PENENTUAN NILAI DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) DALAM CPO DENGAN PELARUT N-HEKSAN
SECARA SPEKTROFOTOMETRI
KARYA ILMIAH
ALVINTA YAHYA DEO KABAN 142401226
PROGRAM STUDI DIPLOMA KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
PENENTUAN NILAI DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) DALAM CPO DENGAN PELARUT N-HEKSAN
SECARA SPEKTROFOTOMETRI
KARYA ILMIAH
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh Gelar Ahli Madya
ALVINTA YAHYA DEO KABAN 142401226
PROGRAM STUDI DIPLOMA KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
PERSETUJUAN
Judul : Penentuan Nilai DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) Dalam CPO Dengan Pelarut N-heksan Secara Spektrofotometri
Kategori : Karya Ilmiah
Nama : Alvinta Yahya Deo Kaban
Nomor Induk Mahasiswa : 142401226
Program Studi : Diploma (D3) Kimia
Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Disetujui di Medan, Juni 2017 Diketahui / Disetujui oleh :
Program Studi D3 Kimia
Ketua, Dosen Pembimbing,
Dr. Minto Supeno, MS Sabarmin Perangin-angin, S.Si, M.Si NIP.196105091987031002 NIP.196912131997022001
Departemen Kimia FMIPA USU Ketua,
Dr. Cut Fatimah Zuhra, S.Si. M.Si NIP.197404051999032001
PERNYATAAN
PENENTUAN NILAI DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) DALAM CPO DENGAN PELARUT N-HEKSAN SECARA
SPEKTROFOTOMETRI
KARYA ILMIAH
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juni 2017
ALVINTA YAHYA DEO KABAN 142401226
PENGHARGAAN
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas Kasih Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang diberi judul ―PENENTUAN NILAI DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) DALAM CPO DENGAN PELARUT N-HEKSAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI‖ yang dilaksanakan berdasarkan pengamatan dan perlakuan selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di PT. PALMCOCO LABORATORIES.
Karya ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada program studi Diploma-III Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisa karya ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan, motivasi, dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Orang tua penulis ayahanda tercinta Pindo Kaban dan Ibunda tersayang Pdt.
Tanaria br Sembiring, serta kakanda Friska Mei Sehati Ginting, Bryanda Putra Kaban, dan Piladelpia br Kaban yang telah memberikan kasih sayang, doa serta dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
2. Ibu Sabarmin Perangin-angin, S.Si, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah.
3. Dr. Cut Fatimah Zuhra, S.Si, M.Si, selaku ketua Departemen Kimia FMIPA USU.
4. Bapak Dr. Minto Supeno, MS, selaku ketua Jurusan D-III Kimia.
5. Seluruh Dosen dan Pegawai Program Studi D-III Kimia FMIPA USU.
6. Bapak Zul Alkaf, BSc dan pegawai PT. Palmcoco Laboratories.
7. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi D-III Kimia FMIPA USU angkatan 2014
8. Rio Oktavianus Siregar, Ary Andika Barus, Fadillah Elfian Mandai selaku orang terdekat penulis yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan karya ilmiah.
9. Hardion Hutasoit, Alvian Ambarita, Muchsinul Aulia, Darwin Sinaga, Fransiskus Situmorang selaku sahabat penulis yang telah memberi dukungan untuk menyelesaikan karya ilmiah.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya ilmiah ini masih memiliki kekurangan dalam materi dan cara penyajian dengan kata lain masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan karya ilmiah. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Penulis
PENENTUAN NILAI DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) DALAM CPO DENGAN PELARUT N-HEKSAN SECARA
SPEKTROFOTOMETRI
ABSTRAK
DOBI adalah parameter rasio perbandingan absorbansi pada range visible dan absorbansi pada range UV yang diperlukan untuk menentukan kualitas CPO. Kualitas CPO yang baik merupakan kebutuhan awal untuk menghasilkan produk akhir yang berkualitas tinggi. Harga DOBI yang tinggi adalah hal yang sangat penting untuk membantu pemrosesan yang digunakan dalam pemurnian. Dari hasil penelitian diperoleh nilai DOBI dalam CPO dengan menggunakan pelarut n-heksan asal Dumai 2,329, CPO asal belawan 2,329, dan CPO asal Beringin Palangkaraya 2,330.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut nilai DOBI dalam CPO yang diperoleh masih memenuhi Standar Mutu kualitas DOBI yang baik sesuai PORIM ( Palm Oil Risert Institute Of Malaysia ).
Kata Kunci : DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ), Spektrofotometri, CPO ( Crude Palm Oil ), Absorbansi, n-heksan.
DETERMINATION OF DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) IN CPO USING N-HEKSAN METHOD
SPECTROPHOTOMETRY
ABSTRACT
DOBI is parameter the ratio of absorbance in the range of visible and UV absorbance in the range need to determine the quality of the CPO. Good quality CPO is the initial requirement to produce a high quality end product. DOBI high value is a vety important thing to help processing used in refining. The result were obtained in the CPO value DOBI using n-heksan from Dumai 2,329, CPO from Belawan 2,329, and CPO from Beringin Palangkaraya 2,330. Based on these observations DOBI value in CPO obtained still meets the quality standard DOBI good fit PORIM ( Palm Oil Risert Institute Of Malaysia ).
Keywords : DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ), Spectrophotometry, CPO ( Crude Palm Oil ), Absorbance, n-heksan.
DAFTAR ISI
Halaman
Persetujuan i
Pernyataan ii
Penghargaan iii
Abstrak v
Abstract vi
Daftar Isi vii
Daftar Tabel ix
Daftar Gambar x
Daftar Lampiran xi
Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Permasalahan 2
1.3 Tujuan Penulisan 2
1.4 Manfaat Penulisan 3
Bab 2. Tinjauan Pustaka
2.1 Kelapa Sawit 4
2.2 Minyak Kelapa Sawit 5
2.2.1 Komposisi Minyak Kelapa Sawit 6
2.2.2 Sifat Fisika – Kimia Minyak Kelapa Sawit 7
2.3 Kelapa Sawit 8
2.3.1 Deteration Index Pemutih (DOBI) dan Hubungannya
Dengan Kualitas Minyak Sawit 9
2.3.2 Penyebab – Penyebab DOBI Rendah 9
2.3.3 Tindakan – tindakan Yang Dilakukan Untuk
Memastikan Kualitas CPO Tinggi 10
2.4 Spektrofotometer 11
2.4.1 Pengertian Spektrofotometri UV – Vis 12
2.4.2 Spektra Ultraviolet dan Visibel 14
2.4.3 Pemilihan Pelarut 15
2.4.4 Penentuan Panjang Gelombang 15
2.4.5 Rentang Pembacaan Absorban dan Transmitan 16 Bab 3. Metodologi Percobaan
3.1 Alat dan Bahan 17
3.1.1 Alat 17
3.1.2 Bahan 17
3.2 Prosedur Penelitian 18
3.2.1 Persiapan Sampel 18
3.3.2 Penentuan Panjang Gelombang (λ) Maksimum
DOBI pada range UV – Vis 18
3.2.3. Penentuan DOBI dalam CPO 19
Bab 4. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian 22
4.2 Perhitungan 22
4.3 Pembahasan 24
Bab 5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan 25
5.2 Saran 25
Daftar Pustaka Lampiran
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel
2.1 Nilai Sifat Fisika – Kimia Minyak Kelapa Sawit
dan Minyak Inti Sawit 7
2.2 SNI Hubungan DOBI Dengan Kualitas 8
2.3 PORIM Hubungan DOBI Dengan Kualitas 9
4.1 Data Analisis DOBI Pada CPO 22
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar
2.1 Skema Alat Spektrofotometer UV – Vis Single-beam 14
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
Lampiran
1 Data Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Analisa DOBI Dengan Pelarut n-heksan 29
2 Standar Mutu Menurut PORIM 30
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Minyak sawit merupakan produk perkebunan yang memiliki prospek yang cerah di masa mendatang. Potensi tersebut terletak pada keragaman kegunaan dari minyak sawit.
Minyak sawit disamping digunakan sebagai bahan mentah industri pangan, dapat pula digunakan sebagai bahan mentah industri nonpangan. Dalam perekonomian indonesia komoditas kelapa sawit memegang peranan yang cukup strategis karena komoditas ini punya prospek yang cerah sebagai sumber devisa. Disamping itu, minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng yang banyak dipakai di seluruh dunia, sehingga secara terus menerus mampu menjaga stabilitas harga minyak sawit.
Komoditas ini pun mampu pula menciptakan kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan kesejahteraan bersama. (Risza, 1994).
Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai bahan pangan fungsional. Kelapa sawit merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 22-32˚C. Saat ini 5,5 juta Ha lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah memproduksi minyak sawit mentah (CPO) dengan kapasitas minimal 16 juta per tahun dan merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia setelah Malaysia. (Ketaren, 2008).
Minyak kelapa sawit diperoleh dengan cara mengekstraksi minyak yang berasal dari mesokap buah kelapa sawit. Dimana minyak kelapa sawti yang belum dimurnikan
disebut dengan minyak kelapa sawit kasar. Minyak kelapa sawit yang diperoleh dari daging buah kelapa sawit kaya akan oleat dan palmitat yang terikat dalam bentuk ester dan gliserol sebagai trigliserida. Minyak kelapa sawit digunakan baik sebagai minyak yang dapat dikonsumsi maupun bahan industri kimia. (Tim Penulis, 1998)
Mutu minyak sawit ditentukan oleh beberapa parameter sehingga perlu dianalisa kadarnya. Dimana perlu diketahui apakah kandungan parameter minyak tersebut telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Minyak sawit yang berkualitas baik sangat menunjang perdagangan sehingga berpengaruh pada perdagangan ekspor. Oleh karena itu DOBI merupakan salah satu faktor penentu mutu minyak sawit, maka dalam hal ini, penulis tertarik untuk memilih judul ”Penentuan Nilai DOBI ( Deteration Of Bleachability Index ) Dalam CPO Dengan Pelarut N-Heksan Secara Spektrofotometri”
1.2 Permasalahan
1. Bagaimanakah perbandingan nilai DOBI dalam CPO dari 3 daerah yang berbeda
2. Apakah nilai DOBI telah sesuai dengan Standar Mutu yang ditentukan 1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui nilai DOBI dalam CPO (Crude Palm Oil) dari 3 daerah yang berbeda
2. Untuk mengetahui apakah nilai DOBI telah sesuai dengan Standar Mutu yang ditentukan
1.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui nilai DOBI dalam CPO (Crude Palm Oil)
2. Dapat mengembangkan ilmu pengetahuan tentang penentuan kualitas
dari minyak sawit mentah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kelapa Sawit
Semula tanaman kelapa sawit ( Elaeis Guinensis Jacq ) hanya diusahakan oleh perkebunan besar di Indonesia. Sejak tahun 1977 – 1978 pemerintah Indonesia bertekad mengubah situasi tersebut dengan mengembangkan pola perkebunan rakyat melalui sistem PIRBUN ( Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan ) Perusahaan besar sebagai ―inti‖
berfungsi memberikan alih teknologi kepada perkebunan rakyat di sekitarnya yang berkedudukan sebagai kebun plasma.
Kelapa sawit di Indonesia dewasa ini merupakan komoditas primadona luasnya terus berkembang dan tidak hanya merupakan monopoli perkebunan besar negara atau perkebunan besar swasta. Perkebunan kelapa sawit yang semula hanya di Sumatera Utara dan daerah Istimewa Aceh saat ini sudah berkembang di beberapa propinsi, antara lain: Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Irian Jaya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Jawa. Peemintaan minyak kelapa sawit di samping digunakan sebagai bahan mentah industri pangan juga di gunakan sebagai bahan mentah industri nonpangan. Jika dilihat dari biaya produksinya, komoditas kelapa sawit jauh lebih rendah dari pada minyak nabati lainnya.
Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga tahun 1993 diperkirakan telah mencapai 1,6 juta hektar dan jumlah produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 1993 dalam bentuk CPO berkisar 3,7 juta ton.
Pengguna minyak kelapa sawit sebagai minyak goreng pada tahun 1985 tercatat telah mencapai 55,3% atau meningkat 27% per tahun. Saat ini minyak goreng merupakan penyerap utama konsumsi minyak dalam negri yaitu mencapai 70% dari jumlah yang dipasarkan dalam negri. Industri lain yang menggunakan minyak kelapa sawit ini adalah industri margarine, sabun, dan industri kimia lainnya (Risza, 1994)
Indonesia dan Malaysia adalah dua negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Dapat diperkirakan dua negara tersebut dapat terus mengalami peningkatan produksi hingga tahun 2021.
Di Thailand, laju produksi minyak sawit semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, industri minyak sawit di Thailand masih kalah saing terhadap Indonesia dan Malaysia (Chavalparit, 2006).
2.2 Minyak Kelapa Sawit
Buah Kelapa sawit menghasilkan dua jenis minyak. Minyak yang berasal dari daging buah (mesokarp) berwarna merah. Jenis minyak ini dikenal sebagai minyak kelapa sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO). Sedangkan minyak yang kedua adalah yang berasal dari inti kelapa sawit, tidak berwarna, dikenal sebagai minyak inti kelapa sawit atau Palm Kernel Oil (PKO).
Minyak sawit kasar (Crude Palm Oil) mengandung sekitar 500-700 ppm β- caroten dan merupakan bahan pangan sumber karoten alami terbesar. Oleh karena itu CPO berwarna merah jingga. Disamping itu jumlahnya juga cukup tinggi. Minyak sawit ini diperoleh dari mesokarp buah kelapa sawit melalui ekstraksi dan mengandung sedikit air serta serat halus yang berwarna kuning sampai merah dan berbentuk semi solid pada suhu ruang. Adanya serat halus dan air pada sawit kasar tersebut
menyebabkan minyak sawit kasar tidak dapat dikomsumsi langsung sebagai bahan pangan maupun nonpangan (Tim Penulis, 1998)
Kualitas minyak sawit terutama pada crude palm oil (CPO), dapat dijadikan sebagai indikator baik buruknya produk. Beberapa parameter kualitas CPO yang dapat ditentukan antara lain kadar asam lemak bebas, DOBI (Deterioration of Bleachability Index), dan kadar beta karoten (Rohani, 2006).
Kualitas minyak dapat tercapai jika proses pengolahan dilakukan dengan benar.
Dalam proses produksi CPO, proses sterilisasi menjadi proses yang krusial karena proses ini dilakukan pertama kali. Jika pada proses ini terjadi kesalahan, maka pada proses-proses selanjutnya akan terkena dampaknya (Sivasothy, 2000).
2.2.1 Komposisi Minyak Kelapa Sawit
Secara garis besar buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti (kernel). Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar atau kulit buah yang disebut pericarp, lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau pulp dan lapisan paling dalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit terdiri terdiri dari lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Mesocarp mengandung kadar minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung minyak sebesar 44% dan endocarp tidak mengandung minyak. Komposisi asam lemak dalam minyak kelapa sawit umumnya laurat 0,2%, miristat 1,1%, palmitat 44,0%, stearat 4,5%, oleat 10,1%, lainnya 0,9%.
Beberapa komposisi dalam minyak kelapa sawit adalah hidrokarbon alifatik, ALB 3- 5%, sterol, glikolipid vitamin e, fosfolipid, terpen, dan karoten.
2.2.2 Sifat Fisika - Kimia Minyak Kelapa Sawit
Sifat fisika – kimia minyak kelapa sawit meliputi warna, bau dan flavor, kelarutan, titik cair dan polymorphism, titik didih (boiling point), titik pelunakan, slipping point, shot melting point, bobot jenis, indeks bias, titik kekeruhan (turbidity point), titik asap, titik
nyala dan titik api.
Beberapa sifat fisik – kimia dari kelapa sawit nilainya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.1: Sifat Fisika – Kimia Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Inti Sawit
Sifat Minyak Sawit Minyak Inti Sawit
Bobot jenis pada suhu kamar
0,900 0,900 – 0,913
Indeks bias D 40˚C 1,4565 – 1,4585 1,4595 – 1,415
Bilangan IOD 48 – 56 14 – 20
Bilangan Penyabunan 196 – 205 244 – 254
Warna minyak ditentukan oleh adanya pigmen yang masih tersisa setelah proses pemucatan, karena asam-asam lemak dan trigliserida tidak berwarna. Warna orange atau kuning disebabkan adanya pigmen karoten yang larut dalam minyak.
Bau dan flavor dalam minyak terdapat secara alami, juga terjadi akibat adanya asam-asam lemak berantai pendek akibat kerusakan minyak. Sedangkan bau khas minyak kelapa sawit ditimbulkan oleh persenyawaan beta ionone.
Titik cair minyak sawit berada dalama nilai kisaran suhu, karena minyak kelapa sawit mengandung beberapa macam asam lemak yang mempunyai titik cair yang berbeda-beda (Ketaren, 2008).
2.3 Definisi Dan Peranan DOBI (Deterioration Of Blachability Index) dalam penentuan Harga Minyak Sawit
DOBI (Deterioration Of Blachability Index) merupakan salah satu parameter untuk menentukan kualitas minyak sawit. DOBI didapat pada rasio perbandingan absorbansi pada range visibel dan absorbansi pada range UV. DOBI adalah index derajat kepucatan minyak dengan penurunan daya pemucatan akibat rusaknya karotenoid yang mengalami oksidasi dalam buah. Rusaknya karotenoid disebabkan oleh suhu tinggi yang berasal dari proses oksidasi yang terjadi sejak panen (Pahan, 2008).
Kerusakan karotenoid ini menyebabkan dekomposisi karotenoid sehingga terjadi penurunan intensitas warna karoten menghasilkan produksi oksidasi sekunder berupa senyawa yang berwarna kecoklat-coklatan (Eskin, 1979).
Hal ini membuat nilai DOBI menjadi rendah. Rendahnya nilai DOBI dapat menyulitkan minyak untuk dimurnikan (Siew, 2000). Maka dari itu, sejumlah industri minyak sawit menghindari rendahnya nilai DOBI pada produk minyak terutama pada minyak sawit kasar (CPO)
Tabel 2.2: SNI (Standar Nasional Indonesia) Tentang Hubungan DOBI dengan Kualitas
DOBI KUALITAS
< 1,68 Buruk
1,78 – 2,30 Kurang Baik
2,30 – 2,92 Cukup Baik
2,93 – 3,23 Baik
2.3.1 Deterioration Index Pemutih ( DOBI ) dan Hubungannya dengan Kualitas Minyak Sawit
Memasukkan DOBI dalam analisa memberikan sebuah indikasi baik bagi proses pengolahan CPO dari estate ke akhir pengolahan ( mill ) sampai ke refineri ( kilang minyak ). DOBI adalah perbandingan numerik dari spectrophotometric penyerapan 446 nm dengan 269 nm. Metode ini pertama kali dilakukan oleh Dr. P.A.T. Swoboda dari ( PORIM ) Palm Oil Research Institute of Malaysia (Sekarang menjadi Malaysian Palm Oil Board). Metodenya adalah melarutkan palm oil ke dalam hexane dan kemudian ditentukan penyerapannya dengan menggunakan spectrophotometer.
Tabel 2.3: PORIM ( Palm Oil Riset Institude Of Malaysia ) Tentang Hubungan DOBI Dengan Kualitas
DOBI Kualitas
< 1,68 Minyak Sawit Endapan atau
equivalennya
1,76 – 2,30 Kurang
2,36 – 2,92 Cukup
2,99 – 3,24 Baik
> 3,24 Terbaik
2.3.2 Penyebab – Penyebab DOBI (Deterioration Of Bleachability Index) Rendah
Salah satu penyebab rendahnya angka DOBI adalah adanya perbedaan persyaratan mutu antara SNI CPO dengan persyaratan mutu yang dituntut oleh konsumen.
Konsumen mensyaratkan angka DOBI minimal sementara persyaratan mutu SNI menurut angka asam lemak bebas max 5%.
Adapun penyebab DOBI (Deterioration Of Bleachability Index) yang rendah antara lain adalah sebagai berikut :
1. Tingginya persentase buah berwarna hitam ( kurang matang ) dan terlalu matang
2. Tertundanya proses pengolahan, terutama pada saat musim hujan dan efeknya tertundanya pengangkutan buah sawit ke pabrik, sehingga mengakibatkan restan di kebun
3. Kontaminasi CPO dengan kondensate rebusan
4. Kontaminasi CPO dengan jeleknya oksidasi di oil sludge
5. Waktu perebusan buah yang panjang dan suhu tinggi
6. Pemanasan CPO lebih ( > 55 oC ) di storage tank dengan waktu yang panjang
Sebab – sebab lain yang berhubungan dengan kasus diatas adalah tertundanya proses sementara akibat machinery breakdown yang berpengaruh tertundanya proses pengolahan ( buah restan ), Tingginya temperatur crude oil pada Station Klarifikasi.
1 Tandan buah warna hitam sebelah kiri mempunyai minyak dengan DOBI yang sangat rendah.
2 Tandan buah ditengah mempunyai minyak dengan DOBI yang sangat tinggi.
3 Minyak yang diambil dari buah hitam mempunyai DOBI < 1,5, sedangkan tandan buah dengan kematangan yang tinggi mempunyai DOBI > 3,5.
Menurut Siew (2000), semakin tinggi nilai DOBI pada CPO, maka harga jual CPO di pasaran domestik dan internasional dapat diterima dengan nilai yang tinggi juga. Maka dari itu, nilai DOBI harus dikontrol dengan baik
2.3.3 Tindakan – tindakan yang Dilakukan untuk Memastikan CPO Mempunyai Kualitas yang Tinggi
Di Malaysia oleh Keck Seng Berhad dan PT. SMART Tbk di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan mengoperasikan dan mengintegrasikan pengolahan dan refineri kelapa sawit dalam satu lokasi. Integrasi diharapkan dapat meminimalkan transportasi buah sawit ke pabrik yang menghemat biaya dan energi. Tetapi lebih penting lagi adalah kualitas CPO pada proses penyulingan.
Tindakan yang harus diambil untuk mendapatkan High-DOBI CPO secara konsisten adalah :
1. TBS dari kebun meningkatkan secara optimum kematangan buah.
2. Kondensat rebusan dan buruknya oksidasi sludge oil tidak diijinkan kontak dengan CPO, sebab mempunyai kandungan besi dan tembaga yang sangat tinggi. Pro oksidan ini merupakan masalah yang sangat merusak kualitas dan pemurnian minyak selama proses penyulingan.
3. Kondisi performa rebusan harus prima (tekanan steam pada tiap peak tercapai, steam spreader berfungsi dll). Hal ini sangat berpengaruh pada proses selanjutnya.
4. Gunakan low – pressure steam untuk pemanasan CPO di storage tank (Temperature < 50 ˚C).
2.4 Spektrofotometer
Tidak diragukan inilah metode yang paling tepat untuk menetapkan antara lain konsetrasi zat-zat dalam larutan, tetapi instrumen ini mau tak mau akan lebih mahal.
Sebuah spektrofotometer dapat dianggap sebagai sebuah fotometer fotolistrik yang diperhalus yang memungkinkan pengguna pita-pita cahaya yang sinambung variabelnya dan lebih mendekati monokromatik (Basset, 1994)
2.4.1 Pengertian Spektrofotometri UV-VIS
Spektrofotometer UV-Vis adalah pengukuran panjang gelombang dan intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan electron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektroskopi UV-Vis biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan (Dacriyanus, 2004)
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik ultra violet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrument spektrofotometer. Radiasi ultraviolet jauh (100-190 nm) tidak dipakai, sebab pada daerah radiasi tersebut diabsorpsi oleh udara. Ada kalanya spektrofotometer UV-Vis yang beredar diperdagangkan memberikan rentang pengukuran panjang gelombang 190-1100 nm. Hal ini perlu diperhatikan lebih seksama sebab diatas panjang gelombang 780 nm merupakan daerah radiasi infra merah. Oleh sebab itu pengukuran diatas panjang gelombang 780 nm harus dipakai detektor dengan kualitas sensitif terhadap radiasi infra merah. (Mulja, 1995)
Suatu senyawa dapat dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis jika mempunyai kromofor pada strukturnya. Kromofor ( chromophorus ) merupakan suatu gugus fungsi yang menyerap atau mengabsorbansi radiasi ultraviolet dan tampak.
Senyawa dapat dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis jika mempunyai kromofor seperti :
1. Ikatan rangkap terkonjugasi, dua ikatan rangkap terkonjugasi memberikan suatu kromofor. Karateristik kromofor umumnya menyerap spektrum tampak dari UV dan menjelaskan petunjuk pertama untuk mengidentifikasi karotenoid dalam CPO pada panjang gelombang dari penyerapan maksimum (λmaks) dan bentuk dari spektrum.
2. Senyawa aromatik, cincin aromatik mengabsorbsi dalam daerah radiasi UV misalnya seperti benzen menunjukkan serapan pada panjang gelombang sekitar 255nm.
3. Gugus karboni seperti pada gugus karbonil aldehida dan keton dapat dieksitasi baik dengan peralihan.
4. Auksokrom, adalah senyawa bukan pengabsorbsi seperti gugus –OH, -NH2, NO2, -X yaitu gugus yang mempunyai elektron nonbonding. Gugus ini akan memperlebar sistem kromofor dan menggeser absorbsi maksimum ke arah yang lebih panjang.
5. Gugus aromatik, adalah yang mempunyai transisi elektron seperti nitrat (313 nm), karbonat (217 nm), nitrit (360 dan 280 nm), dan tritiokarbonat (500 nm).
6. Harus berbentuk larutan, CPO dipanaskan terlebih dahulu agar dapat dianalisis dalam bentuk larutan.
Semua molekul dapat mengabsorpsi radiasi dalam daerah yang tampak dieksitasikan ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang dimana absorpsi itu terjadi bergantung pada berapa kuat elektron itu terikat dalam molekul itu. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat, dan diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek untuk eksitasinya. Misalnya, alkana,
yang mengandung hanya ikatan tunggal C – H dan C – C tak menunjukkan absorpsi diatas 160 nm (Day, 2002)
2.4.2 Spektra Ultraviolet dan Visibel
Suatu molekul yang sederhana apabila dikenakan radiasi elektromagnetik akan mengabsorpsi radiasi elektromagnetik yang energinya sesuai. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi potensial elektron pada tingkat keadaan eksitasi. Apabila pada molekul yang sederhana tadi hanya transisi elektronik pada satu macam gugus, maka akan terjadi satu absorpsi yang merupakan garis spektrum.
Gambar 2.1. Skema alat spektrofotometer UV-Vis Single-beam
2.4.3 Pemilihan Pelarut
Spektrofotometri UV-Vis dapat melakukan penentuan terhadap sampel yang berupa larutan, gas, atau uap. Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut yang dipakai, antara lain:
1. Pelarut yang dipakai tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna.
2. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis.
3. Kemurniannya harus tinggi atau derajat untuk analisis.
Pada umumnya pelarut yang sering digunakan dalam analisis Spektrofotometri UV- Vis adalah air, etanol, n-heksan, sikloheksan dan isopropanol. Namun demikian perlu diperhatikan absorpsi pelarut yang dipakai di daerah UV-Vis. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam masalah pemilihan pelarut adalah polaritas pelarut yang dipakai, karena akan sangat berpengaruh terhadap pergeseran spektrum molekul yang dianalisis.
2.4.4 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Panjang gelombang dimana terjadinya eksitasi elektronik yang memberikan absorban yang maksimum disebut sebagai panjang gelombang maksimum (λ maks). Penentuan panjang gelombang maksimum yang pasti (tetap) dapat dipakai untuk identifikasi molekul yang bersifat karateristik sebagai data sekunder. Dengan demikian spektrum UV-Vis dapat dipakai untuk tujuan analisis kualitatif (data sekunder) dan kuantitatif.
Analisis kualitatif hanya dipakai sebagai data pendukung yang perhitungannya memakai kaidah (tabel) Wordward dan kaidah Fisher-Kuhn. Sedangkan pokok kegunaan analisis spektrofotometri UV-Vis adalah untuk analisis kuantitatif karena melibatkan energi eksitasi yang cukup besar.
2.4.5 Rentang Pembacaan Absorban dan Transmitan
Analisa dengan Spektrofotometri UV-Vis selalu melibatkan pembacaan absorban radiasi elektromagnetik oleh molekul atau radiasi elektromagnetik yang diteruskan.
Keduanya dikenal sebagai absorban (A) tanpa satuan dan transmitan dengan satuan persen (%T).
Apabila suatu radiasi elektromagnetik dikenakan kepada suatu larutan dengan identitas radiasi semula yang datang (I˳), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (It), dipantulkan (Iᵣ), dan diabsorpsi (Ia), sehingga:
I˳ = It + Iᵣ + Ia
Harga Ir (±4%) dengan demikian dapat diabaikan karena pengerjaan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dipakai larutan pembanding sehingga:
I˳ = Ia + It
( Mulja, 1995)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat-alat
1. Spektrofotometer UV-Visible Pharo 300
2. Kuvet 10 inchi Quarts
3. Labu Ukur 25 ml 25 ml Pyrex
4. Neraca Analitik Kern
5. Oven Memmert
6. Beaker Glass 25 ml 25 ml Pyrex 7. Spatula
3.1.2. Bahan-bahan
1. Crude Palm Oil (CPO) Asal Dubai 2. Crude Palm Oil (CPO) Asal Belawan
3. Crude Palm Oil (CPO) Asal Beringin Palangkaraya 4. n-heksan
3.2. Prosedur Penelitian 3.2.1. Persiapan Sampel
Sampel yang diperlukan untuk analisa DOBI adalah sampel CPO. Sebelum dilakukan analisa, maka sampel CPO dipersiapkan terlebih dahulu yaitu dengan cara memanaskan sampel (CPO) di dalam oven pada suhu 60˚C selama 15 menit agar sampel homogen dan mudah dalam melakukan penimbangan dan memperoleh hasil yang maksimum.
3.2.2. Penentuan Panjang Gelombang (λ) maksimum DOBI pada range UV dan Visible dengan Pelarut n-heksan
A. CPO Asal Dubai
1. Disediakan larutan n-heksan dalam labu takar 25 ml ( sebagai blanko ) 2. Ditimbang 0,1 g CPO dalam labu takar 25 ml
3. Dilarutkan dengan n-heksan sampai garis tanda dan dihomogenkan 4. Dihidupkan alat Spektrofotometer UV-Visible dan dibiarkan stabil
5. Diukur absorbansi sampel pada panjang gelombang 250-300 nm untuk range UV dan pada panjang gelombang 420-500 nm untuk range Visible dengan menggunakan larutan n-heksan sebagai blanko atau larutan pembanding 6. Dicatat nilai absorbansi yang dihasilkan
B. CPO Asal Belawan
1. Disediakan larutan n-heksan dalam labu takar 25 ml ( sebagai blanko ) 2. Ditimbang 0,1 g CPO dalam labu takar 25 ml
3. Dilarutkan dengan n-heksan sampai garis tanda dan dihomogenkan 4. Dihidupkan alat Spektrofotometer UV-Visible dan dibiarkan stabil
5. Diukur absorbansi sampel pada panjang gelombang 250-300 nm untuk range UV dan pada panjang gelombang 420-500 nm untuk range Visible dengan menggunakan larutan n-heksan sebagai blanko atau larutan pembanding 6. Dicatat nilai absorbansi yang dihasilkan
C. CPO Asal Bringin Palangkaraya
1. Disediakan larutan n-heksan dalam labu takar 25 ml ( sebagai blanko ) 2. Ditimbang 0,1 g CPO dalam labu takar 25 ml
3. Dilarutkan dengan n-heksan sampai garis tanda dan dihomogenkan 4. Dihidupkan alat Spektrofotometer UV-Visible dan dibiarkan stabil
5. Diukur absorbansi sampel pada panjang gelombang 250-300 nm untuk range UV dan pada panjang gelombang 420-500 nm untuk range Visible dengan menggunakan larutan n-heksan sebagai blanko atau larutan pembanding 6. Dicatat nilai absorbansi yang dihasilkan
3.2.3. Penentuan DOBI dalam CPO Dengan Pelarut n-heksan
A. CPO asal Dubai
1. Dimasukkan larutan n-heksan dalam masing-masing kuvet 2. Diukur absorbansi pada 446 nm dan 269 nm
3. Diambil nilai absorbansi yang terkecil sebagai larutan blanko dan nilai absorbansi yang terbesar sebagai tempat sampel
4. Ditimbang sampel sebanyak 0,1 gr dalam labu takar 25 ml
5. Dilarutkan dengan n-heksan sampai garis tanda dan dihomogenkan
6. Dimasukkan dalam kuvet dan diukur absorbansinya pada 446 nm dan 269 nm dengan n-heksan sebagai larutan blanko
7. Dicatat nilai absorbansi yang dihasilkan
B. CPO Asal Belawan
1. Dimasukkan larutan n-heksan dalam masing-masing kuvet
2. Diukur absorbansi pada 446 nm dan 269 nm
3. Diambil nilai absorbansi yang terkecil sebagai larutan blanko dan nilai absorbansi yang terbesar sebagai tempat sampel
4. Ditimbang sampel sebanyak 0,1 gr dalam labu takar 25 ml
5. Dilarutkan dengan n-heksan sampai garis tanda dan dihomogenkan
6. Dimasukkan dalam kuvet dan diukur absorbansinya pada 446 nm dan 269 nm dengan n-heksan sebagai larutan blanko
7. Dicatat nilai absorbansi yang dihasilkan C. CPO Asal Beringin Palangkaraya
1. Dimasukkan larutan n-heksan dalam masing-masing kuvet
2. Diukur absorbansi pada 446 nm dan 269 nm
3. Diambil nilai absorbansi yang terkecil sebagai larutan blanko dan nilai absorbansi yang terbesar sebagai tempat sampel
4. Ditimbang sampel sebanyak 0,1 gr dalam labu takar 25 ml
5. Dilarutkan dengan n-heksan sampai garis tanda dan dihomogenkan
6. Dimasukkan dalam kuvet dan diukur absorbansinya pada 446 nm dan 269 nm dengan n-heksan sebagai larutan blanko
7. Dicatat nilai absorbansi yang dihasilkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Hasil analisis yang dilakukan di PT. Palmcoco Laboratories untuk penentuan DOBI dalam CPO dengan metode Spektrofotometri UV-Vis adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1 : Data Analisis DOBI Pada Sampel CPO Dengan Pelarut n-heksan
No Sampel Berat Sampel (gr)
Absorbansi
DOBI
446 269
A1 CPO 0,1129 0,639 0,266 2,402
A2 CPO 0,1031 0,604 0,255 2,369
A3 CPO 0,1098 0,615 0,264 2,330
Keterangan : A1 : CPO asal Dumai A2 : CPO asal Belawan
A3 : CPO asal Beringin Palangkaraya
4.2. Perhitungan
1. Analisa DOBI dalam CPO asal Dumai dengan Pelarut n-heksan Absorbansi pada λ 446
DOBI = ——————————
Absorbansi pada λ 269
0,639 DOBI = ———
0,266
DOBI = 2,40
2. Analisa DOBI dalam CPO asal Belawan dengan Pelarut n-heksan Absorbansi pada λ 446
DOBI = ——————————
Absorbansi pada λ 269
0,604 DOBI = ———
0,255
DOBI = 2,36
3. Analisa DOBI dalam CPO asal Beringin Palangkaraya dengan Pelarut
n-heksan
Absorbansi pada λ 446 DOBI = ——————————
Absorbansi pada λ 269 0,615
DOBI = ———
0,264
DOBI = 2,32
4.3. Pembahasan
DOBI adalah suatu cara penentuan kualitas minyak yang berdasarkan rasio perbandingan absorbansi pada range visible dan absorbansi pada range UV. Maka untuk menganalisa DOBI dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Visible. Senyawa yang dapat diukur oleh spektrofotometri haruslah dalam bentuk larutan oleh sebab itu CPO dipanaskan terlebih dahulu, memiliki gugus kromofor, dan memiliki ikatan rangkap terkonjugasi.Setelah dilakukan pengukuran maka diperoleh panjang gelombang maksimum pada range visible 446 adalah 0,639 nm dan pada range UV 269 adalah 0,266 nm. Untuk mendapatkan nilai DOBI yang tinggi pastikan sampel yang dianalisa dalam keadaan segar, tingkat kematangan buah optimum, pemanasan CPO tidak terlalu lama dan suhu tidak terlalu tinggi untuk menghindari oksidasi. Hasil pada tabel menunjukkan angka DOBI pada sampel CPO asal Dumai, CPO asal Belawan, dan CPO asal Beringin Palangkaraya masih memenuhi angka standar kualitas menurut PORIM. Perbedaan angka DOBI disebabkan oleh minyak yang diolah tidak segar dan pada proses pemanasan yang terlalu lama mengakibatkan CPO teroksidasi sehingga kandungan senyawa didalam nya semakin banyak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Dari hasil analisa yang dilakukan pada sampel CPO, diperoleh nilai DOBI dari daerah yang berbeda yaitu CPO asal Dumai (2,402), CPO asal Belawan (2,369), sedangkan pada CPO asal beringin Palangkaraya adalah (2,330).
2. DOBI yang berasal dari daerah Dumai, Belawan, dan Beringin Palangkaraya memenuhi standar mutu CPO Internasional menurut PORIM yaitu diatas <2,31
5.2 Saran
1. Diharapkan pada penelitian selanjutnya pada penentuan DOBI dalam CPO menggunakan pelarut yang lebih bervariasi
2. Diharapkan selama melakukan analisa perlu dihindari kesalahan dalam menggunakan alat spektrofotometer sehingga sampel yang dianalisa mendapatkan hasil yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Basset, J., R. C. Denney, G.H Jeffrey, J. Mendhom. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisa Kuantitatif Anorganik. Jakarta : EGC.
Chavalparit, O. 2006. Clean Technology for the Crude Palm Oil Industry in Thailand. Dutch: Wageningen University.
Dacriyanus, 2004. Analisa Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.
Padang : CV. Andalas University Press
Day, RA., A. L., Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga Eskin NAM. 1979. Plant Pigments, Flavors, and Texture The Chemistry and
Biochemisty Of Selected Compounds. New York : Academic Press.
Ketaren, S. 2008. Pengantar Teknologi Minyak Dan Lemak Pangan. Jakarta : Universitas Indonesia Press
Mulja, M., Suharman, 1995, Analisis Instrumental. Surabaya : Universitas Air Langga
Naibaho, P.M. 1998. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Medan : Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Pahan, I. 2008. Panduan Lengka Kelapa Sawit. Jakarta : Penebar Swadaya Risza, S. 1994. Kelapa Sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta :
KANISIUS
Rohani MZ. 2006. Centre of Lipids Engineering and Apllied Research. Malaysia:
Universiti Teknologi Malaysia.
Siew, W.L. 2000. Analysis Of Palm and Palm Kernel Oils. Kuala Lumpur : Malaysian Palm Oil Board
Sivasothy, K., Y. Basiron, B.S. Jalani., and K.W. Chan. 2000. Advances in Oil Palm Research. Kuala Lumpur : Malaysian Palm Oil Board.
Tim Penulis PS. 1998. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Jakarta : Penerbit Swadaya
Watson, D.G,. 2005. Analisis Farmasi. Edisi Kedua. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Lampiran 1. Data Penentuan Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Analisa DOBI Dengan Pelarut n-heksan
λ ABS λ ABS λ ABS λ ABS
250 0,207 269 0,266 410 0,523 447 0,638
260 0,231 270 0,264 420 0,564 448 0,634
261 0,236 280 0,242 430 0,595 449 0,630
262 0,238 290 0,214 440 0,618 450 0,627
263 0,244 300 0,185 441 0,622 460 0,591
264 0,248 320 0,162 442 0,625 470 0,555
265 0,252 340 0,189 443 0,629 480 0,496
266 0,257 360 0,289 444 0,632 490 0,437
267 0,259 380 0,368 445 0,636 500 0,394
268 0,263 400 0,486 446 0,639 510 0,369
Grafik
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
250 300 350 400 450 500 550
Absorbansi
Kurva Absorbansi Vs Panjang Gelombang (nm) dari Larutan CPO 0,1 gr/ 25 ml n-heksan
Panjang Gelombang (nm)
Lampiran 2. Standar Mutu Menurut PORIM