ini akan dapat
24Sidi Gazalba,Masjid Pusat Ibadah ...” hal. 127.
25Hanafie, Syahruddin, “Mimbar Masjid,Pedoman untuk..”, hal. 349.