• Tidak ada hasil yang ditemukan

STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS NEUROLOGI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS NEUROLOGI INDONESIA"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

STANDAR KOMPETENSI

DOKTER SPESIALIS NEUROLOGI

INDONESIA

KOLEGIUM NEUROLOGI INDONESIA

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS SARAF INDONESIA

2015

(2)

ii PENYUSUN (Edisi 2006) Prof. Harsono, dr., Sp.S(K) FK UGM Yogyakarta Jofizal Jannis, dr., Sp.S(K) FK UI Jakarta KONTRIBUTOR

Prof. Dr. Aboe Amar Joesoef, dr, Sp.S(K) FK UNAIR Surabaya

Prof. Bambang Hartono,dr, Sp.S(K), Ph.D (alm) FK UNDIP Semarang

Billy Indra Gunawan,dr, Sp.S(K) FK UNSRI Palembang Darwin Amir,dr, Sp.S FK UNAND Padang Hasan Sjahrir,dr, Sp.S(K) FK USU Medan I. Wayan Kondra, dr,Sp.S FK UNUD Denpasar Muh. Akbar, dr, Sp.S, Ph.D FK UNHAS Makassar M. Dalhar, dr, Sp.S FK UNIBRAW Malang

Mohammad Saiful Islam, dr, Sp.S(K) FK UNAIR Surabaya

(3)

iii Nani Kurniani, dr, Sp.S FK UNPAD Bandung Nizar Yamanie, dr, Sp.S(K) FK UI Jakarta S.C. Siwi Kotambunan, dr, Sp.S FK UNSRAT Manado Dr. Suroto, dr, Sp.S(K) FK UNS Surakarta TIM REVISI (Edisi 2015) Ketua

Mohammad Saiful Islam, dr, Sp.S(K) FK UNAIR Surabaya

Anggota

Prof (ret). Harsono, dr, Sp.S(K) FK UGM Yogyakarta

Prof. Troeboes Poerwadi, dr, Sp.S(K) FK UNAIR Surabaya

Dr. DPG Purwa Samatra, dr, SpS(K) FK UNUD Denpasar

Eva Dewati, dr, Sp.S(K) FK UI Jakarta

Wardah Rahmatul Islamiyah, dr,Sp.S FK UNAIR Surabaya

Para Ketua Departemen Neurologi

(4)

iv

PENGANTAR TIM REVISI (Edisi 2015)

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya tugas tim revisi Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia. Standar kompetensi memang memerlukan revisi secara berkala karena standar kompetensi bersifat dinamis, dengan arti ada kecenderungan untuk mengalami perubahan, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran, pembangunan kesehatan di Indonesia, dan tuntutan pemangku kepentingan. Revisi ini menguraikan lebih rinci tentang berbagai indikator hasil pembelajaran atau pencapaian kompetensi yang diatur dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Revisi ini melibatkan seluruh Ketua Departemen Neurologi dan KPS (Ketua/Koordinator Prodi) dari 13 (tigabelas) Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di Indonesia. Untuk itu tim revisi menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih secara tulus atas kerja samanya yang sangat baik.

Mudah-mudahan semua upaya ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya para pengelola PPDSN agar dapat menyelenggarakan pendidikan yang lebih berkualitas, dan para peserta didik agar menjadi lulusan yang lebih profesional.

Tentu masih banyak kekurangan dalam revisi ini. Karenanya, kritik dan saran sangat kami harapkan.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, Juli 2015

(5)

v

SAMBUTAN KETUA UMUM

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS SARAF INDONESIA (PERDOSSI) (Edisi 2015)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, dengan terbitnya buku Revisi Standard Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia yang merupakan penyempurnaan dari buku yang sama terbitan tahun 2006, yang disusun oleh Kolegium Neurologi Indonesia.

Seperti diketahui standar kompetensi merupakan suatu keharusan untuk dipahami oleh setiap profesi baik di bidang neurologi atau bidang pelayanan medis lain. Jelas bagi kita kemampuan profesional seorang dokter spesialis neurologi didukung oleh kurikulum pendidikan yang memenuhi standar internasional. Perkembangan ilmu kedokteran yang sangat pesat serta timbulnya subspesialisasi di bidang klinis berdampak pada pelayanan medik yang tumpang tindih antarspesialisasi. Standar kompetensi menjelaskan dengan gamblang apa saja kemampuan yang harus dimiliki dokter spesialis neurologi sebagai profesi dalam pelayanan kedokteran serta tanggung jawabnya terhadap pasien yang dilayani. Pengurus Pusat PERDOSSI mengharuskan setiap dokter spesialis neurologi memahami kompetensi dan batas kemampuan profesinya dalam melayani pasien yang menjadi tanggung jawabnya.

Pengurus Pusat PERDOSSI menyampaikan terima kasih kepada tim revisi Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia dari KNI yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Semoga menjadi amalan baik disisi Allah SWT.

Wabillahittaufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, Juli 2015 Ketua Umum

(6)

vi SAMBUTAN

KETUA KOLEGIUM NEUROLOGI INDONESIA (KNI) (Edisi 2015)

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas ridha, taufik dan hidayah-Nya sehingga Kolegium Neurologi Indonesia (KNI) mampu menyelesaikan revisi Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia. Revisi ini didasarkan atas semangat perbaikan mutu berkelanjutan, serta memperhatikan perubahan dan kemajuan yang terjadi di ranah ilmu kedokteran, pendidikan, maupun praktik sehari-hari. Dengan demikian standar kompetensi diupayakan untuk selalu mengikuti perkembangan yang ada agar pendidikan dokter spesialis neurologi di Indonesia selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran.

Kami menyampaikan terima kasih secara tulus dan penghargaan yang tinggi kepada tim revisi yang dikoordinasi oleh dr. Mohammad Saiful Islam, Sp.S(K), dan diarahkan oleh Prof. Troeboes Poerwadi, dr, Sp.S(K), yang telah menyelesaikan tugasnya dengan penuh dedikasi. Semoga seluruh upaya tim revisi menjadi amal ibadah. Amin.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, Juli 2015 Ketua

(7)

vii

DAFTAR ISI

Tim Revisi………...………... ... iii

Pengantar Tim Revisi ... iv

Sambutan Ketua Umum PERDOSSI ... v

Sambutan Ketua Kolegium Neurologi Indonesia ... vi

Daftar Isi... vii

Daftar Singkatan... ... viii

Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ... x

BAB I. Pendahuluan ... 1

BAB II. Kompetensi ... 8

A. Prinsip Kompetensi... 8

B. Katagori Kompetensi... . 8

C. Elemen Kompetensi... 9

D. Area dan Komponen Kompetensi... 10

E. Peran Dokter Spesialis Neurologi Berkaitan dengan Kompetensi... 10

F. Standar Kompetensi... 10

G. Capaian Pembelajaran... 11

H. Implikasi Pengembangan KBK... 11

I. Ciri-ciri KBK... 12

J. Ruang Lingkup Kompetensi Lulusan... 13

BAB III. Pencapaian Kompetensi... ... 15

A. Pengalaman Pembelajaran... ... 15

B. Evaluasi... 16

BAB IV. Karakteristika Pencapaian Kompetensi ... 18

A. Katagori Kompetensi... ... . 18

B. Jenis Kompetensi... ... 20

BAB VI. Penutup ... 26

Daftar Kepustakaan……… ... 27 Lampiran 1……… ... 28 Lampiran 2………. ... 31 Lampiran 3………. ... 43 Lampiran 4………. ... 64 Lampiran 5………. ... 75 Lampiran 6………. ... 76

(8)

viii

DAFTAR SINGKATAN

ADHD : Attention deficit hyperactivity disorder BAEP : Brainstem auditory evoked potentials

CBT : Computer based testing

CK : Creatine kinase

CPD : Continuing professional development

CSS : Cairan serebrospinal

CT scan : Computed Tomography

DMP : Dystrophia musculorum progressiva DSA : Digital substraction angiography

DSM-V : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-V

DVT : Deep vein thrombosis

EEG : Elektroensefalografi

EKG : Elektrokardiografi

EMG : Elektroneuromiografi

EP : Evoked potentials

GBS : Guillain-Barre Syndrome

GCS : Glasgow Coma Scale

GMP : Good Medical Practice

ICU : Intensive Care Unit

IDASI : Ikatan Dokter Ahli Saraf Indonesia

Ig : Imunoglobulin

ILAE : International League Against Epilepsy

IVIg : Intravenous immunoglobuline

KBK : Kurikulum berbasis kompetensi

KHS : Kecepatan hantar saraf

KKI : Konsil Kedokteran Indonesia

KKNI : Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

KNI : Kolegium Neurologi Indonesia

KPS : Ketua/Koordinator Program Studi

LDH : Lactate dehydrogenase

MBB : Mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat

MG : Miastenia gravis

MKB : Mata kuliah Keahlian Berkarya

MKK : Mata kuliah Keilmuan dan Ketrampilan MKKI : Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia

(9)

ix

MPK :

Mata kuliah Pengembangan Kepribadian

MMSE : Mini Mental State Examination

MSLT : Multiple sleep latency test

MRA : Magnetic Resonance Angiography

MRI : Magnetic Resonance Imaging

MRS : Magnetic Resonance Spectroscopy

MS : Multiple sclerosis

OAE : Obat anti-epilepsi

OSCE : Objective Structured Clinical Examination PERDOSSI : Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia

PET : Positron Emission Tomography

PPT : Power point

Prodi : Program studi

PPDS : Program Pendidikan Dokter Spesialis

RM : Retardasi mental

RTSW : Repeated test of sustained wakefulness

SAR : Serum antirabies

SOL : Space occupying lession

SPECT : Single-photon Emission Computed Tomography SSEP : Somatosensory evoked potentials

SSP : Sistem saraf pusat

SST : Sistem saraf tepi

TCD : Transcranial Doppler

TIA : Transient ischemic attack

TIK : Tekanan intrakranial

VAR : Vaksin antirabies

VCT : Voluntary Counceling Test

(10)

x

(11)

xi

(12)

xii

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

Kompetensi dokter spesialis neurologi tidak terlepas dari filosofi dan

ruang lingkup neurologi itu sendiri. Neurologi merupakan salah satu bidang

ilmu kedokteran yang mengkaji otak dan sistem saraf lainnya, serta sistem

yang terkait dengannya. Dengan demikian neurologi juga mencakup

seluruh keluhan yang merupakan manifestasi penyakit dan kelainan yang

mempengaruhi otak dan sistem saraf, baik disebabkan oleh kelainan

fungsional maupun struktural.

Kompetensi dokter spesialis neurologi meliputi pengetahuan, sikap

dan keterampilan. Pengetahuan (cipta), sikap (rasa) dan ketrampilan (karsa)

yang dikenal pula sebagai ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik,

merupakan tiga ranah terpadu yang merefleksikan kompetensi seseorang

setelah melalui serangkaian pendidikan dan/atau pelatihan. Seorang dokter

spesialis neurologi secara internal harus menguasai ketiga ranah tadi

secara lengkap, dan secara eksternal harus mampu menunjukkan

kompetensinya kepada pihak lain dalam kaitan academic contract maupun

professional contract.

Penyakit saraf (meliputi latar belakang anatomi, fisiologi, biokimiawi,

dan biologi molekular) menuntut dokter spesialis neurologi untuk

menguasai dan mengimplementasikan ketiga ranah tadi dengan penuh rasa

tanggung jawab dan sekaligus memperlihatkan social accountability

sebagaimana dituntut oleh masyarakat. Dengan demikian kompetensi

harus dibangun secara komprehensif, terpadu, terstruktur, akademik, dan

profesional. Tuntutan seperti ini dapat dijawab dengan menyediakan

kurikulum berbasis kompetensi, yang dalam implementasinya memerlukan

konsistensi, disiplin, dan komitmen yang tinggi. Hal ini didasarkan atas

kenyataan bahwa kurikulum merupakan instrumen yang tidak hanya

memiliki implikasi edukatif, melainkan juga memiliki implikasi

administratif, ekonomi, sosial, dan politik.

(14)

2

A. Sejarah Singkat

Program pendidikan dokter spesialis neurologi di Indonesia, diawali

sejak tahun 1950-an. Ketika itu, program pendidikan spesialis neurologi

masih tergabung dalam program pendidikan dokter spesialis saraf dan jiwa.

Seorang dokter yang dididik di bagian neuorologi dan psikiatri, setelah lulus

mendapat sertifikat keahlian (brevet) ahli neurologi dan psikiatri, dengan

sebutan (gelar) di belakang nama dokter: neuroloog dan psikiater. Sejak

tahun 1955, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia memulai

program pendidikan dokter spesialis saraf (neurologi) secara terpisah dari

program pendidikan dokter spesialis jiwa (psikiatri). Hal ini kemudian

diikuti oleh FK Universitas Airlangga. Setelah itu, FK Universitas

Padjadjaran membuka program pendidikan dokter spesialis saraf (neurologi)

pada tahun 1980, yang kemudian berturut-turut diikuti oleh FK Universitas

Diponegoro (1983), FK Universitas Gadjah Mada (1987), FK Universitas

Hasanuddin (1988), FK Universitas Sumatera Utara (1993), FK Universitas

Sriwijaya (2003), FK Universitas Andalas (2006), FK Universitas Udayana

(2006), FK Universitas Brawijaya (2010), FK Universitas Sebelas Maret

(2010), dan FK Universitas Sam Ratulangi (2010).

Pada tahun 1993 dibentuk organisasi Konsilium Neurologi, sebagai

unit organisasi di bawah Ikatan Dokter Ahli Saraf Indonesia (IDASI).

Selanjutnya organisasi IDASI berubah nama menjadi Perhimpunan Dokter

Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Konsilium Neurologi bertugas untuk

membina dan mengelola pendidikan dokter spesialis saraf. Sebagai Ketua

Konsilium Neurologi adalah Prof. Dr. Mahar Mardjono. Pada tahun 1996

nama Konsilium Neurologi berubah menjadi Kolegium Neurologi Indonesia

(KNI), dengan tugas membina dan mengelola pendidikan dokter spesialis

spesialis saraf dan subspesialis (konsultan). Sebagai Ketua KNI

berturut-turut adalah sebagai berikut: periode 1997-2000 adalah Prof. Dr. Mahar

Mardjono, DSS(K), periode 2000 – 2003 adalah dr. Merdias Almatsier,

Sp.S(K), periode 2003 – 2007 adalah dr. Samino, Sp.S(K), periode 2007 –

2011 adalah Prof. dr. Harsono, Sp.S(K), dan periode 2011 -2015 adalah

Prof. dr, Harsono, Sp,S(K).

(15)

3

Sampai dengan tahun 2006, prosedur perizinan pendirian program

pendidikan dokter spesialis neurologi dimulai dengan penilaian kelayakan

oleh Consorsium of Health Sciences (CHS) yang kemudian memberi

rekomendasi kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Setelah itu,

prosedur perizinan melalui proses evaluasi meja (desk evaluation) dan

visitasi lapangan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bersama-sama

dengan Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) dan Kolegium

Neurologi Indonesia (KNI), atas permintaan dari Direktur Jenderal

Pendidikan Tinggi. Hasil evaluasi meja dan visitasi dilaporkan oleh KKI

kepada Dirketur Jenderal Pendidikan yang kemudian menerbitkan izin

penyelenggaraan program pendidikan dokter spesialis neurologi.

B. Latar Belakang

Sebagai konsekuensi terbitnya Undang-Undang Praktik Kedokteran

(tahun 2004), maka program pendidikan dokter spesialis neurologi (PPDSN)

harus didukung oleh Standar Pendidikan dan Standar Kompetensi. Untuk

ini KNI telah menyusun buku Standar Kompetensi Dokter Spesialis Saraf

(tahun 2006) dan buku Standar Pendidikan Dokter Spesialis Saraf (tahun

2007). Kedua buku standar tersebut telah direvisi oleh Komisi

Pengembangan Kurikulum KNI periode 2011-2015, dengan judul Standar

Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia dan Standar Kompetensi

Dokter Spesialis Neurologi Indonesia yang disyahkan tahun 2015. Di

samping itu, kurikulum pendidikan dokter spesialis neurologi tahun 2001

(yang sudah direvisi pada tahun 2003), telah pula direvisi oleh Komisi

Pengembangan Kurikulum KNI, dan disyahkan tahun 2015. Kurikulum ini

merupakan kurikulum inti yang harus dijadikan pedoman dalam

penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis neurologi di setiap Program

Studi (Prodi) PPDSN di Indonesia dalam menyusun kurikulum institusional.

Berdasarkan kurikulum Program Pendidikan Dokter Spesialis

Neurologi tahun 2015, pendidikan dokter spesialis telah berkembang

dengan program yang lebih rinci dan dititikberatkan pada pendalaman

neurosains dan penelitian klinis (terapan). Kurikulum merupakan

perangkat pendidikan yang dinamis. Perubahan kurikulum memang harus

(16)

4

terjadi seiring dengan dinamika perubahan masyarakat dan tuntutan

global. Kurikulum yang statis tidak akan memberi makna pencapaian

tujuan pendidikan yang lebih baik. Kurikulum tidak terlepas dari usaha

terencana dan terancang dalam mempersiapkan masa depan peserta didik

untuk dapat berkembang dan berinteraksi secara harmonis dengan pasien,

sumber pembelajaran, lingkungan dan masyarakat di tempat ia berada.

Oleh karena itu, perlu dilakukan revisi standar kompetensi dokter spesialis

saraf dengan menggunakan berbagai

indikator keberhasilan atau

pencapaian yang diatur dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Pada gilirannya standar kompetensi yang dicapai setelah

menyelesaikan pendidikan, bukan saja berupa pengetahuan, melainkan

juga keterampilan, nilai, serta pola berpikir dan bertindak. Dengan

demikian, kompetensi yang dimiliki para lulusan merupakan refleksi

pemahaman dan penghayatan dari bidang neurologi yang telah dipelajari

selama proses pendidikan serta pengalaman bermasyarakat.

C. Landasan Hukum

Landasan hukum yang dijadikan acuan dalam menyusun standar

kompetensi dokter spesialis neurologi di Indonesia adalah Undang-Undang

dan Peraturan Pemerintah, serta Peraturan Menteri yang terkait dengan

dokter spesialis.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional pasal 35 ayat (1) menyebutkan bahwa standar

nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan,

tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan

penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan

berkala. Dalam penjelasan pasal 35 ayat (1) disebutkan bahwa standar isi

mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan

ke dalam persyaratan tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan

kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus

dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang

(17)

5

mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar

nasional yang telah disepakati.

Surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen

Pendidikan

Nasional

No.

1386/D/5/2004

merupakan

tonggak

pembaharuan dalam bidang pendidikan kedokteran di Indonesia.

Kompetensi, sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Menteri

Pendidikan Nasional No 045/U/2002, adalah seperangkat tindakan cerdas

dan penuh tanggung jawab, yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk

dianggap mampu oleh masyarakat melaksanakan tugas-tugas di bidang

pekerjaan tertentu. Dalam bidang kedokteran, kompetensi dokter adalah

aplikasi pengetahuan yang diperlihatkan melalui ketrampilan/kecakapan/

kemampuan profesional dalam hubungan antar orang, pengambilan

keputusan, psikomotor, moral dan etika yang dimiliki dokter dalam praktik,

dalam konteks kesehatan masyarakat, keselamatan, dan keamanan pasien.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

mengatur beberapa hal yang berkenaan dengan sistem perguruan tinggi,

termasuk pendidikan dokter spesialis. Disebutkan bahwa Kerangka

Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) menjadi acuan pokok dalam

penetapan kompetensi lulusan pendidikan akademik, pendidikan vokasi

dan pendidikan profesi.

Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang KKNI, menyebutkan

penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pendidikan

dengan jenjang kualifikasi pada KKNI, bahwa lulusan spesialis setara

dengan jenjang 8 atau 9. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 12

Tahun 2013 tentang Penerapan KKNI untuk Pendidikan Kedokteran juga

menyebutkan bahwa kualifikasi sesuai KKNI untuk lulusan pendidikan

profesi dokter spesialis/subspesialis setara dengan S3 adalah jenjang 9.

Sedangkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73

Tahun 2013 tentang Penerapan KKNI Bidang Pendidikan Tinggi

menyebutkan bahwa lulusan pendidikan spesialis satu setara dengan

jenjang 8, dan lulusan pendidikan spesialis dua setara dengan jenjang 9.

(18)

6

D. Pengertian Umum

Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung

jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh

masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

Dalam program pendidikan dokter spesialis neurologi, kompetensi

mencakup kemampuan berpikir, bersikap, dan bertindak secara konsisten

sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang

dimiliki oleh peserta didik. Kompetensi dinyatakan dalam berbagai indikator

hasil pembelajaran atau pencapaian pembelajaran yang diuraikan dalam

kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Berbagai hal pokok yang berkaitan

dengan kompetensi diuraikan dalam Bab berikutnya.

E. Pengertian Standar Kompetensi

Standar kompetensi merupakan standar minimal kompetensi lulusan.

Sebelumnya, Kolegium Neurologi Indonesia (KNI) telah menyusun buku

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Saraf (tahun 2006) dan telah

digunakan sebagai acuan dalam pengembangan uji kompetensi dokter

spesialis neurologi yang bersifat nasional. Namun standar kompetensi

memerlukan revisi secara berkala karena bersifat dinamis, dengan arti ada

kecenderungan

untuk

mengalami

perubahan,

sejalan

dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran,

pembangunan kesehatan di Indonesia, dan tuntutan pemangku

kepentingan.

F. Manfaat Standar Kompetensi

Beberapa manfaat standar kompetensi adalah sebagai berikut:

1.

Standar

kompetensi

merupakan

pedoman

utama

dalam

penyelenggaraan pendidikan dan kelulusan peserta didik sebagai

dokter spesialis neurologi. Standar kompetensi dokter spesialis

neurologi dicapai melalui kurikulum yang dijalankan selama proses

pendidikan dokter spesialis neurologi.

(19)

7

2.

Standar kompetensi merupakan standar kompetensi minimal yang

harus dicapai oleh setiap lulusan melalui uji kompetensi dokter

spesialis neurologi oleh Kolegium Neurologi Indonesia (KNI).

3.

Standar kompetensi merupakan acuan dasar bagi setiap dokter

spesialis neurologi di Indonesia dalam menjalankan profesinya.

(20)

8

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

Berbagai hal pokok yang berkaitan dengan standar kompetensi

diuraikan berikut ini.

A. Prinsip Kompetensi

Kompetensi meliputi kemampuan dalam menunjukkan keterampilan,

pengetahuan, dan kemampuan lainnya, sehubungan dengan prinsip-prinsip

sebagai berikut:

1. Consistency, kemampuan mengulang teknik-praktik dan keluaran

yang sama;

2. Independence, kemampuan praktik tanpa bantuan pihak lain;

3. Timeliness, kemampuan praktik dalam jangka waktu tertentu demi

keselamatan penderita;

4. Accuracy, kemampuan praktik dengan menggunakan teknik yang

benar untuk mencapai tujuan yang diharapkan;

5. Appropriateness, kemampuan praktik sehubungan dengan standar

klinik dan protokol dalam ruang lingkup jurisdiksi praktik;

6. Accountability, kemampuan untuk memikul tanggung jawab profesi

sesuai dengan prinsip-prinsip keselamatan pasien.

B. Katagori Kompetensi

Dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 045/

U/2002 pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa kompetensi hasil didik suatu

program studi terdiri atas kompetensi utama, kompetensi pendukung, dan

kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi utama.

1.

Kompetensi utama

Kompetensi utama merupakan kompetensi penciri lulusan program

studi neurologi, sebagai pembeda dengan program studi lainnya.

Kompetensi utama ini berkisar antara 40-80% dari keseluruhan

kompetensi.

(21)

9

2.

Kompetensi pendukung

Kompetensi pendukung adalah kompetensi yang ditambahkan oleh

program studi neurologi untuk memperkuat kompetensi utamanya

dan memberi ciri keunggulan program studi tersebut. Kompetensi

pendukung ini dapat berkisar antara 20 - 40% dari keseluruhan

kompetensi.

3.

Kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi

utama, yaitu kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh perguruan

tinggi/ program studi sendiri sebagai ciri lulusannya dan untuk

memberi bekal lulusan agar mempunyai keluasan dalam memilih

bidang kehidupan serta dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Kompetensi ini berkisar antara 0-30% dari kompetensi secara

keseluruhan.

Kompetensi pendukung, dan kompetensi lain yang bersifat khusus

dan gayut dengan kompetensi utama program studi neurologi ditetapkan

oleh institusi penyelenggara program studi.

C. Elemen Kompetensi

Sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/

U/2002 pasal 2 ayat (2) disebutkan adanya 5 (lima) elemen kompetensi,

yaitu:

1.

Landasan

kepribadian,

dalam

mata

kuliah

Pengembangan

Kepribadian (MPK);

2.

Penguasaan ilmu dan keterampilan, dalam mata kuliah Keilmuan dan

Ketrampilan (MKK);

3.

Kemampuan berkarya, dalam mata kuliah Keahlian Berkaya (MKB);

4.

Sikap, perilaku dan akuntabilitas dalam berkarya menurut tingkat

keahlian berdasarkan ilmu dan ketrampilan yang dikuasai, dalam

mata kuliah Perilaku Berkarya (MPB);

5.

Pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan

pilihan keahlian dalam berkarya, dalam mata kuliah Berkehidupan

Bermasyarakat (MBB).

(22)

10

D. Area dan Komponen Kompetensi

Terdapat 9 (sembilan) area kompetensi, yaitu pengetahuan

kedokteran, ketrampilan klinik, kecakapan untuk mengambil keputusan

klinik, keterampilan interpersonal, sikap dan perilaku profesional,

keterampilan manajerial, advokasi dan edukasi kesehatan, penghayatan

praktik kedokteran, dan wawasan yang luas di bidang neurologi. Setiap

area kompetensi dijabarkan dalam komponen kompetensi.

Rincian area kompetensi dan komponen kompetensi masing-masing

area kompetensi dapat dibaca pada Lampiran 1 (Tabel 1.1).

E. Peran Dokter Spesialis Neurologi berkaitan dengan Kompetensi

Dengan menguasai ke-9 area kompetensi tersebut di atas, maka

diharapkan para dokter spesialis neurologi mampu melaksanakan 7

(tujuh) peran utama dalam menjalankan profesinya, yaitu sebagai pakar

kedokteran, komunikator dan edukator, kolaborator, manajer, penasihat,

cendekiawan, dan profesional di bidang neurologi.

Rincian tentang peran dokter spesialis neurologi berkaitan dengan

kompetensinya dapat dibaca pada Lampiran 1 (Tabel 1.2).

F. Standar Kompetensi

Dalam bidang pendidikan, terdapat dua jenis standar, yaitu standar

akademik (academic content standard) dan standar kompetensi (performance

standard). Standar akademik merefleksikan pengetahuan dan ketrampilan

esensial setiap disiplin ilmu yang harus dipelajari dan dikuasai oleh seluruh

peserta didik. Sedangkan standar kompetensi ditujukan dalam bentuk

proses dan hasil kegiatan yang ditunjukkan oleh peserta didik sebagai

penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajarinya.

Secara operasional, standar kompetensi merupakan standar

kemampuan minimal dan memadai yang harus dipunyai oleh seorang

dokter spesialis dalam bentuk:

1.

Pengaplikasian pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan pada

tingkat atau situasi yang khusus;

(23)

11

dan pengambilan keputusan;

3.

Pembatasan dan/atau penyesuaian praktiknya apabila disadari

terdapat gangguan fungsi sebagai dokter oleh karena disabilitas

mental dan fisik.

Standar kompetensi, selain merupakan standar minimal kompetensi

lulusan, juga digunakan sebagai pedoman dalam penentuan kelulusan

peserta didik dari satuan pendidikan.

G. Capaian Pembelajaran

Berdasarkan Pasal 5 Peraturan Presiden No.8 Tahun 2012 tentang

KKNI, penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui

pendidikan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI, lulusan spesialis setara

dengan jenjang 8 atau 9. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 12

Tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

(KKNI) untuk Pendidikan Kedokteran pasal 4 menyebutkan bahwa

kualifikasi sesuai KKNI untuk lulusan pendidikan profesi dokter

spesialis/subspesialis setara dengan S3 adalah jenjang 9. Sedangkan

berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73

Tahun 2013 tentang Penerapan KKNI Bidang Pendidikan Tinggi Pasal 3

Ayat 4, lulusan pendidikan spesialis satu setara dengan jenjang 8, dan

lulusan pendidikan spesialis dua setara dengan jenjang 9. Berbagai upaya

untuk pencapaian jenjang tersebut diserahkan kepada masing-masing prodi

pendidikan dokter spesialis neurologi.

H. Implikasi Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Perubahan yang terjadi di masyarakat dan tuntutan globalisasi akan

menimbulkan beberapa implikasi dalam pengambilan kebijakan terhadap

pelaksanaan pendidikan. KBK merupakan perangkat standar program

pendidikan yang dapat mengantarkan peserta Program Pendidikan Dokter

Spesialis Neurologi untuk menjadi kompeten dalam pengetahuan neurologi

(24)

12

yang dipelajarinya. Beberapa hal yang terkait secara langsung dengan KBK

adalah sebagai berikut:

1.

Penetapan standar kompetensi peserta didik;

2.

Pengembangan kurikulum inti;

3.

Penilaian hasil belajar secara nasional;

4.

Penyusunan pedoman pelaksanaan KBK;

5.

Penetapan standar materi pelajaran pokok, penetapan kalender

pendidikan dan jumlah jam belajar setiap semester.

I. Ciri-ciri KBK

Ciri-ciri KBK adalah sebagai berikut:

1.

Kompetensi dinyatakan secara jelas dalam proses pembelajaran,

baik secara individual maupun klasikal;

2.

Kurikulum berorientasi pada keluaran belajar (outcome-based

curriculum);

3.

Proses pembelajaran memberi bekal untuk tercapainya kompetensi;

4.

Proses pembelajaran melalui clinical teaching yang bersifat

menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kompetensi yang akan

dicapai, dengan pendekatan student-centered learning yang

variasinya meliputi independent learning, collaborative learning,

cooperative learning, case-based learning (pada hakekatnya adalah

problem solving), dan problem-based learning;

5.

Seluruh aktivitas pembelajaran dijiwai oleh self-directed learning

dan adult learning. Pendekatan tersebut akan memudahkan peserta

didik mencapai kompetensi yang ditetapkan oleh kurikulum;

6.

Proses pembelajaran lebih mengutamakan keterpaduan penguasaan

ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik;

7.

Sumber belajar tidak hanya guru, tapi juga sumber belajar lain yang

memenuhi unsur edukatif;

8.

Proses penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada kemampuan

untuk mendemonstrasikan keterpaduan ranah kognitif, afektif, dan

psikomotorik.

(25)

13

J. Ruang Lingkup Kompetensi Lulusan

Ruang lingkup kompetensi di bidang neurologi mencakup beberapa

hal sebagai berikut:

1. Lulusan PPDSN mempunyai pengetahuan dan pengertian menyeluruh

tentang penyakit dan keluhan yang mengawali penyakit saraf dengan

menampilkan konsep neurosains, neurologi klinik di dalam pelayanan

neurologi, khususnya tentang pelayanan medik dan keadaan/penyakit

lain yang terkait;

2. Lulusan PPDSN mampu menguraikan makna, tanda dan gejala

tertentu serta hasil-hasil pemeriksaan klinik lainnya, menunjukkan

pengertiannya tentang berbagai cara pengobatan yang tepat untuk

sekelompok kelainan atau masalah tertentu, serta bagaimana

mekanismenya agar intervensi itu dapat berhasil;

3. Lulusan PPDSN mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah

dan mengambil keputusan klinik neurologik, mengenal

masalah-masalah klinik, mengumpulkan informasi tentang masalah-masalah tersebut

dari berbagai sumber, menilai masalah tersebut, menegakkan

diagnosis atas dasar data yang terkumpul, menggunakan kesimpulan

tersebut untuk merumuskan serta merencanakan manajemen secara

tepat beserta evaluasinya, kemudian membuat prakiraan perjalanan

penyakit saraf dan penyakit atau keadaan lain yang terkait;

4. Lulusan PPDSN memiliki keterampilan dalam hal prosedur dan

tindakan klinik, yaitu melaksanakan berbagai prosedur utama yang

memerlukan ketrampilan (aspek psikomotorik), termasuk di dalamnya

adalah melakukan berbagai aspek pemeriksaan fisik, prosedur

diagnostik dan melakukan prosedur terapetik dalam bidang neurologi

dan keadaan atau penyakit lain yang terkait, dengan kemungkinan

melibatkan disiplin ilmu kedokteran lain untuk keselamatan pasien;

5. Lulusan PPDSN memiliki keterampilan interpersonal dan

interprofe-sional, meliputi:

a. Kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian dan

memahami perilaku penderita, baik yang terucap maupun tersirat

(26)

14

melalui bahasa tubuh, membesarkan hati penderita, bereaksi wajar

terhadap perasaan pasien;

b. Kemampuan menggunakan keterampilan interprofesional untuk

bekerjasama dengan sesama insan profesi kesehatan lainnya

dengan mengutamakan keselamatan pasien.

6. Lulusan PPDSN memiliki kebiasaan kerja dan sikap profesional, yaitu:

a.

dalam melakukan tanggung jawab profesi senantiasa menampilkan

obyektivitas, ketelitian, kegigihan, efisiensi, handal, dan penuh

kewaspadaan terhadap situasi yang dapat membahayakan

keselamatan pasien (situational awareness);

b. senantiasa siap untuk melakukan tanggung jawab profesinya

sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil perawatan kedokteran/

kesehatan yang maksimal;

c. senantiasa melakukan tanggung jawab profesinya berlandaskan

kode etik kedokteran.

7. Lulusan PPDSN memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas

dan kuantitas penelitian neurosains, klinis (terapan), dan komunitas.

8. Lulusan PPDSN mempunyai motivasi internal yang tinggi untuk

mengembangkan pengalaman belajarnya sehingga dapat mencapai

tingkat akademik yang lebih tinggi.

(27)

15

BAB III

PENCAPAIAN KOMPETENSI

Pencapaian kompetensi lulusan PPDSN dilakukan melalui berbagai

proses pengayaan melalui pengalaman pembelajaran dan evaluasi hasil

pembelajaran

A. PENGALAMAN PEMBELAJARAN

Kegiatan pembelajaran merupakan proses aktif dan interaktif antara

peserta didik PPDSN dan dosen untuk mengembangkan potensi, sehingga

mereka memahami dan menguasai pengetahuan serta memiliki

kemam-puan untuk melakukan sesuatu, baik secara akademik maupun

profesi-onal. Untuk pencapaian kompetensi melalui pengalaman pembelajaran

dapat bersifat one-to-one learning, one-to-many learning, maupun

many-to-many learning.

Rincian

tahapan

pencapaian

kompetensi

dan

pengalaman

pembelajaran adalah sebagai berikut:

1.

Tahap pembekalan: semester I

a.

Mata Kuliah Dasar Umum;

b.

Pendidikan Gawat Darurat;

c.

Pembelajaran terkait akreditasi, misalnya patient safety,

Undang-Undang Praktik Kedokteran.

2.

Tahap magang: semester II s/d VI

a.

Semester II dan III: tugas bangsal (neuro-anatomi, pemeriksaan fisik

neurologi, rencana pemeriksaan penunjang, diagnosis banding,

diagnosis, rencana terapi, rencana rujukan, kegawatdaruratan terkait

kasus neurologi);

b.

Semester IV: tugas rawat jalan, presentasi poster acara ilmiah

nasional;

c.

Semester V: laboratorium EEG, laboratorium EMG, Neurobehavior;

d.

Semester VI: rotasi di divisi dan departemen lain yang terkait dengan

neurologi (psikiatri, radiologi, neuropediatri, bedah saraf, ortopedi,

penyakit dalam, kardiologi, rehabilitasi medik).

(28)

16

a.

Semester VII: Chief resident untuk rawat inap, rawat jalan, rawat

bersama, konsultan, rawat darurat;

b.

Semester VIII: pengalaman kerja mandiri di RS jejaring dan presentasi

tugas akhir.

Rincian bentuk pembelajaran yang digunakan dalam pencapaian

kompetensi dan pengalaman pembelajaran adalah sebagai berikut:

1

Kuliah/tutorial;

2

Tugas baca (artikel, jurnal, buku teks);

3

Menyusun dan menyajikan naskah ilmiah dan laporan kasus;

4

Mengikuti dan membantu kegiatan mendidik;

5

Diskusi kelompok dan bimbingan sub-divisi (sub-spesialis);

6

Mengikuti workshop, simposium keahlian, pelatihan;

7

Melakukan tugas jaga atau neurologi terintegrasi;

8

Menyusun dan mempresentasikan hasil kegiatan tugas jaga atau

neurologi terintegrasi;

9

Tugas laboratorium;

10

Mengikuti dan melakukan tindakan intensif dan emergensi;

11

Menyusun dan menyajikan naskah ilmiah berupa laporan kasus pada

pertemuan ilmiah tingkat nasional, regional, atau internasional;

12

Penyusunan dan presentasi karya tulis (referat);

13

Penyusunan proposal tesis;

14

Pelaksanaan penelitian;

15

Penyusunan hasil penelitian (tesis)

B. EVALUASI

Evaluasi hasil pembelajaran (student assessment) dapat berupa :

1. Portofolio;

2. Observasi oleh dosen/pembimbing secara langsung (observasi pasif,

mengajukan pertanyaan);

3. Tes formatif dan sumatif;

4. Ujian presentasi naskah ilmiah berupa laporan kasus pada pertemuan

ilmiah tingkat nasional, regional, atau internasional;

5. Ujian presentasi karya tulis (referat);

6. Ujian presentasi hasil penelitian (tesis);

(29)

17

Umpan balik (feedback) evaluasi dapat berupa:

1

Minimal feedback (memberi komentar benar atau salah);

2

substantive feedback (alasan/penjelasan mengapa salah atau benar,

saran, kritik);

3

promote self-direction (planning, self-assessment).

Sistem evaluasi secara rinci telah diatur dalam Buku Standar

Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Revisi Tahun 2015)

(30)

18

BAB IV

KARAKTERISTIK PENCAPAIAN KOMPETENSI

Pada hakekatnya karakteristik pencapaian kompetensi diwarnai oleh

isi, proses pembelajaran, dan evaluasinya. Rincian karakteristika

pencapaian kompetensi dalam kurikulum disusun berdasarkan kategori

kompetensi dan jenis kompetensi.

A. KATAGORI KOMPETENSI

Seperti telah diuraikan Bab sebelumnya, bahwa kompetensi hasil

didik suatu program studi terdiri atas kompetensi utama, kompetensi

pendukung, dan kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan

kompetensi utama. Karakteristik pencapaian kompetensi berdasarkan

katagori kompetensi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kompetensi Utama

a. Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni

baru di dalam bidang neurologi atau praktik profesionalnya melalui

penelitian, hingga menghasilkan karya kreatif, original dan teruji.

1) mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi

kedokteran terkini guna meningkatkan ketrampilan klinik

praktis dalam bidang spesialisasi neurologi;

2) mampu mengembangkan ilmu pengetahuan baru melalui

kegiatan penelitian dalam bidang spesialisasi neurologi;

3) mampu mengembangkan teknologi kedokteran baru yang

inovatif, kreatif dan teruji dalam bidang spesialisasi neurologi

melalui kegiatan penelitian dalam bidang spesialisas neurologi.

b. Mampu memberikan solusi segala permasalahan sains, teknologi,

dan atau seni di dalam bidang neurologi melalui pendekatan inter,

multi, dan transdisipliner.

1) mampu merangkum interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik,

uji laboratorium, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai

(31)

19

spesialisasi, untuk menegakkan diagnosis, dengan mengacu

pada evidence-based medicine;

2) mampu melakukan prosedur klinis dalam bidang spesialisasi

sesuai masalah, kebutuhan pasien dan kewenangannya,

berdasarkan kelompok/nama penyakit serta masalah/tanda

atau gejala klinik termasuk kedaruratan klinis;

3) mengembangkan konsep atau prinsip baru dalam bidang ilmu

biomedik, klinik, ilmu perilaku, humaniora, dan ilmu kesehatan

masyarakat sesuai dengan bidang spesialisasi neurologi;

4) mampu memimpin tim untuk menyelesaikan masalah

kesehatan pada individu, keluarga, atau masyarakat secara

komprehensif dalam konteks pelayanan kesehatan sekunder

atau tersier;

5) mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang

penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu

kedokteran mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum;

6) mampu mengelola sumber daya manusia dan sarana –

prasarana pelayanan kesehatan dalam bidang spesialisasi

neurologi secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan

sekunder dan tersier;

7) mampu mendidik peserta program pendidikan dokter.

c. Mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan penelitian

neurologi dan pengembangan ilmu yang bermanfaat bagi ilmu

pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu

mendapat pengakuan nasional maupun internasional.

1) mampu merencanakan dan berkontribusi dalam sebuah

penelitian multidisiplin terkait bidang spesialisasi neurologi

untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

kedokteran bidang supspesialiasi neurologi yang bermanfaat

bagi masyarakat dan ilmu kesehatan serta mampu mendapat

pengakuan nasional maupun internasional;

2) mampu mengelola penelitian melalui pengkajian dan

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran di

bidang spesialisasi neurologi yang hasilnya dapat diaplikasikan

(32)

20

pada

tahap

nasional

dan

internasional

dan

layak

dipublikasikan di tingkat nasional dan internasional;

3) mampu mengelola penelitian untuk menapis ilmu pengetahuan

dan teknologi kedokteran terkini di bidang spesialis neurologi

yang aplikasinya sesuai dan bermanfaat bagi masyarakat dan

ilmu pengetahuan di tingkat nasional dan internasional.

2. Kompetensi Pendukung

Kompetensi pendukung merupakan kompetensi yang diperlukan untuk

dapat mendukung pencapaian kompetensi utama, dan merupakan

kurikulum institusional yang ditetapkan oleh institusi penyelenggara

program studi.

3. Kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi

utama.

Kompetensi khusus merupakan kompetensi lain yang gayut dengan

kompetensi utama. Kompetensi ini sering kali menjadi unggulan di tiap

program studi namun tetap relevan dengan kompetensi utama serta

mempertimbangkan batasan kompetensi bidang neurologi dan bidang

disiplin kedokteran lainnya

.

B. JENIS KOMPETENSI

Jenis kompetensi meliputi 3 (tiga) kelompok kompetensi, yaitu

kompetensi dasar, kompetensi penunjang, dan kompetensi lainnya.

1

Kompetensi dasar diuraikan dalam 2 (dua) kelompok, yaitu (a) kelompok

umum dan profesional, serta (b) kelompok berdasarkan gangguan atau

penyakit.

a.

Kelompok umum dan profesional, terdiri dari 17 (tujuhbelas)

kompetensi dasar. Rincian jenis kompetensi dan indikator hasil

pembelajarannya dapat dibaca pada Lampiran 2 (Tabel 2.1- 2.22 ).

Kelompok ini meliputi:

1) anamnesis (Tabel 2.1);

(33)

21

3) keterampilan berkomunikasi (Tabel 2.3);

4) diagnosis banding, pemeriksaan lebih lanjut dan manajemen awal

(Tabel 2.4);

5) kualitas perorangan (Tabel 2.5): mengidentifikasi kekuatan,

kemampuan diri, keterbatasan, dan perilaku peserta didik, serta

mampu mengubah perilakunya dengan cara menerima feedback

dan melakukan refleksi diri;

6) bekerjasama dengan sejawat atau profesi lain (Tabel 2.6):

menggunakan pendekatan tim, memahami dan menghargai upaya

pihak lain, memberi kontribusi dan mau berkompromi, serta

mampu menganalisis tujuan tim secara umum dan menghargai

keputusan tim;

7) mengelola pelayanan (Tabel 2.7): mendukung anggota tim untuk

mengembangkan peran dan tanggung jawab mereka, serta

melanjutkan untuk menelaah kinerja seluruh anggota tim untuk

memastikan apakah hasil yang ada sesuai dengan perencanaan;

8) meningkatkan mutu pelayanan (Tabel 2.8): memastikan

keselamatan

pasien

sepanjang

waktu,

terus-menerus

mengupayakan inovasi dan memfasilitasi transformasi;

9) menyiapkan dan menentukan arah manajemen (Tabel 2.9);

10) farmakologi klinik terkait dengan sistem saraf (Tabel 2.10);

11) keterampilan presentasi dan audit (Tabel 2.11);

12) perhatian khusus terhadap kelompok perempuan dan kehamilan

(Tabel 2.12);

13) perhatian khusus terhadap kelompok anak dan remaja (Tabel

2.13);

14) perhatian khusus terhadap kelompok lanjut usia (Tabel 2.14);

15) perhatian khusus terhadap kesulitan belajar (Tabel 2.15);

16) perhatian khusus terhadap pasien dalam keadaan terminal (Tabel

2.16);

17) perhatian khusus terhadap kelompok kelainan neurologik yang

berpotensi mengalami masalah medikolegal (Tabel 2.17);

(34)

22

b.

Kelompok berdasarkan gangguan atau penyakit, terdiri dari 22

(duapuluh dua) kompetensi dasar. Rincian jenis kompetensi dan

indikator hasil pembelajarannya dapat dibaca pada Lampiran 3 (Tabel

3.1- 3.22 ). Kelompok ini meliputi:

1) neurotraumatologi (Tabel 3.1);

2) nyeri kepala (Tabel 3.2);

3) gangguan kesadaran (Tabel 3.3);

4) gangguan tidur (Tabel 3.4);

5) gangguan fungsi luhur dan perilaku (neurobehavior) (Tabel 3.5);

6) kejang dan epilepsi (Tabel 3.6);

7) stroke dan gangguan neurovaskular lain (Tabel 3.7);

8) tumor susunan saraf (neuro-onkologi) (Tabel 3.8);

9) infeksi susunan saraf (neuro-infeksi) (Tabel 3.9);

10)

gangguan serebrospinal (Tabel 3.10);

11)

demielinasi dan vaskulitis (Tabel 3.11);

12)

komplikasi neurologik dari imunosupresi (Tabel 3.12);

13)

Parkinsonisme dan gangguan gerak (Tabel 3.13);

14)

penyakit motor neuron (Tabel 3.14);

15)

gangguan metabolik dan toksik (Tabel 3.15);

16)

gangguan saraf kranialis (I-XII) (Tabel 3.16);

17)

gangguan neuro-oftalmologik (Tabel 3.17);

18)

gangguan kolumna vertebralis, medula spinalis, radiks, dan

cedera spinal (Tabel 3.18);

19)

gangguan sistem saraf tepi (Tabel 3.19);

20)

gangguan sistem saraf otonom (Tabel 3.20);

21)

gangguan otot (Tabel 3.21);

(35)

23

2

Kompetensi penunjang

Kompetensi penunjang merupakan kategori kompetensi yang diperlukan

untuk dapat menunjang pencapaian kompetensi dasar. Jenis

kompetensi ini terdiri dari 11 (sebelas) kompetensi penunjang. Rincian

jenis kompetensi dan indikator hasil pembelajarannya dapat dibaca pada

Lampiran 4 (Tabel 4.1- 4.11). Kompetensi penunjang ini meliputi:

1) neurofisiologi klinik (Tabel 4.1);

2) neuro-intervensi (Tabel 4.2);

3) neuro-endokrinologi (Tabel 4.3);

4) neurogenetik (Tabel 4.4);

5) neuro-intensif dan neuro-emergensi(Tabel 4.5);

6) neuro-otologi (Tabel 4.6);

7) neuropediatri (Tabel 4.7);

8) neuro-imaging (Tabel 4.8);

9) neurorestorasi (Tabel 4.9);

10)

neuro-urologi (Tabel 4.10);

11)

neuro-imunologi (Tabel 4.11).

3

Kompetensi lainnya

Kompetensi ini disesuaikan dengan karakteristik program studi

neurologi masing-masing, misalnya penyakit dekompresi (caisson

(36)

24

Daftar Capaian Kompetensi

Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik disusun

berdasarkan jenis kompetensi. Capaian kompetensi tersebut berasal dari

survei dan masukan dari seluruh Prodi PPDSN di seluruh Indonesia. Daftar

capaian kompetensi ini sangat penting untuk dijadikan acuan dalam

penyelenggaraan aktivitas pendidikan, termasuk dalam menentukan

wahana pendidikan. Dalam daftar capaian kompetensi (Lampiran 6), setiap

capaian jenis kompetensi diuraikan tentang tingkat kemampuan yang

harus dicapai oleh peserta didik pada akhir masa pendidikan. Daftar

capaian kompetensi berdasarkan jumlah kasus yang telah dikelola oleh

peserta didik pada akhir masa pendidikan, ditentukan dalam peraturan

khusus yang ditetapkan oleh KNI.

Tingkat kemampuan dasar kelompok gangguan atau penyakit yang

harus dicapai (Tabel 6.1) dikatagorikan dalam 4 (empat) tingkatan sebagai

berikut:

Tingkat Kemampuan 1

Mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan

mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih

lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan

subspesialistik dan tindak lanjut pasca rujukan.

Tingkat Kemampuan 2

Mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan

menentukan rujukan subspesialistik yang paling tepat bagi penanganan

pasien serta tindaklanjut pasca rujukan.

Tingkat Kemampuan 3

Mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan

pada keadaan bukan gawat darurat, menentukan rujukan subspesialistik

yang paling tepat bagi penanganan pasien dan tindak lanjut pasca

rujukan.

Tingkat Kemampuan 4

Mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan

penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.

(37)

25

Sedangkan tingkat kemampuan dasar kelompok penunjang yang

harus dicapai (Tabel 6.2) dikatagorikan dalam 4 (empat) tingkatan sebagai

berikut:

Tingkat Kemampuan 1

Mengetahui dan menjelaskan tentang ketrampilan klinik tersebut (prinsip,

indikasi, dan komplikasi yang mungkin timbul).

Tingkat Kemampuan 2

Pernah melihat dan mengamati atau didemonstrasikan tentang

ketrampilan klinik tersebut

Tingkat Kemampuan 3

Pernah melakukan atau menerapkan ketrampilan klinik tersebut dibawah

supervisi

Tingkat Kemampuan 4

Mampu melakukan secara mandiri keterampilan klinik tersebut dengan

menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara

melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi.

(38)

26

BAB V

PENUTUP

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia ini

merupakan revisi dari Standar Kompetensi Dokter Spesialis Saraf Tahun

2006 yang disahkan oleh KKI dengan Keputusan KKI Nomor

27/KKI/Kep/IV/2008 tentang Pengesahan Standar Pendidikan dan Standar

Kompetensi Dokter Spesialis Saraf. Standar Kompetensi Dokter Spesialis

Neurologi Indonesia yang telah direvisi ini disusun oleh Kolegium Neurologi

Indonesia dan dalam penyusunannya telah berkoordinasi dengan

pemangku kepentingan atau pengandil terkait lainnya sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia merupakan

standar kompetensi minimal yang harus dicapai oleh setiap lulusan

Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di Indonesia. Ketentuan

mengenai pemenuhan Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi

Indonesia oleh institusi penyelenggara Program Pendidikan Dokter Spesialis

Neurologi dilakukan melalui uji kompetensi Dokter Spesialis Neurologi oleh

Kolegium Neurologi Indonesia (KNI).

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi dicapai melalui

kurikulum yang dijalankan selama proses pendidikan dokter spesialis

neurologi. Dengan demikian standar kompetensi ini merupakan pedoman

bagi seluruh program studi yang mengelola Program Pendidikan Dokter

Spesialis Neurologi di Indonesia, sebagai bahan uji kompetensi dan

pedoman dalam penentuan kelulusan peserta didik, serta sebagai acuan

dasar bagi setiap dokter spesialis neurologi di Indonesia dalam menjalankan

profesinya.

Standar kompetensi bersifat dinamis, dengan arti ada kecenderungan

untuk mengalami perubahan, sejalan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran dan tuntutan pemangku

kepentingan.

(39)

27

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Biller J et al. De Myer’s Neurologic Examination, 6th ed. McGraw-Hill

Companies, Inc. New York, 2011.

2. Campbell, WW. DeJong’s The Neurologic Examination, 6th ed. Lippincott

Williams & Wilkins, 2005.

3. Daroff RB et al. Bradley’s Neurology in Clinical Practice 6th ed. Elsevier Saunders, Philadelphia, 2012.

4. Joint Royal Colleges of Physicians Training Board. Specialty Training Curriculum for Neurology. London, 2007

5. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa.

6. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 045/U/2002 tahun 2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi. 7. Kolegium Neurologi Indonesia (KNI). Standar Kompetensi Dokter Spesialis

Saraf Tahun 2006. Jakarta, 2006.

8. Lee K. Neuro ICU Books. McGraw-Hill Companies, Inc. New York 2012. 9. Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73 tahun 2013

tentang Penerapan KKNI Bidang Pendidikan Tinggi.

10. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) untuk Pendidikan Kedokteran.

11. Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.

12. Posner JB et al. Plum and Posner’s Diagnosis of Stupor and Coma 4th ed. Oxford University Press, New York, 2007.

13. Ropper AH et al. Adam and Victor’s Principles of Neurology, 10th ed. McGraw-Hill education, New York, 2014.

14. Sub Direktorat KPS (Kurikulum dan Program Studi). Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi (Sebuah alternatif penyusunan kurikulum), Jakarta 2008.

15. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 1386/D/5/2004.

16. Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 045/U/2002 17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang

Pendidikan Tinggi.

18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(40)

28

Lampiran 1

KOMPETENSI

Tabel 1.1 Area dan Komponen Kompetensi

No. Area

Kompetensi Komponen Kompetensi

1 Pengetahuan

kedokteran  Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru dan lebih maju di bidang neurologi  Memiliki kemampuan menyelesaikan masalah di bidang

neurologi berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru dan lebih maju di bidang neurologi

2 Keterampilan

klinik   Menunjukkan kecakapan dalam hal anamnesis Melakukan pemeriksaan fisik secara efektif

 Menunjukkan kemampuan dalam pendekatan diagnostik  Menunjukkan kecakapan dalam hal ketrampilan teknik

pemeriksaan penunjang 3 Kecakapan untuk mengambil keputusan klinik

 Menunjukkan kecakapan dalam hal penalaran klinik  Membuat keputusan diagnostik dan terapetik yang tepat

 Memahami keterbatasan pengetahuan yang dimiliki seseorang  Memperhatikan dan mempertimbangkan analisis risiko dan

biaya yang ditanggung oleh pasien 4 Keterampilan

interpersonal  Memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan santun dengan pasien dan keluarganya  Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan sejawat, tenaga

kesehatan lainnya, dan dinas atau instansi kesehatan terkait 5 Sikap dan

perilaku profesional

a. Akuntabilitas Profesi

 Bertanggung jawab atas tugas yang diembannya

 Membuat rekam medik secara lengkap, tepat waktu, dan mudah terbaca oleh pihak lain

 Siap dan bersedia untuk berperan sebagai konsultan terhadap sejawat dan profesi kesehatan lainnya apabila diperlukan

 Memberi kesempatan, membantu dan memudahkan pasien dan keluarganya, mahasiswa, perawat, dan tenaga kesehatan

lainnya, untuk belajar atau memahami sesuatu yang terkait dengan profesinya di bidang neurologi

b. Pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning)

 Memiliki kemampuan untuk mengevaluasi secara kritis setiap informasi terbaru di bidang kedokteran dan ilmiah lainnya yang gayut dengan praktik kedokteran di bidang neurologi dan

(41)

29 No. Area

Kompetensi Komponen Kompetensi

 Memiliki ketrampilan dan pengalaman dalam hal evaluasi diri tentang pengetahuan mutakhir di bidang neurologi dan

ketrampilan klinik

c. Menjunjung tinggi kemanusiaan

 Mampu menunjukkan integritas dan kejujuran

 Mampu menunjukkan empati kepada pasien & keluarganya  Mampu menunjukkan sikap menghargai hak pribadi pasien  Mampu menunjukkan sikap dalam menghargai pasien sebagai

individu, termasuk budaya, jenis kelamin, dan umur d. Perilaku bermoral, beretika, dan taat hukum

 Mampu berperilaku dan bersikap sesuai dengan standar moral dan perilaku etika secara konsisten

 Mentaati perundang-undangan dan aturan yang berlaku e. Keselamatan pasien (patient safety)

 Menunjukan kepedulian dan berpartisipasi dalam mengupayakan keselamatan pasien

 Menyadari keterbatasan kompetensinya dalam menangani pasien

6 Keterampilan

manajerial  Mampi bekerja di unit kerja pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien  Mampu menggunakan teknologi informasi untuk kepentingan

perawatan pasien, pembelajaran sepanjang hayat, dan aktivitas lainnya

 Memiliki ketrampilan kerja dasar yang penting untuk manajemen secara efektif

7 Advokasi dan edukasi kesehatan

 Memiliki kemampuan untuk mempromosikan kesehatan dan pencegahan penyakit, baik individual mapun komunitas  Mampu membantu dan memberi nasihat untuk kepentingan

pasien 8 Penghayatan

praktik kedokteran

 Mampu mengelola dokumen medik secara lengkap dan mudah terbaca (patient-oriented medical record)

9 Wawasan

(42)

30

Tabel 1.2 Peran Utama Dokter Spesialis Neurologi

No. Peran utama Kompetensi utama

1 Pakar

kedokteran  Menunjukkan ketrampilan diagnostik dan terapetik untuk kepentingan perawatan pasien secara efektif

 Mempunyai akses informasi dan menggunakan informasi sesuai dengan kepentingan praktik klinik

 Menunjukkan kemampuannya sebagai konsultan yang efektif sehubungan dengan perawatan pasien, pendidikan, dan aspek hukum

2 Komunikator

dan edukator  Cakap dalam berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya sehubungan dengan terapi

 Cakap dalam melakukan anamnesis dan sintesis hasil anamnesis terhadap pasien, keluarga, dan pihak lain

 Mampu bersikap sebagai pendengar yang efektif

 Berdiskusi secara efektif dengan pasien, keluarga, sejawat dan profesi kesehatan lainnya

3 Kolaborator  Berkonsultasi secara efektif dengan sejawat dan profesi kesehatan lainnya

 Memberi sumbangan pikiran atau pendapat dalam aktivitas tim interdisipliner

4 Manajer  Menggunakan berbagai sumber secara efektif untuk

keseimbangan perawatan pasien, kebutuhan pembelajaran, dan aktivitas lainnya

 Bekerja secara efektif dan efisien di dalam organisasi pelayanan kesehatan

 Menggunakan teknologi informasi untuk mengoptimalkan perawatan pasien, pembelajaran sepanjang hayat, dan aktivitas lainnya

5 Penasihat  Mengidentifikasi faktor-faktor penting yang mempengaruhi kesehatan individu

 Memberi sumbangan yang efektif untuk meningkatkan kesehatan pasien dan komunitas

 Mengenal dan menanggapi berbagai hal penting yang memerlukan advokasi kesehatan

6 Cendekiawan  Mengembangkan, mengimplementasikan, dan memantau strategi pendidikan berkelanjutan

 Bersikap kritis terhadap informasi kedokteran

 Memberi bantuan/memudahkan pasien, perawat, mahasiswa, dan profesi kesehatan lainnya untuk belajar

 Memberi sumbangan dalam pengembangan pengetahuan baru/lanjut

7 Profesional  Memberi pelayanan dengan mutu terbaik disertai integritas, kejujuran, dan kasih sayang

 Menunjukkan perilaku profesional yang konsisten

 Praktik kedokteran dengan etika dan tanggung jawab secara konsisten

(43)

31

Lampiran 2

KOMPETENSI DASAR:

Kelompok Umum dan Profesional

Tabel 2.1 Anamnesis

Materi pokok Kompetensi Dasar Indikator Hasil Pembelajaran Anamnesis Mampu melakukan

anamnesis

sistematis dengan dasar yang rasional dan beretika

a. Melakukan anamnesis riwayat penyakit secara sistematik

b. Mampu membedakan antara pertanyaan terbuka dan tertutup

c. Mampu melakukan anamnesis secara terpusat dan komprehensif, termasuk informasi dari orang lain yang dianggap perlu, dan mengkomunikasikan secara verbal atau tertulis dan meringkasnya d. Mampu memprediksi kemungkinan

pengaruh faktor lain yang sensitif,

misalnya status sosio-ekonomi, keluarga tidak mampu, status pekerjaan

e. Mampu membina sambung rasa dengan pasien dan keluarganya secara baik sesuai norma etika.

f. Mampu menilai perilaku pasien dan pengaruhnya terhadap status

kesehatannya

Tabel 2.2 Pemeriksaan Neurologik Materi

pokok Kompetensi Dasar Indikator Hasil Pembelajaran Pemeriksaan

neurologik Mampu menafsirkan hasil pemeriksaan neurologik yang dilakukan menjadi diagnosis klinis, topis dan etiologis dengan dasar yang rasional

a. Mampu melakukan pemeriksaan fisik, neurologis, dan status mental secara menyeluruh, terarah

b. Mampu menganalisis temuan klinis berdasarkan pengetahuan neuro-anatomi dan fisiologi

c. Mampu mengkomunikasikan kesimpulan hasil pemeriksaan secara verbal dan tertulis

d. Mampu berinteraksi dengan pasien dengan memperhatikan aspek etika

Gambar

Tabel 2.2  Pemeriksaan Neurologik  Materi
Tabel 2.3  Keterampilan Komunikasi
Tabel 2.6  Bekerja Sama Dengan Sejawat atau Profesi Lain  Materi pokok  Kompetensi Dasar  Indikator Hasil Pembelajaran  Bekerja sama  dengan sejawat  atau profesi  lain  Mampu bekerja sama dengan sejawat atau  profesi lain dalam  proses pendidikan,  pelaya
Tabel 2.8  M eningkatkan Mutu Pelayanan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Standar Kompetensi : Memahami penjelasan nara sumber dan cerita rakyat secara lisan.. Kompetensi Dasar Indikator Materi

Kompetensi Kompetensi Dasar KKM Indikator pencapaian Kompetensi Alokasi

Pernyataan kemampuan dasar disusun dengan tujuan melengkapi pernyataan kompetensi penunjang yang tercantum pada Buku Standar Kompetensi Dokter gigi terbitan

Kompetensi Materi Pokok Kegiatan Alokasi Waktu Indikator Pencapaian Jenis Sumber... Dasar Pembelajaran penilaian Bahan

Fokus utama yaitu menetapkan indikator pembelajaran yang sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) pada materi sistem saraf kelas XI SMA/Sederajat tercakup dalam KD 3.10,

Memahami ilmu dasar anatomi , fisiologi dan farmakologi sistem pernafasan, kardiovaskular dan sistem saraf akan mendukung untuk memahami tindakan anestesia umum maupun

bahwa telah disusun standar kompetensi dokter gigi sesuai dengan Berita Acara Penyerahan Hasil Penyusunan Standar Kompetensi Dokter Gigi yang ditanda tangani pada tanggal 6

76 Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar Nilai Karakter Teknik Bentuk